FirstSnow2x2

Oleh : Schandelierre Syailendra

_______________________________________________________________

Salju pertama …

Aku berdiri di bawahnya sekarang. Desember datang begitu cepat, sampai aku tidak sadar kalau aku tengah berada di penghujung tahun.

Kutengadahkan kepalaku ke langit. Butiran salju sebesar kapas putih melayang anggun sebelum menyentuh bumi. Salah satu dari mereka menyentuh hidungku. Dingin. Ia hinggap, bertahan di sana sesaat sebelum akhirnya lumer terpapar suhu tubuhku.

Salju pertama ….

Ini cuaca kesukaanmu bukan?

Aku menarik nafas dan memejamkan mata. Bayanganmu bermain di mataku. Senyummu, binar matamu, tawamu, kerlingmu, cemberutmu, dan yang paling menyedihkan, tangismu.

Apa aku masih bisa menerima maafmu?

*   *   *

Ponselnya bergetar. Ia merogoh kantongnya, mengambil benda yang terus bergetar sedari tadi itu. Melihat nama pemanggilnya, ia langsung menghembuskan nafas.

Tidak, jangan sekarang ….

Ponsel kembali bergetar. Kali ini ia tahu bahwa ia harus mengangkatnya.

“Annyeong ….”

“Junho! Kau di mana?! Aku menelponmu dari tadi tapi tak kau angkat-angkat!”

“Di taman? Kenapa ada di taman? Salju sedang turun, cuaca kan dingin sekali! Pulanglah! Nanti kau sakit! Aku sudah ada di apartemenmu!”

Ia menghembuskan nafas panjang.

“Aku …, tidak ingin pulang sekarang ….”

“Wae?”

“Aku bilang aku tidak ingin pulang sekarang ….”

Diam sesaat sebelum suara di seberang sambungan berbunyi lagi.

“Oke. Baiklah. Tunggu sebentar, aku ke sana sekarang.”

“Sanghyun, kau tidak harus ….”

“Aku akan membawakanmu syal dan jaket. Aku tidak ingin kau kedinginan dan sakit.”

“Sang –“

Tuut, tuut, tuut ….

Sambungannya terputus. Ia menarik nafas panjang, menguarkan asap di udara yang menggigit. Apa yang akan ia katakan selanjutnya akan jauh lebih dingin dari udara ini.

*   *   *

Salju pertama yang aneh. Biasanya cuaca akan mendingin, jatuh dengan cepat ke titik di bawah nol. Namun kali ini udaranya cukup hangat untuk ukuran musim dingin. Atmosfernya tidak membekukan melainkan menyejukkan, seperti salju di penghujung musim dingin.

Lagi, nafasku menguar di udara dingin, namun seperti yang kubilang tadi, aku merasa nyaman. Seoul di musim dingin sangatlah menyiksa bagi sebagian orang, termasuk aku. Aku benci dingin, amat sangat benci dingin. Namun karenamu, aku sekarang amat menyukai salju dan dingin yang dibawanya. Dan cuaca ini begitu indah, begitu sempurna. Dan aku terus-menerus mengingatmu hari ini.

Ingatanku masih setajam pisau. Tepat di sini, di titik ini, di pusat taman ini, aku juga berdiri sambil memandang langit. Bedanya, saat itu salju begitu tebal dan berkali-kali lipat lebih dingin dari hari ini. Putih, di mana-mana putih. Aku berdiri tegak, terpana di bawah salju yang dengan cepat mengubur benda apapun yang diam, melapisi rambutku dengan selimut putih yang dingin. Dadaku sesak, sama seperti hari itu. Aku juga berkali-kali menarik dan menghembuskan nafas seperti sekarang, dadaku nyeri saat aku mengingatmu lagi.

Aku menyakitimu hari itu.

*   *   *

“Junho ….”

Sebuah tangan yang hangat menggenggam tangannya. Ia menoleh, memutar badannya dan melihat wajah bak malaikat yang menatapnya cemas.

“Astaga, tanganmu dingin sekali!”

Dengan cepat pemuda itu melilitkan syal panjang dan tebal berwarna merah darah itu di sekeliling leher Junho. Setelah itu, ia melepaskan sarung tangannya dan meraih tangan Junho, menggosok telapak tangan Junho dengan telapak tangannya sendiri, berharap bahwa panas akan segera muncul. 

“Kau tak apa? Junho, ayo pulang. Dingin sekali di sini ….”

Junho tak bergerak, matanya terpancang pada salju di bawahnya.

