Perfect%20Two

 

 

 

 

 

 

an AL GIBRAN NAYAKA note

###################################################

“Mama bilang, pelangi adalah setengah lingkaran, dan dua pelangi membuat satu lingkaran penuh… suatu hari, jika ada dua pelangi di langit, maka aku akan bertemu kembali dengan ayahku…”

Itu adalah monolog Binbin (Xiao Xiao Bin) di awal film, dideskripsikan dalam bentuk animasi 3d dimana seorang bocah berjalan sendirian melewati empat musim hingga akhirnya melihat dua pelangi setengah lingkaran melengkung cantik di langit.

Sampai di sini, kupikir, ini film animasi. Ternyata bukan.

New Perfect Two kujarah dari temanku di tempat kerja, temenku merampoknya dari sepupunya yang masih kuliah di ibukota propinsi saat sepupunya itu balik kampung, jika tak salah ingat itu nyaris setahun yang lalu. Dan selama ini New Perfect Two bertumpuk bersama begitu banyak judul film yang belum kutonton di harddisk-ku. Waktu itu aku asal ambil saja, tidak milih-milih. Ada sekitar tujuh judul yang kucopy saat itu, salah satunya film ini. Dan sepertinya ini yang paling telat kutonton.

Menit-menit awal film, kukira ini film Korea. Maklum saja, aku tidak begitu baik dalam membedakan bahasa Korea, Jepang dan Mandarin. Terlebih lagi, kemasan film ini sangat Korea sekali menurutku, setidaknya itu yang kurasakan di awal film. Namun ternyata aku kecele, ini bukan film Korea, tapi Taiwan. Seingatku, aku belum pernah menonton film Taiwan dengan genre seperti ini. Biasanya, kalau tidak bergenre action fantasy, pasti adventure, history, horror atau sci-fi, tak pernah yang genre drama keluarga seperti New Perfect Two ini.

Setelah ilustrasi animasi di atas, lalu New Perfect Two dibuka dengan scene seorang pria menempelkan selebaran bergambar wajah seorang wanita. Pria itu adalah Hunbin Chen a.k.a Abee (diperankan Vic ‘Zai Zai’ Zhou). Menurutku, tak ada aktor lain yang bisa memerankan tokoh Abee sebagus Vic ’Zai Zai’ Zhou memerankannya. Nanti kita akan bahas mengapa aku bisa seyakin itu.

Namun sebelumnya, mari kita lihat dulu riwayat aktor utamanya. Vic ’Zai Zai’ Zhou. Ada yang kenal nama tengah di dalam tanda petik? Pasti ada. Aku sendiri sama sekali tidak ngeh saat melihat nama cast di awal film―dan masih belum ngeh sampai film berakhir―kalau yang memerankan Abee ternyata adalah salah satu personel F4 yang sempat mendunia pada 2001 (kalau tak salah ingat sih), soalnya aku bukan fanatik F4 dan tidak menonton satu episode pun seri drama Meteor Garden. Tapi aku tau personel F4 saat itu karena hampir semua cewek di kelasku selalu menggosipkan mereka, bertukar vcd dan berlomba-lomba mengoleksi Meteor Gardens stuff, mulai dari pin sampai kipas plastik berprint wajah mereka. Selain dari keributan di dalam kelas, aku kenal dan tahu kalau F4 itu benar-benar wujud lewat poster-poster mereka yang bertebaran di semua kedai ATK dekat sekolahku. Saat itu aku bahkan hapal semua nama mereka karena sangat mudah ditemukan dan terbaca dimana-mana, bahkan Barbie Hsu juga. Bayangkan betapa mendunianya F4 bersama Meteor Gardennya saat itu sampai-sampai ke tanahku yang terpencil saja mereka dikenal.

