Hero_Cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Secara sadar dan dengan kerendahan hati, aku ingin meminta maaf pada kalian semua para sahabat yang masih setia mengulik blog ini saat tak ada satu postingan baru pun dalam waktu yang tidak sebentar. Aku kagum dengan loyalitas kalian. Adalah misteri bagiku bagaimana kalian bisa bertahan peduli pada blog yang begitu jarang update ini. Padahal postnya jauh dari kata layak untuk ditunggu sambil dangdutan.

Kangen nulis post yang langsung tamat, akhirnya aku bikin cerita ini. Seperti kebanyakan tulisanku, tema dan idenya udah pasaran banget, bahkan sering diobral oleh banyak penulis pemula sepertiku. Gak tahu apa yang membuatku berani mengobralnya lagi di blogku. Mungkin karena aku kehabisan sesuatu yang bukan barang obralan di kepalaku. Mungkin juga karena aku menilai diriku lumayan ahli dalam obral-mengobral (kuharap kalian benar-benar bisa melihat huruf B pada ‘obral-mengobral’ agar tidak timbul salah pengertian terhadapku).

Sekedar mengingatkan, aku gak akan membalas satu komenpun di kolom ini yang nanyain tentang ‘kapan post LA dilanjut’, gak akan kujawab. Aku sudah memperingatkan, jangan kesal jika komen senada itu kuabaikan. Jika kalian cukup sabar dan cukup setia, maka bersabarlah dan setialah sedikit lagi sampai aku membalas kesabaran dan kesetian kalian itu.

Last, aku merasa jika Hero bukan salah satu tulisan terbaikku. Meski demikian, aku tetap berharap kalian dapat menikmati membacanya sepertiku yang menikmati ketika menulisnya.

 

Wassalam.

n.a.g

##################################################

 

Kau tidak bisa memilih kepada siapa dirimu akan jatuh cinta…

Karena jika hati bisa disugesti, akan kutujukan rasaku buat guru baru muda nan handsome yang mengajar Bahasa dan Sastra sejak enam bulan lalu di sekolah. Pun begitu andai hati dapat didikte, akan kulabuhkan rasaku untuk kapten basket nan hottie yang digilai seluruh cewek dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas. Demikian juga bila hati boleh diperintah, akan kujatuhkan rasaku pada ketua OSIS nan smart yang mampu melelehkan hati semua cewek tiap kali dia memamerkan senyumnya.

Karena Hati tidak bisa disugesti, tidak dapat didikte, apalagi boleh diperintah, maka ia adalah satu-satunya tempat ideal yang memenuhi semua kriteria yang diperlukan Cinta untuk hidup. Terhadap Cinta, Hati punya aturan sendiri dan sama sekali tidak perlu bantuan Otak untuk mensugesti atau mendikte apalagi sampai memerintahnya. Hati bekerja sendiri dan independent dalam hal Cinta, dan ia tak dapat disalahkan meski memilih sasaran yang tidak handsome, jauh dari kata hottie dan tidak smart sama sekali.

Maka dari itu, aku tidak menyalahkan hatiku sedikitpun karena memilih menujukan rasanya tidak buat Pak Al. Aku tidak memarahi hatiku karena tidak melabuhkan rasanya untuk Mas Nawi. Pun tidak pula kubenci hatiku karena tak menjatuhkan rasanya pada Khiar.

Adalah Hero, pilihan pertama hatiku yang bisa jadi adalah pilihan terakhir hati orang lain. Dia tidak setampan Pak Al Hisham saat berdiri di depan kelas, tidak sepanas Mas Zamhur Nawawi saat di lapangan basket, dan berada sangat-sangat jauh dari kepintaran Muhammad Akhiar yang selalu juara kelas. Dia hanyalah seorang Hero, berandalan sekolah, pemicu hipertensi beberapa guru ketika mengajar, orang terakhir yang ingin diikutsertakan dalam sebuah kelompok tugas, sosok yang tidak akan membuat orang sekelas bertanya-tanya saat dia tak hadir, tukang berantem, langganan dipanggil guru BP dan satu-satunya siswa yang akan dicurigai pertama kali bila puntung rokok ditemukan di toilet sekolah. Sosok seperti itulah Hero.

Dan hatiku malah memilih untuk jatuh cinta padanya.

Dunia yang sudah cukup aneh dengan cinta satu gender kini tampak semakin aneh saja…

***

10 YEARS AGO…

Dalam genggaman ibu masing-masing, dua bocah berseragam merah putih yang masih baru itu memandang satu sama lain sementara ibu mereka mengobrol. Salah seorang bocah yang berbadan lebih kecil mendadak tersenyum setelah mereka memandang untuk waktu yang cukup lama tanpa sebarang suara dan gerakan. Bocah yang satunya ikut tersenyum kemudian. Hanya sesaat setelah saling melempar senyum perkenalan, keduanya sama-sama membebaskan lengan dari genggaman ibu masing-masing dan berlarian menuju halaman yang dipenuhi lautan merah putih sambil berpegangan tangan.

Tak perlu waktu lama bagi kedua bocah itu untuk membuat seragam yang dikenakan menjadi kotor dan berdebu, di hari pertama mereka di Sekolah Dasar. Saat seorang guru wanita paruh baya―wali kelas mereka yang pertama―meminta semua murid baru masuk ruang, kedua bocah itu kembali berlarian dari halaman sekolah sambil tertawa-tawa, merebut tas mereka dari tangan ibu masing-masing dan segera masuk kelas sambil dorong-dorongan di antara bejibun siswa baru yang lain.

Kedua bocah itu langsung jadi sahabat sejak hari pertama di Sekolah Dasar. Mereka duduk semeja, dan tetap begitu hingga tiga tahun ke depan.

***

Nama aslinya Romeo El Rumi. Mungkin saat mengandung, mamanya begitu mengidamkan William Shakespears. Aku pernah selama tiga tahun sekelas dengannya saat Sekolah Dasar, sebelum ayahku dipindahtugaskan ke sekolah lain di luar kota. Saat itu, dia masih seorang bocah yang manis dan penurut, ketua kelas yang bisa diandalkan. Semua orang di sana dulu memanggilnya Romi, setidaknya masih begitu sampai aku pindah sekolah saat kenaikan kelas. Entah sejak kapan orang-orang mulai menyebutnya Hero. Ketika aku kembali ke kota ini untuk meneruskan SMA―karena ayahku kembali dimutasi ke tanah kelahirannya―dia sudah dinamai Hero. Dan bukan nama panggilannya saja yang kutemukan berubah, tapi juga pribadinya.

Aku sangsi, apakah dia masih mengingat Deka si penakut yang pernah jadi teman sebangkunya sejak kelas satu hingga kelas tiga SD? Aku sedikit yakin dia lupa, karena ketika kami bertemu lagi di kantor guru satu kali dulu, dia melengos dan berlalu begitu saja. Pun saat kami kembali sekelas di tahun kedua SMA―saat aku secara tidak sengaja menubruknya ketika memilih-milih tempat duduk di kelas baru―dia sama sekali tidak menunjukkan gelagat kalau dia pernah tahu aku. Adalah misteri bagiku, mengapa siswa yang dicap sebagai troublemaker sekolah itu bisa nyasar ke kelas IPA.

“Banyak generasi muda islam seperti kalian yang sudah terkulturasi dengan kebiasaan bangsa barat…”

Suara Pak Amiruddin membuatku berhenti memperhatikan kursi Hero dan kembali fokus ke buku teks di atas meja.

“Salah satunya yang Bapak yakin sering kalian meriahkan adalah, Valentine pada tanggal empat belas Pebruari.” Beberapa siswa perempuan mengeluarkan desahan samar yang lebih terdengar sebagai cicit protes di kupingku. “Valentine bukan tuntunan Rasulullah. Dan berbicara tentang tuntunan Rasul, zaman sekarang banyak perayaan yang sama sekali tidak dilakukan Rasul dulu.”

Kupandang buku teksku, hari ini kami sampai pada pokok bahasan hadist Nabi yang populer. Kurasa wajar kalau guru agama senior itu menyinggung hal-hal semacam perayaan yang katanya tidak dicontohkan Nabi, tidak didukung hadist dan sebagainya, meski aku yakin hampir seisi kelas tidak ambil peduli dengan ucapan guru agama kami itu, terutama tentang perayaan Valentine.

“Salah satunya perayaan Maulid. Hal itu tidak ada ketika zaman Nabi,” sambung Pak Amiruddin.

Aku kaget ketika sosok yang selalu menjadi tujuan perhatianku ketika berada di kelas mengacungkan tangannya ke atas. Hal yang belum pernah terjadi selama satu semester yang sudah terlewati kemaren.

“Ya, El Rumi?” tanya Pak Amiruddin merespon tangan siswanya yang masih teracung.

Hero memang bukan kontestan Miss Indonesia dan mustahil jadi kontestan sampai dunia kiamat karena dia seorang lelaki, namun kini semua mata tertuju padanya. Sama sepertiku, mereka di ruangan ini juga sama kagetnya.

Hero menurunkan tangannya, sikap duduknya pasti membuat Pak Amiruddin geregetan. Bagaimana tidak, sementara semua siswa duduk tegak dengan tangan terlipat di meja, di bangkunya cowok itu malah duduk demikian santainya dengan punggung bersandar sepenuhnya dan kaki selonjoran seenaknya. “Apa Bapak punya hape?” tanya Hero sambil menggoyang-goyangkan pulpen yang terjepit di antara telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.

Kutemukan kening Pak Amiruddin berlipat, dan semua siswa masih menatap heran pada Hero yang jarang-jarang berbicara di kelas. “Semua orang punya alat komunikasi itu zaman sekarang, El Rumi,” Jawab Pak Amiruddin setelah berdeham.

“Bapak punya?” ulang Hero dengan nada datar.

“Tentu saja.”

“Terus, Bapak ke sekolah pakai mobil, kan?”

Jantungku berdebar. Aku mulai khawatir kalau Hero bakal menerima kemarahan Pak Amiruddin dan diminta keluar dari kelas seperti yang beberapa kali pernah terjadi pada jam mata pelajaran guru yang lain.

“Apa hubungannya hape dan mobil dengan pelajaran kita, El Rumi?” tanya Pak Amiruddin dengan nada tegas.

“Kata Bapak, maulid tidak ada ketika zaman Nabi. Hape dan mobil juga tidak ada ketika zaman Nabi, tapi kenapa Bapak menggunakannya? Kenapa Bapak gak buang saja hapenya dan beli unta sebagai alat transportasi Bapak kemana-mana?”

Beberapa kikikan pendek terdengar di beberapa bangku. Aku sendiri merasa tegang. Di depan sana, Pak Amiruddin memandang ke arah meja Hero dengan tampang mencuka.

Dan sepertinya Hero tidak menyadari jika ucapannya sedang mendidihkan guru senior itu bagai api mendidihkan air, atau dia sadar tapi tak mau peduli. Jadi, aku benar-benar mengkhawatirkannya ketika dia melanjutkan ucapan. “Saya ragu, jangan-jangan Bapak malah punya akun facebook, twitter dan instagram yang jelas-jelas juga tak ada pada zaman Nabi.”

Beberapa siswa laki-laki sekarang lebih berani memperdengarkan tawa mereka saat mendengar kalimat Hero.

“Romeo El Rumi, keluar dari kelas saya sekarang juga!” bentak Pak Amiruddin yang membuat kelas mendadak berubah sesunyi tempat pemakaman di malam Jumat. Pemakaman itu sudah sunyi, dan pemakaman di malam Jumat tentu lebih sunyi lagi. Untuk sesaat, kelasku seperti itu.

Hero menutup buku teksnya dengan santai dan bangun dari kursi sama santainya seakan dia tak pernah menyulut amarah seseorang sedetik tadi. Pak Amiruddin mengikuti langkah Hero dengan tatapan marahnya sampai dia lenyap di balik pintu.

Mendadak aku jadi tidak tertarik lagi mengikuti pelajaran Pak Amiruddin. Aku tergoda untuk mengacungkan tanganku dan bertanya pada Pak Amiruddin, ‘apa nama akun facebook Bapak biar saya tambahkan ke daftar teman’, agar aku ikut diusir. Namun aku terlalu penakut, seperti selalu.

***

9 YEARS AGO…

“Kenapa sih kamu gak ambil batu dan melempari mereka satu-satu sampe benjut!”

Bocah yang berbadan lebih besar itu membentak bocah satunya yang masih sesengukan sehabis dibully gerombolan murid kelas enam di halaman belakang sekolah. Bocah yang kena bentak tidak bisa menjawab karena sibuk membereskan ingusnya yang terus mengalir dengan sapu tangan.

“Lain kali kalau kamu diusili lagi jangan diem aja, lawan dong!” Si Besar kembali mengomel sambil mengepalkan sebelah tangan dan menumbuk-numbukkan kepalannya itu ke telapak tangan yang lain dengan ekspresi geram.

“Aku takut…”

Sruuuuuut

Bocah yang lebih kecil membuang ingusnya.

“Ngapain takut. Ambil pentungan dan pukul mereka, atau tendang aja mereka kuat-kuat.”

“Aku takut, Romiiiii…!!!” ulang si bocah dengan nada kesal, tangisnya sudah berhenti.

“Huh, dasar penakut!” tukas bocah yang dipanggil Romi dengan tampang masih menunjukkan kemarahan. “Berapa yang mereka ambil kali ini?” tanyanya kemudian dengan nada lebih lembut.

“Dua ribu lima ratus perak.”

“Terus, sisa berapa?”

“Lima ratus perak.”

Romi merogoh saku celana merahnya. Satu lembaran uang seribuan dan dua keping recehan lima ratus perak kini terlihat dalam telapak tangannya. “Ayo ke kantin,” ujarnya kemudian sambil menggandeng lengan temannya yang baru saja kena palak.

***

Aku ditahan Mas Nawi di perpustakaan setelah jam pulang, sebelum ekskul basketnya dimulai. Kalau aku dan cowok jangkung itu tidak tinggal di komplek perumahan yang sama dan tidak berteman akrab di sekolah, mungkin kondisi kami saat ini bisa dikatakan sebagai keadaan di mana kakak kelas sedang membully adik kelasnya. Tentu saja adik kelasnya itu aku. Dan bicara soal bully-membully, aku sudah kenyang dengan pengalaman itu dan sangat paham cara menghadapinya.

“Mas, berapa tahun sih catatannya gak pernah disalin?” aku mendumel sambil tangan terus menulis di buku catatan Mas Nawi sementara si empunya buku malah sibuk dengan hapenya.

“Lebay,” cetusnya tanpa mengalihkan perhatian dari layar hape. “itu baru tiga kali pertemuan, Dek.”

“Tiga pertemuan apa tiga semester?”

“Kalau kamu ngomel terus kapan siapnya tuh catatan?”

Aku mendengus. “Ingat, ya, Mas, ini kali terakhir aku nyalin catatannya Mas, besok-besok jangan harap!”

Sekarang aku mendapatkan perhatiannya. Laki-laki itu memandangku sebentar lalu menyengir. “Deka mau ditraktir apa saat jam istirahat besok?”

“Aku dikasih uang jajan yang lebih dari cukup sama Ayah.” Jawabanku langsung membuat Mas Nawi bungkam, sepertinya dia sedang memikirkan sogokan baru untukku.

“Ya udah, mulai besok pulang-pergi ke sekolahnya naik angkot aja.”

Aku mati kutu. Ternyata laki-laki ini bukan memikirkan tentang sogokan baru yang gak mungkin kutolak, tapi memikirkan ancaman balasan untukku.

Merasa memenangkan pertarungan, Mas Nawi menyeringai padaku. Sejenak kemudian dia melirik jam tangannya. “Aku harus siap-siap, Dek.” Dia bangun dari kursinya, sebelah tangannya menyandang tali ransel di bahu sedang satu tangan yang lain menjangkau kepalaku. “Yang rapi ya. Kalau udah selesai langsung ke lapangan aja, nunggu aku di sana.”

Aku menjauhkan kepalaku dari jangkauan tangan Mas Nawi meski tidak cukup jauh baginya untuk membuat rambutku berantakan. Sementara aku bersungut-sungut, dia malah tertawa menyebalkan. Jika belum jam pulang dan perpustakaan masih ramai, tawanya pasti akan berbalas lemparan boardmarker dari petugas piket perpustakaan.

