Cover

 

Bagi para pecinta K-Pop, pasti nggak asinglah sama yang namanya EXO. Semua pasti tahu boyband bentukan SM Entertainment ini. Bisa jadi EXO satu-satunya bb yang paling cepat meroketnya. Bayangkan, cuma dalam satu tahun nama mereka sudah terkenal di seantero Korea dan negara-negara yang terkena demam hallyu, termasuk Indonesia. Entah gimana strategi mereka sehingga mereka jadi cepat terkenalnya kaya begitu. Yang jelas, salah satu daya tariknya, kalau bukan yang paling besar, adalah semua anggota EXO itu ganteng, baik mantan anggotanya.

Nah, biasku di EXO itu namanya Suho alias Kim Joonmyeon. Siapa dia, google sendiri. Yang jelas, ngga tahu juga kenapa, leader EXO ini punya magnet yang besar buatku. Ganteng mah udah jelas, tapi his dorkiness and seriousness as a leader itu yang bikin aku klepek-kelepek sama dia.

EXO ini menginspirasi jutaan orang untuk menulis fanfiction tentang mereka. Nah, salah satu fanfic yang paling aku suka itu yang akan kalian baca selanjutnya. Judul aslinya ‘Chasing Blue Sky’, aku nemu di asianfanfic.com. Bagus banget, temanya jarang banget dibikin di sana. Mirip-mirip sama film Cloud Atlas, salah satu film fiksi favoritku. Kalimatnya bagus, ngena. Silahkan kalo mau baca aslinya di sini:

http://www.asianfanfics.com/story/view/552701/chasing-blue-skies-romance-exo-jongdae-slightangst-junmyeon-suchen-multiverse

Yang namanya nerjemahin itu ngga gampang, susahnya hampir sama kaya ngarang cerita sendiri. Jadi mohon maaf kalo agak-agak off key. Monggo dibaca, semoga temaram kata-katanya memberikanmu inspirasi (ngga mau kalah sama Nayaka).😀

 

_____________________________________________________________________________________

MENGEJAR LANGIT BIRU

 

Kali pertama Jongdae bertemu Joonmyeon adalah di hari pada saat dia meninggal.

Bisa jadi Takdir sedang memainkan trik yang kejam, jahat padanya, namun ia menutup matanya setelah menatap wajah pucat dan khawatir milik seorang malaikat berpakaian seragam biru compang-camping.

Samar-samar ia mengenali bunyi logam panas membara yang ditembakkan dari laras tembaga dan sebuah nada yang keras kepala namun sumbang dari suatu lagu yang pernah membujuknya untuk meninggalkan segala yang ia miliki. Warna merah darah berkembang di dadanya sementara paha kirinya berwarna sedikit lebih gelap dari mantelnya yang terkoyak, dan ia kembali mengingat suara ibunya yang mengingatkannya untuk berhati-hati serta pulang dan menjadi anak yang sama sebelum dia meninggalkan rumah untuk perang. Sentakan rasa bersalah dan rasa penyesalan berdentum di dadanya, namun ia sudah merasa terlalu lemah, dan beberapa saat kemudian rasa sakit itu tergantikan dengan mati rasa yang entah mengapa terasa menenangkan.

Hal terakhir yang ia ingat sebelum ia melayang ke lautan ketidaksadaran berwarna hitam itu adalah kepingan salju yang sayu, yang berdansa di sekeliling bayangan sayap dan bulu para malaikat.

 

Pertama kali aku bertemu denganmu, langit berwarna abu-abu dan titik-titik hujan menyentuh rambutku dengan lembut — mengucapkan selamat tinggal bagiku untuk yang terakhir kalinya. Pertama kali aku bertemu denganmu, kau bergulir dari jemariku layaknya segenggam pasir pantai yang halus dan hangat dan aku hanya bisa memandangmu berlari kehabisan waktu, tak berdaya dari sisi lain, sama sepertiku selama tahun-tahun sejak aku pertama kali bernafas. Pertama kali aku bertemu denganmu, kita adalah musuh, terikat oleh satu senar persahabatan — untuk bertahan, untuk pulang — yang menggunakan Kematian sebagai sebuah senjata akrab yang tidak nyaman, yang menghilangkan hidup setelah menekan picu demi picu.

Pertama kali aku bertemu denganmu, aku jatuh cinta padamu untuk yang pertama kali sekaligus mengucapkan selamat tinggal

Abad demi abad akan bergulir melewati kita dan waktu akan mengauskan dunia, namun perasaanku akan tetap pada asal emosi tertua manusia, dan akan tetap ada di sana selamanya.

 

*   *   *

 

Kali kedua Jongdae bertemu Joonmyeon, mereka merupakan burung tak bersayap yang terpenjara dalam istana emas, yang ditakdirkan untuk hidup dalam kemewahan dan penderitaan.

