Gravitation_Effect_Cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Maafkan karena aku begitu terlambat kali ini. Aku sakit. Terlalu banyak beban yang memaksa masuk ke kepala. Aku baru benar-benar fit tiga hari yang lalu setelah lebih seminggu demam. Well, tak hanya demam saja, kepalaku nyeri terus, perutku tak ubahnya seperti kondisi pengidap maag kronis. Yang paling menyebalkan, tenggorokanku meradang, rasanya persis seperti ada kulit durian yang nyangkut di leher, tak terhitung berapa butir strepsils yang terkorban demi mengembalikan suaraku. Terpujilah Reckitt Benckiser yang telah memproduksi permen itu.

Aku tidak menceritakan kondisiku untuk membela diri atas keterlambatan tulisan ini. Hanya ingin memberitahu, kalau amat sangat sulit menulis cerita di saat kondisi tubuh tidak nyaman sedemikian rupa (Seseorang : Halah, sama aja keles, Nay! │ Nayaka : Setan lu!)

Pada kesempatan ini, aku ingin minta maaf yang sebesar-besarnya pada sahabat-sahabat yang komennya di kolom-kolom terdahulu di blog ini belum sempat kubalas. Pada teman-teman yang telah mengirim mensyen ke twitter, yang telah menulis surat ke akun gmailku, maafkan dan harap memberiku pemakluman. Karena jujur aku belum bisa balas semua say hi kalian bukan karena mengabaikan dan menganggap pesan kalian gak penting, tapi karena pesan dan kaliannya sendiri memang gak penting sama sekali (Umat Blog : Bakar Nayakaaa…!!! │ Nayaka : Halah, emang bisa gitu? Aku dimana kalian dimana). Tapi aku sudah berniat untuk membalas semua komen, semua mensyen dan semua e-mail kok, taun depan… kekekeke!

Ternyata, tidak sehat sepekan lebih bisa membuat kita bicara ngelantur, ya?😀

Aku tidak sempat mengedit typo. Langsung kupost begitu selesai kutulis. Kalau kalian nemu kesalahan (baik kesalahan tulisan atau kesalahan narasi yang betentangan), harap sebutkan di kolom komen dan aku akan sangat berterima kasih lalu memperbaikinya dengan senang hati. Selamat menikmati membaca GRAVITATION EFFECT seperti aku menikmati ketika menulisnya.

 

Wassalam

n.a.g

##################################################

 

Bumi punya satu kekuatan super yang maha dahsyat

Dengan kekuatan itu,

ia bisa memerangkap segala sesuatu di bawah atmosfernya,

menahan apapun benda dari melesat pergi menembus langit

menjerat semua makhluk hingga tak bisa meninggalkannya begitu saja

Kekuatan super itu bernama gravitasi

***

Aku hampir lupa bagaimana rasanya duduk di boncengan Orlando dan memeluk pinggangnya sepanjang perjalanan kami kemanapun. Aku hampir lupa seperti apa persisnya garis-garis tawa yang muncul di wajah Orlando setiap ada hal konyol yang terjadi ketika kami sedang bersama. Aku hampir lupa bagaimana rasanya sentuhan Orlando di kulitku. Aku hampir lupa seperti apa persisnya ekspresi Orlando ketika merajuk dan cemberut tiap kali kami berdebat atau tiap kali dia cemburu. Dan kini aku takut, karena rasa-rasanya aku hampir tidak bisa mengingat bagaimana persisnya cara Orlando mencintaiku dulu.

Yang masih bisa kuyakinkan pada diriku sendiri adalah, cara Orlando mencintaiku tidak sama seperti cara dua sosok di depanku ini saling mencintai. Meski aku tak bisa menyebutkan, aku yakin bahwa cara Orlando pernah mencintaiku dulu bisa jadi lebih unik lagi. Berada di antara dua orang yang sedang dimabuk cinta seperti sekarang sungguh-sungguh membuatku tersiksa. Rasanya persis seperti dipaksa menonton film horror sendirian tepat setelah beberapa saat lalu kamu baru saja memutuskan kalau dirimu takut hantu. Tapi aku yang meminta ini, aku yang selalu memaksa Kak Aiyub untuk mengenalkanku pada pacarnya. Dan sekarang aku harus menahan diri hingga pertemuan sepasang kekasih baru ini selesai dan salah satu dari mereka pamit pulang.

“Dil…”

Aku mengalihkan pandangan dari permainan band café bervokalis cowok berwajah santri―yang sesaat tadi membuatku ingat Gunawan Hafitz―pada sosok Kak Aiyub yang duduk di depanku. Di sampingnya, laki-laki tampan bernama Fardeen Mimbar Fahrenheit yang hampir satu jam lalu berjabatan denganku duduk tenang dan ikut memandangku dengan tatapan ramah. Saat pertama kali melihat dan berbicara dengan laki-laki pacar Kak Aiyub ini, aku langsung ingat Kak Adam. Kharisma dan aura Kak Fardeen persis seperti yang dimiliki Kak Adam, dewasa dan terlihat sangat ingin melindungi siapapun orang yang dia sayang meski harus menahan laju peluru. Aku tidak keberatan dia menambahkan sapaan ‘dik’ ketika beberapa kali tadi menyebut namaku. Aku rasa, Kak Aiyub benar-benar sepadan dengan lelaki ini, sepadan dalam sifat dan tampilan fisik. Katanya, orang baik akan dipasangkan dengan orang baik juga. Kurasa itu benar. Sedang diriku, mungkin sudah tidak cukup baik untuk disandingkan lebih lama lagi bersama laki-laki sebaik Orlando.

“Kamu baik-baik saja?”

Band sudah sampai pada bagian reffrein lagu Satu Cinta milik Star Five ketika Kak Aiyub bertanya setelah memperhatikanku belasan detik. Aku memaksa untuk tersenyum pada mereka berdua dan menjawab pertanyaan Kak Aiyub dengan sebuah anggukan mantap, seakan keadaanku benar-benar sangat baik dan bahagia atas bawah. “Ya, tentu,” kataku lalu memperbaiki sikap dudukku jadi lebih tegak. “kalau aku sedang sakit pasti sekarang aku tidak di sini.”

Kak Fardeen tersenyum simpul mendengar jawabanku. “Dik Aidil gak suka es krimnya, ya?”

Pertanyaan laki-laki itu membuatku menundukkan pandangan ke wadah di depanku. Kudapati es krimku sudah mencair sepenuhnya, berubah dari material beku menjadi liquid kental campuran coklat dan vanilla, sementara taburan hazelnut yang ketika diantar pelayan tadi menghiasi es beku hingga ke puncaknya kini tampak mengapung di permukaan wadah. Aku mendesah kecewa.

“Dia bukan cuma gak suka es krimnya, Fardeen, tapi minumnya juga,” sambung Kak Aiyub.

Sekarang aku memperhatikan gelas berisi perasan jerukku yang masih penuh, bongkahan es yang sudah setengah mencair nyaris meluapkan isi gelas. Aku mendesah kecewa sekali lagi.

“Dil, kapan kamu akan berhenti bertingkah seakan-akan dunia sudah kehilangan segala hal menggembirakan yang dimilikinya saat cintamu hilang?” Jeda. “Kapan kamu akan menikmati hidupmu seperti dulu lagi?”

Pertanyaan Kak Aiyub membuatku mendongak kaget. Kulihat Kak Fardeen mengerutkan kening lalu menatap bergantian antara aku dan laki-laki di sampingnya. Aku kesal pada Kak Aiyub, kenapa dia harus bertanya seperti itu di saat situasinya sedang tidak pas begini? Aku tidak mau ada orang lain yang tahu masalahku. Kalau Kak Aiyub ingin menceramahiku, memberiku pencerahan, harusnya dia menunggu sampai kami hanya berdua seperti biasanya.

Sedikit geram, dengan kasar kutarik mangkuk es krimku lebih dekat dan kugenggam sendoknya. “Sekarang,” jawabku singkat dan mulai menyendok es krim cair dari mangkuk.

