Love_Story_Cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

(Warning : pengantar ini mungkin akan panjang dan memuakkan, skip jika kalian ingin langsung ke cerita)

Salam…

Aku ingin sedikit memberikan pencerahan kepada beberapa orang di antara kalian yang kebetulan mungkin―hanya jika mungkin―agak kesulitan memberi batas bagi diri sendiri untuk satu dan dua hal yang seharusnya diberi batas jelas. Tunggu, ini agaknya tak patut dikatakan sebagai sebuah pencerahan mengingat aku bukan filsuf atau ahli sufi, tapi… yah, katakan saja ini adalah, luapan kejengkelan yang mungkin bisa mempengaruhi anggapan kalian terhadap seorang Nayaka Al Gibran yang tidak hanya menjadi Nayaka Al Gibran sepanjang waktu seumur hidupnya. Biar kuulang, Nayaka Al Gibran yang tidak hanya menjadi Nayaka Al Gibran sepanjang waktu seumur hidupnya. Sekali lagi, SEPANJANG WAKTU SEUMUR HIDUPNYA.

Sebelumnya aku minta maaf. Ini khusus PLU dan teman-teman bukan PLU yang sudah kadung punya identitas ganda gara-gara iseng tertarik sama dunia PLU. Maaf, karena aku harus bertanya : apakah ada di antara kalian yang tidak bisa mengetahui siapa diri kalian ketika sedang berada di jagat internet dan siapa diri kalian ketika sign out dari dunia internet dan melihat perbedaan di antara keduanya? Untuk lebih jelasnya, biar kucontohkan pada diriku sendiri. Aku adalah Nayaka Al Gibran dengan segala ketidakjelasan dan keanehan yang dimilikinya ketika aku berada di dunia maya, dan Aku adalah manusia biasa yang punya orang tua punya aktivitas dan memiliki kehidupan sosial plus satu atau dua masalah pelik dengan segala keterbatasan dan kekuranganku ketika berada di luar dunia maya, dan aku bisa merasakan perbedaan di antara keduanya. Ada yang belum bisa menjawab pertanyaan di atas buat diri sendiri? Jika ada, e-mail aku!

Selanjutnya, untuk sekedar mengingatkan barangkali kalian lupa jika aku pernah dan sering berkoar-koar tentang ini. Penting untuk diketahui bahwa, AKU BUKAN SEORANG PENULIS, aku hanya satu di antara sekian banyak orang di semesta ini yang kebetulan hobi menulis. Penulis adalah mereka yang menjadikan menulis sebagai pekerjaan, sebagai sebuah profesi (semoga kalian paham makna kata ‘pekerjaan’ dan kata ‘profesi’, jika tidak, cari saja di KBBI), mereka menulis nyaris sepanjang waktu, dan tulisan yang mereka hasilkan hampir selalu bagus dan jarang membuat kecewa, satu lagi, mereka dibayar untuk pekerjaan mereka. Lalu, apa bedanya dengan mereka yang hobi nulis? Lihat bedanya padaku, pada tulisan-tulisanku, juga pada ritme blogku. Kelihatan? E-mail aku juga jika belum kelihatan.

Mungkin kalian akan paham setelah membaca contoh berikut ini :

Salah seorang kakak laki-lakiku berprofesi sebagai mekanik. Selama enam hari dalam seminggu dia bekerja di bengkel motor dengan segala peralatan perbengkelan dan tentu saja, seragam mekaniknya. Kakak laki-lakiku ini hobi memancing, memancing dalam arti sebenarnya yang melibatkan mata kail dan ikan, bukan memancing perhatian apalagi memancing keributan (omong-omong, orang macam apa yang punya hobi memancing keributan?). Kadang di akhir pekan, jika benar-benar punya waktu dan mood memancingnya sedang on, dia akan menyiapkan pancingan dan menggali cacing sebagai umpan. Ide utama pertama : dari senin hingga Sabtu kakakku adalah mekanik dan nyaris setiap hari dia memperbaiki motor yang bermasalah. Ide utama kedua : di hari Minggu kakakku kadang menyalurkan hobi memancingnya dan itu bukan berarti kalau dia akan memancing di setiap hari Minggu.

Sudah kelihatankah?

Dan semua kalimat-kalimat di atas berawal dari segelintir keluhan yang kuterima mengenai blogku yang jarang ‘diperbarui’, tulisan yang jarang disambung, dan permintaan yang terlalu menuntut. Perlu untuk diingat, blog ini adalah wadah untukku menyalurkan hobi (untuk lebih paham kalimat yang kugarisbawahi ini, lihat ceritaku tentang kakak laki-lakiku di atas).

Jujur, Teman… ada masa dimana aku begitu senang mendapatkan perhatian sebanyak itu dari kalian, aku senang, sungguh. Tapi mohonlah mengerti aku, aku tidak sepanjang waktu menjadi Nayaka Al Gibran. Aku punya kehidupan yang membutuhkan perhatianku jauh lebih besar, yang menyita waktuku jauh lebih banyak, yang walau tidak begitu menarik tetap harus kudahulukan segala sesuatu yang ada di dalamnya, yang harus kutemukan jalan keluar untuk setiap masalah yang timbul, yang kadang-kadang butuh waktu bagiku untuk memanjakan diri dan diam tanpa melakukan satu aktivitaspun, yang selama menjalaninya aku bisa saja jatuh sakit yang membutuhkan istirahat dan tentu bisa mati, dll, dsb, dst.

Berkata begini, bukan berarti aku tak suka kalian bertanya tentang blog dan tulisanku kepadaku, seperti yang kukatakan tadi, aku senang―dan aku bersungguh-sungguh ketika mengatakan ‘aku senang’. Namun ada masanya juga dimana semua itu benar-benar membuatku gerah. Maaf jika aku harus kasar, kesannya seakan kalian tidak tahu berterima kasih (Tuhan tahu betapa aku tak ingin mengetikkan kalimat itu). Rasanya bagai aku dirong-rong dan dipaksa-paksa, diatur-atur, dan aku benci dipaksa apalagi kalau sampai diatur-atur. Aku menulis kapan aku suka, aku apdet kapan aku mau, aku menulis sekuel untuk cerita apapun sesukaku dan semauku.

Aku tak ingin menyombong, juga tidak sedang main hitung-hitungan. Aku sangat sadar diri kalau tak ada yang pantas disombongkan dariku, dan hitung-hitungan mungkin malah akan membuat kalian memandangku yang kalau diterjemahkan dengan kata-kata akan berbunyi tak jauh-jauh dari : memangnya siapa kau pikir dirimu?. Namun, aku ingin kalian tetap menjawab pertanyaan ini dengan hati : berapa lama kalian sudah kenal tulisan-tulisan Nayaka Al Gibran? Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu? Dan apa yang telah didapatkan Nayaka Al Gibran selama kalian mengenal tulisannya? Pujian, kritikan, surat bejibun di inbox akun gmail, satu dua follower tambahan di twitter, atau popularitas di kalangan PLU? Lalu, berapa banyak tulisan Nayaka Al Gibran yang telah kalian baca? Satu judul cerbung, dua judul cerpen, atau tiga oneshoot bersekuel?

Jika kalian baru mengenal tulisan Nayaka Al Gibran sehari, abaikan aku. Jika kalian pikir aku maruk pujian, kalian salah karena aku lebih suka dikritik secara cerdas (harap beri perhatian lebih pada kata ‘cerdas’). Jika kalian pikir aku butuh difollow lebih banyak orang, kukatakan : bagiku tak ada bedanya punya sedikit atau banyak follower di sana, dan followerku juga masih hitungan jari, jadi apa yang bisa kubanggakan? Tak ada.

Aku palsu, Nayaka Al Gibran secara teknis tidak benar-benar ada, dia hanya sebuah identitas kedua, jika begitu, apa pentingnya sebuah kepopuleran bagimu jika pada dasarnya kamu tak pernah exist untuk menikmati dan membangga-banggakan popularitas itu secara nyata? Sungguh, jawabannya adalah TIDAK PENTING. Oh hell… bahkan Nayaka Al Gibran sama sekali jauh dari kata popular, dan dia sadar itu. Dan terimakasih buat yang sudah membaca satu cerbung, dua judul cerpen dan atau tiga oneshoot bersekuel yang ditulis Nayaka Al Gibran bila kalian benar-benar bisa menikmati saat membacanya lalu dalam hati mengucapkan terimakasih tulus buatnya.

Maafkan atas segala kata yang kurang berkenan di dalam baris-baris di atas, karena sekali lagi, Nayaka Al Gibran hanyalah manusia biasa jua. Harapanku, semoga aku mendapatkan pemakluman jika ke depannya blog ini kian jarang apdet. Dan aku juga akan maklum jika setelah membaca pengantar ini, sebagian besar dari kalian mungkin akan ilfil pada Nayaka Al Gibran dan lalu berhenti mengunjungi blognya, tak mengapa bagiku. Dikunjungi atau tanpa dikunjungi kalian pun, aku akan tetap menyukai menulis dan menempatkan tulisanku di sini, dibaca atau tidak dibaca, tak akan berpengaruh banyak. Menulis hanya hobi, kan? J

Last, buat kalian yang masih sudi melihatku meski setelah kukasari lewat paragraf-paragraf di atas, kupikir kali ini kalian benar-benar akan bisa menikmati membaca LOVE STORY seperti aku menikmati ketika menulisnya. Kenapa? Karena menurutku pribadi, ini semestinya akan jadi salah satu masterpiceku, aku sendiri jatuh cinta pada setiap karakter yang kubuat di sini, dan aku sudah mengerahkan semua kemampuanku, sepertinya. Jadi kupikir, tak ada alasan buat kalian untuk tidak membacanya lalu menikmatinya.

Terimakasih

Love and peace

Wassalam.

n.a.g

##################################################

 

Karena matahari selalu terbit di timur lalu tenggelam di barat

Karena fajar selalu merah sedang senja selalu jingga

Karena lolongan serigala dan bulan purnama adalah sejoli alam

Karena hujan butuh mendung untuk menjadikannya lumrah

Karena Agamemnon perlu Achilles untuk menaklukkan pantai Troya

Karena setiap pengembara pasti punya rumah untuk kembali pulang

Karena semesta pasti tak seimbang jika aku dan kamu tak bersama…

―Marius, dalam Karena

***

PROLOGUE

Setiap orang punya kisah cintanya masing-masing. Well, kalimat itu rasanya terlalu universal. Biar kupersempit. Setiap orang dewasa yang pernah dan masih hidup―jika mereka tidak menjomblo sejak pubertas pertama hingga ajal menjemput―pasti punya kisah cinta mereka sendiri. Ibuku punya, kisah cintanya dimulai ketika bertemu seorang pria yang menghasilkan kepakan sayap kupu-kupu di perutnya saat magang di sebuah perusahaan di jantung ibukota. Ayahku juga punya, kisah cintanya yang paling fenomenal dan berakibat fatal pada status Lajang Paling Dicari miliknya dimulai ketika dirinya terpesona pada karyawati magang di perusahaan ayahnya, langsung saat menginterviewnya. So klise. Intinya, mereka punya kisah cinta milik mereka sendiri.

Marius―my beloved brother―juga baru mengawali kisah cintanya empat bulan yang lalu dengan cewek bernama Cinderella (aku berani bersumpah kalau namanya beneran Cinderella. Ya ya ya, aku juga terpingkal saat pertama kali Marius memberitahukannya padaku. Seperti kalian, aku juga bertanya-tanya : apakah Marius merasa dirinya jadi Pangeran karena jatuh cinta pada seorang  Cinderella? Misteri ini hanya bisa dijawab Marius sendiri). Adikku satu-satunya itu berandalan sejati di satu sisi dan di satu sisi lainnya―yang mungkin hanya terlihat olehku―dia juga saudara yang peduli. Ini kukatakan bukan karena dia selalu jadi sekutuku paling setia dalam banyak hal di rumah, tapi lebih karena dialah satu-satunya orang di rumah yang bersikap masa bodoh pada status lajangku yang sudah beberapa kali jatuh tempo. Setiap kisah cinta punya awal, dan kisah cinta Marius juga tentu saja punya awal. Jika ibu dan ayahku memiliki awal kisah cinta yang klise, punya Marius lebih klise lagi, bahkan agak-agak memalukan menurutku.

Kisah cinta Marius berawal di satu food court. Jadi, saat itu ayahku baru saja membekukan kartu kredit Marius untuk mencegah adikku itu boros-borosan secara membabi buta dan tak terkendali. Hari dia mengantri di food court itu, kurasa dia lupa memeriksa keadaan dompetnya terlebih dahulu, tapi yang pasti bukan karena dia lupa jika kartu kreditnya tidak bisa digesek karena ayahku sudah mewarningnya beberapa hari sebelum itu. Saat nampannya sudah full terisi, dia kelabakan karena uang cashnya tak cukup tujuh ribu lima ratus perak untuk membayar makanannya. Ketika pramusaji di konter mengembalikan kartu kreditnya, saat itulah kisah cinta Marius dimulai.

‘Pakai uangku saja, Kak…’

Marius jatuh cinta pada cewek SMA yang membayar kekurangan tujuh ribu lima ratus perak untuk nampannya, begitu pengakuannya saat dia bercerita padaku. Well, aku bisa menerka-nerka alasan mengapa cewek SMA itu mau merelakan jajannya untuk menambal kekurangan harga nampan Marius, kurasa itu bukanlah karena si cewek adalah anak soleha yang dermawan luar biasa, tapi karena si cewek yang tepat berdiri di balik punggung Marius itu tak kuasa menolak pesona kejangkungan dan keatletisan dari sosok adikku, tidak jika mereka berada dalam jarak sedekat itu. Jadi ya, tentu saja karena itu.

Dalam Titanic―yeah, Titanic, Rose Bukater memiliki kisah cinta yang begitu tragis dan menyedihkan. Meski demikian, kisah cintanya tetaplah luar biasa―aku bersungguh-sungguh ketika mengatakan kisah cintanya luar biasa―hingga meski Titanic sudah tertinggal begitu jauh di belakang, kisah cinta di dalamnya selalu membuat siapapun terhenyak lama di hujung film―setidaknya begitu yang selalu kualami. Bayangkan jika Jack Dawson tidak memenangkan taruhan, bayangkan jika Rose Bukater tidak hendak mengakhiri hidupnya malam itu di hadapan Jack. Mungkin baik Jack maupun Rose tidak akan pernah mengalami kisah cinta yang sungguh-sungguh kisah cinta selama hidup mereka. Rose akan terjebak bersama pria membosankan seumur hidup dalam pernikahan yang tidak diinginkannya, dan Jack tak akan pernah merasakan betapa mencintai wanita luar biasa seperti Rose bisa membuatnya bahagia dan berarti selama menjalani hidupnya yang singkat.

Setiap orang punya kisah cinta masing-masing. Jika hingga hari ini kau belum punya, jangan berkecil hati, mungkin itu akan dimulai esok saat kau tak sengaja tertidur di bahu seseorang dalam sebuah perjalanan, atau lusa saat kau membunuh waktu luang dengan satu cup milkshake di sebuah taman dimana seseorang juga sedang membunuh waktu luangnya di sana, atau minggu depan di wedding party sahabatmu dimana seseorang juga sedang menjadi tamu undangan. Yang ingin kukatakan adalah, tak peduli kapanpun hal itu terjadi, jika kau memang pantas mendapatkan seseorang, maka Tuhan akan memperjalankan seseorang itu menujumu.

Pertanyaannya, seberapa pantaskah kita?

Nah, pertanyaan sialan itulah yang hingga kini masih belum bisa kujawab, bahkan untuk diriku sendiri. Dan lebih sialan lagi, aku mulai merasa jika diriku tak cukup pantas untuk memiliki seseorang dan menulis kisah cinta yang sungguh-sungguh kisah cinta dengannya, yang setiap detilnya begitu memorable, diingat hingga tua dan ompong, diceritakan kembali pada generasi berikutnya, dikenang hingga mati. Sepertinya, ‘setiap orang punya kisah cintanya masing-masing’ tidak berlaku buatku. Atau, sejak awal ‘setiap orang punya punya kisah cintanya masing-masing’ memang tidak diperuntukkan buat kaum minoritas? Oh, baiklah, dunia ini memang dipenuhi oleh orang-orang egois, kaum mayoritas yang egois, hingga sebuah ungkapan pun dilegal dan di-ilegal-kan untuk satu golongan terhadap golongan lainnya, legal buat mereka dan ilegal buatku dan kawan-kawanku di luar sana.