Dari sudut pandang orang luar, Istana Terlarang adalah surga kemakmuran — penuh dengan emas, kemolekan tubuh, serta hasta demi hasta lembaran kain mewah. Di sana terdapat Taman Surga, yang dipenuhi dengan tetumbuhan dan bebuahan eksotis yang katanya dapat memberi keabadian, sama seperti pun tao(1) yang tumbuh di kebun Kaisar Langit.

Dari sudut pandang orang dalam, Istana Terlarang adalah sangkar emas, yang dihias dengan begitu amat cermatnya untuk menyamarkan orang-orang yang tinggal lebih ke dalam lagi akan bau Kematian. Istana itu dibangun di atas tiang-tiang peraturan tentang etika, norma, dan harapan sosial yang begitu ketat. Istana itu dibangun atas dasar diskriminasi dan lirikan sinis dan rencana-rencana pembunuhan dan persekongkolan.

Jubah-jubah Jun Mian seringkali lebih terasa seperti rantai daripada sutra lembut. Mereka adalah beban berat kemakmuran dan kekuatan, dan ia membencinya. Ia benci rasa sutra yang dengan halus menutupi kulitnya dan ia benci kenyataan bahwa kulitnya akan terasa gatal saat memakai kain lain yang bukan sutra.

Ia benci kerentanan dan keabaiannya, dan ia jijik pada kacamata hidup yang keluarga kerajaan paksakan padanya, karena ia tertutupi dari begitu banyak — begitu banyak keindahan sederhana dari kehidupan.

Ia benci bagaimana orang-orang iri pada gaya hidupnya, yang mungkin karena itulah ia mencintai Zhong Da.

Zhong Da benci keluarga kerajaan dengan suatu gairah yang Jun Mian anggap hampir lucu. Namun tentu saja itu wajar, mengingat ia dijadikan budak sejak umur lima untuk melayani Putra Mahkota Cina, Jun Mian.

Zhong Da benci keluarga kerajaan dan keningratan pada umumnya, namun Jun Mian adalah sebuah pengecualian. Zhong Da berkelit bahwa itu bukan salahnya kalau Jun Mian dilahirkan di keluarga yang mengerikan di masa yang bergejolak.

Jun Mian mencintai Zhong Da, karena Zhong melihatnya bukan sebagai Putra Mahkota Cina, dan tidak juga ia melihatnya sebagai pewaris tahta dan target yang mungkin untuk pembunuhan. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai Jin Jun Mian, pemuda yang dipaksa menjadi dewasa jauh di usianya yang terlalu muda, pemuda yang telah menyaksikan pertumpahan darah dan kebencian lebih banyak dari yang bisa dibayangkan orang lain. Zhong Da melihatnya sebagai pemuda penikmat musik dan pembenci politik, dan rela menukar seluruh kekayaannya untuk mendapatkan kehidupan sebagai seorang biasa.

Dan ia tidak melihat Zhong Da sebagai seorang pemuda kurang ajar dan lancang seperti yang dilihat seisi Istana. Ia tidak melihatnya sebagai pelayan gegabah yang pantas mendapatkan caci maki dan penghinaan yang selama ini ia terima. Jun Mian melihat Zhong Da sebagai anak hilang, yang matanya dikaburi oleh kekecewaan, yang terlalu angkuh untuk menunjukkan kesendiriannya. Namun Jun Mian melihatnya menembus bagian luarnya, dan ia melihat bocah kaca yang terancam hancur berkeping-keping.

Ketika Zhong Da akhirnya hancur di pergantian tahun, Jun Mian memeluknya untuk yang pertama kalinya, mengayunkannya ke depan dan belakang di lengannya selama berjam-jam, menolak untuk melihat tali putih yang menggantung pada langit-langit dan tanda merah kelam yang ada di sekeliling lehernya.

 

*   *   *

 

Kali ketiga Jongdae bertemu Joonmyeon terasa begitu cepat dan sekejab dan Jongdae tidak akan pernah melupakannya sampai ia meninggal.

Saat itu adalah Malam Natal. Liburan tidak pernah terasa begitu tidak menyenangkan dalam hidup Chen. Ia merangkak dalam parit, senjata ada di sampingnya tatkala ia berjuang untuk mendapatkan posisi yang nyaman. Tempat ia berada terasa beku dan ia merindukan coklat hangat yang ibunya biasa buat.

“Kau tahu?” Kris, partner perangnya berkata, “Kita harus bernyanyi.”

Kris adalah lelaki tinggi dan ia terlihat mengancam — terutama dengan bekas luka yang memanjang dari pipi kirinya, melewati rahangnya sampai ke lehernya. Ia juga jarang tersenyum, lebih memilih untuk menatap orang-orang dengan pandangan dingin. Tidak banyak orang yang tahu, namun orang misterius yang diam dan merenung itu sebenarnya pemalu — ia diam bukan karena hatinya kelam namun karena ia secara sederhana tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Chen adalah orang pertama tempat ia membuka diri.

