LoveActuallyTabungPasir

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Masihkah menunggu? Atau sudah bosan nyaris muak dan tak peduli lagi? Kuharap masih ada yang setia menungguku meski hanya satu dua, karena rasanya sungguh menyenangkan ketika kau diharapkan, dan lebih menyenangkan lagi saat kau bisa menjawab harapan.

Aku sedang senang menulis percakapan, begitu banyak percakapan. Kali ini kalian akan kubuat bosan dengan tanda petik (“…”), aku sedang tergila-gila pada dialog, begitu banyak dialog. Yang perlu diingat, aku tidak menjanjikan kalian bakal suka pada percakapan-percakapan a.k.a dialog-dialog yang ada di post kali ini, segala resiko yang berhubungan dengan kekecewaan setelah membaca percakapan-percakapan a.k.a dialog-dialog pada post ini silakan ditanggung sendiri. Jika Nayaka dikomplain, dia akan jawab, “Emangnya gua pikirin!” dan “Gua gak peduli!”

Harapanku terhadap percakapan-percakapan a.k.a dialog-dialog pada post TABUNG PASIR ini adalah, semoga ia dapat dinikmati oleh mata-mata yang membacanya seperti halnya ia dinikmati oleh jari-jariku ketika menuliskannya.

 

Wassalam

n.a.g

 

Haissh… lupah sayah, kayaknyah, Sodarah-sodarah, inih masih adah lanjutannyah. Haaaahhh….!!! #Disambith

😀

##################################################

 

Andai selamanya itu ada

Namun ia tiada…

Andai hidupku dongeng sebelum tidur

Namun ia bukan…

***

Hidup adalah tentang waktu. Selalu tentang waktu. Waktu yang kau habiskan untuk memberi atau menerima. Waktu yang kau habiskan untuk berbagi atau menyimpan. Waktu yang kau habiskan untuk memelihara atau merusak. Waktu yang kau habiskan untuk membina atau meruntuhkan. Waktu yang kau habiskan untuk mencintai atau membenci. Tentang hal-hal itulah hidup.

Hidup bukanlah tentang selamanya. Mereka berdua adalah dua garis sejajar, tak akan pernah bersinggungan meski ditarik sepanjang apapun. Sebenarnya, bahkan peradaban tak perlu kenal pada Selamanya, karena ia tak pernah wujud dalam kefanaan semesta. Selamanya adalah ilusi, cara manusia menghibur diri terhadap kepastian Akhir. Selamanya adalah fatamorgana, sedang Akhir seperti sebuah benda tiga dimensi yang diletakkan cukup dekat dalam jarak pandang, kau tahu ia ada hanya dengan melihatnya, kau tahu bentuknya tiga dimensi meski tidak menyentuhnya.

Hidup adalah sebuah lokomotif, sedang Akhir adalah sebentuk stasiun. Stasiun itu statis sementara lokomotif itu dinamis. Kemungkinan Hidup berjumpa Akhir di satu waktu adalah pasti. Peluang keduanya bertemu di satu titik adalah seratus persen. Dan bagaimana waktu buatku habis suatu hari kelak selalu membuatku bertanya-tanya, apakah saat itu aku bahagia tak terperi, atau tenggelam dalam penyesalan serta keputus-asa-an tak berujung. Apapun itu, kupikir biar Tuhan yang memilihkan satu akhir untukku. Saat ini hingga waktu itu datang aku hanya perlu memberi dan menerima lebih lama lagi, berbagi dan menyimpan lebih lama lagi, memelihara dan merusak lebih lama lagi, membina dan meruntuhkan lebih lama lagi, serta mencintai dan membenci lebih lama lagi. Bernapas dan hidup, itu yang harus kulakukan, sisanya biar Tuhan yang menguruskannya untukku.

Aku sudah melangkahi angka dua puluh satu, dalam perjalanan menuju dua puluh dua. Belum pernah punya hubungan dengan perempuan lebih dari sekedar teman. Belum pernah melakukan aktivitas seksual ekstrem dengan lawan jenis dan atau bukan lawan jenis. Belum tersentuh narkoba dan alkohol. Dan belum menikah―tentu saja. Abaikan poin miring bahwa aku pernah dan masih ingin punya pacar seorang lelaki, kupikir sejauh ini aku sudah melewati tahun-tahun usia mudaku dengan begitu mulus dan baik. Sebagai nilai tambahnya, aku calon dokter gigi dengan Indeks Prestasi teratas di kelasku.

Wonderful life, isn’t?

Sekilas, iya. Abaikan lagi fakta bahwa aku bocah kampung yang diangkat sebagai anak dalam sebuah keluarga harmonis kaya raya, hidupku nyaris sempurna dan akan benar-benar sempurna jika aku mampu membendung perasaanku terhadap Zayed dulu atau mengalihkan perhatianku dari sosok Orlando sekarang, membendung dan mengalihkannya ke kecantikan dan kelembutan dalam diri seorang gadis. Tapi itu tak pernah terjadi.

Menyedihkan, bukan?

Pada dasarnya, hidupku memang menyedihkan. Di balik semua keharmonisan dan kebahagiaan yang kini menjadi milikku, aku tetaplah bukan siapa-siapa. Keharmonisan dan kebahagiaan sesempurna apapun tidak akan mengubah kenyataan bahwa aku bukanlah bagian sesungguhnya dari dunia yang kini sedang kutapaki. Bukan bagian sesungguhnya dari keharmonisan dan kebahagiaan itu. Yang lebih memalukan, aku membohongi mereka selama ini, mengendap-endap di belakang mereka, menyaru sebagai pribadi yang baik, menyembunyikan fakta bahwa aku adalah bocah cacat, bahwa aku hampir pasti adalah efek samping dari sebuah evolusi, bahwa aku bisa saja berfantasi atau mencintai salah satu pria yang tidak kupanggil ayah di rumah mereka.

Mengerikan, bukan?

Menurutku sendiri, iya. Jadi, Kawan, kalian sudah boleh berhenti memandang Fitra Aidil Ad-dausi sebagai bajingan kecil beruntung yang hidupnya begitu indah karena dikelilingi banyak laki-laki yang tampak seakan rela menderita demi membuatnya bahagia. Karena sesungguhnya Fitra Aidil Ad-dausi, aku, tidak seberuntung itu.

Oh well, biar lebih kuperjelas lagi bagi kalian yang masih menganggapku beruntung, garis bawahi ini : pada dasarnya menjadi gay bukanlah sebuah peruntungan baik. Sekali lagi, menjadi gay bukanlah sebuah peruntungan baik. Andai bisa memilih, demi malaikat penghuni arasy, sejak awal aku ingin hidup sebagai Fitra Aidil Ad-dausi yang tidak akan pernah tergetar oleh ketampanan sehebat apapun, Fitra Aidil Ad-dausi yang tak akan pernah terjerat pada cinta yang ditawarkan lelaki pecinta manapun. Andai bisa memilih, aku ingin jadi apapun selain menjadi gay. Mereka di sana tahu, menjadi normal seribu kali lebih mudah.

Mereka bilang, hidup juga tentang pilihan. Namun dalam kasusku, aku tak melihat adanya pilihan tentang menjadi atau tidak menjadi gay. Saat terbangun, aku sudah begini adanya. Mungkin, aku sudah melewatkan kesempatan memilihku tanpa sadar, melewatkannya begitu saja, melewatkannya dengan membuat pilihan yang salah. Jika begitu kenyataannya, seperti kata pepatah, nasi sudah jadi bubur. Maka, yang kupunya sekarang adalah semangkuk bubur. Meski bukan nasi, aku tetap harus memakannya, sambil menunggu kapan akhirku datang, sambil menari dan tertawa, atau sesekali bercengkerama dengan pemilik mangkuk bubur yang lain.

“Mangkuk itu gak akan kosong dengan sendirinya hanya dengan terus diaduk dan dipandangi…”

Aku nyaris terlonjak dari kursi dan berhenti mengaduk-aduk mangkuk buburku saat seseorang menepuk bahuku. Mangkuk buburku bahkan bergeser beberapa mili dari posisinya semula di meja. Aku mendongak dan langsung merasakan dingin di tengkukku. Ya Tuhan, kenapa harus hari ini? Aku belum siap bertemu anak ini, tidak selama aku sendirian. Aku butuh Orlando. Demi Tuhan, aku butuh laki-laki itu untuk menghadapi situasi semacam ini. ‘Kau dan aku, kita berdua melawan dunia…’ Seharusnya aku dan Orlando bersama-sama sekarang, saling menguatkan dan menopang satu sama lain.

