ramadhan-syawal 2 COVER

an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Aku kuwalahan. Nyaris menyerah seperti tahun lalu. Entahlah, ini sudah kumulai, tapi aku tak yakin bisa menyelesaikannya seperti seri pertama dua tahun lalu.

Toples 1 sudah pernah publish Ramadhan 2013 kemaren, biar bacanya enak dan langsung nyambung tanpa harus ngubek2 arsip, maka kugabung saja bersama toples 2 yang isinya cuma seiprit ini. Mungkin pun post toples pertama tahun lalu akan aku hapus saja biar gak bingungin.

Sedikit pemberitahuan buat yang akan mulai mengikuti, mungkin bukan pemberitahuan tapi lebih kepada peringatan kali ya. Kalian gak akan menemukan konflik berdarah-darah di seri ini, atau masalah yang mengurai air mata, itu kujamin gak bakal kalian dapatkan dalam tulisanku satu ini. Seri ini murni selingan tanpa emosi, bahasannya bolak-balik tentang keluarga saja, di situ-situ saja, tidak akan berkembang dan tidak akan memunculkan problem yang menguras perasaan. Ceritanya hanya berkisar pada kehidupan sehari-hari para tokoh dalam cerita di bulan puasa, TIDAK LEBIH. Jadi bagi yang ingin mengikuti, ada baiknya dipikir-pikir dulu. Karena selain tulisannya yang tidak bergelombang, sepertinya aku juga bakal lama apdet. Itu saja.

Gak mau berpanjangg-panjang kalimat. Semoga kalian menikmati membaca RSDMB 2 toples 1 dan 2 seperti aku yang―gak yakin―menikmati ketika menulisnya

 

Wassalam

n.a.g

#####################################################

Aku tahu kalian masih sepertiku. Remaja unik yang sedang ngebet dengan segala hal baru dimana dijadikan icon gaul masa kini. Aku juga tahu kalau sebagian besar dari remaja seperti kita terjangkiti virus alay hingga pembawaannya lebih sering lebay. Tapi sepertinya aku tidak termasuk dalam sebagian besar itu. Aku menggolongkan diriku dalam segelintir remaja yang kalem dan adem-ayem dengan segala hal baru menyangkut virus gaul para remaja masa kini. Filterku masih berfungsi. Bukan berarti aku gak gaul, kuper atau cupu. Aku cukup gaul untuk digauli –setidaknya begitu yang dikatakan pacarku, hanya saja aku tidak mau dicap remaja labil yang kehadirannya kerap mengundang gelengan kepala dan elusan dada dari orang-orang sekitar. Aku benci membayangkan diriku didesas-desuskan ketika lewat di depan orang-orang dengan kalimat semisal ini : remaja jaman sekarang contohnya ya gitu tuh, gak jelas bentuknya, gak jelas wujudnya, gak jelas tujuannya, orang tuanya di rumah pasti angkat tangan menyerah dengan anak mereka. Nah, aku tak suka orang-orang menilai jelek ayah dan ummiku sebagai orang tua yang gagal hanya karena aku tak bebas dari virus gaul. Maka dari itu, aku mau jadi remaja biasa-biasa saja tapi juga memiliki wawasan yang tak kalah luas dengan remaja-remaja lain yang apdetan tetek-bengek gaulnya seabrek-abrek. Aku mau menjadi remaja biasa saja meski pada kenyataannya hati dan perasaanku sangatlah tidak biasa. Kalian mengerti kan apa yang kumaksudkan?

Sekarang usiaku 17 tahun. Aku dapat kado jaket kulit yang kuyakin harganya bukan sepuluh ribu rupiah dari pacarku, sedang ketika dia merayakan usia 17-nya tak sampai sebulan setelahku, aku memberinya hadiah kulit juga. Bukan jaket kulit, tapi kulit beneran. Aku memberinya kulit bibirku, kulit wajahku dan kulit leherku untuk dirasai seperti apa sengatannya. Selain kulit, aku juga memberinya bulu. Kado jaket yang pinggiran tudungnya berumbai-rumbai penuh bulu dariku sering dipakainya di hari-hari hujan ketika kami menuju sekolahan. Dia memberiku jaket kulit, sedang aku memberinya jaket bulu. Perfect.

Aku belum berganti nama, di absen kelasku masih tertulis Riyadul Adli Ramadhan, orang-orang juga masih memanggilku Didan dan adik pacarku masih terlalu malas memakai huruf D di awal nama panggilanku itu. Sepertinya bocah itu memang terobsesi dengan huruf I yang menjadi huruf pertama nama panggilannya. Akal bulus adik pacarku masih seikal rambutnya, bahkan ketika usianya nambah setahun akal bulusnya nyaris naik level menjadi keriting dan kaku, seperti mie instant yang ke-mati-an api kompor tepat ketika mie baru dimasukkan. Parah.

Aku juga belum ganti pasangan. Hingga kini, satu-satunya cowok yang kuizinkan menjamah kulitku dalam kadar bisa membuat buluku meremang dan celana dalamku berganti ukuran secara mendadak dan ajaib ke size yang lebih kecil adalah Syawal Rizkiyul Akbar. Nama panggilannya masih Ibar. Tapi dia tak keberatan kupanggil Beib, Honey, Darling atau Ay. Tentunya bila tak ada kuping lain yang mendengar selain kupingnya dan kupingku. Tapi aku akan jadi orang pertama yang keberatan dan naik darah hingga naik syahwat (jangan salah mengira, syahwat yang kumaksudkan adalah nafsu untuk merontokkan gigi seseorang) jika ada cowok lain yang memanggilnya seperti itu.

Aku dan Syawal sudah melewati banyak musim, tak perlu kusebutkan musim apa saja itu. Yang perlu kalian tahu hanya satu, semua musim itu adalah musim yang bahagia. Selama aku masih menemukan Syawal berada bersamaku, berkata lewat lisan atau tatapannya bahwa tak ada yang perlu kurisaukan karena ada dirinya di sisiku, maka sesuram apapun musim yang kami lewati aku akan tetap menyebutnya musim bahagia. Syawal adalah sumber bahagiaku. Bagiku, bahagia itu sederhana, sesederhana sosok Syawal dengan cintanya yang amat sangat tidak sederhana, cintanya adalah cinta terhebat.

Aku tak mau berburuk sangka pada Tuhan. Aku tak mau mempertanyakan mengapa aku dianugerahi-Nya hati serumit ini. Bagiku, hidup yang sedang kujalani sekarang adalah anugerah. Aku patut bersyukur. Dan salah satu anugerah-Nya yang patut kusyukuri adalah kenyataan bahwa cintaku dan Syawal masih bertahan hingga memasuki musim bedug kedua sejak kami menuliskan kata ‘once upon a time…’ di lembar pertama buku kisah Ramadhan Dan Syawal.

Dan sekarang, di musim bedug ini aku akan melanjutkan kisahku kembali. Masih terlalu banyak lembar kosong dalam bukuku, dan tintaku masih cukup penuh dalam wadahnya. Jika tak keberatan, duduk manislah dan ikuti kisahku, jangan bosan membalikkan tiap lembarnya. Semoga tiap kata dan kalimat dalam kisahku lezat bak se-toples kue kering yang tersaji di meja makan saat tiba waktu berbuka atau meja tamu ketika halal bihalal di hari lebaran.

Karena kami sedang berada di musim bedug kedua dalam masa pacaran kami, maka bab 2 dalam buku kisah kami bertitel : RAMADHAN DAN SYAWAL DI MUSIM BEDUG 2

***

Sepenggal syair untuk Ramadhan sebelum Syawal…

Oh kekasih…

Tahukah engkau?

Sehebat apa cinta yang berkarang di hati para mukmin?

Wahai kekasih…

Tahukah engkau?

Sehebat apa rindu yang berkerak di hati para muslim?