Sulit untuk tidak berteman dengan Chen karena mereka ada dalam kesatuan yang sama, dan di atas segalanya, mereka tidur di ranjang susun yang sama. Mereka menghabiskan hampir dua puluh empat jam bersama. Mereka menyaksikan teman mereka mati di depan mata mereka tak terhitung kali dan mereka mengalami ketakutan akan ditinggal satu sama lain suatu saat nanti. Ketakutan yang mencekik itu mempererat ikatan mereka.

Mereka bukan teman yang terlalu pengasih — tidak, kepribadian Chen yang tidak kenal kata konyol dan sifat Kris yang pendiam tidak membuat mereka seperti itu, namun selalu ada pemahaman hening di antara mereka. Dan bagi Chen dan Kris, itu cukup.

Chen menatap Kris.

“Maafkan aku, tapi kau baru saja bilang bernyanyi?” Chen memberikan pandangan tak percaya pada Kris.

Kris mengangguk, senyum kecil merayap di wajahnya.

“Mengapa tidak? Ini Natal. Kukira kita berhak untuk merayakannya walau sedikit.”

Chen memutar bola matanya dan hendak menyanggahnya ketika tiba-tiba, di suatu tempat dari parit di kanannya, sebuah suara yang bergetar mulai bernyanyi. Satu menit lewat dalam kesunyian, dan tanpa dinyana, para lelaki di sekelilingnya bergabung dalam nada Silent Night(2).

Kris melihatnya penuh harap, senyumnya semakin lebar sebelum ia membuka mulutnya dan ikut bernyanyi, suara bariton rendah mengapung bersama suara-suara lainnya. Chen mendesah, memutar bola matanya sekali lagi, dan menyeringai pada langit malam. Ia bersandar pada dinding parit, menggendong Enfield 303 di lengannya, dan turut hanyut.

Mungkin ada semacam sihir dalam nyanyian itu, karena tiba-tiba, ia tidak lagi berada di tepi Tanah Tak Bertuan, tidak lagi berada di tengah peperangan terbesar dalam sejarah. Dia ada di rumah, duduk di meja makan bersama keluarganya, menertawia lelucon ayahnya dan memuji puding Yorkshire ibunya.

Semua terkejut saat suara-suara mulai berbalas di seberang tanah kosong, lidah-lidah asing mengeluarkan nada yang dikenal.

Kris berpaling padanya dengan mata terbelalak, tiba-tiba berhenti.

“Apa para Huns(3) ikut bernyanyi?”

Chen menatap melewati Tanah Tak Bertuan, dunia begitu gelap untuk bisa melihat lebih jauh dari beberapa meter, namun suara nyanyian yang acak adut itu tidak bisa diabaikan.

“Ya!” ia mendengus dan meletakkan senjatanya, berdiri tegak.

“Apa yang kau lakukan?” desis Kris, menangkap pergelangan tangannya dan menariknya ke bawah. Chen merontanya lepas dan malahan mulai memanjat keluar parit.

“Chen! Chen, kembali! Jangan bertindak bodoh!” tekan Kris.

“Ini Hari Natal, Kris,” ucap Chen tanpa berbalik. “Kukira kita berhak untuk merayakannya walau sedikit.”

Kris mengernyit saat kata-katanya sendiri dikembalikan padanya lalu memutar bola matanya. Terkadang, rasanya mengejutkan betapa miripnya ia dan Chen. Ia tersenyum dan meletakkan senapannya pula.

“Yah, apa boleh buat, ini memang Hari Natal.”

Ia bergabung dengan Chen melangkah menuju Tanah Tak Bertuan dan segera para serdadu lainnya mulai memanjat keluar dari parit mereka.

“Malam kudus, sunyi senyap,” Chen bersenandung saat ia melangkah dengan santai di atas tanah.

“Dunia terlelap,

Hanya dua berjaga terus,

ayah bunda mesra dan kudus

Anak tidur tenang,

anak tidur tenang.”

Penggalan pertama berakhir dan Chen berhenti di hadapan garis serdadu Jerman, semua tak bersenjata dan tersenyum.

Satu dari mereka melangkah maju.

“Namaku Suho. Selamat Hari Natal.”

Ia tersenyum.

Chen merasa jantungnya berhenti berdenyut selama semenit — mungkin dua menit — dan ia takjub akan mengapa ada semacam keakraban dan kehangatan yang terpancar dari lelaki itu, dan mengapa ia ingat tentang seragam biru dari periode waktu yang berbeda dan burung bulbul yang bernyanyi dalam sangkar emas.

Malam itu lewat dalam damai dan Chen dan Suho tidak larut dalam percakapan. Alih-alih mereka saling balas melirik dari seberang wilayah. Ada banyak senyum dan sesekali, kulit yang saling bersentuhan, namun tak pernah lebih dari itu. Chen tahu bahwa ia akan mendapat teguran dari Sersan begitu matahari terbit, namun ia tidak peduli sedikitpun di tengah segala tawa dan perayaan itu.

Rasanya hampir seperti tatkala jam berhenti berdetak bagi para serdadu itu dan mereka membeku dalam lekukan waktu. Kenyataan terasa tidak nyata dan jauh, jauh sekali, dan Chen hampir tidak dapat mengingat gema bombardir dan cipratan darah yang terasa menghantuinya dalam setiap mimpinya.

