LelakiPenerjangOmbakCover

Nayaka says…

Pinter, keren, mahir nulis, dan aku yakin jelita bak ratu pantai selatan😀, please welcome, Icha Zahra.

Icha-sista, kuharap kamu percaya, bahwa betapa aku sudah tergila-gila pada Lelaki Penerjang Ombakmu ini. Kamu tahu? Aku cemburu pada kepiawaianmu memilih kata, semua diksi yang kamu tulis di sini, just perfect to me, really! Yang bikin aku tambah iri padamu, kamu menulis demikian telatennya, aku tidak menemukan satu kejanggalan pun, semuanya sempurna dan―oh my gosh―aku jatuh cinta pada tulisanmu ini.

Terima kasih sudah memberikan kehormatan buat blog gak jelas ini untuk memamerkan salah satu masterpiecemu, kuharap ini bukan kali penghabisan.

Hug

Nayaka

***

LELAKI PENERJANG OMBAK

Oleh : Icha Zahra

***

Sedalam apa makna kerupawanan—keindahan itu?

Seseorang pernah berkata, adalah ketika kau memandang manusia-manusia terpilih yang diberkati kesempurnaan wajah. Tapi, aku menyela, tiada makna di baliknya. Kerupawanan mereka luntur seiring waktu yang terus, terus, bergerak hingga begitu cepat serupa awan-awan berarak yang, jika dipandang di atas tanah dan dipandang di atas pesawat, akan terdapat perbedaan kecepatan. Ilusi optik. Kadang seperti berlari, kadang melangkah gontai.

Seorang pelukis berpendapat. Katanya, adalah ketika kau memaknai seni. Keindahan abadi terdapat dalam sebuah mahakarya. Tapi, aku masih menyela, tidak semua orang dapat memaknai seni. Orang-orang tertentu hanya memandang selintas, ibarat melihat toko emperan yang mereka lewati saat berjalan pulang.

Sedang seorang pecinta memberi penjelasan singkat. Keindahan yang bermakna adalah ketika kau jatuh cinta. Seberapa dalam maknanya tergantung seberapa besar cinta itu. Aku tidak menyela. Hanya sedikit tertawa.

Keindahan yang bermakna bagi diriku sendiri adalah ketiadaan. Keindahan hanyalah setangkai bunga mawar merah menyala lalu layu dilumat waktu. Dalam sekejap lenyap. Tinggallah kepahitan—kejelekan. Musnah dan tak berarti. Akan tetapi, di lain waktu, aku akan menulis sebuah keindahan sesungguhnya—keindahan yang sempat kuanggap remeh.

Di lain waktu itu adalah saat ini.

***

Kaulah makna

yang tak habis dikoyak luka

Kau pula nada

yang mengalun di gorong-gorong jiwa

 

Apalah aku

hanya noktah dalam langkahmu

selaksa kicau merpati

di keriuhan pesta kembang api

Duh, tak ada arti[*]

***

Ombak masih bergulung-gulung, enggan usai meski hari sudah menua; senja.

Di Pulau Entah, aku duduk sendiri. Menikmati sajian alam: langit oranye, pasir pantai, laut biru dan berjuta embus udara. Tak pernah berani aku mendekat pada gaharnya ombak itu, mengingat ada papan peringatan besar. Mendekati ombak sama dengan mendekati maut, begitu yang tertulis di sana. Ada beberapa turis yang nekat lalu berakhir. Mungkin sebegitu dalam kerinduan mereka pada gua garba Ibu hingga tergesa ingin dikebumikan.

Konon bukan ombak yang dipermasalahkan, melainkan sesuatu yang terkandung di dalamnya. Penduduk lokal menyebut mereka penghuni laut. Sedang aku menyebutnya segitiga bermuda. Kejomplangan dalam berpikir inilah yang membuat orang asing yang bertandang tidak paham, dan terjadilah pertentangan. Masa bodoh adalah cara terbaik. Hingga para orang asing itu memilih terjun ke neraka yang melahap nyawa mereka. Satu per satu. Sampai suatu hari nanti di kala aku sudah memiliki dua anak lelaki dan satu perempuan, Pulau Entah dirayap sepi. Pulau Entah berganti nama menjadi Pulau Mati.

Ya, tapi nanti.

Seorang teman memanggil-manggil di kejauhan. Aku abai. Dia hanya akan menyuruhku membakar ikan buat makan malam. Tidakkah dia tahu aku tengah mencumbui keindahan yang serupa mawar hendak layu? Selagi masih indah, aku mesti sesegera mungkin menikmatinya. Kalau sudah berganti nama, buat apa? Layu sudah.

Matahari yang begitu besar seolah tertelan oleh keagungan lautan. Bola api raksasa yang suatu hari nanti hendak menenggelamkan bumi dalam kobarannya perlahan-lahan turun, tergelincir. Lalu hilang, redup. Langit tak lagi senja. Malam sudah berkuasa.

Dan, di saat itulah detik-detik menuju aku yang tak lagi memandang remeh keindahan.

Noktah yang selagi senja tak tampak kini tertangkap mata. Setitik hitam itu berada di bibir pantai, begitu dekat dengan ombak. Satu nyawa yang akan hilang, barangkali. Aku masih memandang. Semakin menyipit, semakin jelas. Dia seorang perempuan, aku mengira-ngira. Tapi perkiraanku salah—ini terjadi ketika tanpa sadar aku berdiri dari duduk dan melangkah pelan ke arah satu titik hitam itu. Dia lelaki.

Seruan teman tak lagi terdengar. Kini hanya suara deburan ombak yang dapat kutangkap.  Aku yang saat itu masih muda tidak sadar terus mendekati ombak—walau demi Tuhan, aku sama sekali tidak bermaksud. Aku mendekati lelaki itu, bukan ombak yang sedang dipandanginya dengan khidmat.