Mukmin cinta akan dikau oh kekasih

Muslim rindu kepadamu wahai kekasih

Andaipun kau datang tak hanya satu purnama di antara dua belas purnama

Tapi selama dua belas kali purnama penuh

Sungguh, cinta mukmin padamu tidaklah terkikis luntur

Andaipun kau hadir tak hanya tiga puluh kali waktu subuh di antara setahun adzannya

Tapi selama tiga ratus enam puluh lima kali waktu subuh
sungguh, rindu muslim padamu tidaklah menciut pupus

Cinta itu tetap berkarang di hati mukmin sejati

Rindu itu tetap berkerak di hati muslim beriman

Oh Ramadhan terkasih…

Kau diagungkan dalam setiap qiyamul lail

Wahai Ramadhan terkasih…

Kau dielu-elukan lewat juz tadarus

Selama dunia masih bernafas

Selama Muharram membuka dan Dzulhijjah sebagai penyudah

Hadirmu akan selalu dinanti para pecintamu…

***

Toples 1

Syawal mengemudikan skuternya amat sangat perlahan. Aku yang duduk di belakangnya mulai gelisah. Bukan karena awan mendung yang memang sedang berganyut luas dan pekat di atas kami, bukan pula karena waktu zuhur kian tenggat sementara tidak satupun antara aku dan Syawal yang menuju mushalla saat di sekolahan tadinya. Namun gelisahku lebih dikarenakan cacing-cacing dalam perutku kian beringas sejak beberapa saat lalu. Aku lapar.

“Bar, bisa ngebut dikit gak…”

“Tenang aja, Didan… hujan gak akan mengguyur kita sebelum nyampe rumah.” Syawal lebih dulu menukas sebelum aku sempat berucap banyak.

Aku tidak yakin dia tidak mendengar bunyi perutku yang keroncongan sejak tadi. Posisi dudukku sangat rapat di belakang punggungnya, mustahil dia tak menyadari suara keriyuk-keriyuk dari perutku.

“Bukan hujan, Bar… aku gak sabar untuk ngosongin periuk nasi Ummi!” ujarku gusar.

Syawal tertawa pendek, “Ummi masih menanak beras dalam periuk? bukannya pakai rice cooker ya?”

Aku yakin dia tahu maksud kalimat konotasiku tadi, namun tetap saja menanggapi dengan olok-olokkan begitu. Kucubit perutnya yang tepat berada dalam rangkulanku, dia hanya terkekeh sambil menyentuh punggung tanganku sekilas sebelum balik memegang setang. “Aku lapar, Bar. Masa kamu gak sadar sih kalau perutku didemo penghuninya dari tadi…”

“Sadar kok.”

“Trus kenapa gak berusaha menggas skutermu lebih kencang?”

“Sengaja, itung-itung latihan. Kan dua hari lagi udah puasa,” jawabnya enteng. Untuk kedua kalinya, kucubit perut Syawal. Kali ini cukup keras untuk membuatnya menambah kencang laju skuter. “Tadi kita jajan lumayan rakus kan? Kok keroncongan juga sih?” Syawal bertanya di sela laju skuternya yang mulai menggila.

Aku mengeratkan peganganku pada pinggang Syawal, “Kalau sudah saatnya lapar ya lapar, Bar…”

“Kayaknya kamu cacingan deh, Dan…”

“Kamu tuh cacingan!” semburku tak mau terima dikatai cacingan. Suara gelegar petir mengalahkan tawa Syawal. Aku sempat terlonjak di boncengan.

“Didan, kalau aku bukan cacingan, tapi bajingan.”

“Iya, kamu bajingan jika sampai kita diguyur hujan. Udah tahu mendung bukan ngebut dari tadi, huh!”

“Iya, ini kan udah ngebut.” Syawal mendongak langit sekilas lalu kembali fokus ke jalan. “Tapi soal cacingan itu kayaknya benar deh, Dan. Kapan itu Ikal pernah rewel minta makan sebentar-sebentar…”

“Itu si Ikal, wajar cacingan,” cetusku cepat.

Tak peduli responku, Syawal melanjutkan kalimatnya yang sempat terjeda. “Setelah dibawa Mama ke dokter dan dikasih obat cacing, Ikal normal lagi tuh pola makannya.”

“AKU GAK CACINGAAAAAN…!!!”

JEGERRRRR

Untuk kedua kalinya aku terlonjak di boncengan skuter Syawal. Kali ini gelegar petir lebih kuat dari sebelumnya. Aku memaki-maki sendiri ketika tepat beberapa hitungan kemudian hujan mengguyur deras. Perkiraan Syawal salah total.

“Tuh, hujan kan?” aku berseru di telinga Syawal.

“Celaka dua belas, Dan… gak ada tempat berteduh.”

Aku menempatkan tas selempangku di antara badanku dan Syawal, mengamankannya untuk sementara dari guyuran hujan. Kutarik juga tas punya Syawal untuk ketempatkan bersama tasku. Jika tas kami sampai basah, maka celakanya tidak hanya dua belas, mungkin dua kali dua belas. Agenda Ramadhan kami adalah barang berharga yang berada di dalam tas dan harus diselamatkan.

“Bandel sih dibilangin…”

“Kacamataku buram, Dan…” laju skuter Syawal melambat bertahap.

Aku menolehkan kepalaku ke sekeliling. Kami sudah sampai di areal persawahan, kiri kanan adalah padi yang mulai remaja, tak ada bangunan apapun. Kampungku tepat di ujung jalan setelah areal persawahan yang maha luas ini terlewati tentunya. Rasa laparku terkalahkan kuyup yang mulai kualami. Aku mulai kedinginan.

“Berhenti di sini!” aku berseru ketika skuter mendekati sepetak sawah yang di satu sisi pematangnya terdapat dangau kecil berbumbung anyaman daun kelapa.

Syawal patuh. Begitu skuter berhenti aku langsung meloncat turun dan dengan tergesa menyeberang dari aspal masuk ke areal persawahan, berlari menuju dangau sambil mendekap tasku. Syawal berlari menyusul. Dua siswa SMA, sama-sama berkacamata, sama-sama mendekap tas di dada, dengan helm di kepala berlari kecil di atas pematang sawah yang licin. Begitulah pemandangannya.

“Kok dangaunya rapuh gini ya, Dan?”

“Jangan banyak tanya, ini semua salahmu!” Kubuka tasku dan kucampakkan ke lantai dangau yang berupa susunan belahan-belahan bambu yang diatur jarang-jarang sedemikian rupa.

Syawal memajukan bibirnya mengejekku, dia mengikuti apa yang kulakukan. “Ya Tuhan, hape kita, Daaan…!”

Detik ketika kudengar Syawal berseru demikian, aku baru sadar bahwa ada barang yang lebih berharga ketimbang Agenda Ramadhan di dalam tas kami. Menggeragap aku merogoh saku celanaku yang basah. Celana Syawal lebih kuyup dariku.

“Mati…” Syawal berucap lirih.

Kutoleh Syawal, dia benar-benar sudah kuyup dari bahu hingga ujung sepatunya. Seragam menyatu dengan kulitnya. Aku yang duduk di boncengan sedikit terselamatkan. “Mungkin batrenya abis,” ujarku menenangkan sambil meniup-niup hape milikku sendiri.

Syawal mengangkat bahu, meletakkan hapenya di atas tas kami lalu mulai memeriksa kondisi dangau yang katanya rapuh tadi. Dia menggoyang-goyangkan tiang dangau beberapa kali sebelum bergerak naik. “Cukup kuat kayaknya. Ayo naik, Dan!” Syawal membuka helm jadulnya dan meletakkan benda itu di lantai dangau.

Setelah memasukkan hapeku ke dalam tas diikuti dompetku kemudian, dengan hati-hati aku mengangkat bokongku ke atas lantai dangau. Bunyi bambu yang merenggang membuatku ciut. “Gak tahan deh kayaknya, Bar…!” aku batal bertahan, dua detik saja bokongku berada di atasnya. Aku turun lagi, membiarkan setengah sisi tubuhku terjamah air hujan.

Syawal mendongak atap dangau, lalu menepuk-nepuk lantai bambunya. Bunyi krek krek krek nyaring terdengar ketika Syawal sengaja bergerak-gerak pantas di atas dangau. Syawal turun, sepertinya dia sudah selesai memeriksa dan memutuskan untuk turun sebelum dangau itu ambruk dan menghempaskannya ke dalam lumpur sawah dan tanaman padi orang.

“Ayo, Didan aja yang berteduh. Dangaunya tahan untuk satu orang aja…” Syawal memakai helmnya kembali begitu sudah berdiri lagi di pematang.

