wpid-ryuta-imamura-cover.jpg.jpeg

an AL GIBRAN NAYAKA story

##############################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Ya Tuhan… rasanya aku ingin sujud sukur begitu selesai menamatkan cerita ini. Rasanya super duper melelahkan. Sungguh, kalian boleh percaya atau tidak, cerita ini kutulis selama sebulan (hah? yang benar saja, Nay! Masa cerita abal-abal gini nulisnya sampe sebulan, nulis novel aja gak sampe selama itu dweh…). Kenyataannya memang sebulan kok. Saat kutulis di awal Juni, kupikir bisa kupost pada pertengahan Juni, ternyata tidak terkejar. Dan akhirnya setelah segala perjuangan dan begitu banyak darah yang tertumpah (lebaaay…) akhirnya spin off ini bisa muncul juga di sini.

Terus, yang sedang menunggu-nunggu RAMADHAN & SYAWAL DI MUSIM BEDUG, emm… kayaknya harus siap-siap gigit jari deh, aku belum menulis satu paragraf pun *disambit*

Terus, kepada teman-teman yang hendak menjalankan ibadah puasa, kuucapkan selamat memperbanyak pundi amalan di bulan murah pahala itu, semoga apa yang kita semua lakukan benar-benar dihisab Tuhan sebagai amal baik. Amiiiiin.

Yap, selamat menyelami hati dan sanubari Ryu di dalam cerpen sekuel ini. Bagi teman yang belum mengetahui siapa Imamura Ryuta, biar gak bingung kusarankan search sendiri cerpenku sebelumnya yang bertajuk ALVERO DIGGORY. Semoga kalian menikmati membaca IMAMURA RYUTA seperti aku menikmati ketika menulisnya.

 

n.a.g

##############################################

 

Namanya Imamura Ryuta. Hidupnya memang sudah digariskan menjadi seorang gangster, mengikut gen pria yang menjadi ayah biologisnya. Ibunya, gadis Jepang yang santun salah memilih pria untuk jatuh cinta. Namun, berkat cinta tak direstui itulah ia lahir ke dunia dan membuktikan eksistensinya, eksistensi yang menuntut kiblatan katana dan letusan peluru sebagai penandanya, yang dibayar oleh darah dan maut sebagai harganya…

***

“Bagaimana kabarnya, Ryu-kaicho?”

Aku mengalihkan pandangan dari menatap siluet gunung Fuji―yang tampak demikian jelasnya dari teras kamarku―pada sosok Kiddo yang baru saja membuyarkan lamunan khidmadku pagi ini. Ia bahkan tampak tidak benar-benar ingin mendengar jawabanku dengan langsung duduk di kursi bersebelahan dan meneruskan game yang sedang dimainkannya di tablet. “Kabar apa?” tanyaku acuh.

Kiddo mengumpat dan memukul layar tabletnya. Sepertinya ia kalah bermain. “Kau tahu siapa yang kumaksudkan, Kaicho…,” jawabnya sambil melirik sekilas padaku sebelum memulai permainannya kembali.

“Tidak, aku tidak tahu siapa yang kau maksudkan.” Aku sengaja berkelit, berharap ia melupakan topiknya dan tidak mengusik lebih jauh lagi.

Kiddo berdecak menanggapi jawabanku. Sepertinya laki-laki ini mengalah kerena kudapati selanjutnya ia hanya diam.

Aku kembali menerawang. Tentu saja aku sangat tahu siapa yang Kiddo maksudkan. Hanya ia dan tiga karibku yang mengetahui, bahwa aku tidak hanya mengunjungi Meksiko untuk mengurus bisnis ayahku, tapi juga untuk mengikuti kabar keadaan seseorang di sana. Ah, aku sudah berkunjung ke sana sebanyak empat kali dalam kurun waktu enam bulan setelah ia menjadi manusia bebas, dan hingga kunjungan keempat aku belum juga punya nyali untuk memunculkan diri tepat di depannya. Bukan karena aku pengecut, tapi karena aku tak ingin sesuatu buruk menimpanya jika ia terlihat bersamaku. Dunianya akan baik-baik saja selama aku tidak masuk ke sana dan memberinya seribu satu kemungkinan buruk.

“Hei, Ryu-kaicho, aku masih belum mendengar jawaban!” Kiddo kembali bersuara, masih tanpa mau repot-repot mengalihkan perhatian dari layar tablet canggih miliknya. Ternyata ia tak gampang menyerah dengan topik itu.

“Dia baik-baik saja…” aku menjawab malas-malasan.

“Barbie bilang, dua bulan lalu dia juga mendengar jawaban begitu darimu.”

Sekarang aku tersenyum timpang. Teringat olehku saat Barbie mengaku rindu pada remaja yang dipanggilnya sebagai si seksi itu. Ryu, aku akan sangat berterima kasih kalau di kunjunganmu berikutnya ke sana kau mengajakku serta. Itu kata Barbie sehari setelah kepulanganku dari sana dua bulan lalu. Dan sekarang, Kiddo juga ingin tahu bagaimana kabarnya setelah empat kali aku ke sana. Mereka benar-benar peduli ternyata.

“Apa kau masih mengendap-endap seperti maling? Atau, berubah jadi hantu, seperti ninja?”

Aku tertawa mendengar pertanyaan Kiddo. “Tidak satupun.”

Untuk pertama kalinya, Kiddo fokus menoleh padaku, bahkan ia berhenti memencet-mencet layar gadgetnya. Gamer sejati itu menyeringai. “Jadi, kau sudah bercinta kembali dengannya?” sekarang alisnya ikut bergerak-gerak sementara ia tersenyum jahil.

“Gila, bukan itu yang menjadi maksudku!”

Kiddo tertawa, “Ah, Ryu-kaicho… kau tidak perlu malu-malu begitu,” ujarnya seraya kembali memusatkan perhatian ke permainannya yang sempat terjeda.

Sialan Kiddo. Kesimpulan sepihaknya yang tentu saja tidak benar ternyata sanggup membuat mukaku memanas. Bercinta. Hal itu baru satu kali kulakukan dengannya. Entah pun itu pantas disebut sebagai bercinta. Jika hakikat bercinta itu adalah bisa dinikmati oleh kedua belah pihak yang terlibat, aku meragu apakah ia menikmatinya saat itu, bisa jadi tidak. Sedang aku? Hemm… itu adalah salah satu kenangan terindahku, berada di posisi demikian intim dengannya, seintim aku yang tepat berada di dalam dirinya. Dan ya, aku menikmati satu-satunya kesempatan percintaanku saat itu bersamanya.

“Aku tidak mengendap-endap, Kiddo, tidak pula jadi ninja. Aku hanya berdiri, mengawasinya dengan teropong. Mungkin… seperti seorang mata-mata.”