“Aku sudah muterin hampir seluruh sudut gedung FKG sebelum berpikir mungkin kamu kelaparan.”

Aku diam, menunduk tak berani menantang pandangannya.

“Tadinya aku pengen nelpon sih, tapi khawatir direject atau diabaikan kamu…” Erlangga memutari meja, menarik kursi dan duduk tepat di depanku. Sejenak kemudian dia mulai mengetuk-ngetukkan jarinya pada permukaan meja, menimbulkan irama acak tak jelas yang membuatku gelisah. “Sejak kapan kamu jadi pemalu begitu kalau jumpa aku?” Ragu-ragu kuangkat pandanganku dari menekuri meja. Erlangga berhenti mengetuk-ngetukkan jarinya dan menyeringai padaku. “Hai, Sweetheart…”

Tengkukku makin dingin. Dulu beberapa kali dia pernah memanggilku selebay itu, tentu saja dengan maksud bercanda, dan saat itu aku merasa baik-baik saja. Kini setelah dia tahu bagaimana adanya diriku, panggilan itu membuatku amat sangat tidak nyaman. Terasa bagai dia sedang sengaja mengolok-olokku. Tak sanggup beradu pandang berlama-lama dengannya, kembali kutundukkan wajahku.

“Kenapa buburnya belum dimakan?”

Aku tahu Erlangga sedang berusaha bersikap normal, bersikap sebagaimana biasanya kalau kami bertemu. Tapi bagiku sekarang justru terasa begitu canggung. Ketika dia melepaskan sendok dari tanganku dan menarik mangkuk bubur ke arahnya, yang ingin kulakukan adalah merelakan bubur itu untuknya dengan ikhlas hati dan serta merta pergi dari kafetaria dengan cara berlari. Aku sudah hendak berdiri ketika Erlanggga mengeluarkan suara lagi.

“Kumohon jangan lari dari meja ini, Dil…” Kami bertatapan. Kurasa saat ini aku menjadi begitu mudah ditebak olehnya. “Aku datang sebagai Erlangga temanmu, bukan hakim yang akan memvonismu.” Begitu santainya, dia mulai menyendok buburku, menyendok lagi dan menyendok lagi sambil sesekali mengecap-ecap. “Emm… sialan, aku tak pernah tahu kalau kantin di FKG punya bubur seenak ini.” Dia memandangku, menunjuk-nunjuk mangkuk bubur dengan tangannya yang memegang sendok. “Setuju gak, pembuat bubur ini seharusnya diganjar nobel.” Aku melongo menatapnya. “Kupikir, Dil, kalau di surga nanti ada bubur, rasanya pasti kayak ini.”

“Entah.” Aku bingung untuk merespon ocehannya dengan ucapan lebih panjang lagi.

“Syukurlah. Sesaat tadi kupikir aku sudah salah mengenali orang.” Dia tertawa. “Hampir saja aku bilang, ehem…” Erlangga mengambil jeda sejenak, menyiapkan mimiknya sebelum melanjutkan. “Ada aqua?” lalu dia tertawa sendiri menanggapi leluconnya.

Aku diam.

“Gak lucu ya?” tanyanya yang sudah berhenti tertawa sepenuhnya.

Aku menggeleng.

“Iya sih, Rani bilang juga gak lucu.” Erlangga menghembuskan udara dari mulutnya lalu mulai melanjutkan makan buburku kembali.

Kami bertahan dalam keheningan hingga dua menit kemudian, yang terdengar hanya denting sendok beradu dengan dasar mangkuk yang hampir berhasil dikosongkan Erlangga. “Aku harus pergi,” kataku akhirnya setelah menahan diri cukup lama sejak dia muncul.

“Ya, pergi saja. Silakan.” Erlangga melepaskan sendok dan mendorong mangkuk lebih ke tengah meja. “Menghindarlah terus, abaikan temanmu, abaikan siapapun yang peduli padamu, depak semua orang yang kamu kenal dari hidupmu, hapus saja Erlanggga Afghanessa dari list cowok cakep yang pernah jadi orang terdekatmu selama ini.” Erlangga melipat lengan di dada, memandangku dengan tatapan serius yang belum pernah kulihat. “Jadilah menyebalkan jika memang maumu begitu.” Tangannya menjangkau gelas es tehku, meneguknya hingga nyaris kosong lalu sengaja bersendawa sebelum kembali melipat lengan ke dada dan duduk menyender dengan sorot mata tetap terfokus padaku.

“Mungkin kamu yang harus menghindariku…”

“Dan mengapa aku harus melakukannya, Sweetheart?”

Aku mendesah dan menghindari pandangannya. “Kupikir itu yang bakal dilakukan orang-orang ketika tahu laki-laki macam apa aku…”

“Apa aku terlihat sebrengsek itu bagimu, Sweetheart?”

“Jangan panggil aku begitu.”

“Begitu bagaimana?”

“Begitu.”

“Sweetheart?”

Aku berdecak kesal.

“Apa Orlando akan menghajarku? Apa dia akan menghajar siapapun yang memanggilmu begitu selain dirinya?”

Aku marah. Kalimatnya mengusikku. Kupandang Erlangga dengan tatapan bengis.

Cowok plontos di depanku mengangkat kedua tangannya. “Maaf. Padahal sebelum ke sini aku sudah janji pada diriku sendiri untuk tidak jadi menyebalkan.”

“Terlambat.”

“Iya. Makanya aku minta maaf.”

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku lalu kuraih tali ransel di sudut meja. “Bubur dan es tehnya belum kubayar―”

“Kamu mau pulang?” potongnya dan ikut berdiri.

“Iya. Tepatnya, ingin melakukan apa yang kamu sarankan.” Kusandang ranselku.

“Apa?”

“Mengabaikan temanku, mendepak semua orang dari hidupku.”

Aku balik badan. Sempat kulihat Erlangga tergesa-gesa merogoh dompetnya sebelum berteriak memanggil pramusaji kafetaria. Beberapa saat kemudian dia sudah mensejajari langkah cepatku.

“Dijemput?”

Aku tak merespon pertanyaannya.

“Kalau engggak, biar aku yang anterin.” Dia merogoh saku depan celananya dan mengeluarkan kunci motornya. “Aku parkir di parkiranmu, mau ikut ke sana atau nunggu di depan gerbang saja?”

Aku berhenti berjalan dan menghadapnya. “Kenapa kamu gak menjauh saja?!” Kalimatku lebih terdengar sebagai seruan memerintah ketimbang pertanyaan. Erlangga melongo. “Kupikir akan lebih mudah bagiku jika kamu mengabaikan aku, Angga…”

Erlangga masih melongo. Tatapannya seakan tak percaya.

“Sekarang, kamu tahu siapa sebenarnya temanmu ini. Itu bukan semacam prestasi yang bisa kubangga-banggakan agar semua orang tau dan memuji mengelu-elukanku. Itu…” Aku menelan ludah dan menarik napas berat. Mulai sekarang, aku tak akan bisa mengucapkan kata ini semulus aku mengucapkan kata-kata lain. Mulai saat ini efek kata itu mungkin akan sedikit menyakitiku. “Itu aib…” Erlangga masih terpegun di tempatnya mematung, tepat di depanku. “Akan lebih mudah bagiku jika tidak berhadapan dengan orang-orang yang tahu aibku.”

“Jangan depak aku, Teman…” Mata Erlangga mengerjap-ngerjap. Kurasa sisi melankolisnya sedang dalam mode on sore ini. “Kumohon…”

Aku bagai menemukan Erlangga yang lain, bukan Erlangga kocak yang sering memuji diri sendiri dan suka hiperbolis. Di depanku, dia sudah siap dengan ekspresi memelasnya yang jarang kulihat. Bibirnya bergerak-gerak gelisah, seakan dia hendak berkata-kata.

“Kamu tak takut padaku?”

