Somethin' Happened Between Us On Tengger Caldera cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Ada yang mengernyitkan dahi ketika melihat judul ‘kereta api’ di atas? Atau ada yang menganggap tajuk fiksiku kali ini tidak keren sama sekali? Atau, ada yang lebih parah, langsung mengklik ikon close di sudut kanan atas dan membuka new tab untuk situs baru karena batal baca? Semoga tidak ada, karena aku benar-benar menikmati proses menulis SOMETHIN’ HAPPENED BETWEEN US ON TENGGER CALDERA ini, dan kuharap kalian juga bisa menikmati ketika membacanya.

 

Note :

Sudut pandangnya ganti-ganti, harap konsen biar gak bingung😀

Dan… happy new year

 

Wassalam.

n.a.g

##################################################

 

“Selalu ada pertama kali untuk setiap hal”

Ketika kanak-kanak, kita memiliki langkah pertama,

meski kita tak ingat pernah melakukannya

Saat remaja, kita punya cinta pertama,

meski tidak semua remaja merasakannya

Ada beberapa ‘pertama kali’ yang tidak mudah,

yang membutuhkan semangat hebat seorang pejuang,

dan tekad baja para prajurit,

dan keberanian luar biasa seorang superhero,

dan usaha pantang lelah para pekerja keras,

juga kesabaran mengagumkan para nabi,

serta keyakinan kuat seorang hamba Tuhan…

Namun kau sama sekali tidak memerlukan semua energi positif itu

pada saat jatuh cinta pertama kali.

Kau tak perlu jadi pejuang untuk jatuh cinta,

tak usah jadi prajurit,

tak harus jadi superhero,

tak mesti jadi pekerja keras,

apalagi sampai mengaku nabi,

meski kau memang hamba Tuhan,

semua itu tak perlu!

Cinta hanya membutuhkanmu untuk jadi diri sendiri ketika ia singgah,

karena cinta tidak diperoleh dengan perencanaan,

ia muncul tiba-tiba seperti hantu,

bahkan di saat kau belum mempersiapkan diri untuknya…

*

KAMU EGOIS…!!!

Itu sebuah tuduhan menyakitkan.

Sakitnya akan jadi dua kali lipat jika tuduhan itu keluar dari mulut teman yang selama ini sudah kau anggap sebagai sahabat sejati.

Kenyataannya, tidak semua sahabat sejati benar-benar sejati. Kemungkinan, sejak awal kita malah telah salah menganggap teman kita sebagai sahabat sejati, padahal bukan. Sialnya, itu terjadi padaku. Aku telah salah menganggap teman-temanku sebagai sahabat sejati, dan aku nyaris tak memercayai itu.

Mereka semua brengsek. Dasar teman-teman setengah takaran. Dasar pembual. Pada saatnya nanti, aku akan membalas mereka. Sungguh, murkaku sudah di ujung lidah dan terkepal di kedua tangan, andai saja mereka ada di depanku malam kemarin, pasti mereka sudah kumaki dan kuberi bogem mentah sampai babak belur.

Bagaimana tidak? di saat semua persiapan sudah rampung, tiket sudah ditebus, ransel sudah dipersiapkan, mereka malah mengundurkan diri sepuluh jam menjelang keberangkatan. Dasar evil.

Namun, mustahil bagiku untuk tidak terus. Aku sudah semantap ini. Akan kubuktikan pada mereka, kalau aku bisa lebih berani dari yang mereka sangkakan, kalau aku juga bisa membuat mereka tercengang. Akan kubuktikan, kalau tanpa mereka, Roryan Ash-syafiqi juga mampu berdiri sendiri…

***

Udara dini hari di kawasan Cemara Lawang benar-benar mencucuk hingga ke sumsum tulang. Bahkan sudah berjaket di dalam mobil pun dinginnya tetap terasa. Meski demikian, keadaan ini memang seperti yang kuingat. Aku berusaha mengintip arlojiku, dua puluh lima menit melewati pukul satu dini hari. Kami tiba terlalu awal, padahal aku sudah menjadwalkan tiba pukul setengah tiga pagi. Tapi mobil rental yang dihubungi Yudhist datang menjemput kami di Probolinggo lebih cepat dari jam yang sudah disepakati. Supirnya Mas Edi. Yudhist sudah memakai jasanya Mas Edi sebanyak dua kali sebelum ini. Si Mas, sama seperti teman-temanku yang lain kini juga tampak sangat nyaman di joknya dengan mata terpejam.

Dengkur halus mulai terdengar di dalam mobil. Aku iri pada mereka. Harusnya aku tidak minum kopi saat makan malam tadi. Kualihkan indera dengarku pada suara Justin Timberlake yang mengalun dengan volume kecil lewat speaker smartphone Agung yang duduk di sampingku, sekarang lagunya Love Sex Magic. Ah, para musisi pada dasarnya memang pujangga cinta ulung, mereka bisa menulis lirik-lirik lagu cinta sedemikian apiknya, bahkan yang jorok sekalipun. Aku menyamankan posisi dan berusaha memejamkan mata, berharap bisa mengikuti jejak orang-orang lain di mobil ini. Namun hingga berderet lagu Justin Timberlake susul-menyusul masuk ke kupingku belum juga kantuk mengasihaniku.

Rasanya aku baru akan nyaris berhasil masuk ke alam tidurku ketika lampu mobil yang memasuki area parkir di lereng Bromo ini menyorot tajam di kaca sebelah jok yang kududuki. Tidak hanya sekali. Sepertinya sudah ramai pendaki yang tiba. Kubuka mata dan coba melihat ke luar lewat kaca, warung-warung instant di sekitaran area parkir juga sudah mulai menggeliat bangun. Kudapati diriku seakan sedang bernostalgia.

Aku tersenyum di jokku. Faktanya, sudah tiga kali datang kemari dalam kurun waktu tiga tahun terakhir sama sekali tidak membuatku bosan. Ini kunjungan keempatku.

“Mulai ramai, Res?”

Di sebelahku, Agung ikut menyurukkan kepalanya mendekati kaca mobil. Ia baru terjaga, atau memang sejak tadi karibku ini tidak benar-benar tidur di balik matanya yang terpejam. Bisa jadi ia juga sepertiku yang mengelabui diri-sendiri, berharap dapat tidur dengan memejamkan mata saja.

“Sepertinya ini akan jadi akhir pekan yang sesak di Bromo,” jawabku tanpa mengalihkan perhatianku. Di luar sana, berseberangan dengan tempat mobil Mas Edi terparkir, seorang anak baru saja membuka pintu mobil jenis carry yang ditumpanginya dan ia langsung menggigil. Anak yang kuperkirakan masih SMA itu berdiri memeluk tubuh, kabut bergulung-gulung keluar lewat hidung dan mulutnya setiap kali ia menghembuskan napas. Kupluknya miring dan lehernya terbuka. First time. Kudapati diriku kembali tersenyum ketika tak berapa lama kemudian anak itu tergesa-gesa membuka pintu mobil dan kembali melenyapkan diri ke dalamnya.

Aku masih memandang mobil carry yang berjarak belasan meter dari tempatku berada beberapa saat kemudian sebelum berbicara dengan Agung yang sepertinya kembali memilih menutup mata. “Hardtopnya udah beres belum, Gung?”

Agung menggumam sebelum menjawab, tak mau repot-repot membuka mata untuk sekedar melirikku. “Belum gue hubungi lagi sih, terakhir tadi pas masih di Probolinggo Mas Ributnya udah deal kok. Tenang aja.”

Di antara kami berlima, aku dan Agung unggul karena ini kali keempat kami menjejakkan kaki ke Bromo, kunjungan ketiga bagi Yudhist, sementara buat Dheo dan Pras ini adalah kesempatan perdana mereka. Ironis sekali memang, dua temanku terakhir itu sangat bersemangat sepanjang perjalanan kereta api siang tadi, namun mereka jadi orang pertama yang menyerah pada kantuk dan dingin ketika mobil sudah memasuki kawasan Bromo.

Suhu yang dingin membuat kandung kemihku mengulah. Kupakai kuplukku dan kurapatkan jaket secara serampangan lalu keluar menuju toilet berbayar yang ada di lahan parkir ini. Sekilas, aku kembali melihat pintu mobil carry tadi kini terbuka lagi, sepasang kaki bersepatu sport menjulur keluar. Sepertinya si anak SMA sedang mencoba peruntungannya sekali lagi. Dalam perjalanan ke toilet, kulihat anak itu mendongak langit sejenak.

Aku berjalan melewatinya.

***

Kupikir, segalanya akan mudah. Ternyata tidak. Aku merasa asing dengan semua yang ada di sini. Untuk pertama kalinya sejak berangkat dari Gubeng Surabaya, aku merasa begitu sendirian dan begitu jauh. Untuk pertama kalinya juga aku mulai berpikir jika seharusnya aku tidak di sini. Bromo mendadak tampak tidak semenarik beberapa minggu lalu ketika dengan berapi-apinya aku dan teman-teman ‘setengah matangku’ merencanakan trip perdana ini.

Menyinggung teman, aku kembali teringat bagaimana menyebalkannya sikap teman-temanku ketika membatalkan rencana begitu saja dengan mudahnya, seenak perut mereka.

‘Ro, sepupuku yang di Bandung rupanya menikah lusa. Aku tidak diberitahu sama sekali sampai tadi sore kulihat Papa Mama mengepak barang. Mereka lupa mengabarkan padaku. Jadinya aku tahu dadakan begini. Aku juga udah ngabarin Riki sama Rei. Sorry, Ro… kalian ke Bromonya bertiga aja ya. Tag keseruan kalian di sana ke akun pesbukku, jangan sampe enggak! Aku ngepak dulu.’

Itu kata Radit ketika meneleponku jam tujuh malam, seakan tau kalau aku akan merepet, kadal itu langsung menutup telepon dan mengabaikan panggilanku berkali-kali setelahnya. Aku bersumpah tidak akan ngasih contekan apapun lagi pada makhluk itu. Aku kesal dengan pilihannya. Tidak bisakah dia memilih untuk konsisten pada agenda kami ketimbang menghadiri acara nikahan gak penting itu? sekali lagi, nikahan. Ya Tuhan, siapa yang peduli kalau dia tidak hadir di acara nikahan yang membosankan itu? kerabatnya tidak akan merasa kehilangan jika dia absen di sana. Remaja cowok kelas tiga SMA gak hadir di acara kawinan, bukankah itu perkara biasa?

Dan ternyata bukan hanya Radit yang brengsek. Kini, percakapanku―masih via telepon―dengan Riki juga kembali diputar.

‘Ro, udah dapat kabar dari Radit?’

‘Udah. Bener-benar sialan tuh anak!’

‘Nah itu, Ro… aku paham kalau kamu bakal marah. Tapi mau gimana lagi…’

Feelingku sudah langsung buruk ketika mendengar nada bicara Riki saat itu.

‘Jangan bilang kalau nenekmu juga menikah lusa!’

‘Eng… bukan menikah, Ro… tapi besok nenekku berulang tahun yang ke sembilan puluh satu. Aku sama sekali gak ingat kalau tanggal keberangkatan kita sama dengan tanggal lahir nenekku…’

Pada banyak kasus ketidaksertaan Riki di beberapa agenda kami yang sudah-sudah, selalu saja disebabkan dan berkaitan dengan neneknya. Neneknya yang sedang sakit, neneknya yang ingin ditemani minum teh, neneknya yang sendirian di rumah, neneknya yang harus beli kain batik baru ke pasar inpres, neneknya yang minta diantar ke penjahit kebaya langganan, neneknya yang tak punya teman menonton telenovela, neneknya yang shock karena nyaris ketabrak becak di jalan depan rumah dan neneknya yang blah-blah-blah. Benar-benar penganiayaan bagiku kalau sang nenek juga ternyata berulang tahun hari ini.

‘Ki, kamu tega ya…!’

Aku yakin Riki bisa mendengar suara gigiku yang beradu saat itu.

‘Maaf, Ro… kamu kan tahu gimana sayangnya Nenek sama aku. Belum tentu loh aku masih sempat menyanyikan happy birthday buatnya tahun depan…’

Saat mendengar kalimat yang itu, aku tak bisa berkata-kata meski aku sangat ingin mendamprat Riki habis-habisan. Kalau saja dia tidak lupa tanggal ultah neneknya, kami pasti sudah menentukan tanggal berbeda untuk ke Bromo ketika sama-sama menyusun rencana.

‘Ro, jangan marah ya…’

‘Tunggu saja sampai aku dan Rei bertemu kamu dan Radit.’

‘Rei gak marah, aku lebih dulu ngabarin dia.’

‘Kamu dan Radit akan menyesal saat aku dan Rei pulang dari Bromo nantinya.’

‘Iya, aku pasti akan sangat menyesal. Tapi gak tau dengan Radit, di Bandung kan ada Trans Studio, ya?’

Mendengar kalimat Riki, aku jadi paham mengapa Radit lebih memilih hadir ke acara nikahan sepupunya. Anak itu memang menyukai hal-hal seperti Trans Studio dan semacamnya. Tapi tetap saja, dia keterlaluan dengan lebih memilih ke sana ketimbang ke Bromo.

Dan harapanku kandas ketika Reifan bersikeras tak mau pergi jika kami hanya berdua. Perdebatanku paling sengit terjadi dengan Reifan. Aku benci mengingat bagaimana Reifan berusaha sangat keras meyakinkanku untuk membatalkan saja agenda kami dan sebaiknya pergi ke Bromo saat liburan tahun depan. Sepertinya dia lupa kalau tahun depan kemungkinan besar kami tidak akan barengan lagi, mengingat kami akan segera lulus dan meneruskan pendidikan masing-masing ke tempat berbeda. Aku tidak suka sikap Reifan yang kekanakan menurutku. Kuanggap dia pengecut sekaligus pecundang karena tak ingin pergi jika hanya berdua. Dia marah besar ketika kukatai tak setia kawan dan balas menyebutku egois. Oh Tuhan, seharusnya dia mengalamatkan kata itu buat Radit atau Riki, menurutku mereka yang lebih berhak mendapatkannya ketimbang diriku. Rasanya aku dan Reifan sudah resmi marahan sejak tadi malam.

