039fa570-951a-49d5-b47b-2189e6ac1637_1

UNPREDICTABLE MASK

Oleh : Tio Adiustama

PROLOG

Maha besar Tuhan atas segala kearifan telah menciptakan seorang manusia dengan akal dan pikirannya. Ke-Maha-Kuasa-an-Nya harusnya membuat manusia bersyukur pada tiap-tiap ciptaan-Nya. Memang, setiap manusia tercipta jauh dari kata sempurna. Beberapa dari mereka yang merasa tercipta tak seelok manusia lain di sekitarnya akan memvonis Tuhan tak adil. Padahal jika ia mau lebih sadar dan paham akan makna diciptakan lalu hidup di dunia, ia akan sadar dan paham bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia yang benar-benar sempurna, kecuali nabi mungkin.

Lakon hidup tak luput dari segala peristiwa sebagai pertunjukkan atas kebenarannya yang nyata. Tuhan, adalah Sang Sutradara yang mengatur bagaimana takdir si pelakon―dalam suatu sandiwara yang sesungguhnya―pada kehidupan yang fana. Tuhan, adalah hakim tertinggi dalam suatu pengadilan -dunia dan akhirat.

Karena dunia ini adalah panggung sandiwara, ada berbagai macam lakon yang diperankan oleh mereka sebagai manusia. Salah satunya, CIPOA.

 

###

Washington DC

Mengelilingi tempat wisata di kota besar negara Amerika ini, memang tidak ada puasnya. Menjelajah ke seluruh bagian di kota yang biasa dijuluki sebagai kota terkuat di dunia ini tidak cukup satu hari, bahkan satu minggu. Setidaknya demikianlah yang dirasa Bayu, lelaki menawan yang sudah berkali-kali ke Washington DC untuk mengakrabi setiap sudutnya. Seperti mengunjungi museum besar Gedung Putih, menyaksikan atraksi-atraksi berskala besar dan beragam pameran. Terfavorit… Ketika menyaksikan pertunjukkan teater, orchestra dan pertunjukkan seni lainnya. Tak kalah seperti halnya di negaranya sendiri, Indonesia, dengan berbagai budaya dan sejarahnya yang juga luar biasa.

Usai melaksanakan shalat Jumat di The Islamic Center yang merupakan mesjid termegah di Washington DC dan terletak tepat di pusat pemerintahan, di luar mesjid, Bayu dibuat kaget dengan kemunculan Arsha, sahabatnya yang juga berasal dari Indonesia. Arsha terlihat menggandeng seorang pria.

“Bay, ini Aldo. Pria yang membuatku bertekuk lutut. Setengah mati aku berusaha mendapatkannya,” ujar Arsha memperkenalkan pria di sampingnya pada Bayu.

Perbincangan hangat di antara mereka terjadi seiring dengan pemandangan sekitar yang teramat sayang jika dilewatkan. Arsha dan Aldo mengakui hubungan mereka sudah berjalan satu minggu. Mereka berdua sangat terlihat serasi. Agama yang dianut keduanya pun sama. Arsha beragama kristen, sama halnya dengan Aldo yang memiliki tekstur wajah seperti orang China kebanyakan.

“Besok aku dan Aldo akan balik ke Indonesia. Karena ada urusan yang memang tidak bisa kami tinggal terlalu lama. Kamu kapan balik ke Indonesia, Bay?” Tanya Arsha.

“Mungkin dalam beberapa hari ini.”

Lalu obrolan mereka berakhir karena Arsha dan Aldo harus segera mempersiapkan segala sesuatu untuk kepulangan mereka ke Indonesia. Tak lupa Arsha memberikan kartu nama pada Bayu. Itu untuk memudahkan kalau Bayu ingin berkunjung ke rumahnya. Karena rumah Arsha yang diketahui Bayu dulu berada di kota Bandung, sekarang sudah pindah ke kota Jakarta.

*****

Beijing

Sebagai wisatawan di Beijing, Ibukota negara China, Ramadhan―yang lahir di negara Indonesia―disuguhkan banyaknya aktivitas yang sangat mempesona. Kedatangannya ke sana sekedar menambah ilmu pengetahuan tentang budaya islam yang sudah menjadi bagian di negeri tirai bambu itu sejak Dinasti Tang. Banyak sekali keunikan yang ada di kota Beijing. Sampai akhirnya, Ramadhan bertemu dengan seorang pria yang juga berkebangsaan Indonesia. Namanya Christian. Mereka berdua berkenalan di tempat wisata Beijing yang dinamakan “The Forbidden City” atau bisa diartikan sebagai kota terlarang.

“Sangat unik kita bisa bertemu di negara orang sementara di negara sendiri kita belum pernah bertemu.” Kata Ramadhan, seiring dengan tawa mereka.

“Jadi, kamu di sini kuliah di Universitas apa?”

“Tidak, Chris. Aku baru saja wisuda. Datang ke sini hanya untuk mengisi waktu luang sebelum melanjutkan S2.″ Jeda. “Kamu kuliah di sini?”

“Di Jinan University. Letaknya di Guangzhou. Ke sini juga sekedar refreshing.”

“Langsung lanjut ke-S2?” Christian mengangguk dengan mantap.

Mereka larut dalam obrolan sambil berjalan menyusuri taman yang berada di sekitar. Dalam waktu singkat, kedekatan mereka terlihat bagai sahabat  yang sudah saling kenal sejak lama. Kini mereka berdua sedang asik menikmati pemandangan di taman yang sangat menakjubkan. Tak lupa mengabadikannya dengan kamera ponsel pribadi, untuk dijadikan sebagai kenangan.

Christian menganggap ini adalah pertemuan yang sangat indah. Ketika mereka bertemu, berkenalan dan menjadi akrab. Hingga akhirnya, Christian merasa telah jatuh hati pada seorang pria yang 1 tahun lebih muda darinya―saat ini usia Christian memasuki angka 24. Terlalu cepat Christian jatuh cinta dengan seorang pria tampan yang baru saja dikenalnya. Dia bahkan belum tau, apakah pria yang membuatnya jatuh cinta itu merasakan hal yang sama? Dia juga belum tau akan kebenaran orientasi seksual Ramadhan. Mungkinkah Ramadhan adalah seorang gay seperti dirinya atau bukan? Christian memang belum tau.

*****

Jakarta

Perasaannya kalut. Kerap kali itu yang selalu dirasakannya. Akhir-akhir ini, pria itu tengah dilanda kegalauan hati. Tak tau apa yang harus diperbuat. Dengan begitu dia akan menghabiskan waktunya di dalam kamar sembari memandangi selembar foto. Pradityo merasa hidupnya tak lagi secerah dulu. Tyo bahkan tak mengerti bagaimana cara menghadapi kepiluan pada hatinya. Segala bujuk rayu penghilang rasa galau, sudah semua cara dilakukan sahabatnya, Martin. Kini sahabatnya itupun ikut kalut atas kegalauan Tyo yang terlalu akut.

“Kau bisa mati perlahan jika terus-terusan seperti ini, Tyo!”

Pernyataan Martin sama sekali tidak mendapatkan respon. Sampai dirinya mengacak-acak rambutnya yang gondrong. Dia seolah sedang berbicara dengan orang bisu yang tuli sekaligus buta -yang tak pernah mengetahui keberadaannya.

“Seriously…, I surrender! Kalau kau terus kacau seperti ini, akan kusuruh mamamu untuk membawamu ke psikiater.” Martin tidak tau lagi harus berbuat apa, dia menyerah.

Dan……BUUUKK! Ucapan Martin mendapatkan respon yang kurang baik. Tyo melempar Martin dengan bantal.

“Aku masih waras!”

“Lemparan yang sangat baik. Tapi tidak apa….” Martin mendekati Tyo. “Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada dirimu, Yo…”

Dalam hidup terkadang kita memiliki keberuntungan. Salah satunya punya sahabat dekat yang selalu ada tanpa diminta. Keberadaan seorang sahabat sejati sangat berperan penting dalam hidup kita. Dia akan menutupi segala kekurangan yang dimiliki sahabatnya. Sahabat sejati akan selalu ada di sisimu tanpa kau minta. Yang kau butuhkan adalah rangkulan seorang sahabat ketika kau gundah. Bukan ciuman bibir dari seorang kekasih!

Begitulah kata bijak yang dikatakan Martin, untuk sahabatnya. Tyo hanya ternganga mendengarkan celoteh bermanfaat yang keluar dari mulut Martin.

“Lambat laun kau akan menyadari bahwa kehadiran seorang sahabat lebih penting dari pada sang kekasih yang kau cintai. Bahkan kau tak tau dia mencintaimu atau tidak!”

“Ah, yang benar? Apa kau sedang membual, Martin?” Ledek Tyo.

“Aku yakin pasti kau percaya..”

Benar, kita sendiri tidak tau dia mencintai kita juga atau tidak. Akal sehat Tyo telah kembali. Pikirannya terobati pada untaian-untaian kata yang diucapkan sahabatnya itu. Kini dia menyadari hatinya telah gelap akan cinta yang membuatnya kalut; karena dia belum tau apakah cintanya terbalas atau hanya bertepuk sebelah tangan.

“Begitu baiknya Tuhan padaku memberikan sahabat terbaik sepertimu, Martin.” Tyo melebarkan kedua tangannya. “Bisakah aku mendapatkan sebuah pelukan sahabat?”

“Ya…, Pelukan sahabat.” Mereka berpelukan sebagai tanda persahabatan mereka.