Dia menggeleng. “Aku takut pocong,” jawabnya kemudian. “Dan takut bila ditinggal patah hati sama Rani Tayang…”

Jawaban kedua Erlangga menghadirkan sebentuk perasaan kagum sekaligus iri di dalam diriku. Kagum karena Erlangga demikian mencintanya pada Rani hingga takut ditinggal dalam keadaan hati patah sekaligus iri karena dia bisa memberitahu ketakutannya itu pada semua penduduk bumi tanpa kecuali, hal yang akan berujung pada keruntuhan dunia bagiku jika itu kulakukan. “Tapi aku malu padamu.”

Matanya membundar. “Kenapa?”

“Karena kita akan malu pada siapapun yang tau rahasia tergelap dan terbusuk kita.” Kugigit bibirku. “Karena kamu sudah tau aku hingga ke borokku…”

“Aku gak peduli.”

Aku nyaris tak percaya Erlangga mengucapkan kalimat itu. “Apa maksudnya kamu gak peduli?”

“Maksudnya tepat seperti itu, aku gak peduli,” ulangnya lebih mantap.

“Kupikir, maho yang bisa diterima karibnya tanpa dicaci-maki dan dikucilkan terlebih dahulu cuma ada dalam fiksi…”

Erlangga menggeleng cepat. “Aku tak akan pernah menyebutmu demikian.”

“Menyebutku apa?”

“Seperti yang kamu sebutkan.”

“Maho?” Ulu hatiku kembali diremas sakit kali ini. “Ah, kenyataannya di negeri kita sebutannya memang kayak gitu kok.”

“Tapi aku tak akan menyebutmu kayak gitu.”

“Kenapa?”

“Setauku, teman tidak mencela teman. Setauku, sahabat adalah tempat paling aman bagi kita untuk menyimpan rahasia tanpa perlu merasa was-was akan diumbar ke orang-orang…”

Ucapan Erlangga terdengar bagai isyarat bagiku, bahwa dia akan menjaga apa yang diketahuinya secara tak dikehendaki dan mengagetkan tentangku sampai kapanpun. Tak akan berkoar-koar pada dunia. Aku mendiamkan diri beberapa saat, menatap ke dalam mata Erlangga, berusaha menemukan kesungguhan dan tekadnya seperti yang diucapkannya.

“Hemm… aku akan ikut ke parkiran.”

“Ya?” dia mencondongkan badannya ke arahku.

“Aku akan ikut ke tempatmu memarkirkan motor. Katamu kamu akan mengantarku pulang, kan?”

Dia tersenyum cerah. “Di sebelah sana.” Dia memimpin di depanku.

“Aku tau. Ini masih teritorialku.”

“Iya, aku lupa. Tentu kamu sering ditungguin Orlando juga di sana.”

“Jangan sampai aku berubah pikiran.”

“Maaf. Padahal sebelum ke sini aku sudah janji pada diriku sendiri untuk gak jadi menyebalkan.”

“Terlambat.”

“Iya. Maka itu aku minta maaf.”

Kupukul bahunya hingga dia terdorong ke depan.

Erlangga tertawa. “Harusnya kamu gak bilang terlambat. Jadi kita gak perlu ngulang percakapan di kantin.”

“Harusnya kamu gak menyebalkan.”

“Sangat sulit untuk tidak menyebalkan di saat-saat kayak gini.”

Aku tak menanggapi lagi hingga kami sampai di parkiran. Tunggangan Erlangga masih motor yang sama. “Kupikir kamu sengaja mau nganterin sekaligus mau pamer motor baru, tapi ternyata masih jelek begitu.”

Sambil mengeluarkan motornya dari deretan motor lain di lantai parkir, Erlangga tertawa besar. “Tunggu saja sampai aku merengek minta dibelikan mobil.”

“Ya, lakukanlah sesegera mungkin selagi kamu masih pantas untuk merengek.”

“Pasti.” Dia menstarter motornya sementara aku memanjat ke boncengan. Sesaat kemudian kami sudah keluar dari kawasan fakultasku. “Biasanya kamu meluk-meluk pinggang gitu, kok sekarang enggak?” tanya Erlangga sambil sekilas menolehkan kepalanya.

“Aku gak mau dikira nyari kesempatan,” jawabku sambil mengeratkan pegangan pada tepian sadel motor.

Erlangga tertawa. “Gak apa, Dil. Justru buatku bakal terasa aneh kalau kamu duduknya jauh-jauhan gitu.”

“Enggak. Nanti kamu malah koar-koar kalau aku grepe-grepein.”

Sekali lagi dia tertawa. “Terserah deh. Mungkin memang lebih baik gak meluk, takut dilihat Orlando senget itu trus kalian putus…”

Aku mendiamkan diri. Pikiranku menerawang pada Orlando. Hatiku bertanya-tanya, apakah kejadian di padang ilalang di bangunan tua tiga hari lalu adalah titik dimana aku dan Orlando telah merekatkan tali kasih kami kembali? Apakah itu tanda bahwa kami sudah tidak berstatus ‘putus’ lagi? Aku mencoba mengingat-ingat detilnya, dan bahuku merosot saat tidak bisa mengingat satupun dari kata-kata Orlando atau kalimat-kalimatku sendiri yang menegaskan kalau kami sudah resmi ‘nyambung’ lagi sejak malam itu. Tapi… bukankah apa yang terjadi malam itu, apa yang kami tunjukkan lewat tindakan nyata, tidakkah itu lebih jelas dari kata-kata cinta apapun? Kami bahkan berciuman malam itu. Aku meragu.

Di depanku, Erlangga berdeham. “Dil, kupikir gak apa-apa deh kalau kamu pegangan padaku. Untuk jaga-jaga, kamu bisa lepasin nanti kalau udah masuk komplek.”

“Kupikir ucapan Kak Saif malam itu sudah sangat jelas untuk dipahami semua orang…,” kataku, merespon kalimat Erlangga sebelumnya. “Sebenarnya, aku tidak yakin apakah aku masih dengannya atau enggak.”

“Jadi, maksudnya kakakmu malam itu, kalian putus? Ya ampun…” Erlangga melambatkan laju motor. “Kamu baik-baik aja, Dil? Ehem… maaf kalau aku ingin tahu, apa rasanya sama kayak bila seorang cowok putus sama pacar ceweknya?”

Aku tidak yakin apakah Erlangga sedang menggodaku atau dia benar-benar tidak tahu. Tapi kurasa tak ada salahnya memberi dia sedikit ilmu hati. “Dimana-mana, Erlangga, apapun jenis kelamin orang-orang, berapapun usia mereka, aku yakin mereka merasakan efek yang persis serupa ketika cinta timbul. Cinta dirasakan sama bagi setiap orang. Ia bukan sesuatu yang ditentukan oleh visual, tapi ia adalah sesuatu yang direspon dan diproses oleh hati. Cinta merupakan sebentuk emosi. Cinta tidak seperti cantik atau tampan yang sudah disepakati semua orang bahwa itu tergantung siapa yang melihat. Cinta bukan sesuatu yang relatif. Cinta sama sekali tidak begitu.” Erlangga tidak meningkahi, kupikir dia sangat bisa memahami apa yang sedang kubicarakan. “Apa yang hatimu rasakan saat jatuh cinta kepada Rani, hatiku juga merasakan persis sama saat jatuh cinta pada Orlando. Kamu mungkin belum pernah putus cinta atau patah hati―”

“Pernah. Saat SMA aku diputusin padahal masih demen,” potongnya.

“Maka aku tak perlu menjelaskan lagi kesamaan rasa sakitnya patah hati karena putus cinta.”

Lalu tak ada lagi percakapan. Kurasa Erlangga sudah merasa cukup. Aku tidak yakin dia tidak lagi penasaran atau tak ingin menginterogasiku lebih lama lagi, karena walau bagaimanapun, cinta seperti yang aku dan Orlando miliki sampai kapanpun akan selalu membuat orang kebanyakan tak habis pikir. Erlangga yang tidak bertanya lagi bukan berarti dia paham dan setuju seratus persen dengan model hubungan yang terjadi antara aku dan Orlando, aku tau suatu saat nanti dia akan kembali mengekspresikan ke-tak-habis-pikir-an-nya itu, namun untuk saat ini kurasa baginya sudah memadai. Setidaknya kupikir begitu, sampai…

“Apa kalian pernah berciuman?”