“Junho …. Ada apa? Ada yang mengganggu pikiranmu? Ada yang mengganjal hatimu? Ceritakanlah padaku, aku akan berusaha meringankan bebanmu.”

Junho masih mematung.

“Junho ….”

Ia merasa tubuhnya dipeluk, dilingkupi kehangatan baru. Kehangatan yang akan segera hilang darinya.

“Sanghyun …. Aku tak bisa …, melihatmu lagi ….”

Tubuh itu mengejang, kaku seperti papan, sebelum pelan-pelan terpisah darinya. Sanghyun menatapnya dengan mata bulat yang membuatnya sepuluh kali lebih menggemaskan.

“A …, apa katamu?”

Junho menggigit bibirnya.

“Aku tidak bisa melihatmu lagi.”

Ia bisa melihat bahwa Sanghyun sedang bergulat dengan konsep yang tersirat dari kata-katanya sebelumnya. Mulutnya membuka dan menutup, butuh waktu baginya untuk akhirnya bisa mengeluarkan suara.

“Apa maksudmu kau tidak bisa melihatku lagi?”

Junho meremas jemarinya.

“Aku ingin kita berpisah. Aku tidak bisa menjadi kekasihmu lagi.”

Sanghyun terundur beberapa langkah. BIbirnya bergetar, dadanya naik turun dengan cepat.

“Ber, ber, berpisah? Kau, kau …, tak ingin lagi menjadi kekasihku?”

Junho mengangguk. Wajah di depannya mulai dipenuhi airmata.

“Kenapa? Kenapa kau tiba-tiba berkata begitu?”

Ini bagian yang paling menyakitkan yang akan dikatakannya, tapi Junho tidak bisa menahannya lebih lama. Ia harus mengungkapkannya, tak peduli apapun yang akan terjadi. Ia sudah tidak tahan menyimpannya lebih lama. Ia lelah membohongi hati kecilnya sendiri.

“Junho! Jawab aku! Kenapa kau ingin berpisah denganku?!”

Sanghyun marah sekarang, Junho tahu itu. Paling tidak itu akan membuat segalanya lebih mudah kan?

“Aku tidak mencintaimu.”

Satu kalimat itu dan wajah Sanghyun menjadi seputih salju di sekeliling mereka.

“Aku tidak pernah mencintaimu. Hatiku terpaut pada seseorang. Dan orang itu bukan kau.

“Aku mencintai Kwonhae.” 

Dan airmata itu lolos dari mata Sanghyun yang memerah. Ia kembali terundur beberapa langkah sambil menangkupkan tangan di mulutnya.  

“Ka, ka, kau …, mencintai kakakku …?”

“Ya …. Aku mencintainya semenjak pertama kali aku melihatnya. Aku lalu bersahabat denganmu, adiknya,mencoba mendekatinya sambil berusaha membuatnya jatuh hati padaku. Aku ingin membuatnya mencintaiku dan dengan bersahabat denganmu aku tahu apa yang ia sukai, apa yang ia inginkan, dan apa yang ia cari pada cintanya.

“Tapi ternyata usahaku tidak berhasil. Ia jatuh cinta dengan orang lain. Bukan aku. Aku marah, aku kesal, aku menangis dalam hati. Aku ingin menjauh, aku ingin pergi dari sini, jauh, jauh, sampai otakku tidak mengenalnya lagi, sampai kenangannya tidak berputar di benakku lagi.

“Dan saat itu kau muncul di permukaan, kau mengungkapkan cintamu padaku. Kau, adik dari seseorang yang aku cintai yang tidak memilihku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak bisa mengambil keputusan. Aku terdiam, melarikan diri, kaget, ini tidak berjalan seperti apa yang kurencanakan. Aku ingin mengambil hati Kwon Hae, bukan adiknya.

“Kau ingat bukan, saat aku tidak serta merta menerimamu hari itu? Aku berkata aku bingung dan tidak siap. Kau menerima permintaanku, bahwa aku ingin memikirkannya. Kau bersedia menunggu.

“Aku tidak tahu mengapa pada akhirnya aku menerima pernyataan cintamu. Otakku kabur. Aku tidak terlalu berpikir jernih pada saat aku datang menemuimu dan mengatakan aku bersedia menjadi kekasihmu. Kau tampan, tentu saja, dan aku tahu betapa banyak laki-laki di luar sana yang menginginkanmu. Aku sudah sering melihat kerling mereka saat mencuri-curi lihat ke arahmu, tatapan mendamba yang sangat panas. Tapi bukan itu yang kulihat saat itu. Kau terlalu mirip kakakmu, hanya sifatmu yang berbeda darinya. Dalam dirimu, aku bisa melihat dirinya dan aku kira itu cukup untuk memuaskan hatiku. Namun aku salah, amat salah. Semakin lama hatiku semakin sakit, aku tidak kuat menahan perasaanku. Semakin aku melihatmu, semakin teringat aku pada cinta yang tidak kumiliki. Itu merajamku dari dalam.”

