Author’s say…

HALLO GUYS!!! Kenalin aku penulis. Ini adalah tulisan pertamaku. Lebih tepatnya tulisan pertama yang aku share di internet dimanapun. Dikritik juga nggak masalah. Namanya juga amatir. Kerena amatir identik dengan kritik. Enjoy the story.

***

THE JOURNEY LOVE STORY

Oleh : Chaera

 

Seperti hari-hariku yang lalu setelah putus dengan Matthew, aku akan selalu menghabiskan waktu makan malamku di cafe ini. Aku masih ingat beberapa bulan lalu diriku masih bersama Matthew, tapi kini tidak lagi setelah pertengkaran hebat kami hanya gara-gara hal sepele menurutku, sex. Padahal aku sudah memberi tahunya ketika dia ingin aku menjadi kekasihnya, bahwa aku bukan penganut free sex dalam dunia percintaanku. Tapi aku tidak bisa menyalahkan Matthew sepenuhnya, karena aku tahu seperti apa kebanyakan bentuk percintaan orang bule, tak ada percintaan tanpa sex. Matthew hanya ingin sesuatu yang dia anggap wajar, tapi aku menolaknya, selalu.

“Hai, Asian. May i join you?” Si bule ini tidak sopan memanggilku ‘Asian’. Memang aku orang asia. Tapi apa dia tidak bisa memanggilku dengan sebutan ‘boy’  atau ‘man’  saja.

Aku tak merespon apapun dari semua hal yang dia ucapkan. Mulai dari cuaca yang dia bilang ekstrim, mengomentari menu di cafe ini dan entahlah banyak lagi. Entah dia memang banyak bicara atau memang dia hobi mengomel.

“Tidakkah kau ingin menyambut perkenalanku?” Bule ini sudah menodongkan tangannya ke arahku. Dengan berat hati aku menyambutnya dan menjabatnya. “Derek Brussels Vandervick. You can call me, Derek.”

“Matara Theo Kristan. Call me Tara.” Lalu aku melerai jabatan kami.

Kudengar lirih bule ini melafalkan nama panggilanku berkali-kali.

“Where do you come from?”

“Indonesia.”

Sejak perkenalan itu, kami jadi sering menghabiskan waktu makan malam berdua di cafe ini. Karena Derek selalu menghampiri meja di mana aku duduk. Padahal aku sudah berganti-ganti meja. Tapi dia selalu pindah ke meja di mana aku duduk. Dan itu menyebalkan. Tapi setidaknya beberapa minggu ini aku memiliki teman makan meskipun dia jahil. Seperti sekarang ini.

“Apa sih maksudmu mengganti menu pesananku?” Ya, dengan kurang ajarnya dia mengganti menu makanan yang aku pesan. Tapi melihatku marah dia malah tak merasa bersalah sama sekali.

“Apa salahnya mencoba chicken steak?”

“Makan itu chicken steak-mu. Karena aku tak suka ayam.” Lalu aku pergi meninggalkan mejaku. Dengan tergesa Derek berusaha mencegahku tapi nihil. Aku sudah keluar dari cafe ini.

Makan malamku kali ini buruk, lebih buruk dari hari-hari kemarin. Hatiku masih merasa sedih setelah putus dengan Matthew, meski sudah berbulan lalu. Kini ditambah keisengan Derek yang mengganti pesanan salmon steak-ku dengan chicken steak. Bukan karena sifat isengnya yang membuatku marah, tapi karena menu yang dia pilih, aku tak suka makan daging ayam entah apa sebabnya aku tak tahu yang pasti aku benci daging ayam.

*

Ting Tong

Ting Tong

“Please, wait!” Aku menuju pintu, siapa yang bertamu malam-malam begini. Padahal aku sudah akan tidur setelah memnghabiskan beberapa roti di kulkas untuk pengganjal perutku yang gagal terisi tadi gara-gara Derek. “Siapa…” Aku kaget melihat orang di depan pintu.

“Boleh aku masuk?” Nyatanya dia sudah mendahuluiku masuk ke apartemenku. “Dimana dapurmu?” Seperti pernah kemari sebelumnya dia langsung mencari letak dapurku, sedangkan aku masih baru melangkah setelah sadar dari rasa terkejutku di depan pintu.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku tahu kau pasti lapar. Makanlah.” Dia menggeser piring berisi makanan Indonesia, rendang. Dia pasti membeli makanan itu di restauran dekat apartemenku.

“Aku sudah makan.”

“Ayolah.” Dia menarik tanganku. “Setidaknya ini sebagai permintaan maaf.”

“Aku sudah kenyang.” Itu yang keluar dari mulutku, tapi beda dengan perutku yang berkata sebaliknya.

