mantanTerindahCover

MANTAN TERINDAH

Oleh : Schandelierre Syailendra

*

Author’s Say (setelah dirusuhin yang punya blog)

Another story from me (wah, pinter Bahasa Inggris nih, keren. Gue Bahasa Indonesia aja masih sering gagal paham). Dari judulnya aja pasti sudah tahulah (enggak, gue gak tahu tuh, kenapa dengan judulnya?). Siapkan tisu, cerita ini mungkin sedih (ah, perasaan lu aja keleus).

Inspired by a song sung by Raisa (oh mai gad, Bahasa Inggris lageee…), jadilah cerita ini (yakin, cuma lagu Raisa doang yang menginspirasi?). Berat rasanya nulis cerita ini (mana lebih berat sama gendong Pretty Asmara keliling Lapangan Monas?). Kubayangkan diriku yang ada di posisi Febri, wah, hancur bukan main tuh (hancur? Kalau akibatnya bisa seburuk itu, gue males bayangin ah).

Ini mungkin ceritanya mirip sama ceritanya Nayaka, New Beautiful Stranger, dan aku tahu nggak mungkin punyaku ini sebagus itu (weheee, nyadar nih yee!), tapi swear to God, aku sudah bikin cerita ini jauh sebelum ceritanya Nay diposting (gak percaya gue!). Silahkan dibandingkan, tapi aku nggak mau dibilang plagiat loh (gue juga ogah diplagiatin sama lu). Ini murni pemikiranku. Namanya nulis itu sama kaya bikin lagu, bisa ngambil inspirasi dari mana aja (nah, kalau ini gue setuju). Tapi jujur aku nggak plagiat ini dari mana-mana (owrait owrait, gue percaya kali ini). Silahkan ejek kalau jelek (gak usah dipersilakan juga bakal gue ejek dengan hati berbunga-bunga), aku terima (gak terima pun lu bisa apa?).

Trims buat Nay yang seperti biasa sudah berbaik hati buat ngepost ini (dan ngedit juga, banyak banget typonya kali ini, gue sampe puyeng tauk!). Kamu baik banget dah (muji gue baik aja gak bikin gue untung, kapan-kapan ganti dengan tiket konser dunk atau paket liburan ke Karibia). Mudah-mudahan kamu cepet nyusul juga ya–moga kamu ngerti artinya ini (ngerti, ngerti banget gue. Nanti kasih tips ya! biar gue praktekein kalau udah tiba saatnya)

Selamat membaca, semoga temaram kata-katanya memberimu inspirasi (gimana mau ter-inspirasi, wong temaram, yang ada malah terperosok parit dan selokan. Bikin penutup pengantar yang lebih keceh dunk kapan-kapan, yang ini maksa bingits #digampar).

 

Schand (dan gue)

 

 

_____________________________________________________________________________________

Aku terpaku, sedari tadi hanya memandang bayangan di cermin.

Kuperhatikan wajah yang balik menatapku. Tampan, putih, pucat, dengan rambut yang hitam mengkilat, sederhana disisir ke belakang, membingkai wajah tirus dan sedikit cekung. Hidung bangir kembang-kempis, menghembuskan nafas panjang dari dada yang sedikit sesak. Pakaiannya jas putih berbordir batik Jawa, membuatnya terlihat begitu mengagumkan. Namun di mataku ia seperti semakin terlihat transparan. Ia berkedip sekali, dua kali, dan menggelengkan kepalanya pelan, bersamaan dengan hembusan nafas lain yang keluar lewat mulutnya.

Bayangan di cermin itu adalah diriku sendiri.

Mataku melirik ke dinding. Pukul 1.41.

“Sebaiknya kamu nggak usah pergi, Feb…” Mataku beralih ke refleksi pintu di cermin, ke arah lelaki yang menyilangkan kedua lengannya di dada. Ferdi melihatku dengan pandangan yang jelas-jelas menunjukkan rasa prihatin, tampangnya nyaris sesedih tampangku. “Kalau kamu pergi ke sana, itu cuma bakalan bikin kamu sakit aja.”

Rasanya semakin sesak, di sini, di dadaku. Tatapanku jatuh ke lantai. Kupejamkan mataku dan kembali kuhembuskan nafas panjang. Pedih. “Aku harus tetap pergi, Fer. Aku harus tetap pergi…”

Aku mendengar dengusan. “Kenapa kamu harus keras kepala?!”

Aku membuka mata. Bibirku menyunggingkan senyum pasrah. “Aku cuma pengen liat dia… Mungkin buat yang terakhir kalinya…”

Desahan yang begitu mendesak tak bisa kutahan dari dadaku. Ia lolos, disertai dengan airmata yang terasa membakar. Percuma menyapukan punggung tangan ke wajahku, airmata itu terus-menerus keluar.

Dan saat itulah kehangatan melingkupiku. Kepalaku disandarkan di dadanya.

“Hei, jangan nangis… Aku tahu kamu sakit. Aku bagian dari kamu, aku juga ngerasain sakitnya. Udahlah, nggak usah nangis.” Ia menarikku bangun dan mencengkeram bahuku. “Oke, kamu boleh pergi. Tapi aku bakalan ngantarin kamu.”