Namun aku tak bisa berhenti mendambakannya. Tak peduli apapun status seksualku, tak peduli setua apapun usiaku, tak peduli kapanpun hal itu terjadi, jika aku memang pantas mendapatkan seseorang, maka Tuhan akan memperjalankan seseorang itu menujuku. Aku hanya perlu bersabar hingga kisah cintaku dimulai, lalu akan kutulis kisah cinta milikku sendiri, seperti ayah dan ibuku menulisnya, seperti Marius Al Farisi dan Cewek SMA Yang Namanya Seklasik Dongeng Cinderella juga menulisnya, seperti sutradara Titanic menulis kisah cinta Jack Dawson dan Rose Bukater. Bisa saja, mengapa hingga sekarang aku belum bertemu seseorang untuk menjalani kisah cinta dengannya bukan karena aku tak cukup pantas, melainkan belum ada seseorang yang cukup pantas untukku. Bisa saja, saat ini Tuhan sedang melempar dadu untuk memilih seseorang yang lebih dari sekedar pantas untuk diperjalankan-Nya menujuku…

***

Hal terakhir yang diinginkan Miqdad Al Kausar hari ini setelah bertubi-tubi kejadian tak mengenakkan dialaminya sepanjang hari di kantor adalah : diusik anak ingusan saat coffee time yang seharusnya menjadi jeda singkat untuk merileksasikan seluruh ketegangan di ototnya dan nyut-nyutan di kepalanya sebelum pulang ke rumah. Sebenarnya, anak ini tidak sepenuhnya ingusan―bahkan mungkin selama hidupnya dia tak pernah melewati fase dimana ingus membentuk dua garis vertikal di bawah lubang hidungnya. Anak ini sudah remaja, dan tampak demikian bugar dan sehat, begitu bugar dan sehatnya hingga dia bisa disebut sebagai remaja paling bugar dan sehat di zaman ini. Satu-satunya hal―tidak, bukan satu, tapi dua―yang tampak tidak ‘sehat’ pada sosoknya adalah seragam abu-abunya yang kusut dan kumal dan juga rambutnya yang bagai baru saja diamuk beliung, seolah-olah badai Katrina baru saja lewat sejengkal di atas kepalanya. Tapi Miqdad sedang mengalami hari yang buruk hingga yang terlihat tidak sehat pada sosok si anak bukan hanya dua hal itu, melainkan seluruh sosok si anak adalah ketidaksehatan buatnya.

“Sore, Om…”

Nyut-nyutan di kepala Miqdad kini tidak hanya di kepala, tapi mulai menyebar hingga ke ujung jempol kakinya kiri dan kanan, matanya mendelik garang pada si anak. Ketika tanpa rasa bersalah anak di depannya malah memamerkan senyum miring buatnya, ingin saja Miqdad mencabut tiang kanopi yang menaungi kursi tempat duduknya sekarang dan menghantamkannya ke wajah tanpa dosa si anak.

“Sambil nunggu kopinya datang, mungkin Om mau dengerin dua atau tiga lagu dulu yang akan saya nyanyikan?” Si anak mencondongkan badannya dan mengusik senar gitarnya satu kali.

“Gak,” jawab Miqdad sambil melengos dan berharap anak di depannya segera pindah ke kanopi yang lain.

“Kalau gitu dua deh.”

“Gak.”

“Satu aja deh, Om, ya?”

“Gak.”

“Reffreinnya aja deh.”

Miqdad hilang sabar. Jika tadi nyut-nyutan di kepalanya menyebar hingga ke jempol kaki karena dipanggil Om, sekarang ditambah kengototan si anak Miqdad kembali tersadar pada nyeri kuat di pergelangan kaki kirinya. Anak ini membuatnya makin merasakan efek keseleo yang dialaminya ketika tergesa-gesa turun tangga saat di kantor tadi.

“Saya bilang enggak,” kata Miqdad dengan nada tegas yang biasa diperdengarkannya saat menghadapi bawahannya di kantor.

Untuk sejenak, si anak tampak berpikir, masih belum beranjak pergi. Lalu tenang saja dia menarik kursi di depan Miqdad dan mendudukkan bokongnya di sana. Dia tak menghiraukan pandangan membunuh dari pria di depannya. Si anak menyandarkan gitarnya begitu saja lalu menjalin kedua jemarinya sebelum meluruskan tangan di atas meja dan lalu memandang serius pada Miqdad.

“Apa!?” kata tanya ini keluar lebih sebagai bentakan garang ketimbang pertanyaan dari mulut Miqdad.

“Om pernah ditolak?”

“Aku bukan suami tantemu!”

“Kamu pernah ditolak?”

Dalam kesal, Miqdad juga kaget mendapati perubahan gaya bicara si anak. Jika tadi si anak bicara dengan nada dan kalimat yang begitu rendah dan sopan, kini dia bicara seolah-olah Miqdad tidak lebih tua darinya. Dalam kagetnya, Miqdad hanya melongo.

“Sepanjang sore ini, aku sudah ditolak berkali-kali. Dan itu menyebalkan, kalau kamu pernah ditolak, kamu pasti tau kalau rasanya benar-benar menyebalkan. Padahal aku hanya butuh dua menit, atau tiga menit. Apa susahnya sih merelakan waktu segitu untuk orang sepertiku?”

Miqdad menelan ludah.

“Sekarang, kamu juga menolakku. Tunggu sebentar, biar kuhitung…” Si anak melerai jalinan jemarinya dan mulai berhitung. “Kamu tau,” lanjutnya setelah selesai mengira-ngira, “kamu adalah orang ke dua puluh satu sore ini yang menolakku.” Dia mempentangkan kedua tangannya di depan Miqdad. “Bahkan aku kehabisan semua jari yang kumiliki untuk menghitungnya, jari kakiku pun sudah tak cukup lagi.” Lalu dia menunjuk ke satu kanopi di mana sepasang pemuda dan pemudi sedang asyik pacaran. “Kalau aku ke sana, mereka juga pasti akan menolakku, bahkan jika aku menyanyikan lagu cinta paling romantis dengan suara paling merdu sekalipun mereka pasti akan mengusirku. Siapa yang ingin diganggu ketika sedang bermesraan kayak gitu?” Si anak mencondongkan badan ke arah Miqdad, tingkahnya seperti menunggu pria di depannya memberi jawaban. “Tak ada,” katanya setelah Miqdad hanya diam, “tak ada yang ingin diganggu ketika kita sedang bermesraan begitu. Dan itu wajar, Men… wajar.” Miqdad hendak bersuara ketika anak di depannya kembali buka mulut. “Sesaat tadi kulihat kamu datang sendiri, dan sekarang kamu tidak sedang bermesraan. Kupikir kamu jomblo yang sudah pernah ditolak dan tau rasanya ditolak hingga mustahil menolakku. Tapi lihat…” Si anak mempentangkan kedua lengan sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi, lalu dia kembali tersenyum miring. “Kamu menolakku, Men…!”

Pelayan datang―bertepatan dengan si anak yang menunduk mengambil gitarnya―dan langsung pergi lagi setelah meletakkan mug kopi milik Miqdad. Ketika si anak kembali duduk tegak dan terlihat siap pergi, Miqdad baru benar-benar memperhatikan sosok di depannya. Yang pertama kali diperhatikan Miqdad adalah baju seragam si anak yang tidak terkancing sempurna, memperlihatkan oblong putihnya yang berprint wajah Einstein. Terlihat Einstein seperti sedang mengejek Miqdad dengan menjulurkan lidahnya, seakan baru saja berkata ‘Kasian deh lu dikira jomblo sejati yang udah ditolak berkali-kali, sama anak kecil lagi… weeekkk’. Selain wajah Einstein, Miqdad juga menemukan penilaian lain : dada si anak cukup lebar untuk remaja seusianya. Lengan kemeja seragamnya yang memang sudah pendek dibuat kian pendek dengan digulung dua atau tiga gulungan yang tidak rapi, tumpang tindih dengan lengan oblong di dalamnya, menyuguhi Miqdad dengan pemandangan lain : bisep yang sudah terbentuk. Lalu Miqdad memperhatikan wajah dan langsung mendapatkan kesimpulan kalau pasti ada segolongan cewek di tempat si anak bersekolah yang mengidolakan wajahnya. Yang terakhir menjadi objek perhatian Miqdad dalam jeda singkat itu sebelum si anak meninggalkan kursinya adalah gitarnya.

“Sampai ketemu, Twenty One…”

“Hey, tunggu!” Miqdad merogoh dompetnya dan si anak malah mendengus.

“Oh, lihat… sekarang kamu malah merasa kasihan setelah mendengar kisah dua puluh satu penolakan yang sudah kualami sore ini dan berpikir kalau dengan memberiku uang maka kamu akan merasa lebih baik meski sudah menolakku?”

Miqdad tidak menemukan jawaban lain selain mengakui kalau ucapan anak di depannya begitu sesuai untuk dijadikan jawaban paling jujur. Memberi anak itu uang akan membuatnya merasa lebih baik karena sudah menolak, itulah yang memang sedang dipikirkan Miqdad. Pria ini hanya diam dengan dompet di tangan, bimbang antara melanjutkan merogoh dompetnya atau membiarkan anak itu pergi tanpa memberinya uang.

“Gak apa-apa, jangan merasa gak enak. Kamu bukan orang pertama kok yang nolak kunyanyikan. Lagipula, aku tidak pernah menerima sepeserpun uang untuk imbalan sesuatu yang tidak kulakukan.”

“Kamu bisa anggap aku pengecualian,” kata Miqdad dan mantap membuka dompetnya.

“Gak.”

“Kamu menolakku?” Miqdad menaikkan sebelah alisnya.

Anak di depan Miqdad yang sudah bersiap untuk pergi kembali memperlihatkan senyum miring. “Aku menerima imbalan dari mereka yang mendengarkanku menyanyi, jika tidak mendengarkan maka aku gak akan mengambil imbalan apapun dari mereka.”

Miqdad mati kutu. Sepertinya si anak sedang membalasnya. Tak menunggu respon Miqdad, anak itu balik badan dan mengambil langkah pertama untuk meninggalkan kanopi tempat Miqdad bernaung.

“Baiklah, aku berubah pikiran!” seru Miqdad untuk menghentikan gerak si anak dan merasakan kesenangan aneh ketika anak itu berbalik dan memfokuskan perhatian padanya. Miqdad menggerakkan tangannya sebagai isyarat menyuruh si anak kembali. “Aku mau mendengarkan satu lagu sambil mengopi…”

Si anak kembali mendekat. “Bagaimana kalau dua lagu?” tanyanya dengan mimik senang penuh kemenangan.

“Hanya jika aku suka.”

Sekarang dia melirik mug di depan Miqdad. “Kopinya masih mengepul, bagaimana kalau tiga lagu sambil menunggu kopinya tidak mendidih lagi?”

“Kamu mendengarkanku, hanya jika aku suka.”

Miqdad memperhatikan bagaimana jari-jari anak yang berdiri di depannya mengatur kekencangan senar dan merasa kagum sendiri, seakan mengatur kekencangan senar adalah pekerjaan yang butuh lebih banyak keahlian dibanding memetik senar itu sendiri. Atau memang begitu adanya? Miqdad tak paham apapun tentang gitar. “Oke, Om mau lagu apa?”

Miqdad naik darah lagi, namun alih-alih membentak si anak dia malah terdiam sambil menghembuskan napas panjang menanggapi gaya bicara dan kalimat anak di depannya yang kembali bernada rendah dan sopan.

Melihat kelakukan pria kantoran di depannya, si anak kembali memamerkan senyum miringnya. “Kenapa Om?”

“Stop manggil aku Om jika gak ingin kudinginkan kopi ini ke bajumu.”

“Oke, kamu mau lagu apa?”

Miqdad berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat keadaan playlistnya. “Adera, Lebih Indah mungkin…”

Si anak menjentikkan jarinya dan mulai memetik senarnya dengan irama yang gembira. “Saatku tenggelam dalam sendu, waktu pun enggan untuk berlalu, kuberjanji ‘tuk menutup pintu hatiku entah untuk siapapun itu…”

Selanjutnya, yang terjadi adalah, Miqdad terpaku di kursinya. Bahkan mungkin orang-orang di sekitar kanopi Miqdad, bahkan sepasang muda-mudi yang sedang bermesraan di bawah kanopi nun jauh di sana juga bisa saja terpaku.

“Huu… dan kau hadir merubah segalanya menjadi lebih indah, kau bawa cintaku setinggi angkasa, membuatku merasa sempurna…”

Miqdad terpesona hingga penghujung lirik.

“Oke, berikutnya?” tanya si anak setelah menutup lirik Lebih Indah dengan jreng-jreng gitarnya pada kunci yang tepat.

“Apa ada yang bilang kalau suaramu bagus?”

“Ada.”

“Siapa?”

“Mamaku.”

Miqdad mengernyit. “Kamu memanggil ibumu Mama?”

“Iya. Ada yang salah dengan itu?”

Miqdad menggeleng. “Tak ada, hanya saja aku jarang bertemu pengamen yang memanggil ibunya dengan Mama, biasanya mereka manggil Emak atau Ibuk.”

Well, aku manggil ibuku Mama.”

Miqdad mengangguk-angguk dan sekali lagi memperhatikan sosok si anak. Kali ini pandangannya berhenti pada sepatu bootnya yang terlihat mahal.

“Lagu berikutnya apa?”

Miqdad berpikir lagi. “Heartache, mungkin…”

“One Ok Rock?”

“Iya.”

“Kenapa? Kamu sedang patah hati, sedang dilanda kepiluan atau baru saja diputusin?”

“Bukan urusanmu.”

Anak di depan Miqdad tertawa pendek. “Pantas saja kamu menyebalkan. Bad day, huh?”

“Kamu mendengarkanku, bukan urusanmu!”

“Yap, memang bukan urusanku,” jawabnya lalu mulai memetik senar. “So they say that time, takes away the pain but I’m still the same…”

Sekali lagi, Miqdad mendapati dirinya terbius. Pria ini terbius sepenuhnya pada suara lelaki si anak, pada caranya bernyanyi, pada caranya memperlakukan gitarnya, pada caranya menyentuh dan memetik senar-senar benda itu, pada sosoknya. Miqdad benar-benar terbius pada apapun yang ada pada sosok Pengamen Bersepatu Boot Mahal Yang Memanggil Ibunya Mama di depannya sekarang hingga dia lupa kapan terakhir kalinya dirinya terbius pada sesuatu dengan cara sehebat itu.

“So this is heartache? So this is heartache? Hiroi atsumeta koukai wa namida e to kawari oh baby…”

Miqdad tak sadar jika dirinya sudah tak berkedip begitu lama.

“So this is heartache? So This is heartache? Ano hi no kimi ne egao wa omoide ni kawaru, I miss you…”

Miqdad yakin sepenuhnya, anak di depannya ini bukanlah pengamen sembarangan. Belum pernah dia bertemu dengan pengamen yang mampu membuatnya lupa berkedip dan lupa mengatupkan rahang seperti yang sedang dilakukannya sekarang.

“…I miss you, I miss you, I miss you, I miss you…”

Sekali lagi, not yang tepat menutup lagu kedua yang diminta Miqdad. Untuk sejenak, pria ini seakan menyadari kalau dia punya kulit. Lengannya meremang.

“Oke, last one?”

“Apa hanya ibumu yang bilang kalau suaramu bagus? Ah…” Miqdad menggerakkan lengannya di udara, “maksudku, mamamu.”

“Mungkin mbakku juga.”

“Papamu?”

“Oh, papaku mungkin sedang merumpikanku pada malaikat di surga sana.”