Derek tersenyum mendengar suara tak sopan dari cacing-cacing di perutku. “Daripada kau nanti sakit lebih baik makanlah! Lagipula aku membawa dua porsi. Tidak mungkin aku menghabiskan ini sendiri.”

Lunturlah gengsiku karena rasa laparku lebih mendominasi. Aku dan Derek makan dengan menu yang sama, rendang dan nasi. Di sini makanan Indonesia bukan lagi hal asing. Orang Belanda sudah sangat familiar dengan makanan Indonesia. Mungkin karena ikatan sejarah selama lebih dari tiga abad lamanya.

“By the way, kenapa kamu tidak makan di restoran dekat apartemenmu? Selain dekat mereka juga menjual menu Indonesia.” Derek membuka percakapan setelah makan usai.

“Tidak mungkinkan aku bejalan pulang dari kantor ke restoran itu dengan kelaparan dan kedinginan?” Aku memang berjalan kaki saat pergi dan pulang kantor karena jarak kantor dan apartemen cukup dekat. “Sudah berapa lama jadi stalker-ku?” Dengan pede aku bertanya seperti itu, karena tidak mungkin dia tahu apartemenku secara tiba-tiba.

“Apa? Aku stalkermu?” Derek malah tertawa besar.

“Tidak mungkin tiba-tiba kau tahu dimana aku tinggal.”

“Ok, harus kuakui tembakanmu tepat. Beberapa kali dulu aku pernah mengikutimu sampai kau masuk apartemenmu. Maaf sudah lancang.”

“Sudahlah pulang sana.” Derek langsung berdiri, ku pikir dia benaran akan pulang tapi malah melenggang ke kamar tidurku. “Hey, Derek! Where are you going?”

“I will stay here tonight. I will.”

Tidak mungkin tengah malam begini aku membuat keributan dengan mengusir Derek. Akhirnya aku biarkan dia tidur di kasurku.

“Let’s go bed!” Derek menarik tanganku untuk tidur sekasur dengannya.

“No, i never sleep with you. Aku akan tidur di kamar tamu.”

“Trust me. Aku tidak akan macam-macam dengan mu. Kau boleh memukulku kalau aku berani macam-macam.” Derek manarikku lagi ke tempat tidur. “Jika kau khawatir, aku tidak akan melepas pakaianku.” Finally aku setuju, kitapun tidur.

*

Aku belum bisa tidur sejak kubaringkan tubuhku tadi. Kulihat Derek sudah tidur karena dia sudah bernafas halus. Aku merasa kasihan melihat Derek yang berkeringat aku rasa dia sangat kepanasan. Akupun beranjak dari tempat tidur untuk merendahkan suhu AC.

“Aku tahu kau sedang berusaha dekat denganku, Derek.” Aku duduk di sisi samping kasur, dimana Derek tidur. “Mungkin sudah saatnya aku mengubur kenangan Matthew dan menggantinya denganmu.” Kuberanikan diri untuk mencium keningnya. “Temani aku lagi esok hari. Good Night.” Aku beranjak tidur.

***

“Kemana sih Derek?” Aku menggumam sendiri.

Kuperhatikan seluruh ruangan di cafe ini tapi nihil. Sosok yang kucari tak ada. Mungkin dia belum pulang kerja, itu yang sedari tadi kupikirkan. Tapi sepertinya tak mungkin, ini sudah hampir dua jam dari jam pulang kantor. Kulihat kantor di sekitar sini sudah banyak yang tutup. Tinggal security saja yang berjaga.

“Kenapa aku gelisah? Harusnya aku senang tak ada Derek karena tak ada yang menjahiliku.” Tapi statementku itu tak mampu men-distract otakku dari Derek. Karena aku merasa tak enak terlalu lama di cafe ini, kuputuskan pulang.

Ternyata berhari berikutnya tak kutemukan Derek di bangku pengunjung di cafe ini saat jam pulang kantor. Tidak pula Derek menghampiri mejaku seperti kala itu dan duduk menungguku makan, merubah menu pesananku, menghabiskan separuh steak-ku. Semua kejahilan itu tidak ada lagi. Kini aku sendiri lagi berhari-hari. Selama hampir seminggu terakhir. Hari-hariku hanya kuisi berangkat, kerja, pulang dan berangkat, kerja, pulang lagi. Tak ada yang spesial? Memang.

*

“Kenapa aku tidak merasa ngantuk sih?” Aku beranjak lagi dari tempat tidur menuju dapur untuk menyeduh susu. Kata orang susu hangat bisa membuat tidur nyenyak.

Setelah aku selesai membuat susu, aku menikmatinya dengan menonton acara televisi. Salah memang caraku menikmati susu hangat ini. Harusnya aku meminumnya dan segera tidur. Tapi aku tidak, malah menonton televisi, meski acaranya tidak ada yang bagus menurutku. Sedang asyiknya menonton acara televisi. Bunyi bel pintu mengalihkan perhatianku.

