Secondarycover

Nayaka Says…

Jujur aku baru baca cerita ini setengahnya, dan sedikit mengintip endingnya. Menarik. Itu kesimpulanku dan hal itu pula yang membuatku bersedia mempublishnya di blog ini. Kenapa kubilang menarik? Pertama, karena penulisnya kukira adalah orang Jepang, atau setidaknya punya kerabat atau teman yang tinggal di Jepang, atau kalau gak punya teman dan kerabat yang tinggal di Jepang setidaknya punya koleksi manga atau anime mereka, hihihi (peace, Kazuto). Kedua, aku suka idenya, sci-fi. Ide paling sulit digarap menurutku. Ide yang masih jarang-jarang muncul juga di ranah kepenulisan LGBT. Salut buat penulisnya.

Kurasa, sudah banyak yang tahu tulisan ini mengingat penulisnya punya lapak sendiri. Tapi di lapaknya kupikir cerita ini dipenggal-penggal biar yang baca juga terkutung-kutung dalam penantian apdetan, mungkin admin lapaknya (termasuk dia sendiri) menikmati ketika para pembaca mengetik komen seperti ‘Min, lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut’ sambil teriak-teriak ketika mendapati tombol U di keyboard mereka jebol, hihihihi (peace lagi, Kazuto).

By the way, gimana ya kalau Konsol GS beneran ada? hemm… mungkin aku akan seperti Tenggara dalam cerita ini, awalnya gak gila game lalu jadi ketagihan.

Akhirnya, selamat membaca.

***

SECONDARY

Oleh : Kazuto Nishimura

***

 

Bus sekolah itu melaju dengan kecepatan sedang, melintasi jalan-jalan di kota metropolis ini. Tampak gedung-gedung pencakar langit berlari dan saling berkerjaran satu sama lain.

Tenggara Suwandra, remaja laki-laki kelas dua SMA yang sedang duduk tepat di belakang kursi supir bus itu memejamkan mata dengan tangan kanan yang menyangga dagunya. Ia tertidur pulas, tanpa mempedulikan anak-anak sekolah lainnya yang tampak sangat bersemangat sekali pagi ini. Bahkan pak supir pun juga tampak senang. Dan tumben sekali laki-laki paruh baya berkumis lebat itu menyetrika seragam supir busnya hari ini.

“Pegangan anak-anak!” teriak pak supir tiba-tiba, namun dengan tenang. Begitupun anak-anak yang lain juga berpegangan dengan tenang dan masih berbincang-bincang. Hingga tiba-tiba bus itu menghentikan lajunya secara mendadak, membuat tubuh Tenggara terdorong ke depan dengan cepat. Keningnya terbentur jok supir dengan keras.

“Aw!” teriaknya.

“Nak Tenggara tidur lagi? Ya ampun,” tukas Pak Supir.

“Maaf, Pak. Maaf!” seru Tenggara lalu kembali duduk di kursinya.

“Nak Tenggara selalu saja tidur kalau berangkat sekolah. Memangnya setiap malam Nak Tenggara selalu begadang?”

“Hehehe, tidak, Pak. Mungkin cuma kelelahan setelah mengerjakan tugas rumah.”

Pak supir itu hanya menggeleng.

Sekarang kepala Tenggara rasanya nyut-nyutan. Ia menggosok-gosok keningnya, hingga ia merasa mendingan. Mereka belum tiba di sekolah, melainkan berhenti di sebuah halte bus. Dan beberapa siswa sekolah masuk ke dalam. Bus ini tidak hanya untuk siswa SMA saja, namun juga SD dan SMP.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya seseorang. Tenggara menoleh cepat dan menemukan sesosok remaja laki-laki jangkung yang memakai seragam SMA, bermata sendu tajam menatap ke arahnya. Laki-laki itu berwajah sangat tampan. Rambut pendek cokelat cenderung hitam, serta mata cokelat terang yang tampaknya bisa menghipnotis siapa saja yang menatapnya.

“Hm.. Duduk saja,” balas Tenggara dengan senyum biasa seperlunya. Ia berusaha bersikap biasa. Namun jantungnya berdegup dua kali lebih cepat saat pundak mereka saling bersenggolan.

“Eh, maaf!”

“Tak apa. Santai saja,” balas laki-laki itu dengan tenang. Tenggara melirik ke arah seragamnya. Polos. Sama sekali tidak ada tanda nama atau almamater. Tidak seperti seragam Tenggara yang ada tag nama lengkap dan almamater sekolahnya, SMA Tunas Emas. Bisa saja ia tidak satu sekolah dengan Tenggara. Atau dia bukan anak sekolah? Tapi ia memakai seragam dan tas. Ah sudahlah! Tenggara tidak mau ambil pusing.

Oh, di samping itu semua, sekolah Tenggara berbaur menjadi satu dengan SMP Nusa Karya. Daerah kedua sekolah tersebut jadi satu, tapi bangunannya sendiri-sendiri. Jadi kebanyakan murid yang lulus dari SMP Nusa Karya biasanya melanjutkan ke SMA Tunas Emas. Dan Tenggara adalah salah satunya.

Beberapa saat kemudian, bus itu kembali berjalan setelah seorang penumpang terakhir naik. Seorang gadis kecil berambut kepang. Sepertinya baru kelas dua atau tiga SD. Ia berjalan ke belakang dengan gugup. Namun tidak menemukan kursi kosong. Anak itu kembali berjalan ke depan dan akhirnya berdiri di samping belakang supir sambil menjalin kedua tangan di depan badan.

Tenggara sedari tadi memperhatikan gadis kecil itu, merasa kasihan. Ia berdiri dan memperhatikan seluruh kursi dalam bus yang tampaknya memang sudah penuh.

“Dek, adek cantik!” panggil Tenggara. Gadis kecil itu menoleh. Tenggara menepuk-nepuk tempat duduknya. Wajah anak itu langsung sumringah. Ia berjalan cepat ke arah Tenggara dan segera duduk di tempat Tenggara.

“Terimakasih, Kak!” serunya senang.

“Sama-sama,” balas Tenggara lalu berdiri di samping laki-laki tampan tadi dengan satu tangan yang bergelantungan. Laki-laki itu tampak mendongak memandang Tenggara dengan tajam, namun Tenggara tidak memperhatikan hal itu.

“Kakak baik, namanya siapa?” tanya gadis kecil yang baru saja mendapatkan tempat duduknya.

“Nama kakak Tenggara. Kalau nama Adek?”

“Namaku Fevia, Kak. Sekali lagi, makasih ya, Kak.”

“Iya, sama-sama, Fevia,” balas Tenggara lalu tidak sengaja memandang laki-laki tadi yang ternyata juga memandang ke arahnya dengan senyum. Dadanya kembali berdebar. Senyumnya sangat memikat. Aneh sekali, Tenggara merasa tidak pernah mengenal laki-laki itu, tapi kenapa wajahnya sangat familiar?

***

Jam pelajaran pertama dan kedua di kelas Tenggara diisi oleh Pak Usman, yang mengajar pelajaran Sejarah, pelajaran paling membosankan yang pernah ia pelajari semasa hidupnya. Mungkin cara pengajaran Pak Usman yang tidak tepat atau mungkin karena faktor lain.

Di SMA Tunas Emas, sistem pembelajaran dibuat secara berkelompok. Satu kelas dibagi menjadi enam kelompok belajar, setiap kelompok rata-rata terdiri dari lima anak, dan di kelasnya, kelompok Tenggara satu-satunya yang memilki anggota empat orang, dua laki-laki dan dua perempuan. Yaitu Tenggara sendiri, lalu ada Jenna Rosmiaz―gadis berkaca mata berambut panjang dikuncir kuda―yang setiap harinya selalu menyibukkan diri dengan tumpukan buku. Kemudian ada Reyori Olimpia―gadis cantik periang bermata sipit dengan gaya rambut yang unik karena sisi kanannya dipangkas habis, menyisakan rambut bagian atas, belakang, dan bagian kiri yang dibiarkan panjang terurai. Dan yang terakhir adalah Top. Nama aslinya Geovanix Mustofa, tapi dia lebih suka dipanggil Top, laki-laki bertubuh tinggi, berwajah manis dan menyenangkan dengan selera humor yang lumayan. Dulu waktu SMP, Tenggara pernah sempat marah pada Top dan puasa bicara dengan anak itu selama beberapa hari karena hal sepele. Top sempat melempar lelucon yang sama sekali tidak lucu padanya.

Waktu itu ia taruhan dengan Debo Dimistra, salah seorang siswa yang satu kelas dengan mereka, bertubuh agak gendut dengan kancing kerah seragam yang selalu dipasang, mengenai salah satu pertandingan gulat di televisi. Mereka berdua masing-masing memegang jagoannya. Hingga Debo menantang Top untuk taruhan. Debo berkata kalau dia akan menraktir Top di kantin selama seminggu penuh jika jagoan Top menang.

Entah apa yang ada di pikiran Top waktu itu. Ia mungkin berpikir kalau taruhan ini pasti hanya main-main dan bukan hal yang serius. Tanpa berpikir panjang, Top berkata kalau ia berani mencium Tenggara di depan semua siswa satu kelas. Saat itu Tenggara sedang tidak berada di kelas.

Namun ternyata ia salah. Ketika jagoannya kalah dalam pertandingan gulat tersebut, besoknya Debo menagih janjinya. Top berusaha untuk menolak. Ia tidak bisa melakukan hal seperti itu pada Tenggara. Terlebih ia dan Tenggara tidak terlalu kenal dekat satu sama lain pada saat itu. Debo tidak tinggal diam. Ia berteriak kepada seisi kelas kalau Top adalah pengecut. Ia melontarkan kata-kata yang memancing emosi Top. Hingga pada puncaknya, Top menghampiri Tenggara yang pada saat itu tengah memainkan ponsel. Dan dengan cepat, ia meraih leher Tenggara, mencium bibirnya lalu pergi keluar kelas meninggalkan Tenggara yang tengah tersulut emosinya karena ditertawakan oleh Debo dan seisi kelas. Bahkan setelah itu mereka berdua tidak pernah bicara karena seisi kelas mengatai Top dan Tenggara sebagai pasangan serasi.

Tapi singkat cerita, akhirnya Top tidak tahan dengan sikap Tenggara dan teman-teman seisi kelas. Ia meminta maaf pada anak itu dan menceritakan hal yang sebenarnya. Dan esoknya, Tenggara pun dengan lantang memberitahu seisi kelas mengenai hal yang sebenarnya terjadi. Debo pun langsung dimusuhi oleh seisi kelas. Syukurlah Debo melanjutkan sekolah di luar kota.

Permintaan maaf Top mengubah dan memperbaiki hubungan mereka berdua. Namun hanya satu hal yang Tenggara bingungkan. Kenapa Top memilih bertaruh untuk menciumnya? Padahal waktu itu mereka berdua masih belum dekat. Tapi sekarang Tenggara tidak mempermasalahkan soal itu semua. Hatinya kali ini sangat senang. Ia mendengar kabar burung kalau hari ini para siswa bisa pulang pagi karena akan ada rapat dewan guru. Tapi entahlah, Tenggara juga tidak terlalu yakin.

Kalau memang pulang pagi, ia sudah berencana pergi bersama Top ke sebuah pusat perbelanjaan game untuk membeli sebuah perangkat game terbaru. Alat ini dibuat dari Jepang dan hari ini launching perdana di seluruh kota besar di Indonesia. Dan yang menarik adalah hanya pada hari ini saja ada diskon 40%.

Memang dalam satu dekade ini, dunia teknologi mengalami perkembangan pesat, terlebih di negara Jepang. Di antara semua aspek dunia teknologi, game dan alat komunikasi mengalami perkembangan yang paling signifikan.

Sebenarnya Tenggara hanya menemani Top saja ke sana. Temannya itu seorang maniak game. Tapi Tenggara sepertinya juga tertarik dengan alat itu setelah mendengar beberapa hal dari Top. Nama alat itu Game Starter atau GS. Ia tidak tahu seperti apa game itu, karena Top tidak  mau menjelaskan padanya untuk membuat Tenggara penasaran. Ia hanya menceritakan sekilas kalau kita bisa bermain game ‘Secondary’ dengan menggunakan GS. Apa itu ‘Secondary? Tenggara juga tidak paham. Tapi mayoritas siswa sekelas juga sepertinya sudah mengincar peluncuran alat tersebut di Indonesia. Mungkin Tenggara sendiri kurang up-to-date dengan perkembangan teknologi game. Dan hal ini membuatnya semakin penasaran serta ingin melihat secara langsung.

Yang jelas pokoknya kita bisa main game. Harganya tidak terlalu mahal, seharga ponsel canggih saat ini, apalagi ditambah diskon 40%. Untungnya lagi, jatah uang bulanan Tenggara dari orang tua baru saja cair ke akun rekeningnya kemarin lusa, mungkin kalau memang benar-benar menarik, ia akan ikut membelinya.

Beberapa saat kemudian, seorang wanita gemuk berkacamata dengan rambut digulung masuk ke dalam kelas, menghentikan proses mengajar Pak Usman. Itu adalah wali kelas Tenggara, Bu Yutari. Tenggara merasa riang. Biasanya kalau Bu Yutari datang, selalu membawa informasi yang menyenangkan. Mungkin saja beliau hendak memberitahu tentang ‘rapat’.

“Maaf, Pak, boleh saya minta waktunya sebentar?” ucapnya dengan lembut.

“Oh, silahkan, Bu Yutari.”

Bu Yutari berjalan menuju tengah-tengah di samping meja guru. “Anak-anak, Ibu ke sini ingin memberitahu kalau kalian akan mendapatkan kawan baru,” kata Bu Yutari sambil berjalan keluar sebentar lalu kembali masuk ke dalam lagi sambil menggandeng tangan seorang remaja laki-laki berwajah tampan nan tegas.

Tenggara sepertinya pernah bertemu dengannya. Ia merenung dan berusaha mengingatnya.

Aha! Bukankah dia itu laki-laki di bus sekolah tadi? Ia masih ingat dengan pakaian seragamnya yang polos tanpa tanda pengenal apapun.

“Ayo, Nak, perkenalkan namamu,” suruh Bu Yutari.

“Selamat pagi. Nama saya Eleazar Hiroma, pindahan dari SMAN 44.”

Tenggara terkesiap. Eleazar Hiroma? Secuil ingatan masa lalu seperti muncul tiba-tiba dalam pikirannya. Ia ingat nama itu. Dan wajah laki-laki itu, sayu matanya, lekuk rahang dan hidungnya. Sama persis. Tidak salah lagi.

Beberapa saat Tenggara termangu dalam ingatan masa lalunya, ia segera tersadar begitu Eleazar selesai memperkenalkan diri dan Bu Yutari memintanya untuk duduk di meja kelompok Tenggara yang memiliki jumlah anggota paling sedikit.

Tapi Tenggara malah terdiam kaku di tempatnya sambil menunduk ketika Eleazar berjalan ke arah meja mereka. Langsung saja Eleazar duduk di antara kursi Top dan Reyori. Ketiga temannya tampak saling berkenalan dengan Eleazar. Tenggara menggaruk-garuk tengkuknya. Benar-benar merasa canggung.

Hingga tiba-tiba Eleazar mengulurkan tangan pada Tenggara. “Namaku Eleazar.”

“Eh, uhm… Iya. Anu… Namaku Tenggara. Tenggara Suwandra,” balasnya sambil menjabat tangan Eleazar sebentar.

“Apakah kau ingat padaku?” tanya Eleazar. Pertanyaan ambigu bagi Tenggara.

“Ehm.. Iya, aku ingat. Tadi kita bertemu waktu di bus sekolah.”

Eleazar tampak mengangguk pelan. Tampaknya ia tidak puas dengan jawaban Tenggara, seperti menginginkan jawaban lebih. Tenggara pun juga terlihat tidak nyaman ketika Eleazar memandangnya.

“Anak-anak, nanti setelah jam pelajaran kedua selesai, kalian bisa langsung pulang ke rumah masing-masing. Karena nanti akan ada rapat untuk seluruh dewan guru,” kata Bu Yutari sebelum keluar kelas yang langsung membuat seisi kelas berceloteh riang. Termasuk Tenggara. Dan ajaibnya, hal ini membuatnya bersemangat di menit-menit terakhir mengikuti pelajaran Pak Usman sebelum bel pulang berbunyi.

***

Bel pulang di sebuah sekolah dasar sudah berbunyi beberapa saat yang lalu. Semua ruang kelas tampak sudah kosong dan sepi sekali. Tapi masih tampak satu orang anak laki-laki kecil kelas dua yang masih setia menunggu seseorang di dalam kelas. Ia merangkul tas punggungnya dan menatap jam, sambil berharap semoga yang ia tunggu segera datang.

Menunggu dan menunggu. Ia tidak pernah merasa bosan untuk menunggu seseorang yang benar-benar ingin ia temui sekarang. Tapi tumben sekali dia terlambat siang ini. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara derap kaki yang kian mendekat.  Terlihat seorang anak laki-laki masuk ke dalam kelas dan menghampiri anak yang sedari tadi telah menunggunya.

“Tenggara, maaf, apa kau sudah lama menungguku?” tanyanya dengan napas terengah-engah.

“Tidak, Eleazar. Memangnya kau habis dari mana? Tidak biasanya kau datang terlambat ke kelasku.”

Eleazar kecil tampak murung. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi rasanya sangat berat. “Aku habis dari ruang administrasi sekolah,” jawabnya.

“Ruang administrasi sekolah? Untuk apa kau ke sana?”

Eleazar kecil menunduk menatap lantai dengan perasaan gundah. “Tenggara. Maafkan aku. Aku harus pindah sekolah ke luar kota.”

Tenggara mengernyit, merasa ada yang salah dengan pendengarannya. “Apa kau bilang?”

“Keluargaku akan pindah keluar kota. Jadi aku juga harus pindah sekolah.”

Tenggara kecil terlihat begitu tidak percaya. “Tapi kenapa kau harus pindah sekolah? Kau masih bisa sekolah di sini. Kau bisa tinggal dirumahku. Dengan begitu kita tidak perlu berpisah, kan?”

“Maafkan aku. Tapi sepertinya kehendak ayahku tidak bisa kucegah,” balas Eleazar dengan kedua tangan mengepal.

Mata Tenggara memerah berkaca-kaca. Ia langsung menghambur memeluk Eleazar dengan erat. “Kau tidak boleh pergi!! Kau tidak boleh meninggalkanku!”

Eleazar balas mendekap tubuh Tenggara. “Kau jangan sedih. Kita pasti akan bertemu lagi nanti. Aku janji padamu.”

Tenggara mundur selangkah dan melepas pelukannya. Ia masih belum bisa berkata apa-apa.

“Nanti kalau kita bertemu lagi, aku akan menjadikan kau sebagai pangeranku selamanya,” ucap Eleazar kecil lalu mencium kening Tenggara dengan lembut.

*

Tenggara merasa terkejut ketika ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Ia berbalik dengan cepat dan menemukan sosok Top yang sudah siap dengan motornya. Astaga! Tenggara melamunkan hal yang tidak penting. Ia segera mengenyahkan pikiran masa lalunya itu cepat-cepat. Sadarlah! Itu semua hanya cinta monyet, Tenggara! Sekarang kau sudah besar! Dan yang pasti Eleazar yang sekarang akan lebih tertarik untuk memiliki kekasih seorang gadis cantik daripada dirimu.

Benar-benar masa lalu yang membuatnya pusing sekaligus memalukan. Untungnya tadi ia berpura-pura baru mengenal Eleazar. Dan sepertinya Eleazar juga sudah melupakan masa-masa itu. Jaman sudah berubah, tentu saja sikap Eleazar juga akan berubah.

“Kita berangkat sekarang?” tanyanya sambil menyerahkan sebuah helm pada Tenggara. Tenggara hanya mengangguk lemah sambil memasang helm itu di kepalanya dan naik di boncengan. Beberapa saat kemudian, motor itu menderum keras dan melaju meninggalkan area sekolah.

Tenggara menaruh tasnya di antara tubuhnya dan tubuh Top. Padahal Top sudah menaruh tas punggungnya sendiri di bawah.

“Top!” panggil Tenggara.

“Apa?”

“Tempatnya tidak jauh, kan?”

“Tidak kok. Memangnya kamu belum pernah ke sana?”

“Belum sama sekali.”

“Baiklah. Tunggu sampai kau akan lihat betapa ramainya tempat itu.”

Sekitar 6 menit kemudian, mereka sampai. Top melajukan motornya pelan ke parkiran sebuah pusat perbelanjaan barang-barang elektronik bernama TECHNOLO-GAME. Nama yang cukup aneh untuk sebuah tempat yang sangat populer. Bahkan parkirannya saja sudah sangat penuh dan berdesak-desakan. Untungnya ada seorang petugas parkir yang membantu Top memarkirkan motornya. Mereka berdua langsung turun dan berlari masuk ke dalam.

“Semoga saja kita tidak kehabisan! Soalnya kita sudah terlambat satu jam!” seru Top. Tenggara hanya menyengir. Begitu tiba di dalam, ternyata tempat itu luas dan ramai sekali. Banyak sekali pelajar SMA yang datang ke sini. Tak hanya pelajar, tapi juga ada orang-orang dewasa, bahkan ada beberapa yang mungkin sudah berumur setengah abad.

Top menarik tangan Tenggara dan berlari ke sebuah barisan bersamanya. Tampak sebuah banner bergambar kacamata berwarna silver yang di sampingnya ada tuliskan “Launching Secondary Benua Selatan”. Tenggara tidak mengerti apa maksudnya.

“Top! Itu maksudnya apa?!” tanya Tenggara pada Top yang berdiri di depannya sambil menunjuk ke banner tersebut.

“Oh, itu artinya Indonesia masuk ke bagian benua selatan,” jawabnya singkat namun tidak jelas. Bukankah Indonesia ada di Asia Tenggara? Kenapa benua selatan?

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Jangan khawatir. Nanti setelah kau membelinya, kau akan mendapatkan buku panduannya juga. D isitu nanti ada berbagai macam penjelasan.”

Tenggara hanya mengangguk setelah antrean itu mulai begerak maju. Ia menoleh ke belakang dan mendapati kalau di belakangnya sudah berjejer barisan lagi. Fiuh! Untung saja mereka berdua cepat-cepat ke sini.

Sedikit demi sedikit, mereka berdua mulai dekat dengan meja kasir. Sebenarnya tidak hanya satu barisan antrean di situ, melainkan ada lima. Tenggara dan Top berada di barisan tengah.

Lima belas menit berlalu, akhirnya Top bisa mencapai meja kasir yang dijaga oleh seorang perempuan tinggi nan cantik. “Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?” tanyanya.

“Beli dua GameStarter,” jawab Top sambil menatap Tenggara yang ada di belakangnya.

“Kau akan kubelikan satu,” bisik Top. Tenggara hanya menyengir. Padahal ia hanya ingin menemani Top saja. Tak bisa dipungkiri kalau Tenggara juga menginginkannya. Jadi ia tidak menolak dan memilih untuk diam saja.

Lima menit kemudian mereka sudah berada di luar gedung sambil menjinjing sebuah kantong berukuran sedang di  tangan masing-masing.

“Kita langsung pulang saja ya,” usul Top begitu mereka tiba di parkiran.

“Kau sudah tidak sabar ingin memainkannya ya?” goda Tenggara.

“Sepertinya kau masih ingin bersama denganku. Oke, tidak apalah kalau kita kencan sebentar,” balas Top sambil terkekeh.

“Sepertinya otakmu sedang bermasalah,” balas Tenggara. Top kembali terkekeh sambil mendorong kepala Tenggara dari belakang.

***

Sesampainya di rumah, Tenggara langsung duduk di ruang tamu sambil mendesah. Dengan sabar, ia membuka bungkusan kardus yang isinya adalah GS atau GameStarter. Setelah dibuka, ternyata bentuknya memang sama persis dengan yang ada di gambar banner tadi. Bentuknya seperti kaca mata, tapi melengkung melingkar hingga ke bagian belakang, dan tidak ada kaca lensanya. Seperti sebuah bando besi yang berukuran tebal, hanya ada tombol power di bagian samping kanan. Di sebelah tombol power ada lagi tombol kecil bertuliskan “LOG”. Di bagian dalamnya ada sensor-sensor yang berpola sedemikian rupa. Selain itu juga ada benda seperti sebuah head-phone yang menyambung pada GS lewat sebuah kabel kecil.