*****

Ini merupakan hari kedua keberadaan Bayu di Indonesia sekembalinya ia dari Washington DC, menyusl Arsha dan Aldo yang sudah lebih dulu pulang. Entah di mana sahabatnya itu sekarang, Bayu belum sempat mengontak Arsha karena dirinya sedang disibukkan pada persiapan sebuah pesta megah. Bukan birthday party-nya, tapi sebuah pesta unik tempat ia dan teman-temannya saling bertemu dan membuka diri

Bayu adalah pemuda yatim-piatu, kedua orang tuanya meninggal 5 tahun lalu dalam sebuah kecelakan tragis, saat itu usianya 21 tahun. Kakak perempuan satu-satunya, tinggal di negara Asia bagian barat, Arab Saudi, bersama suaminya. Sanak saudaranya pun kebanyakan tinggal di luar Indonesia. Karena memang Bayu berdarah campuran. Ibunya orang Indonesia, ayahnya orang Jerman. Ketika lahir sampai berumur 4 tahun, Bayu tinggal di Jerman. Namun sejak usianya yang ke-5, Bayu beserta kedua orangtuanya pindah ke tanah kelahiran ibunya, Indonesia. Meski begitu, setelah kedua orangtuanya meninggal, di sini dia tidak seorang diri. Bayu memiliki banyak orang-orang yang dijadikannya sebagai teman ataupun sahabat.

Kembali pada perayaan pesta. Kali ini Bayu akan mengadakan pesta yang jauh berbeda dari pesta-pesta yang sudah biasa ia gelar sebelumnya. Bayu akan mengadakan pesta dansa dan pesta topeng. Uniknya, pesta ini hanya bisa dihadiri oleh kaum gay. Tidak akan ada satu wanita pun di pesta ini, termasuk pembantu rumah tangga Bayu sekalipun. Dengan pesta ini, dia ingin meraih kesenangan bersama orang-orang seperti dirinya. Ya, hidup Bayu memang tidak jauh dari ke-foya-foya-an. Tapi di balik itu, Bayu memiliki sifat pekerja keras hingga membawanya pada kemapanan hidup diusianya yang baru menginjak angka 25.

*****

Malam yang dingin berselimutkan angin tebal, lalu berganti menjadi rintik hujan ketika hari sudah pagi. Tyo dikagetkan dengan kehadiran Martin yang membangunkannya dengan silauan sinar matahari, melalui gorden besar yang berada di kamarnya.

“Yo…, jam segini kau baru bangun?” Martin mengganggu Tyo dari tidurnya.

“Jam berapa sekarang? Di luar hujan?”

“Aku yakin tadi kau tidak shalat subuh!” tebak Martin lalu menuju ke arah jendela. “Tidak. Cuma gerimis. Tapi cuaca cerah, tidak mendung.”

“Aku lupa pasang alarm.”

Adalah hal yang menjengkelkan bagi Tyo saat pagi-pagi begini Martin sudah ada di kamarnya dan membangunkan tidurnya yang nyenyak.

“Aku tunggu kau di bawah.” Kata Martin dan segera keluar dari kamar Tyo.

*****

Bayu masih disibukkan dengan persiapannya untuk merayakan sebuah pesta. Sebenarnya cukup sulit baginya mengadakan pesta seperti ini, yang berbeda dari pesta-pesta sebelumnya yang pernah dia adakan. Dia dibantu Nathan, sahabatnya sejak SMA.

Nathan tertawa. “Bay, aku rasa kita tidak perlu membuat kartu undangan. Tamu yang akan kamu undang terlalu banyak! Lagi pula, pesta-pesta sebelumnya kamu juga tidak memerlukan kartu undangan.”

“Nathan…. Kalau tidak pakai kartu undangan, pesta ini tidak terlihat mewah nantinya.”

“Baiklah. Aku hanya menyarankan, bagaimana kalau setiap kartu undangan ini untuk dua orang? Lagi pula kan pesta yang kamu buat ini sistemnya berpasang-pasangan.”

“Satu kartu undangan untuk dua orang? Good idea!” Bayu setuju.

Dan segala persiapan pun sudah dilakukan. Pesta dansa dan pesta topeng akan segera dirayakan. Setelah kartu undangan selesai dibuat, mereka berdua segera menyebar undangan dibantu oleh rekan-rekan sejenisnya yang lain.

*****

3 Hari Kemudian

Bayu dan Nathan baru saja selesai menyebar kartu undangan.

“Berapa kartu undangan lagi yang tersisa, Nat?” Tanya Bayu.“Tersisa dua kartu undangan lagi.”“Hm…, kalau begitu kamu saja yang urus. Aku bingung siapa lagi yang harus kita undang.”“Bayu, kamu masih ingat Martin? adik kelas kita sewaktu SMA. Dia kan juga sama seperti kita.”“Martin yang orang Ambon itu? kamu ada contact person nya?” Nathan menggeleng.“Tapi aku tau rumahnya. Nanti aku coba datangi. Siapa tau dia masih tinggal di rumah yang lama.”

Tak lama Nathan segera pamit.

*****

Martin baru saja tiba di rumah Tyo, ketika 15 menit yang lalu dia memberi kabar ingin datang ke rumah sahabatnya itu.

“Aku punya kabar gembira untukmu, Yo…” Ujar Martin ketika Tyo membuka pintu rumah atas kedatangannya.

“Apa?” Mereka berdua menuju ruang tengah.

“Ada undangan pesta untuk kita berdua.”

“Undangan pesta apa?

“Ini…. Pesta dansa dan pesta topeng. Kita harus datang ke acara ini, Yo!” Seru Martin.

“Aku tidak tertarik. Kau saja yang datang.”

Tyo meninggalkan Martin dan melenggang ke arah dapur. Martin mengekor di belakang, dan terus nyerocos tentang undangan yang diterimanya. Namun Tyo masih tetap tidak menggubrisnya.

“Yo, please…. Undangan ini untuk kita, satu untukku dan satu lagi untukmu. Tidak ada salahnya kan kita hadir?” Martin memelas.

“Martin…,” Belum melanjutkan kata selanjutnya, Martin semakin memelas dan membuat Tyo jadi tidak enak hati. “Iya! Aku ikut!” Martin langsung senang bukan kepalang mendengarnya.

Di ruang tengah Martin menceritakan pada Tyo siapa yang mengundang mereka berdua untuk datang ke pesta tersebut.

“Kau masih ingat dengan Nathan?” Tanya Martin.

Tyo mencoba mengingat pria bernama Nathan yang dikatakan Martin. Lalu Martin menjelaskan bahwa Nathan yang dimaksud adalah kakak kelas mereka berdua ketika SMA. Martin juga mengatakan dulu Tyo pernah suka dengan kakak kelasnya itu. Tyo pun ingat.

“Kemarin dia datang ke rumahku, Yo. Memberikan undangan ini untuk kita berdua. Ternyata dia masih ingat dengan rumahku.”

“Apa dia masih ingat sama aku?”

“Tentu! Dan satu lagi kabar bahagia untukmu….” Tyo mengernyit, menunggu kata selanjutnya yang akan diucapkan Martin.

Martin tertawa meledek. “Kau penasaran ya?”

“Aku akan mencekik lehermu kalau terus meledek seperti itu!”

“Kalau memang kau penasaran…,” Martin sengaja menggantung kalimatnya. Lalu, “Tangkap aku dulu sampai dapat!” Martin secepat kilat berlari.

Seakan memahami atas kejahilan sahabatnya itu, dengan cepat Tyo berdiri dan berteriak, “MARTIN!!!!!!!!!!” lalu mengejar.

Mereka berdua layaknya tikus dan kucing yang sedang kejar-kejaran. Berlarian kesana-kemari.

*****

Beijing

Ramadhan sibuk dengan banyaknya e-mail masuk yang dia terima. Dia hanya membalas beberapa e-mail. Mengabari keluarga dan teman dekat bahwa besok adalah hari kepulangannya ke Indonesia. Tak lama dia mendapatkan pesan masuk dari pemilik akun e-mail yang belum lama ini dia kenal.

Cinta tidak menyadari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan pun tiba.

dan

Hanya dengan cinta yang indah… Kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan.

Isi pesan itu datang nya dari Christian. Ramadhan ragu, harus membalasnya atau membiarkan saja pesan itu tak terbalas?

Ramadhan merasa ada satu hal yang salah pada dirinya. Bagaimana bisa hanya dalam beberapa hari ini, dia membuat orang lain jatuh cinta padanya. Dia bingung kenapa Christian bisa jatuh cinta dengannya? Padahal dia sama sekali tidak berusaha untuk membuat Christian jatuh cinta padanya. Dilema. Itu yang dirasakan Ramadhan. Kenyataannya Ramadhan tidak mencintai Christian, dan menganggap mereka berdua adalah sahabat.

Ketika Christian mengakui bahwa dirinya adalah seorang gay, Ramadhan pun mengakui hal yang sama. Inilah kesalahannya. Kini Ramadhan menyesali kalau ternyata pengakuannya itu membuat Christian berani mengatakan cinta, sementara Ramadhan tidak mengharapkannya.

Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang.

Ramadhan kembali mendapatkan pesan masuk dari Christian, lalu dia membalasnya.

“Kata-kata yang bagus. Thanks before!” Send.

Ramadhan tidak mengetahui bahwa pesan-pesan yang dikirim Christian adalah kutipan-kutipan milik Khalil Gibran, sang pujangga cinta.

Tak lama, Ramadhan menerima balasan pesan dari Christian.