“Hemm… masih belum ada kemajuan ternyata.”

“Ya ampun, kau dan yang lainnya sama saja!” aku berkata gusar. “Big-Guy menyarankanku untuk langsung menemuinya selagi ada kesempatan, Kaori bilang aku pengecut tolol, Barbie malah lebih berani minta izinku untuk menjadikan Alvero pacarnya jika aku tak menginginkannya lagi.” Aku menggeleng-gelengkan kepala, Kiddo kembali berhenti main game dan menatapku. “Kenapa kalian tidak juga paham bahwa hidupnya tidak akan aman jika berhubungan dengan orang-orang seperti kita?”

Kiddo menelan ludah. “Hidup Yuriko-chan aman-aman saja tuh. Padahal aku sudah menidurinya berkali-kali sejak setahun belakang ini.”

Aku tidak ingin menjatuhkan martabat salah satu pelacur pacar Kiddo itu―kalau Yuriko punya martabat tentunya, lebih tepatnya tidak ingin merendahkan dengan menjawab bahwa Yuriko aman-aman saja karena ia melacur untuk banyak gangster di sini. Dan aku sangat tahu bahwa Kiddo tidak benar-benar serius pacaran dengan wanita itu, predikat pacaran karibku satu ini dengan banyak wanita tidak benar-benar bisa dianggap lebih serius dari kegemarannya bermain game. Kiddo adalah gangster playboy kelas satu, dan sejauh ini julukan itu cukup berkelas dan punya semacam pamor untuk pemiliknya. Dan wanita-wanita yang disebut Kiddo sebagai pacarnya―tentu saja arti sebenarnya adalah wanita-wanita yang ditidurinya―seakan mendapatkan gengsi tertentu bisa berbagi ranjang dengan Kiddo, salah satu pengikut Black Dragon yang disegani.

Aku menghembuskan napas panjang, “Yuriko dan Alvero adalah dua hal yang berbeda, Kiddo.”

“Ya ya ya, aku mengerti,” jawab Kiddo tanpa mengalihkan perhatiannya. “Lalu, apa perkembangannya?”

“Dia membeli sebuah peternakan kuda, di daerah yang jauh dari kota…”

“Waow… itu keren.”

“Yeah, dan pintar. Properti itu tidak begitu besar memang, tapi justru begitulah lebih baik. Membeli peternakan kecil di pedesaan tentu tidak akan mencolok dan menarik perhatian.” Aku tersenyum sendiri, “Hidupnya akan baik-baik saja, Kiddo. Aku percaya itu.”

Dan sekarang, bayangan Alvero yang berkuda di kehijauan pegunungan landai yang sempat kuteropong minggu lalu mengusikku. Aku percaya pria tua gesit yang menjadi mentornya di peternakan sanggup menjaganya. Singkatnya, laki-laki yang kucintai itu sudah memperoleh hidup sebenarnya kembali, atau setidaknya mulai memperolehnya, mungkin juga keluarga lewat sosok Pak Tua yang kulihat mengajarinya berkuda.

Dan aku tidak ingin menjadi brengsek dengan masuk ke sana lantas membuat kehidupannya diintai resiko yang bisa datang kapanpun.

***

Gangster muda itu memang begitu menawan, begitu lemah lembut pada wanita, dan ibu Ryuta—gadis Jepang jelita dari keluarga terpandang—langsung terjerat. Ibunya diusir dari rumah begitu kehamilannya tak dapat disembunyikan, dan sang gangster tidak akan pernah diterima menjadi menantu di keluarga terhormat gadis yang dicintainya sampai kapan pun—meski ia sanggup meninggalkan dunia mengerikannya untuk itu. Namun cinta mereka tulus. Berdua, mereka menjalani kehidupan indah hingga putra mereka hadir, jauh dari kekejaman dunia hitam Jepang.

Namun resiko menjadi gangster terlalu besar. Kau tidak bisa begitu saja melenggang keluar dari lingkaran hitam penuh maut itu, tidak tanpa mengorbankan semua yang kau miliki, dan itu berarti adalah mati―yang pada banyak kasus tidak hanya tercukupkan dengan nyawamu saja. Di saat kau berpikir dirimu sudah aman dan terlupakan setelah tahun-tahun berganti, justru di saat itulah pikiranmu salah besar.

Selalu ada cara bagi masa lalu yang benar-benar ingin kau kubur selamanya untuk menemukanmu, sekali lagi. Bahkan mungkin, menemukan dan menghabisimu sekaligus…

***

Aku masuk Great Dragon Hall dan menemukan para pembesar sedang duduk melipat kaki saling berhadap-hadapan di kedua sisi ruangan yang selalu digunakan sebagai tempat resmi pertemuan pembesar Black Dragon itu. Ayahku, yang dipanggil mereka sebagai Imamura-sama, tepat berada di ujung ruangan, di tengah-tengah antara dua barisan itu, duduk dengan posisi lebih tinggi, seakan untuk menegaskan kepemimpinannya.

Sepertinya kedatanganku salah waktu, semua kepala menoleh serentak ketika aku muncul setelah membuka pintu geser. Kukira tadinya aku akan menemukan ruangan ini dalam keadaan kosong melompong sedang ayahku berada di ruangan setelahnya. Aku bermaksud menemui ayahku untuk melaporkan perkembangan bisnis remeh-temeh di Meksiko yang belum sempat kusampaikan saat kepulanganku kembali dua hari lalu. Bisnis kecil itu sendiri sebenarnya bukan perintah ayahku langsung, melainkan rekomendasi dari putra kandungnya, kakak laki-lakiku yang tidak bertalian darah. Dan kini aku merasa aneh melihat pentolan-pentolan Black Dragon dan pimpinan gangster kecil lain bawahannya berkumpul bersama ayahku sementara aku tidak dikutsertakan. Padahal aku sangat yakin ayahku tahu bahwa aku sudah kembali. Ada sesuatu yang kulewatkan ternyata.

Ekor mataku menangkap sosok Big-Guy yang duduk berdampingan dengan Tanaka-dono, atasannya yang mulai tampak uzur. Karenanya aku makin merasa aneh. Aku belum bertemu salah satu karibku itu sejak kepulanganku, dan itu tidak biasanya. Big-Guy memang bukan anggota asli Black Dragon, tapi sejak bosnya, Tanaka-dono memperkenalkannya pada ayahku sebagai anak buah barunya, Big-Guy langsung menjadi sahabat kentalku sejak saat itu. Tanaka-dono sendiri kuketahui sebagai pimpinan gangster pertama yang bergabung dengan ayahku, kedudukannya di Black Dragon tentu saja cukup kuat. Tak kutemukan tiga karibku yang lain di dalam barisan. Ini juga tidak biasanya.

