wpid-new_beautiful_stranger_cover.jpg

 

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Aaaaaarrrggghhh…!!!

Aku gilaaaa… hampir saja kebingungan ketika menyelesaikan sekuel ini, hampir saja tersesat dan terperangkap dengan cinta memabukkan kedua tokohnya. Tapi sukur akhirnya aku nemu pencerahan. Kekekekeke.

Judulnya kutambahi kata NEW, sudah terlalu biasa jika kutambahi angka 2 di ujungnya. Selain itu, kata NEW juga kuharapkan bisa mewakili setting yang dengan amat sangat terpaksa harus kubuat melompati tahun-tahun. Jika di Beautiful Stranger kemarin kalian menemukan Sultan dan Sakti yang berusia belasan, maka di sini kalian akan mengenali mereka sebagai sosok pria dewasa. Semooga gak ada yang protes, jika pun ada, aku hanya bisa bilang : inilah sekuel yang bisa kuberikan, jika kalian merasa tak cukup, silahkan bakar diri.

😀

Beware sama endingnya ya, guys…! Asal tau saja, itu bukan ending dadakan loh, bukan pula ending alternatif karena Nayaka mentok gak tahu mau dibawa kemana cerita ini. Itu adalah ending yang kupilih ketika punya niat untuk mengabulkan beberapa permintaan sahabat terhadap sekuel Beautiful Stranger. Oleh karena itulah, untuk mengeksekusi ending tersebut, aku perlu mengambil setting waktu seperti kujelaskan di atas. (pasti pada bisa nerka nih endingnya, gak masyalah, gak masyalah). Keterka atau enggak, itu bukan lagi urusan Nayaka, tetapi urusan kalian yang baca. Endingnya disukai atau enggak, itu juga bukan lagi masalah Nayaka, melainkan jadi masalah kalian sendiri. Kalau kecewa sama endingnya, aku cuma bisa bilang gini : makanya, jangan kegatelan minta Nayaka bikin sekuel lain kali!

😀

Meski demikian, jauh di lubuk hatiku (halah, kayak lagu saja pake lubuk hati segala) aku tetap berharap kalian bisa menikmati membaca NEW BEAUTIFUL STRANGER seperti aku menikmati ketika menulisnya.

 

 

Wassalam

n.a.g

##################################################

 

Katanya, selalu ada kesakitan yang menyertai setiap cinta

Aku tak ingin memercayai itu

Tujuh tahun lalu, aku mendapatkan satu cinta

Dan aku tidak merasakan sakit yang kabarnya ikut serta itu

Apa karena cinta yang kudapatkan terlalu singkat?

Bukan, karena hingga sekarang aku masih bertahan dengan cinta yang sama, tujuh tahun lamanya

Atau, karena cinta ini terlalu ilusi untuk disertai sakit?

Mungkin iya, karena dia tidak bersamaku untuk berdebat atas segala perbedaan dan bersitegang pada tiap kemarahan

Apapun… ini tetap cinta

Sebut aku gila karena memang aku sudah begitu

Tidakkah aku memang gila?

Tak sampai tujuh hari bersamanya, namun bertahan menjaga kenangan tentangnya hingga tujuh tahun

Ya, ini gila!

Ini kegilaan yang kunikmati…

Kapan kegilaan ini akan berakhir dan berganti dengan kenyataan?

Mutlak, sampai waktu menuntun langkahku dan jalannya bertemu di persimpangan

Ketika saat itu datang, kuharap dia masih seperti dirinya yang dulu…

*

AKU masih menyimpan kenangan itu. Makin sering kuingat akhir-akhir ini hingga hampir setiap malam aku melihat senyumnya dalam tidurku. Ketika terbangun saat pagi, hal pertama yang kupikirkan adalah : apakah dia masih memikirkanku setelah tahun-tahun terlewati?

Kata orang, jika kita mengingat seseorang sedemikian sering dan sedemikian kuatnya, bisa jadi seseorang itu juga sedang mengingat kita dengan cara yang sama. Kuharap mereka benar. Kuharap itu sungguhan dan aku akan terus mengingatnya agar dia juga terus mengingatku.

Tujuh tahun. Siapa mengira aku bisa menjaga kenangan ini tetap hidup dalam ingatanku salama itu? Siapa mengira aku bisa menghidupkan Sultan Arraniry bersamaku hingga tujuh kali dua belas purnama terlampaui? Aku sendiri tidak pernah menduganya. Kupikir, aku akan melupakannya seiring waktu bergulir menambah usia bumi. Kupikir, Sultan Arraniry akan terdepak dari kepalaku saat kutemukan seseorang lain yang lebih indah darinya. Namun itu tidak terjadi. Bukan karena waktu tujuh tahun tidak menguji ingatanku, tujuh tahun bukan waktu yang singkat, besipun bisa berkarat jika terbiar selama itu. Bukan juga karena aku tidak berpapasan dengan seseorang lain yang lebih indah darinya, Jakarta tidak pernah kehabisan stok laki-laki berparas bak bintang, namun bagiku mereka tampak biasa sedang Sultan Arraniry demikian istimewa.

Yang menghalangi waktu untuk membuatku lupa adalah, kenyataan bahwa setiap hari ketika kupandang sosok polosku di depan cermin saat hendak berpakaian, aku akan teringat bahwa dulu Sultan Arraniry pernah menjamah setiap jengkalnya, sebagai orang asing pertama yang melakukannya. Dan yang menghalangi diriku terpikat pada seseorang lain berparas bak bintang di sini adalah, kenyataan bahwa setiap kali melihat seseorang lain itu dan kudapati diriku terpikat hingga siap bercinta dengannya, aku tak bisa mencegah diriku dari pikiran bahwa mungkin di suatu tempat tak kuketahui, Sultan Arraniry masih setia padaku dengan tidak terpikat pada satupun laki-laki lain. Jadi, apa yang membolehkanku untuk berkhianat darinya jika dia bisa sesetia itu terhadapku?

Maka beginilah aku sekarang, pria dua puluh enam tahun yang masih setia melajang dengan satu-satunya pengalaman seks yang pernah dialami adalah bercinta bersama Sultan Arraniry, Strangerku yang indah.

Bukannya aku tak pernah mencari. Dua belas bulan pertama sejak terpisah darinya dalam keadaan clueless, aku nyaris menjelajah setiap sudut Jakarta demi menemukannya. Tak terhitung berapa banyak pengguna Facebook dan Twitter bernama depan Sultan atau bernama belakang Arraniry atau kombinasi keduanya yang kukontak, namun mereka bukan Sultan Arraniry yang pernah kudekap di Kuta Bali. Putus asa, aku berhenti mencari dan berdamai dengan masa lalu.

Tekadku akan terus mengingatnya, menghidupkan kenangan indah bersamanya dalam diriku. Aku percaya, waktu punya caranya sendiri untuk mempertemukanku dengan Strangerku kembali suatu saat nanti. Mungkin tidak sekarang, tak mengapa bagiku jika harus melewati tujuh kali dua belas purnama lagi dalam penantian, tak mengapa bagiku jika harus mengelinding dan jungkir balik selama tujuh tahun lagi dalam pusaran kenangan…

***

“AKU TIDAK INGIN BURU-BURU MENIKAH, MA…!!!”

Untuk yang tak terhitung kalinya sejak dua tahun terakhir ini aku dibuat uring-uringan dengan usaha Mama menjodoh-jodohkanku dengan putri rekan-rekan bisnisnya. Awal-awal, aku akan menolak secara halus dengan mengatakan bisa cari jodoh sendiri yang sesuai inginku setiap kali Mama mengajakku ke agenda-agenda para istri bos untuk dikenalkan dengan anak-anak gadis mereka, namun makin ke sini Mama makin ‘berinisiatif’ membantuku mencari. Hari ini, adalah keduabelas kalinya Mama menunjukkan padaku foto anak gadis rekan-rekan arisannya dalam kurun waktu dua bulan. Dua bulan yang menjengkelkan. Bayangkan saja, begitu aku masuk rumah sepulang kerja, belum pun melonggarkan dasi yang seakan siap menjerat leher, Mama sudah menyambut di pintu dengan beberapa lembar foto di tangan.

Aku frustrasi berat sejak dua bulan terakhir ini. Siap jadi gila esok jika usaha Mama tidak kublokir sejak sekarang.

“Siapa yang minta kamu untuk langsung menikah, Sakti?” Mama merespon setelah sembuh dari keterkejutannya atas bentakanku sesaat lalu. “Mama hanya ingin kamu memulai sebuah hubungan dulu, baru kemudian menikah. Jika kamu tak pernah memulai sebuah hubungan, lalu kapan kamu nikahnya?”

Ingin saja kuteriakkan kalau aku akan melajang seumur hidup, ingin saja kukatakan pada Mama kalau putra semata wayangnya tak suka perempuan. Namun aku belum siap melihat Mama tekena serangan jantung mendadak hingga stroke.

“Aku tak punya waktu untuk memulai sebuah hubungan apapun saat ini, Ma,” desisku lalu naik tangga menuju kamar.

“Lalu kapan kamu punya waktu?”

Di dasar tangga masih bisa kudengar Mama mendumel sendirian sebelum pintu kamar kubanting keras. Masih berkemeja, kuhempaskan badanku terlentang di ranjang. Keheningan menarikku pada pusaran pikiran dan lalu sebuah pertanyaan bergema berulang-ulang dalam kepalaku, sepenting apakah sebuah pernikahan bagi laki-laki dewasa mapan hingga dia dituntut harus melakukannya?

Di masa-masa begini aku berharap punya saudara, hingga Mama tidak menghabiskan seluruh waktunya untuk merecoki kehidupan pribadiku seorang saja. Tapi aku anak tunggal. Nasib baiknya adalah, sudah sejak lama aku berhenti jadi bocah penurut dan anak rumahan. Dan dalam kondisi seperti sekarang, mungkin sudah saatnya aku membentuk karakter baru di depan Mama atau Papa, karakter baru sebagai pembangkang.

*

“Apa kamu marah padaku, Stranger?”

Sultan memalingkan wajahnya ke arahku. “Mengapa aku harus marah padamu, Stranger?” dia balik bertanya.

“Kalau tidak marah, mengapa tidur jauh dariku, Stranger?”

Sekarang dia tersenyum simpul lalu merubah posisi tidurnya dari terlentang jadi menyamping menghadapku. “Mengapa aku harus tidur mepet padamu, Stranger?”

“Biar kamu bisa memelukku jika nanti merasa dingin, Stranger,” jawabku sambil melirik pada selimut yang terhampar sebatas pinggangnya.

“Terima kasih, selimut ini sudah cukup hangat, Stranger.”

Aku kuwalahan. “Hhh… kenapa kamu tidak mengerti kalau sebenarnya aku ingin kamu memelukku sambil tidur, Stranger?” kataku akhirnya dengan terang-terangan.

Kini senyum di wajah Sultan lebih terlihat sebagai seringai. “Kenapa harus berbelit-belit dulu jika hanya ingin memintaku memelukmu, Stranger?’

“Baiklah. Stranger, peluk aku!”

Sultan patuh. Dia menggeser posisinya mendekatiku. Sesaat kemudian kepalanya sudah berada di atas dadaku yang telanjang dan sebelah lengannya membelit pinggangku. Begini, selamanya aku bisa pulas meski tidur dalam suasana perang sekalipun. Bunyi detak jarum jam menggiringku semakin jauh memasuki alam tidur. Aku tahu Sultan masih memelukku, masih kurasakan keberadaannya di dadaku.

Tik

Tik

Tik

“Mas Sakti…”

Mengapa sekarang Sultan memanggilku mas? dalam pejam, keningku mengernyit.

Tik

Tik

Tik

“Mas Sakti!”

Tidak, itu bukan suara Sultan. Itu suara perempuan.

Tok… tok… tok…!!!

Mataku terbuka berbarengan dengan suara ketukan di pintu. Segera sadar bahwa aku berada di kamarku di atas ranjang dan guling kupeluk di dada. Ternyata, déjà vu Sultan hanya berlangsung di bawah sadarku.

“Mas Sakti, bangun dulu…”

Panggilan Mbak Hanim dan ketukan yang masih terdengar di pintu kamar memaksa semua kesadaranku terjaga. Kusadari bahwa aku masih memakai kemeja dan dasiku. Entah sejak kapan aku jatuh tertidur. Rasanya aku baru saja merebahkan diri sesaat yang lalu.

“Mas…!”

“Iya.” Kusingkirkan guling dan bangkit duduk di ranjang. “ada apa Mbak?”

“Ada tamu,” seru pembantu rumahku itu dari balik pintu.

“Mama mana?”

“Tamunya nanyain Mas Sakti. Tuan sama Nyonya keluar setengah jam yang lalu,” jawab Mbak Hanim dari balik pintu.

Kulirik jam di buffet. Pukul sembilan kurang lima belas menit. Ternyata aku sudah terlelap lebih lama dari yang kupikirkan. “Iya, Mbak. Aku segera turun.”