Untuk sesaat, hidup terdiri hanya dari senyuman manis, malu-malu seorang lelaki muda yang memakai bros salib besi berhiaskan kematian yang terentang di dadanya.

 

*   *   *

 

Kali keempat Jongdae bertemu Joonmyeon adalah pada hari di mana perbatasan dilanggar dan yang tidak mungkin terlihat mungkin.

Chen merengut pada adik lelakinya yang muncul di antara dirinya dan kakak perempuannya. Adiknya menyeringai lucu padanya sebelum menyorongkan seember berondong jagung sebagai tawaran perdamaian. Chen memutar bola matanya dan mengambil segenggam penuh dan menjejalkannya ke mulutnya sebelum berbalik untuk menonton berita itu lagi.

“Ibu! Mengapa lama sekali?? Roketnya sudah mau meluncur — cepat kemari!” jerit Chen, memutar wajahnya ke arah dapur namun tidak sekalipun melepaskan matanya dari layar.

“Chen, mengapa kau selalu saja ribut!” ucap kakaknya sambil mendorong kacamata ke atas hidungnya dan menatapnya tajam. “Ibu pasti datang, tidak perlu berteriak.”

Chen bergerak di kursinya dengan semangat. “Tapi ia akan ketinggalan peluncurannya!”

Kakaknya mengeluh. “Kau lebih bersemangat dari Douglas,” ucapnya sambil mengangguk ke arah adik mereka yang sedang mengunyah semangkuk berondong jagungnya dengan gembira.

Sang adik mendongak ke arahnya dan menyeringai, menggerak-gerakkan jemarinya yang berlemak dan mengancam untuk membalurkannya ke wajah kakaknya. Kakaknya mendengking dan mendorongnya menjauh dan bocah malang itu langsung berpegangan pada Chen untuk menjaga keseimbangannya. Bekas minyak muncul di lengan baju hangat Chen namun ia sama sekali tidak memperhatikannya, matanya terpancang pada televisi.

Tiba-tiba bel berbunyi dan Chen langsung mengeluh. Ia menarik dirinya dari sofa dan berjalan lambat ke pintu, membukanya dengan tidak terlalu bersemangat.

“Ada yang bisa kami bantu?” ia berbicara malas pada lelaki paruh baya dan anak remaja yang berkedip di depan pintu.

“Halo. Mr. Kim mengundang kami untuk menonton peluncuran Apollo 11 bersama-sama,” lelaki tua itu berkata ramah.

“Oh.”

Chen membuka pintu tanpa suara, membiarkan dua orang tersebut masuk ke rumahnya. Tatkala anak remaja itu membuka sepatunya di lorong, ia tersenyum lebar pada Chen dan untuk pertama kalinya Chen melihatnya dengan lebih baik.

Ia ramping, bertubuh mirip Chen, dan berwajah tanpa cacat yang hanya bisa Chen harap dalam doa. Matanya bersinar ketika Chen menunjukkan jalan ke sofa.

Chen memperkenalkan keduanya pada kakak dan adiknya dan ibunya melesat dari dapur untuk menyambut mereka dan berkata betapa senangnya ia melihat mereka, dan, ya Tuhan, apakah Suho bertambah tingg? Ia manis sekali, ayo silahkan makan berondong.

Chen membiarkan ibunya melayani remaja itu (atau Suho, tampaknya) sementara ia sendiri mengambil tempat di lantai, memeluk lututnya, dan menatap ke layar dengan bersemangat.

“Ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan,” ia bergumam, mata melebar dan mulut terbuka dalam ketakjuban saat mendengar pembaca berita berkata “sepuluh detik menuju lepas landas.”

“Ya Tuhan,” ia memekik untuk terakhir kali ketika mencapai angka lima dan mulai menghitung mundur. Samar-samar ia merasa seseorang meluncur ke lantai di sebelahnya dan bergabung dengannya.

“5

4

3

2

1

….

LEPAS LANDAS!!” Chen berteriak sampai nafasnya habis, melompat ke atas sofa, dan menepukkan tangannya pada tangan ayahnya yang menyerah dan memeluk adik dan kakaknya dan mencium ibunya.

“KECEPATAN TUHAN, AMSTRONG. KECEPATAN TUHAN, ALDRIN. KECEPATAN TUHAN, COLLINS. YA TUHAN, YA TUHAN, YA TUHAN.”

Ia menarik remaja itu, yang terlihat sama bersemangatnya, dan mulai melompat naik turun dalam lingkaran.

“MEREKA AKAN MENDARAT DI BULAN,” kedua anak itu berteriak bersama.

“Demi Tuhan, Chen, tenanglah,” ayahnya berkata, merenggut pergelangan tanggannya dalam upayanya menghentikan Chen untuk menyundul lampu lantai sampai pecah dan kemugkinan mencabut lepas lengan Suho.