“Siapa sih tengah malam begini bertamu?” Aku beranjak dari kursi. “Please, wait!” Aku membuka pintu di depanku.

“Halo apa kabar? Aku kangen denganmu.” Orang itu langsung memelukku. Sedangkan aku hanya diam antara marah, senang, terkejut dan apapun perasaan itu yang jelas semuanya campur aduk. Setelah melerai pelukannya dia berjalan mendahuluiku masuk apartemenku dan duduk di kursi di mana aku tadi duduk dan dia menyambar susu hangatku. “Tumben kau membuat susu tengah malam begini.”

Aku masih bergulat dengan perasaan yang campur aduk itu. Tidak merespon semua ocehannya. Aku masih berdiri di dekat pintu yang sudah kututup. Kulihat dia mengalihkan pandangannya kearahku.

“Tara, come here!” Dia melambaikan tangannya padaku. Aku masih diam.

“Kenapa kau tak pergi saja selamanya.” Derek terkejut mendengar nada bicaraku yang meninggi.

“What’s wrong? Do i have a mistake?”

“You ask me, do you have a mistake? Kau pikir selama beberapa hari ini aku tidak kebingungan mencarimu, menunggumu di cafe dan berharap kau akan menghampiriku. Apa kau tak pikir itu?” Aku luapkan semua yang aku alami akhir-akhir ini. Derek berdiri dan menghampiriku yang masih tegak di dekat pintu.

Derek tak berkata hanya meraih tanganku.

“Saat aku kesepian kau datang tiba-tiba mengisi hariku. Setelah aku terbiasa dengan kehadiranmu kau malah pergi?” Kurasa pandanganku mengabur karena berusaha membendung gumpalan airmata. “Dan kini kau datang hanya berucap bahwa kau kangen denganku. Kau tidak meminta maaf atau merasa bersalah karena pergi begitu saja.” Sial. Airmataku tak lagi terbendung.

“Maaf aku tak memberi tahumu jika aku pergi ke Prancis untuk urusan pekerjaan.” Derek menghapus air mataku. “Dan aku tak memberi tahumu karena kupikir itu bukan hal penting buatmu.”

“Meski aku sering bersifat tak peduli, lalu kau fikir kau bisa pergi setelah kau berusaha mengisi hariku?”

Derek tersenyum dan meletakkan telapak tangannya di atas kepalaku lalu dia membawaku kedekapannya. “I will be your boyfriend. Agar aku tak bisa lagi pergi dengan seenakku sendiri. Dan memenuhi harimu denganku.” Lalu dia mencium keningku. Aku langsung memeluknya balik.

***

Semenjak kami berpacaran, aku dan Derek tinggal di apartemen Derek. Semenjak dengannya juga aku jadi lebih sering tertawa dan kesal karena Derek sangat jahil dan iseng. Seperti ketika kita melewati lampu-lampu di pinggir jalan di kota ini, dia bilang “Apa yang kau lakukan jika senjataku ini sebesar tiang lampu itu?” Derek sambil menaruh tanganku tepat di segitiga bermudanya. Aku terkejut dan mengomelinya tapi dia hanya tertawa keras. Itulah Derek tidak bisa hidup tanpa ‘JAHIL dan ISENG’.

Keisengan Derek tidak hanya berhenti pada kejadian-kejadian kecil. Tapi juga kejadian yang bahkan membuatku menangis dan panik. Kejadian ini terjadi karena Derek memanfaatkan commitment-ku yang tidak melakukan sex selama kami berpacaran. Ini terjadi pagi hari saat aku bangun tidur.

“WAAA….” Aku berteriak mengeluarkan seluruh tenagaku. “DEREK! WHAT DID YOU DO!” Teriakanku tidak digubris, buktinya dia tidak bergegas ke kamar. Aku tetap di atas ranjang dengan selimut yang menutupi bagian bawah tubuhku.

Setelah berkali-kali kuteriakan namanya, akhirnya dia datang juga. “What the matter?” Sepertinya dia sedang memasak karena kini dia memakai apron.

“What did you do?”

“I am sorry. I can’t push my desire on you.”

“Kau bilang, gak bisa nahan nafsumu?” Aku merasa kecewa dengan Derek. “Padahal aku sudah memberi tahumu akan commitment-ku dan kau berjanji tidak akan melakukan ini padaku.”

“So sorry. I never do it again. Promise!”

“Mungkin memang saatnya aku merelakan semuanya.” Jeda panjang. “Aku memang yang salah tidak memberikan hakmu.”

Derek berjalan menuju ranjang sambil melepas clemeknya. Derek memelukku dan terus menyerukan maafnya juga janji bahwa dia tidak akan mengulanginya. “Please, trust me!”