Aku tau kalau mereka pasti sedang memandangku dengan pandangan tak mengerti. Kak Fardeen mungkin bertanya-tanya dalam hati, apa maksud kalimat Kak Aiyub dan mengapa sikapku mendadak beringas seperti tadi. Laki-laki itu pasti akan langsung mencari tahu pada pacarnya saat aku tak ada, mungkin mereka akan membahasku saat pembicaraan telepon mereka berikutnya. Dan aku sangat yakin kalau Salman Al Aiyubi tidak akan membiarkan pacar barunya kecewa dengan memilih tidak mau menjawab apapun nantinya pertanyaan sang kekasih baru terkait diriku.

Apa sebaiknya aku ijin ke toilet saja sekarang dan memberikan mereka waktu luang untuk membicarakanku?

“Maaf.”

Aku tak menggubris gumam samar Kak Aiyub dan meneruskan menyendok es krim cair dari mangkuk.

“Ehhem…” Kak Fardeen berdehem, “aku permisi ke toilet.”

“Oh, ayolah… Kak Fardeen gak perlu menghindar begitu. Aku baik-baik saja dan tidak apa-apa kalau Kak Fardeen tetap di sini sementara Kak Aiyub menceramahiku ini dan itu.”

“Aku tak akan menceramahimu apapun, Dik,” tukas Kak Aiyub.

Kak Fardeen masih berdiri, tidak segera meninggalkan meja, matanya kembali menatap bergantian antara aku dan pacarnya.

“See…” aku menyeringai pada Kak Fardeen. “Tetaplah di sini, kami gak akan membicarakan apapun topik yang menurut Kak Fardeen tidak seharusnya Kak Fardeen ketahui.”

Laki-laki itu kembali duduk di kursi. “Hemm, kupikir mungkin kalian butuh privasi,” dia menatapku, “kamu butuh privasi,” tekannya.

Aku tersenyum timpang, “Privasi,” ucapku sambil mengibaskan lengan, “mungkin Kak Aiyub akan membicarakannya dengan Kak Fardeen kapan-kapan―”

“Ya Tuhan, Dil!” Kak Aiyub memotong ucapanku. “apa dalam anggapanmu aku suka menggunjingkan masalah orang lain? apa menurutmu aku seburuk itu?”

“Aku gak bilang Kak Aiyub buruk.”

“Ucapanmu bermaksud begitu.”

“Tidak.”

“Tentu saja iya.”

“Tidak, aku gak maksud begitu.”

“Jelas kamu bermaksud demikian.”

“Tidak.”

“Hei…” Kak Fardeen menggenggam lengan Kak Aiyub ketika dia siap mengeluarkan kalimat selanjutnya. Mereka bertatapan. “Sudahi, oke? Dia gak bermaksud menyinggungmu.” Kak Fardeen menepuk lembut lengan Kak Aiyub lalu memandangku. “Dik Aidil baik-baik saja?”

“Aku ingin pulang.”

“Baiklah, dia akan mengantarmu,” ucap Kak Fardeen sambil menggerakkan dagunya menunjuk Kak Aiyub.

Aku menggeleng. “Gak usah, Kak. Aku pulang sendiri saja. Lagipula, kalian tentu masih ingin berdua.”

Kak Fardeen tersenyum maklum, “Aiyub dan aku sudah sering berdua.”

“Beneran, Kak, aku pulang sendiri saja.”

“Jangan banyak omong. Tadi aku yang jemput kamu.” Kak Aiyub bangun dari kursi, mengeluarkan dompetnya dan meletakkan uang seratus ribuan di meja. “Fardeen tambahin ya kalau kurang,” katanya pada Kak Fardeen, tapi laki-laki itu malah mengambil uang tersebut dan menjejalkannya kembali dalam dompet pacarnya. Kak Aiyub geleng-geleng kepala, mereka saling berbalas senyum dan saling menatap penuh arti.

Aku iri.

“Ayo pulang!”

Tadinya kupikir salah satu dari mereka yang akan mengakhiri pertemuan ini, nyatanya malah aku. Tanpa bersuara, aku mengekor di belakang Kak Aiyub menuju pintu keluar sementara Kak Fardeen menghampiri meja kasir.

***

Bayi Kak Adam dan Mbak Balqis laki-laki. Tak ada yang tahu sebelumnya, dokter kandungan pilihan pasangan ibu dan ayah baru itu tak pernah mengungkapkan hasil USG atas permintaan kliennya sendiri. Jadi, kelahiran Azhar Sadam Junior a.k.a ASJ benar-benar surprise dan menjawab rasa penasaran semua orang yang selama ini menerka-nerka.

“Dia tampan, ya…” Aku berdesis di kaca, menatap takjub pada sosok mungil terbungkus sempurna di dalam boks transparan Ruang Perinatologi. ASJ baru saja diletakkan kembali ke dalam boks oleh petugas ruangan setelah disusui ibunya beberapa saat lalu.

“Hidungnya ikut Kak Adam.”

“Enggak ah, hidungnya milik Mbak Balqis, kalau alis sama bibirnya baru punya Kak Adam.” Aku tak setuju dengan Kak Saif.

“Dasar rabun. Jelas-jelas hidungnya mancung dan besar begitu.”

“Besar apaan, itu kecil tau!” bantahku.

“Pokoknya hidungnya mirip hidung Kak Adam.”

“Alis sama mulutnya yang lebih mirip alis sama mulut Kak Adam.”

“Hidungnya lebih mirip!”

Sementara aku dan Kak Saif berdebat, Kak Adam yang berdiri di tengah-tengah kami hanya mendiamkan diri, memandang bayinya tanpa bersuara. Sepertinya pria ini terlalu takjub hingga tak bisa berkata-kata.

“Eh, tapi ada yang lebih pasti punya Junior yang ngikut ayahnya…”

“Apa?” tanya Kak Saif.

“Tititnya.”

Kak Saif tertawa besar sementara Kak Adam menjewer kupingku. Aku mengaduh sambil mengusap telingaku yang baru saja dikerjai Kak Adam.

“Rasain,” cetus Kak Saif.

“Huh, padahal kan yang aku bilang fakta banget.”

“Fakta yang seluruh dunia udah tau, Dek!” tukas Kak Adam sebelum meninggalkanku dan Kak Saif.

“Kak Adam mau kemana?” tanyaku.

“Tengokin ibunya Junior,” jawab Kak Adam.

Setelah Kak Adam pergi, aku dan Kak Saif kembali sama-sama menempelkan wajah di kaca. “Matanya mirip siapa ya?” ujarku setelah fokus memandang kelopak mata ASJ yang tertutup selama beberapa detik.

“Sepertinya mirip mata Mbak Balqis.”

“Masa sih, perasaan mirip Kak Adam juga deh.”

“Itu kayak mata Mbak Balqis tau!”

“Enggak lah, mata Kak Adam itu.”

“Mbak Balqis.”

“Kak Adam.”

“Mbak Balqis.”

“Kak Adam.”

“Balqis.”

“Adam.”

“Balqis.”

“Adam.”

Kadang aku dan Kak Saif memang bisa benar-benar menunjukkan sifat menyebalkan kami masing-masing dengan sempurna, khususnya bila sedang mendebatkan hal tak penting seperti sekarang. Namun bagiku justru di situlah letak indahnya hubungan kami. Mendebatkan hal sepele dengan Kak Saif sambil ngotot-ngototan (jangan salah baca ya, ngo-tot-ngo-tot-an, bukan en-tot-en-tot-an) begini benar-benar seperti keadaan dua saudara sesungguhnya, akur tak akur. Padahal, aku cuma adik angkatnya.

***

Malamnya Tante Sofiah datang bersama suami dan putra bungsunya ke rumah sakit. Mbak Balqis dan bayinya kemungkinan besar akan berada di rumah sakit hingga tujuh hari ke depan. Kabar yang kudengar dari Kak Adam, dokter masih ingin mengontrol Mbak Balqis pasca sectio caesaria yang dilaluinya dini hari tadi. Begitu pula dengan ASJ, meski dokter sudah mengesahkan kalau kondisi keponakan mungilku itu sehat dan kuat, dia tentu saja perlu asi ibunya. Sepertinya, ide membotol-susu-kan asi sama sekali tidak dikehendaki oleh Mbak Balqis dan Kak Adam jika seandainya ASJ dijauhkan dari ibunya. Maka, ketika Tante Sofiah bercipika-cipiki dengan Bunda sambil bertanya tentang keadaan cucu dan menantunya, dengan berkelakar Bunda menjawab : keduanya sedang saling menyusui dan disusui.