Saat itu, kubulatkan tekad dan keyakinanku, akan kubuktikan pada mereka kalau tanpa mereka aku bisa berdiri dan mencapai mimpiku. Namun kini saat sudah berada tepat di kaki Bromo, aku kehilangan semua tekad dan keyakinanku itu, semua keberanianku. Lebih dari itu, aku kehilangan semangatku.

“Nak Rory mau Bapak belikan minum hangat?”

Pak Kusno, supir sekaligus pemilik mobil carry yang kusewa sejak dari stasiun Probolinggo lagi-lagi menawarkan kebaikannya padaku begitu selesai memarkir. Jika dipikir-pikir, sejak awal aku memang sudah sangat beruntung bertemu dengan Pak Kusno. Saat itu aku sedang linglung begitu keluar dari stasiun Probolinggo dengan ransel di punggung. Kupikir, aku bisa mendapatkan transportasi dengan mudah langsung dari stasiun, ternyata perkiraanku salah. Ketika adzan Ashar berkumandang dari mesjid berdekatan stasiun, kubawa kakiku ke sana. Dan hal itu terlihat bagai pertolongan Tuhan buatku.

‘Hendak ke Bromo, Nak?’

Itu pertanyaan pertama Pak Kusno saat kami sama-sama mengenakan kembali alas kaki masing-masing di undakan mesjid setelah shalat Ashar. Saat itu aku mengira kalau bapak-bapak yang menanyaiku itu memang sudah sering bertemu dengan anak-anak muda sepertiku yang hendak ke Bromo hingga langsung menanyakan demikian. Ketika Pak Kusno memberi tahu kalau dirinya sering mengantar pendaki Bromo, aku langsung ceria.

Kebaikan pertama Pak Kusno adalah, simpatinya ketika aku mengabarkan bahwa aku pergi seorang diri, hal yang jarang terjadi menurut Pak Kusno. Kebaikan kedua adalah saat beliau memberiku harga sewa murah untuk mobil carry tuanya ketika kuberi tahu bahwa aku bermaksud menggunakan jasanya.

‘Kalau Nak Rory tidak berencana beristirahat di wisma kawasan Bromo, sebaiknya berangkat ke sana nanti malam saja. Untuk sementara Nak Rory bisa nunggu di rumah Bapak…’

Dan kebaikan ketiga adalah saat aku duduk bersama istri dan dua putri belianya di meja makan rumahnya untuk makan malam. Belum pernah aku bertemu dengan orang sebaik Pak Kusno sebelumnya.

“Tak apa, Pak, saya keluar aja cari sendiri, sekalian ngeliat-liat…” jawabku.

Kutemukan raut Pak Kusno tersenyum mendengar ucapanku, “Di luar dingin, Nak. Langsung ke warung saja, ngopi-ngopi di sana biar anget sembari nunggu hardtop.”

Aku mengangguk. Menyinggung hardtop, aku sama sekali buntu akan hal itu. Dalam perjalanan kemari, Pak Kusno sudah menjelaskan tentang alat transport itu, dan lalu mewanti-wantiku agar berani menawar harga serendah-rendahnya ketika aku menolak tawarannya untuk mengurus hal itu.

‘Biasanya, ada kelompok-kelompok kecil dua atu tiga orang pendaki, kalau Nak Rory berani gabung dengan kelompok-kelompok seperti itu, lebih bagus lagi, sewa hardtopnya patungan. Toh satu hardtop bisa muat sampai tujuh atau delapan orang.’

Berbekal penjelasan Pak Kusno, aku yakin bisa menemukan salah satu kelompok kecil seperti dimaksud untuk menerimaku nantinya. Toh sama-sama gak ada ruginya juga. Modalku hanya perlu beramah-tamah dan sedikit SKSD tentu saja.

Namun sebelum itu, ternyata ada hal lain yang harus lebih dulu kutaklukkan.

Dingin.

Tepat ketika pintu mobil kubuka dan aku berdiri tegak di tanah, sensasi yang langsung kurasakan adalah layaknya mengikuti ice bucket challenge. Dingin mencucuk. Aku memang tau kalau suhu di Bromo itu extreme, tapi sama sekali tidak menyangka bakal sedingin ini. Kupaksakan diri menutup pintu mobil dan tetap berdiri memeluk diri sambil mulai menggigil. Saat aku bernapas, uap seperti asap rokok keluar dari hidung dan mulutku.

Ya ampun, ini sama saja seperti jika kita mengosongkan benda-benda dari dalam freezer dan ganti mendekam di dalamnya.

Tanpa pikir panjang, aku balik badan, kubuka pintu mobil dan kujejalkan diriku kembali ke sana.

“Brrr… dingin gila, Pak…!!!” seruku saat sudah duduk kembali di jokku.

Pak Kusno terbahak, “Kalau sudah lama di luar nanti jadi terbiasa. Nak Rory gak bawa syal?”

“Eng… perlu ya, Pak?” aku meraba leherku, kunaikkan resleting jaketku sampai leher.

“Banyak yang pakai syal sih, Nak, bahkan sarung tangan. Sebentar lagi pasti ada yang jual di luar, tapi ya biasa, Nak, kalau di tempat-tempat dimana benda itu sangat dibutuhkan… harganya mesti gak lumrah,” jelas Pak Kusno sembari tersenyum.

Aku ikut tersenyum dan kubetulkan letak penutup kepalaku hingga menutupi sebagian daun telinga. Sepertinya leher jaketku cukup tinggi, mungkin aku tidak butuh syal meski ide untuk membelinya berikut sarung tangan terlintas di kepala.

“Saya coba sekali lagi ya, Pak,” ujarku sambil nyengir pada Pak Kusno. Kubuka pintu mobil dan kujulurkan kakiku.

Sedetik kemudian aku sudah kembali tegak di tanah, kembali menggigil dan kembali memeluk diri. Kutemukan lahan parkir sudah nyaris penuh, dan calon pendaki Bromo berseliweran. Aku mendongak, langit penuh bintang tampak semarak, sekilas terlihat bagai gerombolan kunang-kunang di pekat malam. Seorang pemuda yang kuperkirakan mahasiswa melewatiku, berjalan tegap seakan suhu dingin sama sekali tak menjamahnya. Padahal, dia tidak bersyal dan tidak bersarung tangan, bahkan jaketnya yang sangat bergaya tidak tertutup hingga leher.

Aku iri.

Bukan pada jaketnya yang bergaya itu.

Tapi pada caranya mempecundangi dingin Bromo.

Maka kuturunkan tanganku dari memeluk badan dan sambil mengatupkan gigi rapat-rapat kubawa kakiku yang enggan ke sebuah kedai dimana kulihat asap mengepul di dalamnya dan aroma menggiurkan mie instant kuperkirakan berasal.

***

Aku menumpahkan mie instant di dalam warung. Tadinya mie instant itu tergeletak pas di tempatnya, siap dinikmati. Sekarang, wadahnya terguling di atas meja panjang berlapis vinyl dan sebagian isinya berceceran ke lantai. Beberapa orang di dalam warung menolehkan kepala, seorang pengunjung lainnya berkelakar dengan berkata kalau sekarang cup itu tidak akan punya kemungkinan untuk terguling lagi. Ibu-ibu yang punya warung dengan sigap membereskan kekacauan yang kuakibatkan.

Masalahnya adalah, cup itu bukan milikku. Pemiliknya kini sedang menatapku setelah sembuh dari kekagetan ketika wadah mienya rubuh menjauhi tangannya. Tatapannya tidak dengan marah, malah ia menampilkan ekspresi  yang membuatku sejenak lupa untuk berkedip. Ia lalu melengkungkan bibirnya untukku.

“Maaf, Kak… sepertinya aku menghalangi pintu.”

Saat si empunya cup berucap demikian sambil menggeser kursinya lebih rapat ke meja, aku sadar kalau ia adalah anak yang sebelumnya kulihat menggigil di sisi mobil carry belasan menit lalu. Apa ia baru saja minta maaf?

Aku menggeleng sambil berusaha menampilkan ekspresi ramah. “Aku yang sembrono hingga menyenggol lenganmu, jadi harap kamu memaafkan ketidak-hati-hatianku itu…” kutarik kursi lain di sebelahnya, kuulurkan tanganku buatnya lalu duduk. Kami bersalaman, tangannya dingin. Ia masih menampilkan senyumnya selama itu. “Pendakian perdana?”

“Iya,” jawabnya singkat.

Aku tidak mempersiapkan diri dengan respon singkatnya. Obrolan tentang Bromo menguar saat aku menatap cup mie instan milik pengunjung lain yang sama-sama duduk berderet di depan meja panjang. “Apa kamu masih berselera makan mie?” tanyaku dengan nada bergurau.

“Sesaat tadi aku nyaris berhasil memasukkan sendokan pertama ke mulut sebelum cup itu menumpahkan isinya.”

Aku tertawa saat mendengar respon panjangnya. “Bu, mie dua!” seruku pada si Ibu warung yang dibalas anggukan kemudian kembali fokus pada anak di sebelahku, “Sudah punya minum?” tanyaku. Ia menunjuk gelas kopinya yang pekat, mengepulkan asap tipis dari mulut gelas. “great!” pungkasku.

Tiba-tiba ia mengulurkan tangan, “Rory,” katanya.

“Oh… tentu saja.” Kembali kami berjabatan, kali ini untuk berkenalan secara sepatutnya. “Restu…” Kutemukan rautnya seperti menahan geli, “please… aku hapal gelagat itu, nama lengkapku bukan Mohon Doa Restu.”

“Itu tepatnya yang aku pikirkan,” timpalnya sambil tertawa pendek lalu melerai jabatan kami. “Kak Restu sendirian?”

Mendengar seseorang memanggilku kakak, entah bagaimana membuatku senang. Di rumah, tak ada yang memanggilku demikian. Itu adalah salah satu di antara beberapa kekurangan menjadi anak tunggal. “Apa asyiknya ke Bromo sendirian?” aku balik bertanya padanya sebelum berseru memesan kopiku. Kutemukan ia terdiam dan riak wajahnya berubah dengan serta merta.

“Ya, memang gak asyik,” jawabnya lirih lalu meneguk kopinya.

Mie kami datang, kopiku menyusul semenit kemudian. Kami makan dalam diam, menurutku, ia sengaja mendiamkan diri untuk alasan yang tidak kuketahui. Aku melarangnya membayar mie dan kopinya sendiri saat kulihat ia siap mengeluarkan dompetnya.

“Yang benar saja!” seruku.

Ia memandangku tak mengerti, “Apa?”

“Simpan balik dompetmu!” aku bangun dari duduk dan membayar pada ibu warung. Setelahnya kutepuk bahu anak di sebelahku dan kuberi ia sebuah kedipan dengan maksud bercanda, “Nice to meet you, Rory…” ia hanya memberiku anggukan kecil, tanpa sepatah katapun, tidak juga berterima kasih untuk kopi dan mienya yang kubayar dobel. Ada sesuatu yang membuatnya lupa melakukan itu, entah apa.

Aku keluar dari warung tepat ketika ponselku berdering. Aku tak fokus membaca nama penelepon yang tertera di layar, fokusku masih pada anak bernama Rory―yang juga mengira nama lengkapku seperti yang tercetak di undangan resepsi pernikahan, pada sosoknya yang unyu menurut unyunometero-ku.

***

Apa asyiknya ke Bromo sendirian?

Kalimat itu masih mengiang di kupingku hingga sekarang di saat aku sudah meninggalkan kedai kopi nyaris setengah jam lalu. Kalimat itu, yang diucapkan dengan keyakinan mantap oleh pemuda yang sempat membuatku iri karena berhasil mempecundangi dingin ketika di kedai sana seakan menegaskan bahwa aku yang nekat kemari sendirian adalah kesalahan.

Aku berdiri bimbang di antara reruntuhan minat dan puing-puing semangatku yang bertumpuk di ujung sepatu, siap menjadi abu. Pandanganku hampa pada lalu-lalang orang bersama kelompok-kelompoknya, putus asa pada hardtop-hardtop yang mulai berdatangan. Ide menemukan kelompok kecil mendadak tidak semudah yang kubayangkan. Dalam pandanganku, orang-orang seperti memperlihatkan keangkuhan mereka masing-masing. Aku kehilangan keberanian, lupa bagaimana caranya beramah-tamah. Bahkan aku tidak mengenali yang mana di antara orang-orang itu adalah pemilik hardtop untuk kusewa. Di tengah keramaian sosok-sosok angkuh itu, kurasakan sosokku menyusut hingga sebesar liliput dan mulai berpikir kalau diriku sekarang sedang berada dalam kondisi invisible.

Sendirian, kembali aku berdiri memeluk diri di satu sudut terasing. Aku ingin pulang, mendatangi Reifan dan mengakui kalau dia benar sepenuhnya. Kurasakan bahuku turun dan melengkung ke dalam, kondisiku tak ubah layaknya anak ayam sehari yang baru saja memecahkan cangkang dan langsung tersiram hujan.

Kutatap carry Pak Kusno di kejauhan yang hampir tak terlihat di antara lautan mobil-mobil mewah itu. Aku siap menyerah untuk kembali ke sana, beralasan sakit kepada pria paruh baya itu agar membawaku pergi tanpa keraguan dari sini, ketika suara bass yang beberapa saat lalu sempat diakrabi telingaku menyalakan kembali segala keyakinan dan membakar setiap asa lalu mengobarkan semua semangatku hingga membara.

