Pirate Of Love Cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

18.205 kata, semoga kalian sanggup membacanya sampai akhir. Dilihat dari kriteria cerita pendek yang telah ditetapkan dimana sebuah tulisan baru layak disebut cerpen bila panjangnya berkisar antara 3.000 hingga 3.500 kata, maka oneshootku kali ini setara dengan sedikitnya 5 atau 6 cerpen. Jadi, harap maklum kalau aku jarang ngepost cerpen baru, karena lihat saja, sekali update aku bisa langsung ngasih kalian 6 cerpen sekaligus. Betapa baiknya Nayaka, kan? (yang baca pada mules)

Sementara, ini menjadi judul oneshoot Nayaka yang paling panjang. Meski demikian, bukan berarti isinya serta merta lebih bagus, yaa… Yang jelas, aku sudah mengerahkan semua kemampuan di Pirate Of Love ini, semuanya.

Seorang teman pernah bertanya tentang oneshoot ini, saat itu ia sempat mengolok-olok dengan mengatakan : pasti nanti di pengantar bakal disebutkan sejarahnya cerpen itu dibuat, bahwa judulnya udah lama ada dan blah blah blah.

Begitu inti olok-olokannya. Dan memang benar, file Pirate Of Love sudah kubuat di harddiskku sejak 26 Februari 2013, hari Tuesday (aku mengklik properties file ini sebelum bikin pengantar). Isinya hanya judul doang sejak tanggal itu hingga aku mulai menulisinya sejak seminggu yang lalu.

Mengekor kata Mbak Afni di post sebelum ini : terima kasih untuk yang masih mau mampir mengecek blogku, terima kasih untuk yang masih mau membaca coretanku, terima kasih untuk yang masih mendukungku agar terus menghidupkan blog ini. Maafkan aku karena jarang update. Semoga kita semua menjadi Superhero Marvels (eh?)

Akhirnya, semoga kalian menikmati membaca PIRATE OF LOVE seperti aku menikmati ketika menulisnya.

 

Wassalam.

n.a.g

##################################################

 

Hampir setiap hari ketika matahari memproyeksikan bayangan orang-orang tepat di bawah pijakan kaki sendiri, mereka akan duduk berjejer membentuk setengah lingkaran di hadapan lelaki tua yang kerap dipanggil Oldman itu. Oldman, yang oleh sebagian orang di pemukiman kumuh pinggiran kota itu dianggap setengah waras sudah cukup senang bila mereka membawa sekerat roti tawar dan secawan susu untuknya, namun lebih sering mereka hanya membawa salah satunya saja, seperti hari ini.

“Ah, kupikir kalian tidak akan datang.”

“Kami juga berpikir begitu tadinya, Oldman…” seorang gadis belia langsung mengambil tempat paling dekat dengan Oldman, dua gadis seusianya mengikutinya duduk, langsung di atas tanah.

“Rotimu.”

Lelaki muda yang berbadan paling tinggi di antara mereka mengulurkan roti tawar pada Oldman yang diterima dengan tangan keriputnya yang gemetar, langsung dipatahkan menjadi dua bagian dan satu bagian diantaranya disuapkan ke mulut sedang sisanya diselipkan ke balik jubah lusuhnya. Ia mengunyah perlahan, seperti ingin merasakan tekstur roti itu lebih lama dalam mulutnya.

Kini di hadapan Oldman sudah berkerumun delapan muda-mudi yang tampak seusia, dua atau tiga belas tahun, paling tua mungkin empat belas tahun, anak-anak pinggiran dengan pakaian lusuh dan tampang dekil, siap mendengarkan ocehannya. Bagi muda-mudi itu, Oldman yang dianggap gila oleh kebanyakan orang di pemukiman mereka memiliki banyak kisah menarik untuk diceritakan. Dan itulah alasan mengapa mereka masih mau datang ke tempat tunawisma tua itu berada, demi mendengarkan ceritanya.

“Jadi, apa kisahnya hari ini, Oldman?” gadis belia yang duduk paling dekat dengan si lelaki tua bertanya.

Oldman terbatuk satu kali lalu meraba-raba ke balik terpal yang menjadi alas hidupnya di pojokan bangunan reot yang difungsikan sebagai gudang peralatan oleh pemiliknya. Ia menemukan apa yang dicarinya, botol air minumnya. Setelah membasahi kerongkongannya, ia berusaha memfokuskan pandangan tuanya yang kian mengabur ke sosok si gadis yang baru saja bertanya dan kemudian mendesah lelah.

“Ah, Isabel, kau selalu terburu-buru. Tidak bisakah bersabar membiarkan pria tua ini menikmati secuil kenikmatan dunia yang masih bisa dicecapnya?”

Gadis belia berambut ikal kemerahan itu tidak bernama Isabel, tapi tak peduli apapun namanya, Oldman akan memanggil semua anak perempuan yang ia jumpai dengan nama Isabel atau Isabella, sebagaimana ia juga akan memanggil anak lelaki manapun dengan sebutan Joseph. Tak ada yang tahu mengapa, tak ada yang ingin tahu bagaimana sejarahnya hingga Oldman begitu memfanatikkan Isabel dan Joseph. Dan tak ada yang pernah keberatan dengan kebiasaannya tersebut.

“Apa aku sudah pernah menceritakan tentang Valarie?”

“Gadis buta yang punya Vegasus bernama Alexa? Ya, Oldman, kau sudah pernah menceritakannya.” Isabel yang lain menjawab cepat.

“Oh, bagaimana dengan Orange Lady?”

“Kau sudah pernah mengisahkannya hingga dua kali, kisah yang tragis, kami tidak ingin menangis lagi,” Joseph menjawab.

Oldman terbatuk, “Ah… tentang Aquamarine?”

“Duyung perempuan buruk rupa.” Muda-mudi itu mulai gusar.

“Sudahkah aku bertutur tentang Penelope dan Rosalie?”

“Aku tidak ingin hidup seperti Penelope dan Rosalie, mereka terlalu bodoh mau bertahan menjadi pelacur dengan segala perlakuan kasar itu…”

“Hemm… ternyata kalian sudah tahu semuanya.”

Another story, Oldman!” protes Isabel.

“Cerita yang lain?”

Tiga Isabel dan lima Joseph mengangguk serempak, pandangan dan air muka mereka terlihat menuntut.

“Hemm… Aku khawatir tidak memiliki cerita yang lainnya lagi, Isabella…”

Muda-mudi itu siap-siap kecewa.

“Tapi…” dan mata mereka kembali tampak bersemangat, “aku masih ingat sebuah cerita hebat, yang belum pernah kuceritakan pada anak manapun di dunia…”

“Kami yang pertama?” tanya salah satu Joseph.

Oldman mengangguk. “Ya, Joseph, kau dan Isabella yang pertama.”

“Cerita hebat seperti apa? Apakah tentang perang?” Isabel kembali bertanya.

“Sayangnya bukan, Isabella. Tapi yang ini jauh lebih hebat dari cerita perang.” Muda-mudi itu berbinar. “cerita ketika zaman bajak laut, para perompak yang gagah, masih jaya dan menguasai seluruh lautan.”

Hening sesaat.

“Apa akan indah? Atau mungkin menyedihkan seperti cerita Savannah dari Utara?”

Oldman terkekeh, lalu terbatuk-batuk. “Tergantung seperti apa kalian memandangnya nanti…” lalu ia merenung sejenak, “ya, mungkin akan ada beberapa bagian yang seram, tapi tenang saja, aku akan melewatkan bagian tersebut jika kalian tak ingin mendengar.”

“Kami ingin mendengar semuanya,” cetus Joseph yang lain.

“Apa akhir ceritanya bahagia?” Isabel bertanya lagi.

Oldman tersenyum, untuk sedetik matanya yang sudah dijajah rabun seakan tersaput gelembung air. “Kita akan lihat…”

Matahari di pemukiman kumuh itu baru saja tergelincir dari titik tegak lurusnya ketika Oldman memulai kisah bajak lautnya.

*

James Earl Claybourne tidak berpikiran sama sekali kalau buah bibir yang beberapa kali sempat mampir ke telinganya tentang bajak laut yang kerap menimbulkan petaka di lautan akan bersinggungan dengan kehidupannya. Begitupun, ia menganggap tak beralasan dan terlalu mencemaskan hal yang mustahil terjadi ketika ayah dan ibunya memberi ingat dirinya dua hari lalu ketika ia siap berlayar menuju Perancis, negeri tempat ia akan menunjukkan kebolehan yang dimiliki pria muda Claybourne, salah satu kuru bangsawan yang disegani di Britania, di negeri angkuh itu.

‘Di antara banyak bajak laut tak bertata krama di luar sana, Jim… aku berdoa pada Tuhan agar kau tidak sekalipun berpapasan dengan kapal milik Tristan Kovack. Karena jika itu terjadi, mungkin kita tidak akan pernah bertatapan lagi…’

Itu ucapan ibunya ketika James memeluk sang ibu di dermaga saat kapalnya siap mengangkat jangkar. Sedang sang ayah, dengan tersirat mengingatkannya tentang mengapa ia sangat perlu untuk tidak sering-sering berdiri di anjungan, atau bersantai di dekat buritan, di luar kabinnya, juga―tentu saja―untuk menghindari kapal Tristan Kovack yang menurut kabar bisa muncul mendadak seperti mencuat keluar dari laut tanpa disadari.

‘Mungkin kau sudah banyak mendengar tentang betapa anehnya perilaku Tristan Kovack selama ini, Jim. Tapi di saat seperti ini, aku merasa perlu mengingatkanmu lagi, bukan karena berharap kalian akan berpapasan, Tuhan tahu betapa aku tidak suka memikirkan kemungkinan itu, namun apapun bisa terjadi di lautan sana. Kau masih muda, meski tidak pernah mendengar secara langsung, tapi aku tahu bahwa seluruh putri-putri bangsawan di sini membicarakanmu, bahkan gadis-gadis di lingkungan kerajaan, membicarakan dalam arti yang bagus. Dan jika mereka membicarakan dirimu sedemikian berhasratnya, aku yakin Tristan Kovack juga akan setuju dengan apa yang gadis-gadis itu bicarakan jika ia sampai melihatmu. Jadi jangan remehkan ini, Nak… semakin jarang kau meninggalkan kamarmu, maka semakin kecil kemungkinan Tristan Kovack menemukan dirimu.’

Ucapan sang ayah terdengar serius sementara beberapa peti berisi gerabah perak, keping-keping logam mulia dan pakaian-pakaian bagus dinaikkan ke kapal. Semua itu, kata sang ayah―tentu saja, untuk berjaga-jaga jika kapal yang dinaiki putranya berpapasan dengan kapal perompak manapun, peti-peti itu bisa menjadi penyelamat seluruh nyawa di kapal. Oh, well, James memang pernah mendengar keanehan perangai bajak laut sialan bernama Tristan Kovack itu. Tapi bajak laut bodoh mana yang tidak mau menerima peti-peti berharga yang disiapkan ayahnya itu? Bahkan bajak laut yang memiliki ketertarikan aneh kepada pemuda tampan seperti Tristan Kovack pun tentu tidak akan menolak diberikan peti-peti itu. Demikian James beranggapan, jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Dan petuah ayah ibunya itu tampak begitu konyol di mata James hingga ia ingin tertawa saja, namun demi kesopanan, ia hanya mengangguk. James tetap berkeyakinan kalau perjalanannya ke Perancis akan seindah yang dibayangkannya selama ini. Satu yang disesalkannya adalah tentang Anne de Vlerre yang tidak bisa dibawanya serta, gadis belia pujaan hatinya itu akan melewati masa penantian yang tidak sebentar sampai ia kembali lagi ke Inggris. James berjanji akan segera menulis surat setibanya ia di Perancis dan akan terus melakukannya untuk gadis itu setiap bulan.

Namun James harus kecewa, perjalanan dari negerinya ke Perancis tidak seindah yang diangan-angankannya.

Bermula dari badai yang mengombang-ambingkan kapalnya hingga nyaris tenggelam malam tadi, badai yang memporak-porandakan tiang kapal tanpa ampun, mengacaukan tali-temali, merobek beberapa layar, menggenangkan lambung kapal hampir setinggi lutut, bahkan nyaris memutuskan nyalinya sendiri untuk meneruskan pelayaran. Setelah semua hal menakutkan itu, pagi ini, dengan baju kusut dan rambut berantakan James berdiri di anjungan, untuk pertama kalinya memerhatikan kekacauan yang diakibatkan badai semalam. Kapten kapal, Sir Nicholas, sudah memerintahkan awak kapal untuk melempar jangkar, kapten paruh baya kepercayaan ayahnya itu juga sudah mengeluarkan perintah untuk mengeringkan dan menambal lambung kapal dan sekarang dengan tampang lelah sedang mengawasi beberapa anak buahnya memperbaiki layar yang rusak.

“Seberapa parah kondisi kapal kita untuk dapat kembali berlayar, Sir Nicholas?”

Kapten kapal itu terlihat kaget mendengar suara di belakangnya. Ia buru-buru berbalik menghadap anak majikannya. “Oh, Duke of Claybourne muda, anda tidak seharusnya berada di sini…”

James selalu merasakan keengganan yang hampir bisa disebut sebagai kemuakan setiap ada orang yang memanggilnya dengan gelar kebesaran sedemikian rupa. Gelar itu masih milik ayahnya. “Tolong, Nicholas, cukup Jim saja. Kau bukan orang lain lagi bagi ayahku.”

Sir Nicholas tampak ragu sejenak sebelum ia menggamit lengan James dan setengah menyeretnya meninggalkan anjungan utama. “Baiklah, Jim, sesuai yang ayahmu pesankan padaku, kau tidak boleh berkeliaran sampai ke sini. Demi kebaikan kita semua, kembalilah ke kabinmu. Aku akan menyuruh Raffael mengantar sarapanmu…”

“Oh, tolong, Nick, jangan katakan padaku tentang hal konyol itu lagi. Aku sudah kenyang mendengarnya sebelum naik ke kapal.” James menyingkirkan tangan Nicholas dari lengannya, “Kamarku luas hingga nyaris mengambil setengah bagian kapal, tapi jika sudah dua hari di sana tanpa memandang langit, kau akan merasa betapa membosankannya ruangan itu.” James balik badan, siap untuk kembali ke tempatnya semula berdiri. “untuk sepuluh menit saja, setelah itu kau bisa menyuruh Raffael mengantarkan apapun.”

Nicholas menghela napas panjang sambil memerhatikan anak majikannya mengabaikan perintah halusnya. “Setelah sepuluh menit ke depan, pastikan dirimu sudah tidak lagi berada di sini, Jim.”

“I will…”

Siapa yang tahu apa yang bisa diakibatkan oleh waktu selama sepuluh menit itu?

*

“Oldman, apa Duke Claybourne itu sangat tampan?”

Salah satu Isabel menginterupsi Oldman yang mulai bersandar ke dinding di belakangnya. “Bayangkan pemuda paling tampan yang bisa dipikirkan kepalamu, Isabel, maka begitulah Jim ini.”

“Mengapa dia harus ke Perancis?” Isabel yang lain lanjut bertanya.

“Karena Raja Inggris mengutusnya sebagai hadiah kehormatan untuk Raja Perancis.”

“Apa yang akan dilakukan Jim di sana?” kali ini Joseph.

“Memperindah seluruh ruangan di Istana Perancis, itu adalah bakat yang tidak dimiliki banyak pria muda di zaman tersebut.”

“Lalu, apa yang terjadi setelah sepuluh menit?” Joseph yang sama lanjut bertanya.

“Hal yang tak pernah terlintas dalam kepala seorang James Earl Claybourne…”

*

James baru saja selesai berpakaian ketika Raffael mengetuk pintunya. Mengabaikan untuk meminyaki rambutnya, James memilih untuk menunda menyelesaikan agenda merapikan dirinya dan menyambut sarapannya terlebih dahulu dengan rambut masih berantakan.

“Kenapa kau mau bekerja di kapal di usia semuda ini, Raffael?” James bertanya pada bocah sepuluh tahun yang mulai menata sarapannya di atas meja.

Raffael, yang memiliki bola mata secemerlang venus memandang tuan kapalnya sekilas di sela-sela tangan cekatannya mengatur piring dan mangkuk. “Ayahku meninggal setahun yang lalu, Tn. Claybourne.” James menyesal telah bertanya. Tapi anak bernama Raffael sepertinya tipe pribadi yang extrovert, ia tidak berhenti menjawab sampai di situ. “Ibuku seorang buruh cuci biasa. Yang disayangkan adalah, ayahku memberinya satu anak laki-laki dan empat anak perempuan yang bahkan belum bisa mencuci pakaian mereka sendiri. Upah yang diterima ibuku sangat jauh dari cukup untuk memberi makan bahkan sebagian dari kami…” Raffael diam sejenak, “Aku anak laki-laki tua di keluargaku, ibu dan saudara-saudara perempuanku membutuhkanku lebih dari diriku sendiri membutuhkan diriku…”

James memandang anak di depannya yang masih terus menata makanannya. Sejauh ini sudah beberapa kali Raffael mengantar makan untuknya, tapi baru pagi ini mereka terlibat percakapan. “Duduklah, dan makan bersamaku.”

Raffael berhenti dari pekerjaannya dan mendongak, cawan terakhir yang hendak diletakkannya ke atas meja berhenti di udara. “Tn. Nicholas akan punya alasan bagus untuk memecatku jika itu kulakukan, Tn. Claybourne.”

“Tidak jika aku yang memecatnya lebih dulu.” James menarik kursi buat dirinya sendiri lalu duduk, setelahnya ia menjangkau cawan dari tangan Raffael dan meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan anak itu. “Duduklah, Rafy.” James melirik anak yang masih mematung di depannya, “Boleh kupanggil kau Rafy?”

“Itu panggilan yang bagus, Tn. Claybourne.”

“Tidak ada yang memanggilmu demikian sebelumnya?”

“Ibu dan saudaraku memanggilku Rafe.”

“Baiklah, Rafe, mulai saat ini kapanpun aku harus makan di kapal ini, kau juga akan ikut makan bersamaku. Dan itu dimulai dari saat ini, sekarang duduklah!”

Raffael terlihat terkejut. “Tn. Claybourne, aku ti…”

“Atau kau lebih suka bekerja di tempat lain? Aku bisa menyuruh Nicholas meninggalkanmu ketika ia berlayar kembali ke Inggris. Mana yang lebih kau sukai? Makan bersamaku atau menjadi gelandangan di Perancis?” James ingin tertawa melihat betapa pucat pasinya wajah anak di depannya. Sungguh, demi malaikat di surga ia sama sekali tidak punya niat untuk menyuruh Nicholas melakukan apa yang baru saja diutarakannya jika Raffael bersikeras menolak.

“Mungkin aku akan merusak selera makan anda, Tn. Claybourne.”

“Selama kau tidak memuntahi meja, hal itu tidak akan terjadi.”

Dengan canggung, Raffael menarik kursi dan duduk. Selanjutnya, James menyadari kalau anak di depannya tidak benar-benar bisa menggunakan sendok dan garpu dalam masa bersamaan.

James berdiri dan memutari meja, “Seharusnya benda ini akan menjadi mudah untuk digunakan sekaligus jika kau memegang mereka dengan cara yang benar, Rafe.” James merasakan tangan Raffael sedingin es ketika ia mengajari anak itu cara menggunakan garpu dan sendok secara bersamaan.

