Di Ujung Tanduk

By  Chaera

“Maafin aku Kak Davis. Aku nggak mungkin mengkhianatimu,” aku tetap meraung meminta maaf pada pria berkaca mata dan berbadan tegap yang berdiri menatapku dengan murka. Dialah kekasihku, Davis.

“Jika memang kamu sudah bosan denganku, tinggalkan aku. Mudah bukan?”

“Tapi sungguh aku hanya diminta Kak Mahhad untuk menemaninya ke pesta tak lebih,” aku tetap merengek pada pemuda di depanku ini.

“Aku tahu memang sejak awal kamu tak pernah mencintaiku dengan tulus,” kata Kak Davis sambil memalingkan mukanya. “Seperti yang pernah kau bilang dulu bahwa aku bukanlah orang yang asik seperti Mahhad. Aku adalah orang yang cuek dan membosankan,” kata Kak Davis menerawang kosong di matanya. “Jadi tolong tinggalkan kamarku sekarang!” kata Kak Davis secara halus namun penuh penekanan.

“Baiklah! Yang penting aku sudah menjelaskan pada Kak Davis kalau aku dan Kak Mahhad tidak ada apa-apa. Aku hanya diminta Kak Mahhad untuk menemaninya, tak lebih. Aku tidak menemani Kak Davis karena Kak Davis tidak memberi tahuku bahwa Kak Davis juga menghadiri acara tersebut.” Lalu aku keluar dari kamar Kak Davis menuju kamarku.

“Ada apa, Atha?” tanya Kak Mahhad yang berdiri di depan pintu kamarnya. Kamarku dan kamar Kak Mahhad memang bersebelahan. Aku, Kak Davis, Kak Mahhad tinggal dalam rumah yang sama. Kita menyebutnya ‘KONTRAK RUMAH’. Sebenarnya masih ada satu orang lagi di rumah ini yaitu Khais. Tapi dia jarang di kontrakan karena hobi jalan-jalannya.

“Nggak ada apa-apa kok, Kak Mahhad,” kataku sambil mencoba tersenyum dan menghapus jejak airmataku.

“Tapi aku dengar tadi…”

“Tak apa Kak Davis hanya memarahiku karena aku ceroboh saja. Baiklah aku masuk kamar dulu.” Tanpa menghiraukan Kak Mahhad aku langsung masuk ke kamarku.

###

Aku sedang berjalan keluar dari halaman fakultasku. Aku masih merasa kacau karena aku masih memikirkan perubahan sikap Kak Davis setelah pertengkaran kami malam itu. Biasanya juga sikap Kak Davis memang cuek dan jarang bicara. Tapi entah kenapa sekarang sifat cuek Kak Davis terasa berbeda.

“Hei…” Tiba-tiba ada orang yang menepuk pundakku. Setelah kutolehkan kepalaku ternyata ada Juan di belakangku.

“Apaan sih, Juan?” kataku agak ketus karena kaget.

“Kamu kenapa sih dari pagi tadi sampai matahari sudah meninggi kamu tetap murung? Lagi marahan ya sama Yayang Davis?” tebak Juan. Sebenarnya aku tidak pernah memberi tahu Juan tentang hubunganku dengan Kak Davis tapi entah darimana dia menyimpulkan bahwa aku dan Kak Davis pacaran.

“Sok tahu, aku memang lagi pengen murung aja,” jawabku asal.

“Ada gitu orang pengen murung? Ayolah Atha cerita dong?”

“Sorry ya angkotnya dah kelihatan tuh,” kataku sambil memanjangkan langkahku keluar gerbang. Padahal dari tadi tak ada angkot yang lewat. Aku hanya menghindari Mr Kepo.

“Hei, tunggu Atha! Atha!” teriak Juan sambil terus mengejarku tapi setelah mendekati tempat parkir dia menyerah dan berbelok ke tempat parkir kerena dia selalu naik kendaraan pribadi.

Aku sedang berdiri di depan gerbang gedung fakultas untuk menunggu angkot. Cukup lama aku menunggu angkot. Itu berarti cukup lama juga aku menghadapi matahari yang dengan sombongnya memamerkan sinarnya.

“Nebeng nggak?” Tiba-tiba saja Juan nongol dengan motornya dan berhenti di depanku.

“Makasih, Juan. Aku nunggu angkot aja pasti abis ini datang.”

“Ya sudah kalau gitu aku duluan ya?” Lalu Juang langsung melajukan motornya setelah aku mengiyakan pertanyaan tadi.

Tak berapa lama setelah Juan melajukan motornya. Tiba-tiba ada motor yang tak kukenali berhenti tepat di depanku. Pengendara motor itu turun lalu membuka kaca helmnya yang gelap.