“Sendirian ke Bromo memang gak asyik, tapi incredible.” Senyumnya menular padaku. “Aku akan berlutut memohon jika Dik Rory menolak ikut denganku…”

Aku tak perlu menunggu untuk menganggukkan kepala, meski keinginan melihatnya berlutut untukku tampak begitu menggoda. “Iya, aku bersedia ikut Kak Mohon Doa Restu kemanapun selama di Bromo…”

***

Mas Ribut menyalami kami berlima. Namanya pernah menjadi bahan kelakar pada kesempatan sebelum ini, begitu juga sekarang. Dheo dan Pras yang baru pertama kali berjumpa dengan Mas Ribut langsung mesem-mesem begitu Agung memperkenalkan supir hardtop kami itu ke mereka.

Well, memiliki nama Ribut memang sesuatu. Agung pernah bercanda menebak Angin Ribut sebagai nama yang tercetak di KTP dan buku nikah mas Ribut, dan Yudhist sempat berkelakar dengan kalimat-kalimat seperti ‘Mas Ribut dulu pas lahir pasti tangisnya ngebangunin orang-orang satu kelurahan, kan?’ atau ‘Pasti dulu ibuk sama bapaknya Mas cekcok kan saat milih nama buat Mas Ribut?’ dan kalimat-kalimat senada itu.

Seperti sekarang, saat Pras sambil menahan geli berujar ‘Nama Mas mengingatkanku pada kata disturb dalam kamus Bahasa Inggris’, Mas Ribut juga dulu menanggapi Agung dan Yudhist dengan senyum ramah serta sikap jumawa khasnya.

“Nama tidak sepenting yang digembar-gemborkan orang-orang, Mas, sing penting pribadine,” begitu Mas Ribut merespon, dan dalam diam kami semua sepakat untuk selalu menggunakan hardtopnya kalau berkesempatan ke Bromo lagi. “Ada barang-barang yang perlu dibawa ke atas, Mas?”

Agung menggeleng, “Palingan cuma kamera aja, Mas, biar diurus sendiri-sendiri,” jawab Agung lalu mendahului menuju tempat Mas Ribut memarkir hardtopnya.

Kuperiksa kamera DSLR yang baru saja kugantungkan di leher. Ini adalah kali pertama benda digital ini naik Bromo, aku baru membelinya tiga bulan yang lalu. Tripod berada dalam bagnya, tersandang di bahu Dheo. Selain aku, Pras dan Yudhist juga membawa kamera DSLR mereka sendiri.

Aku ingin bergerak menyusul Agung dan yang lain ketika ekor mataku menangkap sosok itu. Di sudut luar sebuah warung, anak yang sempat membuatku hilang fokus ketika menjawab telepon Agung belasan menit lalu yang kuingat bernama Rory berdiri seorang diri, memeluk tubuhnya, lagi. Kini aku memperhatikannya dengan lebih seksama. Tiga menit. Dan ia masih berdiri di sana, menatap kosong pada apapun yang sedang ditatapnya. Kubawa pandangan ke sekitarnya, mencari-cari siapapun yang bisa kuanggap sebagai rekannya dalam perjalanan mendaki Bromo, namun semua orang di sekitar anak itu seperti mengacuhkannya.

Ia sendirian.

Aku ingat perubahan riak wajahnya ketika kami berbicara di warung, dan semakin yakin kalau ia sendirian. Aku merasa bersalah padanya. Ucapanku ketika di dalam warung sana sungguh tidak sepatutnya. Seharusnya aku lebih peka ketika ia mengajukan pertanyaan ‘Kak Restu sendirian?’ kepadaku. Aku masih berdiri memperhatikan Rory hingga tiga menit kemudian, seakan ikut merasakan kegelisahannya. Dalam penglihatanku, anak itu terlihat begitu rentan, dan naluri kedewasaan dalam diriku berkata bahwa aku harus melindunginya.

“Res…!” Aku menoleh ke jurusan hardtop Mas Ribut, Yudhist berdiri di ambang pintu, melambai padaku. Agung dan yang lainnya sudah berada di dalam hardtop. “Tunggu apa lagi?!?” Yudhist lanjut berseru.

Aku memberi isyarat tangan pada Yudhist untuk menunggu, lalu dengan mantap kugerakkan sepatuku menuju pojok terasing tempat Rory kuperkirakan sudah siap menyerah.

“Sendirian ke Bromo memang gak asyik, tapi incredible,” ujarku begitu tiba di depannya. Aku tersenyum ketika kami bertatapan. Tatapannya yang sesaat tadi tampak kosong mendadak cerah seperti lampu senter elektrik baru dicas. “Aku akan berlutut memohon jika Dik Rory menolak ikut denganku…” Aku tak sempat berpikir ketika berucap demikian. Kuharap anak ini tidak menggelengkan kepalanya. Meski aku tidak keberatan melakukannya, tapi berlutut di depan seorang remaja laki-laki di pagi buta di tengah dingin di tempat seramai ini pasti terlihat konyol dan menggelikan. Aku bernapas lega ketika kulihat ia menganggukkan kepalanya.

“Iya, aku bersedia ikut Kak Mohon Doa Restu kemanapun selama di Bromo…”

Aku tertawa. “Restu Semesta, okey! Awas kalau kamu manggil aku Mohon Doa Restu lagi!” ancamku, dan Rory hanya mengedipkan matanya sebagai respon. “Ayo, nanti kita terlambat sunrise!” aku balik badan.

“Aku meninggalkan kameraku, masih di ransel.”

Kembali aku menghadapnya, “Apa kameramu lebih keren dari yang ini?” kuangkat kamera yang menggantung di depanku.

Rory menggeleng.

“Kalau begitu kamu tidak meninggalkan apapun. Ayo!” sekarang aku menyambar tangannya dan kubawa berjalan.

“Dari mana Kak Restu tahu aku sendirian?” tanya Rory ketika kami sudah setengah jalan ke hardtop.

Aku melepaskan peganganku pada tangannya. “Feeling orang dewasa, mungkin.” Di sampingku, Rory mengulum senyum.

“Sesaat tadi aku nyaris menyerah pulang…”

“Sedetik tadi aku juga nyaris membiarkanmu menyerah pulang.”

“Kak Restu memperhatikanku?”

“Tidak dengan sengaja, okey!” aku menolehnya, “jangan terlalu senang.”

Rory tertawa. “Makasih.”

“Hemm.”

Kami tiba di hardtop, disambut tatapan heran dan ingin tahu dari seisi kendaraan gahar itu.

Dudes, kenalkan, ini adek gue, Rory,” kataku pada keempat temanku di dalam hardtop, Rory sontak menolehku, mungkin kaget dengan perkataanku.

“Kapan lu punya adek, Res?” Agung yang sudah bertahun-tahun mengenalku bertanya.

“Barusan tadi,” jawabku yang membuat Agung langsung terbahak.

“Kok gak mirip?” Pras dengan begonya bertanya.

“Itu adeknya Restu beda mama beda papa, Pras.” Yudhist menimpali.

Welcome, Rory.” Pras jadi orang pertama di dalam hardtop yang mengulurkan tangan dan Rory menyambutnya ramah sambil tersenyum canggung.

“Ini Prasetyo, calon rentenir,” ujarku memperkenalkan Pras yang kuliah perbankan pada Rory, semua orang terpingkal, bahkan Mas Ribut ikut terbahak ribut di balik kemudi. “yang ini Dheo―”

“Kembarannya Dorant,” potong Agung, “Kalau mereka sedang bersama panggilannya jamak jadi Dheodorant.” Dan tawa kembali memenuhi hardtop, bahkan Dheo yang kena ledek juga terpingkal.

“Jangan percaya mereka, Rory, aku gak punya kembaran,” konfirm Dheo sambil menjabat Rory yang mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Yang sangar ini Yudhistira, mantan anak buah satpam komplek tempat tinggalnya sebelum dipaksa bokapnya buat milih antara kampus atau pos satpam.”

“Kambing lu, Res,” cetus Yudhist padaku sebelum menyalami Rory yang masih tertawa. “Rory, coba tebak apa yang kupilih saat itu,” pinta Yudhist.

“Kampus, kan?” jawab Rory sambil mengernyit.

“Dia milih pos satpam, setelah ditempeleng bokapnya kiri kanan dua kali baru milih kampus,” cetus Agung yang dibenarkan Yudhist dengan pasrah.

“Nah, kalau yang kayak santri itu namanya Mas Agung―”

“Jangan ketipu sama janggutnya ya, Rory, playboy sejati nih si Mas Agung, kalau dia artis, infotainment mulai dari yang jadul kayak kabar-kabari sampe yang udah dapet Panasonic Awards berkali-kali kayak Silet udah bosen beritain kasus putus pacarannya yang tak terhitung kali.” Dheo memotong ucapanku dan Agung langsung menonjoknya lebih dahulu baru kemudian menyalami Rory.

“Justru itu, Kak Dheo, jika punya tampang keren kayak Mas Agung ini, malah rugi besar kalau gak jadi playboy,” kata Rory saat menyambut uluran Agung. Aku bertanya-tanya kenapa ia membeda-bedakan sapaannya buat temanku. Ah, tidak, sepertinya bukan itu tepatnya, aku ragu jika sebenarnya diriku cemburu karena ia juga menyapa Dheo dengan sapaan kakak. Mauku, cukup aku saja yang dipanggil kakak olehnya.

“Nah, ini nih yang benar. Seumur idup baru pertama kali gue denger pernyataan yang bener kayak gini.” Agung mengguncang-guncang jabatannya, “You’re rock, Lilbro!” lanjutnya sambil mengubah salamannya dengan Rory jadi panco style lengkap dengan guncangannya.

Aku senang.

Tawa Rory terdengar enak di kupingku. Kudapati diriku menyukai cara anak itu tertawa. Lebih dari itu, aku senang Rory diterima teman-temanku di hardtop Mas Ribut.

Sesaat kemudian, kudorong Rory untuk masuk ke hardtop, kami duduk berdekatan. Dan ketika Mas Ribut mulai mengemudi, keempat temanku mulai menginterogasi remaja sebatang kara itu, mulai dari mengapa ia berani ke Bromo sendirian sampai kepada bagaimana ia bisa kubawa ke hardtop. Aku diam selama Rory bercerita, membiarkan teman-temanku mengataiku rabun ketika Rory menceritakan insiden di warung dan batuk-batuk tak jelas ketika Rory mengakhiri cerita dengan kalimat : aku beruntung ketemu orang sebaik Kak Restu dan lalu bisa ketemu orang-orang baik lainnya di sini.

***

“Nah, ini namanya Gunung Penanjakan.”

Di sebelahku, laki-laki yang beberapa saat lalu sudah kunobatkan dalam hati sebagai dewa penolongku memberitahu ketika hardtop yang kami tumpangi diam dari lajunya yang berguncang-guncang.

“Aku pernah baca di Wikipedia, Kak. Spot sunrise, kan?”

Mas Agung tertawa pendek, “Tuh, Res, adikmu udah baca di Wikipedia, sok guide sih lu,” ledeknya.

Respon Mas Agung membuatku menyesal telah menanggapi kalimat Kak Restu dengan ucapan demikian. Kutoleh dia, sulit menebak ekspresinya dalam keadaan gelap begini rupa. Tapi samar-samar aku dapat mendengar gumaman kesalnya yang ditujukan buat Mas Agung.

“Kita tiba tepat waktu nih, jam tiga tiga puluh,” Mas Yudhist yang duduk paling dekat dengan pintu turun pertama kali. Aku dan Kak Restu jadi yang paling belakangan keluar dari hardtop.

“Gung, senternya,” ujar Kak Dheo.

Di antara mereka berlima, selain Kak Restu, Kak Dheo adalah orang kedua yang tidak mengajukan banyak pertanyaan padaku ketika di dalam hardtop tadi, sedang tiga lagi mas-mas sahabat mereka menanyaiku layaknya reporter dikejar deadline. Dan, aku hanya menggunakan sapaan ‘kak’ buatnya dan Kak Restu, selebihnya kupanggil ‘mas’. Tak ada alasan khusus, lidahku merasa enak menyebut ‘kak’ untuk dua orang itu dan terasa luwes memanggil ‘mas’ untuk tiga lainnya, empat termasuk Mas Ribut yang dalam remang-remang sorot lampu hardtop lain yang baru tiba kulihat sedang berbicara dengan sesama supir sambil menyulut rokok.

Mas Agung mengeluarkan dua senter dari bag sandang mini yang dibawanya. Satu diserahkan pada Kak Dheo dan satu dipegangnya sendiri. “Lu bawa sendiri kan, Res?”

Kak Restu tak menjawab, dia membuka zipper saku jaketnya dan mengeluarkan senter kecil dari sana, langsung diserahkan padaku begitu menyala. “Pastikan kita berdua gak sampai nginjak tahi kuda,” ujarnya.

Aku bengong dengan lampu senter menerangi sebagian wajah, kedua lenganku langsung kembali bersidekap dada setelah menerima senter. Rasanya sangat sulit bagiku untuk tidak memeluk tubuh dalam suhu kulkas seperti ini. “Tahi kuda?” tanyaku.

“Rory gak ngebaui ya?” Kak Dheo membawa nyala senternya ke kakiku.

Saat itulah aku baru sadar akan bau yang masuk hidungku sejak turun dari hardtop. “Ngebaui, tapi karena gak pernah nyium bau tahi kuda sebelumnya jadi gak ngeh.”

Mas Yudhist terbahak diikuti Mas Pras, sedang Mas Agung hanya berdecak sambil geleng-geleng kepala. “Ah, adikmu, Res…,” ujar Mas Agung setelah kepalanya diam.

“Nanti akan kutunjukkan seperti apa rupa tahi kuda segar padanya.”

Aku memelototi Kak Restu meski tak yakin dia menyadari apa yang kulakukan.

Beberapa pendaki melewati kami, berkelompok-kelompok, ada juga yang berpasangan, mereka mulai mendaki. Nyala senter terlihat di sepanjang jalur pendakian. Di bawah sana, aku bisa melihat iring-iringan hardtop yang menuju ke atas sini, saat kuhalakan lampu senterku ke sisi jalur, di satu area datar kutemukan kuda-kuda tertambat berderet. Sayup-sayup aku bisa mendengar ringkik mereka.

