Secondary 2

Nayaka Says…

Well, yang nanya2 kelanjutan Secondary kemarin, kali ini bisa puas karena Penulisnya–yang ada hubungan sama Negara Jepang–Kazuto Nishimura mau berbaik hati merelakan tulisannya ini nampang di blogku. Mewakili kalian, aku akan bilang terima kasih banyak kepada Kazuto secara resmi di sini.

Selamat membaca petualangan White bersama tim Viba Squadnya yang mengagumkan di Kota Bintang Jatuh. Semoga terhibur.

😀

_______________________________________________________________________________

SECONDARY II

Oleh : Kazuto Nishimura

***

Hujan deras mengguyur Kota Bintang Jatuh hari ini. Tidak seperti biasanya yang selalu cerah. Di luar banyak sekali para pemain yang berlalu lalang dengan memakai payung.

White berdiri memandang ke luar jendela kamar penginapan sambil termenung. Ia menarik napas dalam, membaui aroma hujan yang sangat mirip dengan yang ada di dunia nyata.

Ronde pertama kompetisi ‘Get The House’ akan dimulai malam ini, tepatnya pukul 11.00 malam untuk waktu dunia nyata, dan pembukaan acaranya diadakan di balai Kota Bintang Jatuh. Tempatnya berbentuk sebuah stadion besar yang katanya di dalamnya tampak seperti coloseum. White sendiri belum pernah ke sana, jadi ia belum tahu bentuk persisnya seperti apa.

Timnya, Viva Squad, harus menang dalam kompetisi itu supaya bisa mendapatkan hadiah rumah untuk dijadikan markas mereka. Walaupun ia hanyalah pemain cadangan, ia cukup rajin berlatih bersama teman-teman satu timnya.

Tapi hari ini benar-benar sangat membosankan. Bahkan lebih membosankan daripada pelajaran Sejarah dari Pak Usman.

White melangkah ke arah tempat tidur dan membaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap. Merasakan kasurnya yang nyaman dan hangat.

Sesaat kemudian, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Mastrix muncul dari balik pintu dan membuat White langsung menegakkan punggungnya.

“Teman-teman yang lain sudah Log-Out semua, mungkin di dunia nyata sekarang sudah pukul setengah enam pagi,” ujarnya sambil ikut membaringkan tubuhnya di samping kanan White.

“Kamu tidak Log-Out sekalian?” tanya White.

Mastrix tersenyum tipis sambil memejamkan mata. “Kamu sendiri kenapa tidak Log-Out?”

White mendengus pelan sambil membaringkan kepalanya di dada Mastrix dan memeluknya dengan manja sambil ikutan memejamkan mata. “Aku sedang menunggu-nunggu saat seperti ini. Hanya kita berdua saja.”

Mastrix tersenyum sambil mengelus puncak kepala White dan mengecup keningnya sebentar. “Ngomong-ngomong, kemarin aku sempat membaca kabar di official-website Secondary Indonesia, kalau mulai nanti siang jam sebelas di dunia nyata, semua NPC akan memiliki self-awareness.”

“Self-awareness? Maksudnya?”

“Maksudnya, nanti setiap NPC akan memiliki kesadaran sendiri, jadi sikap mereka tidak akan kaku lagi, dan mereka juga memiliki pikiran sendiri-sendiri.”

Kedua alis White saling bertautan. “Jadi para NPC itu akan bertingkah seperti manusia normal? Wow! Game ini benar-benar menakjubkan! Pasti menarik sekali bisa berbincang-bincang dengan NPC yang memiliki self-awareness!” seru White yang membuat Mastrix terkekeh.

“Bilang saja kalau kamu mau curhat sama NPC. Iya kan?” goda Mastrix.

White tertawa renyah. “Ahahaha! Bagaimana kau bisa tahu? Belum apa-apa, kedokku sudah terbongkar. Sudahlah tidak usah dibahas lagi.”

Mastrix mencubit hidung White dengan manja. “Apa sih yang tidak aku tahu dari penyihir putihku ini?”

“Banyak sekali hal yang belum kamu tahu dariku. Termasuk warna pakaian dalam favoritku di dunia Secondary,” balas White. Mendengar hal itu membuat Mastrix menyipitkan kedua matanya sambil tersenyum nakal.

“Apakah aku harus mencari tahu hal itu sekarang?” tanyanya dengan pandangan mesum sambil meraba celana White, membuatnya langsung menjitak kepala Mastrix.

“Jangan aneh-aneh deh! Aku kan hanya bercanda! Kenapa kau menanggapinya seserius itu?”

Mastrix mengelus kepalanya. “Iya.. Iya.. Maaf. Aku kan juga bercanda.”

White beranjak bangun dari tempat tidur. “Aku ingin Log-Out saja kalau begitu!”

Namun Mastrix langsung bangun menangkap tangan White. “Jangan marah begitu dong. Aku kan sudah minta maaf.”

White membuang pandangannya ke arah lain dengan ekspresi cuek. Mastrix jadi semakin gemas melihat tingkah White yang seperti itu.

“Baiklah… Baiklah… Sebagai permohonan maaf, bagaimana kalau kita jalan-jalan keliling kota sebentar sebelum Log-Out? Kita nanti mampir ke kedai yang ada di atas bukit utara. Bukankah kau paling suka dengan tempat itu?” rayu Mastrix sambil mengedipkan mata.

Kedai yang dimaksud oleh Mastrix adalah sebuah kedai kecil yang agak sepi, terletak di atas bukit kecil di bagian utara kota. Hanya sedikit sekali orang yang tahu tempat itu. Walaupun begitu, kedai di sana menjual makanan dan minuman yang murah dan cukup enak, ditambah dengan pemandangan indah yang akan kita lihat dari atas bukit.

Mendengar hal itu membuat White tersenyum malu-malu. “Baiklah… Tapi kau yang traktir ya?”

“Tentu saja, penyihir putihku yang bawel,” balas Mastrix sambil mencubit kedua pipi White.

Mereka pun akhirnya pergi ke sana dengan mengendarai kuda zombie.

***

Ternyata bukan hanya dunia Secondary saja yang dilanda hujan, ternyata di dunia nyata juga. Tapi hujannya tidak terlalu deras.

Tenggara turun dari bus sekolah diikuti beberapa siswa yang lainnya lalu membuka payung dan segera berjalan masuk ke area sekolah. Ia mendongak sedikit menatap langit yang menampakkan mendung yang rata. Sepertinya hujannya akan berlangsung cukup lama.

Dengan langkah pelan, ia berjalan melewati lapangan upacara yang basah dan sedikit becek. Tapi tiba-tiba seorang laki-laki berlari dari arah parkiran dan ikut bernaung di bawah payungnya. Tenggara terbelalak sambil memandangnya. Laki-laki itu memakai seragam dinas untuk guru, tapi dari wajahnya tampak begitu muda dan tampan. Selain itu ia juga jangkung.

“Bisa kau antar aku sebentar ke ruang guru? Sebentar saja! Aku tidak membawa payung hari ini!” pinta laki-laki itu dengan wajah memelas. Pakaiannya tampak basah kuyup.

“Oh, oke, baiklah,” balas Tenggara diikuti senyuman dari laki-laki itu. Senyumannya yang benar-benar memukau bisa membuat hati wanita luluh lantak. Tapi Tenggara tampak tidak terlalu peduli dengan hal itu. Mereka berdua langsung berjalan menuju ruang guru cepat-cepat.

Sesampainya disana, laki-laki itu langsung masuk ke dalam ruang guru dengan sangat buru-buru setelah mengucapkan terimakasih. Tenggara hanya mengerutkan hidungnya sambil menutup payung. Benar-benar laki-laki yang aneh.

Tapi ya sudahlah, setidaknya orang itu tidak lupa mengucapkan kata terimakasih, dan baginya itu sudah cukup. Dengan santai ia berjalan menuju ruang kelasnya yang berada di sebelah utara ruang guru.

Ketika ia tiba di ambang pintu kelas, mendadak sebuah lengan menggantung di lehernya dari arah belakang. Tenggara menoleh ke samping kanannya dan menemukan sosok Top yang tinggi dengan senyum cerah.

“Selamat pagi, sayang!” sapanya, yang langsung mendapatkan jitakan keras dari Tenggara.

“Sudah berapa kali kubilang?”

“Iya, maaf, maaf!” gerutunya sambil tertawa kecil dan mengusap-usap kepalanya yang terkena jitakan. Tanpa banyak bicara, mereka berdua langsung menghampiri kelompok belajar mereka. Jenna dan Reyori sudah berada di tempat. Tinggal Eleazar saja yang belum datang.

Tenggara duduk di kursinya sambil melihat jam dinding kelas. Sudah jam tujuh kurang sepuluh menit. Kemana perginya Eleazar?

“Eleazar kok belum datang ya?” tanya Reyori membuka percakapan.

“Mana aku tahu?” balas Top masa bodoh.

“Apa mungkin dia sakit?” tambah Jenna yang langsung membuat Tenggara cemas. Tanpa berpikir panjang, ia menyelonong keluar kelas.

Dengan cepat, ia mencari kontak Eleazar yang menelponnya. Tapi tidak diangkat. Ia mencoba lagi. Setelah bunyi ‘tuut’ dua kali, akhirnya ia bisa mendengar suara Eleazar.

“Halo, Tenggara?” sapanya dari seberang telpon dengan suara serak yang mengganggu.

“Eleazar? Kenapa dengan suaramu? Kamu sakit?” tanya Tenggara.

“Aku tidak apa-apa kok. Hanya sedikit flu saja,” balas Eleazar sambil terbatuk-batuk.

Tenggara jadi jengkel sendiri. “Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya? Sekarang bagaimana keadaanmu? Sudah sarapan? Sudah minum obat?”

“Jangan terlalu berlebihan begitu. Aku baik-baik saja kok. Palingan besok sudah sembuh.”

Tenggara menghembuskan napas lega, walaupun ia masih merasa cemas. “Jadi kau sudah menulis surat ijin sakit?”

“Sudah. Tadi ayahku mampir ke sekolah sebentar untuk menitipkan suratku pada Bu Yutari,” balas Eleazar sambil terbatuk lagi.

“Baiklah kau begitu beristirahatlah. Nanti aku akan ke rumahmu pulang sekolah,” kata Tenggara.

“Ku tunggu kedatanganmu. Pasti kalau kau merawatku, aku bisa pulih dengan lebih cepat,” gurau Eleazar yang membuat Tenggara sedikit terhibur.

“Ya sudah. Jaga dirimu baik-baik. Sampai jumpa,” balas Tenggara lalu menutup percakapan setelah Eleazar membalas salamnya. Ia kembali ke kelas dan duduk di antara teman-teman kelompoknya.

Beberapa saat kemudian, murid-murid lain yang berada di luar kelas langsung berhamburan masuk. Itu tandanya guru untuk jam pelajaran pertama sudah datang.

Pagi hari ini waktunya Pak Hajar lagi yang mengajar pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi yang masuk ke dalam kelas bukannya Pak Hajar, melainkan seorang laki-laki muda yang memiliki wajah cukup familiar bagi Tenggara.

Itu bukannya laki-laki yang tadi meminta Tenggara untuk diantar ke ruang guru? Ternyata dia seorang guru. Dan dia sudah berganti pakaian.

“Selamat pagi!” sapanya setelah menaruh tas di atas meja guru.

“Selamat pagi, Pak,” balas semua murid dengan serentak. Beberapa murid perempuan tampak terpesona dengan ketampanan guru itu.

“Mulai hari ini, saya akan menggantikan Pak Hajar untuk mengajar pelajaran Bahasa Indonesia di kelas dua mulai dari sekarang, sedangkan Pak Hajar mulai sekarang mengajar murid-murid kelas tiga,” jelas guru baru itu diikuti suara ‘ooh’ rendah dari semuanya.

“Nama saya Damma Johardi. Kalian bisa memanggil saya Pak Damma. Baik kalau begitu, biar saya absen dulu,” ujarnya sambil mengambil buku absensi dari atas meja guru.

Satu persatu anak mulai di absen. Murid yang diabsen tinggal mengangkat tangan dan mengatakan ‘Ya, Pak!’.

Hingga saat Pak Damma memanggil nama Eleazar Hiroma, Tenggara mengangkat tangannya. “Eleazar hari ini tidak masuk, Pak. Dia sakit.”

Karena perbuatannya, mendadak ia langsung jadi pusat perhatian satu kelas. Pak Damma memandang Tenggara sambil tersenyum sejenak. “Lalu dimana surat ijinnya?”

“Suratnya dibawa wali kelas, Pak,” balas Tenggara dengan tegas.

Pak Damma mengangguk pelan dan melanjutkan absensinya. Hingga sampai pada nama Tenggara.

“Tenggara Suwandra,” panggil Pak Damma.

“Ya, Pak!” seru Tenggara sambil mengangkat tangan kanannya. Pak Dama menatap Tenggara sambil tersenyum sekali lagi.

‘Orang aneh!’ umpat Tenggara dalam hati.

***

Hujan sudah berhenti siang hari ini. Tapi awan mendungnya masih belum beranjak pergi dari atas kota. Semoga saja hari ini tidak hujan lagi.

Tenggara berjalan pulang menuju pintu gerbang sekolah bersama Top, Jenna, dan Reyori. Setiap pulang sekolah, ke empat orang ini sering kali mampir dulu ke warung soto dekat sekolah. Biasanya dengan Eleazar juga, tapi hari ini dia tidak masuk.

“Malam ini ronde pertama kompetisi ‘Get The House’ akan dimulai. Aku sudah tidak sabar lagi ingin mendapatkan rumah untuk jadi markas tim kita,” ujar Jenna pada Reyori dan Top.

“Untung kita bertiga satu tim ya,” kata Top pada Jenna dan Reyori sambil menatap Tenggara yang berada di samping kanannya dengan pandangan yang agak mengintimidasi.

Tenggara tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa berharap supaya mulut Top, tidak seperti ember yang bocor.

“Tenggara, apakah timmu juga ikut kompetisi itu?” tanya Reyori.

“Tentu saja ikut,” balas Tenggara.

“Kenapa sih kau tidak pernah mau memberitahukan karaktermu di dunia Secondary pada kita?” tanya Jenna.

“Aku kan sudah bilang, aku takut kalian terkejut melihatku lalu kalian akan memohon padaku untuk menjadi guru kalian,” canda Tenggara. Padahal pada kenyataannya dia hanya malu jika nanti teman-temannya tahu kalau karakternya di Secondary itu sangat lemah.

“Aku yakin sekali, pasti karaktermu di game Secondary itu sangat kuat,” sentil Top yang membuat Tenggara semakin merasa terpuruk dengan karakternya.

Setibanya di gerbang sekolah, mendadak seorang murid perempuan, salah satu teman sekelasnya, memanggil namanya dari belakang.

“Tenggara! Kamu dicari Pak Damma, di suruh ke ruang guru,” katanya. Tenggara mengernyit. Pak Damma mencarinya? Untuk apa?

“Sekarang?” tanya Tenggara.

“Ya sekarang lah. Masa tahun depan?” balasnya lalu menyelonong pergi meninggalkan gerbang sekolah.

Tenggara memandang teman-temannya. “Kalian pergi saja dulu.”

“Ya sudah kalau begitu. Kami duluan ya. Sampai jumpa!” Jenna memberi salam lalu langsung pergi bersama Top dan Reyori.

Dengan agak bingung, Tenggara berjalan menuju ruang guru sambil menebak-nebak untuk apa Pak Damma memanggilnya.

Setibanya di ruang guru, ia langsung menghampiri Pak Damma yang tengah merapikan mejanya.

“Maaf, Pak. Apa Pak Damma memanggil saya?” tanya Tenggara berusaha sesopan mungkin. Pak Damma mendongak dan langsung menampilkan senyum memabukkan.

“Oh! Tenggara! Iya, aku sedang membutuhkan bantuanmu. Bisakah kau bantu aku membawakan buku-buku ini ke dalam mobilku?” pintanya sambil menunjuk ke arah tumpukan buku catatan siswa setinggi lutut yang berada di samping meja.

Tenggara hanya bisa mengerutkan hidungnya. Benar-benar menjengkelkan. Kan masih ada banyak guru lainnya yang bisa membantunya membawakan tumpukan buku itu. Kenapa harus dirinya?

Akhirnya dengan pasrah, ia menuruti perintah Pak Damma dan mengangkat tumpukan buku itu lalu mengikuti langkah Pak Damma menuju tempat mobilnya diparkirkan.

Dengan agak susah payah, ia memasukkan buku-buku itu di jok belakang mobil.

Fiuh! Akhirnya selesai.

“Terimakasih banyak ya, Tenggara!” kata Pak Damma.

“Sama-sama, Pak. Saya permisi mau pulang dulu.”

“Eh, tunggu dulu! Kamu pulang naik apa?” tanya Pak Damma.

“Naik angkutan umum, Pak.”

“Ya sudah kalau begitu, sebagai ucapan terimakasih, aku akan mengantarmu sampai rumah,” tawar Pak Damma.

Tenggara menaikkan kedua alisnya. “Oh, tidak usah, Pak. Saya tidak ingin merepotkan. Lagipula saya tidak langsung pulang kok. Saya mau menjenguk Eleazar dulu.”

Namun Pak Damma malah menarik lengan Tenggara. “Sudah, tidak apa-apa. Kalau begitu aku akan mengantarmu sampai ke rumah Eleazar,” ucapnya sambil mendorong bahu Tenggara untuk masuk ke jok mobil bagian depan lalu menutup pintunya.

Sebenarnya Tenggara merasa agak risih. Tapi apa boleh buat. Toh dengan begini ia bisa menghemat uangnya untuk naik bus sekolah.

Pak Damma masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. “Kamu tidak usah malu begitu. Anggap saja aku kakakmu sendiri.”

Mendengar kata-kata itu membuat kepala Tenggara berputar cepat menoleh ke arah Pak Damma, lalu meringis sambil mengerutkan kening. Pak Damma benar-benar guru yang aneh.

Dengan mantap, Pak Damma mengendarai mobilnya keluar dari area parkir dan langsung menancap gas begitu berada di jalan raya.

“Ngomong-ngomong, rumah kamu dimana?” tanya Pak Damma.

“Di Jalan Pangeran Diponegoro nomer dua puluh sembilan, Pak,”balas Tenggara tanpa memandang Pak Damma sedikit pun.

“Kamu tidak harus memanggilku ‘Pak’ kalau ada di luar sekolah. Panggil ‘Mas’ saja. Lagipula usia kita kan hanya beda lima tahun,” suruh Pak Damma. Tenggara cukup mengganggukkan kepala dan tidak ingin banyak bicara.

“Setelah perempatan ini belok kemana?” tanya Pak Damma begitu mereka hendak melintasi persimpangan.

“Belok ke kanan, lalu jalan lurus terus sampai mentok, lalu belok ke kiri sedikit, rumahnya ada di kiri jalan, Pak,” jawab Tenggara.

“Kenapa masih panggil ‘Pak’?” tanya Pak Damma.

“Maaf, Pak. Saya tidak biasa memanggil guru dengan sebutan ‘Mas’,” jawab Tenggara jujur.

Pak Damma tersenyum lagi. “Kau itu benar-benar aneh ya? Lucu sekali!”

Tenggara mengerutkan kening sambil memandang ke luar jendela. ‘Bukannya kebalik? Ya aneh itu kan bapak!’ gerutunya dalam hati. Ia semakin merasa tidak nyaman di dalam mobil.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan rumah Eleazar. Rumahnya cukup besar dan terlihat mewah. Dengan cepat, Tenggara langsung turun dari mobil setelah mengucapkan terimakasih.

Dengan langkah buru-buru, ia berjalan mendekat ke arah samping pagar depan dan memencet tombol bel sebanyak tiga kali.

Karena tidak ada jawaban, Tenggara memencet tombol itu lagi sebanyak tiga kali.

“Mungkin dia sedang tidur kali,” kata Pak Damma yang ternyata sudah berdiri sempurna di belakang Tenggara.

Tenggara sedikit terjingkat kaget mendengar suara Pak Damma yang tiba-tiba sambil berputar ke belakang. “Pak Damma?! Kenapa Pak Damma masih belum pulang?”

Belum sempat Pak Damma menjawab, terdengar teriakkan seseorang dari depan pintu rumah.

“Tenggara!”

Tenggara langsung menoleh, mendapati Eleazar yang tengah berdiri menghampiri pintu pagar depan hanya dengan celana pendek hitam, kaos putih dan wajah yang tampak begitu pucat pasi.

Ingin rasanya ia berlari dan menghambur memeluk Eleazar pada saat itu juga. Tapi sayangnya pintu pagar masih terkunci. Selain itu juga masih ada Pak Damma disini.

Begitu Eleazar membuka pintu pagar, Tenggara langsung mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke kening Eleazar. Suhu tubuhnya masih cukup tinggi.

“Badanmu masih panas. Kau harus istirahat sekarang,” suruh Tenggara. Tapi Eleazar bukannya fokus dengan Tenggara, ia malah memandang orang yang berdiri di belakang Tenggara dengan tajam.

“Itu siapa?” tanya Eleazar dingin.

Tenggara menggaruk-garuk tengkuknya. Sebenarnya ia sangat malas untuk saling memperkenalkan mereka berdua.

“Uhm… Ini adalah Pak Damma, guru baru di sekolah kita, mengajar pelajaran Bahasa Indonesia untuk anak kelas dua. Pak Damma, ini Eleazar,” ujar Tenggara singkat.

Pak Damma dan Eleazar berjabat tangan sebentar.

“Oh, jadi kamu yang namanya Eleazar? Kau benar-benar terlihat tidak baik. Benar yang dikatakan Tenggara, kau harus istirahat. Ngomong-ngomong, aku permisi mau pulang dulu. Kau tidak apa-apa kan, Tenggara, kalau pulang naik angkutan umum?” tanya Pak Damma.

Tenggara mengangguk cepat. “Iya, Pak. Aku tidak apa-apa kok. Aku sudah biasa pulang pergi naik angkutan umum.”

***

Rumah Eleazar tampak begitu sunyi. Tentu saja, di dalam rumah hanya ada seorang pembantu wanita berusia paruh baya yang menemaninya. Orang tuanya biasanya selalu pulang larut malam.

Tenggara duduk di tepi tempat tidur, di samping kanan tubuh Eleazar yang tengah terbaring lemas dengan wajah pucat. Ia baru saja makan beberapa sendok bubur, disuapi Tenggara, dan sudah minum obat.

“Aku tidak suka dengan orang itu,” kata Eleazar membuka percakapan.

“Siapa maksudmu? Pak Damma?”

“Tentu saja. Memangnya siapa lagi?”

Tenggara tersenyum kecil mendengar nada cemburu dari kalimat Eleazar.

“Kenapa tidak suka? Pak Damma kan baik, muda, tampan, sopan, mapan, ramah,” ujar Tenggara sedikit melebih-lebihkan dengan maksud membuat Eleazar lebih cemburu lagi.

“Apa kau menyukainya?” tanya Eleazar. Tanpa memandang Tenggara.

“Ya, tentu saja. Siapapun pasti akan terbius dengan pesonanya yang memikat.”

Tanpa diduga, Eleazar mendongak menatap Tenggara dan menggenggam tangan kiri Tenggara dengan begitu kuat. Matanya memancarkan kesepian yang sangat dalam.

“Kau satu-satunya yang paling berarti di hidupku. Tolong jangan tinggalkan aku….,” ucap Eleazar lirih dengan nada yang mengoyak hati, membuat Tenggara tidak tega lagi untuk mempermainkan Eleazar.

Tenggara menundukkan kepalanya dan mencium bibir Eleazar yang terasa hangat untuk pertama kalinya.

***

“Kenapa tidak ada acara televisi yang menarik sih?” gerutu Delmora sambil memencet-mencet tombol remote tv berkali-kali. Ia sedang menonton tv bersama Tenggara di ruang tengah. Tapi Tenggara malah fokus dengan ponselnya sendiri sambil berpikir keras, apakah ia harus mengirim sms pada Eleazar atau tidak.

Takutnya ia nanti akan mengganggu. Padahal dia sendiri yang menyuruh Eleazar supaya jangan terlalu sering bermain ponsel saat sakit. Tapi ia khawatir dan ingin tahu dengan keadaan anak itu saat ini.

Di liriknya jam waker kecil di samping televisi, pukul 10.30 waktu setempat. Mungkin Eleazar sekarang sudah tidur nyenyak. Lebih baik tidak usah diganggu.

Sedangkan Delmora akhirnya memilih channel tv yang menampilkan acara reality-show sambil menggumamkan omelan tidak jelas.

“Kak, papa sama mama kapan pulang sih? Aku hitung-hitung, kok mereka bulan madunya dua minggu lebih? Padahal dulu katanya hanya sepuluh hari,” tutur Tenggara.

“Oh, iya! Aku lupa memberitahumu. Papa kemarin lusa menelponku katanya mereka sedang dalam perjalanan pulang. Mungkin nanti malam atau besok baru sampai rumah,” kata Delmora.

“Kenapa kakak baru bilang sekarang?”

“Sorry, sorry. Kakak lupa! Ya sudahlah! Tidur saja yuk! Lagipula sebentar lagi kompetisi ‘Get The House’ akan dimulai,” tukasnya membelokkan topik dan mematikan televisi.

Tenggara menyengir kuda sambil mengumpat pelan. Ia berjalan dengan malas menuju kamarnya sendiri lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia memandang langit-langit kamarnya yang tampak begitu putih jernih. Hari ini begitu berbeda dengan hari-hari biasanya. Mungkin karena Eleazar sedang sakit, jadi di pikirannya yang ada hanya Eleazar dan Eleazar.

Sambil mendesah pelan, diambilnya konsol GS yang di atas meja, memasangnya di kepala lalu merebahkan tubuhnya sambil mencari posisi yang paling nyaman.

Setelah ia menekan tombol power dan ‘LOG’ secara bersamaan, terdengar suara ‘klik’ yang sedikit nyaring. Sesuatu seperti menekan pelipisnya di beberapa titik. Tubuhnya terasa semakin lemas dan semakin lunglai tak bisa bergerak sama sekali.

Hingga akhirnya terdengar bunyi ‘splaasshh’ seperti biasa yang membuatnya tersadar kalau dia sudah berada di dunia Secondary sekarang sebagai White.

Tapi bukannya berada di kamar penginapan, sekarang dia ada di kedai kecil di atas bukit utara. Dia lupa kalau tadi dia dan Mastrix Log-Out di tempat ini. Di tatapnya sekeliling ruangan kedai yang sebagian besar bangunan dan perabotnya di buat dari kayu itu untuk mencari sosok Mastrix.

Apakah Eleazar Log-In ketika ia sedang sakit? Tapi bukankah walaupun kita sakit di dunia nyata, itu tidak akan berpengaruh sama sekali dengan kondisi kita di dunia game?

Yang bisa dilihat oleh kedua matanya saat ini hanya beberapa pemain dari ras Beast, juga dua orang laki-laki NPC yang bertindak sebagai penjual dan pelayan kedai. Sepertinya dia belum Log-In. Atau mungkin dia sudah Log-In dan sekarang sudah ada di penginapan di pusat kota.

Sesaat kemudian dia teringat akan sesuatu. Benar juga! Bukankah mulai tadi jam dua belas siang para NPC di dunia Secondary diprogram untuk memiliki self-awareness? Siapa tahu mereka melihat sosok Mastrix.