“Apa itu?” tanya seseorang secara tiba-tiba dari belakang Tenggara yang membuatnya luar biasa kaget. Ternyata itu kakak perempuannya, Delmora Suwandra. Wanita bertubuh langsing, tapi tingginya tak lebih dari tinggi badan adik laki-lakinya, dengan rambut di gulung dan ditusuk dengan konde. Delmora baru saja sarjana setahun yang lalu, dan sekarang sudah bekerja menjadi anggota staf marketing sebuah perusahaan makanan ringan.

“Aduh, Kak! Tidak ada pekerjaan lain ya selain mengganggu orang lain?!” omel Tenggara yang membuat Delmora terkekeh. Tenggara kembali duduk dan mengambil buku panduan dari dalam kardus tanpa memedulikan kakaknya yang sekarang sudah duduk di sampingnya.

“Kau beli GS?” tanya Delmora sambil memegang GS milik Tenggara. Tenggara pun langsung mengambilnya dari tangan kakaknya secepat kilat. Bagaimana kakaknya bisa tahu-menahu soal GS?

“Kakak sendiri kenapa sudah pulang jam segini?” tanya Tenggara mengalihkan perhatian.

“Hari ini aku libur kerja. Bukannya kau sudah tahu kalau kakakmu ini libur pada hari Sabtu?! Kau sendiri kenapa jam segini sudah pulang sekolah? Atau jangan-jangan kamu bolos sekolah hanya untuk beli konsol GS?!” tuduh Delmora.

“Enak saja! Hari ini ada rapat dewan guru. Jadi semua siswa dipulangkan lebih awal.”

“Alasan klise. Untung ayah dan ibu lagi bulan madu ke Jepang dan tidak mau diganggu oleh siapapun. Jadi kau bisa aman untuk sementara waktu,” ujar Delmora.

“Terserahlah kalau kakak tidak mau percaya kata-kataku. Yang penting aku sudah berkata jujur. Dan mengenai ayah dan ibu, bukankah mereka akan segera pulang beberapa hari lagi?”

Belum sempat Delmora membuka suara lagi, bel pintu rumah berbunyi. Delmora bertepuk satu kali dengan riang, berlari membuka pintu lalu menutupnya dari luar. Dan beberapa detik kemudian, Delmora kembali masuk ke dalam rumah sambil menenteng kardus yang mirip dengan kadus Tenggara. Juga dengan logo GS di permukaan kardusnya.

“Kakak juga membeli GS?” tanya Tenggara yang tampak melongo. Kakaknya itu bukan orang yang begitu paham dengan dunia game, sama seperti dirinya.

“Semua orang di kantor membicarakan tentang konsol GS ini. Jadi kakak penasaran dan membelinya satu, lewat toko online. Padahal kakak belinya tadi pagi, tapi cepat sekali tibanya. Lumayan dapat potongan harga 45% kalau beli lewat toko online,” ujarnya sambil duduk di samping kanan Tenggara. “Eh! Akan ku buka di kamar saja. Sampai jumpa nanti,” kata Delmora cepat-cepat sambil beranjak dari sofa menuju kamarnya.

Tenggara hanya menggeleng sambil melihat kakaknya yang berlari lincah menaikki tangga menuju lantai dua. Tanpa menghiraukannya lagi, Tenggara mulai membaca buku panduan itu. Betapa ia bingung ketika semua halamannya hanya berisi tulisan yang sama: “Buku Panduan ada di dalam game ‘Secondary’. Begitu Anda memulai game, maka Anda akan mendapatkan buku panduan tersebut. Baringkan tubuh Anda, pasang GameStarter di kepala Anda, kemudian tekan tombol power dan LOG secara bersamaan untuk mulai game ‘Secondary’.”

Dengan kesal, Tenggara melempar buku itu ke sembarang arah dan segera berlari ke kamarnya sambil membawa GS miliknya. Buang-buang waktu saja ia membaca buku itu.

Setibanya di kamar, ia langsung berbaring dan memasang GS seperti memakai kacamata dan menekan tombol power serta tombol LOG secara bersamaan. Terdengar suara ‘klik’ yang sedikit nyaring. Sesuatu seperti menekan pelipisnya di beberapa titik. Tubuhnya terasa semakin lemas dan semakin lunglai tak bisa bergerak sama sekali. Hingga akhirnya terdengar bunyi ‘splaasshh’ yang membuat Tenggara tersadar kalau sekarang ia berada di sebuah tempat aneh dengan lantai dan langit-langit bermotif kotak-kotak seperti papan catur besar tanpa ujung.

“Ini mimpi atau bukan sih?” tanya Tenggara lebih kepada dirinya sendiri. Ia mencubit pipinya dengan keras sekali. “Aw!! Sakit!!” teriaknya.

Tiba-tiba muncul seorang wanita memakai pakaian seperti robot, yang duduk di dalam sebuah tempat seperti telur besar melayang yang dilapisi dengan banyak kabel dan besi.

“Selamat datang di game Secondary. Saya adalah Arimi Sayukino, GameMaster. Saya akan memandu Anda dalam melakukan pendaftaran game Secondary. Secondary adalah ‘virtual reality game’, dimana para pemain akan merasakan sensasi kenyataan sebesar sembilan puluh lima persen. Mohon tunggu sebentar. Saya akan men-scan dan mengambil data diri Anda,” katanya. Lalu sebuah sinar muncul dari atas kepala Tenggara dengan bunyi mendengung yang sangat mengganggu.

Tenggara sekarang mengerti. Ia sudah masuk ke dalam game itu. Tapi ia melihat kalau setiap kata yang keluar dari bibir wanita itu tidak sama dengan gerakan bibirnya. Mungkin ada sejenis program auto-translasi secara verbal di game ini. Dan mungkin karena launching secara resmi di Indonesia, maka secara otomatis bahasanya pastinya diubah ke Bahasa Indonesia. Entah itu wanita atau robot, tapi sepertinya ia tahu segalanya tentang game ini.

“Ehm.. Maaf, tapi aku belum mengerti bagaimana cara bermain Secondary,” ujar Tenggara jujur.

“Anda akan mendapatkan buku panduannya nanti kalau sudah masuk ke dunia Secondary. Sekarang yang harus Anda lakukan adalah mendaftarkan diri dan membuat satu karakter. Karakter yang sudah Anda buat nanti tidak akan bisa dirubah lagi secara fisik. Jadi tentukan karakter Anda dengan teliti. Pertama-tama, silahkan pilih ras yang kau inginkan,” ucapnya lalu di sekitar Tenggara langsung bermunculan siluet-siluet putih yang berbentuk seperti tubuh. Beberapa detik kemudian siluet-siluet tersebut mulai terlihat semakin jelas. Ada berbagai macam ras dengan bentuk-bentuk yang luar biasa.

Tenggara tidak tahu harus memilih ras yang mana. Sebelum ia sempat mengajukan pertanyaan, si GameMaster buru-buru menjelaskan lagi.

“Ras yang dapat Anda pilih adalah HUMAN, ELF, DEMON, MIDGET, ANGEL, BEAST, dan SPIRIT. Untuk ras BEAST atau ras binatang dibagi menjadi dua kategori, yaitu PURE-BEAST atau ras binatang murni, dan BESTIAL atau manusia setengah binatang. Untuk ras SPIRIT di khususkan untuk ras tumbuhan saja…,” ujarnya sambil terus menjelaskan.

Tenggara menggaruk-garuk kepalanya. Pembagian ras yang sangat rumit sekali. Apalagi ia tidak mengerti tentang game ini sama sekali. Sebenarnya dulu waktu kecil Tenggara pernah sekali dua kali bermain game sejenis RPG. Mungkin Secondary mirip dengan RPG.

“Apakah aku dapat melihat contoh wujudku dalam ras manusia, elf dan demon?”

“Tentu saja. Mohon tunggu sebentar,” ujar si GameMaster diikuti dengan hilangnya contoh-contoh ras yang tadi mengelilingi Tenggara.

Beberapa saat kemudian terdengar lagi suara mendengung sebanyak tiga kali disertai kemunculan tiga wujud putih dari bawah cahaya. Wujud putih itu semakin tampak jelas. Dan sekarang sudah berdiri tiga contoh wujud Tenggara dalam ras manusia, elf dan demon, dengan pakaian yang hampir sama. Dalam ras manusia, Tenggara seperti melihat cermin. Dalam ras elf, Tenggara tampak lebih tampan, dengan rambut putih pendek dan telinga yang meruncing. Sedangkan dalam ras demon, wujud Tenggara tampak lebih sangar, dengan dominasi warna merah di sekujur tubuh serta bola matanya. Wajahnya juga terlihat lebih menyeramkan, dengan sepasang tanduk besar. Namun yang membuatnya menarik adalah sepasang sayap besar yang ada dipunggung. Ia ingin jadi elf, tapi ia juga ingin memiliki sayap.

“Apakah ras-ras itu bisa dikombinasi?” tanya Tenggara.

“Mohon maaf, ras tidak bisa dikombinasikan satu sama lain,” jawab si GameMaster.

Ya sudahlah, sepertinya Tenggara tidak punya pilihan lain. “Aku ingin menjadi elf dengan rambut panjang dikuncir ke belakang.”

“Baiklah. Mohon tunggu sebentar,” ujarnya diikuti hilangnya ketiga contoh wujud tersebut. Tak berselang lama muncul lagi sesosok siluet putih yang semakin lama semakin jelas.

Dan…..

Astaga! Dirinya tampak begitu tampan dengan penampilan seperti itu. Dengan pakaian yang keren layaknya seorang petualang di dunia game. Atau memang ia tidak sadar kalau selama ini ia memiliki wajah setampan itu? Kalau ditambahkan sepasang sayap, pasti lebih mengagumkan lagi.

“Hm.. Apakah aku bisa menambahkan sayap pada karakterku?” pinta Tenggara sedikit berharap.

“Mohon maaf. Sayap hanya bisa dimiliki oleh ras demon. Tapi untuk sekedar informasi saja, berdasarkan data yang kami dapat setelah men-scan diri Anda tadi, karakter Anda termasuk dalam karakter yang mudah untuk berkembang dan naik level. Semuanya sudah terpilih secara otomatis berdasarkan data diri Anda yang tadi sudah kami simpan.”

“Baiklah kalau begitu. Aku ingin jadi seperti itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih.”

“Oke. Karakter di-input. Silahkan tentukan nama Anda,” ujar si GM (GameMaster).

“Hm.. Aku ingin menamakan diriku ‘White’ saja. Apakah bisa?”

“Mohon tunggu sebentar. Saya akan memeriksanya dahulu.”

Tenggara menghembuskan napas dengan tenang. Proses registrasi yang membingungkan.

“Baiklah. Nama sudah di-input. Anda akan dilahirkan di Benua Selatan.”

“Bagaimana dengan job-ku?”

“Anda boleh memilih job begitu level Anda sudah mencapai level sepuluh,” balas si GM.

“Baiklah, aku sudah mengerti.”

“Bagus. Anda akan mulai bermain dalam waktu tiga detik,” ujar si GM.

Mendadak, wujud elf yang tadi ada di depan Tenggara seperti menyatu dengan tubuhnya. Ia merasa sekujur tubuhnya merinding dan menghangat.

“Tiga…”

Tubuhnya kembali melemas seperti ketika tadi ia memasang konsol GameStarter.

“Dua…”

Pandangannya mulai nanar dan mengabur secara tiba-tiba. Kedua kakinya seperti lumpuh tak bertenaga dan membuatnya jatuh tergolek lemas.

“Satu…”

***

Tubuh Tenggara terasa sedikit lemas seperti orang baru bangun tidur begitu ia mulai tersadar. Ia menegakkan punggungnya dan melihat sekitar. Tampaknya sekarang ia berada di sebuah padang rumput kecil di tepi danau. Di sini sepi sekali. Tapi di seberang danau dari kejauhan terlihat seperti sebuah dinding tinggi. Mungkin di sana ada kota.

Inikah yang namanya Dunia Secondary? Benar-benar seperti nyata. Bahkan semilir angin yang lembut menyapu wajahnya terasa sama seperti di dunia nyata.

Ketika ia mencoba untuk bergerak lagi, ia merasakan sesuatu berada dalam genggaman tangan kanannya. Itu sebuah buku kecil. Dengan sampul beludru cokelat dengan beberapa huruf emas yang bertuliskan “White”. Sepertinya itu buku panduan yang dikatakan oleh GameMaster tadi. Bukunya tipis. Begitu ia membuka, langsung terpampang biodata singkat dirinya.

NAMA: WHITE

RAS: ELF

JENIS KELAMIN: LAKI-LAKI

JOB: –

TEMPAT LAHIR: BENUA SELATAN

Pantas saja. Ternyata buku panduan itu memang khusus dan setiap pemain berbeda-beda.

Dengan sabar, ia mulai membaca buku itu dari awal pengenalan hingga bagian akhir. Tak lama, mungkin hanya sekitar 4-5 menit saja ia membaca buku itu. Tenggara dapat menarik beberapa kesimpulan. Untuk seorang pemula yang baru saja masuk, ia masih belum memiliki weapon atau senjata, equipment, bahkan uang sekalipun. Nama mata uang di dunia Secondary bernama ‘gill’. Jika ia ingin melihat profil statusnya, ia tinggal meneriakkan kata ‘status’ dan nanti akan muncul status profilnya. Untuk sekarang percuma saja kalau ia melihat statusnya, toh ia juga belum melakukan apa-apa. Tapi ia belum tahu seperti apa status profilnya.

“Status!” teriak Tenggara yang langsung disertai suara dengungan rendah. Kemudian tampak hologram virtual dua dimensi yang memiliki banyak tulisan beserta foto wajah tampannya dalam ras elf.

Informasi status profilnya hampir sama dengan halaman awal buku panduan.

WHITE (ELF)

LEVEL 01

JOB: –

GILL: 0

EXP: 0

HP: 50/50

MP: 10/10

ATK: 8

PDF: 5

MAG: 8

MDF: 5

AGI: 7

TECH: 3

ACC: 5

EVA: 6

LUCK: 15

Catatan: Skill Point di awal permainan ditentukan oleh data dari pemain yang diambil ketika proses pendaftaran.

Jadi intinya kalau skill point setiap pemain di awal game itu berbeda-beda.

HP adalah singkatan dari Health Point, dalam kata lain adalah poin nyawa/kesehatan. MP adalah Magic Point atau poin untuk mengeja mantra sihir. Tapi saat ini itu belum ada gunanya, mengingat kalau ia masih belum memiliki satupun magic skill.

 

Singkatan lainnya, ATK adalah attack atau serangan secara fisik, PDF adalah physical defense atau nilai pertahanan dari serangan fisik. MAG adalah magic atau serangan magis/sihir, MDF adalah magic defense atau poin pertahanan terhadap serangan sihir.

AGI adalah agility atau kelincahan, termasuk dalam hal berlari. TECH adalah tehnik, ACC yaitu akurasi serangan, EVA adalah evasion yaitu kemampuan defleksi dari serangan, baik fisik maupun sihir.

Dan yang terakhir, LUCK yang merupakan poin keberuntungan. LUCK bukanlah skill point yang terlalu penting. Tapi kadang-kadang bisa membantu juga kalau punya poin keberuntungan yang tinggi. Dan dari semua skill point yang dimiliki Tenggara, LUCK adalah yang paling tinggi.

Pemain pemula belum memiliki job atau profesi. Pemain harus menaikkan level hingga level 10, baru nanti bisa memilih job. Ada banyak job atau profesi yang tertulis di buku itu, antara lain seperti warrior, thief, priest, necromancer, dan bard. Tapi hanya satu profesi yang menarik perhatian Tenggara. Magician.

Entahlah, menjadi magician atau penyihir sepertinya sangat menyenangkan. Walaupun disitu tertulis kalau mayoritas pemain Secondary yang berprofesi sebagai magician memiliki kemampuan bertarung yang rendah karena serangan fisik mereka yang sangat rendah daripada profesi lainnya.

Tapi Tenggara akan membuktikan pernyataan itu salah besar. Sekarang yang harus ia lakukan adalah menaikkan levelnya. Jangan sampai dirinya mati. Sebenarnya masih hidup kembali dan akan muncul di sebuah kota yang bernama Kota Bintang Jatuh dan levelnya akan berkurang satu, seperti yang tertulis di buku panduannya. Jika ingin keluar dari game, tinggal teriakkan kata ‘LOG-OUT’. Sedang untuk penghitungan waktu, satu jam di dunia nyata sama dengan dua jam di dunia Secondary. Dan yang membuatnya lebih menarik, di sini tidak ada waktu malam.

“Secondary Map!” teriak Tenggara untuk menampilkan peta hologram dua dimensi. Sekarang ia memang berada di selatan Kota Bintang Jatuh. Ketika ia melakukan gerakan memperbesar skala peta, sekarang ia dapat melihat keseluruhan dunia Secondary yang terbagi menjadi lima benua besar. Yaitu benua pusat, barat, timur, utara, dan selatan.

Karena pada peta dunia asli, Indonesia memang berada di bagian selatan. Kemungkinan besar benua tengah dihuni oleh para pemain yang berasal dari Jepang, Korea Selatan, Hongkong, dan sekitarnya. Beberapa saat kemudian peta hologram itu menghilang.

Baiklah, sekarang saatnya memulai. Tenggara mengingat-ingat namanya yang ia gunakan sekarang.

White.

White.

White.

White.

Ia tidak ingin mengekspos nama aslinya di dunia game ini. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti sampai ada salah satu teman yang mengenalinya.

White, alias Tenggara, segera berdiri dan memasukkan buku panduan itu ke dalam pakaiannya. Pakaiannya benar-benar sangat klasik. Seperti pakaian yang dikenakan oleh pemain utama dalam permainan RPG yang pernah ia mainkan waktu kecil dulu.

Ia berjalan ke arah tepian danau, berjongkok di sana dan melihat pantulan wajahnya yang benar-benar tampan. Apalagi telinganya yang runcing serta rambut panjang putih yang diikat kuat ke belakang. Astaga! Bisa-bisa ia mencintai dirinya sendiri.

Namun tak berselang lama, tiba-tiba sesuatu menghantam kepalanya dari belakang, membuatnya hampir tercebur ke dalam danau. White’s HP -15.

White segera berdiri dan berbalik. Di depannya sekarang ada hewan mirip bola voli, berbulu lebat berwarna cokelat terang dan memiliki sepasang mata yang lebar dan hitam. Benar-benar makhluk yang aneh.

Mendadak, makhluk itu kembali melayang dan menghantam perut White dengan keras sebelum ia sempat menghindar, membuatnya jatuh terduduk. Rasa sakit yang ia rasakan benar-benar menyiksa, seperti di dunia nyata. White’s HP -15.

“BATTLE STATUS!” teriaknya cepat diikuti bunyi mendengung kemudian muncul hologram nama, level, HP dan MP di atas tubuh White dan makhluk itu. Makhluk itu bernama FurBall, level 2, HP 50, MP 0.

Sial! Belum apa-apa sudah bertemu musuh dengan level diatasnya. HP-nya kini tinggal 20. Ia akan mati kalau mendapatkan dua serangan lagi dari makhluk itu.

Ia melihat sekeliling, berusaha mencari apapun yang bisa ia gunakan sebagai senjata darurat. Tapi tidak ada apapun. Itu hanya padang rumput kosong, bahkan tidak ada pohon satu pun. Kemudian ia menatap air danau. White mendapatkan sepercik ide.

“Ayo, serang aku lagi setan kecil! Aku sudah siap!” teriak White berusaha memprovokasi sambil berdoa supaya ia berhasil mengalahkan binatang sialan itu.

FurBall itu kembali melayang ke arah kepala White. Namun White menghindar lebih cepat hingga akhirnya FurBall itu tercebur ke bagian dangkal danau. FurBall’s HP -10

Tapi walaupun dangkal, tampaknya FurBall memang dikhusukan untuk berada di darat. Furball itu tenggelam selama sepuluh detik penuh lalu mengambang beberapa saat kemudian. Furball’s HP -20.

Karena belum juga mati, White langsung mengangkat tubuh FurBall dari danau dengan menjambak bulunya dan dilempar ke atas daratan.

White berlari ke arah FurBall yang sekarat itu dan menginjak-injak binatang itu. Hingga HP-nya habis dan lenyap diikuti suara ‘buff’. Sebuah suara tendengar memberi informasi.

“FurBall berhasil dikalahkan, mendapatkan 75 EXP, Small Dagger, Tas Kecil, dan 150 gill,” ujar suara itu dengan lembut disertai kemunculan sebuah belati dan sebuah tas pinggang di atas tanah di depannya dengan suara ‘buff’ seperti tadi.

“Bagus! Akhirnya aku dapat senjata!” teriak White kegirangan. Sekarang yang harus ia lakukan adalah begerak menuju Kota Bintang Jatuh yang ada di depannya, tepatnya ke arah utara.

***

White berjalan terseok-seok menuju pintu gerbang Kota Bintang Jatuh. Tubuhnya banyak mengalami luka-luka. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan. Dari kejauhan tampak dua sosok penjaga gerbang yang memegang tombak dan perisai.

Ia berhasil mencapai level 10 dengan sangat cepat setelah membunuh puluhan FurBall dan beberapa binatang kecil lainnya dalam perjalanan hanya dengan belati miliknya, mulai dari level rendah hingga level sedang. Sepertinya HP-nya tinggal sedikit.

“Status!” serunya dengan suara serak yang menyiksa, disertai suara mendengung seperti biasa.

 

WHITE (ELF)

LEVEL 10

JOB: NONE

GILL: 4750

EXP: 570

HP: 18/174

MP: 100/100

ATK: 62

PDF: 50

MAG: 57

MDF: 53

AGI: 44

TECH: 48

ACC: 50

EVA: 49

LUCK: 104

 

HP-nya tinggal 18. Tubuhnya terasa lemah tak bertenaga sama sekali. Apalagi luka-luka ditubuhnya yang benar-benar luar biasa sakit. Pakaian yang digunakan White juga mengalami perkembangan

Beberapa saat kemudian, dia sudah tiba di tengah Kota Bintang Jatuh. Ramai sekali di sini, ada berbagai macam ras yang berlalu-lalang. Tapi ras manusia tampaknya paling banyak. Entah mereka itu pemain atau hanya NPC. NPC ialah Non-Player Character atau karakter yang bukan pemain, dalam kata lain karakter tersebut dikendalikan dan diatur komputer. Tapi kalau NPC biasanya tidak pernah berlalu-lalang di jalanan. Seperti pedagang, penjaga gerbang, serta pemilik penginapan.

Ia harus mencari toko obat di mana ia bisa mendapatkan Green Potion untuk menambah 100 HP setiap botolnya, seperti yang tertulis di buku panduannya.

Ketika sekumpulan pemain laki-laki yang kebetulan lewat, White segera mendekat. “Permisi. Kalian tahu di mana letak toko obat?”

“Kau jalan terus saja beberapa meter, nanti kau akan menemukan toko obat di kiri jalan,” jawab salah satu dari mereka sambil menatap White yang terluka dengan kasihan. “Mau aku antar sampai ke sana?”

“Tidak usah. Aku bisa ke sana sendirian. Terimakasih atas bantuanmu,” balas White lalu kembali berjalan lagi hingga ia tiba di toko obat. Ia langsung mendekat ke meja penjual.

“Permisi, bisa aku membeli dua Green Potion?” pinta White pada penjual obat itu, seorang wanita gemuk berbusana serba merah muda, serta bandana bermotif bunga yang ia ikatkan di kepala.

“Tolong tunggu sebentar,” ujar penjual itu dengan nada lembut sambil berjongkok beberapa saat, lalu kembali berdiri sambil menaruh dua botol Green Potion di atas meja kasir. “Semuanya lima ratus gill.”

White langsung memberikan wanita itu uang sebanyak 500 gill, lalu cepat-cepat menegak dua botol Green Potion tadi sampai habis dan membuangnya ke sembarang arah. Rasanya sedikit pahit dan masam, dicampur sensasi sejuk seperti daun mint.

Mendadak, tubuhnya terasa melayang beberapa senti di atas tanah dengan beberapa kilauan cahaya hijau yang mengelilingi tubuhnya. Rasa sakit di sekujur semakin lama semakin tak terasa dan mulai menghilang.