Lalu bunyi terompet membahana nyaring di seantero kapal. James batal menyuap potongan daging ke dalam mulutnya. Sayup-sayup ia mendengar kehebohan di luar kamarnya. Beberapa saat kemudian kapalnya mulai bergerak. Sepertinya Nicholas baru saja memerintahkan anak buahnya untuk mengangkat jangkar. Apa kondisi kapal mereka sudah berhasil dipulihkan? James bertanya-tanya. Ia menahan keinginan untuk keluar mengecek dan setengah hati meneruskan sarapannya. Namun belum pun sempat menelan daging kunyahannya, terdengar bunyi ledakan di kejauhan dan beberapa detik kemudian kapal yang ditumpanginya bergetar hebat seperti baru saja dihantam sesuatu yang besar, dan kuat.

Raffael berteriak ketika kapal oleng beberapa derajat ke sisi kanan. James sontak berdiri dan menahan benda-benda di atas meja agar tidak meluncur jatuh, meski tidak sepenuhnya berhasil.

Pintu kamar terbuka, di sana berdiri Nicholas dengan tampang pias.

“Apa yang baru saja menabrak kapal kita, Nick?” James bertanya tak sabar.

“Kita diserang.” Jawaban Nicholas terdengar seperti halilintar di siang bolong. “Apapun yang akan terjadi, Jim, jangan tinggalkan kamarmu. Berpikirlah untuk sembunyi…” lalu ia memandang Raffael yang sedang menahan piring agar tidak menyusul beberapa gelas yang sudah bergulingan di lantai kapal. “Berdoalah, Nak, dengan sungguh-sungguh.”

“Nicholas…!” James berteriak memanggil, tapi kapten kapalnya sudah menutup pintu.

James menyadari kalau pintu kamarnya dikunci Nicholas dari luar. Untuk sesaat ia saling berpandangan dengan Raffael yang bibirnya mulai gemetar, entah karena sedang melaksanakan perintah Nicholas untuk berdoa atau karena anak itu sedang berada dalam ketakutan yang amat sangat. Dan James tidak bisa memungkiri kalau saat ini ia juga sedang takut.

Kapalnya diserang di tengah lautan.

Bajak laut.

Tentu saja.

Mereka berpapasan dengan salah satu kapal bajak laut.

Tapi bajak laut yang mana?

Nicholas menyuruhnya sembunyi.

Tristan Kovack.

Kenapa ia perlu sembunyi kalau bukan Bajak Laut Tristan yang berpapasan dengan kapalnya?

Raffael terpekik ketika sekali lagi suara letusan membahana dan terdengar lebih dekat yang langsung diikuti dengan kapal yang bergetar hebat dan kemiringan yang makin parah hingga mereka berdua harus merelakan semua benda di atas meja jatuh berhamburan. Jika tadi saat serangan pertama kapalnya masih bisa bergerak meski tidak cepat, setelah serangan kedua ini, James menyadari kalau kapalnya benar-benar berhenti. Di tengah-tengah lautan yang maha luas.

Ucapan ayah ibunya menjelang keberangkatannya dan semua desas-desus serta kabar tentang keganasan bajak laut yang pernah didengarnya selama ini terngiang bertindihan di kepala James, ia mulai dibungkus kengerian.

Lalu James bergidik ketika di atas kapalnya, tepat di luar kamarnya, keributan hebat mulai terjadi. Suara pedang yang saling beradu ditingkahi letusan senapan. James membayangkan kalau Nicholas dan anak buahnya sedang terlibat bentrok langsung dengan para bajak laut. Kenapa Nicholas tidak menawarkan peti-peti itu? James bingung menemukan jawaban untuk pertanyaannya sendiri.

“Tn. Claybourne, anda harus sembunyi.” Raffael berseru ketika keributan di luar makin menjadi-jadi.

James tersadar. “Kita berdua harus sembunyi, Rafe. Setauku bajak laut tidak membuat pengecualian untuk anak-anak.” James baru saja memutuskan kalau bajak lautlah yang sedang menyerang kapalnya.

“Tidak, kalau anda sembunyi, mereka akan mengira bahwa ini kamarku jika mereka sampai mendobrak kemari. Kalau mereka tidak menemukan satupun orang di dalam kamar megah ini, mereka akan terus mencari dan kita berdua pasti akan ditemukan.” Raffael menanggalkan kostum luar pelayannya, menjejalkannya ke bawah kolong tempat tidur James lalu membuka lemari pakaian James dan segera menemukan apa yang dicarinya. Syal bagus berumbai-umbai benang emas segera dililitkan ke lehernya. “Maafkan aku untuk kelancanganku ini, Tn. Claybourne…” Raffael selesai menyampirkan mantel beludru milik James ke bahu kurusnya dan terakhir menutupi kepalanya dengan topi hitam berhias bulu burung tiga warna.

James tidak yakin dengan rencana pengantar makanannya itu, dua benda yang sedang dikenakan Raffael untuk menyamar―kecuali syal rumbai emas―sangat jelas terlihat kebesaran untuknya. Siapapun yang melihat Raffael pasti akan langsung tahu kalau apa yang dikenakan anak itu adalah pakaian milik orang lain.

“Tn. Claybourne, tunggu apa lagi? Lekaslah sembunyi.”

Saat Raffael mengingatkan dengan berbisik nyaring, James baru menyadari kalau keributan yang berlangsung beberapa menit lalu di atas kapalnya sudah mereda dan sekarang digantikan dialog-dialog serta suara tawa dan sesekali bentakan kasar yang hanya bisa didengar James sayup-sayup dari kamarnya. Apa Nicholas berhasil mempecundangi bajak laut itu? Apa peti-peti itu berhasil membujuk mereka? Atau sebaliknya, kapalnya sudah berhasil ditaklukkan dalam waktu tak sampai tujuh menit. Dari tawa-tawa asing di luar sana, kemungkinan terakhir adalah yang paling mungkin terjadi.

James merinding. Sekarang ia sungguh-sungguh berharap kalau bukan Bajak Laut Tristan Kovack yang sedang berada di atas kapalnya.

“Tn. Claybourne, apa yang anda tunggu? Tidakkah anda sadar kalau mereka sedang memeriksa seluruh sudut kapal?”

Samar-samar James bisa mendengar suara hentakan sepatu di lantai kapalnya, makin lama makin kentara. Ada seseorang yang sedang menuju ke kamarnya. Tidak menjawab Raffael, ia berjuang melawan kemiringan dan mendorong lemari buku yang berdiri di samping lemari pakaian ke arah pintu, untuk itu ia harus mendorong benda tersebut melintasi ruangan. “Rafe, bantu aku.”

Raffael mengerti dan segera membantu James mendorong lemari buku ke arah pintu. Tidak cukup dengan itu, James mendorong meja makannya juga. Di saat-saat seperti ini, James menyesal mengapa ia tidak memiliki sepucuk senjata pun.

“Sekarang sembunyilah, Tn. Claybourne!”

James menimbang-nimbang antara kolong tempat tidur dan lemari pakaiannya. Sedetik kemudian ia sudah melesat ke dalam lemari pakaian, berdiri dengan keringat dingin yang mulai memercik di pelipis. James bersembunyi sementara seorang anak kecil menjadi tameng untuk nyawa pengecutnya. Sungguh memalukan, terlebih itu dilakukan oleh pria berdarah biru seperti dirinya. Dari celah pintu lemari, James bisa melihat bahu Raffael gemetar. Anak itu, tentu saja, sangat takut, tapi demi melindungi tuannya ia harus bertindak berani. James menggigit bibirnya, saat ini ia merasa sedang berada di titik terendah hidupnya.

BRAAAKKK

Lemari buku dan meja nyaris tumbang. Dengan kemiringan sedemikian rupa, tentu saja tidak perlu usaha keras untuk membuat kedua benda itu menjauh dari pintu. Namun pintu yang masih berada dalam keadaan terkunci sedikit memperlama usaha mendobrak yang sedang dilakukan siapapun bajingan di balik pintu tersebut.

BRAAAAKKKK

James menahan napas ketika untuk sekali lagi si pendobrak beraksi. Meja meluncur kembali ke tengah ruangan disusul lemari buku yang tumbang kemudian.

BRAAAAAKKKKK

Pada dobrakan ketiga, pintu terpentang menganga. Raffael sampai terlonjak di tempatnya berdiri gemetar.

Dari celah pintu lemari, James menemukan seorang lelaki tinggi besar dengan brewok meranggas sangar berdiri pongah di ambang pintu. Sepucuk senapan melintang di dadanya. Apa dia bangsatnya yang bernama Tristan Kovack, atau dia salah satu dari sekian deret perompak yang merajalela di lautan bumi ini? James merasa sendi-sendi kakinya hilang seketika ketika orang di ambang pintu membentak Raffael dengan gelegar suara mengerikan.

“DIMANA PRIA ITU, BOCAH?!?”

Raffael tidak menjawab.

“ATAU KAU LEBIH SUKA AKU MENCARINYA SENDIRI, HAH?!?” moncong senapan menyasar kepala Raffael.

“Ti-tidak ada orang lain di kamar ini se-selain aku…”

James setengah mati berharap pria menyeramkan di ambang pintu percaya pada keterbataan ucapan pelayannya.

Senapan dikokang. “Oh, sayang sekali, bocah, sepertinya kau lebih suka aku mencarinya sendiri.”

Not today, Frankenstein, sudah cukup senapanmu menyalak hari ini. Ayo, berbelaskasihanlah pada anak malang itu.”

Satu sosok melangkah keluar dari balik badan besar pria yang dipanggil dengan Frankenstein tersebut. Dari celah pintu lemari pakaiannya, James memerhatikan dengan keringat yang mulai meluncur. Ia menerka kalau pria yang baru saja muncul di kamarnya itu adalah bos si pria besar bersenapan yang masih bersiaga di ambang pintu, kalaupun bukan bos, tentu jabatan si pria besar bersenapan berada di bawah pria yang baru saja muncul, terbukti ia tidak jadi membuat lubang di kepala Raffael.

Pria kedua berjalan tegap dengan langkah lebar mendekati Raffael dan berdiri satu langkah di hadapan anak itu. Sebelum kembali bersuara, pandangannya mengitari kamar dan berhenti lama ketika menatap lemari. Tatapan tajamnya seakan mampu menembus dinding baja dan melihat apapun yang ada di baliknya dengan jelas. James merasakan jantungnya meluncur ke perut dan masih di sana sampai pria itu menunduk memfokuskan pandangannya pada Raffael.

“Siapa namamu, Nak?”

“Raffael. Kapal ini milik ayahku.” Di dalam lemari, James bersyukur kali ini Raffael berhasil menjawab tegas.

Pria di depan Raffael terlihat mengulum senyum. “Ah, ternyata kau yang masih muda lebih berani daripada tuanmu yang bersembunyi layaknya tikus pengecut.”

Di persembunyiannya, James merasakan darahnya mendidih. Seumur-umur, belum ada yang berani menghinanya sedemikian rendahnya.

“Aku satu-satunya tuan di kapal ini,” tukas Raffael.

“Tristan, hajar saja bocah pembohong itu!” pria tinggi besar di ambang pintu bersuara lantang.

Di dalam lemari, darah James seperti tersirap. Ia tidak mungkin salah dengar. Pria tinggi besar bertampang seram baru saja memanggil pria kedua yang lebih rapi dengan sebutan Tristan. Tristan Kovack. Ternyata yang sedang berada di atas kapalnya benar-benar bajak laut itu. Kini James memfokuskan pandangan sepenuhnya pada sosok di depan Raffael.

Selama ini, orang-orang hanya membicarakan perangai Tristan Kovack, keganasannya terhadap kapal-kapal malang yang menjadi korbannya, tapi tidak pernah membicarakan seperti apa tampangnya. Dan James harus mengakui kalau sosok Tristan Kovack sama sekali jauh dari kesan bajak laut sangar yang selama ini dibayangkannya sebagai pria dengan sebelah mata tertutup, rambut kusut menjela hingga dada, kumis melenting dan jambang keriting awut-awutan. Tristan Kovack sama sekali tidak seperti itu, jika tidak melihatnya di lautan tetapi di bandar atau tempat lain selain di tengah lautan, James pasti akan mengira kalau pria itu adalah bangsawan kaya raya. Ya, Tristan Kovack memang mengenakan topi lebar dengan pinggiran tergulung di bagian depan, lengkap dengan gambar tengkorak dan tulang bersilang, tapi di atas kepalanya, properti itu tampak sangat elegan. Kedua tangannya utuh, tidak tersambung besi berpengait seperti yang selama ini disangkakan orang-orang. Satu yang cocok dengan bayangan James adalah, Tristan Kovack memiliki tubuh jangkung dan kulit kecoklatan hasil tempaan sinar matahari.

Dengan tatapan tajam dinaungi alis tebal lurus dan rahang persegi serta bulu tipis disekitar dagu dan di bagian atas mulutnya, James harus mengakui kalau Tristan Kovack adalah pria yang menawan, amat sangat menawan untuk ukuran seorang bajak laut.

Sedetik kemudian, James merinding ketika mengingat perilaku aneh Tristan Kovack. Ia mulai mencemaskan nasibnya bila bajak laut itu sampai menemukannya.

“Baiklah, Frankenstein, aku juga tidak begitu suka pada kebohongan, terlebih bila dilakukan oleh anak-anak demi melindungi seorang pengecut.” Tristan Kovack mundur beberapa tindak, “kuserahkan anak bernama Raffael ini padamu.”

Sebenarnya, disebut sebagai pengecut oleh Tristan Kovack hingga dua kali sangat membakar amarah James, namun rasa takut mengalahkan amarah itu. James kian berdebar ketika melihat seringai di wajah pria sangar yang mulai meninggalkan ambang pintu untuk mendekati Raffael, dengan senapan siap ditembakkan. James tidak bisa melihat wajah Raffael karena pelayannya itu membelakanginya, tapi James yakin kalau Raffael pasti sedang pucat pasi. Siapapun pasti akan begitu jika berhadapan dengan situasi dimana batas antara hidup dan mati hanya berjarak satu letusan peluru saja.

*

“Oh, Tuhan…” Isabel berambut pirang lurus menutup mulutnya dengan kedua tangan, “Apa ia akan menembak Rafe?”

Oldman merenung pada salah satu pendengarnya itu. “Bagaimana menurutmu, Isabella? Apa Frankenstein akan membunuh anak itu?”

“Aku yakin Rafe akan menjadi tokoh yang bertahan,” yang menjawab adalah Joseph pembawa roti.

“Mengapa kau bisa seyakin itu?” Oldman memandang Joseph yang baru saja bersuara.

Joseph mengedikkan bahu, “Aku hanya yakin saja.”

“Menurutku, James tidak akan membiarkan teman mudanya itu dibunuh bajak laut.”

Oldman tersenyum mendengar ucapan Isabel yang duduk paling dekat dengannya. “Teman muda…” ia menggumam kepada dirinya sendiri. “apa yang membuatmu berpikir kalau James tidak akan membiarkan Rafe dibunuh, Isabella?”

“Entahlah, kurasa James sudah menganggap Rafe sebagai temannya sejak ia meminta Rafe untuk sarapan bersamanya. Dan… seorang teman pasti tidak akan membiarkan temannya mati demikian mudah di hadapannya.”

Oldman tersenyum. “Bagaimana dengan teman yang rela berkorban demi melindungi temannya? Tidakkah kau berpikiran kalau Raffael sudah siap berkorban ketika ia memutuskan untuk tidak ikut bersembunyi dengan James?”

Isabel terdiam. “Mungkin saja James yang akan berkorban demi Rafe, dengan menyerahkan diri sebelum Frankenstein menarik pelatuk senapannya.”

Oldman kembali tersenyum. “Yah, kau bisa jadi benar Isabella… tapi mungkin juga salah…”

*

Ucapan Raffael mengiang di telinga james, membuat dadanya berdentuman dan nuraninya bergolak. Sementara itu, orang bernama Frankenstein kian mendekati si malang Raffael. James memejamkan matanya.

‘Ibuku seorang buruh cuci biasa…’

‘Ayahku memberinya satu anak laki-laki dan empat anak perempuan… ‘

‘Upah yang diterima ibuku sangat jauh dari cukup untuk memberi makan bahkan sebagian dari kami…’

‘ibu dan saudara-saudara perempuanku membutuhkanku lebih dari diriku sendiri membutuhkan diriku…’

James tidak akan memaafkan dirinya sendiri seumur hidupnya yang mungkin hanya akan bertahan sampai Tristan Kovack memerintahkannya melompat ke laut, jika sampai membuat Raffael mati demi menyelamatkannya. Ya, memang selalu ada kemungkinan bagi Raffael―bahkan semua awak kapalnya, juga dirinya sendiri―untuk mati di atas kapal ini sejak sekarang, namun James tidak mau menjadi penyebab kematian bagi Raffael dan orang-orangnya itu, tidak jika itu terjadi demi melindungi dirinya.

Jadi, inilah yang James harus lakukan, melangkah menentukan nasibnya yang hanya Tuhan saja yang tahu akan menjadi seperti apa di tangan seorang Tristan Kovack. James yakin dengan pasti bahwa dirinya akan bernasib sama dengan banyak pemuda korban Tristan Kovack yang pernah diceritakan orang-orang di daratan, namun ia masih berharap Tuhan mau berbelas kasih dengan memberinya sebuah pengecualian, sebuah keajaiban.

James membuka mata bertepatan dengan seringai menakutkan di wajah Frankenstein.

“JANGAN GANGGU ANAK ITU, BEDEBAH… BUKAN DIA YANG KALIAN INGINKAN…!!!

Gelegar suara James menggema dalam kamar, pintu lemari nyaris terlepas karena ditendangnya ketika melangkah keluar.

“Tn. Claybourne, anda gegabah sekali.” Raffael berseru pada tuan mudanya.

“Menyingkirlah Rafe, jangan korbankan dirimu pada bangsat-bangsat ini. Bagaimanapun, mereka akan menemukanku.”

James menangkap seringai yang nyaris berupa senyum dikulum di wajah Tristan Kovack, pria itu berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, sangat santai, seakan dirinya sudah sering berhadapan dengan situasi seperti ini. Oh ya, tentu saja ia sudah tidak asing dengan situasi serupa ini.

“Hemm… Tn. Claybourne, ternyata kau tidak sepengecut yang kusangkakan.” Sekarang Tristan Kovack tersenyum sinis, ia pasti tahu nama belakang James dari seruan Raffael.

“Manusia rendah sepertimu tidak berhak bicara padaku!”

Dan Tristan Kovack terbahak kencang, diikuti Frankenstein kemudian. James mendidih sudah, ingin saja ia menerjang pria di depannya, menghajarnya hingga mati. Tapi senapan yang masih siaga di tangan Frankenstein membuatnya harus berpikir dua kali.

“Nanti akan kubuktikan langsung padamu, Claybourne muda, kalau aku punya hak daripada sekedar bicara atasmu!” Tristan Kovack menatap James dengan tatapan tajamnya.

James seperti disiram air es, air es yang langsung dicairkan dari es abadi di kutub. Ia menggigil membayangkan maksud dari kalimat dingin Tristan Kovack.