Tak kudengar lagi suara Mbak Hanim di pintu kamar. Kuabaikan memeriksa penampilanku di cermin dengan langsung keluar. Ini adalah sebuah keadaan yang langka. Aku sangat jarang bahkan nyaris tidak pernah punya tamu yang datang mencari ke rumah. Yang paling sering datang adalah tamu Mama atau Papa. Mungkin kali ini pun sebenarnya yang datang adalah tamu mereka, tapi karena kedua orang tuaku itu tidak sedang di rumah maka Mbak Hanim memanggilku.

Aku bertemu pembantu rumahku itu di kaki tangga dengan nampan kosong di tangan. “Tamunya sudah Mbak suguhi minum. Mas Sakti mau minum apa biar Mbak bawakan sebentar lagi.”

“Gak usah Mbak,” tolakku. “tamunya siapa Mbak?”

“Gak tahu, Mas. Mbak baru sekali ini melihatnya datang ke rumah.”

“Yakin bukan tamunya Mama atau Papa?”

“Tamunya nyebut nama lengkap Mas Sakti kok. Kalau tamu Tuan atau Nyonya, Mbak rata-rata hampir kenal semua,” jawabnya kemudian berlalu ke dapur.

Aku meneruskan langkah menuju ruang tamu. Firasatku berkata, yang akan kutemui di sana adalah jawaban waktu atas segala pengharapanku selama ini. Semakin menghampiri ruang tamu dadaku kian berdebar karenanya.

Aku terpaku di ambang ruangan ketika sang tamu bangkit dari duduknya bertepatan dengan kemunculanku di sana. Demi alam semesta, aku akan bunuh diri saat terbangun nanti jika kali ini ternyata aku kembali berada dalam mimpi.

“Stranger…”

Panggilannya terdengar bagai mantra di telingaku. Kami bertatapan, terpisah jarak belasan langkah dalam ruang tamu rumahku yang luas. Kudapati tatapannya seakan sedang menelitiku. Maka, kubalas pandangan itu dengan balik menelitinya.

Dia lebih tinggi dari yang kuingat. Hanya itu saja yang berbeda dari sosoknya sekarang. Selebihnya, dia masih terlihat seperti pasangan tidurku tujuh tahun dulu. Kutemukan diriku berada dalam ketakjuban akan pesonanya. Bagaimana waktu tujuh tahun hampir tidak mengubahnya sedikit pun sungguh membuatku tak habis pikir. Rasanya aku sedang bermimpi di dalam mimpi. Jika ini beneran mimpi, maka dapat kusimpulkan bahwa ternyata kejadian seperti dalam film Inception itu benar-benar ada di kehidupan nyata.

Aku berpaling dari menatapnya dan mendekati dinding. Sedetik kemudian aku mengaduh sendiri ketika benturan keningku dengan dinding ruangan menimbulkan rasa sakit di kepalaku.

“Apa yang kamu lakukan?”

Masih mengelus kening, kembali kufokuskan pandanganku padanya. “Sebelum ke sini, aku baru saja memimpikan kita yang rasanya seperti nyata saja. Jadi aku gak mau ketipu lagi sama mimpi, makanya…” aku menggantungkan kalimat dan kugerakkan daguku ke arah dinding, “yah… kamu tahu…”

“Kamu bersikap seolah-olah kita tidak pernah tidak berjumpa dalam kurun waktu yang lama―”

“Oh, iyakah?” potongku, “aku lupa, ternyata kita sudah tak bertemu selama… sebentar, biar kuhitung dulu.”

“Jangan bersikap seolah-olah itu adalah kesalahanku!”

“Jadi ini kesalahanku?”

Dia terdiam.

“Kamu tak pernah mencariku, kan?”

Dia masih terdiam.

“Tentu saja kamu tak pernah. Padahal kamu tahu betul di mana harus mencariku.”

“Iya, aku tak pernah mencarimu satu kali pun selama tujuh tahun ini.”

“Sudah kuduga.” Desisku lalu kulipat lenganku di dada. “lalu, kenapa sekarang kamu berubah pikiran? Apa yang membawa langkahmu ke mari?”

Sultan kembali mendudukkan dirinya di sofa. Baru kusadari kalau dia juga sedang berpakaian serupa denganku, meski dia terlihat masih terlalu remaja untuk mengenakan dasi ala orang kantoran seperti itu. Sungguh, Sultan tampak masih seperti mahasiswa umur sembilan belas tahun, padahal usia kami sama. Kuraba rahangku sendiri, kasar bekas cukuran tadi pagi. Sedang wajah Sultan tak terlihat adanya bekas cukuran sama sekali.

“Kupikir, kamu akan menerima kedatanganku dengan senang hati, bukan dengan sinisme semacam itu.”

Tentu saja dia salah. Aku lebih daripada sekedar senang, aku nyaris euphoria. Tapi aku ingin menunjukkan kekesalanku lebih dulu baru senangku kemudian. Aku melangkah ke sofa di depannya dan mendudukkan diriku berhadap-hadapan dengannya. “Aku masih tak percaya kamu ingat alamatku.”

Sultan menggeleng. “Aku hanya ingat kampusmu. Aku ke sana seminggu yang lalu untuk mencari tahu alamatmu.”

Aku mengernyit. “Ke kampus untuk mencari tahu alamatku?”

Sultan mengangguk. “Arsip mereka bagus, meski aku harus menghabiskan waktu seharian di sana dan berusaha meyakinkan mereka kalau aku tidak punya niat jahat.”

“Kenapa tidak langsung pergi minggu lalu?”

Sultan merenung padaku sejenak sebelum menjawab. “Aku perlu meyakinkan diriku terlebih dahulu.”

“Meyakinkan dirimu untuk datang atau tidak datang menemuiku?”

“Meyakinkan diriku sendiri bahwa menemuimu adalah tindakan yang benar.”

Aku tersinggung. “Oh, jadi kamu sempat punya pikiran bahwa menemuiku adalah sebuah kesalahan? Damn it, Sultan!”

“Aku pulang saja!” dia bangun dari duduknya, “kamu jelas tidak suka menerima kedatanganku. Ternyata aku salah membuat keputusan. Maaf sudah mengganggu kenyamananmu.”

“Oh, jadi begitu saja? Kamu datang sekejap, mengagetkanku, memberiku omong kosong, lalu pergi lagi?”

Sultan tertegun, batal menuju pintu. “Bagian mana dari omonganku yang kamu anggap sebagai omong kosong?”

“Untuk menemuiku, kamu perlu meyakinkan dirimu bahwa itu tindakan benar. Itu omong kosongnya!”

“Aku memang perlu meyakinkan diriku.” Sultan mengitari ruang tamu dengan pandangannya sebelum kembali fokus padaku, “dan ternyata keyakinanku salah. Selamat malam.”

Dia pergi dan tidak menoleh ke belakang sama sekali sementara aku hanya duduk di diam bagai orang bego tanpa tahu harus berbuat apa. Apa aku telah merespon kedatangannya dengan cara yang salah? Saat deru mesin mobil terdengar di halaman, aku tersentak bangkit dari sofa dan berlari mengejar ke halaman. Kesempatanku hanya kali ini, amat sangat bodoh jika kubiarkan lepas begitu saja.

“Stranger, tunggu!”

Tapi mobilnya sudah melaju menuju gerbang yang baru saja dibuka satpamku. Bergegas aku kembali ke dalam dan mengambil kunci mobil. Semenit kemudian aku sudah di jalan, mengendara dengan kecepatan yang kuharap bisa menyalip mobil Sultan yang melaju tak kurang kencangnya.

DIIIIINNN…!!!

“Stranger, berhenti!”

DIIIIINNN… DIIIIINNN…!!!

Aku mengklakson dan berteriak melalui kaca mobil yang terbuka begitu bisa mensejajari mobil Sultan. Namun makhluk indah itu tak menggubrisku. Jangankan berhenti seperti yang kumita, menolehpun tidak, alih-alih dia malah kian menambah laju mobilnya.

“Damn it, Stranger!” aku mengumpat di jokku ketika mobilnya melesat lebih kencang dan meninggalkanku belasan meter di belakang. Pengendara di belakangku menjeritkan klakson berkali-kali ketika aku memonopoli jalanan tepat di tengah. Aku tak menyisi. Kunaikkan kecepatan dan bagai kesetanan kembali kuburu mobil Sultan.

Aku nekat. Tepat ketika mobil sportku berhasil menyalip mobil sedan Sultan dan mendahuluinya beberapa meter di depan, segera kubanting setir ke kiri untuk memblokirnya. Aku bisa mendengar jerit rem mobil Sultan yang mengerikan sebelum diam setelah menghantam pintu jok mobilku sebelah kiri―pasti akan butuh biaya besar untuk memperbaikinya nanti. Di balik setir, aku mengaduh sebentar karena pelipisku berbenturan dengan kaca pintu saat tumbukan terjadi, aku beruntung kaca itu tidak pecah.

“SIALAN, SAKTI…!!!” seru Sultan bertepatan dengan aku yang keluar dari mobil.

Kuangkat tanganku pada beberapa mobil yang memelankan lajunya di belakang kami, mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja dan meminta mereka untuk meneruskan perjalanan, baru kemudian aku bergerak ke pintu mobil Sultan.

“Stranger, buka…!!!” kupukul pintu jok di sebelah kiri Sultan berkali-kali, “buka gak? Atau aku pecahin kacanya!” Sultan bergeming, tidak memandangku sama sekali. “Baiklah!” seruku.

“STOP!” teriak Sultan sesaat sebelum aku siap menghantamkan sikuku ke kaca pintu mobilnya.

Aku segera melenyapkan diriku ke dalam mobil Sultan begitu berhasil membuka pintu. Tanpa berkata-kata, kelepaskan seat belt yang menahan sosok Sultan di balik kemudi lalu kucengkeram pinggangnya dan kutarik dia dalam pelukanku. Sekilas Sultan terkesiap dengan tindakanku, namun dia tidak menolak sama sekali ketika kupeluk. Kami diam. Hanya dentaman di dada masing-masing yang saling beradu.

Sesaat kemudian, kurasakan lengan Sultan menjangkau ke punggungku. Dia meremas kemejaku di sana, membuatku semakin mengeratkan pelukanku pada sosoknya yang begitu kurindu. “Jangan pergi…” bisikku di telinganya.

“Hemm…”

“Tolong jangan pergi… please…”

Sebelah tangan Sultan kini naik ke tengkukku, meremas ujung rambutku sebentar sebelum menyusurkan jemarinya ke atas kepalaku, kurasakan sentuhan hidungnya di telingaku. “Aku pernah mendengar kalimat itu dengan nada yang sama tujuh tahun lalu…”

“Yang kurasakan sekarang persis sama seperti yang kurasakan saat kamu hendak meninggalkanku di Ngurah Rai dulu…” kulerai pelukan kami, namun masih saling menyentuh, “aku takut kamu pergi.”

Mata Sultan mengerjap satu kali. Sebelah tangannya turun ke leherku dan menyentuh dasiku. “Kamu bukan lagi Sakti anak rumahan, ya…” tawa tertahannya menimbulkan senyum simpul di wajahku. “sekarang kamu jadi pria dewasa berdasi yang punya mobil sendiri untuk dibawa kebut-kebutan.”

“Kamu tidak suka Sakti yang dewasa?”

“Aku sendiri juga bukan mahasiswa sembilan belas tahun lagi kini.”

“Aku masih melihat Stranger yang sama. Kamu nyaris tidak berubah sama sekali…”

Kusadari kalau Sultan sedang menelan liurnya, pergerakan jakunnya tampak seksi dalam pandanganku. “Aku juga masih melihat Saktiya Phibeta yang sama di balik kemeja sempit ini.” Tangannya meninggalkan dasiku dan menuju bahu, bertumpu di sana. “meski kini dia terlihat lebih sangar dengan bekas cukuran itu.” Dia menunjuk wajahku dengan dagunya lalu menunduk ketika kupandangi tepat di mata.

Saat dia menunduk itu, aku menyadari kalau masih menahan Sultan di pangkuanku. Kulirik ke bawah di mana sebelah tungkai Sultan menyelip di antara pahaku. Aku tak bisa mencegah diriku dari mengingat kenangan malam penyatuan kami di sebuah hotel di Bali, kenangan itu melabrakku dengan serta merta ketika menyadari kalau saat ini Sultan berada sangat rapat dengan diriku. Aku hanya perlu menggeser pinggulku sedikit untuk memepeti perut Sultan.

Sepertinya Sultan tahu apa yang kupikirkan karena sesaat kemudian dia bergerak menjauhkan diri dengan beringsut kembali ke joknya di balik kemudi. Namun sebelum dia berhasil mendudukkan dirinya, tanganku lebih dulu menangkap dasinya. “Stranger…” panggilku dengan suara nyaris serak. “aku menginginkanmu sekarang…”

Merah menyemburat di kedua pipi Sultan, andai di dalam mobil lebih terang, warna di pipinya pasti akan lebih jelas. Masih menahan dengan memegang dasinya, kudekatkan wajahku ke wajahnya. Aku kecewa ketika Sultan memberi penolakan dengan memundurkan kepalanya dan menarik dasinya dari tanganku hingga lepas.

