Nayaka Says…

Aku suka karakter Leo. Udah itu aja :p

YANG DIRENGKUH KIEV

Oleh : Ken4021

 

***

            Kiev menelungkup di atas ranjang, bantal ia taruh di dada sebagai sandaran, sedang selimut biru tua menutupi sebagian tubuh polosnya. Kedua kakinya bergerak-gerak. Seolah tak lelah sehabis bertempur bersamaku. Sepasang mata malaikatnya memandang apa yang tengah kukerjakan—membersihkan sisa cairan dengan tisu.

“Tahukah kamu tanggal berapa besok, Leo?” tanyanya.

Aku terdiam sejenak. Siang tadi aku melihat banyak lelaki tua maupun muda berbondong-bondong pergi ke tempat ibadah. “Besok hari Sabtu,” jawabku seraya melempar tisu kotor ke tempat sampah. Kiev mendengus.

“Kamu mendengar jelas bentuk pertanyaanku.”

Oh, agaknya dia sedikit marah. Kuputuskan untuk memandangnya setelah mengambil sehelai handuk dan melingkarkannya di pinggang. Tatapan mata Kiev selalu begitu, tatapan seorang bayi yang tahu benar mengenai borok-borok dunia bahkan sebelum bisa bicara. Mata itulah yang membikin aku terpesona hingga dijerat cinta. Ah, cinta. Sedemikian malu aku mengatakannya, sebab usia sudah tak lagi muda.

“Sebegitu pentingkah hari esok sampai aku harus mengingat tanggalnya?”

Di balik jawabanku yang sarkastik itu, sejujurnya, aku tidak tahu. Ya, aku tidak tahu tanggal berapa besok. Seingatku kami belum membeli kalender sejak tahun baru. Kami terlalu malas membeli, atau barangkali terlalu mengandalkan kecanggihan ponsel. Dan, lihat, sekarang akulah yang sedikit marah. Bagaimana tidak, mengingat kata ponsel dalam kepala saja sudah sebegini membuatku kesal.

Minggu lalu Kiev merusak ponselku. Dia membantingnya. Satu pesan singkat perusak suasana masuk tanpa aba-aba, berkata seseorang dalam ponsel itu; aku rindu kamu, bisa kita bertemu di toko buku. Kiev yang tidak tahu apa-apa langsung mengambil tindakan seenaknya. Dia marah besar waktu itu. Aku pun. Dia marah karena mengira aku berselingkuh dengan perempuan bernama Anna—padahal, demi Tuhan, dia tahu benar aku tiada hasrat pada perempuan. Sedang aku marah karena dia merusak ponselku dan menuduh yang tidak-tidak.

Lalu siapa itu Anna, teriaknya saat itu setelah puas merusak barang-barangku. Aku menjawab dengan suara yang tak kalah tinggi. Aku bersumpah dia adikku. Tapi, tentu saja Kiev tidak langsung percaya. Kami bertengkar hebat. Dia tidak berkunjung ke apartemenku. Ngambek. Padahal sudah jelas dia salah. Dan baru hari inilah dia datang dengan sepotong keik stroberi di tangan. Kiev meminta maaf. Selama raibnya dia satu minggu itu, ternyata dia menyelidiki Anna. Aku puas melihat wajah bersalahnya, hingga kuputuskan untuk membalas perbuatannya di atas ranjang.

Hm. Baru saja.

“Kamu tidak perlu berkata seperti itu, kan,” kata Kiev lembut.

Seperti itu bagaimana. Dia mendesah.

“Mungkin buatmu tidak, tapi buatku, ya, besok hari yang penting. Besok hari istimewa, berbeda dari hari-hari yang selama ini kulalui.”

Aku memandangnya dengan sorot tak biasa. Kiev menunduk, menyerah. Dia tahu bagaimana aku. Peduli kampret, begitu istilahnya. Terlalu cuek dan menganggap segala hal selain hidupku adalah tidak penting—termasuk tanggal istimewa bagi Kiev. Aku melangkah menuju kamar mandi, samar-samar kudengar ia melirih.

“Besok adalah hari …”

Aku tidak mendengar kelanjutan kalimatnya. Air mengucur dari shower. Tiba-tiba terbayang wajah Kiev yang merana. Wajah sedih dengan sepasang mata terjejal rasa bersalah.

 

***

Karenina menunjukkan dua gaun padaku.

