image

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Ini selesai kutulis pada dua belas Maret 2015. Mode digital jam laptopku menunjukkan angka 1:15 AM (jika ada yang tidak tau perbedaan AM-PM, kuberi tahu bahwa pukul 1:15 AM itu menunjukkan dini hari) :p

Saat mengetik pengantar ini, mataku udah sepet, lima watt kurang. Jadi, aku gak akan mengetik banyak pengantar. Singkat saja. Aku mau tidur dan bangun esok pagi kayak biasa, dalam keadaan kurang tidur. Baca ulang dan edit-edit alakadarnya biar kalian saja yang melakukan. Kalau melakukan itu saja kalian keberatan, enyah saja dari blog ini selamanya! (Seseorang : Kasar bingits! Kayak blognya bagus aja. │ Nayaka : Halah, kayak gak pernah ketemu preman aja lu!)

Ya sudah. Selamat membaca BULAN EMPAT BELAS HARI, semoga kalian menikmati membacanya seperti aku yang menikmati ketika menulisnya.

Aku kesulitan menerjemahkan judul itu dalam Inggris, by the way. Jadi, pakai Indonesia saja. Lagipula, aku suka angka 4 (gak ada yang nanya!)

Wassalam

n.a.g

##################################################

Memandangnya tak ubah seperti melihat bulan penuh

Bundar, bercahaya, indah

dan mendamaikan

Jika aku adalah malam gelap di kala badai,

kehadirannya serupa bulan berumur empat belas hari

Cahayanya memupus gelap,

Terangnya mengusir badai

Lalu kudapati duniaku baik-baik saja…

***

Aku sedang menikmati pagi yang berbeda. Begitu berbedanya hingga aku merasa bahwa sebenarnya pagi ini sedang berlangsung di alam bawah sadarku. Mungkin, saat ini aku sedang berada di bawah pengaruh hipnotis, segala yang kurasa dan kulihat bukan apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi, aku ingat bahwa baru beberapa menit lalu kami disambut Bik Sipah di beranda, itu tak mungkin terjadi di alam bawah sadarku. Keriput di tangan perempuan tua itu terlalu nyata dalam genggamanku ketika kami bersalaman.

“Aku tau anggrek di dekat jendelamu miliknya, tapi aku tak pernah tau kalau anggrek itu semula berasal dari tempat ini…”

Inilah yang terasa bagai mimpi. Keberadaan Orlando bersamaku di kebun anggrek ini, di pagi buta begini. Jam saat ini tidak mungkin menunjukkan waktu lebih dari setengah tujuh pagi.

Kutoleh Orlando yang memilih menjaga posisinya tetap di belakangku sejak kami datang. Celana olahraga dan oblongnya menghadirkan rindu lain di hatiku. Seharusnya tadi kami kembali berlarian di lorong-lorong komplek, mungkin sambil sesekali melempar candaan. Sudah cukup lama kebiasaan itu meninggalkanku. Kupikir, pagi tadi ketika kutemukan dia termangu di gerbang rumah sudah dengan pakaian siap sedemikian rupa, dia akan mengajakku berlari bersamanya. Tapi yang dia katakan adalah, ‘mari kita kejutkan adik-adik perempuanmu’ dengan keceriaan seorang bocah yang seakan meletup-letup di sekitarnya bagaikan kembang api. Otakku yang baru saja menyalakan dirinya kembali setelah istirahat semalaman butuh belasan detik untuk menerjemahkan pesan itu sebelum akhirnya mengangguk. Jadi, pagi ini saat doa dan harapan baru didesiskan mereka yang yakin, kukemas semua rindu di ujung sandal jepit dan kuikuti ke mana dia membawaku pergi.

“Ya, dulu potnya tepat berada di sana.” Kutunjuk satu bagian pada rangka besi di mana pot bermacam-macam anggrek bulan berjejer cantik. Sementara pandanganku beradu dengan tatapan Orlando, kenangan yang pernah kudapatkan di tempat ini menggoncangku begitu hebatnya hingga jiwaku bergetar, seakan ada tangan gaib yang keluar begitu saja dari tanah, mencengkeram pergelangan kakiku dan menggoyangkanku sekuat tenaganya.

“Dil, kamu baik-baik saja?” Orlando mendekat, aku sudah setengah berharap kalau tangannya akan terulur menyentuhku. Namun dia hanya mengurangi jarak meski aku sempat melihat pergerakan tangannya yang tertahan.

Aku tersenyum padanya, salah satu usaha terkecilku untuk membuatnya terpikat. “Selain lapar karena belum sarapan, selebihnya aku baik-baik saja.”

Orlando balas tersenyum. “Bik Sipah kepikiran bikinin sarapan lebih buat kita gak, ya?”

“Kak Lando bikin malu saja, pagi-pagi buta bertamu ke rumah orang biar dapat sarapan gratis. Aku nyesal ikut.” Orlando cengengesan, dan kusadari kalau sudah begitu lama sejak terakhir kali kulihat dia melakukannya. Tanpa sadar aku sudah tersenyum lagi.

“Beneran nyesal?” tanyanya sambil memiringkan kepala dan menaikkan satu alis, “kok kedengarannya bohong, ya?”

Kupukul lengannya dan dia menanggapi dengan tawa pendek. Ingin saja aku menyerangnya balik dengan mengatakan kalau sudah lebih semingguan ini aku melihatnya berjaga saat dini hari untuk mengamati kamarku, tapi kupikir itu bukan tindakan yang bijak saat ini.

“Kak Ai Ai…!!!”

Lala muncul di pintu, dengan seragam merah putihnya yang rapi dan bersih. Lipatan-lipatan pada rok mininya terlihat menggemaskan. Aku mencari-cari sosok Lili, sementara Orlando berbalik dan mengangkat sebelah tangannya, “Halo, selamat pagi!” Orlando menyapa setengah berteriak.

Lala tertawa, “Dipanggil Mama buat sarapan!” gadis itu kembali berseru.

“Kami segera ke sana!” Orlando balas berseru. Setelah Lala melenyapkan diri kembali ke dalam rumah, laki-laki itu berbalik lagi menghadapku. “See… kita mencari sarapan ke tempat yang tepat.” Dia mengedipkan matanya lalu mendahului menyusul Lala.

Aku menatap punggung lebar Orlando yang bergerak menjauhi kebun anggrek sambil menahan diriku untuk tidak berlari dan melompat ke punggungnya. Kuhela napas panjang dan kurasakan aroma pagi menyerbu masuk paru-paruku.

Tangkai-tangkai anggrek di sekelilingku bergeming kaku, terlihat begitu khidmat, seakan memperhatikan. “Selamat pagi, Jay. Senang bisa bertemu lagi…”

***

Kali ini Syuhada membawa serta kekasihnya berikut sahabat sekaligus calon tunangan sahabatnya ketika berkunjung kembali menjenguk ASJ di rumah. Saat menyambut rombongan itu di teras, aku menyadari betapa mereka telah mengambil peran sangat banyak dalam perjalanan hidupku. Melihat mereka, membuatku sadar bahwa Tuhan sungguh Pemurah dan Pengasih. Bahwa tangan takdir-Nya yang tak terlihat sudah mengatur dengan begitu teraturnya.

Satu hari dulu, aku bertabrakan dengan Syuhada dan menyimpan gelangnya. Saat kami bertemu lagi di perkemahan di mana Kak Gunawan memukau semua orang di depan api unggun, Rani juga hadir yang terlihat bagai sebuah kebetulan saja. Kemudian dalam satu perjalanan pulang ke tanah kelahiranku, aku bertemu Erlangga yang hendak mengunjungi neneknya. Saat itu kukira adalah sebuah kebetulan belaka neneknya tinggal di kecamatan yang sama dengan tempatku bermukim. Tapi lihatlah kini. Kakak angkatku menikah dengan kakak kandungnya Syuhada, Erlangga temanku sudah siap bertunangan dengan Rani sahabat Syuhada, sedang Syuhada sendiri masih menjaga cintanya dengan Kak Gunawan hingga tali jodoh mengikat mereka. Ternyata, keberadaan Rani, Syuhada dan Kak Gunawan di malam perkemahan itu sudah diatur Tuhan dengan begitu baiknya, tanpa kesalahan sekecil apapun, mereka berdiri tepat di tempat seharusnya mereka berada. Dan nenek Erlangga tidak tinggal secara kebetulan di daerah yang sama denganku, itu sudah direncanakan-Nya.

Kini saat melihat mereka datang dengan wajah tersenyum, aku kian meyakini bahwa tak ada suatu apapun hal di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Tak ada kebetulan. Adalah Tuhan yang sudah mengatur dunia dan segala kehidupan di dalamnya dengan keteraturan yang luar biasa, dengan kemungkinan kesalahan nol besar. Sekali lagi, NOL BESAR.

“Halo, Brada.”

Lama tak bertemu membuat Erlangga bertingkah berlebihan ketika menyalami tanganku. Aku batuk-batuk saat dia menabrakkan dirinya padaku dan menepuk-nepuk punggungku berkali-kali dengan tepukan yang keras.

“Kamu ingin membunuhku, hah!?” semburku ketika dia menyudahi tumbukannya di punggungku.

Erlangga tertawa sambil menggaruk kepalanya yang selalu nyaris plontos, aku yakin dia potong rambut seminggu sekali. “Hanya mengekspresikan kangenku saja, Brada.” Dia mengangkat kedua tangannya sejajar dada lalu kembali tertawa.

Kuabaikan Erlangga dan kusalami tiga orang berikutnya satu persatu. “Sepi banget, Dil. Mana yang lain?” tanya Syuhada.

“Iya, mana Orlando?”

Aku mendelik pada Erlangga. “Rumahnya di sebelah,” jawabku. “kamu salah alamat.”

“Ya kupikir dia ada di sini. Kalian kan biasanya sama-sama,” ujar Erlangga sambil membuka alas kakinya.