“Kalau pakai kuda bayar berapa, Kak?” aku berbisik pada Kak Restu, cukup pelan agar tidak didengar temannya yang lain.

“Kamu mau naik kuda? Kenapa? Gak sanggup ngedaki? Jangan takut, nanti kalau gak sanggup aku bopong deh.”

Ucapan Kak Restu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Dan dia ngawur. Siapa yang mau naik kuda? Siapa yang gak sanggup ngedaki? Siapa yang mau dibopong? Apa dalam pandangannya aku semanja itu? huh!

“Mau taruhan? kalau aku sampai harus dibopong atau naik kuda saat mendaki gunung apapun di sini, aku traktir Kak Restu apapun yang Kakak makan seharian nanti. Tapi kalau tidak, Kak Restu yang bayarin apapun yang aku makan selama satu harian ini.”

Kak Restu tersenyum saat aku menyorot mukanya sekilas. “Sebentar, aku lihat dompet dulu.” Dia bertindak seakan hendak merogoh saku belakangnya.

Aku tertawa dan memukul lengannya, tawaku menular padanya.

“Gimana, naik sekarang gak?” Mas Yudhist berseru.

Sebagai jawaban, Mas Agung langsung berjalan di belakang rombongan kecil pendaki yang baru saja melewati kami, di kirinya mengikuti Mas Pras, mereka berdua berbagi cahaya senter.

“Yo, sepatu gue baru, awas aja kalau sampai ada tahi kuda yang keinjek!” Mas Yudhist mengancam Kak Dheo yang memegang senter. Tak merespon, Kak Dheo berjalan mengekor dua rekannya yang sudah berjalan lebih dulu. Mas Yudhist mensejajari langkahnya, berjalan sambil menunduk untuk mewaspadai apapun yang tidak boleh sampai keinjak sepatu barunya.

“So, Tuan Pemula, sudah siap untuk menuju negeri di atas awan?”

Kutatap tangan polos Kak Restu yang terulur ke arahku. “Apa kita harus bergandengan?”

Dia tertawa pendek, “Aku khawatir kamu akan berjalan sambil memeluk tubuh sampai ke atas jika satu tanganmu tak kupegang.”

Aku tau ucapannya hanya candaan, meski begitu aku tetap menurunkan kedua lengan dan mendahuluinya berjalan setelah memukul pelan pergelangan tangannya yang terulur, menolak bergandengan karena aku tak ingin dianggap remeh.

“Oh, baiklah bocah sombong! Nanti saat kamu minta diseret di tengah perjalanan, aku tak akan mengulurkan tanganku untukmu.”

“Tenang saja, Kak, aku gak akan minta.”

***

Badanku mulai hangat. Pendakian Penanjakan baru terlewati setengah, dan kuda-kuda yang dituntun tuannya makin sering memapasi kami dengan penunggang yang kebanyakan perempuan, mereka tak sanggup berjalan lagi rupanya, selalu begitu. Semua orang merasa mampu pada awalnya, menganggap enteng menaklukkan kemiringan, namun begitu sudah merasakannya, tak sedikit yang menyerah.

Aku menoleh Rory, tersenyum sendiri menemukan ia yang ngos-ngosan sambil terus menyenter jalan. Aku yakin ia sudah melihat sendiri tahi kuda yang masih baru, karena sudah belasan kuda yang melewati kami dan beberapa diantaranya berjalan sambil buang hajat, orang-orang menyingkir ke tepi setiap ada kuda yang lewat, beberapa ada yang langsung menutup hidung.

Salah seorang pendaki yang berjalan paling pinggir dari kelompoknya  bersenggolan bahu dengan Rory, ia mendecak kesal dan berusaha memantapkan pijakannya kembali. Kelompok itu melewati kami begitu saja.

Aku berhenti berjalan dan menghadapnya, “Hal seperti itu biasa terjadi di jalur Penanjakan ini, Dik, apalagi ini akhir pekan, pengunjung membludak. So, berusahalah untuk memaklumi.”

“Remember? This is my first time,” jawabnya setengah jutek lalu kembali ngos-ngosan.

Aku memandang ke depan, tak kutemukan satupun punggung rekanku di antara para pendaki-pendaki itu, mereka pasti sudah jauh. “Ayo, matahari tidak menunggu kita, tapi kita yang harus menunggunya bangun. Kamu tak ingin melewatkannya, kan?”

Rory tak menjawabku, kakinya kembali menapak. Kuterka ia tak pernah berjalan kaki dalam jarak yang lumayan jauh hingga ketika berhadapan dengan situasi seperti sekarang ia tampak agak kepayahan. Aku menyusulnya.

“Kenapa kita harus melihat sunrise dari Gunung Penanjakan? Kenapa gak langsung dari Bromo saja?”

“Kamu akan mendapatkan jawabannya saat sudah tiba di atas.”

“Oh, ayolah, Kak!”

“Wikipediamu bilang apa?”

“Wikipedia gak menyebutkan tentang itu.”

“Sayang Agung gak di sini buat meledekku.”

Rory tertawa dan berhenti melangkah. “Gerah, Kak, kemana suhu dingin yang sedari tadi berseliweran?”

“Bukan gerah, suhunya tetap dingin kok. Karena kita terus bergerak, maka dingin itu gak kentara lagi.”

Ia mengangguk mengerti. “Jadi, kenapa orang rela berbondong-bondong dan desak-desakan demi melihat sunrise dari atas penanjakan?” tanyanya lagi sambil kembali berjalan.

“Kamu akan tahu saat sudah tiba di atas,” ulangku.

Rory mendengus, sementara aku tertawa.

Lima menit berjalan, bocah itu kembali berhenti sambil membungkuk melawan kemiringan dan menumpukan sebelah tangan ke lutut. Aku yang sudah selangkah di depannya berhenti dan balik badan. Kami bertatapan, “Five seconds, please!” ujarnya di sela napas pendeknya yang nyaring.

Aku merasa geli. Akhirnya kuulurkan tangan kananku padanya. Dalam remang kutemukan Rory menyengir sebelum menempatkan tangan kirinya dalam genggamanku.

“Perlu dicatat, bukan aku yang minta, tapi Kak Restu sendiri yang mengulurkan tangan padaku.”

“Karena egomu melebihi ketinggian Penanjakan, Lilbro.”

Rory terbahak di sampingku.

Kugenggam tangannya erat, ia melakukan hal yang sama pada tanganku. Ketika ia menyelaraskan jemari kami agar saling bertaut dan mengunci, hatiku seperti dihangatkan.

Jemari Rory terasa nyaman di telapak tanganku. Terasa pas. Apa Tuhan mengukurnya ketika menciptakan telapak tangan kami?

***

Hari masih gelap ketika Kak Restu berhasil menyeretku hingga ke puncak Penanjakan. Aku berusaha menormalkan napasku sedang dia berusaha menemukan rekan-rekannya dengan matanya. Kutunggu-tunggu tanganku dilepasnya, tapi hingga napasku teratur dan dingin kembali membungkusku, dia masih menggenggamnya. Menemukan kenyamanan lewat telapak tangannya yang hangat, kubiarkan tangan kami tetap begitu.

“Mereka di sana.”

Kak Restu menarikku untuk mengikutinya menyalip-nyalip para pendaki yang sudah berjubel di puncak Penanjakan. Aku kesulitan mengimbangi langkah gesitnya. Kuputuskan untuk membebaskan jemariku dari genggamannya. Detik itu juga dia berhenti berjalan dan balik badan menghadapku.

“Kenapa?” tanyanya.

Apa dia keberatan tangannya kulepas? Tak menjawab, kujangkau lagi tangan kanannya dan kembali kujalin jemariku dengan jemarinya. Kusenter mukanya ketika ekor mataku melihatnya tersenyum, dia melindungi matanya dengan punggung tangan kiri dan senyumnya berubah menjadi tawa.

“Sepertinya aku akan kangen tawa Kak Restu saat sudah di rumah…”

“Banyak hal yang akan kamu kangenkan ketika sudah meninggalkan Bromo, tunggu saja, tawaku tak akan sebanding.” Lalu dia kembali membawaku berjalan.

***

Kami berdiri berderet di antara begitu banyak pendaki yang memilih menanti kemunculan matahari di atas Penanjakan. Akhir pekan begini Bromo akan berkali lipat lebih ramai dikunjungi, para pendaki domestik yang diselingi tak sedikit turis luar tumpah ruah di Gurun Tengger. Di sampingku, Rory memandang terkesima pada semburat merah horizontal di arah timur yang tampak seakan besi tempa panas membara sedang membelah langit malam dan memisahkannya menjadi dua bagian, bagian atas yang kelabu dan bagian bawahnya yang pekat. Kuterka-terka tingkat ketakjuban Rory dari posisinya berdiri yang tidak bergeser, tepat menghadap matahari. Gelap berangsur berubah menjadi remang-remang begitu semburat merah di langit menjadi kian lebar, dan aku menemukan binar cerah di mata Rory sementara wajahnya terlihat senang.

“Kak Restu…” dia memanggil berbarengan dengan kepalanya yang menolehku, suaranya nyaris berupa bisikan, seakan tak ingin orang lain tahu kalau ia memanggilku. Menemukan aku yang tengah menatapnya membuat Rory terdiam beberapa detik.

“Hemm?” aku menggumam dalam nada tanya ketika tatapannya mulai  membuat jengah dan mendebarkan jantungku.

“Sekarang aku tau kenapa kita harus melihat sunrise Bromo dari Penanjakan…”

“Kenapa?”

“Karena dari sini, langit seakan berada jauh di bawah.”

“Tunggu sesaat lagi sampai keadaan jadi lebih terang, kamu akan menemukan jawaban lain berikutnya.” Kuangkat kameraku dan mulai kubidikkan berkali-kali ke arah matahari, pada awan-awan yang tampak bagai lautan kapas, dan pada siluet kelabu di bawah sana.

Rory menarik-narik lengan jaketku, membuat angle photoku terganggu sepenuhnya, ternyata ia lumayan usil juga. “Kak?”

Aku menurunkan kamera dan memandangnya, ia baru saja membuka penutup kepalanya. Aku terpana selama lima detik. Bocah di depanku jadi sepuluh kali lebih unyu saat kepalanya terbuka begitu. “Ada apa?”

“Kak Restu gak ada rencana nawarin diri buat fotoin aku?”

Aku menyeringai, tergelitik dengan caranya untuk minta difoto. Kubidik sosok Rory berlatarbelakangkan langit merah di ufuk timur berkali-kali, berkali-kali lagi setelah ia setengah marah memintaku berhenti memotretnya. Aku baru benar-benar berhenti ketika Yudhist dengan kurang kerjaannya mengalihkan kameranya dari langit Bromo kepadaku dan Rory yang sedang rebutan kamera.

Ketika matahari sudah menampakkan diri sepenuhnya, dan mengusir kabut dari udara, aku mendekati Rory dan berbisik. “Di sana, adalah jawaban berikutnya kenapa kita harus ke Penanjakan.” Kuhalakan tanganku ke bawah sana, pada Bromo dan hamparan kalderanya yang maha luas, puncak Semeru di kejauhan tampak bagai saudara jauh Bromo, dan Gunung Batok di sebelahnya terlihat layaknya teman dekat.

Kudengar Rory mengucap sesuatu yang tidak kupahami, aku mengernyit dan bertanya apa yang baru saja dikatakannya.

Subhanallah?” jawabnya balik bertanya.

“Oh… tentu saja. Rasanya aku pernah dengar Agung atau Pras mengatakannya juga.” Kutemukan rona heran di wajah Rory. “Aku katolik. Agung dan Prasetyo muslim, Yudhistira juga…” kataku menjawab ekspresi ingin tahunya.

Rory membulatkan mulutnya. “Kalau Kak Dheo?”

“Kami berdua katolik.”

“Berarti Kak Restu sama Kak Dheo gak disunat, ya?” Rory langsung tertawa setelah bertanya demikian, membuat kekagetanku akan pertanyaan spontannya itu sirna. Baru anak ini yang berani bertanya blak-blak begini padaku. “Gak usah dijawab, pertanyaannya asal ceplos, Kak, gak pake mikir patut atau gak patut,” lanjutnya sambil memberiku cengiran lebar yang mulai kuanggap sebagai ciri khasnya.

“Aku enggak, gak tau kalau Dheo, kamu tanya sendiri aja,” jawabku meski ia sudah memberitahu tak perlu menjawab. Kuabaikan Rory dan kuarahkan kamera pada penampakan Bromo dan kalderanya di bawah sana, membidik beberapa kali sampai kudapatkan hasil paling baik.

“Kayaknya Kak Dheo gak disunat juga deh…”

Aku kembali kaget dengan kalimat lirih Rory yang tiba-tiba, padahal tadinya ia sudah menyiratkan bahwa topik itu sudah berakhir. Kuturunkan kamera dan kupandang Rory yang kini tidak sedang balas menatapku.

Menemukan Rory yang sedang memperhatikan Dheo dengan intens entah bagaimana menimbulkan rasa tak suka di dalam diriku.

***

Laki-laki di sampingku jadi lebih diam sepanjang perjalanan turun Penanjakan hingga aku mengira telah berbuat hal yang menyinggung perasaannya tanpa kusadari. Ketika aku menduga demikian, satu-satunya hal yang terpikirkan adalah aku yang menghubung-hubungkan keyakinannya dengan dirinya yang tidak disunat ketika di atas sana beberapa saat lalu.

“Maaf.”

Kak Restu memandangku dengan kening berkerut, “Maaf untuk apa?”

“Untuk apapun sikap dan perkataanku di atas sana yang membuat Kak Restu mendiamkan diri saat ini.”

“Apa aku tampak seperti itu, mendiamkan diri?”

Aku mengangguk. Dia melepaskan penutup kepalanya yang keren dan menjejalkan setengah bagian benda itu ke saku jeansnya sementara setengah bagian lain dibiarkan menyembul. Selanjutnya dia menyisir rambutnya dengan jemari tangan, alih-alih menjadi rapi, rambutnya malah jadi berantakan. Tapi dia terlihat lebih tampan dari sebelumnya.