Dengan cepat luka-luka ditubuhnya sepertu mengering dan menghilang. Tubuhnya pulih seperti sedia kala. Ia mencoba menggerak-gerakkan tubuhnya. Tak sakit lagi. Benar-benar sembuh seperti sediakala.

“Hm… Aku ingin bertanya sesuatu. Dimana letak kuil magician? Aku sudah mencapai level sepuluh dan ingin segera mengganti job-ku,” katanya pada si ibu pemilik toko itu.

“Oh, jadi kau ingin menjadi magician? Tempatnya ada di tepi utara kota. Nanti keluar dari sini, berjalanlah lurus terus sampai tiba di persimpangan jalan. Nanti sebelum persimpangan itu, ada bangunan kuil dengan dominasi warna putih di kanan jalan. Itulah kuil magician. Tapi apa kau yakin ingin mengambil job sebagai magician?”

“Tentu saja, memangnya kenapa?” tanya White. Walaupun hanya NPC, tapi perilaku ibu ini tampak seperti pemain.

“Jarang sekali ada laki-laki yang menginginkan job sebagai magician. Tapi aku merasa kamu memang sangat cocok dengan job itu. Semoga beruntung,” ujarnya. White hanya tersenyum kecil lalu berjalan menuju pintu keluar setelah membeli lagi sepuluh botol Green Potion untuk persediaan.

Setibanya di luar, mendadak langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita dengan rambut di gulung dan ditusuk dengan konde, dengan pakaian terusan panjang yang memiliki desain sedikit ramai dengan berbagai aksesoris tambahan di pakaiannya, seperti pakaian wanita bangsawan Korea Selatan jaman dulu, namun tidak terlalu mengembang. Sepertinya dari ras manusia.

Selain itu ia juga memegang kipas klasik merah di tangan kanannya yang selalu ia ayun-ayunkan di depan dadanya dengan gaya anggun, bak bangsawan sungguhan. Wanita itu berjalan mendekat ke arahnya dan tidak sengaja memandang White.

White yakin sekali kalau itu adalah kakak perempuannya, Delmora. Ia pun langsung menunduk dan menutupi sebagian wajahnya dari wanita itu dan berjalan cepat ke utara menuju kuil magician.

“Hei, kau! Tunggu!” teriak wanita itu pada White. Dari suaranya, ia semakin yakin kalau itu adalah kakaknya.

Mampus!! White berjalan lebih cepat lagi. Semakin lama semakin cepat hingga akhirnya ia memutuskan untuk berlari tunggang langgang sambil melongok sebentar ke belakang. Wanita masih tetap mengejarnya.

Adrenalinnya terpacu. Ia berlari sekuat yang ia bisa. Ia hampir sampai. Di depannya sekarang ada banguan dengan dominasi warna putih pada desain eksteriornya. Di pekarangannya ada banyak orang yang memiliki kostum sama dengan kostum milik White. Itu artinya mereka sama dengan White, pemain pemula yang masih belum memiliki job dan sedang antre masuk kuil.

“Sedikit lagi!” ujarnya lirih sambil terus berlari dan mengatur napasnya ketika ia mulai menyentuh gerbang masuk kuil.

“Hei! Berhenti kau!” teriak wanita itu sambil melempar sebuah senjata shuriken ke arahnya.

Nahas, White tidak sempat menghindar dan senjata itu menancap tepat di pundak kanan bagian belakang dengan begitu keras hingga membuatnya terlempar ke dalam kuil dengan kuat dan terjatuh di teras kuil. Semua para pemain pemula yang ada di situ memandang White dengan terkejut.

Rasanya sungguh sakit sekali. Ia tidak pernah membayangkan akan merasakan sakit yang luar biasa mengerikan seperti ini. HP -170.

Gila! Dalam satu kali serang, White hampir mati. Sialan benar kakaknya itu! White terkulai lemas tak berdaya.

“Log-Out,” ujar White lirih dengan sisa-sisa suara yang dimilikinya. Pada saat yang sama, telinganya seperti mendengar suara ‘buff’.

Tubuhnya menghilang dari tempat itu seperti pemain yang kalah dan mati.

Di tempat lain, Tenggara langsung membuka matanya selebar mungkin. Ia melepas konsol GS di kepalanya lalu duduk di pinggiran tempat tidur. Napasnya terengah-engah seperti baru saja mendapatkan mimpi buruk.

Diraba punggungnya yang tadi sempat terkena senjata shuriken. Untunglah punggungnya masih utuh. Tubuhnya bahkan masih sesegar seperti saat ia memulai game tadi.

Game yang membuatnya senam jantung. Tapi sungguh, game itu adalah game terbaik yang pernah ia mainkan.

Tapi sepertinya untuk sekarang ia tidak ingin main dulu. Soalnya kalau dia masuk lagi, dia pasti akan kembali berada di teras kuil magician, tempat ia melakukan Log-Out tadi. Dan pasti kakaknya sudah menunggunya di sana dan mengira kalau ia sedang melakukan ritual untuk menjadi magician. Lebih baik nanti saja ia main lagi.

Tenggara merasa perutnya lapar sekali. Ia melirik jam dinding yang ada di samping pintu kamarnya. Pukul 02.15 siang.

Pantas saja ia lapar! Ini sudah lewat jam makan siang! Langsung saja ia berlari menuju dapur, mencari makanan untuk mengisi perutnya yang terasa hampa.

***

Dinginnya udara malam terasa menusuk tulang. Namun sepertinya semua orang yang ada di pasar kuliner ini tidak terlalu memedulikan hal itu. Bahkan mereka semua tak seperti biasa, berlalu-lalang dari satu warung ke warung yang lain untuk membeli dan menikmati makanan yang mayoritas memiliki harga yang terjangkau.

Tenggara mendekapkan kedua lengannya ke tubuhnya sendiri sambil berjalan memasuki pasar. Rasanya masih tetap dingin. Padahal ia sudah memakai jaket tebal. Apa mungkin akan turun salju? Ah, jangam bodoh! Di Indonesia mana mungkin akan turun salju? Yang ada mungkin hujan es sebesar batu kerikil.

Dengan bingung, ia berjalan melewati warung-warung yang saling berjejer di sisi kiri kanan. Meneliti satu-persatu, siapa tahu ada jajanan atau semacamnya yang menarik perhatiannya.

Cukup jauh ia berjalan membelok-belok hingga masuk terlalu ke dalam. Sepertinya tidak ada warung yang baru, atau setidaknya warung yang menjual sesuatu yang baru. Semuanya tampak sama.

Akhirnya ia memutuskan untuk melangkah kembali ke bagian depan pasar kuliner untuk menikmati bubur kacang hijau di warung Bu Tuti seperti malam-malam biasanya.

Tiba-tiba seseorang tidak sengaja menyenggol bahu kirinya dari depan dengan cukup keras hingga Tenggara terjatuh.

“Maaf! Aku tidak sengaja menabrakmu!” teriak orang itu sambil langsung menarik lengan kiri Tenggara untuk berdiri.

“Makanya kalau jalan tuh hati-ha……..,” kalimat Tenggara terputus tatkala menyadari kalau orang itu adalah Eleazar. ‘Mampus!’ umpatnya dalam hati sambil menarik lengannya dari pegangan Eleazar.

“Tenggara! Ternyata kau! Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini,” ujarnya dengan begitu santai.

“Oh! Um.. Iya. Aku hanya berjalan-jalan sebentar disini. Lagipula rumahku dekat sini kok,” balas Tenggara dengan perasaan malu yang luar biasa. Apalagi bayang-bayang masa lalu itu mengganggu pikirannya lagi hingga membuatnya misuh-misuh dalam hati.

Eleazar tampak sangat tampan dengan balutan celana jeans dan jaket kulit hitam yang resletingnya terpaksa tidak ditautkan, membiarkan kaos putihnya kelihatan. Tenggara jadi heran sendiri, apakah Eleazar tidak merasa dingin? Atau jangan-jangan Tenggara mungkin sedang demam dan ia tidak sadar?

“Kau ke sini bersama siapa?” tanyanya.

“Um…. Aku sendirian saja,” kata Tenggara sambil berharap semoga ia tidak salah ucap.

“Oh, begitu. Hm… Maaf ya, aku sekarang sedang buru-buru, makanya aku tidak sengaja menabrakmu. Aku harus menemui seseorang. Tapi sebelum itu, boleh aku minta nomer ponselmu?” tanya Eleazar sambil mengeluarkan ponselnya.

Tenggara mengejakan nomer ponselnya yang langsung diketik oleh Eleazar.

“Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa lagi. Senang bertemu denganmu disini,” ujar Eleazar sambil menepuk pundak Tenggara dan menatapnya dengan sangat dalam selama beberapa detik sebelum akhirnya ia tersenyum dan meninggalkan Tenggara yang merasa kedua kakinya mati rasa dan ingin terjatuh lagi.

Tatapan mata itu. Tatapan mata yang sama dengan yang dulu pernah ia lihat. Apakah Eleazar benar-benar sudah lupa? Kenapa ia bertindak seolah-olah kalau mereka baru saja bertemu?

Dengan langkah lesu, Tenggara berjalan menuju warung bubur kacang hijau Bu Tuti.

Sesampainya disana, ia melihat Reyori dan Jenna yang tengah duduk di salah satu meja yang di pojokan. Tanpa sengaja, Jenna juga menatap ke arahnya.

“Tenggara! Sini!” panggil Jenna sambil melambai-lambaikan tangannya. Reyori ikutan melambaikan tangan dengan hebohnya.

“Bu, pesen bubur kacang ijo satu ya!” pesannya pada Bu Tuti kemudian langsung menghampiri meja kedua gadis itu dan duduk di antara mereka.

“Tumben kalian berdua ke sini. Dari mana kalian?”

“Kami baru saja pulang dari TECHNOLO-GAME, membeli konsol GS,” ujar Reyori sambil memperlihatkan kotak kardus dalam kantong plastik. Jenna juga membeli satu.

Tenggara menyengir saja. Ia sangat tahu gadis-gadis itu bukan maniak game, juga tidak terlalu suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan game. Tapi sepertinya konsol GS cukup populer di kalangan remaja.

Beberapa saat kemudian Bu Tuti datang membawa pesanan Tenggara. Ia mengucapkan terimakasih dan segera menyantapnya selagi masih hangat.

“Aku baru tahu kalau kalian berdua suka dengan game,” kata Tenggara.

“Hm.. Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan hal-hal yang berbau game. Tapi entah kenapa banyak sekali teman-teman yang membicarakan tentang konsol GS dan Game Secondary di beberapa social-media, dan itu membuatku cukup penasaran, apa sih konsol GS dan Secondary itu? Lalu aku coba cari official website-nya tadi siang,” balas Jenna.

Tenggara mengernyit. Ia belum pernah membuka official website Secondary. “Lalu apa yang kau temukan?”

“Game Secondary hanya bisa bisa dimainkan oleh konsol GS, yang dibuat di negara Jepang. Di hari pertama peluncurannya, konsol GS langsung habis terjual, baik secara direct-selling ataupun secara online. Dan sekarang hampir sembilan puluh delapan persen orang Jepang yang berusia lebih dari lima belas tahun memainkan game ini. Makanya banyak sekali orang di Indonesia yang sudah menunggu-nunggu peluncuran konsol GS ini. Katanya sih mau di buat official website khusus untuk Indonesia. Mungkin besok atau lusa sudah bisa kita lihat halamannya,” balas Jenna lagi.

“Oh…. Aku ingin sekali bertemu dengan cinta sejatiku di game itu,” tukas Reyori tiba-tiba sambil mengatupkan kedua tangannya, membuat Tenggara sedikit tersedak karena ucapannya.

“Cinta sejati? Apa maksudmu?” tanya Tenggara sambil terbatuk-batuk.

“Aku baca beberapa artikel di official website-nya, katanya sampai ada pasangan orang Jepang yang menikah di dunia nyata setelah mereka bertemu dan menikah di game Secondary. Oh Tuhaaaannn!! Bukankah itu kedengarannya sangat romantis? Aku ingin seperti pasangan itu!” jawab Reyori dengan menggebu-gebu.

“Menikah di game? Memangnya bisa?”

“Tentu saja bisa! Kau tidak pernah membaca official website-nya ya? Atau jangan-jangan kau tidak tahu sama sekali dengan game Secondary?” balas Jenna dengam mata menyipit menatap Tenggara.

“Aku tahu, kok. Walaupun cuma sedikit.”

Reyori menyendok sesuap bubur dan menyantapnya. “Apa kau sudah membeli konsol GS?”

“Tentu saja sudah. Aku sepulang sekolah langsung ke TEHNOLO-GAME untuk antre membeli GS,” jawab Tenggara seakan-akan ia membeli sendiri dan kesannya ia sangat up-to-date mengenai game Secondary. Padahal pada kenyataannya Top yang membelikannya GS, dan bahkan ia belum tahu sama sekali tentang Secondary sebelum memainkannya tadi siang.

“Benarkah? Siapa nama karaktermu di dunia game? Beritahu kami apa ras-mu, bagaimana penampilanmu, semuanya,” tukas Reyori dengan mata melebar penuh semangat.

“Eh?! Um… Kenapa aku harus memberi tahu kalian? Itu rahasia!” seru Tenggara berusaha menutup-nutupi.

“Ah! Kamu tidak asyik!” balas Jenna.

“Aku tidak ingin kalian tahu karakterku, kemudian mencariku di dunia game lalu memintaku untuk menjadi guru kalian. Aku benar-benar tidak bisa,” canda Tenggara diikuti suara ‘huuuu’ yang panjang dari kedua temannya.

Ketika Tenggara akan menikmati buburnya lagi, secara tidak sengaja ia melihat Eleazar melintas lewat depan warung. Tidak hanya sendiri, tapi bersama seorang wanita cantik berambut pirang ikal sebahu. Wanita itu bergelayut dengan manja di lengan kiri Eleazar.

“Eh! Tunggu dulu! Sepertinya tadi aku melihat Eleazar lewat deh,” kata Reyori.

Jenna mendongak sambil memandang keluar warung. “Ha? Sungguh?”

“Aku tidak yakin. Mungkin saja bukan,” balas Reyori sambil kembali menikmati buburnya.

Tapi Tenggara tahu benar kalau itu memang Eleazar. Mata Tenggara seperti terasa panas, napasnya berat. Akhirnya, ia melihat kebenarannya. Sekarang sudah tidak ada lagi masa lalu yang harus ia cemaskan jika nanti bertemu Eleazar.

Tidak ada yang perlu ia pikirkan lagi. Tapi kenapa ia merasa ingin sekali menangis? Kenapa ia harus merasakan sakit yang amat pedih? Bahkan sakitnya lebih parah daripada rasa sakit yang ia rasakan ketika punggungnya terkena lemparan senjata shuriken dari kakaknya sendiri di dunia Secondary.

Tenggara menunduk menatap mangkok bubur kacang ijonya sambil menahan napas. Bahkan bernapas pun rasanya susah sekali.

Beberapa saat kemudian, ia merasa ponsel di saku celana bergetar. Ketika ia keluarkan dan melihat layar ponsel, ternyata itu sms dari nomor asing.

=@@@=

From: +6281566453xxx

Ini nomerku. Tolong disimpan baik-baik, tolong jangan sampai hilang. Eleazar😉

=@@@=

Tenggara  menarik napas perlahan. Sambil membalas sms dari Eleazar hanya dengan huruf ‘Y’ saja, lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku celana.

Seharusnya sekarang ia bisa merasa tenang karena Eleazar sudah bahagia bersama dengan seseorang. Tapi kenapa malah begini jadinya? Seperti ada sesuatu yang terasa salah.

“Tenggara, kenapa buburnya hanya kau aduk-aduk saja?” suara Reyori membuat Tenggara tersadar.

“Kamu ngelamunin apa? Kok sampai serius sekali?” tanya Jenna.

Tenggara menggeleng pelan. “Bukan apa-apa kok. Hanya membayangkan betapa cantiknya kalian di game Secondary nanti,” jawabnya berbohong dengan sedikit candaan.

“Mungkin aku lebih suka jadi ras angel. Bagaimana denganmu?” tanya Reyori pada Jenna.

“Hm.. Rahasia dong!” seru Jenna diikuti suara ‘huuu’ dari Reyori dan Tenggara, lalu mereka bertiga tertawa bersama-sama.

Sepertinya asyik juga bisa ngobrol dengan Jenna dan Reyori. Setidaknya bisa membuatnya merasa lebih baik daripada beberapa saat yang lalu.

***

Hujan rintik-rintik mulai turun malam ini. Semakin lama semakin deras dan berangin kencang.

Sepertinya langit sedang sangat sendu. Mungkin jika ini siang hari, akan terlihat awan mendung hitam yang melandai-landai di atas kota hingga menjatuhkan milyaran atau bahkan trilyunan tetes air hujan yang takkan pernah diketahui jumlah pastinya oleh siapapun.

Beberapa saat kemudian, tampak cahaya silau putih sekejap yang menyinari seluruh penjuru kota. Diikuti suara guntur yang memekakan telinga.

Tenggara langsung terbangun karena suara guntur yang keras itu. Melihat jendela kamar yang masih terbuka lebar, ia segera turun dari tempat tidur dan menutup jendelanya. Sekarang suara hujan dari luar rumah sedikit teredam.

“Jam berapa sekarang?” tanyanya pada diri sendiri sambil mengucek-ngucek kedua matanya lalu melirik jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul  setengah satu dini hari. Masih belum pagi.

Tapi kenapa ia harus memikirkan esok pagi? Bukankah besok hari Minggu? Mengingat hal itu membuat hatinya merasa lebih tenang. Hari Minggu bagaikan surga yang memang dikhususkan oleh dewa kepada para pelajar.

Tenggara kembali naik ke atas tempat tidurnya. Tanpa sengaja, ia memandang konsol GS yang ada di atas meja. Konsol itu tergeletak disana sejak terakhir kali ia memainkannya  siang tadi.

Namun Tenggara memilih untuk tidur saja. Ia membaringkan tubuhnya membelakangi konsol GS itu. Lagipula kalau ia kembali ke dunia Secondary, pasti nanti ia berada dalam keadaan kesakitan yang luar biasa karena tadi senjata shuriken yang menancap di pungggungnya belum ia lepas dan HP-nya hanya tersisa  4.

Tapi ia masih penasaran dengan game itu. Mengingat dirinya masih belum memiliki job dan menyandang status ‘beginner’. Padahal mungkin kalau tadi ia tidak bertemu Delmora, pasti sekarang ia sudah bisa memiliki job sebagai magician.

Mendadak, kalimat-kalimat dari lubuk hatinya seperti mengiang-ngiang di sekitar kepalanya seperti suara gema pidato kepala sekolah di ruang aula. Tenggara menutup kepalanya dengan bantal, berusaha mengusir suara-suara yang mendesaknya untuk main game lagi. Tapi percuma. Semakin lama, kepalanya  malah semakin pusing.

“Baiklah! Baik! Aku akan main game itu lagi!” omelnya mengakhiri pergulatan batin yang baru saja ia alami.

Dengan cekatan dan tanpa banyak berpikir panjang, Tenggara segera memasang konsol GS itu dikepalanya kemudian berbaring terlentang. Ia mengambil napas panjang, berusaha meredakan detak jantungnya yang tak karuan, mempersiapkan diri untuk kembali merasakan rasa sakit yang nanti pasti akan terasa ketika ia tiba di dalam game.

Jarinya sedikit bergetar ketika ia menekan tombol power dan LOG secara bersamaan. Terdengar suara ‘klik’ yang cukup nyaring, menyusul sesuatu seperti lidi yang menekan pelipisnya, dibeberapa titik. Sesaat kemudian, tubuhnya terasa lemas dan berat. Semakin lemas dan semakin tidak berdaya, hingga pada akhirnya terdengar bunyi ‘splaaassshh’ yang keras bersamaan dengan pandangannya yang menghitam seketika.

Begitu ia membuka mata, ia langsung merasakan rasa sakit di punggungnya seperti tadi siang. Tubuhnya tersungkur di atas tanah. Ia melirik ke belakang punggungnya dan ingin segera melepas senjata shuriken yang menancap cukup dalam.

“Aw!! Argh!” erangnya sambil berusaha menahan rasa pedih yang tak terhingga saat mulai memegang senjata shuriken itu.

“Aaarrgghhh!!” teriak White, alias Tenggara dalam dunia Secondary, setelah benda itu terlepas dari tubuhnya. Segera ia mengambil dua Green Potion dari tas kecil miliknya kemudian ia teguk hingga habis.

Tubuhnya melayang sebentar dan bersinar selama beberapa menit. Rasa perih dipunggungnya lenyap tak berbekas. Ketika ia meraba-raba bekas lukanya, memang benar ternyata kalau lukanya sudah menghilang.

Lega rasanya. Ia menghembuskan napas panjang dan segera berdiri sambil membersihkan bajunya dari debu. Hingga beberapa saat kemudian ia baru ingat kalau ia berada di teras kuil magician. Semua pemain pemula dengan mayoritas pemain perempuan yang tak lain calon para magician yang berbaris antre di sana tampak memandang ke arahnya dengan terkagum-kagum.

White hanya bisa tersenyum meringis sambil mengekor di salah satu barisan antrian sambil menggaruk-garuk kepalanya. Setelah itu, beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik dengan volume yang masih bisa didengar oleh White.

“Dia benar-benar kuat!”

“Orang yang cocok mengambil job warrior, tapi kenapa ia malah ingin menjadi magician?”

“Orang itu sungguh hebat, juga sangat tampan!”

White menunduk. Ia benar-benar malu menjadi pusat perhatian publik seperti ini.

Setelah sekitar lima belas menit mengantre, akhirnya ia pun masuk ke dalam kuil. Kuil itu benar-benar cantik, dengan dekorasi interior klasik, ukiran dan pahatan meliuk-liuk yang indah pada beberapa dindingnya.

Ia berjalan lurus, terus ke bagian belakang hingga mentok pada sebuah pintu yang merefleksikan cahaya kuning blur dari dalam ruangan.

“Masuk!” perintah sebuah suara wanita dari dalam secara tiba-tiba, yang membuat White sedikit terlonjak dari tempatnya berdiri.

Ia membuka pintu itu dengan sedikit gugup. Di dalam ruangan itu, tampak seorang wanita paruh baya berpakaian seperti dewi, tubuhnya melayang-layang di udara. Namun pakaiannya agak sedikit minimalis, hingga membuat beberapa bagian tubuhnya terlihat.

“Duduk!” serunya dengan volume keras.

White langsung mengikuti apa yang diperintahkannya. Ia duduk bersila di depan wanita itu. Tak lama, wanita tersebut mengangkat kedua tangan dan mengarahkannya padanya.

Pada saat itu juga, muncul secercah cahaya kekuningan di atas kepala White. Tubuhnya terasa sangat hangat. Seperti ada bara api yang mengelilingi tubuhnya.

Kemudian, tubuhnya terangkat dan  melayang beberapa senti ke atas. Tubuhnya bersinar silau, membuatnya memejamkan mata.

Hanya sebentar saja, sekitar dua sampai tiga menit kemudian cahaya itu berhenti, dan wanita itu menarik kedua tangannya kembali. Tubuh White kembali turun dalam keadaan berdiri. Ia membuka matanya dan melihat pakaiannya yang sudah berubah.

Kostumnya sekarang di dominasi oleh warna putih, sangat ‘matching’ sekali dengan warna rambutnya. Apalagi jubah putih panjang hingga melebihi panjang kakinya. yang terbuat dari kain beludru dengan bagian kerah yang memiliki banyak bulu. Dan satu lagi yang baru ia sadari adalah sebuah tongkat berukuran 50 sentimeter, juga berwarna putih.

“Selamat. Kamu sudah berhasil mengubah job-mu menjadi magician sekarang. Sekarang keluarlah. Masih banyak lainnya yang masih menunggu giliran.”

White tersenyum lebar. Ia  sangat senang karena job-nya sudah diganti. Ia berjalan ke arah pintu keluar yang letaknya di samping kiri kuil itu dengan bagian bawah jubah yang tampak sedikit mengekor di belakang.