Aku hanya diam tak merespon apapun. Aku juga tak mungkin berlari keluar kamar karena aku tidak memakai sehelai benangpun, hanya berselimut. Derek melepas pelukannya dan menuju televisi entah apa yang dia lakukan di situ. Setelah itu dia melenggang ke luar kamar.

Mendengar suara dari televisi yang sangat familiar dengan telingaku. Pandanganku beralih ke televisi tersebut.Aku menatap layar televisi itu awalnya menebak-nebak maksud rekaman ini. Sampai rekaman yang diputar di televisi itu selesai aku baru paham maksud kejadian pagi ini. Derek merekam semuanya.

“DEREK, COME HERE!”

Kudengar suara tawa Derek meski dia belum masuk kamar. “Surprise!” Katanya saat membuka pintu kamar.

“Kau sudah mengerjaiku! Dasar!” Aku melempar bantal-bantal yang ada di ranjang.

“Lemparkan semua, bila perlu selimutmu juga!” Dia terus berdiri dan menghidari seranganku. “Jika kau menginginkan apa yang ada di fikiranmu tadi. Lemparkan selimutmu!” Derek tersenyum jahil dan mendekatiku.

“Tidak akan, ambilkan pakaianku.”

“Ambil sendiri!” Derek malah berbalik.

“Please, ambilkan bajuku!” Suaraku memelan karena tenggorokanku terasa kering dan serak.

“Ini?” Derek menenteng bajuku yang diguntingnya tadi untuk mengerjaiku.

Aku tahu detail mengapa baju itu digunting. Jadi dalam rekaman yang diputar Derek, menunjukkan kalau dia mengerjaiku dengan menggunting baju dan celana yang menempel di tubuhku. Sehingga membuatku tak berbaju sama sekali. Tapi dia tak berbuat apapun dengan tubuhku. Hanya menelanjangiku dan menyelimutiku lagi. Dasar JAHIL!!!

“Bukan! Yang bisa dipakai!” Aku merengek pada Derek.

Lalu dia mengambilkan T-shirt oversize dan celana pendek. “Perlu aku pakaikan?” Tak kujawab hanya kupelototi saja. “Just kidding. Pakailah supaya tidak kedinginan.”

Aku segera memakai pakaian itu. Setelah pakaian itu melekat di tubuhku aku menyingkap selimutku dan duduk di sudut ranjang.

“Kau jahat pagi-pagi sudah membuatku sepanik tadi.” Kataku saat Derek juga duduk di sampingku.

“Apa kau tak merasa sesuatu tak terjadi padamu. Semisal terasa sakit dibawahmu atau cuma lengket?” Derek mengacak rambutku yang sudah sangat acak ini. “Kau sangat polos ternyata.”

“Padahal aku sempat kecewa padamu yang kupikir kau telah mengingkari janjimu.”

“Tak mungkin aku ingkar janji padamu.” Dijedanya ini dia memelukku. “Tapi masalah desire aku memang tak bisa menahannya jika di dekatmu begini. Apalagi saat melihatmu clothless seperti tadi.”

Mendengar ucapannya aku langsung berusaha melerai pelukan kami. “Lepaskan!”

“Aku tak mau melepasmu.” Entah kenapa dia membuang nafas besar. “Agar kau tidak kecewa saat aku benar-benar melakukannya denganmu. Will you marry me?”

Aku sangat terkejut mendengarnya. Kudongakkan wajahku menghadap wajahnya. Lidahku kelu tidak bisa menjawab pertanyaannya. Actually, aku ingin mengiyakannya tapi aku malah diam berkutat dengan pendengaran dan kesadaranku.

Kecupan Derek menyadarkanku. “Will you marry me?” Dia mengulangi pertanyaannya.

“Seperti yang kau tahu, i’m Indonesian. Dan di negaraku pernikahan sejenis itu mustahil terjadi.” Aku masih dipeluknya.

“Kita akan menikah disini, di Belanda.”

“Pernikahan pasti butuh restu orangtua. Bagaimana dengan orangtuaku?”

“Aku berjanji akan mengusahakan apapun untukmu.” Derek melerai pelukannya dan sekilas mencium keningku. “Ayo makan! Breakfast had been ready.”

***

“DEREK! KENAPA LEMARIKU LONGGAR SEKALI?” Kuteriakkan kebingunganku.

“What the matter, Honey?” Derek berdiri di depan pintu kamar memperhatikanku yang hanya berhanduk. “Tak usah panik. Pakailah pakaian terbaikmu.”

“Kita akan pergi kemana?” Aku tahu kalau Derek mengajakku pergi, tapi entah kemana kali ini. Karena setiap kali derek mengajakku pergi dia selalu bilang, pakailah pakaian terbaikmu.

“Aku akan memberi tahumu ketika selesai sarapan.”

“Tapi koper-koper ini untuk apa?”