“Kak Davis?” entah nada apa yang kugunakan. Senang? Kaget? Mungkin dua-duanya.

“Ayo pulang.” Kak Davis menggaet tanganku. Aku hanya tersenyum dan berpikir apa Kak Davis sudah memaafkanku? Semoga. Tanpa banyak bicara aku langsung naik di motor yang bagiku asing ini. “Pakai helmnya!” kata Kak Davis mengulurkan helm padaku.

“Ini motor baru Kak Davis?” tanyaku konyol.

“Bukan, ini milik Fadel teman sekantorku.” Lalu Kak Davis melajukan motornya tapi sebelumnya dia berkata, “Pegangan!” sambil Kak Davis menarik tanganku yang membuat tubuhku menempel pada punggungnya.

“Kenapa Kak Davis menjemputku?”

“Aku selalu bilang kalau akan meluangkan waktu makan siangku untuk menjemputmu.”

“Apa itu berarti Kak Davis sudah…”

“Diamlah! Aku sedang menyetir.” Kata-kata Kak Davis kali ini sukses mengunci bibirku. Kupikir dia sudah berubah ternyata hanya harapan kosong.

Tak ada makan siang bersama seperti biasa atau sekedar bercanda saja tak ada. Setelah aku sampai depan rumah kontrakan Kak Davis langsung memutar motor yang ditungganginya dan melajukannya lagi. Mungkin dia langsung balik ke kantor.

###

“Kalau tahu hubungan kalian lebih dari teman aku tak akan berani mengajaknya ke acara kemarin berduaan,” kata suara dari lantai atas kontrakan ini yang kuduga adalah suara Kak Mahhad. Aku tak sengaja mendengarnya ketika aku akan ke dapur karena area dapur ini memang berada tepat di bawah kamar-kamar di lantai dua.

“Aku tahu kalau Atha tak mungkin mengkhianatimu.” teriak suara yang sama.

“Aku tak ada urusan denganmu lebih baik kau keluar dari kamarku,” teriak suara yang berbeda. Sepertinya ini suara Kak Davis. Ada apa dengan mereka berdua? Apa ada hubungannya denganku? Aku bingung.

“Jelas aku ada urusan. Karena aku penyebabnya,” teriak Kak Mahhad. Setelah itu mereka diam beberapa lama. Mungkin mereka saling ngomong tapi tak terdengar dari lantai bawah. Sebelum aku melangkah ke kamarku lagi terdengar debaman pintu yang sangat keras dan langkah yang tergopoh. Dengan agak berlari aku langsung menuju kamarku karena aku tak mau di pergoki Kak Mahhad atau Kak Davis kalau aku sedang menguping.

###

“Kenapa pindah, Dek Atha?” kata suara di sebrang telepon. Itu adalah suara Kak Hannath, sepupuku. Pemilik terdahulu kamar yang sekarang aku tempati. Tapi karena dia sudah lulus kuliah dan dia dapat kerja di kota sebelah dan kebetulan aku butuh tempat tinggal di kota ini. Jadilah aku disuruh meneruskan kontrakan ini.

“Aku sudah nggak betah, Kak Hannath.” Dari tadi aku memang merengek untuk di carikan kontrakan atau kostan lagi.

“Kenapa nggak betah? Apa ada yang jahil sama kamu?”

“Pokoknya suasananya udah nggak kondusif.”

“Okey kalau gitu kalau lusa kakak ada libur kita cari tempat tinggal baru,” kata Kak Hannath sebelum mengucap salam dan menutup teleponnya. Aku tahu dia pasti sibuk.

###

“Aku bingung kak,” kataku sambil mengurut keningku.

“Kenapa bingung? Toh udah ada beberapa pilihan rumah dan tinggal milih saja,” kata Kak Hannath sambil duduk di trotoar.

“Iya sih, tapi menurut kakak yang pas yang mana?” Kuikuti Kak Hannath duduk di sampingnya.

“Yang dekat mall itu aja. Itukan juga dekat dengan kampusmu.”

“Tapi mahal kak.”

“Gimana kalau yang di belakang GOR? murah banget tuh.”

“Murah sih murah tapi jauh dari kampus.”

“Huft… kalau gitu terserah kamu saja. Yang penting aku sudah cariin beberapa opsi.”

“Ya sudah kalau gitu aku pilih yang di samping perumahan itu aja, gimana?” akhirnya aku memutuskan pilihanku.

“Oke, lagian itu dekat dari kampusmu dan murah juga. Kalau gitu nanti aku booking-in.”

“Nggak usah kak. Kak Hannath sibuk bukan? Ditemani cari kontrakan baru aja aku udah seneng.”

“Baiklah kalau gitu kita balik ke kontrakan saja.” Lalu Kak Hannath berdiri dan naik ke motornya begitupun denganku yang mengikutinya.

