image

(bukan) sebuah catatan al gibran nayaka
Adakah dari kalian di sini yang merupakan pengguna LINE? LINE, harus ditulis seperti itu, dengan huruf kapital semua. Saya yakin hampir semua pengunjung blog ini paham betul apa itu LINE, sekalipun mungkin kalian bukan termasuk salah satu user, apalagi yang fanatik.

LINE adalah salah satu brand layanan IM (instant messaging) besutan Jepang. Seperti kita tahu, seiring perkembangan teknologi telepon pintar, berbagai aplikasi IM juga ikutan menjamur. Kalo diingat-ingat, bersamaan dengan LINE, wechat dan KakaoTalk juga sempat booming, entah gimana kabarnya sekarang. Yang saya tahu, dua aplikasi itu nggak se-survive LINE, entah karena keduanya sudah raib dari gadget saya sejak lama😀, tapi setidaknya, saya hampir nggak pernah lagi ngeliat tv commercial dua aplikasi IM itu.

Tuntutan kebutuhan membuat LINE berkembang fungsi sebagai media sosial juga. Selain fitur free call dan voice message, terbaru yang saya tahu, LINE menyediakan fitur tambahkan teman secara langsung, layaknya facebook. LINE juga menyediakan timeline yang bisa bikin kita pasang status seeking for attention atau show off😀 layaknya di facebook. Teman-teman di friendlist kita juga bisa komen, nge-like, lengkap dengan stiker-stiker khas LINE.

Oh, kenapa saya ngomongin LINE? Karena saya pengguna LINE. BBM itu keharusan, tapi LINE adalah kecintaan, begitu perumpamaannya. Meskipun jujur aja, teman ngobrol saya di LINE nggak banyak, bahkan bisa dibilang itu-itu aja, sekalipun daftar namanya berderet. But i still love LINE. And Brown😀
Dan kenapa saya ngomongin LINE? Tentu aja karena film pendek yang mau saya reviu ini ada hubungannya dengan LINE.

Maafkan saya kalo pada akhirnya postingan ini jadi bertele-tele dan terkesan seperti curcol-an ya, para sahabat DKN. Still thank you so much for your time..

Kemudian, adakah dari kalian yang sudah abg atau remaja di tahun 2002? Saat booming film fenomenal Ada Apa Dengan Cinta?
Oke, saya sadar itu sudah 12 tahun yang lalu😀 mungkin ada beberapa dari kalian yang waktu itu masih merangkak atau ngedot. Jadi saya ceritain aja sedikit.
Ada Apa Dengan Cinta adalah sebuah film genre remaja yang bisa dibilang sebagai salah satu perintis bangkitnya kembali perfilman nasional. Film ini diproduseri oleh Mira Lesmana dan Riri Riza, disutradarai oleh Rudy Soedjarwo, dan di-peran utama-i oleh Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra.

Saya ingat betul, betapa hebohnya efek film AADC waktu itu. Buku skenario laku mahal. VCD bajakan laku keras. Gaya fashion Dian ‘Cinta’ Sastro dicontek abis. Gaya cool Nico ‘Rangga’ Saputra ditiru mentah-mentah. Dan nggak lupa, semua remaja tiba-tiba jadi puitis demi mengekor Rangga dan Cinta, kekeke..
Saya sendiri, waktu itu masih sekolah menengah – nggak perlu saya kasih tahu menengah pertama atau atas biar kalian nggak repot ngitung umur saya😀 – sampai hapal dialognya karena menonton VCD bajakannya berulang-ulang. Dan ketika suatu hari, bapak saya mengoleh-olehkan VCD original film itu dari luar kota, masyaAllah, sepertinya itu hadiah terbaik yang pernah saya terima seumur hidup waktu itu😀

Saya rasa banyak dari kalian yang sudah nonton film ini. Seingat saya film ini pernah diputar berkali-kali di televisi dalam momen tertentu seperti lebaran atau hari kasih sayang.
Jadi kalian pasti tahu kalo kisah Rangga dan Cinta sebetulnya belum usai. Nah, bagaimana jika mereka kemudian bertemu lagi, 12 tahun kemudian, dalam usia yang lebih matang?

Itulah cerita yang disuguhkan dalam short movie ini. Ada Apa Dengan Cinta 2014, presented by LINE. Sebuah short movie yang merangkap tv commercial. Dari yang saya baca, film pendek berdurasi 10 menit ini diputar perdana pada 5 November 2014 lalu. Ajang reuni para pemeran dalam AADC, sekaligus penggemarnya juga. Seperti saya. Atau mungkin kita.

Diceritakan pada 2014, Rangga yang masih tinggal di New York mendalami profesi sebagai jurnalis. Sebuah tugas mengharuskannya untuk melakukan job trip ke Indonesia, tanah airnya. Melihat buku AKU secara tak sengaja saat packing, membuat Rangga kembali mengingat Cinta, cinta pertamanya waktu SMA.
Rangga kemudian menggunakan fitur find alumni yang disediakan LINE, untuk melacak keberadaan teman-teman dari SMAnya, and bingo! There she is. Still georgous like she was.
Cinta tumbuh menjadi wanita mandiri yang menarik, sama seperti saat SMA. Dia diceritakan menekuni bisnis desain, dan masih juga nge-gank kompak dengan keempat teman cantiknya.
Dihubungi Rangga secara tiba-tiba setelah 12 tahun lost contact membuat Cinta bimbang. Kedatangan Rangga yang cuma dua hari di Jakarta dan mengajak bertemu tidak juga membuat Cinta cepat mengambil keputusan. Mengetik balasan untuk LINE message Rangga pun, Cinta butuh waktu lama.
Jadi? Apa akhir cerita mereka kali ini?🙂

Silakan nonton sendiri. Saya baru aja nonton short movie ini siang tadi, di kantor. Setelah berhasil mendownloadnya dari youtube dengan resolusi bagus. Lalu saya bahagia😀
Bahagia karena bisa ngeliat Rangga dan Cinta lagi. Bahagia karena mendengar notifikasi LINE berkali-kali meskipun bukan dari hp saya. Bahagia karena ceritanya yang menghangatkan hati.

Saya suka karena alur cerita dan settingnya rapi banget. Sedikitpun nggak mengurangi ‘esensi’ Ada Apa Dengan Cinta. Puisi sebagai nilai plus cerita ini dalam film sebelumnya juga nggak terlupa, ada di awal dan akhir cerita. Orang-orangnya juga utuh mereka. Rasanya seperti melihat Rangga dan Cinta 12 tahun kemudian seperti yang seharusnya. Pas.
Melihat setiap scene dimana mereka galau berkali-kali mengecek handphone masing-masing, mengetik balasan lalu menghapusnya lagi, menunggu-nunggu balasan padahal LINE message sudah ter-read berjam-jam atau berhari-hari yang lalu, kemudian men-delete message yang sudah dibaca berkali-kali, itu semua, rasanya kita banget..🙂

Detik tidak pernah melangkah mundur
Tapi kertas putih itu selalu ada
Waktu tidak pernah berjalan mundur
Dan hari tidak pernah terulang
Tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru
Untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab,
Love
Life
LINE
(Rangga & Cinta)
It’s connecting us
(Me :D)