Nada suara Ferdi adalah nada suara yang tidak bisa dibantah dan aku paling benci diperintah, namun saat ini hatiku terlalu lelah dan sedih untuk tersulut kemarahan. “Oke.”

Great. Kalo gitu kutunggu kamu di mobil. Kita pergi kapanpun kamu siap.”

Ferdi memelukku sekali lagi. Hatiku masih babak belur, namun dekapannya membuatku sedikit tenang. Ia melepaskanku, tersenyum menyemangati. Kuperhatikan senyum indah itu, yang sama persis dengan senyumanku, yang tercetak di wajah yang sama persis dengan wajahku. Kembali aku merasakan sedikit ketenangan.

Ia keluar dan meninggalkanku sendiri. Kembali kutatap cermin. Sama seperti tadi, aku sudah tahu apa yang harus dilakukan.

“Aku harus pergi…,” desahku lemah.

*   *   *

“Ayo, perkenalkan namamu.”

Pemuda itu mengangguk, menaikkan kacamatanya, dan mencoba mengabaikan tatapan seisi kelas.

“Pagi. Saya Febri. Febri Arian Prayoga. Saya dari Samarinda, salam kenal.”

Anak bernama Febri menggaruk pipi kanannya pelan saat wali kelasnya menanyakan ke murid-murid di hadapannya apakah mereka memiliki pertanyaan untuknya atau tidak. Seorang gadis, yang rambutnya lurus dan pipinya agak kelewat merah mengangkat tangannya, terkikik. “Febri, udah punya pacar belum?”

Ruangan itupun langsung riuh rendah. Sebagian besar meledek gadis itu, yang langsung bergaya cool dan mengibaskan rambutnya. Murid di belakangnya protes, mengatakan rambutnya bau seperti ikan asin. Gadis itu cuma tersenyum kecil, sombong.

“Belum.”

Dan kelaspun bertambah ribut. Pak Guru harus turun tangan. “Sudah, sudah. Devi, kalau nanya yang berbobot, jangan asal buka mulut! Ada lagi yang mau tanya?”

Beberapa pertanyaan diajukan, kebanyakan tentang di mana si murid baru tinggal sebelumnya dan di mana sekolahnya dulu. Setelah lima menit, Pak Guru memutuskan sesi tanya jawab dan ia pun disuruh duduk. “Kamu duduk di sebelah Tirta, ya Feb.”

Febri mengangguk, berjalan menuju satu-satunya bangku kosong di pinggir kelas. Penghuni meja itu tersenyum sambil menggeser duduknya berdekatan jendela. “Hai, salam kenal. Aku Tirta.” Pemuda itu tersenyum dan senyumnya itu membuat Febri terpana. Ada rasa panas yang mendebarkan namun juga menyenangkan di dadanya. Ia balas tersenyum dan menyambut genggaman tangan pemuda itu.

Hangat.

“Salam kenal juga. Aku Febri.”

.

.

“Lagi ngapain?”

Ia mengangkat pandangannya dari permukaan trotoar. Tirta berada di depannya, duduk di atas motor yang masih menyala.

“Lagi nungguin adikku.”

“Kamu dijemput sama dia?”

“Harusnya… cuma nggak tahu nih, dia belum datang…”

Tirta tersenyum. “Ya udah, ikut sama aku aja.”

Ia berkedip, lalu menggeleng sambil tersenyum.

“Nggak usah deh. Aku nunggu adikku aja. Paling sebentar lagi dia datang.”

“Trus gimana kalau dia nggak datang?”

Ia terdiam.

“Udah, ikut aku aja…,” ajak Tirta lagi.

“Tapi ntar gimana kalo dia datang?” ia ragu lagi.

“Telpon aja. Bilang kamu mau diantar teman.”

“Hapeku mati. Habis baterainya, lupa dicharge.”

Tirta memutar bola mata, merogoh sakunya, dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Diangsurkannya benda itu. “Ini, pake hapeku. Telpon aja adekmu. Tenang, pulsanya banyak kok. Ingat kan nomornya?”

Ia masih terdiam sambil menatap ponsel itu.

“Ayo, cepet pake. Sebentar lagi hujan nih. Daripada kehujanan ntar.”

Ia tidak punya pilihan lain dan ia pun mengambil ponsel Tirta. Ditekannya nomor telepon adiknya, yang langsung tersambung sedetik kemudian.

“….”

“Halo, Fer? Ini aku Febri.”

“….”

“Aku pake nomornya temenku. Kamu kemana aja sih? Kok nggak datang-datang?!”

“….”

“Astaga! Dasar! Kenapa kamu nggak bilang dari tadi kalo kamu ada praktikum sampe jam 4?!”

“….!”

“Hapeku mati! Baterainya habis! Nggak sempat dicharge gara-gara kamu pake semalaman!”

“….”

“Ketawa aja kamu! Sialan emang! Ya udah, aku duluan ya, aku mau pulang bareng sama temenku.”

“….”

“Iya, ntar aku kasi tau Bunda kalau kamu pulang telat. Oke, bye. Assalamualaikum.”

“….”

Sambungannya dimatikan. Ia mengangsurkan kembali ponsel itu pada pemiliknya yang menyeringai.

“Apa kubilang! Coba kalau kamu nggak telepon, bisa semalaman kamu nunggu di sini.”