Melihat mata ayahku yang menatapku tajam, aku siap untuk mengutarakan maaf atas kelancanganku karena langsung membuka pintu ketika putra kandung ayahku―yang kurasa tidak pernah lagi menyukaiku sejak kami menjadi dewasa―berucap sambil melempar senyum yang dalam pandanganku terlihat munafik. “Ah, Adik Ryu, kau sudah pulang ternyata. Bagaimana Meksiko? Kau bersenang-senang di sana?”

Aku merasakan itu adalah pertanyaan basa-basi, jadi aku hanya tersenyum sopan padanya. Kupikir, mungkin sebaiknya aku keluar saja. Tapi sebelum aku pamit, Kazuto-ani kembali bersuara. “Ayo, bergabunglah…” Jelas kulihat pandangan kakak laki-lakiku itu menyapu seluruh barisan yang duduk di sana sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kami sedang mengobrolkan perkembangan organisasi kita akhir-akhir ini.”

Aku melirik Big-Guy dan menemukan ekspresinya yang datar ketika pandangan kami bertemu, sedetik kemudian ia menundukkan kepalanya. Kupandangi ayahku yang riak mukanya masih sama sebelum menutup pintu dan berjalan untuk duduk di samping Kazuto-ani.

Lalu obrolan yang terasa kaku dan terkesan palsu menurutku bedengung dari beberapa mulut, seperti pembicaraan yang sengaja dibelokkan dari topik sebelumnya. Aku tak yakin apakah itu benar atau hanya firasatku saja sebagai manifestasi pemikaranku, karena tidak ada yang memberitahukan padaku bahwa orang-orang ini sedang berkumpul di ruang bos besar sementara aku tidak diundang. Entahlah. Tapi perasaanku kuat, ada sesuatu yang orang-orang ini sembunyikan dariku, entah apa itu.

Aku hanya diam sambil memerhatikan orang-orang sepanjang obrolan yang mendadak berubah jadi ajang saling mencandai diselingi tawa terbahak dari beberapa mulut, padahal ketika tadi tiba di depan pintu ruangan ini begitu hening hingga aku mengira kalau tempat ini kosong. Tidak lama setelah itu, mereka berpamitan pada Imamura-sama dan satu persatu beranjak keluar. Big-Guy mengekor di belakang Tanaka-dono setelah tuannya itu pamit pada ayahku. Sikap Big-Guy benar-benar tidak biasa.

Merasa bahwa bukan waktunya bagiku untuk bicara pada ayahku, juga karena Kazuto-ani terlihat seperti masih ada urusan dengan ayah kandungnya itu, aku mengangguk pada mereka berdua lalu bergerak keluar. Mungkin aku perlu bicara dengan Big-Guy.

***

Meski tersembunyi jauh di teluk yang jarang didatangi, tuan sang gangster mampu menjejaki rumah mereka. Dini hari itu salakan moncong-moncong senjata mengalahkan raungan bocah lima tahun yang tak bisa mematuhi perintah ibunya untuk tetap diam di balik pintu lemari. Ryuta kecil tidak melihat bagaimana samurai menusuk dada ayahnya di ruang depan, tapi pintu lemari yang tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan pemandangan sosok ibunya yang ditembus begitu banyak peluru membuat bocah itu meraung histeris.

Maut begitu dekat dengannya saat itu, salah satu gangster sudah siap untuk menarik pelatuk pistolnya setelah membuka pintu lemari saat tuan besar mereka berkata menegaskan perintah, dia bisa menggantikan ayahnya suatu saat nanti.

Dan begitulah, jalan untuk menjadi penerus ayahnya sebagai seorang gangster terbuka saat itu, meski itu berarti berdamai dengan orang yang membunuh orang tuanya. Ah, kenyataannya, Ryuta tidak pernah punya ingatan lagi tentang malam itu. Mereka meyakinkan sebuah kebohongan sebagai ingatan baru tentang asal-usulnya…

***

“Ada yang disembunyikan Big-Guy dari kita.” Tiga karibku menatapku dengan pandangan bingung. Poni Kaori sampai kusut karena keningnya berkerut-kerut. “Ada sesuatu yang tidak kuketahui dan sedang terjadi dalam Black Dragon. Firasatku mengatakan itu sesuatu yang buruk…”

“Ryu-san, kau membuatku takut.” Kaori menjangkau gelas dan menghabiskan sisa racikan sake modern miliknya.

“Apakah sesuatu itu semacam pengkhianatan?” Barbie memang menanggapi lebih santai sambil memuntir-muntir sejumput rambut panjang lurus miliknya dengan telunjuk kanannya, tapi meski begitu pertanyaannya cukup terkesan serius.

“Entahlah, mungkin sesuatu yang kita berempat tidak boleh tau.”

“Apa maksudnya, Ryu-kaicho? Kita berempat?” Kiddo mencondongkan badannya, nada suaranya pelan, seakan tak ingin pengunjung bar lain mendengar pembicaraan kami. Sejak aku memberitahu bahwa ingin membicarakan hal penting bersama mereka, Kiddo langsung men-quit game yang sedang dimainkannya.

“Apa kalian tahu kalau sore tadi ayahku mengadakan pertemuan dengan orang-orang penting di Black Dragon?” Barbie berhenti memuntir rambut, mereka diam sebentar lalu sama menggeleng. “Ini aneh bukan, semuanya ada di sana bersama ayahku, sedang aku seperti sengaja tidak diikutsertakan. Bukankah selama ini setiap ada pertemuan di Dragon Hall kita selalu ikut?” mereka mengangguk serentak. “Tapi Big-Guy ada di sana, bersama Tanaka-dono.”

“Ryu-san, bagaimana kau tahu kalau sore tadi ada pertemuan besar di Dragon Hall? Katamu, kau tidak diikutkan.” Kaori menggeser duduknya lebih rapat ke meja, membetulkan lipatan kakinya dan memandangku dengan mimik serius.

“Aku tidak sengaja ke sana… ah, maksudku, aku berniat menemui ayahku. Untuk ke ruangannya tentu aku harus melewati Dragon Hall lebih dulu. Kalian boleh tidak percaya dan berpikir ini cuma perasaanku saja, tapi sikap orang-orang di sana begitu aku muncul tampak aneh, bahkan ayahku seperti marah denganku.”