Sesaat kemudian, kedua ibu yang sudah berkarib sejak muda itu masuk ke ruang rawat Mbak Balqis sementara suami mereka terlibat obrolan santai di kursi tunggu berseberangan dengan tempatku duduk. Dan apa yang aku lakukan di tempat dudukku? Tentu saja, memperhatikan putra bungsu Tante Sofiah yang malam ini terlihat begitu memesona. Ah, kenyataannya, Orlando memang selalu membuatku terpesona. Tak peduli bila dia berpenampilan rapi seperti malam ini, dia yang berada dalam kondisi kebalikannya pun tetap saja memesonaku.

Orlando berdehem dan melabuhkan bokongnya di kursi sebelah kananku. Dia mendiamkan diri, tapi kepalanya bergerak memperhatikan seluruh penjuru ruang tunggu.

“Saat tiba tadi sore sepulang kuliah, Kak Saif udah gak di sini,” aku berdehem, “jika Kak Lando sedang mencari Kak Saif.”

“Oh,” responnya pendek lalu berhenti memutar kepala dan melipat lengan di dada.

Keadaan seperti sekarang ini benar-benar menggangguku, menyiksaku hingga ke inti selku. Kalian mengerti maksudku? Orlando sedang berada cukup dekat denganku, tapi rasanya begitu jauh. Dia sedang berada dalam jangkauanku, tapi rasanya bagai terpisah bentangan samudera. Kutolehkan kepalaku ke kanan, aku baru sadar kalau kemeja yang malam ini dipakainya adalah kemeja yang dikenakannya seminggu lalu, kemeja yang tiga kancingnya sempat kubuka. Kuhela napas panjang dan kembali kuluruskan pandanganku.

Bahkan meski Orlando sudah jelas-jelas menarik garis lewat kalimatnya di malam hujan tujuh hari lalu, bahkan meski kenyataan telah menyadarkanku bahwa dapat bersatu lagi dengan Orlando adalah sebuah kemustahilan, namun aku tidak bisa membuat hatiku berpaling darinya. Aku seperti laron, dan Orlando adalah lampu bohlam terang benderang, meski dihalau, aku akan tetap menuju bohlam.

“Hei, Orly,” Tante Sofiah muncul di pintu, “Kamu tak ingin melihat Azhar Sadam Junior?”

“Siapa?”

“Azhar Sadam Junior, ponakan Aidil,” jawab Tante Sofiah sambil tersenyum pada putranya.

“Oh. Namanya keren.”

“Aidil, ajak Kak Lando ke ruang bayi, Junior sudah dibawa perawat kembali ke sana.”

Aku bangun dari kursi lalu berjalan menyusuri koridor menuju ruang bayi yang tadi pagi sempat kudatangi bersama Kak Saif sebelum berangkat ke kampus. Orlando mengekor di belakangku, seperti sengaja tak mau mensejajari langkahku.

“Di sana,” tunjukku, “bayi Kak Adam yang dekat jendela, ada nama Mbak Balqis di boksnya.”

“Kamu gak ikut melihat?” tanya Orlando sambil memandangku.

Aku menggeleng.

“Kenapa?”

Aku diam.

“Kamu gak nyaman berada dekat denganku?”

“Ya.”

Orlando mengerutkan dahi.

“Berada dekat denganmu membuatku tersiksa.” Aku berbalik dan kembali berjalan di koridor menuju ruang tunggu. Namun baru tiga langkah, tanganku berhasil digaet.

“Berada dekat denganku membuatmu tersiksa???” Orlando menaikkan sebelah alisnya. “Maksudmu, kamu tersiksa dengan bau badanku?” kini dia mengendus-endus dirinya, bahkan mengangkat sebelah lengannya untuk membaui ketiaknya sendiri.

Mungkin, jika keadaannya berbeda aku akan tersenyum melihat tingkah Orlando, bahkan mungkin terbahak. Kubebaskan tanganku dari genggamannya. “Terserah,” jawabku lalu balik badan. Tapi bukannya pergi ke tempat sebelumnya kutunjuk, Orlando malah mengikutiku. “Gak jadi lihat bayinya Kak Adam?”

“Katamu terserah, kan?”

“Ya sudah.”

“Berarti terserah juga kan kalau nanti Mama tanya, aku jawabnya kamu gak membawaku ke sana…”

Aku mengatupkan bibir lalu membalikkan diri dan berjalan menuju tempat ASJ berada. Di sampingku, lampu bohlam melangkah tegap mensejajari langkahku. Aku ingin merasa senang, karena sesaat aku sempat berpikir kalau dia ingin aku temani. Namun memberi hatiku sendiri harapan kosong adalah hal terakhir yang ingin kulakukan saat ini. Aku sudah pernah merasakan betapa sakitnya ketika harapanku dibanting hancur dan berserakan di ujung kaki, tujuh hari lalu di malam hujan.

***

“Dek, kamu baik-baik saja di situ?” Tanya Kak Asnia setelah kami mengobrol tentang bayi Kak Adam.

Aku menelentang dan menekuk lengan kananku ke bawah kepala. Lampu kamar sudah kupadamkan sejak satu jam lalu, karena tak kunjung tertidur kuputuskan untuk menelepon ke nomor Bang Taufik untuk bertukar kabar dengan keluargaku sekaligus mengabarkan kalau Mbak Balqis sudah melahirkan dini hari tadi di rumah sakit. “Iya, Kak, Aidil baik-baik saja.”

“Tapi suaramu terdengar tak bersemangat. Kamu sakit?”

“Enggak.”

“Beneran enggak?”

“Beneran, aku baik-baik saja.”

“Ya sudah. Tidur sana. Lain kali meski buat nyampein kabar bahagia, jangan telepon larut malam begini, bikin yang jawab telepon deg-degan saja. Salam buat semua di situ, sampaikan maaf Kakak sama Tante Anisah karena belum bisa datang lihat cucunya.”

“Iya.”

Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikumsalam.”

Setelah menutup sambungan telepon, aku bangkit dan duduk di ranjang. Samar-samar lewat celah gorden, ekor mataku bisa melihat kalau Orlando baru saja menyalakan lampu kamarnya kembali. Jendelanya terang benderang. Aku beringsut turun dari ranjang lalu berjalan pelan menuju jendela. Berdiri di pinggiran tingkap, dengan perlahan kusibak sedikit kain gorden untuk dapat mengintip jendela Orlando.

Aku dibuat kaget.

Di jendelanya, kutemukan sosok Orlando berdiri tegak, bertelanjang dada, sebelah tangan menahan kain gorden dan sebelah tangan bertumpu di jendela. Laki-laki itu diam bergeming. Menatap lurus ke arah jendelaku. Aku jelas dapat melihat sosoknya, karena kamarnya benar-benar terang-benderang saat ini.

Apa yang sedang dilakukannya? Memperhatikan kamarku diam-diam saat aku dianggapnya sudah tidur? Begitukah? Apakah ini baru pertama kali atau dia sudah sering melakukannya? Apakah selama ini dia selalu menunggu lampu kamarku padam lalu bangun dan berdiri di jendelanya untuk mengawasi jendelaku? Tuhan, kumohon itu benar. Karena jika Orlando sungguh melakukan apa yang kusangkakan, maka mendapatkan dia kembali jadi lelakiku tidak semustahil yang kupikirkan beberapa hari ini.

Mendadak, setelah sempat padam seminggu lalu, asaku kembali menyala dan nyaris membakar diriku sendiri. Seperti sisa pembakaran yang disiram bensin satu jirigen, harapanku berkobar bagai tak pernah dipadamkan sebelumnya. Di tempat berdiri, bibirku melengkungkan sebuah senyum. Aku gembira.

“Aku tahu kamu masih mencintaiku, Orlando Ariansyah. Aku tahu kamu masih ingin memilikiku. Egomu saja yang terlalu tinggi. Tunggu saja sampai aku meruntuhkannya…” Aku berbisik sendiri.