Aku membelalak, “Trus kamu?”

“Ya di sini, memangnya aku mau ke mana?”

“Diguyur hujan?”

Syawal mengangguk.

Aku menggeleng. “Ya udah, biar kita sama-sama diguyur hujan…” aku bergerak merapat ke sisi Syawal.

“Bodoh, itu dangaunya mubazir…”

“Ya udah, kalau gitu kamu aja yang berteduh.”

“Aku udah kadung, Dan. Udah kuyup begini, kamu yang masih lumayan kering yang harus berteduh. Sana naik!”

Aku menunduk meneliti keadaanku sendiri. Syawal benar, dibandingkan dia, aku masih cukup kering. Kutatap Syawal lalu aku menyeringai. Dengan mantap aku meninggalkan tepian atap dangau yang sedikit melindungi kami dari terpaan hujan, berjalan menjauh ke pematang dan membiarkan tubuhku diguyur hujan secara frontal.

“Gila!” Syawal berseru dan bergerak menarik lenganku.

Aku tertawa melihat ekspresi cemas Syawal.

KRUYUK KRUYUUKKK CRUUIIITTT

Dengan lenganku yang bebas aku merangkul perutku. “Lapeerrr, Bar.”

Syawal merangkul bahuku, kami bersandar di sisi lantai dangau. “Maaf ya, Didan…”

Aku menatap Syawal. Kutemukan raut bersalah di wajahnya. “Tak apa kok. Tapi nanti kalau aku pingsan jangan ditinggal ya…!”

Syawal tersenyum, “Aku gak akan pernah ninggalin kamu, Dan… gak akan pernah. Tidak nanti jika kamu pingsan atau kapanpun kamu merasa dirimu patut untuk ditinggalkan, aku gak akan meninggalkanmu…”

“Mengapa?” aku bertanya bego.

Syawal mengernyit, “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja karena aku sungguh-sungguh cinta, aku bodoh jika meninggalkan orang yang sungguh-sungguh kucintai.”

“Iyakah? Kan aku belum pernah pingsan, belum ada bukti kalau kamu gak akan meninggalkanku,” aku bermaksud menggoda.

Syawal mendecak.

“Selain tak akan meninggalkanku, ada hal lain gak yang bisa kamu lakukan untuk membuktikan kesungguhan cintamu?” aku tak berharap Syawal meladeni pertanyaan gak pentingku, toh tanpa dirinya menjawab pun aku sudah tahu seperti apa cinta Syawal untukku.

Hujan masih mengguyur deras, tak ada tanda-tanda akan mereda beberapa menit ke depan. Aku masih memeluk perutku dengan satu lengan sementara lengan yang lain terjepit di antara badanku sendiri dan badan Syawal. Kupandang skuter Syawal yang terpakir sendiri di jalan, diguyur hujan. Tak ada satu kendaraan pun yang melewatinya. Sepertinya semua pengguna jalan memilih berteduh dimanapun itu dan baru akan melanjutkan perjalanan ketika hujan reda.

Setelah yakin Syawal tak akan merespon, kudengar dia menghela napas. Rangkulannya di bahuku mengetat. Lalu aku mendengar jawaban itu…

“Didan, aku tak bisa memberikan apapun lagi untukmu sebagai tanda bahwa aku sungguh-sungguh cinta. Sebelumnya aku punya satu raga, dan satu jiwa. Namun ketika kamu berkata ya untuk cintaku, aku tak punya apapun lagi…” jeda sebentar, “karena jiwa dan ragaku langsung menjadi milikmu sejak saat itu.”

Aku tak bisa berkata-kata, bahkan cacing di perutku berhenti ber-orasi. Syawal berbalik menghadapku, membiarkan satu sisi bahu dan badannya disentuh hujan. Dia membuka helm dan meletakkannya kembali ke atas dangau. Aku diam ketika Syawal meraih pinggangku dengan satu lengannya, memposisikanku untuk menghadapnya. Kini satu sisi badanku juga ikut dijamah hujan. Kami berhadap-hadapan. Aku masih diam ketika Syawal melepaskan helmku dengan tangannya yang lain. Seperti miliknya, helmku ditempatkan Syawal di dekat helmnya.

Lalu kedua lengannya kini leluasa menjerat pinggangku, menarikku merapat padanya. Wajah Syawal terlihat merona di balik kacamatku yang penuh titik-titik air. Aku yakin Syawal juga melihat keadaan yang sama pada wajahku.

Aku mengangkat kedua tanganku dan mencengkeram dada seragam Syawal ketika cowok di depanku ini makin mendekatkan wajahnya. Aku tahu apa yang akan terjadi, dan aku menantang Syawal dengan tidak menunduk sedikitpun.

Lalu…

Krikkk

Kacamata kami berbenturan.

Aku tertawa, disusul Syawal yang terkekeh kemudian. “Kacamata sialan, ngalangin aja!” rutuknya. Sesaat tadi, puncak hidung kami sudah sukses bersentuhan.

Aku melepaskan peganganku pada seragam Syawal, “Dangau ini ada setannya, dia menggoda kita…”

“Hemm… dan kacamata jelek ini yang jadi malaikatnya, begitu?” Syawal mengendurkan lengannya, membiarkanku menjauh beberapa senti.

“Iya mungkin.”

“Dan, kita naik ke dangau yuk, biar lebih dekat sama setannya.”

Aku mendelik, “Lebih dekat sama celaka, iya!” kulepaskan pinggangku sepenuhnya dari belitan lengan Syawal.

“Celaka karena aku bakal menindihmu? Bukannya enak ya?”

Aku memelototi Syawal yang masih berdiri menghadapku sambil mesem-mesem. “Celaka karena pasti dangaunya bakalan rubuh.”

“Oh, kirain kamu menganggap saat-saat intim kita sebagai satu bentuk kecelakaan…”

“Benernya, itu salah satu bentuk kekhilafan,” ujarku.

Syawal kontan menadahkan tangannya, “Ya Tuhan, buatlah Didan sering-sering khilaf…”

“Hush!”

JEGERRRRR

Kami sama-sama terlonjak. Kulihat wajah Syawal pucat. “Petirnya kayak sesuatu ya, Dan.” Dia beringsut mendekatiku.

“Kamu sih, bertingkah yang aneh-aneh!”

Syawal celingak-celinguk sambil menggosok-gosokkan lengannya satu sama lain. “Didan, pulang yuk. Kayaknya di sini beneran ada setannya deh. Aku gak nyaman lagi.”

“Jangan mengada-ngada!”

Syawal tidak menjawab lagi, sebaliknya dia sibuk mengeluarkan semuai isi tasnya, memindahkan semua buku dan peralatan tulisnya termasuk hape yang kuduga kehabisan batre ke dalam tasku. Dia juga memasukkan dompetnya yang lembab ke sana. Aku diam memperhatikan apa yang dilakukannya. Selesai mengosongkan tasnya, berikutnya Syawal memasukkan tasku ke dalam tasnya, agak susah karena kini tasku penuh sesak. Setelah berusaha sedikit keras, Syawal sukses menyarungkan tasku dengan tas miliknya.

“Kayak make-in kondom susahnya,” dia nyengir.

Aku memutar bola mata, “Memang kamu pernah?”

“Pernah apanya? Pakai kondom?”

Aku mengangguk.

“Pertanyaan yang lebih tepat, kapan kamu akan memintaku untuk memakainya? Atau… kapan kamu akan memakaikannya padaku?”

Aku mendelik.

Syawal nyengir lagi, “Tapi gak ah… kan kita gak butuh kondom.” Aku tidak bertingkah ketika Syawal menempatkan helm ke kepalaku. “Ayo, moga-moga tas kita muat ke dalam bok skuter.” Dia mengenakan helmnya sendiri.

“Kenapa gak kepikiran dari tadi ya?”

“Aku kira dangau ini sanggup menahan berat kita berdua, maka ide ini kupending dulu.”

“Dasar mesum.”

“Yeah, it’s me, Darling… pacarmu yang mesum, suka atau tidak… just go with it…”

Syawal menyerahkan tas padaku yang langsung kudekap di dada. “Kita pasti akan demam karena berhujan-hujanan.”