White mendekat ke arah meja penjual kedai, seorang pria berwajah oriental yang memiliki penampilan setengah baya, dengan rambut dan kumis yang sebagian sudah memutih. Dia memakai kaos putih dan bandana warna hitam sama dengan warna celemeknya.

“Em.. Permisi, Pak,” sapa White ramah.

Pria itu menoleh dan menyambut White dengan senyum ramah. “Ya, Nak? Ada yang bisa ku bantu?”

“Saya ingin bertanya. Apakah bapak melihat seorang laki-laki dari ras Elf, job Warrior, membawa pedang katana, berwajah tampan, dan memiliki warna rambut biru perak sama seperti warna bola matanya?”

Sejenak, pria itu tampak berpikir berusaha mengingat-ingat. “Sepertinya tadi aku melihatnya beberapa menit yang lalu. Coba tanya pada Rafter.”

“Rafter? Rafter siapa, Pak?”

Pria tua itu langsung menunjuk ke arah pelayan laki-laki lainnya yang tengah berdiri di sebelah tiang kayu di serambi kedai, membelakangi pintu masuk.

“Itu, dia di sana. Anak itu tampak selalu murung sambil menikmati pemandangan di luar. Coba tanya dia. Siapa tahu Rafter melihat temanmu itu,” jawab pria tua itu dengan senyum yang tampak sangat hangat, membuat White senang. Ternyata NPC yang memiliki self-awareness itu tampak begitu menakjubkan. Hampir sama persis dengan manusia pada umumnya.

“Oh, yang itu. Terimakasih atas bantuannya, Pak.”

“Berhati-hatilah. Rafter itu orang yang terlihat tenang, tapi seringkali mengejutkan,” kata pria tua itu memberi peringatan.

White tidak begitu paham maksudnya. Tapi ia hanya mengangguk pura-pura mengerti sambik tersenyum.

Tanpa basa-basi lagi, White langsung keluar dari dalam kedai ke serambi, menghampiri Rafter, seorang NPC lain yang berprofesi menjadi pelayan kedai, yang tadi disebutkan oleh si penjual. Ia menepuk pundak Rafter tiga kali yang membuat laki-laki itu langsung memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat menghadap White.

White agak terkejut melihat Rafter yang memiliki wajah yang sangat tampan. Dengan pakaian ala pelayan, celana hitam, kemeja putih lengan panjang dan dasi kupu-kupu warna merah, selain itu ia juga punya rambut hitam pekat dan jambang super tipis di kedua sisi wajahnya, membuat NPC yang satu ini tampak begitu jantan, seperti orang blesteran Eropa dan timur tengah. Tatapan matanya yang terasa dingin menusuk membuatnya terlihat tiga kali lebih mengagumkan dari pada seorang NPC lain pada umunya.

“Apakah kau yang bernama Rafter?” tanya White.

Bukannya menjawab, Rafter malah menatap penampilan White dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu kembali lagi ke kepala.

“Kau benar-benar tampak begitu indah di mataku,” kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir Rafter dengan lancar dan pandangan mata yang serius, membuat White melongo, merasa kalau ada yang tidak beres dengan pendengarannya sendiri. Tapi ia tidak mempedulikan hal itu.

“Em.. Namaku White. Aku ingin bertanya apakah kau melihat seseorang dari ras Elf, job Warrior, membawa pedang katana, berwajah tampan, dan memiliki warna rambut biru perak, sama persis dengan warna bola matanya?” tanya White.

Mendadak, Rafter berjalan mendekati White dan memegang kedua pundaknya. Yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar kendali. Dengan cepat, Rafter menarik kedua pundak White dan mencium bibirnya dengan begitu dalam.

White terbelalak ketika merasakan bibir Rafter yang hangat menempel di bibirnya. NPC yang tidak tahu diri ini dengan nekat mencuri ciumannya. Padahal ia berharap Mastrix yang menjadi ciuman pertamanya di game Secondary. Dengan sekuat tenaga, White mendorong tubuh Rafter mundur.

“Brengsekk!!” teriak White mengarahkan tinjuannya ke pipi kiri dan perut Rafter. Tak hanya sampai disitu, ia juga mengarahkan lututnya ke selangkangan Rafter dua kali dengan cukup keras. Tepat pada saat Rafter terbungkuk dan mengerang kesakitan, White menyikut punggung Rafter hingga laki-laki itu jatuh tersungkur di lantai kayu serambi kedai.

“Rasakan itu!” seru White lalu meninggalkan Rafter yang tergeletak tak berdaya, berjalan menjauhi kedai. Ia meraba-raba bibirnya yang telah dinodai oleh seorang NPC. Gila! Ini benar-benar gila!

Ia menoleh kembali ke belakang, memandang Rafter yang tampak tergolek lemas tak berdaya, membuatnya sedikit merasa bersalah. Apakah ia sudah kelewatan?

Ia melihat beberapa pemain lain yang keluar masuk kedai. Kenapa tidak ada satupun orang yang menolong Rafter yang tengah kesakitan? Mereka hanya memandangnya sekilas lalu membiarkannya. White tahu kalau Rafter itu hanyalah NPC, tapi kenapa mereka malah menganggap seakan-akan Rafter itu tidak penting? Kenapa pria tua pemilik kedai itu tidak keluar dan menolong Rafter?

Mendadak, ia merasa semakin menyesal dengan perbuatannya barusan. Sepertinya ia memang sedikit keterlaluan.

Akhirnya White berlari kembali menuju serambi kedai. Ketika ia melihat ke dalam, memang pak tua pemilik kedai sedang tidak berada di tempatnya. Tanpa menunggu lagi, ia menghampiri Rafter dan membantunya berdiri. Beberapa pemain tampak menatap White dan Rafter dengan tatapan menghina.

“Hei, Bung? Untuk apa kau menolong NPC yang seorang biseksual itu?” tanya seorang pemain laki-laki dari ras Demon yang duduk di dekat tempat White berdiri.

“Dulu dia pernah menciumku juga, lalu aku menonjok hidungnya hingga berdarah lalu pingsan,” ucap seorang wanita dari ras Spirit, bertubuh menyerupai pohon kaktus. Sepertinya dia teman si Demon laki-laki itu.

Telinga White terasa sedikit panas mendengar kalimat-kalimat dari kedua pemain itu. Tapi ia berusaha untuk tidak menghiraukan mereka. White membantu Rafter berjalan meninggalkan kedai.

“Biarkan saja dia kesakitan di lantai. Kenapa kau harus peduli padanya? Kau seorang biseksual juga ya? Atau jangan-jangan kau seorang gay?” kata si Demon laki-laki tadi diikuti tawa mengejek dari dia dan teman wanitanya.

“Tutup mulutmu!” teriak White yang kini kesabarannya sudah habis. Dengan cepat, ia mengambil tongkat sihir dari tas kecilnya dengan tangan kiri. White mengarahkan tongkatnya pada mereka berdua dan memanggil sepuluh Skeleton Warrior yang langsung keluar dari atas lapangan rumput di depan serambi kedai untuk menyerang mereka.

Kedua pemain itu langsung berteriak-teriak heboh sendiri sambil melawan Skeleton Warrior. Belum juga tiga menit, mereka berdua langsung mati dan tubuh mereka menghilang, kembali ke Starting-Point di pusat kota. Sepertinya level kedua pemain itu masih di bawah White. Tapi kata-kata mereka sudah sangat sok.

Setelah mengembalikan para Skeleton Warrior-nya ke tanah, White membantu Rafter berjalan menuju rumah tabib terdekat.

“Kenapa kau menolongku setelah kau memukuliku?” tanya Rafter sambil terbatuk-batuk. White menoleh memandang wajah Rafter yang sedikit babak belur karena tonjokannya tadi.

“Maaf, aku tidak bermaksud menghajarmu tadi. Aku hanya ingin memberimu sedikit pelajaran karena mencium bibir orang lain dengan seenaknya. Tapi aku malah berada di luar kendaliku,” jawab White.

Rafter tersenyum. “Dari sekian banyak pria dan wanita yang menghajarku karena ku cium dengan spontan, hanya kau yang kembali dan menolongku dengan begitu tulus. Kau benar-benar laki-laki yang sangat baik. Terimakasih.”

Walaupun terdengar sangat aneh di telinganya, tapi White berusaha untuk tersenyum balik. “Sudahlah, sekarang kita ke tabib dulu supaya luka-lukamu bisa sembuh.”

Beberapa saat kemudian, mereka tiba di sebuah rumah tabib yang tampak begitu kecil. Seorang tabib wanita berbusana sari khas India menyambut mereka berdua dengan hangat. White membaringkan Rafter di sebuah kasur putih sempit.

Setelah White memberitahu luka-luka yang di alami Rafter, tabib itu langsung menuju ke arah meja kerjanya yang ada begitu banyak botol ramuan dengan warna dan ukuran bermacam-macam.

Memang beginilah aturan main di dunia Secondary. Hanya pemain saja yang bisa di sembuhkan dengan Green Potion yang bisa dibeli di toko obat. Sedangkan untuk seorang NPC, jika terluka atau sakit, mereka hanya bisa disembuhkan dengan ramuan-ramuan yang dibuat langsung oleh seorang tabib.

“Benar apa yang mereka katakan,” kata Rafter tiba-tiba membuka percakapan sambil tetap berbaring.

“Hm? Maksudmu?”

Rafter memejamkan matanya sejenak. “Aku seorang biseks.”

White terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.

“Aku tidak tahu kenapa aku menjadi seorang biseksual. Aku menyukai perempuan, tapi aku juga memeliki kadar suka yang sama juga dengan laki-laki,” ucap Rafter dengan begitu putus asa.

Mendengarnya membuat White ikut merasakan kesedihan yang dialami Rafter. Ternyata NPC yang memiliki self-awareness bisa juga diatur dengan sifat seperti ini. “Untuk apa kau mengatakan semua itu?”

“Semua orang membenciku karena hal itu. Mereka menatapku dengan penuh rasa jijik,” balas Rafter. White menatap wajah Rafter yang tetap tampan walaupun sedang murung. Ia seperti sedang berkaca dengan masa depannya.

“Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Kau hanya perlu untuk menjaga sikap dan perilakumu. Jangan menciumi orang-orang dengan seenaknya yang akhirnya hanya akan membuat dirimu dibenci oleh mereka,” balas White seolah-olah sedang berbicara pada anak balita.

“Apakah kamu tidak membenciku?” tanya Rafter.

White tersenyum geli. “Bukankah tadi sudah ku bilang? Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Yang penting, kau tidak akan mengulanginya lagi.”

Rafter tersenyum lemah. “Kau benar-benar laki-laki impianku.” White tertawa kecil. Rafter memiliki sifat yang suka blak-blakan dan tidak segan-segan mengungkapkan isi hatinya secara langsung.

“Ya.. Ya.. Ya.., terserah kau saja,” balas White.

Pada saat yang sama, Rafter menarik tangan kiri White dan menggenggamnya erat. “Sekali lagi, terimakasih.”

“Iya, iya. Sudahlah. Memangnya mau berapa kali kau akan mengucapkan terimakasih padaku?”

Rafter tertawa kecil. “Sampai kau mau menjadi kekasihku.”

“Teruslah bermimpi,” balas White sambil tertawa hambar.

Beberapa saat kemudian, tabib itu selesai dan memberikan sebuah gelas kaca berisi ramuan berwarna kuning menjijikan untuk diminumkan pada Rafter. White membantu Rafter untuk duduk dan meminum ramuan dari tabib hingga habis.

Beberapa saat kemudian, tubuh Rafter bersinar cerah dan mengapung selama beberapa detik hingga ahkhirnya Rafter berdiri dengan sempurna di samping White, sembuh seperti sedia kala.

“Aku sudah sembuh,” kata Rafter dengan girang.

White langsung membayar biaya pengobatan Rafter lalu berjalan keluar dari rumah tabib setelah mengucapkan terimakasih.

“Kau mau kemana sekarang…….um..aku belum tahu namamu,” kata Rafter.

“Bukankah aku sudah memperkenalkan namaku padamu tadi sebelum aku menghajarmu?”

“Um… aku tidak ingat.”

“Namaku White. Dan ngomong-ngomong, sekaraang aku harus kembali ke pusat kota. Setelah ini aku harus mengikuti kompetisi ‘Get The House’ bersama teman-teman satu timku di balai kota.”

“White? Sungguh nama yang indah, seperti orangnya. White, ijinkan aku ikut bersamamu,” ujar Rafter.

“Tidak. Untuk apa kau ikut bersamaku? Bukankah kau masih harus membantu Pak Tua di kedai?” tanya White.

“Pak Tua masih punya banyak anak buah. Dia tidak akan merasa kerepotan hanya karena salah satu anak buahnya mengundurkan diri. Nanti biar aku yang bilang sama Pak Tua kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan baru.”

“Pekerjaan baru? Pekerjaan baru apa maksudmu?”

“Pekerjaan baruku adalah menjagamu dan melayanimu setiap saat,” jawab Rafter dengan entengnya.

“Hei! Hei! Tunggu dulu! Memangnya sejak kapan aku menawarimu pekerjaan seperti itu? Lagipula aku tidak punya cukup uang untuk menggaji seorang bodyguard.”

“Tidak usah naik pitam begitu. Kau tidak perlu membayarku sepeserpun. Yang penting aku bisa selalu menjagamu dan terus berada di sampingmu,” kata Rafter yang membuat White bergidik. Sepertinya NPC yang satu ini sudah sangat terobsesi dengan dirinya.

“Pokoknya tidak boleh. Bagaimana nanti kalau tiba-tiba kau memperkosaku ketika aku sedang tidur?” tanyanya dengan memikirkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, mengingat Rafter yang memiliki sifat biseksual.

Mendadak, Rafter berlutut di depan White sambil mengepalkan tangan kanannya di depan dada. “Aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu. Aku mohon padamu dengan sangat, tolong bawa aku bersamamu.”

White mulai merasa tidak nyaman ketika melihat beberapa pemain yang melintas sambil melihat mereka berdua dengan tatapan aneh. Apalagi sepertinya Rafter ini sangatlah keras kepala.

“Baiklah! Baik! Kau boleh ikut denganku! Asalkan kau tidak membuat kekacauan dan masalah,” White akhirnya mengalah.

“Terimakasih!” Ketika Rafter berdiri sambil tersenyum, mendadak telinga White mendengar sesuatu seperti suara operator.

“Ding! Dong! Secret Quest terselesaikan! Mendapatkan ‘Humanoid Pet’ dengan nama Rafter!” ujar suara itu diikuti kemunculan layar hologram berbentuk persegi di depan mata White.

 

PET NAME: RAFTER

GENDER: MALE

LEVEL 23

OWNER: WHITE

 

White ternganga dan baru bisa mengerti beberapa menit kemudian. Jadi Rafter itu adalah Quest Rahasia? Dimana yang bisa mendekati Rafter dengan sungguh-sungguh akan bisa menjadikannya sebagai ‘Humanoid Pet’ atau peliharaan berwujud manusia.

“Kau sedang lihat apa?” tanya Rafter pada White yang membuatnya langsung tersadar. Sedetik kemudian, layar hologram itu menghilang.

“A-apa? Kau tadi bilang apa barusan?” tanya White sambil menahan rasa senangnya.

“Kau sedang lihat apa? Sampai-sampai melongo jelek seperti itu.”

“Oh itu ya,” White tertawa hambar. Tentu saja NPC tidak bisa melihat layar hologram barusan. “Aku hanya sedang melamun kok. Oh iya, aku harus segera ke pusat kota cepat-cepat. Sebentar lagi kompetisinya akan segera dimulai.”

“Serahkan semuanya padaku,” tukas Rafter yang dengan tiba-tiba menggendong tubuh White di depan dadanya lalu berlari dengan sangat cepat. Bahkan mungkin lari Delmora kalah cepat dibandingkan Rafter.

“Larimu begitu kencang,” kata White sambil menyembunyikan wajahnya di ketiak kanan Rafter.

“Itulah keahlianku,” balas Rafter dengan begitu percaya diri. White hanya tersenyum geli sambil menarik napas panjang. Bau tubuh Rafter sangat harum maskulin. Membuatnya hampir lupa kalau Rafter itu hanyalah karakter NPC.

***

Sebagian anggota tim Viva Squad sudah berkumpul di depan penginapan untuk segera berangkat menuju stadion balai Kota Bintang jatuh. Hanya White yang belum ada di sana.

“Kemana sih anak itu?!” omel Angela yang dari tadi mondar-mandir tidak jelas sambil sesekali melirik jam kecil yang berada di genggaman tangannya. Jam itu menunjukkan waktu di dunia nyata. Bentuknya mirip seperti kompas, dengan bagian luar yang dilapisi kuningan sehingga terlihat seperti emas. Angela membelinya di toko peralatan dan persenjataan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Karena mulai tadi jam dua belas siang di dunia nyata para NPC diberi sistem self-awareness, jadi Angela melakukan tawar-menawar dengan si pedagang, dan ia berhasil membelinya dengan harga yang bisa dibilang murah.

Ia kembali melirik jamnya. Sudah pukul sebelas kurang sepuluh menit di dunia myata, yang artinya di dunia Secondary kompetisi ‘Get The House’ akan di mulai dua puluh menit lagi.

“Mastrix, apa kau yakin kalau White tidak ada di kedai di atas bukit utara?” tanya Angela.

“Aku sudah mencarinya ke sana bersama Seergrowl tadi. Tapi dia tidak ada. Padahal aku dan White tadi pagi Log-Out di sana,” jawab Mastrix yang tampak tidak sakit sama sekali. Keadaan mereka di dunia nyata memang tidak berpengaruh dengan karakter mereka di dunia game.

“Benar-benar merepotkan sekali,” balas Angela.

“Apakah kita pergi duluan saja ke stadion?” usul Jenna.

Belum sempat Angela menjawab, tiba-tiba terdengar suara langkah cepat dari arah utara. Mereka semua langsung menoleh ke sumber suara dan menemukan sosok White melambai-lambaikan tangannya, sedang di gendong seorang laki-laki berwajah tampan yang berlari begitu cepat ke arah mereka.

Beberapa detik kemudian, mereka berdua tiba dan laki-laki itu menurunkan tubuh White dari gendongannya.

Mastrix terlihat sangat tidak suka melihat White bersama laki-laki itu. “Bagus sekali. Kami semua hampir gila dan putus asa karena kau belum juga datang. Ternyata kau sedang bermain gendong-gendongan dengan seorang laki-laki?”

Belum sempat White menyanggah kalimat Mastrix, Angela lebih dulu melemparkan pertanyaan. “Kemana saja kau? Kata Mastrix, kau dan dia tadi pagi Log-Out di kedai atas bukit, tapi kenapa mereka tidak menemukanmu di sana? Dan ngomong-ngomong…… siapa laki-laki ini?”

“Perkenalkan, ini adalah Rafter, temanku,” jawab White.

Rafter segera membungkuk dalam dengan sopan. “Senang berjumpa dengan kalian. Aku bukan hanya teman dari White. Aku adalah calon kekasih White. Aku sangat mencintainya,” ucapnya tanpa mempedulikan reaksi anggota tim lainnya yang tampak terkejut setengah mati.

White segera menjitak kepala Rafter. “Jangan bicara sembarangan kau!”

Rafter hanya bisa meringis kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya.

“White! Tolong jelaskan pada kami siapa dia,” kata Angela.

“Baiklah! Akan ku jelaskan dengan singkat. Rafter adalah NPC, dan dia itu ‘Humanoid Pet’ milikku. Aku mendapatkannya setelah menuntaskan Quest Rahasia,” tutur White.

“Humanoid Pet?!” seru teman-temannya dengan ekspresi tidak percaya. White sudah mengira hal itu.

Dengan lantang, ia berteriak. “Pet Status!”

Sebuah layar hologram langsung muncul di samping mereka semua, menampilkan foto Rafter dan beberapa keterangan di bawahnya.

 

PET NAME: RAFTER

GENDER: MALE

LEVEL 23

OWNER: WHITE

 

“Wow! Kau benar-benar sangat beruntung bisa mendapatkan peliharaan berwujud manusia yang memiliki level sama denganmu! Tapi……. kenapa tadi dia bilang kalau dia….. mencintaimu?” tanya Seergrowl dengan kening berkerut sambil menatap Rafter dengan tidak pasti.

“Yah, dia itu biseksual,” jawab White dengan begitu tenangnya, namun tidak sadar lagi dengan reaksi teman-temannya yang tampak membelalakkan mata.

“Ceritanya panjang. Lagipula Rafter hanya karakter NPC. Nanti saja aku ceritakan kepada kalian. Sekarang kita harus segera berangkat ke stadion balai kota,” tukas White.

“Kau benar. Kita berangkat sekarang,” kata Angela.

Mereka semua langsung berjalan ke arah barat, menuju stadion balai kota. Sedangkan Mastrix langsung mendekati White yang berjalan di barisan paling belakang bersama Rafter.

“White,” panggil Mastrix yang sudah berjalan menyejajari White di samping kanan.

“Ada apa?”

“Aku…. minta maaf karena sikapku tadi. Aku tidak tahu kalau Rafter hanya NPC.”

White tersenyum dan berbisik. “Aku bisa mengerti kok. Cemburumu itu wajar.”

“Jadi…. kau tidak marah padaku, kan?”

“Untuk apa aku marah pada kekasihku sendiri? Tapi aku hanya ingin kau melakukan satu hal yang harus kau lakukan selamanya.”

Mastrix mengernyit. “Maksudmu… kau memberiku hukuman?”

“Yah! Kau bisa menganggapnya sebagai hukuman dariku.”

“Apa itu?”

“Kau… hanya perlu mempercayaiku. Jangan pernah meninggalkanku. Tetaplah menjadi orang yang ku cintai.”

Mastrix tersenyum sambil mencubit pipi kanan White.

“Hei! Hei! Hentikan! Kau pikir apa yang sedang kau lakukan pada White?!” protes Rafter yang langsung menepis tangan Mastrix dari pipi White.

Mastrix tertawa kecil. “Jangan khawatir. Kau tidak perlu cemburu begitu, Rafter. White akan selalu menjadi milikmu.”

***

Beberapa menit kemudian, tim Viva Squad, termasuk Rafter yang menjadi humanoid pet milik White, tiba di depan bangunan stadion balai kota. Dari sini saja sudah banyak sekali orang yang hendak menyaksikan kompetisi ‘Get THe House’, baik itu para pemain ataupun NPC.

“Wow! Aku tidak percaya ada bangunan semegah ini di Kota Bintang Jatuh,” kata Jenna.

“Kau harus percaya, Jen. Karena sebentar lagi kau akan berada di dalamnya,” tambah Seergrowl.

Reyori mengangguk setuju. “Ayo, kita segera masuk.”

Tanpa banyak bicara lagi, mereka langsung berjalan memasuki gerbang. Di sana sudah ada seorang perempuan paruh baya yang merupakan salah satu panitia kompetisi ini.

“Apakah kalian dari tim Viva Squad?”

“Iya, benar sekali,” jawab Angela yang berdiri paling depan.

“Silahkan lewat sini. Sepuluh menit lagi kalian harus tampil ke lapangan stadion untuk pembukaan acara,” ujarnya sambil mempersilahkan untuk berjalan ke lorong besar yang berada di belakangnya.

Di samping kanan mereka banyak sekali pintu-pintu yang berderet yang bertuliskan nama-nama tim yang akan mengikuti kompetisi. Hingga mereka tiba di sebuah pintu dengan tulisan “Viva Squad”.

Wanita itu membuka pintu. “Silahkan masuk.”

Mereka bertujuh langsung masuk dan terkagum begitu berada di dalam ruangan. Isinya sungguh menakjubkan. Seperti sebuah rumah mewah yang sangat berkelas dan cukup luas.

Bahkan ada beberapa perabotan yang berwarna kuning mengkilap seperti dilapisi emas. Di meja juga sudah tersedia beberapa camilan dan makanan berat.

Intinya semua benda yang berada disitu tampak begitu mewah.

“Untuk ketua tim, silahkan tekan salah satu tombol yang belum menyala yang ada disini,” suruh wanita itu sambil menunjuk ke arah tombol-tombil bulat yang ada di dinding dekat pintu. Jumlahnya ada tiga puluh dua tombol yang masing-masing sudah ditulisi angka satu sampai tiga puluh dua dengan urut. Sebagian besar tombol sudah menyala merah.

Angela mengernyit. “Ini apa?”

“Ini adalah penentuan drawing secara acak. Tombol yang menyala berarti sudah dipilih oleh tim yang lain. Jadi intinya di ronde pertama nanti adalah babak eliminasi, untuk tim yang memilih tombol nomor satu, akan melawan tim yang memilih tombol nomor dua. Tim yang memilih tombol nomer tiga akan melawan tim yang memilih tombol nomor empat. Begitu seterusnya sampai tim yang memilih tombol nomor tiga puluh satu akan melawan tim yang memilih tombol nomor tiga puluh dua.”

Kini Angela baru bisa paham setelah wanita itu memberi penjelasan singkat. Ini cukup adil. Tapi di depannya kini, hanya tinga nomor 1, 7, 10, 15, 18, dan 27 saja yang belum menyala. Tanpa ragu-ragu, Angela menekan tombol nomor 1 hingga menyala merah.

“Baiklah. Tim Anda akan bertanding di urutan pertama, melawan tim yang memilih tombol nomor dua,” jelas wanita itu.

“Angelaa!!” seru semua anggota pada Angela, kecuali White yang tampak tidak terlalu khawatir, karena dia hanya pemain cadangan.

“Kenapa kalian teriak-teriak? Bukannya malah bagus kalau kita bermain di awal-awal? Lebih cepat selesai kan lebih baik.”

“Bukannya begitu. Kita kan belum tahu bagaimana aturan main di ronde pertama ini, apakah kita akan bermain satu tim penuh atau pewakilan,” protes Laydrown.

“Laydrown ada benarnya juga, Kak,” tambah White.

“Aku yakin kok, kita pasti bisa melewati ronde pertama ini. Lagipula kan selama ini kita sudah berlatih dengan keras. Kalian jangan pesimis begitu.”

“Ya sudah lah. Terserah kau saja. Kau kan ketuanya,” kata Jenna yang akhirnya pasrah.

“Silahkan nikmati waktu kalian. Sepuluh sepuluh menit lagi kalian akan masuk ke lapangan. Saya mohon permisi dulu. Masih ada beberapa pekerjaan lain yang harus saya selesaikan,” kata wanita itu lalu menutup pintu.

Mastrix, Seergrowl dan Laydrown langsung duduk bersandar di sofa besar di ujung ruangan. Reyori dan Jenna mendekat ke arah meja untuk mencoba beberapa minuman dan camilan.

“Apakah disini ada kamar mandi? Sepertinya aku butuh mandi air hangat. Tubuh ini sudah terlalu lengket karena lama belum aku mandikan,” kata Angela.

“Seharusnya ada, Kak,” tanggap White sambil memandang mengitari ruangan. Ia menemukan sebuah pintu kecil di salah satu sudut ruangan itu. “Itu, Kak, disana. Coba kakak lihat dulu.”

Tanpa merespon, Angela langsung beranjak menuju pintu itu.

