image

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Sylahkan cacy maky aku karena menulys story laynnya tentang Love Actually memakay jalan ceryta setydak jelas yny. Bretrewre, aku sudah mempersyapkan dyry untuk kemungkynan hadyrnya opyny atau komen pedas dary kalian yang baca. Apa persyapanku? Tentu saja, membalas opyny atau komen pedas ytu sama pedasnya (kemungkynan bysa lebyh pedas syh…!)

Walau demykyan, aku tetap berharap kalyan bysa menykmaty membaca SURPRISE CANDY seperty aku menykmaty ketyka menulysnya.

(note : jika kalian kesulitan membaca pengantar di atas dikarenakan terlalu banyak huruf ‘Y’ yang muncul, percayalah, lebih sulit lagi menulisnya)

😀

😛

Wassalam

n.a.g

##################################################

 

Tahukah kalian tentang candy mengagetkan?

yang punya sesuatu mengejutkan di pertengahannya,

yang membuat kita kaget ketika salut gulanya menipis dan lalu pecah,

meledakkan materi kejutan di dalamnya ke suluruh rongga mulut kita?

Aku kenal candy jenis seperti itu,

kios kecilku di kampung pernah menjualnya,

dan aku selalu tertarik dengannya,

sampai dulu ibuku sempat mengeluhkan jika candy itu lebih banyak lenyap di mulutku ketimbang terbeli

Surprise candy tampak sebagai sesuatu yang misterius,

tak tertebak,

tak terprediksi

Di dalam kehidupan,

orang-orang dengan pembawaan misterius dan aneh adalah surprise candy,

bila mereka cukup manis dan rupawan, bisa jadi mereka surprise candy jenis coklat dengan liquid coklat di dalamnya…

Aku kenal seseorang bertingkah surprise candy jenis begitu

jika mereka cukup cool dan keren, mungkin mereka surprise candy jenis mint dengan super mint di pertengahannya…

Aku juga kenal seseorang bersifat surprise candy tipe demikian

***

Akhir-akhir ini aku sering mimpi jorok. Begitu joroknya hingga aku merasa jijik dengan diriku sendiri saat terbangun dengan selangkangan tegang, satu kali pernah dengan kondisi celana dalam basah. Aku merasa jijik dengan diriku sendiri, bukan karena terbangun dengan salah satu dari dua kondisi tersebut, tapi karena sosok yang bersamaku di dalam sana adalah kakakku.

Aku sering mimpi jorok sedang bersama Kak Saif.

Ia meniduriku, aku ditiduri olehnya.

Terkutuklah diriku karena itu.

Terkutuklah diriku pagi ini, sekali lagi…

Aku menggeragap bangun tepat ketika pintu kamarku dibuka orang, Kak Saif berdiri di sana dengan titik-titik air di wajah. Sepertinya ia baru saja berwudhu. Peci rajut warna coklat tergenggam di tangannya.

“Subuh, Dek, bangun lekas!”

Sayup-sayup aku bisa mendengar imam mesjid komplek melantunkan Al Fatihah. “I… iya… Kak…” Dengan perut lengket seperti sekarang, aku tidak bisa bicara lancar, lebih-lebih di saat orang yang secara tidak langsung menyebabkan hal tersebut sedang berada di dekatku.

Kak Saif urung meninggalkan kamarku, “Kamu kenapa?”

“Eng… enggak…” aku masih gugup. Di pintu, Kak Saif masih belum pergi. “Hanya… Aidil harus mandi dulu…” ketika Kak Saif menyeringai di pintu, kusadari kalau ada panas yang menjalar di pipiku. Untung sekarang hanya temaram lampu tidur yang menjadi satu-satunya penerang kamar sedang lampu utama berada dalam keadaan padam, jika tidak kakakku itu pasti bisa melihat wajahku yang sedang dalam proses mematangkan diri.

“Mimpiin Orlando, ya?”

Aku melotot.

Kak Saif tertawa, “Dasar jorok!”

Mustahil aku menginterupsi anggapannya, bisa amat memalukan jika itu sampai kulakukan. Jadi, aku hanya diam untuk membenarkan anggapannya yang salah. Bisa kalian bayangkan, apa yang terjadi jika aku menjawab kakakku dengan pernyataan ‘bukan Orlando, tapi Kak Saif’, bisa kalian bayangkan?

“Buruan mandi, nanti keburu waktu Subuh habis.” Kak Saif menutup pintu kamar.

Di tempat tidur, aku menghembuskan napas panjang. Hal seperti ini tidak boleh terus terjadi. Aku harus berhenti memimpikan Kak Saif. Rasanya begitu salah. Rasanya sama seperti jika Bang Anjas yang ada dalam mimpi itu. Rasanya seperti menelanjangi Kak Saif di kejadian nyata. Rasanya seperti berselingkuh dari Orlando. Rasanya bagai… ada setan maha keji yang mendekam di dalam diriku.

*

Kak Saif berlari paling depan sedang aku dan Orlando berada semeter di belakangnya, berlari dalam posisi sejajar. Aku berusaha untuk tidak memikirkan mimpiku pagi tadi, tapi rasanya begitu sulit di saat orang yang kumimpikan sedang berada tepat di depanku, dalam keadaan begini rupa : kaus buntung lembab keringat dan celana tak sampai lutut, seakan mempertontonkan dirinya dengan sengaja.

Aku mengalihkan perhatian dari tungkai setengah telanjang Kak Saif pada sosok di sebelahku. Orlando terlihat tenang, titik-titik keringat juga mulai muncul di wajahnya. Ah, pacarku yang menawan juga terlihat hot dalam keadaan begitu rupa. Aku menurunkan pandanganku ke bagian bawah pinggangnya.

“Lihat ke depan, nanti masuk paret, Beib!”

“Kamu lari di depanku deh.”

Orlando menolehku sembari terus berlari. “Kenapa?”

“Gak ada… Cuma pengen aja lari di belakang kamu.”

“Aku lebih suka kita kayak gini, selalu beriringan bersamaan.” Orlando mengaitkan jemari tangannya ke jemari tanganku. Kulihat ia tersenyum. “Tapi kalau kamu ingin aku berlari di depan biar kamu bisa natap keseksian bokongku, aku mau saja sih…”

aku tertawa ketika Orlando menaik-naikkan alisnya. “Baiklah, aku ingin menatap keseksian bokong pacarku. Please… larilah di depanku.”

“Oke, watch me, Darling!” ujarnya sambil menunjuk ke dalam matanya sendiri dengan dua jari lalu memberiku sebuah kedipan.

Orlando memang kini berlari di depanku, tapi posisinya tepat sejajar dengan Kak Saif. Harusnya ia mengambil posisi antara aku dan Kak Saif. Heuh… jika begini sama sekali tak ada bedanya. Kuputuskan untuk menyalip mereka berdua dan menempatkan diriku di bagian paling depan.

“Apa yang terjadi?” Orlando berusaha mengejarku. Begitu mampu mensejajariku, ia langsung menyampirkan sebelah lengannya ke tengkukku hingga kami menjadi mepet. Lari kami melambat. “Apa aku perlu melorotin celana?”

“Jangan sekali-kali berani melakukannya!” ancamku.

“Jangan sekali-kali? Berarti kalau berkali-kali boleh dong?”

“Orly, kapan kamu mau berhenti bertingkah menyebalkan?”

“Oh, jadi sekarang aku mulai terlihat menyebalkan buatmu?”

Aku menoleh Orlando, membuat wajah kami nyaris bersentuhan. Di sebelah belakang, kudengar Kak Saif berdehem. “Kamu sering terlihat menyebalkan, tapi percayalah, kamu lebih sering lagi terlihat memabukkan.” Aku berhasil membuat Orlando tersenyum.

“Dil, nanti siang kita bobo bareng, ya…”

“Kumohon, kalian berdua, stop membuatku mual.”

Seakan sengaja ingin membuat Kak Saif makin jengkel, Orlando menurunkan tangannya dari bahuku, aku terlonjak ketika sangat cepat tangannya menepuk bokongku.

“Setan lu, Do!”

Orlando tidak menggubris Kak Saif, sebaliknya ia kian memepetkan dirinya padaku. Lariku makin susah saja.

“Dil, pacarmu mulai tidak waras.”

“Beib, sepertinya ada yang cemburu sama kemesraan kita, soalnya udah lama ditinggal pergi ceweknya.”

“Kalau gak ada adikku, lu juga bakal jadi jomblo abadi. Untung aja Aidil mau.”

“Yang aku sesalkan, kenapa Aidil harus punya kakak kayak lu, Sef. Nyebelin kronis. Satu saja status lu sebagai sahabat sudah bikin aku lelah lahir batin, apalagi ditambah status sebagai calon kakak ipar… mati muda aku, Sef!”

“Kalau tanpa restu dari kakaknya yang nyebelin kronis ini, jangan harap kamu bisa macarin adiknya!”

Orlando terlihat siap mendebat, namun urung karena aku menyikutnya. “Kalian sahabat bukan sih?” aku mendorong Orlando agar sedikit menjauh. Untuk sedetik, ia memang merenggangkan diri, tapi detik berikutnya kembali mepet padaku. “Orly, please…”

“Kapan ya aku mendapatkan pembelaanmu bila terkait dengan kakakmu…” Ia menjauhkan diri dariku meski kami masih berlari sejajar.

“Keluarga di atas segalanya, Do. Lu gak pernah dengar ungkapan demikian?” Kak Saif menukas di belakang.

“Aku akan memihakmu jika topiknya cukup penting dan argumen-argumennya cukup dewasa dan bijak.”