Di jendelanya, Orlando masih berdiri dan masih memperhatikan jendelaku. Keberadaanku yang mengintip di pinggiran jendela benar-benar tersamarkan keadaan kamarku yang nyaris gelap.

Rasanya hampir setengah jam ketika Orlando melepaskan gorden dan berbalik meninggalkan jendelanya. Aku menunggu sampai kamarnya kembali gelap baru kemudian menuju ranjangku. Saat sudah berbaring dan memeluk guling di atas ranjang, aku tersenyum sendiri mengingat betapa bodohnya aku dan Orlando selama ini. Dengan fakta yang baru saja kudapati, aku yakin bahwa cinta memang masih mencengkeramkan kukunya di hati masing-masing kami. Hanya keadaan saja yang membuat Orlando harus bersikap seolah-olah dia tak lagi punya cinta untukku hingga membuat hatiku hancur-lebur dengan penolakan demi penolakan lewat kata-kata serta bahasa tubuhnya.

Bisa saja itu dilakukan Orlando untuk menghukumku. Ya, bisa saja aku sedang dihukum olehnya sementara waktu hingga dia merasa cukup lalu menarikku ke dalam pelukannya, mencium bibirku dan menyatakan kalau masa hukumanku selesai.

Aku mengetatkan pelukanku pada guling. Baiklah Orlando Ariansyah, jika memang itu yang sedang kamu rencanakan, aku akan mengikutinya. Tak peduli berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menghukum dan membuatku jera, aku akan menunggunya…

***

“Kak Ai Ai…!!!”

Ya Tuhan, betapa aku kangen seruan itu.

Lala dan Lili mencampakkan boneka di tangan masing-masing ke lantai dan buru-buru menuruni undakan teras rumah untuk kemudian berlari menyongsongku yang baru saja selesai membayar ongkos becak di depan gerbang.

“Whooaaa…!” mereka menabrakkan diri padaku, membuatku nyaris terjungkal.

“Kak Ai Ai, Lala kangen!” seru Lala keras.

“Lili jugaaa…!!!” tambah Lili gak kalah kuat.

“Iya iya, Kak Ai Ai juga kangen kalian.”

Lala dan Lili melepaskan pahaku dari belitan lengan mungil mereka. “Kak Ai Ai sendirian?” Lili menjenguk ke balik punggungku.

Aku tertawa. Apa dia mengira aku menyembunyikan seseorang dalam ranselku? “Iya, Kak Ai Ai sendirian, baru pulang kuliah.”

“Lala Lili, ajak Kak Aidil masuk…!”

Di teras, Tante Ruhama berseru sambil tersenyum ramah padaku. Aku menggandeng tangan kedua gadis cilik di kiri kananku dan mulai melangkah menyebrangi halaman. “Assalamu’alaikum, Tante.”

“Wa’alaikumsalam,” jawab Tante Ruhama masih sambil memberiku senyum ramah.

Aku mendengar deru motor di belakangku dilanjutkan teriakan kencang Lala dan Lili yang terasa bagai hendak mengoyak gendang telingaku.

“KAK LAN LAAANNN…!!!”

Aku batal mendaki undakan teras dan berbalik saat kedua gadis di kiri kananku menyentakkan genggamanku hingga lepas lalu berlari menyongsong pengemudi motor yang baru saja berhenti di tengah pekarangan. Aku melongo.

Di atas motor, Orlando melepas helmnya dan tertawa pada Lala dan Lili yang berlari ke arahnya. “Halo, ladies, long time no see…” dia turun dari sadel motor tepat di saat Lala dan Lili tiba di depannya.

“Kak Lan Lan kenapa gak bareng sama Kak Ai Ai?”

“Iya, kasian loh, duit jajan Kak Ai Ai dipake buat bayarin becak.”

Orlando tersenyum sementara Lala dan Lili menyalaminya bergantian. Dia melirikku sekilas lalu menunduk untuk berpandangan dengan kedua gadis di depannya. “Kak Ai Ai gak ngajak Kak Lan Lan, jadi gak bareng. Untung saja Kak Lan Lan sempat liat saat Kak Ai Ai masuk ke becak, kalau enggak… pasti saat ini kita gak ketemu, kan?”

Lala dan Lili mengangguk setuju.

“Nak Orlando, mari silakan masuk.”

Orlando mengangguk pada Tante Ruhama, digandengnya Lala dan Lili lalu berjalan menuju teras di mana aku masih berdiri setengah tak percaya. “Hai, Kak Ai Ai…,” sapanya ketika melewatiku dan mendahului naik ke teras. Dia menyalami Tante Ruhama lebih dulu, aku mengikuti tindakannya setelah itu.

“Kalian sudah sangat jarang kemari,” ujar Tante Ruhama saat kami sudah berada di ruang depan.

“Dia gak pernah ngajakin saya, Tante.”

“Kak Lando terlalu sibuk dengan skripsinya.”

“Kalau kamu ngajakin aku pasti ninggalin skripsiku.”

“Justru aku nunggu Kak Lando ninggalin skripsi dulu baru ngajakin.”

“Gimana aku mau ninggalin skripsi jika kamu gak pernah ngajakin.”

“Gimana mau ngajakin kalau Kak Lando ngehindar terus!”

“Kak Ai Ai marahan ya?” kalimat Lili membuatku sadar kalau kami sudah mendapatkan tatapan heran dari mereka sejak tadi.

Aku tersenyum pada Lili. “Enggak.”

“Tapi kok kayak marahan?”

Sekarang aku memandang Lala yang masih digandeng Orlando. “Iyakah?”

Lala mengangguk.

“Kalian duduklah dulu, Tante mau lihat Bik Sipah di dapur.”

“Gak usah bikin minum, Tante.”

Tante Ruhama menatapku. “Sudah lama sejak terakhir kali kamu minum di rumah ini, Aidil.”

“Buat dia gak usah, Tante. Tapi saya haus, bikinkan buat saya saja,” Orlando menyengir sementara Tante Ruhama menanggapi dengan tertawa sebelum berjalan menuju dapur.

Orlando mendahului duduk di sofa. Dua gadis yang tampak lebih memujanya ketimbang diriku mengikuti duduk di kiri dan kanannya. “Jadi, kenapa Kak Lan Lan bisa telat ngeliat Kak Ai Ai naik ke becak?” tanya Lala.

“Iya. Kan kalau Kak Lan Lan ngeliat Kak Ai Ai sebelum naik becak, pasti kemarinya boncengan, kan?

“Dia gak suka bonceng Kak Ai Ai lagi sekarang.”

Lala dan Lili menatapku, mata mereka sama membelalak untuk beberapa saat lalu berkedip-kedip. Aku duduk di sofa, berhadapan dengan sofa yang mereka duduki.

“Itu gak benar,” bantah Orlando, matanya menatapku sekilas sebelum fokus pada dua sosok kecil di sampingnya. “Mau tahu kenapa Kak Lan Lan sampai terlambat?”

Lala dan Lili sama menganggukkan kepala.

“Masih ingat sama Kak Saif?”

Pertanyaan Orlando yang ditujukan pada kembaran tak seibu tak seayah di kiri kanannya membuatku ikut berpikir, apa hubungan Kak Saif dengan dia yang terlambat seperti pengakuannya?

“Kak Sa Sa.”

“Iya, si bumbu penyedap itu, ingat kan?” tanya Orlando lagi.

Sekali lagi, Lala Lili menganggukkan kepala.

“Nah, saat mau pergi tadi, tiba-tiba Kak Lan Lan ketemu Kak Sa Sa di gerbang―”

“Kok gak diajak?” potong Lala.

“Iya, kok gak diajak?” Lili membeo.

“Gak bisa.”

“Kenapa?” tanya dua gadis cilik itu berbarengan sementara aku mendiamkan diri, menunggu Orlando bercerita.

“Karena ternyata Kak Sa Sa gak sengaja nelen uang logam lima ratus perak.”

“HAH?” Lili terbelalak lebar dengan mulut terbuka.