Setelah Mas Nawi pergi, perpustakaan jadi kian hening. Bermenit kemudian aku merasa ada mata yang memperhatikanku. Perasaan sedang diawasi mengusik ketenanganku menyalin. Kuedarkan pandangan ke penjuru perpustakaan yang searah dengan posisi dudukku, Bu Ana yang hari ini jadi guru piket perpustakaan sedang membereskan buku-buku di beberapa meja yang ditinggali begitu saja oleh siswa. Kuputar badanku hingga delapan puluh derajat untuk memperhatikan keadaan di balik punggungku. Sesaat jantungku nyaris berhenti. Di salah satu sudut, Hero duduk tegak dengan sebuah buku di tangan. Aku merasa yakin jika sesaat tadi buku itu masih dalam keadaan tertutup di tangannya, seyakin diriku bahwa sesaat tadi kami benar-benar berpandangan untuk sepersekian detik. Namun ketika aku mengerjap, kini dia tampak terpekur pada bukunya yang sudah terbuka.

Aku belum pernah melihatnya di perpustakaan. Sejak kapan berkunjung ke tempat tongkrongan para kutu buku ini jadi agendanya saat berada di sekolah?

“El Rumi, kalau kamu mau pulang sekarang boleh saja. Jangan khawatir, kalau Bu Farida tanya, Ibu akan bilang kamu ada di sini sambil bantu-bantu sampai Perpust tutup.”

Bu Farida adalah Guru BP kami, beliau juga mengajar Agama tapi bukan di kelasku. Sepertinya Pak Amiruddin mengadu pada Guru BP itu hingga Hero kembali dihukum. Bisa jadi Bu Farida jemu memberi hukuman toilet melulu seperti sebelumnya dan hari ini menggantinya dengan hukuman perpustakaan yang lebih akademis. Aku menulis, tapi telingaku konsen ke suara Bu Ana yang sepertinya sedang berbaik hati untuk mempersingkat durasi hukuman Hero.

Hero berdehem sebelum menjawab. “Tak apa, Bu. Masih satu jam lagi, kan? Saya tunggu saja.”

Jawaban Hero membuatku senang meski kesenanganku sangat muluk-muluk sekali. Sebut aku ke-ge-er-an karena mengasumsikan jawaban Hero sebagai isyarat bahwa dia tak ingin cepat-cepat meninggalkan perpustakaan disebabkan ada aku. Di tempat dudukku yang membelakangi arah duduknya, aku tersenyum sendiri.

“Ya sudah kalau kamu maunya begitu. Lanjut saja baca bukunya,” jawab Bu Ana.

Beberapa siswi memasuki perpustakaan dan langsung menggerayangi rak teenlit. Sepertinya mereka mau meminjam sebelum pulang ke rumah. Aku melanjutkan menyalin di buku catatan Mas Nawi sambil sekuat tenaga menahan diri agar tidak menoleh ke belakang.

Setengah jam kemudian kudengar Bu Ana mendentingkan lonceng kecilnya satu kali, perpustakaan akan ditutup sepuluh menit lagi. Buru-buru kubereskan buku-buku Mas Nawi dari atas meja dan kumasukkan ke tas. Aku bangun dan balik badan. Sebentuk perasaan kecewa muncul di dadaku, Hero tidak ada lagi di sudut tempat dia kuduga duduk sambil sesekali memperhatikanku selama aku mencatat. Aku bertanya-tanya sejak kapan dia pergi?

Putus asa dengan bahu merosot, kusandang tasku dan beranjak pergi dari meja. Kuanggukkan kepalaku sambil tersenyum saat melewati meja Bu Ana yang dibalasnya dengan senyum ramah. Aku melangkah setengah hati sambil sesekali menoleh ke arah pintu perpustakaan yang baru saja kutinggalkan. Saat sudah melewati koridor sejauh beberapa meter, sekali lagi jantungku nyaris menggelinding di lantai ketika dengan tiba-tiba badanku menubruk seseorang yang keluar dari belokan koridor menuju toilet. Aku nyaris terjatuh dan tanganku menggapai serampangan.

Tat

Tat

Tat

“Ya Tuhan!” mulutku menganga lebar sedang tanganku terulur kaku di udara, sejengkal dari kerah baju seragam orang yang baru saja kutubruk. Aku baru saja menjauhkan tanganku dari kerah itu. Wajahku pias. Jika kutahu akibatnya bisa seburuk ini, aku tidak akan menggapai serampangan dan mengikhlaskan diriku jatuh ke lantai.

Satu langkah di depanku, Hero berdiri dengan seragam setengah terbuka. Aku baru saja membuat dua, tidak bukan dua, tapi tiga kancing bajunya tanggal dan sekarang entah menggelinding ke sudut mana lantai koridor.

Dia hanya memandangku selama lima detik, menatap tepat di mataku dengan ekspresi tak terbaca. Dia tidak marah, namun tidak pula terlihat tak mempermasalahkan ulahku. Ekspresinya sama seperti ekspresi yang ditampilkannya nyaris sepanjang waktu selama berada di kelas. Setelah lima detik, dia menarik lepas dasi abu-abunya dan melewatiku begitu saja, seakan tabrakan sesaat lalu tidak pernah terjadi, seakan tak ada seorang pun yang baru saja membuat lepas kancing-kancing seragamnya, seakan aku tak pernah terlihat olehnya.

Aku kelamaan mencerna situasi. Ketika kubalikkan badanku untuk meneriakkan kata maaf, dia sudah menghilang ke dalam perpustakaan. Aku bimbang, antara mau menyusulnya atau menunggu saja di tempatku hingga dia keluar. Saat menimbang-nimbang sembari menekuri lantai, kuputuskan untuk menemukan ketiga kancing seragamnya terlebih dahulu.

“Deka!” Aku mendongak dari memeriksa lantai. Di ujung koridor Mas Nawi berdiri menungguku, masih dengan seragam basketnya. Ternyata latihannya lebih cepat selesai hari ini. “Pulang!” laki-laki itu lanjut berteriak.

Aku hanya menemukan satu kancing. Di belakangku, hak sepatu Bu Ana baru saja menghujam di koridor dan mengeluarkan gema nyaring. Aku memutar kepala. Hero berjalan di samping Bu Ana, menjinjing setumpuk bundelan kertas yang kuperkirakan milik petugas pustaka itu di tangan kiri sedang tangan kanan memegang tali ransel miliknya yang tersampir di bahu. Seragamnya yang terbuka di bagian dada dan memperlihatkan kaus dalamnya yang putih bersih sungguh membuatku merasa amat bersalah.

Sama seperti tadi, dia melewatiku tanpa menoleh. Seolah aku tak ada. Seolah aku tak kasat mata.

***

8 YEARS AGO…

“Kamu mau pindah sekolah?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Ayahku mau jadi guru di sekolah lain, jauuuh…”

“Kamu pindah ke sekolah ayahmu yang baru?”

“Ayahku guru SMA, Romi. Aku masih SD!”

“Terus, kenapa kamu harus pindah sekolah kalau bukan untuk satu sekolahan sama ayahmu?”

“Aku gak mungkin kemari tiap hari kalau gak pindah sekolah. Jaraknya jauh dari tempat Ayah dipindahkan.”

“Kamu pindah rumah juga?!?”

“Iya.”

“Di kelas tadi Bu Dini bilang kamu pindah sekolah, bukan pindah rumah…”

“Aku harus pindah sekolah gara-gara pindah rumah.”

“Lalu bagaimana kalau aku mau ketemu kamu?”

Bocah berpostur lebih kecil itu diam sesaat seperti berpikir lalu menggeleng bingung.

“Berarti kita gak bisa main bersama lagi?”

Bocah berpostur lebih kecil itu masih mendiamkan diri.

“Berarti, Deka akan meninggalkan Romi?”

Bocah berpostur lebih kecil itu kini mulai berlinangan air mata.

Becak yang biasa mengantar-jemput bocah berpostur lebih besar berhenti di depan gerbang sekolah. Sudah tiba waktunya untuk pulang. Ia bangun dari kursi kayu di halaman sekolah dan berjalan lesu menuju becaknya. Saat sudah duduk di atas becak, ia menoleh ke kursi kayu di bawah pohon akasia tempat teman yang sering disebutnya ‘penakut’ duduk menunggu ibunya selesai di kantor guru. Di kursi kayu di bawah pohon akasia, temannya itu sedang menangis. Ketika ia mengerjapkan mata, ia sadar kalau dirinya juga sedang menangis.

“ROMIIIII…!!!” bocah di kursi kayu berdiri. “DEKA AKAN INGET ROMI TERUUUSSS…!!!” teriakan bocah di kursi kayu seakan membeset udara di antara jarak keduanya.

Di atas becak, Romi mengucek matanya dengan kedua tangan kemudian melambai. Ia masih terus melambai sampai becak bergerak meninggalkan gerbang sekolah dan menghalangi pandangannya akan sosok kecil di kursi kayu di bawah pohon akasia.

Bahkan anak-anak pun paham, bahwa perpisahan tak diinginkan itu rasanya menyesakkan, dan sakit.

***

Sore ini aku bertemu dengannya di mall. Tidak, bukan bertemu, lebih tepatnya menemukan. Aku mengenali sosoknya dari tempatku berdiri di lantai atas, menunggu studio dibuka. Kuputuskan menggunakan waktu menungguku untuk menikmati sosoknya. Aku pamit pada teman nontonku hari ini dan berjalan ke eskalator, berusaha menjaga pandanganku untuk terus mengawasi sosoknya.

Hero tidak menyadari keberadaanku, atau bisa jadi dia sadar namun tak ingin menggubris. Aku, seperti biasa, tidak bisa untuk tidak menggubris keberadaannya saat dia sedang berada dalam jarak pandangku. Jadi, ketika dia memasuki sebuah toko peralatan olah raga aku pun ikut masuk meski tak ada benda-benda di dalamnya yang ingin kubeli. Aku berbaur di antara rak-rak sepatu sementara dia memilih jersey.

Tujuh menit kemudian, dia keluar setelah memasukkan jersey Barça yang jadi dibelinya ke dalam minibag. Tujuh menit untuk memilih jersey dan membayar tanpa menawar, aku tidak akan bisa melakukannya. Kebiasaanku jika beli sesuatu pasti menghabiskan banyak masa untuk memilih dan memilah, dan aku bakal menawar untuk tiap item yang tidak menyertakan label harga atau bila harga di price tagnya tidak mutlak. Atau pada beberapa kasus jika mas-mas pramuniaganya cukup cakep dan ramah diajak ngobrol lama.

Setelah dia keluar dari toko, aku baru keluar dari deretan rak sepatu lalu mengikuti di belakangnya, terpisah beberapa meter. Aku ikut masuk ke dalam toko fashion pria ketika Hero menuju ke sana. Seperti tadi, aku menyamarkan keberadaanku dengan berdiri di antara gantungan baju dan manekin, berlagak memilih-milih. Tak sampai tujuh menit, Hero keluar setelah membayar―lagi-lagi tanpa menawar―harga sepotong celana kargo, dia bahkan tidak ke kamar pas, cukup yakin dengan size dan model yang dipilihnya dalam waktu demikian singkat. Dari sana aku kembali mengekorinya.

Di Toilet pria, aku berdiri ragu. Dia tidak menggunakan salah satu urinoir yang ada di sini. Seorang pria baru saja selesai mematut diri di depan cermin besar sementara satu orang lainnya yang menggunakan urinoir sama sekali bukan Hero. Dia pasti berada di salah satu bilik. Ketika satu-satunya pria yang menggunakan urinoir meninggalkan toilet, aku berjalan menuju bilik yang pintunya terbuka bermaksud sembunyi di sana dan menunggu sampai Hero selesai di toilet. Namun sebelum sampai ke sana, satu pintu bilik yang kulewati mendadak terbuka dan seseorang menarik tanganku untuk masuk ke dalamnya.

“Mengapa kamu mengikutiku, hah?!?”

Seharusnya aku senang. Seharusnya aku berbunga-bunga. Seharusnya aku tersenyum-senyum sambil merem-melek karena berkesempatan berada sedekat ini dengan orang yang telah memonopoli seluruh rasa sukaku. Di ruang yang demikian sempit, fisik kami bahkan berkontak di banyak area. Seharusnya aku senang. Tapi yang terjadi kini adalah, aku gemetar.

“Apa maumu?!?” desisnya tajam.

Hero mencengkeram kedua bahuku dengan tangannya, mendorongku hingga membentur dinding dan menahanku sampai aku merasa nyaris melebur bersama dinding toilet. Namun bukan rasa sakit di belakang kepala karena benturan dinding atau nyeri di kedua bahu karena cengkeramannya yang membuatku takut dan gemetar, melainkan tatapan tajam Hero yang berjarak demikian dekat dari wajahku.

Aku tak pernah berhadapan dengan tatapan sebengis ini selama hidupku. Aku pernah dibully, tapi tak ada pembullyku yang pernah menyorotiku dengan tatapan seperti yang dilakukan cowok di depanku ini. Mendadak aku merasa bagai tak pernah mengenal Romeo El Rumi sebelumnya, tiba-tiba aku merasa bagai tidak pernah menghabiskan secuil kehidupan masa kecilku dengan menjadi karibnya bertahun lalu, seakan yang berdiri dan mengintimidasiku saat ini adalah sosok preman menakutkan yang tidak ragu-ragu menghajarku hingga lembik jika mau meski aku sudah menyerahkan dompetku. Saat ini, dengan sikap dan tatapan begitu rupa, Romeo El Rumi menjadi asing sepenuhnya bagiku.

“Aku… aku…”

Hero menunduk menatap kakiku, apa dia sedang mencari bukti ketakutanku terhadapnya? Karena jika iya, dia sudah menemukannya. Kakiku jelas terlihat sedang gemetar. Mungkin sesaat lagi aku akan mengompol jika dia terus menatapku dengan cara seperti itu.

Hero berdecak. “Dasar penakut.”

Desis samarnya yang nyaris tak terdengar membuatku terbelalak. Penakut. Dia menyebutku penakut. Begitulah persisnya dulu dia sering menyebutku setiap kali menemukanku menangis sehabis dikerjai siswa yang lebih besar. Desis samarnya, membuktikan kalau dia masih mengenalku. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku mendapatkan ketegaranku kembali.

“Jangan mengikutiku lagi!” dia melepaskanku, “kamu dengar?”

Aku diam masih menyandar ke dinding. Hero menatapku beberapa saat lalu berbalik untuk membuka pintu bilik toilet. “Romi…” Tangannya berhenti dari menarik daun pintu. Aku menelan ludah, mengumpulkan kemampuan bersuaraku lagi lalu lanjut bicara. “Mengapa kamu mengacuhkanku selama ini? Aku sangat yakin kalau kamu masih mengenalku…” Kupikir, dia tak akan menanggapi dan akan terus membuka pintu lalu pergi. Namun dugaanku meleset.

“Sudah lama aku melupakan bahwa dulu seseorang pernah berteriak mengatakan akan terus mengingatku. Sudah lama sejak aku berhenti menunggu bukti bahwa dia beneran mengingatku ketika tak pernah sekalipun telepon di rumahku berdering dan tidak sepucuk suratpun diantar tukang pos ke sekolah diperuntukkan untukku…”

Aku terhenyak. Itukah sebab mengapa selama ini dia mengacuhkanku? Mendengar Hero berkata demikian membuatku sakit. Aku ditikam belati bernama kesalahan. Aku bersalah pada Hero. Maka jika sekarang dia bersikap seakan-akan melupakanku, itu adalah balasan setimpal karena aku juga dianggapnya pernah melupakan dirinya. Aku ingin menjelaskan, membela diriku, tapi lidahku tak bisa kugerakkan.

“Romi…” Hanya namanya saja yang bisa kudesiskan.

“Aku Hero, bukan Romi…” Dia membuka pintu dan bergegas keluar.

Aku terpuruk. Merosot di dinding hingga terduduk. Kakiku nyaris tak bisa menahan bobotku lagi. Andai dia tahu bahwa aku tak pernah mengingkari ucapanku selama sepuluh tahun ini. Andai dia tahu betapa gembiranya aku saat ayahku mengabarkan akan kembali ke sini dua tahun yang lalu. Andai dia tahu bahwa rumahnyalah yang pertama kali kukunjungi saat tiba di sini. Andai dia tahu betapa buntunya aku saat menemukan rumah itu tak lagi di huni keluarganya.

Aku berdoa, berharap dia akan mengerti ketika kujelaskan mengapa aku tak menelepon dan tidak mengiriminya surat suatu saat esok.

Lamunan panjangku di dalam toilet diputuskan dering hape. Nama Mas Nawi tertera di layar.

“Kamu di mana, Dek? Studionya udah dibuka nih, balik sini cepetan!”

Sambungan langsung diputuskan, padahal aku berniat untuk mengajaknya langsung pulang saja. Aku tidak punya mood buat nonton film lagi. Tapi laki-laki itu pasti akan marah jika kubatalkan agenda nonton kami, di saat tiketnya sudah dia peroleh setelah berjuang dalam antrian yang mengular. Sedetik kemudian kubuka pintu toilet dan bergegas mencari lift untuk naik ke lantai cinema.