“Saat di hardtop tadi, apa kamu menyebutkan tentang teman-temanmu yang tidak jadi kemari?”

“Aku tidak berkesempatan menceritakan semuanya secara rinci, saat itu Mas Agung dan yang lain nanya mulu.”

“Kamu bisa cerita sekarang,” dia menunjuk pada teman-temannya yang berjalan dua meter di depan kami, “mereka tidak terpikir lagi untuk memberondongmu dengan pertanyaan sekarang.”

“Kenapa Kak Restu jadi lebih diam beberapa saat lalu?” dia menggeleng-gelengkan kepalanya ketika aku mengabaikan permintaannya dengan balik bertanya, mengalihkan objek pembicaraan kami kepada dirinya. “Karena aku muslim?”

“Hei!” Kak Restu berhenti bergerak, “pikiranku tidak sesempit itu, okey? Kamu gak lupa sama Agung, Pras dan Yudhist, kan?” dia melanjutkan langkah.

“Lalu kenapa?” aku mengejarnya, mencoba mensejajarkan langkah kami kembali. Aku bisa bergerak segesitnya sekarang, perjalanan turun saat keadaan sudah terang tidak sesulit perjalanan saat mendaki dalam gelap gulita meski kotoran kuda terlihat lebih banyak dari sebelumnya.

“Kamu mau jawaban jujur atau jawaban bohong?”

“Jawab aja, nanti aku nilai sendiri jujur atau bohong.” Kudapati dia terkekeh.

“Kamu tau, Dik Rory… sepertinya aku menyukaimu…”

Kuanggap perkataannya hanya basa-basi pemanis suara saja.

“Kenapa aku lebih diam? Karena aku sedang berpikir, keberanian macam apa yang dimiliki seorang anak SMA hingga nekat pergi ke Bromo sendirian sementara teman-temannya yang lain memilih untuk tidak ikut serta…”

Oh God… topiknya balik lagi!” aku mencengkeram penutup kepalaku dan menariknya lepas. Kuikuti Kak Restu dengan memasukkannya ke saku celana, kutarik sedikit untuk membuat setengah benda itu menyembul keluar. Setelahnya, aku mengacak-acak rambutku sendiri seperti diperbuat laki-laki di sampingku. Kak Restu memperhatikanku sambil menggeleng-gelengkan kepala dan setengah tersenyum.

“Dasar peniru,” cetusnya.

Aku tertawa pendek.

“Woi…! Kalian berdua, buruan…!!!” Mas Pras berteriak kepada kami dari hardtop.

Aku terpaksa mengabaikan salah satu penjaja kaos berprint Bromo yang hendak menawarkan dagangannya padaku. Kak Restu lebih dulu menggaet lenganku dan sesaat kemudian kami sudah bergegas mempercepat langkah menuju hardtop.

***

Rory berdiri menghadap Bromo dan Gunung Batok, terpana untuk waktu yang cukup lama. Kunyalakan kamera dan kupotret ia tanpa sepengetahuannya.

“Dik Rory ingin langsung ke kawah apa sarapan dulu?”

Kuturunkan kameraku ketika Dheo mendekati rekan muda kami itu dan bertanya. Rory menoleh padaku sebelum menjawab, “Bagaimana menurut Kak Restu?”

Hatiku menghangat. Sesaat, aku merasa diriku penting buat Rory, ia meminta pendapatku sebelum membuat pilihan.

“Sarapan dulu!” seru Agung saat keluar dari hardtop diikuti Yudhist. Pras yang mendengar seruan itu langsung bergerak mendekati gerobak jajanan yang tersebar di area parkir hardtop. “Tapi kalau mau naik duluan gak apa, Yo, nanti gue dan yang lain nyusul,” lanjut Agung sebelum menyusul Pras.

“Gue sih belum laper,” cetus Yudhist, masih berdiri di sisi hardtop.

“Gimana? Dik Rory mau langsung ke kawah gak?” Dheo kembali bersuara.

“Kak Restu?” Rory kembali memanggil ketika aku masih mendiamkan diri.

“Hemm… Kak Restu mau jajan dulu aja, Ro. Tapi kalau kamu mau langsung naik silakan, ada Dheo sama Yudhist.” Aku balik badan lalu menyusul Pras dan Agung yang sudah mengelilingi gerobak mie bersama beberapa pendaki yang memilih untuk mengisi perut dulu sebelum menjenguk ke kawah. Mungkin aku kesal hingga mengabaikan Rory kali ini, kedekatannya dengan Dheo menggangguku.

Kurasakan seseorang menyentuh bahuku ketika sudah bergabung bersama Pras dan Agung. Aku menoleh, Rory memperlihatkan cengirannya yang sudah familiar di mataku. “Aku takut pingsan dan harus dibopong yang akan membuatku kalah taruhan…”

Aku tersenyum senang, Rory yang memilih menyusulku kuanggap sebagai kemenanganku atas Dheo. Ekor mataku menangkap sosok Dheo dan Yudhist yang berjalan mendekati gerobak tempat kami berada, sepertinya dua rekanku itu tak jadi mendahului ke kawah.

Aku memesan dua mangkuk pentol, untukku dan Rory.

***

Kak Restu menurut ketika kuseret untuk berfoto di depan gunung Batok, hanya kami berdua sekarang. Kak Dheo sudah merapikan tripod, kamera Kak Restu yang tadi dipakai untuk menangkap gambar kami berenam kini dipegang Mas Agung yang sedang bersiap memotretku dan Kak Restu.

“Yang akrab, Res, tunjukin kalau lu sama Rory tuh kakak-adek!” seru Mas Agung sebelum memotret. Lalu sebelah lengan Kak Restu melintang ke atas bahuku. Mas Agung mengacungi jempolnya.

Aku tersenyum lebar, dan yakin kalau gigiku terlihat di dalam foto itu.

“Sekali lagi, Gung!” Kak Restu menurunkan lengannya dari bahuku. Dia berdiri santai dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jeans, pandangannya menghindari kamera. Aku menjarakkan diri dan berdiri mengikuti gaya coolnya.

Mas Agung tertawa dan sekali lagi mengacungkan jempolnya sebelum memotret kami.

“Kak Restu benar, akan banyak hal yang aku kangeni sepulang dari Bromo nantinya,” ujarku ketika kami mulai mengarungi lautan pasir Bromo yang maha luas. Matahari mulai terasa menyengat di sini. Selain itu, aku juga membaui aroma menyengat lain selain bau kotoran kuda. Makin mendekati Bromo, bau itu makin santer. “Ini bau apa ya, Kak?”

“Belerang. Gak tahan?”

“Entah, baru tahu kalau sulfur baunya kayak gini, baunya aneh.”

“Di kawah nanti, baunya lebih kuat. Harusnya kamu bawa masker.”

“Kak Restu dan yang lain bawa, ya?”

“Gak pernah. Hidung kami kebal,” jawabnya lalu tertawa. “Jangan kuatir, lama-lama jadi terbiasa kok.”

Aku menoleh ke belakang, pendaki terlihat menyemut di area parkir hardtop, juga di lautan pasir. “Itu apa, Kak?”

Kak Restu berhenti berjalan dan membalikkan badan. “Itu Pura Luhur Poten, tempat sembahyang suku asli Tengger. Setahun sekali di pura itu ada upacara besar, upacara Kasada.” Dia menatapku, “gak ada di Wikipedia, ya?” tanyanya dengan nada mengejek lalu memberiku seringai.

Kutonjok bahunya sebelum kembali melangkah hati-hati di atas pasir berbukit-bukit. Kami sudah hampir melewati setengah perjalanan menuju tangga Bromo. Tangga itu sendiri tampak demikian sesaknya dari kejauhan sini, aku tak yakin bisa melewatinya tanpa saling menyenggol dengan pendaki lain. Ketika di parkiran tadi, Kak Restu sudah menjelaskan kondisi tangga itu, lengkap dengan jumlah anak tangga yang menurut hitungan ragu-ragunya pada kunjungan yang telah lalu ada dua ratus empat puluh sembilan anak tangga, dan bahwa sepanjang tangga ada beberapa tempat berhenti bagi pendaki yang kelelahan, dan bahwa tangga itu amat sempit hingga hanya bisa dilalui dua orang, satu ke arah kawah dan satu lagi dari arah berlawanan.

Tak kutemukan lagi sosok Mas Agung dan yang lain, mereka berbaur bersama pendaki-pendaki lain. Ketika seekor kuda berpenumpang melewatiku dan Kak Restu, hasratku untuk menunggangi hewan itu mendadak muncul. Aku tak memikirkan apapun lagi selain ingin naik kuda.

“Kak, naik kuda yuk!”

“He?”

Aku menyengir pada laki-laki di depanku yang tampak meragukan pendengarannya. “Aku gak pernah, mungkin ini satu-satunya kesempatanku dengan kuda. Boleh, ya?”

“Hhh…”

Kak Restu memandang berkeliling dan langsung mengangkat sebelah tangan ketika melihat ada kuda yang baru saja meninggalkan kaki Bromo.

“Kamu naik duluan, tunggu di dekat tangga. Kak Restu nyusul kalau ada kuda lain yang kosong,” ujarnya ketika kuda itu sampai di tempat kami menunggu.

Aku mengangguk. Dibantu mas-mas empunya kuda, aku naik ke pelana dan merasa kagum dengan diriku sendiri ketika sudah tegak di punggung kuda sambil memegang tali kekang.

“Apa mau foto-foto dulu, Mas?” tanya mas-mas empunya kuda sebelum menggiring hewan yang menjadi sumber nafkahnya sehari-hari itu untuk mengarungi padang pasir Bromo.

“Boleh!” seruku tanpa menunggu.

Kak Restu menyalakan kameranya lalu mundur beberapa langkah untuk memperoleh sudut terbaik.

“Duluan ya, Kak!”

“Sebentar.” Kak Restu merogoh dompetnya.

“Gak usah!” teriakku ketika bisa menerka apa yang hendak dilakukan laki-laki itu. “Aku bayar sendiri untuk yang ini, Kak!”

Kak Restu terlihat kecewa saat menyimpan kembali dompetnya. Dia berbicara pada mas-mas pemilik kuda, “Tarifnya jadi setengah kan, Mas?”

Mas-mas pemilik kuda mengangguk sambil tersenyum lalu menyebutkan harga. Sedetik kemudian dia mulai menggiring tungganganku menuju tangga Bromo. Kulambaikan tanganku pada Kak Restu yang berdiri sendirian di bebukitan pasir, menunggu kuda lain untuk ditumpangi.

***

“Kami sudah berteman sejak kelas satu…”

Rory mengawali cerita tentang teman-temannya yang tak jadi ikut ketika kami beristirahat di tangga Bromo. Dheo yang menyinggung tentang teman-teman Rory kembali. Bibir kawah masih berjarak setengah tangga lagi dari posisi kami berada. Yudhist menyebut tempat istirahat ini dengan istilah check point, Pras dan Dheo yang juga baru pertama kali kemari langsung setuju untuk menggunakan istilah yang sama. Aku tiba di dasar tangga Bromo belasan menit lalu dan menemukan Rory sudah bergabung dengan rekanku yang lain. Yudhist mengolok-olokku yang datang dengan berkuda, Pras mengataiku perawan pingitan, Dheo geleng-geleng kepala, dan karib kentalku Agung membela dengan berujar asal ‘Gimana adanya sang adik begitu juga sama kakaknya’, senyum Rory setelah kalimat Agung membuatku tak menggubris olok-olokan yang ditujukan buatku.

“Entah kebetulan, atau memang takdir, nama depan kami sama-sama diawali huruf R―”

“Restu juga pake huruf R tuh,” celutuk Agung memotong cerita Rory.

“Siapa saja?”

“Aku, Radit, Riki sama Reifan. Teman-teman sekelas menjuluki kami R pangkat empat,” kulihat Rory tersenyum sekilas, “hal itu membuat kami jadi makin dekat.” Sekarang ia menatapku, “tapi, aku marahan dengan mereka menjelang berangkat kemari―”

“HAH!?” Pras melongo.

Rory menghirup udara lebih banyak dari sebelumnya dan bersungut karena bau belerang yang makin tajam. “Kata Rei, aku egois.”

Ada rona kecewa di wajah Rory ketika berkata demikian. Ingin saja aku merengkuh bahunya dan menegaskan kalau temannya salah. Tapi Dheo yang berdiri cukup dekat dengannya sudah lebih dulu melakukan hal itu. Kudapati diriku merasakan ketidaksenangan yang sama seperti saat Rory memanggil Dheo semesra panggilannya buatku. “Karena itu mereka tak ingin menyertai Dik Rory kemari?”

Rory menggeleng. Aku lega ketika Dheo menjauhkan tangannya dari anak itu. “Radit memilih untuk pergi ke Bandung, sepupunya menikah hari ini, alasannya, dia gak tahu sebelumnya tentang hal itu dan harus hadir ke sana bersama orang tuanya. Kupikir, itu hanya dalih saja, kalau mau, dia bisa saja memilih untuk bersamaku kemari, tapi dia tidak melakukannya.”

“Bagimana dengan dua lainnya?” tanya Yudhist.

“Riki lebih menyebalkan. Hanya karena neneknya berulang tahun hari ini, dia juga ngundurin diri―”

“Ya Tuhan, yang benar saja!” seru Yudhist.

“Katanya, belum tentu tahun depan neneknya berkesempatan ngerayain ultah lagi.”

“Duh, bener juga sih,” tukas Yudhist kembali.

“Harusnya Riki ingat dong tanggal lahir neneknya, biar jadwal kalian gak bentrok,” timpal Pras.

“Harusnya gitu sih, Mas pras.”

“Apa yang terjadi dengan Reifan sampai ia menuduhmu egois?” tanyaku ingin tahu.