Received. “Kalau ada kesempatan aku untuk menyusul kamu ke Indonesia, bisa kan kita bertemu?”

Ramadhan hanya membalasnya dengan kata ‘bisa’. Lalu segera dia mematikan serta menutup laptopnya dan beranjak tidur. Namun matanya tidak mengantuk. Ramadhan pun memikirkan hal yang mengganggu pikirannya. Dalam hati dia berkata: Kalau saja aku tidak bertemu atau berkenalan dengan Christian, juga tidak jujur dengannya kalau aku sama seperti dirinya, mungkin Christian tidak akan mengatakan cinta padaku. Tuhan, apa yang harus aku lakukan agar Christian tidak mencintaiku? Aku merasa bersalah, Tuhan. Aku tidak ingin ada pria lain yang mencintaiku, sementara aku tidak mencintainya. Aku hanya ingin dicintai oleh satu pria yang aku cintai. Walau sebenarnya aku tidak bisa memilikinya. Sekarang aku sedang rindu dengannya. Ramadhan membayangkan sosok pria yang sangat dia cintai. Matanya terpejam, dan terlelap.

Dan pagi ini, Ramadhan sudah tiba di Nanyuan International Airport. Dia akan pulang ke negara asalnya, Indonesia. Ramadhan sedang menunggu kehadiran Christian yang katanya ingin mengucapkan salam perpisahan secara langsung. Tapi saat itu juga Ramadhan mendapat e-mail masuk dari Christian yang mengatakan kalau pria itu tidak jadi hadir. Ramadhan mengerti. Pesawat yang sudah ditumpangi Ramadhan pun sebentar lagi akan berangkat.

*****

Dia semakin tidak mengerti. Langit yang diselimuti kegelapan, menyembunyikan celah yang terang dalam dirinya. Kembali dia diratapi pilu. Kembali dia didatangi rindu. Haruskah dia berjalan pada jalan setapak yang dipenuhi duri? Hingga harus selalu merasakan sakit yang tak pernah lenyap pada hatinya. Apakah dia terjerembab pada jasad yang salah? Bahwa seolah-olah ini bukanlah jiwanya. Jiwa yang selalu berkeluh kesah saat ketidakmengertian datang melanda.

Tyo mencurahkan segala isi hatinya pada Martin malam ini melalui smartphone canggihnya. Di sana, Martin mengatakan ingin datang ke rumah Tyo, tapi Tyo menolak karena ini sudah larut malam. Meski sebenarnya Tyo sedang butuh seseorang untuk menenangkan pikirannya.

“Aku harap kau tidak melakukan hal-hal yang konyol. Lebih baik sekarang kau cepat tidur!” Suara Martin di ujung sana. Tyo menurut, dan pamit untuk tidur. Klik. Panggilan berakhir.

Lagi-lagi Tyo tidak melaksanakan shalat subuh karena akhir-akhir ini dia selalu bangun siang. Dia baru saja bangun dari tidurnya, ketika Martin datang ke kamarnya. Martin melangkah mendekat ke arah Tyo.

“Jujur aku bosan tiap mendengar keluh kesahmu tentang pria yang tidak jelas itu.” Martin menatap Tyo dengan tajam, yang akhirnya membuat Tyo merasa risih.

“Semalam dia baru balas e-mail yang aku kirim.”

“Apa katanya?”

“Dia bertemu dengan seorang wanita cantik, sholeha, dan itu membuat dia menyukai wanita itu.”

“Terus apa yang kau permasalahkan? Dia sudah memberi kejelasan bahwa dia itu pria normal. Kau saja yang terlalu berharap lebih! Dasar bodoh!”

Tyo terdiam. Dan Martin menuju laci yang ada di kamar Tyo untuk mencoba mencari tau siapa sosok pria itu. Karena memang Tyo tidak pernah mau memberi tau ketika ditanya siapa pria yang dicintainya itu.

Martin kesal. “Di mana foto pria itu kau simpan? Aku yakin pasti kau menyimpan fotonya. Cepat, kasih tau aku!”

“Kau tidak perlu tau.”

“Kenapa kau tidak pernah mau memberi tau siapa pria itu? Aku ini sahabatmu, Yo! Aku peduli padamu! Jangan kau bersikap seperti orang bodoh karena terlalu menyimpan harapan pada orang yang kau cintai, sementara jelas-jelas dia menyukai orang lain!”

“Dia membuat aku bingung, Martin! Terkadang aku merasa yakin dia sama seperti kita. Aku menunggu agar dia yang memulai semuanya.”

“Memulai semuanya? Memulai untuk lebih dulu mengakui bahwa dia gay? Memulai untuk mengatakan cinta padamu? Memulai akan segala sesuatu yang kau idam-idamkan? Ow, this is bullshit! Itu namanya kau egois, Yo!”

“Ya, aku memang egois. Dan itu bukan urusanmu!”

Mereka berdua berada di puncak emosi.

“Bukan urusanku? Oke. Mulai sekarang aku bisa bebas dari segala penat di pikiranku tentang urusanmu yang selalu membuat otakku pecah!” Hening sesaat. “Kecewa aku denganmu, Yo!”

Martin segera melangkahkan kaki ke arah pintu, beranjak untuk pergi. Dengan cepat Tyo memanggilnya, menahan sahabatnya itu agar tidak pergi. Martin menghentikan langkahnya dan tidak menoleh ke arah Tyo.

“Maaf kalau aku emosi seperti ini. Aku sadar sikapku ini salah.”

Lebih tepatnya, kesahalan besar kalau Tyo sampai kehilangan sahabatnya itu.

“Kalau aku menuruti emosiku, mungkin aku akan membuat wajah kau penuh dengan memar tonjokan!”

“Sejahat itukah kau, Martin?”

Martin berbalik menghadap Tyo. “Aku minta maaf. Tapi kau tidak berniat membatalkan rencana kita untuk hadir di pesta dansa dan pesta topeng itu kan?”

“Tidak, kalau kita sudah baikan.”

“Baiklah. Aku punya kabar gembira untukmu, tapi aku tidak bisa mengatakannya sekarang karena aku masih kesal denganmu. Aku janji akan mengatakannya 4 hari kemudian menjelang malam pesta dansa dan pesta topeng itu tiba.”

4 hari? Tyo sampai meraup wajahnya dengan ke-sok-misteriusan sahabatnya itu. Hanya untuk mengetahui kabar gembira sialan itu dia harus menunggu sampai 4 hari? Berapapun lamanya, saat ini tidak masalah bagi Tyo. Karena dia hanya ingin hubungannya dengan Martin baik-baik saja.

Martin keluar.

*****

4 Hari Kemudian

Pesta dansa dan pesta topeng pun tiba.

Pagi tadi, Tyo sudah mendapatkan kabar gembira yang dijanjikan Martin. Meskipun bagi Tyo ini tidak terlalu menggembirakan, well… Demi menjaga perasaan Martin, dia akan menganggap bahwa ini adalah kabar yang sangat menggembirakan. Kabar gembiranya adalah, Nathan akan menjadi pasangan Tyo untuk menghadiri pesta malam ini. Ya, Nathan, kakak kelas yang dulu pernah Tyo sukai.

Sekarang ini, Tyo sedang menunggu kedatangan Nathan yang akan menjemputnya untuk hadir di pesta malam ini. Kenyataannya, jantungnya pun sekarang sedang berdebar-debar. Pasalnya, Tyo belum mengetahui sosok Nathan saat ini seperti apa. Martin pun dengan sengaja merahasiakannya dan mengatakan kalau Tyo melihat Nathan yang sekarang, pasti akan sangat jatuh cinta.

Tyo melangkah ke arah pintu gerbang rumahnya saat mobil Nathan baru saja tiba. Setelah berada di depan gerbang rumah Tyo, Nathan keluar dari dalam mobil. Dengan gagah layaknya pangeran idaman semua wanita, serta penampilannya yang begitu rapih, Nathan menghampiri Tyo. Jas yang dia pakai sangat menawan membalut tubuhnya.

“Maaf kalau aku membuatmu terlalu lama menunggu.” Suara seraknya, menjadi tambahan nilai yang nyaris sempurna.

Tyo terpukau. Nathan yang dulu sebagai kakak kelasnya ketika SMA, sangat berbeda dengan Nathan yang sekarang lebih tinggi, kekar, bersih, dan… Lebih terlihat dewasa tentunya.

“Well, ini jam 7 tepat. Seperti yang kamu katakan, jam 7 sudah ada di depan rumahku. So, aku menunggu tidak terlalu lama.”

“Nice to meet you, Tyo…”

“Nice to meet you too… kak, Nathan.”

Tyo ragu, harus menyebut nama itu dengan tambahan kata ‘kak’ atau tidak. Nathan pun menyadari hal itu.

“Cukup panggil nama saja. Tidak perlu ada kata kak atau apapun yang membuktikan kalau aku lebih tua dari kamu.”

Tyo tertawa pelan. “Kenyataannya kamu memang lebih tua dari aku. By the way…, aku pikir kamu akan kesasar.”

“Tidak terlalu sulit untuk mencari di mana rumah kamu karena Martin memberikan alamatnya sangat jelas.”

Setelah itu, Nathan terus saja memandangi Tyo dengan senyuman manis yang dia punya. Berusaha mati-matian Tyo menahan diri agar tidak hanyut dengan kondisi seperti ini. Tyo mencoba bersikap biasa saja.

“Aku rasa kita akan terlambat kalau tidak segera berangkat.” Tyo memecah keheningan di antara mereka berdua. Nathan segera membukakan pintu mobil, dan mempersilakan Tyo untuk masuk ke dalam mobil. Mereka berdua pun berangkat.

