Beautiful Stranger cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Terima kasih masih berkenan melayat blog yang makin mengalami efek kuburanisasi ini. Kuharap kalian yang masih setia menanti apdetan tidak membatu dalam penantian, pun kalian yang masih setia menunggu postingan baru tidak memfosil dalam penungguan. Amin.

Cerpen ini termasuk yang paling sukar ditamatkan, juga yang paling susah dijuduli. Percaya atau tidak, aku berkali-kali ganti judul sebelum fix sama judul di atas. Pertama sekali, di awal nulis aku kasih judul Parfume, kufikir aku bisa memakai filosofi parfum versiku di salah satu paragraph untuk mengaitkannya dengan judul dan jalan cerita, tapi hingga menuju pertengahan cerita, ide tentang parfum malah gak nyampe-nyampe. Terus, aku ganti jadi The Lost Boy, ya ampun, judul ini bahkan terdengar tidak menarik sama sekali. Mempertahankan The dan Boy di awal dan di akhir judul, aku hampir pasti memakai judul The Runaway Boy, namun menjelang akhir, aku kepincut sama Stranger. Nah, kata Beautiful di awal judul justru kutambahi sebelum nulis cuap-cuap ini, tepat setelah cerita kutamatkan. Kuharap dengan adanya kata Beautiful sebelum Stranger bisa memperindah judulku kali ini. He he he.

Menurutku, yang membuat sebuah tulisan diingat adalah seperti apa cerita itu berakhir. Pembaca tidak mati-matian mengikuti cerita dari awal hingga akhir untuk disuguhi ending yang jelek. Mereka ingin akhir cerita yang berkesan. Aku tahu betul itu. Tapi sungguh aku bingung memberi ending untuk cerita ini. Kenapa ini termasuk cerpen yang paling sukar kutamatkan? Sebenarnya, memilih opsi ending itu mudah, khususnya untuk ceritaku kali ini, aku cuma harus memilih antara membuat dua tokoh bersatu selamanya sampai akhir cerita atau membuat mereka berpisah di akhir kisah. Mudah opsinya, tapi sulit menarasikannya sebagai ending jika kamu masih ingin terus bercerita. Itulah yang kualami, rasanya aku ingin terus bercerita.

Menikung tajam memang, kuakui. Kalian bisa lihat tikungan itu dengan amat jelas sekali. Tepatnya pada pergantian POV menuju akhir. Ending sudah kucoret, suka tidak suka, berkenan tidak berkenan, sesuai harapan atau tidak, itu ending yang dapat kuberikan :p

Selamat mengikuti, semoga kalian menikmati membaca BEAUTIFUL STRANGER seperti aku menikmati ketika menulisnya.

 

Wassalam

n.a.g

##################################################

 

JIKA saja ini terjadi tanpa kerelaan, jika saja aku menolak bahkan melawan apa yang menurutku diawali olehnya, jika saja pesonanya tidak membuatku luluh bagai kerbau yang dicucuk lubang hidung, jika saja nafsuku terhadapnya tidak sekuat nafsunya terhadapku. Bisa saja ini disebut pemerkosaan…

Kenyataannya, aku memang sudah diperkosa. Pemerkosaan yang kubolehkan sendiri. Keperjakaanku telah direnggut, bukan dengan paksa. Pemerkosaku, cowok asing yang namanya saja baru kuketahui satu jam yang lalu kini sedang terlelap nyaman di sisi lain ranjang, setengah telanjang…

*

SEVEN HOURS EARLIER

 

PADA kesempatan yang sudah-sudah, aku tidak pernah gagal mengincar seat tepat di dekat jendela bila melakukan trip dengan pesawat. Tapi hari ini sepertinya bukan hari keberuntunganku. Kesialanku sudah dimulai sejak taksi yang kutumpangi menuju Soetta mengalami mogok hingga mengharuskanku naik damri, lalu, pesawat yang harusnya tepat waktu untuk membawaku ke Pulau Dewata delay hingga satu jam lebih, dan kini dengan berat hati aku harus merelakan jendela yang kuidam-idamkan dinikmati seorang om-om berbadan gede yang tampangnya seolah meneriakkan kalimat ‘JANGAN MACAM-MACAM DENGANKU!’ dengan begitu absolutnya, aku bahkan yakin tidak akan bisa mengintip ke jendela meski duduk di seat tengah karena badan gedenya menghalangi pandanganku tanpa tawar-menawar.

Dilihat dari ketidaknyamanan yang sudah kuterima sejauh ini, sepertinya aku salah mengambil waktu liburan. Kuterka-terka, kesialan model bagaimana lagi yang akan menyertai vacation perdanaku di Bali nanti?

Malas-malasan kusimpan carrierku di bagasi kabin, terlalu tidak suka untuk duduk di seat tengah berdekatan dengan si om, aku mantap memilih seat paling pinggir. Namun niatku tak terlaksana. Di belakangku, seseorang juga baru saja menyimpan carriernya, tepat berdampingan dengan punyaku. Ketika kutolehkan kepalaku ke belakang, senyum simpul si pemilik ransel besar itu membuatku limbung dan tahu-tahu bokongku sudah menempati seat tengah.

Apa sejak awal trip ini hanya mimpi belaka? Kukerjapkan mataku beberapa kali untuk memastikan kalau mataku tak salah mengenali. Dan hasilnya positif, aku tak salah mengenali, yang kulihat memang apa yang kulihat dan kusimpulkan.

Sepertinya kali ini aku akan seperjalanan dengan seleb. Apa aku harus minta dia menandatangani kemejaku nanti? Bagaimana cara yang tidak terkesan ngebet saat aku minta dia untuk selfie bareng? Mendadak aku merasa canggung. Ketika sang seleb sudah duduk di sampingku dan mulai melepas jaket kulitnya, aku mulai merasa kalau penampilanku hari ini buruk. Satu detik kemudian aku mulai sibuk meneliti diri.

“Permisi…”

Seorang cewek tiba-tiba menghampiri seat kami sambil memperlihatkan boarding pass.

“Ya?” yang menjawab adalah si seleb.

Si cewek tersenyum manis yang di mataku sangat terlihat dimanis-maniskan dengan sengaja. “Sepertinya aku duduk di sini,” ucapnya sambil melihat bergantian antara aku dan si seleb.

“Oh, iyakah…” aku mulai merasa bodoh. Segera kurogoh boarding pass-ku dari saku jins sedang si seleb tetap tenang-tenang saja. Si om? dia malah tetap bergeming melihat ke luar jendela. Di antara kami bertiga sepertinya hanya aku yang khawatir telah menduduki kursi orang lain.

“Ehem…” sebelum aku berhasil merogoh boarding pass, kudengar si seleb berdehem. “Cantik, itu salahku…”

Kalimat tak biasa untuk diucapkan di saat perjumpaan pertama kali begini terlebih lagi oleh seleb seperti dia kepada cewek yang belum dikenal, sontak aku menoleh. Kutemukan pipi si cewek memerah, kembali kulihat dia melirik bergantian antara aku dan orang yang baru saja memanggilnya cantik. Apa dia sedang membandingkan siapa yang paling cakep antara aku dan si seleb?

“Cantik tidak keberatan, kan?” si seleb menyambung ucap, suaranya persis seperti yang sering kudengar lewat speaker televisi di rumahku. Lalu kulihat dia menggerakkan dagu ke jajaran seat berseberangan, “Aku digenitin mbak-mbak itu tadi, Cantik mau ya nolongin aku sekali ini?” terpisah tiga deret ke belakang dari tempat duduk kami, di arah yang ditunjuk dagu si seleb, kulihat seorang wanita dengan make-up sempurna duduk anggun. Menurutku, si mbak sama sekali tidak terlihat genit seperti yang dituduhkan si seleb. Saat ini si mbak bahkan tampak tenang di kursinya. “Aku akan sangat berterima kasih.”  Si cewek menoleh ke kursi si mbak sekilas lalu kembali memandang si seleb. “Cantik, please…” sekarang nadanya memelas sambil menyatukan dua tangan di depan wajah, memohon pada si cewek.

“Hemm… oke.” Si cewek luluh.

“Makasih, Cantik…”

Kembali kulihat pipi si cewek memerah. “Anytime…” Sebelum meninggalkan kami, sekali lagi dia melirikku dan si seleb.

“Fiuh…, kukira dia bakal menyeretku demi bisa menempati kursi ini…”

Si seleb berujar pelan seperti kepada dirinya sendiri, tapi cukup jelas untuk bisa ditangkap kupingku. Kuberanikan diriku untuk melihatnya terang-terangan. Ya ampun… mengapa Tuhan begitu bermurah hati mengirimiku keberuntungan seperti ini? Yah, bisa jadi Tuhan kasihan karena sebelum ini aku sudah ditiban kesialan melulu, sebuah kebetulan bagus begini tentu bukan imbalan mahal bagi-Nya atas kesabaranku menyikapi kesialan. Terima kasih Tuhan.

Lima detik. Aku memandanginya secara terang-terangan selama lima detik. Dia bersikap wajarnya seorang pesohor. Kalem dan cool meski yang kulihat kali ini tidak dalam kadar dipaksakan atau dibuat-buat seperti kebanyakan pesohor bila sedang berada di area publik. Cool si seleb yang satu ini sangat alami. Dia kini sedang merapikan jaket yang tadi dilepasnya, dilipat sedemikian rupa dan diletakkan di pangkuan. Hari ini dia memakai kaos putih berles hitam di beberapa bagian dengan logo brand terkenal di dada, kargo sedengkul warna dark grey, tali mini bag yang kuperkirakan berisi gadget mahal miliknya tersampir di bahu lebarnya sedang di pergelangan tangan kanannya sebuah arloji sport yang gaul dan keren luar biasa berhasil membuatku iri. Memandang ke lantai, aku mengagumi sepatu boot keren yang hari ini dipakainya. Semua yang menggantung di badannya seperti menjelaskan siapa dirinya.

Tapi… sama-samar hidungku bagai mencium aroma toko. Apa semua item yang hari ini dipakainya baru saja dicopot dari mannequin? Apakah seleb memang selalu beraroma baju baru begini? Mungkin iya, mengingat pasti merupakan sebuah aib bila mereka kedapatan memakai baju yang sama terus di beberapa kesempatan.

“Ehem…”

Dehemannya mengembalikan kesadaranku. Kualihkan perhatianku dari bootnya, lebih tepatnya, dari bulu-bulu kakinya yang tumbuh bagus.

“Kamu akan ke Bali juga?”

Kalau ini situasi normal, mungkin aku akan tertawa bekakakan mendengar pertanyaan demikian, terlebih lagi diajukan oleh orang seperti dia. Yah, kalian tentu tahu maksudku, dia seleb. Sekali lagi, dia seleb.

Tapi aku cuma bisa mengernyit menatapnya yang juga sedang menatap padaku. Aku khawatir detak jantungku terdengar olehnya. “Ya, tentu. Begitu juga dengan semua orang di pesawat ini,” jawabku, tidak dengan nada meremehkan.

“Wow, cool…” Pada detik ini, aku mulai menangkap ada ketidakberesan pada diri si seleb. “Kamu tahu, begitu banyak orang yang pergi ke tempat yang sama, dengan cara yang sama dan di saat yang sama pula, itu keren…”

Kerutan di dahiku bertambah. Apa kerennya? Itu kan wajar, udah biasa. Ingin saja aku memuntahkan kalimat itu dengan nada merendahkan, tapi melihat bagaimana dia tampak begitu yakin dengan penuturannya membuatku tak tega. “Iya, keren memang. Tapi pilot pesawat, nakhoda kapal, atau masinis kereta tentu tidak menganggap hal lumrah itu keren.”

Dia tampak merenung sebentar, sekilas kemudian mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu benar juga.”

Sepertinya kini mendapatkan tanda tangan dan foto selfie darinya tidak akan sesulit yang kupikirkan. Dia ramah untuk ukuran seleb keren sedang naik daun.

Lalu ritual menjelang lepas landas berlangsung. Dimulai dari sang pilot yang memperkenalkan dirinya hingga peragaan cara menggunakan alat-alat keselamatan darurat bila pesawat mengalami nahas, dalam dua bahasa. Aku sudah hapal di luar kepala. Kuyakin si seleb juga pasti sudah bosan dengan sesi safety information ini. Ketika kulihat dia tampak serius memerhatikan pramugari yang kebagian jatah berdiri di pertengahan lorong, tiga langkah di depan seat yang kami tempati, aku malah kagum dengan sikapnya itu. Ya, pasti baginya sesi demo ini bukanlah aturan membosankan semata, bukan hal sepele untuk lalu diabaikan meski pasti sudah seringkali dilihat di banyak trip udaranya sebelum ini. Salut.