“Bagaimana menurutmu, Leo? Mana yang lebih bagus, yang biru atau merah marun ini?” tanyanya. Aku memilih secara asal. Merah marun menjadi obyek yang kebetulan ditunjuk oleh jariku. Karenina—atau yang akrab disapa Nina—memandang gaun pilihanku dengan tatapan tak yakin. Dan aku yakin dia akan bertanya lagi. “Apa cocok jika Brenda mengenakannya?”

Nah!

“Ya, cocok.”

“Apa kamu pikir dia akan menyukai hadiah dariku?”

Aku mengangguk. Dalam hati merutuk, ya, ambil saja yang manapun. Orang akan selalu suka kalau diberi hadiah.

“Aku harap Brenda mau memaafkanku,” katanya.

Aku tak menyahut. Nina adalah temanku, kami tidak sengaja berkenalan di jejaring sosial khusus gay dan lesbian. Ya, Nina lesbian, Brenda ialah kekasihnya. Kami pernah terikat kontrak. Nina berpura-pura jadi pacarku agar aku terhindar dari perjodohan para orangtua. Tapi kisah jadul itu sudah berlalu. Dan, kami tidak berakhir saling cinta seperti yang terpampang dalam sinetron. Hmph. Sinetron perusak moral bangsa itu.

“Kamu menyogok maaf darinya dengan gaun,” simpulku. Nina mendelik.

“Tidak juga. Hari ini memang hari istimewa bagi mereka yang memiliki kekasih. Kamu tahulah, saling bertukar kado.”

Sebelah alis naik. “Hari istimewa?” tanyaku serupa gumaman, teringat pada kata-kata Kiev semalam. Rupanya tidak hanya Kiev yang menganggap hari ini istimewa, tapi juga Nina, dan barangkali bagi mereka pula yang memiliki kekasih.

“Demi Tuhan, Leo, hari ini Hari Valentine! Jangan katakan kamu tidak tahu apa itu valentine.” Jelas sekali Nina menyindirku.

“Aku tahu. Hari kasih sayang, benar?”

Perempuan bertato naga di leher kirinya itu mengangguk.

“Sebaiknya semua hari itu penuh kasih sayang, kan. Kenapa semua orang ribut sekali membicarakan hari kasih sayang, kenapa semua orang berbondong-bondong membeli cokelat yang katanya manis padahal pahit setelah sepuluh detik disesap.”

Nina memelototiku. Aku sama sekali tidak takut. Dia mendesah, lalu menyimpan dua gaun itu pada tempatnya kembali. Oh, jangan katakan dia akan menyeretku untuk tetap menemaninya di mall sampai menemukan kado yang benar-benar klop.

“Aku kasihan pada Kiev,” gumamnya. Dia memandangku dengan tatapan aneh. “Menurutmu bagaimana perasaannya sekarang?”

“Dia mencintaiku.”

Nina menggeleng. “Bukan itu, Leo. Aku ingin kamu tahu bagaimana perasaan Kiev ketika kekasihnya bahkan tidak memberi satu remah pun coklat di hari kasih sayang.”

“Apa memberi coklat menjadi suatu kewajiban?”

“Ya,” tegasnya. “Itupun jika kamu mencintainya.”

“Aku mencintainya tanpa perlu memberi coklat.”

Nina tampaknya malas berdebat. Dia membuang napas lelah. “Aku tidak tahu bagaimana bisa Kiev bertahan denganmu,” katanya sambil lalu, kembali memilah-milah gaun.

Ha! Aku sendiri pun tidak tahu.

 

***

Bagaimana bisa Kiev bertahan denganku, kata Nina. Entah. Delapan bulan berlalu sejak kami menjadi pasangan. Tidak banyak yang kuketahui tentang Kiev, bahkan sampai hari ini. Yang kutahu adalah dia seorang pelayan di Kafe Cozzee, kedai kopi yang buka setiap pukul satu siang hingga sepuluh malam. Usianya duapuluh satu—atau bisa jadi sudah duapuluh dua. Aku tidak tahu tanggal lahirnya. Kiev tujuh tahun lebih muda dariku.

Selama berpacaran, kami tidak banyak membicarakan hal-hal pribadi. Aku ingin dia menyimpannya sendiri, sebab, belum tentu aku bisa selamanya dengan dia—apalagi mengingat status kami yang sesama lelaki. Tak heran dia tidak tahu aku punya adik perempuan. Yang pribadi biar jadi rahasia saja. Aku tidak mau memanggul rahasia-rahasianya sampai ke liang kubur.