Wajah kesal Mas Nawi menyambutku di lorong menuju studio tempat film kami ditayangkan. Dia terlihat kesulitan memegang dua cup pepsi dan satu cup besar popcorn di tangannya. Ketiga wadah itu dipeluknya ke dada.

“Maaf,” ujarku sambil meraih wadah popcorn dan pepsi bagianku.

Laki-laki itu tidak menjawab, sebaliknya langsung balik badan dan menyerahkan tiketnya pada mas-mas di pintu studio. Aku tahu betul kesal Mas Nawi sifatnya selalu temporary. Dia tidak pernah benar-benar kesal atau marah padaku, entah karena sifatnya yang memang baik atau karena simbiosis mutualisme di antara kami yang masih ingin dipertahankannya―agenda nonton ini adalah salah satu bentuk simbiosis mutualisme itu, dia yang bayar tiket dan camilan. Jika sekarang dia bersikap seolah-olah sengaja tidak menggubrisku, beberapa menit ke depan dia pasti akan mengusiliku lagi.

Andai saja kepribadian Hero serupa dengan Mas Nawi…

***

7 YEARS AGO…

Di satu rumah, anak itu duduk di meja belajarnya sambil menopang dagu. Di depannya, sebuah bingkai foto sepuluh inci menggeletak di atas meja. Di dalam bingkai, dua sosok anak laki-laki yang masing-masing berpakaian adat Bali dan DKI Jakarta berdiri saling berpegangan tangan, keduanya sama-sama menjulurkan lidah ke kamera. Sekilas, anak yang masih menopang dagu terlihat tersenyum. Ia mengenang saat ketika foto itu diambil, tujuh belas Agustus, pertama kalinya ia dan karibnya ikut karnaval. “Sedang apa Romi di sana?” bisiknya pada diri sendiri sambil menyusurkan telunjuknya di atas bingkai, tepat di wajah anak lelaki berpakaian DKI Jakarta.

Di satu rumah yang lain di tempat berbeda, seorang anak laki-laki sedang duduk di dekat jendela. Menatap langit berbintang dengan pandangan kosong. Sudah lebih setahun sejak ia ditinggalkan, tapi telepon di rumah tidak pernah berdering untuknya. Ia mulai ragu dan bimbang, apakah bagus buatnya untuk terus mengingat dan menunggu dengan hati gundah gulana atau merelakan lalu melupakan dengan perasaan marah? Ia memilih opsi kedua. Otak anak-anaknya mengira bahwa merelakan dan melupakan dengan perasaan marah akan membuatnya benar-benar lupa. Padahal tidak. Perasaan marahnya itu akan tetap membuatnya ingat. Ia hanya tidak tahu.

***

Pak Al Hisham berniat membagi kami dalam empat kelompok untuk tugas drama. Kami diminta untuk membuat drama empat babak sekaligus memainkannya di kelas pada pertemuan yang akan datang. Ketika Pak Al memberi tenggat waktu dua minggu untuk menyusun naskah dan berlatih, semua kami menyuarakan protes, kecuali Hero―mungkin. Di bangkunya, cowok itu duduk tenang tak terpengaruh sama sekali. Melihat sosoknya, ingatanku berkelebat bolak-balik antara kejadian di koridor menuju perpustakaan dan kejadian di toilet mall. Sampai sekarang aku belum punya kesempatan meminta maaf atas kejadian di koridor.

“Jadi kalian maunya berapa minggu?” pertanyaan Pak Al mengembalikan konsentrasiku. Begitulah guru muda ini, selalu mengembalikan aturan mainnya pada kami. Kadang aku suka berkhayal kalau Pak Al jadi kepsek, dan terhibur saat membayangkan guru-guru senior lain bisa diperintah olehnya. Khayalan itu selalu berakhir dengan senyum geli ketika aku ingat bagaimana aku dan Khiar dulu sempat menerka-nerka dengan jahil kalau nama lengkap Pak Al adalah Alhamdulillah Hirabbil ‘Alamin.

“Dua bulan, Pak!” seru para cowok di deretan paling belakang kompakan.

“Kenapa harus dua bulan?” tanya Pak Al sambil membuka absen.

“Bikin drama susah, Pak. Belum lagi latihannya. Udah gitu empat babak lagi,” cetus Ayudhia, cewek tomboy bendahara kelasku yang selalu galak kalau menagih uang kas. “Kami kan bukan artis sinetron stripping, Pak…” Beberapa tawa terdengar sebagai respon kalimat Ayudhia.

“Kecuali kita semua kloningannya si Khiar, dua hari aja gak masalah, Pak. Tapi kami kan bukan duplikasinya Khiar,” Maryam yang duduk sebangku dengan sang bendahara ikut menyuarakan kalimat senada.

Pak Al tertawa sementara Khiar yang berada semeja denganku geleng-geleng kepala sambil tertawa pendek. Dia menolehku, “Bagaimana kalau aku beneran ada kloningannya, ya?”

Aku memutar bola mata menanggapi pertanyaan gak pentingnya. Khiar kembali tertawa.

“Baiklah. Dua bulan untuk tugas drama,” ujar Pak Al seperti yang sudah aku―mungkin juga semua teman-temanku yang lain―duga. “Deka, tolong ketok palunya.”

Aku menggebrak meja sebanyak tiga kali dan teman-temanku bersorak. Telapak tanganku memerah. Di sampingku, Khiar geleng-geleng kepala. “Dek, kamu gak bisa lihat kalau ada pebedaan sangat besar antara mengetuk dan menggebrak, ya?” bisiknya.

“Ada perbedaan mahabesar juga antara palu dan tangan, Bro!” cetusku yang membuat Khiar kalah telak.

“Jadi, siapa yang ingin jadi anggota kelompok siapa?” tanya Pak Al seakan memberi kebebasan bagi siswanya untuk menentukan kelompok sendiri. Namun lalu pandangannya tertuju ke mejaku dan Khiar. “Deka dan Khiar tidak boleh satu kelompok…”

Oh, yang benar saja. Aku berbisik pada Khiar. “Jadi apanya yang ‘siapa ingin jadi anggota kelompok siapa?'”

Khiar menggidikkan bahu. “Mungkin Pak Al sedang mencegah satu kelompok terdiri dari siswa pintar semua.”

“Aku tidak sepintarmu.”

“Memang. Tapi semester lalu kamu rangking empat dari tiga puluh tujuh siswa, kan?”

“Itu karena aku sebangku denganmu.”

“Kalian ngomongin saya?” Pak Al menginterupsi bisik-bisikku dengan Khiar. Guru muda itu sudah berdiri semeter dari tempat dudukku dan Khiar.

“Enggak, Pak,” jawab Khiar lantang. “Deka hanya gak mau kalau tidak satu kelompok dengan saya.”

Fitnah sekali. Di bawah meja, kutendang tulang kering Khiar. Cukup kuat untuk membuatnya meringis.

Sejenak Pak Al menatapku sambil mengulum senyum sebelum fokus pada absen di tangannya. “Muhammad Akhiar, Muthia Nur, Darajatul Ulya dan Abraham Dekalvin masing-masing akan jadi ketua kelompok A, B, C dan D.” Pak Al mengurut peringkat kami dari rangking satu hingga empat. “Kalian berempat silakan pilih anggota kelompok masing-masing, jangan rebutan. Akan ada tiga kelompok yang jumlahnya sembilan orang dan satu kelompok yang jumlahnya sepuluh,” jelasnya lalu menatapku. “Deka, silahkan kamu milih anggota pertama untuk kelompokmu lebih dulu…” Artinya, kelompokkulah yang akan jadi satu-satunya kelompok beranggotakan sepuluh orang.

Aku menatap kursi yang kerap kupandangi selama di kelas. Kali ini aku tidak akan membiarkannya jadi orang terakhir yang dipilih. Tidak akan di saat aku punya kesempatan untuk membuatnya dipilih pertama kali. “Saya pilih El Rumi, Pak…”

Sejenak kelas menghening. Udara bagai berhenti berhembus, bahkan bagai lenyap sama sekali. Aku bisa mendengar bunyi pergerakan jarum detik jam tanganku. Mereka tentu tak habis pikir mengapa seseorang yang selalu jadi pilihan terakhir untuk diikutkan dalam kerja kelompok malah kupilih untuk masuk kelompokku, bahkan kali ini jadi orang pertama yang terpilih, aku pilih. Ah, bukankah tanpa kupilih pertama kali pun Hero nantinya tetap akan masuk kelompokku? Mengingat dia kemungkinan besar akan jadi satu-satunya siswa yang tersisa di akhir sesi pemilihan, dan mengingat jumlah kami yang ganjil, tentulah aku yang akan jadi pemilih terakhir. Seharusnya mereka menyadari itu, alih-alih orang-orang ini malah terlalu mendramatisir keadaan.

Sekilas, kutemukan Hero melirikku sebelum kembali pada sikap dinginnya sehari-hari.

Fix,” kata Pak Al . “Romeo El Rumi, kamu masuk kelompok D bareng Deka,” lanjutnya sambil kembali ke meja guru dan sejenak kemudian mulai menulis di buku catatannya. “Dara, kamu pilih siapa?”

Aku tak begitu mendengar nama teman sekelasku yang dipilih Dara, tidak fokus juga pada jawaban Muthia kemudian. Pemikiran tentang Hero memenuhiku. Khiar memilih bendahara kami, aku memilih Maryam saat giliranku berikutnya, tidak yakin kalau namanya belum disebutkan Dara atau Muthia. Saat tak ada yang meningkahi, aku yakin Maryam belum dipilih.

Khiar menyikutku. “Hero, hah?” dia tersenyum kecil. “Ada sesuatu yang aku lewatkan?”

Aku memilih untuk tak menjawab. Kulirik sekilas bangku Hero di deretan kananku lalu berusaha fokus pada pengaturan kelompok ala Pak Al. Mungkin apa yang dilakukan Pak Al hari ini akan jadi jalan keluar buatku, untuk mendapatkan kembali Romi sahabat masa kecilku. Mungkin, ini adalah kesempatan yang diberikan takdir bagiku, untuk mendapatkan maafnya. Kusingkirkan khayal mulukku tentang Hero yang akan membalas perasaan khususku terhadapnya. Untuk saat ini, menjadi akrab dengannya sudah lebih dari cukup.

***

6 YEARS AGO…

Bocah itu menyerah memencet-mencet tombol di gagang telepon. Ia benar-benar lupa angkanya. Angka paling tepat yang dipencetnya hanya kode area saja, selebihnya ia menebak. Ia sudah mencoba ini beberapa kali sejak menetap di rumah baru, belum menyerah meski mamanya sudah pernah melarangnya. ‘Kasihan Papa bayar tagihan teleponnya, Dek’, begitu mamanya pernah berkata menyikapi panggilan teleponnya yang selalu salah sambung. Awalnya, ia menyalahkan mamanya yang menganggap bahwa buku telepon di rumah lama mereka bukanlah sesuatu yang wajib dibawa. Belakangan, ia mulai menyalahkan dirinya sendiri yang tidak pernah terpikir untuk menghapal deretan nomor tersebut, padahal hanya beberapa angka saja. Dan ia menyesalinya.

Banyak hal tak terduga memang yang mampu dipikirkan otak mengagumkan anak-anak sementara otak orang dewasa sama sekali tidak berpikir ke sana, tapi ada hal-hal sepele yang memang tidak terpikirkan oleh mereka. Salah satu di antara banyak yang sepele; menghapal nomor telepon.

Di tempat lain, seorang bocah baru saja berlari tergopoh-gopoh dari kamarnya menuju meja telepon yang ada di ruang tengah rumah begitu mendengar benda itu berdering. Ia pernah memutuskan untuk melupakan, tapi tetap saja masih bersemanggat setiap kali telepon di rumahnya berdering, tetap saja harapnya menyala ketika dering itu mengusik pendengarannya. Meski yang terjadi selama itu tak jauh-jauh dari : ‘Ma, Tante A telepon nih’. Atau, ‘Ma, Tante B nanya apa Mama jadi pergi Arisan?’ namun tetap saja ia berlari bagai kesetanan setiap ada panggilan telepon.

Anak-anak adalah sosok yang luar biasa. Hanya mereka yang mampu kembali mesra dengan rekannya yang satu jam lalu baru saja mengejeknya hingga menangis, hanya mereka yang mampu harmonis kembali dengan anak lain yang beberapa saat sebelumnya baru saja mematahkan krayonnya di jam menggambar. Bocah yang kembali dikecewakan panggilan telepon itu hanyalah seorang―sekali lagi―bocah.

***

Hari ini, sementara menunggu Mas Nawi menyelesaikan ekskulnya, aku berinisiatif untuk mulai mengerjakan tugas kelompok Pak Al. Bukan kelompokku saja, kelompok Dara juga bertahan untuk tidak pulang. Khiar tidak bisa mengikutiku dan Dara karena ada rapat Osis sedangkan Muthia lebih suka mengajak rekan kelompoknya ke rumah. Mungkin lain kali kami juga akan memilih salah satu rumah, tapi hari ini aku tidak mau menunggu Mas Nawi hanya dengan memelototi dia dan timnya berkeringat di lapangan basket di saat ada hal lain yang bisa kukerjakan. Itulah mengapa aku memprovokasi rekan-rekan sekelompokku untuk tidak langsung pulang hari ini.

Dara dan kelompoknya sudah mengambil satu sudut ruang kelas, aku menyuruh teman-temanku merapatkan meja dan kursi di satu sudut lain. Saat itulah aku melihatnya meraih tali tas dan menyelempangkannya di bahu, dengan sikap acuh berjalan ke pintu.

Tidak. Aku tidak akan membiarkan dia melakukannya kali ini. Tidak ketika aku sudah demikian dekatnya dengan kesempatanku. Tidak sekarang. Setelah menyerahkan tanggung jawab pada Maryam, bergegas aku menyusulnya.

Aku berhasil mengejarnya di tangga. “Rom…!!!” dia tidak menggubris panggilanku, hanya terus bergerak gesit menuruni tangga. “Rom, ini tugas kelompok, kamu gak boleh pulang!” lanjutku sambil berkonsentrasi pada anak tangga.

Dia sengaja tidak merespon. Sikap yang ditunjukkannya benar-benar menjengkelkan. Jangankan berhenti, menoleh pun tidak, alih-alih merespon kalimatku.

“Hero!” aku menjangkau ke tengkuknya.

Tindakan nekatku mampu membuatnya berhenti, bahkan kali ini menoleh. Dia menatapku, sama persis seperti cara dia pernah menatapku di koridor perpustakaan. Tatapan tanpa ekspresi, tatapan yang tidak terbaca. “Mau bikin seragamku rusak lagi?” tanyanya dingin.

Ragu-ragu kulepaskan cengkeramanku pada kerah seragamnya lalu kugelengkan kepala. “Aku belum sempat minta maaf untuk apa yang terjadi waktu itu…”

Untuk sejenak dia hanya diam, mungkin memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyakitiku, atau membantai asaku. “Oh, percayalah, kamu memang tidak akan pernah sempat minta maaf untuk semuanya, untuk apapun!” Aku mengernyit, mencoba mencerna maksudnya. “Kenapa?” Dia menyeringai, dan aku sempat akan salah mengira seringainya sebagai senyuman kalau saja dia tidak kembali menampilkan ekspresi dingin setelahnya. “karena kamu memang orang yang mampu bertahan untuk tidak melakukan itu meski sebenarnya ada sebab yang lebih dari pantas bagimu untuk meminta maaf. Mau tahu apa itu?” kini aku faham sepenuhnya ke mana arah pembicaraan ini. “mengingkari ucapan sendiri.” Dia berbalik dan lanjut menuruni tangga.

Aku kembali mengejar. “Kamu tidak pernah memberiku kesempatan…”

“Memang tidak akan pernah,” jawabnya sambil terus bergerak, lebih cepat sekarang.

“Kenapa?!” teriakku.

Hero berhenti dan membalikkan badannya, kembali memandangku dengan tatapannya itu. “Hanya karena kamu memilihku pertama kali kemarin, bukan berarti lantas kita akan jadi sepasang sahabat paling karib dan akur sejagat raya.” Kalimatnya membuatku terhenyak. Aku membisu. “Tunggu! Jangan katakan kalau kamu memikirkan persis seperti yang kukatakan.” Aku kembali melihat seringai itu. Lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengejekku. “Menyedihkan sekali. Apa kamu benar-benar seputus asa itu berharap kita akan kembali jadi dua anak ingusan yang saling berbagi uang saku di kantin sekolah?” Dia mendengus. “Saranku, jangan memaksakan diri…”

Lalu dia pergi.