“Bagaimana jika kamu menggantinya dengan, ‘aku akan segera mengosongkan periuk nasi Ummi dengan nekat pulang dalam hujan’?”

Mendengar kalimat Syawal, aku kembali sadar akan lapar yang sudah menggerogoti perutku sejak tadi.

“Ayo, hati-hati ya… pematangnya licin.” Syawal berlari mendahului. Aku mengekor di belakangnya dengan terbungkuk-bungkuk, melindungi tas di dadaku dari terpaan curah hujan langsung.

Kenyataannya, Syawal harus memaksa tas kami agar muat dalam bok skuter. Aku yakin isi tas itu akan lecek-lecek begitu dikeluarkan nanti. Tapi peduli setan, kami tidak akan kembali berlari ke dangau meski tas itu tidak muat setengahnya pun.

Aku memeluk Syawal yang mengemudi dengan badan menggigil. Badanku sendiri juga tak kalah bergetar, gigiku merapat. Aku sangat yakin kalau kami akan demam setelah ini.

***

Aku sungguhan demam. Padahal tadi siang begitu tiba di rumah, Ummi langsung menjerang air mandiku –setelah puas merepetiku tentunya. Ternyata meski sudah mandi air hangat, minum air jahe setelahnya dan tidur siang cukup, tidak lantas menyelamatkanku dari demam. Sorenya badanku langsung meriang. Aku meringkuk di satu sisi ranjang dalam belitan selimut yang membungkusku dari ujung kaki hingga kepala.

“Didan kenapa?” Bang Ikhwan masuk kamar, masih lengkap dengan seragamnya, dia baru pulang dinas.

“Bang, bilangin Ummi Didan demam…”

Bang Ikhwan menatapku, “Demam sungguhan?”

“Iya!”

“Trus kalau udah bilangin Ummi kamu pengen diapain? Minta dikelonin?”

Tumben sekali kakak laki-lakiku bersikap semenyebalkan ini. “Ke dokter!”

“Bangun gih, ambil jaketmu. Ke dokternya sama Bang Iwan aja. Ummi sedang sibuk nyiapin makan malam.”

Aku keluar dari balik selimut dan rasa dingin serta merta membuatku menggigil.

“Obat demam di rumah habis, Dan?” Bang Ikhwan bertanya sambil mengganti seragamnya.

“Udah lama, takut gak bagus lagi.” Aku bersin, tiga kali. “Duh, kayaknya mau flu juga.”

“Menjelang Maghrib gini apa praktek dokternya masih buka ya?” Bang Ikhwan menggumam, seperti bertanya pada dirinya sendiri.

Aku selesai mengganti celana pendekku dengan celana olah raga yang cukup tebal dan hangat. Jaket kulit pemberian Syawal juga sudah menutupi badanku. Bang Ikhwan mengambil kunci motor dan mengenakan kemejanya sambil jalan. Aku mengekor di belakangnya setelah mengenakan kacamata.

“Ummi, Didan ke dokter ya!” aku berseru begitu keluar kamar.

“Sama siapa?” kudengar seruan balasan dari dapur.

“Bang Ikhwan nih, Ummi…”

Diam sebentar, “Jadi demam juga kan, itu jadi pengalaman jangan hujan-hujanan lagi.” Ummi menjenguk dari balik dinding dengan sudip di tangan, wangi tumisan mengikutinya. “Iwan hati-hati, ini masih mendung, bawa mantel.”

“Iya.”

*

Jarak rumahku dengan klinik tempat praktek dokter umum sekitar dua puluh menit perjalanan motor dengan laju normal. Dengan pertimbangan takut prakteknya keburu tutup dan harus menunggu hingga lewat waktu Maghrib, Bang Ikhwan membuat jaraknya jadi sepuluh menit saja. Jangan tanyakan bagaimana cara kakakku itu mengemudi, aku ketar-ketir tiap kali dia menyalip pengemudi lain.

Mataku membelalak begitu Bang Ikhwan memarkir motor di pelataran ruko tiga pintu yang menjadi tempat praktek si dokter. Bukan karena banyaknya motor yang sudah terparkir lebih dulu, tapi karena melihat seorang bocah yang sedang asyik meloncat-loncat girang bersama beberapa bocah lain seusianya di ruang tunggu yang penuh sesak. Jaket tebal warna merah menyala membungkus badan bulatnya. Haikal tampak terlalu sehat untuk mengunjungi dokter. Atau… bukan dia yang sakit?

“Skuter Ibar tuh, Dan.” Bang Ikhwan menunjuk skuter yang terparkir di ujung kanan, dekat dengan plang bertuliskan ‘PRAKTEK DOKTER UMUM’ dan ‘dr. Salahuddin Hasan’ di bawahnya.

“Si Ikal malah sedang unjuk gigi tuh di sana.”

Bang Ikhwan mengikuti arah telunjukku. Haikal terlihat baru saja menjawil pipi seorang bocah perempuan yang punya rambut tak kalah keriting darinya. Kepala si bocah perempuan oleng kiri kanan setelah pipinya dikerjai Haikal. Beberapa balita lainnya bergerak aktif bersama mereka.

Bang Ikhwan tertawa pendek, “Siapa yang sakit ya?”

“Ibar kali, tadi kami sama-sama kehujanan.”

“Hemm…”

Kami masuk ke ruang tunggu, Haikal langsung berseru girang begitu melihatku dan Bang Ikhwan. Bocah itu melupakan accidental friends-nya dan berlari menghambur memeluk paha Bang Ikhwan.

“Ada Kak Iwaaaan…!!!”

Beberapa pengunjung memperhatikan kami. Bang Ikhwan menggandeng tangan Haikal yang masih melompat-lompat. “Ikal sama siapa?”

“Sama Kak Ibaaar…!!!”

Aku bernapas panjang. Bocah adik pacarku ini memang punya kebiasaan berseru panjang tiap kali bicara.

“Berdua saja?” tanyaku.

Haikal mengangguk. Dia sudah berhenti melompat-lompat begitu Bang Ikhwan meletakkan jari telunjuk ke bibirnya sendiri sebagai isyarat menyuruh Haikal untuk tenang.

Aku meneliti tiap pengunjung yang rata-rata berwajah kuyu tak bersemangat. Wajah orang-orang sakit. Tak kutemukan Syawal di antara mereka.

“Didan, daftar sana biar gak keduluan pengunjung baru,” Bang Ikhwan mengingatkanku.

“Uang kartunya?”

Bang Ikhwan mengeluarkan dompet, memberiku selembar lima ribuan sebagai iuran kartu pasien baru.

“Kak Iwan, Ikal juga mau duiiit…” Haikal menarik-narik lengan Bang Ikhwan. Kakakku urung menyimpan dompetnya kembali ke saku celana. Kalau ada Syawal, pasti Haikal sudah dimarah-marahnya.

Kutinggalkan mereka, biar Bang Ikhwan yang meladeni tingkah Haikal. Aku menuju meja pendaftaran untuk memberikan identitasku dan mengambil nomor antrian dari asisten si dokter yang mengurus administrasi.

Aku berbalik meninggalkan meja pendaftaran tepat di saat kulihat sosok Syawal keluar dari bilik dokter. Dari tempatku berdiri dapat kulihat kalau hidungnya merah. Sepertinya dia juga diserang gejala flu. Sepertiku yang memakai jaket pemberiannya, Syawal juga tampak memakai jaket hadiah dariku. Saat mata kami bertatapan, dia tersenyum lalu mengangkat dagunya seakan untuk bertanya ‘dengan siapa?’

Aku menunjuk Bang Ikhwan di kursi tunggu, Haikal berdiri di depannya, asik memamerkan uang dua puluh ribuan kepada teman-teman dadakannya di sini. Lalu kami sama-sama menuju kursi Bang Ikhwan, Syawal dari arah bilik dokter dan aku dari meja pendaftaran.

“Ikal, dapat duit dari mana?”

“Kak Iwan yang ngasih, Kak Ibaaar…!”

“Kamu minta?”

Haikal hanya mengedip-mgedipkan matanya memandang Syawal.