Derek tak menggubrisku. Dia langsung pergi begitu saja. Sedangkan aku langsung mengikuti instruksinya untuk mengenakan pakaian terbaikku. Dan setelah itu menyusul Derek ke meja makan.

“Where will we go?” Kukorek lagi informasinya setelah kami selesai sarapan.

“We’ll go to Indonesia.” Kalimat singkat Derek mengejutkanku.

“Kenapa mendadak?” Meski aku protes tapi dalam hati aku senang karena akan bertemu sanak famili.

“Tidak juga.” Derek menarik sesuatu dari tas selempangnya. “Ini buktinya, aku sudah mempersiapkannya.” Dia menunjukkan tiket dan dokumen-dokumen penting untuk ke luar negeri.

“Curang! Kenapa tidak memberitahuku?”

“Akukan sedang memberitahumu sekarang.” Derek tersenyum jahil. “Jangan mendebat lagi. Ayo berangkat keburu telat.”

Lalu Derek menyelempangkan tas selempangnya dan menyeret kedua koper kami. Satu koper bajunya dan satu koper bajuku.

“Biar aku yang membawa koperku sendiri.” Aku kasian pada Derek yang membawa banyak barang, sedangkan aku tak menenteng apapun.

“Yakin?”

“Iya. Kau kekasihku bukan asistenku.” Aku mengambil satu koper dari Derek dan berjalan mendahuluinya.

Tak perlu kuceritakan apa saja yang terjadi di bandara. Aku pikir semua orang yang ada atau pernah di bandara untuk flight. Mulai dari pintu masuk bandara, boarding pass checking, sampai mulai terbang pasti sama. Begitupun denganku sama, tak istimewa. Demikian juga dengan kedatangan sama dengan departure  yang tak spesial. Intinya biasa saja.

“Wah!!! Pa!!! Lihat siapa yang datang.” Ibu berteriak sangat nyaring, amat sangat. Aku maklum mungkin karena terlalu kangen denganku. Tapi Derek, dia sangat terkejut. “Maaf Mama tidak tahu kalau ada tamu lain.”

“Ini tamu besar loh, Ma.” Aku menimpali.

“Ini Pa, anak kita pulang dan katanya dia membawa tamu besar.”

Papa diam memperhatikan Derek yang berada tepat di depannya.

“Iyalah Pa. Lihat tubuhnya.” Aku menengok Derek. “Sudah gede tinggi pula.” Jangan diartikan tubuh Derek gemuk, nggak. Tubuh Derek itu proporsional ala orang Eropa.

Papa hanya mengangguk lalu tersenyum memberi isyarat untuk masuk ke rumah. Begitupun dengan Mama juga melakukan hal yang sama dengan Papa. Seperti halnya tamu, benar-benar tamu. Kami disambut dengan suka cita oleh Mama dan Papa. Tak lupa tetangga-tetangga juga menengok. Sebenarnya aku dan Derek masih lelah karena perjalanan dari Belanda ke Indonesia. Tapi semua itu luntur ketika tetangga-tetangga datang entah memastikan keadaanku atau memastikan kalau di rumahku ini ada bule. Yang jelas aku senang.

“Apa kau sedang berusaha, Derek?” Aku sedang memperhatikan Papa dan Derek yang makin hari mereka makin akrab. Seperti sekarang mereka sedang menanam tanaman, entah tanaman apa dalam polybag. Mereka terlihat akrab meski komunikasi mereka tak lancar, karena terlihat Derek sesekali menggunakan isyarat tubuh.

“Kemarilah!” Papa melambaikan tangan untuk memanggilku. Aku menurutinya. “Tidakkah kau juga ingin menanamnya?”

“Tidak. Itu kotor. Inikan sudah sore, lagi pula aku sudah mandi.” Aku melenggang pergi tapi langkahku kalah cepat dengan gerak tangan Derek.

Plakk!!! Derek membalingkan tanah yang digenggamnya.

“Derek!!! What did you do?”

Derek menjulurkan lidahnya dan melemparku tanah yang sama.

“Astaga! Itu kompos Derek. Papa!? Kenapa Papa hanya diam.” Kutatap Papa dengan kesal.

Kini malah Papa ikut melempariku. Akupun tak mau kalah, kubalas melempari mereka.

*

“Karena kau dan papa aku harus mandi lama untuk membuat tubuhku wangi lagi.” Aku masih mengomel sedari tadi. Aku dan Derek sedang bersantai di kamarku.

“Lagian kenapa ikut main tanah.” Derek melenggang santai dari depan almari, dia baru saja mengganti pakaiannya dengan boxer dan shirtless, Derek menuju pintu untuk menutup dan menguncinya.

“Kau yang melempariku lebih dulu.” Aku sedang berbaring di ranjang.