“Kamu tidak menginginkanku?” tanyaku ketika dia sudah menempati tempat duduknya kembali. “kamu tidak ingin membuktikan kalau di balik kemeja ini setiap inci diriku masih Saktiya Phibeta yang dulu berbagi selimut denganmu?”

“Stranger,” panggilnya.

“Ya?” responku cepat, “kamu ingin aku duluan yang buka kemeja?” kulonggarkan dasiku sementara Sultan terkesiap.

“Seingatku, tujuh tahun lalu kamu tidak semesum ini.”

“Oh, sekarang aku sudah dewasa, sudah sangat pantas untuk mesum. Dan demi pasir Kuta, Stranger, aku sudah menunggu ini tujuh tahun lamanya, setia tanpa satu orang pun yang kupeluk setelah dirimu.”

“Ak… aku… aku…”

Dahiku berkerut, “Hemm?” kucondongkan badanku ke arah Sultan, “kamu kenapa?”

“Sakti, aku…” sejenak Sultan terlihat bimbang, lalu dia menarik napas panjang. “Aku perlu memantapkan diri untuk melakukannya lagi.”

Hening.

Lalu aku marah. Kujangkau kotak tissue dari dasbor Sultan dan kuremas hingga jadi buntalan. “Kamu menemuiku setelah tujuh tahun demi memuntahkan kalimat semacam itu?” Sultan pucat ketika aku mendengus kasar padanya. “perlu memantapkan diri…” kuulang kalimatnya, “kamu menganggap remeh masa tujuh tahun yang kulewati tanpa seharipun melupakan kisah kita di sana, Stranger, kamu meremehkan tekadku.”

“Sakti, kita bukan lagi pemuda tanggung yang bebas bertindak sesuka hati sekarang, kita pria dewasa dua puluh enam tahun yang harus berpikir matang untuk setiap tindakan yang kita putuskan.”

“Aku sudah lelah berpikir, Stranger, selama tujuh tahun ini, tujuh tahun,” kubaling buntalan tissue ke jok belakang mobil Sultan. “apa kamu tak bisa menghitung waktu, hah?”

Sultan terdiam, menatapku dengan ekspresi memelas. Aku tahu dia sedang meminta pengertianku.  Dan aku luluh, selalu luluh dengan matanya itu. “Hemm… baiklah. Kamu gak perlu menelanjangiku sekarang―”

“Aku tidak pernah memulai untuk menelanjangimu, tidak tujuh tahun lalu dan tidak pula akan kulakukan sekarang.”

“Oh ya? Lalu siapa yang malam itu memelorotkan celana pendekku?”

“Kamu yang meminta,” jawab Sultan cepat.

“Kamu yang menyuruhku meminta begitu.”

“Itu karena kamu yang mulai pertama kali!”

“Owrait owrait, aku yang menelanjangimu lebih dulu lalu memintamu menelanjangi diriku sendiri sesudahnya. Senang?” kutemukan senyum singkat di wajah Sultan. Kemudian dia mencari-cari sesuatu di laci dasbornya dan mengeluarkan sebatang boardmarker.

“Sini!”

Dengan tangan kiri Sultan meraih lengan kiriku, menarik gulungan kemejaku lebih ke atas menuju siku dan lalu membuka tutup boardmarkernya. Kubiarkan dia menulis di lenganku tanpa membantah.

“Telepon aku hari Sabtu lusa, ingat, harus hari Sabtu. Kita akan buat janji bertemu.”

“Kenapa kamu harus menuliskan nomor jelek ini di lenganku? Bikin jorok saja. Aku bisa menyimpannya langsung di…” ucapanku terhenti ketika kusadari kalau saku celanaku kosong. “Hhh… ketinggalan di kamar.” Aku menyengir sementara Sultan memutar bola mata.

“Ya, aku sudah menyadari kamu gak bawa hape,” cetusnya sambil melirik ke pahaku.

“Terus, kenapa harus hari Sabtu?”

“Karena besok bukan hari libur.”

Aku manggut-manggut mengerti. “Bagaimana kalau aku ingin mendengar suaramu tengah malam nanti, atau besok pagi, atau sepulang Jum’atan besok siang atau pas malam Sabtunya?”

“Telepon aku hari Sabtu, Sakti. Hari Sabtu.”

“Hemm… baiklah. Aku akan meneleponmu begitu masuk hari Sabtu, sekira jam nol nol lewat beberapa detik.”

Sultan memelototiku. Dengan beringas dia membuka tutup boardmarker kembali dan menjangkau lenganku. Aku paham apa yang akan diperbuatnya.

“Owrait owrait, Stranger!” kujauhkan lengan kiriku dari jangkauannya untuk menyelamatkan deretan nomor di sana, “aku akan menghubungimu Sabtu pagi, pukul sembilan.”

“Ya.”

“Tunggu, bagaimana aku yakin kalau ini nomor sungguhan? Bagaimana kalau ternyata ini nomor ponsel papamu?”

“Saktiya Phibeta, berhenti bertingkah menyebalkan!”

“Baiklah, Sultan Arraniry.”

Senyap sejenak sebelum tawa pendek keluar dari mulut Sultan. Aku ikut tertawa. Fakta bahwa kami masih saling ingat nama lengkap masing-masing satu sama lain benar-benar membahagiakanku.  “Rumahku jauh dari sini. Keberatan untuk kembali ke sana dan menyingkirkan mobil keparat itu dari depan mobilku?” Sultan menunjuk dengan gerakan dagunya.

“Keberatan,” jawabku singkat tanpa mau repot-repot memandang ke arah jalan.

“Sakti, aku serius. Aku harus segera pulang.”

“Bisakah kamu pulang sedikit lebih larut dari biasanya malam ini?” kurapatkan telapak tanganku di depannya, “please…”

Sultan menggeleng. “Bisakah kamu bersabar sedikit lagi sampai kita bertemu akhir pekan esok?”

“Tidak.”

“Sakti, aku harus kerja besok. Aku bukan anak bos sepertimu yang bebas datang telat ke kantor.”

“Jawabannya tetap tidak, ti-dak.”

“Sialan, Sakti!” Sultan berang. “Keluar dari mobilku sekarang juga!”

Dia bergerak untuk mendorongku agar keluar dari mobilnya. Namun ketika kedua tangannya sudah menumpu di dadaku dan aku menatapnya tajam, dia batal mendorongku. Kami bertatapan nyaris semenit hingga Sultan mendesah pelan dan bersuara nyaris berupa bisikan.

“Jangan tatap aku seperti itu, Stranger…”

“Kenapa?” tanyaku tak kalah pelan sambil menggenggam sebelah tangannya. “kamu tak suka aku memandangmu?”

Dia menggeleng lalu menunduk. “Jangan tatap aku seolah diriku adalah sumber kehidupanmu, aku tak sanggup menanggung itu…”

“Kamu bukan sumber kehidupanku, Stranger…” ucapku lirih. Dia mendongak, alisnya bertaut, “tapi kamu adalah nyawaku,” sambungku.

“Hhh…”

Aku tersenyum. “Cium aku satu kali saja, lalu akan kusingkirkan mobil keparatku di depan sana dari jalanmu.” Sultan kaku, dapat kurasakan itu dari jemarinya yang menegang dalam genggamanku. “Sekali saja, Stranger… sekali saja.”

“Aku takut…” lagi-lagi kutemukan pergerakan jakun Sultan yang seksi. “Aku takut jika menciummu sekarang maka aku harus membuka kemejamu juga…”

“Aku tidak keberatan,” responku cepat.

“Sakti, please, kita sudah membicarakan ini sesaat tadi.” Nadanya kembali memelas.

Aku tersenyum. Kubebaskan jemarinya dan kubawa tanganku ke pipinya. Sultan tak menghindar ketika bibirnya kusentuh dengan jariku. “Aku akan memimpikan bibir ini nanti dalam tidurku, Stranger.” Sultan tidak berkata-kata meski kurasakan bibirnya bergerak-gerak di bawah kulitku. “jangan mengebut.”

Aku keluar dari mobil Sultan untuk selanjutnya masuk ke mobilku sendiri. Hingga bermenit setelah nyala merah lampu belakang mobil Sultan menghilang di kejauhan jalan, aku masih termangu di jokku di temani deruman halus mesin mobilku yang menyala. Merasa cukup menatap arah kepergian Sultan, kuangkat lengan kiriku di mana makhluk indah itu telah menorehkan sederet angka. Angka-angka ini adalah azimat, penjamin kisahku dan Sultan esok. Jika sampai angka-angka ini keliru, mungkin tak ada kisah Saktiya Phibeta dan Sultan Arraniry lagi esok, selain hati dan jiwa yang mendamba seperti kemarin dan tahun-tahun sebelum kemarin.

***

Aku nyaris meneriakkan namanya ketika panggilan ketigaku mendapat respon. Aku bangkit dan duduk di atas ranjang begitu suara malas-malasannya terdengar di ujung talian. Kubayangkan dia masih berada dalam belitan selimutnya, mungkin separuh telanjang sambil sebelah tangan memeluk guling dan sebelah tangan lagi membekap ponsel ke kuping. Kubayangkan dia menjawab panggilan teleponnya dengan mata masih terpejam serta tampang kusut dan rambut awut-awutan. Meski demikian, dalam bayanganku dia tetap kelihatan indah.

“Stranger?” panggilku.

Hening beberapa detik hingga aku mendengar bunyi seperti derit ranjang. Sepertinya Sultan sedang bergerak bangun. “Kamu pikir ini jam berapa?” Suaranya serak.

“Jam enam pagi,” jawabku setelah melirik acuh pada jam di kamar.

“Demi Tuhan, Sakti. Ini baru jam empat lewat sekian menit.”

“Aku tidak bisa tidur sejak pukul satu dini hari tadi, Stranger. Dan aku bisa gila jika menunggu hingga pukul sembilan untuk bisa meneleponmu.”

Hening lagi.

“Stranger, kamu masih di sana?”

“Kenapa sekarang kamu sangat mahir menggombal?”

“Tidak juga.”

“Hemm… ada apa?”

Sepertinya di ujung sana Sultan sedang menguap. Aku bisa mendengarnya. “Aku sedang mengalami ereksi pagi…”

Hening lagi, lebih lama dari sebelumnya. “Sialan.”

Aku tertawa. “Aku sedang menepati janji, kamu tidak lupa kan?”

“Janjimu menelepon jam sembilan.”

“Baiklah, anggap aja aku menepati janji lebih awal. Justru bagus, kan?”

“Kamu mengganggu tidurku.”

“Kupikir kamu tidak bisa tidur juga sepertiku.” Aku diam sebentar, menunggu responnya, namun Sultan tak bersuara. “Kamu tahu, aku tidak pernah benar-benar bisa tidur nyenyak sejak malam kemarin,” kataku jujur.

“Aku lupa menyarankanmu minum pil tidur saat itu.”

“Kamu melakukannya?”

“Aku butuh tidur cukup demi bisa bekerja baik di kantor. Bukankah sudah kuberitahu kalau aku bukan anak bos?”

“Apa itu artinya kamu juga susah tidur sejak kita bertemu lagi kemarin hingga harus minum pil?”

“Kalau aku jawab iya, apa kamu bakal bahagia?” Sultan memberi jeda. Aku diam tak menjawab pertanyaannya. “Baiklah, iya.”

Di ranjangku, aku tersenyum senang. “Katakan, di mana aku harus menjemputmu nanti?”

“Kita akan ke mana?”

“Ke surga.”

“Lalu ke neraka?”

Aku tertawa. “Aku berani pergi kemanapun denganmu, Stranger.”

“Iya. Kamu mana berani jika sendirian, hendak kutinggal di Ngurah Rai saja dulu nyaris nangis. Kan?”

Tawanya memekarkan dadaku. “Ya ya ya, silakan olok-olok aku sepuasmu, awas saja saat kamu sudah berada dalam jarak jangkauku nanti!”

“Apa, kamu mau memaksakan dirimu padaku lagi?”

Aku menggeleng, lalu segera sadar kalau Sultan tidak bisa melihatnya. “Tidak, tapi akan kubuat kamu yang minta agar aku memaksakan diriku padamu.”

Sultan terdiam sesaat. “Jemput aku di Taman Suropati jam sepuluh. Setelah itu kamu bisa membuktikan omonganmu, jika kamu sanggup!”

Telepon terputus.

Di ranjang, aku tersenyum. “Aku sanggup, Stranger…” bisikku pada diri sendiri

*

Sultan duduk sambil melipat lengan ke dada di jok sebelahku, wajahnya keruh. Dia sedang marah padaku.

“Aku akan keluar dari tol jika kamu keberatan ke sana, tapi tolong jangan merengut seperti itu.”

Sultan tak merespon.

“Stranger, kamu sungguhan tak ingin ke sana bersamaku?”

“Aku kesal karena kamu tidak memberitahu sebelumnya. Aku benci kejutan. Dan aku tak suka dengan rencanamu menginap di sana hingga Senin.”

“Baiklah, kita akan kembali ke Jakarta pada Minggu sore.”

“Bukan itu poinnya, Sakti!” dia berseru.