“Ikal bikin malu saja, ah!” Syawal berucap gusar, “nanti balikin yaa…”

Bang Ikhwan tersenyum, “Gak apa, Bar…”

“Ini buat beli es klim puasa besok, Kak Ibaaar…!”

“Masih dua hari lagi, Kal.” Bang Ikhwan menukas.

“Ikal simpan.”

Syawal geleng-geleng kepala, lalu memandangku, “Demam juga ya akhirnya…”

Aku mengangguk, “Sekaligus flu kayaknya.”

“Sama, aku sudah bersin-bersin sejak tadi siang. Tenggorokanku sakit.”

“He eh, air jahe Ummi juga gak mempan.”

Syawal tersenyum, “Titip si Ikal dulu ya, mau nebus resep.”

Aku mengangguk. Syawal bergerak ke meja yang bentuknya menyerupai meja penyambutan tamu di hotel, di di baliknya terdapat sebuah rak besar penuh obat. Dua orang wanita berjilbab tampak sibuk di sana.

Klinik dokter yang kami kunjungi ini bisa dikatakan yang paling laris manis di kecamatanku. Untuk ukuran dokter umum, dr. Salahuddin Hasan memiliki pasien yang mengalahkan praktek dokter spesialis. Pasiennya nyaris membludak setiap hari. Padahal, belum genap tiga tahun dokter paruh baya ini membuka prakteknya di sini. Kliniknya pun tak tanggung-tanggung, ruko tiga pintu ini sebenarnya lebih cocok jadi tempat praktek bersama, tapi si dokter memilih membuatnya jadi praktek mandiri. Dan dilihat dari kepercayaan masyarakat terhadapnya, menurutku Dokter Salahuddin (Udin yang selalu salah) sudah dan sedang mengecap masa-masa kejayaannya sebagai dokter umum.

Aku mengikuti Syawal dengan pandanganku. Sepertinya demam Syawal lebih parah, dia yang terpapar hujan dalam kadar lebih tinggi dariku. Kasihan dia. Seharusnya dia kemari tidak sendiri. Sepertiku yang ditemani Bang Ikhwan, harusnya Syawal bersama papa atau mamanya jangan dengan Haikal. Harusnya Syawal tidak mengemudi sendiri di tengah kondisinya yang tidak fit dan cuaca yang masih tidak kondusif. Itu bisa memperparah sakitnya. Ah, pacarku itu memang bengal. Aku membayangkan dia bersikeras pergi sendiri ke praktek dokter dan menolak tawaran mamanya untuk mengantar. Dalam bayanganku, Haikal yang hyperactive merengek-rengek minta ikut. Dan akhirnya adik kakak itu pergi berdua.

Sampai Syawal selesai mengantri obat, nomorku belum dipanggil juga. Bang Ikhwan berkali-kali melirik jam tangannya.

“Gak apa kan kami pulang lebih dulu?” Syawal bermaksud pamit.

“Iya gak apa, Bar. Kayaknya si Didan juga masih lama nih,” jawab Bang Ikhwan.

Syawal mengangguk, menatapku sekilas lalu menggandeng Haikal. “Kak Idan, Kak Iwan, Ikal pulang yaaa…!”

“Iya,” jawabku untuk Haikal sedang Bang Ikhwan hanya mengangguk. “Hati-hati ya, Bar…” kutatap Syawal, “Bawa jas hujan?”

Syawal menggeleng.

“Dasar. Udah tau cuaca gak baik, sedang sakit, sama Haikal lagi, kenapa gak nyiapin jas hujan sih?!?”

“Kak Idan celewet!”

Syawal terkekeh, dia menarik tudung jaket Haikal hingga menutupi seluruh rambut ikalnya. “Ayo bilang sama Kak Idan, Kal… Ikal gak takut, kan udah pake merah.”

“Apanya yang merah?” bang Ikhwan menyela.

“Jaket Ikal yang melah, Kak Iwaaan…!!!”

“Heh bocah, warna merah juga kalau kena hujan keok tauuu!!!” aku meremas pipi bulat Haikal.

Bang Ikhwan bangun dari kursi, “Takut hujan di jalan, Bar. Kamu bawa mantelku saja. Bukan apa-apa, karena ada Ikal nih… buat jaga-jaga.”

Kulihat Syawal hendak menolak, tapi segera kusembur. “Jangan bertingkah! Sana ambil, banyak gaya sih kamu!!!”

Syawal mengekor di belakang Bang Ikhwan yang sudah menuju parkiran lebih dulu. Dalam gandengannya, Haikal berjalan sambil melompat-lompat. Kulihat bang Ikhwan melepaskan mantel hujan khas Polri miliknya dari cantelan motor dan menyerahkannya pada Syawal. Pacarku itu menerima sambil berkata entah apa. Mereka tampak berbasa-basi diselingi seruan Haikal. Setelah Syawal meninggalkan motor gede Bang Ikhwan yang terparkir tepat di tengah-tengah menuju skuternya yang ada di ujung kanan, aku baru berhenti memandanginya.

“Sembilan puluh satu, Riyadul Adli Ramadhan!”

Nomor antrian dan namaku diserukan asisten si dokter. Aku bergegas masuk ke ruang periksa. Dalam perjalanan menuju ke sana, aku merencanakan keluhan seperti apa yang akan kuadukan pada Dokter Udin―yang selalu salah itu, adapun keluhan yang kurencanakan adalah sebagai berikut : Saya demam setelah berhujan-hujanan dengan pacar saya saat pulang sekolah tadi. Pacar saya bandel sih. Sudah tahu mendung tapi tidak berusaha mengebut, sepertinya pacar saya sengaja ingin berhujan-hujanan dengan saya. Tapi lihat hasilnya kini, saya dan pacar saya demam begini… tolong saya dokter!

Dan dalam bayanganku, jawaban Dokter Udin―yang gak pernah benar―jika aku jadi mengajukan keluhan gila seperti di atas tak lain dan tak bukan adalah sebagai berikut : Plis deh, Nak! Jangan lebe!!!

Aku senyum-senyum sendiri dalam perjalananku menuju pintu ruangan Dokter Udin―yang biangnya salah―hingga…

TUIIING

Aku menabrak bingkai pintu.

Hasilnya, tentu suara-suara tawa pendek dari beberapa mulut. Aku memperbaiki letak kacamata dan mengelus-ngelus jidatku. Sekilas kulirik deretan kursi tunggu. Kutemukan Bang Ikhwan menunduk sambil geleng-geleng kepala. Dalam pemikiranku, saat ini Bang Ikhwan pasti sedang berujar ‘Kenapa aku bisa punya adik malu-maluin begitu?’ dalam hati.

***

Toples 2

Kita baru benar-benar menyadari seperti apa nikmatnya sehat ketika sedang jatuh sakit. Sepertinya pernyataan yang sering kudengar dari penceramah-penceramah saat khutbah hari Jumat memang mutlak benar, aku sedang mengalaminya saat ini. Semalaman aku bersin-bersin, kompres Ummi bolak-balik kering dan menghangat di dahiku. Obat yang diresepkan oleh Dokter Salahuddin belum menunjukkan khasiatnya. Yang aku takutkan, seperti namanya, siapa tahu Dokter Salahuddin kali ini salah ngasih resep untukku. Oh my… apa aku akan jadi salah satu korban malpraktek? Korban malpraktek perdana Dokter Salahuddin.

“Didan, makan dulu dikit…” Ummi masuk kamarku dengan sepiring nasi dan segelas air putih dalam nampan. Menu makan malam yang sudah kutolak tiga kali sejak pulang dari praktek dokter.

“Gak selera, Ummi… hidung Didan mampet.”

“Taruh balsam, mau?”

“Ogah, nanti serasa naik bus malam.”

“Terus, mau nahan lapar aja malam ini?” Ummi memelototiku, “kamu itu kalau sedang sakit mesti manja, geregetan Ummi ngurusnya.” Nampan makan malam diletakkan Ummi di atas buffet, “lima belas menit lagi Ummi balik ambil nampan, awas kalau isinya gak berkurang.” Dan dengan begitu Ummi berlalu keluar dari kamar.