“Nenekku meninggal,” lirih Kiev beberapa bulan lalu. Aku tidak banyak bicara, hanya meraih tangannya dan mendekap tubuhnya. Dia terisak. “Padahal,” katanya terbata, tapi sebelum bicara, aku sudah lebih dulu membungkamnya. Karena aku punya firasat dia akan membeberkan rahasia. Dan cerita itu pun sudah cukup lama.

Asap rokok mengepul di udara, menari-nari bersama angin. Bintang tersebar di langit-langit malam, menjadi penghias abadi yang kadang tidak dipedulikan keindahannya. Aku merenung. Benar. Bagaimana bisa Kiev bertahan denganku. Padahal dia tampan, dia bisa saja memiliki pria dewasa yang bersikap lembut padanya—yang jelas tidak sepertiku, kasar dan pemarah. Tidak sedikit gay bertebaran di kota Metropolitan ini. Kiev bisa berpacaran dengan siapapun selama ketampanan masih menjadi keunggulannya.

Aku tidak masalah jika Kiev lebih memilih pria lain.

Ah, benarkah demikian. Entah. Mungkin karena kata-kata Nina mendadak menohok hatiku ketika terngiang kembali. Kenapa Kiev … huh, pandir sekali aku ini. Seharusnya aku merasa bersyukur karena dapat memiliki seseorang yang menerima kekuranganku.

Kiev, tiba-tiba aku teringat pada pertemuan kami dulu. Aku adalah pelanggan rutin di Kafe Cozzee tempatnya bekerja. Nyaris setiap hari berkunjung ke sana, sekedar memesan kopi atau berkongkow-kongkow dengan teman sekantor. Aku selalu melihat Kiev. Tentu saja, itu karena dia pelayan tampan dan manis yang ada di sana. Kebanyakan gay menyukai tipe seperti Kiev, termasuk aku.

Seorang pria asing selalu berbicara dengannya, mereka tertawa dan kadang aku menangkap basah si pria asing menepuk bokong Kiev. Dari sana, barulah aku tahu kalau dia pun sama sepertiku. Kemungkinan itu dipertajam sesaat setelah aku tak sengaja melihat Kiev menampar si lelaki asing—ya, menampar dengan tangan bukan bibir. Kiev menangis dan pergi.

Esoknya kuputuskan untuk menyapa. Kiev tidak seceria biasanya. Dia murung.

Kukatakan padanya, hey, kenapa kamu tidak bersenang-senang bersamaku. Saat itu aku yakin dia menganggapku om-om hidung belang. Percayalah, aku tidak tahu bagaimana cara yang baik dalam bertutur-kata. Kukatakan padanya sekali lagi, maksudku, anak muda, temani aku habiskan kopi ini, jangan memandangku seolah aku akan memakanmu.

Dan Kiev tertawa kecil. Itu adalah tawa pertamanya untukku. Aku meminta pada manajer agar memperbolehkan pelayannya menemaniku mengobrol—sebenarnya itu termasuk alibi, alasan utama tentu saja karena hatiku tercuri oleh Kiev dan aku berniat untuk mengenalnya hingga suatu hari bertanya apa dia akan menyimpan hatiku atau membuangnya.

Bagian ini adalah yang paling memalukan. Aku membuat lelucon dengan wajah datar, tapi dia menghargai leluconku dengan tertawa. Dari jarak sedekat ini, aku bertanya-tanya, ternyata sebegitu indah sepasang matanya. Mata malaikat telah jatuh ke bumi. Dia tidak curiga sama sekali dan aku merasa bersyukur atas itu. Kiev mungkin belum sadar kalau saat itu aku sedang mencoba menghiburnya—dan mencuri hatinya.

“Saya bahagia sekali hari ini. Anda kado yang indah buat saya, teman pengusir sedih di waktu yang benar-benar tepat,” katanya diakhiri senyum. Dia masih bicara formal. Baru empat bulan kemudian aku berhasil mencuri hatinya dan menjadikan dia tawananku.

Setelah semua itu, masihkah aku berpikir tidak masalah apabila dia memilih pria lain? Aku sudah berusaha meraih hatinya selama ini. Kenapa aku menyia-nyiakannya begitu mudah. Dia boleh saja merusak ponselku, tapi, bukankah itu karena dia mencintaiku. Kiev tidak ingin aku memiliki kekasih yang lain-lain, cukup dia saja. Dia ingin memonopoliku, begitupun sebaliknya. Kami sama-sama marah, sama-sama kecewa, cemburu. Cinta.