Di tangga, aku terpegun lama. Begitu lama sampai Maryam perlu menyusulku.

***

5 YEARS AGO…

Bocah yang baru saja mendapatkan seragam putih biru itu mulai menulis. Menulis apapun yang mampu diingatnya tentang anak laki-laki berpakaian adat DKI dalam bingkai di atas meja belajarnya. Menulis satu hingga dua lembar sehari di sela-sela pekerjaan rumahnya. Lalu ia akan membacanya dalam hati, dan tersenyum sendiri kadang-kadang. Ketika suatu hari ia mendapati tak ada lagi yang bisa ditulis―karena ia yakin telah menulis semuanya, ia pun berhenti menulis dan mulai membaca buku itu hampir tiap malam sebelum tidur hingga nyaris bisa menghapalkan isinya.

Di tempat berbeda di tahun yang sama, anak lainnya mulai berteman dengan anak-anak yang selama ini tidak pernah disukainya. Ia jadi sering ikut membully, hanya untuk mendapati dirinya terus mengingat. Ia melihat sosok yang sama pada korban-korbannya, merasa secara tak langsung dapat melampiaskan marahnya ketika berhasil menjarah uang saku mereka. Namun ketika ia dan teman-temannya berkerumun di meja kantin, jajan dengan uang palakan mereka, perasaan bahwa ia telah mengecewakan seseorang yang paling disayangi kerap timbul. Dan jika itu terjadi, ia akan menyisi diam-diam. Esoknya, siklus yang sama kembali terulang.

***

Aku melihatnya berkelahi. Untuk yang pertama kalinya. Dia dikeroyok lima orang sekaligus, berandalan sekolah lain, seragam mereka beda. Jika saja Mas Nawi mengemudi cepat, mustahil aku sempat memperhatikan keadaan gang kumuh yang diapit bangunan toko-toko tua terbengkalai itu, tapi laki-laki yang selama ini memboncengku pulang dan pergi sekolah itu memang tidak pernah mengebut kecuali saat pergi.

“Mas, berenti dulu! Berenti dulu…!!!” Kupukul punggung Mas Nawi berkali-kali. Laki-laki itu menggeragap dan menginjak rem.

“Ada apa sih, ngagetin aja!”

Tak menjawab, aku segera turun dari boncengan dan bergegas menuju mulut gang yang sudah terlewati beberapa meter.

“Hei, mau ke mana!” seru Mas Nawi. Dia mematikan mesin. Kapten tim basket itu pasti menyusulku, aku bisa mendengar derap sepatunya di belakangku. “Dek, Deka… hei!” tanganku berhasil disambarnya. “mau ke mana?”

“Hero dikeroyok, Mas.” Kutunjuk mulut gang yang sedetik tadi hampir berhasil kucapai kalau saja tanganku tidak ditangkap Mas Nawi. Laki-laki di depanku mengernyit. Mustahil dia tidak tahu Hero.

“Hero berandalan sekolah kita itu?”

Aku tidak suka predikat yang dia sebutkan untuk Hero. Tak menjawab, kusentakkan tanganku hingga lepas dan lanjut memburu ke gang. Aku tiba tepat di saat seseorang berhasil menonjok perut Hero di pertengahan gang sana. Kulihat dia tersungkur ke tanah sambil memegangi perutnya. Mereka mulai menendanginya.

Aku hendak berlari ke sana. Tapi pinggangku berhasil dibelit lengan Mas Nawi. “Dek, ini bukan urusan kita. Jangan ke sana! Bahaya!”

Ya Tuhan. Aku ingin berbalik dan menonjok Mas Nawi. Tidak menyangka solidaritasnya serendah itu. Aku memang berbalik, tapi tidak sampai hati menonjok muka cakepnya. “Mas kenapa sih? Itu siswa sekolah kita. Dia sedang dipukuli, bisa saja dia dihajar sampai mati, dan Mas seenaknya bilang itu bukan urusan kita?”

“Dek, di sana itu bahaya. Bagaimana kalau mereka bawa benda tajam semisal pisau, lalu kamu ditusuk, aku ditusuk, kita berdua ditusuk?”

Kalimatnya seakan mengisyaratkan tidak apa-apa jika Hero ditusuk pengeroyoknya asalkan kami tidak ikut campur dan selamat. Pura-pura tidak melihat. Aku merasa buang-buang waktu bicara dengan Mas Nawi. Sementara kami bicara, Hero bisa saja makin babak belur di sana. Kupandang laki-laki di depanku ini dengan tatapan tak percaya. “Mas pengecut!” desisku sebelum kembali berbalik dan mulai berlari.

“Hei, Hei, Hei…!” Dia kembali berhasil menahanku, kali ini pergelanganku yang berhasil ditangkapnya. “Oke, biar aku yang ke sana. Kamu tetap di sini, bahaya kalau kamu ke sana.” Mas Nawi menarikku, dia melepas tasnya dan mencantelnya di bahuku sebelum mendorongku ke belakang sementara dia bergerak maju dengan kegesitan seorang atlet.

Tentu saja aku tidak mematuhi perintahnya. Aku mengekor tepat di balik punggungnya.

“WOOOIII…!!! BERHENTI…!!!” teriakan Mas Nawi membahana di dinding-dinding toko tua di kiri kanan kami.

Dari balik punggung Mas Nawi, aku bisa melihat para pengeroyok Hero berhenti menendang dan memukul. Dari kondisi mereka, aku tahu kalau di pihak lain ternyata Hero juga sudah berhasil menghajar lawannya. Penampilan para pengeroyok itu sama berantakannya dengan Hero. Wajah yang lebam-lebam, seragam yang kotor dan koyak serta bibir yang berdarah.

Mereka tampak mencermati Mas Nawi dan aku. “Bagus. Temannya datang bantuin. Cuih…” Salah satu pengeroyok itu meludah ke tanah, liurnya bercampur darah.

Lirikan Hero bertabrakan dengan pandanganku, lalu lirikan itu berubah menjadi pandangan ‘tidak peduli’ yang membuat hatiku ciut.

“Sudah cukup. Kita tidak perlu berantem,” ujar Mas Nawi tenang. “Kalian boleh pergi,” lanjutnya lalu menunjuk sosok Hero yang masih terbaring di tanah. “biarkan dia jadi urusan kami dan gak ada masalah yang bakal timbul. Aku jamin.”

Mereka tertawa mendengar ucapan Mas Nawi. Aku sendiri heran mendapati Mas Nawi bisa bicara setenang itu dalam kondisi menegangkan seperti sekarang. Tadinya saat punya niat untuk ikut campur, aku sama sekali tidak memikirkan kemungkinan kalau kami akan terlibat perkelahian juga―yang dari segi jumlah sudah jelas kami kalah. Yang kupikirkan saat itu hanyalah muncul untuk menolong Hero. Kini saat sudah benar-benar ‘muncul’, di belakang punggung Mas Nawi aku jadi pias sendiri. Aku tak pernah berkelahi, aku juga tidak pernah tahu kalau Mas Nawi jago karate dan pernah berkelahi. Kurasa laki-laki yang berdiri sok gagah di depanku ini juga sama payahnya denganku. Habislah kami, mereka pasti bakal membuatku dan Mas Nawi babak-belur tak lama lagi.

Oh Tuhan, mengapa pengeroyok itu tidak kabur saja? Itulah tepatnya yang kupikirkan saat turun dari boncengan Mas Nawi, muncul dan membuat pengeroyok itu kabur dengan satu teriakan. Ternyata membuat mereka kabur tidak cukup dengan muncul dan berteriak saja.

“Lu sendirian, dengan anak kemarin sore di belakang lu itu, kalian bisa apa? Kenapa gua dan genk gua harus pergi?” orang yang tadi meludah merangsek maju mendekati Mas Nawi, teman-temannya mengikuti.

“Libas aja sekalian, Bro!” salah seorang dari mereka ikut bersuara. “Kayaknya anak orang kaya tuh,” lanjut salah seorang yang lain.

Mas Nawi mendorongku, menyuruh mundur. Sementara pengeroyoknya sedang fokus padaku dan Mas Nawi, Hero menggunakan kesempatan itu untuk berguling merapat ke dinding di kirinya, dia berusaha bangkit berdiri. Keadaannya benar-benar berantakan. Aku kasihan padanya.

Mas Nawi kembali mendorongku. “Mas…,” desisku nyaris gemetar.

“Aku bilang mundur, Dek. Ke ujung gang!”

Kulihat rahang laki-laki yang sudah kuanggap bagai kakak sendiri itu mengeras. Aku mundur. Tidak ke mulut gang, hanya beberapa langkah ke belakang.

Lalu aku dibuat tak percaya dengan apa yang kulihat. Tepat setelah aku mundur, Mas Nawi langsung memasang kuda-kuda. Sikapnya benar-benar persis sama seperti atlet taekwando profesional. Laki-laki ini berhasil mengejutkanku. Kukira dia hanya jago melakukan slam dunk, ternyata dia juga pandai melakukan tendangan dan jotosan. Well, laki-laki ini makin terlihat seksi saja. Tapi Hero yang bersandar di dinding dengan seragam berantakan jauh lebih seksi di mataku.

Perkelahian tak imbang itu terjadi di pertengahan antara aku dan Hero. Mas Nawi terlihat begitu percaya diri. Aku sempat tegang ketika salah seorang lawan berhasil menyarangkan tendangannya ke dada Mas Nawi hingga membuat laki-laki itu terhuyung ke belakang. Seragamnya langsung kotor di bagian dada dengan tapak sepatu tercetak begitu jelasnya. Tapi yang terjadi berikutnya membuatku melongo. Begitu berhasil memasang kuda-kuda baru, Mas Nawi langsung membuat penendangnya terkapar megap-megap di tanah, kurasa ada giginya yang tanggal atau patah atau setidaknya goyang. Mas Nawi menyarangkan sepatunya begitu telak di rahang orang.

Orang kedua yang berhasil kena hajar kini bergulingan di tanah sambil memegangi lengan. Dia beruntung lengannya tidak patah dimakan jotosan Mas Nawi.

Mendapati dua temannya berhasil dipecundangi, tiga pengeroyok tersisa jadi kalap. Mereka menyerang membabi buta. Maksudku, benar-benar buta hingga mereka tidak bisa melihat setiap kali jotosan demi jotosan Mas Nawi menyusup di sela-sela serangan babi buta mereka. Menghajar perut, mengenai pelipis, membentur rahang atau menumbuk kening mereka. Tak sampai tiga menit kemudian serangan mereka mulai kendur.

“MAS, AWAS…!!!” aku berteriak ngeri. Perkiraan Mas Nawi benar. Ada di antara mereka yang bawa pisau.

Pengeroyok yang pertama kali berhasil dijatuhkan Mas Nawi berlari memburu dengan cutter mengacung di tangan kanan. Kurasakan jantungku mencelos turun ke perut.

“TIDAK HARI INI, BANGSAT…!!!”

Aku tidak melihat kapan Hero meninggalkan dinding tempatnya bersandar kepayahan beberapa saat lalu. Tapi aku bersyukur dia bertindak di saat yang tepat. Cutter itu jatuh ke tanah sedang penggunanya kembali terkapar sambil meringis kesakitan. Hero baru saja memelintir lengan lawannya yang memegang pisau sebelum menghantamkan sikunya ke punggung orang, meski setelahnya dia sendiri juga terhuyung-huyung nyaris terjerembab.

Perkelahian antara Mas Nawi dan tiga pengeroyoknya terhenti dengan sendirinya saat Hero berteriak keras. Mereka berdiri dengan dada naik turun. Hero memandang pengeroyoknya satu persatu lalu membungkuk untuk memungut cutter. Dengan kedua tangan, dipatahkannya mata cutter karatan itu sebelum kembali dibanting ke tanah.

“Pengecut macam apa yang bawa-bawa pisau dalam perkelahian tangan kosong?” Hero meludah, liurnya juga berwarna merah. “Dasar banci!” Lalu bagai tak pernah terjadi perkelahian, bagai dia tak pernah menghajar dan dihajar, tenang saja dia mengeluarkan rokok dan pemantiknya. Sedetik kemudian dia sudah bersandar di dinding dan merokok dengan santainya. Tidakkah dia mencemaskan memar-memarnya?

Para pengeroyok memandang Hero dengan rahang terkatup, mereka juga memandang Mas Nawi dan aku bergantian. Jujur aku cemas. Bagaimana kalau mereka merencanakan balas dendam? Khususnya pada Mas Nawi. Membayangkannya saja membuatku mual hingga ingin muntah. Jika itu sampai terjadi, akulah yang patut disalahkan. Aku yang memaksa Mas Nawi membantu Hero. Sedang yang dibantu benar-benar tidak tahu diri. Kurasakan kemarahan dan kekecewaan mendesak dalam dadaku di saat bersamaan.

Hero menghembuskan asap dari mulutnya lalu berdecak. “Kita selesai, Pang. Lu gak bakal dapat apapun.” Asap rokok kembali membumbung, menerobos keluar dari hidung dan mulut Hero. “Lu harus ngajarin genk lu untuk gak pake senjata tajam kalau gak mau dibui.”

Aku tidak tahu siapa yang dipanggilnya sebagai Pang. Tidak paham apanya yang sudah selesai. Dan sama sekali buntu memikirkan hubungan antara ‘tidak dapat apapun dengan ‘selesai’ yang dimaksudkan Hero. Tapi aku paham tentang ‘ngajarin’ yang dikatakannya pada siapapun yang dipanggilnya Pang. Kalau tadi dia terlambat bertindak, Mas Nawi pasti sudah tertusuk cutter dan pelakunya akan diuber-uber polisi.

Kurasakan kelegaan ketika tiga pengeroyok yang keadaannya masih cukup baik bergerak untuk membantu dua teman mereka yang terkapar di tanah. Tanpa berkata-kata, kelimanya berjalan masuk lebih jauh ke dalam gang. Aku dan Mas Nawi memperhatikan hingga mereka lenyap di belokan.

Hero masih bersandar sambil merokok di tempatnya. Dia sama sekali belum bicara denganku dan Mas Nawi. Sikap berdirinya seolah-olah dia kini hanya sendirian di sini, tidak ada aku dan tidak ada Mas Nawi yang baru saja mengambil resiko untuk membantunya. Tidakkah dia bisa mengucapkan satu saja kata terima kasih? Atau dia tidak pernah tahu kalau peradaban mengenal kata itu?

“Apa sih yang kamu pikirkan, hah?!?” Aku tak bisa untuk terus meredam kejengkelanku―kemarahanku. Mas Nawi menolehku, dia siap bersuara ketika aku kembali berseru pada Hero yang masih bergeming. “Apa yang kamu dapatkan dari menjadi berandalan?!?”

Sekarang dia menatapku. “Apa pedulimu, hah?!?” Hero membuang rokoknya. “Pergi saja dan jalani hidupmu yang sempurna nan bahagia itu!” Dia menginjak bara di ujung rokok.

Gigiku bergemelutukan. Kelopak mataku memanas. Kurasakan tangan Mas Nawi mencengkeram bahuku. “Pulang, Dek!” Ada ketegasan dalam suaranya kali ini, nyaris seperti memerintah. Aku menoleh pada Mas Nawi dan laki-laki itu mengangguk padaku. “Ayo, kita pulang. Temanmu ternyata cukup sehat untuk menjaga diri sendiri sekarang.” Tak peduli aku bersedia pergi atau tidak, Mas Nawi langsung merangkul bahuku, membalikkan badanku dan setengah menyeretku berjalan meninggalkan tempat perkelahiannya. Empat langkah kemudian, dia berhenti dan menoleh pada sosok Hero. “Omong-omong, Jagoan, terima kasih…”

Kuharap kata-kata Mas Nawi benar-benar menampar ego Hero. Tentu saja, jika dia cukup paham bahwa Mas Nawi bukan sedang melontarkan pujian.

***

4 YEARS AGO…

Ia sudah kebal. Sudah hapal gelagat dan sudah jemu melakukan sedikit perlawanan. Jadi, ia memutuskan untuk merubah metode. Tidak lagi menunggu didorong hingga terpojok ke dinding, tidak lagi menunggu dibentak yang kadang-kadang membuat liur si pembentak terpercik ke seragam atau ke mukanya, atau yang lebih parah―dipukuli hingga memar atau dikunci di toilet sekolah yang kotor dan menjijikkan. Ia akan membuat sedikit revolusi, revolusi seperti langsung menyerahkan uang sakunya begitu dihadang berandalan di sekolahan. Langsung menyerahkannya begitu saja dan berlalu pergi setelahnya. Revolusi kecil itu memang menyelamatkannya dari diperlakukan kasar. Namun setiap tiba jam istirahat, ia menemukan dirinya merindukan seseorang, seseorang yang akan datang secara mendadak dan mengajaknya ke kantin sekolah, berbagi uang saku dengannya.