Nggak begitu juga kali, cibirnya dalam hati. Namun bisa jadi juga benar. Ia belum hafal daerah sini dan ia tidak tahu angkot mana yang harus dinaikinya. Ia tidak ingin tersesat.

“Ya udah, naik deh.”

Ia bergerak mendekat, namun langsung berhenti di tempat.

“Eh, tunggu! Kamu punya helm nggak?”

“Nggak. Cuma yang kupake ini aja. Kenapa?”

“Kita nggak boleh naik motor kalo nggak pake helm, bahaya! Belum lagi kalau ada polisi. Bisa ditilang!”

“Alah! Nggak apa-apa! Kita lewat jalan tikus aja ntar, nggak akan ada polisi.”

“Tapi ….”

“Mau nggak? Sempat hujan loh ini.”

Ia menatap ke atas langit. Awan gelap sudah melingkupi seantero timur horizon dan mulai berarak ke tengah langit. Ia menghembuskan nafas, tidak punya pilihan, dan naik ke motor Tirta.

“Oke deh. Tapi pelan-pelan aja ya bawanya. Jangan kencang-kencang.”

“Sip, Pak Bos!”

Motor bergerak meninggalkan trotoar tempatnya berdiri semenit lalu. Di boncengan Tirta, ia kembali merasakan perasaan aneh tadi. Perutnya terasa panas, namun juga menyenangkan. Ia tersenyum, kembali memperingatkan Tirta untuk mengurangi kecepatan motornya yang mulai melaju kencang.

.

.

Kepindahannya memang kurang mengenakkan, awalnya. Ia dan adiknya mati-matian memprotes dengan cara berbeda kepada orangtuanya: adiknya dengan memberikan tentangan terbuka dan sedikit agresif sedangkan ia dengan cara mogok bicara, ngambek. Ia benci meninggalkan tanah kelahirannya dan pindah ke kota lain yang asing hanya karena ayahnya dipindahtugaskan. Ia tidak ingin pergi dari rumah tempat ia tumbuh besar dan meninggalkan orang-orang yang menjadi sahabat baiknya. Ia tidak ingin berada di tempat yang tidak ia kenal, berbaur lagi dengan orang yang juga tak ia kenal.

Prospek pindah ke sekolah baru membuatnya mual. Ia sudah berpikir bahwa hidupnya akan seperti kuburan. Ia tidak seperti adiknya, Ferdi, yang gampang mendapatkan teman ke manapun dia pergi. Ia adalah lawan dari matahari, ia bulan. Ia lebih banyak diam, tidak cepat akrab, dan lebih memilih menyendiri daripada berkumpul. Ia tidak akan mendapatkan sahabat di tempat barunya, seperti yang sudah didapatkannya di tempat sebelumnya.

Namun ia tidak menyangka bahwa bahkan di hari pertamanya di sekolah itu, ia sudah mendapatkan satu sahabat yang baik. Dan menarik. Amat sangat menarik.

Ia menarik nafas. Ia sudah tahu ia berbeda saat ia mulai masuk SMP. Ia tidak tergetar saat melihat gadis, ia malah tergetar saat melihat pemuda. Ya, ia adalah lelaki yang mencintai laki-laki. Namun sebagai dirinya, dengan segala watak dan kepribadiannya, ia simpan segala sesuatunya, memendamnya hanya untuk dirinya sendiri. Ia menumpahkan segala isi hatinya pada buku harian berkunci yang ia taruh dalam kotak bergembok di sisi tersembunyi dalam lemari pakaiannya. Ia membungkam mulutnya rapat-rapat dan mencoba berkelakuan ‘normal’.

Ia sudah terbiasa merasakan getaran-getaran kecil tatkala ia melihat seorang berjenis kelamin laki-laki dengan wajah yang memiliki kadar kerupawanan lumayan lewat di depannya, namun baru kali ini ia terguncang saat melihat salah seorang kaum adam itu. Baru kali ini ia tidak mampu menahan hasrat menggebu untuk memilikinya, Tirta Adistyaraga.

Namun ia pandai menjaga dirinya. Tirta adalah sahabat, tidak lebih dari itu. Ia sudah menikmati momen-momen saat mereka menjadi teman selamanya. Persahabatannya dengan Tirta lebih ia hargai dari rasa cintanya yang, walaupun tak kalah besar, punya potensi mengancam hubungan pertemanan mereka. Cukuplah mereka berdua sahabat, cukup, walaupun artinya ia harus menelan api yang membakar setiap senti isi hatinya.

*   *   *

Perjalanan kami lewati dalam diam. Ferdi dan aku sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku tahu ia berulang kali melirikku, mencari tanda-tanda yang amat diharapkannya terjadi, bahwa aku tiba-tiba berkata bahwa aku ingin agar mobil berputar dan kembali pulang. Tapi itu tidak terjadi. Aku tetap tenang, walaupun perasaanku campur aduk.

Namun bagaimanapun aku berusaha menyembunyikan perasaanku, aku tidak bisa menghentikan yang satu ini. Jemariku berulang kali menyentuh jam tangan yang kupakai di pergelangan tanganku, menaik-turunkannya, mencoba mengeratkannya pada sekeliling pergelangan, walaupun jam tangan itu sudah melekat pas di sana.

 

“Ini, buat kamu.”