Mendadak aku teringat Kak Aira melihat ketegasan Ummi kali ini. Jika sekarang kakakku itu ada di sini, dia pasti akan bersikap sama seperti Ummi. Mengejek aku manja kalau sakit dan mengancam jika aku nolak makan. Persis seperti Ummi. Tapi, apa benar kalau sedang sakit aku manja? Bukankah semua orang memang begitu ya kalau sedang sakit? Butuh perhatian ekstra dari orang-orang terdekat. Sepertinya Ummi perlu disadarkan tentang hal ini kapan-kapan. Lagipula, aku anak bungsunya, kalau bukan aku yang bermanja-manja dengannya, siapa lagi? Masa Bang Iwan?

Aku melirik nampan yang diletakkan Ummi. Nasinya tidak banyak, lauknya sayur bayam dan peyek udang, ada sambalnya juga, plus beberapa keping emping melinjo. Aku jadi ingin meluk Ummi karena di dalam nampan juga terdapat segelas besar air perasan jeruk berdampingan dengan gelas air putih. Kulirik wekerku, pukul sepuluh lebih sepuluh menit. Nafsu makanku benar-benar raib, tapi aku tak ingin mengecewakan Ummi.

Kusingkirkan handuk kompres dari dahi lalu kubangunkan diriku untuk duduk bersandar di kepala tempat tidur. Kuambil nampan dan kuletakkan di pangkuan. Saat nasi sudah kukunyah dalam mulut, aku kelabakan sendiri setelahnya. Kerongkonganku susah menelan. Sakitnya seperti ditusuk rumput jarum, menelan liur aja butuh perjuangan, konon lagi menelan kunyahan peyek ditambah emping ditambah sayur bayam ditambah nasi. Aku tak berani makan sambal kali ini.

Nada pesan hapeku berbunyi ketika aku sedang berjuang dengan suapan keduaku. Syawal mengirimiku pesan singkat. Ternyata hapenya tidak jadi rusak.

[ Udah tdr? ]

Kuhabiskan air jerukku dan kusingkirkan nampan kembali ke atas buffet. Yang penting aku sudah melaksanakan perintah Ummi, isi nampan sudah berkurang. Kuketik balasan untuk SMS Syawal, singkat saya. Hanya titik dua diikuti satu tanda petik setelahnya dan tanda buka kurung setelahnya lagi. Tak sampai semenit, nada pesanku berbunyi lagi.

[ Duh, kasian De2k Didan… Ap yg dpt B’ Akbar lakuin? ]

Keningku langsung berlipat-lipat ketika membaca pesan Syawal kali ini. Apa demam membuatnya berganti kepribadian? Sejak kapan dia membahasakan dirinya sebagai ‘abang’? selama ini langsung aku-kamu. Yang membuat perutku mual hingga nyaris muntah adalah, panggilannya buatku. What the hell is going on with him? Dedek Didan? Yang benar sajaaaa…!!!

Hemm… sepertinya Dokter Salahuddin juga salah memberi obat buat pacarku itu. Aku menerawang loteng, memikirkan balasan yang tepat untuk ke-gaje-an Syawal kali ini.

[ AWAS KALAU MASIH MANGGIL AKU DEDEK!!! ]

Tanpa kusingkat. Tanpa huruf kecil. Tak kurang dari tiga tanda seru.

Lalu Hapeku berdering lagi, nada panggil kali ini. Yang pertama kudengar ketika hape kudekatkan ke telinga adalah tawa sengau Syawal. Pasti hidungnya mampet juga.

“Kenapa belum tidur?” Syawal bersin satu kali.

“Gak bisa tidur, Bar. Miring kiri, lubang idung kiri sumbat, miring kanan eh yang kanan pula ngadat. Serba salah.”

Syawal tertawa lagi. “Telentang aja, trus mulutnya dibuka. Tapi sebelumnya, pastiin dulu gak ada cicak yang mau eek di loteng.”

Aku tertawa singkat untuk menghargai usaha Syawal menghiburku, meski jujur saja humornya maksa banget. “Pulsamu lagi banyak ya, Bar?”

“Enggak.”

“Trus, kenapa nelpon?”

“Pengen denger suaramu, mungkin bisa jadi obat tidur.” Syawal bersin lagi.

Di tempat tidur, aku tersenyum. “Apa suaraku terdengar sengau juga di situ?”

“Emm… sedikit. Tapi jadi makin seksi.”

Aku tertawa sekarang. “Obat Dokter Udin gak ngefek, Bar. Demamku gak turun, kerongkonganku makin sakit, idungku meler dua-duanya.”

“He eh. Wajar itu, Dan. Masa inkubasi flu, besok pasti ringan.”

“Ummi maksa aku makan.”

“Berhasil?”

“Cuma dua suap.”

“Kok dik…”

Tuutt tuutt tuutt

Aku terpingkal sendiri. Pulsa Syawal pasti habis. Dasar gak modal. Kuketik pesan sebelum aku kembali bergelung di bawah selimut. Pesan singkat yang hanya terdiri dari tiga kata lazim saja, selazim… I love you.

***

Aku melewatkan shalat subuh. Padahal Bang Ikhwan sudah membangunkanku tadinya. Syukurlah Abah tidak menyiramku dengan seember air. Ketika aku terbangun, jarum weker sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Bang Ikhwan sudah tidak ada di sebelahku, pasti dia sudah berangkat ke Polres dari tadi. Masih terbaring di tempat tidur, sayup-sayup aku bisa mendengar percakapan Ummi dengan Haikal, diselingi deru mesin jahit. Kubayangkan Haikal sedang mengubek-ubek kotak berisi kain perca Ummi seperti kebiasaan barunya akhir-akhir ini sementara ummiku menjahit.

Aku mengulet. Kusibakkan selimut dan duduk mencangkung di atas tempat tidur. Demamku sudah turun, tapi hidungku sudah sukses beringus. Tenggorokanku masih sakit menelan meski sudah tidak sesakit semalam. Kutolehkan kepala ke jendela yang tirainya sudah disibak Bang Ikhwan. Langit cerah. Kalau tidak sedang kurang sehat seperti sekarang, ini adalah hari libur pertama menjelang puasa yang ceria, seceria cuaca hari ini. Haikal sepertinya kelelahan bertanya ini dan itu pada Ummi, aku tidak lagi mendengar celotehnya. Sekarang deru mesin jahit Ummi lebih mendominasi.

Aku hendak turun dari tempat tidur ketika pintu kamarku terbuka, Haikal nyaris bergelantungan di kenopnya. “Kak Idan masih sakit???” tanyanya dengan nada tanya yang mendayu-dayu. Aku mengangguk. Bocah itu melepaskan kenop pintu dan setengah berlari menuju tempat tidurku.

Sepertinya hari ini Mbak Mai terlalu bersemangat ketika membedaki Haikal, atau bedak Haikal baru saja dibeli hingga bisa dipakaikan banyak-banyak. Muka Haikal nyaris mengalahkan muka pemain pantomim. Susah payah Haikal berusaha memanjat ke tempat tidur, aku sama sekali tak ada niat untuk membantu. Begitu sudah di dekatku di atas tempat tidur, aku terkekeh sendiri saat Haikal mengulurkan sebelah tangannya dan dengan gaya meyakinkan langsung menyentuh dahiku, dengan telapak tangannya bukan dengan punggung tangan.

“Kamu disuruh Kak Ibar ya, Kal?”

Haikal mengangguk sambil menarik tangannya dari mukaku. “Kak Ibal bilang, minta liat Kak Idan sakit.”

Ini artinya gimana sih? Kok rancu gitu kalimatnya. “Maksudnya, Kak Ibar minta tolong Ikal tengokin Kak Idan, gitu?”

Haikal mengangguk-angguk mantap sampai aku khawatir lehernya akan patah.

“Trus, kenapa gak langsung lihatin ke sini? Kenapa gangguin Ummi dulu?”

“Ikal lupa Kak Idaaaaan…!”

“Terus, ini jadi ingat kenapa?”

“Ummi bilang, Kak Idan lagi sakit.”

“Hemm… ini mau sembuh kok, Kal. Makasih ya udah jenguk Kak Idan.”

Haikal manggut-manggut lagi sampai kukira lehernya patah beneran.

“Trus, Kak Ibar gimana? Masih sakit?”

“Kak Ibal belsin-belsin.”