Di dalam mobil, selama perjalanan Tyo terlihat banyak salah bertingkah. Sementara Nathan terlihat lebih rileks dan cool. Kadang mereka senyum-senyum tidak jelas ketika tidak ada yang bisa dijadikan bahan obrolan.

“Aku masih bingung, kenapa kamu bisa kepikiran mengundang aku dan Martin untuk hadir di pesta ini?” Tyo memfokuskan pandangan dengan memperhatikan wajah Nathan secara detil.

“Aku hanya membantu Bayu. Di pesta ini dia mau tamu yang hadir bukan sekedar teman-temannya yang saat ini dia kenal. Akhirnya dia kepikiran untuk mengundang teman-teman ketika SMA yang bahkan tidak terdengar kabarnya. Semacam reuni kecil-kecilan.”

“Lalu?”

“Untuk mengundang teman-teman sewaktu SMA, itu sangat susah. Apalagi yang sama seperti kita. Jadi, undangan untuk teman SMA ya seadanya saja. Itupun yang kita kenal. Teman-teman SMA yang diundang pun cuma angkatan aku sama angkatan kamu. Jumlahnya juga sedikit.”

“Kenapa tidak membuat reuni akbar sekalian? Kata Martin, Bayu sekarang sudah sukses dan mapan. Kamu juga. Para alumnus yang patut dicontoh.”

Nathan terkekeh. “Entahlah…”

“Boleh aku tau siapa saja angkatan aku yang kamu undang?”

“Sedikit. Kalau aku beritahu kamu sekarang, pesta ini tidak akan menarik lagi buat kamu nantinya.”

“So…, pesta dansa dan pesta topeng ini seakan-akan dibuat misteri?”

Nathan terbahak. “Sedikit mengerikan kalau pesta ini dianggap sebagai misteri. Pesta ini hanya dijadikan ajang bagi mereka untuk saling mengakui bahwa mereka gay. Itupun kalau mereka berani jujur. Kalau mereka malu, untuk apa mereka sebagai gay tapi berpura-pura straight?”

“Untuk membuktikan bahwa sebenarnya mereka juga bisa menghasilkan keturunan, mungkin…” Sela Tyo.

Nathan menghentikan mobilnya saat lampu merah.

“Menurut kamu, apakah berpura-pura menjadi straight adalah suatu keharusan?”

“Banyak dari mereka yang rela membohongi dirinya sendiri, dan beranggapan bahwa kebohongan mereka akan menjadi kebahagiaan. Padahal sepenuhnya tidak.” Jawab Tyo, yang dimengerti oleh Nathan maksudnya.

Nathan kembali melajukan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.

Kini Tyo mengalihkan pikirannya pada seseorang yang sedang dia cintai. Dia merasa orang yang dicintainya itu sedang bermain-main dengan kebohongan. Dalam hatinya, Tyo yakin cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi demi kebahagiaan, Tyo merasa orang yang sudah membuatnya merasakan pilu berkali-kali, didatangi rindu berulang-kali, kini sedang berbohong.

Kemudian Tyo dan Nathan sampai di tujuan.

Dari kejauhan, rumah Bayu terlihat sangat besar. Bisa kita menyebutnya sebagai istana kerajaan. Halaman di luar rumah pun begitu luas. Bisa juga kita menyebutnya sebagai lapangan sepak bola untuk remaja akil baligh.

Terlihat berpuluh-puluh mobil berkelas yang berderet. Tyo meyakini tamu yang diundang bukan sembarang tamu. Pasti berasal dari orang-orang yang sudah meraih kesuksesan. Nathan segera memarkirkan mobilnya dan mereka berdua turun. Tidak lupa mereka memakai topeng sebelum keluar dari mobil. Ada beberapa pria yang sangat gagah di halaman parkiran mobil, namun mereka tidak memakai topeng seperti yang diharuskan pada pesta ini. Mungkin mereka bertugas untuk menjaga keamanan.

“Permisi ya, Pak.” Ujar Nathan sopan ketika melewati salah satu penjaga keamanan.

“Oh iya, mas. Silahkan.” Kata seorang penjaga keamanan itu sambil membungkukkan badannya.

Dari halaman parkiran mobil menuju ke rumah Bayu sedikit agak jauh hingga mengharuskan mereka untuk berjalan sebentar. Banyak orang-orang bertopeng yang berlalu lalang. Ini layaknya sebuah mal mewah yang sering dikunjungi banyak orang. Meski orang-orang yang berkunjung di mal lebih banyak dibanding mereka yang datang ke pesta ini.

Tyo menghentikan langkahnya. “Aku merasa gugup. Belum pernah aku datang ke sebuah pesta dengan perasaan gugup seperti ini. Tamu yang hadir pun semuanya pria.” Jeda. Lalu memandang Nathan. “Nathan…, aku belum pernah bertemu dengan pria gay sebanyak ini.” Ucap Tyo lirih.

“Jangan khawatir. Aku pastikan tidak akan ada yang berani mengganggumu.”

“Bukan begitu. Sepertinya aku akan merasa asing di sini. Aku tidak kenal mereka semua. Di mana Martin?”

“Martin dan pacarnya sudah ada di dalam. Ayo!” Nathan memegang tangan Tyo dan mereka kembali berjalan.

Tepat di depan pintu, dua orang pria berseragam kembar berwarna putih dan menggunakan topeng menyambut kedatangan mereka serta tamu-tamu yang lain.

“Kartu undangan?” Pinta dari salah satu pria tersebut. Setelah Nathan menunjukkan kartu undangan, pria itu mempersilakan masuk. Namun sebelum masuk, pria yang satu lagi memberi stempel di tangan kanan mereka sebagai tanda mereka adalah tamu di pesta itu.

Saat menginjakkan kaki di lantai ruang utama yang luas, terlihat banyak pria dengan pakaian berjas formal dan menggunakan topeng. Ditambah dekorasi ruangan yang tertata dengan sempurna. Terkesan glamor.

“Beberapa di antara mereka memperhatikan kita berdua. Apakah mereka kenal dengan kamu, Nathan?” Nathan hanya mengangguk. Tak lama kemudian, Martin yang sudah lebih dulu ada di sana datang menghampiri Tyo dan Nathan.

“Hey…, kalian berdua sangat serasi.”

Tyo pun segera melepaskan gandengan tangannya pada pergelangan tangan kiri Nathan. “Bagaimana kamu bisa tau kalau ini aku?” Tyo bersuara pelan.

“Ya, aku menggunakan insting untuk menebak kalau ini kau. Dan instingku ini ternyata sangat tepat.” Martin tertawa disusul Tyo yang memukul bahunya.

“Martin, aku titip Tyo sebentar ya. Aku harus bilang ke Bayu untuk segera memulai pesta dansanya.”

“Siap!” Nathan langsung meluncur untuk menemui Bayu.

Setelah Nathan bertemu dengan Bayu, Nathan pun mengumumkan bahwa pesta dansa akan dimulai.

Nathan berbicara melalui mikrophone. “Test… Test…” Para tamu yang hadir mengalihkan perhatian untuknya.

“Selamat malam semua. Mohon perhatiannya sebentar. Karena tidak lama lagi acara pesta dansa akan segera dimulai.”

Semua tamu yang hadir meriuhkan suara dan bertepuk tangan. Beberapa diantaranya sudah tidak sabar untuk berdansa dengan pasangannya masing-masing.

Nathan melanjutkan pembicaraannya. “Tapi sebelumnya…, mari kita dengar sedikit sambutan dari tuan rumah di pesta ini. Bayu Everaldy Wagner.”

Suara tepuk tangan yang keras kembali terdengar, ketika Bayu memberikan kata sambutan dengan suara bass-nya.

Bayu berdiri di depan standard mic dengan gaya khasnya yang santai dan tegas di saat bersamaan. Auranya menyebar ke seluruh ruang, membungkam semua mulut dan menarik semua mata untuk memperhatikan sosoknya yang menjulang. Pria itu berdehem satu kali, memasukkan sebelah tangan ke saku celana dan mengetuk mic dengan tangan lainnya. “Selamat datang di rumahku, Gentlemen,” Bayu memperbaiki letak topengnya sekilas. “Dengan bangga, aku mengucapkan terima kasih atas kehadiran kalian semua. Pesta ini hanyalah upacara pemakaman tanpa kehadiran kalian.” Tawa pendek terdengar di beberapa sudut. “Intinya, aku ingin memberitahukan kalau malam ini rumahku adalah rumah kalian juga, kecuali kamar tidurku, kalian bebas berada di mana saja selama pesta berlangsung. Dengan catatan, kita bisa saling menghormati dan saling percaya untuk tidak melanggar batas.” Bayu menunjuk ke dinding di belakangnya, “Di sana, aku baru saja mempercantik kolam renangku, silakah kalian pakai sewajarnya dengan tidak pipis di dalamnya…” tawa samar kembali terdengar. “Dan di sini,” Bayu menunjuk lantai dengan dua telunjuknya sekaligus, “adalah lantai dansa bagi yang ingin menari hingga musik berhenti.” Sorak pendek menggema sejenak, memberi efek euphoria terhadap kalimat Bayu. “Dan beginilah, pesta ini aku persembahkan…” Bayu meninggalkan mic diiringi gemuruh sorak dan tepuk tangan dari tamunya.

