image

(bukan) sebuah catatan al gibran nayaka

Bagaimana perasaanmu seandainya di usiamu yang menginjak akhir belasan, kamu tiba-tiba diberitahu bahwa kamu bukan anak kandung orang tuamu? Atau ternyata lelaki yang selama ini kamu anggap ayahmu ternyata bukan ayahmu? Atau ternyata ibumu yang selama ini seorang single parent ternyata dulu mengandungmu dari sperma seorang lelaki yang sama sekali nggak dikenalnya?
Atau mungkin sebaliknya, untuk kamu yang termasuk laki-laki dewasa, bagaimana seandainya tiba-tiba ada lebih dari selusin anak yang mengaku secara biologis adalah anakmu?


Begitulah kurang lebih inti cerita dari Delivery Man, sebuah drama komedi berdurasi 104 menit yang dibintangi oleh Vince Vaughn.
David Wozniak adalah seorang lelaki dewasa dengan kehidupan yang nggak bisa dibilang mapan. Bersama kedua orang saudara lelakinya, David membantu ayahnya mengelola usaha keluarga, sebuah toko daging. Tugasnya adalah mengantar daging produk tokonya kepada para pelanggan. Selain masih tergantung pada ayah dan saudara-saudaranya, David juga terlilit hutang yang cukup banyak dan membuat hidupnya nggak tenang karena sewaktu-waktu harus berhadapan dengan debt collector.

Kehidupan David berubah saat pacarnya, yang sangarnya seorang polwan, menyatakan dirinya hamil. Emma, sang pacar, menganggap David tidak bisa diandalkan dan bertanggung jawab, karena itu Emma memutuskan untuk membesarkan bayinya sendirian. Demi membuktikan pada Emma bahwa dirinya layak menjadi ayah sang bayi, David bertekad untuk memperbaiki hidupnya meski nggak tahu harus melakukan apa.

Tanpa perlu mencari, proses pendewasaan diri David berjalan dengan sendirinya, ketika secara mengejutkan seorang jaksa mendatanginya dan menyatakan bahwa dia adalah ayah biologis dari 533 anak berusia remaja, dan sebanyak 142 dari mereka ingin bertemu dia.
Alkisah, belasan tahun yang lalu, David ternyata gemar melakukan kegiatan sosial. Sayangnya yang didermakan David adalah sperma. Demi mendapat imbalan beberapa dollar, David bersedia mendonorkan spermanya ke sebuah klinik yang merangkap bank sperma, dia selalu menggunakan nama samaran Starbuck. Dan selama kurun waktu empat tahun, David si Starbuck telah mendonorkan spermanya sebanyak 693 kali. Masih belum cukup mencengangkan, sperma David yang ternyata sangat sehat disukai pihak klinik dan akhirnya menjadi langganan untuk dibuahkan di rahim 533 orang wanita. Begitulah.

142 anak biologis David menempuh jalur hukum untuk menguak identitas asli Starbuck, mereka merasa berhak untuk mengenal siapa ayah kandung mereka. Diawali rasa ingin tahu, berbekal berkas profil dari pengadilan, diam-diam David menemui satu persatu anak itu. Andrew si pebasket profesional, Josh si aktor pemula, Kristen si pecandu narkoba, Bryan si cacat mental, hingga Viggo si peka.

Mengetahui bahwa tidak semua bocah itu menjalani kehidupan yang mudah, naluri kebapakan David membawanya untuk menjadi semakin dekat dengan mereka. Alih-alih merasa terancam dengan proses hukum yang di depan mata, David bertekad untuk menjadi guardian angel untuk anak-anak itu, tentu saja tanpa mereka tahu siapa dia sebenarnya.

Keadaan yang mendesak untuk segera melunasi hutang-hutangnya membuat David menuruti saran Brett, sahabat karib sekaligus pengacaranya, untuk balik menuntut klinik bank sperma yang seharusnya tetap merahasiakan identitas Starbuck sebagai donor. Tanpa disangka-sangka, David memenangkan kasus itu. Bukannya lega, David justru merasa terbebani melihat reaksi para Starbuck Kids, sebutan untuk anak-anak biologisnya. Dia merasa bersalah karena bocah-bocah itu sesungguhnya tidak memiliki motif apapun selain ingin mengenalnya.

Well, I prefer Ben Stiller or Adam Sandler for comedies, but really, Vince Vaughn is worth watching in this movie. Film ini termasuk genre keluarga, pas banget dengan momen hari ayah internasional hampir sepekan lalu. Ceritanya konyol dan mengharukan dengan proporsi yang tepat. Sungguh, selama nonton saya silih berganti(?) cekikikan dan mewek. Melihat para Starbuck Kids bersama-sama, saya membayangkan betapa menyenangkannya punya saudara sebanyak itu. Melihat David bisa diterima apa adanya sebagai ayah mereka, dan melihat David berusaha melindungi dan membantu anak-anak itu dengan caranya sendiri, membuat saya berpikir bahwa betapapun seorang ayah adalah seseorang yang tidak bisa diandalkan di mata orang lain, dia tetap sosok yang paling reliable untuk anak-anaknya.