“Lalu apa, jangan bilang kamu tak ingin pergi denganku kemanapun, karena jika begitu lebih baik aku berdiri di rel kereta sekarang juga.”

Sultan mendengus. “Ketidak-terus-teranganmu, itu poinnya.”

“Aku sudah terus terang lima belas menit lalu―”

“Iya, setelah cukup jauh untuk kembali,” potongnya.

“Aku akan putar balik saat ini juga jika kamu minta.”

Sultan yang tidak menjawab membuatku yakin jika sebenarnya dia tidak sepenuhnya tak ingin ke Bogor bersamaku, dia hanya kesal karena aku tidak memberitahukannya lebih awal. Jadi, kulupakan niatku untuk keluar dari jalur dan lanjut mengemudi di ruas Tol Jagorawi yang cukup leluasa hari ini, padahal sekarang akhir pekan.

Kami diam hingga sepuluh menit kemudian. Ketika Sultan mengubek-ngubek koleksi disc-ku di mobil, kujangkau tangan kanannya dengan tangan kiriku dan kugenggam. Kulirik dia sekilas, “Aku minta maaf karena gak ngasih tahu kamu sejak awal. Maafin aku, ya?”

“Kamu juga tidak langsung berterus terang saat kita berjumpa dulu.”

“Ya, dan itu sempat membuatmu meninggalkanku. Aku bodoh tak belajar dari pengalaman, harusnya tadi saat di Suropati aku langsung ngasih tau kamu ke mana aku ingin menyanderamu.” Kubawa tangan Sultan ke bibirku lalu kucium, “Stranger jangan kesal lagi, ya…”

Kecupanku pada tangannya malah membuat dia kaku, pandangannya lurus menatapku. Aku mulai khawatir ketika nyaris semenit kemudian Sultan masih tidak merespon dan tidak bergerak. Aku berkali-kali memindahkan fokus pandanganku dari menatap jalan ke sosok Sultan.

“Stranger, hei…” kugoyangkan tangannya yang masih kupegang, “kamu baik-baik saja?”

Dia mengerjap satu kali, seperti tersadar dari hipnotis. “Seharusnya kamu tidak melakukan itu…”

Aku lega mendengar suaranya. “Melakukan apa, mengecup tanganmu?” aku tertawa pendek, “seperti ini?” kutarik lagi tangannya ke mulutku dan kucium berkali-kali.

“Sakti, hentikan!” dia membetot tangannya dari peganganku.

Aku masih tertawa, “Kenapa? Kamu terangsang?” ketika kulirik, kutemukan wajahnya memerah.

“Aku… aku…”

Itu dia, Sultan kembali gugup. Di balik kemudi aku menyeringai kesenangan. “Kamu teringat kenangan kita dulu, iya?”

Sultan mengangguk lalu mendesah, “Setiap kali kita bersentuhan, aku tak bisa mencegah diriku dari mengingatnya. Aku bahkan melihatnya bagai gambar bergerak di layar, utuh, di dalam kepalaku…” Sultan menunduk menyembunyikan merah di kedua pipinya.

Aku terdiam sebentar sebelum bersuara. Mengetahui kalau efek yang dirasa Sultan setiap kali kami bersentuhan ternyata sehebat itu sungguh membuatku bermekaran. Aku berdehem, “Itu juga yang terjadi padaku, Stranger…” Sultan mendongak memandangku.

Lalu hal tak terduga terjadi. Sesaat setelah aku merespon ucapannya, tanpa melepas seat beltnya, Sultan mencondongkan diri ke arahku dan tangannya mencengkeram kerah kemejaku lalu ditariknya.

“Hei…!”

Aku kaget dan refleks menginjak rem ketika Sultan membetotku dan membuat mulut kami bertabrakan. Jerit ribut klakson di belakang mobilku terdengar sahut-sahutan, ditingkahi derit beradunya ban di atas aspal dari mobilku dan mobil-mobil di belakangku yang direm mendadak.

kendaraanku berhenti dengan posisi sedikit melintang, cukup dekat dengan guardrail di sisi kiri jalan. Sebelah tanganku di kemudi dan sebelah lagi bertumpu di sandaran jok Sultan. Sementara Sultan masih mencengkeram kerah kemejaku dengan tangan kanan sedang tangan kirinya berada di atas lututku. Wajah kami kini sudah berjarak sejengkal setelah ciuman kilat penuh adrenalin tadi. Jantungku masih berdebar kencang. Kami bertatapan.

Mobil-mobil di belakang kami berlalu melewati sambil masih membunyikan horn. Beberapa pengemudinya tidak melewatkan kesempatan untuk menurunkan kaca dan meneriakkan makian ke arah mobilku, satu dua pengemudi yang lebih muda malah mengacungkan jari tengah mereka saat melewati mobilku. Persetan dengan mereka.

“Stranger, kapan-kapan, bilang dulu kalau mau melakukan kegilaan semacam tadi…” ucapku lirih.

“Kita dilarang berhenti di tol kecuali dalam kondisi emergency,” bisiknya, sama sekali tidak ada hubungan dengan kalimatku sebelumnya. Padahal, dia yang menyebabkan kami berhenti.

“Kondisi kita sesaat tadi benar-benar emergency, Stranger.” Aku memajukan wajahku tapi Sultan malah memundurkan kepalanya. Aku heran, padahal sesaat tadi dia benar-benar begitu bernafsu untuk mencium mulutku. “Kenapa?”

Sultan tak menjawab, sebaliknya dia melepaskan cengkeramannya pada kerah bajuku dan memundurkan posisi kembali ke sikap duduknya semula.

“Baiklah, tak mengapa, kita masih punya banyak waktu untuk itu,” kataku memilih untuk mengalah lalu kembali mengemudi.

*

Sultan melangkah ragu-ragu ketika kupersilakan, pandangannya mengitari seluruh sudut pekarangan vila milikku, maksudku, milik papaku. Aku mengikuti Sultan di belakang, berjalan pelan sambil memperhatikan punggungnya. Sultan berhenti melangkah ketika sepatunya menapak di susunan batu pipih pertama menuju beranda. Dia menundukkan kepala, memperhatikan sususan batu itu sekilas lalu berbalik menolehku.

“Sakti…” panggilnya.

“Hemm?” jawabku dengan gumaman.

“Aku ragu, apakah tindakan kita ini benar?”

Aku diam sebentar, memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaannya yang sederhana. “Minta aku untuk mengembalikanmu ke Jakarta, Stranger, dan sekarang juga aku akan melakukannya.”

Sepertinya aku menjawab dengan tepat, karena kudapati Sultan terdiam sebelum menapak di atas batu pipih selanjutnya menuju beranda. Kusodorkan kunci vila pada Sultan begitu kami tiba di depan pintu.

“Ini vilamu,” katanya, tidak menerima kunci-kunci yang kusodorkan. “silakan buka sendiri.”

“Kalau kamu masih belum yakin dengan keputusanmu, kamu tak perlu membuka pintunya, Stranger. Jika aku yang buka, berarti aku memaksamu, meski sebenarnya aku sangat ingin melakukannya.”

Sultan menatapku dalam-dalam. “Mengapa mendadak kamu sesabar ini?”

Aku tersenyum simpul, “Sebenarnya, itu salah satu usahaku untuk membuatmu luluh, Stranger…”

“Sialan,” umpatnya lalu merampas kunci dari tanganku.

“Kunci pintu depan yang warna gold,” ujarku ketika Sultan gagal membuka pintu dengan salah satu kunci yang ada di rentengan.

Pintu terbuka, Sultan mendahului masuk. Kututup pintu di belakangku ketika sudah di dalam. Keadaan di ruang depan cukup terang karena jendela-jendela tinggi lebar di tiga sisi ruangan tidak menghalangi sinar matahari sedikitpun untuk menerobos masuk dan mempecundangi gorden berenda dengan mudahnya.

Sultan membelalak ketika berbalik dan menemukanku sudah tidak berbaju lagi. Aku baru saja melepas kemejaku dan kini sedang berurusan dengan kait ikat pinggang.

“Kamu sedang apa?”

“Menelanjangi diriku sendiri, kan? Apa kamu tidak melihatnya?”

Sultan menelan ludah, sepertinya dia kesulitan bicara. Sementara kubuka ikat pinggang dan kancing-kancing jinsku, Sultan menatapku tak berkedip, arah pandangannya menghujam ke pinggangku yang sudah setengah terbuka.

Aku berhenti memelorotkan jinsku dan mengikuti arah pandangannya. “Kamu suka?”

“Apa tato itu ada hubungannya denganku?”

Aku tersenyum. Kusentuh sisi pinggangku sebelah kiri, berdekatan dengan area perut di mana sebentuk tato tulisan berada. Tulisan itu jenis tegak bersambung, jika tak melihat sedikit lebih lama, maka tak akan terbaca dan hanya tampak sebagai garis berlekuk-lekuk. “Iya, ini namamu, Stranger…”

“Mengapa kamu melakukannya?”

“Melakukan apa, membuka celanaku?” tanyaku pura-pura bego.

“Menato perutmu dengan tulisan Stranger…”

“Oh, hanya untuk memuaskan diri. Tadinya kupikir aku akan membuatnya tepat di sini,” semburat merah dengan serta merta kembali muncul di pipi Sultan dan menjalar ke lehernya ketika aku menunjuk bagian agak meninggi yang tepat berada di antara dua pahaku, “Tapi sangat sulit mengusahakannya untuk tetap keras selama ditato yang pengerjaannya hampir tiga jam, akhirnya aku membuatnya di sini.” Kusentuh lagi tatoku yang telah menarik perhatian Sultan.

Sultan memandang mataku sekilas sebelum berbalik, “Pakai kembali bajumu,” katanya lalu melangkah untuk masuk lebih dalam ke vilaku.

Tapi aku melakukan sebaliknya. Tetap kulanjutkan membuka celana dan setelah berhasil kucampakkan sekalian dengan kemejaku ke sofa. Hanya bercelana pendek, kuikuti Sultan menuju ruang tengah. “Kamar yang biasa kupakai jika sedang di sini ada di lantai dua, Stranger. Kita bisa ke sana dengan menaiki tangga itu.” Kutunjuk tangga setengah melingkar yang ada di tengah-tengah ruangan.

“Tolong jangan katakan kalau kamu ingin meniduriku di siang bolong begini, karena jika itu yang menjadi tujuanmu membawaku ke sini maka kamu telah memberiku rasa kecewa yang terlalu dalam, Sakti.” Sultan berbalik dan langsung memandangku dengan berang, “Bukannya aku memintamu untuk pakai baju lagi?”

“Iya. Tapi aku sedang tidak ingin memakainya.”

Sultan geram di tempatnya berdiri. Sepertinya dia kehabisan kata-kata karena kemudian kulihat dia kembali bergerak menjelajah vila. Yang ditujunya adalah bagian samping kanan vila. Kali ini dia berhasil menggunakan kunci yang tepat ketika membuka pintu geser cukup lebar yang mengarah ke taman luas.

Aku berdiri di sampingnya. “Kamu suka?”

“Apa keluargamu sering datang ke sini?”

“Jarang.”

“Tapi kolam renang dan tamannya bersih.”

“Ada orang gajian yang merawat vila seminggu sekali, dan hari yang dipilih bukan akhir pekan.”

“Kenapa bukan akhir pekan?” Sultan melewati pintu dan melangkah menuju kanopi umbrella yang berada di tepi kolam renang.

“Karena kebanyakan pemilik memakai vila mereka saat akhir pekan, Stranger.”

“Oh, I see…”

Aku mengikuti Sultan duduk di kursi di bawah kanopi. Sengaja kurenggangkan otot-ototku dengan merentangkan tangan dan memutar-mutar badan. Namun Sultan sama sekali tidak memandangku, sebaliknya dia memfokuskan pandangannya pada tanaman merambat yang menutupi tembok pagar tinggi pembatas properti milik papaku dengan lahan orang lain di bagian ini. Tembok itu hanya ada di bagian samping di mana kolam renang berada, dengan tujuan memblok pemandangan kolam renang dari pandangan siapapun di luar sana, sedang bagian pekarangan dibiarkan tidak berpagar dengan pertimbangan view Puncak yang rugi jika dibatasi.

Aku mulai kehabisan cara. Sepertinya aku harus melepaskan sisa pakaianku demi mendapatkan hasrat Sultan terhadapku.

“Stranger, melihatku gak pakai baju apa gak membuatmu ingat kenangan kita dulu?”

“Kenapa kamu sangat berusaha untuk merangsangku?”

“Karena aku menginginkanmu.”

“Kalau begitu kamu tidak pernah memiliki perasaan lebih dari menginginkan terhadapku, Sakti. Tujuh tahun yang katanya kamu lewati tanpa alpa mengingatku seharipun ternyata didorong oleh nafsu semata, kupikir kamu mengingatku karena punya perasaan lebih dari sekedar menginginkanku di ranjangmu…”

“AKU MENCINTAIMU, STRANGER!” seruku cepat. “Aku mencintaimu,” ulangku dengan suara lebih pelan. “Demi Tuhan aku mencintaimu.”

“Kalau begitu, tunjukkan padaku cintamu, jangan nafsumu lewat pamer kota-kotak di perutmu begitu!”