Di sana sudah berkumpul beberapa magician baru lainnya yang sedang melatih special skill baru mereka. Namun ternyata kostum mereka semua berbeda sekali dengan kostum miliki White. Pakaian mereka semua sama, terlihat lebih klasik dengan suasana cokelat gelap, jubah cokelat beludru yang hanya sepanjang lutut.

Mereka semua bahkan memiliki tongkat yang lebih panjang, mungkin jika ditegakkan, tingginya bisa sebahu. Dan yang paling menyebalkan adalah mereka memandang White dengan pandangan aneh.

Para magician baru itu sudah memiliki special skill yang bisa digunakan. Dalam buku panduan, biasanya seorang magician pemula akan memiliki satu special skill baru level rendah. Kira-kira special skill apa yang sekarang dimiliki White?

“Status!” serunya dibarengi munculnya hologram virtual mengenai status profilnya.

 

WHITE (ELF)

LEVEL 10

JOB: U. MAGICIAN

SPECIAL SKILL:

Lv 1. UNIDENTIFIED

Lv 2. UNIDENTIFIED

Lv 3. UNIDENTIFIED

Lv 4. UNIDENTIFIED

Lv 5. UNIDENTIFIED

GILL: 2250

EXP: 570

HP: 174/174

MP: 150/150

ATK: 42

PDF: 50

MAG: 78

MDF: 64

AGI: 48

TECH: 48

ACC: 67

EVA: 49

LUCK: 115

 

“Apa-apaan ini?! Kenapa magic skill-ku tidak terdeteksi?! Bagaimana bisa aku menggunakan sihirku kalau begini caranya?!” omelnya pada diri sendiri sambil membuka buku panduannya lagi berusaha mencari jawaban atas masalah ini. Ia membaca buku itu berulang-ulang. Tapi tetap saja tidak ketemu. Apalagi mengenai huruf ‘U’ yang terletak begitu saja di depan nama job-nya.

Hanya sebuah tulisan di halaman paling belakang yang mengingatkannya saat ia pertama kali melakukan registrasi.

“Setiap pemain memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Temukan kemampuanmu sendiri dan jadilah nomor satu di dunia Secondary.”

“Dasar payah!!” serunya sambil membuang buku panduannya ke sembarang arah, dan tak sengaja mengenai kepala salah seorang magician pemula laki-laki bertubuh dempal. Ia mengambil buku panduan White dan langsung menghampiri White dengan pandangan yang berkilat-kilat penuh amarah.

White pun hanya bisa terdiam di tempatnya. “Maaf! Maafkan aku, aku tidak sengaja melempar buku itu hingga mengenaimu.”

Namun tanpa berkata-kata lagi, laki-laki itu langsung mencengkeram kerah White dan mengangkatnya ke atas hanya dengan tangan kanannya saja. Ketiga teman satu gengnya tampak mengelilingi tubuh White dan Si laki-laki itu.

“Kau benar-benar harus diberi pelajaran!” ucap laki-laki itu dengan geram. White berusaha memukul-mukul tangan laki-laki itu dari kerahnya, namun percuma saja. Ketika teman laki-laki itu langsung memegangi kedua tangan dan kaki White.

Ketika laki-laki itu hendak mengeja mantra sihirnya, tiba-tiba tubuh laki-laki itu langsung menghilang dengan suara ‘buff’ diikuti kabut asap putih, membuat White jatuh terjerembab di atas tanah. Laki-laki itu mati.. Ketiga teman laki-laki tadi tampak terlihat ketakutan.

Pasti laki-laki yang tadi hampir menyerangnya sekarang sudah kembali ke starting point, di tengah-tengah Kota Bintang Jatuh dengan level yang turun satu tingkat. Tapi White yakin kalau itu tadi bukan perbuatannya. Ia bahkan sangat amat yakin.

Tampak ketiga teman laki-laki tadi menggigil ketakutan, mengira kalau White lah yang sudah membunuh laki-laki itu.

White segera mengambil buku panduannya dan berdiri. Ia tidak sengaja melihat senjata shuriken di samping kakinya. Jangan-jangan…….

Saat ketiga orang itu hendak mengeja mantra untuk menyerang White, tiba-tiba saja siluet seseorang wanita muncul secara mendadak di hadapannya dan memegang tangannya. Beberapa saat kemudian, pandangannya kabur, dan setelah itu tubuhnya sudah berada di tempat yang lain.

Ia berada di sebuah penginapan, bersama dua orang laki-laki dan seorang perempuan yang baru saja menyelamatkannya. Laki-laki yang satu dari ras elf, sama seperti White, memiliki telinga runcing, rambut pendek warna biru keperakan, mata biru bening dan wajah yang lebih tampan daripada White. Pakaiannya tampak seperti baju zirah, namun terlihat lebih simpel.

Yang satunya lagi dari ras manusia, dengan rambut panjang merah kecokelatan yang bergelombang dibiarkan terurai, dengan mata cokelat tua, tampak sangat manis sekali. Kostumnya berupa pakaian seperti pendeta, dengan gradasi warna hitam putih nan klasik.

Namun beberapa saat kemudian White terkesiap ketika menyadari kalau si perempuan yang baru saja menyelamatkannya wanita itu adalah Delmora. Wanita dari ras angel dengan penampilan sedikit diperindah. Namun bagi White tetaplah sama, apalagi rambut gelungnya.

“Dasar, kau ini! Kenapa kau mengambil job yang lemah seperti itu?!” omel kakaknya.

“Um… Maaf, apa kita pernah berkenalan sebelumnya?” tanya White, alias Tenggara, dengan ekspresi bingung.

“Jangan pura-pura bodoh! Atau kau mau aku serang dengan shurikenku lagi?!” ancamnya. Sepertinya White tak begitu pandai berakting.

“Maaf, Kak! Maaf!” seru White sambil membungkukkan badan beberapa kali.

“Kak?!” seru kedua laki-laki terkejut mendengar panggilan ‘Kak’ yang diucapkan White.

“Benar sekali! Dia adikku!” seru kakaknya sambil memejamkan mata.

“Tapi bagaimana kau tahu bisa aku yang sebenarnya?”

“Kau pikir aku sudah mengenalmu berapa lama? Masak aku tidak tahu adikku sendiri?” balas Delmora.

“Tapi Kak Delm……,” belum selesai mengucapkan kalimatnya, Delmora langsung membekap mulut White dari belakang.

“Ssttt!! Namaku Angela. Jangan sebutkan nama asliku di dunia Secondary kalau tidak mau aku serang lagi,” ancamnya, membuat White mengomel sendiri dalam hati. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia merasa sangat senang dengan perhatian kakaknya. Ia sangat mudah mengenali adiknya sendiri dan sudah menyelamatkannya.

“Baiklah, Kak Angela. Terimakasih sudah menyelamatkan aku,” kata White sambil menunduk.

“Iya, tidak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, kedua orang ini adalah teman-teman satu timku. Yang dari ras elf ini namanya Mastrix, job-nya ialah warrior, level tiga puluh tiga, sedangkan yang dari ras manusia ini namanya Laydrown, jobnya priest, level tiga puluh satu. Kau tahu kan job priest itu seperti apa?” goda Angela. White hanya bisa merengut sambil bersalaman dengan kedua teman kakaknya itu.

Priest adalah salah satu dari puluhan job yang ada di game Secondary, yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan. Sedangkan warrior adalah job yang mengutamakan skill bertarung secara fisik. Biasanya senjata mereka berupa pedang panjang, samurai, kapak, katana, dan sebagainya.

“Aku sendiri dari ras angel, tentu saja. Jobku adalah ninja, level tiga puluh lima.,” kata Angela yang membuat White sedikit ternganga. Ia memiliki job ninja, tapi tidak berpenampilan seperti para ninja yang lain. Pakaiannya yang mirip seperti bangsawan Korea serta kipas klasik membuatnya terlihat seolah-oleh ia hanyalah NPC. Selain itu, kakaknya sudah memiliki level yang cukup tinggi. Bahkan lebih dari dua kali lipat levelnya sendiri.

“Namaku White. Aku dari ras elf. Baru saja mengganti jobku menjadi magician. Level sepuluh,” kata White sambil menunduk malu, merasa seperti seorang anak kecil yang sedang kena bully.

“Oh iya. Ngomong-ngomong kami memang sedang mencari magician untuk masuk ke dalam tim. Dan kau sebagai adikku, aku memaksamu untuk ikut dengan timku,” kata Angela dengan semena-mena.

“Ta-tapi, Kak. Aku tidak sebanding dengan kalian bertiga yang sudah memiliki level cukup tinggi.”

“Tidak apa-apa. Kau bisa berlatih dengan kami. Kami akan melindungimu. Kamu kan magician, dan bisa menyerang musuh dari kejauhan,” kata Mastrix sambil mendekat dan menepuk pundak White. Sekarang Mastrix malah terlihat lebih pantas jadi kakaknya White daripada Angela sendiri.

“Aku tahu itu. Tapi…… Tapi……,”

“Tapi apa? Cepat katakan!” seru Angela yang tampak tidak sabaran. Sekarang kakaknya benar-benar terlihat seperti ibu tiri yang jahat.

“Aku tidak memiliki satupun special skill,” kata White.

Alis Angela saling bertautan. “Maksudmu?”

White menghembuskan napas dengan dramatis. “Status!” serunya diikuti kemunculan hologram virtual seluar layar monitor komputer.

Mereka bertiga terbengong melihat status profil White dengan job U.MAGICIAN, dimana hanya ada kata ‘UNIDENTIFIED’ atau tak teridentifikasi pada special skill White.

“Aku sendiri juga tidak tahu kenapa bisa begitu. Mungkin sistemnya rusak atau mungkin saja ada kesalahan ketika mereka menginput dataku,” kata White lagi setelah hologram itu menghilang.

“Benar-benar aneh. Sangat aneh. Apa itu U.MAGICIAN?” tanya Laydrown sambil mengusap-usap dagunya.

“Kan sudah kubilang aku tidak tahu. Mungkin saja ada kesalahan sistem!” balas White.

“Penampilanmu juga sangat aneh. Semuanya serba putih, seperti manusia albino,” tukas Angela setengah mengejek.

“Bukankah semuanya itu berdasarkan data yang di-input ketika kita melakukan pendaftaran? Termasuk special skill,” tambah White berusaha membela dirinya.

“Sepertinya karakter kamu memang lemah dan tidak memiliki kemampuan apapun. Tapi kau akan tetap masuk ke dalam tim. Jangan khawatir,” kata kakaknya dengan lembut. Apakah ini mimpi? White merasa sikap Angela seperti malaikat.

“Sungguh? Kak Angela ingin aku masuk tim kakak?” tanya White dengan mata berbinar-binar.

“Tentu saja. Tapi kau harus mulai berlatih dengan Mastrix. Karena kau tidak punya satu pun special skill, jadi kau harus mulai membiasakan dirimu untuk menggunakan pedang panjang,” kata Angela sambil mengeluarkan sebuah pedang pendek dari tas equipment kecilnya yang ada di belakang pinggangnya. Sepertinya tas itu tas mahal khusus yang bisa memuat banyak barang, yang bisa dibeli di toko peralatan dan persenjataan.

White memasukkan tongkat kecil putihnya ke dalam tasnya sendiri dan menerima pedang pendek itu dari Angela dengan gemetaran. Ia tidak terbiasa memegang benda seperti itu. Ia mencabut pedang itu dari sarung pedangnya.

“Itu namanya pedang rapier. Walaupun kecil, tapi pedang itu cukup tajam dan dapat menambah physical attack-mu yang hanya sedikit karena mengambil job magician,” jelas Angela kembali mengejek. White hanya bisa mencibir. Tapi mendadak, anak itu tersenyum.. Walaupun kakaknya galak, tapi ia tahu kalau kakaknya sangat baik.

“Terimakasih, Kak,” kata White lemah. Ia sangat kecewa. Game Secondary tidak berjalan lancar seperti yang ia harapkan. Ia memberengut. Mana mungkin seorang magician bisa mahir menggunakan pedang rapier seperti seorang warrior? Rasanya ia ingin berhenti saja dari game ini. Bermain game ini rasanya tidak menarik lagi. Tapi ia tidak enak dengan Angela, alias Delmora. Dia sudah menolongnya tadi.

“Iya. Sama-sama. Sekarang kalian bertiga berlatih lah sana. Aku ingin tidur sebentar,” kata Angela berlagak nge-bos sambil berbaring di salah satu kasur. Walaupun ini dunia game, tapi para pemain bisa tidur.

Banyak sekali manfaatnya. Karena jangka waktu di dunia Secondary dua kali lipat lebih lama daripada di dunia nyata, maka para pemain dapat menggunakan waktu tidur di dunia Secondary lebih lama secara efektif.

Tanpa banyak bicara, White, Mastix, dan Laydrown keluar dari penginapan. Mereka bertiga memutuskan untuk berlatih di Hutan Hitam. Tempatnya di bagian paling utara dari Kota Bintang Jatuh, agak dekat dengan kuil magician. Konon makhluk-makhluk di tempat itu sangat cocok untuk berlatih untuk semua pemain.

“Bagaimana kalian berdua bisa bertemu dengan kakakku?” tanya White membuka percakapan sambil berjalan beriringan menuju tempat tujuan.

Mastrix menoleh sambil tersenyum pada White. “Aku menantang kakakmu untuk duel aatu lawan satu.”

“Apa?! Benarkah?!” ujar White sambil terbelalak.

“Sungguh. Tapi aku kalah. Kakakmu terlalu kuat. Karena levelnya masih jauh di atasku. Setelah itu dia menawariku untuk membuat sebuah tim. Aku bersedia, asalkan nanti suatu saat ketika levelku sudah mumpuni, dia harus mau untuk bertarung lagi denganku. Dan dia setuju,” kata Mastrix.

White mengangguk paham lalu menoleh ke samping kanannya. “Bagaimana denganmu?” tanyanya pada Laydrown.

“Aku hanya ikut saja. Angela dan Mastrix bilang kalau mereka sedang membutuhkan seorang priest, lalu mereka mengajakku. Jadi kupikir kenapa tidak? Bahkan aku senang sekali bisa satu tim dengan pemain kuat seperti kakakmu,” jawab Laydrown. White semakin merasa minder dengan kemampuan kakaknya. Ia mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak-banyaknya lalu membuang udara itu sekaligus perasaan iri yang ada di hatinya.

Beberapa meter sebelum melewati kuil magician, tiba-tiba datang segerombolan magician pemula yang menghadang. Dan paling depan sendiri, berdirilah laki-laki dempal yang tadi mem-bully White saat baru keluar dari kuil magician.

Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Ketika White menengok ke belakang, tempak gerombolan lainnya yang mendekat dari arah belakang. Mendadak perasaan White jadi tidak enak.

“Mau kemana kau, penyihir putih?” tanya laki-laki itu dengan pandangan sadis pada White.

“Totem, benarkah ini laki-laki yang bermasalah denganmu tadi?” tanya seorang laki-laki bertubuh kurus kering yang berdiri di samping kanan laki-laki yang ternyata bernama Totem itu.

“Benar. Dia orangnya,” jawab Totem sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah White.

“Kami hanya ingin lewat!” seru White.

“Oh, kau ingin lewat ya? Tapi sepertinya Tuan Totem tidak mengijinkan kalian bertiga lewat. Teman-teman!! Serang mereka!!” serunya yang membuat para magician itu langsung berlari menyerbu dan beberapa di antaranya memberondong mereka bertiga dengan mantra sihir mulai tingkat rendah hingga tingkat sedang.

Mereka bertiga langsung berpencar. Mastrix menghadapi pasukan yang ada di depan dengan begitu gesit dan lincahnya. Dengan satu kali tebasan, pedang samurainya dapat membunuh dan melukai dua sampai tiga orang sekaligus.

Sedangkan White dan Laydrown menghadapi pasukan musuh yang berada di belakang mereka. White yang tak begitu mahir memainkan pedang rapier hanya bisa menyabet-nyabetkan pedang itu ke segala arah dengan kedua tangannya. Tentu saja serangan White tidak begitu kuat, mengingat kalau senjata yang ia pakai tidak sesuai dengan job-nya. Begitu pula Laydrown yang seorang Priest, yang seharusnya hanya bertugas untuk menyembuhkan dan tidak punya kemampuan berkelahi, menggunakan boomerang yang terbuat dari besi untuk menyerang. Tapi lain halnya dengan White, Laydrown tampaknya lebih luwes dalam menggunakan senjatanya, walaupun serangannya juga tak seberapa kuat.

Mereka bertiga kalah jumlah dan terpencar dengan jarak yang cukup jauh. Mastrix masih bisa bertahan, walaupun HP-nya mulai berkurang sedikit demi sedikit karena serangan sihir dari beberapa magician. Sedangkan Laydrown masih diserang oleh banyak musuh. Ia beberapa kali terkena serangan sihir. Tapi karena ia seorang priest, ia bisa menyembuhkan dirinya sendiri dengan cepat. Walaupun itu bisa membuat MP-nya terus berkurang.

Dan White tak beda halnya dengan daging mentah yang diperebutkan oleh banyak serigala. Ia berjuang sendirian bersama pedang rapiernya. Tak peduli apakah sabetannya melukai musuh, yang penting ia harus menjaga jarak dan bergerak selincah mungkin untuk menghindar dari serangan sihir para magician itu.

Hingga akhirnya ia lengah, dan Totem mendadak muncul dari belakang dan menerjang punggung White dengan kakinya hingga ia jatuh tersungkur dengan cukup keras. Pedang rapiernya terlepas dari tangan dan terlempar entah kemana.

Dengan cepat, para magician yang lainnya segera memegangi tangan dan kaki White pada posisi tengkurap. White berusaha meronta dengan sekuat tenaga.

“Lepas! Lepaskan aku!” seru White. Tapi tidak bisa. Ia terlalu lemah dan tidak sanggup melepaskan diri.

Pada saat yang sama, Totem langsung berdiri memposisikan kakinya di antara tubuh White dan mengeluarkan sebuah cambuk.

“Sekarang, saatnya kau mendapatkan balasan dariku,” ujar Totem dengan bengis. Lalu ia mengayunkan cambuknya ke punggung White dengan keras.

“Aaarrgghh!!” teriak White kesakitan. Ia merasa punggungnya seperti terbelah menjadi dua. Rasanya sangat sakit.

“White!” seru Mastrix sambil terus menyerang para magician yang berusaha untuk membunuhnya. Ia ingin berlari menghampiri White pada saat itu juga. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan sosok White tidak dapat terjangkau oleh kedua matanya. Mereka terlalu banyak. Bahkan jika ia kehilangan konsentrasinya sedikit saja, ia bisa terkena serangan dari salah satu mantra sihir.

“White! Bertahanlah!” teriak Laydrown yang keadaannya hampir sama dengan Mastrix. Laydrown mulai berusaha mencari celah untuk mencari asal-muasal suara White.

“Aaarrggghhh!!! Hentikan!! Ku mohon hentikan!!” erang White lagi begitu Totem melecutkan cambuknya ke punggung White untuk yang kedua kalinya. Rasa perih yang mengerikan mulai menjalari punggungnya.

“Teruslah memohon, pecundang!! Aku sangat suka melihat orang lain memohon padaku!” seru Totem lalu kembali mencambuk punggung White berkali-kali tanpa ampun. Teriakan White terdengar sangat memilukan.

“Sialaaaaann!! Triple Death!!” teriak Mastrix yang menggunakan salah satu ‘special skill’-nya yang dapan membunuh sepuluh sampai lima belas orang sekaligus dalam sekali tebasan samurainya. Namun tetap saja. Jumlah para magician itu seperti tak pernah surut.

Sepertinya karena tempat itu dekat dengan pusat Kota Bintang Jatuh yang menjadi starting-point, dimana para pemain yang mati muncul kembali dengan level yang setingkat lebih rendah. Jadi para magician yang mati dan baru muncul kembali di starting-poin langsung menuju tempat keributan.

“Aaarrghh!! Argghh!! Arrgghh!!” erang White berusaha menahan sakit yang amat sangat ketika Totem mecambuki punggungnya. Ia mulai menangis maraung-raung kesakitan. Ia ingin melarikan diri saja dengan Log-Out dari game. Tapi seorang pemain tidak bisa melakukan Log-Out ketika ada pemain lain yang menyentuh atau memegang tubuhnya.

“Teruslah menangis!! Ahahaha!!” Totem tertawa kejam sambil terus menganyunkan cambuknya tanpa henti. Cambukan Totem hanya mengurangi HP 5-6 poin saja setiap lecutannya. Tapi tak sebanding dengan rasa pedihnya yang luar biasa.

Wajah White mulai tampak kotor karena tanah yang menempel pada kulit pipinya yang basah karena air mata. Bahkan tanah yang ada di bawah wajahnya juga mulai basah karena tetesan air matanya.

Andai tanah itu tahu bagaimana rasa sakit yang ia rasakan sekarang…

Andai tanah itu tahu bahwa ia memilih untuk dibunuh langsung daripada harus disiksa seperti itu…

Andai tanah itu bisa mendengar suara hatinya…

Andai tanah itu dapat menolongnya…

Andai tanah itu……

Hidup!

White setengah tidak sadarkan diri. Tubuhnya melemas. Berteriakpun rasanya susah.

Namun sedetik kemudian ketika HP-nya mencapai angka 1, mendadak langit berubah menjadi petang karena kemunculan awan mendung yang tiba-tiba. Dan pada saat itu juga tubuh White bercahaya diikuti suara mendenging. Sangat terang dan silau, bahkan membuat Totem menghentikan lecutannya.

Beberapa orang yang berada di sekitar White langsung terpental beberapa meter, termasuk Totem dan beberapa magician yang tadi memegangi White. Tubuh White mulai melayang dan berdiri dengan tegak, dan terus saja bersinar seperti sebuah matahari.

“A-apa yang terjadi? Ada apa ini?!” seru Totem kebingungan bersama teman-teman lainnya. Ia berusaha mendekat lagi dan hendak melecutkan cambuknya, tapi belum juga mendekat beberapa meter, tubuhnya terpental lagi hingga jatuh terseret.

Semua orang yang bertarung di sekitar itu lama-kelamaan berhenti.

Mendadak, tanah di bawah tubuh White berubah menghitam seperti tinta yang mulai menyebar memenuhi seluruh tanah di sekitar mereka semua seperti akar.

Tiba-tiba satu persatu manusia tengkorak bersenjata pedang mulai keluar naik dari bawah tanah. Mereka langsung menyerang Totem dan para megician itu.

Totem dan teman-temannya pun berusaha menyerang balik dengan kekuatan sihir yang mereka miliki. Namun manusia-manusia tengkorak itu seperti makhluk immortal yang sulit dikalahkan dengan kekuatan sihir. Bahkan jumlah mereka semakin banyak dan melebihi jumlah magician yang ada di situ.

Napas Mastrix terengah-engah mendekati Laydrown yang tampak terkesima dengan tubuh White yang masih terus bercahaya.

“Apa yang ia lakukan? Bagaimana anak itu bisa melakukan ini semua?” tanya Mastrix sambil menepuk pundak Laydrown sambil melihat sekeliling mereka yang sekarang hampir terlihat seperti lautan tengkorak yang berusaha menyerang para magician itu.

“Aku tidak tahu,” jawab Laydrown tanpa memandang Mastrix sedikit pun.

Beberapa saat kemudian, jumlah para tengkorak itu menjadi tiga kali jumlah para magician di situ. Totem dan teman-temannya tidak sanggup untuk menghadapi makhluk-makhluk itu.

Ketika mereka semua hendak kabur. Para tengkorak itu menyeret kaki setiap kaki para magician. Setiap dua manusia tengkorak memegangi kaki dan tangan satu orang magician, dan satu manusia tengkorak mengambil sebuah cambuk dari tulang pinggangnya dan langsung melecutkannya pada punggung magician itu.

Totem dan teman-teman magiciannya dicambuk dengan begitu kejamnya oleh tengkorak-tengkorak itu, sama seperti ketika ia mencambuk punggung White.

Terdengar suara riuh rintihan dan teriakan Totem bersama teman-temannya. Suara mereka melebur menjadi satu.

Tiba-tiba, White membuka kedua matanya. Seluruh bola matanya tampak menghitam, membuatnya terlihat seperti tidak memiliki bola mata. Dan tubuh White yang bercahaya melayang mendekati manusia-manusia tengkorak yang sedang melecuti punggung Totem.