Miqdad terdiam dan merasa telah salah berucap.

Si anak melambaikan lengan di udara. “Gak usah masang tampang menyesal gitu, aku udah biasa tau. Ayo, lagu terakhir?” tanyanya.

“Terserah kamu.”

“Yakin?”

“Kamu mendengarkanku, terserah kamu.”

“Baiklah,” katanya dan jemari tangan kirinya kembali menemukan kunci baru. “I think that possibly, maybe I’m falling for you. Yes there’s a chance that I’ve fallen quite hard over you…”

Miqdad tak pernah tahu lagu yang dinyanyikan Pengamen Bersepatu Boot Mahal Yang Memanggil Ibunya Mama ini dengan suara pelan dan nyaris mendayu-dayu. Nadanya hampir rendah di semua lirik, bahkan cara dia menyanyikannya pun berbeda, bukan dengan suara yang dipakainya untuk menyanyikan dua lagu sebelumnya. Apa istilahnya, falsetto? Mungkin. Anak ini menyanyikannya dengan cara itu. Dan itu sama sekali tak jelek. Miqdad bahkan lebih terbius kini. Setiap liriknya seakan melewati membrane timpani miliknya lalu berdentang-dentang di dalam kepalanya. Seakan pesan dalam lagu itu khusus disampaikan buatnya.

“…if I didn’t know you I’d rather not know, if I couldn’t have you I’d rather be alone…”

Lirik itu membuat Miqdad gila. Maknanya masuk terlalu dalam ke kepalanya, tidak hanya berputar dan berdentang-dentang namun mengendap di serabut-serabut neuronnya. Di depannya, si anak sedang berusaha menyelesaikan bait penghabisan lagu yang belum pernah diketahui Miqdad itu, lagu yang sudah membuatnya menyesal sepenuhnya karena telah menolak si anak pada kesempatan pertama tadinya, lagu yang membuatnya mulai terusik pesona sosok si anak remaja yang sedang menyanyikannya.

Miqdad bertepuk tangan sendirian meski dia cukup yakin kalau bukan hanya dia seorang saja yang mendengarkan nyanyian pengamen di depannya itu, tapi juga mereka di sekitar kanopinya.

“Kuanggap itu sebagai jawaban kalau aku gak salah pilih lagu terakhir,” tunjuk si anak pada telapak tangan Miqdad yang baru saja berhenti bertepuk.

“Aku gak tahu lagu itu, tapi sumpah, Nak… itu tadi sangat mengagumkan.”

Falling In Love At A Coffee Shop, Landon Pigg, gak pernah dengar?”

Miqdad menggeleng.

“Sekarang kamu pernah.”

Untuk pertama kalinya Miqdad tertawa.

“Aku suka melihatmu tertawa.”

Dan Miqdad langsung terdiam dengan tampang bego.

“Dan sekarang kamu kembali ke ekspresi aslimu lagi. Good…”

Miqdad tak tahu harus menjawab apa. Ini tidak biasa terjadi. Biasanya dia sangat tahu cara menghadapi ucapan apapun, dia biasa melakukan itu dalam pekerjaannya. Tapi kini dia kesulitan menanggapi ucapan seorang remaja belasan tahun yang masih berdiri sambil memeluk gitar di depannya. Ketika si anak berdeham, Miqdad tersadar dari kediamannya. Dia membuka dompet.

“Kamu ingin aku segera pergi, ya?”

Dan lagi-lagi Miqdad melongo.

“Kamu mau ngasih aku uang agar aku cepat-cepat pergi?”

“Kamu boleh duduk lagi jika kamu belum mau pergi.” Miqdad tidak tahu dari mana kalimat itu berasal, dia tak sempat berpikir ketika mengucapkannya. Kini, satu-satunya kursi yang masih kosong di bawah kanopinya kembali terisi. Dan Miqdad merasa dadanya berdebar.

“Jadi, mana jasmu?”

Miqdad menunduk ke dadanya, tidak dapat memastikan apakah yang ditunjuk si anak adalah kemeja warna merah muda pudar yang lengannya setengah digulung atau dasi warna coklat garis-garis putih yang hari ini dipakainya. “Kutinggalkan di mobil.” Si anak manggut-manggut lalu melirik mug di tengah-tengah meja. Miqdad menyadarinya. “Apa kamu menerima imbalan mengamenmu dengan hal lain selain uang?”

“Imbalan lain seperti dicium misalnya?”

Miqdad batuk-batuk sementara anak di depannya hanya tertawa. “Imbalan macam apa itu?” tanya Miqdad kemudian.

“Aku pernah dicium ibu-ibu kok.”

“He?”

“Iya. Katanya biar anaknya nurut cakep dan pinter nyanyi kayak aku.”

Sekarang Miqdad tertawa. “Kamu pernah dicium ibu-ibu yang sedang hamil sebagai imbalan mengamen?”

“Dia juga mendoakan hal baik buatku, sama ngasih burger juga.”

“Baiklah. Aku akan ngasih kamu kopi.”

“Tanpa ciuman?”

Miqdad bengong. Untuk sejenak dia hampir mengira kalau anak di depannya bertanya serius hingga si anak tertawa terbahak-bahak. “Sialan,” umpatnya lalu memanggil pelayan.

“Jadi, kamu punya nama?”

“Bahkan kucing piaraan saja punya nama, mengapa aku tidak?”

“Baiklah, kamu punya nama.”

“Ya, aku punya nama.”

“Dan?”

“Dan apa?”

“Dan namamu adalah?”

Miqdad harus mengakui kekurangajaran yang memesona pada diri siswa SMA di depannya. Dia sangat yakin kalau usia mereka terpaut sedikitnya sebelas atau dua belas tahun, tapi kini mereka terlibat percakapan seolah-olah rentang sebelas atau dua belas tahun itu tak pernah ada. Miqdad juga menyadari kalau sikap si anak lebih dewasa dari usianya, dan entah bagaimana itu mulai dirasa menyenangkan oleh Miqdad.

“Miqdad.” Si anak mengangguk-angguk mendengar Miqdad menyebutkan namanya. Pelayan menghampiri mereka. “Pesan saja terserah kamu,” kata Miqdad pada anak di depannya.

“Aku mau kopi kayak punya dia.”

Si pelayan mengangguk lalu pergi. Miqdad takjub pada cara berkomunikasi anak yang duduk di depannya itu. Ada kharisma pada sosok dan suara si anak yang sulit untuk tidak diakui.

“Aku Zaki.”

“Ada huruf ce sebelum ka dan pake ye di akhir?”

“Enggak.”

“Zaki,” ucap Miqdad.

“Yap, tepat seperti itu. Tapi Mama suka memanggilku Zek.”

Miqdad mengangguk-anggukkan kepalanya. “Well, Zek, kamu tahu mengapa sore ini orang-orang menolakmu?”

“Aku tau.”

Miqdad mengernyit. “Kamu tahu?” tanyanya sambil mencondongkan badan.

“Iya. Mereka menolakku supaya kita bisa segera bertemu.” Ditutup dengan senyum miring itu lagi.

“Aku juga menolakmu, dan alasannya karena kamu pakai seragam sekolah untuk ngamen,” kata Miqdad setelah kesulitan menelan ludahnya beberapa detik sebagai efek kalimat mengagetkan Zek.

“Kamu memang harus melakukannya supaya kita bisa duduk berhadap-hadapan kayak gini sekarang. Kalau kamu gak nolak sejak awal, pasti aku sudah pergi sejak tadi-tadi,” tukas Zek sengaja mengabaikan perkataan Miqdad tentang seragamnya.

“Kamu peramal?”

“Aku pembaca pikiran.”

Miqdad kembali terkaget-kaget menemukan keseriusan di wajah Zek dan langsung berusaha mengosongkan pikirannya. Dia tidak mau ketangkap basah kalau baru saja sedetik tadi dirinya memikirkan betapa bibir anak di depannya adalah bentuk bibir paling jantan yang pernah dilihatnya sejauh ini. Miqdad tidak yakin kalau wajahnya tidak pucat sekarang. Ide bahwa Zek adalah seorang pembaca pikiran benar-benar masuk akal buatnya. Itukah mengapa di awal tadi dia menolak diberi uang dan berlagak hendak pergi? Bahkan dia menebak dengan benar alasan mengapa Miqdad sampai ingin memberinya uang tanpa perlu bernyanyi. Itu pasti karena dia sudah membaca pikirannya, bahwa dengan bertingkah demikian maka Miqdad pasti akan memanggilnya kembali. Ini bahaya.

“Ja… jadi, kamu tau apa yang sedang kupikirkan?”

“Tentu saja. Aku bisa membacanya kayak baca buku teks di sekolah.”

Sekarang Miqdad yakin-seyakin-yakinnya kalau wajahnya sudah pias.

“Kamu sedang berpikir untuk mengosongkan pikiranmu, kan?”

Oh Tuhan. Anak ini benar-benar seorang pembaca pikiran. Miqdad ketar-ketir di kursinya. Dia belum pernah terintimidasi siapapun seumur hidupnya, sesaat tadi sosok di depannya juga belum menakutinya dalam kadar yang sungguh-sungguh membuat takut. Tapi sekarang, Miqdad merasa ketakutan. Bagaimana kalau anak itu sampai tahu orientasi seksualnya? Tentu saja, dunia buatnya kiamat hari ini.

Pelayan datang membawa kopi milik Zek. Dan yang dilakukan Miqdad adalah mengambil kesempatannya untuk melarikan diri. Dia merogoh dompetnya, meletakkan selembar uang seratus ribu di atas meja dan berdiri dari kursi. Nyeri di pergelangan kaki kirinya kembali menyakiti dengan serta-merta saat dia sudah tegak. “Aku harus pulang, sudah terlalu sore. Senang ketemu kamu, Zek, simpan saja kembaliannya untukmu…”

Miqdad mengambil satu langkah pertama dengan sedikit pincang, dan satu langkah berikutnya yang juga masih pincang. Lalu tawa kencang Zek mengagetkannya. Pada langkah ketiga, tawa Zek yang makin kencang membuat pria ini harus berhenti dari berjalan pincang dan menoleh. Di kursinya, Zek terbahak hingga bahunya berguncang. Miqdad mengernyit heran.

“Jangan katakan kalau kamu sungguh-sungguh percaya kalau aku bisa membaca pikiran,” ucap Zek setelah tawanya reda.

Miqdad ingin membunuh anak itu. “Sialan!”

Zek bangun dan menunjuk kursi yang semula diduduki pria dewasa yang sudah berhasil dijailinya beberapa kali sejauh ini. Miqdad tak punya pilihan lain selain kembali duduk. Lagipula, kopi miliknya belum diminum seteguk pun. Zek memperhatikan saja ketika Miqdad terpincang-pincang kembali ke kursi. Saat Miqdad sudah duduk, Zek langsung berjongkok di depan kaki pria itu.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Miqdad kaget.

“Aku pernah aktif di Pramuka. Kakimu terkilir?” jawab Zek sambil memegang betis kiri Miqdad dengan tangan kiri sedang tangan kanannya sudah siap membuka sepatu Miqdad.

“Gak usah!” Miqdad berusaha menarik kakinya, tapi cengkeraman Zek di betisnya sungguh kuat, menariknya malah membuat rasa nyeri di pergelangan kakinya makin kentara. Jadi, Miqdad menyerah. Sementara Zek mulai melepas sepatunya, Miqdad memutar kepalanya dan mendapati beberapa pasang mata memandang sekilas ke mejanya.

“Jadi, mengapa kamu bisa sampai percaya kalau aku dapat membaca pikiran?” Zek berhasil melepas sepatu Miqdad.

Miqdad menunduk, Zek yang sedang berjongkok membuat Miqdad bisa melihat puncak kepala anak itu. Rambut Zek yang pada awal tadi terlihat berantakan dalam pandangan Miqdad kini malah memberi kesan lain : kondisi rambut Zek laki banget.

Tiba-tiba Zek mendongak.

Miqdad gelagapan untuk mengalihkan pandangannya. Dadanya kembali berdebar. Sesaat tadi mereka benar-benar beradu pandang untuk pertama kalinya.

Ini gila, apa yang terjadi padaku? Bagaimana aku bisa naksir pada bocah ingusan begini? Gila. Aku sudah gila.

Zek kembali tersenyum miring, tangan kanannya baru saja berhasil menarik kaus kaki Miqdad. “Kamu belum jawab pertanyaanku,” katanya lalu kembali menunduk. Sekarang dia mulai menggulung ujung celana kerja Miqdad.

“Bagaimana kamu bisa menebak kalau aku sedang mengosongkan pikiranku?”

Zek mendongak lagi dan terkekeh. “Jadi benar?”

“Bagaimana kamu bisa menebak setepat itu?”

Zek menggidikkan bahu. “Kupikir, itu yang bakal dilakukan orang-orang jika berhadapan dengan siapapun yang bisa baca pikiran. Aku juga akan mengosongkan pikiranku jika bertemu dengan apapun bentuk manusianya yang bisa membaca pikiran, terlebih lagi kalau dia orang asing. Kan?”

Sekarang Miqdad mengerti. Dia tidak bersuara lagi ketika Zek kembali memfokuskan perhatian pada kakinya. Miqdad merasakan telapak tangan kiri Zek pada telapak kakinya, membuatnya geli dan menekuk-nekuk jari kakinya. Tangan kanan Zek yang meraba pergelangan kaki kirinya dengan lembut membuat Miqdad merasa istimewa. Belum pernah ada satu orang pun yang memperlakukan kakinya seperti itu, Miqdad belum pernah terkilir sebelumnya.

“Di sini,” kata Zek sambil menekan bagian belakang pergelangan kaki Miqdad, sedikit dekat dengan mata kaki. “Apa sakit?” Zek mendongak.

Miqdad mengangguk.

“Kelihatan?”

Miqdad memfokuskan pandangan ke tumitnya dan dia bisa melihat kalau ada urat kebiru-biruan di bawah kulitnya di bagian yang ditunjuk Zek. “Iya. Aku gak tahu kalau akibatnya separah itu.”

Zek tertawa. “Ini tidak parah kok,” katanya sambil mengatur jari-jarinya di sekitar tumit Miqdad. “Aku bisa―”

“Akhh…!!!”

“Menganganinya dalam―”

Miqdad mengatupkan rahang.

“Sekejap.”

F*ck…! Sakit gila…!!!”

Zek terkekeh sementara Miqdad nyaris berair mata menahan sakit. Ketika tangan Zek meninggalkan kakinya, Miqdad merasakan sensasi terbebas dari pasungan. Tak percaya, dia menekuk-nekuk telapak kakinya dan yakin kalau deritanya sudah tersembuhkan ketika tidak merasakan nyeri apapun. Dipandanginya Zek yang sudah kembali duduk di kursinya dengan tatapan takjub.

“Kamu hebat,” kata Miqdad sambil geleng-gelang kepala. “Tadinya aku sudah berencana untuk mengobati kakiku ke klinik Tong Fang.”

“Santai saja, kamu bisa berterima kasih nanti.”

Miqdad tertawa menyadari kalau anak itu sedang menyindirnya. “Trims…”

Anything for you, Twenty One.”

“Kamu kebanyakan nonton film Hollywood.”

“Apa hubungannya?”

“Di sana anak-anak bicara persis sepertimu. Tak peduli lawan bicara mereka lebih tua bertahun-tahun, bahkan mereka bicara dengan orang tua sendiri layaknya teman sebaya.”

“Aku sudah mencoba bicara sopan denganmu dari awal, kamu marah kan?”

“Kamu memanggilku Om!”

Zek menelengkan kepala. “Lalu, apa aku harus manggil kamu Dik?”

Miqdad sadar percuma bicara pada anak di depannya. Jadi dia mengabaikan Zek dan mengangkat mug kopinya, dihabiskannya isi mug hingga tak bersisa. Kopi Miqdad sudah dingin karena terlalu lama terbiar. Zek melakukan hal yang sama, bedanya dia harus meniup-niup untuk mengosongkan mugnya.