“Haha, anak-anak ini sangat bersemangat tentang ini, ya?” ucap ayah Suho sambil tertawa baik hati.

“Chen ingin jadi astronot.” Douglas menyahut.

Lelaki itu tersenyum.

“Benarkah? Astronot? Keren! Bagaimana denganmu?”

Douglas nyengir malu-malu, bersembunyi di balik mangkuk berondong besarnya. “Aku ingin menjadi semacam ahli mesin angkasa. Dan Mindy ingin menjadi Manajer HRD di NASA.” ia menunjuk bangga pada kakaknya.

“Wow,” lelaki itu bersiul, “Semuanya di luar angkasa, ya?”

Ayah Chen tertawa. “Yah, keluarga hanya bisa berharap. Bagaimana dengan anakmu?”

“Ia berminat pada Fisika, jadi pekerjaan anak-anak kita nantinya tidak terlalu berjauhan.”

“Anakmu tertarik pada astronot dan semacamnya juga?”

“Begitulah. Suho, katakan pada Mr. Kim siapa idolamu.”

Chen mengamati Suho dengan penasaran tatkala remaja itu menyilangkan kakinya, mata menghadap ke lantai dengan sipu malu di wajahnya.”`

“Ed White, Sir.”

“Ya Tuhan.”

Suho menatap Chen dengan kesadaran bahwa Chen melihatnya dengan kekaguman yang bertambah.

“Ed White itu idolaku juga, dia itu keren, BISAKAH KAU PERCAYA BAHWA IA PERNAH BERJALAN DI ANGKASA LUAR! Aku juga ingin melakukannya. Dan dia….”

Chen terus menerus melanjutkan tentang banyaknya prestasi dari berbagai astronot dan, yang membuatnya senang, Suho mengangguk dan menanggapinya satu demi satu dan ia merasa bahwa akhirnya, akhirnya ada orang yang mengerti antusiasmenya pada astronot. Tentu saja orangtuanya cukup mendukungnya tentang NASA dan kedua saudaranya juga sama tertariknya, namun mereka tidak terpesona seperti dirinya. Saat ini, dengan Suho yang tertawa dan membaginya informasi kembali, ia merasa bahwa ia akhirnya menemukan tempat asalnya.

Ketika Suho pulang, mereka berjanji untuk bertemu kembali — dua anak muda yang terhubung dengan hobi yang sama.

Tahun demi tahun berlalu, mereka masih berhubungan, namun mereka tidak menjadi apa yang pernah mereka impikan. Chen menjadi seorang akuntan dan Suho masuk ke dunia bisnis. Douglas menjadi insinyur mesin biasa alih-alih mesin angkasa, dan Mindy menjadi seorang perawat. Namun mereka tidak pernah melupakan mimpi-mimpi mereka — mereka hanya menyimpannya dalam folder kehidupan di alam semesta yang lain.

Di antara Tahun Baru Chen yang keduapuluhsatu dan Hari Paskahnya yang keduapuluhdua, ia mengalami patah hati untuk yang pertamakali saat Suho mengumumkan padanya, lewat telepon, bahwa ia telah menemukan seorang gadis yang sempurna.

Dan menjelang akhir tahun keduapuluempat Chen, musim dingin Chen menjadi sedikit lebih dingin. Ia keluar menatap dunia dan menyadari bahwa mataharinya telah hilang dan langit diselimuti dengan lapisan kelabu dan warna biru sudah tercerabut dari dunia. Potongan-potongan surat yang ia robek terkubur di bawah koran sore di tempat sampah.

 

Dear Mr. Kim,

Terpatri dalam pengetahuanku bahwa kau adalah teman baik tunanganku, Suho Kim. Aku tahu bahwa tidak ada lagi orang yang lebih ia inginkan untuk memberikan pujian di pemakamannya, jadi apabila tidak memberatkanmu, sudikah kau ….

 

Setelah tahun-tahun yang berlalu, rasa sakit itu masih terasa familiar ketika dinginnya angin beku bertiup di hari-hari pertama musim dingin.

 

*   *   *

 

Kali kelima Jongdae bertemu Joonmyeon adalah ketika ia jatuh cinta dengan kata-kata dan bau khas buku bersamaan dengan bibir merah jambu dan rambut keriting.

“Aku tak mengerti.”

“Kau harus.”

“Tapi aku tidak.”

“… tapi kau harus.”

“Bisakah kau jelaskan saja padaku daripada melihat tampangku mengecewakanmu? Untuk kau ketahui, jurusanku awalnya Biologi tapi untuk alasan konyol yang tidak kumengerti, orangtuaku memaksaku untuk masuk Sastra Inggris.” Chen memberi Suho tatapan sangat tak terkesan. “Apa itu bahkan masuk akal?”

“Ya, begitulah,” Suho berucap riang, “Orangtua yang memaksa anak-anaknya masuk jurusan tertentu. Hal yang biasa terjadi.”

“… tapi kebanyakan orang memaksa anak mereka keluar dari Bahasa Inggris dan masuk Biologi. Sepertinya aku adalah kasus langka dari orang tua yang berpikiran biarkan-dia-susah-mencari-pekerjaan-nanti.”