“Mana bisa dia kayak gitu, Dil. Kamu bakal tua dalam penantian jika nekat nunggu pacarmu yang gaje itu bertransformasi jadi sebijak filsuf.”

Aku menoleh Orlando. Kalimat Kak Saif barusan bisa dibilang cukup menyentil. Orlando hanya diam, pandangannya lurus menatap jalan. Apa dia sedang marah?

Aku menyentuh bisep Orlando dan mencondongkan badanku padanya untuk berbisik. “Jangan pernah berubah… tetaplah seperti kamu apa adanya. Tenang saja, aku mencintai kamu yang kayak gini.”

Orlando memalingkan wajahnya padaku dan tersenyum. Sedetik kemudian ia kembali menyampirkan lengannya ke bahuku.

Dengan kemesraan kami yang seperti ini, harusnya tak ada sedikitpun celah bagiku untuk memimpikan orang lain selain Orlando Ariansyah, harusnya tak ada secuilpun celah bagiku untuk membuat sosok telanjang Orlando Ariansyah absen hadir dalam tidurku.

***

“Kamu pernah mimpiin aku?”

Di boncengan, aku mengalihkan topik dari obrolan sebelumnya tentang tiket bioskop yang sudah dibeli Orlando dan rencana kencan kami malam nanti. Hari ini ia menjemputku dari kampus. Kuliahku selesai jauh sore hingga aku takut tidak bisa memperoleh angkot. Tadinya aku berencana meminta Kak Saif untuk menjemput, namun niat itu kuurungkan ketika aku teringat mimpiku malam tadi. Mungkin mulai saat ini aku harus mengurangi frekwensi kebersamaanku dengan Kak Saif.

“Sering,” jawab Orlando setelah menjeritkan klakson untuk abege labil yang menyalip kami dengan gaya geng motor dikejar polisi patroli.

“Seberapa sering?”

“Kalau misalnya bisa direkam, mungkin durasinya sudah sepanjang drama Korea empat season.”

“Sejak kapan kamu suka drama Korea?”

“Aku gak suka.”

“Terus, kanapa bawa-bawa Korea?”

“Kan sedang trend.”

Di belakangnya, aku tersenyum sendiri. “Mimpi yang kayak gimana?”

“Macam-macam.”

“Seperti?”

“Seperti kita yang main rakit di sungai kampungmu, kita yang jalan-jalan ke negeri antah-berantah, kita yang kejar-kejaran layang-layang di sawah, kita yang lari-larian di padang rumput, kita yang natap senja di gedung tua itu. Banyak pokoknya.”

“Pernah yang jorok gak?”

“Sering.”

“Seberapa sering?”

“Kalau dikurangi sama yang tidak jorok, mungkin sepanjang drama Korea tiga season.”

“Berarti yang gak jorok cuma satu season? Satu banding tiga? Masa setimpang itu perbandingannya. Kamu ngapain aja sebelum tidur? Ngedit-ngedit fotoku ke badan model pria bule bugil?”

“Eh, aku belum kepikiran ke cara itu, nanti malam deh aku mulai praktekin. Ngomong-ngomong, aplikasi edit foto yang cocok untuk itu apa ya, Dil?”

Kupukul bahu laki-laki di depanku, ia menanggapinya dengan tertawa. “Aku serius, masa sih keseringan mimpi joroknya ketimbang mimpi higienisnya?”

“Iya. Soalnya mimpi main rakit itu berakhir dengan kamu ngasih aku blow job sambil nyelam,trus mimpi ke negeri antah-berantah itu berakhir dengan kita mandi berdua sambil pegang-pegangan titit di pancuran tengah gunung, trus mimpi yang main layang-layang berakhir dengan kita buka baju di atas dangau di sebuah sawah, trus mimpi di padang rumput berakhir dengan kita lepas celana lalu guling-gulingan sampe ke kaki bukit, trus…”

Kali ini aku tidak hanya sekedar memukul, tapi menumbuk. Punggung Orlando mengeluarkan bunyi seperti bedug ditabuh ketika kepalanku menciptakan gaya tumbukan di sana, membuat ia berhenti bicara dan meringis sambil mengelus punggungnya dengan tangan kanan. Motor melambat karena Orlando harus melepaskan setang gas.

“Sakit tau!”

“Tau kok. Sengaja biar kamu tau rasa!”

Orlando kembali memegang setang dan dengan sengaja memundurkan duduknya. Ia nyaris menjepit ekor depanku yang mau tidak mau ikut memberontak ketika Orlando menceritakan mimpinya sesaat tadi. “Kamu gak mau tau akhir mimpiku di gedung tua Zayed?”

“Jangan bawa-bawa dia! Harusnya aku gak pernah ngajak kamu ke sana.”

“Mimpi itu berakhir kayak adegan ranjang Angelina Jolie dan Antonio Banderas dalam film Original Sin…”

“Kamu menyebalkan.”

“Sorry…”

Untuk beberapa saat, kami terdiam. Kupikir Orlando tidak akan bicara lagi hingga tiba di rumah. Namun ternyata aku salah.

“Mimpi di atas gedung itu yang paling indah, Dil…” Orlando menggumam. “Suatu saat nanti, jika kamu sudah mau bercinta denganku, kayaknya aku akan bercinta dengan urutan seperti dalam mimpiku itu… tapi jika pun itu tidak pernah terjadi, aku sudah cukup senang bisa memimpikan kita berdua di sana lagi, dengan cara yang sama…”

Aku terdiam. Lenganku kaku di pinggangnya. Kalimat Orlando seakan mengisyaratkan betapa sebenarnya ia menginginkanku, menginginkan dalam konteks yang lebih dewasa, seks. Apa selama ini ia tersiksa dengan komitmenku? Aku sering menjawabnya dengan ‘jika sudah waktunya’ tiap kali ia menyinggung masalah seks. Dan dengan pengertiannya ia akan setuju sambil tersenyum. Apa sebenarnya Orlando mulai putus asa denganku hingga berharap setidaknya mimpinya terulang lagi?

Deru motor mengisi jeda percakapan, deru angin yang dibelah laju motor meningkahinya. Kediaman kami berlangsung hingga lima menit. Orlando mulai menjalankan motornya dengan kecepatan lambat beberapa saat kemudian.

“Orly, apa kamu pernah memimpikan orang lain selain aku? Memimpikan dengan cara yang sama seperti kamu memimpikanku?”

“Maksudnya, mimpi bercinta dengan orang lain?”

“Iya, dengan Pak Kades misalnya…”

“Enggak!”

“Mungkin dengan Kak Aiyub?”

“Kalau neraka sudah membeku,” jawabnya cepat.

Bahkan dalam mimpi pun, laki-laki ini tetap setia padaku.

“Apa kamu pernah memimpikan orang selain aku?”

Aku tak menjawab.

“Hemm… pertanyaannya gak spesifik ya?” Orlando menoleh sesaat ke belakang ketika aku hanya diam. “Oke, aku ubah deh pertanyaannya. Apa kamu pernah memimpikan orang lain seperti caraku memimpikanmu? Misalnya, mimpiin Lucas Till dan semacamnya?”

“Aku gak pernah mimpiin orang yang belum pernah kujumpai.”

“Atau Saif mungkin? Dia kan kamu jumpai tiap hari…”

Aku menghela napas panjang.

“Diem? Berarti benar, ya?”

Aku tak menjawab.

“Jadi, inti dari percakapan ini hanya kamu ingin memberitahukan padaku bahwa semalam kamu baru saja mimpi erotis sama Saif? Wow, wonderful, Sweetheart… aku suka caramu menyampaikannya padaku. Apa kamu mau memberitahukanku seberapa sering kamu bermimpi seperti itu?”

“Aku hanya ingin membuat pengakuan, Orly…”

“Oh ya? Mestinya kamu simpan itu sampai kita tiba di gereja, di sana ada yang namanya bilik pengakuan dosa.”

Aku paham ia sedang kesal. “Aku ingin jujur mengakuinya, Orly… karena jika tidak rasanya bagai aku sudah mengkhianatimu… secara tak langsung.”

Kudengar Orlando tertawa pendek. “Yah… apa dayaku yang tak ada apa-apanya dibandingkan kakakmu yang sempurna itu, yang bisa dengan begitu mudahnya tanpa usaha sedikitpun untuk jadi pusat fantasimu…”

“Aku tidak menjadikan Kak Saif sebagai pusat fantasiku.”

“Aku lupa ada bagian proposal yang belum kelar kuketik, kayaknya nanti malam kita gak bisa bareng ke bioskop. Minta kawani Saif aja ya, Beib, sayang tiketnya mubazir kalau gak dipake…” dengan cepat Orlando memberiku hukuman.

Dan laju motor mulai ditingkatkan dengan sekali pindah gigi.

Apa caraku membuat pengakuan ini salah? Apa harusnya aku tak mengaku? Tapi jika tak mengaku, aku bisa terus merasa salah sepanjang hari. Bagiku, hal ini tampak sebagai sebuah perselingkuhan bawah sadar, nyaris sama seperti menjalin hubungan gelap dengan teman chatting di social media sampai bisa dibilang LDR, setingkat di bawah webcam-an dalam keadaan bugil dengan lawan ngobrol di skype dimana si teman ngobrol bukan pacar kita sendiri. Tadinya, kupikir aku bisa mendiskusikannya dengan Orlando, dan berharap ia memberiku solusi konyolnya, bukan kemarahannya.

Kenapa Orlando tidak bisa melihat pengakuanku dari sudut pandang itu?