“APA!?” Lala juga terbelalak dan membekapkan tangan mungilnya kiri kanan ke mulut. Lili yang tadi lupa melakukan hal itu kini juga mengikuti Lala menjejalkan kedua tangan ke mulutnya.

Aku mengernyit, menatap Orlando dan berusaha mencari kebenaran ucapannya. Ekspresi Orlando begitu meyakinkan. Rasanya mustahil memercayai penuturannya tentang Kak Saif yang karena tidak sengaja sampai harus menelan recehan. Namun sepertinya Orlando menceritakan kejadian sebenarnya. Aku mulai khawatir.

“Iya. Recehannya nyangkut di tenggorokan.”

“Ya ampun!” seru Lala dan Lili, barengan sekali lagi.

“Jadinya, Kak Lan Lan nolongin Kak Sa Sa dulu, ngeluarin recehan lima ratusannya. Karena itulah Kak Lan Lan terlambat.”

“Berarti sekarang uangnya udah dikeluarin?” tanya Lili.

Orlando mengangguk mantap. “Udah. Tapi Kak Lan Lan cuma berhasil ngeluarin seratus perak, sisa empat ratus perak masih nyangkut di leher Kak Sa Sa.”

Lalu laki-laki itu tertawa bekakakan diikuti Lala dan Lili yang cekikikan kemudian.

“Gila!” cetusku dan diam-diam merasa bahagia mendengar Orlando tertawa demikian. Laki-laki itu mengalihkan perhatian padaku, menatapku sejenak lalu kembali memberi perhatian pada Lala dan Lili.

“Kak Lan Lan kereeennn…!!!” teriak Lili.

“Lala suka Lala sukaaa…!!!” sambung Lala.

“Apa yang Mama lewatkan?” Tante Ruhama muncul sambil menatang nampan berisi empat gelas besar sirup dingin.

“Kak Lan Lan melucu, Ma,” Lala menjawab mamanya.

“Oh ya?”

“Iya, tentang Kak Sa Sa yang nelen recehan, padahal bohongan,” Lili meneruskan sementara mama angkatnya manggut-manggut.

Aku bangun dari sofa dan membantu Tante Ruhama menyusun gelas di meja. Lala dan kembarannya langsung mengambil gelas bagian mereka dengan kedua tangan sekaligus dan meminum isinya. Aku tahu kalau Orlando mengikuti gerakanku dengan pandangannya, dan mengetahui hal itu membuat hatiku bermekaran. Mungkin mukaku memerah tanpa kusadari ketika dia seperti sengaja membuat jemari kami bersentuhan saat menyambut gelas yang kuletakkan untuknya sebelum tanganku menjauh.

Aku merasa bagai baru pertama kali didera perasaan sedemikian rupa. Seperti kembali ke masa-masa diriku naksir seseorang untuk pertama kalinya. Dibuat malu-malu saat bersentuhan dengan sosok yang didambakan, persis perawan pingitan yang berjumpa perjaka pilihan jodohnya di hari lamaran. Begitulah.

“Makasih, Kak Ai Ai.”

Aku mengangguk kikuk merespon ucapan Orlando dan mengambil gelas bagianku dari nampan yang masih dipegang Tante Ruhama. “Tante, selain mau nengokin Lala sama Lili, Aidil berkunjung juga mau ngabarin kalau Mbak Balqis baru saja melahirkan dua hari lalu…”

“Wah,” Tante Ruhama berbinar senang mendengar kabar yang kusampaikan. “Alhamdulillah. Samar-samar Tante masih ingat hari pernikahan mereka dulu, Lala sama Lili bikin onar di sana.” Tante Ruhama tertawa pendek. “Apa jenis kelaminnya?”

“Laki-laki, Tante.” Orlando mendahuluiku menjawab, “Sama sekali gak mirip Omnya yang itu.” dia menunjukku dengan dagunya.

“Wajar kan, aku gak ada hubungan darah langsung sama ayah dan ibunya,” jawabku.

“Lala sama Lili juga gak ada hubungan darah tuh, tapi lihat… cantik mereka sama.” Sepertinya Orlando sedang ingin mengusiliku.

Tante Ruhama tertawa mendengar ucapan Orlando. “Kebutulan saja wajah mereka bentuknya sama, model rambut juga sama, Nak Orlando.” Tante Ruhama menanggapi Orlando. “Sudah diberi nama?” tanyanya padaku.

Aku mengangguk. “Azhar Sadam Junior. Kami memanggilnya Junior.”

“Lala mau liat Junior.”

“Lili Juga mau liat.”

“Iya, nanti kita ajak Papa sekalian,” kata tante Ruhama untuk kedua gadisnya.

Orlando mengosongkan gelasnya saat sayup-sayup suara orang mengaji terdengar lewat pengeras suara entah dari mesjid mana. Tak lama lagi waktu Maghrib tiba. “Kak Ai Ai mau pulang sekarang?” tanyanya sambil meletakkan gelas ke meja.

“Kenapa tidak pulang setelah makan malam saja?” ujar Tante Ruhama bermaksud menahan kami lebih lama. “Toh kalian tidak setiap hari kemari, bahkan tidak satu bulan sekali akhir-akhir ini.”

“Sebenarnya Aidil pengen, Tante. Tapi kasihan Mak Iyah kalau Aidil makan di sini, gak ada yang ngabisin masakannya di rumah.” Tante Ruhama tertawa pendek mendengar ucapanku. “Insyaallah nanti kapan-kapan deh, Tante,” lanjutku dan bangun dari Sofa.

*

Kenyataannya tak sampai sepuluh hari lalu, namun terasa bagai sudah sepuluh windu sejak terakhir kali diriku dibonceng Orlando. Tanganku masih di posisi yang sama ketika aku naik ke balik punggungnya saat meninggalkan gerbang rumah Zayed, mencengkeram kemejanya di bagian pinggang, kiri dan kanan. Momen ini : kami yang berboncengan di atas motornya, terlihat sebagai pengingat buatku, bahwa beginilah jika diriku berada di boncengannya. Di tengah perjalanan, kuberanikan diriku untuk mendekatkan dadaku ke punggungnya, tidak rapat, hanya cukup dekat dari jarak sebelumnya.

Aku membaui udara di sekitar pundak Orlando. Sepertinya dia mengganti merek parfumnya, atau mamanya punya pewangi cucian baru. Entahlah, tapi aku lebih suka aroma parfum atau pewangi cucian Orlando yang dulu.

Kudengar Orlando berdehem. “Kenapa gak bilang-bilang mau ke rumah Lala?” tanyanya untuk pertama kali sejak kami di jalan.

“Kupikir Kak Lando gak peduli apakah aku mau ke sana atau tidak. Jadi aku pergi sendiri.”

“Sejak kapan kamu punya pikiran begitu?”

“Pikiran apa?”

“Bahwa aku gak peduli.”

“Oh.” Aku berdehem sebelum menjawab. “Kalau boleh jujur, aku sudah berpikir begitu sejak hari pertama Kak Lando mengabaikanku―”

“Aku tidak pernah mengabaikanmu,” potongnya cepat dan sedikit menolehkan kepala. “aku sibuk, bukankah sudah pernah kukatakan?”

“Dan makin yakin kalau Kak Lando gak peduli lagi sejak kita batal beli HVS dan tinta printer malam itu,” sambungku tanpa memedulikan kalimat pembelaan dirinya.

Orlando mendiamkan diri.

“Apa yang Kak Lando katakan pada Lala Lili tadi itu beneran?”

“Tentu saja bohong, bukannya sudah jelas? Itu lelucon. Saif yang maha hebat itu tidak mungkin mendadak bego dan menelan recehan meski dia berubah tak waras sekalipun.”

Aku menahan kesalku dengan ucapannya tentang Kak Saif. “Bukan lelucon garing itu, tapi omongan Kak Lando tentang melihatku naik becak.”

Dia diam sesaat, menurunkan kecepatan dan mengganti gear saat laju motornya dihalangi truk di sebelah depan. Orlando bagai sengaja tidak menyalip truk itu, padahal dia sangat bisa melakukannya. Kupikir, dia sedang tidak ingin mengebut dan membuat kami terlalu cepat tiba di rumah.