“Persilakan Tn. Claybourne ke kapal kita, Frank…” Tristan Kovack berbalik setelah mengeluarkan perintah dan siap melangkah meninggalkan kamar.

“Aku tidak akan naik ke kapalmu!”

“Jika kau kesulitan, Frank, aku tidak akan keberatan kalau kau membawa Tn. Claybourne ke kapal kita dengan cara diseret setengah pingsan.” Tristan Kovack tidak berbalik sama sekali ketika berkata, bahkan ia tidak menolehkan kepalanya. Kalimatnya memang ditujukan pada Frankenstein, tapi James tahu kalau kalimat itu juga ditujukan buatnya, lebih ditujukan buatnya.

“Aku yakin dia akan pingsan hanya dengan satu kali hajaran.” Frankenstein maju untuk mendekati James, ia melewati Raffael. Tristan berjalan ke pintu, yakin sepenuhnya kalau Frankenstein bisa menangani James sendirian.

“Tn. Claybourne, lari…!!!”

Semua terjadi sangat cepat. Raffael melompat ke punggung Frankenstein dengan piala di tangan. Ia memungut benda itu dari lantai tanpa sempat disadari orang-orang di dalam kamar itu. Tadinya piala itu berisi anggur. Sangat cepat pula, Raffael menghantamkan piala itu batok kepala Frankenstein hingga pria itu terhuyung-huyung dengan pelipis berdarah.

James terbeliak, tidak menyangka kalau Raffael nekat melakukan tindakan tak terduga itu.

Tristan berbalik tepat di ambang pintu. Sama seperti James, ia juga terlihat tak percaya.

“Bocah keparat, kau akan merasakan akibatnya!” Frankenstein mengangkat senapannya.

Raffael terkesiap, tak ada jalan untuk sembunyi.

“Tidak, Rafe…!” James berlari.

DOR

“Arrgghhh…”

PAMM

James tersungkur setelah dihantam gagang senapan Frankenstein. Ia menerjang pria itu tepat pada waktunya, sayangnya harus dibayar dengan bogeman. Tapi setidaknya Raffael selamat dari hajaran peluru.

Tunggu.

James ternganga dengan mulut berdarah. Lima langkah di depannya, Raffael sedang meringis sambil memegangi bagian pergelangan kaki kirinya yang berdarah. Senapan itu tidak sepenuhnya meleset dari menyasar sosok Raffael, sebutir peluru kini bersarang di kaki bocah itu. Tapi Raffael sudah cukup beruntung, tadinya senapan di tangan Frankenstein tepat menyasar dadanya. Usaha James, meski tidak sepenuhnya berhasil, setidaknya sudah menyelamatkan nyawanya untuk kali ini.

“Rafe…” James merangkak mendekati Raffael, merobek lengan kemejanya dan dengan sigap melilitkan robekan itu ke pergelangan kaki kiri Raffael.

Bunyi kokangan senjata kembali terdengar, membuat tengkuk James kembali dingin.

“Frankenstein, cukup.”

James menoleh pria di ambang pintu. Untuk sejenak mereka saling bertatapan. Kebencian menyertai tatapan James. Kebencian yang makin menjadi-jadi ketika sesaat kemudian Tristan Kovack menyeringai padanya.

“Kali ini kau selamat bocah, tapi jangan harap keberuntunganmu berulang hingga dua kali!” ancam Frankenstein sambil mengistirahatkan senapannya. Luka di pelipisnya tak digubris sama sekali.

“Demi kebaikanmu sendiri Tn. Claybourne, naiklah ke kapalku. Aku tidak yakin bisa mencegah pria bengis ini lebih lanjut jika kau tetap bersikeras menolak.” Tristan Kovack menunjuk Frankenstein lalu berbalik dan mulai melangkah.

Frankenstein memegang lengan atas James dan menariknya dengan kasar untuk berdiri.

“Biarkan aku menolong anak ini…”

“Kau bahkan tidak bisa menolong dirimu sendiri saat ini, Bangsawan!”

“Tidakkah kau lihat? Dia tak bisa berjalan, biarkan aku membantunya.”

“Kau juga tidak berada dalam posisi bisa tawar-menawar, Claybourne!” sengit Frankenstein.

“Tn. Claybourne, tak apa, aku bisa sendiri…”

“Frank, biarkan dia menolong anak itu.” Tristan Kovack bersuara dari lorong.

James merunduk untuk memapah Raffael, anak itu berjalan terpincang-pincang. Frankenstein mengawal mereka dari belakang.

James kaku begitu tiba luar, kapalnya hancur-hancuran. Tiang-tiangnya tak ada lagi yang berdiri tegak, tak ada layar yang terkembang, secara keseluruhan, kapalnya siap tenggelam. Yang paling menyedihkan adalah keadaan Nicholas dan anak buahnya, mereka tak berdaya di bawah intimidasi anak buah Tristan Kovack, semuanya lesu dengan wajah babak belur, beberapa ada yang meringis dengan luka di lengan atau kaki. James menghitung dengan cepat dan merasa lega tidak menemukan satu mayat pun dari awak kapalnya.

James bertatapan dengan Nicholas beberapa saat yang berada dalam keadaan tangan terikat ke belakang dan tali membelit mulut. Selain Nicholas, beberapa orang bawahannya juga berada dalam keadaan yang sama. James mengalihkan pandangan dari Nicholas ketika kapten kapalnya itu menunduk seakan menyesal. Sekarang ia memandang peti-peti yang mulai dipindahkan para perompak ke kapal mereka, peti harta yang disiapkan ayahnya. James memerhatikan kapal besar nan megah namun terkesan menyeramkan dengan banyak layar hitam dan bendera bajak laut berkibar di ujung tiang utama yang bersisian dengan kapalnya. Demikian besarnya kapal itu hingga membuat kapal James yang sudah setengah karam tampak seperti sebuah perahu nelayan.

“Kau sudah mendapatkan peti-peti itu, mengapa tidak bebaskan saja kami?”

Dan semua perompak terbahak kencang mendengar ucapan James yang ditujukan pada Tristan.

“Maksudmu, membebaskan mereka untuk tenggelam bersama kapal ini?” Tristan Kovack menyeringai, “Mengapa kau tidak memberi kesempatan kepada orang-orangmu untuk hidup lebih lama? Mereka bisa menjadi budak di kapalku ketimbang bunuh diri dengan bertahan di kapal ini.”

Menjadi budak. James mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ia memandang Nicholas, kapten terhormat berdedikasi yang dimiliki ayahnya dan sudah dianggap bagai kerabat, membayangkan orang-orang seperti Nicholas menjadi budak membuat James berduka.

“Kumohon, aku meminta belas kasihanmu, Tristan…” untuk pertama kalinya James menyebut nama depan bajak laut itu. Tristan memandang James dengan pandangan tak terbaca. “Kau boleh membawaku, tapi bebaskan mereka saat kapalmu berlabuh di dermaga paling dekat dari sini.”

Para perompak kembali terbahak.

“Aku memang sudah berniat membawamu, Tn. Claybourne, sejak melihatmu melalui teleskopku tadinya, aku memang sudah berniat membawamu.” Tristan mendekat pada James, “sepuluh menit melihatmu di sini sudah lebih dari cukup bagiku memutuskan untuk mencurimu dari kapalmu, Tn. Claybourne.”

Seringai Tristan membuat James bergidik. Ayahnya benar. Seharusnya ia tidak pernah mendekati anjungan, bahkan seharusnya ia tidak pernah melewati pintu kamarnya sekalipun selama pelayaran. James telah melakukan dua kesalahan fatal. Kesalahan pertamanya adalah, satu kali berdiri di anjungan, dan kesalahan keduanya adalah dengan membiarkan kesalahan pertamanya berlangsung hingga sepuluh menit. James menyesali tindakannya sendiri.

Sekarang Tristan membungkuk ke arah James, untuk membisikkan kalimatnya. “Kau meminta belas kasihanku, Tn. Claybourne, maka kau akan mendapatkannya.”

James kaku sementara napas Tristan menghembus kulit wajahnya. Pria itu masih berdiri terlalu dekat dengannya beberapa saat kemudian sebelum berbalik pada para perompak anak buahnya.

“Bawa orang-orang itu ke kapal dan kurung mereka! kita akan lihat nasib apa yang akan diputuskan Tn. Claybourne terhadap mereka nantinya, menjadi tahanan… atau menjadi budak di Black Sail!” Tristan berseru memberi perintah.

Dan para perompak bersorak-sorai sambil mulai menggiring Nicholas dan orang-orangnya.

James melihat Raffael diseret seorang perompak. Mereka menyeberang melewati papan yang diletakkan sebagai jembatan antara kapalnya dan kapal Tristan. Semua orang masuk ke Black Sail melalui pintu kecil di bagian atas lambung kapal bajak laut itu. James memandangi kapal ayahnya sebelum Frankenstein mendorongnya untuk berjalan mengikuti Tristan. Mereka jadi orang terakhir yang menyeberangi papan.

*

Oldman menatap para pendengarnya, tersenyum pada Isabel di dekatnya lalu beralih memandang Joseph yang memberinya roti. “Joseph, kalau kau berada di posisi James, apa kau sanggup mengajukan pengorbanan dirimu demi orang-orang yang pada posisi sebenarnya adalah bawahanmu dan tidak benar-benar kau kenali?”

Joseph yang ditanya terlihat berpikir, “Tapi pada kasus James, berkorban atau tidak berkorban, peruntungan orang-orang di kapal itu bahkan peruntungannya sendiri sudah tentu buruk.”

Oldman tersenyum sambil menggeleng, “Tidak, Joseph… bukan itu intinya. Kau harus melihatnya dari sudut pandang James, bukan dari fakta bahwa mereka semua adalah tawanan yang bebas diperlakukan sesuka Tristan. James memikirkan nasib orang-orangnya, bahwa pada dasarnya Tristan hanya menginginkannya. Kau harus melihat dari sisi dimana James berusaha untuk membebaskan orang-orangnya dan memposisikan dirinya sebagai penjamin untuk mereka, terlepas dari usahanya berbuah hasil yang diharapkan atau tidak sama sekali. Bukankah lebih baik, mengorbankan kehidupan satu orang demi membebaskan banyak kehidupan lainnya?”

“Oldman, kau tidak segila yang orang-orang katakan. “ Joseph yang duduk paling ujung sebelah kiri menukas.

Oldman terkekeh, “Pada dasarnya, semua manusia itu gila, Joseph. Kita bisa memilih menunjukkannya atau memendamnya…”

“Jadi, kau menunjukkannya pada orang-orang itu dan memendamnya dari kami?” Isabel berambut ikal kemerahan bertanya.

“Aku tidak mengatakan demikian, Isabel…”

“Apa yang akan dilakukan Tristan pada James?” Joseph yang sedari tadi mendiamkan diri bermaksud mengembalikan Oldman dan teman-temannya ke cerita.

“Hemm… mungkin kalian tidak mau mendengar bagian itu…”

“Jangan lompatkan alurnya, Oldman…”

“Iya, jangan lompatkan!”

Oldman terkekeh, “Ah, aku khawatir tidak mengingat semua detilnya…”

*

Meski ruangan tempat dirinya berada sekarang sangat tidak mengindikasikan sebagai kamar milik pimpinan bajak laut tersohor, namun James tahu dengan pasti kalau dirinya sedang berada di kamar Tristan Kovack. dibanding dengan kamar yang ditempatinya di kapalnya, kamar Tristan bahkan tidak berukuran setengah dari kamarnya. Dan tak ada perabotan yang bisa dikatakan mewah. Satu-satunya benda yang terbilang cukup cantik adalah ranjang besar dengan tilam kain hitam yang pinggirannya berumbai bergelombang hingga menjela lantai, tirai ranjang yang berwarna senada tilam masing-masing berkumpul di empat tiang setinggi dua meter dan dibebat dengan jalinan benang warna emas. Memandang ranjang itu membuat James pusing dan lambungnya serasa bergolak.

Selain ranjang besar di tengah ruangan, tak ada apapun lagi di dalam kamar ini. Tak ada meja makan berukir hasil rampasan, atau lemari pakaian dari kayu berkualitas, tak ada lukisan mahal, tak ada apapun lagi. James bertanya-tanya dimana pimpinan bajak laut menyimpan barang-barang pribadinya, seperti pakaian dan sebagainya. Kamar ini terlalu miskin untuk menjadi kamar pimpinan bajak laut, tetapi cukup bersahaja untuk kamar seorang cendikia, tapi Tristan Kovack bukan cendikia.

Mungkin ini bukan kamar tidurnya, James, tapi kamar tempat dia melakukan hal lain…

Sampai pada pemikiran ini, James langsung pucat. Ia mengitari kamar dengan pandangannya dan berhenti di pintu, tentu saja pintu itu terkunci dari luar. Tinggal menunggu waktu saja dan Tristan akan melangkah melewati pintu itu. James beralih ke tiga lubang berdiameter sekira sepuluh inci yang berjejer di satu sisi, lubang itu bahkan tidak cukup besar untuk dilewati kepalanya. Ia bergerak ke sana dan berjinjit. James tidak menyangka bakal menyaksikan pemandangan kapalnya yang sudah memasuki tahap akhir menuju tenggelam sepenuhnya lewat lubang itu. Ia terpaku, memandang kapal berharga milik ayahnya yang perlahan ditelan lautan.

“Kulihat kau menyukai jendelaku, Jim…”

James terperanjat dan berbalik ketika suara bariton itu mengagetkannya, punggungnya merapat ke dinding. Pemandangan yang baru saja ia saksikan lewat lubang menyulut amarahnya “Tidak usah berakrab-akrab denganku, kau orang barbar!” James berpikir kalau Tristan baru saja menginterogasi Nicholas hingga bajak laut itu tau nama kecilnya. “Tidak lama lagi, kabar tentang kehilanganku akan segera disadari oleh orang tuaku, dan kau akan diburu oleh armada Inggris dan Perancis sekaligus!” ancam James.

Tristan tertawa pelan sambil membuka jas bajak lautnya yang hitam pekat dengan keliman kain berwarna perak di pinggirannya, jas itu disampirkannya di balik pintu. Selanjutnya, ia melepas topinya juga.

“Armada Inggris dan Perancis tentu terdiri dari orang-orang seperti kapten kapalmu, ya,” Tristan menyeringai, “kalau saja kau melihat bagaimana ia meraung-raung dan menangis seperti bayi ketika Frankenstein mengkapak lengannya.”

James bergidik di tempatnya bersandar. Bagaimana manusia keparat yang mulai membuka kancing kemeja di depannya ini bisa menyampaikan kabar buruk itu demikian santainya seperti bila orang membicarakan acara minum teh?

“Kau apakan Nicholas?” James menyadari kalau suaranya bergetar.

“Bukan aku, tapi Frankenstein,” Tristan menjawab santai. Kemejanya sudah menggantung bersama jas dan topinya. Sekarang bagian dari pinggang hingga kepalanya berada dalam keadaan polos sepenuhnya.

James berusaha untuk tidak berpikir lebih jauh tentang Tristan yang sudah tidak berkemeja, ia berusaha mengalihkan pikirannya dari sosok Tristan yang kekar dan mengintimidasi. Namun semakin ia berusaha mengalihkan perhatiannya, semakin dirinya dipaksa untuk berpikir, bahwa tak lama lagi dirinya akan hancur dan berada pada posisi tidak lebih tinggi lagi dari seorang budak ketika Tristan menyergap dan melakukan apa yang menjadi maksudnya saat memasuki kamar.

“Kau sudah berjanji!” teriakan James tetap saja bergetar.

“Oh ya? Kapan?” Tristan mengeluarkan tungkainya dari sepatu bootnya.

“Saat di kapalku kau mengatakan…”

“Aku ingat apa persisnya yang aku katakan, Jim,” potong Tristan. “kalau kau yang akan menentukan nasib orang-orangmu, dan saat untuk menentukannya adalah sekarang.” Tristan menggerakkan dagunya ke ranjang.

James pucat. Ia mencari-cari pistol yang sempat diliriknya tersampir di pinggang Tristan ketika berada di kapalnya beberapa saat lalu, ia juga ingat kalau pernah melihat pisau juga di sana. Tapi kini kedua benda itu tidak menyertai Tristan, pinggang celananya bersih. Bajak laut itu pasti meninggalkan senjatanya di luar untuk berjaga-jaga jika James memilih melawannya.

“Atau kau lebih suka melihat orang-orangmu mengepel lantai kapalku dengan lecutan cambuk di punggung? Aku yakin mereka tidak akan bertahan satu minggu jika itu terjadi.”

James tercekat. Baru kali ini ia merasa tak berdaya. Tapi untuk ke ranjang bersama Tristan, ya Tuhan… jika sampai itu terjadi, ia tidak akan pernah menjadi bangsawan lagi, bahkan tidak layak menjadi lelaki lagi, apatah lagi lelaki terhormat.

“Mungkin aku harus menyuruh Frankenstein melakukan hal yang sama seperti yang sudah dilakukannya terhadap Nicholas pada anak itu, siapa namanya?” Tristan terlihat berpikir, “ah, Raffael,” Tristan berdecak, “kasihan sekali, dia masih punya empat adik perempuan yang masih merah. Dengan kaki bekas tertembak saja mungkin dia akan sulit mendapatkan pekerjaan, apalagi kalau sampai kehilangan salah satu lengannya…”

James membayangkan kalau Frankenstein juga sudah memperlakukan Raffael secara tidak manusiawi ketika Tristan menginterogasi pengantar makanannya itu. “Jangan, kumohon, jangan lakukan itu…” James benar-benar tak berdaya. Jika saat di kapalnya ia sempat merasakan kalau di sanalah titik terendah hidupnya, ternyata ia salah, inilah titik terendah sebenarnya dalam hidupnya.

“Maka jangan berikan aku alasan untuk melakukan itu, Jim… seperti kataku, kau yang menentukan nasib orang-orangmu.” Sekali lagi, Tristan menggerakkan dagunya ke ranjang.

James mengatupkan rahangnya. Ia putus asa mengharapkan keajaiban datang di detik-detik terakhir menuju keruntuhan dirinya. Punggungnya kian tenggelam ke dinding kapal Tristan.

“Aku tidak punya waktu seharian, Jim, tentukan pilihanmu sekarang juga atau bersiap-siap melihat orang-orangmu menjadi budak di Black Sail!” Tristan berkata tegas, tatapannya menghunus.

James menggigit bibirnya dan perlahan bergerak menuju ranjang. Setiap langkah yang dibuatnya terasa begitu sakit, seakan geladak kapal yang dipijaknya terbuat dari duri. Ia bertahan di tepi ranjang besar itu, rumbai tilam berada di bawah pijakannya. Sesaat kemudian James merasakan napas Tristan di tengkuknya, pria itu kini tepat berada di belakangnya. Kalau saja ia punya kesempatan untuk membunuh Tristan, James pasti akan mengambil kesempatan itu. Tapi kenyataannya ia tak memiliki kesempatan apapun selain takluk pada bajak laut keparat itu.

James merasakan dada Tristan menekan punggungnya, lalu satu lengan besar pria itu membelit pinggangnya. James memejamkan matanya ketika Tristan mulai membuka kancing kemejanya, dengan lembut dan tidak tergesa-gesa. Telapak tangan Tristan menyentuh kulit dadanya juga dengan lembut, seakan pria itu tak ingin menyakiti lelaki yang sudah setengah dipeluknya itu. jemari Tristan turun ke perut James, dengan gerakan sama lembutnya ia mengusap area perut James yang membuat lelaki muda itu bergidik.