“Apaan nih, Ta?”

“Buka aja!”

“Hah?! Jam?! Swiss Army?!”

“Bagus nggak?”

“Ini…, buatku…?”

“Ya iyalah buatmu, masa buat Ferdi.”

“Ini… kemahalan…”

“Udahlah. Ini kan hadiah ultahmu yang ketujuh belas, jadi mesti spesial. Lagian, kamu kan bilang udah lama kamu mau beli jam ini, cuma duitmu habis terus dipinjam Ferdi.”

“Tapi…”

“Udah, pake! Nggak baik loh ngembaliin barang pemberian orang lain.”

“Ta-“

“Jadi kamu juga selalu bisa ingat aku waktu kamu pake itu…”

 

“Feb ….”

Aku tersentak sedikit. Tangan kiri Ferdi sudah melingkari pergelangan kananku.

Stop it. Kamu sudah begitu terus sejak kita pergi.”

Refleks aku menurunkan tanganku dan kembali memancang mataku lurus ke depan. Kami kembali tenggelam dalam keheningan yang berat dan menyesakkan.

*   *   *

Ia baru saja selesai berlari sore dengan sahabatnya, Tirta. Nafasnya ngos-ngosan, ia melepaskan kacamatanya dan mengelap wajahnya dengan lengan bajunya.

“Udahan dulu yuk, Ta. Aku capek.”

Yang diajak bicara hanya mengangguk. Mereka lalu bergerak ke arah batuan karang di pinggir pantai yang sedari tadi mereka kitari. Dengan hati-hati mereka memanjat tetrapod yang bagian bawahnya dipenuhi oleh karang dan kerang yang menempel di permukaannya yang kasar. Hari sudah begitu sore, matahari sudah hampir tenggelam. Sayangnya ufuk barat tidak berada di depan mereka, namun di kiri mereka. Pun begitu, warna langit yang semerah darah dengan semburat merah muda dan jingga begitu membius kedua anak manusia itu. Tidak ada yang sanggup bicara beberapa saat, mereka menikmati diam di bawah kubah megah raksasa itu.

“Feb, ada yang pengen aku omongin sama kamu ….”

“Ngomong aja, Ta.”

Ia menatap ke lautan luas dari atas batu berkarang yang mereka duduki tanpa melihat ke pemuda di sampingnya. Baru ketika Tirta tidak mengatakan apapun setelah beberapa detik berlalu ia menoleh, bingung.

“Kenapa, Ta? Tadi ada yang mau diomongin? Ada apa?”

Pemuda di depannya hanya menggigit bibirnya. Perasaannya langsung tak enak.

“Ta? Ada apaan sih? Kamu ada masalah? Bilang dong sama aku kalau kamu ada masalah. Jadi aku bisa bantu jelasin.”

Ia memperhatikan saat Tirta mengepalkan tangannya.

“Aku takut mau ngomong ….”

Ia mengerutkan kening. “Takut apa? Nggak apa. Ngomong aja.”

“Kamu janji nggak akan marah?”

“Apa ini berbahaya? Apa ini kriminal?”

“Nggak sih.”

“Yakin?”

Tirta mengangguk. Ia lalu menggeleng.

“Kalo gitu aku janji nggak akan marah.”

“Kita bakalan tetap berteman, apapun yang terjadi?”

“I, iya ….”

“Sumpah?!” tuntut Tirta.

“Apaan sih?”

“Aku mau kamu sumpah dulu.”

Ia memutar bola matanya, ini semua mulai terasa kekanak-kanakan.

“Oke, terserah deh. Sumpah.”

“Kamu mesti sumpah yang bener, kalo nggak, aku nggak percaya dan nggak akan ngomong.”

Ia menggertakkan giginya.

“Yaudah! Aku bersumpah tetap akan jadi sahabatmu apapun yang kamu omongin ke aku! Puas?!”

Ia menunduk.

“Febri.., aku suka sama kamu…”

Hal pertama yang saat itu ia pikirkan adalah ia sedang dikerjai. Pemuda tampan di depannya itu pasti sedang menyiapkan siasat untuk menjebaknya. Ia sudah terlalu paranoid untuk menyimpan rahasianya dan hal ini―walaupun sudah diimpikannya sejak lama, dibiarkannya berputar dalam benaknya yang paling dalam dan liar―tak urung membuatnya bangkit dari duduknya. Ia langsung berlari pergi, tak memedulikan pemuda yang berteriak memanggil namanya itu.

Ini pasti jebakan… Teganya Tirta mau menjebak temannya sendiri… Aduh…, berapa banyak orang yang sudah tahu…?

Apa dia terlalu terang-terangan, apa dia terlalu jelas. Semua pertanyaan itu bercokol di benaknya. Kebingungan dan ketakutan, itulah yang menyebabkan ia lari dari situ, menyelamatkan diri ke perlindungan kamarnya yang putih bersih.

Diabaikannya ponselnya yang terus-menerus berdering. Begitu dering terakhirnya berhenti, ia langsung mengaturnya pada mode diam.

Ia tidak bisa tidur malam itu.

.

.