“Tadinya aku ingin menjemput, karena kulihat motor Saif masih di halaman. Aku sudah berusaha untuk cepat sampai di fakultasmu, tapi tidak cukup cepat untuk menundamu naik becak.” Orlando mengambil jeda yang membuatku berpikir kalau dia sudah selesai memberi keterangan. Saat aku hendak bertanya lagi, dia kembali bersuara. “Biasanya, kalau tak ada kawan pulang, kamu pasti naik angkot. Tapi tadi kamu kulihat memilih becak, kukira kamu akan pergi ziarah. Jadi, aku mengikuti becakmu.”

“Kenapa gak langsung memapasi dan menawarkanku tumpangan? Aku tidak keberatan turun dari becak dan pindah ke motor Kak Lando.”

“Kasihan si abang becak kalau aku menyabotase pekerjaannya.”

Di balik punggung Orlando, aku tersenyum kecil. Saat dia sedikit menaikkan kecepatan untuk menyalip truk di depan, aku mengambil kesempatan untuk memindahkan peganganku dari mencengkeram kemejanya di bagian pinggang dan bergerak lebih ke depan. Kujalin jemari tanganku di depan perut Orlando. Kulihat sekilas dia menundukkan kepala. Apa dia keberatan?

Ragu-ragu, aku bermaksud melerai jemariku dan kembali berpegangan pada kemejanya seperti sebelumnya. Namun ketika aku baru membuka tautan jari-jari tanganku, Orlando menyentuh lenganku dengan tangan kirinya. Dia berdehem. “Aku mau mengebut. Mungkin sebaiknya kamu tetap pegangan seperti ini…”

Jika tadi aku hanya tersenyum kecil saat dia mengaku mengasihani tukang becak, kini di balik punggungnya aku tersenyum lebar saat dia seperti menyiratkan keberatannya jika aku tak memeluk pinggangnya. Maka, kujalin kembali kedua tanganku di perut Orlando dan kurapatkan dadaku ke punggungnya hingga tidak menyisakan celah sementara dia mulai menambah laju. Begini, rasanya bagai aku sudah mendapatkan kembali Orlandoku.

“Gak mampir dulu?” tanyaku begitu sudah turun dari motor Orlando. Pertanyaan yang benar-benar basa-basi sekali. Aku hanya ingin mengulur waktu Orlando.

“Rumahku tepat di sebelah, aku bisa menyeberang pagar dan mampir kapan saja,” jawabnya.

“Mampirlah sekarang, mungkin Kak Lando bisa balas makan malam di tempatku.”

Dia menggeleng. “Mungkin lain kali. Sana masuk…”

“Makasih ya, Kak.”

“Iya.”

Tapi aku masih berdiri di gerbang. Dan Orlando juga belum melajukan motor menuju rumahnya. Padahal waktu Maghrib nyaris habis.

“Masuklah, Dil.”

“Apa Tante Sofiah ganti softener baru?” bukannya patuh pada suruhannya, aku malah membuka obrolan baru.

“He?” Orlando mengernyit.

“Wangi Kak lando beda.”

“Oh.” Dia batuk-batuk. “parfumku yang baru, aku baru menggantinya hari ini. Apa baunya jelek?” seperti yang sempat dilakukannya malam kemarin di rumah sakit, sekarang pun Orlando kembali mengendus-endus dirinya. “Padahal aku sudah yakin kalau nama parfumnya bukan Rafflessia Arnoldi saat beli tadi pagi…”

Aku tertawa pendek untuk menghargai leluconnya yang disampaikan dengan nada tidak lucu sama sekali, malah terkesan serius. “Enggak. Baunya enak.”

“Kamu suka?”

Aku mengangguk, “Tapi sepertinya aku lebih suka parfum Kak Lando yang dulu.”

Kami bertatapan sesaat. “Tadinya kupikir dengan ganti parfum mungkin bisa menggantikan suasana…”

Apa maksudnya? Apa sikap manisnya sore ini karena dia baru saja ganti parfum? Rasanya tak ada hubungan sama sekali. Tunggu, bukankah kabarnya aroma bisa mempengaruhi mood seseorang? Mungkin begitulah yang sedang terjadi pada Orlando. Jika demikian, mungkin aku harus meralat kalimatku dan berbohong kalau sebenarnya aku lebih suka wangi parfumnya yang sekarang.

“Kalau memang baunya gak enak, yah… berarti aku harus kembali ke parfum lama―”

“Jangan, Kak!” aku berkata setengah berteriak. Orlando menekuk alis. “Emm, sebenarnya baunya enak kok, aku lebih suka yang sekarang deh kayaknya.”

Orlando makin mengernyit.

“Iya, aku lebih suka yang ini,” ujarku sambil berharap dalam hati kalau dia percaya.

Hening sesaat. Kemudian Orlando tertawa. “Masuklah, Dil. Sudah cukup bohongnya.”

“Aku gak bohong.” Kuangkat dua jariku.

“Masuk sana!”

Aku balik badan dan mulai memasuki pekarangan. Saat sudah berjalan sejauh lima langkah dan kudengar kalau Orlando baru saja memasukkan gear start motornya, aku berbalik dan berteriak. “Jangan ganti parfumnya dengan yang lama, Kak! Jangan ganti!”

Di atas motornya, Orlando mengibaskan lengan lalu melaju pergi menuju halamannya.

***

Aku mematikan lampu kamar tepat pukul sebelas, sepuluh menit setelah kamar Orlando jadi gelap lebih dulu. Aku tidak langsung tidur, kuambil guling di atas ranjang lalu kudekati jendela. Aku mendekam di sana.

Menunggu.

Berharap.

Berdoa.

Tuhan, jangan biarkan aku menunggu sia-sia. Jangan berikan aku jawaban yang tidak kuharapkan. Tuhan, aku ingin melihatnya berdiri di jendelanya. Beri aku jawaban itu.

Tapi jendela di seberang masih gelap.

Guling makin penyok dalam pelukanku. Mataku mulai capek. Apa kejadian semalam hanya kebetulan dan terjadi satu kali saja? Apa hanya semalam saja Orlando memerhatikan kamarku selama kami tidak lagi berstatus kekasih? Aku bisa remuk jika itu yang terjadi.

Namun sepertinya memang begitulah kenyataannya. Sudah nyaris dua jam dan kamar Orlando tetap saja gelap. Aku berusaha mengintip dan memperhatikan lebih seksama keadaan jendela di seberang. Bisa saja Orlando tidak menyalakan lampu kamarnya. Bisa saja dia sudah di jendela dan mengawasi kamarku. Dan kudapati kalau aku sedang menghibur diriku. Orlando tidak di sana berdiri dalam gelap. Dia tidak sedang memerhatikan kamarku. Tak ada gerakan apapun di jendelanya.

Aku menggigit bibirku ketika jam di lantai bawah berdentang dua kali. Rasanya ada air yang bergulir di pipiku. Tanpa sadar, ternyata aku sudah menangis.

Aku menunggu sia-sia.

Harapanku kandas.

Doaku tak terkabul.

Kukeringkan air mataku dengan jari lalu bangun dari lantai. Ketika aku siap berbalik menuju ranjang, sekonyong-konyong jendela di seberang sana dipenuhi cahaya. Aku terpaku. Lalu bibirku melengkungkan senyum lebar meniru bulan sabit di langit sana.

“Kamu terlambat, Cinta. Hampir saja aku menyerah…”

Kurapatkan diriku ke jendela, kembali duduk mendekam di pinggirnya. Sangat hati-hati, kusibak tepian kain gorden, cukup bagi mataku untuk mengintip ke seberang. Dia belum di sana, aku tahu kalau dia sedang berada di kamar mandi. Beberapa menit kemudian, kain gorden jendelanya tersibak dan dia muncul di jendela. Telanjang dada seperti malam kemarin. Melihat lurus ke arah jendelaku persis malam kemarin.

Sekali lagi aku tersenyum.

***

Untuk pertama kalinya sejak diputuskan Kak Saif, Mbak Ruthiya meneleponku. Aku berjalan keluar dari kafetaria kampus dan mencari pojok yang lebih sepi.