###

“Atha, kamu punya sabun nggak? Kalau punya aku minta soalnya aku lupa belanja keperluan mandi,” kata Khais yang kepalanya sudah menyembul dari pintu.

“Kebiasaan nggak pernah ketuk pintu,” aku mendumel karena kebiasaan Khais yang jarang mengetuk pintu bila ingin masuk kamarku.

“Kalau aku ketuk pintu pasti kamu bilang nggak dikunci kok. Ya udah nggak usah ketuk pintu kalau pintunya nggak kebuka berarti dikunci. Simpelkan?” itulah alasannya. Selalu itu.

“Minta berapa sabun?” kataku tetap berkutat pada pada baju-baju dan koperku.

“Loh, kamu mau kemana? Mau pindah? Kenapa pindah?” tanya Khais begitu melihat apa yang aku lakukan. Begini kalau Khais sudah ngomong pasti cerewet.

“Oh… atau gara-gara Bang Davis ya? Soalnya aku dengar dari Mahhad kalau kamu dan Bang Davis sedang nggak akur.” Tak kugubris omongan Khais. Aku beralih ke laci tempat alat mandiku untuk mengambilkannya sabun mandi.

“Nih… satu biji bukan?” tanyaku, mungkin tebakanku karena pertanyaanku tadi tak dijawabnya. Sembari kuberikan sabun mandi kepada Khais.

“Bener nggak sih Atha apa yang diomngin Mahhad?” Ternyata Khais lebih tertarik pada masalahku dan Kak Davis dibandingkan sabun mandinya.

“Maybe yes maybe no,” kataku jutek sambil melanjutkan aktivitasku menata baju di koper.

“Kayak orang pacaran aja pake marahan segala.” Khais memang tidak tahu kalau aku dan Kak Davis berpacaran.

“Lebih baik kamu pergi deh. Pusing aku dengar ocehanmu.” Kudorong tubuh Khais supaya keluar dari kamarku.

“Oke… oke… aku keluar tapi kamu nggak nyeselkan pindah dari sini? Lebih baik kamu pikir matang-matang deh.” Lalu Khais keluar dari kamarku dengan membawa sabun mandinya tanpa menutup pintu kamarku.

Kututup pintu kamarku lalu aku bersandar di pintu itu sambil merenungkan kata-kata terakhir Khais. Benar juga kata Khais, apa aku tak menyesal? Apa aku sudah memikirkan ini matang-matang? Aku gusar, kuacak rambutku dan sedikit menggeram berharap kegusaranku akan lenyap.

“Aku punya banyak kenangan di kontrakan ini,” kataku pada diriku sendiri.

“Apa aku yakin meninggalkan kontrakan ini?” kutujukan pertanyaanku ini pada diriku sendiri.

“Kalau aku meninggalkan kontrakan ini itu berarti aku harus meninggalkan Kak Davis. Apa aku bisa?” aku masih bertanya-tanya pada diriku sendiri. Saking gusarnya aku menggeram lagi dan kutarik rambutku ke belakang dengan kuat.

“Aku akan mencobanya, mungkin ini yang terbaik untuk hubunganku dan Kak Davis.”

###

“Halo, Vis. Apa kabar?” tanya Kak Hannath yang duduk di sofa di depanku. Kak Hannath memang memanggil semua teman satu kontrakannya dulu hanya dengan nama tanpa embel-embel kakak atau abang.

“Baik. Loh… kalian mau kemana?” tanya Kak Davis yang terlihat bingung dari raut wajahnya.

“Loh… kamu belum tahu kalau Atha akan pindah kontrakan?” tanya Kak Hannath balik. Sedangkan aku hanya diam saja.

“Sekarang? Kenapa mendadak?”

“Iya sekarang karena aku dan Atha juga sudah booking kontrakan,” kata Kak Hannath dengan santai. Kulihat wajah Kak Davis makin bingung.

“Bisa nggak kalau hal ini ditunda dulu?” Aku sangat terkejut mendengar pertanyaan Kak Davis. Untuk apa?

“Aku sih terserah Atha aja karena akukan cuma nganterin,” jawab Kak Hannath dengan santai. Kulihat Kak Davis beralih menatapku.

“Bisa nggak?” Mata Kak Davis sayu seperti memohon. Aku kebingungan harus jawab apa. Kalau kujawab tidak pasti Kak Davis kecewa. Tapi kalau kujawab iya aku tak enak dengan Kak Hannath yang sudah menungguku. Tapi Kak Hannath bilang terserah akukan?

“Memang untuk apa?” Kutatap sosoknya yang berdiri di dekat pintu antara ruang tamu dan ruang tv.

“Kumohon ikutlah aku sebentar sebelum kamu pergi.” Kak Davis menarik tanganku.