Aku menunduk memandang perutku sendiri yang kubanggakan, hasil fitness disiplin dua kali seminggu. “Kupikir, aku bisa menunjukkan cintaku dengan cara yang kamu sebut sebagai pamer kotak-kotak ini, ternyata enggak ya?” aku menyengir pada Sultan. Tiga detik pertama dia menatapku dengan ekspresi datar, kemudian terkekeh sendiri.

“Berhentilah memikatku, Stranger,” ujarnya sambil menarik hidungku. “Aku sudah cukup terpikat tujuh tahun lalu.”

“Terima kasih,” kataku.

Sudah kuputuskan, aku tak akan meminta Sultan untuk bercinta denganku. Kami masih punya banyak waktu, biarlah hal itu terjadi dengan sendirinya, kapan pun. Aku tak perlu khawatir, karena kini Sultan sudah kutemukan.

Aku bangun dari kursi dan kuceburkan diriku ke kolam. Menit-menit selanjutnya kuhabiskan dengan berenang bolak balik dari satu sisi kolam ke sisi lainnya semetara Sultan memperhatikan tingkahku dari tempat duduknya.

***

Kami menghabiskan sore di Puncak Pass. Duduk di halaman Mesjid Atta’awun setelah Ashar sambil memandang panorama Puncak yang hijau dan seakan berada di bawah pijakan. Tak ada tempat lain yang lebih baik untuk melihat keseluruhan Puncak selain dari Puncak Pass. Tadinya aku ingin membawa Sultan ke Kebun Raya Cibodas lalu ke Gunung Mas untuk mengakrabi pucuk teh, tapi Sultan menyuruhku untuk langsung ke mesjid ini.

Sultan masih mengenakan setelan yang sama, celana jins dan atasan kaus lengan panjang over size berleher V warna kopi susu, dia menolak mengenakan bajuku setelah mandi di vila siang tadi. Aku tidak mempermasalahkan apa yang dipakai Sultan, karena di mataku Sultan akan tetap indah mengenakan apapun. Dan aku suka kaus over sizenya, menggodaku untuk melepaskannya dengan mudah dari badan Sultan. Tentu saja aku hanya bisa membayangkannya saja, karena aku sudah mengambil kesimpulan untuk tidak memaksakan diri pada Sultan, lain jika itu terjadi dengan sendirinya.

“Terakhir kali ke sini, itu tujuh bulan yang lalu bersama para sepupu. Salah satu sepupuku berulang tahun, dan dia membayar semua akomodasi selama dua hari kami di Puncak.”

“Aku sudah jarang kemari. Saat libur, aku lebih memilih di kamar sambil menghayalkan pertemuan kita kembali. Yang paling sering, aku membayangkan kalau kita bertemu lagi di Kuta. Kamu duduk di pasir, dan aku bahkan sudah mengenal punggungmu dari kejauhan. Sesekali, kubayangkan kita bertemu tak sengaja saat sudah di Ngurah Rai, padahal penerbangan kita sama, kita bertemu saat menyetop taksi yang sama…” aku tersenyum sendiri. Kutoleh Sultan di samping kiriku, matanya menatap lurus ke kejauhan.

“Dan bagaimana khayalanmu itu selalu berakhir?” Sekarang dia menolehkan kepalanya.

“Kita tak pernah berpisah. Hidup bersama sampai tua,” jawabku.

Kudapati Sultan terpegun. Kami sempat bertatapan sebentar sebelum dia kembali menatap lurus ke depan.

“Apa kamu pernah kembali ke sana?” tanyaku setelah diam cukup lama.

Gelengan Sultan menghadirkan sebentuk rasa sedih dan kecewa di dadaku. “Tapi keinginan untuk kembali ke sana dan bertemu kamu lagi secara tidak sengaja kerap menggodaku.”

“Tiga tahun pertama setelah kita berpisah, aku ke Kuta sebanyak tiga kali, setahun sekali, dengan cita-cita dapat menemukanmu di salah satu seat Garuda, atau di antara turis-turis di Kuta Bali.” Aku mendesah, “ternyata kamu sama sekali tidak pernah kembali lagi ke sana, ya…”

Sultan menolehku, “Kamu membobol brankas papamu setiap kali melakukan trip ke sana?”

Aku tertawa. “salah satu orang suruhan Papa sempat menemaniku satu kali, dua kali berikutnya aku pergi sendirian dengan saldo ATM membludak. Mama khawatir aku kehabisan uang selama di sana.”

Good for you.

“Kamu tahu? Aku menginap di hotel yang sama setiap kali ke sana, satu kali bahkan aku beruntung mendapatkan kamar yang sama.”

Sultan terdiam. Dia tak berani menantang mataku. Pandangannya menunduk seakan meneliti kancing-kancing kemeja slim fit yang kukenakan sekarang. Atau, bisa jadi dia sedang memfokuskan pandangannya lebih ke bawah dari deretan kancing-kancing kemejaku.

“Aku ingin pulang.”

Aku ingin mengartikan kalimat Sultan itu sebagai isyarat kalau dia ingin segera ke tempat tidur denganku. Namun ekspresinya yang muram ketika berucap menepiskan pemikiran itu. Firasatku mengatakan kalau makhluk indah ini sedang ada masalah, atau hal semacamnya yang menuntutnya untuk berpikir dan menyelesaikannya.

“Stranger, kamu baik-baik saja?”

“Ya, aku baik-baik saja.” Dia bangun dari duduknya.

“Hei,” panggilku sambil menjangkau pergelangannya. “kamu bisa menceritakan apapun padaku, Stranger… apapun. Aku akan sangat senang mendengarnya dan lebih senang lagi jika dapat membagi beban cerita itu bersamamu.”

Sultan terpegun, seperti terkejut dengan kalimatku. Dia memandang lengannya yang kupegang lalu memberiku anggukan kecil.

Sultan masih muram ketika kami menuju mobil.

***

Nyatanya kami tidak langsung menuju vila. Sultan memintaku menepikan mobil ketika melewati penjaja jagung bakar di pinggir jalan.

“Kamu yakin ingin mengganjal perut dengan jagung bakar saja? Aku pengennya kita makan malam di resto.”

“Apa kamu sedang menawarkanku candle light dinner, Tuan Stranger?”

Aku tersenyum lalu menggeleng. “Tapi suatu saat aku ingin mengalami candle light dinner denganmu.”

Lagi-lagi kutemukan Sultan terdiam. Sejenak kemudian dia membuka pintu mobil dan keluar menghampiri mas-mas penjual jagung bakar. Sultan kulihat bicara sebentar dengan si mas sebelum memilih tempat duduk. Aku keluar dari mobil dan mengikutinya duduk di bangku kayu, menunggu jagung kami selesai di-bara-api-kan.

“Stranger, aku harus bertanya padamu. Tolong jawab dengan jujur.”

Sultan memberi perhatian serius padaku, keningnya sampai berkerut. “Apa?”

“Apa kamu benar-benar senang berjumpa denganku? Ah, tidak tidak tidak, lebih tepatnya, apa kamu benar-benar menginginkan berjumpa denganku?”

Sultan menatapku dalam diam beberapa detik sebelum menjawab yang didahului sebuah anggukan. “Itu satu-satunya hal yang sangat kuinginkan selama tujuh tahun ini.”

“Lalu, apa yang membuatmu terlihat tidak bahagia saat ini?”

“Apa aku terlihat begitu?”

Jagung kami diantar, dengan dua gelas bandrek kacang dalam gelas mengepul. Aromanya menghangatkan.

“Makasih, Mas,” ujarku pada mas-mas penjual yang dibalas anggukan dan senyum ramah.

Sultan mengambil jagungnya dan mulai makan.

“Kamu belum menjawabku, Stranger.”

“Aku bahagia, Sakti.” Dia menjauhkan jagung dari mulutnya dan memberiku sebuah senyum membius. “percayalah, aku bahagia…” tangannya menyentuh tanganku, di bawah gulungan lengan kemejaku.

“Baiklah. Aku akan pura-pura percaya kalau ucapanmu memang benar.” Kudekatkan jagung ke mulutku.

“Hei!” dia meremas lenganku membuatku batal menggigit jagungku. “Aku tidak sedang membohongimu, aku benar-benar bahagia. Pertemuan kita berdua adalah cita-citaku juga, Sakti.”

“Owrait owrait, I believe in you, my beautiful stranger.

Sultan memutar bola mata dan melepaskan lenganku. “Kapan kamu akan berhenti memanggilku dengan sebutan konyol itu?”

“Entah, mungkin sampai aku tua nanti dan impoten membuatku pikun.”

Sultan tertawa, dan sangat mudah tawanya itu tertular padaku. “Impoten dan pikun adalah dua hal berbeda, Sakti. Yang satu tidak bisa dibilang sebagai penyebab salah satu yang lain.”

“Tapi mereka sama-sama datang barengan ketika kita tua.”

“Tidak juga.”

Kupikir Sultan akan meneruskan jawabannya, namun dia sudah mulai menikmati jagungnya. Sampai kami mengosongkan gelas bandrek, obrolan tentang pikun dan impoten tidak berlanjut lagi.

Udara sudah semakin dingin ketika aku mengemudi menuju vila. Meski Sultan menolak kuajak makan malam ketika mobil kami melewati sebuah café, tapi aku tetap memarkirkan mobilku di pekarangannya.

“Di vila cuma ada buah, Stranger. Sama sekali tak ada sesuatu mengandung karbohidrat untuk kita makan di sana. Jadi demi kebaikan kita berdua, kita harus turun dan masuk ke sana.”

“Aku tidak lapar, Sakti.”

“Kamu tahu nasihat rasul yang menyuruh kita makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang?”

Sultan tertawa besar, mendorong pipiku dengan telapak tangannya sampai wajahku berpaling dari menatapnya kemudian melepas seat beltnya dan membuka pintu.

Ketika sudah duduk berhadap-hadapan di sebuah meja di dalam café, Sultan mencondongkan badannya ke arahku dan berbisik lirih, “Aku menyukai caramu menanganiku dulu dan makin menyukainya sekarang setelah kamu bukan lagi remaja rumahan…”

Aku menyeringai dan balas berbisik. “Apa sukamu itu termasuk suka dengan caraku menanganimu di ranjang dulu?”

Di bawah meja, sneakers Sultan sukses menghajar tulang keringku. Dia terkekeh sementara aku mengaduh dengan badan nyaris rata dengan meja.

*

Kami berbaring bersisian di halaman samping kiri vila. Langsung di atas rumput. Jika bagian kanan vila dibuat sebagai taman dengan kolam renang di pertengahannya, maka halaman di sebelah kiri ini dibiarkan polos oleh Papa tanpa sebatang pohon pun. Hanya tiang-tiang lampu setinggi dua meter yang terpacak di beberapa tempat, memijarkan cahaya oranye lembut sebagai penerang. Rumput hijau yang terpangkas rapi seakan dimaksudkan untuk mempertegas lekuk-lekuk tanah yang berupa bidang landai dan berbukit. Pemisah halaman samping ini dengan halaman depan yang lebih berisi adalah deretan cemara yang ditanam memanjang hingga ke tepi lahan.

“Dulu saat masih kecil, jika sedang berlibur kemari, pengasuhku sering mengajakku melihat bintang di sini.”

“Ini konyol. Kita berbaring langsung di atas embun.”

Aku tertawa. “Bukannya tadi sudah kutawarkan untuk berbaring di atasku?”

“Dan memberimu kesempatan yang sudah kamu tunggu-tunggu sejak kita tiba di sini? Tidak, terima kasih.” Sultan melipat lengannya ke bawah tengkuk, mengikutiku yang sudah lebih dulu melakukannya. “Aku jarang melihat bintang, maksudku, jarang meluangkan waktu khusus untuk melihatnya.”

“Aku juga tidak begitu sering melihatnya, Stranger. Apalagi kalau malam hujan.”

Sultan menohokku dengan lututnya. “Bodoh, kalau sedang hujan siapapun manusianya gak bakal bisa melihat bintang.”

Aku beringsut untuk berbaring lebih dekat dengan Sultan. Dia menyadarinya, tapi tidak berusaha menjauhkan diri atau memberiku protes. Matanya lurus memperhatikan langit. Aku menoleh padanya.

“Apa kamu pernah memikirkan betapa kecilnya kita di alam semesta ini, Sakti?”

Aku diam, hanya terus memperhatikan sisi wajahnya.

“Bumi yang kita tinggali ini hanya secuil remah saja dari alam semesta. Kita hidup di antara bintang-bintang, sebenarnya.” Sultan diam sejenak. “Mungkin, di salah satu bintang di sana, ada kehidupan lain. Dan mereka melihat bumi kita ini juga sebagai bintang, dan setiap kali melihat langit mereka juga akan berpikir… mungkin ada kehidupan lain di sana.” Sultan memutar lehernya untuk menolehku. “di sana, mungkin saja ada dua anak manusia yang sedang berbaring di tanah, dan memandang langit berbintang seperti yang kita lakukan sekarang.”