“Ampun!! Ampuni akuuu!! Ampuunn!” teriak Totem merengek minta dikasihani. White mengangkat tangan kanannya sebatas dada, dan semua tengkorak yang bertugas mencambuk langsung berhenti seketika.

“Kalian semua akan di hukum oleh Roh Bumi karena kesombongan dan keangkuhanmu!” seru White dengan suara yang terdengar ganda dan tidak berperasaan.

“Ampun!! Ampuni aku!! Kami berjanji tidak akan mengganggumu lagi!! Aku besumpah!! Jadi tolong lepaskan kami!!” rengeknya lagi.

“Aku akan melepaskan kalian setelah kalian mendapatkan hukuman yang setimpal,” balas White yang sepertinya bukan dirinya.

Para tengkorak itu mengangguk seperti mendapatkan perintah, lalu mengeluarkan sebuah lempengan perak dari tulang pingggulnya dengan tulisan “Punishment” dan beberapa tulisan huruf kanji di kedua sisinya dan diletakkan di atas punggung Totem dan teman-teman magiciannya yang lain.

“Bagi kalian yang benar-benar memiliki hati yang bersih, kalian akan kembali ke starting-point dengan pengurangan satu level Sedangkan bagi kalian yang memiliki hati yang kotor, lebih buruk daripada kotoran….,” White memandang Totem beberapa saat, “….maka kalian akan kembali lagi ke starting-point dengan pengurangan sepuluh level.”

Di akhir kalimatnya, White menganggukkan kepala satu kali. Para tengkorak itu mengangkat pedangnya dengan cepat dan langsung di hujamkan ke punggung Totem dan teman-temannya menembus lempengan perak itu.

Satu-persatu mereka langsung mati satu-persatu dan menghilang dengan menyisakan kabut asap kecil. Mastrix dan Laydrown hanya bisa terdiam terpaku di tempatnya dengan mata yang sulit berkedip.

Setelah semuanya mati dan kembali ke starting-point, para tengkorak itu kembali masuk ke dalam tanah. Warna tanah itu kembali seperti semula secara perlahan. Begitu juga langit yang mulai cerah lagi.

Tubuh White yang bersinar yang bersinar turun dan menjejak atas tanah. Ketika cahaya itu menghilang dari tubuh White, ia langsung jatuh berlutut dengan keadaan yang benar-benar lemas. Napasnya terengah-engah.

“White!” seru Mastrix dan Laydrown bersamaan berlari menghampiri White dan membantunya berdiri.

“White, kau tidak apa-apa?” tanya Mastrix langsung melingkarkan lengan kanan White di lehernya. White berusaha tersenyum pada Mastrix dan mengangguk. Laydrown menarik tangan kiri White dan juga menaruh lengan White ke lehernya.

Dengan perlahan, mereka mulai berjalan menuju penginapan.

“Bagaimana kau melakukan hal itu tadi?” tanya Laydrown.

“Aku tidak tahu. Aku mengatakannya dengan sadar, semuanya seperti tertulis jelas dipikiranku. Mungkin itu salah satu special skill yang ku miliki.”

“Coba lihat statusmu,” suruh Mastrix. Mereka berhenti sejenak.

“Status!” seru White diikuti munculnya hologram virtual sebesar layar monitor komputer.

 

WHITE (ELF)

LEVEL 22

JOB: U. MAGICIAN

SPECIAL SKILL:

Lv 1. NECROMANCY

Lv 2. UNIDENTIFIED

Lv 3. UNIDENTIFIED

Lv 4. UNIDENTIFIED

Lv 5. UNIDENTIFIED

GILL: 3890

EXP: 455

HP: 1 / 256

MP: 1 / 210

ATK: 60

PDF: 77

MAG: 105

MDF: 100

AGI: 77

TECH: 62

ACC: 84

EVA: 88

LUCK: 216

 

Melihat status profil White membuat Mastrix dan Laydrown berseru rendah. Level White langsung naik 12 level ke level 22 setelah menghabisi Totem dan para magician itu sendirian dengan special skill NECROMANCY. Namun HP dan MP White langsung berkurang hingga titik terendah.

Laydrown menjentikkan tangannya sambil berkata “Heal”, kemudian mengarahkan tangan kirinya di depan tubuh White. Seperti mendapat udara segar, White menarik napas dengan sangat lega. HP-nya kembali penuh.. Namun tubuhnya masih lemah karena MP-nya masih 1. Jika ingin mengembalikan MP, cara yang paling mudah adalah beristirahat dan tidur di penginapan, untuk penyembuhan secara total, yang bisa mengembalikan HP dan MP ke titik maksimum.

“Tunggu dulu! Bukankah NECROMANCY itu kemampuan untuk pemain yang memiliki job Necromancer? Bagaimana mungkin seorang magician memiliki kemampuan seperti itu?” tanya Laydrown. Necromancy adalah kemampuan utama dari pemain yang memiliki job Necromancer, yaitu memanggil dan mengendalikan mayat sebagai boneka petarungnya.

“Aku tidak tahu. Tidak pernah membaca bab tentang Necromancer di buku panduanku,” jawab White. “Bisakah kita segera menuju ke penginapan? Tubuhku sudah tidak kuat lagi untuk berjalan.”

“Biar ku gendong,” kata Laydrown yang langsung berjongkok di depan White. White tidak punya pilihan lain. Ia hanya menurut saja dan naik ke atas punggung Laydrown.

Dengan satu sentakan, Laydrown berdiri dengan begitu mudahnya. Mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju penginapan.

“Kau bisa istirahat dipunggungku kalau kau mau. White si penyihir putih,” ujar Laydrown sambil melirik wajah White di atas pundak kanannya. White tersenyum tipis mendengar julukan yang diberikan Laydrown untuknya.

“Aku tidak ingin membasahi pundakmu dengan air liurku,” balas White dengan candaan ringan.

“Aku tidak masalah jika kau membasahi pundakku dengan air liurmu. Yang penting jangan sampai membasahi anggota tubuhku yang lain,” kata Laydrown yang membuat White mengerutkan kening. Kalimat Laydrown yang terakhir benar-benar ambigu dan membuat White membayangkan hal yang tidak-tidak.

White hanya bisa memukul kepala Laydrown sambil menggerutu tak jelas. Mereka berdua tertawa kecil, dan melupakan Mastrix yang terdiam di samping mereka tanpa berkata apapun.

Setibanya di penginapan, mereka bergegas menuju ke kamar Angela. Langsung saja mereka merebahkan tubuh White dengan hati-hati di salah satu ranjang yang kosong dengan posisi miring, supaya punggungnya yang masih ada sedikit luka cambuk tak tertindih, tanpa menghiraukan Angela yang tertidur pulas di atas ranjang yang berada di dekat jendela.

Namun karena mereka bertiga cukup berisik, Angela pun langsung terjaga. Ia menguap sebentar dan langsung terbelalak melihat kondisi White yang sangat pucat dan pakaian yang sobek di beberapa bagian.

“Astaga!!” serunya sambil melompat dari atas ranjang dan menghampiri adiknya yang kini terbaring lemah.

“Kenapa denganmu? Siapa yang berani melakukan hal ini padamu?!” serunya marah-marah lalu menatap Mastrix dan Laydrown dengan geram.

“Kalian berdua! Bukankah sudah ku katakan untuk menjaga adikku? Kenapa bisa sampai seperti ini?!”

Laydrown membasahi bibirnya sebentar. “Kami diserang oleh magician pria yang kau bunuh di depan kuil, yang sudah mengintimidasi adikmu.”

“Lalu bagaimana mungkin kalian bisa kalah hanya karena seorang magician baru yang bahkan langsung mati dengan senjata shurikenku?”

“Dia tidak sendirian. Dia bersama puluhan magician lain dan kami diserbu. Kami tidak sempat melindungi satu sama lain. Tapi…..,” Mastrix menggantungkan kalimatnya.

“Tapi apa?!”

“Adikmu sudah berhasil mengalahkan mereka semua,” sambung Laydrown sambil menatap White yang sepertinya sudah tertidur karena kelelahan.

Angela terbengong mendengar pengakuan Laydrown itu. “Bagaimana mungkin?”

“Necromancy,” jawab Laydrown singkat.

“Ba-bagaimana mungkin? Dia kan Magician, dan seorang Magician hanya bisa menguasai ilmu sihir yang berdasar pada lima elemen. Pasti ada kesalahan sistem,” elak Angela.

“Sepertinya bukan. Kemampuan kita di Secondary didasarkan pada data diri kita yang di-scan pada saat pendaftaran. Dan aku yakin di luar sana ada banyak pemain yang memiliki kemampuan lebih daripada White,” jawab Mastrix.

***

Semilir angin berhembus mengenai wajah White yang langsung membuatnya terbangun setelah tertidur selama delapan jam lamanya. Ia merasa tubuhnya segar kembali. Punggungnya tak lagi terasa pedih, juga tak ada bekas luka sedikitpun.

Ia masih berada di penginapan itu. Di kamar itu tidak ada orang sama sekali selain dirinya.

Ketika ia beranjak dari ranjangnya menuju pintu kamar, ia melihat sobekan kertas yang tertempel di pintu itu. Ia berjalan mendekat dan membaca huruf-huruf yang tertulis disana.

=@@@=

Kami sudah Log-Out. Nanti akan Log-In lagi jam 12 dunia nyata. Pakaianmu yang sobek-sobek sudah dijahit oleh Angela, ada di dalam lemari.

Mastrix, Laydrown, Angela

=@@@=

Seulas senyum tersungging di bibirnya. Walaupun ini hanya dunia game, tapi ternyata kakaknya baik sekali. Meski terkadang menjengkelkan dan suka marah-marah tak jelas.

White langsung menunduk menatap pakaian yang ia kenakan sekarang. Ia hanya memakai kaos dan celana sederhana, persis seperti kuli angkut.

Selain itu, rambut putihnya yang panjang tampak tergerai manis, menutupi kedua telinga runcingnya. Sepertinya satu di antara mereka ada yang sudah melepas kuncirnya.

Tapi ia jadi kepikiran dengan kejadian tadi sebelum ia tertidur lelap disini. Saat ia mengalahkan Totem dan teman-temannya. Dengan mengendalikan manusia-manusia tengkorak. Bahkan ia sendiri tidak terlalu sadar dengan perbuatannya.

“Status!”

White kembali memeriksa status profilnya, untuk memastikan apakah memang benar kalau ia memiliki special skill ‘Necromancy’.

Memang benar adanya. Kata ‘Necromancy’ berderet sempurna pada level 1 di daftar special skillnya. Tanpa berpikir panjang, ia segera menuju lemari dan mengambil buku panduan yang ia simpan di saku pakaiannya. Begitu ketemu, ia segera mencari bab Necromancer di buku itu.

“Necromancer adalah salah satu job dimana pemain yang memiliki job tersebut mampu menguasai ilmu hitam yang di sebut necromancy, yaitu memanggil dan mengendalikan jasad atau mayat yang sudah mati sebagai senjata dalam pertarungan.”

Kedua alisnya saling bertautan. Jadi Necromancy itu satu-satunya ilmu yang dimiliki oleh pemain yang memiki job Necromancer. Tapi bagaimana mungkin seorang magician memiliki kemampuan Necromancy?

Padahal di bab ‘Magician’ tertulis jelas kalau seorang magician hanya dapat memiliki satu kemampuan elemental. Hanya ada lima kemampuan elemental yang ada di di game Secondary, yaitu air, api, tanah, angin, dan elemen petir. Sedangkan satu magician hanya bisa memiliki satu di antaranya. Apakah ada yang salah dengan sistem game Secondary? Kenapa kemampuannya malah melenceng jauh?

Kepalanya semakin pusing memikirkan ini semua. Ia kembali memasukkan buku panduan ke kostum serba putihnya dan kembali ia masukkan ke dalam lemari. Ia memilih untuk tidak terlalu ambil pusing dengan semua itu. Yang penting adalah lakukan dan nikmati.

“Log-Out!” seru White dengan lantang, menyusul suara ‘buff’.

Beberapa saat kemudian, ia sudah kembali di tempat tidurnya di dunia nyata, sebagai Tenggara tentunya. Ia melepas konsol GS. Di letakkannya alat itu di atas meja dan melihat keadaan kamar yang sudah cukup terang.

“Pukul setengah tujuh,” bisiknya lirih setelah menatap jam dinding kamarnya sambil menguap lebar. Hari ini hari Minggu, tak ada kegiatan pula. Tenggara mengambil napas dalam-dalam lalu dihembuskannya, mencoba untuk merasakan udara Minggu pagi, walaupun jendela kamarnya masih tertutup.

Ketika ia turun dari ranjang hendak membuka jendela kamar, mendadak ponsel di atas meja berdering. Tenggara cepat-cepat meraih ponselnya dan melihat rentetan huruf yang tertera di layar. Top.

“Halo, Top? Ada apa?” sapa Tenggara.

“Halo, Sayang. Bagaimana pagimu hari ini?”

Tenggara menyipitkan kedua matanya. “Tidak usah pakai nama panggilan yang aneh-aneh deh. Cepetan, kenapa kau tumben sekali menelponku pagi-pagi begini?”

Top terkekeh sebentar. “Hari ini tim basket sekolah bertanding dengan sekolah dari kota sebelah, SMA Santa Gabriel. Aku diberitahu kalau aku masuk tim inti setelah ada teman satu timku yang sedang sakit. Dan aku ingin mengajakmu. Apa kau mau ikut?” ajak Top.

“Benarkah? Memangnya pertandingannya di mana? Di sekolah?”

“Iya, seperti biasa. Memangnya mau dimana? GOR kota? Pihak sekolah tidak akan pernah mau repot-repot menyediakan anggaran hanya untuk pertandingan persahabatan seperti ini,” balas Top di seberang telepon.

“Ya sudah deh. Boleh saja. Lagipula aku memang tidak punya acara pagi ini.”

“Oke. Satu jam lagi aku ke rumahmu,” kata Top.

Tapi Tenggara segera menambahi. “Tapi nanti siang jam dua belas, aku sudah harus ada di rumah.”

“He? Memangnya kenapa? Kamu mau kemana jam dua belas?”

“Aku mau kumpul sama teman-teman satu timku di Secondary.”

“Oya? Kamu sudah punya tim? Ngomong-ngomong siapa nama kamu di dalam game? Ras-mu? Job-mu?”

Tenggara mengerutkan hidungnya. Anak ini jadi mirip Reyori dan Jenna. Ia tidak ingin memberitahu jati dirinya di dunia game pada Top. Tapi mengingat bahwa Top yang membelikannya konsol GS, sepertinya ia tidak punya pilihan lain.

“Nanti saja aku kasih tahu. Yang penting kamu jangan terlambat datang kesini. Satu jam lagi pokoknya.”

“Oke, Sayang. Sampai jumpa satu jam lagi,” kata Top langsung mengakhiri pembicaraan, membuat Tenggara mencak-mencak kesal sendiri di tempatnya.

***

Baju sudah rapi, walaupun hanya mengenakan pakaian yang kasual. Badan juga sudah harum. Jam tangan, dompet, ponsel siap. Tenggara berkaca sebentar untuk merapikan rambutnya sedikit lagi.

Setelah selesai, ia segera keluar dari kamar menuju ruang tamu. Sambil berjalan, ia melihat jam tangannya. Top akan datang sekitar lima belas menit lagi.

Namun setibanya di ruang tamu, ia sedikit terkejut melihat kakak perempuannya sudah ada disana bermain laptop. Dan yang membuatnya terkejut adalah sosok laki-laki tampan berkacamata yang duduk di samping kanan kakaknya.

Bukankah Delmora sudah punya pacar yang sekarang bekerja diluar kota? Lantas siapa laki-laki itu? Tenggara jadi bingung. Dengan sedikit ragu-ragu, ia berjalan mendekat.

“Eh, jam segini sudah rapi banget. Kamu mau kemana?” tanya Delmora yang langsung membuat Tenggara menghentikan langkahnya dan tersenyum meringis pada kakaknya itu.

“Mau menonton pertandingan basket sama Top, Kak.”

Delmora langsung saja menarik Tenggara untuk duduk di samping kirinya. “Aku ingin memberitahumu sesuatu.”

“Tapi sebelum itu, kenalkan, ini teman kantorku, namanya Josias Prada. Jo, ini adikku, Tenggara Suwandra.”

Tenggara dan Josias berjabat tangan sebentar.

“Jadi ini ya adiknya Angela?” tanya Josias yang membuat Tenggara terperanjat dan menarik tangannya dari tangan Josias cepat-cepat.

“Jangan terkejut seperti itu. Dia kan satu tim dengan kita di game Secondary,” kata Delmora berusaha menengahi.

“Satu tim?” tanya Tenggara dengan kedua alis terangkat, membuatnya mengira-ngira, apakah Josias itu Mastrix atau Laydrown.

“Tentu saja. Aku Laydrown,” jawab Josias.

Tenggara langsung mengamati wajah Josias dengan seksama. Astaga, wajahnya memang mirip dengan wajah Laydrown. Hanya rambut dan kacamatanya saja yang membuatnya berbeda. “Oh, jadi Kak Josias itu Laydrown?”

“Betul sekali, White,” balas Josias dengan mengucapkan nama Tenggara di dunia game.

“Lalu apakah Mastrix juga teman kantor kalian?”

“Bukan. Kami tidak kenal dengan Mastrix di dunia nyata,” jawab Josias. Tenggara jadi penasaran dengan jati diri Mastrix yang sebenarnya.

“Ngomong-ngomong, kenapa Kak Josias datang kesini?” tanya Tenggara.

“Tentu saja ingin bertemu denganmu. Lagipula kan ini hari Minggu, dan kantor sedang libur.”

Tenggara terbelalak dengan pipi bersemu tipis. “Bertemu denganku?”

“Tentu saja. Aku penasaran dengan adiknya Delmora. Itu saja,” kata Josias yang membuat Tenggara kembali bersikap normal. Sepertinya Tenggara hampir salah tanggap.

“Itu bukanlah hal yang penting. Sekarang aku baru saja membuka official website Secondary khusus untuk Indonesia. Website ini baru bisa di akses mulai hari ini,” ujar Delmora yang membuat Tenggara dan Josias mengalihkan fokus ke laptop Delmora.

Di layar laptop tersebut, tampak tampilan website bernuansa putih dan biru sian. Paling atas sendiri, terpampang jelas dan besar tulisan ‘Secondary’ dengan desain yang sangat bagus dengan tulisan kecil ‘Indonesia’ tepat di bagian bawahnya.

“Buset!! Pengguna game Secondary di Indonesia sudah mencapai sepuluh juta lebih dalam dua hari saja! Kita lihat rangking kita ya!” kata Delmora sambil meng-klik tulisan “Peringkat Pemain”, yang dibawahnya langsung muncul dua pernyortiran, yaitu ‘Berdasarkan Level’, dan ‘Berdasarkan Potensi’. Ia klik tulisan “Berdasarkan Level”.

Peringkat satu diduduki oleh seorang Priest laki-laki yang memiliki level 53 bernama Supernova, berasal dari ras manusia. Wajahnya tampak cukup berumur. Mungkin sekitar empat puluhan. Tapi itu bukan masalah, karena usia maksimal untuk bermain game Secondary tidak dibatasi, sedangkan usia minimalnya harus 15 tahun.

“Gila! Bagaimana mungkin pemain dengan job priest itu bisa memiliki level paling tinggi di antara job yang lain?!” seru Josias dengan menggebu-gebu, mengingat kalau dia juga seorang priest di Secondary.

“Pasti si Supernova ini nge-hack game Secondary,” tukas Delmora.

“Tidak mungkin. Game Secondary itu memiliki keamanan yang sangat tinggi. Bahkan virus dan hacker profesional pun tidak akan sanggup meretas dan mengganggu sistem game,” balas Josias yang sepertinya tahu banyak hal tentang Secondary.

“Dia pasti rajin sekali bertarung dengan musuh yang memiliki level di atasnya, dan ia pasti juga punya tim seperti kita, supaya lebih mudah dalam mengalahkan musuh,” kata Tenggara mencoba mengeluarkan pendapat.

“Mungkin saja. Sepertinya itu lebih masuk akal,” balas Delmora.

Posisi yang kedua diduduki oleh seorang bard, atau penyair. Bard adalah satu satu jenis job yang mengandalkan kepiawaian dalam bermain alat musik. Nada-nada harmonis dari alat musik yang dimainkan akan mengeluarkan beberapa efek yang bahkan sangat fatal bagi yang mendengarnya. Dia laki-laki juga, dengan senjata berupa gitar klasik dan berpenampilan seperti koboi, level 52 dari ras elf, bernama Agustus. Nama yang sangat manis. Cuplikan fotonya juga tampan dan cukup muda.

Di peringkat ketiga ada seorang magician muda perempuan berelemen angin, dari ras beast, dengan kepala yang hampir menyerupai kepala kucing dengan sekujur tubuh berbulu putih serta pakaian serba ungu. Level 52 juga, sama seperti Agustus, namun sepertinya ada poin-poin tersendiri yang membuat Agustus berada di atas. Perempuan itu bernama Catlyn.

Peringkat-peringkat dibawahnya juga sama memiliki level 52.

“Aku mau lihat peringkatku,” kata Delmora sambil mengetik nama “Angela’ di kotak pencarian peringkat. Setelah diklik enter, ada beberapa nama yang memiliki unsur nama ‘Angela’. Ada Angelarist, Angelano, Angelas, Angelaqueen, dan sebagainya. Sepertinya ia beruntung, dapat memakai nama Angela lebih dulu dari pada yang lainnya.

Nama Angela ada di bagian paling atas sendiri. Tapi tertulis disana kalau dia menempati peringkat ke 109.311.

“Wow! Kau sangat kuat di Secondary, tapi peringkatmu sangat mengecewakan,” kata Josias lalu tertawa kecil bersama Tenggara. Delmora menyipit memandang Josias.

“Oke, baiklah. Bagaimana dengan Laydrown?” ujar Delmora sambil mengetik nama ‘Laydrown’ di kotak pencarian peringkat.

Hanya ada satu nama Laydrown di sana, dengan tulisan peringkat 2.895.440.

“Lihat tuh! Peringkatmu lebih mengerikan daripada milikku,” tukas Delmora. Josias hanya bisa meringis, lalu kedua orang itu langsung menatap Tenggara bersamaan, membuat anak itu menciut.

“Kenapa kalian berdua menatapku seperti itu?” tanyanya polos.

Tanpa banyak bicara lagi, Delmora segera mengetik nama White. Namun setelah di klik enter, banyak sekali pemain yang memiliki unsur nama White, dan White sendiri berada di paling atas, dengan peringkat 6.767.183.

Delmora dan Josias tertawa kecil dalam diam.

“Kalau tertawa ya tertawa saja. Memang levelku masih rendah kok,” ujar Tenggara agak kesal.

“Baiklah, kita lihat peringkat berdasarkan kemampuan potensi saja,” kata Delmora sambil tertawa terbahak-bahak. Setelah ia klik, langsung berurutan peringkat pemain yang memiliki kemampuan paling potensial.

Peringkat pertama ada seorang Archer, atau pemanah, laki-laki dari ras demon bernama Monstrick dengan level yang masih 18, namun memiliki special skill yang sangat amat langka. Entah seperti apa special skill yang dimilikinya, tidak tertulis jelas disitu.

Di peringkat dua ada seorang Monk, yaitu job yang kemampuannya bertarung dengan tangan kosong. Dan yang paling mencengangkan mereka bertiga adalah dia seorang gadis yang masih sangat muda. Mungkin baru lepas usia 15 tahun. Level 37 dari ras angel, bernama Cleomega.

Saat sedang seru-serunya melihat peringkat, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Tenggara langsung melompat dari sofa menuju ke pintu. Setelah dibuka, tampak Top berdiri di depan pintu sambil tersenyum padanya.

“Bagimana? Sudah siap, sayang?”

Tenggara langsung menjitak kepala Top. “Sudah ku bilang berkali-kali jangan panggil dengan sebutan seperti itu. Kau pikir aku mainanmu?”

“Iya, iya, maaf. Kita berangkat sekarang?” tanya Top. Tenggara mengangguk dan menengok sebentar ke dalam.

“Kak, aku pergi dulu sama Top, ya!”

“Iya! Hati-hati di jalan!” seru Delmora. Pintu langsung tertutup seketika dari luar.