Hei, tapi bisa saja dia justru sedang memerhatikan keseksian pramugarinya sendiri. Who knows? Kemudian, aku ikut-ikutan serius memerhatikan, tapi yang menjadi fokusku adalah pramugara yang mendapat jatah paling depan, meski untuk itu aku harus sedikit memanjangkan leher. Tapi sepadan, tak ada pramugara yang bernilai enam dari segi fisik. Mengerti maksudku?

Aku ingin mengajaknya bicara lagi, tapi urung karena kulihat dia sedang memejamkan mata dengan mulut komat-kamit, membaca doa. Maka aku ikut-ikutan membaca doa dengan mata menatap kargonya.

“Sebenarnya, aku takut terbang…”

Kuangkat pandanganku ke wajahnya saat perintah memasangkan safety belt terdengar lewat interkom dibarengi lampu tanda kenakan sabuk pengaman menyala di atas kami. “Iyakah?”

Dia membuka paha lebih renggang dan meletakkan jaketnya yang tadi berada di pangkuan langsung di atas kursi sebelum meraih sabuk pengaman. “Apa aku tampak seperti sedang berbohong?” sepertinya dia mengalami kesulitan dengan safety belt miliknya.

“Bukankah seharusnya kamu sering berpergian dengan pesawat? Lokasi pengambilan gambarmu mustahil di ibukota melulu, kan?” aku selesai memasangkan safety belt-ku. “Harusnya kamu terbiasa terbang.”

Sekarang dia yang mengernyit. Tangannya berhenti berusaha menyatukan kait sabuk pengaman miliknya. “Aku tidak mengerti maksud kalimatmu. Pengambilan gambar apa?”

Mendadak aku merasa bego sendiri. Untuk beberapa saat lamanya kembali kupandang sosok di depan mataku. “Emm… apa aku pernah melihatmu sebelumnya?”

“Entah. Tapi jika subjek pertanyaanmu dibalik, aku bisa jawab dengan pasti, aku belum pernah melihatmu sebelumnya.” Lalu dia kembali berusaha dengan safety beltnya.

Aku masih cengo. “Sepertinya aku melihatmu di tivi,” gumamku dengan nada serius yang amat yakin.

Dia diam dari segala aktivitas.

Tik

Tik

Tik

Bunyi jarum detik jam seperti menggema di kepalaku.

Lalu tawa tersembur dari mulutnya sebelum kemudian berhenti mendadak karena si om di sebelahku mengalihkan perhatian padanya. Ketika pandangan si om meninggalkan sosoknya, dia berujar padaku dengan sisa tawa yang mati-matian berusaha ditahannya. Sedikit, dia mulai tampak menyebalkan. “Tadi kamu bilang apa?”

“Aku yakin pernah melihatmu di tivi, bukan hanya pernah, tapi sering.”

Sangat kelihatan kalau dia mau tertawa lagi, tapi urung karena pramugara yang berjalan mengecek penumpang menegurnya untuk segera memakai sabuk pengaman.

“Ck… kupikir tidak akan sesulit ini…”

Dalam kebingungan dan ketidakmengertianku, kuulurkan tangan ke pinggangnya. “Aku tidak percaya kamu tidak bisa memasang sabuk ini.” Dia menyisikan tangannya ketika aku sudah mengambil alih sabuknya.

KLIK

“Terima kasih…”

Untuk sedetik, mata kami saling balas menghujam. “Susah bagiku memercayai ada orang beken yang tidak tahu bagaimana caranya memasangkan safety belt,” sedikit enggan, kujauhkan tanganku dari depan perutnya setelah tali sabuk kukencangkan.

“Asal tahu saja, ini penerbangan pertamaku!” nadanya sedikit kesal. “Lagian, siapa yang orang beken di sini?”

“Penerbangan pertama dan kamu langsung berani mencuri kursi penumpang lain?” kugerakkan daguku ke arah tempat duduk cewek yang tadi sempat dibuat merona pipinya oleh cowok di sampingku yang saat ini masih kuyakini sebagai seleb yang sedang bersandiwara, terlepas apa modusnya bersandiwara terhadapku. “Kamu pikir aku mau percaya?”

“Aku hanya ingin duduk di sini…”

Aku ingin menanggapi respon tak masuk akalnya itu, tapi interkom kembali memperdengarkan suara yang mengabarkan bahwa pesawat akan segera take off. Sesaat kemudian lampu kabin meredup dan deru mesin pesawat semakin terasa. Pesawat bergoyang perlahan, gemulai seperti seorang penari, mengayunkan kami di kursi layaknya naik ayunan.

“Apa ini wajar?” kudengar dia berbisik, cukup dekat ke kupingku.

Kuabaikan pertanyaannya karena kuanggap dia mengada-ngada. Lalu pesawat bergerak maju, mula-mula perlahan.

“Apa ini saatnya?” kembali dia berbisik.

“Berhenti bertingkah konyol, ini sama sekali tidak lucu!”

Lalu aku kaget ketika dia dengan spontan menggenggam pergelangan tangan kananku dengan tangan kirinya, pesawat sedang melaju kencang-sekencang-kencangnya. Aku sontak menolehnya, kudapati dia sedang terpejam sambil mengatupkan rahang kuat-kuat. Ya ampun, sepertinya ini beneran first flight-nya. Sekarang aku mulai yakin kalau telah salah menilainya sebagai orang lain. “Siapa kamu sebenarnya?”

“Aku bukan pemain sinetron yang sering kamu tonton di tivi!” dia menjawabku sambil masih memejamkan mata.

Aku mendengus. Apa dia kira aku emak-emak yang doyan nonton sinetron-sinetron maksa di tivi itu, yang tidak tamat-tamat setelah berseason-season dan masih dibuat lagi dengan cerita dan tema begitu-begitu saja? Kurang ajar sekali.

“Kamu bukan Al Ghazali Kohler?”

Dia mengeratkan genggamannya ketika pesawat menanjak naik. Bahkan kini tidak lagi di pergelanganku, tapi sudah hampir meremukkan jari-jariku. Jika tadi saat aku mengatakan pernah melihatnya di tivi dia tertawa kencang, tapi tidak sekarang saat aku menyebut nama yang kukira sebagai dirinya. Dia masih terpejam dengan mimik serius. Ternyata pesawat yang sedang mulai mengepakkan sayap menuju langit mencuri fokusnya lebih besar untuk merasa tegang ketimbang merespon kalimatku dengan tawa besar lagi.

“Bukan. Aku bukan Al Ghazali tapi Al Adin.” Sial, ternyata dia tidak setegang itu.

Aku memutar bola mata. “Oh hai Al Adin, kenapa kamu tidak naik karpet terbang saja?”

“Aku bukan Aladin yang itu…,” jawabnya yang kini mengeja Al Adin tanpa spasi. Lalu dia membuka matanya, langsung menatapku. Sekilas kulihat dia tersenyum. “Apa aku beneran sangat mirip dengan anak sok cool yang dipanggil Al itu?”

Mendapati dia yang sedang menatapku dengan kepala sedikit condong ke mukaku membuat lidahku tak bisa berkata-kata. Terlebih lagi tanganku masih dalam jajahan jemarinya. Setelah berlalu beberapa detik hingga pesawat kurasakan kembali dalam posisi horizontal, aku hanya mampu menjawabnya dengan satu anggukan.

“Hemm… kurasa kamu harus memeriksakan kesehatan matamu ke dokter mata.” Dia masih belum berhenti dari menatapku. “Tapi sayang kalau mata sebagus ini harus dihalangi pesonanya oleh kacamata…”

Apa dia baru saja memujiku?

“Apa kamu sadar betapa besi-berani-nya dirimu? Apa sudah pernah ada yang mengatakan kalau kamu begitu menawan?” kalimat-kalimatnya sangat pelan, begitu lirih, kalimat yang hanya melintas di antara bibirnya ke telingaku, tidak akan tersesat ke pendengaran orang lain.

Aku ingin berkata-kata, banyak sekali yang mau kuluruskan di sini. Tapi tatapannya yang seperti pusaran bagai menyedotku untuk berpusar bersama tatapan itu. Tatapannya bagai mantra. Kudapati diriku seperti dibungkus aliran listrik, ajaib sekali bahwa rambutku tidak berjingkrakan dan badanku tidak kejang-kejang.

Ketika jemarinya bergerak perlahan seakan hendak menjalin dengan jemariku, aku tersentak kembali ke realita. Segera kusadari kalau puncak hidungnya hanya berjarak sejengkal saja lagi dengan cuping hidungku.

Apa yang barusan terjadi?

Aku berdehem dan menarik diri. Dia melepaskan tanganku perlahan dan duduk tegak. “Trims… untuk sudah membantuku melewati detik-detik menegangkan penerbangan pertamaku.” Di ujung kalimat dia memberiku seulas senyum timpang.

“Hemm… maaf aku telah salah mengira…”

“No, it’s okey… justru itu menyenangiku.” Dia mengedikkan bahu dan menekuk mulutnya. “setidaknya aku jadi makin yakin kalau tampangku tidak buruk-buruk amat…” sekarang dia menyengir. “tapi tunggu, kamu tidak mengada-ngada, kan?”

Aku menggeleng. “Harusnya kamu mengambil masa sedikit lebih lama ketika bercermin.”

“Biasanya aku mengambil masa jauh lebih lama saat mandi pagi. Kamu tahu…” dia melakukan gerakan menggenggam dengan tangan kanannya dan menggerakkannya naik turun dalam ritme cepat. “untuk ini…”

Keningku berkerut.

Lalu dia tertawa bersamaan dengan lampu kabin yang kembali terang. “Lupakan, aku bercanda.”

Tidakkah dia terlalu frontal? Baru kali ini aku bertemu orang mirip artis yang tidak sadar kalau dirinya mirip orang top dan suka ngomong blak-blakan untuk hal-hal yang sifatnya pribadi dengan orang baru dijumpai, terlebih lagi, dalam sebuah perjalanan begini rupa. Jika tidak salah menyimpulkan, ketika tadi aku merasakan seluruh sarafku bagai dibungkus arus listrik, wajahnya juga berada dalam jarak yang tidak seharusnya. Maksudku, kau tidak akan cukup berani untuk mendekatkan wajahmu ke wajah orang asing yang kebetulan sebangku dan menjadi lawan bicaramu dalam sebuah trip, kecuali kau cukup kurang ajar untuk mengabaikan kesopanan. Tapi sosok di sampingku ini melakukan itu, meski aku berani bertaruh dia bukan tipe orang yang suka kurang ajar dan tidak sopan. Oh well, untuk bagian yang tadi diperagakannya, oke, itu lumayan kurang ajar dan tak sopan.

Hidungku kembali mencium bau toko, tapi tidak lama karena sesaat kemudian aroma-aroma yang lebih menggoda cacing-cacing di dalam perut berseliweran di dalam kabin pesawat, menjahili hidung-hidung penumpang yang dengan sukarela menghirupnya dalam-dalam, setidaknya itu yang tengah kulakukan sekarang. Aku menjenguk ke lorong dan segera kudapati dua orang awak kabin sedang mendorong troli yang pasti penuh berisi jajanan siap saji.

“Apa yang dilakukan mereka?”

“Berjualan.”

“Apa aku bisa membeli kopi juga?” dia berbisik padaku.

“Semua orang bisa membeli, kamu juga.” Aku merogoh kantung di depannya dan mengeluarkan brosur menu. “Pilih saja, jangan kaget sama harganya. Pedagang yang mampu berjualan di udara masih sangat langka… hukum ekonomi, harga produk naik jika produk mengalami kelangkaan…” Kusodorkan brosur menu padanya.

“Bukankah hukum ekonomi itu harga meningkat jika permintaan pasar meningkat sedang stok barang menipis, ya?” dia mulai meneliti brosur yang kuberikan.

“Emm… iyakah?”

“Kayaknya iya.”

“Entahlah, aku jurusan IPA.”

Dia terkekeh. “Tapi yang tadi kamu katakan juga bener kok.” Dia merogoh saku kargonya. “Kamu mau makan apa?”

“Oh, kamu baik sekali. Tapi tidak usah, aku sudah makan di airport.”

“Baiklah, tolong pesankan dua cup coffee latte untuk kita.” Dia menunjuk pada brosur menu.

“Mengapa kamu tidak bilang saja sendiri?”

“Ini penerbangan pertamaku. Bagaimana kalau aku salah ucap? Itu pasti sangat memalukan.”

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya cowok mirip seleb ini mau mengerjaiku. “Mbak, coffee latte untuk mas ini,” ujarku begitu troli sejajar dengan seat kami.