Tapi seiring waktu, popularitas mereka memudar. Aku lupa seperti apa sosok mereka, padahal aku sempat suka Vic Zhou, di antara mereka berempat, menurutku Vic yang paling cakep dan cool. Tapi di film ini, aku sama sekali tak mengenalinya. Tentu karena Vic sudah dewasa, sudah bapak-bapak, bukan remaja belasan tahun lagi, wajahnya gak boyish lagi seperti saat dia masih bersama F4. Dia juga terlihat agak kurusan, mukanya sedikit tirus namun tetap enak dipandang lama-lama. Aku tak mendapatkan informasi apakah badan kurusnya dibentuk sengaja karena tuntutan peran (kebanyakan pembalap motor berbadan skiny) atau karena dia memang sudah lebih kurusan dari saat main Metor Garden.

Jadi, kapan aku tahu kalau itu adalah Vic Zhou personel F4? Begitu film ini tamat, aku iseng buka Youtube berniat mendownload video soundtrack dalam film ini. Sumpah, videonya bagus, Binbin dan Abee, ayah dan anak melewati hari berdua bagai teman, hanya gambar tanpa dialog diiringi backsong yang lembut dan easy listening. Aku tertarik mempunyai video soundtrack itu, poor me, setelah ngubek-ngubek youtube dan ganti keyword berkali-kali, aku tidak mendapatkannya. Namun usahaku tidak sia-sia, berkat searching youtube itu aku jadi tau kalau Vic Zhou di New Perfect Two adalah Vic Zhou yang sama di Meteor Garden.

Oke, yang pernah jadi fanatik F4, aku rasa kalian patut melihat film ini, mungkin bisa sambil bernostalgia mengenang masa remaja.

Aku sempat mengira dan yakin kalau film ini murni komedi. Kenapa? Karena di awal film, New Perfect Two menampilkan hal-hal konyol yang mengundang tawa. Salah satunya kebegoan Abee sendiri. Dia menempelkan selebaran hasil bikinannya di merata tempat, dimana-mana. Di rumah orang hingga semua dinding luarnya penuh bertempelan kertas, di tiang listrik tanpa menyisakan sejengkal pun ruas kosong hingga ke puncaknya, bahkan di kepala orang yang kebetulan lewat dia berani mengoleskan lem dan menempelkan selebarannya. Kelak ketika selebaran ini dilihat Binbin, bocah enam tahun itu dengan jujur mengatakan kalau gambar Abee sangatlah buruk. Dan aku setuju dengan Binbin.

Bukan satu scene itu saja yang membuatku mengira kalau ini film komedi. Adegan selanjutnya juga tak pelak membuat terpingkal. Seorang wanita dengan gigi maju semaju-majunya dinasehati ayahnya yang juga bergigi setipe setelah ia terpesona pada Abee. Bukan kekompakan gigi ayah anak itu yang bikin ketawa, tapi nasehat konyol sang ayah pada anak gadisnya yang kurang beruntung itu.

“Kamu boleh punya anak, tapi jangan pernah jatuh cinta pada seorang pria,” kata si ayah.

“Kenapa aku tidak boleh jatuh cinta pada seorang pria?”

“Terakhir kali kamu jatuh cinta pada seorang pria, kamu menciumnya. Dan dia harus mendapat delapan jahitan untuk itu!” ya ampun, itu gigi apa mesin kukur kelapa ya? Ayahnya semena-mena. Untung anak gadisnya gak balas jawab : Pantas mulut Ibu juga ada bekas jahitannya, pasti karena dicium ayah.

Back to story…

Abee adalah mantan pembalap motor yang hidupnya menjadi berantakan sejak kecelakaan yang dialaminya di sirkuit. Kecelakaan itu sendiri dilakukan Abee dengan sengaja agar paman yang telah membesarkannya dapat memenangi taruhan buat bayar hutang. Abee menjadi lebih frustrasi lagi ketika gadis yang amat dicintainya, Jiawei (Mini Yang) memilih pergi darinya. Jiawei pergi bukan dengan tanpa alasan. Awalnya, aku benci peran Jiawei karena tega meninggalkan laki-laki yang mencintainya dengan begitu gilanya. Ingat selebaran yang kukatakan tadi? Itu adalah wajah Jiawei, dan Abee menyebarkan selebaran itu sambil setengah mati mengharapkan Jiawei kembali, meneriakkan nama Jiawei seperti orang gila, selama lebih enam tahun. Bayangkan saja. Namun seiring film, aku memaklumi tindakan Jiawei. Dia pergi demi menyelamatkan hidupnya. Abee menjadi sosok yang berbeda setelah pensiun dari dunia balap. Ia terlalu memikirkan dirinya dan mengabaikan Jiawei, Abee mabuk-mabukan dan gemar berjudi. Hidupnya sudah tak beraturan lagi sejak saat itu. Namun yang tidak diketahui Abee, Jiawei sedang mengandung buah cinta mereka saat memilih pergi.