Kuabaikan Erlangga dan kufokuskan perhatianku pada Syuhada. “Ayah sama Bunda belum pulang kantor. Ayahnya Junior juga. Kak Saif baru pergi beberapa saat lalu, sepertinya main basket.”

“Di tengah kerumitan skripsi gini dia masih sempat main basket?” sela Kak Gunawan.

“Entah, Kak. Yang herannya, aku gak pernah lihat dia uring-uringan masalah skripsi. Bawaannya santai sepanjang waktu.” Kuajak mereka masuk. Syuhada langsung ke dapur untuk memberikan bolu yang dibawanya pada Mak Iyah sementara Rani mendahului menuju kamar Mbak Balqis dengan kotak kado lumayan besar di tangannya. “Jadi, bagaimana perkembangannya?” tanyaku pada dua lelaki yang baru saja menduduki sofa di depanku.

“Apanya?” tanya Kak Gunawan.

“Kalian,” jawabku. “Kak Gun sama Syu, kamu sama Rani―”

“Kenapa dengan kami?” potong Erlangga.

“Kamu dengan Rani, sudah nentuin tanggal?”

“Tanggal apa?” tanya Erlangga kembali, tangannya menjangkau toples keripik dari atas meja dan membuka tutupnya.

“Kabarnya mau tunangan, kan?” aku mulai jengkel.

“Kami yang tunangan kenapa kamu yang recok?” dengan cueknya, Erlangga mulai mengunyah keripik bikinan Mak Iyah.

“Brengsek,” desisku kesal.

Kak Gunawan tertawa. “Mereka tunangan awal bulan depan, Dil. Ini mereka minta ikut kemari sekalian mau ngundang.”

“Tuh, udah dijawab,” tukas Erlangga masih sambil mengunyah. “Kamu gak kuliah hari ini?” lanjutnya.

“Aku baru saja pulang. Kamu gak lihat kemejaku rapi begini?” kutunjuk dadaku.

“Kemejaku juga rapi, tapi aku gak baru pulang kuliah,” balas Erlangga.

“Kamu kan rapi untuk membuat Rani Tayang terkesan,” ledekku.

“Apa aku baru saja dipanggil?” Rani muncul. Apa Mbak Balqis baru saja mengusirnya dari kamar?

“Loh, kok cepat, Beib? Udah lihat bayinya?”

“Junior tidur. Ribut-ribut di kamar nanti dia malah kebangun.”

“Terus, kita gak boleh masuk?” sela Kak Gunawan sambil mendorong bingkai kacamatanya.

“Nanti saja, Kanda. Sekarang kita ngopi dulu.” Syuhada masuk ruang tamu dengan nampan besar di tangan, mug-mug kopi dengan asap mengepul tertata di dalamnya. Di belakang Syuhada, Mak Iyah menyusul dengan nampan yang sama besar, isinya piring bolu.

“Wah, pas bener. Kopi sore.” Erlangga jadi orang pertama yang menerima kopinya, Rani yang menyerahkan mugnya. “Trims, Beib,” ujar laki-laki itu pada kekasihnya sambil tersenyum manis dan mengedipkan sebelah mata.

Terpaku di tempat dudukku, aku tak bisa untuk tidak memperhatikan bagaimana Rani membalas senyum Erlangga sambil tersipu. Sekarang saat sudah tidak lagi berstatus kekasih Orlando, melihat kemesraan sekecil itu saja bisa benar-benar membuatku iri. Kukhayalkan diriku dan Orlando seperti itu, minum kopi bersama di suatu tempat di satu sore. Mungkin kami akan berbagi cangkir.

“Dil, halo?”

Aku menggeragap. “Eh?”

“Kopimu.” Syuhada mengangsurkan satu mug untukku. “Bengong aja.”

“Mikirin Orlando tuh!”

Erlangga benar-benar membuatku jengkel sore ini. Apa maksudnya mengeluarkan ucapan seperti itu? “Apaan sih kamu! Gak jelas banget.”

“Ya kali aja kamu sedang mikirin Orlando. Biasanya kalian kan sering bareng kemana-mana.”

Baiklah, ini yang kedua kalinya makhluk nyebelin itu mengeluarkan kalimat senada yang membuat ubun-ubunku mendidih. Kutahan hasratku untuk mengusirnya keluar rumah atau yang lebih parah lagi menyiram kopi berasap di tanganku ke wajahnya yang cakep dan membuat acara pertunangannya batal karena dia harus memulihkan wajahnya lebih dulu dari luka bakar. Kuletakkan mugku ke meja dan bangun dari sofa. “Untuk memuaskanmu, Tuan Nyebelin, izinkan Hamba menjemput Orlando dan membawanya ke sini untuk menghadap Tuanku!”

Erlangga tertawa, Kak Gunawan geleng-geleng kepala, sedang para cewek terkikik karena menganggap kalimatku lucu. Padahal aku mengucapkannya sambil menindih dongkol di hati.

Aku keluar.

*

Saat kuketuk pintu kamar Orlando, hari sudah benar-benar sore. Aku selalu mendatangi rumahnya di jam yang tak lazim untuk bertamu, meski sebenarnya aku bukan tamu sama sekali.

“Siapa?”

Aku berdeham. “Aku, Kak…”

Tiga detik kemudian pintu kamar terbuka. Aku termangu. Orlando baru saja mandi, rambutnya masih basah berantakan, titik air bahkan masih belum kering dari kulitnya. Dia hanya berhanduk sepinggang. Aku menunduk untuk meredakan debaran di dadaku.

“Baru pulang kuliah?” tanyanya sambil mempentangkan daun pintu, seakan mempersilakanku untuk masuk. Aku tetap berdiri di tempatku dan memberi Orlando sebuah anggukan. “Aku keasikan main basket, lupa menjemput. Maaf.”

Aku mendongak memandang Orlando. Sejak malam setelah kami menonton Big Hero 6 di mana dia mengejutkanku dengan mengakui jika dirinya juga tak bisa mengenyahkanku begitu saja dari hati dan pikirannya, hubungan kami berubah sedikit lebih hangat dibanding masa-masa awal ketika kami benar-benar tampak saling menghindari satu sama lain―maksudku, Orlando yang menghindariku. Sekarang, saat dia meminta maaf karena kelupaan menjemputku, mau tak mau aku merasa tersanjung.

“Kamu tak ingin masuk?” dia mundur selangkah.

Aku masih diam di tempat. “Kak Lando gak bareng sama Kak Saif?” Sangat terlambat bagiku untuk menyadari bahwa seharusnya aku tak bertanya demikian. Ekspresi Orlando terlihat tak suka.

“Kamu kemari hanya untuk menanyakan kakakmu itu?” Orlando menyeka dadanya, memerangkap bulir-bulir air yang ada di sana ke tangannya lalu memercikkannya ke lantai.

Aku menggeleng. “Ada Erlangga di rumah.”

“Terus?”

Apa aku harus mengadu pada Orlando kalau Erlangga meledekku terus-terusan dan mengatakan kalau aku bermaksud mengajaknya ke rumah untuk membelaku dari cowok botak itu? Terdengar begitu konyol. “Emm… mungkin Kak Lando ingin menemuinya.”

“Buat apa?”

Menghajar mulutnya yang usil. Sebenarnya aku ingin menyuarakan kalimat itu, tapi urung. Aku memikirkan jawaban lain. “Saling mengolok-olok seperti biasanya,” jawabku akhirnya setelah diam beberapa detik.

Orlando diam sesaat, lalu seringai kecil muncul di wajahnya. “Dia membuatmu jengkel?” kini dia tersenyum lebar. “Apa dia mengatakan sesuatu tentang kita yang membuatmu kesal?”

Aku mengernyit. Dari mana dia bisa punya pemikiran setepat itu? apa yang diketahui Orlando sementara aku tidak? “Apa maksudnya itu?”

“Apanya?”

“Kalimat kak Lando…”

“Oh, aku cuma asal menanyakan saja.” Alis Orlando bertaut, “Tunggu, apa dia sungguhan mengatakan sesuatu tentang kita?”

“Hari ini dia menyebalkan.”

“Selalu, tidak hari ini aja,” koreksi Orlando.

“Yah, selalu.”

Kami bertatapan. “Masuklah, Dil…”

Di telingaku, kalimat Orlando malah terdengar lain. Lihatlah selagi aku berpakaian. Ada yang tidak beres dengan kupingku. Aku ingin menolak, tapi sebelum lidahku melisankan penolakan, kakiku sudah lebih dulu melangkah masuk.

Orlando tidak bergerak mundur. Aku berhenti satu langkah di depannya. Tatapannya yang tepat menghujam ke dalam mataku membuatku gemetar. Aku ragu apakah gemetar ini karena aku takut akan tatapannya atau karena aku terlalu berharap ditatap seperti itu olehnya setelah sekian lama tak pernah lagi. Dengan tangan kirinya, Orlando mendorong daun pintu hingga menutup tepat di belakangku. Lalu dia bergerak maju. Perlahan saja, tapi dengan jarak kami sesingkat ini, tak butuh waktu lama untuk membuatnya hampir padaku.

Ketika Orlando bergerak maju, aku refleks memundurkan diriku. Punggungku menempeli daun pintu. Tak ada lagi ruang di belakangku. Aku tertahan di sini, di depan Orlando dengan tatapan tajamnya yang nyaris tidak kukenali. Hari ini dia mengintimidasi.

Yang terjadi selanjutnya adalah : kami berciuman. Tidak, bukan berciuman. Orlando menciumku. Dikatakan berciuman bila kedua pelakunya sama-sama aktif, tapi aku terlalu shock untuk membalas perlakuan Orlando. jadi, dia menciumku. Mencium dengan begitu perlahan hingga kupikir dia hanya menempelkan saja bibirnya di mulutku, menempelkan begitu saja. Tapi, dia menciumku.