Junho berhenti berbicara dan memejamkan mata. Hatinya berdenyut sakit. Ia membuka mata lagi dan apa yang dilihatnya di depan matanya membuatnya semakin merasa hancur dan hina: Sanghyun bersimbah airmata.

“Maafkan aku, Sanghyun. Maafkan aku. Kau boleh membenciku. Pukul aku, tampar aku, sakiti aku untuk apa yang kulakukan padamu.”

Wajah di depannya mendesah, mencoba mengusap airmata yang terus mengalir di pipinya.

“Kenapa …, kau lakukan ini?”

Junho hanya bisa terdiam. Sanghyun mulai terisak, bahunya bergetar.

“Sanghyun ….”

Junho ingin memeluknya, namun ia terpancang di tempatnya berdiri, tidak sanggup maju lebih jauh lagi. Parahnya, mulutnya mengkhianatinya.

“Aku akan pindah ke Busan mulai minggu depan. Aku tidak tahan berada terus-menerus di sini. Aku akan pindah kuliah di sana, menyelesaikan pendidikanku di sana, jauh dari kalian. Maafkan aku. Kau tidak akan melihatku lagi. Kupikir itu akan membuat segalanya lebih mudah.”

Junho menghembuskan nafas. Sanghyun menatapnya sayu, mendaraskan jutaan pinta agar ia tidak pergi. Namun Junho sudah bulat pada tekadnya. Ia memandang Sanghyun, memandangi wajah yang terlalu mirip orang yang dicintainya itu. Rasanya hatinya malah bertambah sakit. Dengan bibir bergetar ia mengucap perpisahan.

“Maafkan aku, Sanghyun. Terimakasih atas segala yang kau berikan selama ini. Semoga kau mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Semoga kau bahagia selamanya.

“Selamat tinggal, Sanghyun ….”

Dengan lambat ia mengayunkan langkahnya, meninggalkan pemuda yang membelakanginya. Sesaat kemudian, terdengar isakan keras, curahan hati yang tidak bisa lagi disembunyikan lebih lama. Sangyun tersedu dan itulah yang membuatnya mempercepat langkah, berlari cepat karena suara itu merobek-robek hatinya menjadi kepingan yang berdarah.

*   *   *

Aku sudah berdiri di sini seharian. Kutatap jam besar di ujung taman. Pukul 4. Langit mulai meredup. Salju yang dingin sudah membuatku menggigil kedinginan. Kurapatkan mantelku, mencoba menyergap panas tubuhku.

Aku terkena karma akan perbuatanku sendiri.

Beberapa bulan setelah pindah ke Busan, meninggalkan Seoul dan ceritaku bersama Sanghyun di sana, aku sakit keras. Sakit yang begitu keras sampai-sampai aku koma. Kata dokter ada sejenis virus yang menyusupi otakku dan virus itu berkembang biak di sana, menginvasi rongga kepalaku dan membuatnya bengkak. Aku tidak sadarkan diri, benar-benar tidak sadarkan diri.

Rasanya aku terbangun setelah tidur yang amat lama. Saat aku membuka mata, wajah ayah dan ibuku yang langsung menangis melihatku sadar tampak di depanku. Aku mencari wajah ketiga, yang entah mengapa menyeruak ke dalam benakku. Selama aku tidak sadarkan diri, wajah itulah yang terus-menerus memintaku untuk bangun, wajah itulah yang selalu memintaku untuk jangan pergi, wajah itulah yang menautkan hidupku kembali ke bumi.

“Mana Sanghyun?”

“Sanghyun?”

“Mana dia? Mana Sanghyun?”

“Sanghyun ada di Seoul, Nak.”

Dan kerinduan yang tak terbendung menembus hatiku. Aku merindukannya, ingin agar ia berada di sampingku, di dekatku, berada bersama barisan orang-rang yang kucintai. Namun ia tidak ada. Wajah itu tidak ada, wajah milik seseorang yang telah aku sakiti, yang kuhancurkan tanpa belas kasihan.

Dan baru saat itu aku merasakan pedih yang teramat sangat. Aku telah membuang harta terindah yang pernah kudapatkan. Aku sudah membuang kesempatan untuk bisa bersama orang yang ditakdirkan menjadi separuh hatiku. Aku sudah membuang cintaku sendiri.