“Baiklah tapi jangan terlalu lama. Tak enak dengan Kak Hannath.” Lalu aku bangkit dari sofa. “Kak Hannath aku ikut Kak Davis dulu,” pamitkuyang diiyakan Kak Hannath sambil mengikuti arah jalan Kak Davis karena tanganku masih digenggamnya. Kulihat Kak Hannath menunjukkan wajah yang sulit kuartikan.

###

Ternyata Kak Davis mengajakku ke GOR di dekat kampusku. Sekarang kita berada di area renang. Kita sedang duduk di bangku penonton yang melingkar seperti colloseum. Kita duduk di bangku paling atas sehingga kita bisa melihat hampir semua area renang ini.

“Aku sudah dengar semuanya dari Mahhad,” kata Kak Davis mulai menggenggam telapak tanganku.

“Kenapa pada waktu itu Kak Davis tak percaya dengan ucapanku. Mungkin yang dibilang Kak Mahhad sama dengan apa yang aku bilang, bukan?” Aku mulai jengkel dengan sifat Kak Davis.

“Bukannya aku tak mempercayaimu tapi waktu itu aku sedang tersulut amarah jadi kuanggap semua opinimu itu bullshit.” Aku tak menanggapi ucapan Kak Davis. Aku terus menatap langit sore yang mulai senja.

“Kamu pasti berpikir bahwa selama ini aku tidak berniat meminta maaf padamu, bukan?” tanya Kak Davis yang masih menggenggam tanganku sedari tadi. “Tapi asal kamu tahu sebenarnya setiap kali aku melewati pintu kamarmu aku ingin sekali mengetuknya dan menyampaikan maafku padamu.” Kini wajah tampan Kak Davis yang terbingkai kaca mata menghadapku.

“Tapi kenapa Kak Davis tak melakukannya?”

“Aku merasa takut untuk melakukannya. Takut jikalau kamu tak mengindahkan maksudku.” Kukihat dari wajah Kak Davis benar-benar gusar.

“Pengecut,” kataku lirih tapi aku yakin Kak Davis masih bisa mendengarnya.

“Kamu benar aku adalah seorang pengecut yang tidak mampu memperjuangkan cintanya.” Kak Davis semakin mengeratkan genggamannya dan mengusap ibu jarinya di punggung tanganku. “Meski hanya sekedar kata minta maaf.”

“Aku pikir lebih baik kita harus mempertegas status kita,” kataku langsung pada intinya. “Karena aku merasa hubungan kita bagai di ujung tanduk.”

“Kita tak pernah mengucapkan kata putus. Tidak akan pernah.” Kata Kak Davis sangat yakin. Entah dari mana keyakinan itu datang. Tiba-tiba saja Kak Davis berlutut di undakan tepat di depanku.

Kak Davis membuang nafas berat yang seakan bisa membuang semua kegusarannya. “Aku Magentha Davison meminta maaf pada pangeranku yang tampan ini,” kata Kak Davis sambil tersenyum lembut kearahku. Sedangkan aku sangat kaget melihat aksinya yang terbilang nekad ini. Karena aku tahu Kak Davis butuh nyali yang sangat besar untuk melakukan hal ini.

“Apa maafku diterima?” tanya Kak Davis dengan ekspresinya yang lucu. Tanpa mengeluarkan kata-kata aku langsung memeluknya dan entah kenapa air mataku turun dari singga sananya.

“Kenapa Kak Davis tak melakukan ini sejak beberapa minggu lalu?” tanyaku sebal setelah aku melerai pelukanku dengan Kak Davis.

“Katamu aku pengecut?” goda Kak Davis padaku sambil mencubit pipi kiriku. “Gimana dimaafin nggak?” Aku hanya mengangguk pelan. Lalu Kak Davis memelukku dan mencium puncak kepalaku.

“Astaga! Kak Hannath pasti nungguin aku,” kataku teringat dengan Kak Hannath yang pasti masih menungguku.

“Yah… jadi pindah ya?” tanya Kak Davis dengan muka yang masam.

“Emm… jadi nggak ya?” kataku menggoda Kak Davis. Yang digoda malah mencubit hidungku.

“Aku yakin pasti kamu tidak akan pergi dari kontrakan untuk ninggalin aku. Aku yakin itu,” kata Kak Davis sambil menggandeng tanganku saat akan beranjak menuruni undakan bangku penonton ini. “Ayo balik keburu di bunuh Hannath aku nanti karena membawa sepupunya yang manis ini.”

Cup. Kucium pipi Kak Davis dengan cepat lalu aku lari meninggalkannya di belakangku. “Hei… apa-apaan ini dasar pencuri ciuman,” kata Kak Davis diselingi tawanya sambil berlari mengejarku. Aku terbahak mendengar teriakan Kak Davis.

The End.