Mendadak, Rafter menggendong tubuh White di depan dadanya. “Sekarang tinggal kita berdua. Maukah kau berkeliling denganku melihat-lihat gedung stadion ini sebentar?”

White tampak tidak menolak ketika Rafter menggendongnya seperti itu. Walaupun laki-laki itu hanya karakter NPC, tapi rasanya benar-benar nyaman berada di gendongan Rafter. Paling tidak, dia bisa membayangkan, bagaimana nanti jika Eleazar menggendongnya di dunia nyata.

Tapi White masih bersikap defensif terhadap Rafter. “Apa kamu tuli? Kan wanita tadi sudah bilang kalau sepuluh menit lagi pembukaan acaranya akan segera dimulai.”

“Ayolah, sebentar saja. Hanya berkeliling melihat-lihat saja kok.”

“Aku yakin dipikiranmu pasti sudah tersusun rencana lain selain hanya berkeliling dan melihat-lihat gedung stadion saja.”

“Bagaimana kau tahu? Aku memang sudah berencana mengajakmu ke semak-semak di luar gedung, lalu kita bisa bercinta di sana.”

White menjewer telinga kanan Rafter dengan kuat.

“Aw! Ampun! Ampun, sayang. Aku hanya bergurau.”

Rafter menurunkan tubuh White lalu memegangi kuping kanannya yang tampak memerah. White tertawa kecil sambil menggelitiki pinggang Rafter. Yang digelitiki hanya bisa tertawa geli dan berusaha menghindar.

***

“Selamat siang! Selamat siang dan selamat datang di ‘Get The House’ yang pertama kita adakan di Kota Bintang Jatuh. Kali ini saya, Hugo, akan mengajak kalian semua untuk menyaksikan kompetisi paling ditunggu di kota ini,” ujar seorang pembawa acara yang dari microphone yang berada di ruangan balik kaca, di antara penonton yang sangat ramai, riuh, dan padat.

Di dalam stadion memang tampak seperti sebuah koloseum, tapi ukurannya sangat besar. Ada dua buah layar besar di ujung barat dan timur stadion.

“Disini saya sudah bersama tiga orang juri kita yang akan menentukan siapa yang akan menjadi pemenang di kompetisi ini. Yang pertama ada Tuan Wakaba. Selamat siang, Tuan Wakaba, dan selamat datang.”

“Selamat siang juga, Hugo.”

“Berikutnya, ada Nona Kawasaki. Selamat datang, Nona Kawasaki.”

“Terimakasih, Hugo. Aku sangat senang bisa menjadi satu-satunya juri wanita disini.”

“Sama-sama Nona Kawasaki. Dan yang terakhir adalah Tuan Heroine, selaku ketua penyelenggara. Selamat siang, Tuan. Saya sangat mengidolakan Anda.”

“Ah, jangan membuatku malu seperti itu. Ini baru kali pertama kali aku menyenggalarakan lomba seperti ini.”

“Hahaha! Kau terlalu rendah hati, Tuan Heroine. Baiklah, para penonton stadion, kompetisi ‘Get The House’ kali ini diikuti oleh tiga puluh dua tim dari seluruh daerah di Kota Bintang Jatuh. Dan di babak pertama hari ini adalah babak eliminasi dan akan di ambil sebanyak enam belas tim yang akan bertanding di babak kedua.”

Terdengar gemuruh penonton yang bersorak ria.

“Baiklah tanpa menunggu lagi, mari kita sambut ke tiga puluh dua tim yang akan mengikuti kompetisi ‘Get The House’!!” teriak Hugo yang langsung diikuti sorak-sorai para penonton stadion.

***

White sangat gugup. Sebentar lagi dia akan masuk ke dalam lapangan stadion yang besar itu. Sekarang mereka berada di balik gerbang besar yang tertutup yang beberapa saat lagi akan terbuka.

“White, apakah kami sudah terlihat cantik?” tanya Reyori. White menoleh ke arahnya serta Jenna dan Angela yang berdiri di kedua sisi Reyori.

“Sudah! Kalian cantik kok.”

Reyori tampaknya tidak puas dengan tanggapan White. Ia kembali mendandani dirinya.

Mendadak, seseorang memegang tangan kanan White. Anak itu menoleh dan mendapati wajah Mastrix yang tersenyum teduh padanya. “Tidak perlu khawatir. Ini baru babak pertama. Kita pasti bisa melaluinya.”

“Kau terlalu percaya diri. Bagaimana kalau kita kalah?”

“Kita pasti menang. Kita kan sudah berlatih keras selama ini. Kau juga sudah berlatih sangat keras dengan teknik pedang dan Necromancy-mu. Kita harus yakin dan optimis.”

“Tapi aku gugup sekali.”

“Tidak perlu merasa gugup. Kan ada aku yang selalu memberimu semangat.”

White tersenyum lemah. Hatinya merasa sedikit ringan sekarang berkat dorongan semangat dari Mastrix. Dieratkannya pegangan tangannya pada tangan Mastrix. Ia sudah cukup siap sekarang.

Hingga beberapa saat kemudian, pintu gerbang di depan mereka terbuka. Mereka berjalan memasuki lapangan dengan begitu tenangnya. Lapangan itu tampak sangat luas dan megah.

“Ini dia tim Viva Squad!!” seru Hugo, sang pembawa acara. White sedikit kaget melihat luasnya lapangan stadion ini. Juga penonton yang tampak memenuhi seluruh tempat duduk yang bersorak-sorak memekakan telinga. Seperti sedang berdiri di atas panggung konser.

“Aku cinta kalian semua!” teriak Reyori menggebu-gebu sambil mengangkat kedua tangannya, walaupun ia tahu kalau suaranya tidak akan bisa didengar oleh penonton.

“Kau norak sekali,” sentil Seergrowl sambil mengusap-usap kening. Mungkin diantara semua anggota Viva Squad, Seergrowl-lah yang terlihat paling mencolok karena penampilannya yang tampak seperti manusia serigala. Selain itu, Jenna juga tampak sedikit berbeda, dengan sepasang sayap kulit di punggungnya, tapi masih memiliki wajah yang terlihat cukup normal.

Setelah ini beberapa tim lainnya di panggil keluar, hingga ke tiga puluh dua tim sekarang sudah berada di lapangam stadion.

“Inilah calon pemenang kita pada kompetisi ‘Get The House’ kali ini!” teriak Hugo memberi semangat.

“Baiklah, sekarang untuk semua tim, silahkan duduk ke tempat kalian masing-masing yang sudah di sediakan oleh panitia,” tambahnya.

White dan kawan-kawan berjalan ke pintu gerbang tadi yang sekarang sudah di sediakan kursi-kursi yang menghadap ke arah lapangan.

Setelah lapangan kembali kosong, Hugo kembali memberi penjelasan. “Sudah duduk semua? Oke, aku akan menjelaskan mengenai peraturan untuk babak pertama, yang merupakan babak eliminasi, yang nantinya akan diambil sebanyak enam belas tim untuk bertanding di babak kedua. Dimana tadi semua tim sudah menekan tombol drawing masing-masing, dari tombol nomor satu sampai nomor tiga puluh dua. Tim yang memilih tombol nomor satu akan melawan tim yang memilih tombol nomor dua. Tim yang memilih tombol nomor tiga akan melawan tim yang memilih tombol nomor empat, begitu seterusnya sampai yang terakhir, tim yang memilih tombol tiga puluh satu akan melawan tim yang memilih tombol nomor tiga puluh dua.”

White sedikit menyengir ketika mendengar penjelasan si pembawa acara yang hampir sama dengan penjelasan yang diberikan oleh wanita yang tadi memandunya ke ruang persiapan.

“Jadi untuk hari ini, akan ada enam belas pertandingan. Dan tema dari babak pertama hari ini adalah…………….. ‘The Weaklings’, dimana satu anggota tim, baik cadangan ataupun tim inti, yang memiliki level paling rendah akan menjadi wakil dari timnya untuk bertarung.”

Telinga White serasa mendenging. Jantungnya berdegup-degup seperti ingin melompat keluar. Di saat yang sama, teman-teman yang lain langsung memandang ke arahnya dengan terkejut bercampur kasihan.

“Kau pasti bisa, White!” seru Angela berusaha memberi semangat sambil menepuk kedua pundak White dari belakang.

“Aku yakin kau pasti bisa menang, White! Lagipula kau bisa bertarung bersama Rafter,” tambah Laydrown sambil mengusap-usap rambut White dengan hangat.

“Benarkah begitu? Aku bisa membantu White dalam pertarungan?” tanya Rafter.

“Tentu saja. Ini pertarungan tunggal, dan kau adalah ‘pet’-nya White. Dan ‘pet’ itu selalu bisa dilibatkan ke dalam setiap pertarungan White,” sambut Seergrowl.

“Kalau begitu, ijinkan aku kebelakang sebentar,” ujar Rafter lalu berlari pergi.

White merasa sedikit khawatir. “Bagaimana kalau nanti aku kalah?”

Angela tersenyum simpul. “Kalau memang kau tidak menang, berarti hadiah rumah itu masih belum menjadi rejeki kita. Tapi aku yakin kamu pasti bisa menang.”

Reyori mendekat. “Yang perlu kau lakukan hanyalah percaya pada kemampuanmu sendiri.”

“Betul apa yang dikatakan Reyori. Yakinlah dengan kemampuanmu. Kami semua disini akan selalu mendukungmu,” tambah Jenna.

White merasa cukup percaya diri setelah teman-temannya memberi semangat. Ia seperti anak kecil saja kalau begini.

White memandang Mastrix yang duduk di samping kanannya yang sekarang sedang menatapnya tanpa berkata apapun. Tapi dia menggenggam tangan kanan White dan meremasnya, berusaha memberi kehangatan dan keyakinan pada White sambil tersenyum.

“Baiklah, tanpa buang waktu lagi, kita akan langsung mempertandingkan tim nomor satu dan tim nomer dua,” seru Hugo, dan beberapa saat kemudian muncul layar hologram besar di lapangan dan langsung muncul beberapa kata besar disana.

 

BABAK PERTAMA

Tim: VIVA SQUAD

Wakil: White

vs

Tim: PET LOVERS

Wakil: Amando

 

White berdiri tempat duduknya dengan kedua tangan terkepal erat. Beberapa saat kemudian ketika ia hendak berjalan memasuki lapangan, Rafter muncul dari arah belakang dengan tergesa-gesa.

“Maaf, sudah lama menunggu. Ayo kita segera masuk ke lapangan,” ajak Rafter yang sekarang sudah mengganti pakaian pelayannya dan mengenakan baju serba hitam dan jubah yang panjang nan klasik, dengan dominasi warna hitam, serta sebuah topi koboi yang juga berwarna hitam. Selain itu ia juga membawa pedang yang dikaitkan di pinggang kanannya.

“Darimana kamu mendapatkan pakaian dan pedang itu?”

“Aku mengambiknya dari ruangan kita tadi. Dengan begini, kurasa kita akan mendapatkan dukungan dari penonton.”

White tersenyum tipis dan mengangguk cepat. Mereka berdua langsung berjalan memasuki lapangan dengan begitu gagah.

“Dari tim Viva Squad, kita sambut, White, The Magician!!” seru Hugo. Seluruh penonton kembali bergemuruh.

“Kami juga baru mendapatkan kabar kalau White memiliki satu Humanoid Pet. Ini dia, Rafter!!” suara Hugo menggema di lapangan. Rafter mengangkat topinya sebentar sebagai salam sambil berjalan memasuki lapangan bersama White.

“Mereka tampak sangat serasi, White dengan kostum serba putih dan Rafter yang memakai kostum serba hitam,” tukas Hugo yang langsung disambut meriah oleh sebagian besar penonton perempuan.

White menggosok-gosok dahinya sambil menutup wajah karena malu. Kata-kata Hugo tadi benar-benar memprovokasi beberapa pentonon yang fujoshi.

Namun mendadak, Rafter mengangkat tubuh White dan menggendongnya di depan dada sambil terus berjalan ke tengah lapangan, membuat penonton yang fujoshi semakin menggila dengan teriakan mereka.

“Rafter! Apa-apaan sih? Turunkan aku!”

“Tidak mau! Kita harus bisa menarik perhatian penonton supaya mereka mendukung kita.”

White membeku di gendongan Rafter. Benar juga kata Rafter. Viva Squad belum terlalu dikenal. Kalau banyak yang mengenal, pasti banyak yang mendukung.

“Viva Squad memiliki jumlah anggota sebanyak tujuh orang yang di ketuai oleh seorang ninja cantik bernama Angela. Anggota lainnya ada Mastrix, Jenna, Laydrown, Reyori, Seergrowl, dan White. Dari semua anggota Viva Squad, White memiliki level paling rendah yaitu level dua puluh tiga. Dan kebetulan White adalah satu-satunya anggota Viva Squad yang memiliki pet, yaitu Rafter,” jelas Hugo secara singkat.

Rafter langsung menurunkan tubuh White begitu mereka tiba di tengah lapangan. “Tetaplah bersikap sok keren di depan para penonton,” bisiknya yang membuat White tersenyum jelek karena menahan tawa.

“Dan dari sudut yang lainnya, dari tim Pet Lovers, kita sambut, Amando, The Archer!”

Penonton kali ini berteriak lebih riuh. Sepertinya tim Pet Lovers ini lebih terkenal daripada tim Viva Squad. Dari arah berlawanan, berjalanlah seorang laki-laki muda dari ras manusia berpakaian serba biru sian. Jubahnya panjang dan kerah jubahnya memiliki banyak bulu-bulu putih. Ia juga memakai mahkota ala raja persia yang membuatnya tampak nyentrik.

Namun di sisi kiri Amando berjalanlah seekor monyet kecil lucu berbulu putih. Sepertinya itu adalah pet miliknya.

“Seperti namanya, tim Pet Lovers ini adalah penyayang pet, dan setiap anggotanya masing-masing memiliki satu pet. Dan pet milik Amando yaitu seekor monyet lucu bernama Apoo!” seru Hugo.

“Pet Lovers beranggotakan enam orang petarung, yaitu Amando sendiri sebagai ketua, lalu ada Tobi, Mirella, Busuzima, Scott, serta Catlyn. Dari semua anggota, Amando memiliki level paling rendah, yaitu dua puluh tujuh.”

Mendengar hal itu, White jadi sedikit cemas. Amando empat level lebih tinggi daripada dirinya. Ia juga baru mengetahui kalau Amando juga ketua dari tim Pet Lovers, padahal ia memiliki level paling rendah.

“Senang bertemu denganmu,” ucapnya dengan nada sinis yang tidak disukai oleh White. “Baru kali ini aku melihat ada pemain yang memiliki pet berwujud manusia. Tapi walaupun begitu, kalian tetap bukan tandinganku.”

“Kau terlalu banyak bicara!” balas White dengan nada tinggi.

Tapi Rafter langsung memegang pundak White dan berbisik. “Tenanglah. Dia seorang Archer yang memiliki level jauh di atasmu. Kau harus fokus dengan busur panahnya dan teknik yang dia gunakan, dengan begitu kau akan bisa menghindari anak panahnya dengan lebih mudah.”

White mengangguk penuh semangat. “Baiklah. Terimakasih, Rafter.”

“Pertandingan di babak pertama tidak diberi hitungan waktu. Jadi kalian harus mengalahkan musuh kalian sampai mati,” jelas Hugo.

White mengerti. Yang harus ia lakukan adalah membunuh Amando dan membuatnya kembali ke Starting-Point di pusat kota. Tapi Amando pasti jauh lebih kuat darinya. Akan sangat sulit untuk mengalahkannya.

“Jangan menyerah dulu sebelum pertandingam ini selesai. Aku akan selalu bersamamu dan melindungimu,” kata Rafter tiba-tiba, seakan-akan mampu membaca pikiran White.

White tersenyum. “Kau benar.”

“Kita mulai saja pertandingannya dalam hitungan ke tiga!!” seru Hugo yang langsung diikuti kemunculan hologram countdown raksasa di atas mereka.

TIGA…..!

White menarik napas dalam dan menghembuskannya melalui mulut beberapa kali untuk mengurangi kegugupannya dan meyakinkan diri akan kemampuan yang dimilikinya. Ia mengeluarkan pedang rapiernya dengan tangan kanan.

DUA……!

Amando mulai mengangkat busur panahnya dan di arahkan langsung pada White. White menatap gerakan tangan Amando dengan seksama, mengira-ngira, bagian tubuh White yang mana yang sedang menjadi targert panah Amando.

SATU…!!!

“Pertandingan dimulai!!”

Mendadak seluruh tempat itu terdengar sunyi. Padahal para penonton terlihat berteriak-teriak. Sepertinya lapangan ini sudah dilapisi sesuatu hingga yang terdengar kini hanya hembusan angin dan juga pemain yang ada di dalam lapangan.

Amando langsung melepaskan anak panahnya yang mengarah langsung ke kepala White. Dengan cukup mudah, White menangkis dengan pedangnya. Ia sudah cukup mahir menggunakan pedangnya setelah berlatih lama dengan Mastrix.

“Apoo! Serang dia!” seru Amando. Mendadak, si monyet kecil berbulu putih tadi bertransformasi menjadi sesosok manusia yang sama persis dengan White. Bahkan dia juga memakai kostum dan pedang yang sama dengan yang digunakan White.

Dengan cepat, Apoo berlari menghampiri White untuk menyerangnya. Ketika Apoo mengangkat pedangnya dan diarahkan ke arah White, serangan Apoo langsung ditangkis Rafter dengan pedangnya.

“White! Biar aku yang urusi monyet busuk ini! Kau lawan Amando!” seru Rafter. White mengangguk. Ia langsung berlari cepat ke arah Amando.

Tapi belum juga beberapa meter ia melangkah, Amando melepaskan tiga anak panah secara bersamaan yang membelok mengarah ke bagian sisi kanan, kiri dan atas White. Dengan cepat, White melompat dan berguling ke samping kanan.

“Sialan! Belum apa-apa dia sudah menggunakan special skill-nya!” umpatnya.

White langsung mengambil tongkat sihir dari tas kecilnya dengan tangan kiri.

“Keluarlah! Skeleton Warrior! Skeleton Archer!” seru White diikuti kemunculan lima Skeleton Warrior yang langsung berlari ke arah Amando sambil menghunuskan pedang, serta lima Skeleton Archer yang berjejer di depan White yang siap memanah Amando.

Namun dari kejauhan, Amando tampak begitu tenang.

“Giliranmu untuk menunjukkan kehebatanmu, Croco!” teriak Amando sambil melemparkan seekor cicak di depan kakinya dan langsung berubah menjadi kera raksasa dengan tangan dan kaki yang dilapisi baja.

Dengan mudahnya, kera itu menghancurkan satu persatu Skeleton Warrior hingga habis.

“Kau…… Bagaimana bisa…..?” White terkejut melihat Amando yang ternyata memiliki lebih dari satu pet.

“Bukan Pet Lovers namanya kalau hanya memiliki satu pet,” balas Amando sambil tersenyum licik.

Tapi White tidak tinggal diam. Para Skeleton Archer-nya langsung melepaskan anak panah mereka menuju Amando yang membelok dari segala arah.

Namun si kera raksasa yang bernama Croco tadi langsung melindungi tubuh Amando sehingga panah-panah itu menancap di tubuh Croco. Tapi dengan mudahnya, Croco mencabut panah-panah itu dari tubuhnya tanpa merasa kesakitan sedikitpun.

“Kau memiliki special skill yang lumayan,” sindir Amando.

Rahang White bergemeletuk mendengar hal itu.

Sedangkan di tempat yang lain, Rafter masih bertarung melawan Apoo dengan mengandalkan keahlian pedang. Rafter cukup lihai menggerakkan pedangnya, namun Apoo juga tak kalah pandai.

“Walaupun kau berpenampilan seperti orang yang ku sukai, tapi kau tetap bukan White. Kau hanya seekor monyet busuk!” seru Rafter sambil terus mempercepat gerakan pedangnya.

“Kita lihat saja, manakah yang lebih kuat, kau atau aku!” balas Apoo sambil meliuk-liuk menghindari serangan.

Beberapa saat kemudian, lengan kiri Apoo terkena sabetan pedang Rafter cukup dalam hingga membuatnya jatuh dan mengerang kesakitan.

“Awh!”

Rafter mengernyit. Entah kenapa, ia tidak tega melihatnya. Mungkin karena suara rintihan Apoo terdengar sama persis seperti rintihan White. Dengan begitu bodohnya, Rafter menghampiri Apoo.

Namun pada saat itu juga, Apoo langsung menyemburkan bola-bola api sebesar kepala dari dalam mulutnya yang langsung menghantam badan Rafter berkali-kali.

“Aaarrrgghh!!”

Tubuh Rafter terlempar begitu keras ke belakang dan jatuh terlentang. Jubah dan topinya terlepas. Kemeja dan celananya terkoyak dan hangus di beberapa bagian hingga beberapa bagian kulit badannya terbakar karena serangan barusan.

“Rafter!” seru White yang asli dari kejauhan saat melihat Rafter terkulai lemas di atas tanah. Ia tidak menyangka kalau Apoo punya kemampuan yang sedemikian rupa. Apakah Rafter juga memiliki special-skill? Tapi kenapa dia tidak menyerang Apoo balik dengan special-skill yang ia miliki?

“Hahaha!! Terbukti sudah kalau aku jauh lebih kuat darimu. Dan kau…. sama sekali bukan tandinganku,” sindir Apoo sambil merobek sedikit kain jubahnya dengan gigi untuk diikatkan ke luka sabetan di lengannya.

Namun Rafter tidak ingin menyerah begitu saja. Pertarungan ini masih belum selesai. Susah payah Rafter berusaha bangkit dan berdiri tegak, bertumpu pada pedangnya. Kepalanya tertunduk. Ia menarik kemeja dengan satu tangan hingga bertelanjang dada.

“Sialan, kau!” teriak Rafter sambil berlari menghunuskan pedang ke arah Apoo. Tanpa banyak bicara, Apoo meletupkan bola-bola api dari mulutnya ke arah Rafter. Dengan gesit, Rafter berlari zig-zag menghindari bola-bola api sebesar bola voli yang mengarah padanya.

Ketika Rafter sudah berada dekat dari Apoo, mendadak hewan itu mengeluarkan tiga bola api dari mulut dan kedua telapak tangannya. Nahas, Rafter kurang mewaspadai serangan Apoo kali ini.

Tubuhnya terpental akibat terkena bola api dari Apoo dan kali ini luka-lukanya cukup parah di bagian badan. Tubuhnya terkapar tak berdaya.

“Rafter!” White berlari ke arah Rafter. Ia berlutut dan mengangkat kepala Rafter untuk bersandar di pahanya.

“Rafter! Bertahanlah! Rafter!” seru White sambil menepuk-nepuk pipi laki-laki itu. Tapi ia tak kunjung sadar.

Geraham White kembali bergemeletuk karena marah. “Brengsek!!”

Dengan cepat, White mengangkat tongkat sihirnya dan memanggil puluhan Skeleton Archer yang langsung memanah Apoo dari segala penjuru arah. Tentu saja Apoo tidak sempat menghindar.

Puluhan panah langsung tertancap di tubuh monyet yang menjelma menjadi dirinya itu tepat di kepala dan dadanya.

Tubuhnya langsung kembali ke wujud asalnya beberapa saat, kemudian jatuh tengkurap dan menghilang. Entah hilang kemana. Apakah pet itu memang sudah mati, ataukah kembali ke Starting-Point seperti pemain.

“Beraninya kau!!” Amando tampak geram. Kedua matanya memerah melihat peliharaannya dibunuh oleh White.

Tapi White tiba-tiba jatuh terduduk di atas tanah. Tubuhnya terasa sangat lemas sekali. Ia sudah terlalu banyak menggunakan MP hanya untuk membunuh Apoo. Ia lupa kalau musuh yang sebenarnya masih belum terkena luka goresan sedikitpun.

“Croco! Tangkap dan bunuh dia!” suruh Amando. Kera raksasa itu berlari ke arah White dengan cepat. Hentakan kakinya bahkan membuat tanah di sekitar terasa berdentum-dentum dan bergetar. Beberapa Skeleton Archer yang masih tersisa di arena langsung menyerang Amando dan Croco secara bertubi-tubi. Panah-panah itu tertancap di beberapa bagian tubuh Croco yang langsung dicabutnya, sedangkan Amando tampaknya sangat sulit untuk tersentuh benda sedikit pun. Dia sangat lihai dalam menghindar dan melompat-lompat seperti Angela.

White mencoba untuk bangun. Tapi susah sekali. Rasanya sangat berat seperti memikul puluhan karung beras di pundaknya. Ketika ia hampir bisa berdiri sendiri, mendadak kunciran rambutnya ditarik ke atas oleh Croco yang sudah berdiri di belakangnya, hingga kedua kaki White tidak lagi menjangkau tanah.

“Argh!” kulit kepala White terasa luar biasa sakit sekali. Ia memukul-mukul tangan Croco yang menjambak kuncirannya dengan pedang. Namun percuma, kedua tangan kera itu dilapisi baja.

“Huwaaaarrgggh!” teriak Croco menggelegar sambil memukul-mukul dada dengan tangan kirinya.

White terus melakukan usaha yang percuma, ia terus memukul-mukul pedangnya ke tangan Croco. Kedua matanya terpejam-pejam karena menahan rasa sakit di kulit kepalanya yang terasa seperti hampir terkelupas.

Dari kejauhan, samar-samar ia melihat Amando mulai menghabisi beberapa Skeleton-Archer yang tersisa di arena. Wajah White sudah begitu memerah menahan sakit.

Beberapa saat kemudian, mendadak, White berlinangan airmata. Ia merasa sudah gagal menjalankan tugas.

Ia merasa sudah kalah…

Tidak ada lagi harapan untuk menang…

Ia sudah membuat teman-teman satu timnya kecewa…

Dan dengan posisi seperti ini, Rafter yang sekarat, juga MP-nya sendiri yang tinggal sedikit membuatnya tidak mampu melawan lagi…

Di lain tempat, Angela berteriak-teriak, terus memberi semangat pada adiknya itu sambil dangan mata berkaca-kaca menahan tangis. “Ayo, adikku! Kau pasti bisa!” teriaknya dengan suara serak aneh.

Sedangkan Reyori bercucuran air mata sambil berlindung di belakang punggung Jenna. Ia tidak tega melihat White diperlakukan seperti itu. Jenna hanya mengelus-elus kepala Reyori dan berusaha menenangkannya.

Dan Mastrix…

Kedua tangannya mengepal erat, matanya tak pernah lepas dari White, walaupun ia tidak bisa menolong White pada saat ini, ia masih tetap menyimpan keyakinan kalau White pasti masih bisa menang. Jika memang White tidak mampu menang, maka tanpa segan, ia akan menghabisi laki-laki yang bernama Amando itu di luar pertandingan.

White masih merintih di arena sambil menangis sesenggukan. Sisa Skeleton Archer-nya di arena tinggal sedikit yang tersisa.

Sekarang apa yang harus ia lakukan? Ia tidak kuat lagi merasakan rasa sakit di kepalanya ini.

Tanpa sengaja, ia melihat ke arah kumpulan teman-teman tim Viva Squad. Ada Angela, Laydrown, Seergrowl, Reyori, Jenna, dan juga kekasihnya, Mastrix. Mereka semua tampak berteriak-teriak seperti terus memberinya semangat. Tapi suara tidak terdengar sedikit pun.