Ketika bibir Tristan menempeli tengkuknya dan mengecup lembut di sana, James tidak bisa terus diam. “Belum adakah yang mengatakan kalau kelakuanmu ini layaknya cara binatang?” desis James tajam.

Dan sepertinya berhasil. Tristan berhenti dari segala aktivitas terhadap dirinya. Merasa telah memenangi pertarungan, atau setidaknya mengulur waktu―karena James sadar betul bahwa tidak mudah membuat bajak laut di belakangnya berubah pikiran, ia menoleh ke belakang dan langsung menemukan tatapan mata Tristan yang menyala. Ekspresi Tristan benar-benar siap murka.

“Akan kuperlihatkan padamu seperti apa cara binatang itu, James Earl Claybourne yang terhormat!”

Dan sosok James langsung terlempar ke ranjang dalam posisi telungkup. Belum sempat bangsawan muda itu sadar dari keterkejutannya, sosok Tristan sudah menindih untuk menguncinya. Tristan menduduki paha James, mencengkeram sekaligus menekan tengkuk James dengan tangan kiri sedang tangan kanannya merenggut kemeja dan pakaian bawah James dengan kasar hingga berobekan.

Ini pemerkosaan.

James menyuarakan sumpah serapah tak putus dari mulutnya, namun Tristan tidak peduli. Bajak laut itu berulah laksana kalap dan tidak memberi sedikitpun ruang bagi mangsanya untuk bergerak, sama sekali tak memberi kesempatan. Tristan masih mencengkeram tengkuk James dengan sebelah tangan, sedang tangannya yang tadi merobek pakaian James kini mencengkeram salah satu lengan atas James, mencegah lelaki muda itu meronta lebih hebat ketika ia merenggangkan kedua tungkainya.

Segalanya musnah sudah bagi James.

Ketika James menyadari bahwa Tristan berhasil memasukinya, ia menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah. James seperti terjun ke jurang tak berdasar, dengan tubuh ditembus ribuan jarum. Habis sudah. Di belakangnya, Tristan bergerak cepat menghujamkan lalu menarik dirinya terus menerus. Sama sekali tak peduli kesakitan yang dirasakan lelaki muda di bawahnya. Sama sekali tak mau tahu kehancuran seperti apa yang baru saja disebabkan olehnya. Tristan seakan sengaja bertindak seperti itu untuk menghukum James. Ia bertindak dengan egoisme yang bukan olah-olah hingga lenguhan samar keluar dari mulutnya dan sosoknya berangsur-angsur berhenti bergerak lalu diam.

Sudah tak ada gunanya melawan. Ketika Tristan perlahan-lahan melepaskan cengkeraman pada tengkuk dan lengannya, James diam, tidak bergerak dan tidak bersuara. Bayangan Anne yang menunggunya berputar-putar di dalam kepala. James bukan lagi seorang lelaki yang utuh, status itu baru saja dijatuhkan oleh Tristan ke titik paling rendah hingga hancur berkeping-keping.

Tristan menarik diri dari James begitu selesai. Ia memandangi sosok James yang masih menelungkup di ranjang dengan pandangan sulit diartikan. Setelah mengancingkan kembali celananya, ia berjalan ke pintu untuk kemudian mengenakan kemejanya.

“Kau tidak memberiku pilihan lain, Jim, dan aku menyesal kau bersikap demikian…”

Tristan keluar, menutup pintu dan menguncinya. Ia masih berdiri di tempatnya hingga beberapa saat kemudian untuk mendengar suara isak samar dari balik pintu. Isak James, lelaki muda delapan belas tahun yang baru saja digagahinya.

Baru kali ini, Tristan merasa hatinya nyeri dan sakit. Jauh di dasar jiwa, ia tidak ingin menyakiti James. Membuat lelaki muda yang telah menghangatkan hatinya―bahkan sejak ia melihat melalui teropongnya―itu menangis adalah hal terakhir yang akan dilakukan Tristan. Tapi pesona James sangat tidak mampu untuk ditolak, akibatnya, ia harus merasakan kesakitan ketika isak James meremas ulu hatinya.

*

Tak ada yang berkedip, bahkan Oldman yakin jika semua pendengarnya sedang menahan napas. Ia meraba ke balik terpal dan kembali meneguk air minumnya.

“Kasihan James…” Isabel berujar sedih.

“Tapi sebenarnya Tristan tak ingin menyakitinya, kalau saja James tidak menyebutnya binatang…” Isabel yang lain menyambung.

“Oldman, bagaimana itu bisa terjadi? Tristan laki-laki dan James juga laki-laki, bagiku itu sangat aneh.” Joseph pembawa roti menyuarakan ganjalan hatinya.

Oldman tersenyum, “Banyak hal di luar nalar yang terjadi di dunia ini, Joseph, amat sangat banyak. Tapi cinta adalah keanehan yang istimewa, demikian istimewanya hingga mampu menjungkirbalikkan kodrat alam. Tristan bukan satu-satunya keanehan itu, Joseph, kalau kau mau melihat lebih jauh dan mendengar lebih lama ke sekitarmu, di sini, kau juga akan menemukan keanehan serupa Tristan, selalu ada setiap zaman…”

Semua pendengarnya membisukan diri.

Oldman terbatuk. “Kurasa kalian tak ingin mendengar kelanjutannya lagi…”

“Tidak, justru kami sangat ingin mendengar kelanjutannya.”

*

Satu hari terlewati, James tidak menyentuh nampan makanannya yang diantar salah satu perompak anak buah Tristan. Semalaman James terjaga, matanya nyalang tak bisa terpejam. Tristan tidak tidur di kamar yang sama dengannya malam tadi, itu membuat James makin yakin kalau ruangan tempat ia dikurung sekarang hanya didatangi Tristan jika pria itu sedang ingin bercinta.

James duduk di lantai, bersandar ke kaki ranjang. Pakaiannya hanya berupa tirai ranjang yang dililitkan sebatas pinggang, terlihat begitu kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Dengan tatapan kosong, James menatap kemeja dan celana panjangnya yang robek-robekan, teronggok di lantai. Melihat pakaian itu membuat cita-cita James untuk membunuh Tristan kian membara. Giginya bergemeletukan tiap kali ia mengingat apa yang dilakukan bajak laut jahanam itu atasnya kemarin.

Ketika sinar mentari yang menerobos melalui tiga lubang di dinding mulai menghangatkan kamar, pintu ruangan terbuka. Tristan berdiri di ambang pintu dengan nampan berisi sarapan James di tangan. Pria itu terlihat segar, bersih dan rapi. Ia melirik dua nampan yang masih utuh di lantai, makan siang dan makan malam yang tidak disentuh James sama sekali.

“Ada cara yang lebih cepat jika kau mau bunuh diri, Jim. Kau bisa berjalan di atas papan eksekusi kapalku menuju lautan. Itu malah lebih terhormat ketimbang mati kelaparan.” Sangat tenang, Tristan berjalan ke ranjang setelah mendorong daun pintu dengan ujung kakinya.

James melihat kalau Tristan tidak mengunci pintu itu. Ia tak mau melewatkan kesempatan, secepat kilat ia berlari memburu ke pintu.

Tristan tertawa pelan ketika James tertahan di pintu. Lelaki muda itu kecele, ternyata pintu itu sudah terkunci dari luar. Tentu saja Tristan menempatkan penjaga di luar kamar untuk mengawasi. James merasa konyol, ia sampai tidak menyadari kalau tirai licin yang membelit pinggangnya sudah luruh ke lantai.

Penuh geram, James berbalik dan menatap bengis pada Tristan, sama sekali belum menyadari ketelanjangannya.

Sebelah alis Tristan terangkat dan pandangannya turun ke pinggang James. “Apa kau sedang bermaksud menggodaku, Jim…?” bajak laut itu menyeringai.

James menggeragap begitu mengikuti arah pandangan Tristan dan segera menarik ujung tirai untuk kemudian dililitkan kembali ke pinggangnya. Kedua tangan James sekaligus mencengkeram tirai itu di pinggangnya, seakan takut tirai itu akan meluncur lagi meninggalkannya. James merasa malu sendiri, ia tak berani menantang tatapan Tristan yang membekukan.

Tristan meletakkan nampan di atas ranjang dan ikut duduk di sana. Matanya masih menatap James, menemukan semburat merah di pipi pucat James entah bagaimana membuat hati Tristan menghangat. Ia menepuk bagian tepi ranjang di depannya, “Duduklah bersamaku, Jim, kau harus makan jika masih ingin hidup dan melihat orang-orangmu bebas.”

James mengangkat wajahnya dan menatap Tristan, mata James tampak berbinar penuh harap. “Kau akan membebaskan mereka?”

“Aku bahkan punya niat untuk membebaskanmu…”

James nyaris tidak memercayai pendengarannya. Matanya makin terlihat senang. “Kau sungguh-sungguh?”

“Bajak laut sejati tak pernah ingkar janji, Jim, desas-desus yang kau dengar tentang kami mungkin lupa menyebutkan hal itu.” Tristan terlihat serius dengan ucapannya. James kehilangan kata-kata. “Sekarang, maukah kau makan dulu?”

James terlihat ragu. Namun ketika Tristan menepuk tepi ranjang sekali lagi, ia mulai berjalan mendekat, masih memegangi kain tirai di pinggangnya. Tristan mendorong nampan lebih dekat ke depan James, bangsawan muda itu duduk terlalu jauh dari Tristan. Ragu-ragu, James meraih ke dalam nampan. Ketika mulai menyuap ke mulutnya, James sadar bahwa dirinya begitu lapar.

Tristan diam tak bergerak tak bersuara, hanya matanya yang memerhatikan James menyuap dan mengunyah. Ia memicingkan pandangan  ketika mendadak James berhenti mengunyah, seperti baru saja menyadari sesuatu.

“Ada apa?”

James mendongak, “Aku pernah berjanji pada Rafe bahwa kapanpun aku harus makan di atas kapalku, maka ia juga akan duduk makan bersamaku…”

“Ini bukan kapalmu.”

James terdiam.

“Tapi kalau kau mau anak itu ikut makan bersamamu, aku akan membawanya kemari saat makan siang nanti. Kau bisa makan bersamanya.”

James terpaku lama sambil menatap tak percaya pada Tristan, ia sama sekali tak menyangka jika Tristan akan berkata demikian. James menelan sisa kunyahannya, “Terima kasih…”

Tristan hanya menggumam lalu kembali membisukan diri sementara James melanjutkan makannya dengan canggung. James merasa kenyang setelah mengisi perutnya, bahkan ia bersendawa ketika nampannya kosong, hal yang sama sekali tidak boleh dilakukan oleh seorang bangsawan di tanahnya yang agung. Tapi di kapal Tristan, siapa yang peduli tentang aturan itu?

Namun James mendapati Tristan tertawa pendek, “Kupikir, bangsawan tidak bisa bersendawa.” Pria itu meraih nampan, siap untuk beranjak dari ranjang, dan James merasa lega karenanya.

Tidak meningkahi ucapan Tristan, James bermaksud mengingatkan pria itu akan janjinya untuk membawa Raffael siang nanti. “Raffael tidak boleh melihatku dalam keadaan seperti ini…”

Tristan urung bergerak, ia meneliti James. “Dalam keadaan seperti apa?” Tristan menaikkan sebelah alisnya meski ia sangat tahu apa yang dimaksudkan James. Pria itu merasa geli sendiri ketika mendapati James kesulitan menjelaskan. Ia suka melihat James seperti itu. “Aku akan menyuruh orang untuk membawakanmu pakaian sesaat lagi.” Tristan berjalan ke pintu dan terus menghilang di balik kayu empat segi itu.

James termangu lama sepeninggal Tristan. Dia masih shock dengan kebaikan tak terduga sang bajak laut yang menawannya sejak kemarin. James sama sekali tak menduga kalau Tristan bisa bersikap sedemikian rupa. James ragu jika dirinya mulai menilai Tristan tidak sejahat yang digembar-gemborkan orang di daratan. Tapi, bajak laut itu memang punya tata krama dan sopan santun yang langka, terlepas dari apa yang telah diperbuat terhadapnya kemarin.

*

“Nah, lihat kan, Tristan pada dasarnya memang baik…” Isabel yang sebelumnya sempat menyuarakan simpatinya pada Tristan meningkahi Oldman. “Suatu saat aku ingin punya suami seperti itu.”

Oldman tersenyum samar, “Gadis baik akan bersuamikan lelaki baik juga, Isabel… tapi tidak selamanya akan begitu. Adakalanya gadis baik akan berdampingan dengan lelaki tak baik, begitu sebaliknya, namun jangan berkecil hati, alam selalu punya cara tak terduga untuk tiap kehidupan di dunia ini, Isabel… selalu.”

“Oldman, mengapa mereka sampai menganggapmu gila?” seorang Joseph yang terlihat paling kecil di antara mereka bertanya.

Oldman mengulum senyum untuk Joseph tersebut, “Untuk mengetahui jawabannya, Joseph, kau harus mengajukan pertanyan itu pada mereka.”

Joseph tak menanggapi lagi, matanya yang jernih hanya mengerjap-ngerjap.

“Apa kalian siap mendengar lanjutan ceritanya?”

Joseph dan Isabel mengangguk serempak.

*

Tristan menepati janjinya. Ketika pintu kamar terbuka, James mendapati Raffael berada dalam dukungan Frankenstein, di punggungnya. Bocah sepuluh tahun itu tersenyum ketika melihat James. Tristan yang memegang nampan masuk lebih dulu diikuti Frankenstein yang melangkah kemudian.

“Tn. Claybourne, anda tampak sehat,” ujar Raffael ketika Frankenstein mendudukkannya di ranjang.

James masih tidak memercayai apa yang dilihatnya. Frankenstein menggendong Raffael. Ya, menggendong. Frankenstein yang hampir melubangi dada bocah itu kemarin kini malah menggendongnya, dan bajak laut itu tidak tampak terpaksa atau tidak suka ketika melakukannya, Frankenstein malah terlihat senang. Yang lebih membuat James tak percaya adalah, fakta bahwa Raffael terlihat segar dan bersih, bajunya baru, kakinya yang luka terbebat dengan bebat baru, bukan lagi robekan kemeja James. Dan bahkan, Raffael tampak gembira, sama sekali jauh dari kesan seorang tahanan yang kapan saja bisa menjadi budak di kapal bajak laut itu.

James terlalu shock untuk bersuara.

“Makan siangmu kuletakkan di sini, Rafe.” Tristan meletakkan nampan besar di atas ranjang.

“Terima kasih Tn. Kovack.”

“Bukankah sudah pernah kukatakan untuk tidak memanggilku begitu?”

“Oh, aku lupa, maafkan aku Bajak Laut Tristan.” Raffael sama sekali tak terlihat takut saat berbicara pada Tristan.

James bertanya-tanya, apa yang dilewatkannya kemarin? Kenapa Raffael terlihat sangat bersahabat dengan Tristan bahkan Frankenstein yang pernah punya niat untuk menghabisi nyawanya?

“Baiklah bocah, kutinggalkan kau di sini bersama Claybourne, aku akan menjemputmu lagi setelah makan siangmu selesai.” Frankenstein berkata pada Raffael, nada suaranya begitu beda dengan yang diperdengarkannya di kapal James.

“Terima kasih sudah menggendongku kemari, Frank.”

“Ah!” Frankenstein mengibaskan tangannya di udara, “Badanmu ringan bak kapas, kau seperti tak pernah mencicipi makanan di daratan sana.”

James masih tak dapat percaya. Sementara Raffael berbicara dengan Frankenstein, Ia menatap Tristan. Kedua orang itu saling bertatapan, entah bagaimana formulanya, kini James memandang Tristan dari sudut pandang yang berbeda. Begitu berbedanya hingga setengah kebenciannya pada pria itu nyaris terkikis.

“Baiklah, Frank, sebaiknya kita keluar.” Tristan memutus tatapannya dengan James dan bergerak menuju pintu. James mengikuti punggung pria itu dengan pandangannya. Frankenstein mengekori pimpinannya setelah melakukan tos dengan Raffael.

Kini mereka hanya berdua.

“Baju anda terlihat keren, Tn. Claybourne, sekeren yang dikenakan Bajak Laut Tristan.”

James meneliti Raffael, bahkan sampai membalik-balikkan badan bocah sepuluh tahun itu.

“Tn. Claybourne, anda sedang apa?”

James berhenti dan menghembuskan napas lega. “Rafe, mereka tidak jahat padamu?”

Raffael menggeleng, “Mereka baik pada semua orang.”

James terbelalak.

“Tn. Claybourne, aku belum pernah melihat ada bajak laut seperti mereka di atas kapal ini. Anda tidak akan memercayainya, aku juga tak akan percaya jika tidak mengalaminya sendiri.” Raffael mengambil jeda untuk bernapas, “Bajak Laut Tristan sungguh baik, ia langsung melepas ikatan semua tahanan kapal kita sejak hari itu. Mereka memang ditempatkan di bangsal tahanan, tapi pintu bangsal itu tak pernah terkunci, Tn. Nicholas dan orang-orangnya bahkan ikut makan bersama para bajak laut di meja yang sama.”

James meragukan telinganya. “Bagaimana keadaan Nicholas? Apa tangannya baik-baik saja?”

Raffael sejenak menautkan alisnya, lalu mengangguk.

“Rafe, aku diberitahu kalau Frankenstein membuntungi sebelah tangan Nicholas.”

Sekarang Raffael terlihat bingung. “Tidak, Tn. Nicholas tidak kehilangan satu anggota tubuh pun, ia baik-baik saja, sama seperti bawahannya yang lain. Orang-orang dari kapal kita yang sempat terluka langsung dirawat hari itu juga. Ah, Tn. Claybourne, aku benar-benar tak akan percaya jika tak melihatnya langsung.” Raffael menaikkan kakinya yang tertembak ke atas ranjang, “Anda lihat? Balutan lukaku juga baru dan bersih.”

James sadar kalau Tristan membohonginya hari itu. Tapi, bisa saja Raffael diancam untuk mengatakan ini padanya, bisa jadi apa yang dilihatnya pada Raffael, sikap bersahabat Frakenstein dan kebaikan Tristan hanyalah sebuah skenario. Bisa jadi, Nicholas benar-benar sudah dibuntungi lengannya.

“Tn. Claybourne, anda baik-baik saja?”

“Rafe, apakah yang kau katakan ini adalah apa yang sesungguhnya terjadi? Kau tidak diancam untuk mengatakan ini padaku, kan?”

Raffael mengernyit bingung. “Aku tidak diancam siapapun, Tn. Claybourne, Bajak Laut Tristan tidak menyuruhku mengatakan demikian padamu. Semua yang kuceritakan adalah apa yang sebenarnya terjadi di atas kapal ini.”

James makin bingung dengan sikap Tristan. Tapi di balik kebingungan itu, ia mulai menaruh simpati pada bajak laut penawannya itu.

Setelah termenung sesaat, James menghembuskan napas panjang dan memfokuskan perhatiannya pada nampan makan siang mereka. “Jika semua yang kau katakan adalah kebenaran, Rafe, harapan untuk kita dibebaskan dari kapal ini masih sangat besar…”

“Entahlah, Tn. Claybourne, rasanya aku senang berada di sini.”

