The Cockerel's Loneliness_cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Kupikir, saat selesai menulis seri Another Love Actually Story beberapa waktu lalu, aku benar-benar sudah selesai dengan semua tokoh dalam cerita itu. Namun kenyataannya, aku belum benar-benar selesai.

Sama seperti rasa rindu untuk bertemu kembali dengan teman yang pernah seakrab saudara setelah terpisah jarak dan waktu yang cukup jauh dan lama, begitulah yang kualami dengan Love Actually. Kepada kalian yang tidak puas dengan usahaku melepas kangen ini, kuharap aku bisa memperoleh pemakluman sewajarnya. Kenapa? Karena sama seperti ketika menulis banyak tulisan sebelumnya, aku menulis ini juga tanpa script, dan apa saja bisa terjadi selama proses menulis yang tanpa script itu, tergantung imajinasi dan inspirasi di kepala.

Meski demikian, kuharap kalian bisa menikmati membaca The Cockerel’s Loneliness seperti aku menikmati ketika menulisnya.

 

 

Wassalam

n.a.g

##################################################

 

Dulu…

Aku pernah menjadi jomblo

dan aku baik-baik saja

Kini…

aku kembali menjadi jomblo

sialnya, aku tidak baik-baik saja!

***

Aku ingat, semasa hidupnya almarhum ayahku suka beternak ayam. Bukan ayam sabung, karena meski begitu menyukai ayam jago, namun ayahku tidak suka bila ayam-ayamnya berantem sesama sendiri, apalagi menyabung ayam secara sadar dan sengaja.

Saat itu ada seekor ayam jantan muda yang sangat sering mengais-ngais tanah dengan seekor ayam betina muda cantik milik keluarga Bang Fadlan di depan rumah. Ayam betina ini, belum pernah sekalipun bertelur dan sepertinya belum pernah dikawini ayam jantan manapun. Saat itu kupikir, ayam jantan muda milik ayahku beruntung mendapatkan pasangan ayam betina muda cantik nan jelita milik keluarga Bang Fadlan.

Suatu hari, ayahku membawa pulang seekor ayam jago yang baru dibelinya dari pasar. Ayam ini begitu besar, bulu lehernya mengkilat, kepaknya lebar dan kakinya gemuk tinggi. Pagi pertama di rumah, kokokannya mengagetkanku hingga nyaris terangkat dari dipan.

Beberapa hari kemudian, aku menyadari bahwa ayam jantan muda yang sejak menetas sudah hidup di pekaranganku tidak lagi mengais-ngais bersama ayam betina muda cantik milik keluarga Bang Fadlan. Ia mengais-ngais sendirian, kadang bersama gerombolan anak ayam yang lebih muda, tapi lebih sering sendirian.

Kemana ayam betina muda cantik yang selama ini menemaninya?

Ia berpaling. Ayam jago dengan kokokan nyaring, kuat dan panjang yang baru saja datang―bahkan masih berstatus tamu―telah memikatnya hingga melupakan ayam jantan muda yang sudah dikenalnya lama. Kini, tiada saat bagi ayam betina muda cantik jelita itu tanpa mengikuti ekor indah ayam jago pendatang baru. Kelak, telur pertama yang dieraminya adalah hasil perkawinannya dengan si ayam jago.

Dibanding ayam jago yang gagah itu, apalah artinya ayam jantan muda yang berkokok pun belum lancar. Ia jauh berada di bawah ayam jago yang telah memikat bakal calon pasangan kawinnya yang pertama. Lalu ia mulai kesepian, mencakar-cakar tanah sendirian, mungkin sambil merindukan ayam betina muda  cantik yang tidak lagi bersamanya.

Kondisi yang dialami ayam jantan muda itu dulu sama seperti keadaan yang kurasakan sekarang.

Saat ini, aku tak tahu siapa di antara diriku dan Orlando yang lebih mirip dengan ayam jantan muda itu. Tak ada orang lain yang menyelip masuk untuk memisahkanku dan Orlando. Kisah ayam jantan muda milik ayahku yang ditinggalkan ayam betina muda milik keluarga Bang Fadlan di atas tidak kuceritakan sebagai perumpamaan untuk kisahku dan Orlando, karena jelas terdapat perbedaan di sana. Tapi tentang kesepian yang dialami ayam jantan muda milik ayahku setelah ditinggalkan ayam betina muda milik keluarga Bang Fadlan terlihat serupa seperti yang aku dan―mungkin―Orlando alami.

Aku kesepian. Aku sendirian. Aku merindu. Dan Orlando mungkin juga sedang begitu. Adalah keadaan, yang memaksa aku dan―mungkin juga―Orlando untuk tidak melepas kerinduan terhadap satu sama lain seperti ketika kami masih jadi sepasang laki-laki dalam hubungan asmara.

“Dek, gimana? Apa responnya?”

Putus asa dapat melihat siluet Orlando di seberang sana , aku berpaling dari jendela, menatap orang yang baru saja masuk kamarku. “Dia gak punya waktu untuk main-main.”

Bahu Kak Saif turun mendengar kalimatku. “Yang lain deh kalau gitu, yang punya waktu buat main-main―”

“Aku bukan mak comblang!” seruku gusar sambil menjatuhkan tirai jendela ke posisi semula. “kalau Kak Saif mau jadi playboy silahkan saja, tapi jangan libatkan aku dalam hal itu.”

“Kok ketus gitu?”

“Tauk!”

“Aku kakakmu.”

“Gak ada hubungannya.”

“Tentu saja ada.”

“Jangan minta aku ngenalin siapapun lagi teman cewekku sama Kak Saif. Aku resign dari tugas sialan itu sejak hari ini.”

“Tugas sialan itu demi kakakmu.”

“Apa peduliku?” sahutku mulai ketus.

Kak Saif melongo sesaat, seperti kaget dengan ucapanku. “Kamu harus peduli…”

“Aku sudah cukup peduli.” Kudorong badan Kak Saif menuju pintu, “sekarang aku ingin berhenti peduli sementara waktu.”

“Gak bisa gitu dong, Dil!”

BRAKKK

Kubanting pintu tepat di muka Kak Saif. Jika dia terlambat memundurkan wajah sedikit saja, hidungnya pasti dilabrak kayu pintu kamarku. Di luar, dia mendumel sendiri. Sejujurnya, aku kesal dengan manusia satu itu. Hingga saat ini, sebulan lebih setelah aku dan Orlando tidak berstatus kekasih lagi, aku belum memberitahukan Kak Saif kalau Orlando melihatnya menciumku. Yang dipahami Kak Saif adalah : aku dan Orlando sama-sama sepakat mengambil jeda dalam hubungan kami, jeda yang tidak bisa dipastikan sampai kapan, sama-sama sepakat memutuskan hubungan dengan kerelaan masing-masing tanpa terpaksa. Itu saja. Padahal, gara-gara dialah Orlando kehilangan pemaklumannya sampai berpikir untuk memutuskan hubungan kami.

Lelah memforsir energiku untuk memikirkan apakah di tempatnya Orlando merindukanku saat ini, dan kecewa karena tidak sekilaspun menangkap siluetnya di jendela kamarnya, kuhempaskan diriku telentang di atas ranjang. 

Kisah ayam jantan muda kesepian kembali berputar-putar di kepalaku. Beginikah yang dulu dirasa ayam jantan muda itu ketika mengais-ngais tanah sendirian?

***

Ini ketiga kalinya dalam kurun waktu lima minggu Kak Saif kuketahui menggandeng cewek berlainan. Yang pertama adalah Khairunissa, temanku satu fakultas. Mereka ke bioskop untuk kencan pertama―dan sayangnya pula menjadi yang terakhir. Kak Saif melapor padaku keesokannya bahwa Nissa terlalu kaku buat jadi ceweknya dan secara tersirat menyatakan bahwa dia sudah selesai pedekate dengan rekanku itu sekaligus memberiku tugas tidak mengenakkan : memberitahukan pada teman kuliahku itu tentang penolakannya tersebut.

Kencan kedua, Ariana. Oh, kalian salah, bukan Ariana Grande artis Hollywood yang seksi itu, tapi Ariana Nur Ifaza. Aku harus berhati-hati agar tidak ketahuan Nissa ketika mencomblangkan Kak Saif dengan Ariana yang juga rekan sefakultasku di FKG. Mereka makan malam di sebuah restoran untuk tatap muka pertama. Ketika aku bertemu Ariana di kampus pada hari senin, dia jelas-jelas menyatakan padaku bahwa dirinya suka Kak Saif dan mungkin sudah mengalami love at the first sight dengan kakakku itu, namun ketika dengan enggan kukatakan bahwa kakakku merasa mereka tak cocok, Ariana langsung muram dan cuma meresponku dengan ‘oh’ yang nyaris tak terdengar. Ariana mengangguk lemah ketika aku meminta maaf untuk kekecewaan yang secara tak langsung kusebabkan padanya.

Dan mungkin rumor tentang kakakku bisa jadi sudah menjelma sebagai gossip terselubung di kalangan mahasiswi FKG seangkatan denganku. Mungkin Nissa dan Ariana saling curhat pada mahasiswi-mahasiswi itu, hingga beberapa hari kemudian ketika aku mendekati Maifara untuk menyampaikan salam kakakku untuknya dia langsung bilang : Maaf, Dil, aku gak punya waktu untuk main-main dengan kakakmu.