Seulas senyum tersungging di bibir White. Mendadak, ia jadi kembali bersemangat. Ia tidak ingin mati konyol di pertandingan perdananya. Ia harus bisa mengantarkan timnya ke babak kedua kompetisi ini.

Tidak ada yang tidak mungkin sebelum dicoba…

Segala kemungkinan masih bisa terjadi…

Walaupun itu hanya satu persen saja…

Dengan kedua tangannya, dia mengusap airmata di pipinya. Ia bisa menangis kapan saja. Tapi sekarang, bukan waktunya untuk menangis. Sekarang yang harus ia lakukan adalah berjuang dan menunjukkan kepada semua orang bahwa dia bisa memenangkan pertandingannya kali ini.

White memasukkan tongkat sihir dan pedang rapiernya ke dalam tas pinggangnya lalu mengeluarkan sebuah pisau kecil. Pisau kecil yang pertama kali ia pakai untuk senjata bertarung setelah dahulu mengalahkan FurBall pertamanya.

Angela mengernyit. “Apa yang sedang dia lakukan? Ia sudah tahu kalau pedang rapier saja tidak mampu menembus sarung tangan baja kera itu! Kenapa dia malah mengeluarkan pisau kecil?”

“Aku juga tidak mengerti. Tapi sepertinya dia sudah bisa menguasai dirinya lagi sekarang,” balas Mastrix yang akhirnya mengeluarkan suara setelah hanya berdiam diri saja sedari tadi.

Amando yang sekarang tinggal menghadapi dua Skeleton Archer tertawa sinis melihat apa yang dilakukan oleh White. “Pisau kecil yang bagus.”

“Tentu saja bagus,” balas White.

“Tapi kau terlalu bodoh jika melawan Croco dengan pisaumu itu.”

White balik tersenyum sinis. “Kau terlalu yakin dengan ucapanmu.”

Tanpa diduga, White mengarahkan pisau itu ke pangkal kunciran rambutnya.

Amando terbelalak melihat apa yang akan dilakukan White. “Tidak mungkin!”

White langsung memotong rambutnya sendiri hingga membuat tubuhnya terjatuh dan terguling ke depan. Dengan cepat, dia segera bangkit kembali dengan bertumpu pada kedua lututnya, membalikkan tubuhnya dan melemparkan pisau kecilnya tepat ke arah mata kanan kera itu hingga menancap sempurna.

Croco terjengkang ke belakang sambil mengaum kesakitan. Kera itu langsung mencabut pisau kecil White dari mata kanannya. Dia berguling-guling mengerang kesakitan seperti kerasukan. Darah segar mengucur dari mata kanannya.

Angela dan teman-teman Viva Squad yang lain dibuat terbelalak dengan apa yang baru saja dilakukan White.

SedangkanWhite tertunduk terengah-engah, berusaha mengatur napasnya yang tidak karuan, dengan rambut putih yang tak lagi panjang seperti dulu lagi. Beberapa helai rambutnya menutupi bagian wajah serta kedua telinga runcingnya.

Seluruh pakaiannya yang tadi berwarna putih bersih sudah sangat kotor sekali karena pertandingan ini. Tubuhnya terasa sangat lemah. Tapi ia berusaha untuk terus berdiri tegak walaupun berada di kondisi terburuk seperti saat ini.

Anggota Viva Squad amat terkejut melihat aksi White barusan. Mereka tercengang selama beberapa detik lamanya. Sebagian merasa sedikit merinding dengan apa yang mereka lihat. Mereka kembali menyoraki White dengan lebih heboh daripada sebelumnya.

Dari jauh, Amando tampak sudah menghabisi Skeleton Archer terakhir yang ada di arena lapangan itu. Dia memandang White dengan wajah merah padam. “Dasar bocah keparat!”

“Kau yang keparat!” balas White dengan lantang. Ia kembali mengeluarkan pedang rapiernya. Sekarang ia tidak ada gunanya lagi menggunakan tongkat sihirnya, mengingat sisa MP yang ia miliki sekarang sudah tinggal sedikit. Ia akan menggunakannya kalau sedang dalam keadaan terdesak saja.

Dengan gesit, Amando melepaskan beberapa anak panah yang melesat mengarah ke kening White. White menangkisnya dengan pedang rapier sebisa mungkin sambil bergerak maju mendekati posisi Amando berdiri.

Namun ketika sudah tinggal beberapa meter lagi, Amando melepaskan satu anak panah yang langsung tertancap di bahu kanan White dengan kuat hingga ia terpental ke belakang.

“Aaarrgh!” erangnya. Ia jatuh terlentang di atas tanah. Pedangnya terlepas dan tergeletak di sampingnya. Lengan kanannya sangat sakit untuk digerakkan.

“Sial!” umpat White sambil mengeluarkan tongkat sihir dari dalam tas pinggangnya dan memanggil dua Skeleton Archer dan dua Skeleton Warrior yang langsung menyerbu Amando ebelum Amando kembali menyerangnya ketika pertahanannya sedang kosong. Sepertinya itu adalah pemanggilan yang terakhir. Sekarang MP-nya sudah tidak cukup lagi untuk memanggil satu pun Skeleton Warrior.

Sambil menahan sakit, dia melepas anak panah dari bahu kanannya dan melemparnya jauh-jauh. Sekarang bajunya bagian kanan penuh dengan lumuran darahnya sendiri.

Ia memandang Amando yang masih disibukkan dengan kerangka-kerangka tengkorak yang menyerangnya sekarang. Dia harus memanfaatkan waktu yang singkat ini untuk memikirkan apa kelemahan Amando dan bagaimana cara mengalahkannya.

Ayo berpikir! Berpikir!

Gunakan otakmu!

Konsentrasi!

Pikirkan apa yang bisa membuat laki-laki itu kalah!

Mendadak, konsentrasi White langsung buyar begitu melihat sosok Croco sudah berdiri di samping kanannya dengan mata kanan yang terlihat membengkak besar dan berdarah, dan kedua tangan terangkat ke atas, hendak memukul White dengan sarung tangan bajanya.

Jantung White berdegup kencang. Tubuhnya tidak bisa bergerak sedikitpun pada saai ini.

Apakah ini detik-detik terakhir dari kekalahannya?

Apakah ini saatnya?

Tak bisakah ia menang?

Tak bisakah keberuntungan berpihak padanya?

Namun beberapa saat berlalu, dan Croco masih tetap dalam posisinya. Dia tidak bergerak sama sekali, seperti patung batu. Tapi White juga masih sedikit terguncang dan belum mampu menggerakkan anggota tubuhnya.

Hingga beberapa detik kemudian, tubuh Croco jatuh tengkurap ke samping. Bagian belakang kepala Croco sudah tertancap dengan cukup dalam, sebuah pedang katana. Dan di belakang Croco, berdirilah sesosok laki-laki bertelanjang dada yang sangat ia kenal.

“Rafter!” seru White dengan suara bahagia bercampur haru. Rafter berlari ke arah White dan membantunya berdiri.

White langsung memeluk Rafter erat, menyembunyikan wajahnya di dada laki-laki itu. Sepertinya White tengah menangis. “Syukurlah kau sudah sadar kembali!”

“Maafkan aku! Aku tidak becus menjagamu!” Rafter jadi merasa kesal dengan dirinya sendiri.

White melepas rangkulannya dan menatap wajah tampan Rafter. “Kau sudah menjagaku dengan sangat baik!”

Rafter tersenyum tipis. “Aku tidak tahu harus berkata apalagi padamu. Kau sudah tahu kalau aku mencintaimu. Bahkan semakin lama, aku semakin tidak bisa memandang orang lain selain dirimu. Terimakasih karena tidak membenciku.”

White mengernyit. Bahkan Rafter masih bisa berbicara seperti itu di momen-momen paling kritis seperti ini. “Rafter, kita akan membicarakan hal itu nanti setelah kita memenangkan pertandingan ini. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah memikirkan bagaimana supaya kita bisa mengalahkan Amando. Mengingat kalau puluhan manusia tengkorak yang ku panggil tidak bisa menyentuh tubuhnya sedikitpun.”

Rafter menunduk sejenak lalu memandang White lagi. “Kau tahu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa mengalahkan Amando hanyalah dirimu.”

“Apakah kau tidak punya special-skill?” tanya White yang sudah mulai putus asa.

Rafter memejamkan matanya beberapa detik. “Aku bisa membantumu jika kau punya ide, atau setidaknya mantra yang cukup kuat untuk membunuh Amando.”

White merenung sambil melirik ke atas. Mantra kuat? Ia pernah membaca beberapa materi di buku panduan miliknya mengenai beberapa mantra kuat untuk Necromancer. Tapi semua mantra-mantra itu membutuhkan MP yang banyak sekali, lebih dari 500 MP. Sedangkan MP-nya sekarang sudah habis.

“Aku tidak punya cukup MP.”

“Cukup katakan saja padaku, apakah kau punya matra kuat dan bisa merapal matra itu. Waktu kita tidak banyak!” serunya sambil menoleh ke arah Amando yang sudah menghabisi satu Skeleton Archer dan satu Skeleton Warrior.

“Aku ingat satu mantra kuat yang mungkin bisa membunuh Amando. Mantra Polaris. Tapi aku tidak pernah mempraktekkannya sama sekali. Mantra itu butuh MP yang banyak, dan sekarang MP yang ku miliki bahkan tidak cukup untuk memanggil satupun manusia tengkorak.”

“Aku akan membantu memulihkan MP-mu hingga titik maksimum.”

White agak terkejut. Memulihkan MP? Apakah itu special skill milik Rafter?

“Percuma saja, Rafter. MP Maksimum yang ku miliki itu tidak lebih dari 200 MP. Sedangkan matra yang kuat itu levelnya sangat tinggi, membutuhkan lebih dari 500 MP untuk bisa dirapal.”

“Aku yakin kau pasti bisa memikirkan caranya. Sekarang ulurkan kedua tanganmu. Aku akan memulihkan MP-mu ke titik maksimum dengan seluruh kekuatan yang aku miliki. Tolong jangan terkejut jika nanti tubuhku”

White sedikit bingung. Tapi ia hanya mampu menurut saja dan mengulurkan kedua tangannya. Rafter langsung menggenggam kedua tangan White dan memejamkan matanya.

Tubuh mereka berdua tiba-tiba bercahaya. Rambut dan pakaian White berkibar seperti ada angin yang berhembus kencang dari bawah kaki mereka.

Semakin lama, ia merasa tubuhnya kembali mendapatkan energi. Kesadarannya semakin bertambah. Bahkan napasnya sudah mulai teratur seperti sedia kala. Tapi luka tusukan anak panah di bahu kanannya masih tetap ada dan terasa menyakitkan.

Di sisi lain, ia memperhatikan wajah Rafter yang mendadak berubah pucat pasi. Kedua tangannya bergitu dingin di tangan White, dan pegangannya sedikit merenggang. White mendapatkan firasat, sepertinya Rafter sedang mentransfer kekuatannya sendiri kepada White.

“Rafter? Apa kau baik-baik saja?” tanya White. Namun Rafter tidak bereaksi sama sekali. Ia jadi sedikit cemas.

“Rafter, cukup. Sudah cukup! MP-ku sudah cukup banyak sekarang.” White berusaha menghentikan. Rafter masih belum juga bergerak sedikitpun.

“Rafter! Hentikan! Hentikan, Rafter!” teriak White. Pada saat yang bersamaan, tubuh mereka berhenti bercahaya. Energi yang berhembus dari bawah kaki mereka juga berhenti.

“Rafter!”

Mendadak, tubuh Rafter terhuyung kedepan dan langsung ditangkap oleh White hingga membuatnya jatuh terduduk karena tidak kuasa menahan tubuh Rafter lebih lama dengan kondisi bahu kiri yang terluka.

“Rafter! Bangun!” serunya sambil mengguncang-guncangkan tubuh Rafter yang bersandar di pangkuannya.

Mata Rafter terpejam. Tubuhya semakin dingin.

White menunduk. Bahunya mulai bergetar hebat disusul suara tangisan kecil pilu yang keluar dari tenggorokan White.

Dengan perlahan, ia merunduk dan mencium kening Rafter dengan lembut. Walau bagaimanapun, Rafter tetap temannya. Teman NPC pertama kali yang baru ia kenal hari ini.

“Bertahanlah!” ucap White lirih sambil membaringkan tubuh Rafter di atas tanah. Dia kembali menegakkan tubuhnya, memandang Amando dari kejauhan yang tinggal melawan satu Skeleton Warrior.

Melihat pergerakan Amando yang sangat lincah memberinya sebuah stategi sebagai serangan terakhir yang harus berhasil. Sebuah mantra pemanggilan level tinggi yang membutuhkan MP sebanyak 550 poin. Sangat mustahil untuk dilakukan, tapi dengan ide yang ia miliki, sepertinya ia bisa merapal mantra ini.

Walaupun mungkin bisa membuat MP-nya langsung turun hingga ke titik nol dan bisa membahayakan dirinya sendiri, karena tubuhnya sendiri masih belum siap secara fisik dan mental untuk merapal mantra pemanggilan ini.

Tapi ini adalah jalan satu-satunya untuk bisa mengalahkan Amando. Siap atau tidak, dia harus melakukannya sebelum semuanya terlambat.

White menghapus jejak air mata di pipinya. “Aku akan memenangkan pertandingan ini untukmu, Rafter.”

Ia mengangkat tongkat sihirnya tinggi dengan tangan kirinya dan berdoa supaya rencananya bisa berjalan sempurna. Ujung tongkatnya bersinar hijau cerah. “Datanglah! Arwah Suci Necromancer!”

Pada saat yang sama, muncul kabut hitam di sekitar tubuhnya. White sedikit bingung dan cemas, mengingat ini baru pertama kalinya dia memanggjl ‘arwah suci’, yang membutuhkan banyak MP untuk memanggil mereka.

Bahkan sebenarnya White tidak terpikirkan kalau special-skill yang ia miliki bisa untuk memanggil arwah. Setelah membaca beberapa artikel bahasa Inggris mengenai dunia Secondary, baru ia mengerti kemampuan dasar yang paling utama dari seorang Necromancer, yaitu mengendalikan mayat dan arwah.

Tapi di seluruh dunia Secondary, hanya sekitar 0.25% saja pemain Necromancer. Bahkan mungkin di kompetisi ‘Get The House’ ini, hanya dia yang punya skill Necromancy, jadi dia agak sulit mencari informasi-informasi mengenai Necromancy, dan White lebih banyak mendapatkan pengetahuan Necromancy malah dari artikel mitologi Yunani yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan game Secondary.

Beberapa saat kemudian, kabut itu menyatu dan memadat, membentuk dua sosok makhluk berjubah hitam. Seluruh tubuhnya tertutup sama sekali, termasuk kedua tangannya yang memakai sarung tangan hitam, memegang sebuah tongkat kayu setinggi bahu orang dewasa, yang di ujungnya memiliki bola kristal. Kepala mereka tertunduk ditutupi oleh tudung jubah. Bahkan sepertinya mereka tidak memiliki tubuh sama sekali, karena bagian dalam tudung jubah itu hanya ada bayangan hitam gelap. Dua sosok tersebut masing-masing berdiri di samping kiri dan kanan White.

Tapi mendadak, tubuh White kembali lemas dan membuatnya jatuh berlutut. Memanggil dua Arwah Suci Necromancer saja sudah menghabiskan hampir delapan puluh lima persen MP yang ia miliki.

Dari jauh, Amando mulai terlihat kewalahan melawan sisa satu Skeleton Warrior yang bertahan.

White menengok ke arah teman-temannya di pinggir lapangan yang terus memberi semangat walaupun suara mereka tidak terdengar sama sekali. Dia memandang Mastrix yang sedang menatapnya dengan cemas. Bibirnya bergerak-gerak perlahan, mengatakan sesuatu lalu tersenyum. White bisa mengerti apa yang berusaha disampaikan Mastrix padanya. Beberapa penggal kata yang membuatnya kembali bersemangat. -Kau pasti bisa. Aku percaya padamu. Aku cinta padamu-

“Baiklah! Ayo segera kita selesaikan pertandingan ini!” seru White lebih kepada dirinya sendiri. Ia berusaha berdiri dengan sisa-sisa energi yang ia miliki.

“Arwah Suci, bantulah aku dengan kekuatan kalian,” kata White pada kedua Arwah Suci Necromancer yang ada di sisinya sambil berdoa supaya ia bisa merapal mantra Polaris dengan bantuan arwah suci.

Dengan penuh keyakinan, White mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, diikuti kedua arwah suci di sampingnya.

“PINEVMA GIRANORIUM…….. PINEVMA GIRANORIUM……..,” White mulai merapal mantra Polaris. Bola kristal di ujung tongkat milik White dan kedua arwah suci itu mulai bercahaya.

“Apa yang sedang dia lakukan? Mantra apa yang sedang dirapalnya?” Angela sedikit panik, takut kalau White melakukan sesuatu yang gegabah.

Laydrown terbelalak melihat gerakan bibir White. Ia tahu apa yang sedang diucapkan oleh anak itu. “Tidak mungkin! Dia sedang merapal mantra Polaris!”

Kening Mastrix langsung berkerut. “Mantra Polaris?”

Tapi bukannya menjawab, Laydrown malah berteriak. “White! Hentikan! Tubuhmu masih belum siap untuk merapal mantra itu! Levelmu masih belum cukup kuat!”

White masih terus melanjutkan mantranya. “PINEVMA ZEXENNITY……. PINEVMA ZEXENNITY…….”.

Mendadak, seluruh tubuhnya merasakan hawa dingin yang sangat menusuk. Tapi ia tidak boleh mundur. Sudah sejauh ini dan dia harus berhasil walau bagaimanapun.

Demi teman-temannya.

Demi Tim Viva Squad.

Dan demi Rafter yang telah kembali mengobarkan semangatnya.

Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bisa menang.

Dari kejauhan, tampak, kabut putih pekat yang mengelilingi Amando tepat pada saat dia berhasil mengalahkan Skeleton Warrior yang terakhir. Dengan cepat, kabut itu mulai menyatu dan memadat hingga akhirnya kedua kaki Dan tangan Amando terbungkus oleh es dari kabut tadi.

“A-apa yang kau lakukan padaku! Dasar keparat!” seru Amando sambil berusaha memecahkan es yang ada di kedua tangan dan kakinya, tapi tak berhasil. Bahkan dia tidak bisa menggerakkan kedua kakinya sama sekali.

“ESTECIA…….. METAXIA……. SKYRO MITEROCIA……….” mendadak, dada White terasa sakit. Napasnya semakin berat dan sesak. Mungkin benar, tubuhnya memang belum siap secara fisik dan mental.

Langit di atas stadion langsung menghitam membentuk lingkaran sihir raksasa berwarna kuning keemasan yang bersinar cerah yang bagian tengahnya terlihat sangat gelap, seperti sebuah gerbang kegelapan.

“POLARIS DRAKOS…….,” White sudah merasa tidak kuat lagi. Lidahnya mulai terasa kelu untuk berbicara. Jantungnya berdetak semakin kencang dan menyakitkan. Wajahnya mulai tampak pucat seperti mayat hidup.

Tapi ini tinggal sedikit lagi. Menyerah itu bukan pilihan. “TINN PROSTANA….. SEVERNUS…!!!”

White menuntaskan mantranya. Kakinya mulai terasa kebas, mati rasa, tapi dia masih bisa bertahan untuk terus berdiri tegak. Pandangannya mulai sedikit kabur.

Pada saat yang sama, sesosok makhluk raksasa muncul dari lingkaran sihir di atas stadion dengan cepat. Ketika keempat kakinya menjejak ke tanah, bumi seperti bergetar dahsyat.

Makhluk raksasa itu memiliki sepasang sayap dan berwarna putih bersih. Dengan sirip yang tajam dan mata yang bersinar menyilaukan. Giginya yang tajam dan berlendir.

Mendadak, seluruh area stadion terasa dingin seketika begitu makhluk mengerikan ini mulai mengaum dengan suara yang memekakan telinga.

“Astaga!” seru Angela. “Mantra itu….. memanggil Arwah Naga Kutub Polaris??”

“White begitu hebat, bisa menahan efek negatif mantra Polaris. Tapi berapa lama lagi dia bisa bertahan seperti ini terus?” Laydrown mulai cemas.

Mastrix hanya bisa terbelalak melihat perjuangan dan kemauan White yang luar biasa hingga sampai detik ini. White yang sekarang sudah benar-benar mampu mengembangkan kemampuannya sendiri.

Hingga kejadian berikutnya seakan-akan terjadi begitu cepat. Arwah Naga Polaris itu menyemburkan api biru ke arah Amando dengan begitu dahsyatnya, Amando tidak bisa berbuat apa-apa, hingga dalam beberapa detik saja, tubuh Amando langsung lenyap tanpa bekas.

Arwah Naga Kutub Polaris langsung kembali terbang memasuki lingkaran sihir di atas stadion yang kemudian langsung lenyap diikuti hilangnya dua Arwah Suci Necromancer yang tadi berdiri di samping White.

Langit kembali cerah. Matahari kembali menyinari lapangan stadion itu yang sekarang hanya memperlihatkan satu-satunya pemain yang tersisa yang masih berdiri tegak di sana.

White. Ia masih terpaku di tempatnya, seakan tidak percaya kalau dia sudah memenangkan pertandingan perdananya ini. Dengan pakaian yang sudah robek di sana-sini, masih dengan luka anak panah di bahu kanannya, dan juga rambut putih yang sekarang terlihat kumal dan tak lagi panjang seperti rambutnya yang dulu.

Suara riuh penonton mulai terdengar lagi. Pertandingan sudah berakhir.

“Dan pemenangnya adalah White dari Tim Viva Squad! Benar-benar pertandingan yang sangat menegangkan! Ini sungguh luar biasa!” seru Hugo, si pembawa acara disertai tepuk tangan riuh penonton yang menggila.

Tanpa sadar, White tersenyum sambil menitikkan air mata. Dia berhasil. Dia telah berhasil membawa timnya maju ke babak selanjutnya setelah ia mengerahkan seluruh kemampuan yang dia miliki. Paling tidak, dia sudah membuktikan kalau dia masih bisa berguna untuk timnya walaupun dia memiliki level yang jauh lebih rendah dan paling rendah daripada anggota tim Viva Squad yang lain.

White menoleh ke arah teman-teman tim Viva Squad yang berlari ke arahnya, memasuki arena lapangan dengan suka cita. Bahkan dia melihat Angela yang berlari dengan mata berkaca-kaca, namun tersungging seulas senyum di bibirnya. Dan Mastrix…. dia menampilkan senyum paling cerah di antara semua teman-temannya.

White senanh melihat mereka semua berbahagia seperti ini.

Hingga beberapa saat kemudian, tubuh White jatuh terlentang tak sadarkan diri di tengah arena lapangan.

***

Tubuh White terasa remuk redam ketika ia mulai tersadar. Kepalanya terasa pusing seperti sedang berputar-putar.

Mastrix yang melihat kelopak mata White bergerak-gerak langsung sumringah. “Teman-teman! White sudah sadar!” serunya yang membuat anggota tim Viva Squad yang lainnya langsung bergerombol mengelilingi tempat tidur White.

White mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. “Aku ada dimana sekarang?”

“Kamu sekarang ada di ruang perawatan,” jawab Angela.

“Ruang perawatan? Memangnya apa yang terjadi padaku?”

Angela mendengus sambil melipat lengan di depan dada. “Kamu tadi pingsan seusai pertandingan dan tidak sadarkan diri selama sepuluh jam penuh. Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku ketika melihatmu merapal mantramu yang terakhir tadi dan memanggil Arwah Naga Polaris? Mantra itu sangat berbahaya untukmu karena levelmu masih belum cukup untuk merapal mantra itu!” Angela mulai marah-marah. “Mantra itu bisa membuat trauma mental yang berkepanjangan jika kau masih belum menguasainya dengan sempurna!”

White memberengut mendengar omelan kakaknya. Memang sih dia tidak tahu apa-apa mengenai efek samping perapalan mantra Polaris.

“Sudahlah, Angela. Tidak usah marah-marah pada White. Yang paling penting sekarang adalah White sembuh, dia tidak apa-apa dan kita masuk ke babak selanjutnya,” ujar Laydrown.

“Tak bisakah kakak menghargai sedikit perjuanganku?” tanya White.

Angela sudah tidak kuasa menahan air matanya. Dia langsung menghambur memeluk adiknya yang masih terbaring. “Kau membuatku takut. Dasar bocah!” ucapnya sambil terisak sesekali.

Mastrix tersenyum sambil mengusap-usap punggung Angela. Suasana berubah menjadi haru seketika.

White balas memeluk punggung Angela seerat yang ia mampu. Kakaknya ternyata sungguh mencemaskan keadaannya. “Tubuhku masih terasa sangat sakit, Kak. Jika kakak memelukku seperti ini terus, bisa-bisa tubuhku nanti hancur berkeping-keping,” celotehnya.

Angela menarik tubuhnya dan membersihkan airmata di pipinya. “Sepertinya butuh beberapa hari untukmu supaya bisa sembuh total. Luka-luka yang kau alami di turnamen ini tidak bisa di sembuhkan secara instan seperti meminum Green Potion. Kau harus sering beristirahat ketika kau Log-In ke dunia game.”

“Baiklah…. Baik… Kali ini aku akan mengikuti perintahmu.”

Mastrix kembali mendekat ke sisi kanan tempat tidur White. “Kau tadi benar-benar luar biasa.”

White hanya mengerutkan kening dan tersenyum. “Aku hanya ingin melakukan yang terbaik, untuk semuanya.”

“Kau benar-benar sudah menunjukkan kemampuan terbaikmu! Kau sudah mengalami perkembangan yang pesat daripada saat latihan! Sejujurnya tadi kami sudah sangat putus harapan ketika kunciran rambutmu dijambak ke atas oleh kera itu. Aku pikir kau pasti sudah berakhir. Tapi ternyata kau masih berjuang untuk melawan! Itu benar-benar mengagumkan! Yah, walaupun sekarang rambutmu tidak bisa di kuncir lagi seperti dulu karena lebih pendek sih, tapi itu tida masalah,” cerocos Reyori panjang lebar.

“Aku tidak percaya kalau kau bisa merapal mantra yang keren seperti itu! Wow! Aku pikir aku tidak akan berani mengganggumu lagi. Maksudku, aku tidak ingin berakhir menjadi manusia barbeque seperti wakil tim Pet Lovers itu,” tukas Seergrowl bercanda.

White jadi malu sendiri. “Yah, aku tidak akan bisa merapal mantra apapun jika Rafter tidak membantuku tadi. Um… Ngomong-ngomong dimana Rafter?” tanya White.

Mastrix menunjuk ke arah tubuh yang sedang terbaring di samping mereka semua dengan berbagai balutan perban hampir di sekujur tubuh. “Dia mengalami banyak serangan dan mendapatkan banyak luka, baik luka luar maupun luka dalam. Dan dia masih belum sadar.”

White menghembuskan napas dengan begitu berat. Rafter sudah banyak membantunya dalam pertandingan tadi. Mungkin jika tidak ada Rafter, dia bisa langsung kalah di menit-menit awal. Mendadak, ia jadi merasa kasihan. Rafter menyukainya dengan amat tulus, tapi dia sendiri malah menggantungkannya. Lagipula Rafter hanya NPC, dan White juga sudah punya Mastrix, yang sudah menjadi kekasihnya di dunia game maupun dunia nyata.