“Aku tidak mau memikirkan kenapa Imamamura-sama terlihat marah denganmu, Ryu-kaicho, yang aku bingungkan di sini adalah, mengapa kita berempat tidak diikutsertakan dalam pertemuan itu. Oke jika orang-orang berpikir kau belum pulang sehingga tidak ada yang memberitahukanmu, tapi aku juga Barb dan Kao tidak kemana-mana, bukan? Dan setan benar, Big-Guy yang hanya tangan kanan Tanaka-dono ada di sana. Tidakkah kita yang asli Black Dragon lebih berhak?” Kiddo terlihat berpikir kuat. “Kau bisa jadi benar, Ryu-kaicho… ada yang disembunyikan Big-Guy dan yang lainnya dari kita.”

“Hei, jangan berburuk sangka pada Big-Guy, oke! Jika Tanaka-dono ada di sana maka wajar saja jika Big-Guy juga ada bersamanya, Tanaka-dono tentu mengajak Big-Guy selaku orang kepercayaannya.” Kaori memang selalu berpikir penuh pertimbangan di antara kami semua.

“Apakah ini tentang pengkhianatan?”

“Ya Tuhan, Barb… ada apa denganmu? Siapa yang berani berkhianat dalam Black Dragon?” Kiddo menanggapi pertanyaan Barbie dengan gusar.

Barbie berkedip satu kali, menatap Kiddo sekilas lalu memandangku. Sebelum membuka suara, gadis yang mahir menggunakan dua pistol sekaligus itu mencondongkan badannya lebih dekat. “Jika kau yang putra Imamura saja seperti sengaja dipinggirkan kali ini, maka kami tentu saja lebih tidak dianggap lagi.” Barbie diam sejenak. “yang aku takutkan adalah, bagaimana jika kita tidak diikutkan dalam pertemuan tadi sore karena mereka hendak membicarakan sesuatu terkait dengan diri kita yang tidak boleh kita ketahui, semisal…” Barbie menelan ludah, suaranya lebih pelan ketika menyambung ucapannya. “Ada yang menghasut Imamura kalau kita berempat berkhianat darinya…”

Kiddo menggebrak meja. “Barb, kau gila!” ia melirik sekeliling lalu menatap Barbie tajam. “Jika ada yang mendengar omonganmu, bisa jadi mereka salah menafsirkan kita benar-benar berkhianat. Kau tahu apa artinya itu? Dasar dungu, itu artinya mati, Bitch!”

Barbie tidak menanggapi kekesalan Kiddo, juga tidak merasa perlu menonjok laki-laki itu karena berani memanggilnya bitch, bahkan Barbie sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada Kiddo, ia masih menatapku. “Ryu, aku mulai khawatir jika apa yang beberapa waktu lalu tak sengaja kudengar adalah benar-benar hal serius…”

Aku mengernyit menatap Barbie, menunggu ia menyambung keterangannya.

“Ada pengkhianat di Black Dragon…”

“Sialan, Barb…!!!” Kiddo bangun dari lantai dan bersiap pergi. “Aku tidak ikut obrolan ini, oke! Aku tidak tahu menahu.” Kiddo bersiap pergi.

“Kid, kembali ke tempatmu!”

“Ryu, ini gila, Barbie sudah tak waras!”

“Aku bilang, duduk!” Kiddo mendecak kesal dan kembali duduk di tempatnya. Sebelum kupusatkan perhatianku kembali pada Barbie, aku lebih dulu menatap Kaori, wajahnya sedikit pias. Aku tahu apa yang sedang dipikirkannya, jelas sama dengan apa yang sedang dipikirkan Kiddo dan Barbie, juga yang aku pikirkan. Ada yang menghasut ayahku kalau kami berempat berkhianat darinya maka dari itu pertemuan tadi sore yang kemungkinan membicarakan masalah ini dirahasiakan dari kami. “Barb, kau serius?”

“Kali ini kau terlalu lama di Meksiko, Ryu. Kukira malam itu aku salah dengar atau yang diucapkan Kazuto sambil jalan pada Koichi cuma bercanda saja. Tapi setelah apa yang kau beritahukan sekarang tentang pertemuan di Dragon Hall, rasanya itu bukan candaan…”

“Apa yang dikatakan Kazuto?” Kaori berbisik demikian pelannya.

Barbie melirik Kiddo sebelum menjawab. “Seperti yang tadi sudah kukatakan dan membuat kuzuri buruk rupa itu takut setengah mati.” Yang dimaksudkan Barbie sebagai kuzuri―monster―tentu saja Kiddo. “Kalau saja sekarang aku sedang memegang pisau, sudah kubuat penis jelek kuzuri sialan itu terkutung hingga hasratnya pada sumur Yuriko menemui jalan buntu.” Yah, begitulah Barbie.

Meski masih pias, Kaori tetap terkikik mendengar ucapan Barbie, sedang Kiddo hanya melengos.

“Tidak aman bicara di sini sekarang.” Aku berdehem. “Menurutku, kita harus bicara pada Big-Guy terlebih dahulu…”

Jika yang aku dan karibku sangkakan adalah benar, setidaknya sekarang aku tahu mengapa Kazuto-ani begitu menunjukkan ketidaksukaannya padaku semenjak kami sama-sama beranjak dewasa dan dilibatkan Ayah dalam Black Dragon, itu karena ia bermaksud menyingkirkanku suatu saat nanti. Dan sepertinya saat itu tidak akan lama lagi.

Pradugaku begitu kuat kali ini.

***

Imamura-sama mengambilmu dari jalanan, kau sedang kelaparan dan sekarat saat itu. Kalimat itulah yang terus diulang-ulang dengan lembut oleh wanita paruh baya pengasuhnya ketika suatu pagi ia terbangun dengan badan seperti terbakar. Seorang bocah lima tahun, yang sehari sebelumnya baru saja mengalami hal sengeri mimpi paling buruk, dengan jiwa terguncang, rapuh dan kosong, lalu padanya diyakinkan sesuatu yang terdengar cukup meyakinkan oleh orang yang juga terlihat sangat meyakinkan dan jujur, maka Ryuta kecil saat itu tak ubahnya sebuah bejana kosong yang diisi kembali, sedikit demi sedikit.

Bocah itu sakit seminggu lamanya, dan pengasuhnya dengan kelembutan tangan serupa seorang ibu merawat dengan misi utama menanamkan memori baru yang palsu dalam kepala Ryuta kecil yang malang. Kau anak jalanan yatim piatu, Tuan Imamura menyelamatkanmu. Kelembutan tangan seorang ibu di luar hanyalah kedok untuk menutupi tujuan jahat di baliknya. Sang pengasuh melakukan perintah tuannya. Minggu-minggu setelahnya, bocah itu menjelma seperti hantu. Seorang anak lima tahun yang kebingungan, menghabiskan hari dengan menatap kosong pada langit. Namun seiring waktu, keyakinan yang dipaksakan padanya lewat kelembutan sang pengasuh merasuk dalam sel-sel sarafnya, lalu ia meyakininya: Aku anak jalanan yatim piatu, dan Tuan Imamura menyelamatkanku.