Langit sudah temaram ketika pria kantoran dan remaja SMA itu meninggalkan kursi di bawah kanopi. Zek menolak uang kembalian yang disodorkan Miqdad padanya. “Sudah cukup dengan kopi, kok,” katanya, dan Miqdad tidak membantah. Namun saat dikiranya Zek tak memperhatikan, diam-diam Miqdad memasukkan uang itu melalui lubang di pertengahan bodi gitar milik Zek.

“Trims buat semuanya, buat lagunya, juga buat tangan Pramukanya.”

Zek memamerkan senyum miringnya lagi yang sudah mulai familiar bagi Miqdad. “Makasih buat kopinya, juga buat tidak menolakku untuk kedua kalinya setelah lagu pertama.”

Miqdad tersenyum, sejenak dia kebingungan bersikap dan bersuara, Zek masih di dekatnya, terlihat sama bingung dengannya. “Jadi,” ucap Miqdad kemudian, “sampai ketemu?”

“Iya, sampai ketemu,” ulang Zek.

Zek melintasi halaman menuju jalan raya sementara Miqdad berjalan mendekati mobilnya yang terpakir di satu sisi halaman kafé. Ketika hendak masuk ke balik kemudi, Miqdad menoleh Zek yang sedang bersiap-siap menyeberang jalan. Dia tak berpikir jauh ketika berteriak. “Hey, Kid…!!!” Zek batal menyeberang dan berbalik memandang Miqdad. “Biarkan aku mengantarmu…” dari kejauhan, Miqdad bisa melihat senyum miring Zek sedikit lebih miring lagi.

“Aku ingin menolak, tapi kupikir kamu pasti akan bersikeras. Jadi, ya, aku akan ke situ…!”

***

Kini Miqdad paham apa yang dirasakan adiknya ketika bertemu cewek SMA di gerai fastfood. Dia juga bisa memaklumi mengapa saat bercerita padanya sehari kemudian Marius terlihat begitu sumringah, begitu berseri-seri. Ternyata jatuh cinta efeknya memang begitu. Tapi, benarkah Miqdad tengah jatuh cinta? Pada siswa SMA yang usianya jauh di bawahnya? Tidakkah itu terdengar aneh? Tidak, itu bukan hanya aneh tapi juga mengerikan. Miqdad terpikir pada salah satu istilah paling horror yang diketahuinya tentang jenis hubungan semacam itu : pedophilia. Dirinya yang sedari awal memang sudah lain kini malah punya kelainan tambahan, menyukai anak yang lebih muda, begitu lebih muda untuk dijadikan pacarnya. Jelas ada sesuatu yang demikian salah dalam diri Miqdad.

Miqdad meninggalkan kursi kerjanya dan berjalan ke tingkap, berdiri di sana sambil memperhatikan cakrawala Jakarta di kala siang. Langit tampak biru bersih tanpa sebentuk awan pun. Cuacanya pasti begitu terik di luar sana.

Sudahkah Zek pulang sekolah?

Miqdad mencaci dirinya sendiri. Dia harus berhenti. Dia tidak boleh mengingat anak itu terus-terusan. Ini salah. Berapa usianya? Dua sembilan. Dan berapa usia Zek? Mungkin delapan belas. Ya, ini jelas salah.

Apa Zek datang ke kafé itu lagi?

Miqdad dilemma. Zek sudah memenuhi kepala Miqdad sejak dia menurunkan anak itu di depan gerbang sebuah rumah mewah kemarin petang. Zek sama sekali bukan berasal dari keluarga tak mampu, dia mengamen karena suka menyanyi dan mencintai gitarnya teramat sangat, dan dia menganggap pekerjaan mengamen sebagai sebuah petualangan, nyaris sebagai profesi di waktu luang. Intinya, anak itu tidak mengamen karena kekurangan uang. Dan mengetahui fakta itu malah membuat Miqdad semakin mengagumi Zek. Tapi, ya Tuhan, Miqdad… ini salah. Sekali lagi, SALAH!

Apa Zek juga sedang memikirkanku? Apa hari ini dia akan berusaha menemukanku di kafé yang kemarin? Apa dia sudah menemukan uang di dalam gitarnya? Bagaimana reaksinya ketika menemukan uang itu?

Miqdad sudah gila. Dia gusar dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Ditinggalkannya jendela dan kembali duduk di balik meja. Sesaat kemudian ponselnya berdering. Wajah tampan Marius terpampang di layar.

“Ada apa?”

“Pinjam uang, Miq. Bisa?”

Miqdad mendesah. Ini sudah mulai jadi semacam kebiasaan buruk Marius yang baru : ngutang. Sejak kartu kreditnya tak bisa dipakai, uang sakunya tak pernah cukup. Dan saat menjawab telpon tadi, Miqdad sudah menduga kalau adiknya akan pinjam uang lagi. Kalau setiap kehabisan uang Marius akan minta dia, apa bedanya punya kartu kredit dan tidak? Kalau sampai ayah dan ibunya tahu Miqdad sering ngasih uang ke Marius, Miqdad pasti diomeli. Kenyataannya, tanpa kartu kredit pun, Marius tetap bisa boros. Satu hal lagi, Marius selalu mengatasnamakan pinjaman setiap minta uang, padahal mereka berdua sama-sama tahu kalau itu sama sekali bukan pinjaman, itu adalah pemberian yang bisa dibilang dilakukan suka rela oleh Miqdad, Marius mustahil mengembalikannya. Kata-kata ‘pinjam’ cuma sebatas kata-kata saja.

“Miq?”

“Buat apa lagi, Ris?”

“Bayar uang kuliah.”

“Ya, boongin aja aku dan ini akan jadi kali terakhir kamu kupinjami!”

Di ujung sana Marius tertawa. “Oke, emm… Ella ulang taun. Aku mau beli kado dan ngajak dia makan malam.”

Miqdad kembali mendesah. “Kalau Ayah sampai tau aku sering minjemin kamu, aku bakal dimarahi.”

“Ayah sama Ibu gak bakal tau kalau kamu gak sengaja ngasih tau mereka.”

“Aku bakal bilang mereka jika kamu masih gak bisa ngatur keuanganmu mulai dari sekarang…”

“Oh ayolah, Miq… aku adikmu.”

Miqdad terdiam.

Marius juga diam beberapa saat sebelum kembali bicara. “Baiklah, aku janji bakal lebih bijak ngatur uang saku setelah ini.”

“Ini bukan pertama kalinya aku mendengar omongan semacam itu.”

Marius terkekeh. “Jadi, gak bakal ada pinjaman hari ini, ya?”

Miqdad tak menjawab.

“Baiklah, aku akan bikin kerincingan tutup botol lalu berdiri di simpang depan kantormu, mungkin rekan-rekan kerjamu bakal ngasih aku uang karena kakakku rekan kantor mereka. Kamu dapat bonus malu punya adik pengamen.”

Miqdad dengan serta merta teringat pada sosok Zek dan gitarnya. “Aku sama sekali gak malu punya adik pengamen, silakan mengamen saja jika kamu berani.”

“Jangan remehkan keberanian mahasiswa yang dompetnya sedang kosong, Brada…”

“Rekan-rekan kantorku gak ada yang kenal kamu, berdiri saja di simpang sana.”

“Sekretarismu kenal aku, dia sering menyambutku saat ke situ.”

“Hanya skretarisku.”

Marius menghembuskan napas lelah. “Miq, please… aku bakal gak enak sama Ella kalau ngebiarin ultahnya berlalu gitu aja.”

“Kalau dia beneran cinta kamu, dia akan memaklumi.”

“Aku akan datang ke situ dan masang tampang paling melas dan paling menyedihkan di depanmu. Kalau dengan begitu kamu masih belum mau minjemin, berarti wajar aja sampai sekarang kamu belum punya pacar. Hatimu sebeku salju ciptaan Elsa di Disney Frozen yang soundtracknya dinyanyiin Demi Lovato!”

Klik.

Miqdad tergigit lidahnya sendiri. Bukan karena Marius bawa-bawa Frozen lengkap dengan Demi Lovato segala dalam penutup kalimatnya, tapi itu karena tiga kata menyakitkan yang mengawali kalimat penutup Marius.

‘Hatimu sebeku salju…’

Itu sebuah tuduhan menyakitkan. Andai saja Miqdad bisa memberi tahu adiknya kalau saat ini keadaan hatinya begitu terbalik dari tuduhan tak benar itu. Andai saja usianya bukan dua sembilan dan Zek adalah seorang cewek, Miqdad tak hanya akan memberitahu Marius tentang keadaan hatinya, tapi dia akan mengabari seluruh jagat semesta.

*

Miqdad pamit pada Nilam setelah menitipkan amplop buat Marius pada sekretarisnya itu. Miqdad luluh setelah menimbang-nimbang, Marius pasti akan meminjam ke orang lain jika tak mendapatkan uang darinya. Dan pemikiran adiknya akan ditagih-tagih oleh orang asing benar-benar mengganggu Miqdad.

“Sebentar lagi adikku datang, kasih amplopnya sama dia. Kalau ada telepon untukku, alihkan ke ponselku.”

“Baik, Pak,” jawab Nilam setelah menerima amplop dari atasannya.

“Dan tolong suruh Bobby menyiram pot-pot di dekat jendela, bunganya nyaris kering.”

“Baik, Pak.”

“Tolong bereskan kertas kerja di meja juga buatku.”

“Akan saya lakukan,” jawab Nilam.

Miqdad menjinjing jasnya dan menuju elevator yang sempat bermasalah kemarin sore hingga harus membuat kakinya terkilir saat menuruni tangga. Di dalamnya, Miqdad terus berharap kalau akan menemukan Zek di kafé yang dikunjunginya kemarin.

Di mobil, Miqdad mendengarkan Adera, One Ok Rock dan Landon Pigg. Satu nama terakhir baru saja diunduhnya semalam. Sepanjang perjalanannya menuju kafé, tiga lagu itu terdengar berulang-ulang di dalam kendaraannya.

Miqdad berusaha agar bisa duduk di meja yang sama. Jadi ketika dua orang pengunjung meninggalkan meja itu, tanpa menunggu pelayan membereskan gelas dan piring saji Miqdad segera menuju mejanya dan memesan segelas besar espresso dan es pada sang pelayan.

Mata Miqdad tercari-cari ke seluruh penjuru kafe selama dia di sana dan ragu-ragu jika dirinya datang terlalu cepat. Aktivitas itu sempat terjeda ketika ponselnya bersuara. Marius kembali menelepon. Miqdad mengabaikannya hingga deringnya usai. Pria itu tetap tak mau menjawab saat dering berikutnya mengikuti. Espressonya datang ketika nada pesan aplikasi LINE di ponselnya berbunyi. Miqdad tahu kalau chat itu dari Marius bahkan sebelum membukanya.

(Marah?) ketik Marius.

Miqdad tak membalas.

(Aku minta maaf deh)

Jari-jari Miqdad masih diam.

(Dibaca doank nih?) ketik Marius lagi.

Jeda lama sebelum Miqdad mendapatkan pesan panjang dari Marius.

(Baiklah, aku tau kalau kata2ku memang keterlaluan tadi dan aku sungguh-sungguh minta maaf. Kamu benar, aku gak bisa terus2an kayak gini. Dan tentang Ella, kupikir kamu juga benar. Dia pasti akan memaklumi kalau sungguh2 cinta aku, dan aku yakin pasti dia akan begitu karena aku percaya dia mencintaiku tulus

Miqdad terpaku pada emo senyum setelah kata tulus sebelum melanjutkan membaca chat panjang Marius yang tidak biasa. Emo itu, seakan dia bisa melihat langsung wajah Marius yang sedang tersenyum bahagia padanya, senyum bahagia karena untuk pertama kali dalam usia mudanya dia memiliki seorang gadis yang diyakininya sungguh-sungguh mencintainya.

…Aku nitip lagi amplopnya sama Nilam, tapi isinya gak utuh ya, aku ambil 100rb buat isi bensin, lebihnya mau ajak Ella ke warteg kayaknya😀. Ini aku beneran ngutang, nanti semua pinjamanku kucicil tiap bulan pake uang saku dari Ayah. Aku sayang kamu, Miq, jangan pernah berani meragukan itu. Tuhan sudah melakukan hal benar dengan memilihmu jadi kakakku)

Untuk pertama kalinya, Marius berhasil membuat Miqdad terharu. Untuk pertama kalinya juga Miqdad merasa jadi kakak yang buruk selama bertahun-tahun dirinya sudah jadi kakak. Tak menunggu, dibukanya panggilan tak terjawab dari Marius.

“Halo?”

“Uang itu buatmu, jangan dititip lagi.”

Di ujung telepon, Marius terkekeh. “Aku udah di parkiran.”

“Ya udah, balik naik lagi dan ambil amplopnya.”

“Gak usah, Miq.”

“Aku memaksa!”

“Seratus ribu cukup kok.”

“Balik ke Nilam dan ambil amplopnya!”

“Kenapa kamu sengaja ngehindar, kenapa gak nunggu aku datang?”

Miqdad tak menjawab.

“Kamu muak ya lihat tampang adikmu yang bisanya nyusahin mulu?”

“Enggak.”

“Sebenarnya, kupikir kita bisa makan siang berdua tadi. Udah lama kan? Yah, kamu yang bayarin sih.” Marius terkekeh lagi. “Tapi kamunya malah kabur duluan.”

Miqdad menghela napas. “Besok, Ris, aku janji. Sekarang, kamu balik ke Nilam dan ambil amplopnya.”

“Enggak. Aku akan berhenti minjem uang deh, utangku udah terlalu banyak.”

“Kamu adikku, aku kakakmu. Dengan kakakmu, kamu gak perlu minjam kalau butuh uang, gak perlu minjam…” Suara Miqdad parau.

Hening sesaat. “Miq, kamu nangis, ya?”

Miqdad terdiam. Tenggorokannya tercekat. Seharusnya dia sadar dari awal perannya sebagai seorang kakak. Di manapun, di kehidupan manapun, seorang kakak sudah digariskan sejak awal sebagai guardian buat adik-adik mereka, sudah digariskan.

“Miq, hey…”

Miqdad menggumam. “Ya…”

“Gak apa-apa, okey… gak apa-apa…”

“Aku merasa bodoh.”

Keduanya saling mendiamkan diri beberapa saat, hanya desah napas samar yang terdengar di telinga satu sama lain. “Mau dengar sebuah lelucon?” ujar Marius kemudian.

“Tentu…”

“Jadi, ada seorang pemilik toko yang sedang menyelenggarakan grand opening toko barunya. Dia menerima sebuket karangan bunga dari kolega yang tak bisa diingat pernah dikenalnya, dan secarik kartu ucapan tentu saja. Di sana tertulis : semoga beristirahat dengan tenang, pake huruf kapital. Pemilik tokonya kesal dan memanggil si kurir bunga. Kamu tau apa yang kurir itu katakan pada si pemilik toko?”

“Enggak,” jawab Miqdad.

“Pak, syukurlah anda bukan orang yang mendapatkan bunga di pemakaman istri anda di mana kartu ucapannya bertuliskan : turut senang dan selamat atas tempat barunya.”

Sejujurnya, Miqdad pernah tahu lelucon itu, namun dia tetap tertawa untuk Marius.

Di ujung talian, Marius ikut terkekeh. “Aku harus nutup telponmu, ada panggilan dari Ella. Sampai ketemu di rumah.”

Sambungan Miqdad terputus.

Untuk waktu yang lama, Miqdad melupakan Zek dan espressonya yang sudah membuat dinding gelas berembun. Pikirannya tertuju pada Marius. Adiknya begitu berbeda hari ini. Semakin lama memikirkan Marius, semakin tak tenang perasaan Miqdad. Dua puluh menit kemudian, dia memencet tombol panggil lagi. Tersambung tapi tidak terjawab.

Miqdad mulai diliputi kegelisahan. Ketika hendak mendail ulang, nomor marius lebih dulu melakukan panggilan ke ponselnya.

“Halo, Ris…!” Miqdad setengah berteriak.