“Baiklah teman-teman! Waktu di dunia nyata sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Bagi kalian yang masih sekolah, bisa langsung Log-Out sekarang daripada nanti kalian terlambat ke sekolah!” ujar Angela setelah melihat jamnya.

Satu persatu dari mereka mulai Log-Out dari Secondary setelah mengucapkan salam perpisahan. Hingga menyisakan Angela, Mastrix, dan White.

“Aku akan Log-Out duluan. Akan ku buatkan kau sarapan special sebagai hadiah dariku karena perjuanganmu dalam pertandingan hari ini,” kata Angela lalu langsung menghilang setelah meneriakkan kata Log-Out.

Mastrix dan White saling berpandangan. Tiba-tiba White berusaha untuk menegakkan punggungnya untuk duduk.

“Jangan paksakan dirimu dulu jika belum kuat,” Mastrix berusaha menasihati. Tapi White tetap bersikeras untuk duduk. Akhirnya Mastrix membantu White untuk menyandarkan punggungnya dengan bantal.

White menatap Mastrix dengan mata menyipit. “Kau sama sekali tidak khawatir dengan keadaanku, ya?”

“Kau bodoh jika berpikiran seperti itu,” balas Mastrix kemudian langsung memajukan kepalanya dan mengecup bibir White dengan sangat lama.

Beberapa saat setelah itu, Mastrix menjauhkan kepalanya dan menemukan kedua mata White yang tengah terpejam erat. Mastrix tertawa kecil sambil mengusap-usap puncak kepala White. “Kau tahu? Aku bahkan sudah bersumpah pada diriku sendiri tadi, jika Amando berani menyiksamu sedikit saja dan memenangkan pertandingan, aku akan menghajarnya sampai habis di luar arena stadion. Tapi ternyata kau lah pemenangnya, dan aku sangat bangga padamu.”

Sontak, wajah White langsung memerah. “Benarkah?”

“Kau tidak percaya? Apa kau ingin aku berlari ke Starting-Point sekarang untuk mencari Amando dan menghajarnya?”

“Tidak! Tidak perlu! Tetap disini. Jangan pergi kemana-mana,” cegah White sambil memegang erat tangan kanan Mastrix.

Ia kembali duduk di tepi tempat tidur White. “Apapun yang kau katakan. Asal jangan menyuruhku untuk membuka semua pakaianku,” candanya berusaha menghibur kekasihnya yang kini sedang terbaring lemas itu.

“Terimakasih. Kau satu-satunya yang ku harapkan sekarang untuk menemaniku,” balas White.

Mastrix mengangkat tangan kanannya dan mengelus puncak kepala White sambil memperhatikan rambut anak itu dengan seksama. “Penampilanmu benar-benar kelihatan sangat kacau. Bagaimana kalau kita sedikit merubah gaya rambutmu?”

Kedua alis White terangkat. “Kau mau membawaku ke salon dekat sini? Aku kan masih belum kuat berjalan sendiri.”

Mastrix buru-buru mencubit hidung kekasihnya itu dengan gemas. “Jika sepasang kaki yang kau miliki masih belum mampu untuk berjalan sendirian, kau masih bisa menggunakan sepasang kakiku.”

“Maksudmu?”

“Tentu saja aku akan menggendongmu ke sana. Sekarang juga.”

Belum sempat White berkata apa-apa, Mastrix langsung memposisikan tubuhnya di pinggir kasur, membelakangi White. “Naiklah ke punggungku.”

“Ta-tapi, aku…. .”

“Cepatlah naik, sayang. Sebelum orang lain berebut untuk naik ke punggungku,” guraunya. Untuk pertama kalinya, Mastrix memanggilnya dengan kata ‘sayang’. Terdengar sangat aneh. Mengingat kalau mereka berdua tidak terlalu suka dengan nama panggilan seperti itu.

Dan White tidak punya pilihan lain. Dia melingkarkan kedua lengannya ke leher Mastrix dari belakang. Setelah itu, Mastrix mengangkat paha White dan berdiri sambil menyentakan tubuh supaya posisi tangannya lebih nyaman.

“Bagaimana? Kau sudah siap?” tanya Mastrix.

“Memangnya apa yang harus ku persiapkan untuk pergi ke salon? Sepertinya yang harus bersiap itu kamu. Bersiaplah untuk melihat perubahanku nanti.”

“Baiklah. Baiklah. Kita berangkat sekarang kalau begitu.”

Mastrix berjalan keluar dari ruang perawatan menuju koridor utama, lalu keluar dari gedung stadion. Di perjalanan, mereka sempat mengobrol panjang lebar.

Hingga White baru menyadari betapa nyamannya berada di gendongan punggung kekasihnya itu. Membaui rambutnya, meraba-raba otot pundak dan lengannya. Bahkan membuatnya sedikit terangsang dan bagian bawahnya menegang seketika.

Oh astaga! Semoga saja Mastrix tidak menyadari hal memalukan ini!

***

Tenggara sudah mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi. Dia memasukkan ponselnya ke saku celana setelah menelpon Eleazar beberapa saat yang lalu. Hari ini anak itu masih belum bisa masuk sekolah lagi karena demamnya yang masih belum turun. Jadi secara otomatis, Tenggara harus menjenguknya lagi sepulang sekolah. Tapi tadi Eleazar sempat bilang kalau demamnya sudah tidak lagi separah kemarin.

Dia langsung menggaet tas punggung yang berada di atas meja belajar dan berjalan menuju meja makan yang berada satu ruangan dengan dapur.

Di sana sudah ada Delmora yang baru saja selesai memasak nasi goreng special, yang katanya khusus sebagai hadiah untuknya karena sudah memenangkan pertandingan di babak pertama kompetisi ‘Get The House’ di Secondary.

“Selamat pagi, penyihir putihku!” sapanya sambil melepas celemek dari pinggangnya.

“Apaan sih, Kak! Tidak usah lebay begitu, deh!” Tenggara langsung duduk di salah satu kursi yang di depannya sudah terhidang dua piring nasi goreng. “Ini semua untukku?”

Delmora mendorong ubun-ubun adiknya. “Jangan rakus begitu! Kau pikir kakakmu ini tidak perlu sarapan? Kau mau lihat aku mati kelaparan?”

“Jawabnya tidak harus monyong-monyong begitu juga kali, Kak. Ya sudah, ini punyaku yang mana?”

“Yang pakai piring warna hijau tuh. Yang satunya lagi pakai piring merah itu punyaku, super pedas!”

Tenggara mengangguk. Kakaknya memang hobi makan makanan pedas. Entah apa yang dia sukai dari rasa pedas yang menyiksa lidah itu. Tanpa banyak tanya, Tenggara langsung mendekatkan piring warna hijau dan menyantapnya satu suapan terlebih dahulu.

Delmora mendekat sambil menyenggol-nyenggol pundak Tenggara. “Bagaimana rasanya? Enak?”

“Kurasa tidak terlalu buruk.”

“Bagus! Aku yakin pasti bisa menang kalau begitu!” seru Delmora.

Tenggara mengernyit. “Menang? Menang dari siapa, Kak? Memangnya kakak mau ikut lomba?”

“Betul sekali! Hari Minggu nanti, akan ada lomba antar karyawan untuk merayakan hari ulang tahun perusahaan. Yah, sebenarnya kami sempat menyarankan untuk berwisata, tapi Pak Direktur malah memaksa untuk mengadakan lomba memasak antar karyawan. Tapi ku pikir boleh juga. Dan aku sangat yakin kalau aku bisa memenangkan lomba itu!” tutur Delmora sambil menggebu-gebu.

“Memang kalau menang dapat hadiah ya, Kak?”

“Tentu saja! Kalau tidak ada, mana mungkin aku mau ikutan?”

“Hadiahnya apa?”

Delmora mengerling. “Juara pertama akan memperoleh promosi jabatan!”

“Benarkah? Kalau begitu kakak harus bisa menang. Kalau menang dan bisa naik jabatan, aku tunggu traktirannya ya, Kak!”

“Tunggu saja. Aku pasti akan menraktirmu satu galon air mineral. Hahahaha!”

Tenggara manyun. “Ah, kakak!”

“Sudahlah, tidak perlu berkhayal terlalu jauh! Lombanya saja masih beberapa hari lagi. Kakak mau mandi dulu sebentar. Tolong jaga nasi gorengku, ya. Jangan sampai ada kucing dungu yang berusaha mencicipinya,” celotehnya sambil berlalu meninggalkan dapur. Tenggara sedikit jengkel dengan perkataan kakaknya yang jelas-jelas menyindir dirinya.

Ketika ia hendak melahap nasi gorengnya lagi, mendadak sepasang tangan menutup mata Tenggara dari belakang.

“Tebak ini siapa?” bisiknya.

“Siapa sih? Kak Delmora ya?”

Ketika Tenggara membuka tangan itu secara paksa dari wajahnya dan menengok ke belakang, dia langsung terbelalak dan berdiri dari kursinya. Sekarang di depannya ada sesosok laki-laki paruh baya tinggi bertubuh gemuk berkumis dan seorang wanita cantik yang berusia hampir sama dengan postur tubuh yang lebih terjaga.

“Mama! Papa!” teriak Tenggara langsung menghambur memeluk kedua orang tuanya dengan sangat erat, melepaskan rindu yang sudah lama dirasakannya. “Kenapa kalian tidak bilang kalau mau pulang hari ini? Kalau tahu begini kan aku atau kakak bisa menjemput papa mama di stasiun!”

“Oh, tidak perlu khawatir soal itu, sayang. Kami sudah dijemput oleh seseorang yang nanti akan tinggal di rumah kita untuk sementara waktu,” balas mamanya sambil menoleh ke belakang.

Betapa terkejutnya Tenggata ketika melihat seorang laki-laki tinggi nan tampan yang ternyata sejak tadi berdiri di belakang orang tuanya. Wajahnya terkesan garang dengan sedikit sisa brewok tipis, dan rambutnya yang bergelombang.

“Ini adalah anak teman mama. Alexaga Pranata. Dia baru saja pindah kuliah ke kota ini.”

Tenggara mengernyit. Laki-laki itu mengulurkan tangan dengan acuh. “Alex.”

Dengan bingung, Tenggara menyambut uluran tangannya. “Tenggara,” balasnya lalu memandang mamanya dengan ekspresi bingung ingin penjelasan.

Seakan mengetahui gelagat anaknya, mama Tenggara tertawa kecil. “Kami bertemu dengan teman sekolah mama pas di Tokyo. Dia bilang kalau Alex mau kuliah di kota ini. Jadi dia menitipkan Alex pada kita supaya lebih mudah untuk diawasi.”

“Aku bukan anak kecil yang perlu pengawasan,” ucap Alex dengan nada ketus, membuat Tenggara sedikit meradang. Sungguh tidak sopan berbicara kepada orang tua seperti itu.

“Tidak masalah jika kau berpikiran seperti itu. Semua anak pasti akan tumbuh dewasa dengan sendirinya,” balas mama Tenggara dengan tenang.

Papanya tampak menggeleng pelan. “Tenggara, dia akan sekamar denganmu selama dia disini. Antar dia ke kamarmu sekarang.”

“Iya, Pa,” jawab Tenggara pasrah sambil melenggang meninggalkan dapur menuju kamarnya diikuti Alex. Setibanya disana, ia langsung membuka pintu dan mempersilahkan Alex masuk.

“Ini kamarku. Kecil sih, tapi sangat nyaman buatku.”

Alex masuk sambil melempar pandangan ke seluruh sudut kamar lalu duduk di tepian kasur. “Kurasa kamarmu tidak terlalu buruk.”

Tenggara memutar bola matanya. Kata-katanya sungguh sangat sok. “Baiklah, aku tinggal dulu. Aku harus segera sarapan lalu berangkat sekolah.”

“Tunggu!”

Tenggara mnghentikan langkahnya dan menoleh. “Ada perlu apa lagi?”

“Kalau mau berangkat nanti beritahu aku dulu.”

“Untuk apa?”

“Akan ku antar kau ke sekolah naik mobilku. Lagipula kampusku searah dengan sekolahmu.”

Tenggara mengibaskan tangannya. Anak ini mau pamer mobil rupanya. “Tidak usah. Aku biasa berangkat naik bus sekolah.”

“Sudahlah, pokoknya kamu menurut saja padaku. Jangan membantah.”

Tenggara tidak membalas apapun. Dia langsung meninggalkan kamarnya menuju dapur lagi, tidak peduli dengan perkataan laki-laki itu yang dianggapnya sebagai angin lalu.

Dan sebaiknya dia segera menghabiskan sarapannya cepat-cepat dan langsung berangkat. Takut kalau laki-laki itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya dan sudah bersiap di mobilnya.

***

Bel pulang sekolah berbunyi beberapa menit yang lalu. Tenggara berjalan menuju gerbang sekolah bersama Top, Jenna, dan Reyori.

“Aku penasaran dengan babak kedua dari kompetisi ‘Get The House’ nanti malam. Kira-kira apa tema untuk babak kedua nanti? Apakah akan bertanding secara individual lagi seperti babak pertama, atau secara berkelompok?” tukas Jenna.

“Tentu saja tidak akan ada yang tahu. Tema pertandingan di setiap babak diumumkan secara langsung sebelum babak itu dimulai,” balas Top.

“Oh, aku masih terpesona dengan kemampuan White yang satu tim bersama kita di Secondary,” timpal Reyori. Tenggara sedikit bergidik. Perbincangan yang mulai rawan. Lebih baik Tenggara tutup mulut.

“Tentu saja. Aku juga tidak menyangka kalau White bisa sekuat itu,” balas Top sambil melingkarkan lengannya di leher Tenggara, seakan-akan ingin mengajaknya masuk ke dalam percakapan mereka. “Bukankah begitu kan, Tenggara?”

Damn!

“Oh, iya, benar sekali. Aku melihat pertandingan itu. Seru sekali pertandingannya,” jawab Tenggara dengan sedikit tergagap.

“Ngomong-ngomong, kau bilang timmu juga ikut kompetisi ini. Apakah timmu lolos ke babak kedua?” tanya Jenna.

“Um.. sayang sekali, timku tidak lolos.”

Ketika Jenna ingin menyanggah lagi, mendadak seseorang berjalan mendekati mereka dari arah berlawanan. Tenggara terkesiap mengetahui orang itu adalah Alex.

Sial! Kenapa juga sih dia kesini?

“Kenapa kau tidak menuruti perkataanku? Kan sudah ku bilang kalau aku akan mengantarmu ke sekolah!” seru Alex marah-marah. Benar-benar bukan waktu yang pas.

Tenggara menatap teman-temannya. “Kalian pulang duluan saja. Aku masih ada sedikit urusan.”

“Baiklah. Sampai jumpa besok!” seru Reyori lalu berjalan pergi bersama Top dan Jenna.

Begitu mereka sudah terlihat jauh, Tenggara baru bisa bicara. “Kamu kenapa sih marah-marah tidak jelas? Kan aku sudah bilang kalau aku berangkat naik bus sekolah!”

“Lupakan! Sekarang kita pulang saja naik mobilku.”

“Tidak perlu repot-repot, Tuan Aneh. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula aku harus menjenguk temanku yang sedang sakit.”

“Aku temani kau kesana.”

Alex menarik tangan Tenggara dengan paksa untuk masuk ke dalam mobil. Tenggara jadi semakin bingung dengan jalan pikiran Alex.

“Kamu gila ya?!” seru Tenggara yang mulai tidak tahan begitu Alex sudah duduk di belakang kemudi dengan diam seperti menahan emosi. Alex menoleh pada Tenggara dengan pandangan berkilat-kilat menakutkan.

Tenggara langsung menunduk, tidak kuasa menatap mata Alex yang tampak menyeramkan.

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu. Makanya tadi pagi aku ingin mengantarmu, karena aku tidak bisa membicarakannya dirumah.”

Tenggara memandang ke jendela mobil. “Memangnya apa yang ingin kau bicarakan padaku sampai-sampai kau bertingkah berlebihan seperti ini?”

“Tapi kau harus janji, tidak akan pernah membenciku dan menjauhiku.”

“Itu semua tergantung dengan topik yang inti pembicaraan.”

“Kalau begitu aku tidak akan bicara apapun padamu.”

“Kalau kau tidak ingin bicara apapun, aku akan keluar dari mobil sekarang juga!” gertak Tenggara sambil memegang gagang pintu mobil.

Alex langsung menahannya. “Tunggu! Jangan keluar, ku mohon!”

“Untuk apa gunanya aku berada disini?”

Geraham Alex bergemeletuk. “Baiklah, baik! Aku akan membicarakan sesuatu padamu, dan ku harap kau tidak akan marah padaku.”

Tenggara memutar bola matanya. “Bisakah kita langsung masuk ke inti pembicaraan saja?”

Alex mengangguk patuh sambil membasahi bibir dengan lidah. “Aku sudah tahu kalau kau bermain game Secondary.”

“Tentu saja. Kau pasti melihat konsol GS-ku di atas meja di dalam kamarku.”

Alex langsung menyanggah. “Aku tahu kalau kau adalah White.”

Tenggara terbelalak sambil menoleh cepat ke arah Alex. Bagaimana bisa anak ini……..

“Ayahku adalah kepala kantor cabang game Secondary di Indonesia. Aku sudah melacak semua hal tentang dirimu di dunia nyata.”

Tenggara masih belum bisa berkata apa-apa.

“Aku adalah Rafter.”

Jantung Tenggara seperti ingin melompat keluar begitu mendengar kalimat Alex yang terakhir. Namun Tenggara malah tertawa hambar berusaha untuk mengendalikan dirinya sendiri. Sepertinya Alex sedang bergurau.

“Hahaha. Lucu sekali. Ayahmu kepala kantor cabang dan kau adalah Rafter. Rafter kan karakter NPC, dia bukan pemain asli. Kau jangan membicarakan sesuatu yang omong kosong deh. Aku tidak akan mempan dengan tipuan seperti itu.”

“Lantas bagaimana aku bisa tahu kalau kau adalah White?”

Tenggara merenung sebentar. “Siapa tahu diam-diam kau sudah mencoba memakai konsol GS milikku.”

“Konsol GS hanya bisa dipakai oleh pemilik yang asli. Jadi tidak akan bisa dibajak orang lain.”

Skak mat! Tenggara tidak bisa memprotes apapun lagi. “Tapi bagaimana mungkin kau bisa jadi Rafter?”

Alex menghembuskan napas panjang. “Aku lega kau tidak marah padaku.”

“Hei! Itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan pertanyaanku barusan!”

“Iya, iya. Biar aku jelaskan pelan-pelan, Tenggara, sambil menyetir mobil menuju rumah.”

“Tidak! Aku tidak mau langsung pulang ke rumah. Aku ingin menjenguk temanku sekarang!” Tenggara sudah terlalu penasaran.

“Baiklah, kau beritahu rute ke rumah temanmu. Jadi begini ceritanya. Dulu, Rafter memang seorang karakter NPC. NPC yang sangat unik karena sifatnya yang…. seperti itu, kau tahu sendiri kan? Jadi aku tidak perlu menjelaskan mengenai Rafter dengan rinci.”

“Lalu bagaimana bisa kau menjadi Rafter?”

Alex tertawa kecil. “Ku rasa tadi aku sudah mengatakan padamu kalau ayahku adalah kepala kantor cabang Secondary di Indonesia.”

Tenggara bungkam. Tentu saja, kalau tidak, mana mungkin Alex bisa punya mobil sendiri. Sepertinya otaknya hari ini kurang bekerja secara maksimal sampai melupakan kata-kata Alex yang barusan. “Kenapa? Untuk apa juga kau mengambil alih karakter Rafter di Secondary?”

Alex menyipitkan mata sambil mengemudi dengan mantap. “Aku tertarik saja. Aku ingin tahu bagaimana berada di posisinya. Jadi aku mengambil alih posisi dan Secret Quest yang dipegang Rafter.”

Tenggara masih belum paham dengan penjelasan Alex yang setengah-setengah. Tapi sepertinya sikap Alex sudah mulai lunak daripada beberapa saat yang lalu. “Lalu sejak kapan kau mengambil alih karakter Rafter?”

“Sejak hari dimana aku bertemu denganmu pertama kali. Di kedai di atas bukit utara.”

Muka Tenggara langsung memerah mengingat kejadian waktu itu. “Jadi yang menciumku itu…… kamu?”

“Kau adalah pemain pertama yang membuatku tertarik untuk ku cium.”

Tenggara terbelalak sambil menutup bibirnya dengan kedua tangan. “Jadi…… untuk apa kau menciumku waktu itu?”

“Aku memang sudah tertarik padamu ketika melihat karaktermu di dunia Secondary untuk pertama kalinya. Aku juga harus bersikap normal seperti Rafter yang biasanya. Tanpa ku duga, kau bisa melengkapi Quest Rahasia dan menjadikanku sebagai pet-mu.”

Tenggara jadi merasa was-was. Ia jadi ingat dengan kemampuan Rafter di pertandingannya di babak pertama waktu itu. Tentu saja! Rasanya tidak masuk akal jika pet memiliki special-skill untuk mentransfer energi.

“Jadi special-skill yang kau miliki saat pertandingan kemarin itu…..”

“Itu memang kemampuan asli yang dimiliki Rafter. Kau pikir aku melakukan kecurangan? Aku tidak mempunyai wewenang untuk merubah kemampuan. Ayahku tidak memperbolehkannya.”

Mobil Alex berhenti tepat di perempatan saat lampu lalu lintas sedang menyala merah. Tenggara memepetkan tubuhnya ke pintu mobil. Rasanya menghawatirkan jika dekat-dekat dengan Alex.

“Lalu untuk apa kau melacakku di dunia nyata?”

Alex memandang Tenggara dengan hangat. “Aku sungguh menyukaimu di dunia Secondary. Jadi aku berusaha mencari informasi tentang keberadaanmu di dunia nyata. Kebetulan sekali ternyata ayahku adalah teman ibumu, dan ayahku sedang berada di Tokyo, tepat saat orangtuamu sedang berbulan madu. Dan sekarang aku semakin menyukaimu. Kau jauh lebih menarik di dunia nyata.”

Hidung Tenggara mengerut. Ini sungguhan? Atau Alex memang benar-benar menyukainya? Bagaimana mungkin pria yang yang sangat maskulin dan sangat ‘laki-laki’ seperti Alex, menyukai laki-laki seperti Tenggara?

Tenggara diam, menunggu. Siapa tahu kalau beberapa saat lagi tawa Alex meledak secara tiba-tiba lalu berkata kalau dia hanya bercanda mengenai semua yang baru saja dia bicarakan.

Tapi tidak ada ledakan tawa sama sekali. Bahkan Alex masih memandang ke arahnya dengan tajam dan senyum yang membuatnya bingung.

“Tapi aku sudah tahu kalau kau memiliki hubungan dengan si rambut biru itu. Jadi aku tidak akan mengganggu hubungan kalian,” tutur Alex tiba-tiba.

Tenggara sudah tidak kaget lagi dengan hal ini, mengingat Rafter selalu berada di dekat Tenggara ketika dia dan Eleazar dengan bercakap di dunia Secondary. Tapi otaknya masih belum bisa terima dengan semua pembicaraan ini.

“Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku pasti bisa merebut hatimu, cepat atau lambat,” tambah Alex. Tenggara jadi semakin pusing mendengar pengakuan Alex.

“Apakah kau juga melacak Mastrix di dunia nyata?”

“Belum sempat. Aku hanya baru bisa melacakmu saja. Selebihnya itu, aku juga baru tahu kalau kakak perempuanmu di dunia Secondary ternyata kakak kandungmu di dunia nyata. Tapi itu ide yang cukup bagus. Aku akan mencari informasi mengenai seluruh anggota tim Viva Squad.”

Tenggara menunduk pasrah. Tapi dia bisa bersikap lebih tenang sekarang. Setidaknya Rafter di dunia nyata tidak semesum yang ada di dunia Secondary dan lebih bisa menjaga sikap. Beberapa saat kemudian, lampu lalu lintas kembali berwarna hijau dan mobil Alex kembali melaju menuju rumah Eleazar dengan rute yang diberikan oleh Tenggara.

Hingga akhirnya mereka tiba di depan rumah Eleazar. Namun Tenggara agak terkejut melihat mobil Pak Damma sedang terparkir di sana, dan pintu pagar tidak di tutup. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.

Dengan tergesa-gesa, Tenggara melompat keluar dari dalam mobil dan berlari menuju pintu depan rumah Eleazar. Alex mengikuti dari belakang.

Tanpa mengucapkan salam sama sekali, Tenggara langsung membuka pintu dan masuk ke ruang tamu. Tidak ada orang sama sekali di ruang tamu. Berarti mereka berdua ada di kamar Eleazar.

Dengan cepat Tenggara langsung berjalan ke belakang menuju kamar Eleazar. Alex hanya bisa mengekor dari belakang tanpa berkata apapun.

Hingga mereka tiba depan kamar Eleazar, Tenggara langsung membuka pintu kamar tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

Betapa terkejutnya dia saat melihat Pak Damma sedang menyuapkan makan siang untuk Eleazar. Beraninya dia……

Tenggara benar-benar tidak menyukai pemandangan yang berada tepat di depan mata dan kepalanya sendiri itu. Kenapa Eleazar mau saja disuapi sama Pak Damma? Kenapa Eleazar tidak mengusir Pak Damma?

“Tenggara? Kau sudah datang?” sapa Eleazar sambil berdiri dari tempat tidur dan menghampiri Tenggara. Mendadak, Tenggara langsung merangkul lengan kiri Alex dan memaksakan senyum palsu terbaik yang ia miliki.

“Oh, iya. Aku kesini hanya untuk melihat keadaanmu saja. Tapi sepertinya kau baik-baik saja. Um…. eh iya, kenalkan, ini Alexaga Pranata. Dia anak dari teman ibuku. Saat ini dia tinggal di rumahku. Alex, ini temanku, Eleazar Hiroma,” kata Tenggara dengan riang. Alex tampak menaikkan alisnya melihat perubahan sikap Tenggara. Tapi sepertinya Tenggara butuh bantuan darinya untuk melakukan sandiwara.

Eleazar melirik tangan Tenggara yang melingkar di lengan Alex tanpa ekspresi apapun.

Alex mengulurkan tangannya. “Alex.”

Eleazar menyambut tangan Alex. “Eleazar.”

Pada saat yang sama, Pak Damma berdiri dan mendekati mereka bertiga. “Oh, ada Tenggara rupanya? Apa kabar?”

Rahang Tenggara menegang kuat menahan emosi. Tapi dia berusaha menahannya. “Aku baik-baik saja, Pak Damma. Ngomong-ngomong, aku harus pergi sekarang bersama Alex. Ada sedikit urusan.”

“Tunggu, Tenggara! Kenapa harus buru-buru? Tinggallah sebentar. Aku akan buatkan minuman untuk kalian berdua.”

“Oh, tidak perlu. Lagipula sudah ada Pak Damma yang menemanimu disini. Da-dah! Sampai jumpa lagi,” Tenggara mengucapkan salam dengan suara sedikit serak lalu pergi keluar bersama Alex, meninggalkan Eleazar yang masih berdiri di tempatnya dengan seribu tanda tanya.