Sekolah tidak pernah begini menakutkan. Ia boleh jadi salah satu murid terpintar di sekolah manapun yang ia masuki. Namun di sekolah sebelumnya tidak ada Tirta. Tidak ada pemuda yang menghadangnya begitu ia menampakkan dirinya di sekolah. Tidak ada pemuda yang langsung menariknya ke belakang sekolah bahkan sebelum ia menaruh ranselnya.

“Ta, lepasin! Sakit!”

Tetap saja ia diseret. Ia sudah mempertimbangkan untuk menonjoknya agar ia dilepaskan namun rasa tidak sampai hati lebih besar di dadanya. Ia akhirnya hanya menyentakkan tangannya, secara efektif membuat mereka berdua berhenti di tempat yang tidak ada orang itu.

“Maumu apa sih, Ta?”

Yang ia teriaki hanya terdiam dan menunjukkan punggungnya. “Kamu jahat, Feb.”

“Maksudmu apa?”

“Katamu kamu nggak akan ngejauhin aku walaupun aku udah jujur ke kamu. Kamu ingkar sama aku.”

“Aku-”

“Takut punya teman kayak aku? Takut kalo kamu bakalan ikut rusak kayak aku?”

Ia membuka mulutnya, namun tidak ada suara yang keluar.

“Oke. Kalau memang itu maumu. Aku berharap kamu tetap mau jadi temanku walaupun kamu nolak aku. Tapi rasanya nggak mungkin. Aku terlalu menjijikkan buatmu. Kalau memang maumu gitu, oke, aku nggak akan dekatin kamu lagi dari sekarang, aku bakal jauhin kamu.”

Tirta pergi dari hadapannya, memilih jalan memutar untuk tidak menatapnya.

Rasanya sakit. Sakit sekali. Ia mengerjapkan mata dan ada airmata yang bergulir dari sana, airmata pertama yang jatuh untuk cinta pertamanya.

*   *   *

“Kita sudah hampir sampai.”

Aku mengangguk saja. Mobil kami begerak memasuki gerbang tinggi yang dihiasi dengan janur kuning melengkung di sisi-sisinya. Janur itu mengular, meliuk naik sampai bertemu tepat di tengah puncak gerbang. Pandanganku terperangkap oleh hiasan dari daun kelapa muda indah yang menggelantung di sana, melambai lemas tertiup angin.

Aku sudah sampai di pernikahannya.

*   *   *

“Ta?”

Yang dipanggil berbalik melihatnya, kaget, namun dengan segera mengembalikan wajahnya ke depan, ke arah laut yang bergelora di bawah langit mendung. “Mau ngapain kamu ke sini.”

Ia teguk liur yang serasa seperti batu. “Aku mau minta maaf.”

“Nggak ada yang perlu dimaafin, Feb. Nggak perlu. Semua udah jelas kok.” Tirta bangkit dari tempat duduknya dan langsung melompat dari tetrapod besar itu, berniat pergi. Namun sebuah tangan menarik tangannya dan menyentaknya ke belakang, sebelum sesuatu menghantam tubuhnya dan memeluknya dengan kencang.

“Jangan pergi, Ta.”

Yang dipeluk hanya mengejang, kaku seperti papan.

“Aku juga suka sama kamu. Maafin aku. Aku… aku… aku…”

Ia tidak pernah selesai mengucapkan kalimat itu karena bibirnya sudah dikecup oleh bibir manis milik pemuda yang sudah menawan hatinya semenjak pertama kali ia melihatnya, Tirta.

*   *   *

“FEBRIIIII!!!!”

Aku mengangkat wajahku dari permukaan tanah, maju ke depan. Penglihatanku tertumbuk pada seorang gadis cantik yang melambaikan tangannya agak terlalu bersemangat padaku. Aku menoleh ke belakang sesaat. Ferdi belum selesai memarkirkan mobilnya. Apa boleh buat, aku harus masuk sendiri.

“HELLO!! DUH, AKU KIRA KAMU NGGAK DATANG FEB!!”

Ia langsung disikut oleh gadis manis berkacamata di sebelahnya yang tampak malu.

“Riska! Jangan norak dong! Malu tau! Pagar ayu kok kaya cabe-cabean!”

“Ah! Biarin! Aku kan senang liat Febri datang! Uhhh! Kamu ganteng banget deh, Feb! Sumpah!”

“Riska!”

Bibirku menyunggingkan senyum yang menurutku tidak meyakinkan, namun sepertinya cukup untuk sekedar tampil baik di depan Riska dan Maya, dua juniorku waktu sekolah. Ternyata mereka yang bertugas jaga di resespsionis, menjadi pagar ayu untuk acara hari ini.

“Kamu ke sininya sendirian ya, Feb? Nggak ada teman ya?”

“Aku sama Ferdi tadi, Ris. Dia-”

“Oh my God! FERDI! KEMBARANMU! Oh my gosh! Kena… ADUHHH!”

Riska langsung mengusap lengannya. Rupanya Maya baru saja mencubitnya.

“Bikin malu aja! Maaf ya, Feb! Biasa, obatnya belum diminum.”

“Apaan sih, May!”

“Habis kamu! Ganjen banget!”

Riska sudah membuka mulutnya, namun buru-buru aku menyelanya. Aku sedang tidak ingin terlibat dalam perkelahian sekarang, amat sangat tidak ingin.

“Aku bisa masuk sekarang, ya?”

Mereka langsung berhenti bertengkar.