“Melempar seperti ini?” Derek melemparkan tubuhnya diatasku.

“Geser tubuhmu. Ingat! Kau sudah janji.” Aku menggeser tubuhnya.

Cup! Derek menciumku sebelum dia turun dari atasku.

“Maaf ya, Derek. Aku tak bisa memenuhinya sekarang.” Aku mencium Derek yang kulihat sudah terlelap padahal ini masih sore.

***

Seminggu di Indonesia tidak membuat Derek jenuh. Bahkan ketika kami akan kembali ke Belanda dia memaksa untuk tetap tinggal di Indonesia. Tapi kubilang itu tak mungkin karena pekerjaan sudah menunggu. Akhirnya Derek menurut.

“Harusnya kita tetap di Indonesia, setidaknya untuk seminggu lagi.” Derek bersandar di leher tempat tidur sambil memencet-mencet remot televisi.

“Apa kau mau kehilangan pekerjaanmu?” Aku tetap menata baju-baju kami dari koper ke almari.

“Hah!? Kerja, kerja, dan kerja.”

“Don’t be childish.” Tidak tahu kenapa aku merasa hari ini Derek sangat kekanakan.

“Aku sudah terlalu sayang dengan keluargamu.” Derek memelukku dari belakang. Otomatis aktivitasku terhenti.

“Kita masih punya summer holiday atau x-mas holiday  untuk ke Indonesia.”

“Janji?”

“What for?”

“For vacation to Indonesia every holiday.”

“No. Just for summer holiday. No more.”

“Tapi…”

“No more.”

“Oke. Dan ini syarat tambahannya. Ayo jalan-jalan.”

“Aku capek, Derek.” Derek tak menghiraukanku di masih tetap menarikku.

***

Jika memiliki janji memang harus ditepati, itu kata Derek. Hal itu tidak hanya berlaku untuk dirinya sendiri tapi juga orang lain. Karena aku sudah janji padanya untuk berlibur ke Indonesia setiap liburan musim panas. Alhasil tiga kali musim panas kami selalu ke Indonesia. Tapi tidak untuk musim panas ini. Karena aku harus mengurus peluncuran produk baru dari perusahaan di mana aku bekerja.

“Maaf, kita tidak bisa ke Indonesia kali ini.”

“Kenapa? Tapi kau sudah bejanji.” Raut muka Derek langsung kecewa.

“Iya, aku memang sudah berjanji padamu, Derek. Tapi mau bagaimana lagi aku ada pekerjaan.”

“Ya, sudah aku juga ada pekerjaan penting.”

“Bukannya kau libur?”

“Siapa bilang? Minggu depan aku akan pergi mengurus pekerjaan pentingku itu.” Derek beranjak dari tempat duduknya. “Oh ya! Aku juga tidak akan pulang beberapa hari.” Lalu Derek melanjutkan langkahnya dan meninggalkanku yang masih duduk di sofa dan masih bingung dengan sifat Derek pagi ini.

Ternyata ucapannya pagi itu bukan guyonan. Nyatanya seminggu setelah hari itu dia benar-benar pergi entah ke kota atau negara mana aku tak tahu. Yang jelas aku mengantarkannya sampai bandara. Itu artinya dia akan pergi jauh. Dan imbasnya aku harus hidup kesepian di apartemen ini. Kalau dihitung-hitung sudah dua minggu ini aku menjalaninya.

***

“Aku pul….” Kupotong sendiri kalimatku. Aku lupa beberapa minggu ini Derek tidak ada di apartemen ini karena dia mengurus urusan yang dia bilang ‘penting’ itu.

Setelah aku berada di dalam apartemen. Kok lampunya sudah menyala?, pikirku. Tapi kupikir aku lupa mematikannya tadi pagi. Aku ragu untuk melangkah karena kudengar ada suara tawa di dapur. Kulajukan langkahku karena aku ingin tahu ada siapa di dapur. Alangkah terkejutnya aku melihat siapa saja yang ada di dapur, bukan lebih tepatnya meja makan.

“Eh… udah pulang. Kau bilang kangen Mama dan Papa? Peluk dong mereka sudah jauh-jauh dari Indonesia.” Memang aku kangen Mama dan Papa. Tapi aku tidak pernah bilang hal ini ke Derek. Apa rencana Derek kali ini?

“Iya Ma, Pa aku kangen kalian.” Aku ikuti rule-nya Derek.

Aku, Mama dan Papa saling berpelukan melepas kangen. Setelah acara kangen-kangenan, kami lanjutkan dengan makan malam. Sedari aku pulang kantor tadi hidangan makan malam sudah siap. Tapi sempat terbengkalai karena acara kangen-kangenanku dengan Mama dan Papa. Karena hari ini ada Mama sama Papa acara makan malam berlangsung lebih lama dari biasanya. Kami saling mengobrol tak tentu arah. Paling lucu adalah Derek yang kalang kabut menggerakan tangannya agar Papa dan Mama tahu apa yang Derek maksudkan.