Dalam masa-masa sulit setelah karier balapnya kandas dan ditinggalkan kekasihnya itu, beruntung Abee punya Maniu (Ella), sahabat yang tinggal di dekat rumah pantainya. Bicara tentang Ella, aku suka perannya sebagai Maniu di sini, sangat. Selama masa-masa sulit Abee, Maniu lah yang menjadi dewi penolong Abee. Gadis ini yang membersihkan rumah pantai Abee, mencuci pakaiannya bahkan Abee pun makan di kafe sederhana Maniu di pinggir pantai.

Kita bisa langsung melihat bagaimana baiknya Maniu pada menit-menit awal film. Dengan bersepeda, Maniu datang ke rumah Abee sementara laki-laki itu masih menggeletak di tempat tidurnya yang berantakan dengan kondisi setengah mabuk. Maniu akan mengutip baju-baju kotor Abee yang tersebar di seluruh penjuru rumah―sambil merepet jengkel ala sahabat sejati yang tulus, memasukkannya dalam bundelan untuk dibawa pulang dan dicuci. Saat itu, masih dengan kondisi pusing baru bangun dengan bau alkohol, Abee dengan sombongnya menanggapi repetan Maniu kalau itu bukan rumah Maniu dan dia tidak boleh menerobos masuk seenaknya begitu saja.

Dan jawaban Maniu sungguh menggelikan.

“Heh, kau kira aku suka datang ke sini? Dua hari saja aku tak kemari, tempat ini sudah bagaikan kandang babi.”

Aku sukses terkekek, kandang babi? Yang benar saja. Tapi mungkin Maniu ada benarnya, sekilas, gubug Abee memang tampak bagai kandang meski view pantainya sangat memesona. Aku pribadi tak akan menolak jika disuruh tinggal di gubuk semacam itu.

Maniu adalah gadis tomboy, dia tak pernah memakai rok. Adiknya, Sasa, adalah sosok lain yang membuat film ini terasa menggelitik di beberapa part. Buktikan itu saat kalian berkesempatan menonton film ini. Sasa seumuran Binbin, kelak mereka akan jadi teman baik.

Suatu ketika Jiawei datang dengan tak terduga, untuk menitipkan Binbin pada Abee selama sebulan dengan alasan tak ada yang menjaga bocah itu sementara ia pergi bekerja. Bay the way, sampai di sini aku belum tahu kalau Jiawei bekerja sebagai seorang pramugari. Jiawei menceritakan semuanya pada Abee, tentang kehamilannya, tentang Binbin, bahwa ia belum memberitahu bocah itu kalau Abee ayahnya.

Abee berlari ke stasiun, tempat Jiawei menyuruh Binbin menunggu. Mendapatkan Binbin yang sedang duduk menunggu sambil memakan ayam goreng dengan begitu lahapnya, Abee tertegun sebelum perlahan-lahan mendekati Binbin.

“Apakah kamu tahu siapa aku?”

“Abee, kan?”

“Bagaimana kamu tahu itu?”

“Mama bilang, seorang paman yang amat tampan akan datang menjemputku, namanya Abee…”

Ya ampun, aku ingin meremas pipi tembem Binbin dan meluk Abee melihat part ini. Bayangkan saja, seorang pria bertemu putra yang selama ini tidak pernah diketahuinya ada dan sang putra dengan begitu menggemaskannya bercerita seolah-olah pria dewasa di depannya adalah teman sepermainan. Selanjutnya, aku tersenyum bahagia melihat mereka berdua yang berboncengan di atas motor tua Abee pulang ke rumah. Binbin memeluk ayahnya sepanjang jalan pulang. Pemandangan itu membuatku bahagia. Sungguh.