Sejak hari itu, aku berhenti menyampaikan salam Kak Saif untuk siapapun cewek di ruangku. Lebih dari itu, aku berhenti menilai fisik dan psikis mahasiswi-mahasiswi di kelasku yang sekiranya cocok dengan fisik dan psikis Kak Saif.

Tapi, hari ini Kak Saif kutemukan sedang menggandeng cewek lain, kencan ketiganya sejauh yang kuketahui. Hasil perburuannya sendiri, karena aku belum pernah melihat cewek itu sebelumnya. Aku menyembunyikan diriku di balik sosok Kak Aiyub, kami sedang mengantre di McD ketika ekor mataku menangkap sosok Kak Saif dan cewek cantik berambut bak bintang iklan shampoo yang menggamit lengannya juga sedang mengantre di barisan bersebelahan.

“Kenapa?”

Aku menggeleng pada Kak Aiyub sebagai jawaban, sambil masih berusaha melirik ke barisan sebelah dengan sudut mata.

“Dil, bukannya itu―”

“Sssttt…” kusentakkan lengan kemeja Kak Aiyub ketika dia berhasil mengikuti arah lirikanku. “jangan keras-keras,” bisikku. Kening laki-laki di sampingku berkerut. Kudorong pinggangnya untuk maju ketika pasangan kekasih yang mengantre di depan kami meninggalkan barisan sambil menatang nampan. Kak Aiyub patuh.

“Selamat sore, Mas. Ingin menu McD yang mana?”

“Iya, Mbak, tolong dua big mac burger, dua regular fries, satu coke float, satu fanta float.” jawab Kak Aiyub memberitahu hasil diskusi kami beberapa menit lalu pada si mbak.

“Dua big mac burger, dua regular fries, satu coke float dan satu fanta float,” ulang si mbak sambil bekerja dengan mesin hitungnya.

“Dil?!?”

Hhh… bahuku turun begitu kudengar suara Kak Saif menegurku. Dengan terpaksa kutolehkan kepalaku padanya. Sebenarnya, aku sedang tidak mood bicara dengan Kak Saif sejak sore dua hari kemarin. “Eh, Kak… kebetulan sekali, kelaperan juga?” di sampingku, Kak Aiyub menahan tawanya sambil merogoh dompet.

Raut wajah Kak Saif berubah keruh. Mungkin karena menyadari kalau pandanganku jelas-jelas tertuju pada cewek yang masih berganyut manja di lengannya ketika kata ‘kelaparan’ keluar dari mulutku dengan mulusnya. Sedikit, aku menyesal telah memakai kata itu.

“Kupikir kamu pergi dengan Lando,” ujar Kak Saif memilih untuk tidak merespon pertanyaanku. Dia berbalas senyum dengan Kak Aiyub sekilas lalu memandang cewek di sampingnya. 

Aku tahu gelagat. Kak Saif pasti hendak mengenalkanku pada cewek yang bisa jadi adalah target pedekate selanjutnya. Jika boleh jujur, aku tak suka cewek ini. Cantik dan manis memang, tapi kesan yang kutangkap, dia tipe cewek manja dan tidak dewasa sama sekali. Dan aku tak peduli dengan apapun yang kakakku lakukan saat ini. Terserah dia, aku tak mau ambil pusing meski pada dasarnya aku tak suka dengan perangainya yang jauh berubah paska putus dengan Mbak Ruthiya.

Merasa terselamatkan ketika nampan kami selesai diisi, aku buru-buru permisi pada Kak Saif yang sepertinya sengaja keluar dari antriannya demi menegurku di barisan lain. “Duluan, Kak. Kasihan yang di belakang kami,” ujarku tepat ketika Kak Saif siap memperkenalkan nama si cewek.

Tentu saja dia tak punya pilihan lain selain mengizinkanku. Kuajak Kak Aiyub meninggalkan antrian sambil menenteng nampan.

“Kamu sedang gak pas ya sama Saif?”

Aku mengidikkan bahu ketika Kak Aiyub bertanya dan lalu mengunyah potongan pertama burger yang baru saja kugigit.

“Kamu sedang tak hangat dengan Lando, juga sedang tidak akrab dengan kakakmu. Bagaimana kamu bisa tahan dengan kondisi semacam itu?”

Hingga sekarang, aku masih belum bilang pada Kak Aiyub kalau aku dan Orlando sudah resmi putus. Dan sepertinya Orlando juga belum memberitahu perihal kami kepada mantan yang kini jadi temannya ini.

“Yang membuatku heran, kenapa kalian bisa diem-dieman selama itu sih? Itu aneh mengingat betapa mesranya kalian selama ini. Makin aneh bila memikirkan fakta bahwa selama ini pula kalian begitu saling cintanya.”

“Kak Aiyub sebenarnya mau nraktir aku makan apa mau ngorek informasi tentangku dan Orlando?”

“Dua-duanya,” jawabnya lalu menggigit burgernya, mengunyah beberapa kali kemudian menelannya. “Aku gak percaya kalian diem-dieman sampe sudah lebih sebulan gara-gara salah paham. Salah paham macam apa sih, Dil?”

Sepertinya aku akan menyerah kali ini. “Kalau kukatakan bahwa kami udah putus, Kak Aiyub mau percaya gak?”

Laki-laki di depanku tersedak burgernya, dia batuk-batuk panjang sebelum berhasil membebaskan kerongkongannya setelah menenggak coke float miliknya hingga menyisakan setengah gelas. Sementara aku dengan tenang meneruskan makanku, Kak Aiyub memandangku dengan mata membelalak tak percaya seakan baru saja mendengar kabar ada gajah bisa terbang.

“Udah, gak usah kaget gitu, Bumi gak akan bertabrakan dengan Mars hanya gara-gara kami putus.”

“Gila ya kalian. Bagaimana bisa?!?”

Aku terpaksa harus meletakkan telunjukku ke bibir untuk mengembalikan kesadaran Kak Aiyub bahwa kami sedang berada di tempat umum saat ini.

“Bagaimana bisa?” tanyanya lagi, kini dengan nada lebih rendah, “kapan? Di mana? Sebabnya apa?”

Aku mendiamkan diri, bukan sebab tak ingin menjawab, namun karena pikiranku sedang tertuju pada Orlando. Aku ingat betul percakapan kami di atas motornya sore itu. Kesimpulannya, meski tak lagi berstatus pacaran, hubungan kami tetap akan akrab seperti biasa. Dia masih tetanggaku, masih bersedia membantuku kapan saja, mengantarku kemana saja jika bisa dan segala kebiasaan lainnya diluar konteks ‘pacaran’ seperti yang dikatakannya, tapi hingga hari ini semua itu hanya sebatas percakapan tanpa realisasi sama sekali. Buktinya, aku nyaris tak pernah benar-benar melihat dan berbicara dengan Orlando sudah hampir dua bulan sejak kami resmi putus. Entah aku yang tanpa sadar menghindarinya atau dia yang secara diam-diam membangun dinding tak kasat mata di antara kami. Yang pasti, aku tidak pernah secara sadar dan sengaja menghilangkan diri dari Orlando, malah sebaliknya, aku berusaha untuk dapat melihatnya dan berusaha terlihat olehnya.

“Dil?”

Aku kembali ke McD. Desahanku membuat Kak Aiyub mundur, dapat kubaca itu dari sorot matanya yang penuh simpati. “Maaf…”

“Hemm… tak apa. Kamu gak perlu menjawabku jika tak ingin. Tapi…” dia diam sejenak, “bukan gara-gara aku terlalu dekat denganmu kan kalian putus?”

Aku menggeleng, Kak Aiyub bernapas lega. “Jadi, kapan aku akan dikenalkan dengan laki-laki ini?” kubelokkan topik dengan cepat dan menikung tajam dari topik sebelumnya.

“Kita sedang membicarakanmu…”

“Tapi aku ingin membicarakan Kak Aiyub dan si misterius itu.”

Kak Aiyub tersenyum simpul.

“Jadi kapan?”

“Kalau sudah saatnya,” jawabnya seperti biasa.

“Heuh… selalu gitu.”

“Aku belum yakin Fardeen suka aku.”

“Namanya Fardeen?”

Kak Aiyub menganggukkan kepalanya. “Katanya sih, baru aku yang manggil dia Fardeen.”

“Hemm… kenapa Kak Aiyub belum yakin dia suka?”

“Ya belum yakin aja.”

“Kak Aiyub udah pernah bilang suka?”

“Ya belum lah… kan Kak Aiyub tadi bilang gak yakin dia suka.”

Aku manggut-manggut, kuminum fanta floatku sebelum lanjut bicara. “Kakakku pernah menasehatiku begini : jika kita ingin tahu isi sebuah buku maka kita harus membacanya lebih dulu, untuk mengetahui rasa sepiring nasi goreng maka kita harus mengunyahnya, begitu juga jika kita ingin tahu dalamnya telaga maka terlebih dahulu kita harus menyelam ke dalamnya.”

“Kata Saif?”

Aku menggeleng. Di kepala, aku berusaha mengingat-ingat bagaimana persisnya kalimat yang dulu pernah kudengar diucapkan Kak Adam ketika kami bicara di balai-balai depan rumah.

“Baiklah, lantas apa hubungannya dengan kasusku?”

“Maknanya, kalau Kak Aiyub ingin tahu bagaimana perasaan Fardeen ini, apakah suka atau tidak suka pada Kak Aiyub, maka terlebih dahulu Kak Aiyub harus menunjukkan perasaan Kak Aiyub padanya.”