Kujalin jemariku di depan perut Orlando dan kurapatkan dadaku ke punggungnya. “Jika mimpiin orang lain selain kamu adalah kesalahan, aku minta maaf…”

“Meskipun begitu, aku tetap tidak ingin ke bioskop nanti malam.”

“Tak apa, kita bisa ngerjain proposalmu berdua.”

“Mungkin Saif juga butuh bantuan dengan proposalnya. Lagipula, Mama bikin peraturan baru di rumah, gak boleh nerima tamu kalau malam Sabtu.”

“Kak Saif bisa ngerjain sendiri.”

“Meski demikian pun, peraturan Mama tetap berlaku.”

Aku sangat tahu kalau laki-laki ini sedang mengada-ada. Tidak pernah ada peraturan konyol macam itu di rumah Orlando. Tapi aku memilih untuk ikut skenarionya. “Apa aku gak boleh dapat sebuah pengecualian?”

“Jarang yang bisa dapat pengecualian kalau peraturannya Mama yang rumuskan.”

“Baiklah, sampai di rumah nanti aku akan mikirin cara buat nyogok Mama. Kamu tenang saja…”

“Kamu gak peka ya kalau aku sedang marah?” nadanya sedikit sengit. “Yang aku gak habis pikir, dengan entengnya kamu ngasih tau mimpi mesummu sama orang lain padaku… apa yang membuatmu berpikir aku gak akan nyeri hati mengetahuinya?”

Sebelah tanganku naik ke dadanya, berusaha mencari-cari letak jantungnya lalu kuelus satu kali dan kudiamkan tanganku di sana. Well, detak jantungnya gedebak-gedebuk memang, sepertinya ia benar-benar sedang marah padaku.

“Yang sakit hatiku!” cetusnya.

“Susah nyari letak hati…” kuletakkan daguku ke bahu kanannya, “jangan marah lagi ya, please…” tanganku yang di perutnya kuturunkan sedikit, yang terjadi adalah dadanya makin gedebak-gedebuk.

“Meski kamu masukin tanganmu ke sempakku sekalipun marahku tak akan serta merta hilang.”

“Ah… jika sudah begitu titah Pangeran, hamba yang salah ini bisa apa selain mencoba melakukannya, sukur-sukur bisa membuat Pangeran berubah pikiran…”

“Dil…!” Orlando terlonjak ketika aku nekat meratakan telapak tanganku dan menyusup melewati pinggang jinsnya. Motor mengalami turbulensi dan jalannya meliuk-liuk bagai ular merayap untuk sesaat. “Ini di jalanan!”

Aku tertawa. Untuk pertama kalinya pacarku peduli pada situasi dan kondisi. Keseringan yang meneriakkan kalimat-kalimat seperti : ini jalanan, ini tempat umum, ini keramaian, itu adalah aku. Ajaib.

Aku tidak meneruskan niat, namun tidak pula menarik keluar tanganku yang sudah setengah jalan. Bisa kurasakan ujung jemariku sudah bersentuhan dengan Orlando.

“Ehem… Dil, udah. Please…!” Orlando melepas kopling untuk sedetik agar bisa menarik tanganku, namun tak berhasil karena aku bersikeras mencengkeram pinggang celananya. “Nanti ada yang ngeliat, lepasin!”

“Oke.” Aku memang memindahkan tanganku dari balik pinggang celananya, tapi tidak terlalu jauh. Sekarang sebelah tanganku berada di bawah kemejanya, tepat di atas udelnya. Kurasakan detak jantung Orlando makin cepat. “Orly, aku udah pernah bilang belum kalau kamu punya udel yang seksi?”

“Bodo amat!”

“Hhh… marah betulan ya?”

“Menurutmu?”

“Enggak betulan.”

“Apa emosiku setidak penting itu buatmu, Dil?”

“Orly, aku hanya ingin mengakui. Itu saja… kenapa sih kamu gak bisa melihat dari sudut pandangku?” aku putus asa mencoba membaiki Orlando, kutinggalkan perut dan dadanya, bahkan aku memundurkan dudukku sekian mili.

“Baiklah, sekarang aku yang berada di pihak yang salah, pandai sekali kamu membalikkan posisi, menimpakannya padaku.” Jeda sebentar, “aku gak bisa mandang dari sudut pandangmu?” ada bunyi dengusan yang masuk kupingku, “kamu bisa gak, lihat dari sudut pandangku?”

“Enggak.” Kuputuskan untuk membuatnya tambah jengkel, salah sendiri, siapa suruh bersikap gak jelas kayak gini.

“Kamu egois.”

“Memang. Baru tahu?”

Gerahamnya yang beradu mengeluarkan bunyi seperti batu akik yang digosok satu sama lain. “Kamu gak pernah mentingin sedikitpun perasaan dan kecemburuanku!”

“Iyap… you’re right, sama sekali gak pernah.”

Di tikungan masuk komplek, Orlando membelokkan motor dengan gaya Marquez menyalip Pedrosa dalam balap formula one, sama sekali tidak mengendurkan gas atau menarik rem. Aku nyaris berteriak, reflex kurangkul pinggangnya kembali dan kubenamkan wajahku ke punggungnya saking ngerinya. Bagaimana tidak, motor yang kami tumpangi miring hingga nyaris sejajar aspal. Sesaat tadi oksigen bagai mundur sejauh satu meter dari lubang hidungku, jantungku mencelos hingga ke sadel motor―jika tak mau dibilang sudah jatuh mengelinding di aspal. Sialan Orlando.

“Ini terakhir kalinya aku minta dijemput kamu…”

“Kalau tahu bakal seperti ini kejadiannya aku juga gak akan bersuka ria ngeluarin motor dari garasi tadi!”

Motor direm tepat di depan gerbang, aku sampai harus maju menabraknya karena begitu kuatnya Orlando menarik rem tangan dan menginjak rem kaki di saat bersamaan. Tanpa berkata-kata aku segera turun dan masuk ke halaman tanpa mengucapkan terima kasih. Sempat kudengar deruman motor Orlando di belakangku yang sengaja digas berulang-ulang sebelum deru itu menjauh menuju halaman rumahnya sendiri.

Aku menghembuskan napas panjang hingga bahuku melorot. Dalam perjalanan menuju pintu depan, aku bertanya-tanya, apa yang baru saja terjadi?

***

Sadar bahwa cekcokku dengan Orlando sore tadi sangat tidak penting dan tidak jelas dan tidak beralasan serta sepele, kuputuskan untuk meminta maaf padanya sekali lagi secara serius. Jadi, setelah Maghrib aku menyeberang ke rumahnya lewat pintu pagar samping halaman.

Tentu saja aku tak perlu memberi Tante Sofiah sogokan apapun, karena perkataan Orlando tentang mamanya yang memberlakukan peraturan konyol dilarang bertamu malam Sabtu sama sekali tidak benar. Tante Sofiah langsung mempersilakanku naik ke kamar putra bungsunya begitu membukakan pintu depan untukku.

“Kak Lando kayaknya lagi ada masalah deh, Dil. Dari tadi sore mukanya ditekuk terus, dipanggil buat makan malam barusan juga gak turun tuh. Kamu tahu gak kira-kira dia sedang ada masalah apa?”

“Gitu ya, Tante… emm… kurang tau juga sih, mungkin Kak Lando sedang ngalamin bad mood aja, nanti kalau suasana hatinya baik kembali pasti balik lagi kayak semula.”

Tante Sofiah manggut-manggut.

“Aidil langsung ke kamar ya, Tante.”

“Iya. Apa perlu Tante suruh Bik Ida bikinkan minum?”

“Gak usah, Tante, kayak siapa aja yang datang. Nanti kalau pengen minum Aidil ambil sendiri ke dapur.”

“Ya sudah sana, kalau bisa suruh Kak Lando makan malam ya. Kalau sampai dia sakit Tante juga yang kelimpungan.”

Aku mengangguk lalu berjalan menuju tangga. Pintu kamar Orlando kuketuk dua kali saat sudah tiba di depan kamarnya.

“Orly gak lapar, Ma, kan udah dibilangin tadi!” Orlando merespon ketukan di pintunya, ia mengira kalau aku mamanya.

Aku memutar kenop pintu, ternyata tidak dikunci. Kujengukkan kepalaku lewat celah pintu yang belum kubuka sepenuhnya, Orlando sedang menelungkup di tempat tidur, posisinya melintang dengan arah letak ranjang dan tungkai mengarah ke pintu. Aku tidak segera masuk, kuperhatikan sosoknya yang tampak berantakan. Entah ia belum mandi atau sudah mandi namun tidak menyisir rambutnya, kepala Orlando tampak acak-acakan. Ia masih memakai jins yang sama dengan yang dipakainya ketika menjemputku sore tadi, atasannya singlet warna hitam. Kalau tadi sebelum menjemputku ia belum mandi, berarti sampai sekarang ia memang belum mandi. Terbukti setelannya masih sama. Kalau tadi sebelum menjemputku ia sudah mandi, berarti efek penampilan acak-acakannya pasti disebabkan kejadian di atas motor saat pulang.

“Apa aku ganggu?”

Orlando tampak kaget, ia mengangkat kepalanya dari guling yang menjadi alas wajahnya dan menoleh ke belakang. Aku yakin ia sangat mengenal suaraku. “Ngapain kemari, pulang aja sana!” setelah berkata demikian, ia kembali membenamkan wajahnya ke guling, sama sekali tidak bergerak untuk mengganti posisi berbaringnya.