Si mbak pramugari tersenyum manis, “Itu saja?”

“Dua.” Si cowok mirip seleb mengangkat dua jarinya.

“Satu saja,” ralatku.

“Dua.” Dia kembali menunjukkan dua jarinya pada mbak pramugari.

“Satu saja, Mbak.”

Kadang aku suka berpikir kalau profesi sebagai pramugari adalah profesi yang dikhususkan untuk orang-orang yang punya tingkat kesabaran tinggi. Semengesalkan apapun tingkah penumpang, mereka tetap merespon dengan lembut dan senyum tersungging. Luar biasa. Seperti saat ini, dengan ramahnya mbak pramugari itu tersenyum, “Satu apa dua?” tanyanya lembut.

“Dua, Mbak.” Si cowok mirip seleb membalikkan badan padaku, “please,” ucapnya penuh harap, “jangan membuatku malu.”

Jika kalian melihat bagaimana ekspresi wajahnya saat ini, melihat tatapannya, kalian tak akan kuasa menolak meski dia meminta untuk lompat dari pesawat. Aku mulai berpikir kalau cowok mirip seleb ini punya ilmu gaib. “Oke, tolong dua cup, Mbak.”

“Coffee latte dua,” ujar mbak pramugari sambil membungkuk ke trolinya, “ini dia…”

Karena cowok yang menraktirku sedang mengeluarkan lembaran uangnya dari dompet, aku berinisiatif menerima dua cup dari tangan si mbak setelah terlebih dahulu menurunkan mejaku. Kudapati cowok di sampingku memmerhatikan ketika aku meletakkan satu cup bagianku di atas meja.

“Apa?” kusodorkan kopinya. Troli bergerak meninggalkan kami.

“Tidak ada, hanya…”

“Cukup, jangan teruskan.” Kumajukan tanganku memintanya segera mengambil kopi miliknya.

Dia tersenyum lebar, “Kenapa? Kamu tahu apa yang akan kukatakan?”

Aku menganguk, “Apapun itu, pasti tentang mejanya.”

Senyumnya makin lebar. Jarinya menyentuh jemariku ketika mengambil cup. Apa hanya perasaanku saja atau dia memang sengaja melama-lamakan menarik tangannya ketika mengambil cup.

Dan insiden setelahnya benar-benar membuatku percaya sepercaya-percayanya bahwa ini memang penerbangan pertamanya. Entah karena kurang hati-hati atau karena baut meja miliknya sudah longgar sehingga tidak perlu usaha lanjutan untuk menurunkan benda itu, tepat ketika dia membuka kait penahan meja di bagian belakang seat di depannya, meja itu langsung terbuka dan menabrak cup kopinya. Seharusnya dia tidak memposisikan cup itu terlalu dekat ke meja ketika hendak membukanya. Seharusnya dia memposisikan tangannya lebih tinggi dari meja.

“Sial.”

Aku terlonjak di kursiku. Sedikit, percikan kopi mengenai lengan kemejaku. Ketika kualihkan perhatianku padanya, aku berusaha mati-matian untuk tidak tertawa. Kaus putihnya berubah coklat di bawah dada. Dia berdecak kesal sambil menunduk memerhatikan keadaan bajunya yang basah noda kopi. Aku khawatir kulitnya melepuh.

“Aku lupa memperingatkan untuk hati-hati dengan mejanya.” Kuambil cup yang hampir kosong dari tangannya dan kuletakkan di atas mejaku. “Sebaiknya kamu ke toilet, yang di belakang lebih dekat.” Aku menutup meja pembawa sial di depannya lalu kuperhatikan keadaannya kembali. Jaket kulit yang ada di antara pahanya juga ikut terpercik kopi, tapi tidak terserap.

“Bagaimana cara membuka benda sialan ini?” sepertinya dia benar-benar kesal sekarang. Tangannya berusaha membuka safety belt dengan tidak sabar.

“Ini, angkat bagian ini.” Aku menuntun tangannya, “lalu tarik bagian yang ini.”

Dia sempat menoleh padaku ketika sabuknya berhasil dibuka. Tangan kami masih bersentuhan. Sadar, kutarik tanganku. Lalu tanpa berkata-kata dia bangun dari kursi, setelah menggeser jaketnya lebih ke tengah seat dia berjalan menuju toilet.

Baru setelahnya aku terkekeh sendiri di kursiku. Ketika mataku kembali melihat noda di lengan kiri kemejaku, kuputuskan untuk pergi ke toilet juga. Ternyata toilet di belakang dua-duanya terisi. Salah satu pasti dipakai teman satu seatku. Jadi aku berdiri menunggu.

Semenit kemudian pintu toilet di sebelah kiriku terbuka, kepala accidental friendku melongok. Ketika mengenaliku dia tersenyum. “Kebetulan sekali kamu di sini.” Dia membuka pintu lebih lebar. Aku bisa melihat kalau dia sudah melepas kausnya. Untuk beberapa detik, aku terpana dengan perutnya yang bergaris. “Kausku tidak terselamatkan. Bisa tolong ambilkan jaketku di kursi?”

Aku menarik napas, sesaat tadi aku seperti kekurangan oksigen. “Jika aku tidak di sini, apa kamu akan melenggang kembali ke kursimu dengan bertelanjang dada?”

“Kupikir aku akan menemukan awak kabin ketika membuka pintu, atau menunggu salah satu dari mereka berjalan ke sini lalu meminta bantuannya untuk mengambil jaketku.”

Tanpa berkata-kata lagi aku berjalan menuju kursiku untuk melaksanakan perintahnya. Sepanjang perjalanan bolak-balik toilet-kursi-toilet, aku tak bisa untuk tidak membayangkan sosok bertelanjang dada teman sebangkuku.

*

Delapan puluh lima menit. Interkom menginformasikan perbedaan waktu antara Bali dan Jakarta setelah mengumumkan kepada penumpang kalau pesawat tidak lama lagi akan mendarat di Ngurah Rai International Airport. Lampu safety belt kembali menyala.

“Apa?”

Aku tersenyum ketika sosok di sampingku bertanya sambil menatapku. Dia sudah mahir memasang safety belt. Aku menggelengkan kepala. “Tidak ada, hanya takjub karena kamu berhasil melakukannya.”

“Nyindir.”

Aku tertawa. “I can’t believe it…”

“Sombong…”

“Sungguh, aku belum bisa percaya sepenuhnya kalau cowok keren dan terlihat smart kayak kamu tidak tahu cara menggunakan safety belt.”

“Ya ya ya… katain saja aku terus, kamu gak akan dapat tanda tangan dan foto bareng aku.”

“Tak apa, aku sudah tak berminat.”

Dan dia kalah telak.

Hening.

“Omong-omong, terima kasih telah jujur mengakui kalau aku keren dan smart.”

Aku mengerang di tempat dudukku, menyesal atas keterus-terangan-ku

*

Berjalan di atas lantai Ngurah Rai di sebelahnya terlihat begitu berkelas. Rasanya bagai status sosialku terangkat ke strata paling tinggi. Sesekali aku mencuri lihat padanya dan kudapati diriku menyukai sikap tubuhnya ketika berjalan. Tidak sepertiku yang sedikit kepayahan, carrier di punggungnya yang kuyakin pasti lebih berat―karena ukurannya lebih besar―sama sekali tidak terlihat menyusahkannya. Jaket kulitnya yang terkancing sempurna hingga ke kerah terlihat sangat pas dipakainya. Di bawah jaket itu, aku masih bisa membayangkan kulit bersihnya yang memesona. Ah, bayangan dirinya yang bertelanjang dada sangat sukar kuenyahkan.

“Berapa lama kamu di Bali?” dia bertanya ketika kami sudah melewati pintu keluar, kerumunan orang-orang yang hendak menyambut kedatangan kerabat mereka langsung membuat gerah.

“Mungkin seminggu.” Mataku mulai mencari-cari taksi.

Lalu mendadak dia berhenti berjalan.

“Ada apa?” aku ikut berhenti dan menghadapnya.

“Ini pertama kalinya aku berada amat jauh dari rumah,” ujarnya datar dengan mata menatap jauh.

“Wah, congratulation, Home Boy…”

Dia sontak memandangku tepat, “Kamu mengejekku lagi?!”

“Hei hei… rileks, Bro… aku bercanda.”

Hatiku berdebar ketika dia menatapku tajam dengan mimik wajah serius. Jujur, aku takut kalau dia sungguh tidak suka dengan kalimatku sebelumnya. Aku mulai berjaga-jaga terhadap kemungkinan dia akan menonjokku. Rasanya otot-otot wajahku menegang kini.

“Kamu manis jika sedang takut begitu…”

“Eh?” aku melongo diikuti rasa lega mendengar kalimatnya.

Dia memamerkan senyum timpangnya lagi. Lalu aku kaget ketika tangannya menangkap pergelangan tanganku. “Ayo…” dia berjalan cepat. Aku setengah terseret di dalam genggamannya yang menguasai.

“Kita akan kemana?” tanyaku di sela derap langkah kami yang terburu-buru.

“Mencari hotel,” jawabnya singkat tanpa menolehku.

Aku berusaha mencegah agar otakku tidak berpikir kemana-mana, tapi tidak berhasil. “Ho… ho, ho-tel?”

“Iya, kamu tidak lihat langit sudah hampir gelap?”

Aku mendongak langit. Sudah sore. “Maksudnya, kita akan menginap di hotel yang sama?” ternyata pikiranku salah. Kukira dia buru-buru mencari hotel untuk dapat segera melaksanakan niatnya meniduriku. Ya ampun, otakku error semenjak bertemu dia.

“Tentu saja, kita bisa sekamar berdua. Ayo, aku sudah tak sabar ingin berendam air hangat.”

“Tunggu dulu.” Aku berusaha berhenti berjalan tapi dia tidak melepaskan genggamannya dan masih terus bergerak. “Aku tidak berencana menginap di hotel mahal, kamu tak lihat carrier-ku? Aku sudah punya informasi yang cukup dan agenda terjadwal tentang liburanku di sini, jangan kamu berani mengacaukannya…”

Lalu dia berhenti mendadak. “Kamu sudah ditunggu seseorang?”

Aku mengernyit, “Apa?”

“Kamu sudah ada yang menunggu dan akan berlibur bersama siapapun orang gak jelas yang menunggumu itu?”

Aku tak habis pikir dengan tudingannya. “Mengapa aku harus ada yang menunggu? Tidakkah di antara kita berdua yang lebih mungkin untuk ditunggu seseorang itu adalah kamu, mengingat kamu tidak pernah pergi sejauh ini dari rumah sebelumnya?” aku berlagak celingak-celinguk, “mana kerabatmu, apa mereka lupa menjemputmu?”

“Berarti kamu tidak ada yang menunggu, kan? Kamu juga tidak punya kerabat di sini, kan?” dia memburu.

“Halo, aku sedang melakukan liburan ala backpacker di sini.”

“Nah kan, aku juga. Lihat…” Dia melepaskan tanganku dan memutar badannya tiga ratus enam puluh derajat, carriernya nyaris menghajar hidungku. “Kita sama. Jadi apa yang harus diributkan?”

“Aku tidak berencana menginap di hotel bagus…”

“Kamu tidak bawa uang yang cukup?” dia bertanya mulus tanpa beban.

Aku kehilangan suara. Seseorang yang masih asing baru saja mengusik status dompetku. Sialan. Kutelan ludahku untuk menindih kesal yang mengganjal tenggorokan. “Bukan masalah cukup uang atau tidak, tapi ini masalah idealisme. Aku ke sini tidak untuk melakukan liburan ala orang kaya, aku ingin bertualang.”

“Exactly…!” dia menjentikkan jarinya di depan hidungku. “Itu juga yang akan kulakukan.”

Aku mengernyit lagi, “Dengan tidur di hotel dan niat berendam air hangat?”

“Ya,” jawabnya yakin.

Aku menggeleng-geleng tak mengerti. “Kalau begitu silakan, aku akan mencari wisma backpacker yang lebih menantang. Jika perlu, aku akan mencari area bagus untuk menggunakan sleeping bag-ku saat malam nanti.” Tanpa menunggu responnya aku segera mengayunkan langkah. Tapi baru dua tindak dia sudah menangkap pergelangan tanganku lagi. “Apa lagi?” kupalingkan kepalaku untuk menolehnya.

“Jangan pergi…” Suaranya melirih. “Aku tak kenal siapapun di sini.”

Ya ampun. Tatapan itu lagi. Aku langsung kaku. Orang-orang berlalu-lalang di sekitar kami.