“Kalau dia cukup setia kawan, cukup berani, saat ini aku pasti berdua dengannya di sini. Aku cekcok sama Rei di telepon.” Rory terdiam beberapa saat. “entahlah, aku bertengkar beneran sama Rei. Mungkin saat pulang nanti, persahabatan kami tidak akan sama lagi.”

“Tapi Dik Rory gak benar-benar marah dengan mereka, kan? Setidaknya dengan anak yang namanya Radit, atau Riki,” cetus Agung.

“Menurut Mas Agung, pantaskah aku marah?”

Agung tak menjawab. Kami semua terdiam, sama-sama menatap simpati pada Rory yang sepertinya tak ingin menceritakan apapun lagi tentang teman-temannya.

“Ayo!”

Rory keluar dari area sempit yang disebut Yudhist sebagai check point dan memimpin kami menuju kawah Bromo. Kami berjalan berderet, aku berada tepat di belakang Rory sambil berusaha merekam sosoknya dari belakang dalam memoriku, agar aku tidak melupakannya terlalu cepat ketika kami sudah pulang ke dunia masing-masing setelah pendakian ini.

***

Kawah Bromo tampak seram dalam pandanganku. Meski bagian tepi kawah diberi pagar beton setinggi dada orang dewasa, namun itu tidak mencegahku membayangkan hal yang terpikirkan sejak pertama kali kakiku berpijak di sini. Kubayangkan diriku tergelincir di pasir tepi kawah dan menggelinding di mulutnya sebelum jatuh bebas ke liang berasap sulfur itu.

Aku bergidik.

“Aku jamin, gak bakal ada lahar panas yang menyembur tiba-tiba dari sana.”

Aku menoleh pada Kak Restu yang baru saja bergabung denganku, sama-sama menumpukan pegangan pada pagar beton. “Bukan lahar yang sedang kubayangkan.”

“Aku tak mungkin tega mendorongmu ke lubang itu, stop membayangkan hal itu.”

Aku tertawa mendengar candaan laki-laki ini. “Pernahkah seseorang tergelincir dan masuk ke lubang itu?”

“Kamu memikirkan kemungkinan jika dirimu tergelincir ke sana?”

Aku mengangguk dan kak Restu terkekeh, menganggap pemikiranku itu sebagai hal menggelikan.

“Aku belum pernah mendengar kabar ada orang yang tergelincir ke kawah. Ingat upacara Kasada yang sempat kusinggung beberapa waktu lalu?”

Aku berpikir sejenak lalu mengangguk, “Ada yang tergelincir ke kawah saat upacara itu?”

“Mustahil ada Suku Tengger asli yang tergelincir, mereka bahkan bisa berjalan gesit di sana tanpa oleng.” Kak Restu menunjuk bidang miring yang membentuk mulut liang kawah Bromo.

Aku kembali bergidik saat membayangkan diriku sendiri yang harus berjalan di area yang ditunjuk Kak Restu. “Apa hubungan upacara Kasada dengan topik kita?”

“Saat upacara Kasada, penduduk Tengger memang melempar sesajian ke kawah Bromo, tapi manusia tidak termasuk dalam salah satu jenis sesajian yang dilempar itu, tidak ada pula penduduk Tengger yang pura-pura tergelincir demi mengorbankan dirinya sendiri untuk Bromo.”

Aku terpingkal, Kak Restu mengikuti tertawa kemudian. “Itu konyol.”

“Itu bunuh diri.”

Kami terpingkal lagi.

“Ayo, kita belum punya foto di sini.”

Kak Restu menggandeng lenganku dan menyusul rekannya yang lain yang sudah berjalan cukup jauh dari posisi tangga berada, mencari spot yang tidak didesaki banyak pendaki.

***

Kami nyaris satu jam berada di atas Bromo sebelum Rory menyerah dengan panas matahari yang kian menyengat dan mengajakku turun sambil sedikit mengiba. Aku tak mungkin menolak, tidak di saat ia tampak begitu mengharapkanku untuk mengiyakan ajakannya.

Aku pamit pada teman-temanku yang sedang duduk santai langsung di atas pasir, di tepi kawah Bromo. Mereka bercengkerama sambil sesekali melempar guyonan, seakan panas yang dirasa Rory tidak menyentuh mereka sama sekali.

“Boleh, Res, kalian duluan. Kami turun sesaat lagi.”

Kembali berdesak-desakan di tangga sempit. Aku berjalan di depan Rory, melawan arus pendaki yang hendak naik agar ia mudah mengikuti di balik punggungku. Sesekali kutolehkan kepalaku ke belakang untuk mengecek bahwa ia masih berada di balikku. Aku takut ia hilang mendadak.

***

Berjalan di belakang punggung lebar Kak Restu entah bagaimana membuatku merasa terlindungi. Tangga masih saja disesaki para pendaki yang hendak naik dan turun. Sejauh pandanganku, tak ada check point yang kosong. Matahari yang kian panas membuat para pendaki cepat kelelahan.

Aku menyadari kalau Kak Restu sangat sering memutar kepalanya untuk menolehku. Seakan untuk memastikan kalau aku tidak tergilas para pendaki yang juga sedang turun atau tersenggol pendaki yang hendak menuju kawah.

“Aku akan baik-baik saja,” ujarku sambil mengangkat dua jari tangan ketika entah untuk keberapa kalinya Kak Restu menoleh kembali ke belakang. Dia mengangguk satu kali dan kembali menapaki sisa anak tangga, tidak sekali pun menolehku lagi sampai kami tiba di bawah. Dan anehnya, itu membuatku kecewa.

***

“Apa Kak Restu baik pada semua orang asing yang dijumpai di tempat-tempat seperti Bromo ini?”

Aku memandang Rory. Kami sedang duduk di balik sebuah bukit pasir, menunggu Agung dan yang lain sambil melepas penat. “Tidak.”

“Hemm… lalu, kenapa hari ini Kak Restu baik padaku?”

“Entah.”

“Kok entah?”

“Orang-orang menjawab ‘entah’ untuk sesuatu yang belum mereka ketahui pasti, Rory…” anak di depanku menatapku intens. “atau untuk sesuatu yang masih mereka anggap samar-samar.”

“Apa yang samar-samar itu, yang membuat Kak Restu bersikap baik padaku hari ini?”

“Entah.”

Rory menonjok pelan dadaku, aku terkekeh dan kutangkap tangannya. Ia tidak berusaha menarik tangannya dari peganganku. “Saat melihatmu menggigil dan hampir menyerah dini hari tadi, saat itu kupikir… seseorang harus berada di dekatmu selama kamu berada dalam medan Tengger, sebagai rekan, sebagai teman, sebagai sahabat. Seseorang yang mungkin bisa kamu posisikan sebagai pelindungmu, sebagai sumber kenyamananmu…”

“Aku merasa terlindungi berada bersama Kak Restu… dan yang lainnya.” Rory melirik tangannya yang masih kupegang, “dan sekarang aku merasa nyaman kok.” Ia memamerkan lagi cengirannya yang sudah kuakrabi sejak berjam yang lalu.

“Baguslah.”

Kulepaskan tangan Rory, ia menggosok telapak tangannya satu sama lain dan mengeluhkan kalau kulit telapak tangannya ada yang terkelupas.

“Suhu dingin sepanjang pagi tadi membuat kulit kita kering, dan saat terpapar panas matahari, jadi terkelupas. Biasa kok. Tangan Kak Restu juga gitu.” Kutunjukkan telapak tanganku padanya.

Rory meneliti telapak tanganku, menyusurkan telunjuknya di atas telapak tangan kananku untuk beberapa lama sambil mengangguk-anggukkan kepala.

“Kenapa Kak Restu sampai bisa punya nama Restu Semesta?”

“Kenapa dengan nama itu?” kutanggapi pertanyaan mendadak Rory dengan balas bertanya.

“Tak ada, hanya terdengar agak seram.”

“Sialan.”

Rory terkekeh. “Beneran, Kak, nama itu auranya agak-agak ngeri loh, kayak nama paranormal gitu.”

Kutarik hidung bagus Rory saking kesal dengan ucapannya, ia mengaduh sambil mengelus-elus hidungnya yang merah. “Kamu kira aku dukun, hah!?”

Peace, Brada.” Rory mengangkat dua jarinya di depan mukaku. “jadi, apa ceritanya?”

“Kamu sungguh ingin tahu?”

Rory mengangguk mantap.

“Baiklah…” aku menegakkan punggung. “Pernah dengar tentang Pulau Dayang Bunting?”

“He?”

“Pulau Dayang Bunting, pernah dengar?” ulangku.

Rory menggeleng. “Kak Restu ngarang ya?”

“Enggak, Kak Restu gak ngarang-ngarang cerita. Pulau itu beneran ada dan namanya beneran Dayang Bunting. Lokasinya di Langkawi, Malaysia.”

Rory melongo sejenak. “Hemm… baiklah, ada apa dengan pulau itu?”

“Mama mengandungku setelah mandi dalam danau di pulau itu.”

“Wow…!”

“Iya, wow memang.” Aku mengencangkan tali sepatuku yang terlepas lalu melanjutkan kisah yang ingin diketahui Rory terkait namaku yang katanya seram. Padahal menurut orang tuaku dan beberapa kerabat, namaku terkesan kuat dan berkarakter. Baru bocah jail bernama Rory ini yang berani mengejek namaku mirip nama dukun. “Belasan tahun menikah, dan bermacam pengobatan yang telah dijalani Papa dan Mama tak kunjung membuat mereka punya anak. Mama sudah bosan berdoa di gereja tiap minggu. Sampai suatu kali Papa mendengar tentang Pulau Dayang Bunting itu.”

“Terus?”

“Mitosnya, siapa saja pasangan yang sangat mendambakan punya anak mandi di danau yang ada di pulau itu, maka keinginannya untuk mengandung dan punya anak akan terwujud.”

“Terus?”

“Papa mengajak Mama liburan ke sana. Menurut cerita Mama, mereka menginap di sana dua minggu lamanya, dan selama di sana tak ada hari yang mereka lewati tanpa mandi di Danau Dayang Bunting. Selama di sana pula, Mama kembali meneruskan kebiasaannya berdoa, meski tidak di gereja. Memohon agar Tuhan mengabulkan pinta dan alam merestui niatnya datang ke pulau.”

Rory mengerjapkan matanya ketika mendapati diriku tersenyum sendiri. Aku ingat bagaimana persisnya rona bahagia Mama ketika ia bercerita padaku beberapa tahun lalu. Itu adalah salah satu momen terindahku dengan Mama. Mendapati Mama yang selama bercerita terus menatapku dengan binar kebahagiaan di matanya, seakan aku adalah satu-satunya alasan hidupnya, adalah hal yang tak mungkin terkikis dari ingatanku sampai aku tua kelak.

“Terus?”

Aku kembali ke kaldera Tengger setelah berkelana pada masa beberapa tahun ke belakang saat Mama mengisahkan gigihnya usaha yang ia lakukan demi mendapatkanku. “Ajaibnya, sepulang dari Malaysia, Mama beneran mengandungku.” Kupandang Rory, ia tampak takjub.

“Terus?”

“Saat tahu dirinya mengandung, Mama merasa bahwa itu adalah jawaban dari segala doa yang ia panjatkan selama di Pulau, bahwa Tuhan mengabulkan pintanya, bahwa alam merestui niatnya.”

Subhanallah…”

Aku tersenyum saat Rory menyudahi kata ‘terus’nya dengan kata lain yang kupercayai bermakna baik, mungkin juga hebat. “Hari itu juga, Mama berjanji, bahwa kelak ketika bayinya lahir, tak kira apapun jenis kelaminnya, akan dinamai Restu Semesta.”

Rory menyentuh pergelangan tanganku dan menggesekkan tangannya di sana. Aku menyukai tindakannya itu.

“Untung bayinya laki-laki, Dik. Bisa kamu bayangkan jika bayinya perempuan dan diberi nama Restu Semesta?”

Rory terbahak.

“Okey, end of story.”

“Jadi, Kak Restu gak punya adik?”

Aku menggeleng.

“Aku akan punya tak lama lagi.”

“Wah, congratulation.”

“Omong-omong, kayaknya sekarang nama Kak Restu gak seseram sebelumnya deh. Menurutku, nama Kak Restu itu keren, hebat, yah, meski tetap ada kesan misteriusnya sih. Tapi harusnya memang gitu, seorang laki-laki mesti ada aura misteriusnya, biar lebih membuat penasaran.”

“Huh, dasar! Tadi aja kamu bilang namaku kayak nama dukun!”

“Tadi aku belum dapat pencerahan,” ujarnya lalu tertawa.

***

Aku merasa makin dekat dengan Restu Semesta setelah mendengar dia bercerita. Kak Restu kian terlihat sebagai laki-laki dewasa yang berkharisma di mataku. Dia punya segala pesona yang harus dimiliki seorang laki-laki dewasa―selain wajah rupawan itu tentunya. Dia memiliki personality yang membuat siapa saja yang berada di sekitarnya merasa nyaman dan tidak terintimidasi. Aku menyukai pembawaannya yang tenang, sikapnya yang hangat dan kejutan-kejutan tak terduga yang dia perlihatkan sebagai kombinasi dari pembawaannya yang tenang. Seperti candaan-candaannya, keisengannya, juga tingkat keintiman tak terfikirkan olehku yang dia lakukan. Semua itu, entah bagaimana membuatku nyaman.

“Yap, sekarang kita ada di Pasir Berbisik.”

Mas Agung membuyarkan lamunan dan fokus tatapanku pada sosok Kak Restu. “Pasir apa?” tanyaku.

“Pasir berbisik, Lilbro. Wikipedia lupa menyebutkan tentang pasir ini?” Mas Yudhist sepertinya tidak mau melewatkan satupun kesempatan untuk meledekku. Aku melotot padanya, sedang dia seperti selalu hanya tertawa senang.

Kak Restu mendekatiku, “Coba diam, dan dengarkan,” bisiknya cukup dekat di telingaku.