Aku menghela napas dan memasuki kamarnya. Untuk berjaga-jaga jika nanti saat proses membujuknya aku harus berusaha sedikit lebih keras (baca lebih nakal), sengaja kuputar kunci pintu. Perlahan kudekati tempat tidur Orlando, sangat perlahan juga kurebahkan diriku di atas tempat tidurnya, kepalaku di guling yang sama. Aku berbaring menelentang dengan wajah menghadap plavon kamar, sangat rapat dengan sosok Orlando, bisep kami bersentuhan namun Orlando sama sekali tidak bergerak.

Aku tidak bersuara, demikian juga Orlando. Hanya detak weker di buffet yang mendominasi, itu berlangsung hingga bermenit lamanya. Ketika sadar bahwa Orlando tidak akan pernah membuka suara, kutolehkan kepalaku padanya. Bahunya tampak naik turun seirama dengan napasnya yang teratur. Aku bergerak untuk memeluknya, tak peduli akan seperti apa responnya nanti. Sebelah tungkaiku naik ke atas pinggangnya dan sebelah lenganku menjangkau sisi badannya.

Orlando bergeming.

“Jika dipikir-pikir, penyebab kita marahan gak masuk akal banget ya…”

Orlando masih diam.

“Tapi sekarang aku ngerasa makin amat sangat bersalah, gara-gara aku kamu jadi gak mood nonton Doraemon Stand By Me, padahal kamu udah nunggu-nunggu film itu dari kapan. Orly, maaf ya…” kutempelkan bibirku ke bahunya yang tepat berada di depanku.

Tiba-tiba Orlando mendongak, lalu memalingkan wajahnya menatapku. “Filmnya belum dimulai, ini baru jam tujuh.”

Kami bertatapan.

Aku tersenyum. Ternyata pilihanku untuk menyinggung tokoh kartun yang komiknya juga ikut dikoleksi oleh pacarku itu adalah cara yang tepat untuk menarik perhatiannya. “Kalau belum dimulai, bisakah kita pergi sekarang?”

Orlando diam, matanya berkedip-kedip memandangku.

“Tiketnya belum kamu robek, kan? Kita masih bisa pergi, kan?”

“Berhenti bersikap seolah-olah kita gak pernah marahan.”

“Aku memang gak marah…”

Orlando mendengus.

Aku menarik napas panjang, bau segar cologne yang biasa dipakai Orlando ikut masuk ke paru-paruku, membuktikan kalau laki-laki yang tengah kupeluk ini memang sudah mandi. Dan sepertinya Orlando butuh dari sekadar Doraemon kali ini. “Kamu tahu kan kalau Doraemon bisa ngeluarin apa saja dari kantong ajaibnya?”

Orlando tak menjawab.

Aku mendekatkan diriku lebih rapat lagi padanya. “Mau tahu apa yang tidak bisa dikeluarin Doraemon?”

“Enggak.”

Aku memberengut. “Kok gak mau tahu sih? Pura-pura mau tau aja deh…”

“Karena aku udah tau apa itu…”

Wajahku cerah. “Apa?”

“Doraemon gak bisa ngeluarin kamu dari hati dan pikiranku.” Lalu sebelah tangannya yang sedari tadi tertekuk di bawah dadanya bergerak mengacak kepalaku. “Gombalanmu basi, Sweetheart…”

Aku tertawa mendapati kalau ia sudah mulai hangat. “Setidaknya aku udah nyoba…”

“Yeah, nice try…” tangannya kembali tertekuk ke bawah dada. “Tapi aku masih kesal sama kamu.”

“Yahh…”

“Kamu nyebelin.”

“Maaf.”

Orlando diam sesaat, napasnya menghembus teratur. Ia masih menatapku sambil sesekali berkedip. “Harusnya kamu gak ngasih tau aku kalau kamu mimpi mesum sama Saif, harusnya kamu bohong saja bilang kalau yang kamu mimpiin itu aku. Kamu mungkin gak paham kayak apa rasanya, bahkan mengetahui kalau kamu mimpiin orang lain saja bisa membuatku sakit, apalagi membayangkan isi mimpimu itu. Rasanya kayak nyata buatku. Dan itu nyakitin aku, Dil…” Orlando terlihat kecewa, “Harusnya kamu bohong saja.”

“Maaf.” Kusentuh daun telinganya dan kugesek perlahan dengan jariku. “Aku menyesal…”

Tidak merespon maafku, Orlando melerai belitan tungkaiku di pinggulnya lalu bergerak bangun. Aku bangun dan duduk di tempat tidur memperhatikan ia yang sedang mengenakan kemejanya, kemeja yang sama dengan yang dipakainya tadi sore, diambil dari sangkutan di belakang pintu. Setelahnya ia bergerak ke buffet dan memasukkan dompetnya ke saku jins.

“Apa harus balik rumah dulu, minta ijin sama bundamu?”

Aku tersenyum. Kami jadi nonton. Kuanggukan kepalaku buatnya. “Minta ijin lebih dulu sebelum membawaku keluar itu terlihat gentle, dan seksi.”

“Pastikan saja kakakmu gak bertingkah sok posesif dengan melarangmu pergi.”

“Siapa bilang kita perlu ijinnya?”

“Selama ini yang terjadi justru demikian, kan?”

Aku bangun dari tempat tidur dan mendekati Orlando yang sedang menggunakan gel rambutnya di depan cermin. Kupeluk ia dari belakang dan kucium tengkuknya sambil berjinjit. “Mulai saat ini gak lagi…”

Di cermin, kutemukan pantulan Orlando sedang tersenyum. “Kupikir, kamu akan jadi adik yang patuh selamanya.”

“Aku masih adik yang patuh, kok. Tapi sesekali aku juga ingin jadi pacar yang nakal…” aku sukses meremas bagian di bawah sabuk Orlando, membuatnya terlonjak dan mengerang di saat bersamaan.

“Jangan bangunkan singa tidur kalau kamu gak sanggup menanganinya, Sweetheart… sepanjang hari ini kamu sudah mencobanya hingga dua kali. Jangan sampai kamu menambahnya jadi tiga, karena kalau sampai itu terjadi, aku bisa memperkosamu tanpa belas kasihan.”

“Apa itu ancaman?”

“Yah, kamu bisa menganggapnya ancaman.”

“Wow, pacarku sudah lebih dewasa ternyata.”

“Coba saja kalau kamu meragukanku.”

Kutatap pantulan Orlando di cermin, sorot matanya terlihat serius. Aku berjinjit lebih tinggi untuk bisa mencium pipinya. “Aku tunggu di rumah, mau ganti kemeja juga. Sekalian bilangin Bunda.”

Kulerai pelukanku pada Orlando lalu berjalan menuju pintu.

***

Stand By Me sungguh memukau penontonnya. Sebagai movie terakhir Doraemon, film itu sukses membuat Orlando menangis tanpa suara di sampingku. Hal yang sama juga nyaris terjadi padaku, mungkin karena aku bukan fanatik Doraemon dan tidak punya satu komik pun di kamarku makanya aku tidak sampai berair mata. Tapi sungguh, adegan di mana Nobita melongok kamarnya yang kosong tanpa adanya Doraemon lagi ketika hendak berangkat sekolah itu bagai kualami sendiri. Perasaan itu bisa kurasakan. Nobita melepas kebiasaannya, kebiasaannya saat Doraemon masih ada. Itu menyakitkan.

Kubayangkan jika suatu saat nanti aku harus meninggalkan kota ini, meninggalkan Orlando, meninggalkan keluargaku di sini. Mungkin aku juga akan seperti Nobita. Menurutku, kesepian adalah azab paling dahsyat di masa kita hidup. Aku tak bisa memikirkan hal lain yang lebih buruk dari pada ditinggalkan dalam kesepian, atau meninggalkan untuk menyongsong kesepian. Dua-duanya sama menyakitkan.

Di sampingku, Orlando menyerut hidungnya. Aku mengalihkan perhatianku dari layar raksasa di depan sana ke sosok Orlando. Kugapai jemarinya dan kugenggam erat. “Sedih, Dil… kasihan Nobita,” bisiknya padaku.

“Iya, bagaimana hidupnya tanpa kantong ajaib Doraemon ya?”

“Doraemon lebih berarti dari itu, Dil, dia lebih berarti dari kantong ajaibnya.”

“Iya iya iya…”

Sepertinya semua penonton adalah Orlando, terbukti di akhir film aku bisa mendengar bunyi orang menyerut ingus hampir di seluruh barisan. Bahkan banyak yang bertahan di kursi sampai film selesai menayangkan kredit di penghujungnya. Aku sampai dibuat takjub.

“Kalau kualitas bagusnya udah keluar di internet aku mau ngunduh, Dil…” di sampingku Orlando bangkit dari kursi dan bersiap turun. Aku mengekor di belakangnya.

“Apa kita langsung pulang?” tanyaku begitu sudah di parkiran.

“Enggak, kita ke hotel dulu.”

“Ngapain?”

“Bercinta.”

“Kalau aku gak mau?”

“Aku masih berencana untuk memperkosamu kok.”

Kupukul bahunya lalu naik ke boncengan. “Kan aku belum mengganggu singa tidur untuk yang ketiga kalinya.”

“Kamu bisa melakukannya begitu sampai di hotel.”

“Ini seriusan gak sih kita mau ke hotel?”

Orlando menyerahkan tiket parkirnya pada petugas, lalu melaju keluar dari basement. “Kalau aku membawamu ke hotel, apa sampai di sana kamu mau bercinta denganku?”

“Enggak.”

“Jadi ngapain kita ke sana?”

“Kan kamu yang bilang mau ke sana!”

“Kalau kamu mau aku sih gak keberatan.”

“Tentu saja aku gak mau,” cetusku.