Laki-laki di depanku diam sejenak, seperti memikirkan ucapanku. “Kalau aku saja yang nunggu dia menunjukkan perasaannya gimana?”

Aku angkat bahu. “Terserah. Jika begitu, resikonya Kak Aiyub bakal terus nunggu dan bertanya-tanya, apalagi jika sebenarnya dia sama sekali gak punya perasaan apapun. Selama itu pula Kak Aiyub bakal buang-buang masa dengan mengharapkan orang yang salah. Lain kalau Kak Aiyub yang menyatakan pertama kali, jadi bisa segera tahu apakah Kak Aiyub memang mengharapkan orang yang tepat atau tidak.”

“Hemm…”

Burgerku habis, friesku tinggal sedikit dan gelasku nyaris kosong. Kak Aiyub tidak bersuara lagi, dia sedang mengosongkan wadah regular friesnya dengan tatapan menerawang, mungkin sambil makan dia juga sedang mencerna kalimat panjangku barusan. Aku mencari-cari sosok Kak Saif dan cewek barunya di antara konsumen McD sore ini. Kutemukan mereka di sebuah sudut, si cewek sedang menyuapkan sekerat kentang ke mulut Kak Saif.

Aku benci cewek itu. Ingatanku melayang ke seberang negeri, apa yang sedang dilakukan Mbak Ruthiya di seberang sana? Apakah dia sedang menangisi perpisahannya dengan Kak Saif? Dibanding cewek manja yang sedang bersama Kak Saif di meja sana, semilyar kali aku lebih setuju Mbak Ruthiya untuk jadi calon kakak iparku.

“Jadi, bagaimana rasanya putus dengan Lando?”

Kembali ke mejaku. Kak Aiyub sudah menyelesaikan makannya. Aku mendesah, “Hampir dua bulan ini aku merasa diriku bagai ayam jantan muda yang kesepian milik almarhum ayah dulu saat ditinggal selingkuh ayam betina muda milik tetangga depan rumah…”

“Apa? Lando menyelingkuhimu?”

Aku menggeleng lemah menanggapi kekagetan Kak Aiyub. “Tidak, Kak… dia terlalu setia untuk melakukan itu…”

“Lalu apa?”

“Hanya… aku yang tidak peka terhadap hatinya yang lugu. Kukira diriku memahaminya, tapi ternyata tidak…”

“Ya ampun, apa sih yang terjadi dengan kalian?”

Aku menerawang dengan mata mulai berkabut. Sumpah demi tulip di Belanda, aku merindukan Orlando teramat sangat, dan itu menyakitiku. “Aku kangen dia, Kak…”

“Ya Tuhan…” Kak Aiyub mencari-cari tissue bersih dari nampannya dan disodorkan padaku begitu ketemu, “not here, Lilbro. Please… jangan di sini…”

Aku menunduk untuk menyamarkan tangisku dari pandangan siapapun. Kak Aiyub menempatkan tissue dalam tanganku yang meraba-raba di atas meja.

“Dil, please, jangan nangis di sini. Nanti orang-orang mengira aku menghamilimu…”

Tawa tercekat menyembur dari mulutku. Kulempar tissue bekas kupakai mengelap mata pada laki-laki yang duduk di depanku itu. “Sialan!”

Kak Aiyub tertawa lalu menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. “Percaya padaku, dia juga sedang amat merindukanmu saat ini.”

Aku diam.

“Kenapa kamu tidak ke rumahnya saat pulang nanti?”

Aku menggeleng.

“Kamu tidak berusaha menemuinya selama ini?”

Aku menggeleng lagi.

“Tidak berusaha membuat kontak apapun dengannya?”

Lagi-lagi kugelengkan kepalaku. “Tapi aku berusaha dapat melihatnya, dan dia dapat melihatku.”

Kak Aiyub mendesah gusar. “Bagaimana dengan dia, tidak berusaha menemuimu dan tidak sekalipun menelepon atau mengirim sms?”

Kembali aku menggeleng lemah.

“Oh Gosh…!” kedua lengan Kak Aiyub yang tadinya bertumpu di atas meja kini jatuh lurus ke sisi badan setelah dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Sekali lagi, Dil… apa sebenarnya yang membuat kalian putus?”

Aku diam. Mustahil bagiku memberitahu padanya tentang ciuman Kak Saif yang terlihat Orlando. “Apapun, Kak… akulah yang menyebabkannya, Orlando tidak salah apa-apa.”

“Dan apa persisnya kesalahan yang kamu buat hingga dua orang yang begitu saling mencintai seperti kalian harus putus?”

“Aku tidak memahaminya.”

“Arrgghh…” dia mengacak kepalanya. “Hilang sabarku lama-lama.” Kak Aiyub bangun dari duduknya, “ayo pulang!”

Tanpa membantah, aku bangun dari kursiku dan berjalan mengekor di balik punggungnya. Sempat kulihat kalau Kak Saif dan cewek yang bersamanya kini sedang pegang-pegangan tangan. Aku marah pada keadaan. Orlando memutuskanku gara-gara keusilannya, dan lihat sekarang, tanpa merasa bersalah sedikitpun, manusia sok playboy itu malah asyik mengobral cinta dengan banyak cewek di merata tempat.

Tiba-tiba saja aku ingin mengasah pisau dan lalu kuhujamkan ke jantung kakakku itu, berkali-kali.

***

“Sikapmu keterlaluan!”

Sekali lagi, sore ini Kak Saif kembali mendobrak masuk ke kamarku tanpa mengetuk. Hari sudah menjelang Maghrib, dan sudah lima belas menit yang lalu aku berdiri di depan jendela, memperhatikan jendela kamar Orlando. aku tahu dia ada di sana, lampu kamarnya baru saja menyala sekira lima menit yang lalu. Ketebalan tirai kamarnya menghalangi pandanganku. Kuterka dia sedang mandi.

Tak kupedulikan kehadiran Kak Saif yang sepertinya sedang kesal padaku. Lihat saja kalau dia berani menindakku, akan kukeluarkan semua kekesalanku sejak dua bulan lalu dan kumuntahkan tepat di mukanya.

“Segitunya memuja jendela Lando sampai harus mengabaikan kakakmu, hah?”

Aku mengatupkan rahang. Masih bergeming dengan posisi dan sikap berdiriku semula.

“Kamu sudah keterlaluan, Dil!” dia membalikkan badanku secara kasar, “Kak Saif sedang bicara denganmu!”

BUKKK

Kak Saif terbungkuk-bungkuk sambil memegangi perutnya yang baru kena tonjokanku. Matanya membelalak marah. “APA-APAAN INI!?” teriaknya.

Aku tak menjawab. Kuayunkan langkahku melewatinya, siap untuk keluar kamar.

“Hei!” Kak Saif mencekal pergelangan tanganku, menariknya kuat-kuat hingga badanku terhuyung kearahnya. Dia menahan dadaku untuk mencegah kami bertubrukan. 

“APA? MAU AKU GEBUK LAGI, HAH?”

Sekali lagi, Kak Saif membelalak. Dari jarak sedekat ini, aku bisa mendengar giginya beradu dan cekalannya di lenganku kian kuat hingga membuatku nyaris meringis. “Ada apa sih denganmu?” saking geramnya, dia harus merapatkan giginya ketika bertanya.

Kusentakkan tanganku agar terlepas dari cekalannya, alih-alih berhasil, tanganku malah kian sakit bagai terpelintir.

“Ada apa denganmu?” ulangnya.

Aku mendengus.

“Aidil!” dia membentakku.

“Kak Saif keterlaluan!”

“Justru kamu yang kelewatan!”

“Lepasin!” kembali kusentakkan tanganku dan masih tak berhasil membuatnya melepaskan cekalannya. “Lepasin gak?”

“Gak, sebelum kamu bicara sopan dan jawab apa yang aku tanyakan.”

Sekarang gigiku yang bergemelutukan. “Seharusnya sejak awal aku tak pernah kemari…”

Kak Saif terperangah, cekalannya mengendur.

Tak perlu usaha keras kali ini. Setelah lenganku bebas aku langsung menuju pintu.

*

“Eh, Aidil…?”

Aku menyengir ketika wajah Tante Sofiah menyembul dari balik daun pintu. Adzan Maghrib mulai mengumandang dari pengeras suara mesjid komplek.

“Sudah sejak kapan duduk di situ?” daun pintu dibukanya lebih lebar. “mari masuk dulu.”

Aku bangun dari kursi teras rumahnya, “Belum lama, Tante.” Aku tahu kalau amat sangat tidak sopan datang ke rumah orang saat Maghrib begini. Tapi aku tak tahu harus ke mana saat keluar belasan menit lalu dari gerbang rumah tempatku tinggal. Aku tak mungkin berjalan kaki keluar jauh dari rumah. Jadi kubawa kakiku ke rumah Tante Sofiah, duduk di terasnya tanpa bersuara sampai yang punya rumah menjenguk.

“Ada masalah di rumah?” tebak Tante Sofiah sambil menatap wajahku ketika aku hanya berdiri saja.

“Eng… enggak kok, Tante.” Aku menunduk.

Tante Sofiah diam sejenak. Adzan Maghrib sudah sampai ke pertengahannya. “Ayo, masuk saja. Tante akan menelpon ke rumah dan ngasih tahu kalau kamu di sini.”

“Aidil pu―”

“Siapa, Ma?”