“Halo, Mas…”

Itu bukan suara Marius. Perasaan Miqdad jungkir balik dan perutnya langsung mual begitu pembicara di seberang melanjutkan ucapan. Ada ledakan mahadahsyat yang terjadi dalam kepala Miqdad.

Lalu setelah ledakan itu, Miqdad mendapati tiba-tiba dunia menghening dan segala sesuatu didalamnya seakan berhenti bergerak.

Adiknya kecelakaan. Sepeda motornya bertabrakan dengan sedan di sebuah tikungan dan terseret jauh di jalan.

“Kami sudah di ambulance menuju rumah sakit…”

Pendengaran Miqdad kembali bising, telinganya berdenging sakit. Miqdad nyaris tak bisa menangkap nama rumah sakit yang disebutkan lawan bicaranya, telinganya berdenging-denging seakan dia bisa langsung mendengar raungan sirine ambulance yang membawa Marius.

Seharusnya, manusia dianugerahi kemampuan lebih untuk langsung peka pada firasat. Seharusnya, manusia diberi kesempatan kedua untuk setiap hal yang begitu ingin diperbaikinya. Miqdad ingin punya kemampuan demikian dan kesempatan kedua itu andai bisa…

***

Miqdad belum pernah bertemu Ella. Namun dia langsung bisa mengenali sosok belia gadis itu di antara para pelayat yang membanjiri tanah pemakaman. Gadis itu demikian pucatnya, kerudung hitamnya yang turun hingga nyaris menutupi seluruh wajahnya tidak bisa menyembunyikan matanya yang bengkak. Gadis itu pasti melewati malam panjang dengan menangis.

Miqdad memperhatikan ibunya yang sekarang terlihat begitu tegar. Hanya dia yang tahu, bahwa ibunya tidak menangis saat ini bukan karena wanita itu cukup kuat menghadapi kedukaan, tapi karena seluruh tangis dan air matanya sudah tertumpah sejak sore kemarin, semuanya, hingga tak ada lagi yang tersisa untuk hari ini.

Ayahnya―yang belum bicara sepatah katapun sejak pagi tadi setelah Marius dimandikan―kini justru tampak begitu rapuh. Ibunya terlihat lebih kuat dibanding ayahnya saat ini. Mereka seakan berganti peran. Sepanjang sore dan tadi malam, justru sang ayah yang terlihat tegar sementara ibunya tak ubah Kristal rapuh. Dan sekarang, mereka bertukar tempat.

Miqdad menyisi dari pusara setelah selesai menaburi bunga untuk Marius. Dia mencari-cari sosok Ella dan segera menemukan gadis itu sedang berdiri kuyu di bawah perdu tanjung tak jauh dari pusara. Dia berjalan ragu menuju ke sana.

“Hei…”

Gadis itu mendongak dan terlihat sangat berusaha untuk memunculkan seulas senyum di wajahnya.

“Ella?”

Gadis itu mengangguk. “Mas Miqdad, kan?”

Miqdad gantian mengangguk. “Kamu baik-baik saja?” setelahnya, Miqdad baru menyadari kalau pertanyaannya sungguh tolol. Tentu saja Ella tidak baik-baik saja, tidak dengan kelopak mata sebesar itu.

Gadis itu tak menjawab pertanyaan Miqdad, hanya matanya yang terus mengawasi kerumunan yang berangsur-angsur menipis di sekitar makam.

“Aris banyak bercerita tentangmu,” kata Miqdad.

“Kak Aris juga sangat sering bercerita tentang Mas padaku. Yang tidak dikatakannya adalah tentang fakta kalau kalian berdua begitu mirip satu sama lain.”

“Yah, aku versi tuanya Aris dan dia versi mudaku.” Miqdad merasakan otot-otot wajahnya kejang ketika dia memaksa untuk tertawa, seakan dia belum pernah tertawa sebelumnya selama hidupnya, seakan tawa adalah hal yang begitu asing dan baru dalam sejarah umat manusia dan dialah penemunya.

“Bagaimana keadaan Mas?” tanya Ella.

Miqdad menarik peci hitam dari kepalanya dan mendesah. “Saat bercermin tadi pagi, aku kesal melihat mataku. Aris benar-benar ingin membuatku mirip panda jantan hari ini. Dan dia sangat berhasil melakukannya.”

Ella tampak memaksakan diri lagi untuk tersenyum menanggapi usaha Miqdad menghiburnya. Sedetik kemudian, gadis itu mendadak berair mata kembali. Dia sibuk menyapu matanya dengan ujung kerudung.

“Hei…” Miqdad kebingungan untuk bertindak.

“Kak Aris hendak ke tempatku sore kemarin, Mas… dia hendak ke tempatku. Aku yang minta dia datang, aku yang minta dia datang…”

Miqdad paham apa yang sedang berlangsung dalam pikiran Ella. Gadis itu merasa dirinyalah penyebab Marius mengalami kecelakan. “Itu bukan salahmu, oke… itu bukan salahmu…”

“Aku yang minta Kak Aris datang, Mas…”

“Ella, hei… dengarkan Mas.” Miqdad meletakkan kedua tangan di bahu gadis di depannya dan membungkukkan badan agar tatapan mereka sejajar. “Aris pergi bukan karena salah siapa-siapa, bukan-karena-salah-siapa-siapa,” ulang Miqdad dengan penekanan di tiap kata. “Aris pergi karena Tuhan ingin dia pulang pada-Nya, karena Tuhan menyayanginya. Dan apa yang terjadi adalah memang apa yang sudah digariskan-Nya untuk terjadi, tak ada kekuatan yang bisa menghalangi apalagi merubahnya. Kamu paham?”

Ella tak menjawab, tapi tangisnya sudah berhenti. Matanya mengerjap-ngerjap menatap Miqdad.

“Aku yakin, dimanapun Aris berada sekarang, dia gak ingin melihat kita terpuruk disebabkan kepergiannya. Dia ingin kita kuat dan melanjutkan hidup, bisa kamu melakukan dua hal itu untuknya? Tetap kuat dan terus melanjutkan hidupmu?”

Ella membisu.

Miqdad menjauhkan tangannya dari bahu Ella dan menegakkan punggung. Untuk beberapa saat lamanya, mereka hanya berdiri membisu. Kerumanan di sekitar makam sudah tak ada lagi. Miqdad menatap kosong pada sosok ayah dan ibunya yang masih meringkuk di sisi nisan Marius.

“Obat yang paling ampuh untuk semua duka kehilangan adalah waktu, Ella… duka yang ditinggalkan Aris buat kita juga akan disembuhkan waktu. Mungkin tak akan segera, tapi ya… waktu akan menyembuhkan suatu saat nanti.” Miqdad menoleh Ella yang tetap membisu sambil menatap makam. Pria ini menghela napas panjang, “Kalau kamu ingin ke sana, kurasa kamu harus pergi sekarang…”

Ella mengangguk dan mulai melangkah, Miqdad mengikuti di sampingnya.

***

Miqdad berdiri di tengah-tengah kamar. Menatap bingkai besar yang memuat sosoknya dan sosok Marius, berlatar belakang pantai Kuta, berangkulan, sama-sama bertelanjang dada, sama-sama berkaca mata hitam dan sama-sama tersenyum lebar, tidak, itu bukan senyum, tapi tawa. Marius lebih menjulang di sebelahnya.

Menangis dengan mata kering itu rasanya menyakitkan. Seperti matamu terhembus angin secara terus-menerus hingga membuat otot-ototnya kehilangan elastisitas. Miqdad sedang mengalaminya. Kamar Marius terasa begitu penuh dan kosong di saat bersamaan. Begitu banyak kepunyaan Marius di dalamnya, begitu banyak jejak yang Marius tinggalkan, dan… begitu besar ruang hampa yang juga telah dia tinggalkan buat Miqdad.

Mereka baru saja bicara di telepon hari itu, baru saja…

‘Sebenarnya, kupikir kita bisa makan siang berdua tadi. Udah lama kan?’

Miqdad mengutuk diri karena pergi meninggalkan kantor hari itu sebelum Marius tiba, dia menyesal tidak menunggu Marius.

‘Besok, Ris, aku janji…’

Pada siapa kini janji itu akan ditepatinya? Andai dia tahu tak ada hari esok lagi untuk Marius, andai dia tahu…

‘Aku akan berhenti minjem uang deh…’

Aku akan berhenti minjam uang. Aku akan berhenti…

Miqdad berjalan ke ranjang dan meringkuk di atasnya. Sejenak kemudian, bahunya berguncang hebat dalam tangis tanpa suara, yang juga tanpa air mata…

***

Tujuh bulan, dan selama itu pula Miqdad merasa dirinya bagai seorang penipu. Teringat olehnya bagaimana dengan begitu lancarnya dia bicara pada Ella tujuh bulan lalu di hari pemakaman Marius tentang waktu yang akan menyembuhkan setiap duka. Kenyataannya pada praktik, waktu tidak akan benar-benar menyembuhkan duka kehilangan semudah itu, tidak jika orang yang berduka menolak untuk disembuhkan. Begitu banyak kenangan yang ditinggalkan Marius buatnya, dan Miqdad nyaris tak bisa pulang ke rumah tanpa menjenguk ke kamar Marius. Akhir-akhir ini, dia malah kerap tertidur di sana dan terbangun tengah malam dengan perasaan yang tetap kosong.

Ibu dan ayahnya ternyata lebih bisa mengikhlaskan. Setidaknya begitulah yang dilihat Miqdad di permukaan. Ibunya mendapatkan kembali hari-harinya seperti sediakala : bekerja, arisan, mengunjungi panti asuhan bersama teman-teman sosialitanya, belanja dan mengunjungi klinik perawatan kulit dan banyak hal lain yang tak bisa diurutkan Miqdad satu persatu tanpa menghasilkan sebuah daftar yang panjang. Ayahnya juga perlahan-lahan mendapatkan kembali ritme dunianya yang sempat terhenti oleh kepergian Marius : bekerja, main golf, bekerja, main golf, bekerja, main golf, bekerja lagi dan main golf lagi.

Miqdad tahu, jauh di dasar hati ibunya, Marius pasti masih kerap muncul. Dia juga tahu ayahnya pasti menyesal tak bisa lebih mengerti putra bungsunya semasa sang putra hidup. Dan Miqdad juga merasakan penyesalan yang sama setiap kali dirinya mengenang percakapan telponnya dengan Marius atau membaca riwayat chat mereka di LINE, bahkan, keseringan Miqdad akan mengutuk diri sendiri ketika melakukannya, dan untuk sesaat dia merasa lebih baik.

(Hei, sibuk?)

(Tidak akan pernah seleha-leha dirimu, meja kerjaku selalu sibuk)

(Hemm… apa aku chat lagi nanti atau nunggu sampe kita di rumah?)

(Tergantung topiknya apa, kalau topiknya gak penting di rumah pun buat apa, buang masa, kan?)

(Aku ingin memberi Ella sebuah puisi. Katanya, cewek selalu luluh sama puisi)

(Tidak jika kamu yang bikin. Saranku, kopas aja dari internet. Atau, ganti sama bunga atau kalung hati, dengar2 cewek juga suka luluh sama benda2 itu)

(Jika nanti katamu puisinya gak bagus, aku akan kopas di internet atau beli bunga seperti saranmu. Bisa minta tolong lihat dulu puisinya?)

(Gak perlu, aku udah tau nilainya pasti MERAH)

(Kamu bahkan belum lihat, Miq!)

(Anggap sudah)

(Tunggu sebentar. Kamu bisa baca kapanpun kamu sempat, tak mesti sekarang kok)

(Kapanpun kamu siap, Ris. Jangan buru2, hasilnya tentu sudah cukup mengerikan tanpa kamu buru2, apalagi kalau iya)

(Karena matahari selalu terbit di timur lalu tenggelam di barat, karena fajar selalu merah sedang senja selalu jingga, karena lolongan serigala dan bulan purnama adalah sejoli alam, karena hujan butuh mendung untuk menjadikannya lumrah, karena Agamemnon perlu Achilles untuk menaklukkan pantai Troya, karena setiap pengembara pasti punya rumah untuk kembali pulang, karena semesta pasti tak seimbang jika aku dan kamu tak bersama…)

(Memangnya di Jakarta ada serigala? Siapa yg pernah dengar lolongannya saat bulan purnama? Kamu pernah?)

(?)

(Kamu yakin Achilles yg menaklukkan pantai Troya?)

(Di film Troy gitu kok)

(Film itu berbeda dari apa yang ditulis Homer)

(Iyakah?)

(Achiles berhasil mengambil pantai Troya karena tak ada Hector dan orang-orangnya di sana. Achilles terlalu menyombong dan egois)

(Kedua hal itulah yg telah membuat hati Briseis menyerah padanya)

(Ya sudah, berdoa saja cewekmu juga suka film Twilight dan gak tau apapun tentang Troy dan Sparta)

(Jadi, gimana?)

(apanya?)

(the poem)

(Kalau aku Ella, aku lebih suka dikasih bunga atau kalung hati)

(Oh, ayolah, Miq)

(Apa judulnya?)

(Coba tebak)

(I have no idea)

(Sudah sejelas itu kamu masih gak bisa nebak?)

(Aku tidak begitu mahir melihat sesuatu tersirat dari tangan seorang pemula)

(Judulnya KARENA)

(Oh. Wow. Itu judul puisi terbiasa yg pernah kudengar)

(Sebagai seorang kakak, kamu baru saja menjatuhkan semangatku. Terimakasih banyak, Brada)

Miqdad menyesal. Harusnya dia tidak mengetik chat menjatuhkan semacam itu. Harusnya dia bisa memberi tanggapan lebih dewasa dan lebih baik dari itu. harusnya dia berkata jujur kalau puisi itu begitu indah, kalau dia menyukai setiap ‘karena’ yang mengawali setiap baris yang dikarang Marius. Harusnya dia berkata : Ella pasti buta dan tak berperasaan kalau sampai tidak klepek-klepek ketika kamu membacakan puisi itu untuknya. Tapi waktu tak bisa diputar balik meski Miqdad setengah mati ingin mengganti semua chat menyebalkannya buat Marius. Semuanya.

Miqdad menscrooll layar ponselnya hingga berhenti bergerak.

(Marah?)

Miqdad Menggeleng di kursinya.

(Aku minta maaf deh)

“Aku juga minta maaf, Ris… untuk semuanya…”

(Dibaca doank nih?)

Mata Miqdad berkaca-kaca.

(Baiklah, aku tau kalau kata2ku memang keterlaluan tadi dan aku sungguh-sungguh minta maaf. Kamu benar, aku gak bisa terus2an kayak gini. Dan tentang Ella, kupikir kamu juga benar. Dia pasti akan memaklumi kalau sungguh2 cinta aku, dan aku yakin pasti dia akan begitu karena aku percaya dia mencintaiku tulus J Aku nitip lagi amplopnya sama Nilam, tapi isinya gak utuh ya, aku ambil 100rb buat isi bensin, lebihnya mau ajak Ella ke warteg kayaknya😀. Ini aku beneran ngutang, nanti semua pinjamanku kucicil tiap bulan pake uang saku dari Ayah. Aku sayang kamu, Miq, jangan pernah berani meragukan itu. Tuhan sudah melakukan hal benar dengan memilihmu jadi kakakku)

Tuhan melakukan hal benar dengan memilihmu jadi kakakku… Tuhan melakukan hal benar dengan memilihmu jadi kakakku… Tuhan melakukan hal benar dengan memilihmu jadi kakakku… Kalimat itu dibaca Miqdad berulang-ulang dalam hati, Menimbulkan gema yang panjang di kepalanya.

“Aku gak pernah ragu, Ris… gak pernah. Tuhan juga sudah melakukan hal benar dengan memilihmu jadi adikku…” Miqdad memejamkan matanya. Angin sore yang berhembus di taman tempatnya duduk sekarang terasa begitu nyaman.

Miqdad tak tahu berapa lama dia bersandar di kursi sambil memejamkan mata ketika indera pendengarannya terusik beberapa hal yang terasa begitu familiar.

Hal yang pertama adalah sayup bunyi senar gitar yang dipetik. Dan itu sebenarnya tidak akan banyak mempengaruhi Miqdad jika tak ada hal berikutnya yang menyusul.