“Tolong jangan pergi… please…” Genggamannya menguat, seakan untuk menegaskan keinginannya, atau ketakutannya jika aku akan pergi. “Ak… aku…” untuk pertama kalinya dia gagap, “Aku… takut…”

“He?” kucondongkan badanku ke arahnya. “Aku gak dengar, kamu bilang apa tadi?”

“Jangan paksa aku mengatakannya lagi.” Ekspresinya berubah lucu dan menggemaskan, dia menundukkan pandangannya. Aku jadi teringat adikku yang masih kelas satu sekolah dasar melihat sikapnya demikian.

“Kamu, takut kenapa?” tanyaku sambil mendekatinya kembali.

“Aku tak pernah berpergian sebelumnya.”

“Tidak pernah berpergian dengan pesawat, itu aku sudah tahu…”

“Aku tidak pernah kemanapun, aku tidak pernah keluar Jakarta. Tuh…” Dia sedikit berteriak. “ini yang pertama, dan langsung sejauh ini.”

Aku melongo, kaget juga. Kuhela napas panjang beberapa saat kemudian. Dulu saat berdarma wisata ke Jogja di penghujung kelas dua SMA aku juga merasakan hal yang sama, berada jauh dari rumah untuk pertama kalinya. Bedanya dulu aku berada di dalam rombongan, bukan sendirian. Aku mulai mengerti apa yang dirasakan cowok di depanku. “Berapa umurmu?”

“Tolong jangan mengejekku lagi.” Dia meremas tanganku.

“Tidak tidak tidak, aku serius, berapa umurmu?” aku berusaha menampilkan mimik serius.

“Kuliah semester tiga…”

“Kuliah semester tiga dan masih bersikap seperti anak kelas dua SD? Yang benar saja…”

“Sialan.”

“Apa papa mamamu tahu kalau kamu hilang?”

“JANGAN MENGEJEKKU…!!!” akhirnya aku benar-benar dibentaknya. Beberapa orang menoleh lalu lanjut berjalan.

Aku tertawa amat keras. “Aku tidak yakin kamu benar-benar diizinkan pergi sama mamamu. Apa kamu menyelinap diam-diam setelah membobol brankas papamu?” kulihat pupilnya melebar. Beberapa saat dia seperti kehilangan kata-kata. “Apa ka…”

“Kumohon, berhentilah,” potongnya.

Aku mengangguk-angguk serius. “Oke. Aku berhenti.” Kulepaskan genggamannya. “Jadilah berani seperti bagaimana seorang cowok sepertimu seharusnya, kamu sudah berhasil sejauh ini. Lihat, kamu sudah berhasil membulatkan tekad untuk kemari, kamu sudah berhasil mengatasi takut terbangmu, kamu sudah berhasil sampai di sini, di tempat terjauh dari rumah yang pernah kamu datangi. Untuk pertama kalinya. Kamu sudah setengah jalan. Sisanya tidak sulit lagi, buktikan pada dirimu sendiri kalau kamu mampu melakukannya.”

Jarang sekali aku mensugesti orang sebaya semeyakinkan yang kulakukan sekarang, seringnya aku mensugesti adikku yang masih ingusan di rumah. Kalimat panjangku sukses membuatnya membisu. Sepertinya dia benar-benar meresapi semua kata yang melewati bibirku.

“Oke. Aku yakin kamu pasti bisa. Senang bisa melewati sedikit waktu denganmu, kalau di lain hari kita berjumpa lagi, aku pasti mengenalimu. See you…”

Aku mundur selangkah untuk melihat reaksinya. Tapi dia hanya diam di tempatnya. Aku mundur dua langkah lagi, dan dia masih tetap berdiri diam dengan pandangan tidak lepas dari menatapku. Aku mundur lebih jauh dan dia masih berdiri diam tanpa berkedip. Aku melambai satu kali lalu balik badan dan mulai berjalan pergi. Tapi perasaan kosong yang mendadak muncul dalam rongga dadaku membuatku berhenti lima langkah kemudian. Kembali kubalikkan badan untuk melihatnya. Dia masih di sana, masih berdiri di tempat kutinggalkan tadi, masih menatapku. Dari tempatku yang terpisah belasan langkah, aku masih bisa melihat matanya. Dan ya Tuhan, sepertinya dia berkaca-kaca. Ketika dia mengerjap satu kali, aku sadar kalau diriku masih ingin bersamanya.

“Hemm…” Kutarik napas panjang dan kuhembuskan kuat-kuat sampai bahuku turun. “Ayo!” aku berteriak sambil melambaikan tanganku padanya, “kita cari hotelmu…”

Dia tersenyum lepas dan kaca yang sempat kutangkap di kedua matanya hilang entah kemana. Dia melangkah lebar-lebar menujuku. “Aku sudah tahu kalau kamu tidak akan meninggalkanku semudah itu,” ujarnya lirih ketika tangannya kembali melibat pergelanganku.”

Kalimatnya yang terdengar sangat sesuatu di kupingku kubiarkan lewat begitu saja. Aku tidak berusaha mendebat karena kenyataannya dia memang benar.

*

Dia langsung melunasi tarif untuk tiga malam menginap ketika check in di resepsionist. Kupikir dia akan menyerahkan kartu debetnya pada mbak yang berdiri di belakang meja reception, ternyata tidak, dia pakai cash money. Papa mamanya pasti membekali anak lelaki mereka uang yang cukup. Supir taksi yang mengantar kami kemari benar-benar mematuhi perkataan bocah kaya ini, ‘Antarkan kami ke hotel yang bagus,’ demikian dia berucap ketika kami sudah di dalam taksi puluhan menit lalu. Dan selera si supir taksi tentang hotel yang bagus adalah hotel berbintang yang memang tersebar banyak di sekitar Kuta.

Aku berdiri canggung sambil mengitari kamar luas yang baru saja kumasuki dengan pandanganku. Di depanku, si anak rumahan yang sedang berusaha melepas predikatnya sebagai anak rumahan baru saja menghempaskan carriernya berikut mini bag ke ranjang besar yang pasti super empuk itu dan kini sedang membuka jaketnya.

“Boleh aku berkata jujur?”

Dia berbalik menghadapku, langsung membuat dadaku berdebar karena pemandangan toplessnya kembali terpampang untuk dijelajahi pandanganku. “Aku tidak pernah tahu kalau bohong lebih dianjurkan ketimbang jujur, di sekolah dasar dulu aku diajari guru agama kalau jujur itu sifat terpuji dan bohong itu sifat tercela. Aneh sekali mendengar ada orang yang minta ijin dulu untuk berkata jujur…”

Sialan, apa dia kira aku tidak pernah hadir saat jadwal mata pelajaran agama berlangsung di sekolah dasar? “Aku merasa tidak nyaman dengan kamar ini.”

Dia memandang ke seluruh penjuru kamar, “Apa kamu merasakan kehadiran makhluk halus sehingga membuatmu tak nyaman?”

Aku mendecak, kesal dengan mimiknya yang tampak sangat serius dengan kalimatnya. “Aku tak nyaman karena ini bertentangan dengan niat awalku ke sini…”

“Oh ayolah, kita hanya tidur saja di sini, selebihnya, kita masih bisa menjadi seperti katamu. Besok pagi kita punya waktu seharian untuk menjadi petualang, besoknya lagi, besoknya lagi dan besoknya lagi sampai sepekan. “

Aku diam, bukan karena setuju mentah-mentah dengan ucapannya, tapi karena dia sedang membuka kancing kargonya.

“Kamu ingin mandi lebih dulu?”

Aku menggeleng. Dia sudah meloloskan kargonya dan kini hanya dibalut boxer hitam berpinggang metalik, pendek dan ketat.

“Oke, aku yang mandi pertama.” Dia mengambil handuk yang telah disediakan pihak hotel dan menghilang ke dalam kamar mandi.

Kucuran air yang terdengar samar-samar sesaat kemudian membawaku pada khayalan muluk dan picisan yang tidak bisa kukendalikan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah orientasi seksualku yang tak biasa, aku terpikat dengan begitu kuatnya pada seseorang. Ini bahaya. Bagaimana jika aku tak bisa mengendalikan diriku seperti yang selama ini berhasil kulakukan? Jika aku tak bisa, kuharap cowok yang sedang mengguyur dirinya di dalam sana bisa membantuku dengan tidak menyuguhiku pemandangan yang meluluhkan iman dan menggoyahkan lutut lebih sering lagi.

*

Aku menolak makan menu hotel meski dia sangat bersikeras untuk memesan layanan langsung ke kamar. Dengan ancaman kalau aku akan keluar dan mencari wisma untuk kuinapi jika dia jadi memesan menu ke kamar, aku berhasil menyeretnya untuk makan malam di pinggir jalan.

“Apa itu bunyi gemuruh ombak?” dia bertanya ketika kami sudah duduk menghadap dua piring nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang di atasnya.

“Kuta,” jawabku singkat.

“Boleh aku memesan sate lilit?”

Topiknya berbelok jauh. “Bli, satenya seporsi!” aku berteriak pada mas-mas yang tadi membawakan piring kami.

“Kamu tidak mau nyoba?”

“Nyoba apa?”

“Surfing. Kuta cocok buat berselancar, kan?”

Topiknya benar-benar jungkir balik. “Butuh bakat professional untuk melakukan itu.”

“Oh, kukira cuma butuh keberanian doang. Kan kamu sudah cukup berani ya kabarnya…”

Aku tahu kalau dia sedang menyindirku.

*

Dengan alasan masih mabuk perjalanan, dia mengajakku kembali ke kamar hotel begitu kami selesai makan. Padahal arlojiku baru menunjukkan pukul 21.11 WITA.

Begitu tiba, dia langsung masuk kamar mandi dan lima menit kemudian keluar sambil memamerkan deretan gigi putihnya padaku dibarengi cengiran lebar. “Bebas sisa sate,” ujarnya padaku yang kurespon dengan mengangkat alis. “Omong-omong, terima kasih sudah membayariku makan malam, itu tadi sangat menyenangkan.”

Kuabaikan dia dan langsung menuju kamar mandi untuk cuci muka juga membersihkan gigiku. Ketika keluar beberapa menit kemudian kudapati kalau penerangan di dalam kamar sudah berubah redup. Bukan itu saja kejutan yang kudapatkan. Lima langkah di depanku, di tepi ranjang, teman sekamarku duduk tegak sambil menatapku, hanya dengan boxer ketat yang sudah pernah kulihat sebelumnya. Aku terpantek di depan kamar mandi. Tidak bisa meneruskan langkah. Tidak mampu mengeluarkan suara. Sikap duduknya, seakan sengaja menungguku.

Dia menepuk sisi ranjang di sebelah kanannya, seakan memintaku untuk menghampirinya. “Tidak ingin tidur?”

Mengapa dia harus berbicara selirih itu kini?

Aku tegak bergeming di tempatku.

Menungguku yang tak juga mendekat, dia berdiri dan meninggalkan ranjang dengan langkah lebar namun perlahan. Sekarang kami berhadap-hadapan, terpisah satu langkah saja.

“Kamu takut padaku?”

Napasnya menghangati kulit wajahku. Samar-samar aku dapat membaui aroma colognenya yang lembut.

“Kamu takut aku akan menyakitimu?”

Suaranya makin pelan saja.

“Aku…” Hanya kata itu saja.

“Tak apa… aku tidak akan berani menyakiti makhluk Tuhan semanis kamu…”

Aku ingin mundur, menjauhkan bibirku dari jangkauan jemarinya, atau berlindung di balik dinding kamar mandi, tapi aku tak sanggup melakukan satu pun dari tiga hal itu, bahkan untuk memalingkan wajah saja tidak sanggup.

Ibu jarinya kini di atas bibirku. Menyusur pelan dan lembut seperti embun yang bergulir di atas daun keladi. Antara sadar dan tidak, bibirku merenggang. Di dasar hati, aku tak ingin dia menjauhkan jemarinya.

 

Di bawah sentuhannya,

ada hasrat yang mendobrak keluar

Di bawah sentuhannya,

ada pikat yang memancar bagai suar

 

Tepat ketika ibu jarinya cerai dari mulutku, penggantinya sungguh melambungkan dan memabukkan. Kunikmati tekstur bibirnya yang kenyal dan lembut menekan di atas bibirku dalam gerakan perlahan dan tidak terburu-buru, seakan dia punya seribu tahun untuk melakukan satu pekerjaan itu saja.

Sialan. Dari mana dia belajar cara mencium seperti ini?

Aku lumer bersama sentuhan pertama punggung tangannya di kulit perutku. Entah kapan sebelah tangannya menelusup ke bawah kausku, ciumannya menumpulkan kesadaranku. Rasanya seperti aku baru saja dicokok begitu banyak butir extasy. Aku mengawang-awang.