Lampu dibuat sedikit remang-remang. Tamu yang hadir bersorak kegirangan. Lalu beberapa dari mereka segera berhamburan menuju kolam renang. Sebagian, berdiam diri dan berdansa di ruang utama ini. Tak hanya memberikan kesan yang glamour, pesta ini juga memberikan kesan yang romantis.

“Nathan….” Bayu menghabiskan orange juice pada gelas cantik yang sedang dipegangnya. Di pesta ini Bayu memang tidak menyediakan minuman seperti vodka, wine, whisky atau sejenis lainnya.

“Ya?”

“Mereka yang datang ke pesta ini sangat terlihat gembira. Aku senang melihat antusias mereka.”

“Sebaiknya kamu ikut bergabung dengan mereka di lantai dansa.”

“Jujur, aku ingin sekali berdansa. Tapi aku tidak memiliki pasangan untuk diajak dansa.”

Nathan tertawa. “Salahmu sendiri. Kalau begitu aku akan membuatmu iri. Lihatlah bagaimana romantisnya seorang Nathan William ketika sedang berdansa.”

“Dengan siapa? Bukannya kamu tidak membawa pasangan juga?” Tanya Bayu heran.

“Stay here. Dan lihat….” Nathan melangkah meninggalkan Bayu.

“Hei, Nat…” Sapa Martin. “Baiklah, kalau begitu aku dan pacarku harus pergi meninggalkan kalian berdua.” Lanjutnya.

Kini Nathan sudah bersama Tyo. Sekilas dia melihat ke arah Bayu yang sedang memperhatikan dirinya dan mantan adik kelas mereka sebelum mulai beraksi.

“Saatnya kita berdansa, Tuan Muda.” Nathan meraih kedua tangan Tyo dan membawanya ke arena dansa. Alunan musik klasik abad ke-19 karya Johann Strauss membawa mereka pada keromantisan. Gerakan-gerakan lembut terasa alami hingga menyelaraskan keduanya.

“Apa kamu pernah berdansa sebelumnya, Nathan?”

“Pertanyaanmu membuat aku yakin kalau ini adalah pertama kalinya kamu berdansa dengan seseorang. Benar?”

Pipi Tyo merah merona karena tebakan Nathan sangat tepat. Ini pertama kalinya bagi Tyo berdansa dengan seorang pria.

“Apakah untuk seseorang yang baru pertama kali berdansa, aku terlihat buruk?”

“Sssttt…, akan sangat terlihat buruk kalau kita terlalu banyak bicara.”

Musik klasik dalam pesta glamour ini mengalir bersama detak jantung mereka yang tak pernah berhenti.

Nathan melihat ke arah Bayu yang masih berdiri dan melihat dia sedang berdansa dengan Tyo. Perlahan Nathan berbisik lembut di telinga kiri Tyo dan berkata akan mengajaknya untuk bertemu dengan Bayu.

“Hmm…, kamu memang tidak bisa diragukan dalam hal mencairkan suasana menjadi romantis, Nat.” Kata Bayu ketika Nathan dan Tyo sudah di dekatnya.

Nathan tertawa kecil. “Namanya Pradityo. Dia ini adik kelas kita sewaktu SMA.” Kemudian Nathan berbisik pelan ke telinga Bayu dan berkata, “Dulu dia pernah suka sama aku.”

“Bayu.” Ujar Bayu mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.

“Pradityo, panggil saja Tyo.” Balas Tyo seiring dengan jabatan mereka.

“Maaf sebelumnya, kalau aku tidak tau memiliki adik kelas seperti kamu.”

Tyo membalasnya dengan senyuman ramah.

“Mau melanjutkan dansa yang tadi?” Tanya Nathan pada Tyo.

“Sebentar, aku izin ke toilet dulu.” Nathan mengangguk. Dengan cepat Tyo melangkahkan kaki menuju toilet.

“Well…. Kamu lihat sendiri kan hasilnya? Aku yakin, di toilet dia sedang senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang baru saja dialaminya. Dia baru pertama kali berdansa.” Nathan terus-menerus tertawa berusaha membuat Bayu merasa iri.

“Kamu memang beruntung, Nat. Kamu menyukainya?”

“Sejak aku menjemputnya, dari situlah aku langsung menyukainya.” Kata Nathan dengan bangga. “Kamu tidak berdansa? Atau sekalian cari kekasih?” Jeda. Nathan kembali berbisik pelan ke telinga Bayu. “Di sini banyak sekali boty yang kamu undang, dan mereka sangat cocok buatmu.”

“Bagaimana aku bisa tahu mereka cocok untukku sementara kamulah yang memberikan undangan pada mereka, kurasa yang kamu undang mengikut seleramu semua,” timpal Bayu dan Nathan meresponnya dengan tawa keras.

Smartphone canggih Bayu berdering menandakan panggilan masuk. Bayu menerima panggilan masuk itu. Namun karena suaranya yang terdengar kurang jelas, Bayu izin pada Nathan untuk pergi keluar.

Setelah berada di luar rumah, Bayu yang masih menempelkan smartphone ditelinga kanannya, dikejutkan dengan teriakan seseorang dari kejauhan. Bayu menyadari suara teriakan seseorang yang memanggil namanya, adalah seseorang yang sedang berbicara dengannya di smartphone miliknya itu.

Orang yang berteriak itu adalah seorang pria yang sangat Bayu kenal, kini dia sedang berlari menuju tempat Bayu berdiri. Pria itu adalah Ramadhan

“Ramadhan?” ujar Bayu ketika Ramadhan sudah berdiri di depannya. Mereka berpelukan sekilas, melepas rindu setelah tak berjumpa sekian lama.

“Maaf aku telat.” Kata Ramadhan dengan nafas tersendat-sendat.

“Oh my little brother! Acaranya mulai dari pukul 8 tadi, sekarang sudah pukul 10 lewat. Kenapa kamu baru datang?”

“Sorry, tadi aku ada urusan sebentar mampir ke rumah teman. Tapi kata ibunya dia sedang pergi. Aku menunggu lama di rumahnya, dia belum juga pulang. Makanya aku sempatkan diri untuk datang ke sini.”

Bayu mengerti. “Ayo, masuk. Tapi pakai dulu topengmu itu.” Ucap Bayu saat dia melihat topeng yang dipegang Ramadhan.

“Untung aku bawa topeng ya.” Mereka berdua tertawa.

Ramadhan adalah satu-satunya adik kelas yang sangat dekat dengan Bayu. Sampai sekarang mereka masih menjaga hubungan persahabatan. Bahkan mereka berdua, dan juga Nathan, memiliki tim olahraga sepakbola. Bayu pun sudah menganggap Ramadhan sebagai adiknya.

“Ini pesta terkeren dan juga sangat berbeda yang pernah kamu adakan, BigBro!” Ramadhan menunjukkan kekagumannya pada perayaan pesta yang dibuat Bayu.

Bayu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala mendengar perkataan Ramadhan. Lalu mereka menemui Nathan. Nathan terkejut dengan kehadiran Ramadhan.

“Ramadhan?” Ramadhan tersenyum dan mengangguk kencang. “Welcome to Indonesia, My Brother!” Nathan menyalami Ramadhan dan memberikan pelukan.

“Bagaimana kamu bisa mengenali kalau ini aku? Padahal aku pakai topeng. Oh, aku benar-benar kangen sama kalian berdua!”

“Kita berdua mengira kamu tidak akan hadir di pesta ini. Ternyata aku dan Bayu salah besar.” Pertemuan mereka bertiga selalu diiringi dengan tawa lepas.

Tak lama setelahnya, Ramadhan izin pergi ke toilet. Disamping itu, Tyo baru saja balik dari toilet lalu menghampiri Nathan dan Bayu.

“Yo, kamu lama sekali di toilet.” Kata Nathan saat Tyo sudah berada di antara mereka.

“Perutku sakit. Tapi tadi aku sudah minum obat maag yang aku bawa.”

Nathan cemas. Dengan cepat dia menyentuh kening dan bagian leher Tyo. Memastikan badan Tyo panas atau tidak. “Kamu sakit maag? Kalau kamu sakit, biar aku antar pulang sekarang juga.”

“Tidak perlu. Aku sudah membaik. Pestanya juga belum selesai. Aku masih ingin di sini sampai pestanya selesai.”

Nathan menggenggam erat kedua tangan Tyo. Lalu mengajak Tyo menuju kolam renang yang posisinya ada di belakang rumah. Sebagian dari tamu yang berpasangan ada di tempat ini. Bermesraan dengan pasangannya cukup intim. Ada yang berinteraksi secara kelompok. Entah mereka baru saja saling mengenal, atau memang sudah lama mengenal dan bertemu di pesta ini. Juga ada yang bermanja-manja di tepi kolam renang. Lalu, ada mini panggung untuk mereka atau siapapun yang ingin menampilkan bakat seni mereka.

Salah satu pasangan sedang menampilkan bakat mereka. Satu pria bermain piano, dan pasangannya yang bernyanyi. Sangat romantis. Membawakan lagu yang dipopulerkan oleh Celine Dion. Nathan dan Tyo menyaksikannya didepan panggung.

“Kamu kenal mereka?” Tanya Tyo pelan.

Nathan merangkul Tyo dan menjawab, “Rata-rata tamu yang hadir di sini memang kenal dengan aku dan juga Bayu. Jadi, mungkin saja aku juga kenal dengan mereka.”

Tanpa Nathan dan Tyo sadari, Bayu dan Ramadhan menyusul dan berdiri di belakang mereka untuk menyaksikan pasangan yang sedang menampilkan bakat. Acara pun diisi dengan banyaknya hiburan, pasangan yang berdansa, hingga suasana menjadi romantis. Sudah sekitar sejam lebih mereka disini.