***

Di sepanjang perjalanan pulang, Tenggara hanya murung tanpa berkata apapun. Alex juga tidak berani bertanya-tanya pada Tenggara. Tapi dia yakin, pasti ada hubungannya dengan teman Tenggara yang bernama Eleazar tadi.

“Itu tadi temanmu?” tanya Alex.

Eleazar hanya mengangguk sambil menatap keluar kaca jendela.

“Kau yakin kalau kalian berdua tidak lebih dari sekadar teman biasa?”

“Menurutmu?” Tenggara balik bertanya.

Alex mengernyit. “Kalau menurutku, kau sedang ditimpa rasa cemburu yang meluap-luap akibat melihat teman lelakimu sedang berduaan bersama gurumu sendiri. Itu tadi guru sekolahmu kan? Dan kau mengunakanku sebagai senjata supaya temanmu juga merasakan hal yang sama.”

Tenggara menghembuskan napas panjang. Semua yang dikatakan Alex benar-benar tepat. Seratus persen benar. “Maaf sudah menggunakanmu sebagai senjata.”

Alex tertawa. “Tidak masalah. Untung aku cukup pandai berakting. Semoga saja aktingku tadi tidak mengecewakanmu.”

“Akting? Kau tadi hanya memperkenalkan dirimu saja, dan kau anggap itu akting?”

“Walaupun hanya sedikit kata yang aku ucapkan, paling tidak kan aku tahu kalau kita berdua tadi sedang melakukan sandiwara dadakan. Ah! Kalau tadi ada kamera yang merekam terus dijual di pasaran, pasti kita bisa jadi bintang film terkenal,” gurau Alex.

Tenggara tersenyum kecil.

Alex jadi senang melihat Tenggara tidak semurung tadi. “Nah, begitu dong. Kan kalau kamu senyum, jadi semakin membuatku bertekuk lutut padamu.”

***

Jam dinding di dalam kamar sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat dua puluh lima menit. Tenggara sedang duduk di depan laptop di meja belajarnya ketika Alex masuk ke dalam kamar.

“Kau sedang apa?” tanya Alex sambil berbaring di atas kasur dan memandang Tenggara.

“Sedang browsing tentang Necromancy,” jawabnya tanpa menoleh sedikitpun.

Alex langsung beranjak mendekati Tenggara. “Apakah pacarmu sudah menghubungimu?”

“Untuk apa kau perlu tahu masalah pribadiku?”

Alex mengernyit. Sikap Tenggara tiba-tiba berubah menjadi dingin. “Aku yakin sekali, kau pasti merasa cemburu dengan peristiwa yang terjadi tadi siang.”

“Jadi kenapa kalau aku memang cemburu?”

Alex menaikkan alisnya. “Jadi apakah pacarmu itu sudah menghubungimu?”

“Dia sudah meneleponku tadi sore. Dia sudah menceritakan semua dari sudut pandangnya. Tanpa berusaha melihat dari sudut pandangku,” jawabnya sedikit mencurahkan isi hati.

“Dia menjelaskan semuanya tanpa kau bertanya terlebih dahulu?”

Tenggara mengangguk lemah.

“Yah, sepertinya dia tipe laki-laki yang cukup peka dengan perasaanmu. Aku yakin kejadian tadi siang bukan salah Eleazar.”

“Jika dia peka, seharusnya dia tidak akan mengijinkan Pak Damma masuk ke dalam ruangan yang sangat pribadi untuknya.”

“Pak Damma? Maksudmu laki-laki yang tadi bersama pacarmu? Yang memakai seragam guru?”

Tenggara mengangguk lagi untuk ke sekian kalinya.

“Secara otomatis, aku sekarang jadi tahu bagaimana sosok si rambut biru itu di dunia nyata,” ujar Alex. Tenggara tidak membalas. Ia juga tidak berniat untuk menyangkal kenyataan yang baru saja diucapkan Alex.

“Apa kau masih tetap cemburu dan kesal pada kekasihmu sampai sekarang?” tanya Alex.

Kini Tenggara menghentikan gerak jemarinya di atas keyboard laptopnya lalu mendesah pelan sambil mengurut pelipisnya. “Aku tidak tahu. Sepertinya aku hanya sedikit stres setelah kejadian tadi siang.”

Mendadak ponsel Tenggara yang tergeletak di samping laptop bergetar-getar dengan rentetan huruf bertuliskan nama Eleazar pada layarnya. Tenggara hanya meliriknya sekilas, lalu kembali konsentrasi pada laptopnya.

“Telpon dari pacarmu tuh. Kenapa tidak kau angkat?” tanya Alex lagi.

“Berhentilah menginterogasiku terus-menerus seperti itu,” jawabnya ketus.

Tanpa permisi, Alex langsung mengambil ponsel Tenggara dan mengangkatnya. “Halo??”

Sontak Tenggara langsung berdiri dan berusaha merebut ponselnya dari tangan Alex. Tapi tubuh Alex terlalu gesit. Bahkan dia menekan tombol loud-speaker hingga suara Eleazar terdengar.

“Halo? Ini siapa? Apa Tenggaranya ada disitu?” tanya Eleazar yang terdengar dari ponsel itu. Tenggara masih berusaha untuk meraih ponsel dari tangan Alex dengan kesulitan.

“Ini dengan Alex. Kau cari Tenggara ya? Dia lagi murung nih, katanya sedang cemburu karena dia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri kalau pacarnya sudah berusaha didekati oleh gurunya sendiri!”

Sialan! Alex mulai bertindak diluar batas. Dengam sangat terpaksa, Tenggara langsung menginjak kaki kanan Alex dengan kuat hingga laki-laki itu berteriak mengerang kesakitan. Secepat kilat, Tenggara merebut ponselnya dari tangan Alex dan berlari menuju dapur.

“Halo, Eleazar? Ini Tenggara. Ada apa kamu menelpon malam-malam begini?”

Untuk beberapa detik lamanya, hening dari seberang telepon, membuat Tenggara bingung. “Halo, Eleazar? Apakah kamu masih disana?”

“Apa benar yang tadi dikatakan Alex?”

“Tidak. Semua yang dikatakan Alex itu bohong. Jangan percaya padanya sedikitpun.”

“Apakah Alex sudah tahu kalau kita pacaran? Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Eleazar.

Tenggara tidak mampu menjawab pertanyaan itu. “Hm.. itu.. a-anu… emm…”

“Bicaralah terus terang padaku. Katakan apa yang sebenarnya terjadi,” pinta Eleazar dengan lembut membuat Tenggara luluh seketika.

“Aku takut kau tidak akan percaya jika aku menceritakan hal yang sebenarnya padamu.”

“Tenggara, bukannya aku sudah berjanji padamu, kalau aku akan selalu mempercayaimu.”

Tenggara berjalan mendekati meja makan dan duduk di salah satu kursi. Ia menarik napas panjang dan mulai bercerita asal mula dia bertemu Alex dari awal sampai akhir. Juga mengenai karakter Alex di Secondary, serta mengenai ayah Alex yang merupakan kepala kantor cabang Secondary di Indonesia.

Dia menceritakan semuanya hinga serinci mungkin. Bahkan dia juga menceritakan kalau Alex juga menyukainya di dunia nyata.

“Jadi begitu ceritanya. Aku harap kau percaya dengan semuanya.”

“Aku percaya. Lagipula semua yang kau katakan memang cukup masuk akal. Ku pikir, sebaiknya kau sedikit berhati-hati dengan Alex. Aku takut dia menggerayangi tubuhmu saat kau tertidur.”

Tenggara tertawa kecil mendengar nada cemas dari suara Eleazar. “Kau sampai dia berani melakukan hal semacam itu, siap-siap saja untuk aku depak kembali ke orang tuanya.”

“Jadi….. apakah kau masih merasa cemburu?” tanya Eleazar.

“Aku tidak cemburu kok.”

“Mau sampai kapan kau berbohong padaku? Kau kurang berbakat dalam hal membohongi orang lain.”

Tenggara menggigit bibir bawahnya. “Aku….. ku pikir aku merasa sedikit cemburu. Hanya sedikit saja kok. Aku hanya tidak suka saja melihat Pak Damma berusaha mendekatimu.”

Terdengar suara Eleazar yang terkekeh di seberang sana. “Jadi apa yang bisa aku lakukan supaya perasaan pacarku ini menjadi lebih baik?”

Tenggara jadi senyum-senyum sendiri mendengarnya. “Ada banyak hal yang harus bisa kau lakukan.”

“Bisa kau memberitahuku satu persatu?”

“Yang pertama, jangan biasakan orang asing memasuki kamarmu. Termasuk Pak Damma tentu saja. Jangan pernah dekat-dekat dengan dia jika tidak ingin melihatku meledak seperti bom waktu.”

“Wow, bom waktu? Kata-katamu sangat berlebihan. Tapi baiklah. Kurasa itu hal yang cukup mudah. Yang kedua?”

“Yang kedua…. Cepatlah sembuh. Aku tidak pernah merasa tenang karena memikirkan dirimu yang sedang sakit.”

“Iya, jangan cemas begitu. Aku sudah mendingan kok. Besok aku akan kembali sekolah lagi seperti biasanya. Terus apa lagi?”

Tenggara mendesah. “Ku harap kau bisa setia bersamaku sampai nanti.”

“Aku juga ingin kau melakukan hal itu untukku. Jangan pernah menjauh dari pandanganku.”

Tenggara tersenyum. “Kita lakukan sama-sama. Untuk saling setia satu sama lain.”

Eleazar terkekeh lagi. “Kau begitu menggemaskan. Kalau aku ada disitu, mungkin sekarang…………..,” kalimatnya tergantung begitu saja secara tiba-tiba.

Tapi Tenggara sudah mengira apa yang akan diucapkan pacarnya itu. “Jangan biarkan fantasi liar seperti itu merusak pikiranmu! Kita masih sekolah, tidak boleh melewati batas.”

“Iya. Iya. Maafkan atas ucapanku. Kau segera tidur sana. Ini sudah jam sebelas kurang sepuluh menit. Sebentar lagi ronde kedua akan dimulai.”

“Baiklah. Kau juga segera tidur. Sampai jumpa di dunia game,” kata Tenggara memberi salam. Ia langsung menutup percakapan setelah mendengar salam dari Eleazar.

“Syukurlah, kau bisa ceria lagi. Aku jadi ikut senang!”

Tenggara menoleh ke belakang dan menemukan Alex sudah berdiri di ambang pintu dapur sambil melipat kedua lengannya.

“Sejak kapan kau berada disitu?”

“Sejak kau berada disini,” jawab Alex dengan santai sambil berjalan mendekati Tenggara.

“Paling tidak, aku bisa merasa tenang jika melihat wajahmu cerah seperti ini,” ucapnya sambil mengusap-usap rambut Tenggara.

Tapi yang membuat Tenggara sedikit bingung adalah sikap Alex yang masih begitu hangat padanya dan masih mengharapkan perasaannya. Padahal dia sudah tahu kalau Tenggara sudah punya Eleazar. Bahkan Alex juga merasa senang ketika melihat Tenggara dan Eleazar kembali akur.

“Kau ini orang yang sangat aneh,” tukas Tenggara.

“Aku sudah mendengar kalimat seperti itu dari mulutmu, kurang lebih dua belas kali dalam seharian tadi.”

Tenggara tertawa kecil. “Terserah apa yang kau pikirkan. Sekarang kita harus segera Log-In ke dunia Secondary. Sebentar lagi babak kedua kompetisi ‘Get The House’ akan segera dimulai,” kata Tenggara sambil melenggang meninggalkan Alex yang masih berdiri di sana sambil tersenyum memandangi punggung Tenggara yang berjalan menjauh menuju kamarnya.

***

Tenggara menyadari kalau posisinya sedang berbaring di atas kasur di kamar perawatan ketika dia Log-In sebagai White.

Ia merasa tubuhnya sudah sedikit mendingan. Tapi luka tusukan panah di bahu kanannya masih belum sembuh benar dan terasa ngilu ketika digerakkan. Tapi dia masih bersemangat.

“Baiklah! Sekarang aku akan memerankan karakterku sebagai White! Semangat, White!” serunya kepada diri sendiri.

Namun beberapa saat kemudian, dia baru tahu kalau di ruang perawatan itu banyak sekali pemain yang juga sedang sakit. Tenggara hanya tersenyum meringis menahan malu.

Ia menoleh melihat sosok Rafter yang masih terbaring di kasur yang ada di samping kirinya. Balutan perban di sekujur tubuhnya tampak mengerikan. Sepertinya sosok Rafter akan tertidur terus selama Alex masih belum Log-In.

Hingga beberapa detik kemudian, Rafter membuka matanya dan mengerang kesakitan. “Ouh!”

White langsung bangun dari kasurnya dan mendekati Rafter. “Apakah tubuhmu masih terasa sakit.”

Rafter mengerutkan hidung. “Lumayan.”

“Kalau begitu jangan terlalu banyak bergerak jika kau tidak ingin merasa lebih sakit lagi. Cukup berbaring dengan tenang. Aku akan menjagamu,” kata White.

“Memangnya kau tidak ikut bertanding?”

“Aku yakin teman-teman tidak akan mengijinkanku untuk bertanding dengan kondisiku yang kurang maksimal ini.”

Rafter tersenyum. “Terimakasih, Tenggara.”

Tenggara terbelalak sambil menoleh ke sekeliling. Takut kalau ada yang mendengarnya. “Panggil aku White. Jangan Tenggara! Dasar bodoh!” bisiknya.

“Oh, baiklah. Aku lupa. Terimakasih, White. Ngomong-ngomong, kau baru saja ganti model rambut? Kenapa potongan rambutmu jadi mirip dengan milik Mastrix?”

White meraba-raba rambutnya sambi, tersenyum senang. “Aku memutuskan untuk merapikan rambutku di salon dekat gedung stadion karena rambutku yang sudah sangat berantakan akibat pertandingan kemarin. Bagaimana menurutmu? Bagus, tidak?”

“Aku suka modelnya. Membuatmu semakin tampan. Juga membuatku semakin yakin bahwa aku tidak salah sudah menaruh hati padamu,” jawab Rafter.

Tenggara menyengir mendengarnya. “Kau bisa saja. Ucapanmu terlalu tinggi sampai-sampai aku tidak bisa mengerti satu kata pun yang kau ucapkan.”

Beberapa detik kemudian, satu persatu anggota tim Viva Squad mulai muncul hampir secara bersamaan. Angela, Jenna, Reyori, Seergrowl, Laydrown, serta Mastrix yang muncul paling terakhir.

“Wow! Kau mengganti gaya rambutmu?” tanya Seergrowl sambil mendekat dan mengacak-acak rambut pendek White.

White langsung menepis tangan Seergrowl dari kepalanya. “Hentikan! Nanti rusak!”

“Kapan kau mencukur rambutmu?”

“Kemarin, di salon dekat sini, Mastrix yang mengantarku ke sana.”

Angela tersenyum senang. “Kau tampak jauh lebih baik dengan model rambut seperti ini. Lagipula kau sama sekali tidak cocok dengan rambut panjangmu. Lihat saja sekarang. Kau dan Mastrix seperti sepasang kembaran. Yang berbeda hanya warna rambut dan kostum kalian.”

White menggaruk-garuk tengkuk. “Hehehe… Sungguh? Tapi ngomong-ngomong kalian tidak segera turun ke bawah? Upacara pembukaan babak kedua kan hampir dimulai.”

“Benar juga. Baiklah kalau begitu, kami turun dulu. Kau dan Rafter tetap disini dan beristirahat supaya luka-lukamu cepat sembuh. Aku tidak ingin kau ikut bertanding dulu,” Angela mengucapkan titahnya.

White sudah menduga mengenai hal itu. Ia tersenyum sambil melirik Rafter yang tampak mengangkat alis. “Iya, Kak. Aku dan Rafter akan tetap disini dan menonton pertandingan kalian lewat layar virtual.”

“Good boy! Sampai jumpa nanti!” kata Angela lalu berjalan duluan diikuti anggota tim yang lain. Sedangkan Mastrix berjalan mendekati White.

“Doakan supaya kita menang di babak kedua ini,” kata Mastrix sambil mengusap pipi kanan White dengan lembut.

“Doaku selalu menyertai kita semua. Termasuk kau.”

Mastrix tersenyum dan mengecup kening White. “Sampai jumpa nanti dan cepatlah sembuh.”

White tertawa kecil. “Lucu ya? Tadi sebelum Log-In, aku mengatakan ‘cepatlah sembuh’ padamu. Sekarang kau yang mengatakan hal itu padaku.”

Mastrix jadi ikut tertawa. Dia langsung memeluk White dengan erat. “Ku pikir hati dan pikiran kita sudah terikat satu sama lain.”

Rafter membuang pandangan ke arah lain. Ia merasa seakan menjadi manusia paling menyedihkan di dunia ini. Merasa dianggap tidak ada sama sekali. Tapi dia senang jika White dan Mastrix bisa akur seperti ini.

***

Pertandingan tim Viva Squad berjalan cukup cepat daripada kemarin. Hari ini mereka menang mudah dari tim Underground dan lolos ke babak delapan besar. Nama tim yang benar-benar terdengar sangat misterius. Tapi itu tidak jadi masalah, karena pada babak ini seluruh tim inti Viva Squad mengerahkan kemampuan mereka dengan cukup baik dan hasil yang memuaskan.

Apalagi hari ini, Reyori tampak tampil dengan sangat prima dengan kapak raksasanya. Dia mencuri perhatian para penonton dengan ayunan senjata andalannya dan mengalahkan tiga pemain lawan sekaligus, sedangkan tiga sisanya dikalahkan bersama seluruh anggota tim.

Sekarang tim Viva Squad sedang berkumpul bersama di ruang perawatan. Seergrowl dan Jenna mendapatkan sedikit luka pada bagian betis, dan Angela yang terkena luka sabetan pedang di pundak kanannya.

“Kalian benar-benar menakjubkan! Apalagi kau, Reyori! Kau bertanding dengan sangat mengagumkan hari ini!” seru White menggebu-gebu. Dia dan Rafter tampaknya sudah sangat membaik hari ini. Buktinya sebagian banyak perban mereka sudah dilepaskan.

Reyori mengibaskan tangannya dengan tersipu malu. “Ah! Kau bisa saja. Itu tadi kerja sama tim. Angela yang mengatur strategi untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu supaya mereka tidak punya ruang untuk bergerak sama sekali.”

“Jangan merendah begitu, Reyori. Kau memang tampil bagus hari ini. Dan syukurlah kita bisa lolos ke babak delapan besar,” kata Angela selagi seorang perawat NPC sedang membalut lukannya dengan perban.

“Ahahaha! Terimakasih. Aku sebenarnya memang tidak pandai menanggapi pujian yang berlebihan seperti ini. Kita bermain di pertandingan paling terakhir. Jadi sepertinya pertandingan kita tadi menjadi penutup yang sangat indah. Sama seperti kemarin, kita membuka pertandingan babak pertama dengan sangat menawan dengan pertandingan individual White,” ujar Reyori yang langsung membuat White meringis malu.

“Ah! Tidak usah diungkit-ungkit lagi kejadian yang kemarin. Yang paling penting kita bisa lolos ke babak delapan besar,” balas White sambil menatap Mastrix dan duduk di sampingnya secara sekilas.

Tapi mendadak, Mastrix menepuk pundak White dan membisikkan sesuatu padanya. “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu diluar ruang perawatan,” ujarnya lalu menarik tangan White.

“Teman-teman, kami berdua permisi sebentar, mau melihat papan pengumuman tentang tim-tim yang lolos ke babak delapan besar,” ujar Mastrix dan berlalu bersama White menuju luar ruang perawatan.

Mastrix terus membimbing White berjalan melewati belokan demi belokan hingga akhirnya mereka tiba tepat di samping kamar mandi dan berhenti disana.

“Apa yang ingin kau bicarakan padaku? Sampai-sampai harus pergi jauh-jauh tempat ini?” tanya White.

“Ini soal Pak Damma.”

“Kenapa? Ada apa lagi dengan dia?”

Mastrix tidak yakin apakah ini saat yang pas untuk mengatakannya. Tapi ia tidak bisa menahan rahasia ini terus-menerus. “Aku harap kau tidak marah jika mendengar hal ini.”

“Iya, aku tidak akan marah. Terus teranglah secara langsung padaku. Tidak usah bertele-tele,” White mulai hilang kesabaran.

Mastrix menghela napas dengan gugup sambil membasahi bibir dengan lidahnya. “Pak Damma……….. dia…… menyukaiku.”

White terbelalak. “A-apa maksudmu?”

Mastrix memegang kedua pundak White. “Dengarkan aku dulu…….”

“Cukup! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi tentang orang itu! Jika inti pembicaraan kita kali ini adalah Pak Damma, ku pikir cukup sampai disini saja. Telingaku tidak tahan den serasa ingin meletus ketika kau menyebutkan namanya!” bentak White lalu mengambil langkah untuk pergi.

Tapi Mastrix langsung menahan tangannya. “Tunggu dulu! Dengarkan alasanku dulu! Ini tidak seperti yang kau bayangkan!”

Ketika White membalikkan tubuhnya, mendadak semua yang berada di sekitarnya mulai menggelap seketika. Tubuhnya terasa lemas dan semakin tak berdaya.

Hingga beberapa saat kemudian, dia mendapati dirinya sendiri sedang tidur di atas kasur di kamarnya, di dunia nyata dengan terik mentari sore yang menerpa wajahnya.

Apakah itu tadi hanya mimpi….?

Apakah kemenangan tim Viva Squad tadi hanya mimpi?

Apakah tadi pertengkarannya dengam Eleazar hanya mimpi?

Ataukah mimpi ini merupakan suatu pertanda…..?

Tapi Tenggara tidak ingat apakah tadi dia tidur siang atau tidak, karena Tenggara tidak terlalu suka tidur siang. Ketika ia menggerakkan sedikit tubuhnya, dia baru sadar dengan posisi tidurnya sekarang. Di sedang memeluk sesuatu yang bukan guling, melainkan tubuh Alex yang sekarang juga sedang memeluknya. Tubuh Alex terasa nyama dan hangat.

Ingin sekali Tenggara terus berada di situ dalam waktu yang lama. Tapi dia tidak bisa melakukannya. Dia masih punya Eleazar.

Akhirnya ia memutuskan untuk bangun dan berdiri menghadap jendela sambil merenggangkan seluruh tubuhnya. Aneh. Rasanya tidak seperti saat bangun dari tidur siang. Ia memang jarang tidur siang tapi dia tahu kalau rasanya sehabis bangun tidur siang itu tidak pernah langsung sesegar ini. Biasanya dia masih sedikit merasakan kantuk. Tapi ini tidak sama sekali.

“Padahal ku pikir tadi kau suka jika ku peluk terus,” ucap Alex tiba-tiba yang sekarang sudah membuka mata dengan kedua tangan bertumpu di bawah kepala.

“Aku tidak ingin menghianati Eleazar,” balas Tenggara dengan santai. Tapi entah kenapa ia merasa kalau pertengkarannya dengan Eleazar tadi benar-benar terjadi.

Lebih baik dia tidak usah memikirkan hal itu. Tenggara melirik jam dinding. Pukul tiga sore lebih sepuluh menit. Ia angsung berjalan menuju pintu kamar.

“Kau mau kemana?” tanya Alex yang sekarang tampak merapikan tempat tidur.

“Mau ke kamar mandi. Cuci muka,” balas Tenggara sambil membuka pintu kamar dan melangkah menuju kamar mandi yang berada di belakang dapur. Ketika ia melintasi dapur, tampak Delmora sedang menikmati sepotong kue cokelat dengan santai.

Tenggara berlalu ke kamar mandi dan mencuci wajah dengan air kran yang ada disana lalu mengeringkan wajahnya dengan handuk biru bersih miliknya yang selalu ia taruh di kamar mandi.

Tenggara langsung bergegas keluar menuju dapur dan duduk di samping Delmora. “Kak.”

“Ada apa?”

“Kok aku merasa ada yang aneh ya?”

“Aneh apanya? Kamu itu yang memang suka berpikir yang aneh-aneh,” balas Delmora sambil memakan kue cokelatnya.

“Serius, Kak! Ini benar-benar aneh! Kakak tahu kan kalau aku tidak suka tidur siang? Tapi aku baru saja bangun dari tidur siang. Padahal aku ingat kalau aku tidak pernah menyentuh bantal sedikitpun kecuali saat malam.”

Mendadak, Delmora menghentikan kegiatan makannya dan meletakkan sendoknya diatas kue.

“Aku juga merasa aneh. Kulkas kita sepertinya rusak. Didalamnya tidak dingin sama sekali. Padahal aku baru membelinya dua minggu yang lalu.

Belum sempat Tenggara menyahut balik, mendadak ada tulisan hologram virtual kecil yang muncul tepat di depan mata mereka.

 

★ PERTANDINGAN DIMULAI ★

BABAK FINAL DELAPAN BESAR

 

Deg!

Jantung Tenggara berdetak kencang begitu mengetahui kalau dia masih berada di dunia game. Dan kali ini sepertinya panita kompetisi ‘Get The House’ berhasil mengecohnya dengan arena permainan yang sama persis dengan kota Tenggara di dunia nyata.

Pada saat yang sama, tubuh Tenggara mulai bertransformasi secara perlahan dengan karakter White di game Secondary. Begitu pula dengan tubuh Delmora yang turut berubah menjadi karakter Angela, dari segi wajah dan kostum.

Mereka berdua langsung berdiri dengan detak jantung yang tak menentu.

“Tetaplah berada didekatku!” ujar Delmora yang sekarang sudah menjadi karakter Angela dengan sempurna. Tenggara mengangguk.

Ketika mereka hendak beranjak, tiba-tiba muncul lagi tulisan hologram virtual di depan mata mereka.

 

★ PERATURAN ★

– Seluruh anggota tim, baik dari tim inti dan tim cadangan, semuanya akan ikut andil dalam pertandingan pada babak final delapan besar ini. Jadi suatu keuntungan untuk tim yang memiliki anggota banyak.

– Arena dibuat persis dengan yang ada di dunia nyata, namun hanya ada pemain dan pet yang berada di arena.

– Arena tidak difasilitasi dengan listrik.

– Setiap pemain hanya dibekali satu senjata asli berdasarkan ‘job’, yang sudah tersimpan di tas pinggang kecil pemain.

– Tim atau anggota yang dapat bertahan hidup paling terakhir akan memenangkan kompetisi ini dan permainan selesai.

– Durasi waktu di dunia Secondary akan diperpanjang sesuai dengan lamanya pertandingan di babak final ini. Jadi tidak akan mengganggu waktu produktif di dunia nyata.

– Peraturan tambahan akan menyusul.

 

BERIKUT DAFTAR TIM BERTANDING DI BABAK FINAL

★ YIN YANG

– 7 pemain

 

★ EASTERN

– 10 pemain

 

★ VIVA SQUAD

– 7 pemain

 

★ SKYFALL

– 6 pemain

 

★ KAMIKAZE

– 8 pemain

 

★ GALAXIAN

– 12 pemain

 

★ SEVEN STARS

– 9 pemain

 

★ PREDATORS

– 6 pemain

 

Hologram itu langsung hilang seketika begitu Tenggara selesai membacanya. Ia menoleh pada Angela. “Sekarang bagaimana?”