“Ini bukan lagu sih, Mbak, sebenarnya ini puisi. Saya suka kata-katanya, jadi saya kerap membacanya sambil gitaran. Kalau gak suka, Mbak boleh menghentikan saya kapanpun…”

Dalam pejamnya Miqdad mengernyit. Suara itu hampir-hampir pernah dikenalinya, hampir. Bunyi gitar yang kini sedikit lebih jelas kembali menyerbu kupingnya. Miqdad berusaha mendengarkan dengan seksama.

“Karena matahari selalu terbit di timur lalu tenggelam di barat…” Bunyi gitar meningkahi kalimat datar yang dilisankan dengan suara yang hampir-hampir bisa dikenali Miqdad. “Karena fajar selalu merah sedang senja selalu jingga…”

Petikan gitar terdengar begitu padu dengan kalimat-kalimat tanpa nada yang dilisankan seseorang entah siapa dan dimana itu. Miqdad masih mendengarkan dalam pejamnya.

 “Karena lolongan serigala dan bulan purnama adalah sejoli alam…”

 Miqdad mengernyit. Kini dia merasa bagai pernah tahu kalimat-kalimat itu.

“Karena hujan butuh mendung untuk menjadikannya lumrah…”

(Judulnya KARENA)

Salah satu chat di riwayat obrolannya bersama Marius di LINE membayang di kepala Miqdad. Pria ini sontak membuka mata. Seseorang sedang menyuarakan puisi milik Marius.

 “Karena Agamemnon perlu Achilles untuk menaklukkan pantai Troya…”

Miqdad menegakkan punggung dan mengitari seluruh penjuru taman dengan pandangannya. Kini dia bahkan mulai bisa mengenali suara itu, dia tak mungkin salah mengira. Tak mungkin salah. Miqdad tercari-cari bagai orang kalut.

 “Karena setiap pengembara pasti punya rumah untuk kembali pulang…”

Miqdad bangkit berdiri. Kini dia bisa lebih leluasa memandang ke seluruh penjuru taman. Matanya terpaku pada satu kursi di balik deretan pohon di satu area, Miqdad menemukan apa yang ingin ditemukan dan dihampirinya. Anak itu berdiri di depan kursi dengan gitarnya, dua orang wanita mendengarkan permainan gitar dan hafalan pusinya tanpa berkedip, terlihat sangat menikmati. Atau bisa jadi sebenarnya bukan puisi maupun permainan gitar si anak yang membuat dua wanita itu tak berkedip, tapi sosok si pemetik gitar itu sendiri. Miqdad nyaris bisa melihat dirinya sendiri pada sosok dua wanita di sana. Dulu dia juga sama terpukaunya dengan mereka. Saat memulakan langkah untuk menghampiri ke sana, Miqdad tak perlu waktu lama untuk merecall ingatannya pada sore sejauh tujuh bulan lalu. Nama anak itu, Zaki, mamanya memanggilnya Zek, dulu dia juga memanggilnya demikian, dan hari ini dia mengganti seragam putih-abu-abunya dengan jins dan kemeja flanel yang tak mungkin menggantung di badan orang lain sepantas pakaian itu menggantung di badannya. Miqdad masih ingat boot di ujung kaki itu.

“Karena semesta pasti tak seimbang jika aku dan kamu tak bersama…”

Petikan gitar yang melambat dan akhirnya berhenti total menutup pertunjukan si anak. Miqdad bertepuk tangan secara refleks dan langsung menjadi pusat perhatian tiga orang yang berada sejauh tiga meter di depannya.

Zek tampak membundarkan matanya sesaat sebelum tersenyum pada Miqdad. “Halo,” sapanya.

Miqdad mengangkat sebelah tangan sebagai ganti kata sapa. Dua wanita yang masih duduk di kursi memandang bergantian antara Miqdad dan pengamen yang baru saja menghibur mereka.

“Cukup, Mbak? Atau mau saya lanjut satu lagu lagi?”

“Minta dia nyanyi Landon Pigg, kalian akan terpukau. Percayalah!” seru Miqdad. Dua wanita di kursi menolehnya lalu sama memamerkan senyum.

“Aku sudah lama tidak menyanyikan lagu itu,” ujar Zek. “Sebenarnya, aku hanya menyanyikannya satu kali saja selama ngamen. Lagu itu bukan lagu yang akan kunyanyikan untuk semua orang…” Zek menatap Miqdad.

Di tempatnya berdiri, Miqdad merasa kakinya tak berpijak. Mendadak dia tak punya kata-kata untuk disuarakan. Ucapan Zek, begitu teramat sangat berarti sesuatu bagi Miqdad.

“Puisi tadi free buat Mbak berdua, selamat menikmati sore Rabu…” Zek memamerkan senyum miringnya lalu meninggalkan kursi untuk menghampiri Miqdad. Tapi salah seorang wanita di kursi mengejarnya. Zek terkekeh ketika si wanita nekat mencium pipinya sebelum kembali berlari ke kursi dan lalu cekikikan bersama temannya.

Miqdad mengelam di tempatnya berdiri. Melihat Zek dicium seseorang, yang dirasakannya adalah amarah untuk meninju si pencium tak tahu malu itu sambil meneriakkan : KAU HARUSNYA TIDAK MENCIUMNYA, BITCH…!!!

Zek mengedipkan sebelah matanya pada Miqdad sambil masih tersenyum ketika melewati pria itu. Zek tidak berhenti, tapi terus berjalan seolah yakin Miqdad akan mengikutinya. Dan Miqdad memang―tentu saja―mengikutinya.

“Sesering apa kamu dicium saat ngamen?” tanya Miqdad begitu berhasil mensejajari langkah lebar Zek.

“Lumayan sering.”

“Perbandingannya?”

“Gak ngerti.”

“Rata-rata dalam sepuluh kali ngamen, berapa kali kamu dicium?”

“Mungkin tujuh.”

“Itu lebih dari setengahnya!”

Zek terkekeh, dia meletakkan gitarnya di rumput begitu tiba di satu kursi lalu duduk. Miqdad mengikuti duduk di kanannya. “Kenapa? Kamu ada masalah dengan itu?”

Miqdad terdiam.

Zek mendesah. “Belum berubah ya…”

Miqdad menoleh cowok di sebelah kirinya.

“Kamu tau, kelemahanmu adalah terlalu mudah percaya pada setiap ucapan yang dijejalkan ke kupingmu tanpa mengkaji apakah itu benar atau tidak. Atau, kelemahanmu itu hanya terjadi bila denganku?”

“Jadi, yang tadi itu tidak benar?” Miqdad mengabaikan pertanyaan Zek dengan menyuarakan pertanyaan miliknya sendiri.

“Mana ada pengamen yang dicium terus-terusan setiap kali mengamen, yang benar saja.”

Miqdad merasakan sebentuk kelegaan dalam dadanya ketika mendengar jawaban anak di sebelahnya.

“Jadi, apa kabar?” tanya Zek.

“Seperti yang kamu lihat.”

“Yang aku lihat, kamu kurusan.”

Miqdad menyadari kalau dia memang agak kurusan dibanding dengan keadaannya tujuh bulan lalu. Sedikitnya, dia sudah kehilangan tujuh kilo sejauh ini, satu kilo tiap bulannya jika dirata-ratakan. “Kamu juga kulihat sedikit lebih gelap dari waktu di kafé…” juga lebih tegap, sambung Miqdad dalam hati.

“Aku lebih sering ngamen di outdoor akhir-akhir ini.”

“Bukannya waktu di kafé itu juga termasuk outdoor ya?”

“Kamu gak menyimak? Kataku, akhir-akhir ini lebih sering.”

Sorry.”

“Tapi kamu jadi makin terang.”

“Akhir-akhir ini aku lebih sering di indoor.”

“Hemm,” gumam Zek, “kukira itu karena akhir-akhir ini kamu kerap berdiri di dekat bohlam.”

Miqdad tak merespon, tapi ada senyum geli yang muncul sekejap di bibirnya.

“Kenapa jadi kurusan? Mikirin siapa? Aku ya?”

Kini Miqdad tertawa. Lepas. Ini adalah tawa lepas pertamanya dalam kurun waktu tujuh bulan terakhir. “Kenapa kamu seyakin itu?”

Zek mengangkat bahu.

“Kenapa?”

Zek diam, alih-alih menjawab dia malah memungut gitarnya dan mengusik senar dalam kunci tak beraturan.

Miqdad merampas gitar itu dari tangan Zek dan memeluknya ke dada. “Kenapa kamu bisa berpikir demikian?”

Zek mendesah. Tidak berusaha merebut gitarnya dari Miqdad. “Entah. Mungkin karena aku begitu…” Pandangan Zek lurus ke langit sore.

Miqdad terpaku di tempat duduknya. Sama sekali tak menyangka kalau dirinya bakal mendengar jawaban seperti itu dari Zek.

“Lihat kan?” Zek tertawa, “kamu sangat mudah percaya pada apapun yang kamu dengar…”

“Damn it…!”

Zek meraih gitar dari dada Miqdad, nyaris membuat pria itu tercekik ketika dasinya ikut tertarik tangan Zek. Anak itu kembali mengusik senar gitarnya secara acak.

“Kamu tau, puisi yang kamu gitarkan tadi juga dipakai adikku untuk menggombali pacarnya. Apa kamu tau siapa pengarangnya?”

Zek menggidikkan bahu. “Aku gak sengaja nemu di buku catatan teman sekelas,” jawab Zek, “dia pacar adikmu kali,” lanjutnya asal.

Mimik Miqdad berubah serius. “Siapa namanya?”

“Siapa?”

“Teman sekelasmu itu.”

“Kamu tak akan percaya,” Zek memamerkan senyum miringnya lagi. Miqdad yakin, tak akan ada orang lain yang bisa memamerkan senyum miring seindah Zek. Anak itu seakan jadi ahlinya senyum miring.

“Cinderella?”

Sekarang Zek yang gantian menampilkan ekspresi serius. “Dari mana kamu tau?”

“Kan sudah kubilang, adikku juga ngasih puisi itu buat pacarnya.” Miqdad merogoh ponselnya. “Lihat…” Diperlihatkannya riwayat obrolannya bersama Marius tentang puisi itu pada Zek.

“Adikmu tampan, kalian berdua mirip,” ujar Zek disela-sela membaca layar ponsel Miqdad.

Miqdad tak menjawab.

“Aku baru tau kalau judulnya ternyata beneran Karena, sempat mengira sih. Kupikir ini puisi singkat tanpa judul, atau temanku hanya menyalin sebagian baitnya, ternyata memang segitu ya…”

Miqdad masih tak menjawab.

“Sah. Pengarangnya adikmu sendiri tuh.”

“Iya, sekarang aku yakin dia yang nulis.”

“Boleh kukatakan sesuatu?” tanya Zek setelah Miqdad merasa cukup memperlihatkan layar ponsel padanya.

“Katakan saja.”

“Aku takut kamu marah.”

“Aku justru bakal menjewermu kalau tidak mengatakannya sekarang.”

“Menurutku, kamu lumayan semena-mena sebagai seorang kakak.”

Miqdad mendesah. “Iya, aku tau.”

“Itu termasuk bully psikis loh, chatmu buat Aris…”

“Perkataanmu buatku barusan tadi juga bentuk bully psikis, by the way.”

Zek tertawa. “Tapi sumpah, menurutku puisinya Aris itu keren. Kelak dia bisa jadi penyair hebat kalau mau serius… atau mungkin dia bisa jadi song writer.”

Miqdad merasakan lidahnya kelu.

Zek menyadari perubahan yang terjadi pada diri Miqdad. Dijenguknya wajah pria di kanannya. “Twenty One, hei…” Zek bingung mendapati mata Miqdad yang seperti berkaca-kaca. “Apa yang terjadi?”

Miqdad menggeleng. Namun ketika Zek menggengggam tangannya, dia tidak bisa lagi untuk tidak menangis.

Zek bingung melihat mata Miqdad mulai basah. Seharusnya dia tidak menyentuh Miqdad jika akibatnya malah bisa membuat pria itu sesedih ini. “Hei…”

“Aris meninggal tujuh bulan lalu, sehari setelah kita bertemu di kafé…,” kata Miqdad lirih.

Zek tak tahu harus menanggapi bagaimana. Seumur hidupnya yang masih begitu belia, dia belum pernah menenangkan tangis siapapun. Dan kini seorang pria dewasa sedang menangis di sisinya. Apa yang harus diperbuatnya? Dalam bingung, Zek tergerak untuk merengkuh bahu Miqdad. Di film-film, mereka berbuat demikian ketika seseorang bersedih. Jadi, Zek menyingkirkan gitarnya kembali ke rumput lalu melebarkan lengan kanannya untuk menjangkau bahu kanan Miqdad.

“Sshuuhhh… jangan nangis…,” bisik Zek begitu dekat pada Miqdad.

Zek membiarkan Miqdad menyandarkan kepala di bahunya. Menunggu dengan sabar hingga pria itu berhenti berair mata. Dan lama-lama, Zek menikmati masa-masa menunggu itu dan mati-matian menahan pegal di bahunya akibat ditindih kepala Miqdad demi membuat pria itu berlama-lama bersandar padanya.

“Maaf…”

“Tak apa. Aku senang bisa berguna buat orang lain,” jawab Zek ketika Miqdad kembali menegakkan punggungnya. Saat Miqdad tak melihat, anak itu menggunakan kesempatan untuk memijit-mijit bahu kanannya yang serasa hendak tanggal. Miqdad bersandar terlalu lama.

“Akan kuantar kamu pulang,” ucap Miqdad lalu bangun dari kursi.

“Kalau aku belum ingin pulang?”

“Kenapa belum ingin pulang?”

“Males.”

“Kenapa males?”

“Mama ke luar kota selama tiga hari.”

“Mbakmu?”

“Ada. Tapi kami jarang menghabiskan waktu bersama. Kamu dan Aris lebih beruntung, aku sama mbakku bahkan tidak saling bertukan LINE dan BBM dan apapun social media membosankan itu.” Zek mendesah, “Mungkin karena usia kami yang terpaut cukup jauh, atau bisa juga karena aku cuma adik tirinya.”

“Aku baru tau kamu punya saudara tiri.”

“Aku juga baru tau kalau kamu punya adik kandung.”

“Baiklah, lupakan saja. Kalau kamu belum ingin pulang, ayo kita menikmati kemacetan Jakarta terlebih dahulu.” Miqdad mulai berjalan meninggalkan kursi.

“Kamu gak pengen tahu bagaimana aku sampai bisa jadi adik tiri seseorang?” Zek menyusul di belakang sambil menenteng gitarnya.

“Enggak,” jawab Miqdad tanpa berhenti atau menoleh.

“Mama nikah sama papanya Mbak Ellis setelah papaku meninggal…”

“Aku bilang enggak, Zek.”

“Kupikir tadi kamu bilang iya,” timpal Zek sambil mempercepat langkah untuk menyamai kecepatan berjalan Miqdad. “Terus, dua tahun kemudian, giliran papanya Mbak Ellis yang meninggal karena serangan jantung…”

“Aku bilang enggak, Zek,” ulang Miqdad sambil menekan remot kunci mobilnya. Miqdad tak ingin mendengar cerita pilu milik Zek, karena membayangkan anak itu bersedih terlalu menyakitkan buatnya.

“Dan kayaknya Mama kapok menikah hingga hari ini.”

“Aku bilang, enggak, Zek.”

“Begitulah ceritanya,” tutup Zek tak peduli lalu menenggelamkan diri berikut gitarnya ke dalam jok mobil Miqdad.

*

“Kamu harus banyak makan.”

Zek menyumpit sepotong daging dari mangkuknya dan memindahkannya ke mangkuk Miqdad. Mereka duduk berhadap-hadapan di atas bantal yang diletakkan langsung di atas lantai, terpisahkan sebuah meja rendah, di sebuah restoran Jepang, sedang menikmati makan malam tanpa nasi.