Orlando menempatkan tangan kirinya di atas punggung tangan kiriku yang memeluk pinggangnya. Motor melaju dalam kecepatan nyaman. “Aku gak akan bercinta denganmu sampai kamu sendiri yang memintanya, Dil…”

“Bagaimana kalau aku gak pernah minta?” aku semakin merapatkan diriku ke punggung Orlando, angin jam sebelas malam mulai terasa dingin di kulit.

“Ide untuk memperkosamu tampak bagus sih, tapi aku gak suka membayangkan diriku sampai hati menyakiti orang yang aku cintai…”

“Ah, Orly… jangan terlalu sering memikatku…”

Orlando terkekeh pelan. “Itulah tepatnya yang akan kulakukan sepanjang hidupku, Dil. Memikatmu sampai kamu tak bisa menemukan dirimu lebih terpikat lagi pada orang lain selain aku.”

Di belakangnya, aku tersenyum. “Aidil lapar, tenda Kang Umay masih buka gak ya?” tanyaku manja ketika motor mendekati persimpangan yang salah satunya menuju jalan tempat biasa warung tenda beroperasi sejak sore. Tanpa menjawab, Orlando membelokkan motornya menuju jalan itu.

Sepuluh menit kemudian, kami sudah duduk berhadap-hadapan dengan satu mangkuk soto ayam di hadapan masing-masing sambil sesekali bercengkerama bagai muda-mudi sedang kasmaran. Well… kami memang sedang kasmaran.

Kencan kesekian ini, adalah salah satu kencan terbaik yang pernah kumiliki bersama Orlando Ariansyah, pacarku yang tidak pernah bisa benar-benar kesal apalagi benar-benar marah terhadapku.

***

Aku sedang menonton pertandingan persahabatan antara tim basket fakultas kakak dan pacarku melawan tim basket fakultas sebelah. Kak Aiyub sedang bersamaku, sama-sama bersorak dan sesekali bertepuk tangan menyemangati tim yang sama di sudut ruang, agak asing dari gerombolan supporter lain yang memadati tribun. Pertandingan sudah berjalan setengah jam, tim basket Fakultas sebelah unggul tipis. Aku berdoa supaya mahasiswa tinggi besar―yang tampaknya adalah jagoan―dalam tim basket fakultas sebelah itu membuat kepalanya sendiri nyangkut di keranjang ketika hendak mencetak angka. Namun tentu saja hal itu tak pernah terjadi.

“Kakakmu seksi banget ya, Dil…”

Di sampingku, tiba-tiba Kak Aiyub berujar pelan. “He?” aku menoleh padanya.

Ia terkekeh. “Itu, Saif, kok bisa seksi gitu ya kalau sedang main basket?”

Mau tak mau fokusku langsung tertuju pada sosok Kak Saif di lapangan gara-gara ucapan Kak Aiyub. Yah, Kak Saif memang sangat mencuri perhatian dibandingkan pemain lain di bawah sana. Aku melirik segerombolan cewek-cewek yang berteriak ketika kakakku itu memperoleh operan dan melompat untuk mencetak angka. Dasar centil.

“Perhatiin pemain lain aja, Kak, kali aja radarnya Kak Aiyub bekerja dan bisa ngakhiri status jomblonya Kakak.” Setelah berkata demikian, aku mengalihkan fokusku kembali pada Orlando. Pacarku itu sama sekali tidak kalah seksi dibanding kakakku.

“Ketemu!”

Aku sontak menoleh Kak Aiyub ketika dengan semangat ia berujar. “Apanya yang ketemu?”

“Kamu suruh aku pake radarku, kan? Nah, barusan aku pake dan langsung ketemu. Ya ampun, Dil… dia cakep banget. Kamu mesti setuju.”

“Yang mana?” aku bertanya antusias.

“Yang itu, yang sedang mendrible bola dengan jagonya itu, di tim yang sama dengan kakakmu. Shit, he’s so damn hot…!”

Di lapangan, kutemukan Orlando sedang mendrible bola sambil bergerak gesit mengecoh lawan.

“Lihat… caranya melompat, dia seksi sekali!”

Di lapangan, kulihat Orlando sedang melakukan lompatan untuk memasukkan bola ke jaring dan, masuk. Tepuk tangan Kak Aiyub berbarengan dengan jeritan histeris gerombolan cewek-cewek yang tadi juga sempat melengkingkan suara saat Kak Saif mencetak angka. Aku melengos kesal. Dasar centil. Cowok itu pacarku tau.

“Gimana, Dil, hasil radarku, keren kan?”

“Heuh, aku sudah punya surat kepemilikan atasnya, tauk!”

Di sampingku Kak Aiyub terpingkal. “Kalau begitu aku liatin Saif aja lagi deh. Lumayan buat teman tidur nanti malam.”

“Kak Aiyub apa-apaan sih?” Apa yang terjadi padaku? Sepertinya aku merasakan amarah.

“Yah, adiknya marah. Peace, Lilbro…” Kak Aiyub merangkul bahuku, “Aku hanya bercanda, Dik.”

Aku diam.

“Omong-omong, aku sedang dekat dengan seseorang kok saat ini. Laki-laki ini sangat baik, sepertinya kami akan cocok.”

“Eh? Serius?”

“Yep, semoga aku gak salah tanggap aja sama sikapnya, he he he…”

“Siapa?”

“Belum saatnya kamu tau.”

“Apa aku mengenalnya?”

“Enggak.”

“Baguslah, aku gak perlu khawatir kalau Kak Aiyub bakal jadi selingkuhan Orly atau nekat pedekate sama Kak Saif.”

Kak Aiyub kembali terpingkal. “Sebenarnya, aku pengennya sih kamu yang selingkuh denganku.”

“Hah?” aku sukses melongo.

“Ssst…” Kak Aiyub meletakkan telunjuk di bibirnya yang menurutku cukup seksi itu. “Jangan keras-keras, ramai tuh.”

“Habisnya, Kak Aiyub aneh-aneh aja bercandanya. Bikin jantungku lari-larian.”

“Memangnya, kalau Kak Aiyub suka dan bersedia, kamu mau selingkuh dengan Kakak?”

Aku menolehnya, sialannya laki-laki yang masih merangkul bahuku ini malah memberiku senyum mautnya. “Hhhh… jujur ya, Kak Aiyub tuh punya banget modal buat ngerusuhin hubungan orang loh.” Ia tertawa mendengar ucapanku. “Tapi bukan hubunganku sama mantan pacar Kak Aiyub yang sangat seksi di sana.” Kutunjuk sosok Orlando yang sedang mengipas-ngipasi diri dengan cara menarik-narik kaus basketnya di bagian perut, sepertinya pertandingan sedang diseling jeda.

“Shit… keringetan gitu Lando malah lebih panas dari Saif.”

“Stop!” aku menyikut Kak Aiyub, yang disikut hanya tertawa pendek.

“Dil, doain kakakmu ini segera jadian sama laki-laki baik tadi ya…”

“Siapa sih laki-laki baik itu? kenalin ke aku, Kak! Untuk sekarang namanya aja dulu deh…”

“Nanti kalau sudah jadi aja kamu kukenalin. Takutnya kalau kukenalin sekarang, itu laki-laki baiknya malah naksir kamu.”

Aku terpingkal. “Apa jadinya ya, kalau Kak Aiyub dulu gak pernah pergi ninggalin Orly…”

“Yang akan terjadi adalah kita yang bertukar status. Aku punya pacar dan kamu yang jomblo.”

Aku terpingkal lagi. “Makasih ya, Kak… dulu udah pergi ninggalin Orlando.”

“You’re welcome, Kid.”

Di lapangan, tim Kak Saif menggemuruhkan sorak-sorai. Mereka menang tipis. Kubawa mataku ke sana. Di tengah hiruk-pikuk euphoria kemenangan, laki-laki yang beberapa malam lalu pernah berkata tak ingin memaksa bercinta denganku sampai aku sendiri yang memintanya sedang memandangku sambil tersenyum cerah. Bibirnya bergerak-gerak. Meski ramai mata yang melihat, hanya aku yang tahu makna senyum cerah itu, hanya aku yang mengerti arti gerakan bibirnya itu.

I love you

Bahasa cinta memang tak dapat dimengerti oleh mereka yang awam.

***

“Kak Saif makin kesepian, Dil.”

Aku mengalihkan perhatian dari novel The Fault In Our Stars yang tengah kubaca, novel ini sendiri sebenarnya dibeli Kak Saif ketika aku menemaninya mencari buku untuk referensi skripsinya tiga minggu lalu. Waktu rasanya begitu cepat berlalu, tidak lama lagi Kak Saif dan Orlando akan menamatkan kuliah mereka. Saat ini keduanya sedang dalam tahap merampungkan proposal. Dua tahun setelah mereka di wisuda nantinya, giliranku yang akan menamatkan pendidikanku di kota ini.

Kuselipkan bookmark di halaman terakhir yang sudah kubaca, Hazel Grace dan Augustus Waters sedang beradu argumen dengan Peter Van Houten di rumah Peter. Kak Saif menginterupsiku tepat di bagian sedang seru-serunya. Kupandang Kak Saif yang sedang merenung langit sore. “Kesepian bagaimana?”

“Kesepian kayak seorang jomblo.” Ia menyandarkan punggungnya ke bangku dan merentangkan kedua tangan ke atas kayu sandaran. Aku berusaha untuk tidak menggubris ketika Kak Saif bergabung denganku di kursi halaman lebih lima belas menit lalu. Tapi melihat kekuyuan sosoknya sekarang tidak mungkin bagiku untuk tidak bersimpati.