Oh Tuhan.

“Gimana rasanya ciuman sama Orlando? maksudku… yah, kamu tahulah, Orlando juga laki-laki…”

Mendadak aku ingin membeli pistol dan menembak Erlangga.

“Apa kalian pernah… eng… anu… melakukan itu, emm… emel…”

“Diam!”

“Maksudku… yah, kamu tahulah, Orlando juga laki-laki, jadi resiko salah satu dari kalian hamil benar-benar nol besar.”

“Diam!”

“Tapi, gimana cara kalian melakukannya?”

“Kamu pikir aku cowok bejat, hah?” Aku membogem punggung Erlangga sampai badannya melengkung ke depan. “Kamu harus bisa membedakan cinta dan nafsu, Erlangga!”

Dia mengaduh sambil mengelus punggungnya dengan tangan kiri. “Ya ya ya… hubungan kalian itu cinta, bukan nafsu. Okey. Percaya.” Kemudian dia memposisikan tas sampingnya di tengah-tengah. “Buat jaga-jaga kalau kamu berang lagi.” Lalu, “Jadi, kapan kalian akan emel atas dasar cinta untuk pertama kalinya?”

“Kamu brengsek.”

“Aku hanya penasaran.”

“Persetan!”

Erlangga tertawa pendek. “Saat Orlando pamer selangkangan di jendela kapan itu, apa kalian sudah pacaran?”

“Aku tak akan menjawab pertanyaan sialan apapun lagi darimu.”

Lagi-lagi Erlangga tertawa. “Kamu tau, sebelum Saif keceplosan malam itu, saat melihatmu dan Orlando beberapa kali aku pernah punya pikiran kalau ada misteri dalam cara kalian berinteraksi.”

“Terserah.”

“Beberapa kali sempat melihat kalian, aku menilai tingkah kalian terlalu sesuatu, apa ya kata yang tepat? mungkin manis…”

“Oh, terima kasih.”

“Sama-sama.”

Kupikir Erlangga sudah selesai. Tapi…

“Kamu butuh pertolongan untuk membuat hubunganmu dan Lando nyambung lagi?”

“Pergilah ke antartika dan mati membeku di sana!”

Erlangga tertawa bekakakan.

***

Tangis kencang ASJ siang ini menghentikan aktivitas mengetikku. Aku menunggu sampai seseorang membuatnya diam, tapi bayi itu masih menangis saja. Apa yang terjadi pada kuping Mbak Balqis? Mustahil dia tak mendengar tangis sekencang itu. Kutinggalkan tugas kuliahku dan keluar kamar.

Tangis ASJ memelan tepat ketika pintu kamarnya berhasil kucapai. Sepertinya Mbak Balqis sudah di dalam, tapi tetap kubuka pintu untuk memastikan. Aku hampir salah mengenali laki-laki yang sedang membungkuk di atas boks tidur ASJ sebagai ayah bayi itu sampai ia menoleh ke pintu.

“Mbak Balqis sama Bik Iyah keluar, katanya belanja bahan dapur. Kata Mbak Balqis kalau Junior rewel tinggal dibuatin susu aja…”

Aku ingin meninggalkan kamar ini begitu saja meski rengek ASJ akan membuatku merasa bersalah jika melakukannya. Aku tak ingin berada dalam jarak dekat dengan laki-laki itu, belum ingin. Tapi sepertinya dia sedang kebingungan mendiamkan keponakannya yang rewel.

Aku masuk dan mendekati boks. “Mana susunya?” Kupikir saat dia bicara tentang susu tadi, dia sedang berusaha menyumpal mulut mungil ASJ dengan dot.

“Kak Saif gak ngerti bikinnya, takut takarannya salah atau airnya terlalu panas,” jawabnya sambil menggoyang-goyang boks dengan pelan. Di dalamnya, ASJ masih menangis meski tidak sekencang tadi.

Aku tergoda untuk mengatainya sebagai paman dungu, tapi kupikir itu malah akan membuatnya berpikir kalau marahku padanya sudah berkurang. Jadi aku memilih diam, mengambil botol susu dari rak dan bergegas ke dapur.

Sialannya, ASJ sedang tidak terbujuk dengan ASI kawe. Dia menolak dot yang kusumpal ke mulutnya. “Cup cup cup… Junior kenapa, ditinggal mamanya ya… duh kasian…” Aku belum pernah menggendongnya, tapi dia yang menolak botol susu dan terus menangis membuatku nekat mengeluarkannya dari boks. Di sampingku, paman kandungnya malah kaku bagai patung. Kutimang-timang ASJ dalam gendongan sebelum aku mengalah, kutidurkan bayi itu di atas kasur mini di ranjang ketika digendong pun tak membuat tangisnya mereda.

“Mungkin popoknya,” ujar Kak Saif yang sudah ikut berdiri bersamaku.

Aku benci mengakui laki-laki ini menganalisa masalah dengan tepat, popok ASJ basah sepenuhnya ketika kuperiksa. “Silahkan diganti,” kataku datar tanpa menoleh pada orang yang kupersilakan setelah memutuskan kalau sumber masalah ASJ siang ini adalah popok yang penuh. Aku mundur ke dekat boks, melipat lengan ke dada dan mengamati laki-laki itu kebingungan di depan putra pertama kakaknya yang belum diam.

Kemudian dia berbalik padaku, nadanya sungguh memelas ketika dia berkata, “Kak Saif gak paham caranya…”

Aku mendapatkan kesempatanku kali ini. “Oh, tentu saja. Bukankah yang paling Kak Saif pahami itu adalah cara mempermalukan orang lain, ya?” Kak Saif terdiam kaku. Aku mendekat kembali ke ranjang, kutarik kasur kecil tempat ASJ berbaring ke sudut terjauh dari posisi Kak Saif berdiri lalu kupreteli kain popoknya. Tangisnya berhenti bagai direnggut setan tepat ketika benda itu berhasil kupisahkan dari bokongnya yang lembab. Aku tersenyum, “Gotcha, Little Bird…” Mata bundarnya berkedip-kedip menatapku, lalu tangannya menggapai-gapai. Kuraih botol dot dan kumasukkan ke mulutnya tanpa penolakan. “Dasar, kenapa tadi sok jual mahal gak mau susu? Cubit kapok kamu!”

Kak Saif mendekat dan menaruh popok baru serta tas perlengkapan ‘alat permak’ ASJ di atas ranjang dalam jarak jangkauku. Selanjutnya dia mengambil popok bekas yang sudah kubuntal sedemikian rupa dari lantai dan menuju toilet di sudut kamar. Aku perlu air, tapi aku tak akan meminta dia membawakannya.

“Tetap di sini, jangan kemana-mana, okey?!?”

“Kak Saif gak akan kemana-mana.”

“Aku tidak ngomong dengan Kak Saif,” tukasku. Laki-laki itu terpegun di depan pintu kamar mandi sementara aku kembali fokus pada ASJ dan tersenyum. “Okey, Little Bird, jangan kemana-mana!” Aku ke toilet dan melewati Kak Saif begitu saja. Tapi kemudian saat menggayung air dari bak, kupikir aku harus mencuci bokong ASJ seluruhnya. Jadi, aku balik lagi tempat bayi itu sedang mengosongkan botol susunya. “Maaf mengganggu agenda minum susumu, Bocah. Kurasa bokongmu perlu dimandikan.” Kulepaskan dot dari mulutnya, ASJ mengeluarkan suara pendek dan matanya kembali berkedip-kedip. “Ups… ada yang kesal.” Aku tertawa dan kuangkat dia ke kamar mandi.

Sepertinya kali ini aku harus mengalah. Aku tak bisa melakukannya sendirian. Mustahil menyiram bokong bayi ini di saat aku juga harus memegangnya erat-erat dengan kedua tanganku. Aku tak menghardik ketika Kak Saif yang terus memperhatikan apa yang kulakukan sejak tadi bergerak mendekat dan menyiramkan air untuk membasuh keponakannya. ASJ mengejang saat air bak yang dingin mengenai kulitnya, suara-suara yang kukira wujud protes berlesatan dari mulutnya. Aku terkekeh geli.