Miqdad menemukan dirinya menyukai apa yang dilakukan Zek untuknya, dia menyukai bentuk perhatian anak itu terhadapnya. Miqdad, menyukai cara Zek memperlakukannya. Zek hanyalah pria dewasa dua puluh sembilan tahun yang tahu caranya bersikap dan membawa diri, baik dan humble, berhati lembut dan penyanyang dan pintar yang terperangkap dalam sosok seorang remaja tujuh belas atau delapan belas tahun. Begitulah Miqdad melihat dan merasakan Zek.

Zek menyumpit lagi, kali ini memindahkan sejumput sayuran. “Bukan berarti kamu terlihat jelek karena kurusan, karena di mataku kamu tetap semenarik dirimu yang kulihat tujuh bulan lalu. Tapi tentu ada orang-orang yang akan khawatir melihat bobotmu susut…”

“Siapa?”

“Mamamu mungkin.”

“Hemm… kamu tidak?”

“Aku tak peduli kamu adalah tulang-belulang atau onggokan daging bertumpuk-tumpuk, bukankah sudah kukatakan?”

“Aku belum menjadi tulang-belulang dan tak akan pernah berubah sebagai tumpukan lemak. Asal kamu tau, aku masih memiliki otot-ototku.”

“Ya, aku bisa lihat itu. Sekarang habiskan makanmu!”

*

Bintang menyemarakkan langit Jakarta. Atas permintaan Zek, Miqdad memarkirkan mobilnya di sekitar Taman Monas dan mengikuti anak itu bermalas-malasan di satu sudut taman, membaur di antara beragam manusia dan beragam polah.

Zek mendudukkan dirinya langsung di atas rumput, menekuk sebelah kaki dan meluruskan sebelah lainnya, gitar di pelukannya. “Kamu mau berdiri saja?”

“Seharusnya kuantar kamu pulang.”

“Iya, tapi sebelum itu kurasa kamu perlu duduk di sini dulu, Twenty One.” Zek menepuk rumput di sebelahnya.

Miqdad mendesah dan mendudukkan dirinya di sebelah Zek. “Aku tidak bisa dibilang menolakmu waktu itu, aku bukan orang kedua puluh satu.”

“Secara teknis, kamu sudah menolakku, kamu orang ke dua puluh satu yang menolakku. Jika kemudian kamu menerimaku, itu karena kamu berperan ganda hari itu. Satu peran sebagai orang ke dua puluh satu yang menolakku dan satu peran lagi sebagai orang ke sekian yang tidak menolakku.”

Whatever,” sungut Miqdad.

Zek menampilkan keahliannya dalam hal tersenyum miring yang tidak akan pernah bisa dilakukan orang lain sebaik dia melakukannya, lalu mulai memetik gitarnya.

“Tak semestinya kumerasa sepi, kau dan aku di tempat berbeda, seribu satu alasan, melemahkan tubuh ini…” Zek menatap Miqdad yang jelas sedang menatapnya lalu mengedipkan sebelah mata. Gitar Zek terus berdenting dan Miqdad larut ke dalam denting itu. “Aku di sini mengingat dirimu, kumenangis tanpa air mata, bagai bintang tak bersinar, redup hati ini…”

Miqdad menekuk kedua lututnya ke dada dan metakkan kedua lengannya di sekitar kakinya. Pandangannya tetap tertuju pada Zek, pada bibir anak itu yang sedang menyanyikan Cinta Terakhir milik Gigi.

“Dan kumengerti sekarang, ternyata kita menyatu, di dalam kasih yang suci, kuakui kamulah cintaku… Kuakui kamulah cintaku… kuakui kamulah cintaku…” Petikan senar Zek melambat, matanya menatap Miqdad. “Kuakui kamulah cinta terakhirku…”

Miqdad membeku.

Segerombolan cewek usia sekolah menengah mendekati mereka dan semuanya meletakkan lembaran dua ribuan di atas rumput di ujung sepatu Zek sambil memamerkan senyum. Dari membeku, kini Miqdad terbengong-bengong sendiri. Sementara di dekatnya, Zek menyatukan telapak tangan di depan wajah dan mengucapkan terimakasih beberapa kali.

“Seharusnya kamu menyanyi di depan Ahmad Dhani atau Bebi Romeo di acara uji bakat,” kata salah satu cewek―yang paling terakhir meletakkan uang di atas rumput sebelum pergi mengikuti teman-temannya―pada Zek.

“Wow.”

Zek memutar bola matanya untuk merespon kata seru Miqdad lalu memungut recehan di rumput dan dimasukkannya ke lubang di badan gitar. “Aku tidak pernah terpikirkan memasukkan uang ke sini sampai kamu melakukannya saat itu.”

“Aku tidak memasukkan apapun ke sana.”

“Aku memergokimu melakukannya. Tapi kupikir, mungkin dengan berpura-pura tidak tahu bisa membuatmu merasa hebat. Jadi, aku pura-pura tak menyadarinya.” Zek berdeham dan menaik-naikkan alisnya ketika bertanya pada Miqdad, “Apa saat itu kamu benar-benar merasa hebat, Twenty One?”

Miqdad tertawa dan meninju pelan bahu Zek. Anak itu sengaja memiringkan badannya secara berlebihan mengikuti arah tinju Miqdad, dan tingkahnya berhasil membuat tawa Miqdad berkepanjangan. Bersama Zek, tak butuh waktu lama bagi Miqdad untuk mengobati kedukaanya. Kini dia tahu, bahwa selain waktu, seseorang seperti Zek juga bisa menjadi penyembuh untuk kedukaan sehebat apapun yang dialami seseorang seperti dirinya.

Miqdad bangun dari rumput dan menepuk-nepuk bokongnya. “Ayo, Pengamen kaya raya, kuantar kamu pulang.”

“Aku belum ingin pulang,” ucap Zek tetap dengan pendiriannya sejak sore tadi.

“Kalau begitu panjatlah Tugu Monas dan jilati emas gede di pucuknya hingga liurmu habis. Aku ingin pergi.” Miqdad mengambil langkah.

Di belakang Miqdad masih menjelepok di atas rumput Zek menoleh sekilas ke puncak Monas dan tersenyum sendiri. Sesaat kemudian dia menatap punggung Miqdad yang sudah lumayan jauh lalu bangkit berdiri. Zek agak berteriak ketika langkahnya mulai mengejar Miqdad, “Hei, bagaimana kalau kita mampir ke rumahmu terlebih dahulu sebelum mengantarku pulang?”

***

Miqdad tak percaya pada apa yang sudah diperbuatnya. Seharusnya dia sudah tahu sejak awal bahwa kondisi semacam ini akan terjadi pada saat dirinya mengiyakan usul Zek yang enggan pulang untuk mampir ke rumahnya. Dan rencana hanya mampir malah berubah pada harus menginap karena ketika mereka tiba di rumah Miqdad―setelah melewati kemacetan yang menjemukan―malam sudah cukup larut. Jika Miqdad nekat mengantar Zek pulang, mungkin dia akan tiba lagi di rumahnya saat sudah dini hari. Jadi, Miqdad membiarkan Zek memakai kamar mandinya dan memberi anak itu sehelai boxernya untuk dipakai tidur.

Kini, akibatnya Miqdad tak dapat memejamkan mata karena ada Zek yang lelap dengan kondisi bertelanjang dada di sebelahnya, sambil mendengkur halus.

Kekhawatiran Miqdad terpusat pada satu hal : bahwa dia takut tak bisa menahan diri jika memaksa berbaring lebih lama lagi bersama Zek. Miqdad tak ingin hilang kendali atas dirinya sendiri dan lalu menjadi gila. Dia harus menghindar selagi bisa.

Perlahan, Miqdad beringsut ke tepi ranjang lalu turun ke lantai. Begitu berhasil menjangkau pintu dengan berjingkat-jingkat, dia keluar dari kamarnya tanpa sebarang keributan lalu menuju kamar Marius untuk tidur sekaligus menenangkan dirinya di sana.

***

Miqdad bangun kesiangan. Dia lupa membawa serta wekernya. Dan pembantu rumah tidak membangunkannya. Yang pertama dilakukan Miqdad adalah mengecek Zek ke kamarnya. Anak itu tak ada, dan tempat tidurnya berada dalam keadaan rapi. Zek tak hanya mengatur selimut, dia juga mengatur letak bantal dan guling hingga mereka tampak bersandar di kepala ranjang. Secara keseluruhan, Ranjang Miqdad nyaris terlihat bagai tak pernah ditiduri siapapun malam tadi. Miqdad turun ke lantai bawah dan sayup-sayup mendengar suara percakapan dari arah dapur.

“Selamat pagi,” sapa Zek begitu Miqdad muncul di sana. Di atas kursi di meja dapur, Zek sedang duduk sambil mengolesi rotinya dengan selai nenas. Segelas susu juga sudah tersedia di depannya. Anak itu jelas belum mandi. Dan dia yang bertelanjang dada di dapur membuat Miqdad teringat pada Marius. “Bik Sri nawarin aku telur orak-arik, aku udah nolak, tapi beliau bersikeras membuatkan, jadi kukatakan kalau mungkin sebaiknya kamu juga dibuatkan sekalian.”

Miqdad memperhatikan wanita paruh baya pembantunya yang sedang sibuk di depan kompor. “Ayah sama Ibu mana, Bik?”

“Mungkin sudah di garasi,” jawab Bik Sri lalu mematikan kompor dan mengambil dua piring dari rak.

Miqdad menarik kursi dan duduk di depan Zek. “Kamu ketemu ayah sama ibuku?”

“Iya.”

“Dan?”

“Kata Tante, aku mengingatkannya pada putra bungsunya.”

Miqdad terdiam.

“Bukan tampangku sih. Katanya, putra bungsunya juga suka berkeliaran di dapur dalam keadaan belum mandi saat pagi,” Zek menunjuk dadanya dengan kedua tangan. “yah, persis seperti ini, untuk ngisi perutnya.”

Ya, miqdad tahu betul kebiasaan Marius yang satu itu. Dan kini, dia juga melakukan nyaris sama, minus bertelanjang dada.

Bik Sri meletakkan masing-masing piring di depan Miqdad dan tamunya pagi ini. “Makasih Bik Sri,” kata Zek.

“Sama-sama, Den,” jawab Bik Sri lalu berlalu ke bak cuci piring.

“Ibuku gak nanya kamu siapa?”

Zek menganggukkan kepalanya, “Aku bilang,” lalu berdeham sebelum melanjutkan, “’Saya temennya Kak Miqdad, Tante.’”

Miqdad tersenyum simpul mendengar ucapan Zek. “Tumben bisa nyebut aku sehormat itu.”

“Kamu gak pernah minta aku memanggilmu Kak Miqdad, jadi bukan salahku, kan?”

“Buruan makan, lalu mandi, aku bakal nganterin kamu pulang. Hari ini bukan tanggal merah.”

“Bukannya sekarang sudah cukup terlambat, ya? Jam pertama kelasku akan dimulai dalam beberapa menit lagi.”

“Kenapa gak bangunin aku lebih awal? Weker di kamar bunyi, kan?”

“Aku gak tau kamu tidur di mana.”

“Kamu bisa memeriksa kamar di sebelahnya kalau niat membangunkanku.”

“Aku takut salah kamar. Bagaimana kalau ternyata yang tidur di sana itu adalah Bik Sri? Atau lebih parah lagi, itu kamar Om dan Tante.” Di depan sinky, pembantu rumah Miqdad terkikik geli.

Miqdad melotot. “Kamu hanya ingin kita terlambat agar dapat membolos.”

“Itu jelas fitnah.”

“Aku juga pernah melewati fase malas bersekolah sepertimu, apalagi jika satu harian itu semua yang diajarkan di kelas adalah segala pelajaran yang amat sangat tidak kusukai.”

“Aku suka semua mata pelajaran ketika diriku masih di sekolah. Tapi yang paling kufavoritkan saat itu adalah sosiologi.”

“Berarti kamu sengaja membuat kita kesiangan cuma untuk dapat membolos semata,” sembur Miqdad lalu merasa ada sesuatu yang dilewatkannya dalam kalimat Zek. “Apa maksudnya ‘ketika di sekolah’ dan ‘saat itu’?” tanya Miqdad begitu sadar apa yang dilewatkannya.

“Aku mahasiswa semester satu sejak dua bulan lalu, Sir.”

Untuk semenit, Miqdad mendapatkan kejutan yang menyenangkan : Zek bukan lagi anak ingusan putih-abu-abu, sekarang dia mahasiswa. Sekali lagi, MAHASISWA. Tapi kejutan itu hanya sesaat, karena kemudian Miqdad kembali menyalak. “Baru dua bulan kuliah dan kamu sudah berani-beraninya membolos?”

“Sumpah, hari ini aku sangat ingin ke kampus. Kamu yang terlambat untuk mengantarku!” balas Zek tak kalah garang.

Miqdad mengalah. Disendoknya sarapan yang dibikin Bik Sri sambil menahan dongkol. Sementara itu, di kursinya Zek merasa jadi pemenang.

*

“Ini baju Aris, kurasa pas buatmu.” Miqdad meletakkan sehelai jins dan sepotong oblong lengan panjang berleher V milik Marius di atas tempat tidur. Oblong yang memang sudah didesign berukuran longgar dari pabriknya itu berwarna arang, dengan aksen bercak cat warna warni di dada. Awalnya dibeli Miqdad untuk dirinya sendiri, tapi seminggu kemudian, dia malah melihat oblong itu melekat di badan adiknya. Jadi, ya, oblong tersebut langsung menjadi milik Marius sejak hari itu.

Di depan cermin, Zek melihat sekilas ke arah Miqdad lalu memindahkan deodorant milik pria itu ke ketiak kanannya. “Apa Aris juga punya stok celana dalam baru?” tanyanya.

“Gak. Kamu bisa ganti saat sudah di rumahmu.”

“Aku belum ingin pulang.”

“Aku muak dengan kalimat yang sudah kamu katakan berkali-kali sejak sore kemarin.”

“Aku belum ingin pulang,” kata Zek lagi.

Miqdad menindih jengkelnya. “Aku akan mengantarmu sebelum ke kantor. Silakan bolos seharian di rumahmu sendiri.”

“Aku belum ingin pulang,” ulang Zek kembali.

“Aku gak mau tau,” balas Miqdad lalu membuka lemari untuk mengambil kemejanya.

Zek meninggalkan cermin dan mendekat ke ranjang untuk memakai baju yang dibawa Miqdad untuknya. “Ngomong-ngomong, kenapa semalam kamu gak tidur di sini? Apa aku rusuh saat tidur dan kamu takut kutendang atau kutindih?”

Di depan cermin, Miqdad mendiamkan diri sambil terus melanjutkan berpakaian. Dalam benaknya, bayangan dirinya ditindih Zek sungguh membuat dadanya berdentuman. Padahal, itu hanya bayangan saja.

“Kamu pindah kamar pukul berapa?”

“Gak tau,” jawab Miqdad singkat sambil membetulkan simpul dasinya.

“Kalau kenapa pindah kamar, gak tau juga?”

“Gak tau.” Miqdad berbalik dan nyaris terkejut melihat Zek dalam balutan jisn dan oblong milik Marius. Ibunya mungkin benar, sosok Zek yang sama jangkungnya dengan Marius membuat mereka sekilas terlihat serupa.

“Kenapa?” tanya Zek sambil menyisir rambutnya dengan jari-jari.

“Gak ada.”

“Gak tau-gak ada-gak tau-gak ada, kamu gak punya jawaban lain?” Zek gusar. “Omong-omong, Aris punya selera berpakaian yang bagus, ya… aku suka bajunya ini,” lanjutnya

“Simpan saja buatmu,” cetus Miqdad lalu menjangkau jasnya di gantungan. “Ayo, ambil gitarmu lalu kuantar kamu pulang.”

“Aku belum ingin pulang.”

“Jangan banyak omong!” bentak Miqdad.

Zek kaget. “Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba naik darah begitu?”