 

Beginikah surga itu?

Beginikah rasanya surga terlarang yang dibicarakan mereka?

Beginikah indahnya dosa yang ditakuti itu?

Hukum aku Tuhan,

karena aku pendosa yang tengah kepayang

Bakar aku dalam api-Mu,

karena telah salah mengenali neraka sebagai surga

 

Gigitan lembutnya di bibirku, berbarengan dengan gerakan tangannya yang membalik di atas permukaan perutku, membuatku membuka mata. Aku menghentikan gerakan telapak tangannya yang mengusap searah jarum jam di atas perutku dengan meremas bagian kaus di mana tangannya berada di bawahnya. Ragu-ragu, kumundurkan kepalaku beberapa senti.

Kami bertatatapan.

“Aku bahkan belum tahu namamu…” Aku berhasil untuk tidak terbata.

“Sakti.” Dia berbisik sambil satu tangannya yang bebas bergerak membelit pinggangku. Aku tak berusaha mencegah. “KTP-ku ada dalam mini bag jika kamu ingin lihat.”

Hening sejenak. Kami masih bertatapan, tidak ada yang bergerak. Semenit kemudian dia menarik pinggangku untuk merapat padanya. Lagi, aku enggan melawan. Organ pribadinya menabrak isi celanaku.

Sesaat sebelum dia kembali mendaratkan bibirnya untuk memberiku ciuman berikutnya, entah mendapat kesadaran dari mana, aku berhasil mendorong dadanya. Dia terhuyung ke belakang.

“Aku harus pergi!” aku bergerak untuk mengambil carrierku.

Dilemma. Itu yang sedang kualami kini. Ragu antara mempertahankan apa yang sudah berhasil kukendalikan selama ini atau membiarkan diriku takluk dengan pesona makhluk Tuhan di depanku ini. Demi setan, pesonanya begitu kuat.

“Hei!” dia berhasil menangkap tanganku lebih dulu sebelum tali carrier berhasil kuraih. Kami kembali berhadapan.

Ya Tuhan, aku bisa hancur berkeping-keping. Mengapa cowok bernama Sakti whatever ini begitu memikat?

“Apa aku terlalu memaksa?”

“Sakti, aku harus…”

“Shhh…” Telunjuknya menempeli bibirku dan wajahnya kembali mendekat. “Aku akan berhenti. Aku tak akan mengganggumu, tapi tolong, jangan pergi.” Dia menjauhkan telunjuknya.

Aku diam beberapa lama, mencari kesungguhan dalam sorot matanya. “Apa jaminannya?”

Dia menggeleng. “Tak ada.” Dia mundur teratur. “Aku hanya bisa menjanjikan, gak akan memulai.” Kemudian, setelah menatapku beberapa saat seolah berusaha meyakinkan dirinya kalau aku tak akan pergi, dia naik ke ranjang dan rebah telentang. “Goodnite, Stranger…”

Aku berdiri diam dengan dada masih bergemuruh hampir lima menit lamanya sebelum kuputuskan untuk ikut tidur. Kurebahkan diriku di sebelah kanannya. Lalu hening. Hanya bunyi detak jarum jam saja yang mendominasi ruang dengar. Rasanya aku tak mengantuk sama sekali. Di sebelahku, aku tahu kalau Sakti juga masih terjaga di balik pejam matanya.

“Lagian, kamu mau ke mana malam-malam buta seperti ini kalau tadi beneran nekat pergi?”

Kutolehkan kepalaku ke kanan ketika kudengar pertanyaannya yang tiba-tiba. Bukankah tadi dia sudah bilang ‘goodnite’? Kutemukan dia juga sedang menolehkan kepalanya padaku. Tatapannya sayu, apa dia kecewa karena penolakanku tadi?

“Entahlah, katanya Bali selalu ramai. Siang dan malam di sini bisa jadi sama.”

“Kamu mau tahu kenapa aku berani merebut kursi penumpang lain di penerbangan pertamaku?” percakapannya berbelok jauh.

“Setidaknya aku bisa menebak alasannya.”

“Apa?”

“Karena kamu lebih suka duduk dekat cowok ketimbang dekat cewek. Aku cowok, dan si mbak yang kamu fitnah itu cewek.” Aku menjawab blak-blakan.

Dia tertawa pendek. “Karena aku terpikat dengan sosokmu sejak pertama kali melihat. Kamu tidak sadar kalau aku sudah memerhatikanmu sejak di ruang tunggu keberangkatan?”

“Kalau aku sadar ada seleb yang memerhatikanku, bisa jadi sudah sejak di ruang tunggu aku heboh ingin minta tanda tangan.”

Dia terbahak, “Aku tak habis pikir bagaimana kamu bisa melihatku seperti itu. Mirip artis, ya ampun, lingkunganku saja tak ada yang bilang begitu.”

“Mungkin karena cara pandang mereka beda dengan caraku memandang.”

“Bukan, yang benarnya, kamu rabun dan mereka tidak.” Dia mengulet lalu mengganti posisi tidurnya jadi telungkup dengan wajah masih menghadapku. Sungguh, dia laki-laki terseksi yang pernah kulihat sepanjang hidupku. “Bisa minta tolong tarik selimutnya?” lalu dia memejamkan matanya.

Aku bangun dan menjangkau ujung lipatan kain tebal di bawah betisku. Dia menyurukkan tungkainya ke bawah selimut. Ketika tanganku meratakan kain tebal itu kepunggungnya, dan jemariku bersentuhan dengan kulit lengan atasnya, aku kembali meragu. Kejadian sesaat tadi membuatku bimbang.

“Shit, persetan dengan janjiku!”

Dan detik itu juga dia menarik lenganku sekaligus membalikkan badannya. Tarikan Sakti membuatku hampir seutuhnya berada di atasnya. Tanpa sanggup kutolak, bibirnya kembali mencumbuiku, lebih agresif kini. Satu tangannya membelit pinggangku sementara tangan yang satunya menekan tengkukku agar tidak menjauh. Faktanya, tanpa dia menekan pun, aku sudah tak punya kekuatan untuk menjauhkan diriku darinya. Yang bersisa dariku adalah keinginan, untuk lebur ke dalam hangatnya.

Sakti mengangkat pinggangku untuk berada tepat di atasnya, aku membantu usahanya dengan bergerak sendiri mengangkangi pinggangnya. Boxer hitam miliknya kududuki tepat. Selimut bergulung-gulung tak karuan sudah. Aku merunduk dan menyambar bibirnya, ciuman pertama dariku untuknya. Jika tadi dia yang punya inisiatif menciumku, maka sekarang kebalikannya, aku yang kegatalan mengulum-ngulum bibirnya.

Tangan kiri Sakti menarik kausku, dan aku paham isyaratnya. Kulerai pagutanku pada bibirnya dan kutarik lepas kausku melewati kepala. Ketika kembali kurundukkan wajahku untuk melanjutkan ciumanku yang sempat terjeda, tangan Sakti sukses merajalela di atas kulitku. Aku tak menolak ketika tangan Sakti yang lain membimbing tanganku ke dadanya yang terbentuk bagus. Kuluruskan posisiku, tidak lagi mengangkangi pinggang Sakti, kini aku berada lurus di atasnya, pinggangku di antara kepitan pahanya. Dan sesuatu yang keras, yang berada di tengah-tengah tubuh Sakti seakan menusuk perutku. Aku mengangkat wajahku dan memandang ke bawah sana. Kutatap Sakti yang masih menjadi alas tidurku.

“Apa?”

Aku tersenyum menemukan ekspresi lugu yang dibuat-buatnya. Tak menjawab, tanganku yang berada di dadanya bergerak turun perlahan, berlama-lama sebentar di atas perutnya yang keras sebelum melanjutkan perjalanan dan hilang di balik pinggang metalik boxer hitamnya. Untuk sedetik, kurasakan Sakti terlonjak ketika aku berhasil menemukan bagian paling pribadi miliknya.

“Gak ada yang pernah ke situ sebelumnya, Stranger…”

“Aku gak yakin.”

Dia terkekeh, membuat semua bagian tubuhnya bergetar. “Terserah kamu, aku hanya berusaha jujur.”

Aku menyeringai padanya. “Katakan kalau kamu ingin aku membuka celanamu.”

“Tolong pelorotkan celanaku!” serunya tergesa-gesa.

Tanpa membantah, dengan kedua tangan aku menarik lepas boxer hitam berikut celana dalam milik Sakti. Cowok ini kini polos sepenuhnya. Dan kepolosannya membuatku takjub. Dia… sempurna sekali. Di bawah temaram lampu kamar, kulitnya bersih sewarna tanpa parut. Keadaannya yang kulihat pertama kali di toilet pesawat belum ada apa-apa dibandingkan dengan apa yang sedang kutemui saat ini. Sakti, cowok yang kusangka seleb, kini telanjang sepenuhnya, di atas ranjang, bersamaku.

Kami bertatapan. Sakti mengerjap satu kali sebelum kemudian memejamkan matanya, seolah sebagai tanda bahwa dia mengizinkan dan tak mau tahu apapun yang akan kuperbuat padanya. Aku ragu ketika kurundukkan kepalaku ke tengah tubuh Sakti.

Aku lupa diri.

Saat Sakti mendorongku untuk telentang dan balas membuka celanaku kemudian memposisikan dirinya setengah duduk di antara tungkaiku, aku sadar bahwa sudah jauh terlambat untuk kembali.

“Kamu membakarku, Stranger…,” gumamnya sambil memposisikan kedua tungkaiku untuk menindih pahanya kiri kanan.

Aku tak ingin menolak. Sakti melakukannya dengan kelembutan seorang kekasih yang takut melukai orang yang dicintai. Padahal, kami bukanlah kekasih, kami hanya dua orang asing yang sedang terjerat. Aku ingin berteriak, tapi Sakti tidak memberiku alasan untuk berteriak. Usahanya untuk membuatku menerima dengan sukarela apa yang sedang dilakoninya atasku benar-benar di luar bayanganku.

“Gigit saja bibirku bila kamu merasa sakit sedikit saja…”

Dan dia tak pernah menjauhkan bibirnya dari jangkauanku agar aku bisa menggigitinya jika dia menyakitiku.

“Tonjok perutku jika kamu merasa tak nyaman…”

Maka tanganku tak pernah lekang dari dekat pinggangnya.

“Apa kita bisa berpelukan, Stranger? Mungkin akan lebih nyaman jika aku memelukmu…”

Maka aku mengiyakan untuk duduk di pangkuannya, berhadap-hadapan. Dan dia memelukku sepanjang tarian, tidak membiarkanku jauh sedetikpun. Sampai keringat kami mengaliri kulit satu sama lain. Sampai aku menyiram perut Sakti dengan maniku, dan Sakti mendesah keras di telingaku.

Ternyata seperti ini bila dua lelaki mengalami orgasme di tempat dan saat yang sama.

*

11:31pm WITA

 

Kupandangi sosok yang sedang tertidur lelap di sisiku, yang dengannya aku baru saja bercinta untuk pertama kalinya sepanjang hidupku yang sudah jalan sembilan belas. Sungguh gila. Aku bahkan belum sehari mengenalnya. Benar-benar edan. Percakapanku dengannya sebelum dia memintaku untuk memeluknya menjelang tidur setelah babak seks kami selesai kembali terngiang.

 

‘Bagaimana jika aku tidak merebut tempat duduk cewek itu?’

‘Mungkin saat ini aku sedang berada di pantai, lelap dalam kantung tidurku.’

‘Apa kamu menyesal untuk apa yang sudah terjadi?’

‘Maksudmu, apa aku menyesal telah membiarkanmu menggagahiku?’

‘Ya, apa kamu menyesalinya?’

‘Kamu melanggar janjimu…’

‘Hei, janjiku yang mana yang kulanggar.’

‘Katamu, kamu gak akan memulai.’

‘Aku memang tidak memulai.’

‘Tidak memulai? Lalu siapa yang menarik lenganku hingga terjengkang ke atasmu? Siapa yang menyerang bibirku dengan beringas?’

‘Siapa yang menyentuh bisepku pertama kali?’

‘Menyentuh bisepmu kapan?’

‘Huh, jangan pura-pura lupa. Kamu pasti sengaja kan menyentuhku saat membentangkan selimut? Jangan salahkan aku jika kemudian tidak bisa menahan diri, kamu sudah memberi rangsang pertama kali sebelum diriku lupa diri!’

‘Hhh… aku gak percaya kalau aku baru saja menyerahkan diri secara sukarela untuk digagahi oleh cowok asing yang belum kukenal.’

‘Kamu sudah mengenalku, aku Sakti…’

‘Siapa yang bisa menjamin kalau itu bukan nama palsu?’