James berhenti mengisi gelasnya dengan rum. “Kita baru dua hari di kapal ini, Rafe, bagaimana kau bisa memutuskan suka secepat itu? apa kau lupa, mereka baru saja menenggelamkan kapal ayahku kemarin.”

Raffael terdiam sesaat sebelum menanggapi James, “Aku turut sedih tentang kapalmu, Tn, Claybourne. Tapi sungguh, di sini sangat menyenangkan.”

James memaklumi jawaban Raffael, bocah itu masih terlalu muda untuk mengerti hal yang terjadi di balik pandangannya.

*

“Aku tak ingin Tristan membebaskan James, Oldman, belokkan alurnya jika cerita sebenarnya adalah James bebas dari kapal itu.”

Oldman terkekeh. “Kita akan lihat, Isabella, kita akan lihat…”

*

James menggeragap ketika pintu kamarnya terbuka. Cahaya lampu minyak menerobos lewat celah pintu yang terbuka, menerangi sosok jangkung Tristan.

James berdiri dari posisi duduknya di tepi ranjang. Sudah tengah malam namun ia belum juga berbaring untuk tidur.

“Kau belum tidur?” Tristan menutup pintu dan perlahan mendekati lilin yang menyala di dalam piringan yang di letakkan begitu saja di lantai. Ia lalu membungkuk, dari saku jasnya, Tristan mengeluarkan lilin lain dan menyalakannya, kini ruangan itu menjadi lebih terang dari sebelumnya. Tristan mendongak pada James dan mengganti pertanyaannya. “Kenapa belum tidur?”

“Aku tidak mengantuk.”

“Oh, kupikir kau sengaja menungguku.”

Dalam remang, wajah James menegang.

Tristan bangkit dari lantai dan lanjut menuju ranjang. Dalam perjalanannya, ia mulai menanggalkan jas bajak lautnya serta topi dari kepalanya, dijatuhkannya begitu saja ke lantai.

James bersikap siaga. “Aku tak akan membiarkanmu menyetubuhiku lagi!”

Tristan menyeringai. “Hanya karena aku belum membuntungi kapten kapalmu kemarin, bukan berarti aku tak akan melakukannya esok, Jim!” nada Tristan sungguh mengintimidasi.

James mulai ragu-ragu dengan rencananya. “Kau tak akan melakukannya…”

“Oh ya? Mengapa kau begitu yakin?” Tristan kian dekat. “Rafe belum melihat kekejaman bajak laut yang sebenarnya, Jim. Dan aku akan menunjukkannya jika kau memang menghendaki demikian…” Tristan berhenti dua langkah di depan James, “kau ingin aku membuntungi kapten kapalmu dan semua orang-orangnya? Itu yang kau mau?”

James terdiam.

“Aku yakinkan padamu, James Earl Claybourne, kali ini aku tidak main-main dengan perkataanku.” Tristan menatap James tepat di mata, “jika kau memberiku alasan untuk memperlakukan orang-orangmu secara buruk, maka itulah tepatnya yang akan kulakukan,” lanjutnya sambil menghujam mata James dengan sorot matanya yang tajam. “sekarang terserah padamu, James Earl Claybourne.”

“Kau sudah berjanji akan membebaskan mereka, kau juga berjanji akan membebaskanku!” James berujar sengit.

“Bukan begitu persisnya yang kukatakan, Jim.”

“Begitulah persisnya, bangsat!”

Tristan terkekeh pelan melihat James yang melotot penuh benci padanya. “Biar kuingatkan persisnya seperti apa ucapanku, Jim. Karena ternyata kaum bangsawan tidak begitu bagus dalam mengingat, atau bahkan mendengar…”

James mengangkat kepalannya dan meninju wajah Tristan. Namun bajak laut itu lebih sigap. Pergelangan James lebih dulu kena tangkap dan dicengkeram erat sebelum mampir ke wajahnya.

James meringis.

“Aku tak pernah mengikrarkan janji denganmu, Jim, kupikir kau mengerti itu. yang kukatakan adalah, aku berniat membebaskanmu, bukan berjanji untuk membebaskanmu…”

James putus asa.

Ketika merasakan otot-otot lengan James mengendur, Tristan menurunkan tangan lelaki muda itu dan melepaskan cengkeramannya. “Tapi aku benar-benar berniat membebaskanmu, Jim…”

“Jangan katakan omong kosong itu lagi padaku, Bangsat!”

“Aku berniat membebaskanmu, namun tidak dalam waktu dekat ini.”

“Bunuh saja aku…”

“Andai aku sanggup melakukannya…”

James kembali merasakan ketidakberdayaan yang menyakitkan. Pria di depannya tidak memberi pilihan lain yang lebih baik.

“Aku berjanji tak akan melakukan hal buruk pada orang-orangmu, jika kau juga tidak memberiku alasan untuk melakukannya.”

James pusing.

“Sekarang, lepaskan pakaianmu dan naiklah ke ranjang.”

“Aku bersumpah akan membunuhmu setiap ada kesempatan, Tristan, aku bersumpah…”

“Hemm… mungkin aku akan tersenyum gembira ketika saat itu datang.”

James merobek kemejanya sendiri penuh geram hingga kancing-kancingnya bertebaran, kemeja itu pasti milik Tristan, atau setidaknya pernah menjadi milik bajak laut keparat itu. Dengan merobeknya, James merasa sedikit terhibur. Sambil mengatupkan rahang, James kemudian melepas celananya dan berbaring menelungkup di ranjang, membenamkan wajahnya ke bantal.

James merasakan jika Tristan merangkak naik ke ranjang. Ia berpikir kalau pria itu akan langsung mengulangi apa yang telah terjadi kemarin, langsung memasukinya. Ternyata James salah.

Tristan memeluknya.

Ya, alih-alih memperlakukan James secara kasar dengan langsung menyutubuhinya, bajak laut itu malah memeluk James. Dari samping. Masih berpakaian.

James mengangkat kepala dan menoleh ke samping, ia langsung bertatapan dengan mata tajam Tristan. James membeku.

“Kurasa… aku telah…”

Bisikan Tristan tertahan. James menunggu dengan dada berdentuman, namun Tristan tetap bisu. Mereka masih saling bertatapan beberapa saat kemudian hingga Tristan memajukan wajahnya untuk mencium bibir James, lama dan lembut.

James mendapati dirinya berada dalam kebingungan. Ini adalah pertama kali ia merasakan tekstur bibir lelaki. Rasanya begitu beda dengan ketika Anne menciumnya. Bibir Tristan lebih kuat dan berkarakter. James kaku dan tanpa dikehendaki, matanya mulai terpejam.

Ketika Tristan menyapu bibirnya dengan ujung lidah, James tanpa sadar membuka mulutnya untuk bajak laut itu. Ketika lengan Tristan membelai punggungnya yang telanjang dengan belaian yang tidak tergesa-gesa, tubuh James mengkhianatinya.

James menyukai telapak tangan Tristan yang keras ketika bergerak di kulitnya. James tak ingin menyukainya, sebenarnya, tapi yang terjadi malah sebaliknya, anatominya menyukai itu.

James tidak menolak ketika Tristan membalikkan tubuhnya untuk saling menghadap, sampai saat itu, Tristan masih terus menciuminya. Pun ketika Tristan menekuk sebelah kaki James untuk kemudian ditarik ke atas pinggangnya, James tidak melawan.

Tristan behenti mencium dan menarik wajahnya. Ia menatap James yang masih memejamkan mata dengan bibir sedikit terbuka. Tristan tersenyum melihat James seperti itu. “Aku takut kalau-kalau diriku sudah jatuh cinta padamu, Jim…”

Bisikan lirih Tristan cukup untuk membuat James terbelalak. Lelaki muda itu menatap pria yang sedang memeluknya dengan tatapan kebingungan sekaligus tak percaya. James tak bisa berkata-kata, tidak ketika tubuhnya sedang mengkhianatinya sedemikian rupa.

Ketika menemukan James yang tidak bereaksi apa-apa, Tristan bergerak menindih lelaki itu, sekilas ia melirik ke bawah, ke pinggang James yang sedang ditindihnya. Tristan membuat jarak untuk melepaskan kemejanya dan membuka kait celananya, selama melakukan itu, matanya terus membuat kontak dengan James yang sangat jelas terlihat masih berada dalam kebingungan. Sampai Tristan selesai membebaskan kedua tungkainya dari kungkungan pakaian bawahnya, James masih belum bereaksi.

Tristan kembali menunduk untuk mencium leher pucat James, menggigit perlahan dan menjatuhkan diri sepenuhnya untuk bertumpu di atas James. James nyaris tak percaya kalau dirinya baru saja mendesah, otot-otot Tristan menekan dirinya sedemikian lembut tepat di titik-titik sensitif dirinya. Tristan bahkan menyapu telinga James dengan bibirnya, dan lalu kembali menutup bibir James dengan mulutnya.

James menemukan tubuhnya memberikan reaksi menerima. Sial, James merasa berdosa karena menikmati apa yang dilakukan Tristan dengan begitu lembut dan penuh perasaan terhadapnya, ini berbeda dengan apa yang terjadi pertama kali kemarin. Pikiran James jelas tak menerima, namun tubuhnya bersikap sebaliknya.

Ketika Tristan memposiskan dirinya sedikit turun dengan mengangkat badannya, James tak sanggup bertahan, lengannya mencengkeram di punggung Tristan dengan gerakan menekan hingga kuku-kukunya menusuk kulit pria itu. Secara tak terelakkan, James melengkungkan diri, seakan tak ingin Tristan berjarak darinya.

Tristan tersenyum saat sebelah tangan James menyusuri punggungnya menuju pinggang, lalu berakhir di perutnya. Jemari James seperti sedang meneliti lekuk-lekuk yang terbentuk di perut Tristan sebelum akhirnya tangan itu berpindah ke dada Tristan.

James masih terpejam ketika Tristan menunduk untuk menciumi bibirnya. Ketika Tristan mengangkat wajahnya, ia menemukan James sedang menatapnya.

“Apa yang telah kau lakukan padaku, Tristan Kovack…” James berujar lemah. “Apa yang telah kau lakukan…”

Sebagai jawaban, Tristan hanya menggeleng. Tapi itu tidak membuat James puas.

“Apa yang telah kau lakukan terhadapku, Tristan…”

“Aku tak tahu, Jim…”

James kembali memejamkan matanya, “Kumohon, selesaikan saja ini secepatnya! Kumohon…” Bagi James, lebih baik Tristan langsung menyetubuhinya seperti kemarin ketimbang diperlakukan lembut penuh perasaan oleh pria itu seperti sekarang.

Tristan membiarkan James berbalik untuk menelungkup, namun saat James telah jelas-jelas merenggangkan kakinya, Tristan diam tak bergerak, kedua lengannya bertumpu di sisi James.

James menunggu.

Yang terjadi selanjutnya adalah, Tristan bergerak turun dari ranjang. James membuka matanya ketika selimut yang dibentangkan Tristan menutupnya hingga ke pundak.

Untuk semenit mereka kembali bertatapan.

“Maafkan aku, Jim… aku tak seharusnya melakukan ini terhadapmu…”

Tristan mengenakan pakaiannya yang diawasi tatapan penuh heran James. Setelahnya, bajak laut itu menuju pintu dan hilang.

James terjaga semalaman memikirkan sikap Tristan yang tak pernah diprediksinya. Ketika matahari memantulkan kilau keemasan ke deretan tiga lubang di dinding kamarnya, James sudah tidak lagi memandang Tristan sebagai seorang bajak laut, tapi sebagai pria yang sama terhormatnya seperti dirinya, seterhormat dirinya yang dulu sebelum menjadi tawanan di Black Sail.

*

“Menurutku, James mulai menyukai Tristan…”

“Iya, aku juga yakin begitu, James malah mungkin sudah jatuh cinta pada Tristan tanpa disadarinya.”

“Hubungan mereka lucu…”

Ketiga Isabel saling berkomentar satu sama lain.

Oldman terbatuk, “Sekarang kalian mendukung mereka untuk bersama, hah?”

Para Isabel terkikik.

“Mana yang lebih kau sukai, Isabel? Veteran bangsawan terhormat, atau sang bajak laut?”

“Kurasa James adalah tepatnya pria yang akan kunikahi, Oldman.” Salah seorang Isabel menjawab.

“Tristan lebih misterius, sikapnya tak tertebak. Aku suka pria misterius.” Isabel yang lain melanjutkan.

“Hentikan, kalian hanya mengulur waktu!” Seorang Joseph menukas gusar. “Oldman, apa yang terjadi selanjutnya?”

Oldman terkekeh, “Ah, Joseph, sekarang malah kau yang terburu-buru.”

*

Tiga hari, selama itulah Tristan tidak mendatangi kamar James. Raffael datang satu kali setiap harinya untuk makan siang bersama James, dan James tidak melewatkan kesempatan untuk bertanya pada bocah itu tentang keadaan di atas Black Sail, ia bahkan bertanya tentang Tristan. Jawaban Raffael masih tetap seperti yang pernah diutarakannya, bahwa para perompak di atas Black Sail memperlakukan mereka seperti saudara, dan bahwa Bajak Laut Tristan terlihat lebih diam dari biasanya sudah tiga hari ini.

Ini hari keempat, atau seminggu sejak hari pertama James dibawa ke Black Sail.

Di awal pagi, pintu kamar James terbuka dan sosok jangkung Tristan mematung di pintu. Tristan tidak membawa nampan sarapan seperti yang pernah dilakukannya beberapa hari lalu, mungkin karena ia membuka pintu James terlalu awal sebelum waktu sarapan tiba, sinar matahari bahkan masih berwarna emas.

“Kau bebas pergi kemana saja di atas Black Sail mulai hari ini, pintu kamarmu tak akan terkunci.”

James tidak menampilkan sebarang ekspresi kaget dengan ucapan Tristan. Ia hanya menatap pria itu yang sama sekali tidak melangkah masuk.

Semenit kemudian, Tristan siap berbalik pergi ketika James bersuara.

“Mengapa kau melakukan itu?”

Tristan urung pergi. “Melakukan apa?”

“Membiarkanku bebas berkeliaran di atas kapalmu, mengapa?”

Tristan terdiam sejenak, “Karena begitulah yang terjadi pada orang-orangmu…”

“Sampai kapan kau akan menawan mereka, Tristan? Sampai kapan kau akan menahanku di kapalmu? Aku sudah menuruti keinginanmu, sekarang saatnya untukmu menepati janji.”

Tristan terdiam. Matanya menekuri lantai kapal beberapa saat lamanya hingga James merasa jenuh dengan sikapnya.

“Tristan…”

“Pintu ini tak akan terkunci lagi, kau bebas kemana saja di atas kapal ini.” Tristan mengulang apa yang tadi disampaikannya, lalu ia berbalik.

“AKU TAK INGIN BERKELIARAN DI ATAS KAPALMU, AKU INGIN BEBAS, KEMBALI KE DARATAN!”

“AKU TAK BISA MELAKUKANNYA, KAU DENGAR?!? AKU TAK BISA MEMBIARKAN ITU TERJADI!”

Mereka saling berteriak.

Dada Tristan bergemuruh, sementara James berdiri kaku.

“Apa yang terjadi dengan ‘Bajak laut sejati tak pernah ingkar janji’?” desis James tajam.

“Satu-satunya hal yang aku janjikan padamu adalah, bahwa aku tidak akan memperlakukan orang-orangmu secara buruk. Dan aku masih menepatinya hingga hari ini. Aku tidak pernah menjanjikan apapun selain itu padamu, Jim.” Tristan menjawab tenang.

“Kau mengatakan akan membebaskanku dan mereka!”

“Aku mengatakannya, tapi tidak berjanji.”

“Kau pembohong!”

“Sebut sesukamu, aku tak keberatan.”

Dan dengan begitu Tristan meninggalkan James dengan kemarahannya.

James meninju tiang ranjang dan harus mengibas-ngibaskan tangannya setelah itu, ruas-ruas jarinya seperti mau tanggal, tapi tiang itu malah bergeming seolah menertawakannya. James mengumpat sendirian.

Lalu James mendengar peluit yang ditiup dan orang-orang bersorak nyaring menyerukan kata RUMAH. James menoleh ke pintu yang terbuka, ia berjalan ke sana dan menaiki tangga menuju anjungan. Matanya membelalak ketika memandang ke kejauhan, sebuah pulau dengan pantai yang indah seakan mengapung di atas permukaan laut. James berhasil dibuat takjub hingga tak memedulikan hiruk pikuk para perompak di sekitarnya.

“Selamat datang di rumahku, Tn. James Earl Claybourne…”

James menoleh, entah sejak kapan Tristan sudah berdiri di sampingnya. Marah James menguap entah kemana. “Pulau apa itu?”

“Pulau Bajak Laut.”

James menatap bergantian antara pria di sampingnya dengan pulau indah di kejauhan. “Ini yang kau maksudkan dengan bebas berkeliaran di atas kapalmu? Bahwa kau akan menawanku di pulau itu?” James mulai sinis, ketakjubannya terhadap pulau cantik yang disebut para perompak sebagai rumah hilang seketika.

Tristan tidak menjawab, sebaliknya mengernyit menatap punggung tangan kanan James yang berdarah. “Apa yang terjadi pada tanganmu? Saat kutinggalkan tadi belum begitu…” Tristan meraih tangan James bermaksud untuk memeriksanya.

James kaget dengan keadaan tangannya sendiri, ia tidak tahu sama sekali kalau punggung tangan tepatnya di bagian ruas jarinya robek. Tapi ia tidak mau memberi kesempatan bagi Tristan untuk memeriksa lukanya. Jadi, dengan kasar James menepis tangan pria itu dari meraihnya.

“Bukan urusanmu!”

Tristan tidak mau mengalah begitu saja. Sebelum James mengambil langkah, ia sudah berhasil mencengkeram pergelangan tangan kanan lelaki itu. Tanpa bersuara, Tristan menarik rumbai kain yang menghiasi kerah kemejanya dan membalut luka James.

“Harusnya kau meninjuku, Jim, tanganmu tak perlu luka begini jika meninjuku.”

“Aku ingin membunuhmu!”

Tristan tertawa dan melepaskan tangan James setelah selesai membalut lukanya, “Di sana…” Tristan menunjuk pulau, “kesempatan untuk melakukan rencanamu itu akan terbuka lebar.”

Black Sail berhenti bergerak begitu Frankenstein menurunkan jangkar. James menemukan sosok Raffael berada bersama Frankenstein, bocah itu berjalan pincang.

“Aku turut menyesal dengan apa yang terjadi pada Rafe, Frank juga menyesalinya. Kau tahu, Jim, Frank menangis ketika Rafe bercerita tentang ibu dan adik-adik perempuannya.”

James mengalihkan perhatian dari sosok Frankenstein dan Raffael pada Tristan, ekspresinya jelas tak percaya pada ucapan pria itu. “Selama ini, yang terus kau katakan padaku hanya kebohongan.”

“Percaya atau tidak, itu hakmu.”

“Jim…”

James berbalik dan menemukan Nicholas memberi hormat padanya dengan membungkukkan badan. Bekas kapten kapalnya itu tampak sehat bugar, yang lebih penting, kedua lengannya utuh.

“Nick, oh Tuhan syukurlah…” James memeluk kapten kapalnya itu, “Ayahku akan sangat berduka jika kau sampai mati.”