Aku harus menjalani pengobatan yang cukup lama di rumah sakit. Aku harus berada di sana, terpenjara dalam bangunan itu, bersama dengan obat dan terapi yang harus kulakukan untuk kesembuhanku. Aku berusaha untuk bisa sembuh dengan cepat, karena hanya itulah satu-satunya kesempatanku untuk pergi mencari Sanghyun.

Dari Kwonhae, aku tahu bahwa Sanghyun telah berada di luar negeri. Ia mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar ke salah satu negara di Asia Tenggara. Aku tidak ingat di mana tepatnya, namun yang jelas, dia akan berada di sana selama enam bulan. Dia akan kembali di bulan Desember.

Sungguh, waktu-waktu yang kulewatkan begitu menyiksa. Aku bagaikan mendapat balasan atas apa yang sudah kuperbuat. Di saat dia tidak ada, aku baru sadar kalau aku mencintainya. Butuh waktu hingga akhirnya aku sadar kalau aku sudah menyia-nyiakan kebahagiaan terindah yang pernah aku dapatkan. Aku sudah begitu bodoh, membuang kebahagiaan yang harusnya aku dapatkan hanya demi kenangan yang seharusnya kubuang jauh-jauh.

Aku sudah menanyakan pada Kwonhae, kapan Sanghyun akan kembali. Dia sudah kembali sejak tiga hari yang lalu, namun baru hari ini aku memberanikan diri menyeret diriku ke depan pintu apartemennya. Dengan gugup aku menatap pintu putih itu. Hanya dengan menekan tombol bel, aku akan melihatnya lagi. Tak usah tanyakan betapa membaranya kerinduanku padanya, aku sudah hangus menjadi abu sangking rindunya. Ketakutanlah yang menahanku, takut kalau ia tidak ingin bertemu denganku, takut kalau ia tidak ingin lagi melihatku. Takut kalau ia tidak ingin memaafkanku.

Kutarik nafas panjang untuk menenangkan jantungku yang berdetak kencang. Tidak, aku tidak boleh takut. Aku harus melihatnya, meminta maaf padanya. Aku harus mengatakan bahwa aku menyesal dengan segala yang pernah kuperbuat, aku harus mengatakan  bahwa hanya dia yang aku mau di hidupku.

Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau dia tidak menerimaku.

Aku mungkin bunuh diri ….

Ting, tong, ting, tong.

Sedetik, dua detik, tiga detik ….

Empat detik, lima detik ….

Ting, tong, ting, tong ….

“Ya, tunggu sebentar.”

Suara indah itu bergema di telingaku, menggetarkan dinding-dinding jiwaku yang semakin menjeritkan kerinduanku padanya. Suara langkah kaki mulai menjadi semakin jelas terdengar mendekati pintu. Sesaat lagi aku akan melihatnya lagi.

Pintu terbuka.

Aku terpana. Ia tampak begitu mempesona, bahkan saat ia mengenakan celemek yang belepotan minyak dan noda kecoklatan, serta ada goresan tepung di pipinya. Pipinya menjadi lebih tirus, namun ia terlihat semakin tampan. Matanya, yang tepat seperti yang terbayang di benakku, tetap indah walaupun mata itu membesar melihatku. Ia terpaku di tempatnya berdiri. Kami terdiam, saling menatap satu sama lain dalam detik-detik penuh keheningan yang menggantung berat.

Aku menyerah. Airmata yang kutahan sedari tadi bergulir. Namun kusunggingkan senyum terbaikku, aku lega bisa melihatnya.

Aku berjanji, Tuhan, kalau ia menjadi milikku lagi, aku akan menjaganya dengan hidupku.

Bibirku bergetar.

“Annyeong hasseyo, Sanghyung ….”

 

 

 

__________________________________________________________________________________

Author’s note:

 

Wahhhh!!!! Akhirnya selesai juga!!! Aduh, ngga tahu deh hasilnya bagus atau ngga! Ini gara-gara denger lagu nih makanya bisa bikin ini. Terinspirasi Miracles in December-nya abang-abang EXO sama Back To December-nya neng Taylor Swift. Monggo didengerin, lumayan buat ngebangun feelnya.

Thank you buat Mister Nay yang sudah berbaik hati izinin aku buat numpang posting. Kamu baik deh. #Send virtual cake.

Kasih komen ya. Mau dikritik juga ngga apa. Malah senang, artinya banyak yang memperhatikan buah tanganku ini.

Domo arigatou, reader-san!!!

 

Schandelierre Syailendra