Kuberitahu apa yang kemudian membuatku semakin yakin kalau tak ada aktor lain yang bisa memerankan Abee sebaik Vic Zhou memerankannya. Itu adalah saat Binbin tidur bersamanya untuk pertama kalinya. Bocah itu punya kebiasaan unik saat tidur, memegang daun telinga teman tidurnya.

“Bolehkah kupegang telingamu?”

Kita akan melihat bagaimana begitu pasnya akting Vic Zhou ketika Binbin tidur dengan tangan di kuping Abee. Abee yang belum tertidur berbaring kaku bagaikan robot. Sampai di sini, kukira hubungan mereka akan baik-baik saja.

Tapi ternyata tidak.

Abee mengosongkan celengan Binbin. Oh gosh, judi memang merusak pikiran. Benar kata Bang Haji Rhoma. Aku geregetan dengan Abee di part ini, sialan benar tu bapak, celengan anaknya yang tak seberapa pun ditilep. Tapi paginya Abee pulang dengan sepeda baru terikat di sadel motor, sepeda buat Binbin. Dia menang judi malam itu. Oke fine, kupikir, satu masalah terselesaikan. Binbin menyukai sepedanya.

Lalu insiden Siau San terjadi. Siau San mati dibunuh Abee.

HAH?!?

Tidak tidak tidak, Siau San bukan manusia. Dia adalah Tikus yang menghuni rumah Abee, dan Abee benci tikus. Tapi anehnya, Binbin berteman akrab dengan Siau San, bocah itu akan memberi Siau San remah-remah roti tanpa sepengetahuan Abee, sambil bercakap-cakap dengan pengerat itu selayaknya teman hidup.

Suatu pagi, Abee melihat Siau San berkeliaran di lantainya dan dengan beringas mengakhiri masa hidup Siau San dengan gagang sapu. Binbin murka, dia meraung-raung kalau Abee jahat, kalau Abee sudah membunuh Siau San, kalau dia sangat membenci Abee.

Ada yang menggelikan di part ini. Ketika Abee tak peduli dan pergi tidur, masih dengan sisa-sisa tangisnya, Binbin terlihat membersihkan kloset duduk di rumah Abee dengan menggunakan sikat gigi. Di sini aku belum mengerti maksud dari tindakan bocah itu. dan kejadian membersihkan kloset dengan sikat gigi ini terjadi hingga dua kali, dan dua-duanya di saat Abee membuat Binbin marah besar hingga membenci pria itu. Belakangan aku baru tahu kalau sikat gigi yang dipakai Binbin untuk membersihkan kloset tersebut adalah sikat gigi milik Abee. Wkwkwkwkwkwk… goblok bener nih film.

Aku punya pandangan sendiri tentang ‘mengapa Binbin mau membersihkan kloset tetapi pakai sikat gigi Abee.’ Menurutku, bocah itu tidak hanya menumpahkan kekesalan pada Abee, tapi juga sekaligus menghukum dirinya sendiri karena telah membenci Abee. Logikanya, kalau Binbin ingin mengerjai Abee, dia tak perlu membersihkan toilet sebegitu yakinnya, cukup sampai sikat gigi Abee bau saja, tapi bocah itu bener-benar serius membuat toilet bersih. So, itu menurutku sih.

Suatu ketika, Abee bertanya pada Binbin, ‘Kalau aku jadi ayahmu, bagaimana?’ dan dengan lugunya Binbin menjawab, ‘Tapi kamu bukan ayah kandungku, lihat saja, tak ada pelangi di langit.’ Abee langsung mati kutu.

Banyak sisi manis dalam film ini, meski beberapa orang yang sempat menulis reviewnya tegas mengatakan kalau film ini dangkal dan ketebak arah alurnya, klise, mainstream, akting pemainnya tidak bisa dibilang istimewa, sutradaranya main aman dan blah blah blah poin minus lainnya. Sah-sah saja menurutku, orang bebas berpendapat.