Nicholas tertawa canggung. “Ayahmu sendiri akan membunuhku jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada dirimu.”

Sesuatu yang buruk memang sudah terjadi padaku, Nick. James berujar dalam hati. Pada Nicholas, ia hanya tersenyum.

“Kita sampai, Sir Nicholas, komandokan anak buahmu untuk menyiapkan perahu bersama orang-orangku,” Tristan menyela.

Nicholas mengangguk, memberi hormat sekali lagi lalu berjalan pergi.

James kini melihat sendiri kebenaran penuturan Raffael tentang sikap para perompak penawan mereka.

Ketika perahu-perahu mulai diturunkan, Tristan mengajak James turun dari anjungan. Mereka menempati perahu pertama. Hanya berdua. James membisukan diri, ia hanya bersuara untuk menyapa Raffael sebelum naik ke perahu bersama Tristan.

Tristan mengayuh sendirian. Puluhan perahu mengikuti di belakang, diantaranya juga terdapat beberapa perahu berisi peti-peti hasil rampasan, peti-peti milik ayah James juga terlihat di antara peti-peti lainnya di atas perahu.

Tristan mengayuh sambil sesekali memerhatikan James yang duduk membisu di depannya. “Kau masih marah padaku?”

“Aku membencimu. Kalau kau cukup bodoh untuk mengetahuinya, kuberitahu, benci itu lebih dari sekedar marah.”

Tristan mengulum senyum. “Benci dan marah dua hal yang berbeda setahuku, Jim, salah satunya tidak bisa dibilang lebih tinggi atau di bawah salah satu yang lain.”

James mendengus.

Lagi-lagi Tristan tersenyum. “Kau tahu, saat memberengut begitu, kau mengingatkanku pada Isabel dan Joseph.”

James mengalihkan pandangannya dari menatap lautan ke wajah Tristan. “Siapa mereka?”

“Bocah-bocah milik Penelope, wanita yang sudah kuanggap seperti saudara. Mereka baru berumur dua tahun. Sebentar lagi kau akan berjumpa dengan mereka.”

Lalu pandangan James menangkap sosok-sosok yang berlarian di pantai, wanita dan anak-anak, sangat ramai. Mereka bersorak-sorak, anak-anak tampak melompat-lompat. James mengernyit, memandang bergantian antara Tristan dan para penyambut di pantai.

“Kau lihat perempuan yang sedang mengandung itu?” Tristan menunjuk sosok perempuan tinggi dengan perut besar yang berdiri sambil tersenyum penuh rindu menatap lautan. “Itu Rosalie, Frank menganggap Rosalie istrinya dan sebaliknya, Rosalie menganggap Frank sebagai suaminya. Anak dalam perut Rosalie itu milik Frank…”

James menatap Tristan dengan ekspresi tak terbaca. Semuanya terlalu mengejutkan bagi James. Banyak yang ingin ia suarakan, tapi tak ada kata-kata yang berhasil dilisankannya. Alih-alih, James malah berujar seperti kepada dirinya sendiri. “Orang-orang itu menunggu suami dan ayahnya…” lalu James teringat sesuatu, “Siapa yang menganggap Penelope sebagai istrinya?”

Tristan menggeleng. “Penelope meninggal enam bulan lalu, ia hanya sempat bersama kami selama lebih satu tahun. Aku menemukannya serta Rosalie di sebuah kota kecil ketika Black sail berlabuh untuk mencari perbekalan, tepat di saat bayi kembarnya siap dihabisi.”

“Dihabisi, mengapa?”

“Tak boleh ada pelacur yang merawat bayi di tempat terkutuk itu, Penelope sudah cukup beruntung dibiarkan hidup hingga persalinannya selesai.”

James harus menahan napasnya. “Dan Rosalie?”

“Ia teman dekat Penelope, Rosalie yang membantu Penelope untuk kabur setelah putra-putrinya lahir.”

Ujung dayung Tristan menyentuh dasar pantai. Beberapa anak yang lebih besar berlari menyongsong perahu Tristan. Bajak laut itu dengan sigap melompat turun dan menarik perahunya hingga ke tepi. James duduk diam menatap Tristan sesekali bercengkerama dengan beberapa anak yang turut memegang tepi perahunya.

Selanjutnya, yang dilihat James adalah orang-orang yang saling berpelukan melepas rindu. Ia dan orang-orang dari kapalnya berdiri kaku melihat kejadian itu. Nicholas malah sampai berkaca-kaca. Inilah sisi lain dari kehidupan para perompak Black Sail, bahwa mereka juga manusia, mereka punya kehidupan yang tak pernah disangkakan orang-orang yang menggunjingkan mereka di daratan sana seolah sudah pernah berjumpa dan tahu seperti apa kehidupan para bajak laut, padahal mereka tidak tahu sama sekali.

“Tn. Claybourne, rasanya aku ingin menangis…”

James menunduk memandang Raffael, ia mengusap kepala anak sepuluh tahun yang entah sejak kapan sudah berdiri bersamanya.

“Sebentar lagi Frank akan jadi ayah.” Raffael menunjuk Frankenstein yang sedang menciumi perut besar Rosalie sambil tertawa bahagia.

“Ya, Rafe, sebentar lagi temanmu itu akan jadi ayah.”

Tristan melambai pada James dan orang-orangnya dengan senyum cerah di wajah. James mendapati dirinya sedang membalas senyum Tristan, dengan sepenuh hati.

Beriringan, orang-orang itu berjalan memasuki Pulau Bajak Laut…

*

“Nama bayi kembar Penelope sama seperti nama kami yang sering kau sebut,” cetus Isabel.

“Oldman, apa itu Penelope dan Rosalie yang sama yang pernah kau ceritakan?”

“Oldman, apa Pulau Bajak Laut itu benar-benar ada?”

“Aku ingin James dan Tristan tinggal di sana, tak perlu kembali.”

“Tapi bagaimana dengan nasib keluarga Rafe jika ia tak kembali? Ibu dan saudara-saudara perempuannya sangat membutuhkannya.”

“Tapi kehidupan di pulau itu begitu indah…”

“Apa bayi Rosalie akan mirip Frank? Bukankah Frank itu menyeramkan?”

“Mudah-mudahan bayi itu mirip Rosalie.”

“Aku lebih penasaran dengan Isabel dan Joseph.”

Oldman kewalahan membendung tanggapan-tanggapan dari para pendengarnya yang saling sahut-sahutan. Akhirnya ia memilih diam sampai para pendengarnya itu diam dengan sendirinya.

“Siapa yang mau mendengar kelanjutan kisahnya?”

Isabel dan Joseph sama-sama mengacungkan tangan ke udara.

*

Tak butuh waktu lama bagi Raffael untuk langsung menjadi teman akrab Isabel dan Joseph, langkah-langkah kecil mereka dengan mudah mengikuti Raffael yang berjalan pincang kemana saja. Mereka menirukan apa saja yang diucapkan Raffael, ketiganya bahkan tidur bersama setiap malam, di gubuk milik Frankenstein dan Rosalie yang mulai dipanggil Raffael dengan panggilan Paman Frank dan Bibi Rosalie.

Gubuk Tristan adalah yang paling besar, namun tidak lebih mewah dari gubuk-gubuk lainnya di pulau itu. terletak tepat di sebelah gubuk Frankenstein. Di hari pertama kedatangannya ke sana, James bingung harus masuk ke gubuk mana. Ia hanya termangu di depan antara gubuk Tristan dan Frankenstein. Berbeda dengan Raffael yang langsung mengekori Frankenstein. Itu adalah setelah Tristan mengeluarkan perintah pada perompak bawahannya untuk membawa Nicholas serta orang-orangnya yang berjumlah tak kurang dari empat puluh itu ke gubuk yang kata Tristan adalah Gubuk Tamu. Tristan tidak memberi perintah apapun terkait James hingga lelaki muda itu hanya berdiri termangu sementara orang-orang lain berlalu.

Baru ketika Tristan berbalik dan memanggil setelah membuka pintu rumahnya, James beranjak menyusul pimpinan bajak laut itu untuk masuk ke rumah.

Dan kini sudah tujuh hari James tidur di tempat tidur satu-satunya yang ada di rumah itu, di tempat tidur Tristan, bersama Tristan. Selama itu pula tidak terjadi apapun. Tristan tidak pernah memaksakan dirinya untuk melanggar wilayah pribadi James, Tristan bahkan terlihat sangat berusaha untuk tidak bersentuhan dengan James.

Sedangkan James, meski pikiran untuk membunuh Tristan sering terlintas ketika pria itu tertidur pulas di sampingnya, tapi James tidak pernah mampu untuk melakukannya. Setiap kali ia melihat pisau atau pistol Tristan atau senjata lainnya di rumah itu, pikiran untuk menggunakannya selalu kalah oleh bayangan Tristan bersama keluarga perompak yang berputar-putar di kepala James.

Tristan adalah harapan hidup orang-orang di pulau itu, tanpa terkecuali. Itulah tepatnya alasan mengapa James tak sanggup menggunakan salah satu senjata tersebut. Tidak, bukan itu. James ragu kalau bukan itu tepatnya alasan mengapa ia tak sanggup membunuh Tristan. Karena… setiap melihat sosok Tristan yang terbaring damai di sebelahnya, James juga―entah bagaimana formulanya―turut merasakan kedamaian yang menghangatkan hatinya. Namun ternyata bukan hanya menemukan Tristan yang terlelap damai saja yang membuat niat James untuk meraih senjata-senjata itu dan menggunakannya musnah, tetapi juga melihat Tristan dalam keadaan yang sebaliknya.

Seperti malam ini.

Gerimis baru saja mengguyur pulau, gemuruh ombak yang menghempas pantai samar terdengar. James baru saja dipaksa terjaga dari tidurnya. Hal pertama yang dirasakannya adalah dingin yang mencucuk hingga ke tulang. Dan benda pertama yang terlihat ketika matanya terbuka nyalang adalah pisau berkilat di atas meja, pisau milik Tristan, tampak seakan melambai pada James.

James menunggu hingga semua inderanya terjaga. Kilatan pisau itu mengalahkan dingin yang menyerangnya. Untuk beberapa saat, hasrat untuk meraih pisau itu dan kemudian menghujamkannya ke dada Tristan begitu besar. James bangun dan duduk di ranjang dengan mata masih tertuju pada pisau di meja. James menurunkan sebelah kakinya, ia siap menurunkan kaki sebelahnya lagi saat Tristan mengigau dalam tidurnya. Darah James tersirap, karena Tristan mengigaukan dirinya.

James sontak menoleh ke sisi ranjang di sebelahnya. Tristan tampak gelisah dalam lelapnya. Pria itu masih mengigaukan nama James.

“Tidak, James…! James… jangan… jangan pergi, kumohon, jangan…” Tristan bergerak-gerak gelisah.

Pikiran tentang pisau di meja dengan serta merta terlupakan. James beringsut mendekati Tristan dan menyentuh dahi pria itu.

“Jangan bawa dia… Jangan bawa Jim-ku… kumohon…” Tristan masih terus mengigau.

“Tristan, hey..” James menepuk pelan pipi kiri Tristan, tapi pria itu masih terus mengigau. James merasakan dahi Tristan panas di bawah telapak tangannya. “Trist, Tristan…” tepukan James berubah lebih keras.

Gelegar petir mengagetkan James dan sekaligus membangunkan Tristan. Matanya langsung bertatapan dengan James. Posisi James tepat membungkuk di atas Tristan dengan sebelah lengan bertumpu di sisi badan pria itu dan satu lagi masih menempel di dahi.

“James…” kantuk jelas terdengar dari suara Tristan yang serak, ia berusaha bernapas tenang. “Ada apa?”

James terdiam sesaat sebelum menjawab, “Kau mengigau…”

Tristan mengernyit. “Oh… apa aku membangunkanmu?”

James tak menjawab.

“Maaf…”

“Apa yang kau mimpikan?”

Tristan menelan liur dan tidak menjawab sama sekali.

“Siapa yang akan membawaku pergi dalam mimpimu?”

Tristan mengerjap. “Apa aku mengigau tentangmu?”

“Jangan bawa Jim-ku, itulah tepatnya yang kau igaukan.”

Samar-samar diterangi cahaya lampu minyak yang menggantung di dinding, James menemukan wajah Tristan menyemburat. Pria itu terdiam cukup lama.

“Apa yang kau mimpikan, Tristan…”

Tristan menggeleng, “Bukan apa-apa, kembalilah tidur.”

Saat Tristan berkata demikian, James baru menyadari kalau posisinya terlalu dekat dengan Tristan, wajahnya dan wajah Tristan hanya berjarak sejengkal saja, bahkan dadanya bersentuhan dengan dada Tristan, dan ia masih memegangi dahi pria itu. James beringsut menjauh dan berbaring telentang. Ia sempat mengira kalau Tristan akan menahan pinggangnya dan menariknya dalam dekapan, namun ternyata tidak. James memaksakan diri untuk terpejam.

Beberapa saat kemudian, James merasakan pergerakan Tristan. Ia membuka mata dan menoleh ke sisi di mana Tristan berbaring. Sedikit, James merasa kecewa ketika menemukan Tristan sudah berguling lebih ke sisi berseberangan, seperti sengaja menjauhinya. Tristan bahkan memunggunginya. Tadinya, ia sempat berpikir kalau Tristan bergerak mendekatinya.

James memandang punggung Tristan hingga bermenit lamanya. Ia tidak mengerti dengan apa yang sedang berlangsung dalam dirinya. Mendadak hasratnya untuk dipeluk pria itu membuncah dalam dada James. Ia menggigil ketika angin dingin berhembus dari celah-celah dinding. Gerimis baru saja berubah menjadi hujan lebat, membuat suhu malam di pulau itu yang dingin menjadi kian dingin.

James sampai pada kesimpulannya.

Perlahan James mulai beringsut mendekati sisi tempat tidur dimana Tristan berbaring menyamping. Entah Tristan sadar atau tidak dengan gerakan yang dibuat James, yang jelas sosoknya masih bergeming seperti posisinya semula sampai James sudah cukup dekat padanya.

James menahan napasnya ketika ia sudah berada tepat di balik punggung Tristan. Ia lalu bergerak untuk mengikuti posisi Tristan berbaring, lalu sebelah tangannya melintang ke atas pinggang Tristan, terus bergerak untuk memeluk pinggang ramping pria itu.

Tristan tak bergerak tak bersuara, seperti sengaja membiarkan dan menunggu apa yang akan dilakukan James atasnya, juga seperti menegaskan ketidakberatannya pada tindakan James.

Perlahan, James meratakan telapak tangannya di perut Tristan yang polos, merapatkan dadanya ke punggung Tristan yang hangat lalu bermaksud memejamkan mata, namun niat itu urung ketika sebelah tangan Tristan ikut bertumpu di atas tangannya yang masih merangkul. Tristan meremas tangan James yang berada di bawah tangannya. Di balik punggung Tristan, James tersenyum sendiri. Karena yakin kalau Tristan tidak akan mengusirnya dengan memintanya kembali ke bagian tempat tidur yang baru saja ia tinggalkan, James semakin merapatkan dirinya ke punggung Tristan dan bahkan menaikkan sebelah tungkainya ke atas pinggul bajak laut itu.

“Aku bisa terperosok jatuh ke tanah kalau kau terus mendesakku, Jim…” Tristan berujar samar.

James menahan tawanya. “Salahmu karena tidur jauh dariku…”

Hening beberapa saat.

Tristan berbalik menghadap James. “Kau mau aku sedekat apa?” tanyanya ketika mereka sudah sama-sama tidur menyamping saling berhadap-hadapan dengan jarak teramat dekat.

James tidak menjawab, sebaliknya, ia menyurukkan sebelah tungkainya yang tertekuk ke antara paha Tristan. Keduanya saling tatap. James bisa melihat pergerakan jakun Tristan karena wajahnya tepat berhadap-hadapan dengan wajah Tristan, napas mereka menghangati wajah satu sama lain.

“Aku sudah berjanji pada diriku sendiri tak akan melakukannya tanpa persetujuanmu, Jim…” bisik Tristan, “dan sejauh ini aku masih berhasil menepatinya pada diriku sendiri…”

James diam tak bergerak.

Bajak laut sejati tak pernah ingkar janji.

Itukah alasan mengapa setelah malam itu Tristan tak pernah mencoba menggagahinya kembali? Karena Tristan sudah mengikrarkan janji terhadap dirinya sendiri untuk tidak mendatangi James tanpa persetujuan lelaki itu.

James rasanya mau menangis. Ingin saja ia menciumi Tristan bertubi-tubi. Matanya berkaca-kaca. “Orang-orang salah menilaimu, Tristan… mereka tak tahu apapun tentangmu.”

“Mereka tahu, aku adalah bajak laut yang menakutkan.”

“Kau tidak membuatku takut…”

“Mungkin belum.”

“Kau tak akan pernah menakutkan bagiku.”

“Mungkin kau terlalu berani untuk kubuat takut.”

“Kau bajak laut tertampan yang pernah kulihat.” James tak percaya bibirnya melisankan kalimat itu.

“Itu karena hanya aku bajak laut yang pernah kau temui…”

James terdiam beberapa saat, pandangannya mulai sayu. “Gagahi aku, Tristan… kumohon…”

Tristan merenung James lama, seakan ragu dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Itu tidak melanggar janjimu, kau tidak melakukannya tanpa persetujuanku.”

Mendapati Tristan yang masih diam, James memilih untuk memulai. Ia menelusupkan sebelah tangannya ke bawah selimut yang menutupi sosok mereka berdua sebatas pinggang, dan langsung masuk melewati pinggang celana Tristan untuk kemudian menyentuh bagian paling pribadi yang ada di antara kedua paha pria itu. James tak hanya menyentuh saja, ia juga menggerakkan jari-jarinya di sepanjang milik Tristan, membuat Tristan mengerang halus dan merenggangkan pahanya untuk James.

James mendorong Tristan hingga terlentang dan kemudian merangkak menaiki pria itu lalu mensejajarkan pinggang mereka. Tristan kembali mengerang dan mendesiskan nama James ketika James bergerak-gerak perlahan dan lambat di atasnya.

Tujuh menit kemudian, James berhasil melepaskan celana Tristan dan menikmati pemandangan telanjang pria itu untuk pertama kalinya secara langsung dan terang-terangan. James baru tahu kalau Tristan memiliki parut memanjang seperti bekas sayatan pedang di paha kirinya. James menyusuri parut itu dengan jemari sebelah tangannya sedang jemari tangan yang lain belum meninggalkan area di bawah pusar Tristan.

“Di mana kau mendapatkannya?”

Tristan paham bahwa yang sedang dibicarakan James adalah parutnya, tapi ia bermaksud menggoda lelaki itu dengan memberi jawaban pada fokus objek yang lain. “Dari ayahku,” ia berdehem. “aku mendapatkan tongkat panas yang sedang kau genggam itu dari ayahku…” Tristan terkekeh ketika menemukan James memelototinya. “Hemm… itu bekas sayatan pisau Frank…”

James mengernyit.

“Kau tidak berpikir bahwa dari awal kami sudah berteman, kan?”

“Itulah tepatnya yang kupikirkan, kau dan Frankenstein, pasti teman karib sejak awal.”