Aku terdiam. Bukan hanya kerena tak tahu harus merespon kalimat Sultan seperti apa, tapi juga karena terpesona dengan keindahan matanya. Dulu aku pernah begitu terpesonanya pada mata itu, dan sekarang juga masih, bahkan lebih.

“Bagaimana kalau di salah satu bintang-bintang di sana ada Sakti dan Sultan yang lain?” tanya Sultan tiba-tiba, “bagaimana kalau ternyata ada kehidupan yang persis sama sampai ke setiap detilnya dengan kehidupan di Bumi?”

Aku berpikir sebentar sebelum menjawab. “Well, kalau begitu pasti aku bukan satu-satunya Sakti yang menanti untuk bertemu denganmu hingga harus bersabar selama tujuh tahun.” Sekilas, aku kembali melihat muram di wajah Sultan. Hanya sebentar karena kemudian dia tersenyum dan memalingkan wajahnya kembali lurus.

“Apa selama tujuh tahun ini kamu tidak pernah berpikir untuk menikah suatu saat nanti?”

“Aku tidak, tapi Mama iya,” jawabku. “sudah berkali-kali Mama berusaha mendekatkanku dengan gadis-gadis anak temannya, dan aku selalu mengelak dan berdalih.”

“Kenapa?” Sultan kembali menolehku.

Aku merubah posisi tidurku dari terlentang jadi menyamping menghadapnya. Sebelah tanganku masih kutekuk di bawah kepala sedang yang lain bertumpu di rumput. Ingin saja aku meraih pinggang Sultan dan membawanya dalam pelukanku, tapi aku takut dia akan semakin membangun bentengnya untuk menolak kedekatan yang kutawarkan. “Karena aku tak ingin mengkhianatimu.”

Jawabanku membuat Sultan tercengang.

“Aku pernah berpikir untuk memulai sebuah hubungan dengan seseorang lain yang memonopoli rasa tertarikku. Tapi setiap kali pikiran itu muncul, aku selalu bimbang, bagaimana jika di tempatmu kamu masih setia padaku dan tidak tertarik dengan siapapun? Jika di sana kamu bisa setia, lantas mengapa aku boleh berbuat curang dengan mencintai orang lain?”

Aku kaget saat kutemukan mata Sultan berkaca-kaca. “Mengapa kamu begitu yakin kalau di sana aku tidak jatuh hati dengan orang lain?”

Kuberanikan diriku untuk menyentuh rahangnya dengan ujung jari. Sultan yang tidak menolak membuatku berani menyusurkan jemariku di sepanjang garis rahangnya sebelum turun dan berhenti di atas dadanya. “Karena hatiku berkata demikian, Stranger…” di bawah telapak tanganku, jantung Sultan berdetak teratur.

Lalu Sultan menghadapku. Sepertiku, kepalanya berbantal satu lengan sedang tangannya yang bebas dia letakkan bersama tanganku di dadanya. Kami saling memandang dalam kebisuan selama sekian detik―yang terasa begitu menyiksa bagiku―sampai Sultan mendekatkan bibirnya ke bibirku. Dia menempelkan bibirnya di atas bibirku beberapa saat lalu menarik wajahnya menjauh ketika aku siap terbakar.

Goodnite, Stranger…,” ucapnya lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju vila tanpa satu kali pun menoleh ke belakang.

Sampai sosok Sultan menghilang ke dalam vila, aku masih berbaring menyamping di rumput, dengan jantung yang masih berdebar kencang dan selangkangan semi tegang.

*

Aku berbaring gelisah di ranjang. Melihat ke arah pintu setiap lima detik sekali dengan harapan melihat daun pintu terkuak dan Sultan berdiri di sana. Tapi hingga keringat memercik di dadaku yang polos, pintu itu tetap berada dalam keadaan tertutup. Kusingkirkan selimut dan bergerak duduk di atas ranjang. Dalam keadaan begini, suhu Puncak yang sejuk pun tidak bisa mengademkanku.

Bayangkan saja, di saat Sultan kini hanya berjarak beberapa langkah saja dariku namun aku tidak dapat mendekapnya. Dia tepat berada di balik dinding di belakangku, di kamar bersebelahan, aku hanya tinggal menyeberang ke sana dan mendekapnya. Namun aku tidak bisa melakukan itu, tidak bila Sultan tidak menginginkannya. Ide untuk memerkosanya memang terdengar menantang, meski aku yakin bila itu kulakukan maka tidak akan sepenuhnya disebut pemerkosaan karena Sultan pasti tidak seratus persen menolak. Tetapi aku tidak mungkin berbuat bar-bar demikian, pria sejati tidak akan bertindak sememalukan itu.

Kuacak-acak kepalaku hingga rambutku awut-awutan. Sumpah demi setan penghuni lubang neraka, aku tidak akan bisa tidur sampai pagi jika begini. Kuputuskan untuk turun dari ranjang dan sesaat kemudian mulai bergerak mondar-mandir sambil menggaruk-garuk dagu dari satu dinding ke dinding lain.

Sedang apa Sultan di kamarnya? Apakah dia sudah tertidur? Aku berhenti bergerak untuk melirik arloji yang tidak kubuka saat naik ke ranjang tadi. Jarum pendeknya berada di angka dua belas. Sudah lebih satu jam dari saat kami masuk kamar masing-masing, kemungkinan besar Sultan pasti sudah pulas. Aku mendesah putus asa lalu lanjut mondar-mandir.

Bunyi klik di pintu membuatku siaga. Aku nyaris bersalto ketika pintu terkuak menampilkan sosok Sultan di baliknya. Selimut tersampir di bahunya dan sebagian ujung kain tebal itu menjela ke lantai. Aku menerka kalau di balik selimut itu sultan sudah tidak memakai apa-apa lagi. Di tempatku berdiri, aku kesulitan bernapas.

“Kamarku terlalu dingin, Stranger,” ucapnya nyaris berupa bisikan. “boleh aku tidur denganmu?”

Aku kesulitan mengeluarkan suara, maka kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban.

Sultan bergerak masuk lalu menutup pintu saat sudah benar-benar berada di dalam kamarku. Tanpa bicara dia melangkah menuju ranjang dan merebahkan dirinya di satu sisi. Posisinya memunggungi arahku berdiri, masih dengan selimut yang membungkus seluruh sosoknya.

Sekarang, aku malah takut untuk mendekat. Benar-benar edan. Aku panas dingin saat naik ke ranjang dan merebahkan diri di balik punggung Sultan. Ternyata begini rasanya berada satu ranjang kembali dengan seseorang yang pernah kita setubuhi dulu. Apakah Sultan merasakan efek yang sama? Aku ingin melingkarkan lenganku ke pinggang Sultan, tapi mendadak rasanya tanganku kesemutan.

Aku bersyukur dalam hati karena tak lama kemudian Sultan membantuku melewati fase panas dinginku. Tanpa merubah posisi berbaringnya, sebelah tangan Sultan menggapai ke belakang dan menarik tanganku. Sosokku mengikuti tarikan tangannya terhadap lenganku. Kini posisi tidurku persis mengikuti posisi tidur Sultan yang menyamping. Telapak tanganku bisa merasakan garis samar di perut Sultan, dia yang menempatkan tanganku di sana. Ketika kususurkan telapakku lebih ke bawah, aku sadar kalau perkiraanku tentang dia yang tidak mengenakan apapun lagi di bawah selimutnya adalah benar.

Kuberikan kecupan pertama di tengkuk Sultan yang tepat berada di depan bibirku sementara tanganku kian bergerak turun. “Aku mencintaimu, Stranger…,” bisikku sebelum memberi kecupan kedua di telinganya tepat ketika tanganku sudah berada di tujuannya.

Sultan mengerang parau.

Aku bangun dengan bertumpu pada lenganku. Sultan bergerak menelentang, matanya memandangku sayu. Aku tersenyum padanya.

“Yakinkan aku sekali lagi, Sakti… bahwa kita memang seharusnya melakukan ini.”

“Sssttt…” kutinggalkan area perut Sultan dan kutempelkan telunjukku di bibirnya. “untuk satu jam ke depan, aku tak ingin mendengar kata apapun dari mulutmu selain kata lagi, sekali lagi, dan kamu hebat. Kamu paham?”

Sultan tidak bersuara, tapi kepalanya mengangguk.

Kutundukkan kepalaku ke lehernya dan kukecup dia tepat di jakunnya.

“Lagi,” bisiknya sambil mencengkeram rambutku dengan satu tangan dan satu tangan lainnya meremas bisepku.

Kembali kuciumi lehernya, kini lebih dekat menuju dadanya.

“Sekali lagi,” bisiknya.

Kuangkat diriku ke atas Sultan dan keberikan gigitan kecil di kulit dadanya. Sultan mengerang dan mengeratkan cengkeraman pada rambutku.

“Sakti, kamu hebat.”

Aku tertawa pendek dan bangun dari dadanya. Aku berlutut dengan posisi mengangkangi Sultan. Dia memperhatikan saja ketika aku membuka kancing jinsku, masih tetap memperhatikan ketika aku meneruskan membuka kancing-kancing pengganti restleting di bawahnya.

“Kamu tak ingin mengatakan sesuatu?”

“Lagi, sekali lagi, kamu hebat.”

Aku berhenti dari memelorotkan celanaku dan terbahak kencang. Sultan ikut tertawa. Kuhempaskan badanku terlentang lurus di sampingnya. Kami masih tertawa hingga beberapa saat kemudian.

That’s so funny,” ujarku di sela-sela tawa.

“Lagi, sekali lagi, kamu hebat,” ulang Sultan.

“Lupakan kata-kata itu.” Aku masih tertawa, kurangkul pinggang Sultan dan kucium pipinya.

“Lagi.”

“Oh, baiklah.” Aku berhenti tertawa dan kembali kuciumi pipinya.

“Sekali lagi.”

Aku memang menciumnya sekali lagi, tapi tidak di pipinya. Mata Sultan membundar ketika mulutku menangkup mulutnya penuh hingga tidak menyisakan celah sedikit pun. Saat kulepaskan pagutanku di bibirnya setelah bermenit kemudian, dia megap-megap seperti kehabisan udara.

“Kam―”

“Simpan kata itu sampai kita menyelesaikan ini, Stranger,” potongku dengan menempatkan dua jari di atas mulutnya yang setengah terbuka.

Setelah Sultan mengangguk, kulanjutkan pekerjaanku yang tadi sempat tertunda. Sultan memandangku tak berkedip ketika aku berlutut di sisinya setelah berhasil melepaskan apapun pakaian yang tadinya menutupiku. Lengan Sultan terulur ke perutku. Kubiarkan dia meneliti tiap lekukan yang ada di sana, kubiarkan dia menyentuhku di manapun yang dia kehendaki. Kubiarkan dia bernostalgia dengan setiap inci diriku yang dulu pernah dijamahnya, hingga dia merasa cukup dan menarikku untuk menindihnya.

Sultan terpejam ketika keningnya kukecup. “Stranger, aku rela mati untuk ini.” Sultan menanggapi ucapanku dengan gumam samar, sebelah kakinya bergerak melilit pinggangku ketika kulanjutkan ciumanku menuju bibirnya.

Ketika Sultan mengangkat sebelah lagi kakinya ke atasku dan kedua lengannya mendorong lembut dadaku. Aku sadar itu adalah isyaratnya. Kulepaskan pagutan bibirku dari mulutnya dan kuangkat wajahku menjauh. Kami bertatapan penuh arti. Aku menyeringai ketika dengan nakal Sultan menggesekkan tulang kering kaki kirinya di sekitar pangkal pahaku yang terbuka sementara tangan kanannya meraba pinggangku, tepat di bagian tatoku.

“Sekedar untuk mengingatkanmu saja, Stranger. Tinggiku bertambah sekian centi lagi dari saat kita bertemu dulu, dan bisa jadi bagian tubuhku yang lain juga mengalami pertambahan ukuran.”

Aku tertawa ketika Sultan membulatkan matanya untuk memberiku sebuah pelototan. Sepertinya dia tidak akan mengeluarkan kata-kata apapun untuk menanggapiku selain kata yang sudah kusugesti.

Kujangkau bantal yang nyaris jatuh dari tepi ranjang dan kutempatkan di bawah pinggang Sultan. Kupandangi dia sebelum kembali kuposisikan diriku di antara kakinya. “Aturannya masih sama, Stranger. Kamu boleh menonjokku jika aku menyakitimu, kamu boleh menamparku jika nanti kamu kesakitan.” Sultan melirik ke buffet yang dekat dengan sisi ranjang tempatnya berbaring, tangannya menjangkau weker dan menggenggamnya erat. Aku mengernyit. “tidak, kamu tidak boleh menghantamkan benda itu ke kepalaku,” ujarku mengerti maksudnya. Kulepaskan weker dari tangannya dan kutempatkan di tempatnya semula. Kubelai wajahnya sambil tetap kupertahankan agar tatapan kami terkunci. “Aku janji gak akan menyakitimu, Stranger.”

Sultan mengangguk.

Kupegang sebelah paha Sultan dan kudekatkan diriku. Namun…

BUKKK

“DAMN IT, STRANGER…!!!” teriakku sambil mengelus bahu kiriku yang baru saja kena tonjok Sultan. “Aku bahkan belum masuk!”