Chen mengerang dan jatuh ke atas meja perpustakaan, membuat salinan Anna Karenina miliknya bergedebuk keras ke meja, dan membuatnya mendapatkan lirikan setan dari para siswa di sekelilingnya.

“Berhenti menjadi pengecut dan tulislah esai analisismu.” Suho menegurnya lembut sambil membuka buku teksnya sendiri.

Chen bergumam dan memutar kepalanya menghadap Suho.

“Hey, kenapa kau masuk jurusan Bahasa Inggris?”

Hening sesaat.

“Bukan.”

“Bukan apa?”

Suho terkekeh. “Aku bukan jurusan Bahasa Inggris.”

Chen langsung duduk tegak di kursinya dan terbelalak pada Suho.

“Tunggu, kau bukan? La-lalu bagaimana?? Ini… dan… itu… dan… Tolstoy dan tunggu, KOK bisa kau bukan dari jurusan Bahasa Inggris?” Chen merepet, ragu.

Suho mengendikkan bahu. “Aku jurusan Matematika dan Fisika, dua jurusan. Mata kuliahku sama sekali tidak bersinggungan dengan Bahasa Inggris. Aku sudah menyelesaikannya di kelas awal waktu tahun pertama.”

“T-tapi… tapi… Tolstoy… bagaimana kau bisa bahkan memahaminya?” Chen merengut dan menyilangkan lengannya.

“Aku tidak tahu, Chen, mungkin aku cuma lebih baik darimu?” canda Suho.

Chen merutuk. “Itu tidak lucu.”

“Aku tahu. Sekarang kembali bekerja.”

Chen menurut, bukan karena ia suka Bahasa Inggris — tidak, belum, tidak akan — namun karena seorang pemuda berambut keriting dengan kacamata yang terlalu besar untuk wajahnya menyuruhnya demikian.

Pada saat ia melihat Suho berdiri di antara pohon persik, dengan bunga merah jambu pucat yang mengelilinginya, pada saat itulah Chen akhirnya mengerti cinta tanpa akhir Gatsby untuk Daisy.

Pada saat Suho menengadah ke langit, dengan punggung menghadap padanya karena ada sesuatu yang romantis tentang bagaimana orang yang kau cinta berdiri jauh darimu, pada saat itulah Chen akhirnya mengerti bagaimana Cyrano mampu menulis puisi demi puisi untuk mengungkapkan rasa kasihnya pada Roxane.

Pada saat Suho berbalik dan tersenyum padanya, dengan cahaya mentari berada di sekelilingnya seperti halo dan membuatnya tampak hampir seperti malaikat, pada saat itulah Chen akhirnya mengerti kesetiaan tanpa batas Carton untuk Lucie.

Kesembronoan dan syaraf yang tergelitik akibat cinta pertama berumur pendek, sayangnya, dan suatu hari Chen menemukan dirinya sendiri berteriak sampai serak pada Suho, suaranya hilang dalam angin beku dan tidak pernah mencapai orang yang setengah mati dicintainya.

Ia memohon padanya untuk tetap tinggal, tidak pergi dan meninggalkannya, namun ia tahu bahwa ia bertindak egois karena ia mengikat Suho pada kehidupan tanpa kemerdekaan. Ia tahu ia harus membiarkan Suho pergi, membiarkannya terbang dan meraih kebebasan, namun ia terluka dan ia tidak ingin merasa terluka lagi.

Cinta yang tak terbalas itu menusuk hatinya bagaikan pecahan kaca, namun melihat cintamu bergulir dari puncak — atau apa itu titik nadir? — menghancurkan duniamu menjadi kepingan yang tidak dapat diperbaiki.

Kata-katanya tertahan di tenggorokannya pada saat ia menyaksikan Suho terjun dari atap perpustakaan kampusnya. Ia tampak melayang di udara selama sedetik, ketika waktu berhenti untuk mengenggelamkan Chen dalam kengerian penuh. Chen berpikir bahwa Suho adalah malaikat dan ada sesuatu yang sungguh menyakitkan saat menyaksikan makhluk yang begitu murni, indah jatuh dan Chen hampir merasa bahwa ialah yang menuju kematian.

Rasa sakit yang tajam menyengat baik benak dan dadanya dan ia jatuh ke lantai sebelum Suho, tangan mencengkeram kepalanya.

Memori berabad-abad menerjang otaknya dan ia melihat Union Jack melambai di udara, lusuh dan koyak. Ia melihat gulungan demi gulungan sutra emas, semuanya bersulam gambar naga, dan ia melihat senyum pedih seorang pemuda tampan yang terlihat begitu tidak nyaman yang digayuti beban negara. Ia melihat salib besi mencemoohnya di bawah sinar bulan dan ia mendengar sayup suara yang menyanyikan Malam Kudus dalam bahasa yang sekarang ia kenali sebagai Bahasa Jerman. Ia melihat seorang bocah lelaki kecil dengan mata cemerlang yang meredup bersama dengan tahun-tahun yang berlalu, dan ia melihat surat takdir mengerikan yang memberitahukannya mengenai kecelakaan mobil tragis, dan ia melihat kematiannya sendiri dalam bentuk kematian orang yang dicintainya.