Delmora dan Josias kembali fokus dengan layar laptop. Men-scroll peringkat itu kebawah sedikit demi sedikit.

Namun mereka tersentak ketika melihat sederet nama yang familiar di peringkat ke 98 di daftar pemain potensial. White, elf, magician, level 22.

Juga peringkat 224 yang diduduki oleh Mastrix, elf, warrior, level 33.

Dari jumlah peserta lebih dari sepuluh juta, mereka menempati peringkat elit di daftar pemain potensial.

Delmora dan Josias saling memandang satu sama lain dengan perasaan kagum. Antara percaya dan tidak percaya.

Kalau begitu, pasti masih banyak sekali pemain dari Indonesia yang lebih potensial dari pada White, alias Tenggara.

***

Gedung basket SMA Tunas Emas, tempat pertandingan persahabatan antara tim basket putra SMA Tunas Emas melawan tim basket SMA Santa Gabriel. Tak hanya tim putra saja, tapi tim putri juga bermain. Bahkan tim putri akan bermain lebih dulu.

Dan ternyata banyak juga yang menonton pertandingan ini. Sekolah dari tim lawan juga membawa supporter mereka sendiri yang berteriak menyerukan kata-kata penyemangat untuk tim basket sekolah mereka. Tapi supporter SMA Tunas emas lebih banyak dan lebih menggema. Membuat atmosfer di gedung basket itu seakan-akan berubah menjadi ajang untuk pembuktian, tim basket mana yang paling bagus.

Tenggara baru saja masuk ke dalam gedung bersama Top.

“Kau cari tempat duduk. Aku mau ke ruangan ekskul basket dulu. Teman-teman tim basket putra semuanya sedang berada disana sekarang,” kata Top lalu segera berlari keluar gedung meninggalkan Tenggara yang masih berdiri di tempatnya.

Akhirnya ia pun masuk ke dalam karena tidak punya pilihan lain. Tenggara naik ke tribun dan mencari-cari tempat duduk yang masih kosong. Ia naik ke bagian paling belakang dan paling atas sendiri.

“Tenggara!” panggil seseorang dari lapangan basket. Tenggara menoleh dan menemukan sosok Reyori yang tengah melambaikan tangan ke arahnya dari pinggir lapangan basket. Ia sedang bersama teman-teman tim basket yang lain. Tenggara balas tersenyum dan membalas lambaian tangan dari Reyori. Ia lupa kalau temannya itu adalah anggota tim inti putri. Dia jadi tampak sangat aneh jika rambutnya dikuncir kuda seperti itu. Mengingat kalau rambut bagian sisi kanannya di pangkas habis. Rambut Reyori lebih pantas digerai.

Tenggara kembali melangkah naik ke tribun paling atas yang memang lebih sepi. Ia langsung saja duduk di tempat yamg kosong sambil memandang dengan seksama ke arah lapangan.

Tampak di pinggir lapangan bagian selatan sudah berkumpul tim basket putri SMA Tunas Emas yang sudah bersiap mengikuti pertandingan dan sedang mendengarkan instruksi dari pelatih.

“Kau juga ke sini?” tanya seseorang secara tiba-tiba yang sudah berdiri di samping kiri Tenggara. Ia mendongak. Napasnya tercekat begitu mengetahui siapa yang sudah menyapanya barusan. Itu Eleazar.

‘Mampus!’ umpatnya pelan.

“Eh, iya. Aku diajak Top tadi. Mungkin kalau dia tidak mengajakku, aku sudah bermalas-malasan dirumah sekarang,” jawab Tenggara. Eleazar hanya tersenyum. Senyumnya kembali mengingatkan Tenggara tentang masa kecil mereka.

Tanpa meminta ijin lebih dulu, Eleazar langsung duduk di samping kiri Tenggara. Dan yang membuatnya agak risih adalah Eleazar tidak memberi ruangan sedikitpun di antara tubuh mereka berdua. Paha dan pundak mereka saling bersenggolan satu sama lain, membuat Tenggara menggeser duduknya sedikit ke kanan.

Bau parfum dari badan Eleazar menyeruak di hidung Tenggara. Bahkan parfumnya masih sama ketika mereka kecil dulu. Tenggara menunduk. Perasaanya kembali kacau. Apalagi mengingat kemarin malam di pasar kuliner, Eleazar tampak menggandeng seorang wanita.

Tenggara cepat-cepat mengatur napasnya yang terasa mulai berat. Lebih baik hal seperti itu tidak usah dipikirkan dan dilupakan saja. Ia mendongakkan kepala dan melihat ke lapangan.

“Sikapmu berbeda daripada yang dulu,” kata Eleazar yang tiba-tiba memulai percakapan dengan topik yang langsung dipahami oleh Tenggara sendiri. Tenggara menoleh memandang Eleazar yang tampak sangat santai sambil menatap ke arah lapangan. Wajahnya tampak lebih tampan jika dilihat dari samping. Apalagi hidungnya yang mancung.

Tenggara mengalihkan pandangan dari wajah Eleazar. “Sepertinya aku masih sama seperti aku yang dulu. Sikapku juga memang selalu seperti ini.”

“Tapi bagiku kau sudah berubah. Tentu saja. Delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi seseorang untuk menunggu. Tapi kau harus tahu, kalau aku tetaplah aku yang dulu,” kata Eleazar yang membuat Tenggara memutar kepalanya dengan cepat menghadap Eleazar, tepat pada saat laki-laki itu juga memandang ke arahnya.

“A-apa maksudmu?” tanya Tenggara dengan sedikit tergagap.

Belum sempat dijawab, tiba-tiba Top datang dan langsung duduk di samping kanan Tenggara.

“Maaf, kau sudah menunggu lama disini ya? Oh, ada Eleazar juga rupanya,” kata Top. Tenggara menggeleng pelan. Ia langsung terdiam menunduk di tempatnya sambil memilin-milin jarinya sendiri.

“Iya. Aku tahu dari Reyori kalau hari ini ada pertandingan basket. Jadi aku ke sini daripada tidak ada kegiatan apapun,” jawab Eleazar.

“Oh, begitu? Kau kesini sama siapa?” tanya Top.

“Sendirian. Memangnya mau sama siapa lagi?”

“Tidak sama pacarmu?” tanya Top yang kini terdengar sangat cerewet daripada Delmora.

Eleazar terkekeh. “Aku masih belum punya pacar sekarang.”

Jawaban itu sontak membuat Tenggara dan Top terbelalak.

“Laki-laki setampan dirimu masih belum punya pacar?” goda Top.

“Kau sendiri memangnya sudah punya pacar?” balas Eleazar yang langsung membuat Top garuk-garuk tengkuknya sendiri sambil menggeleng pelan dengam senyum meringis.

Tapi Tenggara tak juga mengalihkan pandangannya dari wajah Eleazar. Apakah itu benar? Apakah Eleazar tidak punya pacar? Lalu siapa gadis yang bersamanya di pasar kuliner kemarin? Apakah itu bukan pacar Eleazar? Ataukah dia hanya menutup-nutupi status hubungannya dengan gadis itu supaya tidak ada orang yang tahu mengenai mereka?

Kepala Tenggara semakin pusing dengan puluhan pertanyaan yang menghantam kepala Tenggara dari segala sisi bertubi-tubi. Kalau benar Eleazar masih belum punya pacar, apakah Eleazar masih memikirkan Tenggara selama ini?

Namun beberapa saat setelah itu, suara seorang MC memberitahu kalau acara akan segera dimulai dengan penampilan aksi dance dan cheerleader dari masing-masing sekolah.

“Kamu kenapa? Tidak enak badan?” tanya Top melihat wajah Tenggara yang tampak pucat.

“Tidak apa-apa kok. Hanya perasaanmu saja kali,” jawab Tenggara berbohong.

“Oh iya, ngomong-ngomong apa kau juga bermain Secondary?” tanya Top pada Eleazar.

“Tentu saja. Kenapa?”

“Apa namamu dalam game? Rasmu? Job-mu?” tanya Top.

“Namaku Mastrix, dari ras Elf, job-ku adalah Warrior,” jawab Eleazar yang membuat seluruh tubuh Tenggara merinding mendengarnya.

Mastrix……

Elf……

Warrior…….

Tenggara menoleh secara perlahan. Ia mengamati wajah Eleazar yang tampan. Memang ia mirip sekali dengan Mastrix di dunia Secondary. Yang membuatnya berbeda, di dalam game, Mastrix memiliki rambut biru perak dan mata biru yang cerah, serta telinga runcing. Sepertinya Tenggara sangat kurang terampil dalam mengenali setiap orang di dunia nyata dengan dunia Secondary.

Jantungnya berdegup kencang. Mereka berdua berada dalam satu tim di dalam game.

“Benarkah? Aku juga Warrior, namaku Seergrowl, dari ras Beast, manusia setengah serigala,” balas Top lalu memandang Tenggara.

“Bagaimana dengan Tenggara? Apa namamu di dalam game? Rasmu dan job-mu?” tanya Top yang langsung membuat Tenggara seakan tersudut.

Ia sudah berjanji pada Top untuk memberitahunya mengenai karakternya dalam game. Tapi kalau keadaanya seperti ini beda lagi urusannya. Apalagi Eleazar juga disini.

“Cepat katakan. Kamu sudah berjanji akan mengatakannya setelah kita bertemu,” desak Top yang membuat Tenggara semakin kikuk.

Gawat! Benar-benar gawat!

Badan Tenggara panas dingin, sementara Top terus saja mendesaknya untuk memberitahu karakternya di dalam game.

“Em.. Anu.. Aku…. um…,” Tenggara bingung harus bagaimana cara memberitahu Top. Kalau ia menceritakannya sekarang, nanti Eleazar pasti langsung mengenalinya. Sekarang Tenggara seperti sedang berhadapan dengan dua singa lapar yang siap menerkamnya. Kalau salah bergerak sedikit saja, bisa fatal akibatnya.

Pada saat yang sama, seseorang memanggil nama Top dari kejauhan. Tampak seorang laki-laki berseragam basket mengangkat kedua tangannya ke arah Top di gerbang masuk gedung basket.

“Ah! Kamu kelamaan. Ya sudah, aku pergi dulu. Selamat menikmati pertandingan,” ujar Top lalu beranjak pergi meninggalkan tribun.

Tenggara bernapas lega, dalam hati ia berterimakasih kepada teman Top tadi. Kalau sampai ia kasih tahu sekarang, bisa rumit jadinya.

Kini tinggal Tenggara dan Eleazar di tribun paling atas sendiri, berduaan saja, membuat Tenggara bingung dan gugup lagi. Hanya hening yang ada di antara mereka berdua, membuat suasana semakin canggung.

“Ngomong-ngomong, apa malam ini kau sibuk?” tanya Eleazar langsung.

“Sepertinya tidak. Memangnya kenapa?”

“Kebetulan aku juga sedang tidak sibuk. Aku ingin mengajakmu pergi keluar. Kita jalan-jalan. Sudah lama aku tidak berkeliling kota ini. Apa kau mau?” ajak Eleazar. Tenggara merenung mempertimbangkan ajakan Eleazar. Entah kenapa rasa cemasnya jadi sedikit memudar setelah tadi Eleazar mengatakan kalau ia tidak punya pacar. Tapi ia juga tidak tahu apakah laki-laki itu jujur atau tidak.

“Baiklah. Sepertinya aku bisa,” jawab Tenggara yang langsung dibalas senyum cerah oleh Eleazar. Ia tidak tahu apakah keputusannya menerima ajakan Eleazar itu tepat. Tenggara hanya tidak ingin melulu merasa canggung ketika berdekatan dengan Eleazar. Apalagi kalau sampai ada orang lain yang menyadari perubahan sikapnya ketika bertemu dengan Eleazar.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam. Ngomong-ngomong letak rumahmu masih sama dengan yang dulu kan?”

Tenggara hanya menjawabnya dengan anggukan.

Tak lama, tiba-tiba ia merasakan tangan kanan Eleazar mulai meraba tangan kirinya dan menggenggamnya. Dengan sigap, Tenggara menarik tangan kirinya dari jangkauan Eleazar.

Ia menatap Eleazar sejenak lalu mengalihkan pandangan. Eleazar terlihat agak kecewa dengan sikap Tenggara yang terkesan membangun sebuah dinding tebal di antara mereka berdua.

Bukannya ia tidak menyukai Eleazar lagi. Ia hanya tidak ingin hatinya sakit lagi. Ia khawatir jika Eleazar hanya berpura-pura masih belum punya pacar di depan orang-orang.

“Maaf,” ujar Eleazar tiba-tiba yang membuat hati Tenggara mencelos. Ia ingin Eleazar tahu bahwa ia masih menyukainya. Tapi karena kejadian di pasar kuliner itu, membuat Tenggara menahan hatinya sendiri untuk terus bersembunyi dibalik sikapnya yang acuh kepada Eleazar.

Ia ingin Eleazar tahu hal itu. Ia ingin laki-laki itu tahu bahwa hatinya sekarang sedang menangis.

***

Pertandingan basket berakhir jam sebelas lebih seperempat dengan hasil yang cukup memuaskan. Tim basket putra dan putri SMA Tunas Emas menang, walaupun tadi sempat ada insiden cedera dari salah satu pemain putri dari tim lawan.

Tenggara menunggu Top di gerbang sekolah. Ia harus cepat-cepat pulang ke rumah. Takut nanti kakaknya marah-marah karena terlambat berkumpul di dunia Secondary.

Dari jauh, terlihat sosok Top yang berlari menghampirinya.

“Tenggara, maaf sekali. Aku masih harus ikut rapat evaluasi dengan teman-teman. Apa kau mau menungguku?” tanya Top.

“Apakah rapatnya lama?”

“Aku tidak tahu. Tapi sepertinya hanya setengah jam.”

“Ya sudah, tidak apa-apa, kalau begitu. Aku pulang naik angkutan umum saja. Lagipula nanti jam dua belas aku harus berkumpul di game bersama teman-teman satu timku. Kalau aku menunggu sampai kau pulang, aku mungkin bisa terlambat,” kata Tenggara.

“Iya. Maaf banget aku tidak bisa mengantarmu pulang. Tapi mgomong-ngomong kau belum memberitahu karaktermu di Secondary. Apa namamu, rasmu dan juga job-mu?” tanya Top.

Tenggara melihat sekeliling dengan waspada. “Aku kasih tahu kamu, tapi kamu jangan kasih tahu orang lain ya. Karakterku di Secondary masih lemah.”

“Iya. Iya. Aku janji tidak akan memberitahu siapa pun,” kata Top yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.

Tenggara mencondongkan kepalanya mendekati telinga kiri Top dan berbisik. “White, elf, magician.”

Namun pada saat yang sama, Top sengaja mendorong pipinya ke wajah Tenggara, membuatnya terlihat seakan-akan ia mencium Top. Tenggara langsung mendorong kepala Top dengan keras sambil mengomel.

“Kamu menyebalkan! Sudahlah! Lebih baik aku pulang saja!” teriak Tenggara sambil berjalan meninggalkan gerbang sekolah.

“Ya sudah. Hati-hati di jalan ya, sayang!” seru Top sambil tertawa yang langsung membuat telinga Tenggara panas. Walaupun sudah dibilang berkali-kali, tapi tetap saja Top terus menggodanya dengan panggilan memuakkan seperti itu. Apalagi harus pulang sendirian.

Tenggara berjalan terus hingga sampai di halte dekat sekolah. Di sana hanya ada dirinya dan seorang ibu-ibu berkerudung dengan dandanan sederhana.

Ketika ia baru duduk, mendadak, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depannya. Kaca mobil itu langsung terbuka dan terlihat sosok Eleazar yang tengah duduk di belakang kemudi mobil itu.

“Masuklah. Biar ku antar kau sampai ke rumah!” serunya dari dalam mobil. Tenggara bukan orang yang suka menolak kebaikan orang lain. Tapi…..

“Cepatlah, Tenggara. Setelah ini aku masih harus ada urusan,” kata Eleazar. Tenggara sudah tahu, mengingat mereka berdua ada di tim yang sama di dalam game.

Karena tidak punya pilihan lain, akhirnya Tenggara beranjak menuju mobil Eleazar dan hendak masuk di jok kursi bagian belakang.

“Eh-eh! Kamu mau duduk dimana? Di depan sini dong,” oceh Eleazar. Tanpa banyak protes, Tenggara menurut dan masuk ke jok depan. Setelah ia duduk dan memasang sabuk pengaman, Eleazar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak biasanya Eleazar mengendarai mobil. Biasanya kalau sekolah ia selalu naik motor.

“Kau sudah makan siang?” tanya Eleazar.

“Belum.”

“Bagaimana kalau kita mampir sebentar ke warung makan?” ajaknya.

“Bukankah tadi kau bilang ada urusan?” protes Tenggara.

“Masih lama kok, nanti jam dua belas. Ini juga masih jam sebelas seperempat.”

“Tidak usah. Aku bisa makan dirumah saja,” tolak Tenggara yang membuat suasana hening seketika.

“Aku melihat kamu mencium pipi Top di gerbang sekolah tadi,” kata Eleazar tiba-tiba.

“Aku tidak menciumnya! Sungguh, dia sendiri yang memajukan pipinya ke wajahku saat aku berbisik kepadanya!” elak Tenggara.

“Aku tahu itu. Aku selalu percaya dengan semua yang kau katakan,” ujar Eleazar.

Mendengarnya membuat Tenggara merasa sangat bersalah. Benarkah Eleazar mempercayainya hingga seperti itu? Bahkan tanpa Tenggara menjelaskan apapun padanya.

Tapi mendadak, Eleazar meminggirkan mobilnya ke pinggir jalan dan berhenti.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu,” ucap Eleazar yang tampak ingin memulai pembicaraan serius.

“Apa?” tanya Tenggara dengan jantung berdegup-degup.

Eleazar menatap mata Tenggara dalam-dalam. “Apa kau masih Tenggara yang dulu ku kenal?”

“Tentu saja,” jawab Tenggara tampak santai, padahal jantungnya terasa ingin melompat keluar.

“Tapi kenapa sikapmu berubah? Apakah kau sudah tidak lagi menyukaiku?” tanya Eleazar.

Tenggara menunduk. “Kau tidak perlu mengantarku sampai rumah. Aku akan turun disini,” kata Tenggara hendak membuka pintu mobil. Tapi Eleazar mencegahnya dengan gerakan cepat.

Ia menangkap kepala Tenggara dan mendekatkan wajahnya ke wajah Tenggara, membuat anak itu memejamkan matanya erat-erat.

Satu detik…. Dua detik…. Tiga detik….

Tapi tidak ada yang terjadi. Dengan degup jantung yang meledak-ledak, Tenggara membuka kelopak matanya pelan-pelan dan melihat Eleazar yang sudah duduk di belakang kemudi dengan ekspresi yang tak bisa ditebak.

“Maaf jika kata-kataku tadi mengganggumu. Tapi aku akan tetap mengantarmu sampai rumah,” tutur Eleazar sambil kembali menjalankan mobilnya melintasi jalan raya.

Tenggara menghembuskan napas lega. Ia tidak bisa membayangkan betapa malu dirinya. Tapi semakin lama, ia sadar kalau dirinya sendiri semakin merasa tidak nyaman karena terus menerus menutup diri dari Eleazar.

Ingin rasanya ia memeluk Eleazar saat ini juga dan mengatakan kalau Tenggara masih menyukainya sama seperti dulu.

Tenggara tidak boleh begini terus. Mau tidak mau, ia harus bertanya mengenai wanita yang kemarin itu, jika ingin membuat semuanya jelas.

“Hm… Em.. Eleazar,” panggil Tenggara.

Bukannya menjawab, Eleazar tampak tersenyum senang dan tertawa kecil. Tenggara jadi bingung sendiri melihat sikap Eleazar. “Kenapa kamu malah senyum-senyum sendiri?” tanya Tenggara bingung.

“Setelah sekian lama sejak kita bertemu lagi, akhirnya kau memanggil namaku juga. Senang rasanya,” kata Eleazar.

“Oh.” Tenggara jadi kikuk.

“Kenapa hanya ‘oh’ saja? Kamu mau bertanya sesuatu padaku atau tidak?” tanya Eleazar.

Dengan sedikit keberanian, ia mencoba bertanya. “Kemarin malam…. Um… Siapa wanita yang berjalan bersamamu di… pasar kuliner?”

Eleazar menaikkan kedua alisnya. “Oh, kau melihat kami?”

“Waktu itu aku berada di warung bubur kacang ijo bersama Jenna dan Reyori, dan aku tidak sengaja melihat kalian berdua melintas di depan warung,” jelas Tenggara.

“Itukah sebabnya kau selalu menutup diri dariku selama ini? Karena kau melihatku jalan bersama wanita lain yang tak lain adalah kakak tiriku sendiri?”

Sontak, kepala Tenggara berputar cepat menoleh memandang Eleazar. “Kakak tirimu?”

“Benar sekali. Dan seharusnya kau tidak perlu mencemaskan soal semua gadis-gadis yang berada dekat denganku.”

Mendadak, perasaan Tenggara menjadi ringan. Ringan sekali, bahkan bulu pun kalah ringan dari perasaannya sekarang.

Dadanya seperti tersiram air hangat yang nyaman dan memberinya semangat baru. Jika memang itu benar, itu artinya dia tidak perlu merasa cemburu.

Beberapa saat setelah itu, mobil Eleazar berhenti tepat di depan rumah Tenggara. Ternyata dia masih ingat betul letak rumah Tenggara. Padahal sudah delapan tahun lamanya sejak terakhir kali ia berkunjung kesini.

“Kita sudah sampai,” kata Eleazar. “Ngomong-ngomong, apakah tidak ada hal yang ingin kau tanyakan lagi padaku?”

Tenggara tidak tahu harus bertanya apa lagi. Tapi ada satu hal yang ingin ia katakan. “Aku masih seperti yang dulu. Tidak akan pernah berubah.”

“Apa itu artinya kita bisa saling mengikat hati kita mulai dari sekarang?” tanya Eleazar secara langsung.

Tenggara menunduk malu. “Aku tidak tahu. Aku pikirkan dulu hal itu.”

Ia segera keluar dan menutup pintu mobil. Kaca mobil itu turun perlahan-lahan menampilkan wajah Eleazar yang bersemi-semi.

“Kalau begitu, sampai jumpa nanti malam,” kata Tenggara sambil mengangkat tangan kanannya sebatas kepala.

Eleazar balas mengangkat tangannya dan mengedipkan sebelah mata pada Tenggara, lalu melajukan mobilnya.

Tenggara berjalan menuju pintu depan dengan senangnya sambil memikirkan Eleazar. Laki-laki itu memang sangatlah baik. Bahkan dia tidak berusaha untuk memaksa menciumnya ketika tadi di dalam mobil.

Ia jadi agak menyesal dengan kelakuannya. Seharusnya ia tadi bisa langsung menjawab ‘iya’. Tenggara hanya tidak ingin buru-buru saja.

Delmora baru saja selesai makan siang dan sedang duduk santai membaca majalah di ruang tamu, ketika tiba-tiba Tenggara masuk ke dalam rumah dengan wajah sumringah.

“Kamu kesurupan setan apa sih? Tumben pulang-pulang wajahnya sudah cerah begitu.”

“Oh, tidak ada apa-apa, Kak. Biasa saja.”

Kakaknya jadi ikut tersenyum. “Kamu belum makan siang kan? Cepetan makan sana! Setelah itu kita Log-In lagi ke Secondary. Ada sesuatu yang ingin aku diskusikan dengan tim,” suruh Delmora.

“Diskusi? Diskusi tentang apa, Kak?”

“Nanti saja aku kasih tahu setelah kita Log-In. Sekarang kamu makan dulu sana!” suruh Delmora yang mulai kelihatan seperti nenek sihir lagi.

Tenggara hanya manyun dan segera berjalan ke dapur. Dalam hati ia bertanya-tanya, ada hal serius apa yang ingin dibicarakan oleh Delmora. Tapi otaknya seperti tidak menangkap ide apapun untuk menebak hal itu.

Pukul dua belas kurang lima belas menit, Tenggara memutuskan untuk Log-In duluan, mengingat kalau tadi sebelum Log-Out dari game, ia masih mengenakan pakaian yang ‘bukan kostumnya’. Hanya memakai kaos dan celana pendek.