Dia di sana. Berdiri di balik tirai kulit kerang yang memisahkan ambang ruang tamu rumahnya dengan ruang tengah. Menatapku. Aku tak ingin berkedip, tak ingin sekalipun. Aku tak mau kehilangan fokus pandanganku, tak mau sedetikpun. Kami bertatapan. Kuharap dia dapat melihat samudera rindu di mataku. Kuharap dia menyadari ombak kangen yang bergulung-gulung menujunya.

“Oh, ini, Aidil. Kayaknya sedang bingung, Mama ajak masuk ogah,” jawab Tante Sofiah sambil tersenyum padaku. 

Putranya diam. Kukira dia tak akan bersuara lagi. Tapi kemudian dia berdehem, “Kenapa? Apa sekarang kamu haram masuk rumahku?”

Tante Sofiah tertawa mendengar kalimat putranya yang ditujukan untukku. “Hush, bicaramu Orly.”

Mendengar suaranya, seakan kami tak pernah mendiamkan diri sehari pun. Aku ingin berlari, menubruk dan menciuminya, namun kakiku masih kaku di ambang pintu. Adzan Maghrib sudah sampai ke penghujungnya.

“Ayo, shalat dulu. Setelah itu terserah, apa Aidil mau makan di sini atau pulang.” Tante Sofiah menyisi, mempersilakanku masuk.

Aku melangkah canggung. “Hai, Kak Lando…” ujarku saat makin dekat dengan tempatnya berdiri.

“Hai,” balasnya pendek.

“Kalian ini kenapa, kayak baru ketemu saja. Sudah sana ambil wudhu.” Tante Sofiah melewati kami.

Orlando berbalik dan menyusul mamanya, aku mengekor di balik punggungnya.

*

Kami shalat berjamaah. Imamnya Om Rahman, papanya Orlando. Aku merasakan sensasi yang tak bisa kujelaskan ketika menyalami laki-laki di sebelahku yang sama-sama menjadi makmum setelah berdoa. Rasanya mendamaikan. Ditambah keadaan kami yang baru saja shalat, bersarung dan berpeci. Sarung dan peciku dipinjamkan Orlando. Ini bukan kali pertama aku melihat Orlando dalam keadaan demikian, namun sensasinya kali ini beda. Aura Orlando yang kulihat dan kurasa sekarang tidak sama seperti yang selalu kutemukan sebelum ini. Entah berapa kali aku mencuri-curi melihat wajahnya saat berdoa tadi.

Orlando tak mempersilakan, meski begitu aku tetap mengekor di belakangnya menuju kamar setelah shalat, setelah Tante Sofiah mengatakan akan menelepon ke rumah untuk memberitahu kalau aku ada di sini.

Aku berdiri canggung di tengah-tengah kamarnya sementara dia mengganti baju shalatnya dengan kaus yang diambilnya dari sangkutan baju di belakang pintu. Sekilas melihat badan polosnya sudah lebih dari cukup untuk membangkitkan hasratku memeluknya. Tapi aku tak punya kekuatan untuk melaksanakannya sampai dia berbalik menghadapku.

Kami bertatapan sejenak sebelum dia menuju tempat tidurnya dimana beberapa benda berserakan. Laptop, buku-buku, komik One Piece yang kuperkirakan keluaran terbaru dan kertas-kertas HVS berprint yang bisa jadi adalah lembaran-lembaran bakal skripsinya.

Aku mengikutinya membereskan tempat tidurnya dengan pandanganku. Keningku berkerut saat kutemukan bungkus rokok menyembul di antara serakan kertas HVS.

“Sejak kapan Kak Lando merokok?” tanyaku lirih.

Dia berhenti dari aktivitasnya sejenak. “Apa itu penting?” tanyanya balik tanpa melihatku lalu kembali meneruskan merapikan buku dan serakan kertas.

“Kenapa?”

Orlando diam.

“Kenapa Kak Lando melakukan itu?”

“Melakukan apa?”

“Merokok.”

Dia mengangkat bahu, “Hanya sesekali jika aku butuh teman.”

Hatiku seperti diiris-iris. “Aku tidak cukup pantas untuk jadi kekasihmu sejak dua bulan lalu, dan sekarang aku bahkan tak cukup pantas untuk jadi temanmu dibanding benda itu… iyakah?”

“Jangan lihat ke belakang, Dil. Keadaan sudah berbeda, nanti kamu sakit sendiri.” Dia selesai merapikan HVSnya jadi satu tumpukan di kiri laptop dan bukunya di sisi lain. Selanjutnya rokok itu, Orlando mengambil dan menyimpannya ke saku celana kargonya. Lalu dia menghadapku. “Kamu tampak sehat…” ujarnya setelah memandangku lima detik lamanya.

Aku tak ingin mendengus di hadapannya sebenarnya, tapi begitulah yang kini terjadi. “Apa aku terlihat baik-baik saja dalam pandanganmu?”

“Kukira saat di bawah tadi kamu sudah resmi memanggilku kakak lagi.”

“Apa aku terlihat baik-baik saja dalam pandangan Kak Lando?”

Orlando diam.

“Kamu jahat…” aku benci diriku yang mudah cengeng akhir-akhir ini. Kutengadahkan kepalaku untuk mencegah mataku menggenang.

“Orly, ajak Aidil makan!”

Seruan Tante Sofiah dari ruang makan mengagetkanku. Sementara Orlando bergeming di sisi tempat tidur. Kusapu mataku dengan ujung lengan kausku.

“Orly…!” Tante Sofiah kembali memanggil.

“Iya, Ma. Kami segera turun.” Matanya tidak berkedip dari memandangku ketika menjawab seruan mamanya.

“Kupikir, ucapanmu saat kita pulang hari itu serius, kupikir kita masih tetangga yang akrab, kupikir kita masih teman. Ternyata aku salah. Kak Lando mengabaikanku…”

“Aku sibuk,” dia melambaikan tangannya pada laptop dan benda-benda di dekatnya, “kamu bisa lihat itu.”

Aku menggeleng, “Kamu menyibukkan diri demi mengabaikanku.”

“Orly, turun dulu…!”

“Iya, Ma…!” teriaknya ke arah pintu lalu kembali menatapku dan memelankan suaranya. “Kupikir seharusnya memang begitu, agar kita berdua tidak tersakiti.”

“Omong kosong macam apa itu?” aku berang dan nyaris berteriak sebelum kembali bisa menguasai diriku. “Aku tidak baik-baik saja, Kak. Stop berpikir bahwa dengan mengabaikanku maka aku akan baik-baik saja. Berhenti berpura-pura bahwa tak ada sedikitpun lagi rasa yang tersisa dalam diri Kak Lando buatku…” kutatap Orlando tajam.

Aku serasa mati ketika dia menggelengkan kepalanya. “Sudah tak ada, Dil…” ucapnya pelan dan seketika itu bagai ada seribu jarum akupuntur paling menyakitkan di dunia menusukku di sekujur tubuh, tepat di semua saraf rasa sakitku. “kuharap begitu juga denganmu…”

“Penipu!”

“Maaf…”

“Kak Lando bohong. Aku tahu persis Kak Lando bohong.”

Dia tak merespon lagi. Yang dilakukannya adalah berjalan ke pintu. Dan dengan hati remuk aku hanya bisa mendiamkan diri lalu mengikuti di belakangnya.

*

Sebenarnya aku ingin pulang saja setelah percakapan yang tak ingin kupercayai antara aku dan Orlando beberapa saat lalu. Tapi Tante Sofiah sudah mengisi piringku.

“Ayo makan dulu. Tante sudah menelepon Bundamu tadi,” kata Tante Sofiah sambil meletakkan gelas minum di dekat piringku.

“Piringku gak diisi, Ma?” putranya bertanya ketika menemukan piringnya yang tepat berada di sebelah punyaku masih kosong.

“Jangan manja. Biasa kamu juga ambil sendiri,” jawab Tante Sofiah kembali duduk ke kursinya yang bersebelahan dengan kursi Om Rahman.

“Ya sekali-sekali aku kan juga pengen dimanjain, Ma.” Orlando menyendok nasi ke piringnya.

“Kamu ini sudah besar masih kayak anak SD,” Om Rahman ikut menimbrung. “lihat, Aidil, begini nih Kak Lando itu kalau di rumah…”

Aku memaksa tersenyum. Selama ini aku hampir tak pernah bertemu dengan Om Rahman, jika pun berpapasan hanya saling berbalas senyum ramah saja, tak pernah terlibat percakapan. Tapi kini aku berada di meja makan rumahnya, aku kebingungan harus merespon bagaimana ucapan ramahnya.

“Efek anak bungsu mungkin, Om,” kataku akhirnya setelah jeda lumayan lama.

“Kayak kamu anak sulung aja.” Orlando menyikutku pelan. Nada  suaranya yang merajuk bagai bocah dan caranya menyikutku sejenak membuatku lupa bahwa baru beberapa saat yang lalu kami perang dingin di kamarnya.

“Tapi Aidil tak manja sepertimu,” cetus Tante Sofiah.

Om Rahman tertawa pelan, “Sudah, makan dulu. Ayo, Aidil jangan sungkan-sungkan, ini sama seperti rumahmu juga.”

Kulirik Kak Lando sebelum mulai menyendok, tepat ketika dia juga sedang melirikku sebelum berpura-pura melihat jam yang menempel di dinding ruang makan rumahnya.

*

“Kenapa harus sesore tadi ke rumah? Ada masalah?” tanya Orlando saat mengantarku ke pintu depan setelah makan malam kami selesai. Kami menyebrangi ruang depan yang temaram, lampunya tidak dinyalakan.