Ia melihat seorang pemuda kurus yang terkubur dalam buku-buku teks pelajaran yang tidak ia pedulikan — seorang pemuda dengan sayap-sayap yang tercerabut satu demi satu saat ia dengan putus asa mencoba untuk menyambungkan kembali bulu-bulunya.

Ia melihat orang yang ia cintai, tidak hanya dalam kehidupan ini, namun dalam kehidupan lain yang tidak terhitung dalam berabad-abad yang telah dunia saksikan.

Di suatu tempat yang amat jauh, sebuah bel berdenting dan Chen menyaksikan dalam kengerian pada saat tubuh Suho menabrak permukaan. Semen itu berubah merah dan kulit Suho pucat mati, namun Chen tidak bisa membuat dirinya berpaling. Ia beringsut ke arah Suho dan jatuh berlutut. Ia sadar tangannya bergetar saat ia mencapai tubuh Suho namun ia tetap memeluknya. Ia menggendongnya di dadanya, sama seperti Jun Mian menggendong Zhong Da ribuan tahun yang lalu, dan ia biarkan airmatanya membilas darah dari wajah Suho. Ia membuainya di dadanya dan berteriak pada langit kelabu, derita meresap di setiap teriakannya, dan ia menjadi dikenal sebagai Pemuda Yang Mencinta.

 

*   *   *

 

Kali keenam Jongdae bertemu Joonmyeon, mereka adalah pemuda yang mengejar cakrawala gemerlap yang jaraknya hanya beberapa inci dari genggaman mereka.

“Hyung(5), aku bersumpah tariannya tidak seperti itu,” Jongdae berkata keras kepala, “Aku cukup yakin Jongin tidak menari seperti itu.”

“Ssshhh, dengarkan sang master. Akulah yang melewati masa training selama tujuh tahun, helloooo,” balas Joonmyeon, menanggapi komentar Jongdae dengan lambaian malas. “Oke, sekarang ikuti aku, satu-dua-tiga-putar-lima-enam-tujuh-putar, dan satu-dua –”

“Ummm, Joonmyeon-hyung? Apa… yang kau lakukan?”

Joonmyeon membeku dan berputar mendengar suara Jongin.

“Aku sedang mengajari Jongdae koreografi yang baru!” ujarnya cerah.

“… oh, begitukah?”

“Iya!”

“Kok rasanya aku tidak mengenalinya.”

“… oh.”

“KUBILANG PADAMU KAU SALAH MELAKUKANNYA. TAPI AKU PERCAYA PADAMU. BAGAIMANA KAU BISA BOHONG PADAKU.” Jongdae menunjuk Joonmyeon dengan tuduhan, bergeser ke lantai dan bersandar pada cermin di ruang latihan. “Ya Tuhan, jam demi jam latihan itu.”

“… ups.”

“Jongdae-hyung, bangun cepat, kita harus menyempurnakan tarian ini paling lambat minggu depan dan Joonmyeon-hyung jelas-jelas adalah guru yang payah,” tuntut Jongin sambil menarik lengan Jongdae yang separuh lumpuh.

Jongdae mengeluh dan mengusap wajahnya lemah dengan tangannya sebelum bergabung dengan Jongin (dan Joonmyeon, mengejutkan). Ada rasa pegal dan capek dalam tulangnya ketika mereka akhirnya selesai dengan latihan hari itu, namun kata-kata “bagus, Hyung” dari Jongin menyuntikkan perasaan hangat, rasa puas dan semangatnya untuk debut mereka yang tinggal menghitung hari masih mendidih di dalam perutnya.

Jongin pulang lebih dulu karena ia harus pergi ke les tambahan dan Jongdae serta Joonmyeon tinggal di ruang latihan yang gelap berdua saja.

Rasanya nyaman, menurut Jongin, sendiri saja dengan Joonmyeon. Ia tidak pernah banyak bicara dan ada pesona samar darinya. Kau tidak bisa tidak tertarik padanya.

Joonmyeon selesai mengemasi tasnya dan jatuh ke lantai di samping Jongdae dan Jongdae secara instingtif bersandar padanya, menempatkan kepalanya di bahunya. Joonmyeon mengalungkan satu lengannya di sekeliling Jongdae, tidak memikirkan fakta bahwa mereka masih berkeringat selepas latihan dan memeluknya erat.

“Capek?”

Jongdae bergumam sebagai balasan dan menutup matanya.

“Hey, jangan tidur, Nak,” ucap Joonmyeon, bergeser sedikit. “Aku tidak mau menggendongmu pulang.”

Jongdae tidak menjawab dan malahan beringsut lebih rapat ke Joonmyeon.

“Apa kau tidak lapar? Aku akan mentraktirmu makan malam.”