“Oh, nggak apa kok, Feb. Tulis aja namamu dulu, sekalian sama namanya Ferdi. Trus langsung masuk aja.”

Aku langsung melakukan apa yang Maya katakan.

“Oh iya. Ini suvernirnya, Feb.”

Tanganku terasa berat saat aku mengambil miniatur mawar putih itu. Mawar putih itu berdaun emas dan tepat di atasnya tertulis namanya dan nama seseorang. Bukan namaku.

Aku harus mengatur nafasku dulu selama beberapa saat.

“Makasih ya, girls.

Sadar mereka melihatku aneh, aku buru-buru mengucap, “Anyway, you two look really beautiful today.”

Aku mengucap syukur saat Riska langsung terkikik genit, sementara Maya merona merah. Tersenyum pelan, aku pamit pada mereka dan melangkahkan kakiku ke ruang acara.

Aku pernah ke sini sebelumnya, yang saat itu dijadikan tempat resepsi pernikahan oleh salah seorang kawanku, jadi aku tahu ke mana aku harus melangkah. Yang aku tidak tahu, dan tidak aku antisipasi, adalah saat aku melewati lorong ini untuk menuju aula acara, aku harus melewati dinding yang penuh dengan dekorasi mawar putih yang dirangkai sambung-menyambung, berjalin layaknya pita di antara sisi-sisi foto pre-wedding mempelai yang menikah hari ini.

“Haaaahhhh…”

Desahanku keluar cukup keras, saat dadaku serasa dibetot kuat sekali. Aku harus bersandar di dinding satunya yang hanya didekorasi oleh mawar, tanpa foto-foto menyakitkan itu. Kugigit bibirku, menahan teriakan kesakitan. Untungnya, untungnya, tidak ada seorangpun di sana saat itu. Tidak ada yang akan melihatku dengan aneh, seperti Riska dan Maya tadi. Aku tidak butuh penghakiman. Aku sudah cukup menderita sekarang.

Aku beringsut maju, mulai merutuki diriku sendiri dengan kebodohanku. Rencana yang awalnya tampak tidak terlalu sulit ternyata terasa begitu berat sekarang. Sebenarnya kalau aku cukup pintar, aku sudah bisa membaca tanda-tandanya dengan jelas. Aku sudah merasa sakit, bahkan sebelum datang ke sini. Tapi aku butuh konfirmasi, aku butuh pemandangan itu untuk meyakini bahwa sesuatu telah berakhir, bahwa semua sudah berakhir di antara kami.

Bahwa aku dan dia sudah terpisah.

Tanpa sadar aku sudah melewati lorong siksaan itu. Aku berhenti saat aku berada tepat di bawah pintu melengkung ruang acara ini. Kuangkat wajahku dan duniaku langsung berhenti.

Di sanalah ia berdiri.

Tampan sekali.

Ia berdiri di sana, dengan baju beskap putih yang membalut tubuh tinggi dan tegapnya. Ia terlihat bersinar, bagaikan seorang pangeran dari kerajaan nirwana. Bibirnya melengkungkan senyum tatkala menyalami tamu-tamu undangan yang datang, senyum yang sudah lama sekali tidak aku lihat langsung. Dadaku berdebar. Keinginan membuncah untuk langsung melesat ke sana dan memeluknya langsung meledak.

Namun kemudian niat itu langsung menghilang saat aku melihat seseorang berdiri di sampingnya. Jelita, menawan, bagaikan putri yang tampak baru turun dari bulan.

Istrinya.

Sakitnya tidak terhingga. Sakit, sakit sekali rasanya. Rasanya hatiku, yang sudah membengkak, diiris, dibelah, disayat dengan pisau berkarat yang meninggalkan lubang menganga. Bernafas kembali sulit sekarang, rasanya menyakitkan untuk menarik udara ke dalam dadaku. Rasa sakit ini sudah berimbas ke mataku, pedasnya airmata sudah menyerang inderaku. Tubuhku kaku seperti papan, satu-satunya yang kulakukan hanya menggigit bibirku.

Jangan nangis…, jangan nangis…

“Feb ….”

Tubuhku diputar, ditarik. Sentakan dari Ferdi itu kembali memberiku kontrol atas diriku, membebaskanku dari ketidakberdayaanku mengontrol tubuhku sendiri. Ia menarikku ke salah satu sudut sepi di aula itu.

“Kamu kenapa nggak nunggu aku?!”

Ia kesal dan khawatir akan keadaanku. Aku tidak menjawab, karena aku sedang ngos-ngosan mengisi paru-paruku dengan udara lagi.

“Feb, kamu nggak apa-apa?”

Aku menaruh tangan di bahunya dan menggeleng. Aku berusaha tersenyum namun aku sendiri tahu bahwa itu hanya seringaian.

“Ayo, kita pulang sekarang!”

Aku menggeleng.

“Feb, ayo kita pulang sekarang! Dari pada kamu ada di sini! Itu cuma nyiksa kamu! Ayolah, kita pulang!”

Ferdi sudah mendesakku. Aku menarik tanganku dari bahunya, kembali menggeleng.

“Aku nggak akan pulang sebelum aku ke sana.”