Tapi, duh, kenapa aku jahat sekali. Sebatang coklat rasanya takkan mampu membayar segala kekejamanku padanya. Dan sial, aku tak pandai berkata-kata.

Sebatang coklat … ah, Kiev. Pertama kali aku mengenalnya di bulan Februari. Dia menganggapku kado. Barangkali, saat itu pun hari kasih sayang, meski aku tidak terlalu yakin mengingat aku tidak peduli dengan hal-hal semacam itu.

Hari ini hari istimewa bagi Kiev. Mungkinkah karena di tanggal yang sama inilah pertama kali dia mengenalku, pertama kali aku mengenalnya. Kalau memang begitu, mestinya ini juga jadi hari istimewa buatku. Tapi, kupikir itu bukan alasan yang sebenarnya. Entahlah.

Bintang-bintang masih menggantung. Dewi malam tak kalah cantik. Sebatang rokok tinggal abu. Aku merenung. Suara tik-tok jam terdengar samar, malam sudah sebegini tingginya ketika aku mulai sadar apa arti hari ini.

***

 

Satu kali, dua kali, tiga kali, aku melirik jam di tangan.

Pukul sebelas malam dan Kiev belum keluar dari Kafe Cozzee. Padahal aku berniat memberinya kejutan. Dia pasti kaget mendapatiku tiba-tiba ada di luar. Sekarang, justru akulah yang kaget karena sudah satu jam dia belum muncul juga.

Angin malam benar-benar dingin. Aku sampai harus merapatkan jaket.

“Jangan-jangan dia melihatku.”

Ya. Jangan-jangan Kiev melihatku. Dia marah karena kata-katanya sehabis bercinta itu tidak kudengar, lalu dia memutuskan untuk memberiku balasan dengan mengabaikan kedatanganku. Ah. Benarkah Kiev yang lugu itu sedemikian picik? Tidak, Leo, kamu harus tetap berpikir positif!

Dia pasti sibuk mengingat hari ini adalah hari kasih sayang. Pasti banyak muda-mudi yang berkunjung ke kafe itu. Ya, ya, bisa jadi begitu.

Aku masih setia menunggu dengan rokok di tangan. Malam semakin merangkak naik. Pikiranku yang semula tenang berubah kacau lagi. Tiba-tiba aku mengkhawatirkan Kiev. Rokok yang biasa terasa nikmat kini entah kenapa tidak sedap. Rasa khawatir telah membuat kenikmatan pada rokok itu menguap. Aku kalut.

Jam sudah menunjuk ke angka setengah duabelas malam!

Apa sebaiknya aku menerobos ke dalam kafe? Tapi, bukankah aku ingin memberi kejutan. Kejutan tidak akan mengejutkan kalau orang yang menjadi obyek tidak ada. Akhirnya rambut menjadi sasaran, aku mengacak-ngacaknya. Bingung. Bimbang. Masuk atau tidak? Aku berpikir keras. Berpikirlah lebih keras lagi!

“Apa yang sedang kamu lakukan, Leo?”

Kiev!

Aku memandangnya. Sosok Kiev tiba-tiba ada di hadapanku. Dia sudah mengenakan pakaian biasa, bukan pakaian kerja. Bagaimana bisa aku tidak tahu kalau sendari tadi dia berjalan ke arahku? Kenapa aku terlalu serius berpikir sampai tidak menyadari kehadirannya? Duh, tolol.

“Sudah jam berapa ini?” tanyaku dengan nada tinggi di akhir. Ketololanku bertambah lagi. Aku sadar baru saja memarahinya.

Dia memandangku heran. “Aku lembur, banyak pelanggan yang datang.”

Sudah kuduga. Dia masih memandangku. Aku berdeham. Diam-diam merutuk dalam hati, bagaimana bisa justru benar-benar aku yang dibuat terkejut?!

“Ayo kita pulang,” ajakku sambil lalu.

Kiev tidak mengekor di belakang. Aku tahu. Sebab, aku tidak mendengar derap langkah kakinya. Dia mematung di tempat yang sama. Memandangku. Menatapku. Menyelidikiku. Pasti dalam benaknya bertanya-tanya, ada apa gerangan si Leo pemarah itu datang ke tempat kerjanya. Ada sesuatu yang salah dan tidak beres. Pasti begitu!