Why, Little Bird… kamu kedinginan? Kapok kan, makanya lain kali jangan pipis di tempat tidur…” Aku menyadari kalau Kak Saif sedang menertawakan percakapanku dengan keponakannya. Terserah dengannya.

Aku kembali ke ranjang dengan menenteng ASJ. Kusumpal kembali dot ke mulutnya lalu kukeringkan dia. Tiga menit kemudian, aku selesai menaburi bedak ke genetal bayi itu dan memasangkan popoknya dengan benar dan rapi.

“Lihat, Bocah… hari ini kamu jadi rajaku dan aku dayang-dayangmu,” ujarku setelah selesai. “Sekarang, ayo kukembalikan kamu ke peraduanmu. Awas kalau sampai di sana kamu merepet lagi!” Selanjutnya putra pertama Kak Adam itu sudah terbaring kembali dalam boksnya, hening dan tanpa perlawanan. Aku mulai menggoyang-goyang boks sambil menyanyikan lagu nina bobo yang kuyakin juga dipakai ibuku dulu untuk mengantarku tidur.

Kak Saif belum meninggalkan kamar. Aku tahu di pinggir ranjang, dia masih duduk sambil mendengar dan memperhatikanku. “Makasih, Dil…,” ujarnya ketika aku berhenti menyenandungkan shalawat pengantar tidur. Di dalam boks, ASJ lelap dengan mulut renggang, menggeletak pasrah begitu saja. Botol dot kosong baru saja lepas dari mulutnya semenit lalu. Aku berbalik dan siap menuju pintu ketika Kak Saif berdiri dari duduknya. “Aku sadar telah bersalah padamu terlalu dalam, Dil. Kamu tak akan percaya, tapi aku benar-benar menyesalinya. Andai ada cara untuk memperbaiki itu…”

“Tak ada cara untuk memperbaikinya,” cetusku. “Kak Saif tak bisa menekan tombol CTRL dan tombol Z begitu saja untuk memperbaikinya, seperti mengedit skripsi. Sampai dunia kiamat, Erlangga akan tetap tau, Kak Gunawan akan tetap tau.” Laki-laki itu tak mampu menanggapi. “Kak Saif tau apa yang paling membuat sakit?” tanyaku hampir berupa bisikan. “Aku memercayakannya pada Kak Saif. Aku percaya. Sejak awal dulu aku sudah percaya, sepenuhnya tanpa ragu… Sejak pertama kali aku berjuang untuk bicara dulu aku sudah menaruh kepercayaan tak terhingga pada Kak Saif. Aku memercayakan apa yang seharusnya kusimpan sendiri hingga akhir hayat pada Kak Saif. Secara tak langsung, Orlando juga memercayakannya pada karibnya.” Kudapati laki-laki itu menunduk dalam. “Pernahkan Kak Saif dikhianati oleh orang yang paling dipercayai? Kurasa tidak. Kupikir, itulah mengapa Kak Saif memilih menghancurkan kepercayaan yang aku dan Orlando titipkan secara tak langsung itu, karena Kak Saif tak pernah tahu bagaimana rasanya…”

“Aidil…” Bibirnya bergetar. “Aku mengerti jika kamu demikian bencinya, tapi tolong beritahu apa yang harus aku perbuat, satu saja cara yang bisa aku lakukan untuk mengembalikan kamu sebagai adikku, mengembalikanku sebagai kakak di matamu. Karena kondisi kita sekarang ini benar-benar menyiksa…”

“Tak ada.”

Dia terpegun.

“Tak ada yang perlu dilakukan.”

“Aku akan mencium kaki Orlando dan berlutut memohon maaf padamu jika itu yang harus dilakukan…”

“Dia bukan Tuhan yang perlu Kak Saif sembah sedemikian rupa.” ASJ merengek pelan, aku kembali mendekati boksnya. “Aku juga bukan sufi hingga Kak Saif harus merendah di depanku.”

Kak Saif mendiamkan diri beberapa saat. “Aku mengerti… kamu ingin menderaku dengan perasaan bersalah ini lebih lama lagi… Sampai kapan, Dil? Belum cukupkah?”

“Aku bahkan tidak yakin Kak Saif sungguh-sungguh merasa bersalah.”

“Aku masih manusia, Dil…”

“Ya, aku bisa lihat itu,” tukasku. “Kalau Kak Saif cukup manusiawi malam itu, Kak Saif juga akan menyadari jika aku juga manusia.”

“Apa yang harus aku lakukan, Dil…”

“Sudah kukatakan, tak ada.”

“Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya pada kalian berdua, kamu dan Orlando. Kita bertiga…”

“Untuk apa? Dia akan menghajar Kak Saif tanpa ampun untuk semuanya. Untuk sudah lancang menciumku hingga kami harus bubar dan untuk sudah ember kemana-mana bagai emak-emak tukang ghibah. Jika itu terjadi, sebaiknya Kak Saif jangan membalas dan menerima hajaran itu seperti seorang lelaki. Aku akan membiarkannya tanpa melerai…”

“Jika itu bisa mem―” Kak Saif terbelalak. “Tunggu, apa?” Dia mendekatiku. “Apa maksudnya ‘menciumku hingga kami harus bubar?’”

Terjadi sudah. Kupikir sebaiknya manusia brengsek ini memang harus disadarkan atas kejahatan yang telah dilakukannya. Kejahatan yang menyebabkan segala petaka ini terjadi. “Oh, jangan bilang Kak Saif percaya kalau aku dan Orlando bubar begitu saja tanpa sebab dengan alasan sama-sama butuh jeda yang sama sekali tidak masuk akal…” Aku berbalik menghadapnya. “Apakah masuk akal, tiba-tiba kami memutuskan mengakhirinya begitu saja sedang selama ini kami baik-baik saja? Tidakkah seharusnya Kak Saif lebih pintar dari itu?” Aku kembali pada ASJ, kuambil botol susunya yang kosong dari dalam boks. “Orlando selalu berpikir kalau seharusnya bukan dia yang bersamaku. Lalu dengan kurang ajarnya Kak Saif malah menghancurkan hatinya. Dua kali… Dan yang paling membuat hancur adalah malam itu, di depan Erlangga dan Kak Gunawan.”

Dia terhenyak di tempatnya berdiri.

Aku sudah selesai. ASJ kupastikan sudah mimpi indah lagi, mungkin di dalam tidurnya dia sedang merangkak di permadani lembut sambil tertawa-tawa atau sedang diayun-ayun orang tuanya di udara sambil terbahak. Aku menuju pintu, bersiap keluar kamar dengan botol susu di tangan. Kupikir aku akan ke dapur untuk mencuci botol susu itu.

“Dia melihatnya…” Kak Saif bergumam sendiri, seakan ingin memastikan cara Orlando mengetahuinya.

Di pintu yang sudah kubuka, aku kembali berbalik. “Apa Kak Saif berpikir aku yang kurang kerjaan ngasih tau dia?” Kami bertatapan. “Apa sekarang Kak Saif sudah sungguh-sungguh merasa bersalah?”

“Aku sudah begitu jahat pada kalian berdua, Dek…”

Kukibaskan lenganku. “Jangan memaksakan diri.”

Kak Saif menggelengkan kepalanya, putus asa pada sikapku. “Sampai kapanpun kamu gak akan pernah percaya kalau aku sungguh-sungguh menyesal, kan?”

“Aku khawatir kalau begitulah yang terjadi.”

“Jika aku terjun dari atap, apa kamu akan percaya?”

“Kenapa gak menyayat pergelangan saja? Kupikir itu lebih meyakinkan.”

Kak Saif menatapku. “Apa itu cara untuk menebus kesalahanku padamu, pada kalian?”

“Kalau Kak Saif berpikir begitu,” jawabku tanpa menunggu. “Aku akan ke dapur dan mengasah pisaunya.” Kututup pintu lalu bergegas ke dapur, bukan untuk mengasah pisau seperti yang kubualkan, tapi botol susu ASJ butuh dicuci.