‘Aku kan sudah menawarkanmu melihat KTPku, siapa suruh gak lihat!’

 

Dan sekarang aku tersenyum sendiri mengingat betapa charmingnya dia ketika meminta kesediaanku untuk memeluknya sebelum memejamkan mata untuk tidur.

 

‘Apa kamu marah padaku, Stranger?’

‘Mengapa aku harus marah padamu, Stranger?’

‘Kalau tidak marah, mengapa tidur jauh dariku, Stranger?’

‘Mengapa aku harus tidur mepet padamu, Stranger?’

‘Biar kamu bisa memelukku jika nanti merasa dingin, Stranger.’

‘Terima kasih, selimut ini sudah cukup hangat, Stranger.’

‘Hhh… kenapa kamu tidak mengerti kalau sebenarnya aku ingin kamu memelukku sambil tidur, Stranger?’

‘Kenapa harus berbelit-belit dulu jika hanya ingin memintaku memelukmu, Stranger?’

‘Baiklah. Stranger, peluk aku!’

 

Aku menyibak selimut dan turun dari ranjang. Mataku sama sekali tidak mengantuk. Kupandangi celana pendekku yang teronggok di lantai. Setelah percintaan yang panas tadi selesai, aku hanya sempat memakai celana dalamku saja. Kembali kulirik Sakti yang sudah terlelap, aku bertanya-tanya mengapa dia bisa tidur semudah itu setelah melakukan sesuatu yang langka seperti yang tadi kami lakukan. Jika dia sama sepertiku, bahwa ini juga adalah pengalaman pertama baginya. Tidakkah itu membebani pikirannya? Karena aku sedang mimikirkan itu sekarang. Kalian mengerti maksudku? Melakukan seks untuk pertama kalinya dengan orang yang kita temui di perjalanan, sekali lagi, seks dengan orang yang belum kita kenal betul. Aku sendiri merasa jadi gigolo. Bertemu, nego tarif, check in tempat, bercinta, berpakaian lalu pergi. Meski dalam kasusku tidak ada yang namanya nego harga, dan aku masih berada di sini dengan bercelana dalam, tapi tetap saja aku merasa bagai seorang gigolo.

Tapi Sakti malah bisa tertidur dengan enaknya.

Tunggu. Siapa yang tahu kalau esok pagi cowok yang sedang lena di atas ranjang itu tidak akan pergi setelah memberiku sejumlah uang? Siapa bisa menjamin kalau Sakti bukan petualang cinta yang sedang bersandiwara demi mendapatkan apa yang dia mau? Bisa saja semua yang diutarakannya padaku adalah kebohongan belaka untuk meluluhkanku, menjebakku. Sakti bisa saja anak orang kaya yang sudah terbiasa menghamburkan uang demi menyalurkan kebutuhan biologisnya pada sesama jenis. Sakti bisa saja anak pejabat besar di Jakarta dan sudah sering bepergian jauh dari lingkungannya untuk mengincar mangsa, keluarganya pasti akan mendapat aib seandainya dia kepergok melakukan hobinya di lingkungan sekitarnya, maka dari itu dia berpergian. Sakti bisa saja memanipulasi karakter aslinya sepanjang perjalanan kami, agar aku percaya kalau dia anak rumahan yang butuh teman di tempat asing.

Tapi jika dia ingin pergi besok setelah membayarku, mengapa dia harus buang uang dengan menyewa kamar untuk tiga malam?

Hemm… bisa saja dia belum puas denganku satu malam saja. Seperti rayuannya padaku, ‘makhluk Tuhan semanis kamu…’ bisa saja diriku adalah tipe-tipe yang paling diminati Sakti hingga dia berani booking kamar sampai tiga malam demi bisa menyalurkan hasratnya habis-habisan padaku. Dan sikapnya sepanjang hari tadi benar-benar mendukung hipotesaku. Bagaimana cara dia memikatku, mulai dari sandiwaranya di atas pesawat, genggamannya pada tanganku saat pesawat lepas landas dengan dalih takut terbang, alasan sengaja mencuri seat, tidak bisa memasang safety belt, kopi yang tumpah, bertelanjang dada di toilet, dan juga bagaimana dia membuatku tak tega meninggalkannya di bandara. Selain itu semua, bukankah katanya dia juga sudah memerhatikanku sejak di ruang tunggu keberangkatan?

Ya Tuhan, bisa saja aku sedang berurusan dengan pembohong sekaligus pemain teater ulung, penipu serta pelakon drama kelas kakap yang sedang mengincar bokongku sejak awal.

Kamu bodoh, Sultan. Bodoh. Bagaimana kamu bisa diperdaya segampang ini? Dasar dungu!

Mendadak aku takut sendiri. Perasaan menyesal karena terlalu cepat dan mudah memercayai orang asing mulai menakutiku.

Kamu harus pergi sekarang, sebelum terlambat. Lekas, Sultan, pergi, sekarang juga!

Aku mendengar alarm di kepalaku berdering-dering nyaring. Ini yang pertama kalinya seumur hidupku aku diwarning sekeras ini oleh otakku.

Sangat diam, aku meraih celana pendekku dari lantai. Di atas ranjang, penipu itu menggumam samar, memaksaku diam tak bergerak untuk beberapa saat. Setelah berhasil memakai celana pendekku, aku berjingkat-jingkat ke pintu di mana pakaianku tergantung. Sial, rasa perih samar masih kurasakan di bagian belakangku. Sakti keparat.

Butuh waktu cukup lama sampai aku selesai memasang kait ikat pinggang setelah memakai kaus dan jinsku. Bunyi klik dari kepala ikat pinggang yang tidak bisa kucegah memaksaku kembali jadi patung sambil mengawasi ranjang.

Selesai. Yang harus kulakukan selanjutnya adalah mengambil carrierku yang teronggok berdampingan dengan carrier milik Sakti di lantai. Untung aku tidak memindahkan isi carrier ke dalam lemari saat pertama kali masuk kamar tadi. Semua bawaanku masih utuh di dalam carrier, demikian juga bawaan Sakti.

Rasa ingin tahu yang datang mendadak membuatku urung melanjutkan menyandang carrierku. Kupandang bergantian antara ranjang dan carrier lain di depanku.

“Mari kita lihat siapa kamu sebenarnya, Tuan Penipu…” Aku mengguman sendiri, sudah mantap menganggap bahwa orang yang baru saja merenggut keperjakaanku adalah seorang penipu.

Sangat pelan, aku mempreteli carrier Sakti, berharap menemukan dompetnya atau apapun itu tempat dia menyimpan identitasnya. Tapi sebelum itu kutemukan, aku lebih dulu dibuat kaget dengan isi carrier tersebut.

Semua baju, semua celana baik pendek atau panjang, semua boxer, semuanya, masih berlabel toko dan beraroma baru. Aku terkesiap untuk waktu yang lama. Ketika aku mengubek-ubek isi carrier lebih dalam lagi, aku bahkan menemukan tiga boks celana dalam, tentu saja bermerek dan tentu saja juga pasti baru dibeli. Ada apa sebenarnya di sini? Mengapa Sakti membekali dirinya dengan barang yang serba baru?

Ini aneh. Sekaya apapun orang, sangat jarang ada yang membawa baju yang serba baru ketika bepergian, jika pun ada, pasti mereka tidak akan membawa serta label toko dan price tagnya dan tidak mungkin semuanya baru, pasti ada yang bukan baru, setidaknya celana dalam. Tapi Sakti, semua baru sampai ke celana dalam yang bahkan belum dikeluarkan dari kotaknya.

Aku masih belum menemukan apa yang ingin kutemukan. Ketika tanganku masuk lebih dalam menuju dasar carrier, jemariku serasa meraba lembaran-lembaran kertas sebelum sampai ke sana. Kutarik tanganku keluar dan kembali kaget. Di tanganku kini tergenggam segepok uang lembaran seratus ribuan yang menguarkan aroma bank. Aku gemetar karena seumur usia belum pernah memegang uang sebanyak itu. Dari apa yang telah tersentuh jemariku tadi, aku berani memastikan kalau ini bukan satu-satunya gepok uang yang ada dalam carrier milik Sakti.

Untuk sesaat aku mencoba menyambung-nyambungkan semua hal mengejutkan yang baru saja kutemukan dengan pradugaku terhadap Sakti yang sedang melakukan sandiwara terhadapku. Tapi hingga keningku berpeluh, aku tidak bisa memperoleh satu pun skenario yang masuk akal.

Di atas ranjang, Sakti menggumam dan mengganti posisi tidurnya, sebelah tangannya menggapai-gapai ke sisi tempat tidur yang telah kutinggalkan. Aku menegang di tempatku, khawatir dia akan membuka mata karena gapaiannya tidak menemukan apapun. Tapi sesaat kemudian tangan itu berhenti bergerak dan dengkur halus kembali terdengar.

Persetan dengan identitas Sakti, aku harus pergi sekarang karena situasi ini semakin membingungkan. Anak semuda Sakti punya banyak uang di dalam tasnya dan barang-barangnya serba baru. Kuanggap keadaan ini sebagai marabahaya yang harus dijauhi. Bukan mustahil dia baru saja membunuh dan merampok nasabah bank yang baru melakukan penarikan uang lalu setelah itu melarikan diri kemari. Bisa saja sekarang polisi sedang mengusut kasusnya. Ikut ditangkap dan didakwa sebagai penjahat karena kebetulan berada bersama buronan adalah kengerian yang tidak dapat kubayangkan.

Buru-buru kembali kumasukkan uang itu ke dalam carrier, tapi sebelum tanganku mencapai tempatnya, sebuah pikiran untuk balas dendam terlintas begitu saja.

Ya, dia telah menggagahimu, tidak ada salahnya kamu juga memberinya sedikit masalah. Lagipula, ini hakmu, Sultan, dia sudah menidurimu, menodai keperjakaanmu. Bukankah kabarnya virginitas itu sangat mahal harganya?

Kembali kukeluarkan tanganku. Dengan mantap kutarik sepertiga bagian dari dalam gepok uang itu dan sekuat tenaga berusaha kurobek dua. Berhasil. Kutarik sepertiga bagian berikutnya dan kulakukan hal yang sama. Berhasil lagi. Apakah cukup itu? tidak, keperjakaanku tidak semurah itu. Kurobek sepertiga bagian terakhir dan semua robekan itu kejejalkan kembali ke dalam carrier, tidak di dasarnya, langsung di bagian paling atas. Aku puas.

Bagus. Sekarang pergi!

Aku memandang ke ranjang dan sekilas mataku menangkap tali mini bag yang menjuntai dari atas buffet. Mini bag milik Sakti, menggeletak di dekat lampu tidur. Bodoh, bukankah tadinya dia sudah bilang kalau KTPnya ada dalam mini bag? Pantas saja aku tidak menemukannya di dalam carrier.

Ah, sudahlah. Ini bukan lagi masalahku. Aku sudah selesai di sini. Aku dan Sakti sudah impas. Toh jika pemikiranku benar, tentu tidak lama lagi dia akan masuk bui.

Kusandang carrierku lalu menyelinap ke pintu tanpa suara.

***

Tuhan,

aku akan sangat berterima kasih pada-Mu

jika di masa mendatang,

Kau tidak membiarkan jalanku dan jalan penipu itu

bersilangan sekali lagi…

 

THREE DAYS LATER, Kuta Beach, 04:14pm WITA

 

“Can you?”

Seorang turis Asia membuyarkan kekhusyukanku menikmati pemandangan ombak kuta yang menggulung para peselancar di kejauhan sana dengan menyodorkan kamera digitalnya padaku. Hari gini masih nyuruh orang buat motret-in kita di tempat wisata? Apa yang terjadi dengan tripod dan tongsis mereka?

Indonesia terkenal dengan keramah-tamahan penduduknya, Sultan. Jangan kamu berani merusak image negerimu yang satu itu.

Aku tersenyum pada si turis, “Sure…” kuterima kamera dari tangannya dan dia segera menghampiri pasangannya―yang kuperkirakan istrinya―yang sudah siap sedia di pecahan ombak sambil menahan topi lebarnya dari tiupan angin dengan sebelah tangan dan tangan yang lain memegangi kain tipis yang membalut bagian pinggangnya ke bawah, juga menahannya dari disibak angin. Kebanyakan turis Asia memang selalu lebih punya malu ketimbang turis barat yang dengan tenangnya hanya berbikini ria.

Aku mengabadikan pasangan itu dari beberapa sudut, meminta mereka berganti gaya tiap sekali jepret.

“Nice.” Si wanita berujar ceria ketika aku memperlihatkan hasil bidikanku pada mereka.