Belum sempat Angela membalas, Rafter muncul dari arah kamar Tenggara. “Tenggara! Ini kabar buruk!” serunya yang langsung kaget begitu melihat Tenggara dan Delmora yang sudah berubah wujud menjadi karakter di game.

Delmora mengernyit menyadari kalau Rafter mengetahui nama Tenggara. “Bagaimana kau…….?”

“Kak! Rafter adalah Alex. Dia anak dari kepala cabang Secondary di Indonesia. Ceritanya panjang. Nanti aku ceritakan lagi. Sekarang bukan saatnya untuk bercerita,” jawab Tenggara.

Delmora mengangguk. “Baiklah. Sekarang kita harus memainkan karakter kita di dunia Secondary. Panggil nama masing-masing dengan nama karakter game jika tidak ingin karakter kita di ketahui musuh kita di dunia nyata. Bisa saja beberapa dari musuh kita akan dendam kepada kita ketika kita berhasil mengalahkan mereka,” ucapnya dengan dibumbui kata-kata optimis dan percaya diri.

White mengangguk. “Jadi sekarang apa langkah pertama yang harus kita lakukan?”

“Kita cari anggota tim Viva Squad tanpa diketahui anggota tim yang lain. Jadi kita harus bisa menghidar dari perhatian musuh dan dari perkelahian untuk menghemat energi, HP dan MP,” kata Angela.

BRRAAAKKK!!!!!

Mendadak, terdengar suara pintu depan rumah dihancurkan seseorang. “Keluar kalian! Kami tahu kalian ada di dalam!” seru orang itu yang sepertinya tidak sendirian. Mungkin dua atau tiga orang. Jantung White serasa mau copot. Tampaknya ada tetangga mereka yang juga ikut bermain di babak final ini.

“Kita lari lewat pintu belakang,” bisik Angela berlari duluan diikuti White dan Rafter menuju belakang dapur. Adrenalin White terasa semakin terpacu, seakan-akan ia menjadi buronan sungguhan.

***

Hari sudah semakin gelap. Jam dinding di toko swalayan kecil tempat White, Rafter, dan Angela bersembunyi saat ini sudah menunjukkan jam setengah lima sore lebih dua belas menit. Mereka bertiga masuk lewat pintu samping. Syukurlah tidak ada musuh satupun yang mengetahui persembunyian mereka bertiga saat ini. Dan lebih dari itu, di tempat mereka sekarang sudah tersedia berbagai macam makanan dan minuman ringan, serat beberapa peralatan yang dapat digunakan.

“Apa kita boleh menyalakan lilin? Aku mulai sulit untuk melihat sekitarku,” kata Rafter dengan berbisik sambil menikmati sepotong roti. Mereka bertiga sedang duduk di lantai, di belakang meja kasir.

Angela menggeleng cepat. “Tidak! Bukan saatnya untuk tidur sekarang! Kita harus segera menemukan anggota Viva Squad yang lain. Dan malam hari adalah waktu yang paling tepat untuk mengendap-endap,” vonis Angela.

Ketika mereka berdua sedang berdiskusi, White tampak lebih banyak diam. Bahkan dari tadi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun yang berarti.

Pikirannya berkecamuk mengenai perdebatannya dengan Eleazar. Saat anak itu mengatakan padanya kalau Pak Damma menyukai kekasihnya itu. Itu bukan mimpi, sama sekali bukan mimpi. Mendadak dadanya terasa sesak sekali. Rasanya ingin menangis saat ini juga dan berhenti dari segala pertandingan yang ada di game ini. Ia sudah tidak memiliki keinginan untuk berjuang seperti dulu.

White menghirup udara yang ada di sekitarnya dan menghembuskannya dengan perlahan. Rasanya masih tidak nyaman. Tapi sekarang ia bisa lebih fokus dan menghilangkan perasaan egois yang ia miliki. Lebih baik untuk mengesampingkan masalah pribadi yang ia miliki sekarang dan menikmati permainan Secondary ini.

“Iya, tapi aku tidak tahu jati diri dari masing-masing anggota tim Viva Squad di dunia nyata kecuali Laydrown dan kalian berdua. Dan rumah Laydrown jaraknya juga tidak dekat jika di tempuh dengan jalan kaki,” ujar Angela yang sedang berdiskusi dengan Rafter. Itulah kalimat pertama kali yang bisa di dengar White begitu ia tersadar dari renungannya.

“Aku kenal dengan semua anggota tim Viva Squad di dunia nyata. Seergrowl, Reyori, Jenna, dan…. Mastrix. Mereka semua teman sekolahku. Sebagian dari mereka belum tahu karakterku di dunia Secondary. Tapi aku tahu rumah mereka. Aku yakin mereka semua sekarang sudah meninggalkan rumah mereka dan berusaha mencari kita,” timpal White. Rafter melirik White dan tersenyum. Ia langsung melingkarkan lengan kanannya pada leher White.

“Yo, bro! Akhirnya ruhmu telah kembali ke jasadmu ya? Darimana saja kau tadi?” goda Rafter sambil mencium pipi White di depan mata Angela.

Angela tampak kaget sambil tersenyum aneh. White langsung mencubit perut Rafter, walaupun agak kesulitan karena perut Rafter terasa keras dan berotot. Rafter sepertinya sudah menyadari kalau White tidak pernah fokus pada diskusi mereka sejak tadi.

“Sudah! Sudah! ekarang bukan saatnya untuk bercanda. White, kalau menurutmu mereka juga mencari kita, apakah mereka sekarang sedang berusaha mencapai rumah kita?” tanya Angela.

“Tidak. Menurutku mereka tidak akan melakukan hal yang bodoh seperti itu.”

Angela mencubit paha White keras-keras. “Lalu bagaimana? Cepat katakan, White! Mereka kan teman-temanmu! Kau tentu lebih mengenal mereka!”

“Aw! Sakit, Kak!” erang White sambil menepis tangan Angela. “Aku tidak begitu mengerti soal mereka. Tapi aku yakin sekarang mungkin mereka sedang menuju sekolahku. Tapi lebih baik kita jangan kesana dulu. Kita temukan Laydrown dulu, setelah itu berkumpul disana. Kak, kau lebih mengenal Laydrown daripada aku. Kakak pasti tahu kemungkinan keberadaan Laydrown.”

Ketika, Angela hendak menyela, mendadak seseorang muncul dari arah belakang. Suasana terlalu gelap hinga mereka bertiga tidak mampu melihat orang iru secara kasat mata. Namun beberapa saat kemudian, napas orang itu tercekat kaget.

“White? Angela? Rafter? Kalian disini?” seru orang itu langsung berjalan mendekat dengan cepat.

Angela langsung mengenali suara dari orang itu. “Josias!” serunya sambil menghambur memeluk Laydrown.

“Panggil Laydrown, jangan nama asliku,” balasnya.

White mengernyit melihat Laydrown yang secara tiba-tiba sudah sampai di tempat persembunyian mereka. “Bagaimana kau bisa sampai disini?”

Angela melepas pelukannya. “Betul. Bagaimana mungkin kau bisa menemukan kami?”

“Ceritanya panjang. Aku tiba di rumahmu dengan mengendarai mobilku. Beberapa pemain sempat mengejarku, tapi aku bisa lolos.”

“Tunggu dulu! Bukankah peraturannya menjelaskan kalau di arena tidak disediakan listrik?” tanya White.

“Dan kau harus tahu kalau mobilku bukan mobil listrik,” balas Laydrown yang langsung membuat White tersenyum meringis menahan malu.

Angela segera menyahut lagi. “Lalu?”

“Lalu setibanya di rumah kalian, kulihat pintu depan rumah kalian sudah hancur. Ketika aku mencapai dapur, aku melihat ada tiga pemain musuh yang baru saja keluar dari kamar, entah kamar siapa itu, dan aku langsung berlari ke arah pintu belakang yang sudah terbuka lebar sebelum mereka menyadari keberadaanku. Ku pikir kalian pasti keluar lewat pintu belakang. Dan aku menemukan jejak kaki kalian yang mengoyak beberapa rumput dan tanaman pagar hingga bisa sampai ke sini.”

“Syukurlah kau bisa selamat. Sekarang kita harus segera menuju sekolah White dan menemukan anggota yang lain yang belum kita temukan. Mereka adalah teman sekolah White,” usul Angela.

Tok! Tok! Tok!

Tiba-tiba terdengar suara pintu depan toko swalayan yang sedang diketuk. Sontak, mereka berempat langsung bersembunyi lagi ke bawah meja kasir dan saling berdempetan satu sama lain.

BLLAAARRR!!!!

Pintu toko swalayan diledakkan oleh sesuatu. Seperti semacam listrik. Sepertinya ada pemain musuh dengan job Magician yang berelemen dasar petir yang sedang menerobos masuk ke toko itu. Suaranya sama dengan suara ledakan pintu dirumah mereka tadi. Jangan-jangan mereka orang yang sama…..

Suara langkah kaki terdengar memasuki toko. White mencoba fokus.

Satu…..

Dua……

Tiga…..

Ia mendengar ada tiga suara langkah yang berbeda.

Jantung White tidak karuan lagi. Dia dan teman-temannya sudah terdesak dan tidak bisa kabur. Kalaupun mereka berusaha kabur, pasti mereka akan mendapat serangan bertubi-tubi.

“Kali ini kita serang mereka bagaimana pun caranya,” bisik Angela memberi komando dan membisikkan rencana yang akan mereka lakukan.

Rafter tidak memiliki senjata, tapi dia memiliki keahlian bertarung dengan tangan kosong yang cukup bagus. Laydrown yang seorang Priest, tidak memiliki boomerang lagi sekarang, hanya tongkat sihir yang bentuknya hampir mirip dengan milik White, yang hanya mampu menyembuhkan dan menambah HP.

Dan untuk pertama kalinya, Angela akan menyerang mereka dengan tombak Naginata, salah satu senjata pemain yang memiliki job Ninja, dan Angela jarang menggunakannya. Tapi apa boleh buat. Ini cara satu-satunya. Dua menyerang di depan, dan dua lainnya dari belakang.

White mengangguk paham, diikuti Rafter dan Laydrown. Selama beberapa detik mereka berpegangan tangan, untuk memperkuat rasa percaya diri yang mereka miliki. Ini bukanlah formasi tim Viva Squad yang utuh, tapi mereka harus yakin.

Begitu mereka melepas tangan, White langsung mengambil tongkat sihirnya untuk bersiap mengawali serangan kejutan. Dia mengambil napas dan menghembuskannya.

Tapi belum sempat ia memanggil manusia tengkorak satupun, tiba-tiba secercah bola cahaya sebesar bola tenis menja muncul di depan mereka berempat yang di selimuti lapisan elektromagmetik.

White terbelalak begitu menyadari apa itu.

“Shitt!!” dengan cepat ia merangkul ketiga temannya merapat ke dinding kaca.

BLLAAARRR!!!

Bola itu meledak dengan sangat dahsyat hingga kaca dinding itu pecah dan mereka berempat terpelanting ke luar halaman toko swalayan.

“Argh!” erang White menyadari kain lengan kirinya sudah koyak dan menyebabkan beberapa luka karena ledakan barusan. Telinganya berdengung memekakan. Dia melirik ke arah Angela, Rafter dan Laydrown yang sedang berusaha untuk berdiri dengan susah payah.

Ketiga pemain musuh tadi langsung keluar dan sekarang wajah mereka sudah sangat jelas. Mereka semua berasal dari ras Beast dengan penampilan seluruh tubuh yang menyerupai anjing berwarna hitam legam. Yang berdiri paling depan adalah si Magician yang memegang tongkat sihir, dan pakaian bernuansa cokelat. Sedangkan dua lainnya merupakan pemain Warrior, yang satu pria, yang satu lagi wanita.

“Hahaha! Ternyata hanya pemain-pemain tidak berguna!” seru si Magician.

Pandangan White sedikit kabur. “Enemy Status,” bisik White tanpa sepengetahuan pemain musuh. Di atas ketiga pemain itu langsung muncul hologram virtual yang hanya bisa dilihat oleh White.

 

NAME: ECLIPSE

JOB: MAGICIAN

LEVEL: 43

TEAM: PREDATORS

 

NAME: SARASVATI

JOB: WARRIOR

LEVEL: 38

TEAM: PREDATORS

 

NAME: COLOSSUS

JOB: WARRIOR

LEVEL: 38

TEAM: PREDATORS

 

BLLAAAAARRR!!!

Eclipse kembali melempar ledakan petir tepat di sisi kiri tubuh White yang langsung membuatnya melenting jauh dari teman-temannya. Kain kemeja lengan kirinya sudah lenyap, memperlihatkan kulit lengan kirinya yang terluka penuh darah dan hampir rata di sekujur lengan. White masih mampu untuk menegakkan punggungnya sambil merasakan sakit di sekujur tubuh.

“Hanya seperti inikah kemampuan kalian?” tanya Eclipse dengan suara berat yang khas.

“Sepertinya tim mereka masuk ke babak final karena keberuntungan,” tambah Sarasvati sambil tertawa jahat.

“Ku pikir tim Viva Squad yang terkenal karena penyihir putihnya itu tim yang menyenangkan yang bisa diajak bermain-main. Tidak tahunya hanya tim sampah!” Colossus menimpali.

Sialan! Benar-benar licik! Ucapan mereka tidak lebih mulia daripada gonggongan anjing. White melirik seluruh tempat yang gelap itu.

Mereka berempat tidak akan pernah menang jika melawan dalam kondisi seperti ini. Dia tidak punya pilihan lain. White langsung mengangkat tongkatnya dan memangging dua puluh Skeleton Archer dan sepuluh Skeleton Warrior yang langsung menyerang.

Selama pemain musuh tengah sibuk bertarung, White mengangkat tongkatnya lagi dan memanggil dua kuda zombie yang langsung muncul dari dalam tanah.

“Kita harus cepat melarikan diri dari mereka sebelum kita diserang lagi! Langsung menuju ke sekolah!” seru White pada Angela, Rafter dan Laydrown. Mereka bertiga mengangguk. Angela dan Laydrown langsung naik ke atas kuda mereka, sedangkan Rafter membantu White berdiri dahulu sebelum naik ke atas kuda.

Tanpa banyak bicara lagi, mereka langsung melaju menuju sekolah dengan kecepatan tinggi. Eclipse, si Magician itu sempat menyerang White dan teman-temannya dengan ledakan-ledakan petir seperti tadi, namun meleset.

Empat anggota tim Viva Squad itu terus melaju tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.

Rafter duduk di belakang White sambil mengendarai kuda zombie dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memeluk White yang tampak masih tersadar tapi sangat lemas karena terlalu banyak menggunakan MP untuk memanggil makhluk-makhluk kegelapan. Apalagi lengan kiri anak itu yang mendapat luka-luka luar yang terlihat agak parah.

“White, bertahanlah, ku mohon,” bisik Rafter di telinga kanan White sambil mempererat dekapannya.

“Kau terlalu khawatir. Aku tidak apa-apa kok,” balas White. Rafter tersenyum lemah dan mengecup ubun-ubun White dari belakang. Ia tahu White sedang berbohong.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan sekolah. Mereka berempat turun dari kuda zombie. White bertepuk satu kali dan kuda-kuda itu langsung lenyap. Mendadak, dia jatuh berlutut. “Argh!”

Rafter memegang kedua pundak White dari belakang. “White?!”

“Aku baik-baik saja, Rafter. Tidak usah cemas. Semuanya baik-baik saja,” balas White yang kemudian langsung terkulai lemas tak sadarkan diri. Dengan sigap, Rafter menangkap tubuh White supaya tidak terjatuh ke tanah.

***

Samar-samar, Tenggara melihat secercah cahaya yang putih melingkar di depannya. Sekarang ia ada di dalam rumah Eleazar. Ia yakin ia berada di dalam rumah Eleazar.

Dimana anak itu? Tenggara sangat merindukan Eleazar walaupun ia sempat marah karena pertengkaran waktu itu. Tenggara tidak pernah bisa mendustai hatinya sendiri kalau memang Eleazar lah yang selalu menjadi raja di dalam hidupnya dan takkan pernah terganti oleh siapapun.

Cepat-cepat, Tenggara berlari menuju kamar Eleazar dengan penuh semangat. Tidak ada lagi kesenangan dan kebahagiaan lainnya selain bersama dengan Eleazar setiap waktu.

Ketika ia tiba di depan kamar, ia menyadari pintu kamar itu terbuka lebar. Dan setelah ia melangkah masuk, betapa ia tercengang melihat apa yang sedang ada di depan matanya sekarang.

Tubuh Tenggara membeku, napasnya tercekat, matanya terbelalak dengan kedua tangan menutupi mulut. Hatinya tergores begitu dalam seketika saat melihat Eleazar dan Pak Damma sedang bercinta di atas ranjang Eleazar sendiri, telanjang bulat.

“Terus, Eleazar! Terus hujamkan! Kau begitu jantan, sayangku! Ah! Ah!” racau Pak Damma yang berada diposisi bawah dengan kedua kaki mengangkang dan kedua tangan berpegangan dipunggung Eleazar.

Tenggara jatuh terduduk dengan kedua mata yang basah penuh air mata. Sesuatu yang paling tidak diinginkannya sekarang terpampang dengan jelas.

“Ah! Sshhh! Oh yeah! Kau benar-benar sangat bisa membuatku senang!” racau Eleazar sambil terus menggoyangkan pinggulnya.

Tenggara syok. Ia tidak sanggup menerima semua ini. Bahkan bergerak pun rasanya susah. Bernapas terasa sangat sulit. Dadanya sesak.

“Tidak! Ini tidak mungkin! Tiidaaaaaakk!” seru Tenggara kuat-kuat yang akhirnya membuatnya tersadar dari mimpi buruknya. Dia menegakkan punggungnya dan menunduk wajahnya penuh dengan keringat. Bahkan matanya basah sungguhan, bukan hanya dalam mimpi.

“Kau tidak apa-apa? Kau pasti baru saja mimpi buruk?!” ucap seseorang yang sedang duduk di samping kanannya. Suaranya sangat ia kenal. Ia menoleh dan menemukan sosok Mastrix dengan rambut biru cerah seperti biasanya. Juga semua anggota lengkap Viva Squad yang lainnya, berdiri di belakang Mastrix.

Tenggara mewek. Ia tidak mampu kehilangan Eleazar dari pandangannya sedetik pun. Ia tidak ingin mimpi terburuk dalam hidupnya itu terjadi. Jika sampai itu terjadi……… tidak terbayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti.

Tanpa berbicara apapun, Tenggara langsung memeluk Mastrix seerat yang ia mampu dan menangis tersedu-sedu, tanpa mempedulikan anggota tim yang lain yang tengah menyaksikan.

“Aku minta maaf! Ku mohon maafkan aku! Jangan pergi!” ucapnya di antara tangisan.

Mastrix balas memeluk Tenggara yang sedang berada dalam karakter White dan mengelus-elus rambut putihnya. “Kau tidak pernah punya salah. Tidak ada yang perlu ku maafkan. Aku aku berjanji, aku tidak akan pergi, White.”

Ia makin terpuruk dengan kesedihannya. Eleazar pria yang sangat tulus menyayanginya. Semua janjinya selalu ditepati.

White melepaskan pelukannya. “Aku ingin mendengarkan penjelasanmu. Dan kali ini aku akan mendengarkannya sampai tuntas.”

Mastrix tersenyum cerah sambil membersihkan jejak airmata White lalu mengusap-usap rambutnya. “Baiklah, jagoan!”

White menghela napas dengan lega.

Seergrowl memberengut. “Hei! Kenapa kau biasa saja saat Mastrix mengusap-usap rambutmu? Padahal tadi ketika aku melakukannya, kau malah marah-marah padaku!”

White tertawa kecil. “Biarin! Kan yang membawaku ke salon itu Mastrix, bukan kamu!”

“Itu tidak adil! Sini, gantian, aku lebih jago daripada Mastrix dalam hal mengacak-acak rambut,” tukas Seergrowl sambil mendekat dan memaksa memegang rambut White.

Tapi White berusaha menghindar. “Tidak mau! Lepaskan tanganmu dari rambutku!”

Angela, Reyori dan Jenna malah tertawa melihat kelucuan itu. Sedangkan Rafter menyandarkan tubuh di dinding sambil melipat kedua tangan di depan dada. Ia tersenyum lemah. Ia merasa ikut senang walaupun ia berharap dialah yang berada di posisi Mastrix.

“Ngomong-ngomong dimana kita sekarang? Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya White.

“Kau pingsan seperti mayat. Ini sudah jam enam pagi. Kita ada di rumah seseorang di dekat sekolah. Entah rumah siapa. Mastrix lah yang tadi menemukan kita lalu membawa kita kesini,” jawab Angela.

White menaikkan alis. Lama sekali ia tidur. Pantas saja eneginya kembali seperti semula dan luka-lukanya langsung sembuh. “Berapa orang yang sudah gugur?”

“Enemy Status!” seru Angela yang langsung muncul hologram virtual besar di depan mereka.

 

 

GET THE HOUSE

‘FINAL 8 BESAR’

 

★ YIN YANG

– Tersisa : 5 pemain

– Gugur : 2 pemain

 

★ EASTERN

– Tersisa : 2 pemain

– Gugur : 8 pemain

 

★ VIVA SQUAD

– Tersisa : 7 pemain

– Gugur : 0 pemain

 

★ SKYFALL

– Tersisa : 0 pemain

– Gugur : 6 pemain

 

★ KAMIKAZE

– Tersisa : 3 pemain

– Gugur : 5 pemain

 

★ GALAXIAN

– Tersisa : 0 pemain

– Gugur : 12 pemain

 

★ SEVEN STARS

– Tersisa : 7 pemain

– Gugur : 2 pemain

 

★ PREDATORS

– Tersisa : 6 pemain

– Gugur : 0 pemain

 

“Tim Skyfall dan tim Galaxian sudah gugur semuanya. Tim yang masih utuh dengan dengan anggota lengkap adalah tim kita serta tim Predators. Anggota banyak tidak ternyata tidak menjamin kemenangan,” ucap Angela.

“Tim Predators itu! Pasti kita bisa menghabisinya dengan formasi lengkap!” gerutu Mastrix. Alis White terangkat sebelah. Pasti Angela sudah menceritakan mengenai serangan tiga pemain tim Predators pada semuanya.

***

White sedang duduk sambil melakukan meditasi di atas tempat tidurnya dengan posisi duduk bersila. Kedua tangannya menghadap ke atas dengan ujung jari ibu dan telunjuk yang saling bertemu. Kedua matanya terpejam dan ia mencoba untuk rileks.

Dengan sabar ia mengatur pernapasannya dan berusaha berkonsentrasi. Melepaskan seluruh permasalahan yang ada di pikirannya dan membiarkan segalanya mengalir seperti air.

Rasanya benar-benar nyaman sekali. Ringan tidak ada beban.

Mendadak, seseorang mengetuk pintu dari luar kamar. “Siapa?” seru White yang langsung membuka matanya.

“Mastrix!” serunya dari luar kamar.

“Masuk!”

Pintu kamar terbuka sedikit dengan kepala Mastrix yang menyembul dari luar. “Apa aku mengganggu?”

“Tidak sama sekali. Masuklah,” suruh White. Mastrix segera melangkah masuk dan menutup pintu dari dalam kamar lalu bergegas mendekati White. Ia duduk di depan White dan ikut bersila.

“Apa yang sedang kau lakukan? Teman-teman yang lain sedang memainkan monopoli di ruang tamu untuk melepas rasa bosan,” kata Mastrix.

White tersenyum tipis. “Aku sedang berusaha mengingat-ingat kalimat dari mantra-mantra sulit yang baru aku temukan di internet.”

Mastrix mengangguk lemah. “Ngomong-ngomong, aku ingin menjelaskan padamu sekarang, mengenai Pak Damma.”

“Iya. Aku sudah menunggu itu sejak tadi. Aku kira kau bakal lupa,” balas White.

Mastrix terkekeh. “Aku tidak mungkin lupa.”

White menyengir saja mendengar hal itu. “Kau bisa menjelaskannya sekarang.”

Si rambut biru itu menarik napas dalam-dalam. “Pak Damma benar menyukaiku. Dia adalah calon kakak iparku.”

Mendengar beberapa patah kata itu saja sudah membuat kedua alis White naik. “Calon kakak iparmu? Maksudmu dia calon suami dari kakak perempuanmu tirimu itu? Sejak kapan Pak Damma menyukaimu? Dan bagaimana bisa?”

“Aku bertemu dengan Pak Damma sekitar satu tahun yang lalu, saat kakakku pertama kali memperkenalkan Pak Damma pada kedua orang tuaku. Setelah itu, mendadak Pak Damma jadi sering berkunjung ke rumahku. Dia orangnya tenang dan enak diajak ngobrol. Dia sering mengajakku keluar untuk jalan-jalan, tanpa kakak tiriku tentunya. Sampai suatu ketika, dia mengatakan perasaannya padaku.”

“Lantas kenapa tidak kau terima?” pancing White.

“Jujur saja. Walaupun kita sudah berpisah sejak SD, tapi aku masih berharap untuk bisa menemukanmu. Lagipula aku sudah tidak bisa tertarik dengan siapapun lagi kecuali orang yang sekarang berada di depanku ini.”

Pipi White langsung merona merah mendengarnya. “Kau bisa saja. Lalu?”

“Lalu aku menolaknya. Untungnya Pak Damma bisa berbesar hati. Sepertinya dia seorang biseksual, dan dia masih berlanjut dengan kakak tiriku yang tidak tahu apapun tentang hal itu. Dan beberapa bulan kemudian, ayah dan ibu bilang kalau mereka akan dipindah-tugaskan ke kota ini. Aku langsung ingat kamu, dan meminta pada ayahku untuk pindah sekolah, masih sambil berharap supaya aku bisa bertemu lagi denganmu. Dan aku merasa sangat senang bertatap muka lagi denganmu di bus sekolah, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tidak bertemu.”

“Lalu akhirnya kau bertemu kembali dengan Pak Damma pas waktu dia mengantarku ke rumahmu waktu itu?” tanya White.

Mastrix mengangguk. “Benar. Dia juga sudah tahu mengenai hubungan kita. Jadi dia tidak akan berani menggangguku. Waktu itu dia hanya khawatir saja karena aku tidak masuk selama dua hari, jadi dia menjengukku. Tapi lain kali, aku tidak akan menyuruhnya masuk ke kamarku lagi deh. Aku kan sudah janji padamu.”

White tertawa renyah. “Janjimu adalah janji yang harus kau tepati. Dan terimakasih sudah menjelaskannya padaku.”

“Kau bisa mengandalkanku, kalau hanya soal memegang janji mah, aku jagonya. Ngomong-ngomong apa ada mantra lain yang bisa digunakan secara umum, tidak?” tanya Mastrix sedikit mengalihkan pembicaraan.

“Mana ada? Aku tidak pernah dengar ada mantra-mantra tertentu untuk Job Warrior. Lagipula berapa lama lagi kita harus bersembunyi seperti ini terus?” tanya White.

“Kita masih menunggu perintah dari kakakmu. Katanya kita akan mulai menyerang jika nanti musuh kita sudah cukup sedikit, atau paling tidak satu tim penuh,” balas Mastrix.