“Aku sedang kesal dengan Kak Saif.”

“Kenapa?”

“Kak Lando tahu kenapa.”

“Karena berusaha mendekatimu?”

“Apaan sih!?” aku berdecak, kesal dengan responnya. “Aku habis menonjok perutnya saat kemari.”

“He?” dia berhenti dan menatapku, tangannya berhenti di handle pintu. “kamu berani nonjok dia?”

Kuanggukkan kepalaku, “Sampai dia terbungkuk.” Dalam remang bias lampu teras, sekilas aku bagai melihat Orlando tersenyum. Namun ketika kufokuskan pandanganku, dia telah kembali pada ekspresi datarnya semula.

“Hemm, pasti dia tidak balas menonjokmu, kan?”

Aku sangat mengerti maksud dan kemana tujuan kalimatnya itu, kupilih untuk tidak menjawabnya. Orlando membuka pintu meski aku sangat enggan untuk keluar.

“Kak…”

“Ya?”

“Boleh nganterin aku sampai gerbang rumah?”

Orlando diam sejenak, menatapku dalam temaram cahaya lampu lalu mengangguk. Aku mendahuluinya keluar ke teras, kupakai sandal jepitku lalu mulai menuruni undakan terasnya.

“Sebenarnya aku belum ingin pulang,” ujarku lirih ketika dia sudah mensejajariku.

“Kupikir saat Mama mengundangmu ke meja makan tadi kamu sangat ingin menolak dan mau segera pulang.” 

“Tadinya begitu.”

“Lalu kenapa sekarang berubah?”

“Kak Lando sangat tahu kenapa.”

“Mengapa kini kamu sangat sering bersikap seolah aku tahu segalanya?”

“Aku gak mau pulang sekarang karena masih ingin bareng Kak Lando,” jawabku langsung ke sasaran. Kami melewati lampu bundar di halaman. Sekali lagi, sekilas aku bisa melihat Orlando siap tersenyum, namun secepat senyum itu hendak muncul secepat itu pula ia menghilang.

“Siapa yang mengantar-jemputmu ke kampus selama hampir dua bulan ini?”

“Kadang Kak Saif, lebih sering diantar Kak Adam sebelum dia ke kantor. Pulangnya hampir tiap hari naik angkot. Dua kali pernah diantar Kak Aiyub.”

“Oh…”

Respon oh-nya membekukan percakapan hingga kami tiba di gerbang rumahnya. Aku berhenti melangkah, dia juga tidak berbalik menuju beranda rumahnya kembali.

“Tadi saat minta diantar sampai gerbang, yang kamu maksudkan gerbang rumah siapa?”

“Rumah tempatku tinggal,” jawabku cepat. Orlando mengangguk samar lalu dengan tangannya mempersilakanku untuk terus jalan.

Tapi yang kulakukan adalah menariknya ke kegelapan di bawah perdu mangga di pojokan pekarangannya. Aku memeluknya. Debaran jantungnya terasa menumbuk kencang di dadaku. Dan dia tidak balas memelukku. Kedua lengannya lurus di sisi badannya. Orlando diam.

Keadaan ini menyakitiku. Aku siap menangis. Mungkin benar bahwa dia sudah tidak menyimpan secuil pun cinta untukku lagi. Mungkin benar bahwa dia sudah berhasil melewati krisis ini. Mungkin aku sudah mendapatkan karma bagianku.

Tapi lalu dia membelai kepalaku.

Cukup. Hanya dengan itu saja, kembali kuperoleh keyakinanku bahwa dia masih mencintaiku. Kueratkan pelukanku padanya dan air mataku mulai bergulir jatuh ke pundaknya.

“Apa yang terjadi pada kita, Orly…” aku menggumam samar.

Senyap sejenak, sebelah tangannya masih di kepalaku. “Gerbang rumahmu tidak jauh lagi, Dil…”

Kujarakkan diriku darinya lalu kubersihkan sisa-sisa tangisku. “Kalau saja Kak lando tahu kesepian macam apa yang menderaku selama ini…”

“Apa yang terjadi dengan sound system di kamarmu? Rusak?”

Aku harus tertawa meski masih dalam keadaan berair mata ketika mendengar kalimat Orlando. Dia tetap konyol seperti dia yang biasa. Aku juga mendengar tawa pelannya ketika lengannya kuplintir.

“Kak Lando tidak kangen padaku?”

Dia keluar dari gelap dan menuju gerbang, aku mensejajari langkahnya. Kami baru saja melewati gerbang rumahnya ketika dia menjawab pertanyaanku dengan balik bertanya. “Apa aku masih punya alasan untuk merindukanmu?”

“Demi Tuhan, Kak!”

Dia menolehku, “Kamu terdengar seperti rivalnya Eyang Subur.”

“Aku gak kenal dengan rival eyang manapun, jangankan yang subur, yang tandus pun enggak.”

Orlando tertawa, kali ini lepas. “Kita sampai.” Dia berhenti tepat di gerbang. “sana masuk.”

“Aku mau diantar sampai ke teras.”

“Jangan manja!” 

Namun langkahnya sudah melewati gerbang. Aku tersenyum lalu kembali berjalan di sisinya menuju teras. Ketika sudah sampai di depan undakan paling bawah, Orlando berhenti dan menolehku.

“Belum sampai ke pintu, Kak,” kataku.

“Di sini aja. Takutnya nanti aku harus tanya lagi pintu mana yang kamu maksudkan.”

Aku tersenyum. Tanganku terulur ke saku kargo Orlando, dia membiarkan saja apa yang hendak kulakukan. “Ini bukan teman yang pantas.” Kukeluarkan bungkus rokok dari sakunya, Orlando diam tak merespon. Ketika penutup bungkus kubuka, kutemukan isinya bersisa tiga batang, sebuah mancis juga ada di dalamnya. Kuremas bungkus rokok itu lalu kubuang ke tanah.

Orlando memandang pada bungkus rokoknya yang sudah penyok di tanah dengan sebelah alis terangkat. “Padahal tadinya aku ingin menyimpan bungkusnya.”

Aku mengernyit. “Kenapa?”

“Itu bungkus rokok pertamaku.”

“Sayang sekali kalau gitu.”

Orlando mengangkat bahunya sebagai respon. “Sana masuk.”

“Kuliahku selesai pukul lima sore besok.”

“Lantas?”

“Tak ada, mungkin Kak Lando mau menjemput.”

“Kenapa tidak memberitahuku jam kamu berangkat sekalian?”

“Aku berangkat pukul tujuh tiga puluh,” jawabku cepat.

Orlando manggut-manggut lalu menunjuk pintu. “Good night.”

“Masih belum cukup malam untuk pergi tidur.”

“Apapun, sana masuk!”

“Makasih ya, Kak.”

“Karena mengantarmu pulang?”

“Karena berhenti dari mengabaikanku.”

“Kamu gak mendengarkan, ya? Bukannya aku udah bilang kalau aku gak mengabaikanmu?”

“Aku dengar, Kak Lando sibuk, kan?”

“Nah, itu.”

“Sibuk mencari cara untuk mengabaikanku.”

Dia berdecak lalu menggaruk-garuk kepalanya. “Terserah. Aku pulang.”

“Mau aku antar sampai teras?”

“Supaya kamu bisa minta dianterin lagi sampai sini? Tidak, terima kasih.”

Aku tertawa. Orlando membalikkan badannya lalu mulai berjalan. Aku masih berdiri di tempatku, menunggunya berbelok ke rumahnya. Saat sudah setengah jalan ke gerbang Orlando sempat menoleh ke belakang dan segera meluruskan kepalanya kembali saat tahu bahwa aku masih berdiri di tempatku, memperhatikannya. Mungkin dia mengira kalau aku sudah balik badan menuju pintu.

Di tempatku berdiri, aku tersenyum senang. Aku baru saja menangkap basahnya.

Mendadak, aku lupa bagaimana persisnya kisah ayam jantan muda kesepian milik almarhum ayahku dulu.

***

“Berangkat bareng gak, Dil?”

Kak Adam muncul di beranda diantar istrinya. Mbak Balqis sudah cuti dari pekerjaannya di rumah sakit sejak sebulan yang lalu untuk mempersiapkan kelahiran anak pertamanya.

“Duluan deh, Kak.”

Kak Adam mengerutkan dahi, “Mau berangkat dengan siapa lagi? Ayah sama Bunda udah ke kantor sejak tadi. Saif pun belum bangun tuh, dia gak ada kuliah hari ini, kan?”

Kuangkat pundakku sebagai jawaban atas pertanyaan Kak Adam. Aku sangat tahu kalau hari ini Kak Saif gak ada jam kuliah, tapi berhubung aku sedang perang dingin dengan manusia satu itu, maka aku jadi malas memberi tanggapan terhadap apapun yang berhubungan dengannya.

Kak Adam selesai mengenakan sepatunya, dia kembali memandangku yang duduk di kursi teras. “Yuk, nanti kamu telat.”

Aku diam di kursi, enggan beranjak, berharap melihat Orlando di gerbang di atas sadel motornya. Namun nihil.

“Udah, Dik Bungsu sana berangkat aja sama Kak Adam. Nanti malah telat beneran.”