Sepertinya flu Syawal lebih parah dariku. “Ikal mukanya kenapa? Habis kecebur tepung kue?”

Haikal merem melek.

Aku menjangkau badan bulatnya dan kubawa duduk di depanku. Bocah ini tidak menolak saat aku menyapu pipinya kiri kanan untuk menyamarkan bedaknya. “Udah, sana gangguin Ummi lagi, Kak Idan mau mandi.” Haikal turun dari tempat tidurku dan tanpa berkata-kata berlari menuju pintu.

Aku berdehem-dehem sendiri, berusaha melegakan tenggorokanku. Saat sudah di kamar mandi, aku menyadari kalau perutku lapar, rasanya seperti puasa hari pertama saja, padahal satu Ramadhan jatuhnya besok. Ini efek gara-gara aku tidak menghabiskan isi nampan Ummi semalam.

Hhh… aku rindu tenggorokanku yang lempang-lempang saja dua hari lalu. Aku kangen hidungku yang kering-kering saja tanpa ingus bening yang mulai mengalir tanpa kusadari.

*

Sarapan dan makan siang kujamak dalam satu waktu, pukul sebelas. Setelah minum obat, aku menolong Haikal menjalin kain perca di ruang jahit Ummi hingga menjadi tali panjang sambung-menyambung. Setelahnya aku langsung menyesali tindakanku membantu bocah itu. Haikal menggunakan hasil kolaborasi kami itu sebagai sarana untuk membuat kekacauan selanjutnya di rumahku.

Dia berhasil memaksaku dengan rengekannya untuk mengikat boks Tupperware Ummi yang berisi gunting, meteran dan beberapa peralatan menjahit Ummi lainnya di ujung tali kain perca.

“Kal, nanti peralatan Ummi tercecer loh, kasihan nanti Ummi bingung nyariin.”

“Kan ada tutupnya, Kak Idaaan…!” Haikal menekan-nekan tutup boks dengan kedua tangan sambil setengah loncat-loncat.

Aku mendesah putus asa. “Ambil mobil-mobilanmu aja di rumah sana, trus bawa ke sini biar kita kasih tali ini.” Aku memutar-mutar tali kain perca. Haikal menggeleng keras-keras hingga aku harus memegangi kepalanya agar berhenti bergerak sebelum mukanya berpindah ke belakang.

Menahan dongkol, sambil mengelap ingus dengan lengan kausku, kuturuti permintaan Haikal untuk menjadikan boks peralatan menjahit Ummi sebagai ganti mobil-mobilan.

“Udah, jangan serampangan ya mainnya.”

Haikal mengangguk dengan muka bahagia.

Hhh… di mana orang-orang yang lebih berhak dibuat repot oleh Haikal dengan kelakuannya yang seribu satu macam itu? kenapa makin hari aku makin merasa kalau bocah ini lebih banyak berada di rumahku ketimbang di rumahnya sendiri? Kukira, tetangga-tetanggaku sudah tidak lagi memandang Haikal sebagai putra papa mamanya Syawal, tapi bocah hiperaktif ini sudah dipandang sebagai putra bungsu abah dan ummiku. Nyaris setiap hari, dari pagi hingga sore, Haikal pasti berada di rumahku, bersama Ummi jika aku sekolah. Entah apa yang membuat Haikal lebih suka bersama ummiku ketimbang bersama Mbak Mai sementara papa mamanya bekerja. Dan ummiku juga satu hal, hubungannya dengan Haikal sudah demikian eratnya hingga apapun yang menjadi maunya Haikal tak pernah tidak dituruti. Aku jadi bertanya-tanya, saat aku kecil dulu apa Ummi memanjakanku seperti memanjakan anak tetangganya itu? kalau tidak, ummiku sungguh kelewatan. Mungkin aku harus mencari tahu.

Haikal mulai sibuk menarik mobil-mobilannya ke seluruh penjuru rumah. Bunyi gludak-gluduk mulai ribut terdengar. Aku geleng-geleng kepala. Kuputuskan untuk menyusul Ummi ke dapur.

Aroma daging yang terbakar menerobos lubang hidungku, mengalahkan mampetnya dengan sekali terobos. Mendadak aku merasa ingin makan lagi. Sepertinya Ummi masak enak hari ini. Apa karena aku sedang kurang sehat?

“Wah, ada daging.”

Ummi mengalihkan perhatiannya dari wajan padaku. “Bukannya kamu Ummi minta lihatin Haikal?”

“Bosan lihat Haikal terus.” Aku mendekat ke kompor. “Ummi masak besar ya?” ummiku diam. “Masak daging karena aku sedang sakit ya?”

“Kakakmu mau pulang hari ini,” jawab Ummi singkat.

Aku kecewa. “Kirain…” Aku menjauhkan diri dari kompor dan duduk di kursi. “Ummi, waktu aku kecil dulu, kayak Haikal gak?”

“Beda, kamu kurus waktu masih kecil. Kan ada fotonya.”

Mungkin pertanyaanku kurang spesifik. “Maksudnya, kan Didan lihat Ummi tuh manjain Haikal banget. Semua maunya diturutin…” aku berhenti untuk mengelap ingus. “pas aku masih seumuran Haikal, digituin juga gak?”

“Lupa Ummi,” jawab ummiku enteng tanpa pikir-pikir.

Percuma saja. “Kak Aira sudah dalam perjalanan ya?”

“Iya, sudah berangkat jam tujuh tadi.”

“Kalau nanti aku tamat SMA trus lanjut kuliah ke luar daerah, pas aku pulang sewaktu-waktu saat liburan, Ummi masakin yang enak-enak juga gak kayak sekarang buat nyambut Kak Aira?”

“Tergantung, kalau Ummi masih sehat, dagingnya belum berubah harga semahal harga emas, terus kamu juga masih sehat wal afiat, insyaallah dimasakkan.”

Ah, jawabannya muter-muter. Kenapa gak langsung jawab singkat dan mantap, PASTI, gitu kan bisa. “Kok gak jawab pasti aja sih Ummi, biar senang dikit dengernya…”

“Kamu itu kurang kerjaan benar kalau sedang libur sekolah. Minum obatmu dan balik tidur sana, Ummi mau masak jangan diusik dengan pertanyaan tidak jelasmu itu.”

Aku mendecak hanya untuk membuat diriku disembur lagi.

“Durhaka kamu berdecak buat Ummi kayak gitu, bilang ah saja tidak boleh, di surau tidak dikasih tahu?”

Lagi-lagi aku ingat Kak Aira kalau Ummi sudah merepet seperti itu. “Iya iya, ada. Didan mohon ampun.”

“Sudah sana.”

Tanpa berkata-kata lagi aku segera meninggalkan dapur sambil membersihkan hidungku dengan ujung kaus.

***

Ini aneh.

Ruang tengah rumahku penuh orang, warga kampungku. Ummi dan abahku, juga Bang Ikhwan kulihat duduk di tengah-tengah ruangan, di dekat satu sosok yang terbujur lurus di atas tilam, berselimutkan kain batik. Aku tak bisa memastikan siapa gerangan sosok yang terbujur berselimutkan kain batik panjang itu. Aku memutar-mutar kepala, berusaha menemukan sosok kakak perempuanku. Namun nihil. Sosoknya tak kutemukan. Lalu aku melihat Syawal duduk bersama keluarganya di satu sudut, Haikal duduk di sampingnya. Keadaan Syawal amburadul. Kacamatanya miring ke kanan, rambutnya seperti tidak disisir. Dan yang mengherankan adalah, hidung Syawal meler terus tanpa henti. Yang lebih membuatku kian terbengong-bengong, Haikal yang duduk di samping kakaknya sibuk menarik tisu dari dalam kemasan dan mengelap hidung kakaknya tanpa berkata-kata. Satu tisu untuk sekali mengelap, begitu seterusnya. Apa yang terjadi pada Syawal hingga membereskan ingusnya sendiri saja dia sudah tak becus?

Aku ingin menghampiri Syawal dan berniat menjitak kepalanya, barangkali dengan begitu ia menjadi sadar dari keautisannya. Tapi langkahku urung karena kudengar isakan-isakan yang berasal dari tengah ruangan. Kutemukan ummiku mulai sesengukan, abahku juga, Bang Ikhwan apalagi. Aku makin heran dengan semua ketidakjelasan yang terjadi di ruang tengah rumahku. Aku harus bertanya pada Ummi.