Di tempat berbeda, seorang anak justru baru saja berhasil merampas habis uang jajan adik kelasnya. Mengancam juniornya yang hari itu mendapat jatah ‘sial’ dan berlalu pergi setelah yakin kalau sang junior sudah sangat terintimidasi olehnya untuk tak berani mengadu. Jika diawal-awal ia hanya ikut-ikutan, kini seiring waktu dan seiring kemarahannya yang terus membesar, ia melakukannya atas inisiatif sendiri. Merasa bangga kepada dirinya sendiri ketika berhasil melakukannya seorang diri. Dan rasa puas aneh yang ia dapatkan ketika melihat korbannya tak berdaya di bawah intimidasinya sedikit banyak ternyata mengobati marahnya pada seseorang di masa lalu. Itu sudah cukup sebagai alasan ia mau melakukannya esok dan esoknya lagi.

***

Meski hatiku sedang kesal pada sikap Hero atas kejadian di gang itu, namun tidak melihat sosoknya selama dua hari di kelas ternyata sungguh membuatku bertanya-tanya. Tak ada keterangan apapun. Semua guru yang mengajar di kelasku selama dua hari ini membubuhkan tanda alpa untuk Hero di absen mereka.

Aku mencemaskannya. Oh Tuhan, bagaimana bisa aku tidak mencemaskan berandal itu? Aku terbiasa melewati hari Senin hingga Sabtu dengan mengamati dia di kursinya. Dan saat dia tak terlihat, tentu saja aku gelisah.

Apakah dia sakit karena perkelahian kemarin hingga tak bisa bersekolah? Jika iya, mengapa keluarganya tidak memberi kabar ke wali kelas kami? Aku masih ingat bagaimana keadaannya setelah dikeroyok di gang itu, benar-benar berantakan dan babak-belur. Kupikir, dia sengaja bolos hingga lebam dan memarnya hilang. Tapi bagaimana kalau ternyata dia sedang sakit? Sekarat hingga harus dirawat di rumah sakit?

Kuperhatikan bangku kosong tempat duduk Hero sekilas lalu kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kelas, mencari-cari siapapun yang pantas kusebut sebagai temannya, yang akrab dengannya, yang peduli padanya. Aku sama sekali tak kaget ketika tidak menemukan satu orang pun yang pantas kusebut temannya. Tidak heran, Hero nyaris tak pernah terlihat bersosialisasi dengan teman-teman sekelasnya. Dia seakan tinggal di dimensi yang berbeda, seakan ada dinding tak kasat mata yang memisahkan dunianya dari duniaku dan orang-orang di kelas ini.

Apa dia baik-baik saja?

Aku mengacungkan tangan dan Pak Amir memberiku permisi untuk ke toilet.

Nyatanya aku tidak ke toilet. Tapi menemui Bu Asmaul Husna, wali kelasku. Padanya, aku berterus terang tentang kejadian di gang setelah mendapatkan janjinya untuk merahasiakan ceritaku terhadap siapapun. Oh, ya, tentu saja wali kelasku itu kaget. Tapi seperti yang kuduga, Bu Husna adalah wali kelas paling keibuan yang pernah kupunya―alasan mengapa aku mau bercerita jujur padanya. Darinya, kudapatkan alamat Hero setelah kukatakan kalau aku akan menjenguknya sepulang sekolah.

Apa aku sanggup menunggu bel pulang? Tentu saja tidak. Aku mantap membolos begitu bel istirahat berbunyi. Ketika semua temanku berhamburan menuju kantin, aku justru membuntal tasku dan mengendap-endap menuju pagar belakang sekolah. Aku berhasil memanjat pagar tanpa kendala berarti, namun saat hendak melompat untuk menapak ke seberang, tali sepatuku tersangkut kawat. Pendaratanku tidak semulus yang kurencanakan. Aku jatuh bergedebukan di tanah berumput, nyaris terguling ke parit kering namun dalam di depanku. Aku bangkit duduk dan saat itulah kusadari kalau kaki kiriku terasa perih dan sakit.

Kuangkat celana abu-abuku yang robek kecil di bagian bawah. Sial. Kakiku tergores, tepat di tulang keringku. Penuh dendam kesumat, kuperhatikan kawat duri yang dililitkan seperti kumparan di sepanjang pagar sekolah. Kukutuk kawat itu habis-habisan dalam hati. Aku pasti kualat karena membohongi Bu Husna, aku tidak menunggu jam pulang seperti yang kukatakan padanya. Kuperiksa lukaku, goresan sepanjang sepuluh senti sedikit di atas pergelangan kakiku tidak terlihat parah. Berdarah, tapi goresannya tidak menganga. Aku hanya perlu membeli satu atau dua plester luka. Sambil menahan perih aku bergegas menjauh dari area sekolah, mampir sebentar di kios kecil untuk membeli plester luka dan menempelkannya pada kakiku sebelum mencari becak.

Sejak mendapatkan alamat Hero dari Bu Husna, aku sudah menduga kalau bakal susah menemukan rumahnya. Hero tidak tinggal di komplek perumahan di mana kita dengan mudah bisa menemukan lorong dan nomor rumah yang hendak dituju. Dia tinggal di sebuah kelurahan yang bahkan namanya saja tidak pernah kudengar. Untungnya supir becak tahu kelurahan dan dusun yang kusebutkan.

“Rumahnya yang mana, Nak?” sang supir melambatkan becaknya begitu bertemu lorong bercabang tiga. Dusun ini terlihat begitu tidak asri, begitu tidak terurus, nyaris seperti pemukiman kaum urban.

Aku melongokkan kepalaku keluar kanopi becak, memperhatikan keadaan. “Ini beneran dusunnya kan, Pak?” tanyaku sangsi. Si supir mengangguk yakin. “Gak apa deh, Pak, saya turun di sini saja.”

Aku keluar dari becak setelah membayar ongkos. Setelah supir dan becaknya pergi, kuperhatikan keadaan di sekitarku. Menimbang-nimbang lorong mana yang harus kupilih. Di saat sedang bimbang sedemikian rupa, segerombolan murid SD dengan seragam dekil dan kusam berlarian keluar dari salah satu lorong. Kulirik jam tanganku, jam sebelas tiga puluh lima. Sepertinya mereka murid kelas satu, atau dua, atau kelas tiga.

Yakin kalau murid-murid SD itu adalah anak-anak setempat, kucegat mereka sebelum melesat lari lebih jauh. Yang kucegat hanya satu anak, namun semua teman si anak ikut berhenti lari, mereka berkerumun di sekitarku. Bau matahari menguar dari mereka, membuat penciumanku sejenak menegang.

“Ya, Bang, ada apa?”

Jarang-jarang aku dipanggil ‘Bang’. Mendengar ada anak yang kini memanggilku seperti itu, membuatku serasa jadi preman saja. Aku tersenyum pada si anak. Kubungkukkan badanku hingga kepala kami sejajar sambil berusaha untuk tidak mengambil napas terlalu banyak. “Adik, tau yang mana rumahnya Kak Romeo El Rumi?”

Semua mereka mengernyit. Terlihat berpikir sejenak lalu serempak menggelengkan kepala.

“Gak tau?” tanyaku memastikan. Mereka kembali menggeleng. Aku menghembuskan napas lelah, kuseka keringat di puncak hidungku ke seragamku dan menyadari sesuatu. “Itu loh, Kak El Rumi yang sekolah di SMA juga, SMA ini…” Kutunjukkan simbol sekolah yang tercetak di bahuku pada mereka. “Baju sekolahnya sama kayak baju sekolah yang Kakak pakai ini.” Aku masih canggung membahasakan diriku dengan ‘Bang’.

Sekali lagi, bocah-bocah itu menggeleng. Mata bundar mereka berkedip-kedip memperhatikanku.

Aku putus asa. Kembali kutegakkan posisiku dan kupijit keningku. Sedetik kemudian aku sadar kalau telah menanyakan nama yang salah pada anak-anak di sekitarku. “Nah, kalau rumah Kak Hero, kalian tahu?” tanyaku sambil kembali membungkuk.

“Oh, Bang Hero…” Salah seorang anak bersuara. “Kalau Bang Hero saya tau, Bang. Rumahnya di sana.” Belum sempat aku mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk, si anak sudah menyambar tanganku dan ditariknya. “Ayo saya antar!”

Kerumunan itu membubarkan diri. Kecuali si anak yang masih memegang tanganku, mereka semua kembali berlarian menuju rumah masing-masing.

Kami berhenti di sebuah rumah semi permanen setelah berjalan masuk ke salah satu lorong sejauh puluhan meter. Rumah itu kecil, tidak lebih bagus dari rumah-rumah di sekitarnya. Halamannya penuh dengan bougenville beragam warna, bunga-bunga itulah yang membuat rumah semi permanen tersebut terlihat lebih asri dari rumah di kiri kanannya. Aku sempat sangsi kalau ini beneran rumah yang hendak kutuju. Dulu, Hero tinggal di rumah yang jauh lebih bagus dari rumah di depanku sekarang. Saat melihat motor yang kukenal terparkir di bawah satu-satunya pohon selain perdu besar bougenville di halaman sempit itu, sangsiku hilang. Ini sungguhan tempat tinggal Hero.

“Itu rumahnya, Bang.” Anak di sebelahku menunjuk, dia melepaskan pegangannya dan hendak berbalik pergi, tanpa salam perpisahan.

“Hei, tunggu!” seruku. Dia kembali mematung. Kurogoh dompetku dan kuangsurkan selembar uang lima ribuan padanya. “Buat Adik. Makasih udah ngantar Kakak ke sini.” Sejenak si anak terlihat ragu. Dia baru mengambil setelah kuangsurkan tanganku lebih ke depannya. “Jangan dibuat beli rokok, ya!” kataku dengan mimik serius.

Si anak mengangguk. “Makasih, Bang!” lalu dia berbalik pergi. Tas sekolahnya bergambar superhero Avengers, resletingnya sudah setengah rusak.

Kutarik napas panjang dan kuhembuskan perlahan. Aku melewati motor tua yang terparkir di bawah satu-satunya pohon mangga di pekarangan, melewati rumpun bougenville, dan mendekati pintu dengan langkah canggung.

Bagaimana kalau dia menolak kehadiranku dengan cara paling kasar yang bisa kubayangkan?

Rumahnya begitu senyap. Kuketuk pintu sebanyak tiga kali. Aku tak memberi salam, takut jika ternyata Hero kenal suaraku dan memilih untuk tak mau membuka pintu―meski pemikiran itu terdengar cukup muluk, mengenal suaraku, hah? yang benar saja.

Aku memasang kuping. Berusaha menangkap suara yang berasal dari dalam rumah. Tak ada sebarang suara yang terdengar. Kembali kuketuk pintu, sedikit lebih keras dari sebelumnya.

Belum sempat kuturunkan tanganku, pintu itu terkuak. Aku sedikit menggeragap. Sosok Hero muncul di ambang pintu. Sepertiku, juga sempat kutemukan ekspresi kaget di wajahnya sebelum matanya yang tajam memandangku penuh selidik.

Assalamu’alaikum…,” sapaku ragu-ragu sambil kuturunkan tanganku.

“Apa yang kamu lakukan di sini?!” tanyanya datar mengabaikan salamku. “Bagaimana kamu bisa sampai di sini? Bukankah sudah pernah kukatakan untuk berhenti mengikutiku?”

“Aku tidak menguntitmu.”

“Pembohong!”

“Aku tidak menguntitmu.”

“Bohong adalah keahlianmu sejak dulu.”

“Aku tidak menguntitmu,” ulangku lebih tegas.

Dia terdiam. Masih memandangku tajam.

Kuberanikan diriku untuk balas memperhatikannya. Seperti yang kuduga, bekas hajaran di wajahnya belum hilang. Aku bisa melihat dengan jelas lebam kebiruan di sudut bibirnya, di pelipisnya, di dekat matanya.

Kudengar Hero berdecak. “Pergilah. Aku tidak mengharapkanmu di sini…”

Dia siap menutup pintu, refleks kutahan pinggiran kayu persegi itu dengan tanganku. “Jangan tolak aku, Rom… kumohon. Jangan tolak aku kali ini.” Tapi dia semakin menekan daun pintu dari sisi bersebelahan. Dia lebih kuat dariku, selalu lebih kuat sejak dulu. Ketika kurasakan tanganku kalah dan pintu itu siap tertutup dan kuyakin tak akan terbuka lagi, nekat kuangsurkan kaki kiriku, melintang sedemikian rupa di bingkai pintu. “Aarrgghh…!!!” aku berteriak kesakitan. Benar-benar kesakitan. Tulang keringku bagaikan remuk.

“Sialan, Deka…!!! Apa kamu sudah gila, hah?!?”

Kini pintu itu terpentang sepenuhnya.

Aku terpegun mendengar namaku disebutnya, sementara Hero sontak menopangku yang sesaat tadi nyaris ambruk karena tak bisa berdiri tegak setelah kakiku terjepit pintu. Sepertinya cowok berandalan ini diserang kepanikan, kepanikan yang membuat sirna segala arogansinya, segala kekasarannya, segala kesinisan dan kemarahannya. Panik itu, dipicu oleh teriakan kesakitanku. Teriakan kesakitanku.

“Apa yang kamu pikirkan? Dasar dungu! Bagaimana kalau kakimu patah, hah? Dasar tolol!” Kata-kata terus berlesatan dari mulut Hero. Meski kebanyakan kata-katanya berujung umpatan, fakta bahwa dia sangat terlihat mengkhawatirkanku benar-benar membuatku tak merasakan sakit apapun lagi.

“Apa harus menunggu hingga aku kesakitan dulu baru kamu mau melihatku, Rom…” Aku berbisik lirih.

Hero bergeming. Dia berhenti dari memapahku ke kursi kayu di ruang depan rumahnya dan perlahan menjarakkan dirinya dariku. Dia melengos menghindari pandanganku ke wajahnya. Sedetik kemudian dia sudah menunduk menatap lantai.

“Andai aku tahu kamu hanya akan melihatku jika aku kesakitan dan celaka, mungkin sudah sejak menemukanmu di SMA aku akan menabrakkan diriku ke bus tepat di depanmu…”

Dia tetap terdiam.

“Mengapa maafmu untukku terlalu mahal, Rom? Mengapa…?” Tak memperoleh jawabannya, aku bergerak terpincang-pincang mendekati set kursi kayu, mendudukkan diriku di salah satu kursi meski belum dipersilahkan duduk.

Hero tetap bergeming di tempatnya berdiri, tetap menunduk sambil sesekali menggesekkan punggung tangannya ke hidung. Sangat jelas terlihat kalau dia sedang bingung untuk bersikap.

“Aku masih Deka yang dulu, Rom… sejahat apapun sekarang kamu menganggapku, aku tetap Deka. Temanmu yang penakut…”

Dia mengibaskan tangannya, berlagak tak peduli seperti selama ini. “Pulanglah―”

“Kakiku sakit, Sialan! Kamu baru saja menjepitnya di pintu. Aku gak bisa pulang tanpa harus terpincang-pincang atau bergulingan di jalan!” Nadaku meninggi. Apa aku baru saja menyerukan kata ‘sialan’?

Hero menatapku. Kemana tatapan tajamnya selama ini? Ragu-ragu, dia berjongkok di depanku, dan mulai menggulung ujung celana abu-abuku. Dia berhenti menggulung ketika menemukan plester lukaku di sana. Plester itu sedikit terbuka, pasti gara-gara insiden di ambang pintu sesaat tadi.

“Bukan itu bekas jepitannya.” Aku berdeham. “Itu kegores kawat duri pas manjat pagar belakang sekolah buat bolos kemari,” jelasku sebelum Hero bertanya. Aku seperti mendengar tawa kecil di rongga gigi. Kuintip muka Hero yang masih menunduk, aku bisa melihat ekspresi gelinya. “Yah, tertawakan saja aku.”

“Bolos pertama kali, hah?” dia mendongak sekilas sebelum kembali menggulung celanaku.

“Kukira kamu gak peduli,” balasku sinis.

Hero mendiamkan diri. Aku meringis ketika jemarinya mengusap kakiku yang sakit. Ketika dia memindahkan tangannya, kutemukan gurat merah di atas luka goresku. Ada darah beku di bawah kulitku. Hasil hantaman daun pintu.

“Mungkin kamu harus ke Puskesmas―”

“Oh, kukira kamu gak peduli,” ulangku memotong kalimatnya.

“Berhenti memojokkanku!”

“Oh, sekarang kamu merasa terpojok, Bangsat? Bagaimana rasanya terpojok, menyenangkan, hah?” Tadi sialan, sekarang bangsat. Bagus sekali. Oh, ayolah… aku sedang berimprovisasi di sini.