White tersenyum. Dia mendekatkan tubuhnya dan menyadarkan kepalanya di dada Mastrix dengan kedua lengan melingkar di pinggang. Mastrix balas memeluknya sambil menaruh dagunya dia atas ubun-ubun White sambil berharap semoga waktu dapat berhenti saat itu juga.

Mendadak, White melepas pelukannya dan menatap Mastrix dengam polos. “Kapan kita akan menikah?”

Mastrix mengangkat kedua alisnya sambil tertawa geli. White ternyata cukup polos daripada dugaannya.

***

Sudah dua hari tim Viva Squad bersembunyi di dalam rumah yang tempatnya berada di dekat sekolah itu. Selama mereka disana, sempat terdengar beberapa suara ledakan dan pertarungan dari arah sekolah, yang berarti wilayah sekolah memang tidak aman untuk bersembunyi.

Sekarang sudah pukul setengah dua sore lebih seperempat. Semua tim Viva Squad sedang berkumpul di ruang tamu untuk menunggu perintah dari Angela apakah langsung keluar untuk menyerang, ataukah harus sembunyi lagi.

“Enemy Status!” seru Angela diikuti hologram virtual besar yang muncul di depan mereka.

 

GET THE HOUSE

‘FINAL 8 BESAR’

 

★ YIN YANG

– Tersisa : 0 pemain

– Gugur : 7 pemain

 

★ EASTERN

– Tersisa : 0 pemain

– Gugur : 10 pemain

 

★ VIVA SQUAD

– Tersisa : 7 pemain

– Gugur : 0 pemain

 

★ SKYFALL

– Tersisa : 0 pemain

– Gugur : 6 pemain

 

★ KAMIKAZE

– Tersisa : 0 pemain

– Gugur : 8 pemain

 

★ GALAXIAN

– Tersisa : 0 pemain

– Gugur : 12 pemain

 

★ SEVEN STARS

– Tersisa : 0 pemain

– Gugur : 9 pemain

 

★ PREDATORS

– Tersisa : 3 pemain

– Gugur : 3 pemain

 

“Predators tersisa tiga pemain. Sepertinya ini akan cukup mudah!” seru Reyori semangat.

“Mungkin mereka juga bersembunyi seperti kita,” timpal Laydrown.

Rafter tertawa hambar. “Tidak mungkin. Aku yakin mereka-lah yang sudah mengalahkan seluruh pemain yang tersisa. Walaupun hanya tiga orang, tapi mereka itu cukup tangguh.”

“Baiklah, sepertinya sekarang saatnya bagi kita untuk keluar dan mulai menghadapi satu-satunya tim musuh yang masih bertahan. Aku yakin kita pasti bisa menang. Selain kita unggul dari segi jumlah anggota, kita juga masih dalam keadaan yang sangat fit! Semuanya bersiap!” seru Angela. Mereka semua langsung berdiri membentuk lingkaran dan menyatukan tangan di tengah-tengah.

“Apa yang akan terjadi nanti, aku yakin itu adalah jalan yang terbaik untuk kita semua. Kalah atau menang, bukan masalah. Yang penting kita bertarung bersama dan bisa mengerahkan seluruh kemampuan yang kita miliki,” kata Angela sambil tersenyum pada seluruh anggota tim.

“Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku cinta kalian semua. Kalian adalah teman-teman yang terbaik. Padahal kita baru beberapa hari memainkan permainan ini, tapi aku sudah merasa sangat dekat dengan kalian semua,” tambah Jenna.

“Aku juga begitu,” timpal Reyori.

White tersenyum. “Aku juga.”

Angela jadi sedikit terharu melihat kebersamaan anggota timnya itu dan ia sangat senang menjadi bagian dari tim ini.

“Untuk tim Viva Squad!” seru Angela.

“Untuk tim Viva Squad!” seru anggota lainnya secara serempak sambil mengangkat tangan ka atas dengan penuh semangat.

“Sekarang ikuti aku,” kata Angela yang berjalan duluan menuju pintu depan diikuti yang lainnya. Ia membuka pintu secara perlahan, melihat-lihat keadaan halaman yang masih hampa.

Angela dan yang lainnya langsung berjalan keluar dari rumah menuju jalan raya di depan rumah sambil memperhatikan sekitar.

Sepi sekali. Yang terdengar hanya suara angin yang bersemilir menggoyangkan beberapa dahan pohon disekitar situ. Dan mentari senja yang tampak bersinar sendu, sedikit menakutkan.

Angela dan kawan-kawan berjalan ke timur, mengendap-endap ke depan gerbang sekolah yang menghadap ke selatan, dengan hati-hati dan tanpa menimbulkan suara apapun.

BLAAARRR!!!

Mendadak, tanpa ada perkiraan apapun, terdengar sesuatu yang meledak di barisan paling belakang di antara mereka. Angela dan yang lainnya langsung terpental ke arah depan dan jatuh terguling. Ia menoleh ke belakang dan langsung berteriak histeris melihat Jenna, Seergrowl, Laydrown dan Rafter sudah tergeletak di atas jalan aspal dengan bersimbah darah, lalu tubuh mereka langsung menghilang diikuti kemunculan tiga anggota tim Predators, yang masih sama dengan yang menyerang mereka saat di toko swalayan waktu itu. Eclipse, Colossus dan Sarasvati.

“Sial! Tembakanku meleset sedikit! Seharusnya ledakannya kurang ke timur sedikit, supaya bisa mengenai mereka semua. Tapi tidak masalah. Dengan begini, hanya tinggal empat tikus saja yang perlu kita bereskan,” ucap Eclipse dengan sesumbar.

“Apa perlu aku cari perangkap tikus untuk menangkap mereka semua?” timpal Colossus disertai tawa hina dari yan lainnya.

Angela, White, Mastrix dan Reyori yang masih bertahan langsung berdiri dan mempersiapkan senjata mereka. Dengan mudah Eclipse dari tim Predators itu membunuh Jenna, Seergrowl, Laydrown dan Rafter dalam satu kali ledakan. Ini benar-benar sangat tidak bagus.

“Tertawalah sepuasnya sebelum tombak Naginata-ku ini mencabik-cabik tubuhmu hingga potongan terkecil,” balas Angela.

“Oh…. sungguh? Kau benar-benar membuatku ketakutan setengah mati. Haha! Kalian, cepat habisi dia!” seru Eclipse.

“Kita bisa, teman-teman!” Angela memberi komando yang berbeda. Dia langsung berlari menyerang Eclipse, Reyori menghadapi Sarasvati, sedangkan Mastrix menghadapi Colossus.

White tidak tinggal diam. Dia memanggil tiga Skeleton Archer yang masing masing langsung menyerang ketiga pemain musuh dari jauh.

Reyori dengan gesit mengayun-ayunkan kapak raksasanya melawan pedang katana milik Sarasvati yang tampak lebih lentur dari semua pedang katana pada umumnya.

“Kau cukup lincah juga,” kata Sarasvati di sela-sela pertarungan.

“Aku bahkan lebih lincah dari pada yang bisa kau bayangkan!” seru Reyori sambil menyerang gerakan memutar tubuh cepat dengan kapak yang di pegang secara horizontal ke arah Sarasvati. Namun Sarasvati langsung mundur beberapa langkah dan kembali berlari ke arah Reyori dan menjegal kakinya dari bawah hingga Reyori terpelanting dan kapaknya terlepas dari tangannya dengan jarak yang cukup jauh. Dia jatuh tengkurap di atas aspal dengan cukup keras. Ia melirik ke arah belakang, melihat Sarasvati yang mendekat ke arahnya dengan cepat dan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

“Ku pikir kau salah dengan perkataanmu barusan!” serunya sambil menghujamkan pedang ke arah kepala Reyori. Tapi Reyori bergerak lebih cepat. Ia membalik tubuhnya dan menendang tangan Sarasvati yang memegang pedang hingga pedangnya terlempar jauh.

Cepat-cepat, Reyori menghujamkan kaki kanannya ke perut Sarasvati sekuat yang ia bisa hingga wanita itu jatuh terjengkang sambil memegangi perut. Reyori langsung berdiri dan memasang kuda-kuda. Sebenarnya dia ingin sekali berlari ke arah kapaknya, tapi ia tidak tahu kemana jatuhnya.

“Ayo bangun! Jangan hanya tiduran saja di atas aspal!” ejek Reyori dengan kedua tangan mengepal. Ia cukup terlatih bertarung dengan tangan kosong.

Sarasvati langsung berdiri sambil memasang senyum yang mirip seperti orang psikopat. Dia menghindari beberapa anak panah dari Skeleton Archer milik White hanya dengan menggeser sedikit tubuhnya ke depan dan ke belakang. “Kau boleh juga, pelacur! Maju sini kalau berani!” tantang Sarasvati.

Reyori ternganga mendengarnya. Baru kali ini ada orang yang memanggilnya dengan sebutan ‘pelacur’, dan itu benar-benar membuatnya sangat marah. “Brengsek, kau!”

Di sisi lain, Mastrix kini sedang bertarung melawan Colossus, Warrior melawan sesama Warrior. Inilah saat dimana keahlian memainkan pedangnya diuji.

“Terus serang aku sekuat yang kau mampu,” kata Colossus di sela-sela pertarungan.

Mastrix lebih memilih untuk diam dan tidak membalas perkataan lawannya. Konsentrasinya tidak boleh pecah di saat-saat seperti ini.

Ia menyabetkan pedangnya ke kepala Colossus, tapi pria itu melakukan gerakan kayang untuk menghindarinya. Mastrix tidak hilang akal. Ia memainkan pedangnya dengan gerakan zig-zag ke kiri dan ke kanan, dan Colossus bisa menangkisnya dengan pedang dengan gerakan saling silang.

Tapi mendadak sepercik bola sinar berwarna kuning muncul di antara kepala mereka berdua lalu meledak dengan sangat keras hingga Mastrix dan Colossus terpental kuat dan tersungkur dengan tubuh bersimbah darah.

“Mastrix!!” teriak White histeris. Bibirnya bergetar ingin menangis melihat tubuh Mastrix yang tergeletak tak berdaya. Ia berlari ke arah Mastrix. Namun tubuh Mastrix langsung menghilang, sama halnya dengan tubuh Colossus.

White menoleh Eclipse yang tengah bertarung dengan Angela. Pria itu bisa membaca mantra ledakannya sambil bertarung. Tapi bagaimana bisa ia membunuh teman satu timnya sendiri hanya untuk membunuh Mastrix?

“Bangsat!!” umpat White lalu melirik pedang katana milik Mastrix yang tertinggal tepat di samping kakinya. Diambilnya pedang itu dengan mantap. Sekarang tinggal dirinya, Angela dan Reyori yang masih bertahan hidup. Dan di antara mereka bertiga, hanya dirinyayang malah berdiri sendiri dari kejauhan dengan konyol sambil memegang tongkat sihir.

Sekarang saatnya ia melakukan sesuatu dan bergerak di garis depan bersama Angela dan Reyori. White mengangkat pedang katana milik Mastrix itu setinggi dada dengan kedua tangan setelah memasukkan tongkat sihir ke dalam tas pingganya. Ia belum pernah bertarung dengan menggunakan katana sebelumnya. Namun ini bukan saat yang tepat untuk berdiam diri.

Langsung saja White berlari ke arah Eclipse sambil menghunuskan pedangnya. “Kak, minggir!” seru White. Angela melirik ke belakang sedikit ketika ia sedang bertarung melawan Eclipse. Ia terbelalak dan langsung bergeser sedikit dan mundur selangkah ketika White sudah tinggal beberapa meter saja dari Eclipse.

Nahas, Eclipse langsung merapal mantra ledakan yang cukup besar ketika mereka bertiga dalam jarak yang sama.

BLAAARRR!!!

Angela, White dan Eclipse terpental dan jatuh terseret beberapa meter. Kedua tangan mereka bertiga penuh dengan luka akibat ledakan barusan. Pedang katana yang dipegang White terlempar entah kemana, sedangkan tombak naginata milik Angela patah menjadi dua dan tidak bisa ia gunakan lagi.

“Teman-teman! Bertahanlah! Akan ku bantu kalian setelah aku berhasil menghabisi wanita gila ini!” seru Reyori yang sedang bertarung dengan tangan kosong melawan Sarasvati.

“Jangan terlalu yakin dulu!” balas Sarasvati saat Reyori lengah. Ia menangkis kedua tangan Reyori yang akan memukul bagian kepalanya lalu menendang perut Reyori dengan keras hingga ia jatuh terjengkang ke belakang. Reyori memegangi perutnya yang sangat sakit.

Wajahnya sudah banyak luka lebam di beberapa bagian, darah juga mengalir dari luka di atas alis kirinya. Sedangkan Sarasvati hanya tampak berkeringat saja. Sepertinya keahlian Reyori dalam bertarung dengan tangan kosong masih kalah jauh dengan Sarasvati.

“Bagaimana, pelacur? Apa kau masih ingin sesumbar lagi dan berkata kalau kau akan menghabisiku? Ku rasa aku harus menghancurkan mulutmu dengan tanganku terlebih dahulu sebelum kau berbicara hal konyol seperti itu lagi,” hina Sarasvati sambil berkacak pinggang.

Pada saat yang sama, mendadak mata Reyori menangkap sesuatu di balik semak-semak yang ada di samping kanannya. Itu kapak raksasanya, dan jaraknya sangat dekat. Ia melirik Sarasvati dengan hati-hati.

“Kau lah yang akan mati!” pancing Reyori sambil meraba-raba gagang kapaknya tanoa sepengetahuan musuhnya.

“Dasar pelacur!” bentak Sarasvati sambil mengangkat kaki kanannya hendak menginjak perut Reyori. Namun Reyori sudah bergerak lebih dulu. Ia langsung mengayunkan kapak raksasanya secara horizontal ke kaki lutut kiri Sarasvati hingga terputus dari pahanya dan jatuh terjerembab. Darah segar terciprat hingga mengenai wajah Reyori.

“Aaaaaarrrrgghhhh! Bangsat!” erang Sarasvati sambil memegangi lutut kirinya yang bersimbah darah.

Tanpa banyak bicara lagi, Reyori langsung berdiri dan memenggal kepala Sarasvati sambil memejamkan mata karena tidak kuasa melihatnya.

Darah dari leher Sarasvati kembali menciprati wajah dan pakaian Reyori. Reyori masih tetap menutup matanya karena takut. Hingga beberapa detik kemudian, terdengar suara ‘buff’ yang menandakan bahwa tubuh Sarasvati telah lenyap dari arena. Reyori baru berani membuka matanya.

Tinggal jejak darah yang sangat banyak yang ada di depannya sekarang.

Ia sudah berhasil mengalahkan Sarasvati. Ia sangat senang bisa menjadi lebih kuat sekarang. Namun saat ini bukan saatnya untuk bersuka ria.

Tanpa berpikir panjang lagi, Reyori menghampiri White dan Angela untuk membantu mereka berdiri.

Tapi ketika ia melihat sepercik bola cahaya tepat di depan kepalanya, ia langsung mendorong tubuh Angela dan White untuk menjauh darinya.

“Shit!”

BLAAARRR!!!

Tubuh Reyori terpelanting jauh ke belakang dan langsung hilang.

“Reyorii!!” seru White. Ia sudah tidak tahan lagi bermain seperti ini. Ia harus segera mengakhiri babak final kompetisi ini. Ia melirik Eclipse yang berusaha berdiri dengan sempoyongan. Dia itu…. berapa banyak MP yang ia miliki hingga bisa merapal mantra ledakan sebanyak itu?

Ketika White berdiri dan hendak mendekati Eclipse, Angela menghadangnya dengan lengan kanan. “Kau sudah tidak punya senjata lagi. Sekarang kau tinggal memiliki sihirmu.”

White menunduk. Ia tidak bisa menyangkal hal itu. Ia memang tidak punya senjata apapun sekarang kecuali tongkat sihir. Ia langsung mengambilnya dari tas pinggang dan memperhatikannya secara seksama.

“Rapal mantra terkuat yang kau miliki. Aku akan mengalihkan perhatiannya,” ucap Angela lirih sambil memperhatikan Eclipse yang masih berdiri di tempatnya tanpa melakukan apapun. Sepertinya dia sudah tidak bisa lagi merapal mantra ledakan. Dan ini adalah kesempatan bagus.

White mengangguk paham. Walaupun sebenarnya ia bingung harus merapal mantra apa. Ketika ia sedang berpikir, mendadak sejurus listrik datang dari Eclipse dan menyengat tubuh Angela dan White selama beberapa detik.

Keduanya langsung terjatuh lemas di tempat mereka masing-masing. Whitr masih tidak habis pikir. Eclipse benar-benar sangat kuat.

“Menjauhlah, White. Biar aku yang akan menyerangnya. Kau segera rapal mantramu,” kata Angela sambil berdiri. White mengangguk dan segera menjauh beberapa meter.

Beberapa saat kemudian, ia melihat Angela mengeluarkan sesuatu dari tas pinggangnya. White terbelalak begitu menyadari kalau Angela mengeluarkan senjata yang sangat jarang digunakannya, Kusari Gama.

Senjata berupa rantai besar-besar yang panjang, dengan ujung yang menyerupai sebuah sabit.

“Kak! Jangan konyol! Kau belum pernah menggunakan senjata itu!” seru White. Ia merasa khawatir dengan kakaknya. Mengingat kalau senjata itu sangat efektif untuk menyerang lawan, tapi senjata paling berbahaya untuk si pemegang senjata, karena bisa menyerang balik jika tidak cukup ahli memainkannya.

“Ini adalah kesempatan terakhir. Kau jangan terkena serangannya sedikitpun. Menghindarlah jika dia menyerangmu!” seru Angela. Ia sangat melindungi adiknya itu.

White tiba-tiba mulai terisak. Ia sudah cukup shock dengan kematian temannya satu persatu. Tapi ia tidak sanggup jika melihat kakaknya menyiksa diri sendiri.

“Persetan dengan semua ini! Aku sudah tidak sanggup bermain lebih lama lagi!”

Tanpa berpikir panjang, White mengangkat tongkatnya dan merapal sebuah mantra sebelum Angela sempat menyerang Eclipse. Mungkin ini mantra terakhir yang bisa ia rapal di komoetisi ini.

“SHULA MARTIR!” seru White lalu mengarahkan tongkatnya pada Eclipse. Mantra ini merupakan mantra paling fatal di antara mantra lainnya, biasanya disebut dengan mantra bunuh diri. Karena mantra ini akan langsung membunuh musuh, juga si perapal mantra.

Sebuah cahaya biru melesat menuju ke arah Eclipse. Ia langsung bergerah menghindari cahaya itu. Namun ternyata cahaya itu seperti rudal dan akhirnya mengenai tubuh Eclipse.

BUFF!

Tubuhnya langsung menghilang, diikuti tubuh White yang juga langsung menghilang. Meninggalkan Angela sendirian di arena.

White langsung tersadar dirinya sedang tidur terlentang di tengah-tengah Kota Bintang Jatuh. Ia baru saja merapal mantra bunuh diri. Dan Viva Squad sudah menang. Tapi bukan itu yang ia inginkan sekarang. Ada sesuatu hal yang lain yang lebih ia inginkan daripada kemenangan. Ketika ia duduk dan hendak berdiri, mendadak, sebuah tangan terulur ke depan wajahnya.

“Mari, aku bantu kau bangun,” ujar suara seorang laki-laki.

Tiba-tiba terulur tangan yang lainnya. “Sini, biar aku saja,” kali ini suara perempuan.

Lagi, dua buah tangan terulur di depan matanya. “White , kau baik-baik saja kan? Ayo berdiri,” suara seorang perempuan.

“Ayo, ku bantu kau berdiri.”

Dan dua tangan terakhir terulur. “Ayo, sayang. Berdirilah,” suara laki-laki yang sangat ia kenal.

“White, berdirilah,” dan suara terakhir, suara kekasihnya yang langsung membuatnya mendongak.

Untuk pertama kalinya, ia merasa sangat rindu melihat wajah teman-temannya yang terlihat sangat cerah. Teramat rindu hingga membuatnya terisak dan akhirnya menangis tersedu-sedu. Ia sangat senang melihat mereka lagi.

Mastrix langsung membantu White berdiri dan mengusap kedua pipinya. “Kamu kenapa menangis segala?” tanya Mastrix. White tidak kuasa lagi. Ia menghambur memeluk Mastrix dan menangis dengan semakin kencang.

“Cup! Cup! Cup! Sudahlah, jangan manangis lagi. Semuanya sudah berakhir. Kita menang. Kami sudah melihatnya kok.”

Reyori mendekat dan menepuk pundak White. White melepas pelukannya dari Mastrix dan menoleh.

“Aku tahu apa yang kau rasakan, White,” kata Reyori dengan mata berkaca-kaca karena haru. White mengangguk lemah dan memeluk Reyori. Jenna ikut memeluk mereka berdua. Diikuti Mastrix, Laydrown, Seergrowl, dan Rafter yang membuat mereka terlihat semakin tampak konyol. Tapi kekonyolan itulah yang membuat persahabatan mereka semua semakin erat antara satu sama lain.

BUFF!!

Mendadak, sesuatu muncul dari samping mereka. Tampak Angela yang terlentang di atas tanah yang langsung berdiri. Mereka semua langsung melepas pelukan.

“Kita menang,” ujar Angela datar tanpa ekspresi apapun.

White berjalan mendekati Angela. Dan langsung memeluknya dan kembali menangis.

“Sekarang aku tidak peduli sama sekali dengan kemenangan kita. Aku hanya tidak ingin kehilangan teman-temanku,” kata Angela dengan suara serak karena menahan isakan tangisnya.

“Yah, kurasa kita harus segera kembali ke Stadion Balai Kota untuk upacara penutupan kompetisi ini. Juga penerimaan hadiah bagi pemenangnya,” ujar Seergrowl mengingatkan.

“Kau pergilah dulu jika mau. Aku tidak akan pergi jika tidak bersama dengan yang lain,” tutur Reyori.

Jenna mengangguk setuju. “Aku juga.”

“Apa kau mau pergi ke sana sendirian?” sindir Laydrown yang langsung membuat Seergrowl tersenyum malu sambil menggaruk-garuk kepala.

Inilah akhir dari kompetisi ‘Get The House’ yang akhirnya dimenangkan secara dramatis oleh tim Viva Squad. Dan begitu kompetisi berakhir, mereka sadar, bukanlah kemenangan lagi yang mereka inginkan. Melainkan kebersamaan dengan seluruh anggota tim.

Selalu bersama di saat senang, maupun susah.

***

EPILOG

 

Cuaca di dunia Secondary beberapa hari ini mengalami keadaan yang sangat ekstrim. Mendadak, hari ini turun salju yang cukup lebat hingga menutupi jalanan dengan ketebalan mencapai dua puluh sentimeter.

Tapi untunglah rumah baru tim Viva Squad, yang mereka sebut sebagai markas, memiliki sistem pemanas ruangan. Jadi rasanya sangat nyaman sekali berada di dalam rumah.

Rumah dari hadiah kompetisi ‘Get The House’ itu terbilang sangat besar, malah terlalu besar dan megah jika untuk menampung mereka semua. Tapi itu tidak jadi masalah sama sekali. Bahkan masing-masing anggota mendapatkan satu kamar pribadi. Tentu saja kecuali White yang sekamar dengan Rafter.

Saat ini, Laydrown dan Seergrowl sedang berada di ruang tamu, bermain catur. Bidak catur di dunia Secondary sama dengan di dunia nyata, tapi cara memainkannya dengan mengucapkan perintah kepada pion-pion diatasnya yang akan bergerak-gerak sendiri sesuai perintah.

Mastrix yang tidak ada kegiatan hanya melihat mereka bedua bermain sambik memberi beberapa saran.

Mendadak, Jenna dan Angela turun dari atas tangga dengan mengenakan pakaian berbulu tebal dan langsung menghampiri Mastrix. “Mastrix, White dimana?” tanya Angela.

“Dia sedang berada di kamar, sedang membereskan kamarnya bersama Rafter. Ngomong-ngomong, kalian mau pergi kemana?”

“Oh, kami ingin berjalan-jalan sebentar! Sudah lama tidak melihat-lihat Kota Bintang Jatuh. Apalagi sedang salju seperti ini. Pasti lebih menarik,” kata Jenna dengam menggebu-gebu.

“Ya sudah kalau begitu, kami pergi dulu ya! Da-dah!” tukas Angela memberi salam lalu berjalan menuju pintu depan dan menghilang di balik pintu.

Ketika suasana mulai kembali tenang, suara keributan terdengar lagi. Kali ini Reyori yang turun tergesa-gesa dari tangga, juga dengan memakai pakaian berbulu tebal.

“Aduh, teganya mereka berdua meninggalkan aku!” umpatnya sambil berlari menuju pintu depan tanpa mengetahui kalau Mastrix, Laydrown dan Seergrowl berada di ruang tamu.

Mastrix jadi berpikir ulang, apakah ia perlu memeriksa White atau tidak. Tapi semakin lama ia memikirkan White, semakin ia ingin melihatnya. Akhirnya ia beranjak dari kursinya. “Aku ke atas dulu. Mau membantu White membereskan kamar,” kata Mastrix langsung berjalan cepat menaiki tangga menuju lantai dua.

Pintu kamar terbuka, dan White tampak sedang mengomeli Rafter yang sedang tiduran di atas kasur.

“Bangun dong! Aku ingin merapikan tempat tidur!” White mulai hilang kesabaran.

Mastrix mengetuk daun pintu tiga kali. “Boleh aku masuk?”

Rafter langsung menoleh dan berdiri. “Oh, baiklah. Aku tahu. Aku akan pergi saja,” ujarnya sambil berjalan menuju pintu kamar. White mengernyit melihat tingkah Rafter yang aneh.

Ketika ia berpapasan dengan Mastrix, Rafter membisikkan sesuatu. “Dia banyak mengomel hari ini. Mungkin kamu bisa menenangkannya.”

Rafter berlalu pergi sambil menutup pintu dari luar kamar. White menjatuhkan bokongnya di tepian kasur sambil mendesah.

Mastrix berjalan mendekat dan duduk di samping White. “Kau kenapa terlihat kacau? Apa ada masalah?”

White menggeleng.

“Kau tidak bisa bohong padaku, sayang,” ujar Mastrix. Untuk kedua kalinya, Mastrix memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’.

White menggigit bibir bawahnya. “Bisakah aku sekamar denganmu? Aku tidak bisa sekamar dengan Rafter. Dia terus saja menggodaku sepanjang waktu dan itu membuatku jengah,” kata White.

Mastrix menarik dagu White dan mengecup bibirnya sekilas. “Kamarku akan selalu terbuka untukmu.”

Mendadak, Mastrix merebahkan tubuh White dan menindihnya dari atas. Ia menciumi bibir White dengan intens dan lama.

Hingga beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka secara tiba-tiba. Mereka berdua melepas ciuman dan menoleh cepat. Rafter tengah berdiri disana dengan mulut ternganga. Ia langsung masuk dan menutup pintu dari dalam.

“Oh, astaga! Tolong jangan jadikan kamarku sebagai tempat kalian bercinta!” omel Rafter.

Mastrix dan White saling berpandangan dan tertawa geli bersama-sama.

 

★ TAMAT ★