Aku tak ubahnya patung lilin koleksi Madame Tussauds. Pasif. Bahkan ketika dada bidang Orlando menekanku hingga punggungku kehilangan lengkungnya karena benar-benar rapat ke pintu, aku makin kehilangan tenagaku. Sesuatu yang berdenyut dan mengeras secara ajaib di balik handuk di antara paha Orlando menekan perutku. Aku terkejut ketika kurasakan kulit Orlando yang basah di telapak tanganku. Aku sudah memeluk tubuh laki-laki di depanku ini tanpa sadar. Badannya sejuk. Tentu saja, dia baru mandi. Aroma sabun dan shampoo masih terjebak di kulit dan rambutnya.

Mendadak hasrat untuk balas dendam menggelora dalam dadaku. Gelegaknya naik dan berkumpul di kerongkonganku. Tanganku mengendur perlahan dari punggung Orlando sebelum kembali jatuh lurus di kedua sisi badanku.

Ketika Orlando melepaskan mulutku dan menunduk semakin dalam untuk menyentuhkan bibirnya ke leherku, kudapatkan kembali napasku. Dan apa yang tadinya tertahan di kerongkongan kini menyembur keluar seperti gas yang mengalir lewat pipa tabung dan terbakar di permukaan kompor.

“Kita udah putus, Kak…” Kurasakan otot-otot Orlando menegang kaku. Bibirnya diam di tepi kerah kemejaku. “Kita udah putus,” ulangku lebih tegas dari sebelumnya. “Kita tak seharusnya melakukan ini di saat sudah tak berstatus sebagai kekasih lagi…”

Orlando menarik dirinya, dan kurasakan diriku bagai wadah kosong. Hampa, tidak terisi. Segala keceriaan yang kupunyai sebelumnya bagai tercerabut paksa dari dalam diriku dan hilang tak berbekas. Menyakitkan. Aku ingin menarik semua kata-kataku, semua kata-kata yang pernah kudengar dikatakan olehnya. Beginikah sebenarnya yang dirasakan Orlando saat menolakku waktu itu? Apakah dia juga sesakit ini saat menemukan bagaimana kesakitan yang terpancar dari mataku tika itu? Karena rasanya kini benar-benar sakit ketika menemukan dirinya yang menatapku demikian putus asanya. Matanya penuh luka.

“Maafkan aku, Dil…” Orlando berbalik memunggungiku tepat ketika aku sempat melihat matanya mulai berkaca.

Aku menyesal. Sungguh, aku menyesal. Seharusnya aku melupakan kata-kata itu selamanya, seharusnya aku tak pernah mengingatnya sama sekali sejak malam itu. Seharusnya kubiarkan saja Orlando. Bukankah aku mengingankan dia kembali jadi Orlandoku yang dulu? Seharusnya tetap kudekap dia, atau kulepaskan handuknya. Tapi aku bertindak bodoh. Padahal baru saja Orlando mendeklarasikan hubungan kami lewat tindakannya, bukankah tindakan nyata lebih penting ketimbang kata-kata? Bahkan kalimat menggantungnya di parkiran bioskop sama sekali tidak sebanding dengan apa yang baru saja terjadi yang diprakarsai olehnya sendiri.

Aku menyumpahi diri dalam hati.

Orlando berjalan ke lemari pakaiannya dan mempentangkan semua pintunya. Dia termangu sejenak, lalu menolehku lewat pundaknya. “Apa tamu-tamu di rumahmu masih belum pulang hingga malam nanti? Jika iya, aku akan ke sana setelah makan malam, untuk say hi.”

Aku ingin minta maaf dan menarik semua kalimatku sebelumnya yang menyakitinya. Tapi yang kulakukan malah membuka pintu kamar dan pergi meninggalkannya.

*

Shalat Maghribku tidak khusyu’. Bahkan suara merdu Kak Gunawan yang malam ini menggantikan Ayah mengimami kami tidak sanggup membuatku istiqamah selama shalatku. Yang kuingat dalam ruku’ dan sujudku adalah ego terluka Orlando dan pertanyaan yang menggema berulang-ulang dalam kepalaku : apakah masih ada kesempatan untuk memperbaiki hubunganku dan Orlando setelah kebodohan paling bodoh yang sudah kuperbuat?

Kalimat sialan itu. Ya, kalimat sialan itu, telah mengembalikan hubunganku dan Orlando ke malam itu lagi. Kali ini aku sendiri yang jadi bangsatnya. Damn it. Padahal betapa kami sudah bercengkerama akrab kembali seminggu terakhir ini.

Di meja makan, aku bertanya-tanya, apakah Orlando akan datang seperti katanya tadi? Akankah aku melihatnya berdiri di jendelanya lagi dini hari nanti setelah apa yang terjadi sore tadi di kamarnya?

Aku boleh sedikit berbahagia, karena Orlando memegang kata-katanya. Dia sungguhan datang, berbaur dengan yang lain dan tertawa bersamaku seolah aku tak pernah melukai egonya sore tadi.

Well, kulihat sampai saat ini kamu masih konsisten, Ngga.”

“Konsisten sama Rani Tayang maksudmu?”

“Bukan. Konsisten mendapatkan apapun yang geratis. Kamu sengaja gak mau pulang biar bisa makan malam gak bayar di rumah Aidil, kan?”

Aku tertawa mendengar ucapan Orlando. Teringat olehku kejadian ketika kami pulang piknik satu kali dulu. Orlando juga mengatai Erlangga doyan gratisan, sedang cowok plontos itu balas mengatai Orlando pelit. Kini mereka kembali berhadapan untuk saling mengolok-olok.

“Tentu saja. Ini Aidil, bukan kamu. Jika bertamu ke tempatmu, bisa jadi aku gak bakal dapat segelas minum pun.”

“Great. Dua siswa taman kanak-kanak baru saja saling mencela.” Kak Saif menyandarkan punggungnya ke tiang balai-balai sambil terus sibuk memencet-mencet layar ponselnya.

Dikatai sebagai siswa TK membuat Erlangga berbalik meledek Kak Saif. “Terserahlah ya. Yang penting Rani Tayang gak hijrah ke Malaysia.”

Semua orang yang ada di balai-balai sangat tahu maksud kalimat Erlangga. Kulirik Kak Saif, kakakku itu hanya mendiamkan diri dengan mata lurus ke layar ponsel.

“Sayang aja punya wajah cakep tapi akhirnya tetap jomblo juga.”

Aku tak bisa memastikan ditujukan kepada siapa kalimat Orlando, buat Kak Saifkah atau buatnya sendiri yang masih belum balikan dengan pacarnya, dalam hal ini aku sendiri.

“Ngatai diri sendiri ya, Do?” ejek Erlangga.

Orlando diam, tapi lirikan kami bertemu. Dia mendesah dan mengalihkan pandangan pada bulan purnama sembilan puluh persen di langit berbintang.

Kak Gunawan yang mendiamkan diri sejak kami duduk di balai-balai bersuara setelah berdeham kecil. “Apa kabar Ruthiya, Sef?”

Aku menunggu-nunggu jawaban apa yang akan diberikan Kak Saif. Dan sepertinya semua orang juga menunggu-nunggu. Erlangga bahkan menegakkan punggungnya. Dia dan Kak Gunawan memang belum tahu kabar bubarnya kakakku dengan pacarnya itu.

“Dia baik.”

“Kak Saif sudah bicara dengan Mbak Tiya?” aku tak sabar untuk bertanya. Tadinya ingin kutanyakan apakah dia sudah mau mengangkat panggilan telepon Mbak Ruthiya atau membalas pesan atau e-mailnya.

Kak Saif mengangguk. Dan hanya mengangguk.

“Kapan?” desakku.

“Kamu anak kecil ngapain nanya-nanya masalah orang dewasa!”

“Orang dewasa yang sama sekali gak bersikap dewasa dengan mengabaikan mantan pacar. Bahkan anak kecil pun akan kembali bersenda gurau dan berkejar-kejaran dengan anak kecil lain yang menjadi teman berantemnya sehari-hari.” Orlando menukas kalimat Kak Saif.

Sebenarnya tadi aku sempat ingin menendang Kak Saif hingga jatuh dari balai-balai. Tapi pembelaan Orlando menyabarkanku. Meski di kupingku pembelaannya itu terdengar sama seperti mengatai dirinya sendiri. Jika tak ada Erlangga dan Kak Gunawan, aku ingin saja berseru, ‘Hei, Dude! Bukankah kamu juga mengabaikan aku setelah kita bubaran?’

“Tunggu,” sela Erlangga sambil mengacungkan tangannya ke atas. “seseorang bisa bantu aku memahami fakta yang kulewatkan? Sudah lama aku gak ngikutin infotainment,” katanya lebay.

“Makanya, jangan terlalu ngebet ngejar gratisan!” ledek Orlando gak ada hubungan sama sekali dengan maksud Erlangga.

“Kambing jantan jangan mengembik dulu, bisa?” Erlangga kembali fokus pada Kak Saif.

“Sesama kambing dilarang saling mengatai,” ujarku.

“Anak kecil juga diam dulu.” Sekarang Erlangga menyasarku.

“Gak tahu terima kasih, udah makan gratis di rumahnya, sekarang malah ngatai.”

Aku tersenyum mendengar kalimat Orlando. Terlepas dari apakah dia balas mengatai Erlangga dan mengabaikan fakta bahwa secara tak langsung ketika berujar tadi aku juga mengatainya ‘kambing’, kuanggap ucapannya barusan dimaksudkan untuk memihakku. Dan itu juga membuatku senang.

“Kalian semua, berhenti bersikap konyol.” Kak Saif menengahi lalu memandang Kak Gunawan, “Bukan kamu yang kumaksudkan, Gun.”