*

“Kamu punya rencana apalagi sih?” Aku keluar dari kamar mandi, karena dari tadi aku masih disibukkan dengan acara makan malam yang panjang.

“Harusnya kamu tahu.” Derek sedang bersender di kepala ranjang. Kulihat dia sedang membaca buku dengan kondisi shirtless dan memakai kacamata bacanya. Satu kata ‘SEXY’. Tidak munafik, kalau aku tak punya komitmen pasti aku sudah menggodanya tiap malam.

“Kau pikir aku peramal yang tahu segala hal.” Aku sedang berdiri di depan almari untuk berganti pakaian. Kukenakan T-shirt oversize dan celana jersey. Lalu aku melompat ke ranjang, berbaring di samping Derek.

“Kau tak lupa kan rencana kita?” Derek masih sesekali menekuri bukunya.

“Rencana apa?” Kupeluk perut Derek.

Derek menutup bukunya dan melepas kacamata yang kubilang membuatnya sexy. Lalu dia merosotkan badannya untuk berbaring dan menarik selimutnya lebih keatas. “Kau akan tahu besok pagi. Ayo tidur.” Derek mecium keningku. “Good night.”

“Ayolah Derek! Beri tahu aku.” Kugoyangkan tubuhnya yang memelukku.

Derek maraup mukaku dengan tangan lebarnya. “Tidurlah ini sudah malam. Apa aku perlu memberimu sesuatu agar kau mau tidur?”

Aku tahu maksud Derek. “Nggak!”

“Makannya jangan bangunkan singa tidur.” Derek mengeratkan pelukannya.

***

“Kenyang.” Aku bersandar di leher kursi. “Mama pasti yang masak.”

“Kok kamu tahu?” Tanya Mama tak percaya.

“Lidahku ini sudah nempel dengan bumbu-bumbu ala Mama.”

“Ngomong-ngomong bumbu. Mama agak sulit untuk mendapatkan bumbu yang dibutuhkan.” Mama mengeluh karena memang bumbu Indonesia di sini agak sulit. Meski tidak sesulit di negara Eropa lainnya. Tapi menurut Mama tetap sulit untuk mendapatkannya.

“Ini tadi bumbu dari mana?” Kini Papa bersuara setelah meneguk kopinya.

“Ini dari nak Derek. Nggak tahu dapatnya darimana.”

Aku memandang Derek yang berjalan kearah kami. Derek selesai mencuci piring. Tadinya aku yang akan mencuci piring tapi Derek bilang temani saja Mama dan Papamu. Alhasil dia yang mengerjakannya.

“Derek, where did you get the herbs for this dishes?” Aku bertanya pada Derek.

“I got it in supermarket in the first floor.” Memang apartemen kami memiliki supermarket di lantai satu.

“Aku kira kau mengambilnya dari tetangga kita.” Kutanggapi dengan candaan yang membuat Mama dan Papa melotot kearahku.

“EHEM….” Derek berdehem menarik perhatian aku, Mama, dan Papa.

“Kenapa nak Derek?” Papa bernada khawatir atau entahlah.

“Are you okay, Derek?” Kini aku yang bersuara.

Diam cukup lama yang membuat suasana menjadi tegang. Aku mulai curiga dengan Derek. Aku ingat sesuatu, jangan-jangan dia mau…. Not now, Derek.

“Aku mau bilang kepada Papa juga Mama kalau aku….” Derek menghela nafas berat. “Aku mau minta izin untuk menikah dengan Tara.”

Kalimat Derek membuat suasana menjadi dingin dan beku. Kulihat wajah Mama dan Papa sangat terkejut. Apalagi kulihat Mama seakan kecewa denganku dan sepertinya Mama juga menahan sesuatu yang mungkin ingin dia luapkan sekarang. Tapi seakan itu semua tidak bisa dilisankan.

“Aku tahu hubungan ini tidak wajar. Tapi aku sangat mencintai anak kalian.” Derek mengedarkan pandangan pada Mama dan Papa. “Aku berjanji akan menjaga dan setia pada anak kalian.”

Tidak ada yang menanggapi ucapan Derek. Kupikir kami sedang berkutat dengan pikiran masing-masing. Aku hanya diam tak mampu berucap karena kulihat Mama sudah meneteskan bulir bening dari matanya.

“Begini nak Derek….”

“Mama.” Suaraku dan suara Derek yang keras menghentikan kalimat Papa.

“Mama bangun!” Aku panik. Aku langsung memeluk mama yang tiba-tiba pingsan. Sedang Papa berusaha menopang tubuh Mama.

“Take her to hospital by my car.” Derek bergegas mengambil kunci mobilnya.