Aku sendiri terkejut dengan datarnya suaraku. Sakit itu masih berdenyut amat nyeri, namun konfrontasiku dengan Ferdi tadi telah membangunkan kekeraskepalaanku, menarik topeng mati rasa ke wajahku. Dadaku sesak sangking pedihnya, namun wajahku dengan mengerikannya tetap tenang, minim ekspresi.

Ferdi terlihat takut melihatku seperti manekin. Biasanya dialah yang selalu menang dalam adu argumen, namun kali ini ia kalah telak. Ia memohon sambil mencengkeram lenganku.

“Feb, please… Kita pulang…”

“Nanti Fer.”

“Feb ….”

Aku bangkit dan menepiskan cengkeramannya. “Aku mau ke sana. Silahkan kalau kamu mau di sini, atau pulang aja sekalian ….”

Kepalaku berdenyut saat aku mulai melangkah. Aku berusaha meredamnya, walaupun tidak berhasil. Ferdi ada di sampingku, ia tidak meninggalkanku. Matanya jelas-jelas melirikku, khawatir aku akan limbung atau apa. Dia benar, rasanya aku sudah mau pingsan, tapi aku tidak akan kalah, tidak sebelum aku melihat orang yang kutuju di acara ini.

*   *   *

Ini adalah anniversary mereka yang ke delapan. Delapan tahun semenjak ia merenggut pergelangan pemuda itu dan menariknya ke dalam pelukannya. Sedikit dingin, hujan baru selesai turun kurang dari sepuluh menit lalu. Ia eratkan jaket yang ia kenakan, dingin menusuk sampai ke tulang.

“Tirta ke mana ya?”

Diliriknya jam tangannya. Ia sudah setengah jam lebih menunggu di sini, di bawah pondok di tepi pantai tempat ia mengungkapkan perasaannya delapan tahun lalu. Ia berusaha untuk tidak berpikir aneh. Mungkin Tirta sedang dalam perjalanan, baru saja selesai berteduh dari ganasnya hujan dan langsung melaju di di atas jalan yang licin tergenang air. Ada rasa khawatir yang muncul saat ia membayangkan motor kekasihnya itu meliuk di antara kendaraan lain, takut saat ia malah tergelincir dan menghantam mesin atau benda di depannya akibat selip, tidak bisa menguasai kendaraannya.

Saat kekasihnya tergeletak berlumuran darah di jalan.

Tuhan… tolong lindungi dia…

“Feb?”

Ia langsung menoleh dan menarik nafas lega saat orang yang ia tunggu muncul dari belakangnya. Ia langsung memeluknya, erat, melepaskan kelegaan yang begitu besar di hatinya.

“Aduh, Ta, aku kira kamu kenapa-kenapa. Lama banget baru kamu sampe. Kamu nggak apa-apa, kan?” Tirta mengangguk, ditingkahi senyum samar di wajahnya. Tiba-tiba ada rasa aneh menusuk di hatinya. Ada apa dengan kekasihnya? “Ada apa, Ta? Kok kelihatannya kamu tegang? Ada masalah? Cerita sama aku.” Ia meraih tangan pemuda itu. Dingin. Dengan cepat ia berusaha melingkupinya dengan tangannya sendiri, namun rasa kecewa melanda saat tangan dingin itu menjauh darinya.

“Maaf, Feb, kita udah nggak bisa sama-sama lagi.”

Matanya melotot. Jantungnya berdebar kencang. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyerangnya di dada.

“Hah? Kamu bilang apa tadi, Ta?”

Ia menarik nafas panjang, matanya menatap ke pasir pantai yang basah terkena hujan, menolak memandang mata yang melihatnya dengan tajam. “Kita nggak bisa sama-sama lagi ….”

Ia berusaha menguasai emosinya yang langsung bergolak. “Kenapa? Salahku apa?”

Tirta menggigit bibirnya sampai merah. “Nggak ada yang salah. Nggak ada.”

“Terus? Kenapa?”

“Aku… dijodohkan sama orangtuaku…” Ia hanya bisa menunduk, tak bisa balik menatap sepasang mata yang mulai basah.

“Di… dijodohkan… Trus… trus gimana dengan kita?”

“Aku nggak tahu, Feb, tapi yang jelas, kita udah nggak bisa sama-sama. Maaf. Aku nggak bisa nggak matuhin apa kata orangtuaku. Aku nggak mau jadi anak durhaka.”

Ia kehilangan suaranya. Tirta masih terus berbicara, namun ia sudah tuli. Yang ada di pikirannya hanyalah bahwa ia akan kehilangan cinta dalam hidupnya. Ia tahu bahwa cinta mereka akhirnya akan berakhir. Di negeri ini tidak ada kata sepakat untuk dua insan berjenis sama, walaupun mereka saling mencinta. Tidak ada, kecuali jika mereka nekat ingin berdua, nekat untuk menerobos batas. Dan itu semua harus dibayar mahal. Ada banyak pihak yang akan hancur. Cinta mereka akan meninggalkan luka dan luka itu tidak akan sembuh sampai kapanpun.

“Selamat tinggal, Febri. Mulai sekarang, kuharap kita nggak akan ketemu lagi. Aku harap kamu bisa bahagia sama orang lain selain aku.”