Kak Gunawan tersenyum maklum dan memperbaiki letak kaca matanya. “Jadi, apa yang terjadi dengan kalian?”

Kak Saif mendesah, nyaris seperti orang yang sedang putus asa. “Aku gak bisa meneruskannya lagi, Gun. El-de-er tidak seperti yang kupikirkan, itu sangat melelahkan…”

Kudengar Orlando mendengus. Maksudnya pasti untuk mencemooh Kak Saif. “Mungkin lu aja yang gak sepenuh hati memperjuangkannya, Sef… mungkin lu aja yang masih plin-plan, antara benar-benar cinta Ruthiya atau seseorang lain yang gak berjarak di sini.”

Tuh kan, benar. Aku tahu bermuara ke mana kalimat Orlando. Mungkin Kak Saif juga tahu. Kak Saif menatap karibnya sekilas sebelum kembali berbicara pada Kak Gunawan, seakan cuma Kak Gunawan yang ada di sini dan bisa paham kalimatnya. “Aku udah cukup berusaha, Gun. Orang-orang boleh saja membualkan omong kosong apapun tentang el-de-er sesuka mereka, yang baik atau yang buruk, tapi aku yang menjalaninya punya pandangan sendiri.”

Semua orang diam. Menunggu Kak Saif melanjutkan ucapannya. Keheningan diisi suara jangkrik dan sayup percakapan dari dalam rumah. Kubayangkan Rani dan Syuhada bercengkerama dengan Mbak Balqis dan Bunda sambil menonton sinetron di tv.

“Aku lelah. Aku gak seperti kamu dan Erlangga, kekasih kalian di sini, setiap waktu ada di sini. Kapan pun kalian merindukannya kalian bisa melihatnya, senyata melihat diri kalian sendiri. Sedang aku…” Kak Saif membuang napas panjang, “aku merindukan sosok yang tak ada di sini, rasanya bagai berpacaran dengan hantu. Ruthiya tak lagi nyata.”

“Mbak Tiya nyata, Kak!” aku tak terima ucapan Kak Saif. “Cintanya buat Kak Saif nyata.”

Kak Saif mendengus. “Kamu gak paham rasanya, Aidil! bahkan aku ragu kamu mengerti apa itu cinta.”

Aku kaget dengan nada suara Kak Saif, hampir bisa dikatakan kalau dia baru saja membentakku. Aku terpaku dengan mulut terbuka.

“Kenapa harus begitu marah, Sef? Aidil hanya menyuarakan apa yang dipikirkannya, dan menurutku dia benar, cinta Ruthiya buatmu itu nyata. Dia benar-benar mencintaimu. Yang meragukan tuh justru lu sendiri―”

“Kamu dan Aidil sama saja! Pandai mendikte orang sementara cinta kalian sendiri juga kacau-balau!” Potong Kak Saif cepat, dia bahkan mengganti kata gantinya buat Orlando. Tanda bahwa dia sedang benar-benar bicara serius, atau sedang marah. Dan, apa yang baru saja dikatakannya? Cinta kalian? Ya ampun. Aku berdoa agar Kak Saif menjaga ucapannya, tapi sepertinya Tuhan sedang berpaling dariku. “Kalian berdua sama saja, entah kalian dungu atau terlalu buta, atau terlalu gengsi. Kalian saling cinta, tapi memaksa diri untuk saling menyakiti―”

“Kak!” seruku dengan wajah pucat. Sementara Orlando menunduk dengan tangan terkepal.

“Tidakkah kalian lebih dungu dariku?”

PAAMMM

Semua orang terkesiap. Erlangga dan Kak Gunawan kebingungan, atau shock. Keduanya kaku bagai patung. Tapi aku sangat yakin mereka tidak terlalu bodoh untuk memahami apapun maksud kalimat Kak Saif.

Rasanya aku siap menangis. Kugigit bibirku kuat-kuat untuk membendung emosiku sendiri, dan kurasakan asin darah merembes ke ujung lidahku saat itu juga. Orlando beringsut dari balai-balai. Aku bisa melihat badannya masih bergetar, emosinya masih belum terluapkan meski baru saja kepalannya meninju rahang Kak Saif. Tanpa berkata apapun, Orlando mengenakan sandalnya dan berjalan dengan langkah lebar menuju rumahnya.

Kak Saif kaku di tempatnya, aku bisa melihat kalau sudut bibirnya merah. Aku tak kasihan. Jika menurutkan hati, aku sangat ingin mengulang tindakan Orlando di wajahnya. Bukan satu kali, tapi bertubi-tubi.

Aku terluka. Sakitnya melebihi sakit yang kurasakan ketika Orlando mengucap putus. Kak Saif tega mempermalukanku sedemikian rupa. Aku merasa ditelanjangi dan dipermalukan hingga ke borokku. Rahasia tergelap dan terbusukku dipertontonkan, di depan dunia. Kutatap Kak Saif dengan pandangan buram. Aku tak bisa menahan air di balik kelopak mataku lebih lama lagi. “Makasih banyak, Kak. Kak Saif sangat baik…” aku mengikuti Orlando turun dari balai-balai, kuabaikan Erlangga yang memanggilku dan langsung menuju teras.

Di pintu depan aku berpapasan dengan rombongan Syuhada, mereka sepertinya hendak pamit. Mbak Balqis mengantar mereka hingga ke teras. “Dik Bungsu kenapa?” tanya Mbak Balqis ketika aku melewati mereka tanpa menyapa sama sekali sambil menundukkan wajah.

“Gak apa-apa, Mbak,” jawabku sambil terus berjalan. Tak kuhiraukan mereka yang menatapku kebingungan. Entah jadi apa duniaku jika Kak Gunawan dan Erlangga membicarakanku dengan pacar mereka masing-masing. Aku tak berani membayangkannya.

Andai aku bisa menghilang, aku akan menghilang. Andai aku punya kekuatan untuk berpindah ribuan mil dalam sekejapan mata, aku akan berpindah. Akan kuajak serta Orlando bersamaku, ke tempat di mana tak ada satu manusia pun yang kenal kami.

Namun, hidupku bukan novel sci-fiction.

***

Kak Aiyub membiarkan bahunya basah air mataku, dia sendiri yang menyandarkan kepalaku di bahunya. Sementara Kak Fardeen termangu bersandar di satu kaki ranjang, menatapku penuh pengertian dan jauh dari kesan cemburu atau tak suka karena aku memepeti prianya. Saat aku tiba di rumah Kak Aiyub, pacarnya sedang berkunjung. Aku tak bisa menunggu hingga Kak Fardeen pulang, atau aku yang pamit dan berkunjung di lain waktu. Beban yang menghimpit dan menyesakkan dadaku tak bisa kupendam lebih lama lagi. Jadi, aku bercerita pada mereka berdua, sambil berusaha keras untuk tidak terlihat cengeng.

Mulutku memang berhasil untuk tidak mengeluarkan satu isakan pun, tapi mataku benar-benar sialan.

“Merasa baikan?” tanya Kak Aiyub sambil menoleh kepalaku di bahunya. Laki-laki itu hanya memberikan bahunya untukku, setelah menyandarkan kepalaku di di bisepnya, dia kembali menyatukan kedua tangan di pangkuannya dan duduk tenang sementara aku berusaha menghentikan airmataku.

Aku mengangguk. Kutarik kepalaku menjauhi bahunya dan kuseka mataku dengan punggung tangan.

“Kamu sudah bicara dengan Orlando?” lanjut Kak Aiyub.

Aku menggeleng. “Aku gak tahu harus bicara bagaimana, Kak. Semua terasa canggung.”

“Sama Saif? Maksudku, apa dia sudah bicara denganmu, minta maaf atau apapun itu namanya…”

Aku menggeleng lagi. “Aku gak mau ngobrol lagi sama dia, Kak.”

“Bagaimana dengan anak bernama Erlangga dan Gunawan itu? mereka menghubungimu?”

“Aku malu, Kak. Jika pun mereka menghubungiku, mungkin aku terlalu takut dan tak punya muka untuk bicara dengan mereka.”

“Hemm…” Kak Aiyub meluruskan kakinya, sampai saat ini kami bertiga masih duduk di lantai, Kak Fardeen bersandar di kaki ranjang sedang aku dan Kak Aiyub memilih memunggungi dinding kamar. “Erlangga ini, anak yang kita papasi di lampu merah tempo hari, kan?”

Aku mengangguk. “Iya, yang sempat Kak Aiyub bilang ganteng itu,” kataku tanpa pikir-pikir. Kak Fardeen sontak memandang pacarnya dan aku baru menyadari kalau ucapanku barusan seharusnya tak perlu kuucapkan.

Dipandang demikian oleh pacarnya, Kak Aiyub batuk-batuk. “Kamu lebih ganteng…,” katanya buat Kak Fardeen sebelum kembali fokus padaku. “Katamu, Erlangga itu sahabat.”

“Memang.”

“Bukankah seharusnya dia memahami kamu, apapun dirimu?” Kak Aiyub menatapku, “Seharusnya begitu kan yang dilakukan seorang sahabat?”

Aku diam, mencoba memikirkan kalimat Kak Aiyub. “Bagaimana kalau dia tak ingin lagi bertemu aku, bahkan tak mau lagi bicara denganku? Bagaimana kalau dia menghindar karena takut ter―” Aku menghentikan ucapanku begitu saja, tak kuasa untuk mengucapkan kata menyakitkan itu.

“Kita bukan penyakit, Dil. Kita tidak akan menularkan apapun.”

“Orang-orang tidak sependapat dengan kita, Kak. Dunia tidak sepaham dengan kita. Dan ya Tuhan, bagaimana kalau mereka bercerita pada orang lain? Pada pacar mereka yang sangat kenal aku dan keluargaku?”