***

Disinilah aku dan Derek sekarang. Duduk di bangku beton yang ada di taman rumah sakit ini. Setelah dokter memeriksa keadaan Mama dan meyakinkan kepada Papa, aku, juga Derek bahwa Mama baik-baik saja, hanya perlu istirahat. Bukan tanpa tujuan aku mengajak Derek ke taman ini.

“Sepertinya kita memang harus berpisah.” Dengan berat hati kuucapkan kalimat pilu itu.

“What??? Are you serious?” Derek tampak tak percaya. Akupun juga begitu, tak percaya dengan apa yang aku ucapkan tadi.

Kuhela nafas berat. “Apa yang terjadi pada Mama mungkin ini tanda kalau Mama tak setuju.”

“Tapi kita bisa berusaha lagi, Ra.”

“Tapi kalau Mama tak setuju, usaha kita akan sia-sia.” Kelopak mataku terasa berat dan berembun.

“Aku tidak akan melepasmu semudah itu.” Derek merengkuh tubuhku kepelukannya.

Aku tak bisa bersuara lagi. Hanya sesenggukan.

“Kita akan menjalani ini berdua. Aku akan selalu memperjuangkanmu.” Derek merenggangkan pelukannya. “Don’t cry!” Derek menghapus air mataku. Tidak kukira bahwa cinta Derek kepadaku sebesar itu.

Selama Mama dirawat di rumah sakit aku belum sekalipun ke apartemen. Bukan berarti aku tak ganti baju, ya. Derek selalu membawakanku pakaian ganti saat dia berkunjung ke rumah sakit setiap malam sepulang kerja. Mama sudah dirawat di rumah sakit ini selama empat hari ini. Kata dokter tadi pagi ketika memeriksa kondisi Mama, dia bilang kalau kondisi Mama terus membaik. Mungkin lusa Mama sudah boleh pulang. Semoga, Amin.

“Sudah makan belum?” Derek datang dengan membawa paper bag yang ku tahu isinya pasti bajuku. “Here you are. Ganti baju dulu, bajumu sudah kumal.” Katanya sambil mengarahkan dagunya padaku.

“Aku belum makan, Papa juga.” Kuraih kantong kertas itu dari tangan Derek. “Bentar ya. Aku ganti baju dulu.” Kutinggalkan Derek ke toilet untuk ganti baju.

Selesai aku ganti baju tadinya Derek pamit ke Papa untuk mengajakku makan tapi tidak tahu kenapa Papa mencegahnya. Papa memanggil Derek untuk masuk ke kamar Mama. Tapi saat aku mengikutinya masuk, malah aku tak diizinkan Papa. Perasaanku mulai tak enak. Akhirnya aku harus menunggu Derek di luar kamar berdua dengan Papa.

“Kenapa sih, Pa?” Entah ini yang keberapa kali aku bertanya seperti itu. Tapi papa selalu menjawab….

“Mana Papa tahu, dari tadi Papa duduk berdua denganmu.”

Selesai. Daripada aku terus bertanya tapi jawaban Papa selalu ‘kosong’. It means aku cuma dapat capek.

“Kok lama sih, Pa?” Aku merengek lagi.

“Tunggu saja.”

Benar. Tak lama dari itu pintu kamar Mama terbuka, keluarlah Derek. Tapi kenapa dia seperti habis menangis. Mama jangan lakukan itu pada kami. Jangan pisahkan kami.

“Derek? Are you crying?” Kuhampiri Derek tanpa kuhiraukan Papa. “Is everything good?”

Derek tak bergeming. Masih berusaha menghilangkan jejak air matanya.

“Derek. Please, say something!”

“Everything is better. Better so much.”

Aku tetap bingung. Better? Tapi kok nangis?

Derek memelukku. “Mama… Mama bilang….”

“Mama bilang apa?” Tak kubalas pelukan Derek.

Derek merenggangkan pelukannya. Tersenyum. “Kita akan menikah.”

Aku bengong. Apa aku tak salah dengar? “Kita???”

“Kita nikah. Mama merestui kita.”

“Seriously?” Kupeluk Derek dan ia pun menyambut pelukanku.

Ku lepas pelukan Derek. Aku langsung masuk ke kamar Mama dan segera memeluknya. Sambil berkali-kali kuucapkan terima kasih pada Mama.

“Makasih Ma.” Aku menangis sambil memeluk Mama.

“Sama-sama. Mama akan selalu bahagia selama kau bahagia.”

“Papa juga nak. Akan selalu bahagia dan bangga denganmu.”

Papa dan Derek ikut memelukku dan Mama.

THE END

 

Terimakasih guys, udah sempetin baca cerita ini. Jika perlu dikomen pedes juga nggak masalah. Nggak dikomen juga nggak masalah. Yang penting jangan cari masalah.😀