***

Big-Guy seperti ditelan bumi. Dua hari sudah kami berempat mencari dan mencoba menghubunginya namun nihil, bahkan ia tak ada di kediaman Tanaka-dono―satu dari sekian banyak rumah besar khas tradisonal Jepang yang berada di sebelah utara lahan luas tempat markas besar Black Dragon berdiri megah. Selama dua hari ini pula aku merasa kalau gerak-gerikku dan tiga karibku seperti selalu diawasi.

Hari ini aku mencoba mencari kesempatan untuk berbicara dengan ayahku, tapi Kazuto-ani memberitahu dengan nada tak enak kalau ayah kandungnya itu sedang bepergian dan baru akan kembali seminggu kemudian. Aku tak bisa memastikan adakah keterangan kakakku itu benar atau hanya karangan saja. Atau kemungkinan lain, ayah angkatku itu tidak bersedia bicara denganku. Mendadak aku merasa kalau semua orang di Black Dragon berkomplot mengacuhkanku.

“Selama Oyaji tidak di sini, segala urusan di dalam Black Dragon menjadi tanggung jawabku. Jika ada hal yang ingin kau bicarakan dengan Oyaji, Adik Ryu, silakan bicara padaku.”

Aku tidak akan membicarakan apapun padanya, tidak selama aku masih meyakini kalau ia ingin menyingkirkanku―sesuatu yang alasannya sejauh ini masih membingungkan bagiku. Terlebih lagi untuk membicarakan apa yang dikhawatirkan Barbie, tepatnya, apa yang juga aku khawatirkan.

“Tidak ada, Kazuto-ani. Aku akan menunggu Oyaji pulang saja.”

Kazuto-ani menyeringai, “Aku khawatir,  saat Oyaji kembali nanti justru sudah jauh terlambat untuk hal yang ingin kau bicarakan itu.”

Aku mengangguk sopan padanya, memilih untuk tidak melanjutkan percakapan dan meninggalkan lorong yang menuju ke ruangan ayahku. Sejak kapan Kazuto-ani bertindak sebagai penjaga lorong itu? Sangat jelas kelihatan kalau ia tak ingin aku bertemu ayahnya, atau… sebenarnya justru ayahnyalah yang memberi perintah padanya agar bertindak demikian.

***

Bocah itu seperti mendapatkan keceriaannya kembali ketika seorang anak lelaki yang lebih besar suatu pagi datang ke rumah tempat ia diasuh si wanita paruh baya, nyaris dua tahun lamanya sejak pertama kali ia terbangun di sana suatu pagi dulu dengan badan membara dan kebingungan. Anak yang lebih besar itu datang bersama ayahnya, seorang pria besar yang berpenampilan mewah selayaknya tuan tanah dengan aura suram seorang kaisar diktator.

Ayo, beri hormat pada Imamura-sama, Ryuta-kun. Detik setelah sang pengasuh berucap demikian, Ryuta langsung menjatuhkan dirinya ke lantai, nyaris mencium kaki pria besar yang namanya sudah sering didengar dari si pengasuh, pria besar yang telah menyelamatkannya dari jalanan.

Mulai saat ini, kau adalah Imamura Ryuta, dan ini Imamura Kazuto, saudaramu. Hanya itulah kalimat yang diucapkan pria besar itu sebelum berlalu pergi. Dan begitulah, hari itu di usianya yang belum genap tujuh tahun, Ryuta sadar kalau ia baru saja diangkat menjadi seorang anak oleh tuan penyelamatnya. Ia tidak mengetahui kalau di saat yang sama ia juga baru saja diresmikan menjadi seorang gangster. Ketika sorenya Kazuto dijemput dua orang pria untuk pulang, mereka juga ikut membawa serta Ryuta. Bocah tujuh tahun itu hanya bisa menyapu air mata sambil melambai pada pengasuhnya yang melepas sambil tersenyum lembut. Tugasnya sebagai pencuci otak berakhir hari itu.

Musim-musim berganti di tanah luas tempat Ryuta tumbuh bersama kakak laki-laki angkat yang dikaguminya, Kazuto. Mereka belajar menjadi seperti yang Oyaji mereka inginkan. Keduanya belajar sejak masih begitu belia, dimentori langsung oleh sang ayah yang mendidik tanpa belas kasih.

Tahun-tahun bergulir, melewati berkali-kali luruhan salju yang memutihkan halaman, melewati berkali-kali mekaran sakura yang mempercantik seluruh cabang, berkali-kali guguran daun momiji yang menguning dan berkali-kali hujan natsu. Ryuta tumbuh menjadi remaja yang kuat, hasil tempaan sang ayah. Ia kini pintar menggunakan samurai, ia kini mahir bertarung dengan tangan kosong. Hanya tinggal menunggu masa sampai sang ayah memperkenalkan peluru kepadanya.

Bersama Kazuto yang kini mulai lebih dihormatinya―seiring kesadaran yang timbul ketika usia mereka kian bertumbuh―sebagai putra kandung sang ayah dimana kedudukannya tak mungkin setingkat dengannya yang anak angkat, Ryuta melewati hari dengan menempa fisik, menyempurnakan kemampuannya untuk membinasakan, demi menyongsong sesuatu yang Oyaji mereka janjikan, menjadi seorang gangster.

Ketika saat bagi kalian datang, aku tak ingin ada yang tidak siap. Kalimat sang ayah seakan menjadi penyemangat dan suntikan suplemen bagi keduanya. Ryuta berlatih keras kerena tak ingin mengecewakan orang yang diyakini telah menanam budi baik padanya. Kazuto berlatih terus-terusan demi membuktikan kepada ayahnya bahwa dialah yang paling baik di antara dirinya dan Ryuta. Dan suatu saat, semua itu akan dibuktikan dengan satu hal, pembunuhan pertama mereka…

***

“Big-Guy benar-benar mengajak perang dengan kita.” Kiddo mengumpat dan meninju setir. “Kalau kutemukan, panggil aku banci jika tidak bisa merontokkan beberapa giginya.”

“Seingatku, bukannya kau yang hampir dibuat babak belur ketika pertama kali Big-Guy diajak Ryu-san bersama kita?”