Kulirik bergantian antara arlojiku dan gerbang yang sepi sekali lagi. Sudah empat puluh lima menit melewati pukul tujuh dan Orlando belum juga memunculkan diri. Aku juga tidak mendengar deru mesin motornya dipanaskan sejak duduk di teras lebih dua puluh menit lalu. Apa dia hanya bercanda malam tadi ketika memintaku memberitahukan jam berangkatku? Atau dia tidak bercanda saat itu, namun berubah pikiran pagi ini hingga tidak jadi mengantarku.

Kulirik lagi arlojiku, lalu setelahnya gerbang. Aku putus asa. “Iya, Aidil ikut Kak Adam.”

“Iya, kalau gak sama Kak Adam mau sama siapa lagi memangnya. Kamu punya kakak yang lain lagi di sini? Saif libur, Orlando juga tentunya.”

Kak Adam berpamitan pada Mbak Balqis, mencium pipi istrinya itu lalu berbicara pada perut sang istri, pamit pada anaknya yang belum lahir sebelum bergerak menuruni undakan beranda.

“Hati-hati di jalan, Mas,” ujar Mbak Balqis buat Kak Adam. “Dik Bungsu belajar yang benar, ya.” Yang ini tentu saja buatku. Sejenak aku ingat Kak Asnia. Kuacungkan jempolku buat Mbak Balqis sebagai jawaban.

Aku masuk ke mobil Kak Adam dengan kekecewaan teramat besar. Orlando membohongiku. Atau, aku yang berharap terlalu tinggi, bahwa aku sudah merekatkan kembali kepingan yang patah itu semalam. Kenyataannya, aku belum merekatkan apapun.

***

‘Email yang membentuk mahkota gigi itu bersifat irreversible, getas seperti kaca. Sekali kaca itu pecah, tak akan bisa utuh kembali. Sekali email berlubang, ia akan berlubang selamanya, tak akan tumbuh jaringan email baru dan menutupi kerusakan sebelumnya. Sedang tindakan konservasi email gigi sama seperti jika kita memberi lakban pada kaca pelapis meja yang retak. Kaca itu tersambung lagi memang, tapi hanya orang buta yang tidak bisa melihat kalau ada lakban di sana.’

Apa yang sedang kuketik itu? rasanya kalimat terakhir pada paragraf tersebut sama sekali tak pantas berada dalam sebuah makalah tugas mahasiswa kedokteran gigi. Aku berhenti mengetik. Sepertinya emosiku mempengaruhiku sangat kuat hari ini hingga aku mengabaikan nalar akademik dan mengedepankan suasana hati saat mengerjakan tugasku.

Aku mendorong laptopku lebih ke tengah meja, lalu kutumpukan sikuku di area bekas ditinggalkannya. Sedetik kemudian, aku sudah menopang dagu, memandang tak fokus pada layar laptop. Paragraf itu, terdengar seperti apa yang sedang kupikirkan dialami Orlando. Begitukah keadaan Orlando kini? Begitukah keadaan hatinya?

Aku sudah melukai perasaan Orlando lebih dari yang bisa kubayangkan. Jika hati laki-laki itu seperti email yang getas, aku khawatir tidak bisa menyembuhkan lukanya tanpa menyisakan bekas parut. Semalam aku sudah berusaha, Orlando merespon cukup baik usaha itu. Bila hatinya seperti kaca maka aku boleh berusaha jungkir balik mengembalikan hubungan kami seperti sediakala, namun sampai kapanpun bekas itu akan tetap ada, akan tetap terlihat. Begitukah yang terjadi pada Orlando pagi tadi? Semalam aku berhasil menyembuhkan, paginya dia kembali menemukan bekas itu dan kembali teringat sejarah bekas itu didapatkannya, hingga dia mundur kembali dan tak mendatangiku.

Aku berhenti menopang dagu, pandanganku menyapu seisi kafetaria tanpa semangat. Ternyata seperti ini rasanya sendirian di tengah keramaian itu. 

Ketika ditinggalkan ayam betina muda calon pasangan kawin pertamanya, gerombolan anak-anak ayam yang lebih muda memang mengais-ngais bersama ayam jantan muda di pekarangan. Bisa jadi saat itu ayam jantan muda juga merasakan apa yang disebut orang-orang sebagai ‘sendirian di tengah keramaian.’

Kuhela napas panjang, kuhembuskan kuat-kuat. Kujangkau laptopku dari tengah meja lalu kupencet tombol CTRL dan tombol N, serta merta Ms Word menampilkan lembar kerja baru, mengganti lembar tugasku sebelumnya. Aku mengetikkan kalimat ‘KISAH AYAM JANTAN MUDA KESEPIAN’ di baris paling atas.

***

Pukul lima tepat. Aku berharap bisa menemukan sosok Orlando ketika keluar dari gedung fakultasku, karena selama di dalam kelas aku tak henti memikirkan kalau Orlando mungkin memilih untuk menjemput saja ketimbang mengantar. Belakangan aku sadar kalau pikiran itu hanyalah usaha menghibur diriku semata.

Aku berjalan lesu menuju halte. Mungkin hanya aku satu-satunya mahasiswa kedokteran yang pernah naik angkot, mengingat fakta bahwa hampir semua calon dokter punya mobil, atau disupiri dengan diantar jemput dan sebagian kecil lainnya bermotor keren. Sedang aku sudah mengakrabi halte sejak awal.

Aku berbaur bersama puluhan mahasiswa di halte, menunggu angkot lewat. Mataku tertuju ke jalan, namun pikiranku berada lebih jauh lagi. Apakah Orlando sedang di jalan menjemputku saat ini? Ketika hatiku sibuk bertanya-tanya, hapeku berdering. Aku nyaris bertawassul dengan segala amal baikku agar menemukan nama Orlando di layar, tapi lagi-lagi aku harus menelan kecewa. Kuabaikan panggilan itu dan kembali kukantongi hapeku saat menemukan nama Kak Saif yang tertera di layarnya. Tiga detik setelah dering pertama itu berhenti, dering selanjutnya kembali terdengar. Beberapa mahasiswa menolehku ketika aku hanya bersidekap lengan di dada dan mengacuhkan panggilan teleponku hingga dering itu berhenti. Tak lama kemudian hapeku kembali berbunyi, kali ini nada pesan masuk.

‘Dimana? Kak Saif di depan gedung kuliahmu sekarang. Ayo pulang.’ 

Siapa yang mau pulang denganmu? Dasar perusuh hubungan orang! Geram kuhapus pesan itu dan kumatikan hapeku.

Hampir sepuluh menit menunggu, angkot sialan itu tak datang juga. Aku nyaris mabuk dengan asap-asap yang keluar dari mulut mahasiswa perokok di sekitarku yang terus berdatangan. Saat tak sanggup lagi bertahan diasapi, aku menyeruak ke tepi dan di saat bersamaan ekor mataku melihat sosoknya. Aku nyaris bersorak di tempatku berdiri sambil melontarkan diriku ke udara saking gembiranya.

Di jalan, Orlando mengendarai motornya menuju halte. Bahkan dari jarak sejauh ini aku tahu itu dia. Sikap badannya saat mengendari motor sudah sangat kukenal. Dia berhenti di halte, memandangku sejenak sebelum melepas helm dari besi sadel motornya.

Tanpa diminta, aku berjalan menghampirinya. “Makasih udah mau datang, Kak…” kataku saat menerima helm yang dia sodorkan.

“Hemm,” gumamnya pendek.

Aku kangen Orlando yang konyol dan rame. Sejak kejadian hari itu, dia jadi lebih tenang dan kalem, jika tak mau disebut nyaris bersikap dingin.

Aku naik ke boncengan dan berpegangan pada pinggiran kemejanya kiri kanan, terlalu canggung untuk berani memeluk pinggangnya. Orlando mulai mengemudi. Di belakangnya, aku ingin berbicara banyak hal, menanyakan kabarnya hari ini dan mengabarkan padanya bahwa tadi pagi aku menunggunya. Namun responnya yang singkat serta ekspresinya yang datar saat menyodorkan helm untukku beberapa saat lalu menahanku untuk bersuara. Sepertinya dia tidak benar-benar ingin menjemputku.

Kami tidak bicara sampai motornya berhenti di depan gerbang rumah dan aku turun dari boncengan. Saat kukembalikan helm padanya, aku tak tahan lagi untuk bertanya. “Apa kita akan terus dingin seperti ini?” dia diam, sambil menyibukkan diri mencantel helm di setang motor. “mau sampai kapan, Orly?”

Orlando memandangku. “Tadi pagi aku ketiduran. Saat terbangun, matahari udah tinggi. Aku mau meneleponmu, nyuruh kamu pulang dari kampus terus nanti kuantar balik, tapi kupikir itu tolol banget, kan?”

Mau tidak mau, aku harus merasa geli dengan responnya yang amat sangat jauh dari hal yang kutanyakan. Ekspresinya ketika berbicara sekarang sangat jauh dari kesan datar seperti yang kutemukan saat di halte. Andai tidak sedang berada di depan rumah, aku ingin menarik hidungnya kuat-kuat saking gemasnya.

“Iya, itu tolol.”

“Aku ngeliat Saif di sekitar gedung kuliahmu. Kamu minta dia jemput?”

Aku menggeleng.

“Aku juga sempat meneleponmu tadi, tapi sepertinya hapemu kehabisan batre hingga gak tersambung. Sebenarnya tadi itu aku mau jalan pulang, karena kupikir kamu masih di dalam dan ada Saif yang nungguin sampai jam kuliahmu kelar…”

“Tadinya aku mau naik angkot.”