“Arigatou gozaimassu.” Suaminya membungkukkan badan sedikit ketika menerima kameranya kembali dari tanganku, “terima kasih,” sambungnya dalam bahasa Indonesia dengan aksen yang sangat Jepang sekali.

Aku tersenyum lebar, “Sama-sama,” jawabku. “Salam buat Naruto saat sudah kembali ke Jepang nanti.”

Entah mengerti atau tidak dengan kalimatku, mereka berdua kompak tertawa lalu membungkuk sekali lagi sebelum berjalan pergi.

Aku menghela napas lalu kembali menjatuhkan diriku di pasir kuta. Celana pendekku sudah dilengketi pasir di beberapa bagian, kulit lengan dan pundakku sepertinya juga sedikit menggelap, aku hanya memakai kaus singlet sebagai atasanku. Meski demikian, aku masih terlalu enggan untuk menceraikan diriku dari pasir Kuta dan kembali ke losmen tempat aku meninggalkan carrierku tengah hari tadi. Entah apa yang kuharapkan kutemukan lagi di sini. Awalnya, kukira aku sudah cukup bahagia bisa menikmati pemandangan Kuta, bersentuhan dengan lidah ombaknya, berbaring di atas pasirnya yang indah, melihat keganasan ombaknya, melihat papan-papan selancar bergerak menakjubkan di bawah pijakan kaki turis-turis bernyali besar dengan gelombang bergulung di belakang mereka. Tapi ternyata tidak.

Semua hal yang sudah kurasa dan kulihat itu belum juga membuatku puas dan terpenuhi. Ada yang masih kosong di dadaku, ada hal lain yang kuharap bisa melengkapi dan menutupi rongga kosong itu, membuatku terpenuhi atas segala ingin.

“Sakti…” Tanpa sadar bibirku malah sudah melirihkan nama itu.

Angin pantai bertiup sedikit lebih keras, meriapkan rambut dan kaus singletku. Aku meresapi angin sambil memejamkan mata. “Sakti…” Kali ini aku benar-benar dengan sadarnya menyebut nama itu. “Sakti…”

“Aku di sini, Stranger…”

Demikian mendambanyakah aku pada penipu itu hingga logikaku terkalahkan dan inderaku mempermainkanku? Ya, indera pendengarku mempermainkanku, karena aku sepertinya baru saja mendengar Sakti meresponku yang membisikkan namanya. Enggan menurutkan permainan indera dengarku, kurebahkan diriku untuk lurus di atas pasir tanpa mau repot-repot membuka mata. Tapi sebelum badanku lurus seratus delapan puluh derajat, pada kemiringan sudut tumpul kepalaku lebih dulu menabrak sesuatu, diikuti punggungku kemudian.

Aku sontak membuka mata dan sebelah lengan entah milik siapa langsung membelit pinggangku. Yang kusadari selanjutnya adalah, aku sedang dipeluk seseorang dari belakang dalam posisi bersandar. Aku kenal arloji sport yang melingkar di pergelangan tangan orang yang sedang membelit pinggangku. Ketika kudongakkan kepalaku, kutemukan Sakti tersenyum cerah.

Seharusnya aku menyikut rusuknya, atau melemparkan segenggam pasir ke matanya yang gelap itu, atau menendang tulang keringnya, lalu segera melarikan diri. Tapi yang terjadi malah aku kembali memandang lurus ke pantai, bersandar pada Sakti.

“Mengapa kamu setenang ini?”

“Kupikir, ini hanya mimpi, jadi buat apa aku harus bereaksi berlebihan?”

Dia terkekeh, “Aku menunggumu di Kuta sudah tiga hari ini, kemana saja?”

“Menghindari penjahat.”

Dia kembali terkekeh. “Aku melakban uangku yang kamu robek, sayang kalau dibuang.”

“Itu uangku, harga keperjakaanku.”

Sepertinya saat ini dia sedang gembira, tawanya kembali kedengaran. “Kupikir, aku tidak akan menemukanmu lagi. Tahukah, aku berjaga di pantai Kuta hingga larut malam sudah tiga hari ini. Aku yakin kamu pasti kemari suatu saat, karena pada hari kedatangan kita, kamu belum melihat Kuta. Aku tidak mau kecolongan saat kamu datang. Sesaat tadi aku nyaris putus asa dan pergi mencarimu ke lain tempat di Bali ini, tapi lihat… kita berjodoh.”

Aku melerai belitan tangan Sakti dan menggeser dudukku lebih ke depan. “Siapa kamu, yang sebenarnya?”

“Kuta begitu luas, kakiku gempor berjalan ke sana kemari selama tiga hari ini, mencari-cari sosokmu di antara bejibun orang. Kamu gak kasihan padaku, Stranger?” dia sengaja mengabaikan pertanyaanku. “Kemana saja kamu selama ini?”

“Kemanapun asal tidak bertahan di dekat penjahat!”

“Sudah dua kali kamu menyebut penjahat, siapa sih yang kamu maksudkan?”

“Kamu, siapa lain? I Made In Bali yang tidak tahu apa-apa?” aku menjawab ketus dan asal.

“Aku penjahat karena telah menidurimu?”

“Kamu perampok, mungkin juga sudah membunuh sebelumnya lalu melarikan diri kemari…”

“Analisa tuduhanmu apa? Uang dalam carrierku yang sempat kamu robek sebagiannya, pakaianku yang kamu ubek-ubek tanpa izin atau mini bagku yang kamu preteli. Lihat, bukankah di antara kita berdua yang lebih pantas disebut penjahat itu kamu, karena sudah mengobrak-abrik barang orang lain tanpa permisi.”

“Aku tidak mempreteli mini bagmu.”

“Aku gak percaya.”

“Terserah kalau kamu gak percaya, aku gak rugi apa-apa.”

Dia menatapku, tepat di mata, seperti mencari kebenaran ucapanku. “Hemm… kalau kamu menganggapku perampok bahkan pembunuh, mengapa tadi kamu gak lari saja?”

“Eng… itu… itu…” aku menghindari pandangannya, “itu karena… itu…” aku kebingungan memilih jawaban.

“Sudahlah, aku sudah tahu.” Dia bangun dari duduknya, membersihkan pasir dari celana kargonya lalu menarikku untuk ikut berdiri. “Ayo, sudah saatnya kita lebih mengenal satu sama lain.”

Kami berjalan menyusuri tepian ombak, Sakti berjalan di sebelah kananku. Sesekali aku menolehnya yang berjalan tenang dengan pandangan lurus ke depan. Hingga belasan meter kami berjalan, dia belum juga membuka suara.

“Ehem… seingatku, tadi ada yang bilang ingin lebih mengenal satu sama lain…”

“Aku kabur dari rumah.”

Langkahku sontak terhenti. “Kamu, kabur dari rumah?” Oh my gosh, siapa sangka kalau tebakan asalku ketika kami tiba di Ngurah Rai benar adanya?

Sakti meraih tanganku untuk terus berjalan. “Aku kabur dari rumah setelah membobol brankas papaku…” Oh my gosh, again! Aku benar-benar menebak benar. Pantas saja saat itu dia terpana lama.

“Ya ampun…” Aku menjambak rambutku sendiri dengan kedua tangan sekaligus, mengekspresikan ketidakpercayaanku.

“Habisnya aku kesel. Aku bukan lagi anak TK, tapi mereka memperlakukanku kayak balita yang kemana-mana kudu diawasi, gak boleh begini gak boleh begitu, aku stress jadi anak rumahan terus. Bahkan di musim liburan seperti ini. Seharusnya, kalau mereka melarangku melanglang buana sendiri, mereka bisa pergi membawaku jalan-jalan jauh, mereka punya lebih dari cukup uang untuk melakukan itu. Tapi selalu saja, pekerjaan terlalu nomor wahid yang sayang bila ditinggalkan. Kamu bisa membayangkan seperti apa duniaku? Putra mahkota kerajaan Inggris saja hidupnya tidak semonoton hidupku.”

“Kamu anak tunggal?”

Dia melirikku sekilas, “Anak tunggal juga gak mesti diperlakukan sepossesif itu, kan? Anak tunggal juga butuh mengenal dunia luar. Tapi papa mamaku sudah kelewatan, kepatuhanku selama ini bikin mereka tambah ngelunjak, makin menjadi-jadi memperlakukanku selayaknya anak kecil. Aku sudah bosan dijuluki anak mami terus selama ini.”

“Dan karena itu kamu nekat kabur kemari?”

“Tadinya kupikir, aku akan menghabiskan uang Papa di Jakarta saja, senang-senang dengan beberapa teman, tapi ketika sudah di dalam taksi, aku punya pemikiran brilian untuk memberi papa mamaku pelajaran. Saat ini pasti mereka sedang cemas tingkat dewa memikirkanku.” Sakti menyeringai, “Ubun-ubun Papa pasti langsung mendidih ketika memeriksa brankasnya, dan Mama mungkin sempat pingsan.”

“Jadi, kepergianmu kemari tidak terencana?”

Dia menggeleng.

“Sebab itulah isi carriermu baru semua?”

“Carriernya sendiri juga baru. Bahkan pakaianku saat dalam pesawat, itu semua baru. Pakaian lamaku kutinggalkan dalam tong sampah di toilet Soetta.”

“Wow.”

Sakti menyeringai padaku, “Aku hebat, kan?”

“Terus, mereka tidak berusaha menghubungimu?”

“Aku ganti simcard begitu sudah keluar dari rumah.” Sakti tertawa, “semoga Mama tidak terkena serangan jantung.”

“Mereka pasti sudah melaporkan kehilanganmu ke polisi, kan sudah lebih dua puluh empat jam.”

“Paling yang sibuk juga polisi Jakarta, aku tidak sedang di Jakarta untuk bisa mereka temukan.”

“Bisa jadi polisi di sana sudah berkoordinasi dengan kepolisian di wilayah lain, mungkin besok koran lokal di Bali ada yang memuat fotomu.”

Sakti tertawa. “Biarkan saja.” Lalu mendadak dia berhenti berjalan dan menghadapku. Untuk beberapa saat, aku kikuk dipandang selekat itu olehnya. “Aku senang menemukanmu kembali, Stranger.”

“Sultan, namaku Sultan. Bisa berhenti memanggilku orang asing?”

“Stranger, aku senang menemukanmu lagi.” Dia sengaja tak menggubris.

“Aku biasa aja tuh ketemu kamu lagi.”

“Oh ya? Siapa ya tadi yang tidak menolak kupeluk? Siapa ya tadi yang keenakan nyender di dadaku gak bangun-bangun?”

Mukaku memerah. “Itu bukan berarti aku senang berjumpa kamu lagi.”

“Lalu apa artinya itu?”

Sialan Sakti. Mengapa dia pandai sekali memojokkanku? “Walau bagaimanapun, aku masih belum mengenalmu…”

“Yah, itu lagi.” Dia mengeluarkan dompetnya. “Nih, biar kamu gak mikir sepanjang hari kemarin-kemarin dan hari ini aku bohong terus.”

Tangannya menggantung selama beberapa detik sebelum aku menerima dompetnya. Aku menemukan e-KTP yang menampilkan senyum simpul menawan miliknya, Kartu Tanda Mahasiswa yang memberi tahu kalau kami tidak se-universitas, kartu ATM yang dikeluarkan sebuah bank besar, kartu BRANTAS yang menegaskan kalau dia bebas narkoba, dan berlembar-lembar uang seratus ribuan dalam keadaan terlakban di pertengahan. Aku merasa berdosa padanya ketika melihat uang itu.

“Emm… namamu bagus.”

“Apa bagusnya punya nama Saktiya Phibeta?”

Aku tak menjawab, “Maaf karena telah merobek uangmu.”

“Secara teknis itu uang papaku, mungkin lebih tepat sasaran jika kamu minta maaf padanya.”

“Ah, toh uang ini juga tak lama lagi akan habis, kan?”

Sakti tertawa, “Aku make yang terlakban dulu, untung gak ada penjual yang protes dengan lakbannya.”

Kukembalikan dompet ke tangannya. Sakti menerima tanpa berkata-kata. “Aku merasa malu pada diriku sendiri karena telah berburuk sangka padamu.”

“Sudahlah, jangan bahas itu lagi.” Sakti menarik tanganku dan sesaat kemudian kami sudah kembali duduk bersisian di pasir, menghadap langit yang sudah mulai merah di arah barat. “Jadi, kenapa kamu diam-diam menyelinap pergi malam itu?”

“Katanya jangan bahas lagi.”

“Tidak, ini topiknya lain, dan harus dibahas.”

“Kan aku sudah bilang, kukira kamu penjahat yang harus dijauhi. Kukira, semua sikapmu adalah sandiwara. Kukira kamu…” Aku menelan ludah.