Begitu mendengar kata makan malam, mata Jongdae langsung terbuka dan ia menatap Joonmyeon bersemangat.

“Benarkah, benarkah?”

Joonmyeon tertawa dan sesuatu bergolak di dada Jongdae. Ia samar-samar mengingat langit kelabu dan kilasan-kilasan cinta yang berlalu cepat, hancur.

“Iya. Ayo kita cari samgyupsal(6).”

Joonmyeon berdiri dan melangkah menuju pintu sementara Jongdae tergopoh mengejarnya. Saat itu adalah akhir Februari dan masih ada jejak kepingan salju yang mengambang di udara.

“Aku tidak suka musim dingin,” gumam Jongdae begitu mereka disergap dingin.

“Mengapa tidak?”

“Langitnya kelabu.”

“Apa kau punya kebencian tertentu pada warna abu-abu?” tanya Joonmyeon, tercengang.

Jongdae berpikir beberapa saat. “Nggak. Cuma… semacam pemberontakan terhadap langit kelabu. Mengingatkanku pada sesuatu yang menyakitkan.”

“Mmh.”

Joonmyeon tidak bertanya lebih jauh dan Jongdae bersyukur karenanya, karena ia tidak begitu tahu langit kelabu mengingatkannya pada apa. Yang ia ingat hanyalah kepingan dan rekahan ingatan yang bahkan tampak bukan miliknya, namun di saat bersamaan, ia tahu bahwa itu miliknya. Mereka hampir… hampir seperti berasal dari kehidupan yang berbeda.

Joonmyeon dan Jongdae melangkah ke sebuah warung pinggir jalan dan Jongdae memesan berpiring-piring samgyupsal sampai Joonmyeon berkata, “Perutmu akan meledak dan dompetku sedang menangis. Tolong berhenti.”

Joonmyeon akhirnya menggendong Jongdae pulang juga.

Di jalan menuju asrama trainee, Jongdae mengetatkan lengannya di lehernya dan Joonmyeon merasakan tetesan airmata yang hangat jatuh di bahunya. Ia bergeser sedikit mencoba melirik Jongdae namun ia masih tidur.

Tampilan pemuda yang menangis itu meremas hati Joonmyeon dan ia hanya ingin menghapus airmata itu dan memberikannya tahun-tahun penuh senyum dan tawa.

Ketika mereka sampai di asrama hari sudah sangat larut dan Joonmyeon berakhir di lantai, terkubur dalam selimut cadangan milik Jongdae. Ia bangun lebih pagi dari Jongdae keesokan harinya dan duduk di tepi tempat tidur sambil membaca buku sejarah tentang Revolusi Amerika, menunggu pemuda itu membuka matanya.

Tatkala Jongdae bangun, air matanya sedang mengering di pipinya dan rasa sakit mentah yang ia rasakan di mimpinya masih mengoyak hatinya di suatu tempat di dadanya. Lapisan airmata mengaburkan pandangannya, namun begitu ia berkedip wajah cemas Joonyeon muncul di depannya.

“Jongdae? Jongdae, kau baik-baik saja?”

Jongdae tidak tahu mengapa, tetapi udara serasa direnggut darinya dan paru-parunya tenggelam dalam rasa sakit dan yang bisa ia lakukan hanyalah mengeluarkan isakan dan melilitkan lengannya di tubuh Joonmyeon.

“Hyung, Hyung,” ulangnya, suaranya serak sehabis tidur dan karena sakit di hatinya. “Kau di sini. Kau masih di sini.”

Joonmyeon bingung namun sesuatu yang instingtif menuntunnya untuk merengkuhkan lengannya di sekitar Jongdae, dan ia melakukannya. Ia menyadari bahwa tubuh mereka menyatu sempurna, seperti dua kepingan puzzle. Ujung-ujungnya mungkin aus dan kacau, namun ia tahu bahwa mereka milik satu sama lain.

“Tentu saja aku di sini, Jongdae. Aku akan selalu di sini.”

Cahaya matahari menembus korden Jongdae tatkala Joonmyeon menciumnya.

 

*   *   *

 

“Hey, Jongdae, lihat. Langitnya biru hari ini.”

 

 

 

Catatan:

 

(1) pun tao : Persik keabadian, buah yang konon dimakan para dewa dan dewi agar tetap awet muda dalam mitologi Cina.

(2) Silent Night : Malam Kudus, kidung yang dinyanyikan pada saat Natal.

(3) Hun : Istilah yang biasa dipakai oleh orang Inggris untuk menyebut orang Jerman pada Perang Dunia I.

(4) Ed WHite : Orang Amerika pertama yang melakukan extravehicular activity. Ia pada dasarnya berjalan di angkasa luar di dalam sebuah tabung yang terhubung dengan pesawat luar angkasa.

(5) Hyung : ‘Abang’, panggilan dalam bahasa Korea untuk laki-laki yang dianggap lebih tua, hanya diucapkan oleh laki-laki.

(6) Samgyupsal : Daging bakar khas Korea