Ketika aku mengikuti instruksinya, yang kudapati bukan sebarang suara yang harus kudengar, tetapi aroma maskulin yang menguar dari sosoknya yang berhasil dikenali penciumanku. Dia berdiri terlalu dekat denganku.

“Dengar sesuatu?”

Aku menggeleng.

“Hemm… mungkin terlalu bising hari ini. Semestinya, setiap angin berhembus, di sini kita akan mendengar bunyi pasir yang saling bergesekan, seakan berbisik…”

“Karena itu dinamakan Pasir Berbisik?”

“He eh.”

Aku kembali mendengarkan. Alih-alih mendapatkan apa yang ingin kudengar, aku malah mendapati suara detak jantungku sendiri yang teratur. Kugelengkan kepalaku ketika Kak Restu mengangkat sebelah alisnya mengisyaratkan tanya.

“Hemm… tak apa. Kak Restu juga sudah beberapa kali kemari, dan tidak pernah benar-benar mendengarkan suara pasir yang sedang berbisik meski hal itu sudah menjadi buah bibir para pendaki.” Dia berbalik sambil membebaskan tali kamera dari lehernya, “Kita tangkap gambar saja,” katanya lalu memanggil Mas Agung dan berjalan ke arah karibnya itu untuk menyerahkan kamera. Setelahnya dia kembali berbalik menujuku diikuti Mas Agung di belakangnya.

Dan sekonyong-konyong angin berhembus lebih kuat dari sebelumnya, menerbangkan partikel-partikel pasir. Sekilas aku seakan bisa mendengar suara gesekan pasir di kakiku, sebelum mataku terasa perih.

“Ahh…” Refleks kupejamkan mataku, dan mulai kukucek-kucek. Ada pasir yang ikut diterbangkan angin dan masuk ke mataku.

“Jangan dikucek!” Tanganku dicekal Kak Restu kiri kanan. “makin merah kalau digituin. Sini, coba Kak Restu lihat.”

“Perih, Kak…”

“Iya, coba sini, buka matanya!”

Aku menurut, “Yang kanan lebih perih.”

“Aku lupa ngasih tau, kalau di sini sebaiknya kita tidak berdiri menantang arah embusan angin, ini nih akibatnya.” Lalu dia meniup-niup kedua mataku, masih terus meniup ketika aku tertawa geli.

Mataku mengerjap-ngerjap setiap kali ditiup Kak Restu. Ibu jarinya sesekali menyapu kelopak mataku, untuk membersihkan pasir-pasir di sana.  Kedua tanganku memegangi pergelangan tangan Kak Restu kiri kanan, aku tak sadar kapan tanganku melakukannya.

Sekilas dari sudut mata, dapat kulihat kalau Mas Agung mengabadikan momen ini lewat kamera.

***

Rory sama sekali tidak pernah mendengar tentang Padang Savana. Ketika hardtop yang dikemudikan Mas Ribut melaju menuju tempat tersebut dengan kepulan pasir di belakangnya, Rory sibuk berkata bahwa ia yakin kalau jalan yang kami tempuh ini bukan rute kembali ke Cemara Lawang. Ia bertanya berkali-kali, namun tak seorangpun menjawab pertanyaannya. Aku dan teman-temanku tanpa dikomando sepakat untuk tidak memberi anak itu jawaban jelas.

“Duduk dan tunggu saja, siapa tau bentar lagi kita nyampe Bangkok.”

Itu jawaban asal Agung.

“Yang jelas bukan mau nganterin Dheo pulang.”

Yang ini suara Pras.

“Dan bukan mau bertamu ke rumah Mas Ribut juga.”

Rory memutar bola mata dengan kalimat Dheo.

“Kak Restu?”

“Awas kalau lu ngasih jawaban jelas!” Yudhist mengancamku. Sepertinya mereka benar-benar menikmati menggoda Rory.

“Kak Restu!” sekarang Rory berteriak padaku. “Kita mau kemana, yang baru kita tinggalkan tadi itu Bromo, kan?”

“Bukan, yang tadi itu Merapi, nah sekarang ini kita baru mau ke Bromonya.”

Teman-temanku tertawa bekakakan dengan jawaban ngaco Yudhist.

“Kan ke Bromonya udah, sekarang ini mau kemana lagi?” Rory tidak terpengaruh dengan jawaban Yudhist.

“Awas lu kalau ngasih tau!” Yudhist kembali mengancamku.

“Kak Restu!”

“Wikipediamu gak bilang apa-apa?”

Dan teman-temanku kembali terbahak kencang mendengar responku, Yudhist sampai harus memukul-mukul lututnya saking kuatnya ia tertawa.

Rory berdecak. Karena yakin tidak akan memperoleh jawaban dariku dan yang lain, ia mengetuk dinding hardtop dan berteriak kepada Mas Ribut.

“MAS RIBUT, INI KITA MAU KEMANA?!?”

Tawa Yudhist dan temanku yang lain kian menjadi melihat tingkah konyol Rory. Mas Ribut memang menyadari kalau Rory sedang berbicara padanya, tapi sepertinya ia tidak jelas mendengar pertanyaan bocah itu. ketika Mas Ribut memelankan laju hardtop dan menoleh ke belakang, Rory sudah berhenti berteriak dan menyerah dari mengetuk-ngetuk fiber glass yang membatasi Mas Ribut dengan kami di bangku penumpang.

Hardtop kembali melaju.

“Kayaknya kalian gak sebaik yang aku kira deh,” ujarnya lemah.

Yudhist dan yang lain menggumamkan ‘O’ dengan nada panjang dan dibuat-buat sebelum kemudian kembali tertawa. Rory mengatupkan rahangnya rapat-rapat, sepertinya ia geram. Ekspresinya membuatku gemas.

Kugeser dudukku lebih rapat pada Rory dan kutepuk pelan bahunya. “Ada beberapa spot yang cantik di area Bromo, Dik. Selain Penanjakan, lautan pasir, Pura Luhur Poten, Pasir Berbisik, Gunung Batok, dan Gunung Bromonya sendiri, ada juga yang namanya Padang Savana. Nah, sekarang kita sedang menuju ke Padang Savana itu.”

“Pengkhianat lu, Res!” sembur Yudhist.

“Enggak sih, menurut gue dia kakak yang baik,” cetus Agung gaje.

Rory kembali sumringah, “Ada apa di sana?”

“Coba tanya Wikipedia, pasti dia tau.” Ucapan Pras kembali menyulut tawa.

“Di sana indah, Dik. Hamparan rerumputan dan ilalang. Katanya ada bunga-bunga liarnya. Sekilas persis padang-padang rumput di Afrika.”

“Lu pernah ke Afrika, Yo?” tanya Pras kurang ajar.

“He he he…” Dheo nyengir, “kan gue liat di National Geographic, Pras.”

“Emang lu udah pernah ke padang itu sebelumnya? Kan ini pertama kalinya lu ke Bromo, Yo…”

Dheo kembali nyengir mendengar pertanyaan Agung. “Browsing…”

Dan Dheo langsung dibully Yudhist serta Pras.

“Ada anak baru ngospek anak baru euy!” kata Yudhist.

“Sendirinya belum tau sok-sokan ngasih tau orang lain yang juga belum pernah tau,” sambung Pras.

“Biar terlihat smart ya, Pak?” ejek Yudhist.

“Biar tampak udah berpengalaman ya, Om?” tandas Pras.

Lalu kedua orang usil itu melakukan tos dan tertawa bekakakan.

“Puas lu berdua, hah, puas? Puas ngejatuhin kharisma gue di depan adik kelas?”

Rory tertawa.

“Sebenarnya belum sih, Yo,” jawab Pras.

“Nunggu ronde selanjutnya, Yo,” sambung Yudhist.

“Sabar Kak Dheo, Mas Yudhist sama Mas Pras cuma gak suka aja kalau ada yang lebih bijak manfaatin internet ketimbang mereka. Mereka gak suka karena Kak Dheo make internet buat nyari informasi, sedang mereka mungkin lebih sering dipake buat nyari link bokep terbaru.”

“Yah, Res, adek lu sekate-kate.” Yudhist menarik lengan jaketnya. “Pras, ayo tunjukin link bokep HD yang tadi baru kita buka sama nih bocah!”

Hardtop kembali riuh dengan tawa. Sesaat tadi kupikir Yudhist akan membela diri terhadap tuduhan Rory, namun ia malah membalas dengan kalimat candaan lainnya.

“Aku iri dengan pertemanan kalian…”

Kalimat tak terduga Rory sejenak membuat hardtop hening sampai Agung meresponnya dengan kalimat mainstream, “Mereka gak kuanggap teman lagi, Dik… tapi keluarga. Aku yakin, teman-temanku juga sudah menganggapku keluarga…”

Rory menerawang pada Agung, “Apa karena aku dan teman-temanku di sana belum sampai pada tahap menganggap satu sama lain layaknya keluarga, sehingga aku harus kemari sendirian, ya?”

Agung menggedikkan bahu.

“Kalau itu kamu aja yang sok jagoan, Bocah!” cetus Yudhist yang memang sudah kehilangan sisi melankolisnya sejak lama.

“Aku boleh gebukin Mas Yudhist gak nih?” tanya Rory pada seisi hardtop.

Aku tertawa pendek dengan pertanyaan Rory, “Kapan-kapan aku akan melakukan itu untukmu.”

“CIYEEEEEEE…!!!”

Koor panjang membuat muka Rory merona, entah dengan mukaku. Seandainya pun mukaku juga memerah, itu lebih karena perasaan aneh yang mekar di dadaku ketika melihat wajah Rory memerah.

Apa anak ini merasakan padaku apa yang sejak dini hari tadi kurasakan padanya?

***

Bukit Teletubbies. Aku sama sekali buntu mengapa padang rumput ini juga dijuluki demikian. Kak Restu angkat tangan. Katanya, saat pertama kali dia kemari sudah dinamai begitu.

“Teletubbies yang ada Tinky Winky Dipsy Lala Po itu?” tanyaku heran.

Maybe,” sahut Kak Restu.

“Ya ampun, rasanya gue pengen berpelukan!” teriak Mas Pras lebay.

“Gue gak pernah nonton Teletubbies, dulunya nonton Chibi Maruko Chan,” sambung Mas Agung kalem.

“Gak demen kartun. Tapi Rory tenang saja selama Wikipedia dan semacamnya masih online, bisa cari tau di sana,” cetus Mas Yudhist dengan maksud yang sudah sangat jelas, meledekku. Namun aku sudah kebal.

“Mungkin dijuluki Bukit Teletubbies karena bukitnya mirip Teletubbies” tebak Kak Dheo asal-asalan sambil memasang tripod.

“Oh, hei… lihat, bukit di sana mirip Tinky Winky!”

Oh my Gosh… yang di sana kayak bokong Lala!”

Siapapun tau kalau Mas Pras dan Mas Yudhist sedang meledek Kak Dheo, tapi yang diledek adem-ayem saja.

“Mungkin bukan bukitnya yang mirip Teletubbies, Yo. Tapi Teletubbiesnya yang kayak Bukit.”

“Mas Agung edan,” kataku.

“Ada kemiripan lokasi kali, antara Padang Savanah ini sama penggambaran tempat di film Teletubbies,” pungkas Kak Restu lebih masuk akal.

Tak ada yang membantah kali ini, dan tak ada yang berniat merespon dengan kalimat tak jelas lainnya.

“Kameranya, Res.” Kak Restu memberikan kameranya pada Kak Dheo untuk dipasangkan pada tripod. “Kalian yang sudah pernah kemari, bisa di sini gak? gue gak tahu landscape mana yang sering dijadiin background untuk berfoto di padang ini,” Kak Dheo meminta persetujuan teman-temannya.

“Udah boleh, Kak. Rumputnya cantik kok di arah sana,” jawabku.

“Wah, diskusi anak baru euy!”

Tebak siapa? Yap, Yudhistira sialan.

Kak Dheo menyuruh kami semua berdiri di depan kamera sementara dia memposisikan tripod di posisi yang tepat. Setelah mengatur timer dan memastikan keseluruhan kami muat dalam kamera, dia menarik Mas Ribut yang hendak menyulut rokoknya lagi dan bergabung dalam barisan untuk berpose.

Kami berangkulan. Tersenyum lebar. Akrab layaknya keluarga.

Padahal, belum ada sehari aku mengenal mereka.

***

Rory baru saja menyalami pria paruh baya yang menyupirinya ke lereng Bromo, ia juga terlihat memeluk Pak Kusno―pria paruh baya itu. Setelahnya, aku dan keempat rekanku bergantian bersalaman dengan pria paruh baya itu.

“Mas Restu, Bapak titip Nak Rory, ya. Hati-hati nanti di jalan ke stasiunnya, bilangin sama supirnya jangan ngebut-ngebut. Terus, Rorynya jangan ditinggal yo, dia baru sekali ini kemari,” ujar Pak Kusno ketika menyalamiku.

Injih, Pak,” jawabku, “saya bakal ngantarin Rory sampe ke peron,” janjiku. Rory tersenyum ketika aku meliriknya.

“Makasih banyak ya, Pak. Gak tau deh apa jadinya kalau saya gak jumpa sama Bapak kemaren sore.”

Pak Kusno mengibaskan tangan pada Rory, “Sudah begitu jalannya, Nak Rory. Kalau ada umur, saat Nak Rory datang lagi kemari boleh langsung ke rumah, Bapak terima sukacita…”

Sepertinya Rory berkaca-kaca. Kudekati ia dan kurangkul bahunya. Sebelah tangannya meremas ujung kausku.

Pak Kusno mengucapkan sesuatu yang kukira sebagai salam, melambai pada kami semua lalu masuk ke mobilnya. Ia masih sempat tersenyum dan mengangguk pada Rory sebelum keluar dari area parkir.