“Kamu kira aku apa lagi?”

“Kukira, kamu hanya ingin meniduriku lalu setelah puas pasti bakal pergi.”

“Apa aku pergi setelah kita bercinta?”

“Kamu tidur!”

“Berarti aku tidak pergi, kan? Justru kamu yang pergi.”

“Bagaimana kamu bisa tidur pulas sedang baru beberapa menit sebelumnya kamu melakukan seks dengan orang asing, untuk yang pertama kalinya. Kamu tahu, aku sama sekali tak bisa tidur memikirkan hal itu.”

Sakti diam menatapku, “Bagiku, kamu bukan orang asing… bahkan sudah sejak kita bicara pertama kali…”

Aku berdecak, “Bukan saatnya untuk beromantis…”

Dia tersenyum lalu kembali menatap ufuk barat. “Malam itu aku capek, energiku habis, masih jet lag juga, jadi sangat mudah untuk tertidur.”

“Aku juga capek, energiku juga habis, dan aku juga bukan baru turun dari becak, tapi aku tidak tertidur semudah dan sepulas kamu.” Aku menolehnya. “Itu bukan pengalaman pertamamu, kan?”

“Sumpah disambar gledek, itu first timeku!” Sakti menatapku, kesungguhan terpancar dari sorot matanya.

Aku menghindari tatapannya dan kembali menikmati matahari keemasan di depanku.

Beberapa menit kemudian Sakti menggeser duduknya lebih rapat denganku. “Mengapa malam itu kamu tidak menolak saat aku mencoba menciummu untuk kedua kalinya di atas tempat tidur?”

Aku diam, mukaku merona.

“Stranger, ayolah… apa yang membuatmu menerimaku malam itu?

Aku tetap diam.

“Hemm… baiklah, untuk satu kali tonjokan, maukah kamu memberitahuku mengapa malam itu kamu tak menolak?”

“Tonjokan?”

“Ya, kamu boleh menonjokku sekuat tenaga kalau mau jujur menjawabku.”

“Janji?”

Sakti mengangkat dua jarinya.

“Karena aku berhasil diperdaya setan.” Aku bersiap menonjoknya.

Sakti menangkap tanganku dan digenggamnya. “Bukan jawaban jujur.”

“Baiklah. Ehem. Karena… aku ingin.”

“Itu saja?”

Aku mengangguk, “Karena aku ingin melakukannya denganmu. Itu saja.”

Sakti menggaruk kepalanya, “Iya, tapi kenapa kamu ingin melakukannya denganku? Tentu ada alasannya, kan?”

Hhh, apa aku harus blak-blakan sama anak ini? “Baiklah, aku akan jujur. Sosokmu merangsangku, membuatku bernafsu. Tuh!”

Sakti memamerkan senyum dikulum. “Itu lebih masuk akal.” Dia melepaskan tanganku. “Silakan…”

“Dengan senang hati.”

PAMM

“SHIT…!!!” Sakti membekap rahangnya. “KENAPA DI MUKA…!!!” dia berteriak, “SAKIT TAU!!!”

Aku membeliak, “Salahmu gak ngasih tau di mana, kukira di muka.”

Geraham Sakti bergemelutukan, aku jadi merasa tak enak. “Sakit ya?” kuberanikan diriku untuk memeriksa wajahnya, tapi sebelum jemariku berhasil menyentuh kulitnya, dia menepis tanganku kasar. Sepertinya dia sungguh-sungguh marah. “Maaf…”

Permintaan maafku tak diresponnya. Ketika dia memindahkan tangannya beberapa saat kemudian, kutemukan rahangnya sedikit merah di bagian dimakan tonjokkanku. Aku makin merasa tak enak.

“Hemm… untuk satu kali ciuman, maukah kamu memaafkanku?”

Aku langsung mendapat perhatian Sakti. “Janji?”

Aku mengangguk mantap.

“Baik, aku memaafkanmu.” Sakti langsung mendekatkan wajahnya.

“Hei… hei… kamu mau ngapain?” aku memundurkan kepalaku.

“Menciummu, kan?”

“Bukan di bibir!” kutemukan kening Sakti bertaut, aku tersenyum jahil, “nih, di sini…” kuangkat sebelah lenganku untuk memamerkan ketiakku padanya.

“Sialan!” Sakti bersungut-sungut dan kembali duduk lurus dengan tampang cemberut.

Aku menyentuh pipinya yang kutonjok beberapa saat lalu. “Maaf ya…”

Sakti tak menjawab, sebaliknya dia mengangkat satu tangan dan beberapa saat kemudian kami sudah duduk saling merangkul bahu. Ketika air laut sudah keemasan sepenuhnya, kusandarkan kepalaku pada bisep Sakti.

Ternyata, sunset di Pantai Kuta adalah hal selanjutnya yang ingin kulihat. Dan dengan adanya Sakti di sisiku, segala yang ingin kulihat dan kurasa di Kuta terpenuhi sudah.

 

Kita di bawah simbahan matahari keemasan

Bersisian bagai sepasang sepatu

Kita di antara hembus sejuk angin senja

Bercengkerama bagai dua ekor camar belajar terbang

Mungkin kita sama-sama canggung

Menyentuh damba satu sama lain

Bisa jadi kita sama-sama malu berkata

‘aku jatuh cinta…’

Terima kasih, Tuhan

Untuk tidak mengabulkan pintaku

Terima kasih, Tuhan

Untuk tidak membuat jalanku dan jalannya tidak bersilangan lagi…

*

Kembali sekamar. Aku tak jadi menginap di wisma seperti yang kurencanakan tadi siang sepulang dari Tanah Lot, Sakti tak mengijinkanku. Setelah matahari benar-benar terjun ke dalam laut, dia mengikutiku ke wisma dan langsung mengeluarkan carrierku dari kamar. Maka di sinilah aku sekarang, dalam dekap hangatnya. Sekali lagi.

“Sakti…”

“Hemm…”

“Apa yang akan terjadi saat ini berakhir?”

Kurasakan napas Sakti menghembus rambut-rambut di puncak kepalaku. “Maksudnya?” rangkulan lengannya di pinggangku mengetat, merapatkan semua sisi depan tubuhku dengan bagian depan tubuhnya. Di bawah selimut, kami polos sepenuhnya.

“Kita tidak selamanya liburan di Bali, kan?”

“Uangku cukup buat kita liburan beberapa minggu.”

“Uang papamu,” ralatku.

“Ya, uang papaku. Jumlahnya cukup untuk memperpanjang liburan kita.”

“Saktiya Phibeta, jangan kekanakan!”

Sakti bergerak menindihku.

“Ya ampun, lagi?” aku memutar bola mata ketika Sakti dengan sengaja memposisikan selangkangannya tepat di atas area pribadiku.

Dia menyeringai. “Apanyaku yang kekanakan, Sultan Arraniry?” tanyanya merespon kalimatku sebelumnya.

“Sikapmu.”

“Sikapku yang mana?” sebelah tangannya masuk ke bawah tengkukku.

“Sikapmu yang berniat nambahin liburan, itu tidak dewasa sama sekali.”

“Kenapa?” wajahnya merapat.

“Karena itu ciri khas anak kecil banget yang sedang lari dari masalah. Bukankah katamu kamu bosan dianggap anak kecil terus?”

“Aku sedang tidak punya masalah.”

“Oh ya?”

Cup

Sakti sukses mengecup bibirku satu kali.

“Sakti, aku sedang serius!”

“Hemm… saat kita selesai liburan, aku akan minta Papa buat mindahin kampusku, biar sekampus sama kamu, jadi Stranger tak perlu kuatir, kita akan sama-sama terus,” jawabnya enteng lalu menyurukkan wajahnya ke leherku.

“Bagaimana kalau papamu tidak setuju?”

“Dia harus setuju kalau tidak mau aku kabur lagi dari rumah.”

“Oh, dewasalah.”

“Aku sudah dewasa, bukankah kamu sudah melihat bukti kedewasaanku beberapa menit lalu?”

Sialan.

***

SOETTA, 05:15pm WIB

 

Laki-laki muda yang dikawal dua orang pria berpenampilan seperti bodyguard itu berjalan tak bersemangat. Di depannya, sepasang suami-istri dengan tampilan mewah berjalan penuh wibawa. Tak ada yang bicara. Wajah laki-laki muda itu terlihat kuyu dan sebelah pipinya tampak seperti baru saja dihantam sesuatu, sedang wajah dua orang yang mengawalnya di sebelah belakang sekeras dan sekaku pilar gedung. Suami-istri di sebelah depan malah menampilkan ekspresi yang lebih kontras lagi, mereka terlihat senang, puas dan lega, seakan perjalanan pulang pergi Jakarta-Bali-Jakarta tidak menguras tenaga mereka sedikit pun. Seakan insiden dimana putra semata wayangnya merasakan tamparan keras untuk pertama kalinya di kantor polisi dua jam yang lalu tak pernah terjadi.

Seharusnya laki-laki muda itu punya tiga hari lagi untuk menikmati indahnya Pulau Dewata, mungkin juga tiga hari lagi untuk mengakui perasaannya secara langsung. Namun tiga hari lagi itu tak akan pernah terjadi. Ia lebih dulu ditemukan.

Dini hari tadi, saat pertama kali membuka mata di pembaringannya yang masih hangat, ia pikir hari akan menuju sore dengan mulusnya tanpa sebarang hambatan dan dirinya dapat kembali menjadi camar yang baru belajar terbang di bawah senja Pantai Kuta bersama Sultan Arraniry. Pagi tadi, sepulang dari menikmati matahari bangun di Pantai Sanur, ia kira hari akan berjalan baik-baik saja menuju malam dan dirinya bisa terlelap dengan damai bersama Sultan Arraniry sekali lagi. Namun ternyata semua itu kini bagai menjaring angin.

Karena ketika ia tiba di lobi hotel dengan senyum senang terukir di wajah, resepsionis mengabarkan kalau ada tamu buat Sdr. Saktiya Phibeta. Dan setengah jam kemudian ia sudah berada di kantor kepolisian Denpasar, menunggu orang tuanya datang menjemput.

Lelaki muda itu menoleh ke belakang, berharap menemukan sosok yang diidamkannya muncul mendadak secara ajaib. Tapi tidak. Ia tahu betul kalau Sultan Arraniry tidak akan terlihat di pojok manapun Bandara Soekarno Hatta saat ini, karena ia sendiri yang memohon agar lelaki muda kepada siapa hatinya telah tertambat itu untuk melanjutkan liburannya seperti yang sudah direncana, ia sendiri yang melarang Sultan Arraniry untuk pulang bersamanya, ia sendiri yang meminta Sultan Arraniry untuk patuh pada tiket pulang-pergi yang sudah dibelinya jauh-jauh hari.

‘Tak apa, ini liburanmu, pertama kalinya kamu kemari. Lanjutkan saja, jangan buat aku merasa bersalah telah memangkas masa liburanmu dengan ikut aku pulang hari ini… please…’

Ia masih ingat bagaimana tepatnya kalimat yang diucapkannya untuk meyakinkan Sultan Arraniry untuk pergi menjelang kedatangan papa mamanya ke kantor polisi, dan ia masih ingat bagaimana enggannya Sultan Arraniry untuk beranjak.

‘Stranger, please… pergi saja! Siapa yang tahu masalah apa yang bisa menyeretmu jika papa dan mamaku datang.’

Dan kini ia menyesal karena tidak terfikir untuk saling bertukar nomor kontak sebelum Sultan Arraniry diizinkan petugas kepolisian untuk pergi. Lebih menyesal lagi karena ia tidak berkesempatan mengakui isi hatinya. Seharusnya ia meneriakkan isi hatinya sebelum Sultan Arraniry melewati lobi kantor kepolisian. Kini itu sudah tak mungkin.

Sekali lagi ia menoleh ke belakang sebelum mengikuti langkah papa mamanya menuju pelataran parkir bandara tempat mobil mewah orang tuanya menunggu. Sosok yang diinginkannya tidak ada di antara lalu lalang manusia yang baru saja keluar dari pintu bandara kedatangan domestik. Manusia-manusia di sana lebih asing dari lelaki asing yang telah menghangatkan hatinya.

Harapannya pupus di sini.

Selamat tinggal, Stranger. Semoga kamu terfikir untuk mencari dan menemukanku, karena aku tak tahu harus menjejakimu ke arah mana, karena aku tak tahu apapun tentangmu selain bahwa kamu adalah orang asing paling indah yang pernah kukenal, dan bahwa… aku telah jatuh cinta pada segala indah di dirimu…

 

 

 

 

Mid September 2014

Dariku yang sederhana

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com