Yang dimaksud Kaori adalah kejadian ketika aku mengajak Big-Guy ke bar untuk menemui mereka suatu kali dulu di awal pria besar plontos itu bergabung bersama Black Dragon. Kiddo yang sedang mabuk mencerocos banyak dan kesemuanya sangat membuat Big-Guy terhina. Ketika Kiddo bangun dari posisi duduknya dan mulai mengelus-ngelus kepala licin Big-Guy sambil terus meracau sementara aku dan yang lainnya duduk santai membiarkan kedua orang itu berkenalan, mendadak saja tubuh Kiddo terbanting ke atas meja dan langsung membuat benda itu berpatahan. Sementara Kiddo berguling-guling kesakitan sambil mengusap-usap punggungnya, Kaori dan Barbie terkikik dahsyat dan menyalami Big-Guy. Kau punya bakat hebat, pria besar. Demikian kata Kaori saat itu. Aku jadi penasaran dengan ukuran celana dalammu. Dan Barbie tetap dengan ciri khasnya.

“Ah, Kaori-chan, itu adalah pertarungan tak adil. Aku mabuk saat itu.” Kiddo beralasan.

“Huh, dalihmu. Tanpa mabuk pun kau belum tentu menang dari Big-Guy. Kecuali dengan Yuriko. Kau bisa menang kapanpun atasnya bahkan ketika mabuk berat.” Barbie mencibir. “Aku heran, bagaimana gadis-gadis bodoh itu bisa demikian gilanya padamu. Menurutku, kau hanya menang tampang doang, pasti tak ada yang luar biasa dari isi celanamu.”

Kudengar Kaori terkikik.

“Sialan, Barb. Kapanpun kau bersedia, akan kubuktikan padamu kalau kau salah besar,” Kiddo menggeram.

In your mind, Kid.

Aku diam saja mendengarkan percakapan absurd mereka. Mataku masih mengawasi ke luar jendela mobil yang dikemudikan Kiddo. Kepekatan malam di luar sana membuatku buta, yang kutangkap hanya siluet batang-batang pohon gundul tanpa daun. Musim gugur sedang berada pada puncaknya. “Apa kita akan menemukan Big-Guy di sana?” kudengar Kaori bertanya dengan nada tak yakin, ditujukan padaku. Atas usulku, sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju daerah asal Big-Guy yang sempat kudatangi dulu, jauh ke selatan. Big-Guy sendiri yang mengajakku ke sana, menyambangi sebuah makam dalam komplek sebuah kuil yang menurut keterangannya adalah makam orang paling berjasa dalam hidupnya. Pertimbanganku adalah ucapan Big-Guy saat itu yang memberi tahu kalau ia kadang-kadang ke sana, menghabiskan sedikit waktunya bila dirasa perlu.

Aku sudah siap memberi jawaban buat Kaori ketika ekor mataku menangkap kilatan lampu Mobil di balik tikungan yang baru saja kami lewati. Darahku langsung tersirap begitu menyadari bahwa mobil itu sama sekali tidak memperlambat lajunya ketika makin dekat ke mobil kami, padahal jalanan sedang menurun dan tikungan itu belum lurus sempurna. Firasatku langsung buruk begitu melihat nyala lampu satu mobil lagi yang mengekor di belakang mobil pertama.

“Apa mereka mau bunuh diri?” Kiddo menggumam sambil melirik kaca di atas kepalanya.

“HOLD ON…!!!” Aku berteriak memperingatkan.

BRAAAKKK

Tubuhku nyaris terlempar ke jok depan ketika mobil pertama di belakang mobil yang kami tumpangi menabrak cukup keras. Kepala Kaori membentur atap mobil, di kananku ia kontan mengaduh sambil memegangi kepalanya. Kiddo mengeluarkan sumpah serapah sambil berusaha mengontrol setir dan menjauhkan diri dari mobil di belakang kami yang terus memburu, beruntung laki-laki itu memasang seat beltnya. Yang paling parah adalah keadaan Barbie yang menempati jok di samping Kiddo. Kulihat kaca depan mobil tepat di bagian Barbie duduk berada dalam keadaan retak, sorotan lampu mobil di belakang kami memperlihatkan ada bercak darah di retakan kaca itu. Barbie terlihat membekap dahinya dengan tangan kiri sedang tangan kanannya berusaha memasang sabuk pengaman joknya.

“Barb, kau tak apa-apa?” aku bertanya khawatir.

“Sialan.” Barbie mengumpat. “Tunggu apa lagi? Tembak mobil jahanam itu!”

Aku menurunkan kaca pintu untuk mengeluarkan setengah badanku dan bersiap-siap menembak dengan satu-satunya pistol yang kubawa. Belum pun sempat menembak, kudengar Kiddo berteriak kencang.

“EVERYBODY GET DOWN…!!!”

BRAAKKK

Pistolku jatuh ke jalan sedang bahu kananku membentur bingkai pintu mobil. Sedetik tadi kupikir kalau mobil kami bakal terjungkal. Apapun yang baru saja terjadi di depan sana hingga membuat Kiddo tak bisa mengelakkan mobil kami tanpa menabrak, kelanjutannya pasti akan lebih dahsyat.

Dan benar saja. Kami diberondong senapan dari arah depan. Kiddo masih sempat memundurkan mobil sejauh tiga meter sebelum akhirnya mobil kami diam. Aku terlambat menyadari tembakan-tembakan itu. Ketika sudah berhasil merunduk nyaris rata dengan bagian dasar mobil bersama Kaori di jok belakang, kusadari kalau sebutir peluru sudah bersarang di bahu kananku, sakitnya luar biasa. Timah panas itu seakan membakar bahuku. Aku menggigit geraham kuat-kuat sedang satu tangan menekan bekas tembakan. Sedikit saja aku terlambat masuk ke mobil atau tembakan itu sedikit lebih ke atas, bisa jadi saat ini aku sudah mati karena pasti peluru itu akan menyasar kepalaku.

Rentetan tembakan kini tidak hanya berasal dari arah depan, tetapi dari arah belakang juga. Mobil kami tepat terkepung di antara keduanya. Aku tak tahu berapa mobil yang mengepung kami dari arah depan, tak sempat kulihat, Kiddo lebih tahu karena ia yang menyetir. Aku juga tak bisa memastikan apakah Barbie dan Kiddo masih hidup, tapi Kaori masih memegangi pergelangan tangan kananku kuat-kuat. Kupikir, malam ini adalah ajalku. Mungkin aku akan mati tanpa perlawanan. Sial, aku malah menjatuhkan pistolku.

Merasa cukup memberondongi kami dengan senapan dari mobil mereka, orang-orang itu berhenti. Aku mendengar pintu-pintu mobil dibanting menutup, dari arah depan dan belakang. Lampu-lampu mobil merefleksikan siluet bayangan mereka di rangka mobil kami yang pasti sudah penuh lubang. Kaca mobil tak ada lagi yang utuh. Dalam pikiranku, aku sudah bisa membayangkan apa yang selanjutnya bakal terjadi. Mereka akan mendekat memeriksa, membuka pintu dan kembali memberondongkan senapan untuk memastikan kalau tugas mereka berhasil.