“Aku kesal dibantah terus sama anak kecil tau…”

Zek memberi Miqdad pemandangan senyum khasnya. “Kamu sering kayak gini juga sama Aris? Harusnya kamu bisa lebih lembut…”

Miqdad tak bisa berkata-kata untuk beberapa detik lamanya. Pandangannya mengikuti gerakan Zek yang sedang mengambil gitarnya di sudut kamar dan masih diam ketika anak itu menghampirinya di ambang pintu.

“Ajak aku ke kantor, please…” Zek menyatukan telapak tangannya di depan muka, memelas pada Miqdad.

Sungguh, tak ada yang tahan terhadap cara memelas Zek yang satu itu. Miqdad menyerah kalah. “Kapan kamu akan patuh padaku?” tanyanya sebelum berbalik dan keluar dari kamar. Dia sudah memutuskan untuk membawa Zek ikut serta ke kantornya.

“Kamu akan langsung tau ketika saat itu tiba,” jawab Zek enteng.

***

Zek bergelung di sofa ruang kerja Miqdad sambil main game online di tablet pria itu. Di balik mejanya, Miqdad berusaha agar tidak sering-sering melirik ke sofa.

“Pulang kantor jam berapa?”

“Sore.”

“Jam berapa?”

“Sore.”

“Pukul empat sore? Pukul lima sore? Pukul lima lewat lima puluh sembilan menit lebih lima puluh sembilan detik sore, atau pukul enam sore?”

Miqdad ingin marah, tapi melihat Zek yang bergelung santai sambil masih memainkan tablet tanpa sedikitpun menaruh perhatian ke mejanya malah membuatnya merasa geli sendiri. Begitu, dengan pertanyaan konyol itu, untuk pertama kalinya, Zek terlihat sebagai anak-anak dalam pandangan Miqdad. “Sore, Kid. Hanya, sore,” kata Miqdad.

“Bisakah kita pulang sekarang saja?”

“Bad idea.”

“Di sini membosankan.”

“Bukan aku yang ngotot pengen ikut ke kantor.”

Zek meletakkan tablet Miqdad di atas meja dan bangun dari sofa. Diraihnya gitar dari lantai lalu berjalan menuju pintu.

“Mau ke mana?”

“Keluar dari tempat paling membosankan di dunia saat ini.”

“Hati-hati, Kid. Ini ruang kerjaku.”

“Ruang kerjamu adalah tempat paling membosankan nomor tiga di dunia yang pernah kudatangi sejauh ini.”

Otak Miqdad melakukan buffering untuk beberapa detik. “Di mana tempat runner up dan tempat nomor wahidnya?”

“Tepat di sana,” tunjuk Zek pada sofa yang baru saja ditinggalkannya. Miqdad mengatupkan rahang karena kesal. “Dan meski belum merasakannya, kursi yang sedang kamu duduki itu adalah nomor wahidnya,” lanjut Zek.

“Kalau begitu enyah saja!” seru Miqdad geram.

“I’m on my way…,” jawab Zek lalu lanjut menuju pintu sambil menggendong gitar di depan perutnya.

“Jangan mengamen di gedung ini.”

Zek menoleh lagi ke meja Miqdad. “Tidak jika mereka menolakku. Jika mereka tidak melakukan itu, maka aku akan mengamen ke seluruh ruangan di gedung ini. Pekerja kantoran pasti gak punya uang receh.” Zek menyeringai, “Jangan khawatir, makan siang kita nanti aku yang bayar.” Lalu anak itu menghilang di balik pintu sebelum sempat Miqdad meningkahi.

Di kursinya, Miqdad merasakan otot-ototnya berileksasi saat itu juga. Keberadaan Zek ternyata begitu mempengaruhi hingga ke sendi-sendi tubuhnya. Berada lama di dekat anak itu terasa bagai sedang mendaki Mahameru bagi Miqdad. Semakin lama Zek berada di sekitarnya, semakin besar sendi dan otot serta saraf-saraf Miqdad yang terpengaruh. Itu melelahkan, seperti semua simpanan energimu ditarik keluar sedikit demi sedikit hingga lenyap tak bersisa.

Tapi sialnya, Miqdad menyukai sensasi mendaki Mahameru yang ditimbulkan Zek terhadapnya.

***

Mereka kehujanan.

Entah apa yang dipikirkan Miqdad ketika menyusul Zek untuk meninggalkan ruang kerjanya, tepat lima menit setelah anak itu melewati pintu. Pikiran Miqdad memang sudah mulai tak jernih sejak kemarin sore. Hari ini dia benar-benar menjadi sosok yang sangat bukan dirinya. Miqdad seakan berubah menjadi Marius yang selalu bertindak tanpa berpikir, tak peduli keadaan, dan masa bodoh dengan segalanya. Atau, justru dia berubah menjadi lebih seperti Zek yang berjiwa bagai seorang petualang dan memandang dunia sebagai tempat hidup ‘semau gue’. Miqdad tak mau lama-lama berpikir. Dia gembira dengan semua intimidasi yang ditimbulkan sosok Zek terhadapnya. Miqdad tak peduli pada apapun selain melakukan apa yang menurut Zek bisa membuatnya bahagia. Anak itu mendorong Miqdad begitu lembut ke dalam dunianya yang seakan hanya dipenuhi kebahagiaan dan kebahagiaan dan kebahagiaan, yang di setiap tikungannya diramaikan nyanyian demi nyanyian demi nyanyian.

Maka, Miqdad menyanyi, Miqdad melompat, Miqdad bersalto, Miqdad mengumpulkan uang―yang kebanyakannya recehan, Miqdad juga memetik gitar―yang tidak menghasilkan not apapun lebih-lebih lagi nada atau irama. Zek membawanya pada petualangan yang tidak pernah terpikirkan selama masa hidupnya. Zek membawanya dari satu angkutan umum ke angkutan umum lain, dari satu hentian ke hentian selanjutnya, dari satu lampu merah ke lampu merah berikutnya, dari satu pelataran ke pelataran setelahnya. Dan Miqdad mengikuti anak itu seperti tak punya rasa lelah lagi. Kemejanya sudah kusut awut-awutan, dasinya nyaris terlepas, sepatunya yang tadi pagi mengkilap kini diselimuti debu tebal, celananya yang tadi pagi licin kini lusuh dan bernoda keringat bekas tangannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, dia makan nasi bungkus sambil duduk langsung di atas bumi. Miqdad tak peduli, dan sepertinya memang tak perlu peduli.

Tapi kini mereka kehujanan.

Entah mereka berada di sudut mana Jakarta ketika hujan mengguyur tanpa gerimis, Miqdad tak lagi tahu. Rute Zek yang acak-acakan membuat GPS di kepala Miqdad berubah blur semua. Tapi Miqdad tak perlu khawatir, karena kompas Zek masih begitu dapat dipercaya dalam menunjukkan arah Utara. Yang diketahui Miqdad dan pasti akan dikenangnya seumur hidup, mereka berada di satu jalan yang ditanami pohon-pohon berderet di kiri dan kanan ketika hujan mendadak luruh mengguyur segala yang ada di bawah langit. Miqdad sudah menjangkau lengan Zek dan hendak menyeretnya berlari mencari kerindangan pohon untuk berlindung dari hajaran hujan ketika sebaliknya anak itu tetap bergeming. Alih-alih mengikuti tarikan Miqdad, dia malah balas membetot lengan pria itu untuk tertahan bersamanya di bawah guyuran hujan. Yang disadari Miqdad berikutnya dalam tempo singkat nan mendebarkan itu adalah, bibirnya dan bibir Zek sudah saling menempeli, dada mereka saling merapati dan kedua lengan Miqdad berada di pinggang Zek dalam posisi melingkari. Gitar dalam pegangan tangan kanan Zek menutupi sebagian sisi mereka berdua. Dan Miqdad sepertinya juga sedang berjinjit, sambil menggigiti bibir bawah Zek yang sempat dilabelinya sebagai bibir paling jantan yang pernah dilihatnya. Dan apakah yang dilakukan Zek selama tempo pendek itu? Sebenarnya ada beberapa, tapi yang paling akan diingat Miqdad nantinya adalah, Zek hanya membiarkan dia menggigiti bibirnya.

Miqdad terengah-engah dan menundukkan wajah ke leher Zek yang setengah menengadah, membuat mulut Zek leluasa menyentuh puncak kepalanya. Rasa bibir Zek masih tertinggal di mulutnya, dan akan tertinggal di situ selamanya. Samar-samar, Miqdad bisa merasakan kecupan Zek di rambutnya dan gerakan jemari tangan kiri anak itu di tengkuknya. Dia berdoa agar jalan tempatnya berdiri bersama Zek sekarang hanya sedang dilewati kaki mereka berdua, tapi ekor matanya menangkap sosok-sosok yang sedang berlarian mencari tempat berteduh. Lalu, ada suara ini.

“Aku sayang kamu, Twenty One… aku sayang kamu…”

Di antara gemuruh hujan yang memekakkan, kalimat Zek mampu memenangi dan menjadi satu-satunya suara yang masuk tanpa terganggu gemuruh hujan ke liang dengar Miqdad. Seakan gemuruh langit yang sedang bermuram durja berhenti sesaat ketika anak itu melafaskan ucap yang terdengar laksana mantra bagi Miqdad. Dan mengingat efek magis yang terjadi pada diri Miqdad, agaknya, itu memang mantra.

“Sepertinya, sekarang semesta baru saja memperoleh keseimbangannya kembali setelah tujuh bulan lalu oleng ketika Aris dan Cinderella tidak lagi bersama…,” bisik Zek begitu dekat dengan telinga Miqdad. “dan aku berhujan-hujanan dengan celana dalam tak diganti sejak kemarin,” lanjut Zek lebih dekat lagi.

Lalu Miqdad tertawa, dan Zek tertular. Mereka berdua tertawa di bawah gemuruh hujan. Miqdad melepaskan cengkeramannya pada pinggang ramping Zek dan mencium rahangnya sekilas sebelum menjarakkan diri dari depan anak itu. Selanjutnya, dengan berpegangan tangan, mereka berdua berlari menuju ujung jalan yang masih jauh. Sama sekali tidak berusaha untuk berteduh, sama sekali tidak terpengaruh pada guyuran hujan, sama-sama bahagia, dan lepas…

***

EPILOGUE

Setiap orang punya kisah cintanya masing-masing. Jika hingga hari ini kau belum punya, jangan berkecil hati, mungkin itu akan dimulai esok saat kau berkunjung ke museum dan tertarik mengamati satu objek dimana seseorang juga sedang tertarik pada objek yang sama, atau lusa saat tanganmu dan tangan seseorang berberengan menarik buku yang sama di salah satu rak di sebuah bookstore, atau minggu depan ketika kau mendengarkan earphone dengan volume kuat di sebuah lift dan seseorang yang kebetulan menjadi satu-satunya temanmu di sana berkata : Hey, itu lagu favoritku juga .

Intinya, Fellas, tak peduli kapanpun hal itu terjadi, jika kau memang pantas mendapatkan seseorang, maka Tuhan akan memperjalankan seseorang itu menujumu, seperti Tuhan telah memperjalankan Zaki Rafky Achilles menujuku.

Setiap orang punya kisah cintanya masing-masing. Setiap kisah cinta punya awal, dan tentu suatu saat ia juga punya akhir. Mengutip istilah yang pernah dipakai Zek, secara teknis, kisah cintaku berawal ketika suatu sore di sebuah coffee shop dia datang membawa dirinya, bersama gitarnya dan suara indah miliknya. Aku tidak meragukan itu, kisah cintaku memang sudah berawal sejak di sana. Namun secara tidak teknis, kisah cintaku baru benar-benar dimulai ketika sore itu sekali lagi Tuhan memperjalankan Zaki Rafky Achilles menujuku disertai bunyi gitar dan baris-baris Karena punya Marius. Kurasa, itu adalah kesempatan kedua buatku. Tidakkah kalian juga berpikir demikian?

Sekarang, bayangkan jika aku tak pernah berada di kursi itu dan menelusuri riwayat obrolanku bersama Marius di LINE untuk yang ke sekian kali sambil mengutuk diri, bayangkan jika Zek tak pernah mengamen di taman itu, bayangkan lebih jauh lagi seandainya Marius tak pernah memberiku kesempatan untuk tahu puisi Karena yang ditulisnya buat Cindirella. Maka, tak ada kisah cinta untukku hingga hari ini. Karena, aku sudah melepaskan kesempatan pertamaku sejak lama. Bukankah selama tujuh bulan setelah kepergian Marius aku tak pernah ingat lagi tentang Zek? Aku larut bersama duka kehilangan yang ditinggalkan Marius dan tak ada sedetik waktu pun yang tersisa untuk mengingat suara gitar anak yang kutemukan di coffee shop. Inilah tepatnya yang terjadi padaku, aku melewatkan kesempatan pertamaku.

Lalu, kesempatan kedua itu datang, dengan satu petunjuk tambahan. Zek datang membawa dirinya, bersama gitarnya dan suara indah miliknya dan kali ini ada Karena kepunyaan Marius yang dilantunkannya seolah-olah puisi itu memang ditulis Marius untuknya. Dan memang untuknya, buku catatan Cinderella hanyalah perantara baginya untuk sampai kepada Zek. Lalu, di antara semua petunjuk itu, yang sudah hampir pasti bertindak sebagai penentu awal kisah cintaku dan Zek adalah puisi Karena. Seakan puisi itu adalah cara alam untuk membuat kami terikat : aku, Zaki Rafky Achilles, Marius dan Karena miliknya. Dan ketika hidup, Marius begitu mengidolakan Achilles dari Sparta, kalau saja dia bisa melihat Achillesku…

Mungkin, aku adalah kesayangan hingga alam memberiku kesempatan kedua dengan lebih dari satu petunjuk untuk mengenali seseorang yang bersamanya akan kutulis kisah cintaku. Jika aku tak lagi mengenal sosok Zek, mungkin aku akan ingat suara senar gitarnya. Jika aku tak bisa menandai suara gitarnya, mungkin telingaku akan mengenali suara indahnya. Dan jika pun semua itu tetap tak bisa kuingat dan kukenali, ada puisi Marius yang akan menolongku, dan puisi itu benar-benar telah menolongku.

Setiap orang punya kisah cintanya masing-masing. Dan setiap kisah cinta punya awal sebelum kemudian memiliki akhir. Di jagat raya ini, Kawan… jika semua kita bisa memilih, nyaris tak ada pecinta yang memiliki awal kisah cinta yang biasa-biasa saja apalagi yang jelek, sebagaimana sudah pasti tak ada dari kita semua yang mendambakan akhir kisah cinta yang menyedihkan. Andai manusia punya pilihan untuk itu, Ayah dan ibuku mungkin sudah memilih sebuah akhir di mana mereka duduk menatap langit jingga di kursi malas sambil berpegangan tangan sementara angin senja meriap-riapkan rambut seputih kapas di atas kepala mereka berdua. Marius mungkin ingin punya akhir sedikit berbeda dari orang tuanya di mana dia dan Cinderella duduk di atas tikar di sebuah bukit rendah di bawah sebatang pohon rindang dengan keranjang-keranjang piknik bergeletakan di sekitar mereka dan para cucu berlarian ke sana-kemari sambil mencicitkan tawa. Jack Dawson dan Rose Bukater mungkin ingin ending yang berbeda untuk film Titanic dimana mereka dikisahkan berdiri begandengan tangan di anjungan sebuah kapal pesiar semegah Titanic―tapi tentu saja bukan Titanic―dalam keadaan sama-sama tua dan keriput sambil memandangi Samudra Atlantik yang pernah nyaris membinasakan nyawa dan cinta mereka suatu ketika dulu.

Dan kalau alam berkenan, aku dan Zek juga ingin sebuah akhir yang indah untuk kisah cinta kami.

 

Ujung tinta

Miqdad Al Kausar

 

P.S : My beloved brother, Marius, terimakasih untuk ‘Karena’ milikmu yang luar biasa. Dimanapun kamu berada sekarang, aku ingin kamu tahu bahwa, aku dan Zek―yang menyesal tak pernah punya kesempatan untuk mengenalmu―sungguh-sungguh menyayangimu.

 

 

Awal Juni 2015

Dariku yang sederhana

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com