Bayu melirik arloji di tangan kirinya. Ternyata sudah menunjukkan pukul 23:55. Itu artinya 5 menit lagi tepat pukul 12 malam. Saat yang ditunggu-tunggu akan tiba. Karena ketika pukul 12 malam, ini adalah sesi di mana semua tamu yang hadir harus melepas topeng yang mereka pakai.

Setelah pasangan lain yang baru saja selesai menampilkan bakat turun dari panggung, Bayu segera naik ke atas mini panggung tersebut. Beberapa tamu merespon cukup antusias. Mereka tau bahwa inilah waktunya untuk melepas topeng yang mereka kenakan sejak datang di pesta ini.

“Aku yakin kalian semua sedang menanti-nantikan momen ini,” suara bayu terdengar enak lewat pengeras mic. Hiruk pikuk berangsur-angsur memelan dan para tamu satu-persatu mulai merapat ke dekat kolam renang.

Setelah memberi jeda sejenak kepada para tamunya untuk berkumpul di dekat kolam, Bayu kembali melanjutkan pidatonya. “Tepat jam dua belas nanti, kita sama-sama akan tau inti dari perayaan pesta topeng ini, dan aku minta kalian semua tidak membuatku kecewa dengan menjadi penakut dan kabur sebelum waktunya.” Hening menggantung di udara sampai Bayu melanjutkan kalimatnya. “Sesaat lagi, aku dan kalian semua akan sama-sama menanggalkan topeng, memperlihatkan wajah asli lalu jujur pada diri sendiri juga pada semua yang hadir tentang siapa diri kita sebenarnya.” Gumam gelisah berdengung dari beberapa sudut. “Aku harap, tak ada kejadian di mana mantan kekasih saling tonjok-tonjokan saat topeng ditanggalkan sesaat lagi, atau kekasih yang kedapatan selingkuh, atau greget sama musuh besar lalu membogemnya. Rumahku bukan arena tinju. Jadi jika pun nanti ada yang ketahuan selingkuh, dendam sama mantan pacar, dendam sama musuh besar, kuharap kalian bisa tahan sampai keluar dari gerbang rumahku nantinya.” Bayu berdehem, “Intinya, gentlemen, di sini kalian dilarang cakar-cakaran.” Riuh tawa melesat dari beberapa mulut.

Pria-pria berpasangan itu berkumpul, berdesak-desak jadi satu. Mencari celah kosong demi posisi yang nyaman. Ternyata kolam renang ini tidak begitu luas untuk menampung mereka. Bahkan Tyo menyadari posisi nya jadi sangat dekat dengan mini panggung. Dan ketika melihat kearah samping kanan, kiri, dan belakang, halaman kolam renang sudah penuh dengan pria-pria bertopeng.

“Tyo? tangan kamu dingin…” Tyo segera melepaskan genggaman tangannya dari Nathan.

Selama Bayu berpidato, Nathan terus memperhatikan gerak-gerik Tyo. Dan menyadari ketidaksiapan Tyo jika harus membuka topengnya. Nathan berpikir kenapa Tyo harus takut? Lalu dia menenangkan Tyo, dan kembali memegang tangan Tyo. “Banyak orang-orang yang membohongi dirinya sendiri, dan beranggapan bahwa kebohongan mereka akan menjadi kebahagiaan. Padahal sepenuhnya tidak.”

Tyo menyudutkan matanya ketika Nathan berkata demikian. Itu sama persis seperti apa yang dikatakan Tyo pada Nathan di dalam mobil saat mereka menuju ke sini.

“Saat ini kamu sedang tidak dihadapkan pada pengakuan di depan kedua orangtuamu bahwa kamu gay. Semua yang hadir di sini, sama halnya dengan kamu. Dan juga aku, Yo. Apa gunanya kamu takut kalau semua yang ada di sini tau bahwa kamu gay, sementara mereka juga gay?! Kamu belum siap untuk jujur? Masih ingin menyembunyikan diri dengan topeng yang kamu pakai?”

Perkataan Nathan membuat Tyo berpikir. Benaknya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya bimbang. Apakah aku sudah siap? Siap untuk mengenalkan diri pada orang-orang yang sama sepertiku? Siap untuk bertemu dengan orang-orang di sini?

Ya, keberadaannya disini menuntut Tyo bahwa dirinya harus siap!

Sementara Tyo bimbang dengan suara hatinya, di atas pentas Bayu kembali meneruskan pidato. “Setelah kita semua melepas topeng, kalian bisa melakukan apa saja selain buka baju dan atau celana lalu mengajak bercinta pasangan kalian. Selain bukan ring tinju, rumahku juga bukan hotel apalagi tempat prostitusi. Kalau pun kalian benar-benar ngebet untuk melakukan hal itu, pastikan kalian sudah berada di luar pagar propertiku, tidak masalah lagi buatku jika kalian melakukannya di jalan depan rumahku.” Tawa kembali membahana hingga Bayu harus berhenti sejenak, membiarkan tamunya merespon kekonyolan yang dilemparkannya. “Intinya, gentlemens, ketika menggarap ide pesta ini, sex party tidak termasuk ke dalam plan list, kalian harus mematuhi itu karena seks bebas resikonya bisa memendekkan umur.”

“Aku setuju! Itu hal yang sangat baik. Aku mencintaimu, Bayu….” Teriak salah seorang pria di barisan paling belakang. Lalu yang lain menyorakinya dan tertawa.

Bayu tertawa mendengar teriakan seseorang itu, ia melambaikan tangannya dan berucap, “I love you too, untuk Gentlemen yang ada di sana.”

Semua menunggu detik-detik yang dinantikan. Banyak dari mereka yang selalu melirik arlojinya untuk mengetahui apakah sudah tepat pukul 12 atau belum.

Bayu mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam. “Baiklah, Rolex-ku sudah menunjukkan pukul nol nol lebih semenit sekian detik. Jadi sebaiknya kita sama-sama menanggalkan topeng masing-masing setelah hitungan ketiga.” Bayu diam sebentar dan mengitari seluruh penjuru ruang dengan matanya. “Gentlemen, are you ready to be honest?” serunya keras. Dan semua hadirin bersorak, beberapa bahkan mengepalkan tangan ke udara.

1… 2… 3… Semua yang hadir di sini membuka topengnya. Dan banyak reaksi dari mereka semua. Ada yang tidak jelas tertawa sendiri. Ada yang mengatakan, “Hai.. Aku yang tadi berkenalan denganmu di dalam.” Pun ada pula yang konyol mengatakan, “Lihat aku! Apakah aku terlihat lebih tampan ketika tidak menggunakan topeng?” Di antara mereka ada juga yang langsung tarik-menarik untuk menyeburkan seseorang ketika tau bahwa orang itu adalah teman dekatnya. Suasana yang tergambar semakin meriah.

Bayu melempar topengnya ke lantai dan menyeringai ke arah hiruk-pikuk tamunya. Dia menyingkirkan rambut yang menjuntai di keningnya dengan menyusurkan jemarinya ke atas kepala. kemudian dia memberi penutup pada pidatonya. “Yeah, that’s it, gentlemen. Silakan menikmati kejujuran satu sama lain. Masih banyak waktu untuk itu, pestaku berakhir jam dua dini hari. Kalau kalian belum ingin pulang, silakan berdansa karena musik baru saja dibunyikan kembali, silakan naik ke pentas ini dan unjuk kebolehan dan… enjoy the party.” Bayu meninggalkan mic dan bergerak turun dari mini panggung.

Nathan dan Tyo saling berpandangan sejak mereka berdua melepas topeng masing-masing.

“Aku lebih suka kamu tidak menggunakan topeng. Karena aku bisa lebih jelas dan puas memandang kamu seperti ini, dan sedekat ini.” Nathan menggoda.

Bayu sudah di antara Nathan dan Tyo. Sang tuan rumah itu berdehem untuk menginterupsi obrolan Nathan dan Tyo. Sesaat kemudian mereka sudah terlibat percakapan bertiga.

Sebagian dari tamu yang hadir ada yang menetap dan meninggalkan halaman kolam renang lalu segera masuk ke dalam.

“MARTIN???”

“RAMADHAN???”

Dua suara itu membuat Tyo tersentak. Bahkan dia mengenal sosok dari kedua nama itu.

“KAWAN LAMA!!!!! ARE YOU GAY, RAMADHAN?”

Detak jantung Tyo berdebar sangat kencang mendengar hal itu. Tyo berusaha sadar atas apa yang dia dengar. Tubuhnya mematung. Tak bisa digerakan. Keterkejutannya membuat dia tak bisa melakukan apa-apa, kecuali mendengar apa yang baru saja dia dengar. Debaran jantungnya 1000 kali lebih kencang. Dunia pun berputar 1000 kali lebih cepat. Hingga akhirnya dia sadar sesuatu.

Martin …. Sahabatnya, meneriakkan nama itu.

“OH…. KAMU TIDAK PERLU BERBICARA SEKERAS ITU AMBON!!!”

Segera Tyo mencari tahu dari mana asal suara yang sangat dikenalnya itu. Dan ternyata tepat berada di belakangnya. Tidak begitu jauh dari posisinya berdiri bersama Nathan dan Bayu.

“Ramadhan… Martin… Sini!” Bayu berteriak memanggil mereka berdua untuk bergabung.

Tidak, Tuhan! Mimpikah ini? Nyatakah ini? Dia … Ada disini! Batin Tyo.