Kurasakan genggaman Kaori di lenganku bergetar. Dalam remang kami saling bertatapan. Kulirik satu tangan Kaori yang bebas, ia sudah memegang satu dari dua pedang sabit yang menjadi senjata favoritnya selama ini, tak kulihat pasangan kembar senjata itu. Lalu Kaori melepaskan genggamannya pada lenganku, kukira ia akan mengambil satu lagi pedang sabitnya, ternyata ia merogoh ke balik setelan jas ceweknya yang modis dan mengeluarkan sepucuk pistol. Dengan isyarat mata ia memintaku menggunakan senjata api itu. Setelah mengambil pistol pemberian Kaori, kami sama-sama berbalik menghadap sisi pintu masing-masing, untuk bersiaga menyambut serangan selanjutnya. Kulupakan rasa sakit di bahu kananku, jika malam ini aku harus mati, setidaknya aku tidak mati seperti domba yang pasrah menunggu disembelih tukang jagal.

Langkah-langkah sepatu yang menapak di jalan terdengar kian dekat. Aku menunggu dengan berdebar, pistol kugenggam dengan kedua tangan sekaligus. Aku berusaha melirik Kaori yang juga berada dalam posisi setengah berbaring di belakangku, kurasakan sesuatu mengganjal belakang pinggangku sebelah kanan. Shit, bagaimana aku bisa melupakan pedang miniku. Kujangkau senjata daruratku itu. Dalam hati aku merutuk sendiri ketika bunyi sedikit nyaring terdengar menyertai keluarnya mata pedang dari gagangnya. Kembali kulirik Kaori, entah sejak kapan ia sudah mantap memegang dua bilah pedang sabit andalannya di tangan, padahal tadinya kupikir ia hanya membawa satu.

Lalu hal tak terduga terjadi. Sedikit membuatku gembira namun juga sedikit kusesali. Harusnya Kiddo dan Barbie menunggu sesaat lagi sampai manusia-manusia keparat itu datang lebih dekat ke mobil kami. Tapi rasa gembiraku lebih besar karena mengetahui kalau mereka masih hidup.

“SEKARANG…!!!” itu suara Barbie.

Dan selanjutnya dua letusan tembakan mengawali baku tembak berikutnya. Kuharap Kiddo dan Barbie berhasil membidik beberapa orang di sebelah depan.

Apa yang dilakukan Kiddo dan Barbie tentu saja membuatku dan Kaori merubah posisi. Sekarang posisi kami jadi setengah duduk, berlindung di balik jok yang tadi menyelamatkan kami dari berondongan senapan dan balas menembak melewati bagian belakang mobil yang sudah terbuka tanpa kaca lagi. Tepatnya, hanya aku yang menembak dari sini, sedang Kaori sibuk merogoh sakunya, kurasa mencari magasin persediaannya. Dan benar, ia punya dua. Perlawanan balik kami yang tiba-tiba membuat orang-orang itu kembali mundur dan berlindung ke mobil masing-masing.

“Makan ini keparat!”

Wutt wutt

Kaori nekat melempar dua pedang lengkungnya sekaligus masing-masing ke arah dua orang yang berlindung di balik pintu salah satu mobil sebelah belakang. Pedang Kaori yang sebelah kanan nyaris menyayat pelipis kiriku ketika ia mengambil ancang-ancang untuk melempar, benar-benar edan. Tapi yang kemudian terjadi membuatku angkat topi buat gadis ini. Meski salah seorang dari keparat yang dibidiknya cukup pintar dengan balas menembaki pedang kaori hingga jatuh setengah jalan, tapi yang satunya melesat sebat membeset udara dan menghancurkan kaca pintu yang menjadi perisai pria di sebelah kanan. Pedang Kaori menancap tepat di leher orang.

Pada kesempatan yang sama, aku berhasil membidik dua orang di balik mobil yang satunya. Masing-masing di kepala dan di posisi jantung.

“Semuanya, bertahan…!!!”

Kiddo memberi ingat. Lalu entah apa yang dipikirkannya, dengan nekat ia memasukkan kembali gear mobil yang mesinnya masih menyala dan segera memundurkan kendaraan kami dengan kecepatan penuh. Sadar apa yang akan dilakukan Kiddo, aku dan Kaori sontak kembali berpegangan kuat. Jika Kaori langsung membenamkan dirinya kembali ke bawah jok, aku malah menghujamkan pedangku hingga terbenam ke dalam sandaran jok sebagai pegangan dan melanjutkan menembaki musuh di sebelah belakang. Aku bisa menerka apa yang sedang direncanakan Kiddo, jadi kupermudah usahanya dengan membuat keparat-keparat di sebelah belakang mengendurkan usahanya untuk menghalangi laju mundur mobil kami. Dari arah depan, Barbie masih terus balas menembak. Kiddo menabrak dua mobil di belakang hingga menimbulkan celah. Kuharap ia cukup sadar dengan apa yang dilakukannya. Kiddo pasti tau kalau ban mobil kami tak ada yang utuh sempurna setelah diterjang begitu banyak peluru. Tapi saat melihat celah itu, harapanku menggunung.

Kiddo tak menunggu kesempatan terbuang. Dengan ganas ia menginjak pedal dan mundur dengan laju tak terbendung. Kuakui ia cukup mahir mengemudi, dengan jalan yang menikung sedemikian rupa, ban mobil yang kempes dan dihalangi dua mobil dimana orang-orang terus menembakkan senjata mereka, Kiddo berhasil membebaskan rongsokan mobil kami hingga beberapa meter jauhnya. Kulihat dua mobil yang tadinya menghalangi kami di sebelah depan segera menyalakan mesin dan siap mengejar, begitu juga dengan dua mobil sisanya. Keadaan menguntungkan kami ternyata tidak bertahan lama.

Kiddo mengganti gear dan bersiap memutar mobil untuk membenarkan posisi. Saat sudah setengah jalan, peluru itu datang dan menerjang laki-laki muda itu tanpa ampun.

DOR

Swiiiing

Rasanya semua orang di mobil bisa melihat peluru itu,

FUCK!!!

“KIDDO…!!!” Barbie yang duduk di sebelahnya segera mengambil alih kemudi begitu lengan kanan atas Kiddo ditembus peluru.

Kaori berteriak panik dan segera membantu Kiddo membendung lukanya. Melihat Kiddo, aku jadi ingat luka tembakku sendiri. Tapi tak ada waktu untuk mengkhawatirkan keadaan sendiri. Segera kutarik sosok Kiddo untuk pindah ke jok belakang bersama Kaori. Barbie sudah berhasil memutar posisi mobil ketika aku selesai menyeberang ke tempat yang ditinggalkan Kiddo dan mengambil alih kemudi.