“Oh, tonjokanku kecepetan, ya?” sepertinya dia sudah melupakan aturanku tentang kata yang hanya boleh diucapkannya.

“Bagian mana dari kalimatku yang tidak kamu pahami?” tanyaku gusar, “kataku, kamu boleh memukulku dan melakukan hal lain semacamnya jika kamu merasa aku menyakitimu, kalau kamu tidak merasa aku menyakitimu maka jangan pernah memukulku meski aku bertindak layaknya mesin jahit. Paham?”

Sultan hanya menggidikkan bahunya, sengaja membuatku makin jengkel.

“Hhh… ternyata bercinta denganmu resikonya gede, salah-salah gigiku bisa tanggal semua.”

Sementara aku bersungut-sungut, Sultan malah tertawa senang. Mimiknya baru kembali serius ketika pinggangnya kupegang dengan kedua tangan dan kusentakkan ke bawah agar lebih rapat denganku.

Aku sadar kalau ini akan menyusahkanku. Tapi demi membuat agar Sultah mudah menerimaku, kubungkukkan badanku ke arahnya dan kudekatkan wajahku ke wajahnya. Sultan mengerti, dia menarik bantal yang mengganjal kepalanya lebih ke bawah bahu dan menciumku.

Ketika Erangan halus keluar dari bibir Sultan, aku sadar kalau penyatuan kami baru saja di mulai. Sultan menumpukan sebelah tangannya di dadaku dan sebelah lagi mencengkeram bisepku. Kurapatkan gerahamku ketika kuku-kuku Sultan menyakiti bisepku seiring dengan gerakanku yang makin dalam. Ketika gigi Sultan menyakiti bibirku tanpa terelakkan, aku meringis kesakitan sekaligus senang karena kini aku dan Sultan sudah terkoneksi.

 

Detak jam serupa alunan irama tunggal

Sedang desau angin dalam hening malam seperti bisikan biduan

Mungkin satu dua ekor cicak berhenti merayap di dinding

Mengintip malu-malu dengan muka merah

Mungkin beberapa jangkrik baru saja mendiamkan diri

Memiringkan kepala seperti berfirasat

Tapi dua penari dalam dingin malam ini adalah kepastian

Erang mereka adalah kenyataan

Desah mereka bukan impian

Gelombang cinta meletup-letup di sekitar mereka

Memercikkan api seumpama firework yang dibakar

Arus listrik menggeletar-geletar di sekeliling mereka

Memancarkan terang panas laksana thunderbolt membelah langit

Ternyata…

Hasrat dan cinta yang terpendam selama tujuh tahun,

punya efek seindah kembang api dan sedahsyat halilintar ketika dipertemukan…

 

“Sebut namaku, Stranger…”

“Sakti…”

“Lagi.”

“Sakti.”

“Sekali lagi.”

“Sakti.”

“Sekarang, siapa nama lengkapku?”

“Saktiya Phibeta, Saktiya Phibeta, Saktiya Phibeta, Saktiya Phibeta Saktiya Phibeta, Saktiya Phibeta, Saktiya Phibeta…!”

Sultan menyebutkan namaku seperti merapal tujuh mantra keramat.

Aku mengerang panjang sebelum menjatuhkan diri dengan rasa lelah tak terperi di sekujur tubuh. Sendi-sendiku rasanya bertanggalan. Di bawahku, Sultan berbaring diam, mulutnya menggigit lembut di pundakku sedang kedua tangannya memeluk punggungku. Kami tetap seperti itu hingga bermenit kemudian tanpa memedulikan perut yang berlengketan akibat ulah Sultan.

“Boleh aku mengucapkannya sekarang?” bisik Sultan sangat dekat dengan telingaku.

Kucium lehernya yang berada sangat dekat dengan bibirku, “Ya, Stranger, kamu sudah boleh mengucapkannya sekarang.”

“Kamu hebat,” ucapnya.

Definitely…!” balasku.

***

Kami meninggalkan vila setelah waktu Zuhur. Sarapan kesiangan kami jamak sekaligus dengan makan siang di warung makan pinggir jalan. Sultan lebih ceria dibanding saat perjalanan pergi kemarin. Di dalam mobil, dia sebentar-sebentar memanggilku meski tidak mengatakan apa-apa ketika aku menjawab panggilannya.

“Sakti…”

“Hemm?”

Sultan hanya menyengir.

Beberapa saat kemudian. “Sakti?”

“Ya?”

Dia memberiku cengiran lagi.

Beberapa menit kemudian. “Sakti???”

“Ya, Stranger, aku masih di sini.”

Dia mengangkat-angkat alisnya.

Belasan menit kemudian. “Sakti…???”

“Apa aku perlu mencari penginapan terdekat atau meminggirkan mobil dan lalu merebahkan jok supaya kamu berhenti memanggilku semenggoda itu?”

Dia melempariku dengan gumpalan tissue.

Aku tersenyum lalu kembali fokus memperhatikan jalan. Sejenak kemudian Sultan mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Hari ini dia tidak menolak ketika kuminta agar memilih pakaianku dari dalam lemari untuk dipakainya. Celana pendek Bermuda warna khaki dengan modifikasi tali di ujung tube dan kaus long sleeve polos warna turquoise yang kutinggalkan di vila saat kunjungan terakhirku sebelum kemarin benar-benar pas dikenakan Sultan, membuatnya terlihat persis seperti saat pertama kujumpai di pesawat, mahasiswa sembilan belas tahun. Sedang aku tetap dengan kemeja. Akhir-akhir ini aku lebih tertarik pakai kemeja. Aku suka melihatmu mengenakan kemeja, membuatmu terlihat berkali-kali lebih seksi. Itu gurauan Sultan saat kami sama-sama berpakaian di kamar vila hampir dua jam lalu.

Sultan masih terus asik dengan ponselnya sampai aku membelokkan mobil memasuki sebuah pom bensin di kawasan Ciawi untuk mengisi tangki. Jam sudah menunjukkan pukul dua empat lima.

Sultan mengeluarkan dompetnya. Dia meletakkan hapenya di dasbor untuk memudahkannya melihat isi dompet.

“Kenapa?” tanyaku, “uangmu hilang?” kumatikan mesin saat sudah tepat berada di depan petugas pom bensin.

“Dasar bodoh, aku ingin meringankan bebanmu tau…”

Aku tersenyum. “Pergilah ke sana,” kutunjuk mini market yang ada di lahan pom bensin. “beli beberapa bungkus taro dan beberapa kaleng soda. Itu sudah cukup meringankanku kok.”

Sultan mengerjap-ngerjap. “Kamu ingin meninggalkanku di sini?”

Aku mengernyit.

“Kamu menyuruhku ke sana, dan sementara aku sibuk memilih jajan kamu akan pergi diam-diam?”

“Ya ampun, Stranger. Aku belum gila untuk pergi darimu dan membuatku tak bisa lagi menyentuhmu.”

Dia tertawa. “Aku bercanda,” cetusnya santai. Aku memutar bola mata. “Lagian, aku bukan kayak kamu yang takut ditinggal sendirian di tempat asing semisal Bandara Kedatangan Dalam Negeri Ngurah Rai hingga hampir nangis.”

“Itu dulu saat aku masih lugu-lugu dan polos-polosnya. Coba saja tinggalkan aku di sana masa sekarang, akan kuhajar kamu di tempat tidur.”

“Dasar mesum,” desisnya lalu keluar untuk menuju mini market.

Aku turun dari mobil, berbicara pada mas-mas petugas pom bensin dan membayar harga sebelum kembali masuk ke balik kemudi. Hingga bensinku selesai diisi, Sultan belum kembali juga. Kulajukan mobilku ke area kosong di dekat tembok pagar pom bensin untuk menunggunya.

Aku dikagetkan ringtone ponsel Sultan di atas dasbor. Kubiarkan saja sampai ringtone itu berhenti sendiri. Lima detik kemudian, deringnya kembali terdengar. Kutolehkan pandanganku ke arah mini market. Sultan belum keluar juga. Nada dering habis untuk kedua kalinya. Saat ponsel itu menjerit untuk ketiga kalinya, kucondongkan badanku untuk menjangkau benda itu.

‘Dik’

Begitulah nama pemanggil yang tertera di layar telepon pintar Sultan. Sepertinya ada kabar mendadak yang ingin disampaikan adiknya Sultan. Aku ragu-ragu saat menyentuh tanda hijau di layar.

“Ya?”

“Mas Ara…”

Sultan pernah menyinggung tentang adiknya saat kami di Bali dulu. Aku lupa apakah saat itu dia memberitahu kalau adiknya perempuan? Karena yang kudengar saat ini adalah suara merdu seorang gadis. Belum sempat aku memberitahu kalau Mas Aranya sedang di dalam mini market, gadis di seberang sudah keburu melanjutkan kalimat.

“Mas, barusan Arin dihubungi orang bridal yang kita kunjungi jumat kemarin. Jas yang Mas mau sudah ada di sana, kita diminta datang secepatnya untuk fitting.”

Aku kaku. Kepalaku mendadak pusing. Segalanya seperti berputar. Ekor mataku menangkap sileut Sultan yang baru saja mendorong pintu kaca mini market dengan kantong besar di jinjingan.

“Mas…?” suara merdu di seberang memanggil. “Mas Ara, halo?”

Aku berdehem. “Iya, Dik,” lidahku canggung saat kupaksa berucap demikian. “besok kita ke sana,” sambungku dengan nada tak bersemangat. Kuperhatikan Sultan yang sedang berdiri di depan mini market, dia sempat mengedarkan pandangan sebelum menemukan letak mobilku. “Boleh Mas tutup panggilannya sekarang? Mas sedang di acara teman.”

“Iya, salam Arin buat temennya. Assalamu’alaikum.”

“Ya, pasti. Wa’alaikumsalam.”

Telepon terputus.

Ponsel itu sudah berada di tempatnya semula saat Sultan membuka pintu mobil setengah menit kemudian. “Kasirnya cuma satu,” ujarnya menjelaskan keterlambatannya sambil menutup pintu mobil. Dia mengeluarkan satu bungkus besar camilan dari kantong kresek berlogo mini market yang baru saja dibelinya berikut dua kaleng minuman karbonasi. Sisa jajanan yang lain masih berada dalam kresek dan ditaruhnya ke jok belakang. “ingin kubukakan untukmu?” tanyanya sambil mengangsurkan satu kaleng padaku.

Kutatap Sultan sejenak dengan hati yang bergolak, lalu kugelengkan kepalaku. “Nanti saja.”

Sepertinya Sultan menyadari perubahanku. Keningnya bertaut. “Kamu kenapa?”

Aku menggeleng untuk merespon pertanyaannya. Kuputar kemudi dan kubelokkan mobilku menuju jalan. Pikiranku berputar-putar pada percakapanku di telepon dengan gadis bernama Arin beberapa saat lalu. Aku tak bisa fokus mengemudi. Di sampingku, Sultan mulai mengunyah keripiknya.

‘Mas, barusan Arin dihubungi orang bridal yang kita kunjungi jumat kemarin. Jas yang Mas mau sudah ada di sana, kita diminta datang secepatnya untuk fitting.’

Kalimat itu seakan berdentang-dentang di dalam batok kepalaku. Menimbulkan ketakutan sekaligus keperihan di dalam rongga dadaku. Aku sangat mengerti maksud dari kalimat itu, amat sangat mengerti. Yang tidak kupahami adalah, mengapa Sultan tega melakukan hal itu terhadapku? Aku buntu dari memperoleh jawaban terhadap pertanyaan tersebut. Kutoleh Sultan yang asik mengemil di sebelahku. Apa yang sedang dipikirkan oleh makhluk indah itu sekarang? Apa yang sedang direncanakannya atasku?

Sultan akan menikah. Itulah kepastian yang harus kuhadapi. Lantas mengapa dia mendatangiku? Mengapa dia harus memunculkan diri, membasuh rinduku yang sudah kerontang, menyalakan kembali harapanku yang sudah sekian tahun hanya berupa nyala redup kalau cuma untuk memberiku kenyataan menyakitkan setelahnya?

Sultan terdorong ke depan ketika aku menekan rem mendadak. Bungkus keripiknya terlepas dari tangan dan menghamburkan isinya di lantai mobil. Pintu Tol Jagorawi berjarak seratus meter lagi dari tempatku memberhentikan mobil.

“Apa yang kamu lakukan?!?” Sultan setengah berteriak padaku, dia tidak mengenakan seat beltnya ketika aku menekan rem. “kamu ingin melemparku dari mobil, hah?”

Aku menatap lurus ke jalan, mencengkeram kemudi kuat-kuat sampai buku-buku tanganku memucat.

“Keparat, Sakti, jawab aku!” kali ini dia benar-benar berteriak ketika aku masih bergeming, sama sekali tidak memberi perhatian padanya.

“Kapan kamu berencana untuk memberitahukan perihal pernikahanmu padaku?” tanyaku dingin tanpa emosi. Kutolehkan kepalaku ke arah jok Sultan dan kutemukan dia menganga dengan tampang pias. Aku tak berkedip dari memandangi Sultan.