“Berarti mereka bukan sahabatmu, Dik.” Kak Fardeen yang sedari tadi mendiamkan diri tiba-tiba bersuara. Tatapannya tetap tenang dan teduh seperti biasa, aku masih saja ingat Kak Adam jika melihatnya. “Sahabat tidak akan melakukan itu…”

“Bagaimana kalau mereka melakukannya?” tanyaku gusar.

“Mereka tak akan melakukannya,” Kata Kak Fardeen lagi.

“Bagaimana kalau Kak Fardeen salah?”

“Fardeen bukan nabi, Dil, tentu saja dia mungkin salah. Tapi aku sependapat, mereka tak akan bercerita ke orang lain, tidak sebelum mereka bicara denganmu.”

“Jadi, menurut Kak Aiyub mereka akan berkoar-koar setelah bicara denganku? Setelah mengkonfirmasi kebenaran maksud ucapan Kak Saif pada diriku langsung?”

Kak Aiyub terdiam. Hening menggantung beberapa lama. Lalu dia mendesah dan menepuk pundakku, “Aku akan selalu jadi saudaramu, Dil. Jika keadaan nanti memang seburuk yang kamu takutkan, kamu bisa ke sini.”

“Kak Aiyub berbicara tentang kemungkinan aku akan di usir jika keluargaku tau?” aku pucat. Laki-laki itu mendiamkan diri. Lalu aku mulai ingin menangis lagi.

“Hei,” panggil Kak Fardeen. “Jangan mengkhawatirkan hal buruk semacam itu yang kemungkinan terjadinya hanya satu banding sembilan. Yang pertama-tama harus kamu lakukan adalah menemui Orlando, namanya Orlando kan? Dik Aidil perlu bicara dengannya. Di saat seperti ini, kalian akan saling membutuhkan satu sama lain, menguatkan satu sama lain. Bagaimanapun bentuk hubungan kalian berdua saat ini, masalah yang sedang timbul sekarang adalah masalah kalian berdua. Jadi, kalian juga harus menghadapinya bersama-sama.”

“Ya, Dil. Kamu harus menemuinya. Kasihan Lando tau. Dia menanggung ini sendirian. Saat kamu di sini bercerita denganku dan Fardeen, mungkin di rumahnya Lando sedang frustrasi, sendirian dan marah. Bagaimana kalau dia nekat lompat dari jendela?”

“Ay!” Kak Fardeen menegur pacarnya. “Jangan ngelantur.”

Kak Aiyub mesem-mesem dipanggil ‘Ay’, sedang aku sibuk menatap mereka bergantian. “Gak ngelantur, Beb, cuma nakut-nakutin aja kok.”

“Oh, bagus sekali. Aku terjebak di antara ayam dan bebek yang sedang kasmaran. Fantastis.” Kak Aiyub menyikutku sebagai bentuk protes sedang pacarnya tertawa pendek. “Yang benar saja,” lanjutku. “itu alay sekali. Kalian sudah mau sarjana tapi manggil pacar seperti masih esempe. Tak ada panggilan yang lebih dewasa?”

“Justru itulah, saat esempe dulu belum ada tuh panggilan-panggilan sayang semacam itu, walau ada, tapi belum punya pacar. Ketika sudah sebesar ini dan punya pacar, panggilan sayang aneh-aneh, unik dan gak biasa bertebaran, tapi untuk menggunakannya sudah terlalu tua.” Kak Aiyub menghela napas. “Di situ, kadang saya merasa sedih…”

Aku melupakan masalahku sejenak dan tertawa pendek mendengar kalimat Kak Aiyub. “Kak Aiyub belum cukup tua tauk!”

“Makasih,” balasnya sambil menyatukan tangan di depan muka dan membungkuk padaku.

“Sama-sama.”

Obrolan yang terhenti begitu saja serta keheningan yang menggantung di atmosfer kamar menarik semua fokusku pada satu nama. Orlando Ariansyah. Sedang apa dia saat ini? Bagaimana keadaannya? Kepada siapa dia akan mengeluh?

***

Aku tiba di rumah dan kudapati Kak Saif sedang duduk di undakan teras, seperti sengaja menungguku. Aku sudah terlalu sering memaafkannya selama ini, sudah terlalu sering menerima penjelasannya. Kali ini, apapun dampaknya, aku akan membatukan diri, mengeraskan hati, mengelukan lidah, membutakan mata dan menulikan telinga. Sengaja tidak meliriknya sekilaspun, aku mantap mendaki undakan teras dengan maksud terus melewatinya begitu saja, mengupayakan semaksimal mungkin bersikap seolah-olah dia tak terlihat. Tapi sebelah tangannya berhasil menjangkau kakiku.

“Kita perlu bicara,” ucapnya datar.

Tentu saja, tipikalnya selalu begitu. ‘Kita harus bicara’ adalah kalimat andalannya setiap kali kami bermusuhan. Tapi kali ini aku bersumpah dia tidak akan mendapatkan pembicaraan apapun denganku. Ananda Saif Al Fata, persetan denganmu!

“Kita perlu bicara,” ulangnya.

Aku masih menegakkan dagu, menatap pintu sambil menarik kakiku agar terlepas dari tangannya, tapi dia memegang ujung celanaku terlalu erat.

“Dil, kita perlu bicara,” ulangnya sekali lagi.

Aku menendang lengannya dengan kakiku yang bebas. Sekilas kulihat dia meringis, tapi aku tak merasa kasihan sedikitpun. Begitu pegangannya terlepas, aku bersiap lanjut mendaki undakan teras. Tapi dia malah berdiri dan tangannya yang kena tendang berhasil menangkap tepi kemejaku.

“Kita harus bicara, Dil!”

Jika tadi kakiku yang bertindak, sekarang tanganku yang bekerja. Kukepal tinjuku dan sekuat tenaga kupukulkan ke lengannya yang memegang bajuku. Kak Saif kini benar-benar meringis, sementara aku merasakan tanganku kesemutan.

Saat dia menunjukkan ke-keras-kepala-annya dengan kembali hendak menahanku, aku mundur dan mengangkat telunjukku. Gerakan tangannya berhenti di udara, dua jengkal dariku. “Sekali lagi Kak Saif menarik bajuku, aku bersumpah kita akan berkelahi! Jangan bilang aku tidak memperingatkan!” aku yakin mataku sudah menyala-nyala penuh marah.

Hening. Kami bertatapan satu sama lain dalam diam. Lima detik kemudian ekor mataku menemukan tangan Kak Saif yang tadinya tertahan di udara bergerak maju perlahan-lahan, menuju kemejaku. Tepat di saat ujung jarinya menyentuh kemejaku, aku meninju dadanya. Benar-benar meninjunya hingga dia terdorong ke halaman. Celakanya, jari-jari tangannya yang sudah berhasil mencengkeram kemejaku di bagian depan membuatku ikut terhuyung bersamanya. Satu kancing kemejaku tanggal. Kami jatuh bergedebukan di rumput, nyaris menyenggol pot bougenville Bunda.

Aku marah dan bangkit untuk kemudian berlutut di atas Kak Saif. Lalu…

PAMM

PAMM

PAMM

PAMM

Yang terjadi adalah, aku meninju muka Kak Saif bertubi-tubi bagai orang hilang akal sedang dia hanya berusaha menangkap tanganku yang terus melesatkan tinju ke mukanya. Kak Saif tak membalas. Padahal jika mau, dia bisa menyodok punggungku dengan menekuk lututnya hingga aku terpelanting ke depan atau meninju perutku hingga melilit dan terjungkal ke belakang. Tapi dia tidak melakukan satupun kecuali membiarkanku menghajar wajahnya.

Aku baru berhenti ketika Mak Iyah tergopoh-gopoh menuruni tangga teras sambil terus-terusan menyuruh kami berhenti.

“Nak Aidil, kenapa ini? Sudah, sudah…” Mak Iyah memegang kedua bahuku dan menarikku untuk bangkit dari badan Kak Saif yang terbaring di rumput. “Kenapa ini? Apa yang salah?”

Aku terengah-engah sementara Mak Iyah mendekati Kak Saif dengan wajah penuh kekhawatiran. Sepertinya cuma Mak Iyah yang menyadari keributan di luar, kemungkinan besar Mbak Balqis sedang tertidur atau terlalu jauh untuk menyadari apa yang terjadi di halaman, sementara anggota keluarga lainnya masih belum kembali dari tempat kerja masing-masing.

“Ada apa ini, Den? Kenapa berkelahi?” Mak Iyah membersihkan rumput kering yang mengotori pakaian Kak Saif sementara anak majikannya itu menyeka hidungnya yang berdarah. Kerut-kerut kekhawatiran dan juga kebingungan serta tak habis pikir terlihat makin jelas di wajah Mak Iyah.

“Gak apa-apa, Bik.” Kak Saif melirikku sekilas lalu kembali berbicara pada pembantu rumahnya yang sekarang sedang mengawasi hidungnya yang berdarah. “Kami cuma salah paham,” sekali lagi Kak Saif melirikku, “Ya kan, Dek?” dia meminta pembenaranku.

Sekarang Mak Iyah kembali memandangku. Aku melirik Kak Saif dengan sisa-sisa napasku yang masih memburu, lalu mengangguk satu kali. “Salah paham yang salah sekali…,” desisku nyaris tak terdengar.

“Salah paham apa, kenapa bisa sampai pukul-pukulan begitu?” Mak Iyah memandang Kak Saif, meminta jawaban. Saat Kak Saif cuma diam, perempuan tua itu mengalihkan fokusnya padaku. “Nak Aidil, jawab Mak. Kenapa sampai mukulin Kak Saif hingga babak belur begini?”

Oh ayolah, Mak. Itu hanya memar sedikit. Apanya yang babak belur. Dia pantas dibuat lebih babak belur dari yang sudah didapatkannya sekarang. Aku berdecak. “Gak tau, Aidil tadi kesurupan kayaknya,” jawabku asal.