“Kiev, ada apa? Kamu tidak ingin pulang?”

“Kamu yang ada apa, Leo.”

Aku mendesah. Dia benar. Lalu, kuputuskan untuk melangkah kembali ke arahnya. Kami berhadapan. Sepasang mata bertabrakan, saling menyelidik. Diam-diam kedua tanganku masuk ke dalam saku celana.

“Kiev, apa kamu berharap aku datang membawa coklat?”

Keningnya mengerut, menciptakan barisan parut. Dia kemudian tertawa kecil.

“Tahukah kamu, Leo,” katanya. “Mengharapkan coklat darimu adalah mustahil. Kamu bukan tipe pria yang akan memberikan sesuatu yang manis padaku.”

“Tapi, pernahkah kamu berharap aku membawanya hari ini?”

Dia berhenti tertawa, kini dia tampak mulai serius menyimak kata-kataku. Kiev tersenyum, dia mengangguk sekali. “Ya, aku pernah berharap.”

“Sekarang tidak?”

“Sedikit.”

Aku mengeluarkan kedua tangan dari saku celana. Tanganku mengepal. Dia memandang ke arah sana. Matanya berkedip-kedip.

“Mustahil kamu membawa coklat dalam genggamanmu ini, kan?” tanyanya sedikit berharap.

Aku tersenyum. Lalu kedua tangan yang mengepal itu terbuka perlahan. Tidak ada apapun—tidak bahkan satu buah permen. Kosong. Kiev tampak kecewa. Mungkin dia berpikir aku membawa coklat berukuran minimalis, tapi ternyata aku tidak membawa apapun.

“Ya, aku memang tidak membawa coklat untukmu,” kataku. Dia masih memandang. “Tapi, Kiev, aku membawa kedua tangan ini untuk mengajakmu pulang.”

Mata malaikat itu sedikit bersinar. Apakah aku baru saja menyalakan kembali sinarnya yang sempat redup beberapa detik lalu? Entah. Meski begitu, dia belum menyambut kedua tanganku.

“Ayo saling bergenggaman tangan.”

“Kita di tempat umum, Leo.”

“Peduli kampret.”

Ragu, Kiev akhirnya menyambut tanganku. Kami bergenggaman. Wajahnya menunduk, tapi aku masih dapat melihat rona kemerahan di kedua pipinya. Dia tersipu. Lihat, bahkan dia tersenyum. Sudah pernah kukatakan, kan, aku mencintai Kiev tanpa perlu memberi coklat.

“Aku ingin mengecupmu.”

“Leo!”

Aku tertawa. Senang sekali bisa menggodanya. Sudah lama rasanya hubungan kami tidak sehangat ini. Terlalu banyak yang kami khawatirkan; tentang usia, orangtua, pernikahan, dan jenis kelamin serupa. Hal-hal demikian telah membikin hubungan kami terasa hambar hingga kemudian merenggang. Tapi sekarang aku sudah menghilangkan kerenggangan itu.

“Selamat hari kasih sayang, Kiev.”

Dia mendesah. “Sebentar lagi tanggal limabelas.”

Aku menaruh dagu di pundaknya. Dia tidak melakukan apapun untuk menyingkirkanku di sana. Lagipula, bukankah malam sudah puncaknya, kenapa harus meributkan segelintir orang yang melihat kami. Mereka tidak peduli, seharusnya kami pun begitu.

“Kiev…” aku memanggil namanya lembut. Lehernya bergerak gelisah. “Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu sekarang juga.”

“Katakan saja.”

Hening. Aku tidak langsung bicara. Kupejamkan mata, menikmati harumnya tubuh Kiev yang sangat kukenal. Tiba-tiba aku berkeinginan merengkuhnya. Tapi, tidak. Aku tidak boleh melakukan itu. Aku tidak mau Kiev marah.

“Kiev,” gumamku, jeda. Dia menahan napas demi mendengar kalimatku selanjutnya. Aku tersenyum, lalu melanjutkan. “Selamat ulang tahun.”

Kedua tangan kami yang saling menggenggam mendadak terlepas. Kiev melepaskan genggamanku. Kedua tangan itu berpindah ke punggung. Dia merengkuhku. Erat sekali.[]

 

SELESAI