Begitu saja, Tirta pergi. Tidak ada pelukan, tidak ada kecupan, tidak ada sentuhan yang menengkan. Cintanya itu pergi seiring dengan nyaring mesin motor yang digas dan berderum meninggalkan pantai yang semakin dingin itu. Ia masih di sana, di bawah nyiur yang melambai menyedihkan, di tengah angin yang bertiup dingin melumpuhkan, memandang ke arah kekasihnya yang sudah lama pergi dari jangkauannya.

Ada sesuatu yang hancur berkeping-keping di hatinya. Ada sesuatu yang jatuh dari matanya. Ada teriakan tak tersampaikan di benaknya.

Ada sesuatu yang hancur.

dirinyalah sesuatu yang hancur itu.

*   *   *

Dia melihatku saat aku menaiki tangga kecil di panggung pelaminannya. Ia terkejut. Jelas terkejut. Rahangnya langsung mengeras, urat di pelipisnya yang muncul saat ia tertekan langsung berkedut. Ia menatapku tajam, sementara aku menatapnya tanpa ekspresi.

“FEBRI!!!”

Kualihkan pandanganku, ke putri bulan yang berteriak melihatku. Ia memelukku, tidak peduli pada suaminya dan orang-orang yang melihat kami. Senyum kembali kupasang di bibirku.

“Kukira kamu nggak akan datang! Jahat kamu! Masa sahabat terbaikku nggak datang ke acara nikahanku sih! Aku sudah siap-siap mau musuhin kamu seumur hidup kalau kamu nggak datang! Tapi akhirnya kamu datang juga!”

Aku tersenyum manis. Mereka terlihat serasi sekali. Ada sebuah rasa sakit baru di dadaku.

“Ya ampun! Kamu ganteng banget! Sumpah! Suamiku aja kalah ganteng sama kamu, kebanting!”

Rasanya ada tombak yang menusuk dadaku.

“Ferdi!! Kamu datang juga! Aduh, double awesome nih jadinya!”

Sama denganku, Ferdi juga tersenyum, namun saat menatap pengantin laki-laki di depanku, matanya seperti ingin membunuh. Sadar bahwa ini akan mengundang hal yang tidak diinginkan, aku langsung membuka mulut.

“Selamat ya, Rin. You look terrifically beautiful today. Selamat ya! Selamat berbahagia sampai nenek-nenek.”

Erin tertawa sambil mencubit lenganku.

“Amin! Tapi nggak usah disebut pula nenek-neneknya keles!”

“Kan semua juga pasti jadi nenek-nenek. Tapi tenang aja, kamu pasti tetep jadi nenek-nenek paling cantik.”

Aku terkekeh saat Erin mencubitku lagi dan memonyongkan bibirnya. Ia beralih ke Ferdi, meninggalkanku tanpa pilihan untuk bergeser ke samping dan berdiri di depannya langsung. Ia dan aku saling bertatapan.

Sebentar lagi semuanya selesai ….

“Selamat ya, Tirta.”

Aku mengulurkan tanganku. Ia terdiam sesaat sebelum menyambutnya. Aku sudah hampir lupa betapa kokoh dan hangatnya tangannya. Tangan yang dulu mengenggam jemariku dan menggetarkan hatiku, membuatnya hangat dan penuh. Tangan yang mengusap pipiku, merapatkan tubuhku ke tubuhnya saat kami menyatu dalam sebuah ciuman. Sekarang, tangan itu tidak lagi untukku. Ada tangan lain yang akan digenggamnya, ada hati lain yang akan dihangatkan dan dipenuhinya.

Mendadak tanganku terasa terbakar.

“Semoga kamu sama Erin bahagia. Dilancarkan rezeki, rukun selalu. Dan moga cepat dapat momongan.”

Ia tersentak, sementara aku tersenyum setulus yang aku bisa padanya. Kulepaskan genggaman tangannya yang membakar, mengebaskan hatiku dari rasa kehilangan yang seketika menghujam jantungku. Kesakitan emosional ini sudah berubah menjadi kesakitan fisik. Kepalaku sekarang berdentam hebat.

“Feb, kok mukamu pucat?” Erin melihatku cemas. “Kamu duduk dulu, ya? Fer, bawa Febri ke kursi dulu. Kasih minum, sama biarin dia makan dulu.”

Aku menggeleng, rasa sakitnya makin menjadi.

“Aku nggak apa kok, Rin, cuma agak pusing aja.”

“Iya, tapi kamu duduk aja deh dulu.”

“Nggak apa-apa kok. Aku mau pulang aja, istirahat di rumah. Ya udah, aku duluan ya, Rin, Ta.”

Aku berjalan ke depan, namun rasa sakitnya meledak. Aku terhuyung dan penglihatanku kabur.

Di detik-detik terakhir sebelum kesadaranku hilang, aku merasakan tubuhku didekap. Ada sesuatu yang menangkapku. Aku tahu itu dia. Aku tahu itu Tirta.

Kalau dengan ini aku bisa menghilang, aku ikhlas ….

Teriakan demi teriakan berdengung pelan di telingaku. Panca inderaku perlahan menutup, kegelapan sudah menguasaiku. Sebelum aku benar-benar menghilang, kubiarkan kata-kata itu bergeme lirih di hatiku, menggemakan setitik kebenaran di ambang ketiadaan.

Aku cinta kamu, Tirta…