Begitu ia masuk ke dalam game sebagai White, ia berada di dalam kamar penginapan yang sama. White menunduk menatap pakaiannya yang benar-benar tampak menyedihkan. Juga rambut putihnya yang panjang tergerai luruh ke bawah menutupi kedua telinga runcingnya.

“Kau juga Log-In?” ucap seseorang dari arah jendela kamar secara tiba-tiba yang membuat White memutar badannya cepat-cepat. Di sana tampak laki-laki dari ras elf dengan rambut pendek berwarna biru perak, serta bola mata yang warnanya hampir sama dengan rambutnya. Mastrix berdiri membelakangi jendela dan memandangnya dengan lembut.

White jadi sedikit gugup. Mengingat kalau ia masih belum memakai kostum magiciannya. Dan ia tahu bahwa Mastrix itu adalah Eleazar.

“Iya. Waktu aku Log-In tadi masih belum jam dua belas. Ku pikir akan lebih baik jika aku Log-In duluan sebelum yang lain datang, karena kostumku……,” Tenggara menunduk lagi menatap pakaiannya. Ia langsung menuju ke lemari dan mengambil kostum putih-putihnya. Buru-buru ia mengenakan kostumnya.

Mastrix berjalan mendekati White. “Kau terlalu buru-buru hingga kurang rapi memakainya. Sini biar ku bantu,” ujarnya sambil menautkan kancing kemeja dalam dari kostum White.

White sendiri hanya bisa membeku sambil menahan napas. Wajah mereka berdua sangat dekat, tapi tubuh Mastrix lebih tinggi daripada dirinya. Napas Mastrix yang segar terasa menyapu-nyapu wajahnya, membuat debaran dadanya semakin tidak karuan.

Dengan cepat, Mastrix mengambil ikat rambut warna putih yang tergeletak di atas meja dan mendekati punggung White. Dengan sangat cekatan, ia mengikat rambut putih White yang panjang.

“Sudah selesai. Berbaliklah,” suruh Mastrix. “Seperti inilah White yang ku kenal,” ujarnya sambil memegang kedua pundak White.

“Eh, iya, terimakasih,” tuturnya malu-malu kucing.

Pada saat yang sama, tiba-tiba Laydrown muncul. “Kakakmu belum Log-In?”

“Belum. Mungkin sebentar lagi,” jawab White sambil memeriksa barang-barang di tas kecilnya, termasuk tongkat putih dan pedang rapiernya.

Lima menit kemudian, Angela muncul dari balik pintu kamar. Sepertinya dari ketiga orang tersebut, Angela-lah yang lebih dulu Log-In. “Semuanya sudah datang?”

“Sudah,” jawab mereka bertiga serempak.

“Bagus kalau begitu sekarang kita mulai diskusinya.”

Mereka berempat langsung duduk bersila.

“Kakak baru darimana?” tanya White.

“Dari toko peralatan dan persenjataan,” jawab Angela.

“Jadi apa yang topik yang akan kita diskusikan kali ini?” tanya Mastrix yang duduk di samping kanan White.

“Aku baru saja mendapat kabar bahwa akan ada kompetisi berkelompok disini, di Kota Bintang Jatuh, dimana pemenangnya nanti akan mendapatkan sebuah rumah yang cukup besar yang bisa kita jadikan markas untuk tim kita. Selain itu jika kita menang, nama kita akan lebih di kenal oleh para pemain Secondary,” jelas Angela.

“Lalu tunggu apalagi? Ayo kita segera mendaftar!” seru White dengan penuh semangat.

“Tapi mereka bilang kalau minimal satu kelompok minimal ada enam orang pemain inti yang harus di daftarkan. Sedangkan kita hanya berempat saja. Lagipula kita juga belum memberi nama pada tim kita,” keluh Angela.

“Kalau soal nama tim, kita diskusikan belakangan saja, setelah semuanya lengkap enam orang anggota. Yang terpenting sekarang adalah kita cari dua orang anggota lagi yang memiliki job yang berbeda dari kita berempat,” usul Laydrown.

Angela mengangguk. “Baiklah kalau begitu. Di tim kita sudah ada Warrior, Ninja, Priest, dan Magician. Satu penyerang jarak dekat, satu penyembuh, dan dua orang penyerang jarak jauh. Jadi kita butuh satu orang lagi penyerang jarak dekat dan satu orang lagi yang penyerang jarak jauh. Kalau bisa, jangan mencari calon anggota tim yang memiliki job yang sama dengan job kita,” kata Angela.

“Jadi kita mulai mencari dari mana?” tanya Mastrix.

“Kita berpencar menjadi dua grup. Aku bersama Laydrown mencari penyerang jarak jauh, sedangkan White dan Mastrix mencari penyerang jarak dekat. Usahakan cari yang memiliki level tinggi,” ujar Angela sambil mengeluarkan dua buah ikat kepala warna hitam yang masing-masing tertulis nama White dan Angela.

Angela memberikan ikat kepala bertuliskan ‘Angela’ pada White. “Ini ikat kepala telepati. Kita bisa saling berkomunikasi dengan benda ini. Sepasang harganya dua puluh ribu gill.”

“DUA PULUH RIBU GILL???! Mahal sekali!!” seru White heboh sambil mengamati ikat kepala hitam bertuliskan nama ‘Angela’.

“Memang mahal sih, soalnya tinggal sepasang ini di toko itu. Tapi jangan khawatir, aku masih punya cukup uang. Yang paling penting sekarang kita harus mencari dua orang anggota lagi untuk bisa ikut kompetisi itu,” kata Angela sambil berdiri, diikuti yang lainnya.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan ke barat bersama White mencari pemain penyerang jarak dekat,” kata Mastrix sambil memandang White yang sedang memakai ikat kepalanya.

“Aku dan Laydrown akan ke timur. Mencari penyerang jauh,” kata Angela.

Sebelum keluar ke depan penginapan, mereka berempat memeriksa barang-barang bawaan di tas pinggang mereka masing-masing, siapa tahu ada yang masih kurang ataupun senjata yang tertinggal di kamar. Setelah memeriksa koneksi telepati Angela dan White sudah berfungsi dengan baik, mereka berempat langsung memecah menjadi dua grup. Angela dan Laydrown jalan ke timur, sedangkan White dan Mastrix jalan ke selatan menuju perempatan terdekat, baru setelah itu mengambil jalan menuju arah barat.

“Di bagian barat Kota Bintang Jatuh ada Barak Monk,” kata Mastrix sambil terus berjalan.

Jika untuk job Magician ada ‘Kuil Magician’, maka untuk job Monk dinamakan ‘Barak Monk’, yaitu tempat bagi para pemain pemula yang ingin mengambil job sebagai Monk atau petarung tangan kosong.

“Secondary Map!” seru White lalu muncul peta hologram di depannya. Tampak sebuah titik merah di peta itu yang tengah bergerak ke arah barat. Di peta itu tidak ada tulisan apapun mengenai bangunan-bangunan, baik kuil, barak ataupun yang lainnya. Melainkan hanya nama-nama kota dan garis perbatasannya.

“Tempatnya masih cukup jauh dari sini, hampir di tepi barat kota ini,” kata Mastrix.

“Ha? Tepi barat kota? Jauh sekali!” balas White sambil terus berjalan melewati rumah-rumah dan beberapa orang yang berlalu lalang.

“Makanya aku tidak ingin memberitahu Angela. Pasti ia tidak akan setuju kalau kita ke sana,” tutur Mastrix.

“Tapi kenapa harus mencari pemain yang memiliki job Monk? Kenapa tidak yang lain?”

“Tidak harus Monk. Kita cari sebisa kita saja. Kalau memang ada yang lebih kuat, kenapa tidak?” balas Mastrix sambil menampilkan senyum memikat. Tampak hampir sama persis dengan senyum Eleazar di dunia nyata.

White jadi ikut tersenyum. “Aku suka dengan senyumanmu,” ujarnya tanpa sadar.

“Hm? Maksudmu?”

White terkesiap menyadari kelakuan bodohnya. “Oh? Eh! Um, anu… maksudku aku suka saat kau tersenyum, soalnya kau jarang sekali tersenyum,” White mencoba beralasan sebisa mungkin.

“Benarkah? Kau suka saat aku tersenyum padamu?”

Kata-kata Mastrix benar-benar membuat wajahnya merah padam.

“Iya. Eh, maksudku….. sudahlah, lupakan. Tidak usah dibahas lagi,” ia mencoba mengelak.

Mendadak, Mastrix berhenti di depan White dan menghalangi jalannya. Ia menunduk menatap wajah White yang merah pucat.

“Kau sakit ya? Atau sedang tidak enak badan?” tanyanya sambil menangkupkan telapak tangannya ke kening White. Wajah mereka sangat dekat membuat tubuh White diam membeku di tempatnya.

“Tidak. Mungkin hanya efek terkena cahaya matahari saja,” tuturnya dengan alasan seadanya sambil menunduk. Ia tidak tahan jika memandang wajah Mastrix yang tampan dari jarak yang terlalu dekat. Bisa-bisa jantungnya meledak.

“Serius? Oke kalau kau memang tidak apa-apa. Tapi kalau kau sudah tidak kuat berjalan, kau bisa bilang padaku,” kata Mastrix penuh perhatian.

White tersenyum mengangguk senang. Ia jadi semakin semangat dengan perkataan Mastrix yang tak lain adalah Eleazar. Tapi untungnya Eleazar belum tahu kalau White adalah Tenggara. White menghentikan langkahnya untuk mengeluarkan tongkat sihir putihnya. Jika dilihat lihat, tongkatnya seperti dibuat dari tulang, dengan bola kristal hijau gelap seperti jarum pentul yang meruncing ke bawah.

“Baiklah kalau begitu!” seru White sambil mengacungkan tongkatnya ke depan den memejamkan mata. Sesaat kemudian, tongkatnya bersinar cerah. Tanah di depan mereka bergetar dan mulai amblas.

Muncul cahaya kuning di sekitar tubuh White, tampak seperti angin yang muncul dari bawah kakinya yang membuat pakaiannya berkibar.

Pada saat yang sama, muncullah dua ekor kuda yang keluar dari bawah tanah di depan mereka. Bukan kuda kerajaan berbulu putih, namun itu adalah tulang kerangka kuda yang hidup dengan tubuh yang tersusun dari tulang-tulang mayat kuda, lengkap dengan pelananya.

“Setidaknya kita bisa tiba di sana lebih cepat,” kata White riang setelah membuka matanya. Ia memanfaatkan special skill-nya, yaitu Necromancy untuk memanggil dua ekor kuda zombie itu.

Mastrix tersenyum kagum. “Keren sekali.”

Mereka berdua segera naik ke atas pelana kuda dan langsung mengendarainya ke arah barat dengan laju sedang.

“Kau tahu? Tak banyak pemain yang mau mengambil job Necromancer. Orang-orang berpikir kalau Necromancer itu job yang menakutkan karena berhubungan dengan ilmu sihir hitam lah, kegelapan lah, mayat-mayat lah, ini lah, itu lah. Padahal kan tidak semenakutkan itu. Job Necromancer itu termasuk job unggulan. Dan dirimu, yang memilih job Magician, dengan segala keberuntunganmu mendapatkan special skill Necromancy,” ujar Mastrix yang kedengarannya agak iri. Necromancy adalah ilmu sihir hitam yang dimiliki oleh pemain dengan job Necromancer.

“Lalu kenapa dahulu kau tidak memilih job Necromancer saja?” tanya White. Mastrix tertawa hambar.

“Tidak. Aku memang lebih suka dengan job yang lebih mengandalkan teknik bertarung secara fisik. Makanya aku pilih Warrior.”

Setelah itu, Mastrix tiba-tiba memandang ke arah depan dengan aneh dan langsung mempercepat laju kudanya.

“Mastrix, tunggu!” seru White mengikuti Mastrix dari belakang.

Dari jauh, tampak di depan ada sebuah padang rumput tepi hutan. Dan yang membuat White tercengang adalah seorang pemain wanita yang sedang di serang seekor binatang hitam tinggi besar yang memiliki wajah seperti kera. Wanita berpakaian serba kuning itu berlari pontang-panting menghindari serangan.

Mastrix sudah berada sangat jauh di depan. White sulit mengimbangi laju kuda zombie yang dinaikki Mastrix.

Wanita itu jatuh tersungkur setelah tidak sengaja tersandung kakinya sendiri. Ketika ia hendak bangun, binatang itu menggampar tubuhnya hingga terlempar beberapa meter. Ia tergolek lemas di atas tanah. Binatang itu sepertinya memiliki level yang sangat tinggi.

Dengan sigap, binatang itu merentangkan kedua lengan wanita itu ke samping dan menahannya.

“Toloooongg!!” teriaknya ketika binatang itu mulai membuka mulutnya lebar-lebar.

Pada saat itu juga, Mastrix datang. Ia melompat dari kudanya yang tengah melaju kencang. Dengan cepat ia menarik pedang samurai dari selongsongnya dan langsung menebas leher binatang itu hingga putus. Kepalanya terlempar entah kemana, sedangkan tubuhnya jatuh terjengkang dan bergerak menggeliat seperti ekor cicak yang terputus dari tubuhnya.

Mastrix segera membantu wanita itu untuk berdiri ketika White tiba disana. Ia segera turun dari kuda zombie-nya dan mengembalikannya ke tanah dengan bertepuk tangan sebanyak dua kali.

“Kau tidak ap……..,” kalimat White terputus saat itu juga saat melihat kalau wanita ini memiliki tipe wajah dan rambut yang sama dengan teman sekelasnya, Reyori Olimpia. Wajah cantiknya dan gaya rambut nyentrik.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Mastrix. Wanita menatap Mastrix dengan penuh kagum.

“Kau benar-benar sudah menyelamatkanku! Terimakasih! Kau adalah penyelamatku!” serunya sambil memeluk Mastrix.

“Sama-sama. Namaku Mastrix. Siapa namamu dan apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Mastrix sambil melepas lengan wanita itu yang melekat dipinggangnya.

“Namaku Reyori, aku sedang berlatih disini sambil menunggu temanku yang masih belum Log-In. Ku pikir akan mudah mengalahkan mereka sendirian. Tapi ternyata aku salah.”

White jadi geli mendengar nama karakternya yang tidak diubah sedikitpun. Ia yakin seratus persen kalau itu adalah Reyori Olimpia. Apalagi ia tahu kalau misi utamanya di Secondary adalah mencari pacar. Kalau ia sedang menunggu temannya, itu artinya pasti ia sedang menunggu Jenna.

Agak heran juga sih, mengingat kalau Benua Selatan di dunia Secondary itu sangat luas, tapi ia masih bisa bertemu dengan anak ini.

“Eh? Ngomong-ngomong apa ras dan job-mu?” tanya White.

Bukannya menjawab, Reyori justru menoleh menatap White dengan mata berbinar-binar, melihat penampilan serba putih dari White. Sepertinya Reyori baru sadar dengan kehadirannya.

“Kau? Katakan, apakah aku pernah bertemu denganmu?” tanyanya sambil berjalan mendekat. White jadi gugup sendiri. Apakah Reyori bisa mengenalinya semudah itu? Tapi tidak mungkin.

“Um…. Namaku White, dan…. sepertinya kita belum pernah bertemu!” tukas White.

“Tentu saja kita pernah bertemu, Tuan White yang tampan. Aku bertemu denganmu di dalam mimpiku! Kau adalah pangeran impianku!” serunya sambil menghambur memeluk White erat dan melompat-lompat, membuatnya susah bernapas.

Namun mendadak, terdengar suara geraman aneh di sekitar mereka yang membuat Reyori langsung melepas pelukannya.

Sekarang puluhan binatang hitam tinggi besar seperti yang tadi sudah mengelilingi mereka bertiga.

“Oh, tidak! Kita sudah terlambat! Seharusnya tadi kita segera kembali ke kota!” teriak Reyori ketakutan.

“Jangan khawatir. Biar aku tangani,” kata Mastrix mulai maju menyerang binatang-binatang itu satu-persatu.

Tapi jumlah mereka cukup banyak. Beberapa mulai mendekati White dan Reyori.

“Bagaimana ini? Kita bisa mati!” ujar Reyori sambil berlindung di belakang punggung White.

White mengeluarkan tongkat sihirnya dan diacungkan ke depan. Ia mulai mengucapkan rentetan mantra. “Roh bumi, lindungi kami dengan kekuatanmu. Keluarlah, Skeleton Warrior!”

Ujung tongkat itu bersinar terang diikuti kemunculan puluhan manusia tengkorak bersenjata pedang dari dalam tanah di sekeliling White dan Reyori.

“Wow!” ucap Reyori takjub. Para manusia tengkorak itu langsung menerjang dan menyerang binatang yang mirip kera raksasa itu.

Namun binatang-binatang itu dengan mudahnya mengibaskan tangannya ke tubuh-tubuh manusia tengkorak itu hingga hancur. Sedangkan Mastrix masih bertarung sendirian.

“Battle Status!” seru White. Muncul status singkat dari makhluk itu yang ternyata bernama ‘Black Ape’ atau kera hitam, level 30. Makhluk itu punya level yang lebih tinggi daripada White yang hanya level 22. Pantas saja serangan manusia tengkorak milik White tidak mempan sama sekali.

Tapi White terus saja memanggil manusia-manusia tengkorak dari dalam tanah untuk menjaga jarak agar tetap jauh dari para Black Ape itu.

“Keluarlah! Skeleton Archer!” seru White disertai kemunculan lima manusia tengkorak bersenjatakan panah kayu di sekeliling White dan Reyori, dan masib tetap memanggil banyak Skeleton Warrior untuk menyerang para Black Ape.

Lima Skeleton Archer itu langsung meluncurkan anak-anak panah ke arah para Black Ape.

Kedua kaki White mendadak lemas dan membuatnya jatuh berlutut.

“Apa kau baik-baik saja? Kau terlalu banyak menggunakan MP-mu hingga tersisa sedikit,” kata Reyori sambil membantu White berdiri lagi.

“Tidak perlu khawatir. Aku masih bisa bertahan. Takkan ku biarkan binatang-binatang itu menyentuh kita sedikitpun,” balas White sambil mengangkat tongkatnya lagi dan memanggil Skeleton Warrior sebanyak-banyaknya untuk menyerang semua Black Ape yang ada disini.

Namun pada saat yang sama, perhatian White lengah dan mendadak seekor Black Ape menarik tubuh Reyori.

“Aaaaaaa!”

“Reyori!” teriak White melihat tubuh Reyori yang kini bergelantungan karena tangan kanannya diangkat Black Ape itu.

Semakin terdesak, akhirnya White mengeluarkan pedang rapiernya dan berlari ke arah Black Ape itu. Ia menyabetkan rapiernya ke perut binatang itu hingga ia melepas tangan Reyori. Dengan sigap, White menangkap tubuh Reyori dan membaringkannya di atas tanah.

“Tunggu disini,” ujar White sambil memanggil lima Skeleton Warrior untuk melindungi Reyori.

Ia melihat perut Black Ape itu yang hanya tergores sedikit saja. Kulit perut binatang itu benar-benar tebal dan sulit ditembus oleh pedangnya.

Meskipun White tahu kalau ini sangat sulit untuk mengalahkan bonatang itu, tapi akhirnya ia memutuskan untuk menyerang binatang itu dengan pedang rapiernya. Berlawanan dengan job-nya yang seharusnya mengandalkan kekuatan sihir, kini ia mengandalkan serangan fisik yang dimilikinya. Apalagi MP yang ia miliki sekarang tinggal sedikit.

Dengan gerakan semampunya, ia menyerang Black Ape tanpa teknik apapun dan hanya mengandalkan insting.

Namun nahas, ketika ia melompat cukup tinggi hendak menyerang kepala Black Ape, binatang itu lebih dulu mengibaskan tubuh White dengan keras ke tanah.

“Aaaargghh!!”

Tubuhnya terjatuh dengan begitu kerasnya hingga percikan darah muncul dari mulutnya. Ia merasa tubuhnya remuk. Rasa sakit yang tak tertahankan.

“White!” seru Reyori dengan nada melengking.

“White! Bertahanlah! Akan aku akan segera ke sana!” teriak Mastrix yang sekarang sedang bergelut dengan puluhan Black Ape yang mengelilinginya.

Binatang itu memukul-mukul dadanya sendiri seperti marah.

“Sial!” seru White sambil berusaha menegakkan tubuhnya lagi, walaupun susah. Napasnya tersengal-sengal. Bahkan bernapaspun rasanya sakit. Ia tidak ingin menyerah dengan begitu mudahnya. Dengan cepat, ia mengambil tongkat sihir dari dalam tas pinggang dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih memegang pedang rapier.

Walau bagaimana pun, ia tidak boleh kalah. Ia akan membuktikan kalau ia juga bisa bertarung dengan menggunakan senjata, bukan hanya dengan tongkat sihir saja.

“Keluarlah! Skeleton Warrior!” serunya diikuti kemunculan sesosok manusia tengkorak dari bawah kaki White dengan cepat dan mengangkat tubuhnya dengan kuat. Binatang itu masih memukul-mukul dadanya sendiri dan tidak sadar kalau White sudah berada di depan matanya.

Ketika dirasa sudah cukup tinggi, manusia tengkorak itu mendorong kedua kaki White ke atas. White melompat setinggi mungkin dan mengarahkan pedangnya ke kepala Black Ape itu. Dengan kuat, ia menebas miring kepala binatang itu hingga kepalanya terpenggal sebagian.

Darah mengucur keluar dari bagian kepala yang terpenggal dan pakaian White terkena sedikit cipratannya.

White terjerembab di atas tanah dengan baju penuh percikan darah. Sedangkan binatang itu baru ambruk setelah beberapa detik kemudian lalu menghilang. Pedang rapier dan tongkat sihirnya tergeletak begitu saja di kiri kanan tubuhnya.

White tidak punya tenaga sama sekali sekarang. Napasnya sudah tidak karuan. Matanya nanar memandang langit yang biru cerah, dengan sinar matahari yang sedikit condong ke arah barat.

Ia melirik sekelilingnya. Para Skeleton Warrior-nya masih banyak yang bertahan dan terus bertarung melawan belasan Black Ape yang masih hidup. Tinggal sedikit, karena Mastrix sudah membabat mereka satu-persatu dengan begitu kuatnya.

Dengan susah payah, ia menyentuh ikat kepalanya. “Kak, kami butuh bantuanmu,” ucapnya dalam hati lalu tangannya langsung tergeletak di atas tanah tak berdaya.

Telinganya mendenging dan mulai terdengar suara yang berkerubut. Reyori datang mendekatinya dan memangku kepala White di pahanya.

“Bertahanlah!! Ku mohon bertahanlah!” kata Reyori dengan penuh rasa cemas. Gadis itu mengeluarkan dua botol besar Green Potion untuk penambah HP dari dalam tas kecilnya sendiri lalu diminumkan kepada White hingga habis.

Tubuh White seperti mendapatkan angin segar di sekujur tubuhnya. Rasa sakit yang ia rasakan seperti hilang ikut terbawa angin. HP-nya langsung kembali lagi seperti semula. Tapi MP-nya sudah habis tak tersisa sama sekali hingga tubuhnya masih terasa lemah dan membuatnya tidak bisa menggunakan sihir.

Ia segera menegakkan punggungnya dengan susah payah, mengambil kedua senjata miliknya dan dimasukkan ke dalam tas pinggang.

Reyori membantu White berdiri ketika tiba-tiba seekor Black Ape berlari mengampiri mereka dengan penuh amarah.

Sepertinya kali ini mereka berdua tidak bisa meloloskan diri lagi. White memejamkan matanya, takut jika tubuhnya terkena serangan lagi, merasakan rasa sakit itu lagi.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara mendesing di depan White. Ketika ia membuka kedua matanya, ia terkejut melihat Mastrix sudah berdiri di depan dia dan Reyori, menangkis serangan binatang itu dengan pedang samurainya.

“Cepat menjauhlah dari sini! Aku bisa tangani ini sendirian, sekarang selamatkan diri kalian!” seru Mastrix berusaha menahan serangan Black Ape yang hampir membunuh White dan Reyori. Sekujur tubuhnya tampak begitu berkeringat. Pasti MP yang dimiliki Mastrix juga sudah menipis. Ada beberapa luka memar dan gores di beberapa bagian tubuhnya. Sepertinya dia juga sudah mengeluarkan semua kemampuan yang dimilikinya.