*

Kelemahanku terhadap Ananda Saif Al Fata adalah, aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya di saat-saat menurutku dia sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja dan aman. Selalu seperti itu. Dulu, saat dia berkelahi dengan berandalan demi menyelamatkanku, aku mengkhawatirkan bekas hajaran yang diterimanya hingga tak nyenyak tidur. Ketika dia galau karena hendak ditinggal Mbak Ruthiya, aku ikut galau dan merasa kalau itu juga masalahku. Beberapa hari lalu aku menghajarnya tanpa perlawanan hingga lebam-lebam, dan setelahnya, yang terjadi adalah aku cemas memikirkan kondisinya, segala pikiran buruk berseliweran di dalam kepalaku. Kini pun sama. Aku tidak bisa konsen mengerjakan tugas kuliahku lebih lama lagi karena mengkhawatirkan efek pembicaraanku dengannya setengah jam lalu. Bagaimana jika dia dengan begitu dungunya menganggap serius ucapan terakhirku? Bagaimana kalau dia benar-benar tolol dan bertindak nekat melakukan apa yang kusarankan? Teringat olehku mimik wajahnya yang begitu serius mendengarkan setiap ocehanku di kamar tidur ASJ tadi.

Aku bergidik. Membayang di mataku sosok Kak Saif teronggok di lantai dalam genangan merah darahnya sendiri, luka sayat di pergelangan tangan. Bulu kudukku meremang. Sontak aku bangkit dari dudukku. Bagai kesetanan, aku memburu ke pintu kamarku lalu lanjut mendobrak masuk tanpa permisi ke kamar di sebelah kamarku.

Kosong. Dia tidak bunuh diri di kamar.

Aku hendak keluar. Tapi pintu kamar mandi yang tertutup menarik perhatianku. Mungkin dia melakukannya di kamar mandi. Dadaku berdebar. Perlahan kudekati kamar mandi dan kudorong pintunya. Aku nyaris sujud syukur ketika kutemukan kamar mandi juga berada dalam keadaan kosong.

Paranoidku belum terobati. Aku butuh tahu kalau laki-laki itu masih hidup. Selanjutnya, aku ke dapur, niatku untuk mencari Kak Saif sekaligus mengecek pisau Mak Iyah di sana.

“Kata Dik Gede, tadi Dik Bungsu gantiin popoknya Junior ya?” tanya Mbak Balqis begitu aku nongol di dapur.

Aku tidak tahu kalau ibunya ASJ itu sudah kembali dari belanja, bersama Mak Iyah sekarang dia sedang memasak di dapur. “Popoknya kebalik ya, Mbak?” tanyaku dan hampir yakin kalau aku telah salah memakaikan popok ASJ.

Mbak Balqis tertawa. “Enggak. Mbak gak nyangka Dik Bungsu bisa gantiin popok, Kak Adam saja masih suka bilang gak ngerti.”

Sebelas dua belas kayak adiknya yang mulutnya gak ada saringan itu, tambahku dalam hati.

“Makasih juga Juniornya dibikinin susu.”

“Ah, cuma perkerjaan remeh gitu, Mbak. Gampang dilakukan. Asal jangan sering-sering aja sih,” kataku yang membuat Mbak Balqis terkikik dan Mak Iyah geleng-geleng kepala. “Kak Saif sekarang di mana?” tanyaku.

“Tadi keluar lewat pintu belakang,” jawab Mak Iyah sambil terus merajang asparagus.

Yang terlintas di kepalaku saat mendengar pintu belakang adalah, bahwa di sana Ayah menyimpan tangga lipat, dan bahwa akses menuju atap paling mudah adalah dengan memanjat atap rendah di bagian belakang rumah terlebih dahulu. Dengan tangga dari bagian belakang, mendaki genteng tak akan butuh waktu lama. Kini yang terbayang di kepalaku bukan lagi luka sayat di pergelangan Kak Saif, tapi dia yang tergeletak di halaman, dengan kaki dan lengan patah serta gegar otak.

Kutinggalkan Mak Iyah dan Mbak Balqis dan segera menuju halaman belakang dengan perasaan kalut. Yang kulakukan selanjutnya adalah, aku mondar-mandir di sekitar halaman belakang sambil mendongak atap, berusaha dapat melihat pemandangan bagian atas rumah lebih luas. Pandanganku hanya fokus ke atap hingga aku dikejutkan seseorang.

“Dil, kamu sedang apa?”

Dengan kaget yang kentara, aku berbalik. Di atas kursi di bawah cemara rumah di halaman belakang, Orlando duduk tenang menatapku, hanya bercelana pendek sedengkul sedang kaosnya tersampir di bahu lebarnya. Kupikir, dia baru saja melakukan pekerjaan yang menguras keringat hingga mengharuskannya melepas baju. Yang membuatku lebih kaget, di sebelah Orlando, Kak Saif duduk tak kalah tenang, juga sedang menatapku.

“Kamu mencari Kak Saif di atap, ya?”

Bisa kubaca ekspresi geli di wajah laki-laki mulut ember di sebelah Orlando. Sialan dia. Dia pasti menangkap basahku sedang mengkhawatirkannya.

“Kenapa Aidil harus mencari lu di atap, Sef?” tanya Orlando.

Apa yang kulewatkan? Mengapa Orlando bisa berbicara sesantai itu pada si mulut wajan ceper? Bukankah seharusnya dia merontokkan seluruh giginya yang sudah tumbuh? Di tempatku terpegun bergeming, aku memandang mereka dengan tanda tanya besar di kepala.

“Aku bilang padanya, mungkin aku akan dimaafkan jika meloncat dari atap rumah.”

“Lu gak nawarin itu tadi…”

“Karena aku tau, lu pasti bakal nantangin.”

“Tentu. Bahkan mungkin aku akan ikut naik ke atap dan membantu memberi dorongan saat lu ragu-ragu.”

“Nah, itu yang jadi pertimbanganku untuk gak nawarin lu.”

Aku mendekat ke kursi ragu-ragu. Dari percakapan mereka yang absurd, sedikit banyak aku mulai bisa membaca keadaan, bahkan menerka dengan hampir pasti apa yang kulewatkan. Kak Saif sengaja bergeser lebih ke ujung kursi, memberi ruang kosong bagiku untuk duduk di dekat Orlando. Diapit oleh mereka di kiri dan kanan, aku tak tahu harus bicara apa. Kupilih untuk mendiamkan diri hingga Kak Saif bicara padaku.

“Makasih sudah mencemaskan Kak Saif, Dil…”

“Siapa yang mencemaskan Kak Saif? Aku tak akan pernah melakukannya.” Di kananku kudengar Orlando memperdengarkan tawa tertahannya.

“Tuh dengar, dia gak mencemaskan lu, Sef!”

“Dia adikku, meski tak banyak, dia pasti mencemaskanku.”

“Kenapa Kak Lando gak memberinya hajaran? Bukankah seharusnya Kak Lando melakukan itu?” Kupunggungi Kak Saif dan kufokuskan perhatianku pada Orlando.

“Percayalah, Dil, aku sangat ingin melakukannya. Tapi itu percuma, waktu gak mungkin kembali ke malam itu setelah aku membuatnya babak-belur, kan?” Orlando menatapku lekat dan yang ingin kulakukan adalah berpagutan padanya. Kondisinya sore ini begitu menggoda iman dan menjungkirbalikkan akal sehat, khususnya iman dan akal sehatku. “Lagipula, itu sudah kamu lakukan, sudah terwakili. Dan lagi, dia temanku sejak bayi. Kupikir, buat teman, sesalah apapun, maaf akan selalu ada…”

“Trims, Do. Aku harus belajar itu dari lu…”

Aku tak bisa berkata-kata. Orlando memperlihatkan padaku hal yang tak pernah kuduga sebelumnya bisa diperlihatkannya. Kata-katanya itu. Mengapa makin ke sini aku seakan menemukan Orlando yang makin matang dan dewasa, makin bijak menyikapi persoalan. Mendadak kudapati diriku merindukan sifat pencemburunya yang sering melebihi takaran. Tapi, pembawaannya yang sekarang pun tak kurang membuatku lumer. Dia… apa istilahnya? Surprise candy? Ya, sekarang dia adalah candy mengejutkan, misterius, tak tertebak sekaligus memesona.

“Lu bisa belajar dari Aidil…” Orlando bicara merespon kalimat Kak Saif, tapi sorot matanya tak lepas dari wajahku. “Selama ini, di antara kita bertiga, dialah yang paling dewasa, dia yang paling berhasil bertahan untuk tak kehilangan kedewasaannya saat menyikapi masalah. Sedang kita, adalah anak SD yang terjebak dalam sosok mahasiswa jelang wisuda…” Ada senyum kecil di sudut bibir Orlando saat dia mengakhiri kalimatnya.