Hero berdecak. “Tunggu di sini, jangan kemana-mana!”

“Siapa yang memerintah?”

“Bangsat! Tunggu di sini kalau gak mau kuhajar!” lalu dia melesat keluar sebelum sempat aku meningkahi.

Aku tersenyum sendiri setelah Hero pergi. Merasa geli dengan perubahan sikapnya yang begitu drastis terhadapku sesaat tadi. Tak sampai tiga menit, dia kembali dengan es batu dan segulung perban serta plester luka baru di tangan. Sepertinya dia baru saja mengutang di kios terdekat.

“Aku punya antiseptik di kamar.” Dan dia melesat ke kamarnya yang pintunya terlihat jelas dari tempatku duduk. Keluar lagi beberapa detik kemudian, dia lanjut melesat lebih jauh ke dalam rumah. Hero kembali ke ruang depan dengan sebuah baskom kecil di tangan.

Kembali berjongkok di depanku, hal pertama yang dilakukannya adalah membuka plester yang sudah berdarah di luka goresku. Selanjutnya dia memotong perban, mencelupkannya dalam bongkahan es di dalam baskom sebelum dipakai membersihkan luka itu. Kami sama-sama diam selama dia bekerja. Jika dia fokus ke lukaku, maka aku fokus memandang sosoknya. Kagum dengan gerakannya yang cekatan seperti anak pramuka, suka setiap kali lengannya yang besar itu melakukan gerakan, terbius memperhatikan otot-otot di lengannya berekstensi dan berileksasi bergantian.

Aku ingin waktu berhenti bergerak.

“Ada darah beku di sini.” Dia mendongak menatapku. “Kalau kulitnya kugores biar darahnya keluar, apa kamu sanggup tahan?”

Aku ingin menggeleng, jika kulakukan, dia pasti akan mengataiku penakut. Ah, aku ingin dia mengatakannya. Jadi, kugelengkan kepalaku.

“Dasar penakut!” katanya dan kembali fokus pada kakiku.

Aku tersenyum sendiri.

“Mungkin kakimu akan sedikit bengkak nantinya.”

“Apa itu buruk?”

“Tidak juga,” jawabnya sambil mengompreskan es batu. “Kupikir, luka goresmu dibiarkan aja begitu, jangan ditutup plester. Oleskan antiseptik aja sering-sering di rumah, goresannya gak dalam kok.”

“Apa setelah tamat SMA nanti kamu mau kuliah kedokteran?”

Hero tak menjawab. Dia memindahkan es batu dari kakiku dan mulai mengoleskan antiseptik lagi. “Kamu mau kakimu kuperban atau dibiarkan saja begitu?”

“Katamu dibiarkan saja, kan?”

“Bukan luka goresnya. Tapi ini…”

Aku yakin dia sengaja menekan gurat merah kebiru-biruan di atas luka goresku. Aku meringis kesakitan sementara dia menyeringai. “Perban saja,” kataku akhirnya.

“Yah, kupikir juga sebaiknya diperban untuk sementara waktu.” Lalu Hero mulai melilitkan perban di betisku, membuat simpul yang cantik tepat di atas lebam dan membereskan peralatannya. “Kamu ingin perbannya tetap kelihatan seperti ini biar terkesan macho?”

Aku mengernyit, mencoba memahami maksudnya. “Turunkan celanaku…”

“He?”

Kurasakan panas menjalar di leherku ketika Hero menatapku. “Maksudku, turunkan gulungan celanaku, aku gak mau perban itu kelihatan.”

“Oh. Oke.” Dia melakukan yang kupinta.

Hero bangun dan duduk di kursi di depanku begitu selesai menurunkan gulungan celanaku. “Maaf, aku lupa buka sepatu.”

“Ah, ini hanya lantai semen. Bukan ubin licin mentereng kayak di rumahmu. Pakai saja sepatu sebebasnya di dalam sini, tak perlu sungkan.”

Apa kalimatnya itu benar-benar harafiah, tidak mengandung konotasi apapun? “Hari pertama tiba di sini, aku ke rumahmu yang lama…” Kulihat Hero mengeraskan rahangnya, pandangannya menghala ke jendela kaca nako di sisi kanannya. “Saat mendapati kalau wanita yang membukakan pintu untukku bukan mamamu, aku merasa buntu dan―”

“Aku pindah ke sini saat masih SMP…”

Kudapati riak wajahnya berubah. Ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku. Hero bangun dari kursinya, memungut baskom dan peralatan P3K-nya dari lantai lalu melenyapkan diri ke dapur. Saat kembali dari sana, dia langsung masuk ke kamar. Aku sempat mengira kalau dia tak akan memunculkan diri lagi. Tapi keraguanku lenyap begitu dia keluar dari kamar tak sampai tiga menit kemudian, sudah mengganti celana pendeknya dengan jins robek-robek dan mengenakan jaket yang biasa kulihat dipakainya saat ke sekolah.

“Ayo. Kuantar kamu pulang.”

“Rom,” panggilku. Dia berhenti berjalan dan berbalik menghadapku. “Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?”

Hero mengibaskan tangannya. “Gak ada.” Aku tau dia bohong. “Ayo!” ajaknya lagi, namun aku tetap bergeming di kursiku. “Dek, ayo, kuantar kamu pulang.”

“Saat melihatmu di mall, aku tak pernah berpikir kalau…” Aku tak bisa meneruskan kalimatku.

“Kalau aku semiskin ini?”

Aku menggeleng. “Bukan. Sungguh, bukan itu yang ingin kukatakan. Aku…” Kucari kata-kata yang tepat. Aku sampai harus kesulitan menelan liurku. “Saat menemukanmu di mall hari itu, kukira keadaan keluargamu tidak banyak berubah…”

“Ayo. Kuantar kamu pulang.”

“Rom, bisakah kita duduk di sini saja beberapa saat lagi?”

Hero menatapku sejenak sebelum mendesah dan kembali duduk di kursinya. “Jika itu maumu.”

“Aku gak ingat nomor telepon rumahmu. Sumpah. Aku sudah berusaha mengingatnya, aku mencoba banyak nomor yang terlintas di kepalaku, berhari-hari. Sumpah.”

“Itu gak penting lagi.”

“Gak. Itu penting. Kamu pernah menganggapku mengingkari kata-kataku. Jadi ini penting. Aku gak pernah lupa, Rom. Demi Tuhan aku gak pernah lupa…”

“Deka, hei…” Hero mencondongkan wajahnya yang memar ke arahku. “itu gak penting lagi. Oke?!”

Aku terdiam sesaat sebelum kembali bersuara. “Waktu itu, aku gak tahu kalau aku bisa menulis surat ke sekolah. Demi segala demi lagi, Rom… ide menulis surat untukmu menggunakan alamat sekolah kita sama sekali tidak terlintas di kepalaku…”

Hero meningkahi kalimatku dengan desahan.

“Saat itu aku terlalu sibuk menerka-nerka nomor telepon. Percayalah. Harusnya aku ingat tentang surat-menyurat, alamat sekolah kita bukan sesuatu yang sulit diingat.”

“Ya ampun, Dek. Berhentilah.” Hero merogoh sakunya gusar. Selanjutnya, ia mulai merokok. Kupikir, akan kubiarkan saja dia bersama rokoknya, meski asap yang keluar dari benda itu sangat menggangguku.

“Mama lupa mengepak buku telepon saat kami pindah,” lanjutku dan Hero mengerang di tempat duduknya. “Aku marah besar padanya saat itu.”

“Baiklah. Aku menyerah.” Hero mengangkat kedua tangannya sekilas. “Silakan terus nyerocos.” Dia kembali menikmati rokoknya.

“Papa mengeluh tentang tagihan telepon yang selalu tinggi tiap bulan. Tak terhitung panggilan salah sambung yang telah kulakukan saat itu.”

“Hebat.”

“Aku hanya ingin panggilanku tersambung ke rumahmu, sekali saja.”

“Dan?”

“Nomornya tak pernah benar.”

Hero menatapku dan menggeleng-gelengkan kepalanya, terlihat bosan. “Ayo. Kuantar kamu pulang,” ajaknya kembali.

Aku masih belum ingin pulang, masih ingin bicara dengannya. Tapi tiba-tiba hapeku berdering. Hero mendiamkan diri. Kurogoh sakuku dan kutemukan nama Mas Nawi di layar hape.

“Iya, Mas?”

“Abraham Dekalvin, kamu di mana? Aku sudah nunggu hampir setengah jam di parkiran enggak muncul juga.”

“Mas pulang duluan aja deh hari ini. Aku masih ada tugas,” bohongku. Di sampingku, Hero kembali menyalakan rokok keduanya.

“Ya udah, kamu di kelas, kan? Aku ke situ aja nunggu kamu.”

“Mas, gak usah. Beneran deh, Mas Pulang duluan aja!”

“Gak, Dek. Kamu kan sering nunggu kalau giliran aku yang ada ekskul, aku gak mau egois dengan pulang duluan saat kamu ada tugas.”

Huh. Laki-laki ini beneran keras kepala. “Aku gak di kelas, tauk!”

“He?”

Kubayangkan ekspresi melongo Mas Nawi. Dia pasti sedang duduk di atas motornya saat ini, mungkin sambil menggaruk-garuk kepalanya tak mengerti. “Iya, aku gak di kelas.”

“Kok bisa? Kapan kamu perginya? Bel pulang baru aja bunyi, kan?”

Apanya yang sudah menunggu setengah jam kalau bel pulang baru saja bunyi? Dasar penipu. Kupikir, aku akan jujur saja padanya. “Aku bolos.”

Tak ada respon.

Aku khawatir laki-laki itu terkena serangan jantung. “Aku bolos pas jam istirahat.”

“Jangan bilang kamu mendatangi si Hero itu!” Oh, ternyata dia hanya hypertensi.

Kulirik Hero di sebelahku. Aku tidak yakin dia tak bisa mendengar percakapan sayup Mas Nawi lewat corong hape. “Dia temenku, Mas. aku harus jenguk dia.”

“Untuk jenguk berandalan gak tau terima kasih itu kamu sampai membolos? Apa yang terjadi dengan kewarasanmu?”

“Aku gak butuh permisi Mas untuk apapun yang mau kulakukan!” Aku juga mulai naik darah.

“Kapan aku bilang kamu butuh permisi dariku?” Laki-laki di ujung telepon balas membentak.

Aku diam.

Mas Nawi juga terdiam di ujung sana. Lalu kudengar dia mendesah. “Maaf,” ujarnya.

“Gak apa-apa. Deka juga minta maaf…”

“Rumahnya di mana, biar aku jemput ke sana.”

“Ini Hero mau nganterin.”

Hero membuang rokoknya ke asbak. “Kalau dia mau jemput ya lebih bagus. Suruh aja dia kemari. Lagian, motorku jelek begitu.”

Aku ingin merespon kalimat Hero, mengatakan kalau motor tua keren di luar sana tidak jelek sama sekali. Tapi Mas Nawi sudah kembali bersuara.

“Dek, aku udah siap mau jalan nih. Di mana rumahnya?”

Dapat kudengar derum motor Mas Nawi yang baru saja distarter. Aku mendecak kesal. Kututup telepon begitu saja dan kumatikan hapeku setelahnya.

“Ayo, antar aku pulang,” kataku pada Hero.

“Kupikir supirmu bakal datang menjemput.”

“Jangan banyak omong!”

Hero menggidikkan bahu dan bangun dari kursi. Dia berjalan ke pintu. Di belakangnya aku mengikuti dengan langkah sedikit pincang.

Sudah begitu lama kuidamkan diriku duduk di boncengan motor tuanya. Aku senang hari ini kesampaian. Tanpa diminta, langsung kupeluk pinggangnya setelah dia menendang tuas engkol. Suara motornya terdengar ribut, asap tipis keluar dari mulut knalpot. Hanya sebentar, karena beberapa detik kemudian suara motornya jadi lebih lembut dan asap tipis habis.

Hero melajukan motornya di jalanan, jauh dari kata mengebut. Di belakangnya aku duduk dengan dada berdebar. Aku sering di bonceng Mas Nawi, tapi berada di boncengan Hero terasa begitu jauh berbeda. Yah, berada dalam jarak dekat dengan sosok yang kita sukai memang memberikan efek yang tidak biasa.

“Aku gak tau di mana rumahmu sekarang.”

“Aku masih ingat jalan ke rumahku. Tugasmu hanya mengemudi saja.”

“Baiklah.”

Kecepatan motornya berubah secara signifikan. Membuatku kian erat memeluknya.

Dua puluh menit kemudian, setelah suaraku serak gara-gara harus bersaing dengan suara motornya untuk menyuruhnya belok kiri belok kanan, Hero menghentikan motornya di depan gerbang rumahku. Cukup lama dia memperhatikan rumahku yang sekarang.

“Ayo masuk. Mama pasti senang ketemu kamu,” ajakku setelah turun dari motornya. Tapi dia bergeming. “Ayo masuklah, kurasa Mama masak enak hari ini,” ajakku lagi.

Terbayang olehku dulu kami sering makan siang di rumah satu sama lain. Jika bukan aku yang bersepeda ke rumahnya siang-siang sepulang sekolah, maka dialah yang akan mengayuh sepedanya ke rumahku.

Sekilas kulihat Hero seperti menerawang, lalu dia menggeleng. “Kenapa?” tanyaku.

“Mamamu pasti akan ngira kamu bawa preman ke rumah.”

Aku paham yang dia maksudkan adalah wajahnya yang bekas dipukuli itu. Tapi kalau boleh berkata jujur, dengan wajah berbekas hajaran sedemikian rupa, aura maskulin dari sosoknya terasa lebih kuat.

“Aku pulang, Dek.”

Tanpa menungguku bersuara, dia sudah melesat pergi. Setelah motor Hero hilang dari pandangan, kubuka pintu gerbang dan kulintasi halamanku yang luas menuju beranda. Saat sudah di teras, hal yang pertama kupikirkan adalah meminta maaf pada Mas Nawi. Meski aku tahu laki-laki itu terlalu baik untuk tak akan menjemputku lagi esok pagi saat pergi sekolah, aku tetap perlu minta maaf padanya dan meredakan ketegangan antara kami yang sempat terjadi di telepon lebih kurang setengah jam lalu.

Kupikir, aku akan ke rumahnya sore nanti dan menanyakan adakah catatannya yang belum disalin?

***

3 YEARS AGO…

Di kamarnya, ia merasa perlu membuka buku catatannya. Firasatnya terasa lain hari itu. Ingatannya tidak pernah sekuat itu. Ketika ia mulai membaca setelah cukup lama tidak membuka bukunya, ia menyadari banyak hal yang belum dituliskannya, hal-hal menyangkut perasaannya. Ia perlu menuliskannya juga. Maka ia mulai menulisi lembar baru, menambah catatan baru, mencita-citakan hari depan, mereka-reka hari di mana mereka akan bertemu kembali, menjabarkan harapannya di setiap baris. Kian hari, aktivitas itu kian terasa mengasyikkan. Ia seakan bisa bercengkerama langsung dengan seseorang di masa lalu itu.

Di tempat berbeda, remaja lain baru saja mendapati jika dunianya sedang bergolak. Ada awan mahapekat sedang tindih-menindih di atas bumbung rumahnya membentuk gumpalan tebal mustahil terberai. Ada masalah mahapelik sedang jalin-menjalin membentuk simpul rumit mustahil terurai. Orang-orang berseragam itu menggelandang papanya. Bunyi sirine membuatnya takut. Ia hanya meringkuk di balik jendela melihat papanya dibawa pergi. Masih meringkuk ketika para tetangga membopong sosok mamanya yang tak sadarkan diri dari teras rumah. Ia berharap dirinya sedang tertidur, lalu bangun dan mendapati kalau ia baru saja bermimpi. Ia butuh teman, teman yang memahami perasaannya tanpa ia harus cerita. Teman yang akan berbagi bebannya, yang akan menangis bersamanya saat melihatnya menangis. Menangis begitu saja tanpa harus tahu apa sebabnya. Tapi sudah begitu lama sejak ia kehilangan seseorang seperti itu.

***

“El Rumi gak hadir karena sakit, Pak.”

Semua pandangan tertuju padaku ketika Pak Al memangggil nama absen Hero hari ini. Aku tau apa yang mereka pikirkan. Tentu tak jauh-jauh dari ‘sejak kapan Deka dan Hero akrab?’.

“Oh. Kalian sudah menjenguknya?” tanya Pak Al.

Aku mengedarkan pandanganku ke seantero kelas. Tak ada yang menjawab. “Kami tidak cukup akrab dengan El Rumi untuk berbondong-bondong menjenguknya, Pak,” jawabku.