Mak Iyah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Terus, Den Saif…” Mak Iyah gantian memandang Kak Saif. “Kenapa tidak menghindar, malah sengaja nerima dipukuli.” Kak Saif tidak menanggapi dan Mak Iyah kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kalau sampai Ayah sama Bunda kalian tahu, apa jadinya?”

Aku mengangkat bahu, “Paling Aidil diusir.” Pandanganku beradu dengan Kak Saif, aku melengos dan mengatupkan rahangku. Namun, melihat hidungnya yang merah dan pipinya yang kebiru-biruan entah mengapa malah membuatku sedih. Amat berbeda dengan apa yang kurasakan ketika menghajarnya tanpa perlawanan sesaat tadi. Saat ini, kurasa aku sedikit menyesal.

Mak Iyah kembali geleng-geleng kepala. “Sudah, masuk sana mandi,” suruh Mak Iyah padaku. Tanpa membantah, aku balik badan dan naik ke teras.

“Bik, jangan ngaduin ke Ayah juga Bunda, ya? Sama Kak Adam dan Mbak Balqis juga. Pokoknya jangan sampai mereka tahu. Tolong ya, Bik…”

Dalam perjalanan menuju pintu depan, samar-samar aku mendengar Kak Saif berbicara demikian pada Mak Iyah. Aku ragu Mak Iyah akan menyetujui permintaannya. Tapi ketika kutolehkan kepalaku ke belakang saat sudah berada di ambang pintu, kutemukan perempuan tua yang sudah kuanggap emak sendiri itu mengangguk sambil memijit-mijit keningnya.

***

Malamnya aku tidak menemukan Kak Saif di meja makan. Tentu saja dia menghindar agar Bunda dan yang lain tidak bertanya tentang wajahnya yang memar. Tapi ketidakberadaannya tetap saja disadari semua orang.

“Mana Dik Gede?” tanya Mbak Balqis. Kak Adam baru saja selesai mengisi piring istrinya. Isinya cuma nasi dan sayur bening berikut sepotong besar daging yang kurasa dimasak khusus oleh Mak Iyah untuk istri anak majikannya. Mbak Balqis masih dalam masa pantangan. Dia juga harus menjaga diet makannya karena harus menyusui.

“Dil, panggilkan Saif.” Kak Adam menyuruhku sambil meletakkan piring di depan istrinya.

Tentu saja aku ingin menolak untuk memanggil atau beralasan agar tidak melakukannya jika bisa. Sayangnya aku tidak bisa. Tapi Bunda menyelamatkanku. “Nanti kalau lapar dia juga turun sendiri, biarkan saja,” kata Bunda tepat saat aku sudah bangun dari kursi.

Kembali kududukkan bokongku di tempat semula. Tapi kini pikiranku tertuju pada Kak Saif. Apa di kamarnya dia baik-baik saja? Apa bekas hajaranku membuatnya kesakitan hingga sekarang? Mendadak aku tak tenang. Kuisi piringku dengan nasi dan lauk lalu kembali bangun dari kursi. “Aidil akan makan di dapur sama Mak Iyah,” pamitku pada semua orang dan meninggalkan meja makan.

Di dapur, kutemukan Mak Iyah sedang duduk di tempat biasa. Piring di depannya masih utuh. Aku sangat sering menemaninya makan. Bersama perempuan tua itu, aku mendapatkan suasana makan persis seperti di rumahku, bersama ibuku sendiri semasa hidupnya. Mak Iyah bukan tak pernah diminta untuk bergabung di ruang makan, tapi tetap saja asisten rumah tangga itu lebih suka makan di dapur.

Aku duduk di depan Mak Iyah sambil menundukkan kepala. “Kak Saif gak ikut makan…,” kataku cukup pelan. Kuangkat wajahku untuk menatap Mak Iyah, perempuan tua itu juga sedang menatapku. “Minta tolong bawakan makan Kak Saif ke kamarnya ya, Mak…”

Mak Iyah menghela napas. “Kenapa Nak Aidil gak bawa sendiri?”

Aku menunduk lagi dan mendiamkan diri.

“Sudah, sana antar makannya, sekaligus maaf-maafan. Satu rumah tidak elok marah-marahan…” Mak Iyah membetulkan letak kerudungnya dan tersenyum lelah padaku.

Aku diam sebentar, lalu menggeleng.

Mak Iyah menjewer kupingku dan melotot. Aku meringis sambil mengelus-elus telingaku yang kena jewer. Perempuan tua itu bangun dari kursi, mengisi gelas dengan air minum dari dispenser, mengambil nampan dari rak dan menata piring yang aku bawa berikut gelas minum di dalamnya. “Sana antarkan.”

Aku mendesah dan bangun dari tempat dudukku. Sebelum meraih nampan kujangkau sebutir jeruk dari keranjang di atas meja dan kuletakkan di dalam nampan. “Kalau Bunda nanya, Aidil jawab apa?”

“Ya jawab saja mau antarkan makan buat kakakmu.”

“Kalau Bunda nanya kenapa mesti diantar segala?”

“Mak yang suruh.”

“Hemm… baiklah.”

Aku menatang nampan dan keluar dari dapur. Saat melewati ruang makan aku berusaha untuk tidak membuat suara. Tapi seperti yang kuduga, mustahil mereka yang ada di meja makan tidak menyadari kelibatku.

“Apa itu, Dil?” tanya Bunda.

“Makan malam Den Saif, Bu…”

Aku berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. Kudapati Mak Iyah berdiri di ambang pintu yang menghubungkan dapur dengan ruang makan.

Bunda geleng-geleng kepala. “Iya, Mak manjain saja dia…”

Mak Iyah menanggapi ucapan Bunda dengan senyum khasnya lalu melambaikan tangannya padaku sebagai isyarat menyuruhku pergi. Tanpa berkata-kata, aku melanjutkan langkahku menuju kamar Kak Saif.

Di depan kamar Kak Saif, aku sempat ragu-ragu. Bagaimana kalau dia menyulut emosiku lagi? Karena terus terang saja, sejak kejadian semalam aku benar-benar merasakan amarah bila melihat Kak Saif. Hanya dengan melihatnya saja. Kutundukkan pandanganku pada piring dalam nampan, dan ide biadab untuk mencampurkan sedikit racun pengerat ke dalamnya sesaat menggodaku. Namun ketika pandanganku jatuh pada jeruk berwarna oranye terang yang ikut berada di dalam nampan, ide gila itu pupus dengan serta merta. Niatku ketika meletakkan jeruk itu tadinya begitu tulus, begitu tulus.

Aku menghela napas dan kudorong daun pintu.

Kutemukan Kak Saif duduk di tepi ranjang, sebelah kaki terlipat di atas tempat tidur sementara sebelah lagi berpijak ke lantai. Sepertinya dia belum mandi, celana yang dipakainya masih sama dengan celana yang dia kenakan sore tadi saat kami berkelahi. Pakaian atasnya adalah singlet warna hitam. Dia sedang mengompres rahangnya dengan kirbat es dan memandangku dengan tatapan campuran dari penyesalan dan permohonan maaf. Terlihat begitu memelas.

Aku ragu-ragu sejenak di ambang pintu sebelum melangkah masuk. Kubiarkan pintu tetap terbuka di belakangku. “Makan malam, Mak Iyah suruh anterin…” Kuletakkan nampan di atas buffet di sisi ranjang.

“Apa Mak Iyah sungguhan menyuruhmu?” tanyanya.

Aku mendiamkan diri.

“Makasih…,” ujar Kak Saif ketika aku tetap bertahan untuk tidak menjawab pertanyaannya.

Kupandangi Kak Saif. Dengan kirbat es menutupi sebagian wajahnya, aku  tak bisa menyimpulkan bagaimana keadaannya. Tapi hidungnya masih merah meski tak ada lagi darah yang terlihat. Kugigit bibir bawahku secara spontan dan segera sadar bahwa bekas gigitanku sendiri semalam masih menyisakan sedikit rasa perih.

Semenit kemudian aku memutuskan untuk keluar.

“Dil…”

“Aku tak mau membicarakan apapun dengan Kak Saif,” desisku tanpa menoleh dan tidak berhenti melangkah. Kututup pintu di belakangku. Kali ini, rasanya begitu sukar bagiku untuk berdamai dengan kakak angkatku itu.

Setelah semalam, hidupku tak lagi sama. Duniaku sudah di ambang badai. Orang-orang yang tahu jati diriku bertambah lagi sejak semalam. Karena Kak Saif. Bukankah sudah sepantasnya aku membenci laki-laki itu?

***

Sudah dua malam. Aku tidak lagi menemukan Orlando berdiri di jendela dan menatap ke kamarku. Sudah dua malam pula aku berbaring di ranjang dengan kegundahan yang berujung pada mimpi buruk dan terbangun di ambang fajar.

Pagi ini, aku kembali terjaga dengan rasa dingin di atas bantal. Kusadari kalau mataku berada dalam keadaan basah. Ternyata tangisku di dalam mimpi sungguh-sungguh kulakukan di luar mimpi, meski aku tak menyadarinya. Aku bangkit dari posisi tidurku dan duduk memeluk lutut. Mendengarkan suara keheningan. Mendekap dingin yang tak berwujud. Subuh baru akan tiba lebih setengah jam lagi. Aku akan duduk seperti ini hingga Subuh datang, mencoba mengingat-ingat apa yang menyebabkanku menangis di dalam mimpiku.