Aku terhipnotis.

“Iya. Saking dewasanya, dia sampai berhasil memberi riasan di wajahku…”

“Itu karena lu pantas dirias. Tapi aku yakin, saat itu, dia tetap bersikap dewasa dengan menahan emosi hingga tak sampai membuat hidung lu melesak masuk ke mulut.”

Aku ingin tertawa. Bukan cuma karena ucapan Orlando terdengar menggelitik, tapi juga karena dia mengedipkan sebelah matanya padaku dan menyeringai kemudian. Berusaha menyembunyikan raut geli, aku malah menunduk dan tahu-tahu sudah memperhatikan pinggangnya. Aku langsung merona saat menemukan barisan samar bulu halus yang turun dari perutnya dan hilang di balik pinggang celananya. Aku jadi jengah sendiri. Akhirnya kuluruskan dudukku dan kubawa tatapanku ke langit.

Hening tercipta beberapa saat di antara kami hingga Kak Saif bangun dari kursi. “Baiklah, akan kutinggalkan kalian berdua…”

“Kenapa gak dari tadi?” cetus Orlando sambil mengibaskan kaus ke punggung sendiri sebelum kembali disampirkan di bahu.

“Isyaratnya baru jelas sekarang,” jawab Kak Saif dan mulai memulakan langkah meninggalkan kursi. Tak sampai dua meter, dia kembali berbalik. “Aku hanya ingin mengingatkan,” katanya lalu berdeham. “Sama sekali tak ada privacy di sini…”

“Tentu saja, karena lu pasti bakal mengintip sambil menguping di sudut dinding sana,” tukas Orlando.

“Kalau gak keberatan, aku akan mengajak serta Bik Iyah mengintip dan menguping bersamaku.”

“Enyahlah dari sini, Kambing!” sergah Orlando.

“Baiklah, Onta!”

“Badak lu!”

“Kuda Nil lu!”

“Setan, enyah dari sini, Monyet!”

“Iblis, memangnya ini apa yang sedang kulakukan, Lutung?!?”

Aku tak berminat untuk menyudahi ketidakwarasan dua manusia ini. Kubiarkan mereka mengekspresikan kegilaan masing-masing, bukankah sudah begitu lama sejak terakhir kali mereka menunjukkannya?

“Lihat kan, Anoa? Kita hanya anak SD yang berpura-pura jadi mahasiswa.”

“Lu yang mulai, Kebo,” jawab Kak Saif dan mulai berjalan lagi menuju pintu.

“Dasar Sapi kurapan!”

“Dasar Biri-biri kudisan!” balas Kak Saif sebelum menghilang.

Setelah sosok Kak Saif lenyap, hening malah kembali tercipta. Aku ingin menanyakan banyak pertanyaan pada Orlando tentang bagaimana dia dan Kak Saif bisa baikan seinstant tadi. Tapi mungkin lebih baik aku menunggunya cerita sendiri, karena aku punya firasat dia akan melakukan itu meski aku tak bertanya.

“Kamu sungguhan mengira Kambing itu akan meloncat dari atap?”

Baiklah. Ini tidak kuperkirakan sama sekali. Di antara sekian banyak kemungkinan kalimat pembuka percakapan kami sekarang, dia malah memilih kalimat tanya itu. Jelas jauh dari perkiraan topik yang kupikir akan dibicarakannya. Aku tak akan menjawab pertanyaan tak penting itu.

“Badak itu cuma pinter menggertak, Dil. Kayak kamu gak kenal aja sama akal bulus Monyet itu. Jangan sekali-kali lagi ketipu sama tuh Anoa!”

Sekarang aku tak bisa menahan tawaku. Orlando yang mampu mengurut tanpa tertukar sebutan Kak Saif versi marga satwa benar-benar terdengar menggelikan buatku. Kutonjok dadanya dan dia ikutan tertawa.

“Kenapa?” tanyanya di sela-sela tawa samarnya sambil mengelus dada. “Yang kukatakan tentang Sapi itu kan memang benar adanya…”

Aku tak menjawab, hanya terus tertawa. Ketika efek lucunya habis, tawaku ikut lenyap. Di sampingku Orlando hanya menunggu dengan pemadangan shirtlessnya yang menggetarkan. “Apa yang terjadi?” tanyaku setelah puas tertawa.

“Aku sedang ngerapiin kaktus Mama di halaman saat dia maksa pengen ngomong.”

“Apa saja yang Kak Saif katakan?”

“Semuanya. Dari A hingga Z.”

“Banyak, mari kita mulai dari A.”

“Dia menyesal karena kelepasan bicara. Menurutnya sih, saat itu kita terlalu mendorongnya hingga dia hilang kontrol.”

“Itu bukan alasan untuk mentolerir kekurangajarannya padaku, pada kita…”

“Memang bukan. Tapi dia ada benarnya, Dil. Aku mencoba memposisikan diriku di posisi Saif. Kupikir aku juga akan berang kalau dipojokkan terus.” Orlando menolehku. “Tapi itu gak penting, yang utama adalah, dia sungguh-sungguh menyesali itu dan mati-matian minta maaf.”

“Tetap saja gak akan memperbaiki keadaan.”

“Iya. Gak akan membuat Erlangga dan Gunawan lupa. Itu kan maksudnya?”

Aku mengangguk.

Dia merubah posisi duduknya jadi menghadapku. “Hei, kenapa gak mikir begini,” katanya terlihat serius. “bahwa yang sudah terjadi memang apa yang seharusnya terjadi. Setidaknya, ada dua orang lagi yang tidak kita bohongi, kan?”

Mungkin Orlando benar. “Terus, B?”

“Katanya, dia baru diberi tahu kalau penyebab sebenarnya kita gak sama-sama lagi itu adalah dia.”

“Memang dia, kan?”

“Enggak juga.”

Aku mengernyit tak mengerti. “Maksudnya, aku ikut menyebabkannya. Begitu?”

Anggukan Orlando membuatku ingin menerjang dan meninjunya bertubi-tubi. “Dan aku juga,” ujarnya kemudian.

“He?”

“Iya. Kita bertiga yang menyebabkannya. Dia yang memicu dan kita yang terpicu.”

“Tidak. Bukan aku yang punya inisiatif untuk pisah, itu Kak Lando. Ingat? Kak lando yang terpicu, aku tidak.”

“Baiklah, berarti hanya aku dan Saif penyebabnya.”

Jawaban Orlando membuatku kehilangan kata-kata. Aku diam mencerna pembicaraan kami.

“Aku yang membiarkan kita jadi kayak gini. Aku yang minta kamu untuk gak nganggap kita pacaran lagi. Yah, kamu benar…”

Apa aku akan membiarkan dia merasa bersalah seorang diri? “Gak, Kak. Aku juga ikut salah. Seharusnya saat itu aku tidak menyerah terlalu cepat, seharusnya aku berjuang lebih gigih lagi, berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan Kak Lando bahwa keputusan itu tidak tepat, bahwa kita masih bisa menggerakkan biduk itu bersama-sama, bahwa yang terjadi hanyalah cuaca buruk dan akan lenyap seketika bagai kabut ketika mentari muncul di langit.”

Kudapati Orlando tersenyum mendengar penuturanku. “Mentarinya itu kamu…,” bisiknya.

Aku mencegah diriku terbawa suasana. Seperti kata Kak Saif, di sini kami sama sekali tak punya privacy. “Apa yang C?”

“Dia juga menyesal hal itu harus terjadi. Andai ada cara untuk menghapus kejadian itu dari memori kita bertiga, dia ingin melakukannya, juga untuk kecelakaan-kecelakaan sebelumnya yang pernah terjadi. Dia berharap tak pernah menciummu…”

Aku tak tahu harus berkata apa untuk bagian yang ini. Jadi kupikir aku harus melompat ke D. “Apa yang berikutnya?”

“Dia janji itu gak akan terjadi lagi.”

“Apa itu artinya aku akan jadi satu-satunya tersangka utama jika suatu saat nanti hal itu terjadi lagi?”