Sekedar memberitahu saja kalau setiap job memiliki special skill, dan setiap menggunakan special skill akan mengurangi poin MP. Termasuk Mastrix yang seorang warrior. Ia juga punya special skill, tapi White tidak tahu seperti apa special skill yang dimiliki oleh Mastrix.

White melihat sekeliling. Para Skeleton Warrior-nya sudah banyak yang musnah dan tinggal tersisa sedikit yang bertahan. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk bertahan dari serangan para Black Ape itu. Kalau ia mati, ia akan kembali ke tengah Kota Bintang Jatuh dan levelnya akan berkurang satu. Walaupun begitu, satu level itu sangat berharga baginya, karena menaikkan level itu tidak mudah.

“Cepat! Kita harus segera meenjauh dari sini!” seru Reyori memecah lamunan White yang tidak penting.

Namun belum sempat mereka berdua bergerak sedikit pun, tiba-tiba tubuh Mastrix terkena serangan dari Black Ape dan terjengkang ke belakang menimpa White dan Reyori. Mereka bertiga terjerembab di atas tanah.

Gawat! Tubuh White sudah sangat lemah sekarang dan ia tak bisa bergerak lagi. Napas Mastrix tidak karuan lagi, kepalanya tergolek tak berdaya di atas perut White luka berdarah yang cukup besar di keningnya., sedangkan Reyori merintih kesakitan. Sepertinya Reyori sudah kehabisan MP sebelum White dan Mastrix datang tadi.

White melirik sekeliling mereka. Para Skeleton Warrior-nya sudah habis tak ada yang tersisa, membuat para Black Ape yang bergerak mendekat ke arah mereka bertiga. Termasuk seekor Black Ape yang tadi diserang Mastrix, sekarang berada di dekat mereka, mengambil ancang-ancang untuk menghabisi mereka.

White sudah hilang harapan. Sepertinya akan jauh lebih baik jika ia mati dan kembali ke Starting-Point dengan level yang berkurang satu, karena ia tak mampu lagi melawan monster sebanyak itu.

Dada White berdebar ketika Black Ape itu mulai mengangkat kedua tangannya di atas tubuh mereka bertiga.

Namun tiba-tiba semuanya seperti berjalan sangat cepat ketika ia memdengar suara petikan dawai yang lembut dari sebuah alat musik. Black Ape yang akan menyerangnya, juga Black Ape lainnya yang mengelilingi mereka betiga, mendadak rubuh dan jatuh terlentang di atas tanah.

White mendengar seseorang berteriak-teriak dari kejauhan sebelum akhirnya ia ikut tak sadarkan diri.

***

Angin lembut semilir menyapu wajah White dan membuatnya terjaga. Ia sekarang berada di sebuah ruangan yang cukup ia kenal. Ini adalah kamar penginapan di pusat Kota Bintang Jatuh.

Dirinya sudah diselamatkan dari serangan para Black Ape liar itu.

Ia sudah merasa agak mendingan sekarang. Ketika ia hendak bangun, mendadak sesuatu yang berat menindih tangan kanannya.

Betapa terkejutnya dia ketika melihat Mastrix sedang duduk tertidur di tepi tempat tidur sambil menggenggam tangan kanan White. Kepala Mastrix tergolek di atas tangannya. Beberapa anggota tubuh dan kepalanya dibalut perban. Sepertinya luka di kening Mastrix yang terkena serangan Black Ape tidak bisa di sembuhkan oleh Green Potion.

Wajahnya tampak sangat menggemaskan ketika sedang terlelap begini.

“Mastrix,” panggil White dengan hati-hati. Namun Mastrix terbangun dengan cepat.

“White, kau sudah sadar. Bagaimana keadaanmu. Apakah kau masih merasa lemas?” tanyanya.

White tersenyum. Mastrix sepertinya begitu khawatir dengan keadannya. “Aku tidak apa-apa. Dimana yang lainnya?”

“Mereka sedang ada di lantai satu. Tunggu sebentar. Aku akan turun dan memberitahu mereka kalau kau sudah sadar!” seru Mastrix lalu berlari keluar kamar.

White tersenyum lagi melihat tingkah Mastrix yang lucu. Tapi kenapa ia begitu khawatir padanya? Atau jangan-jangan dia sudah tahu jatidirinya di dunia nyata? Tapi itu tidak mungkin. Yang tahu hal itu hanya Delmora, Josias, dan Top.

Ia segera bangun dan duduk di tepian tempat tidur, menunduk menatap tangan kiri dan kaki kanannya yang juga dibalut perban.

Beberapa saat kemudian, Mastrix muncul dari balik pintu bersama yang lainnya. Termasuk Reyori dan dua orang lagi yang belum dia kenal.

Angela langsung menghambur memeluk adiknya. “Kau membuatku khawatir setengah mati! Bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Aku sudah merasa lebih baik, Kak,” jawabnya. Angela melepas pelukannya lalu menjewer kedua pipi adiknya dengan gemas.

“Untunglah teman-teman Reyori datang tepat pada waktunya dan bisa menolong kalian dari serangan Black Ape,” kata Laydrown.

Reyori mendekat sedikit bersama kedua temannya. Satu wanita dan satu lagi pria. Mereka berdua memiliki kostum yang hampir senada dengan kostum milik Reyori, yaitu nuansa kuning yang dominan.

“Perkenalkan, ini Jenna,  dari ras Demon, job-nya adalah Bard dengan memainkan instrumen dari alat musik harpa,” kata Reyori memperkenalkan Jenna yang memiliki penampilan berbeda dibandingkan dengan dunia nyata yang tampak pemalu dan selalu berlindung dibalik kacamatanya.

Jenna tidak seperti ras demon kebanyakan, ia tetap memiliki kulit yang sama putih dengan dunia nyata, tapi rambutnya merah dan menutup seluruh tepi wajahnya kecuali bagian dagu, rambutnya diikat ke belakang, sama seperti White. Juga tampak sepasang tanduk hitam mengkilap di atas kepalanya, bola mata merah liar serta kedua tangan yang tampak bersisik seperti monster memegang sebuah harpa putih sebesar tas ransel, dan kuku jarinya yang panjangnya sekitar lima sentimeter. Selain itu sepasang sayap kulit yang berwarna putih pucat.

“Jenna sudah menyelamatkanmu tadi. Dia menyerang para Black Ape dengan alunan nada dari harpanya,” tutur Reyori.

“Wow. Hebat sekali. Terimakasih atas pertolonganmu. Namaku White. Senang berkenalan denganmu,” ujarnya sambil berjabat tangan dengan Jenna yang terasa kasar. Ia bingung kenapa kedua temannya menggunakan nama asli mereka untuk bermain.

“Iya. Sama-sama. Senang juga berkenalan denganmu,” balasnya dengan suara merdu. Jenna tampak sangat percaya diri di dunia Secondary. Dalam hati, White tertawa terpingkal-pingkal, menyadari kalau Reyori dan Jenna masih belum mengetahui kalau ia adalah Tenggara.

White memandang teman Reyori dan Jenna yang lain, seorang laki-laki dengan kepala berbentuk seperti serigala dan bulu merah kecokelatan di sekujur tubuhnya. Dia memandang White dengan senyum-senyum. Laki-laki yang aneh.

“Dan yang ini Seergrowl, ras beast, job-nya Warrior,” kata Reyori.

Napas White tercekat mendengarnya.

Seergrowl….?

Beast….?

Warrior……..?

Laki-laki itu Top! Tidak salah lagi. Itu pasti dia! Pantas saja dari tadi manusia serigala itu senyum-senyum terus pada White. Dia pasti sudah tahu kalau dirinya adalah Tenggara.

‘Mampus aku!’ gerutunya dalam hati.

“Hai. Salam kenal White. Kau benar-benar penyihir putih yang hebat, bisa bertahan dari serangan puluhan kera itu,” ujarnya sambil tersenyum aneh kepada White seakan-akan berkata ‘akhirnya, kau tertangkap’.

White hanya tersenyum meringis dan menangis meraung-raung di dalam hatinya, sambil berharap supaya anak ini bisa menjaga mulutnya untuk tidak mengungkapkan identitas aslinya pada orang-orang yang belum tahu.

Tanpa sengaja, ia menatap Reyori. Ia baru ingat kalau dia belum tahu karakter Reyori. Tapi dilihat dari penampilannya, sepertinya ia berasal dari ras manusia. “Bagaimana denganmu, Reyori? Apa ras dan job-mu?”

Alisnya terangkat seketika. “Benar juga. Kau belum tahu ya? Aku dari ras manusia, job-ku adalah Berserker,” ujarnya dengan penuh ceria.

Memdadak semua yang ada disitu langsung bengong mendengarnya, kecuali Jenna dan Seergrowl tentu saja.

Berserker adalah job yang memiliki poin attack paling tinggi di antara job yang lain, karena mereka menggunakan senjata berat untuk bertarung. Tapi bagaimana mungkin seorang gadis seperti Reyori memilih job yang sangat ‘jantan’ seperti itu?

“Lalu dimana senjatamu? Kenapa di padang rumput tadi tidak membawa senjata?” tanya Mastrix.

Reyori dengan ceria menunjuk sebuah kapak sebesar gitar yang bersandar di dinding dekat mereka. “Itu senjataku. Tadi sebelum aku pergi ke padang rumput, aku lupa membawanya. Aku kira sudah ku taruh di belakang punggung, tapi ternyata malah tertinggal,” jawab Reyori.

White tersentak. Ia kira kapak itu tadi hanyalah pajangan. Tapi ternyata itu senjata Reyori.

“Ngomong-ngomong, terimakasih tadi sudah menolongku,” kata Reyori dengan mata berbinar-binar memandang White, membuatnya sedikit risih.

Ia memandang kakaknya. “Kak, bagaimana denganmu? Apakah kau sudah bertemu dengan seorang penyerang jarak jauh?” tanyanya.

“Ketemu apanya? Daerah timur Kota Bintang Jatuh itu ternyata hanya ada hutan rawa. Yang kita temui malah makhluk-makhluk rawa,” omel Angela.

White merenung sebentar sambil memandang Reyori, Jenna dan Seergrowl. “Bagaimana kalau kita mengajak mereka bertiga untuk masuk ke dalam tim?”

Angela menaikkan kedua alisnya. “Oh, kau belum tahu ya? Mereka bertiga sekarang sudah satu tim dengan kita. Jadi total tim kita sudah tujuh orang. Kita sudah mendaftar kompetisi itu. Judul kompetisinya “Get The House”, judul yang enggak benget sih menurutku. Tim kita enam orang pemain inti dan satu orang pemain cadangan. Maaf ya, kamu baru tahu soal ini. Kamu juga sih, pingsan sampai empat jam lebih,” omel Angela.

“Wah! Bagus kalau begitu! Bagaimana dengan nama tim kita? Dan siapa yang menjadi pemain intinya?” tanya White dengan semangat.

“Nama tim kita adalah ‘Viva Squad’. Bagus kan? Tadi waktu aku mendaftar, sudah ada sekitar lima belas tim yang terdaftar. Pemain inti dari tim kita ialah aku, Laydrown, Mastrix, Reyori, Jenna, dan Seergrowl. Kamu jadi pemain cadangan,” jawab Angela dengan begitu tenangnya.

Sedangkan White tampak tidak terima. “Apa?! Aku pemain cadangan? Ayolah, Kak! Ini tidak adil,” omelnya.

“Tidak usah bawel. Kamu itu levelnya paling rendah di antara kita semua.”

“Tapi, Kak, tadi aku sudah mengalahkan satu Black Ape. Pasti levelku sudah naik. Status!!” serunya disertai kemunculan status profil White. Namun disana tertulis kalau level White hanya 23, naik satu level saja.

“Tuh kan? Levelmu itu masih jauh dibawah kita semua yang sudah berada di level tiga puluh ke atas,” kata Angela.

“Bagaimana dengan Reyori, Jenna dan Seergrowl?”

Angela jadi agak jengkel. “Reyori dan Jenna level tiga puluh empat, Seergrowl level tiga puluh satu.”

Mendengar kalimat tersebut membuat White melongo. Ia langsung menunduk. Memang benar, dirinya paling lemah di antara mereka semua. Salahnya sendiri memilih job yang lemah.

Beberapa saat kemudian ia mendongak dan tersenyum. “Baiklah kalau begitu. Aku bisa terima. Tapi lihat saja nanti, aku akan jadi yang terkuat di antara tim kita!” ucapnya dengan penuh semangat.

“Begitu dong. Ini baru White yang ku kenal,” kata Angela sambil menepuk-nepuk kepalanya seperti anak kecil.

“Ya sudah kalau begitu. Kita bisa Log-Out sekarang. Untuk semuanya, tolong nanti malam jam sebelas sudah Log-In lagi. Kita akan mulai berlatih untuk kompetisi itu, supaya kita bisa memenangkan rumah itu,” ujar Angela dengan menggebu-gebu.

“Baiklah kalau begitu. Kami berdua juga harus mengerjakan PR untuk besok. Sampai jumpa,” kata Reyori lalu menghilang bersama Jenna.

“Aku baru sadar kalau besok ternyata Senin. Ada beberapa tugas kantor yang belum ku selesaikan. Log-Out!” seru Laydrown lalu tubuhnya menghilang.

“Aku lapar, belum makan siang. Aku duluan ya! Log-Out!” Seergrowl ikutan Log-Out.

Angela menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Aku benci Hari Senin. Ya sudah begitu. Aku juga ingin Log-Out karena tadi pagi lupa mencuci seragam kerjaku untuk besok. Sampai jumpa nanti malam. Log-Out,” seru Angela lalu tubuhnya lenyap.

Kini tinggal ia dan Mastrix yang ada di dalam kamar penginapan itu. Mastrix duduk dengan tenang di samping White.

Mendadak, ia jadi ingat sesuatu sambil menepuk keningnya. “Oh iya. Aku lupa aku juga belum mencuci seragam sekolahku untuk besok. Log-Out!” seru White.

“Tunggu dulu!” seru Mastrix sambil meraih pergelangan tangan White dengan cepat, membuatnya tidak bisa Log-Out dari Secondary. Mereka saling memandang satu sama lain.

“Ada apa?” tanya White.

“Aku ingin membicarakan sesuatu,” kata Mastrix dengan tatapan sayu. Sepertinya ia ingin membicarakan sesuatu yang cukup serius.

“Ingin bicara soal apa? Aku harus buru-buru mencuci seragamku untuk besok. Kalau bukan sesuatu yang penting, lebih baik nanti saja setelah kita Log-In lagi jam sebelas malam.”

“Apa menurutmu aku tidak begitu penting bagimu? Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku ketika tadi kamu tidak sadarkan diri dengan waktu yang lama?”

White mengernyit. “A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan.”

Mastrix melompat dari duduknya dan berdiri tepat di depan White. Ia memegang kedua pundak White dan menatapnya dalam-dalam. “Tolong jangan bilang kalau kau tidak mengenaliku, Tenggara!” seru Mastrix.

White terperanjat. Bagaimana mungkin Mastrix tahu kalau dia adalah Tenggara?

“Uhm.. Maaf, tapi aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Siapa itu Tenggara?” tanyanya pura-pura bodoh.

“Aku sudah mengenalimu sejak pertama kali memandang wajahmu. Akulah orang pertama yang melihatmu keluar dari Kuil Magician dan sedang diintimidasi oleh Totem dan teman-temannya. Aku Eleazar. Bisakah kau berhenti berpura-pura menganggapku seperti orang asing?” pintanya yang langsung membuat sekujur tubuh White merinding.

Eleazar bisa mengenalinya dengan sangat mudah. Dan selama ini ia juga berpura-pura tidak mengenali Tenggara.

“Ba-bagaimana bisa kamu……?”

“Wajahmu sebagai White sangat mirip sekali dengan wajahmu ketika kau kecil dulu,” jawab Eleazar yang sontak membuat Tenggara membeku. Ia menunduk menatap kedua tangannya yang berada di atas pangkuan.

Sampai sebegitukah Eleazar mengingat dirinya? Bahkan selalu ingat lekuk wajahnya ketika dulu masih sekolah dasar.

Sepertinya ia sudah tertangkap basah sekarang dan tidak bisa mengelak lagi. “Oke. Aku mengaku kalau aku adalah Tenggara. Tapi aku minta tolong, jangan memberitahu yang lainnya ya.”

“Baiklah. Aku bisa menutup mulutku jika itu yang kau mau. Dan selain itu, aku juga ingin bertanya sesuatu padamu,” Eleazar kembali duduk di samping kanan Tenggara.

“Soal apa?”

“Kau belum memberitahuku bagaimana perasaanmu padaku.”

Seketika, pipi Tenggara merona. “Pe-perasaan apa?”

“Tenggara, kau sudah tahu perasaanku padamu tidak pernah berubah. Bukankah kau ingat janjiku dulu saat kita masih kecil? Dulu aku pernah berjanji kalau kita bertemu lagi, aku akan menjadikanmu pangeranku,” kata Eleazar. Tubuh Tenggara sekarang mulai terasa gerah.

“Kita sudah bukan anak kecil lagi. Bagaimana mungkin kau bisa menyukai seorang laki-laki seperti aku? Aku dan kau sama-sama seorang laki-laki.”

“Aku tidak peduli hal itu!” seru Eleazar dengan nada tinggi membuat Tenggara kembali terbungkam.

“Yang ku tahu, aku mencintaimu. Ku mohon, katakan padaku sejujurnya, bagaimana perasaanmu,” desak Eleazar sambil meraih kedua tangan Tenggara, namun Tenggara menarik tangannya.

Eleazar beranjak dari duduknya dan berlutut di depan Tenggara. “Kenapa? Apakah kau masih cemburu dengan kakak perempuanku?”

Tenggara menduduk dan menggeleng pelan. Dadanya terasa sangat sesak. “Aku…. aku hanya tidak ingin membuatmu malu. Aku merasa  kalau aku itu bukan orang yang pantas untukmu.”

Mendadak, Eleazar merengkuh tubuhnya erat membuat Tenggara sedikit kaget. “Kau laki-laki yang sempurna untukku.”

Tenggara tak mampu lagi membendung airmatanya. Ia terisak dan balas memeluk Eleazar dengan erat. Ia tidak ingin berpisah lagi dengan laki-laki itu.

“Aku hanya ingin kau melakukan satu hal,” kata Tenggara tanpa melepas pelukannya.

“Apapun yang kau inginkan. Katakanlah.”

Tenggara menarik napas panjang. “Tetaplah menjadi Eleazar yang selalu ku kenal.”

“Kau juga. Jangan pernah berubah,” balas Eleazar.

Tenggara mengeratkan pelukannya. “Aku akan tetap menjadi Tenggaramu. Sekarang dan selamanya.”

Eleazar mengusap-usap rambut Tenggara dan mengecup puncak kepalanya. “Itulah hal yang selalu ingin ku dengar darimu selama ini.”

Beberapa saat kemudian Tenggara melepas dekapannya dan menghapus jejak airmata di pipinya dengan tangannya sendiri sambil tersenyum haru. “Sekarang kita ada di Secondary, jadi biasa kan memanggilku White, bukan Tenggara.”

Eleazar tertawa kecil mendengar permintaan Tenggara. “Baiklah jika itu yang kau mau,” ia mendekatkan keningnya ke kening Tenggara,”……Penyihir Putihku.”

***

Epilog

Baju sudah rapi, tubuh sudah wangi, rambut dibiarkan seperti biasa, toh rambut Tenggara juga sudah pendek, tidak bisa dibentuk-bentuk lagi.

Apalagi yang kurang? Ponsel sudah. Dompet ada di saku celana belakang. Jam tangan sudah terpasang di pergelangan tangan kiri.

Pukul tujuh kurang beberapa menit, bel pintu rumah berbunyi. Laki-laki itu sangat tepat waktu, sesuai dengan janjinya yang akan datang pukul tujuh. Tenggara langsung berlari keluar kamar menuju pintu depan. Tapi sepertinya ia kalah cepat dengan Delmora yang dari tadi berada di ruang tamu bersama Josias, mendiskusikan sesuatu mengenai pekerjaan.

Karena begitu ia tiba, Eleazar tampak sudah duduk di sofa bersama Josias. Penampilannya sungguh sangat tampan malam hari ini, walaupun hanya memakai pakaian yang simpel dan tidak berlebihan. Sedangkan Delmora seperti hendak berjalan ke kamar Tenggara, tapi tidak jadi begitu melihat Tenggara sudah ada di sana.

“Oh, Tenggara. Temanmu sudah datang nih,” kata Delmora. Tenggara langsung menghampiri Eleazar dan memperkenalkannya secara singkat pada Delmora dan Josias.

“Kenalkan. Yang cantik ini kakakku semata wayang, Delmora Suwandra. Dan satunya lagi temannya Kak Delmora, Josias Prada,” kata Tenggara pada Eleazar.

“Namaku Eleazar Hiroma, teman Tenggara satu kelas,” kata Eleazar sambil berjabat tangan dengan Delmora dan Josias.

“Halo, Eleazar. Senang berkenalan denganmu,” kata Delmora.

“Senang juga berkenalan denganmu. Ngomong-ngomong, kalian mau pergi?” tanya Josias.

“Iya, Kak. Aku mau pergi sebentar dengan Eleazar,” jawab Tenggara sambil menatap wajah Eleazar sekilas.

“Ya sudah, kalau begitu. Hati-hati di jalan,” kata Delmora. Tenggara dan Eleazar segera berpamitan dan keluar.

“Itu tadi sungguh kakakmu?” tanya Eleazar.

Tenggara mengangguk cepat. “Iya. Memangnya kenapa?”

“Berarti itu tadi Angela? Wow! Wajahnya sungguh mirip sekali dengan karakternya di dunia Secondary,” tukas Eleazar.

Tenggara hanya menyengir. “Bukan hanya kakakku saja. Reyori juga begitu. Wajahnya juga sama persis dengan karakternya di dunia game.”

“Lalu yang ada di sampingnya tadi siapa?”

“Ku pikir kau sudah bisa menebaknya. Tadi itu Laydrown,” jawab Tenggara.

Eleazar terbelalak. “Apa? Itu… itu tadi benar Laydrown?”

“Iya. Aku sudah tahu semua jati diri teman-teman kita satu tim di dunia nyata. Dan sepertinya sekarang hanya kita berdua-lah yang tahu mereka,” kata Tenggara sambil menoleh Eleazar. Mereka berdua bertatapan sambil tersenyum.

Di halaman depan rumah sudah ada motor Eleazar. Motor besar warna hitam yang tampak keren.

“Kenapa kau tidak membawa mobilmu?” tanya Tenggara begitu ia naik di bagian boncengan.

Eleazar tertawa kecil. “Untuk apa aku membawa mobil kalau dengan naik motor saja aku sudah bisa merasakan pelukan tanganmu?”

Tenggara memukul bahu laki-laki itu. “Bagaimana nanti kalau hujan? Apa kau tidak memikirkan hal itu?” omelnya.

“Memangnya kenapa kalau hujan? Kita bisa main hujan-hujanan sambil berkendara berkeliling kota. Pasti itu akan seru sekali,” jawab laki-laki itu dengan tenangnya.

“Hei! Apa kau tidak berpikir betapa dinginnya hujan-hujanan di malam hari?” omel Tenggara lagi.

“Kalau kamu merasa kedinginan, aku selalu siap untuk menghangatkanmu,” balas Eleazar yang kini membuat Tenggara kalah telak. Ia merasa meleleh, pipinya merah merona seperti kepiting rebus.

Beberapa saat kemudian Eleazar mulai melajukan motornya di jalan raya. Tenggara memeluk Eleazar dari belakang dengan santai sambil tersenyum.

Ternyata perkataan Reyori ada benarnya juga. Game Secondary bisa mempersatukan seseorang dengan cinta sejatinya. Dan Tenggara pun bisa bertemu dengan cinta pertamanya.

Sekarang saatnya fokus untuk kompetisi ‘Get The House’, supaya ia dan teman-teman tim Viva Squad bisa memiliki markas sendiri dan tidak perlu susah-susah menyewa penginapan.

 

TAMAT

 

Note: Makasih binggow buat semuanya yang udah sempetin baca yah. Cerita ini terinspirasi oleh manga dan anime🙂

 

Kazuto Nishimura