“Iya, kamu gak akan di halte kalau tidak untuk naik angkot.”

“Kupikir Kak Lando gak bakal datang.”

Dia tersenyum, senyum pertamanya yang kulihat hari ini. “Mama masak sup malam ini, mungkin kamu mau datang untuk makan malam lagi.”

Responnya loncat-loncat. Meski demikian aku tertawa juga. “Apa Tante Sofiah yang nyuruh kamu ngasih tahu itu?”

“Enggak, tapi nanti jika kamu beneran datang aku akan minta Mama agar berpura-pura menyuruhmu datang melaluiku.”

“Ih, itu sama aja mempermalukan diriku sendiri.”

“Sejak kapan kamu bisa malu? Ciuman dengan Saif di depanku aja kamu gak malu, kok!”

Orlando memang mengucapkan kalimat itu dengan nada bercanda, tapi efek yang ditimbulkan kalimat itu padaku sama sekali bukan candaan. Aku langsung diam dan menatapnya dengan tatapan bersalah.

Dia menowel perutku. “Duuu… dia nganggap serius,” ujarnya lalu tertawa pelan. “Jangan muram gitu dong, Dil, kan kamu jadi gak terlihat ceria kalau lagi muram.”

Aku berdecak. “Kalau sedang muram siapapun manusianya ya gak bakal terlihat ceria kali, Kak. Itu kan dua kondisi yang saling bertolak belakang.”

Dia mengangkat bahu. “Kalau gak mau datang makan malam, datang aja setelah makan malam, kalau Mama tanya, bilang mau bantuin aku ngetik perbaikan bab dua.”

“Kenapa harus bohong?”

“Ya udah kalau gak mau bohong, jawab aja kalau kamu mau bercinta dengan putranya jika Mama tanya.”

Aku shock. Bengong. Melongo. Dan pucat.

Di atas motornya, Orlando tertawa. “Bercanda,” ucapnya kemudian sambil memasukkan gigi motor koplingnya kembali. “Kalau memang mau bantuin aku ngetik perbaikan proposal, datang aja nanti setelah makan malam.” Lalu dia berlalu bersama motornya memasuki pekarangan rumahnya sendiri.

Di tempatku berdiri di depan gerbang, aku masih memikirkan kalimat Orlando yang katanya hanya candaan tadi. Jika satu-satunya cara agar dia kembali jadi pacarku dan hubungan kami balik seperti dulu lagi adalah dengan cara bercinta dengannya, rasanya aku tidak lagi keberatan melakukan something incredible itu dengan Orlando Ariansyah.

***

Kutatap sosok polosku di cermin. Haruskah aku melakukan ini? Apakah saat yang tepat untuk itu adalah malam ini? Setelah sekian lama, setelah banyak hal yang sudah terjadi, setelah dulu Zayed lalu Orlando sekarang, setelah selalu terelakkan setiap ada kesempatan, mungkin inilah saatnya untuk melangkah ke level jahanam selanjutnya dari jalan hidupku yang melawan arus.

Bayangan di dalam cermin seperti bukan diriku yang sesungguhnya. Aku tercari-cari, berusaha menemukan sisa-sisa diriku yang dulu : remaja kampung yang belum pernah jatuh cinta, anak desa yang belum sekalipun diakrabi seseorang dengan cinta hingga semua berubah di sini. Tak kutemukan lagi keluguan seorang remaja kampung, pun tak ada kepolosan anak desa pada bayangan di cermin itu. Yang terlihat adalah ketidakrelaan terhadap kehilangan Orlando dan aura mendamba dapat memiliki dan dimiliki lelaki itu kembali, dengan apapun caranya.

Maka, kuputuskan untuk menggunakan satu cara itu.

“Sibukkah?”

Sedikit kaget, aku menoleh ke pintu dimana kepala Kak Saif menyembul dari sedikit celah yang terbuka di sana. Sepintas, niat untuk memburu ke pintu dan mendorong benda itu menutup hingga membuat leher Kak Saif terjepit dan lidahnya menjulur keluar tampak begitu menggoda. Meski tergoda untuk melakukannya, aku tetap saja berdiri di tempatku, bertelanjang dada sementara sehelai oblong kugenggam di tangan.

“Mau apa lagi kemari?”

Tak menjawab, Kak Saif menguak pintu lebih lebar dan melangkah masuk. Dia berjalan menuju tempat tidur, meninggalkan pintu yang tertutup di belakangnya.

“Tadi sore Kak Saif jemput kenapa ngelak?”

“Karena aku gak ingin dijemput.”

“Kenapa?” dia duduk di pinggiran tempat tidurku, melipat lengan ke dada.

“Karena aku gak ingin dijemput.”

Kak Saif memandangku.

Aku kalah menantang tatap dengannya. Kupakai bajuku lalu bersiap keluar kamar.

“Jangan keluar dulu. Masalah gak akan terselesaikan jika kita terus mengelak setiap kali ada kesempatan untuk menyelesaikannya…” dia menepuk sisi tempat tidur di sebelahnya, memintaku duduk di sana. Namun aku tetap bergeming di tempatku.

Hening menggantung beberapa saat di atmosfer kamar. Kak Saif mengedarkan pandangannya berkeliling setelah menungguku yang tak kunjung menghampirinya dan tidak juga memberi respon apapun terhadap ucapannya.

“Malam itu, saat kamu berkata bahwa seharusnya dari awal kamu gak pernah datang ke sini, itu memukul Kak Saif dengan begitu telaknya, Dil…” dia kembali menatapku. “itu seperti… dibuang dan tidak dianggap lagi.”

Ya, aku ingat pernah berkata demikian. Tapi saat itu aku benar-benar sedang kesal dan marah. Saat itu, aku tidak sempat memikirkan efek ucapanku terhadap Kak Saif. Baru sekarang saat dia menyinggungnya aku merasa bahwa seharusnya aku tidak berkata demikian.

“Apa yang sudah Kak Saif lakukan hingga kamu begitu tidak sukanya, Dil?” dia bangun dari tempat duduknya di pinggiran tempat tidur lalu perlahan menujuku. “apa yang sudah Kak Saif lakukan hingga harus ditonjok di perut…?” dia berhenti satu langkah di depanku. “Kamu marah karena Kak Saif minta tolong dicomblangin? Kamu marah karena Kak Saif menghampirimu di McD dengan seorang cewek baru lagi? Kamu marah karena Kak Saif kesal dengan sikapmu?”

Aku diam.

“Hemm… apapun, Dek… semarah apapun kamu pada Kak Saif lagi di masa akan datang, Kak Saif mohon… jangan pernah berkata seperti malam kemarin lagi, ya?” dia menyentuh pipiku, “Kak Saif sedih dengernya, tau?” jemarinya menggaruk-garuk di pipiku. “karena dengan berkata begitu, sama aja jika kamu mengatakan menyesal jadi bagian dari keluarga ini, menyesal jadi adikku…” dari menggaruk, kini dia mengelus pipiku dengan ibu jarinya. “jangan gitu lagi, ya?”

Kak Saif menarik kepalaku ke bahunya, dalam diam kubiarkan saja dia berbuat begitu. Aku sadar kalau matanya sudah berkaca-kaca sejak berbicara tadi. Mungkin sudah saatnya aku melupakan fakta bahwa dialah yang menyebabkan kesenjangan dalam hubunganku dan Orlando. Seperti katanya, aku adiknya. Dan sepatutnya seorang adik tidak mendendam pada kakaknya hingga berlarut-larut.

Mungkin sampai kapanpun Kak Saif tak perlu mengetahui kenyataan sebenarnya bahwa Orlando melihatnya menciumku, hal yang membuatku menyalahkannya hingga tersulut amarah untuknya. Mungkin memang sudah jalannya, bahwa aku harus melupakan semua kekesalanku pada Kak Saif dan berusaha sendiri menemukan titik balik hubunganku dengan Orlando kembali.

Tanganku yang dari tadi lurus di sisi badan kini kugerakkan untuk balas memeluk Kak Saif. “Maaf,” ujarku nyaris berupa bisikan.

“Maafkan Kak Saif juga.”

“Kalau Aidil boleh minta sesuatu, berhentilah menjadi brengsek dengan mengejar dan meladeni cewek-cewek gak jelas itu.”

“Kamu marah gara-gara itu?”

“Aidil marah karena Kak Saif berubah.”

“Hemm… tunjukin satu gadis, dan demi kamu Kak Saif janji akan serius.”

“Buat Kak Saif, gak ada yang lebih baik selain Mbak Tiya. Balik lagi ya, sama dia…”

Dia tertawa di puncak kepalaku. “Hanya karena kita baru saja baikan, bukan berarti Kak Saif harus mutlak ngikut saranmu, kan?”

Kulepaskan pinggang Kak Saif dan kurenggangkan diriku darinya. “Dibanding cewek manja di McD kemaren itu, Mbak Tiya lebih baik dan lebih klik dengan Kak Saif dilihat dari sudut pandang manapun.”

“Ya ya ya ya ya… mengocehlah sampai mulutmu kering. Mbak Tiyamu gak akan balik ke sini untuk terlihat klik dengan kakakmu ini dinilai dari sudut pandang manapun seperti katamu.” Dia mundur dan kembali duduk di tepi ranjang. Tatapannya tepat tertuju padaku. “Kenapa tadi buka-bukaan di depan cermin? Udah tau Kak Saif mau masuk, ya?” dia menyeringai.