Sekarang Orlando membelalak padaku. “Kamu berharap untuk terjadi lagi?” tanyanya sengit. “Kamu ngarepin dicium Kambing itu lagi?” desisnya lebih pelan.

“Tentu saja enggak,” jawabku sesegera mungkin dan lanjut bertanya untuk mengakhiri tatapan melototnya padaku. “Terus, yang E apa?”

“Dia akan meluruskannya pada Erlangga dan Gunawan.”

“Aku udah berjumpa Erlangga.”

“Kapan?”

“Dua hari lalu. Dia yang mendatangiku.”

“Responnya?”

Aku mendesah. “Intinya, dia memang brengsek―”

“Dia menghujatmu?” potong Orlando. “Apa dia mengataimu macam-macam?”

Aku menggeleng. “Maksudku, lebih kepada brengsek karena dia malah merasa penasaran dan nanya yang enggak-enggak…” Wajahku memanas saat ingat detil percakapanku dan Erlangga di atas motornya.

“Nanya yang enggak-enggak? Seperti?”

“Lupakan saja!”

“Gak. Aku serius. Dia nanya apa?”

“Gak penting juga. Intinya, Erlangga gak peduli pada apa yang terlanjur diketahuinya.”

“Kalaupun dia peduli dan milih jadi bangsat sungguhan, aku akan membuatnya amnesia.”

Aku tertawa kecil. “Yang kukhawatirkan itu Kak Gunawan…”

“Kenapa? Takut diruqyah sama dia?”

Sekarang aku tertawa besar. “Yah, semacam itulah. Dia kan alim…” Pandanganku menerawang, dan Orlando menyadarinya.

“Kamu khawatir dia ngomong ke Syuhada? Lalu khawatir lagi bila Syuhada ngomong ke Mbak Balqis dan seterusnya?”

Aku mendesah. “Seperti kata Kak Lando, kan? Mungkin itu yang seharusnya terjadi…”

Orlando terdiam, menundukkan kepala dan melipat lengan di dada.

“Aku takut, Kak…”

“Hei…” Orlando menggenggam pergelanganku sekilas sebelum kembali dilepaskan, pandangannya mengawasi sekitar sebelum meneruskan ucapan. “Jika itu terjadi, kita akan menghadapinya berdua, ingat? Kamu gak akan sendirian… bukankah sudah pernah kukatakan?”

Ada tekad dan kesungguhan dalam ucapan dan sorot mata Orlando, tekad dan kesungguhan yang menenangkanku. “Kondisi kita kayak bom waktu ya…”

“Iya, Gunawan mata empat sok alim itu bomnya.”

Aku tersenyum kecut. “Kak Saif bilang akan bicara dengannya, kan?”

“Iya. Pada Erlangga juga.”

“Ya sudah. Biar dia aja yang jinakin bomnya dulu, sukur-sukur berhasil.”

“Gak berhasil pun aku gak peduli. Ini juga sudah pernah kukatakan padamu, kan?”

Kujawab Orlando dengan sebuah anggukan. “Apa yang akan kita lakukan jika keadaan gak berpihak pada kita, Kak?”

“Aku gak peduli, Dil.”

“Sekarang iya jawabnya gak peduli, belum kejadian,” cetusku gusar pada ‘aku gak peduli’ Orlando.

Laki-laki itu cengengesan. “Kita akan kabur,” jawabnya asal.

“Ke mana?”

“Ke mana saja. Aku gak peduli.”

Aku ingin menjambak rambut Orlando saking geramnya pada aku gak pedulinya itu. “Kak Lando tau tabung pasir?” tanyaku setelah beberapa saat diam.

“Apa bedanya sama tabung reaksi?” jawabnya balik bertanya.

Aku tau dia hanya pura-pura bego, jadi kuabaikan pertanyaannya. “Apa yang kita punya sekarang, apa yang sedang kita lakoni kini, perasaan dan emosi ini, semua yang kita cita-citakan, segala yang sudah dan akan kita lewati… semua berbatas pada waktu, Kak…” Aku berkata nyaris apatis. “Yang kita punya adalah tabung pasir yang sedang tegak lurus. Berapa lama lagi waktu yang kita punya sebelum seluruh pasir itu berpindah ke bilah tabung berlawanan dan memberi kita sebuah akhir?”

Orlando terdiam cukup lama. Kami sama-sama menerawang langit. “Bagaimana jika begini, kita berdua akan akan terus mengisi pasir ke dalamnya, terus mengisi dan terus mengisinya dengan pasir hingga ia kewalahan memindahkannya ke bilik bersebrangan…”

Aku tersenyum, bahagia dengan jawabannya yang tidak berlogika. “Kita baru sampai di E.”

“Z-nya, kakakmu pengen kita baik-baik saja bagai tak pernah putus.”

“Apa yang terjadi pada F hingga Y?”

“Mereka tetap pada urutannya masing-masing, F sebelum G dan Y setelah X.”

Lagi-lagi aku tertawa. Setelah berbicara begitu banyak hal bersama Orlando sore ini, aku tahu bahwa kami tak butuh kalimat apapun lagi untuk menegaskan bahwa aku masih miliknya dan dia tetap milikku. Bahkan sebenarnya bisa dikatakan kalau kami tidak benar-benar putus, karena meski kata putus sudah menjadi sebuah keputusan, jika dua hati masih demikian mencinta bahkan lebih kuat dari sebelumnya, kata putus tampak bagai sebuah gurauan saja. Setidaknya, begitulah yang kuanggap kini setelah aku yakin dengan teramat yakin bahwa Orlando mengiyakan titah Kak Saif nomor Z, tanpa keraguan.

“Baiklah. Kurasa tak ada untungnya lagi aku berlama-lama pamer otot di depanmu, tergoda pun kamu gak akan menyentuhnya di sini, kan?” Orlando berdiri dari duduknya.

Aku terbahak dan mengikutinya berdiri. “Aku tergoda, sungguh.”

“Yah, aku tahu,” katanya sambil menggaruk-garuk kepala. “Pasti kamu sedikit kecewa karena F hingga Y gak ada, kan?”

Aku mengangguk dalam geli. “Iya, karena kalau mereka ada, aku bisa tergoda lebih lama lagi.”

“Datang saja ke kamarku kapanpun, di sana kamu bebas merasa tergoda selama yang kamu pengen.”

“Akan kupertimbangkan.”

Orlando menyeringai. “Aku akan menyeberang pagar pulang ke rumahku, sebaiknya kamu juga masuk ke rumahmu.”

“Aku ingin melihat Kak Lando menyeberang pagar.”

“Kalau begitu aku akan melakukannya seperti penyeberang pagar professional…”

“Gila,” cetusku lalu terbahak. “Sana pulang!” Kudorong badannya.

Orlando terkekeh dan balik badan menuju pagar yang membatasi halamanku dan halamannya. Di pintu sempit di tengah pagar, dia berbalik dan mengedipkan matanya padaku sebelum mengangkat kaki kanannya untuk menyeberang. Kurasa, itulah gaya penyeberang professional yang dia katakan. Benar-benar edan. Tapi, aku menyukai caranya membuatku makin jatuh cinta padanya.

Saat berjalan menuju pintu, kata-kata Orlando tentang terus menambahkan pasir ke dalam tabung terngiang di telingaku. Kalimat yang tadinya kupikir tak masuk akal mendadak kini tampak masuk akal bagiku. Bukankah jika tabung itu terus diisi pasir maka ia akan penuh? Ya, ia akan penuh dan fungsinya sebagai penghitung waktu akan lenyap. Di saat itulah waktu berakhir.

Aku tersenyum senang kini ketika kusadari apa yang dimaksudkan Orlando secara tersirat dalam kalimatnya. Dia ingin apa yang kami punya, apa yang kami rasakan, seluruh cinta yang kami miliki, akan berlangsung hingga akhir waktu, hingga akhir waktu. Meski terdengar mustahil, aku tak peduli. Bagiku, itu terdengar sebagai sebuah tekad. Bahwa Orlando bertekad untuk sama-sama denganku hingga akhir waktu. Hal itu meyakinkanku, bahwa sekali lagi setelah Zayed dulu, aku sudah memilih untuk jatuh cinta pada orang yang tepat.

 

 

 

Pertengahan Mei 2015

Dariku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com