Tristan menggeleng, ia lalu menekuk sebelah lengannya ke bawah kepala dan mulai bercerita. “Dulunya, Frank  adalah bawahan salah satu musuhku. Di satu pertarungan, dia diperintahkan melawanku untuk mengulur waktu sementara pimpinannya melarikan diri. Itu parut yang dia hadiahkan di akhir pertarungan, aku tak tahu kalau Frank punya senjata rahasia di balik sepatunya. Sebenarnya aku bisa langsung memenggal kepalanya sebelum itu terjadi, tapi tak kulakukan, karena bukan dia yang kuinginkan, melainkan pimpinannya, aku bahkan tidak tega membunuhnya setelah dia menyayat kakiku, padahal aku bisa melakukan itu. Frank juga tahu aku bisa membunuhnya jika mau. Ketika pertempuran itu selesai dan aku memerintahkan orang-orangku kembali ke kapal, Frank mengikuti…”

James mendengarkan sambil menatap pergerakan bibir Tristan ketika berbicara. Ia mendapati dirinya menyukai melihat Tristan bicara, James suka melihat bagaimana bibir pria itu bergerak-gerak untuk melisankan kata-kata. Tak dapat menahan keinginan untuk untuk menyentuh bibir Tristan, James pun melakukannya. Dengan ujung jari, ia menyusuri bibir Tristan perlahan sambil merasakan teksturnya. Sesekali Tristan menyentuhkan ujung lidahnya ke ujung jemari James, dan James juga menyukai itu.

James ragu-ragu ketika hendak menempelkan bibirnya ke bibir Tristan.

“Kenapa?” Tristan menggumamkan tanya.

James mengerjap satu kali sebelum menjawab. “Entahlah, aku merasa ingin mencium bibirmu…”

Bibir Tristan melengkungkan senyum. Lalu ia membebaskan lengannya yang tertekuk di bawah kepala dan menuju wajah James. Dengan punggung tangannya, Tristan membuat gerakan membelai di sepanjang garis rahang James. “Maka ciumlah…”

Dan begitulah, James menundukkan wajahnya perlahan-lahan lalu menyelimuti bibir Tristan dengan mulutnya. James kembali merasakan sensasi yang sama seperti malam saat di atas kapal dimana dirinya bercinta dengan Tristan, percintaan yang tidak tuntas, percintaan di mana James dikhianati tubuhnya sendiri. James memberanikan diri untuk melumat bibir Tristan, dan ketika Tristan membalas lumatannya, James serasa dilambungkan ke atas, membumbung tinggi lalu melayang-layang. Ketika Tristan menyudahi ciuman mereka, James merasa seakan oksigen pergi meninggalkan kamar itu, ia terengah-engah mencari udara.

Tristan melirik ke bawah, ke tangan James yang masih memegang bukti kelelakiannya lalu tersenyum sendiri. “Kulihat kau menemukan keasyikan barumu di bawah sana, Tn. Claybourne, sampai kau tak ingin melepaskannya…”

James merona dan dengan serta merta melepaskan genggamannya pada kejantanan Tristan lalu berbaring menelungkup tepat di samping pria itu. Tindakan James tampak seakan dimaksudkan sebagai isyarat untuk mempersilakan Tristan melakukan apapun yang ingin dilakukan pimpinan bajak laut itu terhadap dirinya.

Tristan tidak menyia-nyiakan peluang yang diciptakan James untuknya, ia bergerak untuk melepaskan pakaian bawah James lalu menindih lelaki muda itu, menciumi tengkuk dan pundaknya, membelai rambut dan sisi wajahnya, dan menjalin jemari tangan kanannya dengan jemari tangan kanan James sebelum menerobos memasukinya perlahan-lahan.

James mengerang. Ini kali kedua Tristan melakukan hal itu padanya. Tapi rasanya sungguh tak sama dengan kali pertama. Penyatuan Tristan kali kedua ini terhadap dirinya terasa lebih penuh belas kasih. James mendapati jika ia menikmati apa yang dilakukan Tristan terhadapnya.

Tristan tidak mau terburu-buru, cukup sabar ia menekan pinggangnya hingga perutnya menempel di bokong James. Tristan diam beberapa saat, seakan untuk menegaskan pada James bahwa penyatuan mereka sudah terjadi. Sesaat kemudian ia mulai bergerak perlahan dan lembut. Terlalu takut untuk  menyakiti James, Tristan berusaha mencapai orgasmenya tanpa banyak melakukan gerakan. Ia hanya bergerak samar dan sesekali menekankan dirinya untuk beberapa saat pada James sebelum kembali bergerak samar dan menekan lagi dengan maksud memperoleh orgasmenya dengan segera, dan itu berhasil.

James merasakan hangat mengaliri bagian dalam dirinya, diiringi lenguhan Tristan yang menjatuhkan diri dan menindihnya rapat. Tubuh besar Tristan terasa berat di atasnya. Segera setelah Tristan menarik dirinya, James merangkul pria itu dan menempelkan dirinya ke perut Tristan yang keras.

Tristan paham apa yang diinginkan James. Ia membelit erat pinggang James dengan lengannya dan menekankan sosok lelaki itu padanya sekuat yang ia bisa. James mencari-cari mulut Tristan seperti dahaga dan segera melumatnya begitu ketemu. Tak perlu waktu lama bagi James untuk mendapatkan orgasme pertamanya bersama Tristan, lelaki muda itu nyaris meneriakkan nama Tristan ketika gelombang hasrat yang terkumpul di bawah pusarnya terlepas dan melabrak perut Tristan dengan telaknya. Badan James melengkung beberapa saat lamanya sampai getaran-getaran halus di sekujur tubuhnya mereda. James lalu menyurukkan wajahnya ke dada Tristan, mencari damai hangat di dalam dekap bajak laut itu setelah petualangan cinta mereka selesai.

“Tristan…”

“Hemm…”

“Aku takut, kalau-kalau aku sudah jatuh cinta padamu…”

Tristan tak menanggapi kalimat James yang mengutip perkataannya suatu kali dulu, sebaliknya ia mencium puncak kepala James di dadanya lalu menarik selimut untuk menutupi mereka berdua.

Sudah dapat dipastikan, bahwa malam-malam selanjutnya mereka tidak lagi berbaring berjauh-jauhan di sisi berseberangan tempat tidur, melainkan akan berdekatan di tengah-tengah ranjang, berbagi hangat satu sama lain.

*

“Apa percintaan memang semanis itu, Oldman?”

“Ya, Isabel… percintaan memang semanis itu jika dua insan sungguh-sungguh saling mencintai. Namun percintaan juga tidak tidak selalu semanis itu, adakalanya getir menyertai…”

“Apa Tristan dan James saling mencintai?”

“Ah, Joseph…” Oldman merenung, “Andai saja kau ada di sana…”

“Apakah itu artinya kau pernah di sana?”

“Apakah kisah ini sungguh-sungguh terjadi?”

Oldman merenung pada pendengarnya. Memilih untuk tidak menjawab dua pertanyaan terakhir dari Isabel dan Joseph, ia mengajukan pertanyan yang ia yakini tidak mungkin dijawab tidak oleh para pendengarnya. “Siapa yang ingin mendengar akhir kisahnya?”

Sekali lagi, para Isabel dan Joseph itu mengacungkan tangan tinggi-tinggi.

*

Raffael akan pincang selama sisa hidupnya, dan Frankenstein menyuarakan penyesalannya dengan meraung-raung memeluk bocah itu ketika Black Sail berlabuh kembali ke pulau setelah pelayaran selama tiga puluh hari ke utara. Frankenstein berpikir kalau Raffael akan bisa berjalan normal kembali setelah luka tembaknya sembuh, dan ia mengangan-angankan akan melihat Raffael berlari-lari sepanjang pantai untuk menyambut kedatangannya saat Black Sail menurunkan perahu-perahu. Setelah lebih sebulan, luka itu memang sembuh, tapi Raffael tetap pincang. Frankenstein merasa sangat bersalah pada bocah itu.

“Tak apa, Paman Frank… ini sama sekali bukan masalah bagiku.” Raffael menepuk-nepuk bahu pria dewasa yang berlutut di depannya. “Berhentilah menangis, kau makin buruk rupa jika begitu. Ayo, bereskan wajahmu, jangan buat sosok kecil di sana ketakutan…”

Frankenstein mengikuti telunjuk Raffael dan tercenung. Di kejauhan, Rosalie berdiri menanti dengan bayi dalam gendongan, putra mereka.

Frankenstein ternganga.

“Rosalie melahirkan seminggu setelah kalian berlayar, tapi maaf, Frank… dia sama sekali tidak mirip denganmu…” James yang berdiri di samping Raffael berujar pada Frankenstein, namun pandangannya jelas-jelas tertuju pada Tristan yang juga sedang menatapnya penuh rindu di kedua mata. Di sekitar mereka, para perompak di bantu Nicholas dan orang-orangnya yang tidak ikut berlayar mulai mengangkut perbekalan yang di bawa pulang Black Sail.

Frankenstein terbahak kencang, “Syukurlah, aku justru tidak bisa mengampuni diriku sendiri jika bayi itu mirip denganku…”

Raffael tertawa, Isabel dan Joseph yang berdiri sambil memegangi lututnya di kiri dan di kanan juga ikut tertawa.

Frankenstein bangun dan berlari ke arah Rosalie yang berdiri menunggunya dengan senyum lebar di wajah. Raffael menggandeng Isabel dan Joseph lalu setelah menyapa Tristan yang masih bertatap-tatapan dengan James, ia menyusul Frankenstein masuk ke pulau.

“Hai…” Tristan menggumam lalu menyunggingkan senyuman pada James. “Apa kabarnya rumah kita?”

“Katamu Black Sail hanya pergi dua minggu…”

“Iya, dua minggu perjalanan pergi dan dua minggu perjalanan untuk kembali.” Tristan terkekeh sementara James mengeraskan wajahnya. “Apa kau sudah serindu itu padaku, Jim, hingga tak bisa menghitung waktu?”

“Harusnya kau bilang kalau akan pergi selama empat minggu!”

“Baiklah, akan kulakukan lain kali,” jawab Tristan tak bersalah.

James membuang dongkolnya dengan menghembuskan napas panjang. “Kau tampak berantakan…”

“Oh…” Tristan meraba dagu dan garis rahangnya yang mulai dilebati bulu, ia lalu melepas topinya dan menggaruk-garuk kepalanya yang ditutupi ikal berantakan, “di perjalanan pulang kami dihadang badai, maklum saja jika aku berantakan begini rupa.”

Canda Tristan mampu membuat James tersenyum. “Ayo, aku akan merapikanmu setiba di rumah.” James memegang pergelangan tangan kanan Tristan dan menariknya untuk berjalan ke pulau. Pemandangan itu terlihat seperti James sedang menuntun anak kecil untuk berjalan di sampingnya.

*

“Tamat? Selesai?” cetus Isabel ketika Oldman membisukan diri sesaat. Gelengan kepala yang diperlihatkan Oldman membuat Isabel kembali bersemangat. “Rasanya aku ingin ceritamu kali ini tak pernah berakhir, Oldman… aku sangat menyukainya…”

Oldman terkekeh. “Segala sesuatu di dunia ini selalu bertemu akhir, Isabel, keabadian tak bisa wujud sekaligus bersamaan dengan kefanaan… begitu juga dengan cerita ini…”

*

Bermula dari percakapannya dengan Nicholas tiga hari lalu, James mulai sering termenung memikirkan apa yang dikatakan mantan kapten kapalnya itu dengan mimik sungguh-sungguh padanya.

‘Tempat mereka bukan di sini, Jim… Kau pasti tahu bahwa di Inggris sana mereka punya kehidupan yang sudah ditinggalkan terlalu lama, ada sanak kerabat yang bertanya-tanya tentang mereka, ada keluarga yang menunggu-nunggu kepulangan mereka. Meski mereka terlihat senang di sini, bukan berarti mereka melupakan bahwa di daratan sana ada orang-orang yang mengharapkan mereka kembali. Ada anak yang bertanya-tanya tentang ayahnya, ada istri yang merindukan suaminya, ada kakak yang ingin melihat adiknya muncul di ambang pintu, ada kekasih yang menanti dengan hati gundah. Lebih dari itu, ada orang tua yang memikirkan keberadaan putra mereka sepanjang waktu…’

Kini saat termenung sendiri, James sadar bahwa kalimat terakhir Nicholas lebih ditujukan padanya. Ekeor mata James menangkap sosok Raffael yang sedang mengutip kulit kerang bersama Isabel dan Joseph di tepian pantai sambil sesekali berceloteh satu sama lain. Sama halnya seperti Nicholas dan orang-orangnya, Raffael juga punya ibu dan para saudara perempuan yang menunggu-nunggu kepulangannya.

James teringat ucapan ibunya di dermaga tentang mereka yang tidak akan bertatapan lagi. James segera menyadari kalau ia juga ingin melihat ibunya. Samar-samar, James juga ingat Anne de Vlerre yang padanya ia pernah berjanji untuk kembali. Tapi di sini, James juga punya Tristan yang―melebihi apapun di dunia―sangat menginginkannya untuk tinggal, meski pria itu tak pernah mengucapkannya.

James menemukan dirinya berada dalam dilema.

“Kau bosan berada di sini, Jim?”

James tersadar dari lamunannya dan menoleh Tristan yang sudah duduk di pasir bersamanya, memeluk lutut juga seperti dirinya. “Tempat ini begitu indah, mana mungkin ada orang yang bosan dengannya?”

“Ada. Kau.” Tristan menatap lautan.

James memerhatikan Tristan yang tampak serius. “Tidak, Tristan… aku tidak bosan.”

“Bukan dirimu, tapi pikiranmu…”

James terdiam.

“Kau mulai memikirkan mereka, kan? Orang-orang yang kau tinggalkan di daratan sana…”

James turut mendengar kesedihan dalam suara Tristan, dan ia merasa kasihan pada pimpinan bajak laut itu karenanya. James beringsut lebih dekat pada Tristan dan perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu lebar pria itu. James mencari tangan Tristan dan menjalin jemarinya di sana.

“Aku tidak akan menahanmu lebih lama lagi di sini, Jim…”

Itu bukan kalimat yang ingin didengar James dari Tristan, tidak setelah hatinya terikat pada pria itu. Dulu mungkin James akan senang mendengarnya, tapi kini ceritanya telah berbeda.

“Kau ingat aku pernah mengatakan akan membebaskanmu dan orang-orangmu suatu saat?” James tak menjawab pertanyaan Tristan. “Kurasa saat itu sudah tiba, Jim… kalian harus kembali kepada orang-orang yang menunggu kalian di sana, kembali pada orang-orang yang sangat merindukan kepulangan kalian…” nada bicara Tristan begitu hampa.

James perih sendiri mendengar kalimat Tristan. “Lalu bagaimana denganmu, tidakkah kau juga menginginkanku?” James gusar.

Tristan terdiam cukup lama sampai James yakin kalau percakapan mereka tentang hal itu telah selesai, bahwa kesimpulannya Tristan tak akan membiarkan ia pulang ke Inggris.

James menghirup udara dalam-dalam, membaui aroma Tristan yang ia sukai dan kerap membuatnya tersenyum sendiri akhir-akhir ini ketika melakukannya. James memandang lautan, tak jauh, tampak Black Sail terapung megah, rantai jangkarnya yang kokoh seakan menegaskan pada James bahwa di pulau inilah tempat seharusnya ia berada, merantaikan kakinya ke tanah Tristan untuk selamanya. Di balik tiang-tiang layar Black Sail yang menjulang megah, matahari mulai terlihat keemasan.

“Kita akan berlayar esok, menuju rumahmu…”

Mendengar ucapan Tristan yang seakan berasal dari liang yang dalam, James mendapati dirinya bingung, antara harus bergembira atau bersedih.

*

“Mereka berpisah… ya Tuhan…” Isabel berkaca-kaca.

Oldman tak menjawab.

“Mereka tidak bersama hingga akhir…” Isabel yang lain membekap mulutnya.

Oldman merenung langit sebelum kembali menuturkan sisa ceritanya.

*

Pulau itu kosong, Black Sail mengangkut semua orang, tanpa kecuali. Tristan melihat kompasnya sekilas lalu memerintahkan para perompaknya untuk mengangkat jangkar. Layar-layar terkembang. Tristan menatap James yang berdiri diam di tepi anjungan utama. Jauh di dasar hati, Tristan tak ingin melakukan ini, tapi ia harus melakukannya. Walau bagaimanapun, James dan orang-orangnya berhak untuk pulang ke tanah mereka sendiri, Tristan tidak mau egois dengan menahan mereka untuk kembali pada orang-orang yang mereka cintai hanya karena dirinya membutuhkan James di sisinya. Di pulau, yang mencintai James hanya dirinya seorang, sedang di tanah James, ia dicintai oleh begitu banyak orang. Dan mereka lebih berhak atas James ketimbang dirinya.

Kapal itu berlayar tangguh membelah lautan. Seiring hari yang terlewati selama pelayaran, James tahu bahwa ia kian dekat menuju rumahnya. Semakin dekat ia dengan rumahnya maka semakin hampir pula ia pada saat harus meninggalkan Tristan. Hari-hari terakhir pelayaran, James semakin sering menghabiskan waktunya untuk memerhatikan sosok Tristan. Kemana saja pria itu bergerak di atas Black Sail, mata James selalu mengikuti. Tristan menyadari sepenuhnya kalau James mengawasinya, namun ia sengaja tidak mau membuat kontak mata dengan lelaki itu, bukan karena Tristan tidak ingin lagi melihat James, tapi karena ia takut jika dirinya melihat mata James maka ia akan mengubah haluan kapal dan kembali ke pulau, menjauhkan James dari orang-orang yang mengharapkannya untuk kembali. Fakta bahwa selama pelayaran―yang sudah menghabiskan waktu belasan hari―dirinya tidak sekalipun bersentuhan dengan James adalah kesakitan lain yang menikam ulu hati Tristan. Ia merindukan James di pelukannya. Hampir setiap malam, Tristan gelisah memikirkan James yang menempati kamar lain di Black Sail.

Hari itu langit terlihat biru bersih ketika Tristan mengabarkan pada seluruh orang di Black Sail bahwa paling telat mereka akan memasuki perairan Inggris esok pagi. Itu menandakan bahwa James dan orang-orangnya akan meninggalkan Black Sail paling telat esok sore.

Kabar itu disambut Nicholas dan orang-orangnya dengan sorak sorai, tapi James terlihat kuyu dengan pandangan tak lepas dari memerhatikan sosok Tristan yang masih sengaja mengacuhkan dirinya. James sama sekali tidak terlihat gembira, namun juga tidak bisa dikatakan terlihat sedih.

Saat matahari mulai tergelincir ke barat dan orang-orang di atas Black Sail menarikan tarian bajak laut, James menyelinap pergi meninggalkan euphoria para mantan pekerja kapalnya dan tawa senang para perompak yang sedang menuju mabuk. James menyusuri koridor panjang, menuju tempat yang belum pernah ia datangi selama di Black Sail.

.

.

Tristan baru saja menggantung topinya ketika pintu kamarnya ada yang mengetuk. Siapapun perompak yang ingin menemuinya saat ia sedang di kamar memang akan selalu mengetuk terlebih dahulu meski Tristan tak pernah mengeluarkan peraturan tentang itu.