Tyo menyadari langkah mereka semakin dekat. Genggaman tangannya pada Nathan dipererat. Nathan hanya memperhatikan raut wajah Tyo yang terlihat begitu aneh. Tyo menundukkan kepala.

“Apa kalian dengar reaksi Martin yang berlebihan hingga semua orang memperhatikan aku?” Kata Ramadhan dengan nada kesal begitu sudah berada di dekat Bayu.

Nathan berbisik ke telinga Tyo dan berkata, “Tidak perlu takut atau malu. Kalau kamu lupa atau belum kenal, Ramadhan ini satu angkatan sama kamu dan Martin sewaktu SMA.”

Tidak. Tyo tidak lupa ataupun belum kenal. Justru Tyo sangat tau siapa Ramadhan itu. Tyo mengenalnya.

“Maaf, Ramadhan. Aku sangat terkejut kau ada di sini.” Martin menepuk pelan pada pundak Ramadhan.

Bukan hanya Martin, Tyo bahkan lebih dari kata terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka akan berhadapan dengan kejadian semacam ini. Mengetahui misteri Ramadhan dengan cara seperti ini sunggu tidak diprediksinya sama sekali.

“Sekarang angkat kepalamu dan perlihatkan wajahmu, Yo.” Lanjut Nathan.

Tyo mencoba berusaha untuk bersikap biasa saja. Mengangkat kepalanya dan memperlihatkan wajahnya, seperti kata Nathan. Dan setelah Tyo, kini giliran Ramdhan yang mengalami keterkejutan yang sama ketika melihat sosok Tyo. Mereka bertemu pandang, saling menatap dengan tatapan yang meminta penjelasan. Ramadhan tidak mampu melawan keadaan. Dirinya seakan mati hingga tidak bisa merasakan sesuatu. Satu hal yang disadari Ramadhan: dirinya dan Tyo kini saling jujur setelah menanggalkan topeng.

“Sorry, aku tidak bisa lama-lama di sini dengan kalian. Pacarku menunggu di dalam untuk diajak berdansa.” Canda Martin lalu melangkahkan kaki untuk menemui kekasihnya.

Kemudian tak lama Nathan mengajak Tyo serta Bayu dan Ramadhan untuk ikut masuk ke dalam. Mereka berempat jalan bersama, sesekali Nathan dan Bayu menciptakan candaan, sementara Tyo dan Ramadhan merasakan canggung satu sama lain.

Di dalam, Nathan kembali mengajak Tyo berdansa. Kali ini tanpa menggunakan topeng yang menghalangi mereka untuk saling memandang. Di sisi lain, Bayu dan Ramadhan pun ikut berdansa.

“BigBro…, ini sangat menjijikkan. Lebih baik kita minum dan bercerita tentang sesuatu.”

“Kamu benar, Ram. Ternyata berdansa dengan orang yang tidak kita cintai, membuat perut mual ingin muntah.”

“Sial! Kalau begitu kenapa kamu memaksaku untuk berdansa?”

Bayu menghentikan gerakan dansanya dan mengajak Ramadhan menuju salah satu meja makan.

“Sekarang coba kamu perhatikan. Sebenarnya aku iri dengan Nathan.” Wajah Bayu layaknya cahaya yang sedang meredup.

Ramadhan mengalihkan pandangannya pada Nathan yang sedang berdansa. Tidak. Sepenuhnya Ramadhan tidak memandangi Nathan. Tapi memandangi pria yang sedang berdansa dengan Nathan.

“Brother, kamu naksir sama Nathan dan sekarang kamu sedang cemburu karena dia sedang berdansa dengan pria lain?” Tebak Ramadhan.

“Oh shit!” Bayu memutar bola mata, “Persetan dengan tukang gombal itu. Aku yang naksir dia hanya akan terjadi jika matahari tidak lagi muncul di timur.”

Ramadhan tertawa pendek. “Ya, sejak SMA aku sudah tahu kalau Nathan tukang gombal. Kukira sekarang kamu sudah termakan jurus gombalnya itu dan jadi naksir dia.”

Bayu menjitak kepala Ramadhan. “What the fuck?!” Ramadhan meringis kesakitan. “Lilbro, sama sekali aku tidak mencintai Nathan! Apalagi termakan dengan gombalan basinya itu! Mendengar dia menggombal saja aku mual minta ampun.”

“Kalau kamu tidak mencintai Nathan, lalu apa?”

Bayu menyorotkan matanya dalam-dalam pada sosok pria itu. Sangat dalam. Seperti lautan yang tidak memiliki dasar untuk diselami.

“Aku rasa…, aku menyukai pria itu.”

Ramadhan tidak peduli. Malah dirinya sedang sibuk untuk memilih makanan di antara banyaknya makanan yang ada di depan matanya.

“Kue ini enak…” Gumam Ramadhan saat memakan kue yang dia ambil.

“Aku iri dengan Nathan. Kenapa aku tidak dari dulu mengenal adik kelasku itu?” Bayu tetap fokus memandangi pria itu.

Mendengar kata ‘adik kelas’ membuat Ramadhan menghentikan kesibukannya memakan kue yang sangat menggugah selera. Ramadhan menatap Bayu.

“Adik kelas? Siapa?”

Baru saja Ramadhan ingin memasukkan kue ke dalam mulutnya, namun segera dia batalkan saat mendengar jawaban Bayu.

“Pradityo. Yang satu angkatan sama kamu, Ram.”

Ramadhan kembali meletakkan kue itu di piring yang tersedia. Hal ini benar-benar membuatnya terkejut. Bayu menyukai Tyo. Ramadhan yakin hal itu akan cepat berubah menjadi cinta.

“Aku rasa aku harus ke toilet untuk buang air kecil, Yo. Karena sejak tadi aku menahannya.” Kata Nathan ditengah-tengah keromantisan mereka saat berdansa.

Tyo mengizinkannya. Sejurus kemudian Nathan berlari kecil menuju toilet. Sementara Tyo berdiri sendiri di antara pasangan-pasangan lain yang sedang berdansa. Lalu akhirnya Tyo memilih untuk keluar, menenangkan diri atas kekacauan yang ada di pikirannya. Melihat Tyo berjalan ke luar rumah, Ramadhan memutuskan untuk mengikutinya, sementara Bayu bergabung dengan tamu yang memanggilnya.

“Hai….” Sapa Ramadhan mensejajarkan posisinya dengan Tyo.

Tyo dikagetkan dengan kedatangan Ramadhan yang menemui dirinya. Sambil menatap langit yang gelap, Tyo tidak menjawab sapaan Ramadhan.

“Hai….” Ramadhan mengulang sapaannya.

“Sejak kapan kamu balik ke Indonesia?”

Pertanyaan Tyo yang dingin, membuat Ramadhan mengerti akan kondisi yang sepertinya tidak enak untuk dia rasakan. Ramadhan melihat kanan, kiri, depan, belakang, untuk memastikan tidak ada orang lain disekitar mereka. Ramadhan meraih tangan Tyo dan membawanya ke tempat yang menurutnya tidak ada orang. Di posisi lain, Nathan yang sudah selesai dari toilet dan mencari Tyo, sekarang sedang melihat Tyo dan Ramadhan di balik pintu. Nathan melihat Ramadhan menarik tangan Tyo. Awalnya Tyo meronta-ronta minta dilepaskan, tapi Ramadhan tidak melepasnya. Penasaran, Nathan membuntuti mereka secara diam-diam. Ramadhan membawa Tyo ke halaman parkir mobil. Sesampainya di sana, Ramadhan menepikan Tyo dis amping mobil yang tak lain mobil itu adalah milik Ramadhan.

“Kenapa kamu bisa ada di sini, Ti?”

“Kenapa aku bisa ada di sini? Rama, sekarang aku tanya balik ke kamu kenapa kamu bisa ada di sini?” Tegas dan penuh penekanan Tyo mengucapnya.

“Ti, aku tadi….”

“Kamu pergi secara tiba-tiba tanpa memberi kabar dan pulang pun tanpa memberi kabar!” Sela Tyo sebelum Ramadhan melanjutkan bicara.

Ramadhan mencoba memegang tangan Tyo, namun lebih dulu Tyo melakukan penolakan dengan cara melipatkan kedua tangannya di dada. Ramadhan menunduk.

“Aku senang bisa bertemu kamu lagi, Ti…”

“Dengan adanya kamu di sini, kamu tidak bisa mengelak, Rama. Bahwa sebenarnya kamu itu sama seperti aku.”

“Ya… Dengan adanya aku di sini kamu sudah tau bagaimana aku sebenarnya. Dan aku….”

“Kamu jahat, Rama!”

Tyo menghindari pandangannya dari Ramadhan yang ada di depan dirinya, mengalihkan penglihatannya pada mobil-mobil yang berjejer di sebelah kanannya.

“Maaf…” Ramadhan mengatakannya sangat pelan.

“Aku menghabiskan malam-malam yang sangat mengganggu tidurku. Membuatku merasa tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan. Bahkan suatu hari aku bertengkar dengan Martin hanya karena terlalu memikirkan kamu, memikirkan bagaimana perasaan kamu, meskipun Martin sebenarnya tidak tau kalau orang itu adalah kamu.”

Ramadhan memeluk Tyo, namun Tyo tidak membalas pelukannya.