“Sebegitu rindukah dirimu pada kematian?”

Lelaki itu tersenyum tanpa mengalihkan pandang. Sekejap aku merasa dia indah. Serupa mawar merah baru mekar, begitu menyala, begitu hidup. Sedang kematian diam-diam mengintip di belakang, bersiap menerjang di tahun-tahun kapan.

“Sebaliknya,” jawab lelaki itu.

“Kematian yang rindu padamu.” Aku menyimpulkan sendiri sementara dia tersenyum lagi.

“Aku sedang mengucapkan salam perpisahan,” katanya.

“Pada hidup?”

Dia menggeleng lemah. “Pada sebuah akhir.”

Aku tertawa kecil. “Tapi kawan, saat ini dirimu tengah mendekati akhir. Diam-diam menentang hidup dan berpikir bahwa mati adalah awal sebuah kehidupan. Kamu hidup di sini, sekian tahun. Wajahmu bicara padaku. Dan kamu tahu benar, ada larangan keras mendekati maut.”

Seakan enggan memandang lawan bicaranya, dia masih saja melihat laut berikut ombak. Kelopak matanya tertutup, lalu kembali terbuka. Seolah baru saja mengabadikan momen. Merekam di kepalanya, menyimpan untuk kemudian ia ingat lagi di waktu senja. Ah, aku semakin terpesona pada mawar merah yang satu ini.

“Seharusnya,” kata dia. “Kamu melihat dirimu sendiri.”

Sesaat aku terkesiap.

Dia bicara lagi. “Bukankah saat ini kamu juga sedang mendekat pada akhir? Ataukah justru dirimu sendiri yang merindukan kehampaan—kematian.”

“Aku hanya penasaran pada setitik nyawa yang hendak hilang.”

“Aku tidak ingin mati. Aku sedang mengucapkan salam perpisahan.”

“Ya, kamu mengatakannya dua kali.”

“Karena kamu belum mengerti.”

Bersama angin, aku hendak kembali. Tapi suara lembutnya menahanku.

“Kadang harus tahu takutnya mendekati akhir sebelum bisa menikmati hidup,” katanya.

“Kamu tidak menikmati hidup?” akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan pembicaraan menarik ini bersama lelaki indah itu. Angin sudah sampai di tempat temanku yang sedang membakar ikan, sedang aku masih berada di samping lelaki ini.

“Kamu tidak menikmati hidup.”

Aku terperangah. “Aku?”

“Ya, kamu.”

“Bagaimana bisa?”

“Kamu tak acuh pada setiap nikmat dan menganggapnya angin lalu. Keberuntungan sesaat, keindahan sementara.”

Keindahan sementara. Kata-katanya begitu menghipnotis. Dari mana dia tahu tentang segala pemikiranku, aku merasa entah. Sejak saat itulah aku memfonisnya sebagai si Pembaca Tanda. Dia tahu tanpa perlu mencari tahu.

“Aku membawamu kemari,” katanya. “Ketahuilah, tanpa berprasangka, aku cuma ingin kamu memaknai hidup sedalam kamu memaknai keindahan—tanpa perlu kamu anggap sesekejap kuncup mawar merah yang baru mekar dan layu di esok pagi.”

“Di mana ada hidup, di situ pula mati mengintip. Tak berbeda dengan keindahan, di sana pulalah bersarang keburukan. Belum ada yang bisa menggoyahkan prinsip itu.”

“Tidak akan pernah ada. Tapi selalu ada cara-cara yang mampu membuat manusia-manusia lupa dengan mati, lupa dengan keburukan.”

“Apa?”

“Sedalam mana manusia itu memaknai peristiwa.”

Aku tertegun. Keindahan yang saat ini sedang kurasakan bahkan masih tersisa begitu banyak setelah aku beristri dan punya tiga anak. Begitu dalam aku memaknai peristiwa pertemuan ini, hingga tak pernah lupa meski waktu berkali-kali menerjang zaman. Kata-kata si Lelaki Pembaca Tanda terus terngiang-ngiang, lalu kembali bangkit ketika nanti aku sampai di tenda.

“Ayo kita bertemu lagi di sini besok pagi,” kataku.

Dia tersenyum. “Kamu begitu memaknai hari ini hingga melupakan akhir, bukan?”

Kini akulah yang tersenyum.

Kami berpisah hari itu tanpa bertukar nama. Aku berpikir, toh kami akan bertemu lagi di sini. Kami bisa bertukar nama besok. Untuk semalam ini, aku akan menamainya Lelaki Pembaca Tanda. Dia berjalan ke Utara, sedang aku ke Selatan. Sebelum sama-sama meninggalkan keindahan dan mengemasnya dalam kotak kenangan, dia sempat menolehkan wajah padaku, sekali itu saja.

Sambil tersenyum, dia berkata, semudah itukah kamu percaya pada dusta-dusta. Aku bertanya, pada dusta-dusta siapa. Sejurus pandang, jawabannya membuat hatiku beku. Tak pernah kunyana.

pada lelaki buta, katanya terakhir kali.

Hingga esok pagi tak pernah lagi kutemui sosoknya. Dia hilang, seperti noktah di belantara kehidupan. Apakah dia sudah mati, ataukah justru tak pernah hidup. Pertanyaan itu tak pernah terjawab sampai saat aku menyelesaikan kisah ini di sini.

SELESAI

[*]Puisi karya Icha Zahra : Buat Januari II

[Maaf atas keambiguan cerita]

Sunday, April 05, 2015

3:31 PM