“Kehilangan kontak sama Mbak Tiya?” usikku.

Kak Saif tampak bagai orang yang sedang terbebani masalah berat. “Kalau aku ngambil kesimpulan buat mengakhiri saja, apa menurutmu itu keputusan yang bijak, Dek?”

“Kalau alasannya cukup kuat, mungkin iya.”

“LDR ini mulai membosankan, Dil… dan itu seperti sedang membunuhku secara perlahan. Kamu tahu, aku bahkan sudah tidak ingat lagi seperti apa rasanya menggenggam telapak tangan Ruthiya, meski aku sering memandang tangannya lewat layar. Aku sudah lupa seperti apa rasa kulit wajahnya di telapak tanganku, meski aku selalu membelai layar ketika hendak mengakhiri obrolan dengannya. Aku takut hal yang sama juga terjadi padanya di sana, meski dia tak pernah mengutarakan lewat kata. Aku takut kami mulai berubah menjadi asing satu sama lain…”

Aku tak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk memberi respon buat kakakku, alih-alih aku malah meremas bahunya.

“Tidakkah menurutmu lebih baik kami mengakhiri saja hubungan ini dan sama-sama fokus mencari seseorang lain di dunia masing-masing?” Kak Saif menolehku.

Aku menggeleng. “Aidil gak tahu, Kak.”

“Apa alasan seperti lelah dengan hubungan semacam itu tidak cukup kuat?”

“Lelah?” ulangku.

Kak Saif tidak menjawab, sebaliknya ia mengambil tanganku yang di bahunya dan mulai menekuk-nekuk jemariku satu persatu hingga mengeluarkan bunyi tuk tuk tuk.

“Lelah saja gak cukup kuat, Kak… dan bosan juga sama saja. Kak Saif butuh alasan yang lebih dari sekedar lelah dan bosan.”

“Ini gak akan berhasil, Dek…”

“Apa Mbak Tiya pernah menunjukkan gelagat serupa, bahwa ia lelah dan bosan juga?”

Kak Saif tak menjawab.

“Oke, kalau pun Kak Saif jadi putus sama Mbak Tiya, trus Kak Saif mau pacaran sama siapa? Apa udah ada seseorang di sini yang bikin Kak Saif kepincut?”

“Gampang, tinggal ganti status pacaran di pesbuk jadi single, nanti juga pada nginbok.”

Aku tertawa. “Kalau yang nginboknya ayu semua, nah kalau jelek semua gimana?”

“Asal ayu hatinya ya gak apa-apa.”

“Ngomong boleh kayak gitu, tapi pas implementasinya pasti gak sesimpel ‘yang penting baik hatinya.’”

“Teman cewekmu di kampus ada yang cantik luar dan cantik dalamnya gak?”

“Buat apa?”

“Comblangin buat Kak Saif. Kayaknya keren punya cewek calon dokter gigi.”

“Halah, putus aja belum sudah niat jahat cari pengganti. Lagian nih ya, aku gak yakin Kak Saif sanggup ngelupain Mbak Tiya.”

Kakakku itu terdiam, tanganku masih dipegangnya meski tidak ada lagi jari-jariku yang bisa dibuatnya mengeluarkan bunyi.

“Kak Saif kangen nyium bibir seseorang…”

Kalimat Kak Saif yang tiba-tiba tersebut mengagetkanku, untuk tiga detik, aku melongo. Masuk detik keempat aku terbahak kencang. Kak Saif mengernyit menatapku.

“Kenapa? Ada yang aneh dengan ucapanku?”

Aku berusaha berhenti dari tawaku sampai terbatuk-batuk.

Tiba-tiba saja tanpa sempat kuprediksi, tanganku sudah ditarik kencang oleh Kak Saif hingga membuat badanku condong ke arahnya. Hal yang berikutnya terjadi sungguh membuatku shock dan mataku membeliak hingga nyaris meloncat meninggalkan rongganya.

Aku dicium Kak Saif.

Tepat di bibir.

Cepat dan singkat.

Aku kaku sementara Kak Saif tampak canggung, ia menundukkan wajahnya. Posisiku masih belum berubah saat dilepaskannya dengan cara begitu lekas sesaat tadi, masih menghadap ke arahnya. Begitu cepatnya hal itu berlangsung hingga tidak bisa dikategorikan sebuah ciuman. Mataku masih membelalak dan mulutku sedikit terbuka. Tatapanku tertuju pada Kak Saif. Aku kesulitan meyakinkan diriku sendiri bahwa hal barusan benar-benar terjadi.

Kak Saif benar-benar tak terprediksi.

Sesaat tadi ia berkeluh kesah tentang hubungannya yang mulai membosankan, dan beberapa menit kemudian malah bertingkah mengejutkan. Aku kebingungan, tidak tahu harus berucap apa, atau berbuat apa.

“Maaf, Dil… Kak Saif hilang kontrol…”

Hanya begitu saja.

Ia bangun dari duduknya dan berjalan pergi, meninggalkanku yang masih terlihat bego di kursi. Kusentuh mulutku beberapa saat kemudian. Apa yang baru saja terjadi? Kenapa Kak Saif berbuat demikian?

Aku memandang berkeliling, memastikan bahwa tak ada siapapun sempat melihat kejadian yang baru saja berlaku di sini. Jantungku bagai berhenti berdetak ketika pandanganku berhenti di jendela kamar rumah sebelah, kamar yang posisinya jelas berhadap-hadapan dengan kamarku.

Orlando melihat semuanya.

Aku lemas di kursiku ketika siluet Orlando menghilang digantikan tirai yang kembali luruh ke keadaannya semula.

Mendadak aku ingin menghajar kakakku.

*

“Aku ingin kita putus.”

Kuurungkan niat untuk mengetuk pintu kamar Kak Saif ketika samar-samar kudengar kalimat demikian dari dalamnya. Kujenguk ke tangga, memastikan bahwa tak ada anggota rumah yang akan memergokiku sedang menguping di depan kamar Kak Saif.

Kutempelkan kupingku ke pintu kamar tanpa menimbulkan sebarang suara.

“Aku mau kamu mengerti posisiku, Ruth…”

Aku yakin Kak Saif sedang melakukan pembicaraan via telepon dengan Mbak Ruthiya. Dari dua penggal kalimat yang sudah berhasil kudengar, sangat bisa kupastikan kalau Kak Saif sedang pada tahap mengakhiri hubungan jarak jauhnya. Yang membuatku kaget dan tak percaya, ia benar-benar melakukannya. Memutuskan Mbak Ruthiya. Secepat ini. Setelah beberapa menit lalu kami membicarakannya. Apa yang ada dalam kepala Kak Saif?

“Hubungan kita gak akan berhasil, Ruth. Lihat, dunia kita terpisah jarak yang tidak bisa kujembatani sampai kapanpun. Kamu di sana, dan aku di sini. Kita terasing dari satu sama lain, tidakkah itu menyiksamu?”

“DIK BUNGSU, INI ADA ORLANDO NYARIIN…!”

Seruan Mbak Balqis dari ruang tivi mengagetkanku. Buru-buru kutinggalkan kamar Kak Saif dan kutunda niatku untuk mengejar penjelasannya tentang kejadian belasan menit lalu di kursi halaman. Saat ini, ada orang yang lebih menyita seluruh perhatianku, ada orang yang menunggu semua penjelasanku. Kuharap diriku tak mengacaukannya.

“Mana dia, Mbak?”

Mbak Balqis mengangkat pandangannya dari tabloid yang terbuka di atas perut besarnya, kandungannya tinggal menunggu hari. “Nunggu di balai-balai depan katanya. Orlando Aneh deh, Dik Bungsu…”

“Aneh gimana, Mbak?” tentu saja aku paham aneh seperti apa yang dimaksudkan Mbak Balqis. Orlando baru saja memergoki pacarnya berciuman dengan orang lain, meski kenyataannya tidak tepat bila disebut berciuman.

“Aneh pokoknya, Mbak tanya ada apa dia gak jawab. Trus cara dia nanyain Dik Bungsu tadi itu loh, kayak orang gak senang gitu. Kalian ada masalah?”

Bisa gawat kalau Mbak Balqis mengasumsikan aku dan Orlando ada masalah, bisa saja istri Kak Adam ini ngotot ingin tahu apa yang sedang terjadi dengan mananyaiku belakangan, atau menanyai Orlando saat ada kesempatan. “Tekanan ngerjain skripsi mungkin, Mbak. Kak Saif juga ikut-ikutan bersikap aneh loh belakangan ini. Perhatiin gak?”

Mbak Balqis merenung sejenak. “Iya sih, Dik Gede juga akhir-akhir ini sering ngelamun. Mbak kira dia kangen pacarnya, ternyata tekanan tugas akhir, ya?”

Aku menyengir. “Mungkin. Mungkin juga keduanya, kangen pacar dan pusing sama skripsi.”

Mbak Balqis manggut-manggut, “Ya sudah sana, itu Orlando nunggu.”

Kutinggalkan Mbak Balqis dan segera keluar ke halaman. Dari beranda bisa kulihat sosok Orlando duduk di balai-balai sambil melipat lengan di dada. Posisinya membelakangi pintu rumah. Aku juga bisa melihat motornya yang terparkir di jalan lewat celah-celah besi pintu pagar. Orlando berencana membawaku pergi.

“Orly…” aku memanggil lirih.

Orlando menolehku, tatapannya tak lagi secerah dan sesemangat yang sering kutemukan selama ini. Seakan luka sudah memburamkan cerah dan mengoyak semangat dalam pancaran matanya. Seperti matahari yang terhalang gumpalan awan mendung, seperti layar kertas yang tersiram air hujan.