Pak Al tertegun di kursinya. Di sampingku, Khiar berbisik. “Kamu baru saja membuat kelas kita malu, Dek!”

“Kenapa kini kamu peduli? Karena kamu ketua kelasnya?” Khiar tak menjawab. “Yang kukatakan benar, kan? Selama ini kita menjauhkan diri dari Hero, padahal kita teman sekelasnya―”

“Kita semua tau siapa Hero,” potong Khiar.

“Bahwa dia langganan guru BP? Itu bukan alasan buat kita untuk mengucilkannya.”

“Dekalvin, kamu tau dari mana El Rumi sakit?” pertanyaan Pak Al menghentikan bisik-bisikku dan Khiar.

“Kemarin saya baru dari rumahnya, Pak.”

“Deka kemarin bolos, Pak!” seru salah satu cowok di deretan paling belakang.

Pak Al tidak berusaha mencari tahu apakah aku sungguhan bolos atau tidak. Guru tampan itu hanya menatapku sekilas sebelum terpekur kembali pada absennya. “Seharusnya, sebagai teman satu kelas, kalian harus lebih peka terhadap sesama teman sekelas,” katanya lalu lanjut mengabsen setelah sempat terjeda di nama Hero. “Siti Rafika…”

“Hadir, Pak!”

Khiar menyikutku. “Kamu sungguhan bolos kemarin untuk ke rumah Hero?”

Kudiamkan dia. Kalimatnya beberapa saat lalu masih menyinggungku.

***

2 YEARS AGO…

Saat papanya mengabarkan beberapa bulan ke depan mereka akan kembali menetap di kota tempat ia lahir dan menghabiskan tahun-tahun awal masa kecilnya, ia ingin lulus SMP detik itu juga. Kembali ke sana, artinya tak perlu menerka-nerka nomor telepon lagi―meski pekerjaan itu kian jarang dilakukannya. Kembali ke sana artinya tak perlu menulis lagi, dan membaca lagi kemudian. Kembali ke sana, berarti bahwa segala kegundahan hatinya akhirnya akan lenyap. Lalu, ia mulai menghitung hari dan melingkari kalender.

Di tempat berbeda, di tanggal yang sama―yang baru saja dilingkari oleh salah satu remaja di rumahnya dengan perasaan tak sabar, seorang remaja lain sedang menangis tanpa suara. Hari itu peringatan seratus hari meninggalnya mamanya. Di kamarnya, di rumah seorang famili, ia menyendiri berdua dengan kesedihan berwujud air mata di wajahnya. Lantunan surah yang dibaca para tetangga yang tinggal di sekitar rumah familinya sayup-sayup menerobos masuk melewati lubang angin pintu kamarnya. Ia yakin, di satu tempat, takdir sudah menertawakannya sejak lama, dan masih tertawa hingga saat itu.

***

Tidak biasanya Mas Nawi sediam ini saat perjalanan menuju sekolah. Pagi ini tampangnya terlalu serius. Kukira dia sedang dimarahi mamanya, atau ditegur papanya untuk kesalahan yang tidak bisa kuterka. Aku tidak pernah ikut campur apapun urusan Mas Nawi selama ini, dan aku belum berniat untuk mulai ikut campur sekarang.

“Dek.”

“Ya?” kucondongkan badanku lebih rapat padanya, “ada apa, Mas?”

“Taun depan kayaknya kita gak bisa sering-sering ketemu lagi deh.”

“Kenapa?” tanyaku datar. Masih belum menangkap gelagat apapun.

“Papa rese.”

“Rese kenapa? Papanya Mas lagi lapar?”

“Gak lucu,” katanya singkat.

“Rese kenapa?” ulangku lebih serius.

“Bayangkan saja, di kota kita sendiri ada universitas negeri yang difavoritkan, Papa malah nyuruh anaknya kuliah jauh.”

Ternyata dia sedang membicarakan tentang kelulusannya dari SMA yang tak lama lagi. “Mungkin itu cuma alasan Om Sabri untuk ngusir Mas dari rumah,” ledekku.

Laki-laki yang pinggangnya selalu kupeluk tiap berada diboncengannya itu berdecak kesal. “Aku serius, Dek.”

“Terus? Aku harus bagaimana? Melakukan demonstrasi tunggal di pekarangan rumah Mas Nawi, bawa poster gede-gede bertuliskan ‘saatnya mendengar aspirasi anak’ pake huruf kapital sambil berorasi layaknya orator profesional yang sudah sering turun ke jalan, berkoar-koar bahwa sekarang bukan jamannya memaksakan kehendak pada anak, gitu?” Kuambil jeda untuk bernapas. “Bahkan Om Sabri pasti akan menjewerku dan melemparku ke luar gerbang sebelum orasiku selesai.” Kujengukkan kepalaku untuk mengamati ekspresi Mas Nawi. Kukira dia akan tertawa, atau setidaknya tersenyum geli. Tapi wajahnya tetap serius. Aku mendesah. “Aku pasti bakal kangen kalau nanti Mas pergi.” Kueratkan pelukanku padanya dan kutempelkan sebelah pipiku ke punggungnya.

Dia menoleh sejenak lalu kembali fokus ke jalan.

Kami mendiamkan diri beberapa saat. Aku tahu seperti apa rasanya pergi meninggalkan orang-orang yang dikenal, yang disayang. Rasanya sungguh tidak enak.

“Deka mau janji satu hal?” tanyanya setelah kami bisu cukup lama.

“Apa?”

“Saat Deka tamat nanti, susul Mas Nawi, kuliah di kampus yang sama, fakultas yang sama kalau perlu. Mau?”

“Kenapa aku harus mau melakukannya?”

Mas Nawi terdiam lagi. Saat kukira laki-laki ini tak akan menjawab, kudengar dia menggumamkan kata ‘entah’ dengan nada persis orang putus asa.

“Iya. Aku janji deh. Saat tamat SMA nanti, aku bakal minta Papa nguliahin aku di kampus yang sama dengan Mas Nawi.”

Dia kembali menolehku sekilas. “Itu janji sungguhan, kan?”

“Iya.”

“Awas kalau ingkar.”

“Nah, itu yang aku gak bisa janji.”

“Dek, ini serius!”

Aku tertawa. “Tau yang kutakutkan?”

“Apa?”

“Aku takut, jika kususul Mas ke sana, maka tahun-tahun kuliahku akan dipenuhi dengan tugas menyalin catatan demi catatan yang tak ada habisnya, sementara Mas sibuk dengan lapangan demi lapangan yang juga tak ada habisnya.”

“Sialan!” umpatnya sambil berbelok masuk ke pekarangan sekolah.

Di balik punggungnya, aku tertawa puas.

***

12 MONTHS EARLIER…

Pertama kalinya ia tahu jika ternyata teman masa kecilnya bersekolah di tempat yang sama dengannya, itu saat ia harus ke kantor untuk mengambil boardmarker baru. Hari itu adalah hari piketnya di kelas. Di kantor, ia tak sengaja mendengar ceramah guru BP di sekolahnya. Dari ruangannya, suara sang guru BP terlalu nyaring untuk diabaikan begitu saja. Sebenarnya bukan suara sang guru yang tidak bisa diabaikan, tapi nama yang disebutkan berulang-ulang oleh sang guru dengan nada marah. Nama yang begitu ia ingat, yang berkali-kali ia tulis dalam catatannya. Ia seperti tersiram air es ketika mendengar nama itu. Berlama-lama memilih boardmarker, ia menunggu siswa yang sedang diceramahi itu keluar dari ruangan guru BP, untuk memastikan keyakinannya.

Ia terlonjak ketika pintu terbuka disusul titah terakhir dari guru BP sekolahnya. “Semua toilet, El Rumi! Semua toilet!”

Dan di sanalah mereka, berpandangan selama sekian detik sebelum El Rumi memutus tatap dan meninggalkan ambang pintu ruangan guru BP.

Di tempatnya berdiri kaku dengan beberapa batang boardmarker di tangan, ia mendapati dirinya sulit bernapas. Meski sosoknya kini begitu jangkung dan tatap matanya tidak selembut tatapan anak yang ia kenal dulu, meski dengan tampilannya yang berantakan dan aura kasar layaknya berandalan yang ia kesan selama detik yang singkat itu, ia tahu bahwa sosok jangkung itu adalah Romi masa kecilnya. Sosok yang sama yang kerap mengulurkan tangan buatnya ketika ia terjatuh. Sosok yang sama yang selalu mengatainya penakut saat menemani sedu-sedannya sehabis dipalak. Itu adalah Romi, temannya berbagi uang jajan ketika mereka masih sama-sama mengenakan merah dan putih.

Ia menerka-nerka, apakah dirinya masih diingat?

Belakangan ketika salah satu teman sekelasnya menunjukkan siswa yang kerap dipanggil Hero―yang selama itu hanya ia ketahui panggilan dan embel-embel siswa bermasalah di belakang panggilan itu―padanya, ia nyaris tak percaya pada kenyataan.

Faktanya, waktu memang mampu merubah manusia. Tidak hanya fisik, tapi juga pribadi.

Tidak peduli pada imejnya yang begitu tidak disukai warga sekolahan, ia mulai memuja, sekali lagi. Tidak lelah meski harus berkali-kali gagal mendekati. Kelak ketika skenario takdir membuat mereka berada di satu kelas, ia merasa tak pernah seberuntung itu.

***

Aku dibuat kaget ketika sore ini kudapati Hero berdiri di teras rumahku. Apa telepatiku sampai padanya? Karena terus terang saja, aku memikirkannya seharian ini, bahkan begitu konyolnya berkhayal dia akan mendatangiku dengan menunggangi kuda, berpakaian zirah, bertopi baja dengan pedang panjang tersampir di pinggang. Dan kini dia sungguhan datang, memang tanpa kuda dan tanpa baju zirah, tapi dia tetap terlihat bagai ksatria dalam pandanganku.

Di dalam, mamaku sedang mengadakan arisan. Tadinya aku hampir tak bisa mendengar bunyi bel yang dipencet Hero karena mereka begitu heboh mengomentari set Tupperware Mama yang baru.

“Hai,” sapanya, terlihat kikuk begitu aku nongol di pintu.

Yang pertama kutanyakan adalah, “Kenapa tadi masih bolos?”

Yang dia khawatirkan malah, “Bagaimana kakimu?”

Aku menunduk menatap kakiku yang sudah lebih dulu diawasi Hero sejak aku membuka pintu untuknya. Celana pendek sedengkul yang sore ini kukenakan jelas memperlihatkan keadaan tulang keringku. “Baik kok. Gak sakit lagi.” Kupandang Hero yang terlihat lebih segar dari terakhir kali kulihat, kuperkirakan dia mandi dulu sebelum ke rumahku. Aku bahkan bisa membaui aroma lembut cologne yang dipakainya. Dia pasti bercermin lebih lama di kamarnya ketika bersiap-siap. “Kamu bela-belain datang untuk ngecek kakiku?” Aku nyaris tak bisa menyembunyikan rasa girangku.

Hero tak menjawab, hanya mengarahkan pandangannya ke dalam rumah ketika tawa ibu-ibu tetangga satu komplek meledak lagi.

“Mama bikin arisan,” jelasku sambil angkat bahu. “Kamu mau gabung?”

Hero tak merespon candaanku, dia hanya memindaiku, menatapku dari kaki hingga kepala. “Emm… kupikir mungkin kamu mau ikut mutar-mutarin kota, pake motor jelekku di sana…”

Caranya mengajakku itu, seperti cara pemeran pria mengajak kencan sang pemeran wanita di film-film romance Hollywood yang pernah kutonton. Ah… aku kian mengagumi makluk-Mu yang satu ini Tuhan. Aku berdeham, berusaha untuk tidak terlihat begitu ingin jingkrak-jingkrak. “Apa omonganmu barusan adalah bentuk lain dari ‘maukah kamu pergi jalan-jalan denganku?’”

“Entah. Gak tau.” Ekspresinya saat menjawab ‘entah’ dan ‘gak tau’ benar-benar membuatnya terlihat seperti Romi kecil berusia sepuluh tahun yang lampau. “Anggap aja begitu,” sambungnya.

Kutolehkan kepalaku ke belakang dan berseru keras. “Ma, Deka keluar sebentar sama Romi ya…!!!” Aku tidak yakin mamaku bisa mendengar teriakanku di antara riuh rumpian grup arisannya. Jika dengar, mungkin Mama akan bertanya tentang Romi ini dan pasti akan bertanya karena dulu beliau sangat akrab dengan nama itu. Jika pun mamaku lupa, beliau pasti akan tetap bertanya jika mendengar seruanku, mengingat selama ini hampir setiap keluar rumah aku selalu dengan Nak Zamhurnya. Setelah menunggu hingga nyaris semenit tak ada respon apapun dari Mama, kututup pintu dan kupakai sandalku. “Ayo!” ajakku pada Hero. “kalau kamu belum berubah pikiran…”

Hero berjalan di sisiku menuju motornya yang diparkir di jalan. Sosoknya begitu menjulang, begitu kontras dengan badanku yang kecil. Aku naik ke sadel motornya tanpa berkata-kata, dia juga mendiamkan diri. Hari ini, sekali lagi aku berada di boncengannya. Sekali lagi, dadaku berdebar lebih kencang.

Seperti katanya, kami memang memutari kota dan berakhir di alun-alun yang sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang berlari mengitari lapangan hijau di tengah lahan dan beberapa remaja yang sedang berbincang-bincang heboh di satu sudut.

“Sepi,” kataku saat turun dari boncengannya.

“Apa aku harus bakar petasan?” tanya Hero sebelum berjalan mendekati penjual kacang rebus yang mangkal di pinggiran alun-alun dan kembali sesaat kemudian.

“Di sana.” Kutunjuk kursi kayu di bawah pohon pinus yang ditanam mengelilingi lahan.

“Di sana apanya?”

“Kita duduk di sana.”

“Oh. Kukira kamu minta aku bakar petasan di sana.” Aku memutar bola mata sementara Hero seperti biasa, stay calm. “Tidak mau ke sana?” sambungnya.

Yang ditunjuk Hero adalah deretan jungkat-jungkit dan perosotan di sudut lain alun-alun yang hari ini tidak diminati satu balita pun. “Sepuluh tahun lalu mungkin aku akan dengan senang hati ke sana,” jawabku dan mulai masuk ke alun-alun. Hero mengikutiku menuju kursi kayu di bawah pohon pinus.

“Aku gak percaya kamu datang ke rumah.” Kurogoh kantong di tangan Hero, mengambil sejumput kacang rebus.

Hero menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, di kiriku dia duduk seenaknya. Aku tidak bisa untuk tidak melirik pahanya yang dibungkus jins robek-robek terbuka mengangkang sedemikian rupa. “Kupikir kamu ngarepin aku datang, makanya saat di rumah budeku kamu nolak dijemput supirmu, biar aku anterin dan dengan begitu aku jadi tau rumahmu.”

“Yang duluan punya niat buat nganterin aku siapa ya?”

“Aku ingat kalau yang gak mau pulang ketika disuruh pulang itu bukan aku.” Hero kini menekuk kaki kirinya ke atas kursi.

Aku mati kutu. Tiba-tiba aku merasa telah melewatkan sesuatu yang penting dalam ucapan Hero. Hal penting yang membuat keningku mengernyit. Aku berusaha mengingat percakapan kami saat sudah di kursi. “Tunggu,” kubalikkan badanku menghadap Hero. “Tadi kamu bilang rumah siapa?”

Hero sejenak memandangku dengan ekspresi bingung sebelum hilang kembali secepat raut itu muncul di wajahnya. “Enggak. Aku gak nyebut rumah siapa-siapa, kecuali rumahmu.”

“Gak. Tadi kamu nyebut budemu, rumah budeku, gitu tepatnya.”

Hero diam, mengalihkan tatapannya lurus ke depan. Dia seperti sengaja menghindari menatapku.

“Di mana Om dan Tante?” tanyaku lirih.

Hero tetap diam, hanya tangannya yang terus mengaduk-aduk kantong kacang tanpa berniat mengupasnya.

“Rom,” panggilku. “apa yang terjadi hingga kamu harus tinggal di rumah budemu?”

“Gak ada,” jawabnya singkat lalu menunduk ke kantong kacangnya. Melanjutkan mengaduk-aduk.

“Gak ada atau kamu gak mau cerita?”

“Gak ada,” ulangnya.

“Apa kamu berharap aku percaya gitu aja?”

Hero membisukan diri.

“Romi,” panggilku lagi dan dia tetap diam. “Sialan, Romi…! Aku temanmu…” Aku hilang sabar.