“Sakti… ak… aku… aku―”

“KAPAN KAMU AKAN JUJUR, STRANGER…!!!”

Sultan terlonjak di tempat duduknya ketika aku berteriak lantang, matanya mulai berkaca-kaca. “Maaf…” dia menunduk.

Dengan tangan kanan, kutinju kemudi sekuat tenaga. “Kenapa kamu melakukan ini padaku, Stranger?” kembali kupandang Sultan yang masih menundukkan kepalanya. “Apa menurutmu aku cukup kuat untuk menerima kesakitan sehebat apapun?”

“Sakti, maafkan aku…”

Aku mengalihkan perhatianku ke jalan, berusaha mati-matian untuk tidak membuat tanganku luka dengan meninju kaca mobil atau malah mengasari sosok di sebelahku. “Mengapa…” desisku separuh tercekat.

“Karena aku tidak bisa begitu saja melupakanmu.”

“Bohong!” bentakku.

“Cap aku pembohong, tapi alam menyaksikan bahwa selama tujuh tahun ini aku tak pernah melupakan semua hal yang pernah terjadi antara kita di Bali.”

“Omong kosong.”

“Saktiya Phibeta, aku sungguh-sungguh mencintaimu.”

“Lalu mengapa kamu harus menyakitiku seperti ini?” Sultan tak bisa menjawabku. “seharusnya kamu tak pernah datang lagi, Stranger. Seharusnya kamu jangan datang jika hanya untuk menyalakan semangatku sesaat lalu pergi lagi. Seharusnya kamu biarkan saja aku hidup dengan kenangan dan khayalan semuku sampai mati.”

Sultan menggigit bibirnya hingga aku khawatir dia dapat melukai dirinya sendiri. “Aku ingin bersamamu sekali lagi sebelum membuka babak baru hidupku, Sakti…”

“Lalu apa rencanamu setelah itu? menghilangkan diri dengan cara sama mendadaknya dengan kemunculanmu, begitu?” Sultan kembali menunduk. Aku menggeleng lemah, “kamu jahat, Stranger… kamu jahat…” Aku membenci diriku karena tak bisa menahan air mata. Kualihkan pandanganku dari sosok Sultan sambil menyeka mata. Sejurus kemudian kembali kukemudikan mobilku menuju gerbang tol.

Tak ada lagi yang bersuara antara aku dan Sultan. Kediaman kami berlangsung lama dan menyakitkan. Aku mengemudi dengan hati remuk-redam, entah bagaimana kondisi hati Sultan saat ini. Meski diriku sangat ingin membenci Sultan saat ini, tapi aku tak bisa. Alih-alih membenci, aku malah merasa bimbang antara harus kasihan atau bersedih untuknya. Dia mencintaiku, aku percaya itu. Dan pernikahan yang katanya merupakan babak baru hidupnya adalah sesuatu yang mengharuskannya mengorbankan cintanya padaku. Yang aku tak bisa terima adalah, mengapa dia harus mendatangiku, bercinta denganku, sementara dirinya sangat sadar bahwa dia tak bisa denganku untuk waktu yang lama?

“Aku tidak pernah mencintai laki-laki manapun sebelum di Bali. Aku menjaga diri dan perasaanku karena sadar bahwa suatu saat aku punya tanggung jawab untuk menunjukkan bakti pada orang tuaku dengan menikah.” Sultan bersuara saat kami sudah menempuh setengah jarak Tol Jagorawi. Aku diam dengan mata menatap jalan, mendengarkan tapi seperti tidak mendengarkan.

“Tapi denganmu, aku tak bisa untuk tidak mencintai, kamu sangat tahu itu” lanjut Sultan masih dengan tatapan lurus ke jalan. “Malam itu, saat untuk pertama kalinya diriku berada dalam pelukanmu, aku berikrar, Sakti… bahwa inilah satu-satunya dosa cinta terlarang yang akan kulakukan, cukup dengan satu laki-laki ini.” Kini aku benar-benar memfokuskan pendengaranku. “tapi ketika kita bertemu lagi di Kuta, aku sadar bahwa aku tak bisa lepas darimu begitu saja. Kamu tahu, aku setengah mengharapkanmu datang ketika duduk di pasir di sana, berharap kamu menemukanku dan memberiku dosa berikutnya. Mungkin setan yang menuntun langkahmu dan langkahku hingga bertemu lagi, atau itu adalah ulah malaikat untuk mendera perasaanku selama tujuh tahun kemudian.”

Sultan menolehku, aku bisa melihatnya dari ekor mata. “Bukan kamu saja yang menjaga ingatanmu selama tujuh tahun ini, Sakti… bukan kamu saja yang setia pada satu lelaki. Bertahan untuk tidak mendatangimu selama tujuh tahun ini adalah cambukan untukku, apa yang kuanggap sebagai hukuman malaikat itu menderaku siang dan malam lewat kerinduanku padamu yang tidak bisa kupenuhi.”

“Kamu tidak sepenuhnya setia padaku selama tujuh tahun ini,” potongku.

“Jangan salahkan Arin.”

“Aku tidak menyalahkannya.”

Hening beberapa saat.

“Dia pilihan orang tuaku, Sakti. Jalanku untuk menunjukkan baktiku…”

“Kamu mencintainya?”

“Aku akan menikahinya, Sakti… aku akan menikahinya.”

“Bukan itu yang aku tanyakan.”

Sultan diam sejenak. “Ya, kurasa aku mencintainya,” jawabnya kemudian.

Jawaban Sultan seakan tangan gaib yang bergerak menembus dadaku, lalu meremas hatiku hingga remuk.

“Katamu, aku hanya datang untuk menyalakan harapanmu sesaat lalu memadamkannya selamanya. itu mungkin benar, Sakti. Aku jahat.” Kulihat Sultan seperti menyeka matanya, agaknya dia kembali menangis. “tapi apa yang akan kamu lakukan jika berada di posisiku? Apa yang akan kamu lakukan jika menjadi seorang Sultan yang akan segera terikat janji suci pernikahan dengan seorang gadis sementara kamu masih begitu mencintai seorang Sakti, masih begitu menginginkannya. Tidakkah kamu akan mendatangi Sakti untuk dapat melihatnya kali terakhir, mendengarkan suaranya kali terakhir, menyentuhnya kali terakhir sebelum kamu melafaskan janji setia di depan saksi nikah. Tidakkah kamu akan mendatanginya untuk itu?”

“Aku tidak akan mendatangi Sakti dan memberinya harapan kosong jika diriku jadi Sultan.”

Dia menangis kini. Aku bisa melihat air mata yang meluncur dari ujung matanya. Kemudian dia menunduk. Gumam maafnya hanya samar-samar masuk pendengaranku.

Tuhan, aku lebih tersakiti lagi melihatnya menangis demikian.

*

Sultan memintaku menurunkannya di tempat aku menjemputnya pagi kemarin. Aku ingin bersuara dan meminta agar dia mengizinkanku mengantarkannya sampai rumah, tapi itu tidak kulakukan. Meskipun aku meminta, Sultan pasti akan bersikeras menolaknya. Merujuk pada perkataannya tentang membuka babak baru dalam perjalanan hidupnya, itu berarti bahwa dia sudah mengambil keputusan untuk tidak terhubung lagi denganku setelah ini. Dan hal itu tidak akan terjadi jika aku tahu tempat tinggalnya. Jadi, aku mengikuti kata-katanya untuk membelokkan mobilku menuju Suropati tanpa mengeluarkan satu kalimat bantahan pun.

“Tadinya aku sempat ingin jujur…” Sultan menggenggam ponselnya erat, seakan ingin menghancurkan benda itu. “tapi kupikir mungkin akan lebih baik bagi kita berdua jika seandainya kamu gak pernah tahu…” Itukah yang menyebabkan keterbataannya saat berbicara denganku? Itukah alasan mengapa dia sempat bermuram diri beberapa kali selama kami di Puncak?

Aku diam di kursiku. Tak ada lagi yang bisa kusuarakan untuk Sultan. Segalanya tampak bagai mimpi buruk saja bagiku kini. Pandanganku menerawang sosok-sosok di dalam taman yang bergerak dinamis sementara kata-kata Sultan mengikis belas kasihanku hingga tak bersisa.

Sultan membuka pintu. Dia sempat menolehku sejenak yang tetap menegakkan kepala tanpa memandangnya sebelum bergerak ke luar. Aku ingin melarangnya pergi, menariknya untuk kembali duduk dan mengunci pintu itu. Tapi aku tidak melakukan apapun untuk mencegahnya.

Sultan menutup pintu mobilku perlahan, tidak cukup kuat untuk membuatnya terkunci. Lalu dia mundur teratur beberapa langkah, berdiri mematung memperhatikan mobilku yang belum bergerak. Kugigit bibirku kuat-kuat lalu kuinjak gas. Hari sudah gelap ketika aku beranjak meninggalkan Sultan, yang berdiri seorang diri dengan wajah kuyu di pinggiran Suropati.

Di satu traffic light, kuhentikan mobilku di belakang deretan mobil yang sudah mengular lebih dulu. Kubenamkan wajahku pada kedua tanganku di kemudi. Lalu aku mulai menangis sendirian, tersedu-sedu bagai anak hilang yang tak tahu jalan pulang.

***

EPILOGUE

 

Mereka benar tentang segalanya

Mereka benar tentang cinta

Bahwa tak pernah ada selamanya

Bahwa kesakitan menyertai setiap cinta

Aku membuktikannya sekarang

Nyata dan kentara

Senyata igau pilu dalam tidur yang tak lagi bisa lena

Sekentara tatap hampa dari raga yang tak lagi punya jiwa

Kalau saja kutahu cinta bisa sesakit ini,

takkan aku berani jatuh dan bertekuk lutut,

pada cinta tujuh tahun silam…

 

Empat minggu. Sudah selama itulah aku menjadi hantu. Bergerak bagai bayang-bayang dari satu tempat ke tempat lain. Mungkin beberapa mata akan melihatku sebagai zombie, atau vampire berkulit pucat. Sudah tak terhitung kali Mama mengomeliku karena kebanyakan mengurung diri di rumah jika tidak ke kantor. Sementara di kantor, sudah tak terhitung orang yang mengeluhkan kinerjaku. Hanya tinggal menunggu masa, dan Papa akan menceramahiku panjang lebar jika tidak mau memecatku demi menjaga wibawanya.

Aku tak peduli pada itu semua.

 

Stranger…

Aku bahagia pernah merasakan satu-satunya cinta terlarang denganmu. Kesalahanku adalah tak bisa memilih untuk jadi cintamu selamanya hingga ajal menjemput salah satu dari kita. Untuk itu, maafkan pilihanku ini.

Stranger…

Aku mengerti jika kamu tak mau hadir di sana, meski aku sangat berharap kamu datang dan memberi restu untukku. Aku juga sadar, bahwa mustahil mengharapkanmu berbahagia buatku. Tapi betapapun sulitnya itu, betapapun dosaku padamu tak terampuni… kumohon… ikhlaskan jalan yang kupilih. Jika kamu tidak bisa mengikhlaskanku demi cinta yang pernah kita kecap, maka maafkan aku dengan hatimu yang tulus, dengan hatimu yang tulus, dengan hatimu yang tulus…

 

Strangermu,

Sultan Arraniry

 

Itulah yang kini menyita seluruh kepedulianku. Kata-kata Sultan yang tertulis rapi pada secarik kertas, terselip dalam undangan bersampul biru yang diantar petugas pos ke rumah tiga hari lalu.

Jika kamu tidak bisa mengikhlaskanku demi cinta yang pernah kita kecap, maka maafkan aku dengan hatimu yang tulus, dengan hatimu yang tulus, dengan hatimu yang tulus.

Begitu Sultan menulis. Seakan sekarang kalimat itu bisa kudengar langsung. Seakan Sultan sedang berdiri di depanku dan melisankan kata-kata itu di telingaku. Kutatap undangan yang masih terbuka di tangan kiriku. Nama Sultan Arraniry dan Shafa Arinda tertera cantik di sana. Begitu serasi, begitu berjodoh.

Kuhela napas panjang hingga dadaku mengembang. Kurasakan kelegaan ketika oksigen seperti menarik semua gelap dalam diriku dan lalu merubahnya menjadi karbondioksida sebelum keluar melalui rongga napasku. Sultan sudah memperoleh takdirnya, kini giliranku untuk berlapang dada dan berdamai dengan takdirku sendiri.

“Stranger, jika apapun yang ditulis Tuhan buatku adalah semua yang terbaik bagimu, walau berat… aku akan berusaha untuk tetap tersenyum dan bahagia untukmu…”

Matahari sudah terbenam sepenuhnya ketika aku menutup undangan di tanganku. Malam baru saja turun saat di dalam kepalaku kulihat Sultan tersenyum lepas sebelum digamit seorang gadis laksana bidadari dan dibawa pergi. Dia masih menolehku saat sudah berjalan dengan gamitan bidadari di lengannya, senyumnya menular padaku…

 

 

 

 

 

Akhir Januari 2015

Dariku yang sederhana

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com