Prinsip menulis review film bagiku masih sama, adalah menulis apa yang aku rasakan ketika menonton film tersebut, aku tidak pandai menilai akting pemainnya, tidak pandai menelaah mutu cerita. Tapi tentang ke-klise-an, well, New Perfect Two memang klise. Namun bukan berarti film ini serta merta jelek. Sesuatu yang klise, mainstream, jika dikemas dengan manis, ya hasilnya juga akan manis. Dan aku berani berkata kalau film ini memang manis sekaligus menyentuh hatiku.

Salah satu adegan menyentuh adalah saat Binbin harus dibawa Jiawei yang akan berimigrasi ke Amerika bersama suami barunya. Binbin menolak pergi karena setelah menghabiskan sebulan bersama Abee dia sudah kadung menyayangi Abee, lebih tak mau pergi lagi ketika ia tahu kalau Abee ayahnya. Ternyata Alasan sebenarnya Jiawei meninggalkan Binbin pada Abee bukan kerena tak ada yang merawat, tapi Jiawei ingin Binbin bisa menghabiskan sedikit masa bersama ayahnya sebelum dibawa jauh. See, sebenarnya Jiawei adalah wanita baik. Untuk membuat Binbin agar mau ikut ke Amerika, Jiawei meminta tolong Abee untuk meyakinkannya.

Aku nyaris mewek ketika Abee dengan terpaksa mengasari Binbin agar bocah itu yakin untuk ikut ibunya. Tapi Binbin dengan kepolosan seorang bocah keukeuh ingin tinggal.

“Bolehkah aku menghubungimu ketika sampai di Amerika?”

“Tidak, kamu tidak boleh.”

“Lalu, apakah kamu akan datang mengunjungiku?”

“Tidak, aku tidak akan datang.”

“Tapi aku akan sangat merindukanmu, aku ingin naik sepeda motor denganmu, memegang kupingmu…” Di sini Binbin mulai mewek, tapi Abee dengan terpaksa harus membentak bocah itu.

Menyentuh adalah saat Binbin memberikan gambar wajahnya sendiri pada Abee sambil bilang : Ini gambar wajahku, aku ingin memberikannya padamu. Aku tau kamu tidak akan merindukanku sekarang. Tapi jika suatu hari nanti kamu merindukanku, kamu dapat melihatnya.

Kalian tahu apa yang dijawab Abee? Dengan menahan diri agar tidak menangis, Abee menjawab kalau dia tak ingin melihat wajah Binbin, tidak ingin melihat bocah itu lagi.

Puncaknya Binbin meraung-raung keras sambil berlari memeluk kaki Abee. Sumpah, nyesek bener aku di part ini. Apalagi mendengar raungan Binbin.

“Aku sangat suka padamu… aku tidak ingin meninggalkanmu…”

Namun Abee dengan kasar mendorong Binbin hingga nyaris terjungkal sambil membentaknya menyuruh pergi.

Poor Binbin…

Lebih kasihan lagi Abee, dia menangis setelah Binbin dibawa Jiawei. Hari-harinya kembali sepi, dan suram. Tapi ada perubahan, dia mulai merapikan rumahnya, namun jangan harapkan dia untuk berhenti mabuk.

Lalu, selebarannya berganti, sekarang menampilkan gambar wajah anak laki-laki. Wajah Binbin. See, lebih kasihan lagi Abee, kan?

Seperti apa akhir kisahnya? Aku yakin kalian bisa menebak, toh kata pereview-pereview sok tahu itu, film ini ketebak alurnya. Mohon maaf jika aku malah menceritakan hampir keseluruhan ceritanya hingga menghilangkan penasaran kalian yang belum nonton, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bercerita.

Bagiku, New Perfect Two sama sekali bukan film jelek. Jika dibandingkan antara nonton ulang film Titanic yang notabenenya adalah kisah sepanjang zaman, sorry… aku sepuluh kali lebih memilih nonton ulang New Perfect Two, berkali-kali lagi.

Akhirnya, review ini selesai.

 

 

 

 

Wassalam

N.A.G