Tristan melangkah ke pintu setelah ketukan ketiga. Begitu daun pintu terkuak, sosok James langsung menubruknya hingga terhuyung-huyung. Tanpa bicara, James menciumi Tristan laksana lapar, dan Tristan menerimanya. Ia menjalin lengannya di belakang pinggang James yang menggantung padanya dengan cara membelitkan tungkai ke pinggulnya sambil membalas ciuman lelaki muda itu sama laparnya. Tristan mendorong daun pintu untuk menutup dengan menggunakan kakinya, lalu ia menyandarkan punggung James ke pintu sambil terus berciuman.

James menarik wajahnya dari Tristan, mereka saling berpandangan sesaat sebelum James mencerai-beraikan kancing kemeja Tristan ke lantai lalu kembali menciumi pria yang masih menggendongnya itu tanpa berkata sepatah katapun.

Tristan menjadi buas. Sangat sadar kalau dirinya juga begitu menginginkan James―hingga lupa bahwa selama di atas kapal ia berusaha untuk tidak membuat kontak dengan lelaki muda itu, Tristan menyambut apa yang James lakukan padanya dan memberi apa yang James mau darinya. Ia menurunkan James untuk dapat membuka kancing celana lelaki itu dan menariknya lepas sebelum kemudian membuka resleting celananya sendiri.

Tangan James mengambil alih pekerjaan Tristan. Ia membebaskan kelelakian Tristan dari kungkungan pakaian bawahnya dengan melepaskan kait celana pria itu dan menariknya keluar. Tangan James masih di sana ketika mereka kembali berciuman hingga Tristan mengangkat lelaki itu untuk kembali berganyut di depannya. James mencengkeram bahu Tristan kuat-kuat dengan sebelah tangan sedang tangan yang lain menjambak di bagian belakang kepala bajak laut itu.

Tristan tidak menunggu lama untuk memasuki James.

Daun pintu―tempat Tristan menyandarkan James dan dirinya secara tak langsung―berderak ketika ia menabrakkan dirinya pada James secara beruntun dan penuh minat. Tristan menabrakkan dirinya beberapa kali dengan begitu kuatnya seakan ingin meremukkan James. Dan ia masih terus melakukan itu sampai James menengadah dan melengkung indah di depannya.

Tristan menyembunyikan wajahnya ke dada James dan nyaris melukai kulit James dengan gigitannya ketika dirinya meledak di dalam diri lelaki itu.

Mereka tertahan di pintu, bergeming untuk beberapa menit hingga getaran di masing-masing mereka mereda.

“Jangan lupakan aku ketika aku meninggalkan kapal ini esok…” James berbisik parau karena tangis menggumpal di pangkal tenggorokannya setelah percintaan mereka yang singkat dan cepat.

“Hemm…” masih membenamkan mukanya di dada James, Tristan hanya mampu menggumam, ia tak berani membuka mulutnya untuk berkata-kata karena khawatir tangisnya akan menyembur jika ia melakukan itu.

“Berjanjilah padaku, Tristan… berjanjilah kau tak akan melupakanku…,” buru James.

Tristan memalingkan wajah, sekarang pipinya yang menempeli dada James. Ia mendesah untuk membuang sesak di dadanya, “Aku berjanji…”

“Kau bajak laut sejati, kau harus memagang janjimu!”

Dan Tristan mulai menangis, bahunya berguncang. Untuk pertama kalinya sejak ia menjadi bajak laut, ia menangis.

James turun perlahan dan berpijak di lantai. Lengannya merangkul kepala Tristan. James juga ingin menangis untuk Tristan, tapi tak ada isak yang keluar dari mulutnya meski matanya sudah menggenang. Ia membayangkan kesepian seperti apa yang akan dialami bajak laut ini di pulau, di rumahnya yang sempat mereka huni bersama. James merasa sakit membayangkan Tristan akan menatap kosong pada lautan setiap sore, tak akan ada lagi dirinya di sisi pria itu untuk sekedar menemaninya menghabiskan sore di pulau.

Bulir air jatuh bergulir di wajah James untuk kemudian menitik di bahu Tristan yang masih membungkuk memeluknya.

“Aku juga berjanji tidak akan melupakanmu. Meski aku bukan bajak laut, tapi kau bisa memegang janjiku…”

Tristan kian mengeratkan pelukannya saat mendengar kalimat James.

*

Para Isabel terisak, sementara lima orang Joseph mengerjap-ngerjapkan mata.

“Kasihan mereka…”

Oldman menghela napas dan lagi-lagi menerawang langit yang sudah teduh, sore baru saja menjelma di pemukiman kumuh itu. “Black Sail melempar jangkar keesokan sorenya, dan perahu-perahu mulai diturunkan. Mereka menghindari dermaga, bagaimanapun baiknya kawanan bajak laut Tristan Kovack… mereka akan selalu dianggap musuh oleh orang-orang di daratan yang bersikap seolah Tuhan mahabenar…”

*

Raffael menyalami Rosalie yang pernah dipanggil bibi ketika di pulau, ia lalu memeluk Tristan, lalu Frankenstein. Ketika berlutut untuk berpamitan pada Isabel dan Joseph yang sudah seperti adik baginya, Raffael menangis sesengukan dan membuat bocah yang baru belajar bicara itu ikut menangis sambil sama-sama mencengkeram lengan Raffael kiri kanan.

“Isabella, rawat saudaramu, ya…” Raffael mengusap kepala gadis kecil di kirinya lalu memandang kembarannya di sebelah kanan, “dan kau, Joseph… jaga saudarimu ini sampai maut membebaskanmu dari tanggung jawab itu…”

Entah mengerti atau tidak, bocah kembar itu sama mengangguk di sela-sela isakan mereka.

“Aku sayang kalian… waktu yang kuhabiskan ketika bersama kalian di pulau adalah bagian terbaik dari hidupku. Mungkin kalian akan melupakan aku, Isabel… Joseph… tapi aku tak akan lupa terhadap kalian, selama aku hidup, aku akan terus ingat kalian, ini janjiku…”

Frankenstein tak bisa menahan tangisnya melihat ketiga anak itu saling berpamitan.

Raffael menciumi kedua bocah itu bergantian sebelum naik ke perahu dimana James dan Nicholas sudah menunggu. Sebuah peti kecil berisi koin yang diperuntukkan baginya juga sudah menunggu di dalam perahu. Mantan anak buah Nicholas sudah berada dalam beberapa perahu yang tersebar di sekitar perahu yang memuat James dan Nicholas.

Sebelum Raffael naik ke perahu, Tristan merogoh kantongnya dan menggenggamkan sebuah medali ke tangan Raffael. “Kenang-kenangan dariku, Rafe… kau bocah pemberani yang pernah kutemui. Simpan itu, tidak akan laku dijual memang, tapi kuharap itu bisa membantumu mengingat kami, aku dan Paman Frank serta Bibi Rosaliemu, juga mungkin untuk mengingatkan janjimu pada Isabel dan Joseph, di saat kamu hampir lupa kelak…” Tristan berkaca-kaca.

Raffael memerhatikan medali dimana gambar tengkorak dan tulang bersilang tercetak di permukaannya. Ia mendongak pada Tristan lalu mengangguk.

Frankenstein mengangkat Raffael ke perahu. “Sampaikan salam dan permintaan maafku pada ibu dan saudari-saudarimu, Rafe… andai aku bisa menyampaikannya sendiri, tentu akan kulakukan…”

“Pasti, Paman Frank… aku akan menyampaikannya.”

Nicholas mengangkat tangan untuk memberi hormat sekaligus salam pada Tristan, mungkin juga mewakili ucapan terima kasih. Nicholas menunggu James atau Tristan untuk berbicara di antara mereka, namun keduanya saling membisukan diri, hanya berbicara lewat mata. Nicholas lalu mulai mendayung ketika yakin kalau James dan Tristan tidak akan mengucap salam perpisahan satu sama lain.

James tidak melepas kontak pandangannya pada Tristan sejak pria itu selesai bicara dengan Raffael. Mereka memang tidak saling memberi benda sebagai kenang-kenangan atau sebagai pengingat, karena sudah sangat banyak kenangan yang mereka torehkan satu sama lain dengan begitu dalamnya hingga mustahil hilang. Dan sebagai pengingat, mereka sudah punya janji mereka untuk tidak akan melupakan, janji sakral bajak laut milik Tristan dan janji sekeramat janji bajak laut milik James.

Tristan belum beranjak meninggalkan pintu kecil itu. Dulu, lewat pintu kecil itu pula James memasuki kapalnya. Pria itu masih memerhatikan perahu James yang kian menjauh menuju pantai. Frankenstein juga masih di sana, ia masih ingin melihat Raffael sampai anak itu hilang dari pandangannya.

Tristan membuang napas panjang. Semakin jauh perahu James menuju pantai, semakin besar kehampaan yang merongrong dadanya. Inilah saat-saat terakhir matanya bisa melihat sosok James, lelaki yang telah membawa pergi seluruh hatinya. Hanya Tuhan yang tahu kapan takdir akan mempertemukan dirinya dan James kembali. Lelaki muda yang dicintainya tidak akan berada di sisinya lagi sejak hari ini. Waktu yang dilaluinya bersama James terasa begitu singkat.

Pandangan Tristan mengabut.

Di atas perahu, apa yang terjadi pada Tristan juga terjadi pada James. Ia masih duduk menghadap jurusan Black Sail berada, masih berusaha melihat Tristan lebih lama lagi. Badan James bergoyang sejalan dengan gerakan perahu di atas permukaan laut yang bergelombang. Begitu juga dengan Raffael, anak itu berdiri di belakang James sambil terus melihat orang-orang di pintu Black Sail.

James yakin Tristan juga merasakan perasaan kosong seperti yang kini ia rasakan. Semakin jauh perahunya meninggalkan Black Sail menuju pantai, semakin besar rongga yang muncul di dadanya. Di Black Sail, hati James tertinggal, Tristan sudah mengambilnya sejak lama.

Bagaimana orang bisa menjalani hidup tanpa memiliki secuil pun bagian dari hatinya untuk membuat kehidupannya benar-benar hidup? Tidak, orang tidak akan bisa hidup dengan cara seperti itu…

James tersentak. Matanya mengerjap satu kali. Inilah detik-detik paling menentukan dalam hidupnya sebagai manusia yang bebas menentukan nasibnya sendiri.

James berbalik menghadap pada Raffael dan Nicholas yang terus mendayung. Ekor matanya juga melihat beberapa perahu yang ditumpangi mantan anak buah Nicholas sudah mencapai pantai.

“Rafe, aku menyayangimu… kau yang berada di kapalku adalah salah satu takdir paling baik dalam kehidupanku.”

Raffael menatap James dalam kebingungan. Lebih bingung lagi ketika James bergerak memeluknya.

“Maafkan aku tak bisa memberikan apapun padamu, Rafe… tapi Nicholas akan membayar upahmu begitu ia bertemu ayahku, ia juga akan memastikan kalau kau akan mendapatkan bonus untuk kesetiaanmu melindungiku selama di atas kapal…” James memandang Nicholas, “Janjilah padaku, Nick, bahwa kau akan melakukannya!”

“Jim!” Nicholas yang paham apa yang hendak diperbuat James berseru tercekat.

“Tn. Claybourne…” Raffael yang juga sudah dapat membaca keadaan berseru nyaring, tapi sejurus kemudian ia malah tersenyum. “Pergi… pergilah Tn. Claybourne… hidup anda bukan di balik pantai ini, tapi di sana…!” Raffael menunjuk Black Sail.

“Jim, kau harus tahu, keputusanmu ini menentukan takdir hidupmu ke depan…” Nicholas berusaha memperingatkan.

James tersenyum, “Iya, Nick… aku tahu.” Wajah James berubah cerah. “sampaikan salamku pada ayah dan ibuku, Nick… katakan aku sangat mencintai mereka. Katakan juga pada ibuku, bahwa ia tak perlu mengkhawatirkanku, aku akan bahagia selama sisa hidupku dan katakan kalau aku juga ingin ia berbahagia untukku…”

Nicholas tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia menghembuskan napas berat dari hidungnya lalu mengangguk. “Aku berjanji akan menyampaikan pesanmu.”

James menatap bergantian antara Raffael dan mantan kapten kapalnya itu, “Kuharap kita bertemu lagi suatu hari nanti…” ucap James lalu bangkit berdiri.

Di atas kapalnya, Tristan sudah membalikkan badan dan bersiap masuk ke Black Sail ketika seruan Frankenstein yang masih berdiri di pintu mengagetkannya.

“TRISTAN, LIHAT…!!!” Frankenstein menunjuk ke pantai.

Tristan berbalik bertepatan dengan James yang melompat ke air. Ia memang melihatnya samar-samar, tapi sangat yakin kalau yang melompat itu adalah James. Untuk sesaat, mulut Tristan menganga lebar melihat pemandangan itu. Ia sungguh tak percaya kalau James membuat keputusan untuk bersamanya.

Lepas dari keterkejutannya, sedetik kemudian, Tristan tersenyum cerah, matanya berbinar seakan hidup kembali. Dadanya berdentuman disaput bahagia yang tidak terkira.

“Aku akan menyiapkan perahu!” kata Frankenstein dan bersiap menurunkan perahu untuk Tristan. Tapi sebelum perahu di turunkan, pimpinannya itu sudah melompat ke air dan berenang tangkas menuju James. Frankenstein tersenyum sendiri melihat pemandangan langka di depan matanya itu. “Ah… cinta memang aneh…”

Ombak membuat James kelelahan, namun ketika melihat Tristan berenang ke arahnya, ia memperoleh kembali kekuatannya dan meneruskan mengayuh dengan tangannya.

Mereka bertemu.

James terengah-engah sambil menggapai tangan Tristan yang langsung menariknya begitu jemari mereka bertaut.

“I love you… I love you… Tristan, I love you…” James meracau dan merangkulkan sebelah lengannya ke leher Tristan.

“Kau bodoh, mengapa kembali ke sini!” seru Tristan sambil berusaha bernapas normal.

“I love you…” James menanggapi dengan mengulang racauannya. “I love you…” Air laut menerobos masuk ke mulut James dan ia kesusahan saat menelannya. James tersedak lalu kembali meracaukan kalimat yang sama sambil menatap Tristan dengan tatapan mendamba, “I love you…”

Lalu Tristan tertawa, menyadari kalau dirinya belum membalas kata cinta yang terucap bukan hanya satu kali dari bibir James. “Aku juga mencintaimu, Jim…”

“Berjanjilah kau akan selalu mencintaiku…” James masih terengah-engah, ia kembali meminum air laut yang lagi-lagi masuk ke mulutnya. “berjanjilah dengan janji bajak lautmu…”

Tristan tersenyum, tidak menanggapi permintaan James, ia membingkai wajah lelaki itu dan mencium bibirnya bertubi-tubi. Baru setelah itu, Tristan mengikrarkan janjinya. “Aku berjanji, akan mencintaimu sampai mati, Jim.”

James berbinar. Ia menunjuk Black Sail, “Bawa aku pulang… bawa aku kembali ke rumah kita…”

Tristan tertawa lepas. Rumah kita. Itu adalah dua kata dari James yang tidak akan pernah ia lupakan. James menganggap gubuk jeleknya di pulau sebagai rumah mereka. Rasanya ini hari terbaik dalam hidup Tristan, meski ia yakin, bersama James, mulai saat ini hari-harinya akan selalu baik.

Sang bajak laut mengecup kening James penuh haru, lalu mengajak kekasihnya itu berenang bersama menuju kapal.

*

“Ucapan ibu James di dermaga hari itu benar-benar seperti apa yang persisnya terjadi, bahwa ia tidak akan bertatapan dengan putranya lagi jika sang putra berpapasan dengan kapal Tristan Kovack. Mungkin naluri seorang ibu sudah demikian tajamnya sejak awal terhadap sang putra, sehingga langsung tahu jika kemungkinan putranya bertemu dengan Tristan Kovack benar-benar terjadi, maka putranya akan lebih memilih untuk hidup bersama sang bajak laut dan menjadikan pilihannya itu sebagai takdirnya. Mungkin, naluri seorang ibu dalam diri ibu James sudah merasakan sejak awal, bahwa putranya ditakdirkan untuk menjadi cinta sejati seorang bajak laut sejati…”

Mereka berdelapan terhenyak lama, mata sama menatap penuh takjub pada Oldman yang baru saja mengakhiri ceritanya. Ketakjuban itu masih bertahan sampai Oldman merogoh sisa roti yang ia selipkan di balik jubahnya. Dengan tenang, ia mulai mengunyah roti itu di dalam mulutnya.

“Oldman, itu cerita paling hebat yang pernah kau ceritakan…”

“Juga paling indah…”

Oldman terkekeh lalu batuk-batuk.

“Tapi aku penasaran dengan nasib Raffael. Adakah cerita lain tentangnya?” tanya Isabel terdekat dari Oldman.

Lelaki tua itu kembali merenung langit, “Mungkin lain kali, Isabella, lain kali…”

Isabel tampak kecewa.

“Sudah sore, pulanglah dan biarkan tubuh renta ini beristirahat…” Oldman mengibas-ngibaskan lengannya seakan mengusir muda-mudi itu.

“Tapi besok kau akan menceritakan tentang Rafe, kan?” Isabel berusaha membuat Oldman berjanji.

“Kita akan lihat, Isabella… kita akan lihat…” Oldman lalu memandang Joseph yang memberinya roti. “Ah, Joseph… ajak saudarimu pulang.”

Joseph berdiri, “Ayo, Oldman akan bercerita lagi esok. Sekarang kita harus memberikannya waktu untuk mengingat-ingat tentang cerita yang akan ia kisahkan esok untuk kita.”

Dan semua muda-mudi itu berdiri lalu berjalan bergerombol meninggalkan pojokan tempat Oldman hidup sendirian.

Oldman menatap punggung muda-mudi itu sampai menghilang di balik dinding bangunan tua lainnya. Ia lalu mengeluarkan kedua kakinya dari selimutan jubah dan meluruskannya di atas terpal kusam yang menjadi alas duduknya. Ia bersandar ke dinding. Tangannya meraba-raba ke saku jas penuh tambalan yang dikenakannya di bawah jubah, sesaat kemudian ia mengeluarkan sebentuk medali dari sana, meski samar, namun lambang tengkorak yang di apit tulang bersilang di sebelah bawah masih bisa terlihat.

“Ah, Isabel… Joseph…” ucapnya lirih sembari mengusap permukan benda yang ada di tangannya dengan gemetar.

Seekor ngengat terbang berputar-putar di atas kepala Oldman, membuatnya mendongak dari medali di tangan kanannya dan mengikuti gerak terbang ngengat itu. Oldman tersenyum sendiri saat seperti mempermainkannya ngengat itu terbang berputar-putar di atas hidungnya. Lalu seekor ngengat lain muncul dan ikut berputar-putar di atas kepalanya. Senyum Oldman makin lebar.

“Ah, Isabel, Joseph… aku juga rindu pada kalian…”

Salah seekor ngengat meninggalkan wajah Oldman dan hinggap di ujung kaki kirinya setelah menukik di udara beberapa kali. Binatang itu bergerak menuju pergelangan kaki Oldman, dimana sebentuk parut bundar masih terlihat jelas di kulit keriput di sana.

 

 

 

 

Hujung Oktober 2014

di surga sederhana Nayaka

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com