“Tiba-tiba kamu katakan kamu sedang ada di Beijing tanpa aku tau kapan keberangkatanmu itu. Aku datangi rumah kamu, aku bertanya pada bundamu apakah kamu benar-benar sedang keluar negeri dan bundamu mengatakan iya… Sejak itu aku mulai bingung dengan sikap kamu. Dulu kamu sendiri yang berjanji akan mengajakku pergi ke negeri tirai bambu itu, dan juga kamu katakan bahwa kedatangan kita ke sana sebagai bukti persahabatan kita yang tidak akan pernah terpisahkan. Tapi setelah aku tau kepergianmu ke sana hanya seorang diri, dan sekarang aku katakan itu adalah bukti persahabatan kita yang sudah hancur, karena kamu, mengingkari janji itu. Meski sebenarnya aku tidak pernah menagih janjimu itu!”

Ramadhan semakin erat memeluk Tyo. Dia menangis.

“Aku memang sempat ingin menyusul kamu ke sana, Rama. Tapi niat itu aku buang jauh-jauh saat kamu kirim pesan lewat e-mail, bahwa di sana kamu bertemu dengan seorang wanita sholeha juga cantik bernama Christiana dan kamu katakan kamu menyukainya… Dan itu sangat membuat hatiku sakit.” Tyo menahan diri agar tidak menangis, lalu lanjut berbicara dengan suara parau.

“Dan sejak saat itu juga, kamu semakin membuat aku bingung. Aku bingung sama sikapmu, perhatianmu, dan kata-katamu yang menurutku itu terlalu mesra untuk kita yang hanya sebatas sahabat. Aku bingung dengan semua yang ada di diri kamu! Bagaimana bisa kamu memberikan hal yang segalanya terlihat mesra untuk seorang pria sepertiku, sementara di sana kamu menyukai seorang wanita. Kenapa bisa seperti itu, Rama?”

Air bening itu memecahkan selaput pertahanannya. Mengalir melalui pipi halusnya yang terawat.

“Ketika aku tau kamu sedang menyukai seorang wanita, saat itu pula aku berhenti mengharapkan segala sesuatu tentang kamu. Tentang diri kamu yang selalu membuat aku bertanya-tanya apakah kamu pria yang normal atau sama sepertiku? Dan pertanyaan itu terjawab dengan pertemuan kita di sini yang tidak terencana, hingga akhirnya saat ini kamu sedang menangis tersedu-sedu dalam pelukan seorang pria yang malang, karena begitu besar harapannya dan sekarang entah kemana hilangnya harapan itu.”

Ramadhan melepas pelukannya. Dan menghilangkan tangisannya.

“Tadi aku datang ke rumahmu, Ti. Mama kamu bilang kamu baru saja pergi ketika aku datang. Mama kamu menyuruhku untuk menunggu sebentar. Dia menghubungi kamu, tapi tidak ada jawaban. Aku putuskan untuk tetap menunggu kamu. Satu jam, dua jam, kamu belum juga pulang. Tapi aku tidak pernah bosan untuk terus menunggu kamu.”

“Dan bagaimana dengan aku, Rama? Aku menunggu kamu lebih dari satu atau dua jam!”

Hening.

“Aku meminta izin agar bisa menunggu kamu di kamar tidurmu. Mama kamu mengizinkannya. Saat aku masuk, aku tau ternyata kamu tidak membawa handphone saat pergi. Aku menemukan handphone-mu ada diatas tempat tidur. Setelah aku pikir-pikir… Disitulah saatnya aku mencoba mencari tau sesuatu yang selama ini ada di pikiranku. Maaf kalau aku bersikap lancang dan tidak sopan memeriksa barang-barang yang ada di kamarmu. Aku berharap menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan bahwa kamu dan Martin memiliki hubungan khusus. Tapi ternyata, aku menemukan ini.. Foto kita berdua. Ada di bawah bantal tidurmu. Aku senang dengan apa yang aku temui ini, Ti.”

Ramadhan menunjukkan pada Tyo foto yang di maksud. Potret yang menggambarkan ketika mereka masih mengenakan seragam SMA. Dan di balik foto itu, terdapat tulisan ‘when i love you’ yang pastinya ditulis dengan tangan Tyo sendiri.

“Kamu simpan saja foto itu, Rama. Foto itu sudah tidak ada artinya lagi buatku.”

“Kalau begitu, sebaiknya aku bakar saja. Pertanda bahwa persahabatan kita memang sudah hancur karena aku mengkhianati janjiku sendiri pada sahabat yang aku cintai.”

Tyo merasa dadanya sesak, bukan karena saluran pernafasannya tersumbat, melainkan karena kata-kata yang diucapkan Ramadhan hingga membuat hatinya pedih bagai tersayat sembilu. Begitu hebatnya Ramadhan mengatakan hal demikian.

“Ya, dibakar memang lebih baik.”

Ramadhan mengeluarkan pemantik dalam kantong celananya. Setelah itu, dia membakar foto yang dipegang pada tangan kirinya. Pria itu benar-benar serius dengan ucapannya.

Hembusan angin malam yang lembut, menjadi saksi kebodohan mereka. Bukan ini yang mereka inginkan, namun mereka melakukannya.

Tyo menatap Ramadhan, matanya lurus memandang bersama kebohongan yang mereka ciptakan, bola mata yang hitam mengantar mereka menuju bilik kemunafikan, lalu mereka keluar dengan airmata kesedihan.

“Aku menyesal terlalu mencintaimu karena aku tidak akan mampu untuk memilikimu.”

“Karena kamu selalu menipu diri kamu sendiri, Rama! Kamu tidak pernah jujur dengan perasaan kamu, tidak pernah melakukannya dan itu yang membuat aku bingung sama kamu!”

Foto itu sudah menjadi kumpulan abu yang berserakan, di atas bumi yang mereka pijaki. Lalu semilir angin menghilangkannya dengan segala kenangan manis dan pahit yang pernah mereka alami.

“Aku harap kamu bisa lebih bahagia dengan Nathan, pria yang kamu sukai saat masih SMA.”

“Sampai saat ini!” Bantah Tyo berbohong.

“Ya, sejak SMA sampai saat ini kamu masih menyukainya. Bukankah begitu? Aku harap kamu tidak termakan dengan omonganmu bahwa kamu juga sedang menipu diri kamu sendiri.”

Tidak menjawab, Tyo melangkah pergi meninggalkan Ramadhan, dan segera kembali bergabung ke pesta di dalam rumah Bayu.

“Melayanglah sejauh mungkin, dan jangan lupa mendarat, karena di bawah ada seseorang yang selalu setia untuk menunggumu.” Teriak Ramadhan.

Tyo menghentikan langkah kakinya, tanpa menoleh ke belakang. Mencoba mengerti apa yang baru saja dikatakan Ramadhan. Apakah Ramadhan seseorang yang akan selalu menunggu dirinya? Jika iya, kenapa pria itu harus rela menunggu? Sampai menyuruh dirinya untuk melayang sejauh mungkin? Ramadhan terlalu abu-abu! Mungkinkah Ramadhan tidak bisa melepas topeng kehidupannya? Jika iya, sampai kapan pria itu akan terus memakainya? Tyo hanya bisa menerka-nerka lewat senyum Ramadhan yang dilihatnya sekilas sebelum kembali melangkah.

*****

EPILOG

Sejak malam pesta itu, Nathan kian rutin mengunjungi rumah Tyo. Setelah hari demi hari yang mereka lalui bersama, Nathan menjadi lebih dekat dengan Tyo. Sampai suatu ketika dia mengungkapkan keseriusannya pada Tyo. Nathan ingin hubungan mereka bukan sekedar teman dekat biasa. Ketakutan Nathan akan kehilangan Tyo terasa jelas, semenjak dirinya tau Tyo dan Ramadhan sebenarnya saling mencinta. Namun tak ada kata menyerah bagi Nathan untuk bisa memiliki Tyo.

Akhirnya, Tyo menerima Nathan sebagai kekasihnya. Meski keraguan sempat dirasakannya, karena sejatinya dirinya masih mengharapkan Ramadhan. Tapi seiring berjalannya waktu, Tyo berusaha menyadari bahwa inilah yang dulu sempat menjadi impiannya. Tidakkah seharusnya dia merasa bahagia karena keinginannya menjadi kekasih Nathan saat dulu telah tercapai saat ini? Walau rasa suka itu sempat hilang, sekarang Tyo mencoba untuk kembali menghadirkan rasa suka sekaligus cinta pada Nathan. Demi menghilangkan sosok Ramadhan yang masih belum jelas baginya.

Dalam realita hidup, memang banyak sekali manusia-manusia bertopeng; menyembunyikan siapa diri mereka sebenarnya dan berpura-pura untuk menutupi segala sesuatu. Atas nama kebahagiaan, mereka rela berbohong bahkan dengan dirinya sendiri. Segala ke-cipoa-an tidak pernah luput dalam melakoni sandiwara kehidupan. Cipoa atau berbohong, pun sudah mendarah daging pada setiap orang. Entah mereka berbohong karena suatu keharusan, agar demi meraih kebahagiaan, atau apapun itu, hanya dirinya sendiri yang bisa menyadari. Tapi jangan melupakan bahwa Sang Maha Kuasa, selalu mengetahui segalanya.

Maka dengan begini, apakah di antara kita harus selalu berdusta? Menyembunyikannya dari kejujuran? Tidak! Seharusnya kita bersikap jujur. Jujur tentang siapa diri kita, selama itu masih di batas wajar. Jujur tentang perasaan kita -tak melulu soal rasa cinta. Jujur kepada siapapun, terutama jujur kepada diri sendiri. Maka jika kita ingin hidup dalam kedamaian, baiknya lakukanlah kejujuran, jangan CIPOA!