‘Kita harus sama-sama merelakan, Dil…’

Itu kalimat Orlando di dalam tidurku. Kami berada di tanah lapang yang tandus, permukaannya penuh retakan saking keringnya. Aku merasakan panas dan senyap yang kentara. Tak ada satu orang pun di sana selain kami. Ketika Orlando berbalik dan melangkah meninggalkanku, aku berteriak memanggilnya. Lalu entah dari mana datangnya, tanah lapang itu penuh manusia, menjeritkan sumpah-serapah menyakitkan. Orang-orang itu melempariku dengan batu. Wajah-wajah yang kukenal, Erlangga dan Rani, Kak Gunawan dan Syuhada, bunda dan ayahku, Kak Adam dan Mbak Balqis, mereka turut melempari batu padaku bersama orang-orang itu. Lalu aku mulai menangis. Saat kukejar Orlando sekuat tenaga sambil menjeritkan namanya di antara tangis, dia kian jauh. Padahal dia hanya melangkah biasa sedang aku berlari sekuat tenaga. Lalu tanah lapang tandus menghilang bagai asap dan aku terjerembab dalam pasir serupa gurun, kakiku terbenam ke dalamnya. Di depanku Orlando hilang sepenuhnya, di belakangku orang-orang tak berhenti melempari. Aku menangis sendirian di bawah hujan batu.

Sayup rengek ASJ menarikku kembali ke dalam kamar. Sesaat kemudian bayi itu mulai menangis. Hanya sebentar. Mbak Balqis pasti sudah terbangun dan menyusuinya. Atau Kak Adam yang terkantuk-kantuk menenangkan bayinya untuk diam dan kembali tidur dalam boksnya.

Tak lama kemudian, adzan Subuh berkumandang. Saat beringsut turun dari ranjang, kulirik jendelaku dan kudapati kamar Orlando masih gelap. Aku ke kamar mandi, menggosok gigiku dan berwudhu.

Di atas sajadah, doaku kali ini begitu panjang. Tuhan mungkin memandangku terlalu nista. Tapi lihatlah sekarang. Dengan tidak tahu malunya aku tetap berdoa pada-Nya, memohon kesejahteraan untuk semua orang yang kusayangi dan meminta-Nya memberiku dan Orlando kebahagiaan. Aku sungguh tak punya malu.

Ketika cahaya fajar kian memucatkan wajah bulan menjelang purnama di langit pagi, kugulung sajadah dan kuganti sarung serta baju shalatku dengan celana olahraga dan jaket kaus bertudung.

Kesejukan pagi menghajar kulit wajahku ketika aku keluar ke halaman. Kutarik tudung jaket hingga menutupi kepala dan kukenakan sepatuku. Aku keluar melewati gerbang, dan mulai berlari menyusuri jalan yang sudah kulalui tak terhitung kali.

Sendirian.

Kesepian.

Hancur.

Marah.

Dan merindu.

Lalu, air mata itu keluar lagi dengan sendirinya.

***

Aku yakin dia akan datang. Seyakin diriku bahwa purnama akan mencapai puncaknya malam ini. Angin sore di sini masih mendamaikan seperti seharusnya. Burung-burung melintas di atas kepalaku, kembali pulang pada kehangatan sarang masing-masing setelah seharian melanglang buana ke bagian lain bumi. Mungkin satu atau dua anggota keluarga yang ditinggalkan sejak pagi di dalam sarang sedang menunggu mereka sambil mencicit kangen, atau pasangan burung yang baru saja memasuki sarangnya di cabang lain sedang menatap cemas sarang milik tetangga mereka sambil bertanya-tanya mengapa sang tetangga belum juga tiba.

Kubuka lagi pesan yang sudah kukirimkan sejak hampir dua puluh menit lalu. Aku terlalu ragu untuk meneleponnya meski sudah tak terhitung kali kubuka menu kontak dan kusorot namanya di daftar kenalan dengan jari siap menekan tulisan ‘Panggil’ di sudut layar sejak pesanku terkirim. Dia sama sekali tak membalas apapun.

[Aku di gedung. Aku akan menunggu sampai kamu datang. Kumohon…]

Kututup pesan itu lalu kupandang bergantian antara jam karetku dan pinggiran ilalang tempat jalan setapak menuju bangunan ini berawal. Ilalang yang diselingi tumbuhan Randa Tapak di bawah sana sedang berbunga. Setiap angin berhembus sedikit lebih kencang, tangkai-tangkai ilalang dan Randa Tapak akan bergoyang lalu terlepas dari tangkai, selanjutnya angin akan menerbangkan bunganya yang kering juga ringan itu ke segala penjuru. Bunga-bunga dandelion itu begitu pasrah pada angin. Mungkin juga mereka menaruh kepercayaan penuh pada angin. Bahwa angin akan menerbangkan mereka ke tempat yang baik dan menyenangkan, tempat mereka akan tumbuh dan bersemi sekali lagi. Mengulang siklus menakjubkan sekali lagi.

Di tepi lantai, keyakinanku mulai goyah. Kuawasi lagi jalanan yang menuju ke tempat ini, tak ada tanda-tanda kedatangannya. “Kumohon…” Tanpa sadar, aku sudah berbisik sendirian. Lima menit berlalu lagi. Kukeluarkan hapeku dan kali ini dengan mantap memencet tulisan ‘Panggil’ di sudut layar tanpa keraguan sedikit pun.

Panggilanku tersambung, tapi dia tidak menjawabnya. Kucoba lagi begitu panggilan pertama berakhir, kucoba lagi setelahnya, dan setelahnya lagi. Tapi nihil. Perasaan diabaikan dan tidak dianggap menghantam ulu hatiku. Dia di sana, aku yakin dia di sana dan tahu aku menghubunginya, tapi dia memilih untuk tidak menghiraukanku.

Sudah tak ada. Sia-sia saja aku ke sini.

Kukantongi hapeku kembali dan bangun dari tepi bangunan dengan hati-hati. Aku harus bergegas menuju jalan raya, menyetop becak dan pulang ke rumah sebelum malam.

Lalu aku mendengar deru sepeda motor di kejauhan yang begitu aku kenal. Masih berdiri, kubawa pandanganku ke ujung belokan yang terlihat begitu jelas dari ketinggian tempatku berada. Setitik harap menyala di dalam hatiku, nyalanya kian besar seiring pengendara motor itu makin hampir ke padang ilalang.

Aku kembali duduk, menjuntaikan kakiku ke bawah seperti sebelumnya. Kuawasi Orlando yang berjalan tegap dengan langkah-langkah lebar menyusuri jalan setapak yang membelah padang ilalang. Bunga-bunga dandelion berterbangan di sekitarnya. Dan di saat seperti itulah dia terlihat begitu indah di mataku. Aku mencintai lelaki itu, tak peduli harus tersakiti oleh tindakan siapapun berjuta kali lagi, tak peduli walau dia berlagak mengabaikanku bermilenium-milenium lagi. Aku tetap mencintai lelaki itu. Tak peduli dunia membenci cintaku. Jika harus kulawan dunia, maka akan kulawan dunia.

Sosok Orlando hilang di bawah sana. Dia tentu sudah mulai menaiki tangga menuju ke atas sini. Menujuku. Kuhela napas panjang dan kuhembuskan perlahan. Kulakukan hal itu berkali-kali lagi sampai kurasakan langkah Orlando di belakangku. Angin menerbangkan aroma parfumnya ke hidungku, menggodaku untuk bangun dan berlari ke dadanya, menghirup baunya langsung darinya.

Orlando mengikutiku duduk di tepian, ikut menjuntaikan kakinya. Jaraknya dariku hanya sejangkauan tangan saja. Kami saling diam dengan pandangan menatap cakrawala kelabu sampai aku tidak tahan lagi untuk memutus keheningan di antara kami. Kutoleh dia sambil menahan hasrat untuk menyentuhnya.

“Kupikir Kak Lando tak akan pernah datang,” ucapku lirih.

“Membiarkanmu menunggu hingga gelap bukanlah sesuatu yang ingin kulakukan.” Dia masih memandang cakrawala.

Padahal baru beberapa saat lalu aku menyerah pulang. Laki-laki ini terlalu percaya pada kata-kataku yang kukirim ke hapenya. Dan mengetahui itu membuatku makin mencintainya.

“Kak Lando baik-baik sajakah?”

Sekarang dia menolehku. Memindaiku dengan matanya yang bak elang itu, seakan dia baru pertama kali melihatku, seakan aku adalah kristal langka yang memukaunya. “Itu pertanyaan yang tidak perlu kujawab, Dil. Kita berdua tau jawabannya.”

Aku menunduk.

“Ternyata rasanya begini ya.” Desahan samar keluar dari mulutnya. “Andai aku tahu efeknya bisa demikian sakit, aku tidak akan mengeluarkan kata-kata menyakitkan buatmu malam itu…”

Sekarang aku faham bahwa dia sedang membicarakan kejadian di dalam kamarnya, di mana aku menolaknya dengan mengulang ucapan yang pernah dikatakannya padaku. “Bukankah malam itu Kak Lando juga kesakitan setelah mengucapkannya untukku?”

Kami bertatapan. Dan jawaban dari pertanyaanku kali ini juga sama-sama sudah kami ketahui. Repetan Kak Saif kemarin malam di balai-balai sangat benar. Aku tak tahu bagaimana si brengsek itu menyimpulkan hubunganku dengan Orlando hingga bisa menarik kesimpulan seakurat itu, aku tak pernah bercerita padanya tentang hubunganku dan Orlando paska kami bubar. Dia benar tentang aku dan Orlando. Mungkin aku dan Orlando sama-sama berusaha untuk tidak saling menyakiti, tapi ironisnya justru usaha yang kami lakukan malah membuat kami seperti itu.

Adzan Maghrib berkumandang. Tapi kami masih tidak beranjak.

“Aku melihatmu berkelahi dengan Saif…”

“Oh, dia hanya membiarkan aku meninjunya.”

“Ya, aku tahu. Dia belum gila untuk balas memukul adik yang dicintainya…”

“Bisakah kita gak membahas dia?”