Ketika baru satu langkah berjalan sambil berusaha agar tidak menginjak orang-orang yang duduk bersila di lantai rumahku, sekonyong-konyong aku seperti mendengar bisikan, terdengar jauh sekali.

‘laa ilaa ha illallah…’

Aku tertegun sambil menajamkan telinga.

‘laa ilaa ha illallah…’

Bisikan itu berulang, terasa lebih dekat. Suara perempuan.

‘laa ilaa ha illallah…’

Sekarang seperti bisikan itu langsung disuarakan di kupingku. Rasanya aku kenal suara itu. Kucoba untuk mengingat-ingat sambil kupejamkan mataku.

“LAA ILAA HA ILLALLAAAHHH…!”

Sekarang bisikan itu berubah menjadi teriakan. Dan aku langsung tahu suara siapa itu, tidak lain dan tidak bukan adalah suara Kak Aira. Aku membuka mata. Dan orang-orang menghilang, abah-ummiku ghaib, Bang Ikhwan raib, Syawal dan keluarganya lenyap, juga ruang tengah sudah tak ada. Yang kutemukan adalah ruang kamarku dan kikikan Kak Aira sebagai backsoundnya.

Sekarang megertilah aku maksud dari kejailan Kak Aira kali ini. “Kak Aira pikir aku mau mati hingga perlu disyahadatkan?” aku memberengut dan berseru setengah berteriak pada anak gadis abah-ummi satu-satunya itu.

Kak Aira meletakkan telunjuk di bibir, “Jangan berisik, nanti Ikal kebangun,” ujarnya sambil menunjuk ke balik punggungku.

Apanya yang jangan berisik? Dia sendiri tadi bukannya habis berteriak di kupingku? Aku menolehkan kepala ke sisi tempat tidur di belakangku. Ekor mataku menangkap sosok Haikal yang tidur telentang dengan cuping hidung kembang kempis. Kapan bocah itu ikut tidur bersamaku?

Kembali kutatap Kak Aira. “Kapan sih keisengan Kak Aira hilang?” aku masih tidak senang dengan perlakuannya sesaat tadi. “Ganggu orang tidur aja!”

“Emm… kapan ya?” kakakku itu berlagak mikir sambil mengetuk-ngetukkan telunjuk di mulut. “Sepertinya gak akan deh, Dan…” lalu dia terkikik. “Ummi bilang kamu sedang sakit, kupikir ada baiknya aku syahadatkan, siapa tahu kamu sudah dekat sekarat…”

Rasanya ingin saja aku menggebuk kakakku itu pakai guling sekarang juga. Kadang-kadang aku suka berpikir kalau Kak Aira itu anak pungut. Sikapnya jauh sekali dengan Bang Ikhwan, jika abangku itu baik dan nyaris kalem denganku, Kak Aira justru tak segan-segan membullyku tiap ada kesempatan. Aku menyabarkan diri, berlatih menahan emosi mengingat besok sudah harus berpuasa. Kuhembuskan napas panjang dan pelan. “Kapan sampai?”

“Lima belas menit yang lalu.”

“Siapa yang jemput ke terminal?”

Kak Aira tersenyum manis. “Coba tebak…”

Dari senyumnya, aku sudah tahu siapa yang menjemput biang rusuh satu ini, tapi aku malas menjawab jujur. “Tukang ledeng langganan Abah?”

Mungkin saking senangnya, Kak Aira lupa kalau aku baru saja meledeknya. Dengan manis dia membenarkan jawabanku, “Bukan, tapi Bang Awi.”

Rasanya aku seperti melihat bunga-bunga bertebaran di sekeliling Kak Aira dan kedua matanya mendadak berubah wujud jadi bentuk hati. Aku mual mendadak ketika kulihat Kak Aira kian menjadi-jadi senyumnya, matanya menerawang ke loteng, seakan-akan wajah tunangannya tertempel di sana. “Lebay…” gumamku sambil balik badan. Kupeluk badan montok Haikal dan tak kupedulikan lagi Kak Aira, kuteruskan tidur siangku yang terganggu.

***

Dengan berat hati, aku harus absen Shalat Tarawih malam pertama. Padahal kata Pak Sazali, fadhilat Shalat Tarawih pada malam pertama itu sungguh luar biasa. Jika kita melaksanakan Shalat tarawih pada malam pertama Ramadhan, Allah menjadikan keadaan kita bersih dari dosa seperti bayi yang baru dilahirkan. Hiks… padahal dosaku seabrek selama setahun belakangan ini. Tapi mau gimana lagi, aku tak mungkin berdiri dalam shaf sementara ingusku akan berceceran di atas sajadah nantinya. Daripada membuat orang lain tak nyaman dengan bunyi serut ingusku yang frekwensinya berdekatan dan virus influenza yang kutransfer tiap kali bersin, lebih baik aku mendekam di kamar dan mulai mendengarkan suara merdu calon abang iparku yang malam ini bertindak sebagai bilal Shalat Tarawih.

Kak Aira juga tidak ikut Shalat Tarawih, dia sedang mendapatkan apa yang disebut Kak Ros dalam kartun Upin & Ipin sebagai ‘Tuhan sayang lebih’ sehingga bisa berleha-leha di rumah sambil nonton tivi.

Sore tadi Syawal sudah mengesemesku mengabarkan kalau dia juga tidak ke mesjid. Repotnya, gara-gara tidak ikut ke mesjid, pacarku itu kebagian tugas buat jagain Haikal di rumah. Dan baru saja dia mengirimkan pesan singkat mengatakan kalau dia mati kutu di rumah.

Setelah membalas pesan Syawal untuk memberitahukan kalau aku akan menyeberang ke rumahnya, kubetulkan letak kacamataku dan kuambil jaket kotor Bang Ikhwan dari gantungan baju di belakang pintu lalu keluar kamar. Kutemukan Kak Aira sedang duduk oncang-oncang kaki di kursi ruang tengah, satu naskah tabloid entah apa berada di tangannya. Tivi berada dalam keadaan menyala, tanpa suara.

“Kak, aku ke rumah Syawal, ya.”

Kak Aira mendongak dari bacaannya. “Ngapain?”

“Mau numpang buang air,” jawabku asal-asalan sambil terus berjalan.

“Ke mesjid gak sanggup, keluyuran ke rumah orang malam-malam buta malah sanggup. Setan yang bertugas menyesatkanmu terlupa dirantai sepertinya bulan ini, Dan.”

Aku berhenti berjalan. Kutoleh Kak Aira yang sudah kembali menekuri tabloidnya. Bagaimanapun, ucapan Kak Aira sedikit mempengaruhiku. ‘Setan yang bertugas menyesatkanmu terlupa dirantai…’ begitu Kak Aira berujar. Setan yang bertugas menyesatkanku. Setan yang bertugas menyesatkanku.

Kak Aira memang berujar sepintas lalu, tapi efeknya tidak hanya sepintas lalu padaku. Aku mulai mencerna-cerna ucapan kakakku itu. Apa si setan sudah berhasil melaksanakan tugasnya? Untuk menyesatkanku? Agaknya setan itu memang sudah lama berhasil melaksanakan tugasnya sejak bertahun yang lalu, bahkan sebelum ia benar-benar dirantai. Perasaanku buat Syawal adalah bukti kesuksesan tugas si setan.

Aku mendesah lemah begitu sampai pada kesimpulan itu. Tuhan? Apa aku demikian berdosanya padaMu dengan memelihara perasaan ini?

Ragu-ragu, aku berbalik menuju kamar. Mungkin aku harus berusaha untuk menggagalkan tugas si setan lebih lanjut, sekurang-kurangnya untuk satu bulan ini saja. Semoga niatku ini benar-benar membuat apapun jenis setan yang bertugas menggodaku bulan ini tertangkap dan kena dirantai. Amiiin…

Kuketik pesan buat Syawal, mengabarkan kalau aku tidak jadi menyeberang.

***

 

To be continued, insyaallah

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com

follow ke-gaje-an-ku di @algibrannayaka