Mendengar kalimat dan melihat seringai Kak Saif yang kurang ajar itu membuatku ingin melepaskan pintu dari engselnya lalu kulempar ke tempatnya duduk di pinggir tempat tidur. 

“Bukan urusan Kak Saif!” cetusku jengkel. Kulirik weker di samping tempat tidur, aku sudah terlambat untuk ke rumah Orlando, padahal harusnya aku pergi setelah makan malam tadi.

“Kamu mau pergi?” tanya Kak Saif ketika melihatku melirik weker.

“Tadinya mau ke rumah Kak Lando.”

“Buat apa?”

Hampir saja kata ‘bercinta’ melesat keluar dari mulutku. “Bantuin dia ngerjain revisi proposal skripsi.”

“Kamu gak pernah bantuin aku ngerjain proposal. Padahal statusku bagimu lebih prioritas ketimbang dia.”

“Kak Saif mana pernah minta dibantuin ngerjain proposal, selalunya minta dibantuin cari cewek sasaran pedekate baru.”

“Dek, bantuin Kak Saif ngerjain proposal skripsi, yuk!”

“Kambing!”

Dia tertawa.

Aku melangkah ke pintu, mungkin belum terlalu larut untuk menyeberang ke rumah Orlando.

“Dil, Kak Saif serius minta tolong ini!” seru Kak Saif saat aku sudah menyentuh kenop pintu.

“Besok saja, malam ini mau nolong Orlando dulu.”

“Bagus, terus saja menomorduakan aku!”

“Dengan senang hati,” jawabku lalu melenyapkan diri meninggalkan Kak saif yang mendumel sendirian.

***

Guruh sayup-sayup terdengar di kejauhan ketika aku sampai di gerbang rumah Orlando. Nyatanya Orlando hendak pergi, aku menemukannya sedang mengeluarkan motor dari garasi saat sudah memasuki pekarangan.

“Gak jadi ngerjain proposal?”

Di depan garasi, dia batal menendang tuas engkol saat mendengar suaraku dari pekarangan. “Tadinya kupikir kamu gak jadi datang, jadi aku ngerjain sendiri.”

“Berarti udah ngerjain?”

Orlando mengangguk.

“Ini sekarang Kak lando mau ke mana?”

“Beli kwarto, gak cukup buat ngeprint. Rencana besok mau jumpai pembimbing.”

Aku mendongak ke langit, guruh baru saja kembali terdengar di kejauhan. “Aku ambil di rumah aja ya, Kak. Kayaknya bakal hujan.”

“Gak usah. Beli aja, sekalian mau beli satu rim buat stok di rumah. Tinta hitam juga tinggal di dasar botol inkject tuh.” Dia menendang tuas engkol, deruman motornya mengalahkan sayup guruh di kejauhan.

Aku menimbang-nimbang antara kembali ke rumah dan membatalkan apa yang sudah kupikirkan sejak sore tadi atau lanjut masuk ke rumah Orlando dan menunggunya pulang di sana. Tapi ternyata ada opsi lain yang tidak terfikirkan olehku.

“Kamu mau ikut?” tanya Orlando, motornya berhenti di depanku, langsung mati karena dia lupa menarik kopling.

Tak menjawab, aku naik di belakangnya.

Orlando menendang tuas engkol kembali, menarik kopling saat memasukkan gigi lalu menekan gas.

“Gak bawa helm, Kak?” kupegang pinggiran kemejanya.

“Deket aja, cuma kedai ATK depan situ.”

Dan ternyata Orlando harus kecewa. Kedai ATK sekitar komplek yang dia maksudkan ternyata tutup. Dia menghentikan motornya sejenak, menatap pintu besi kedai ATK itu yang tergembok dari luar.

“Damn,” dia mengumpat sendiri.

“Ambil yang di rumah aja,” ujarku di belakangnya. “tintanya kan bisa beli besok-besok.”

Tak menjawab, Orlando kembali melajukan motornya. Dari arahnya, aku tahu kalau dia tidak menggubris tawaranku. Motornya melaju ke arah pertokoan di pusat kota.

Malangnya, belum pun setengah jalan, rintik mulai turun. Aku deg-degan karena di saat bersamaan Orlando mempercepat laju motornya. Aku khawatir motor kami tergelincir karena semakin hampir ke pusat kota, jalanan makin licin dan rintik kian rapat. Ternyata hujan sudah lebih dulu turun di sana.

“Kak…” kurapatkan diriku ke punggung Orlando. “berteduh dulu,” seruku ke dekat telinganya.

Tapi motornya terus melaju.

“Kak Lando, bahaya kalau bannya nyelip!”

Orlando tetap diam.

Aku baru merasa lega ketika beberapa detik kemudian dia membelokkan motornya ke sebuah pos usang di sebelah kanan jalan. Begitu kecilnya pos reot itu hingga Orlando nyaris menyerempet tiang penyangga paling depan saat melajukan motornya ke bawah atap pos. Aku buru-buru turun dari boncengan dan berlari ke satu sudut di mana tidak ada air yang merembes turun dari atap yang bocor di sana. Sesaat kemudian setelah memasang standard motornya, Orlando menyusulku berteduh di sudut berbeda, dan aku kecewa karenanya.

Rintik segera berubah menjadi hujan lebat. Suaranya terdengar ribut di atap pos tempatku dan Orlando berteduh. Jalanan langsung sepi, hanya sesekali ada mobil yang melintas. Kupandang Orlando di sudut lain di kananku, dalam temaram sorot lampu jalan kutemukan dia sedikit kuyup. Dia berdiri bersandar ke dinding kayu di belakangnya.

Aku hanya mampu menerima keterasingan ini selama tujuh menit sejak berdiri di sudut pos. Ketika semenit kemudian tiba-tiba seluruh lampu padam, aku bergerak ke sudut Orlando. Kilat yang sesekali menyambar memperjelas pandanganku padanya.

Orlando menatapku tak berkedip saat aku sudah berdiri di depannya. Dia diam ketika dengan perlahan kurapatkan diriku ke badannya. Aku menciumnya di bibir, tersiksa saat dia tidak membalas ciuman itu sedikit pun. Kutarik wajahku menjauh dan kutemukan dia masih menatapku. Aku mengerjap satu kali ketika kilat kembali berkiblat di langit. Satu tanganku bertumpu di pinggang Orlando sementara yang lain terulur ke wajahnya. Orlando tidak menolak dan tidak pula memberi respon menerima ketika jemariku menyentuh bibirnya yang baru saja kucium. Dia masih diam saat jemariku membelai bulu-bulu tipis di rahang dan dagunya sebelum turun ke dadanya melewati leher. Dalam keremangan, mata kami terus saja membuat kontak.

Aku menemukan kancing paling atas kemeja Orlando dan tidak mengalami sebarang kesulitan ketika membukanya. Jemariku bergerak perlahan ke kancing berikutnya dan berhasil membukanya sama cepat dengan kancing sebelumnya. Kini, jemariku menyusuri permukaan dada Orlando sebelum menuju ke kancing ketiga.

Kumajukan diriku lebih rapat pada Orlando, mencari-cari bukti atas rangsangan yang kuberikan terhadapnya di depan tubuhnya. Aku menemukannya, namun hingga aku berhasil membuka kancing ketiga kemejanya dan tanganku yang satunya bergerak meninggalkan pinggang menuju kait celananya, dia masih diam kaku.

Aku berharap dia membalas perlakuanku. Membelit pinggangku dengan sebelah lengannya, menarik kepalaku mendekat ke wajahnya dengan tangannya yang lain, aku berharap dia mencium dan meremukkanku dalam dekapannya. Namun Orlando tidak melakukan satupun.

Saat tanganku siap bergerak ke bawah pusarnya setelah berhasil melepaskan kait celananya, saat itulah dia bersuara yang seakan menyentakkanku kembali pada realita. Ucapannya mengirisku hingga menggigil…

“Kita udah putus, Dil…” Gelegar petir setelah ucapan lirih Orlando terasa bagai untuk menyadarkanku akan kalimat laki-laki yang masih kurapati di depanku. “kita udah putus…” ulang Orlando sama pelan dengan ucapan sebelumnya. Nada ucapannya merangsang mataku untuk berkabut.

Kutarik kedua tanganku untuk meninggalkan dada dan perutnya. Dengan perasaan terluka dan malu, aku mundur selangkah. 

“Jangan memaksakan diri, Kita tidak seharusnya melakukan itu di saat tidak lagi berstatus sebagai kekasih…”

Aku mengangguk, sengaja kutundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahku dari pandangan Orlando meski aku yakin kalau dia tahu jika kini aku sedang berair mata. Kubalikkan badanku lalu berjalan menuju sudutku sebelumnya untuk menyongsong kesepian dan kedinginanku kembali.

Setelah kejadian ini, mendapatkan kembali Orlando sebagai Orlandoku yang dulu rasanya bagai sebuah kemustahilan saja. Aku ingat bagaimana dia dulu selalu saja mengambil setiap ada kesempatan untuk membuat kontak fisik denganku, setiap ada kesempatan, setiap ada kesempatan. Sekarang? Keadaan sudah sepenuhnya terbalik. Aku terlalu bodoh berpikir bahwa seks akan mengembalikan seluruh kehangatan Orlando padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Kenyataan yang sebenarnya adalah, ayam jantan muda tidak memperoleh kembali kebersamaannya yang indah dengan ayam betina muda sampai ia terbiasa dengan kesepiannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Mid January 2015 

Dariku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com