Atas usul Agung di dalam hardtop saat perjalanan pulang kembali ke Cemara Lawang, kami sepakat akan mengantar Rory ke Stasiun Probolinggo. Ia berniat untuk langsung pulang ke Surabaya hari ini juga, seperti jadwal yang sudah disusunnya. Tiket kereta api bisnis juga sudah ditebusnya sejak lama. Andai bisa, ingin saja aku melarangnya pulang sore nanti. Aku masih ingin ia berada dengan kami, denganku.

Aku dan rekan-rekanku sudah berencana bermalam di Probolinggo sebelum melanjutkan petualangan ke Jogja esok pagi. Masih ada sisa liburan dua atau tiga hari lagi sebelum rutinitas perkuliahan menyita semua waktu luang yang ada. Rencananya, kami akan menginap satu hari di rumah kerabat Yudhist di Sleman dan akan pulang ke Jakarta keesokannya.

Namun sekarang, setelah diriku bertemu Rory, rute Soetta-Juanda dan berlanjut pada Gubeng-Probolinggo hingga berujung ke Bromo yang sudah kulewati membuatku enggan menempuh rute selanjutnya dari Probolinggo ke Jogja lalu Adisutjipto-Soetta seperti yang sudah direncanakan.

 

Makhluk unyu itu bernama Rory

Andai bisa,

aku ingin lebih lama lagi berada di dekatnya

Andai dapat,

Aku ingin membawa ia kemanapun pergi

Andai mungkin,

aku mau jalanku dan tujuannya searah

Andai saja,

aku dan Rory tak pernah pisah…

***

Mereka semua bersikeras untuk mengantarku meski sudah kukatakan aku cukup disupiri Mas Edi saja ke stasiun sekalian si mas pemilik mobil yang disewa Kak Restu dan teman-temannya itu pulang. Tapi…

“Aku sudah janji dengan Pak Kusno untuk nganterin kamu sampai ke peron. Jangan membuatku merasa berdosa karena ingkar janji.”

Jadinya, setelah mandi dan berganti pakaian di penginapan tempat Kak Restu serta teman-temannya akan bermalam, Mas Edi berbaik hati mengantar kami ke stasiun dan mau berbaik hati lagi untuk membawa rombongan itu pulang kembali ke penginapan setelahnya.

Rasanya aku ingin menangis saja dengan kebaikan mereka.

Dan sepertinya aku memang harus menangis.

“Meski baru kenal hari ini, Mas sudah nganggap Dik Rory kayak adik sendiri.”

Mas Agung memelukku saat kami bersalaman. Aku tak bisa bersuara, khawatir jika nanti suaraku malah serak karena menahan tangis. Jadi, aku hanya mengangguk di pundaknya.

“Kami pasti akan kangen kamu dan Wikipediamu itu.”

Aku tertawa kecil dengan mata berkaca-kaca ketika Mas Yudhist menggenggam tanganku erat. Ketika dia melepaskan jabatannya, kutonjok bisepnya sekuat tenaga hingga dia mengaduh. Rekan-rekannya tertawa.

“Semoga saat aku mendaki Bromo untuk yang kedua kalinya, kamu juga ada di sana untuk melakukan hal yang sama.”

“Makasih untuk semuanya ya, Mas…”

“Hemm…”

Tepukan Mas Pras di bahuku terasa nyaman.

Kak Dheo jadi orang berikutnya yang memberiku pelukan perpisahan, “Salam buat teman-temanmu di sana. Udah pada gede, udah gak jaman marahan sampe diem-dieman berhari-hari.”

Aku sadar kalau kalimat terakhir Kak Dheo lebih ditujukan kepadaku ketimbang buat teman-temanku yang tidak dikenalnya. Saat sudah tiba nanti, aku berjanji pada diri sendiri akan minta maaf pada Reifan sebelum dia minta maaf duluan.

Senyum lemah Kak Restu menyambutku saat aku memeluknya pada giliran penghabisan. “Setelah semuanya ya, Dik…” katanya, “aku benci teramat sangat pada waktu…”

Andai dia tahu bahwa saat berada dalam rengkuh lengannya di saat-saat penghabisan ini, aku juga sangat membenci waktu.

***

Aku nyaris tak kuasa menahan diri untuk tidak menarik tangan Rory dan membawanya pulang ke penginapan saat melihat ia berpamitan dan dipeluk teman-temanku. Berkali-kali kulirik arlojiku, berharap jarum detiknya berbelas kasihan padaku dengan memperlamban gerakannya. Namun itu mustahil.

Kutemukan matanya berkaca-kaca. Aku tidak lagi merasa tidak suka ketika Dheo memeluknya. Kini kupahami, kehadiran Rory yang tak terduga telah meninggalkan kesan mendalam juga bagi mereka.

Saat Rory menujuku untuk berpamitan, aku tahu bahwa waktuku sudah habis. Mas Edi tidak bisa menunggu terlalu lama di parkiran.

Senyumku mungkin berbeda kali ini. “Setelah semuanya ya, Dik…” aku nyaris tercekat. “aku benci teramat sangat pada waktu…” Rory menunduk, menyembunyikan wajahnya di bahuku. “Baik-baik di kereta, ya…”

“Hemm…”

Sepertinya Rory menangis. Kurasakan tangannya meremas kemeja di bagian punggungku. Kutepuk-tepuk pelan punggungnya, lebih untuk menenangkan perasaanku sendiri ketimbang menghiburnya. Ia baru melepaskanku hampir semenit kemudian. Menyapu matanya dan tertawa.

“Makasih ya, Kak.”

Kurogoh microSD dari saku kemejaku, “Jangan lupain Kak Restu ya…”

Kening Rory berkerut, menatap heran pada benda yang kusodorkan. “Kak Restu punya salinannya?” tanyanya parau.

Aku menggeleng. “Kak Restu punya banyak foto Bromo di rumah, kamu yang belum punya.”

“Akan kulampirkan di imel, Kak Restu es-em-es-kan aja alamat surelnya nanti, ya?”

Rory menerima memory card kamera yang memang sudah kuniatkan akan kuberikan untuknya ketika ia kucegah untuk mengambil kameranya sendiri saat di Cemara Lawang.

“Makasih, Kak… untuk semuanya.”

“Hemm…”

Agung mendekat dan merangkul bahuku. “Jangan sedih, kalau jodoh kita semua pasti ketemu lagi.” Di antara yang lain, mungkin Agunglah yang paling mengerti diriku.

“Jangan abaikan panggilan telepon Kak Restu hari-hari mendatang ya,” pintaku pada Rory.

Ia mengangguk.

“Sampai ketemu lagi, Rory.” Agung melambai pada Rory, teman-temanku yang lain mengikuti. Meski enggan, aku harus tetap menata langkah, mengikuti teman-temanku untuk meninggalkannya.

Rory balas melambaikan tangan dengan mata masih berkaca-kaca. Aku masih terus menolehnya hingga lalu-lalang calon penumpang yang memadati peron menyembunyikannya dari pandanganku.

***

Restu Semesta.

Mengapa dirinya bisa memukau sedemikian rupa?

Untuk alasan yang tidak masuk akal, aku ingin dia tetap bersamaku. Untuk alasan yang tidak masuk akal pula, di bangku peron, sudah berkali-kali kutolehkan kepala ke arah dirinya melangkah pergi beberapa menit lalu. Aku berharap menemukan sosoknya berjalan kembali menujuku, sambil tersenyum, setiap kali aku menoleh. Namun dia tidak di sana.

Kini, saat menunggu keretaku datang dengan microSD yang terus kugulirkan di antara jari-jari, kilasan awal pertemuanku dengan Restu Semesta kembali kuingat. Detil-detil yang menghangatkan hatiku, kedekatan-kedekatan yang sekarang menimbulkan rindu dalam diriku padanya, meski belum tiga puluh menit kami berpisah.

Lebih dari semua yang kudapatkan di Bromo, ternyata tawanyalah yang paling kukangeni.

Kuhembuskan napas panjang ketika gambaran diriku yang dipeluknya di sini berputar di kepala dan membuat dadaku berdentuman lebih kuat dari sebelumnya. Bahkan, wanginya seperti masih tertinggal di udara untuk kubaui.

Aku tak pernah mengalami misteri semisterius ini.

Ada sesuatu yang terjadi padaku dan Restu Semesta di lautan pasir Tengger. Sesuatu yang masih tertinggal di Pasir Berbisik dan Kawah Bromo, yang berserakan di jalur Penanjakan dan Padang Savana. Sayangnya, aku baru menyadari itu sekarang ketika sudah sendiri.

Kusadari, bahwa Kak Restu adalah laki-laki pertama yang padanya ingin kusimpan semua rahasia perasaan hingga tak ada rahasia apapun lagi untuk kubagi pada siapapun orang.

Sekali lagi, kutolehkan kepalaku dengan harapan yang masih sama : melihatnya berjalan ke arahku dengan senyum tulus itu.

Mataku membundar.

Dia ada di sana.

Menujuku.

Senyumnya melengkapiku.

Lalu, kutemukan diriku tak bisa lagi membedakan antara nyata dan khayal…

***

Aku terhenti di depan pintu Mobil, memandang sekali lagi ke penjuru yang baru saja kutinggalkan. Rasanya ini begitu salah.

“Res?”

Kutatap Agung yang belum menutup pintu mobil, menungguku masuk. Lagi, kupalingkan wajahku ke arah bangunan stasiun. Mendadak aku berubah menjadi penjepit kertas, dan seseorang di peron sana umpama magnet besar yang menarikku begitu kuatnya. Aku demikian kecilnya, sementara magnet di sana demikian besarnya. Tentu saja, aku kalah.

“Restu?”

Kupandang Agung lekat-lekat, “G… gg… gue…” Agung mengernyit menyikapi keterbataanku yang tak biasa. Aku kesulitan menelan ludah, rekan-rekanku yang sudah duduk di jok sama menatap tak mengerti padaku. Kupenuhi rongga dadaku dengan udara sebanyak-banyaknya. “Gue harus kembali ke Rory…”

Tak ada respon untuk lima detik pertama, mereka semua terdiam.

“Gue harus kembali ke Rory!” ulangku mantap dengan suara lebih keras. Namun sepertinya teman-temanku mendadak pekak. “Gue-harus-Kembali-Ke-Rory!” akan kutendang mereka kalau sampai masih tak memberi respon setelah kupenggal kalimatku demikian jelasnya.

“Lalu, apa lagi yang lu tunggu? Buruan sebelum tiket kelas bisnis ke Gubeng raib!” Agung tersenyum diikuti ledekan teman-temanku kemudian. “Tenang saja, ransel lu gue yang urus. Sana pergi!”

Tanpa menunggu, kuputar badanku lalu mulai berlari kencang untuk memasuki stasiun kembali. Senyumku kian lebar seiring jarakku pada Rory kian hampir.

***

“Kamu berhutang padaku hingga tengah malam nanti.”

Ternyata, aku masih bisa membedakan khayal dan nyata, karena sosok yang berdiri di depanku benar-benar nyata.

“Ingat, kamu yang pertama kali menyerah untuk dibopong kuda. Aku memenangkan taruhan kita…”

Aku bangun dari dudukku. Tak peduli pada tatapan heran beberapa penunggu kereta, kutubruk Kak Restu dan kupeluk erat. Dia menerimaku di dadanya, tertawa senang seperti baru saja terbebas dari apapun ganjalan di dalam dirinya.

“Apa yang membuat Kak Restu kembali?” kurenggangkan diriku darinya.

“Kamu,” jawabnya singkat sambil menempelkan telunjuknya di dadaku, “dan traktiran yang kamu janjikan.”

Aku tertawa.

“Lalu, apa yang membuatmu terlihat sangat senang saat ini?”

“Kamu,” kubalas menempelkan telunjukku ke dadanya, “dan kesempatan melunasi hutangku.”

Gantian dia yang tertawa.

***

Rasanya seperti pulang ketika Rory menubruk dan melingkarkan lengannya padaku. Saat ia balas menunjuk dadaku, aku nyaris melupakan keramaian dan hampir tak bisa menahan diri untuk menciumnya.

“Ayo, Kak Restu harus beli tiket bisnis ke Gubeng.” Kugandeng tangan Rory dan tergesa-gesa menuju konter.

“Kak…?” panggilnya ketika kami sudah setengah jalan.

“Ya?”

“Apa yang harus dilakukan seseorang sebelum dia memutuskan untuk berani jatuh cinta?”

Langkahku terhenti saat mendengar pertanyaan mendadak Rory. Untuk sejenak kami saling bertatapan. Kemudian kugelengkan kepalaku, “Tak ada, Dik… ia tak perlu melakukan apapun. Ia hanya perlu jatuh cinta saja.”

Rory diam sesaat seakan mencerna kalimatku, kemudian senyum lebarnya muncul. “Berarti sekarang, karena tak perlu melakukan apapun, aku bisa langsung menyatakan jika aku jatuh cinta sama Kak Restu, iya?”

Senyumku muncul. Cara Rory membeberkan perasaannya sungguh manis. Ia melakukannya dengan bertanya, seperti mencari persetujuanku atas perasaannya itu.

“Kak?” panggilnya ketika aku masih belum menjawab.

“Iya. Kamu bisa langsung bilang jatuh cinta padaku―”

“Aku jatuh cinta pada Kak Restu,” potongnya cepat.

“Baiklah.”

“Baiklah?” Rory mengernyit, “begitu saja? Apa maksudnya baiklah itu?”

“Baiklah, kamu boleh jatuh cinta pada Kak Restu.”

“Terus?”

“Terus apa?”

“Terus, bagaimana dengan Kak Restu?”

Aku memberi bocah di depanku sebuah seringai, sengaja mengerjainya. Tak menjawab, kutarik ia untuk lanjut berjalan ke konter.

“Kak Restu,” panggilnya gusar sambil berusaha mensejajari langkah lebarku.

“Dapetin tiket dulu, nanti saja kalau udah di kereta Kak Restu ngaku kalau Kak Restu juga jatuh cinta pada Dik Rory…”

Di sampingku, Rory tertawa terpingkal-pingkal.

 

 

 

 

 

 

Akhir Desember 2014

Dariku yang sederhana

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com