“Apa kabar, Dik…”

Aku kangen dipanggil ‘adik ipar’ seperti biasa dia menyebutku saat masih berstatus pacar Kak Saif. Tapi kini dia tidak lagi memanggilku seperti itu. “Baik, Mbak. Sangat baik. Mbak Tiya apa kabar?”

“Sejauh ini masih baik…”

Nada suara Mbak Ruthiya membuatku bersedih. Dia seakan kehilangan kekuatan dan keceriaannya. Kuterka jika akhir-akhir ini dia sering susah tidur dan nafsu makannya berkurang. Dalam bayanganku, Mbak Ruthiya berubah kurus dan pucat. “Mbak…,” panggilku setelah mendiamkan diri beberapa saat.

“Iya.”

“Aku minta maaf ya.” Di seberang, kudengar Mbak Ruthiya tertawa lemah. “Kak Saif memang kambing banget. Padahal aku udah pernah bilang kalau suatu saat Kak Saif nikah, aku pengen Mbak Tiya yang jadi kakak iparku.”

Mbak Ruthiya tidak merespon.

“Mbak Tiya,” kembali aku memanggil saat ke-diam-an Mbak Ruthiya mulai membuatku cemas.

“Iya…”

Aku turut mendengar isak dalam jawabannya. Sepertinya Mbak Ruthiya sedang berair mata di tempatnya. “Mbak baik-baik saja?”

Aku menunggu. Rasanya nyaris semenit. “Dia gak pernah menjawab panggilan telpon Mbak, Dik. Gak pernah bales e-mail yang Mbak tulis, mesej Mbak juga diabaikannya.”

Aku kesulitan bernapas. Rongga dadaku sesak, tenggorokanku tercekat. Mbak Ruthiya sudah tidak mampu membendung kesedihannya. Aku ingin menangis bersama perempuan itu andai bisa. Tapi aku di sini, berada cukup jauh dari titik keberadaannya. Jarak. Sebab yang sama itulah yang membuat Kak Saif menarik diri dari hubungan mereka. “Apa yang bisa Aidil perbuat, Mbak? Karena kalau boleh menurutkan hati, ingin saja Kak Saif aku tikam pakai garpu.”

Mbak Ruthiya tertawa dalam isaknya. Kuberi dia waktu untuk menenangkan diri. “Bagaimana kabarnya?”

Amat sangat kurang ajar jika aku memberitahukan Mbak Ruthiya tentang gadis-gadis yang dikencani Kak Saif dalam waktu yang instant. “Dia baik-baik saja. Itulah yang bikin aku geretan, Mbak. Dia sama sekali gak insomnia, sama sekali gak anorexia, sama sekali gak anemia, konon lagi hernia, tidak sama sekali. Dia sehat wal afiat.”

“Dia menikmati tidak terikat lagi dengan Mbak…”

Aku tak tahu harus merespon bagaimana. Membantah perkataan Mbak Ruthiya dengan mengatakan kalau Kak Saif tidak begitu, mungkin sama saja dengan memberinya harapan kosong jika ternyata Kak Saif benar-benar seperti yang dia katakan. Membenarkan ucapannya malah akan membuatnya semakin down. Jadi untuk saat ini diam adalah sikap yang tepat.

“Bagaimana keadaan di sana, Dik?” tanya Mbak Ruthiya setelah diam lumayan lama.

“Oh, ada kabar gembira. Mbak Balqis baru saja melahirkan bayi laki-laki…”

“Ya ampun… Mbak pengen lihat…”

Aku tertawa. “Kalau gitu belilah tiket dan balik kemari. Hitung-hitung liburan ke luar negeri.”

Mbak Ruthiya tertawa. “Luar negeri.” Dia kembali tertawa. “Kalau saja Mbak gak pernah pergi ya, Dik.”

Aku mendesah. “Cerialah, Mbak. Jangan menyalahkan diri. Kalau jodoh Mbak Tiya memang Kak Saif, pasti alam akan mempersatukan suatu saat kelak.”

“Hemm… semoga.”

“Iya, semoga. Tapi sambil nunggu alam bertindak, gak ada salahnya Mbak Tiya lirik-lirik Plan B-nya di situ, buat jaga-jaga aja.”

Mbak Ruthiya tertawa. “Mbak akan mempertimbangkan saranmu, Dik.”

“Omong-omong, aku kangen dipanggil Adik Ipar sama Mbak Tiya.”

Di seberang telepon, perempuan itu tertawa. “Mungkin mulai sekarang Mbak akan menambahkan kata ‘Mantan’ dan ‘Calon’ di depan Adik Ipar.”

“Mantan calon Adik Ipar… hemm… terdengar seperti mimpi buruk dan harapan yang tidak kesampaian.”

Mbak Ruthiya terkikik

***

Dalam beberapa kasus, kekuatan cinta sama hebatnya seperti daya gravitasi yang dimiliki Bumi. Jika kau benar-benar mencintai seseorang―maksudku, benar-benar cinta hingga ketika kau berpisah darinya kau mendapati kalau duniamu tidak lagi sama―maka pikiranmu akan terus berpusar padanya, seperti terperangkap. Tak bisa move on. Tak bisa mengenyahkannya dari hati dan pikiran. Gravitasi juga seperti itu. Bumi menarik apapun benda mati dan makhluk hidup di atas permukaannya dengan gravitasi yang dimilikinya. Ia menyedot dengan kekuatan hebatnya itu. Apapun sesuatu yang berada di udara, bila kehilangan dayanya, ia akan jatuh ke tanah, Bumi menarik mereka dengan gravitasinya. Persis seperti itulah yang terjadi padaku sejak Orlando mengucap putus.

Malam saat Orlando menolakku, kukira esoknya aku akan mengatur hatiku untuk mundur teratur, kukira aku akan mulai melatih pikiranku agar secara bertahap berhenti memikirkan Orlando. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Hatiku makin maju dan pikiranku terus tertuju pada Orlando. Laki-laki kepada siapa cintaku sudah mentok itu seperti Bumi, gravitasinya terus mengontrolku, terus menarikku padanya. Dan hingga hari ini, efek gravitasi Orlando masih kentara mempengaruhiku, bahkan makin kuat saja.

Pikiranku tentang Orlando dihentikan kedatangan keluarga Tante Ruhama. Lala dan Lili langsung menjeritkan nama Kak Saif begitu turun dari Mobil dan menemukan kakak laki-laki itu sedang menyiram rumpun Bougenville Bunda di halaman. Aku bangun dari kursi teras dan menyambut kedatangan mereka.

“Duh Tante, Aidil lupa bilang kemarin kalau Mbak Balqis masih di rumah sakit,” kataku saat bersalaman dengan Tante Ruhama. “Bunda juga baru saja berangkat sama Ayah ke sana.”

“Yah…” Lili mendesah kecewa.

“Tak apa, Aidil.” Tante Ruhama meminta suaminya membuka bagasi mobil dan mengeluarkan kereta bayi dari sana. “Tante gak tahu apa Junior sudah punya ini atau belum, mudah-mudahan sih belum punya…”

“Itu pilihan Lala sama Lili, mereka ngotot mau bawa itu,” papanya Lala menukas.

Kak Saif menyambut kereta bayi berwarna campuran biru terang dan abu-abu itu dari tangan papa Lala. “Mereka milihnya tepat banget, Om. Junior belum punya yang warna begini.” Kak Saif menyengir.

Aku tertawa mendengar kalimat Kak Saif. Tadinya saat mendengar kalimat awal laki-laki itu, kupikir dia akan berbohong dengan mengatakan kalau ASJ belum punya kereta bayi.

“Tos dulu, kalian keren,” lanjut Kak Saif sambil mengajak dua gadis di dekatnya melakukan tos. Lala dan Lili berlompatan untuk menjangkau telapak tangan Kak Saif, laki-laki itu sengaja tidak merendahkan tangannya.

“Kereta bayi pilihan Lala sama Lili lebih bagus dari yang dibeli ayahnya Junior deh kayaknya,” ujarku. “lebih cerah, yang dibeli Kak Adam warnanya gelap dari roda sampai handlenya.”