Hero mendongak, sorot matanya mengintimidasiku. Lalu kantong kacang rebus dibalingnya begitu saja hingga isinya berserakan di kaki kami. “Ya, tentu… kamu temanku, teman yang menghilang selama satu dasawarsa tanpa satu kabarpun. Teman yang kembali setelah sekian lama dan masih merasa cukup pantas untuk berbagi cerita denganku padahal tidak…” Bisa kulihat dadanya naik turun dengan cepat, dia sudah duduk tegak kembali. “Sebut satu saja alasan mengapa aku perlu berbagi ceritaku denganmu…”

Di kursiku, seluruh ototku menegang. Sejenak aku lupa cara bernapas hingga rasanya dadaku terhimpit. Hero mengalihkan tatapannya ketika aku hanya diam. Lalu kurasakan mataku memanas. Kukira, aku sudah mendapatkan teman masa kecilku kembali di hari dia mengkhawatirkan kakiku, kenyataannya―seperti yang dia katakan sesaat lalu―padahal tidak.

Aku tak lagi mengupas sisa kacangku, polong-polongan itu kukepal dalam telapak tangan, seperti mereka akan membuatku kuat begitu saja dengan kugenggam. Di sampingku, Hero juga mendiamkan dirinya. Tawa gerombolan remaja dari arah bersebrangan di bawa angin hingga ke kursi tempat kami membisu.

“Karena aku peduli…”

Hero menolehku.

“Kamu nanyain aku satu alasan…,” ujarku lirih. “Karena aku peduli.”

Hero diam, hanya matanya saja yang terus memperhatikanku.

“Dan aku gak mau berhenti peduli meski kamu gak pernah percaya bahwa selama satu dasawarsa ini aku tetap ingat dan tetap peduli pada ingatanku, pada tiga tahun masa kecilku di sini, padamu…”

Hero berpaling dariku, menyandarkan punggungnya lagi dan merokok. Kukira dia tak akan mau tahu dengan jawabanku, kukira dia akan menganggap omonganku adalah bualan kosong, manifestasi rasa putus asaku terhadap perubahan sikapnya. Rokoknya sudah setengah jadi abu ketika dia mengeluarkan suara.

“Apa yang ingin kamu tau tentang Mama dan Papa, Dek? Apa yang ingin kamu tahu tentangku?” Dia bicara, namun pandangannya sama sekali tidak tertuju padaku. “Kurasa dengan melihat keadaanku sekarang pun kamu sudah bisa menyimpulkan sendiri tanpa kuterangkan.”

“Gak, aku gak bisa. Tolong simpulkan untukku.” Aku tak ingin dia mendiamkan diri lagi. “Di mana Tante sama Om sekarang?”

Asap rokok mengawali jawaban Hero. “Mama meninggal lebih dua tahun lalu…”

Di tempat dudukku, aku terhenyak hingga tak bisa berkata-kata. Membayang di mataku sosok wanita yang kerap menyambutku di pintu rumahnya dulu, menawariku apapun yang sedang dimakan putranya saat kebetulan aku ke sana. Kini, sampai kapanpun aku tak akan bisa melihatnya lagi. Sangat terlambat menangisinya sekarang, tapi tak bisa kucegah mataku berkaca-kaca. Kini aku mengerti mengapa riak wajahnya berubah saat kami bicara dua hari lalu setelah dia mengobati kakiku. Dia menghindari obrolan tentang mamanya saat itu. Aku juga paham kini kenapa saat di gang itu dia menyuruhku pergi menikmati hidupku yang katanya sempurna nan bahagia. Karena hidupnya begitu penuh duka kehilangan. Aku merasa jahat harus mengungkit dukanya sekarang.

“Di mana Om Halim saat ini?”

“Penjara.” Hero mencampakkan rokoknya ke rumput, menegakkan punggung saat menginjak bara di ujung rokok lalu kembali bersandar.

Di sampingnya, sekali lagi aku terhenyak.

“Papa nabrak lari. Menghilangkan nyawa dua orang. Setelah Papa ditangkap, Mama mulai sakit-sakitan…”

Mungkin sebaiknya aku memintanya berhenti bercerita, tapi aku tidak pernah seingin tahu sekarang tentangnya. Lebih dari itu, aku ingin dia membagi bebannya denganku. Aku ingin turut merasakan kesedihannya. Aku ingin membuktikan bahwa aku masih ada, bahwa aku juga akan tetap menangis bersamanya sampai kapanpun.

“Papa hanya karyawan biasa, Dek, kamu pasti tau itu. Tak lama setelah Papa resmi ditahan, kami mulai menjual barang-barang.” Hero menerawang. “Itu adalah masa-masa paling sulit dalam fase hidupku. Mama yang sakit-sakitan, Papa yang dipenjarakan. Kalau gak ada Bude Ningsih, mungkin hidupku akan lebih hancur dari sekarang.”

Aku mendengarkan, berusaha untuk tidak berair mata. Hasrat untuk menyentuh tangannya begitu besar, membuat kontak fisik untuk menguatkannya, tapi aku ragu jika diriku akan ditolak. Jadi, aku bergeming dengan perasaan seremuk-redam perasaannya saat ini.

“Puncaknya, kami menjual rumah. Ada jumlah yang harus dibayar Papa untuk meringankan hukumannya. Aku dan Mama mengontrak di rumah susun setelahnya. Tapi Mama yang terus sakit-sakitan menghabiskan banyak biaya. Saat Mama akhirnya pergi, Bude Ningsih mengambilku.” Hero menolehku, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku pasti udah putus sekolah sejak SMP kalau Bude Ningsih gak maksa untuk menyekolahkanku.”

Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi untuk tidak menyentuhnya. Ragu-ragu kuulurkan tanganku ke dalam telapak tangannya, lalu kurasakan diriku berarti ketika dia menutup telapaknya dengan jemariku di dalam genggaman.

“Kamu akan kukenalkan pada Bude Ningsih kapan-kapan. Mungkin beliau akan kaget besar. Selama tinggal bersamanya aku tak pernah benar-benar punya teman.” Hero mengerjap-ngerjap hingga selaput air yang sempat terlihat di kedua matanya hilang. “Dan kurasa kamu juga harus berterima kasih padanya, Bude Ningsih yang menjahitkan kancing seragamku kembali setelah kamu rontokin hari itu.”

Aku mengerang. “Sumpah aku menyesali kejadian itu. Tapi aku berhasil menemukan satu kancing, akan kukembalikan kapan-kapan.”

“Kamu menyimpannya?”

“Hanya untuk kukembalikan saat ada kesempatan,” kilahku. Padahal saat tidak berhasil menemukan semua kancing hari itu, aku sangat ingin memiliki satu kancing tersebut untuk kusimpan buat diriku sendiri.

“Tak apa. Bude Ningsih sudah beli kancing baru. Kamu boleh terus menyimpannya jika mau.”

Aku ingin melompat-lompat mendengar kata-katanya. Kamu boleh terus menyimpannya. Oh Tuhan. Kalimat itu sesuatu sekali.

Sedetik kemudian dia menunduk pada tangan kami. Kuputuskan untuk melerai tanganku darinya. Aku kaget ketika dia malah mengeratkan genggamannya. Pandangannya terangkat menatapku. Setelah tadi matanya sempat kutemukan berkaca-kaca, kini kulihat ekspresinya seakan menahan senyum saat aku berhenti berusaha menarik tanganku setelah gagal di kali kedua.

“Saat kamu melihatku di mall hari itu, aku sedang membelanjakan gaji pertamaku,” katanya kemudian.

“Kamu bekerja?” tanyaku, nyaris gagal menyembunyikan nada tak percaya dalam suaraku.

Dia mengangguk mantap. “Kenapa aku tidak pernah bertahan di sekolah setelah jam pulang? Karena aku harus kerja paruh waktu…”

“Di?”

“Di warung yang sama tempat Bude Ningsih kerja. Yah, hanya warung makan biasa. Budeku jadi buruh cuci di sana, sedang aku menyiapkan meja.”

Hero jadi pelayan warung makan. “Di mana suami budemu?”

“Oh, Bude Ningsih sudah sangat lama menjanda. Begitu setia pada almarhum suaminya sampai tak ingin menikah lagi.”

Mungkin aku harus berhenti menanyakan tentang anggota keluarganya. Aku tak ingin mendengar kabar kematian siapapun lagi saat ini. Sudah cukup. “Lantas, jika kamu sibuk kerja, bagaimana kamu bisa kenal preman dan jadi berandalan?”

“Aku tidak kenal preman.”

“Orang-orang yang mengeroyokmu kemarin, apa namanya kalau bukan preman sekolahan?”

“Baiklah, aku kenal beberapa preman.” Hero tertawa pendek. “Aku masih gak percaya kamu sungguhan hadir di sana. Apa itu inisiatifmu atau diajak si…” Hero terlihat berpikir. “Siapa namanya si kapten basket yang jadi supirmu itu… Zamhur? Iya, si Zamhur itu, apa dia yang punya inisiatif?” Hero melepaskan tanganku. “Kurasa dia menyayangimu.”

Aku tertegun sesaat. Sosok Mas Nawi berkelebat dalam kepalaku. Teringat percakapanku dengannya di atas motor pagi kemarin. Saat dia sungguhan pergi kuliah ke tempat jauh setelah lulus nanti, kurasa aku akan sangat kehilangan. Dan mengapa Hero bisa menyimpulkan kalau Mas Nawi menyayangiku? Oh, tentu saja. Aku yakin Mas Nawi sudah menganggapku bagai adik sendiri, tentu perasaan sayangnya itu sangat mudah terlihat siapapun.

“Itu inisiatifku tauk! Aku sama sekali gak tau Mas Nawi jago silat,” ujarku menjawab pertanyaannya. “Dan aku sempat kecewa karena kamu gak bilang makasih satu kali pun padanya hari itu.”

“Aku bilang kok!”

“Kapan? Setelah kami pergi? Basi!”

“Bukan. Aku bilangnya saat dia ngerangkul bahumu dan kalian berbalik hendak pergi.”

“Iyakah? Kenapa aku dan Mas Nawi gak dengar, ya?”

“Aku bilangnya dalam hati.”

Setan. Kutonjok pinggangnya. Hero tertawa pendek sambil mengusap-usap pinggangnya yang kena tonjok. “Aku serius, bagaimana ceritanya sampai kamu jadi berandalan?”

“Aku gak jadi berandalan.”

“Kamu dicap sebagai berandalan di sekolah kita.”

“Itu karena aku suka melanggar peraturan.”

“Salah satu kebiasaan para berandal, ya melanggar peraturan. Sudah sangat jelas siapa dirimu adanya, tak perlu menyangkal.”

“Gak. Aku bukan berandalan sekolah kita. Aku hanya siswa yang tidak taat peraturan.”

“Kamu suka berkelahi. Para berandalan hobinya gak jauh-jauh dari pukul-pukulan.”

“Kamu baru sekali melihatku berkelahi, dan langsung mencapku suka berkelahi?”

“Desas-desus di sekolah mengatakan kamu memang sering berkelahi kok.”

“Jika kukatakan aku berkelahi untuk membela diri, apa kamu masih mencapku berandalan?”

“Membela diri apanya?”

“Aku sudah nakal sejak SMP, Dek. Kamu pasti gak percaya jika kukatakan kalau aku sering malakin sesama siswa saat di SMP.”

“Kamu jadi pembully?” Aku membelalak. “yang benar saja?!?”

“Kenyataannya memang begitu kok.”

“Kenapa?”

Hero menggidikkan bahunya. “Gak tau.”

Tapi hatiku berkata jika dia sangat tahu alasan mengapa dirinya jadi pembully. Kupandang dia, memar-memar yang belum sepenuhnya hilang di wajahnya kembali mengingatkanku pada pertanyaanku sebelumnya. “Jadi, membela diri bagaimana yang kamu maksudkan?”

“Yah, membela diri…” Hero berhenti bicara. Dia merogoh saku celana abu-abunya. Selanjutnya, dia mulai merokok lagi. Aku tak berusaha melarangnya, firasatku bilang itu percuma. Asap mengepul keluar dari bibirnya, membumbung ke cabang-cabang pinus di atas sana. “Aku mendapatkan karmaku. Saat di SMA, justru aku yang sering dihadang preman. Mungkin mereka mengira aku adalah sasaran empuk untuk dipalak, karena aku selalu sendirian, tidak pernah berada dalam kelompok. Sasaran ideal untuk diintimidasi.” Dia mengambil jeda untuk menghisap dan menghembuskan asap rokok lewat mulutnya. “Yang terjadi dengan Ipang dan teman-temannya kemarin hanya salah satunya. Tapi kemarin yang paling parah. Ipang sepertinya sedang tidak berada dalam suasana hati yang baik. Atau masakan maknya kurang sedap hari itu. Aku dijadikan bulan-bulanannya.”

“Kamu kenal mereka?”

“Ipang tinggal di dusun bersebelahan. Semua orang di lingkunganku kenal dia, preman dusun.”

“Kamu sering dihadang?”

“Lumayan sering, oleh banyak kelompok. Biasanya aku berhasil kabur. Yah, mungkin sesekali berkelahi lebih dulu baru kabur setelah itu. Kejadian kayak kemarin amat sangat jarang terjadi. Uangku dari Bude berhasil diambil juga hanya terjadi dua tiga kali.”

“Saat SMP, aku akan langsung mengosongkan sakuku begitu dihadang. Sering dibully membuatku belajar satu hal penting. Mereka hanya ingin uang kita, melawan pun pasti akhirnya mereka berhasil melaksanakan niat. Jadi, kenapa gak mempersingkat saja prosesnya? Gak perlu dihajar dulu, dibentak-bentak dulu dan sebagainya.”

Hero menyeringai. “Itu kan memang tipikalmu sejak dulu, gak pernah membuat pemalakmu gagal dapetin uangmu.”

“Setidaknya, saat itu akulah yang mengendalikan permainan, kan?” Aku menyengir. “Aku bosnya, aku yang mengatur nasibku sendiri. Dihajar, atau tidak dihajar. Anggap saja aku memolopori bully yang lebih santun dan beradab.”

Sekarang Hero tertawa besar. Mendengar dan melihatnya tertawa demikian membuat hatiku hangat. Kusandarkan punggungku ke kursi dan segera kusadari kalau tengkukku diganjal lengan kanannya. Aku tak tahu kapan dia meluruskan tangan kanannya di atas sandaran. Yang kuperhatikan hanya wajah dan bibirnya ketika dia bicara, dan rokok yang terus menyala di tangan kirinya. Untuk beberapa saat lamanya, sepertinya kami menikmati kediaman masing-masing―ditingkahi percakapan sayup-sayup remaja lain di sudut berseberangan dan deru mesin kendaraan dan cicit burung yang pulang ke pohon pinus tempat sarang mereka berada.

Entah bagaimana formulanya, berada berdua dengan Hero bersisian begitu dekat di kursi kayu di bawah rindang pinus sore ini tampak sebagai soreku yang paling sempurna.

“Terimakasih…”

“Ya?” Hero memalingkan wajahnya padaku.

Kutoleh dia, “Terimakasih karena mau berbagi cerita lagi denganku…”

Hero terdiam sejenak sebelum bibirnya melengkungkan seulas senyum. Dia membuang puntung rokoknya ke tanah. “Terimakasih karena tidak menyerah denganku.”

“Tak akan pernah…”

“Meski kakimu tergores kawat dan terjepit pintu berkali-kali?”

“Meski kakiku tergores kawat dan terjepit pintu berkali-kali,” ulangku penuh keyakinan.

Lalu kurasakan lengan Hero yang tadinya mengganjal tengkukku kini bergerak merengkuh bahuku, membawaku lebih rapat padanya. Kali ini aku tidak ragu sama sekali ketika kumiringkan kepalaku ke bahunya. Senyumku menyeruak saat kurasakan Hero mencium puncak kepalaku sebelum menempelkan pipinya di sana, meletakkan kepalanya di atas kepalaku.

Di atas kami dalam sarang rumit di dahan-dahan pinus, keluarga burung yang baru saja pulang mencicit makin riang. Mungkin mereka sama riangnya denganku, yang baru saja diterima pulang kembali ke hati seorang teman.

Seorang teman yang berpotensi menjadi pacar pertamaku.

Kelak.

Suatu hari nanti.

Jika takdir mau berbaik hati…

“Omong-omong, dari mana kamu mendapatkan nama Hero ini?”

“Akan kuceritakan nanti, saat kamu bersandar padaku seperti ini lagi, di lain hari…”

Lalu, semesta seperti kaku dari aktivitasnya ketika Hero menunduk ke wajahku. Ternyata, takdir memilih untuk berbaik hati padaku langsung sore ini juga…

 

 

Akhir April 2015

Masih di negeri antah berantah

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com