Orlando tidak menjawab, ia turun dari balai-balai dan berjalan menuju pintu gerbang. Aku mengekor di belakangnya. Ketika ia sudah menyalakan mesin motornya, aku naik ke boncengan dan ragu-ragu ketika berpegangan padanya.

Kami diam sepanjang perjalanan yang entah kemana.

*

Setiap awal pasti bertemu akhir

Seperti hidup yang berujung mati

Musim tidak selamanya kemarau,

pun bukan selamanya penghujan.

Semua bermula dari ada lalu tiada

Setiap hal tak ada yang luput dari pergantian

Demikianlah…

Cinta ini pernah baik-baik saja,

Dan sekarang,

Cinta ini sedang tidak baik-baik saja

Ternyata cinta tak luput dari pengamatan ‘awal dan akhir’

Ia tak lulus dari sensor ‘ada lalu tiada’

Dan ternyata cinta juga bukanlah hal yang tak bisa berganti…

 

Aku sama sekali tak berpikiran jika Orlando akan membawaku ke sini, ke tempat di mana semuanya berawal.

Bangunan terbengkalai itu masih sesuram dan sebobrok kali terakhir kukunjungi, namun Orlando begitu mantap menapaki setiap anak tangganya. Pada beberapa kesempatan yang sudah-sudah, ia akan mempersilakanku maju lebih dulu, namun hari ini ia memilih dirinya sendiri sebagai pemimpin dengan mengabaikan mempersilakanku duluan. Oh, ia bahkan belum mengeluarkan sepatah kata pun sejak berangkat tadi.

Angin sore menerpa wajahku, meriapkan rambutku. Kesejukan membungkusku. Yang selalu kurasakan ketika berada di sini hanyalah kedamaian. Seakan semua masalah hidup, semua hiruk-pikuk duniawi di luar sana serta merta hilang begitu aku menjejakkan kakiku di puncaknya.

Orlando duduk dengan kedua lengan memeluk lutut di spot favorit kami jika sedang kemari. Angin juga meriapkan rambutnya. Aku berdiri dua meter di belakangnya, dengan perasaan bersalah dan sejuta kalimat penjelasan yang sudah kurencanakan sepanjang perjalanan menuju kemari. Semua penjelasan itu akan kuutarakan setelah Orlando membuka percakapan. Aku sering melihat di film-film, pasangan yang kepergok melakukan kesalahan―aku tak mau memakai kata menyeleweng karena menurutku aku sama sekali tidak menyeleweng dari Orlando―selalu akan berusaha untuk memberi penjelasan tanpa diminta, mengejar pasangannya sambil terus berkata ‘aku bisa menjelaskan semuanya’ dengan sikap ngotot, namun yang terjadi justru ia terlihat semakin salah dan si pasangan yang dikecewakan akan menganggap kalau penjelasan yang akan disampaikan itu hanyalah dalam rangka membela diri.

Aku sama sekali tak ingin membela diri di sini. Karena walau bagaimanapun―meski sangat ingin kusangkal―aku tetap bersalah. Yang hendak kulakukan adalah meluruskan persepsi Orlando. Itu saja, meluruskan, bukan membela diri.

“Kamu ingat? Di sini aku dulu berikrar janji, bahwa aku tak akan membuatmu menyesal telah memilihku…”

Ingatanku kembali ke saat yang dimaksud Orlando, ke satu sore saat kami menyamakan perasaan. Dan tentu saja, aku ingat sedetilnya semua kejadian sore itu, termasuk apa yang ditanyakan Orlando sekarang. “Iya…” aku berjalan mendekat.

“Apa kamu menyesal memilihku, Dil?”

“Tidak, aku tidak menyesal.”

“Pernahkah terpikirkan, jika mungkin saja selama ini kamu telah membuat pilihan yang salah?”

Aku bisa menerka kemana arah pembicaraan Orlando, dan aku tidak suka karenanya. Tidak menjawab, aku duduk sehasta di samping kanannya, mengikuti sikap duduknya yang masih memeluk lutut.

“Mungkin harusnya kamu gak memilihku…”

“Tapi harus milih Kak Saif, itu kan yang mau kamu katakan?” aku menoleh Orlando, ia masih dengan sikap duduknya semula, memandang lurus ke depan. “Kak Saif bukan gay, kenapa kamu gak bisa nerima fakta itu?”

“Dan sepertinya juga bukan pure straight.”

Aku mendesah. “Hanya karena Kak Saif terlihat menciumku bukan berarti dia biseks.”

“Mencium yang bukan satu kali, jangan lupakan kebenaran itu.”

Aku tak bisa mendebat. Bagaimanapun, apa yang dikatakan Orlando cukup beralasan.

“Maafkan aku jika aku punya pikiran bahwa banyak kejadian serupa yang kulihat tadi yang belum kuketahui. Demi Tuhan aku tak bisa mengenyahkan pemikiran itu.”

“Tak ada kejadian lain lagi selain apa yang sudah kamu ketahui. Jika kamu tak bisa percaya, aku menyesal karena gak dapat melakukan apapun dengan itu.”

Hening berlangsung beberapa lama setelah aku bersuara. Orlando yang tidak mendebat membuatku tak bisa menerka jalan pikirannya.

Sekawanan burung melintasi cakrawala, menuju laut. Aku mendongakkan kepala dan mengikuti arah lintas kawanan burung itu hingga mengecil dan hilang di kejauhan. Angin sore kian terasa sejuk.

“Apa selama ini kamu sungguh-sungguh mencintaiku, Dil?”

“Ya Tuhan, Orly… pertanyaan macam apa itu?”

“Anggap saja yang sedang bertanya adalah orang idiot paling bodoh di dunia.”

“Aku sungguh-sungguh mencintaimu, oke! Aku sungguh-sungguh!”

“Berarti aku buta dan tak cukup peka untuk melihat dan merasakannya…”

“Hanya karena ciuman tak berarti tadi kamu langsung mengadili dirimu sendiri tak cukup peka? Ya ampun, Orly… ciuman itu sama sekali tak ada artinya…”

Untuk pertama kalinya Orlando menolehku. “Tak ada artinya?” ia mendengus, “Oh, bantu aku memahaminya, Aidil, dengan tanpa alasan kalian tiba-tiba berciuman begitu saja? Itu maksudmu dengan tak ada artinya? Apa bagimu aku terlihat sebodoh itu?” ia mendengus lagi lalu kembali meluruskan wajah.

“Aku tak tahu apa yang sedang terjadi dengan Kak Saif, aku baru ingin meminta penjelasannya ketika kamu datang tadi. Tapi sungguh, Orly, bukan aku yang punya kehendak, Kak Saif yang tiba-tiba bertingkah aneh.”

Orlando tak merespon, dan keheningan kembali merajai di antara kami. Dari arah laut, gerombolan kelelawar mulai meninggalkan sarang, melintasi cakrawala yang sama yang sesaat tadi dilalui kawanan burung menuju gunung.

“Mungkin lebih baik kita jalan sendiri-sendiri dulu mulai sekarang…”

Kalimat lirih Orlando terdengar bagai geledek di kupingku. “Apa maksudnya itu?”

“Mungkin dengan begitu akan lebih baik, aku tak lagi merasa cemburu hingga sakit jika ke depannya kamu dekat dengan siapapun…”

Aku ternganga.

“Semoga saja aku beneran gak cemburu dan gak akan sakit lagi ya, Dil…”

Orlando bangun dari duduknya dan tanpa berkata-kata lagi berjalan menuju tangga. Rasanya mataku berkaca-kaca, ingin saja aku menangis keras, menangis untuk Orlando.

Aku baru bangun dari dudukku dan mengikuti menuju tangga ketika sosok Orlando sudah tak terlihat. Sepanjang perjalanan menuruni tangga, jarakku dan jarak Orlando adalah kelokan tangga yang satu dengan kelokan tangga lainnya, saat aku sampai di satu kelokan tangga, sosok Orlando sudah menghilang di kelokan tangga lantai berikutnya.

Keadaan ini, seakan menerangkan bahwa kami tak lagi beringan mulai saat ini.

“ORLANDO ARIANSYAH, AKU TAK INGIN PUTUS DENGANMU…!”

Teriakanku menghentikan gerak Orlando dari menunggangi motornya. Jarak kami terpisah sepuluh langkah. Ia berbalik dan menatapku.

Dadaku naik turun karena gumpalan emosi dalam rongganya, “Kamu lihat cincin ini?” kuangkat tangan kananku dimana cincin bertuliskan namaku dan namanya tersemat di jari manis. “Aku tak ingin melepasnya… aku tak ingin…”

Orlando terdiam.

“Aku tak punya perasaan apapun pada Kak Saif, Orly kamu harus percaya!”

Orlando berjalan mendekatiku. “Jangan menangis, please… jangan menangis Aidil…” jemarinya menyapu air mata yang bergulir di wajahku. “Aku gak sanggup liat kamu nangis.”

Aku ingin menubrukkan diriku ke dadanya, memeluknya dan tak akan kulepas, tapi ia menahan kedua bahuku dari berbuat demikian. “Kamu tak mencintaiku lagi?” aku menggigit bibirku untuk membendung tangis yang menyesakkan tenggorokanku.

“Bukan itu masalahnya, Dil…”

“Lalu apa? Kamu gak bisa memutuskan hubungan kita begitu saja…”

“Kita perlu jeda untuk mendalami diri masing-masing, aku perlu waktu untuk membenahi diriku. Seperti katamu, mungkin memang aku yang salah memahami, aku yang menempatkan cemburuku secara salah. Maka dari itu aku perlu waktu untuk memperbaiki pemahamanku.”