Tante Ruhama tertawa. “Untung saja mereka gak nunjuk warna merah muda tadi. Tante sempat was-was loh.”

Kak Saif terpingkal, menjawil pipi tembem Lala dan mengacak rambut Dora Lili. “Kalian keren,” ulangnya. “Tos dulu!”

Sambil tertawa, kedua gadis cilik itu kembali berlompatan berusaha menjangkau telapak tangan Kak Saif. Melihat mereka, sekilas aku serasa melihat Zayed, sedang bercanda dengan kedua adiknya itu. Hatiku berdesir. Kualihkan perhatianku dari mereka dan berbalas senyum dengan Tante Ruhama.

“Jadi gimana, Tante mau masuk dulu dan ke rumah sakit setelah makan malam nanti? Ini sudah cukup sore.”

“Sebaiknya kami langsung ke rumah sakit saja, Nak Aidil.” yang menjawab papanya Lala sambil menunjuk kedua putrinya. “mereka sudah ribut sejak di mobil tadi, ingin cepat-cepat melihat adik bayinya.”

Aku tersenyum dan manggut-manggut. “Padahal Mak Iyah pasti bakal senang kalau ada yang ikut mencicipi masakannya.”

Tante Ruhama tertawa, “Lain kali saja.”

Mereka kembali masuk ke mobil, Lala dan Lili melambai padaku dan Kak Saif lewat kaca yang terbuka. Aku balas melambai, sementara Kak Saif memberi mereka kiss bye. “Girls, makasih kereta bayinya, Baby Junior pasti bakal suka,” seru Kak Saif. Dua gadis di mobil sama menganggukkan kepala.

“Mereka lucu ya, Dil.”

Aku menoleh Kak Saif, mobil keluarga Lala baru saja berbelok di gerbang. “Iya,” jawabku singkat.

“Yang adiknya Zayed Lala, kan?”

Aku diam. Sekilas aku kembali ingat kejadian beberapa saat lalu ketika Kak Saif bercengkerama dengan Lala dan Lili.

“Seakrab apa ya mereka dulu?”

“Tentu saja sangat akrab.”

“Hemm… pasti dulu keadaannya begitu sulit buat Lala dan Lili Ya, Dil…”

Aku diam.

“Kamu merasa gak? Setiap berjumpa kita, aku, kamu atau Orlando, Lala sama Lili mesti senang…”

Aku mengggumam.

“Apa dia melihat kita sebagai kakak mereka ya?”

Topik ini mulai menyakitiku.

“Tapi, aku merasa mereka lebih senang ketemu aku deh ketimbang berjumpa kamu.”

“Mungkin cara Lala dan Lili memandang Kak Saif sama seperti saat mereka memandang kakak mereka dulu.”

Kak Saif menolehku. Dia diam dengan pandangan terhujam padaku. “Apa kamu juga memandangku seperti itu?”

Aku terdiam sesaat, berusaha memahami kalimat Kak Saif. Sedetik kemudian kugelengkan kepalaku. “Kini hanya satu orang yang kupandang persis sama seperti cara aku memandang kakak Lala dan Lili dulu… itu Orlando.”

Kutemukan Kak Saif tersenyum dan mengangguk mantap. “Semoga Orlando lekas menyadari kalau memutuskan adikku adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya,” ujar Kak Saif seperti kepada dirinya sendiri.

“Dia tidak melakukan kesalahan apapun.” Kuambil alih handle kereta bayi dari tangan Kak Saif dan kubawa masuk. Di kaki teras, aku berhenti dan membalikkan badan. “Oh, omong-omong, jika Aidil boleh minta sesuatu dari Kak Saif, jawablah panggilan telepon Mbak Tiya lain kali. Jika itu terlalu berat untuk dilakukan, balaslah e-mailnya. Dan jika Kak Saif cukup jahat untuk tidak melakukan keduanya, bermurah hatilah dengan sudi mengetik balasan SMSnya. Dia sudah cukup tersiksa selama ini…”

Kak Saif terpegun. Selang penyiram memancurkan air ke perdu bougenville yang sama terus menerus selama dia bergeming.

***

Ini kali pertama kami ke bioskop setelah tidak berstatus pacaran. Filmnya Big Hero 6. Orlando benar-benar keranjingan kartun. Dan dia tipe penonton yang benar-benar mudah tersentuh dengan adegan mengharukan di dalam film animasi. Sama seperti saat menonton Doraemon Stand By Me tempo hari, kini dia juga berkaca-kaca saat Hiro Hamada dengan air mata berlinangan harus meninggalkan Baymax dan membiarkan teman robotnya itu mengorbankan diri di dalam portal.

Ketika aku memberanikan diri menggenggam pergelangan tangan kanannya dengan maksud menguatkan, tak kuduga Orlando memberi tindakan balas dengan menjalin jari-jari kami satu sama lain. Kami menghabiskan sisa film dengan tangan saling bertaut. Ini sungguh-sungguh membuatku senang. Kami masih belum kembali berstatus pacaran, tapi kedekatan yang terjadi akhir-akhir ini antara aku dan dia membuatku merasa sudah mendapatkan kembali Orlandoku. Keadaan bagai sudah kembali ke sediakala. Itu cukup bagiku. Dan, anggapanku tentang aroma yang mempengaruhi mood sepertinya tidak berlaku bagi Orlando. Karena malam ini kudapati dia kembali menggunakan parfum lamanya.

“Kalau aku jadi Baymax, dan kamu jadi Hiro, apa kamu akan membiarkanku meledakkan diriku?”

Orlando bertanya ketika kami sudah berada di parkiran. Pertanyaan itu kuanggap sebagai peluang yang Orlando berikan untukku. Jika aku menjawab dengan benar, mungkin akan memperbesar peluangku untuk mendapatkan kembali ciumannya dalam waktu dekat ini.

“Kalau aku menjawab ‘tidak’, apa Kak Lando akan bilang aku bodoh?”

Orlando diam sebentar sambil merogoh sakunya. “Kenapa kamu ingin menjawab ‘tidak’?”

“Karena aku tidak mau jadi Hiro yang kesepian di hari-hari mendatang.”

Dalam temaram lampu kulihat Orlando tersenyum. “Tapi kalau kamu jadi Baymax dan aku jadi Hiro, sepertinya aku tidak keberatan meninggalkanmu di dalam portal.”

“Kadang kita memang harus berkorban untuk apapun yang kita sayang, kan? Baymax berkorban untuk Hiro, dan kayaknya dia bahagia bisa melakukannya, pengorbanannya membuat Hiro terus hidup. Aku mau jadi Baymax yang demikian untuk Hiro yang aku sayangi…”

“Kamu melupakan ‘tidak keberatan’ dalam kalimatku, Dil…”

“Aku fokus pada kata ‘sepertinya’, jadi… belum tentu Kak Lando benar-benar tidak keberatan. Kan?”

Di dekat motor, Orlando berbalik menghadapku. “Mengapa kamu tidak mengacuhkan saja aku, Dil…”

Aku beku. Bisikannya bagai air es yang bersimbah di atas kepalaku.

“Aku berusaha untuk tidak memikirkanmu sepanjang waktu. Berusaha untuk mengalihkan perhatianku dari apapun tentangmu…” Orlando menggelengkan kepalanya. “Tapi tak bisa. Semakin aku berusaha, semakin aku merasakan jika diriku tak ubahnya rudal yang hilang daya dan kendali lalu gravitasi membetotku untuk jatuh kembali ke Bumi…”

Jika kami tidak sedang di keramaian, mungkin aku akan menghamburkan diriku ke dada Orlando, memeluk erat sambil berusaha agar tidak membuat tulang-tulangnya bergeser atau sendi-sendiku melenceng dari engselnya. Tapi saat ini orang-orang berlalu-lalang di sekitar kami.

“Apa Kak Lando akan percaya jika kukatakan kalau aku merasakan efek gravitasi yang sama?”

Dia menggeleng.

Bumi seperti berputar dan gedung mal bagai ambruk menimpaku saat menemukan Orlando menggelengkan kepalanya.

“Tapi aku tidak meragukannya…”

 

 

 

Akhir February 2015

Dariku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com