Orlando tidak menanggapi, dan keheningan kembali merajai di antara kami. Orlando meluruskan pandangan dan membawa kedua lengannya ke belakang, telapak tangannya bertumpu pada lantai semen yang kasar. Badannya condong ke belakang, kepalanya mendongak langit. Sementara yang kulakukan hanya terus memperhatikannya. Mataku menyusuri gari-garis kecil samar yang saling bersilangan di kemeja warna gadingnya membentuk kotak-kotak. Jins belelnya robek kecil di atas lutut.

Adzan Maghrib sudah berhenti beberapa menit lalu ketika Orlando kembali memfokuskan pandangannya padaku. “Jika aku gak datang, kamu mau pulang dengan siapa nanti?”

“Mungkin aku akan menginap,” jawabku tak serius.

“Kamu sungguhan akan menungguku hingga datang?”

Aku mengangguk dan detik itu juga merasa berdosa karena telah membohonginya. Kodongakkan wajahku untuk menatap bulan kuning di langit, beberapa bintang mulai memunculkan diri setelah keberadaannya tak lagi dipecundangi sinar mentari.  “Emm… sebenarnya, saat Kak Lando datang tadi, aku sudah bersiap untuk pulang.”

“Hemm… sudah kuduga.”

“Maaf.” Aku menunduk. “Aku gak seberani yang Kak Lando kira…”

Lalu sebelah tangannya tiba-tiba terulur ke wajahku, menyentuh mulutku. “Apa rasanya sakit?”

Aku mengangkat wajahku untuk menatap matanya. Dengan ibu jari tangan kanannya, Orlando mengelus bibir bawahku, membuatku mengerti apa yang sedang dia tanyakan.

“Ini bukan bekas hajaran Kak Saif kok, dia sama sekali tidak membalasku.”

“Ya. Aku tahu,” katanya. “Apa rasanya sakit?” ulangnya sambil kini menekan lembut bibirku hingga menampakkan bekas gigitanku sendiri.

Kuberanikan diriku untuk memegang pergelangan tangannya yang sedang berada di wajahku. Dia tidak keberatan. “Saat itu iya, tapi kini gak lagi.”

Untuk pertama kali sejak kedatangannya, Orlando tersenyum. Cahaya bulan membias di wajahnya, membuat senyum singkatnya tertular padaku. Telapak tangannya menangkup satu sisi wajahku, mengelus pipiku dengan ibu jarinya dan dia terlihat gembira. “Aku gak peduli pada Erlangga atau Gunawan, jika kamu ingin tahu…”

Aku diam mendengarkan sambil meresapi rasa telapak tangannya yang besar di kulit wajahku.

“Aku gak peduli walau mereka memberi tahu seluruh isi dunia. Aku gak takut hidupku jungkir balik. Yang kucemaskan adalah hidupmu…”

“Jangan pergi dariku!”

Orlando mengernyit. “Apa?”

“Jangan pergi dariku!” ulangku sama tegas dengan kalimatku sebelumnya. Sekilas, kejadian di mimpiku melintas dalam kepala.

“Aku gak akan kemana-mana, Dil,” ucapnya sementara jemarinya kembali ke bibirku.

“Iya, jangan kemana-mana. Aku akan baik-baik saja bila denganmu. Hidupku akan baik-baik saja meski badai datang. Dengan Kak Lando aku akan tetap kuat…”

Orlando mengerjap.

Kucengkeram pergelangan tangannya erat dan kutempelkan pipiku kian rapat ke telapak tangannya. “Kita akan melawan dunia, kan?”

“Yah, kita akan melakukannya jika harus.”

“Erlangga dan Kak Gunawan bukan pemicu badai?”

Orlando menggeleng. “Aku gak peduli jika mereka ingin berteriak tentang kamu dan aku ke seluruh pelosok semesta. Aku gak peduli…”

Lalu Orlando menarikku dalam pelukannya. Membungkusku dengan kedua lengannya yang hangat. Aku merasa damai menyembunyikan wajahku di dadanya, merasa terlindungi mendengarkan detakan di dadanya yang teratur. Jantungnya masih berdetak, dia masih hidup untuk melindungiku.

“Aku menyayangimu, Fitra Aidil Ad-dausi. Gak ada satu pun manusia di jagat raya ini yang bisa memaksaku agar berhenti menyayangimu, gak ada…” Kurasakan napasnya menghembus puncak kepalaku.

“Hemm…” Kucengkeram kerah kemejanya dengan tanganku dan kusurukkan wajahku makin rapat ke dadanya.

Lalu hapeku menjeritkan nada panggil. Aku tak ingin menggubrisnya, tapi Orlando sudah melerai dekapannya. Kutegakkan dudukku kembali dan kurogoh saku celana. Foto Kak Adam tampak di layar.

“Iya, Kak?”

“Dik, kamu di mana? Ini sudah mau Isya tapi belum sampai ke rumah.” Kak Adam terdengar khawatir.

Aku tidak ingin berbohong. Tapi kali ini aku harus berbohong. “Ada tugas, Kak. Aidil sedang di tempat kawan. Jangan kuatir, Aidil udah minta Kak lando menjemput.”

Kudengar Kak Adam menghembuskan napas lega. “Ya sudah. Lain kali kalau pulang larut, kasih kabar ke rumah. Telepon Bik Iyah saat sore biar Bunda juga gak cemas mendapati kamu gak ada di rumah saat makan malam.”

“Siap, Bos!”

Kak Adam menggumam entah apa lalu mengakhiri hubungan telepon. Di sebelahku, Orlando sudah membaringkan dirinya di lantai kasar, kedua kakinya sudah tidak lagi berjuntaian dari pinggir bangunan. Dia menekuk kedua lengannya ke bawah kepala.

“Bulannya sedang purnama,” ujarnya.

“Memang.” Kutatap Bulan sekilas dan kupandang Orlando lama kemudian. Di mataku saat ini, dia juga tak ubahnya bagai bulan yang sedang purnama. Aku terhipnotis dan tahu-tahu aku sudah membaringkan diriku. Terlentang sedikit menyilang dari posisinya berbaring. Kepalaku di atas dadanya.

Kami sama-sama melihat bulan. Gemerlap bintang di langit yang sedang dalam keadaan terang bulan terlihat bagai atap penuh kunang-kunang.

“Bisakah kita tetap seperti ini, Kak?” tanyaku setelah menit-menit terlewati.

“Entahlah. Mungkin belasan menit ke depan aku akan pegal dan tidak sanggup menahan kepalamu lebih lama lagi.”

Aku berdecak. Dia pasti tahu bukan itu yang kutanyakan. Aku berbalik dan bertumpu kedua lengan di dadanya. Kutatap dia tepat di mata “Bisakah kita tetap saling bersikap baik seperti ini?”

Orlando tidak menjawab.

Aku merangkak naik ke atasnya. Dia bergeming dalam posisinya sembari menatapku lembut sementara aku bertindak. Kuposisikan kedua kakiku mengapit kedua sisi tungkainya. Lalu kucium bibirnya satu kali. Orlando membalas ciumanku. Posisi berbaringnya belum berubah sama sekali, kedua lengannya juga masih terjebak di bawah tengkuknya. Saat kusudahi ciuman kami dan kuangkat wajahku, kutemukan dia tersenyum. Itu saja sudah cukup bagiku. Aku berguling ke sebelahnya dan memeluk dadaku dengan kedua tangan. Kutatap bulan sambil menyunggingkan senyuman, berusaha untuk tidak memikirkan tubuh Orlando yang sesaat tadi menegang dan juga mengejang di bawahku.

Beberapa saat kemudian Orlando bangun dan bangkit berdiri. Kemejanya kusut di bagian punggung. “Ayo kita pulang.”

Kuraih tangannya dan dia membantuku berdiri. Kami berjalan beriringan menuju tangga. Cahaya bulan yang terang memudahkan kami menapaki setiap undakan tangga hingga ke lantai dasar.

Orlando berjalan di depanku di jalan setapak. Udara begitu tenang. Tangkai-tangkai bunga ilalang bergeming kaku.

“Kak,” panggilku.

“Hemm?” Orlando menjawab dengan gumaman tanpa menoleh. Saat aku tidak merespon, masih tanpa menoleh dia kembali bersuara. “Kenapa? Gak sanggup jalan lagi?” tanyanya lagi seakan tahu apa yang menjadi maksudku ketika memanggilnya.

Di belakangnya, aku tersenyum sendiri. Kemudian aku berjalan cepat beberapa langkah dan meloncat ke punggungnya sambil tertawa kecil. Lenganku merangkuli lehernya sementara kakiku menjepit pinggulnya. “Iya, turun tangga bikin cape,” kataku.

“Alasan,” ujar Orlando sambil memposisikan kedua lengannya di bawah pahaku. Dia lanjut berjalan tanpa terlihat terganggu sedikitpun dengan bobotku.

“Enggak, Aidil beneran cape,” kataku sambil berpegangan dengan satu tangan pada pundaknya sedang satu lagi lenganku membelit lehernya.

“Kamu hanya ingin dimanjakan,” cetus Orlando sambil menoleh.

“Baiklah, aku ingin dimanjakan karena sedang cape.” Kujengukkan kepalaku ke depan melewati bahunya dan kuberi sebuah kecupan di pipinya.

Orlando terkekeh.

Sepanjang sisa perjalanan melintasi padang ilalang menuju motornya, kuletakkan daguku di bahu Orlando dan kurasakan kenyamanan yang membungkus kami berdua. Seharusnya, waktu berhenti bergerak di titik ini dan membiarkan kami untuk tetap begini. Muda, penuh cinta, dan gembira.

Di atas kami, bulan empat belas hari yang sinarnya menerangi sosokku dan Orlando di bawah sini terlihat sebagai sebuah penyempurna. Keberadaan Orlando yang seperti ini bersamaku sudah memupus gelap. Untukku, Orlando akan menghadang badai dan mengusirnya pergi. Begini bersamanya, seakan duniaku tak bisa jadi lebih baik lagi dari ini.

Pertengahan Maret 2015 

Dariku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com