Aku sama sekali tak mengerti ucapan Orlando.

“Tapi kamu gak bisa mutusin aku karena kamu masih cinta, aku masih cinta…” kucengkeram bajunya di bagian dada.

Orlando tak menjawab, hanya matanya yang menatapku tak berkedip.

“Aku gak ingin kita putus, Kak… aku gak ingin Kak Lando ninggalin aku!”

“Mungkin kita harus mulai lagi semuanya dari awal, Dil… mengulang kembali perjalanan kita dari titik pertama. Kenal, berteman, dan menyerahkan semuanya pada waktu.”

“Kita sudah melewati semua itu!” aku memukul dadanya beberapa kali saking geramnya.

“Berarti bukan perkara sulit untuk mengulanginya sekali lagi.”

“Arrgghh…!” sekarang aku benar-benar menonjok dadanya.

Orlando terbatuk-batuk.

“Aku benci Kak Lando!”

Aku berjalan mendahului Orlando menuju motor dan langsung duduk di boncengan. Ia menyusulku setelah mengelus dadanya yang kena tonjok. Sepanjang perjalanan pulang, aku duduk memeluk pinggangnya dan menempelkan pipi kananku ke punggungnya. Tatapanku terasa kosong, tak ada fokus, segalanya seperti berputar. Akhirnya kupejamkan mataku, mencoba meresapi hangat Orlando di pipiku, mungkin besok aku tak bisa bebas lagi merasakannya saat keadaan sudah berubah sepenuhnya antara aku dan dirinya.

“Walau aku bersumpah bahwa ciuman kilat Kak Saif tadi sama sekali tidak berarti apa-apa bagiku, itu tak akan merubah keputusanmu, kan?” masih memejamkan mata, aku berbisik, cukup jelas untuk didengar Orlando. Aku menyambung ucapan saat Orlando tak merespon. “Siapa sangka ya, Kak… hari ini terjadi juga…”

“Ya, kamu sudah boleh membiasakan diri untuk kembali memanggilku kakak, kayak dulu saat kita belum pacaran.”

Di antara beberapa kemungkinan hal yang bisa ia tanggapi tentang kalimat pertamaku, Orlando malah menanggapi hal tak penting itu. Seharusnya  ia menanggapi perkataanku tentang sumpah, atau ciuman, atau keputusannya sendiri yang hingga detik ini masih kuharapkan untuk berubah. Rasanya begitu di luar nalar bagiku. Aku masih sangat mencintai Orlando, begitu pula sebaliknya, aku yakin ia masih mencintaiku sepenuh hatinya. Namun ia ingin hubungan kami tetap berakhir, sebabnya… oh Tuhan, hanya ciuman kecil yang tak berarti apapun bagiku. Bahkan mungkin Kak Saif sudah lupa pernah melakukannya.

Kamu bisa mengatakan itu ciuman kecil yang tidak berarti apa-apa, Aidil… tapi lihatlah seperti apa Orlando selama ini? Seperti apa ia menggambarkan dirinya dalam memilikimu? Bahkan kau yang memimpikan orang lain selain dirinya pun bisa membuatnya sedemikian terluka. Bayangkan seperti apa sakitnya ketika dia melihatmu dicium orang secara langsung! Secara langsung! Tidakkah kau bisa mengira-ngira sesensitif apa hati laki-laki ini? Tak bisakah kau menerka-nerka selembut apa hatinya? Dia memang pencemburu, dan semua cemburu itu bisa masuk akal karena dia sudah menempatkanmu sebagai dunianya sejak kau menerima cintanya. Cemburunya masuk akal, karena selama ini dia percaya bahwa kau juga melakukan sebaliknya, menempatkannya sebagai duniamu…

Aku membuka mata ketika ngiang suara itu berhenti bergema di dalam kepalaku. Mendadak aku paham segalanya. Mendadak aku bisa menempatkan diriku di posisi Orlando, bahkan aku bisa merasakan sakit dan lukanya, cemburu dan amarahnya. Mendadak, aku merasa jika sebenarnya… aku tak cukup pantas untuk laki-laki seperti Orlando.

“Kak…”

“Ya?”

“Suatu saat nanti, jika Kak lando masih sendiri, aku masih sendiri, dan kita sudah siap untuk jadi pacar satu sama lain lagi, apa Kak lando akan menjawab iya untuk pertanyaan ‘maukah Kak lando jadi pemilikku sekali lagi’ yang aku ajukan?”

“Hanya jika kamu masih sanggup sabar dengan sikapku yang kekanak-kanakan dan cemburuku yang keterlaluan, maka aku akan menjawab ‘iya.’”

“Jadi sekarang kita resmi putus sampai saat itu datang?”

“Kita memang tidak lagi pacaran, tapi aku masih tetanggamu yang cakep, jendela kita masih berhadap-hadapan, dan selagi harga bensin belum dinaikin jadi semahal satu boks kolor EA isi dua, motorku masih akan mengantar-jemputmu jika diminta…”

“Tapi aku gak mungkin punya kesempatan ngeliat Kak Lando bugil lagi di jendela…”

“Kamu bisa mengintipku mandi, atau menempatkan kamera tersembunyi dalam kamarku.”

Aku tertawa.

“Kamu tau, aku kangen masa-masa kita saling menulis di jendela. Itu salah satu kenangan manisku denganmu sebelum kita seintim hari-hari kemarin.”

“Besok, mungkin kita bisa mencoba untuk melakukannya, mungkin aku akan mulai dengan menulis ‘hi, my eks…’ di flip chart.”

“Kedengarannya bagus. Aku akan membalasnya dengan emo senyum terbalik dan huruf H diikuti huru A sebanyak tiga baris dikali tiga pasang perbarisnya.”

Aku melepaskan pinggang Orlando sekaligus menjauhkan wajahku dari punggungnya ketika ia membelokkan motor ke jalan menuju komplek perumahan yang kami tinggali. Aku juga memundurkan dudukku. Di gerbang rumah, Kak Saif terlihat berdiri dengan ponsel di kuping.

“Ya ampun, kukira kalian berdua diculik,” ujar Kak Saif begitu Orlando menghentikan motornya di depan gerbang. “Aku diberi tahu Mbak Balqis kalau kalian mengobrol di balai-balai, tapi begitu keluar malah gak ada…”

Aku turun dari motor Orlando. “Jangan bilang kalau Kak Saif baru saja menghubungi nomor kantor polisi.” Aku menunjuk ponsel di tangan kanannya.

“Aku nelponin Orlando, orang paling bertanggung jawab atas keselamatanmu jika kalian sedang berdua.”

“Hapeku di rumah, Sef, tadi buru-buru kemari.”

Kak Saif manggut-manggut. “Pantesan, aku udah ngebel sampe belasan kali selama sepuluh menit tadi.”

“Jangan terlalu mengkhawatirkanku, Kak!”

“Sampai kapanpun, Dek, kalau kamu masih di sini dan aku masih kakakmu, bagiku kamu tetap anak kecil yang harus diawasi dan dijaga.”

“Ppffftt…” Orlando meniup udara dari mulutnya dengan merapatkan bibir.

“Yah… walaupun sejak Lando jadi bodyguard cadanganmu tugasku sedikit terbantu, tapi tetap saja kalau kamu pergi tanpa ngasih tau aku merasa khawatir.”

“Owrait owrait… Brada, aku akan pergi ke kamar mandi sekarang.”

Orlando tertawa.

Kak Saif melotot padaku.

Aku mengedikkan bahu.

“Omong-omong, aku ada kabar mengejutkan buat kalian berdua…”

Untuk pertama kalinya sejak tadi, Kak Saif memperoleh atensi serius dariku dan mantan pacarku yang masih di sadel motornya.

“Apa Sef? Lu jatuh cinta sama Aidil?”

“Bukan, aku gak mungkin menang saingan sama lu, Do.”

Aku melengos, “Topik gak penting,” sungutku, sangat yakin kalau ucapan Kak Saif hanya untuk mencandai Orlando.

Orlando mengangkat bahu sekaligus menekuk bibir, juga mengangkat alis dan mengembangkan cuping hidungnya. Aku harus belajar melakukan empat hal itu sekaligus di waktu bersamaan darinya suatu saat nanti.

“Kalian tahu? Aku resmi tidak el-de-er-an lagi sama Ruthiya…”

“HAH…?!?”

“Wow, timing lu sangat sempurna, Sef. Aidil baru saja jomblo untuk lu dekati…”

Kemudian hening.

Dan waktu seakan lupa bergerak.

Lalu angin terlalu kaget untuk berlalu-lalang.

Beginilah kami.

Tiga orang jomblo new comers yang kebingungan dengan personality satu satu sama lainnya.

 

Tahukah kalian tentang candy mengagetkan?

yang punya sesuatu mengejutkan di pertengahannya,

yang membuat kita kaget ketika salut gulanya menipis dan lalu pecah,

meledakkan materi kejutan di dalamnya ke suluruh rongga mulut kita?

Surpise candy itu telah meledakkan materi kejutannya

Pasti ada yang tidak kaget,

tentu ada yang tidak terkejut,

namun aku…

sungguh kaget dan benar-benar terkejut

Jangan salahkan diri sendiri jika surprise candy tak berefek pada kalian,

mungkin kita berbeda tipe,

atau kalian sudah divaksinasi

Barangkali,

Aku saja yang terlalu rentan,

terhadap serangan laki-laki bertipe surprise candy…

 

 

 

 

 

 

 

Mid Nopember 2014

Dariku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com