Meski aku tahu keadaan mobil kami tak sebanding dengan kendaraan orang-orang yang mengejar di belakang sana, tapi aku tak mau menyerah begitu saja. Kutekan gas kuat-kuat dan mati-matian mempertahankan kemudi agar mobil tidak melaju keluar jalur dan terguling. Rasanya mobil kami sudah berjalan dengan rodanya saja, berat dan mulai melambat. Dan kami masih terus ditembaki dari belakang dari empat mobil sekaligus.

“Sialan, peluruku habis!” Barbie kembali duduk setelah beberapa saat tadi nekat melongok lewat pintu untuk sesekali balas menembak. Sekarang aku bisa melihat kalau kening Barbie sedikit bengkak, darah setengah mengering juga membuat wajah cantiknya tampak suram.

“Jahanam betul, siapa keparat-keparat itu sebenarnya!” di jok belakang Kiddo masih terus mengeluarkan sumpah serapahnya di antara lenguhan mengaduhnya. Aku yakin ia sendiri tahu jawaban dari pertanyaan yang diserukannya dengan nada marah.

“Ryu-san, berikan aku pistolnya!” Kaori mengulurkan tangannya yang memegang satu sisa magasin yang belum sempat kupakai tadi.

“Ryu, tidak bisakah kau mengemudi lebih cepat lagi!” Barbie berteriak di sampingku. “Aku tak ingin mati malam ini, tidak di tangan bangsat-bangsat Black Dragon setan itu.”

Kurasa percuma saja menanggapi ucapan Barbie, ia sendiri pasti faham keadaan mobil kami. Setelah menyerahkan pistol pada Kaori yang menjadi satu-satunya amunisi yang kami miliki sekarang, aku kembali berjuang membuat jarak dengan pengejar kami yang memburu seperti anjing pelacak lima meter di belakang. Kaori sudah mulai menembak, menghemat pelurunya dengan bijak. Kiddo sudah berhenti mengaduh, kurasa ia kini mulai berdoa pada tuhannya―jika ada. Ketika Kaori melempar pistol di tangannya karena kehabisan peluru dan mengelesoh duduk saling menyandar bersama Kiddo, dan Barbie terlihat lemah di joknya dengan pandangan murung ke depan, sementara empat mobil di belakang kian menutup jarak, kurasakan inilah akhirnya. Ketika mereka berhasil memapasi kami yang pasti akan terjadi dalam hitungan detik lagi, saat itulah kematian akan datang bagiku dan tiga karibku ini. Ya, beginilah akhir hidupku.

Tiba-tiba aku ingin mengingatnya sekali lagi, untuk yang terakhir kalinya sebelum ajal membawaku pergi. Aku ingin membayangkan kilasan kenanganku dengannya, saat-saat yang kuhabiskan bersamanya di kamar kokoh itu, ciuman perpisahan kami, gambar-gambar dirinya yang kulihat lewat teropongku. Semua tentangnya, untuk yang terakhir kalinya. Alvero… setelah saat ini, aku tak akan bisa mengingatnya lagi.

Aku tersenyum di tempat dudukku. Merasakan damai aneh yang tiba-tiba menentramkan hatiku. Segalanya mendadak bagai putaran lambat. Lampu mobil menyorot tajam di belakangku. Hanya tinggal hitungan detik saja, dan peluru-peluru itu akan mengirim nyawa kami ke kematian. Rasanya sekarang aku mulai takut akan neraka.

Alvero

Hatiku berkali mengulang nama itu.

Ketika mobil kami mendekati pertigaan, mataku menangkap sebuah lori yang melaju kencang. Kukira ajalku bukan lewat peluru-peluru para pengejar kami, tapi aku dan karibku akan lebih dulu mati karena menabrak lori tersebut, baru kemudian jasad kaku kami akan diberondong bangsat-bangsat pengejar itu.

Tapi ternyata tidak.

Timingnya terasa begitu pas. Ketika Barbie berteriak histeris karena lori itu terlihat akan menabrak mobil kami tepat dipertengahan, ternyata justru mobil kami lolos. Begitu mobil kami berhasil menghindari tabrakan, kendaraan besar itu sontak berhenti, posisinya menutup seluruh ruas jalan dengan bodinya yang besar. Kendaraan raksasa itu seakan malaikat penyelamat yang tiba-tiba datang dan membendung laju empat mobil yang mengejar kami. Dua mobil yang berada paling depan tidak boleh tidak, pasti langsung menabrak badan lori itu, terbukti dari suara dentuman dahsyat yang terdengar mengerikan beberapa detik setelah kami berhasil lolos.

Aku menarik rem beberapa meter setelah merasa terbebas dari maut. Ketika kutolehkan kepalaku ke belakang―hal serupa yang juga dilakukan tiga karibku, kulihat seorang pria besar―entah bagaimana caranya―keluar dari atap kontainer dengan dua senapan mesin maha besar di tangan kiri kanan. Sedetik kemudian, percikan api keluar dari moncong kedua senapan mesin itu seiring renteng amunisinya yang melintang di badan si pria besar terus berkurang. Pria besar itu menembaki empat mobil di bawah sana tanpa ampun. Ia baru benar-benar berhenti ketika senapan mesinnya tidak lagi berputar, amunisinya habis. Apapun yang ada di bawah berondongannya, kuyakin semua sudah lumat luluh-lantak.

Si pria besar yang sudah kuduga siapa gerangan dianya memutar badan, mengangkat tangan kanannya ke arah mobil kami dan berteriak. “Halo, Ryu… kalian merindukan Big-Guy, hah?” lalu ia terbahak.

“Keparat, Big-Guy! Ke mana saja kau dari tadi ketika kami nyaris dibikin shushi…!” Kiddo berteriak marah. “Kami nyaris celaka gara-gara mencarimu, bangsat!”

“Big-Guy, seterlambat apapun kau datang, aku tak peduli. Ingatkan aku untuk mencium selangkanganmu nanti.” Barbie membuka pintu mobil dan melakukan ciuman jarak jauh dengan gaya genit buat pria besar yang masih bertengger di atas boks kontainer sambil makin kencang terbahak. Sepertinya Barbie sudah lupa pada luka dan memar di keningnya akibat terbentur kaca.

“Big-Guy, aku berhutang nyawa padamu…!” Kaori merangkak keluar dari bagian belakang mobil yang sudah menganga tanpa kaca. Ia tak mau repot-repot keluar lewat pintu ternyata.

“Lupakan soal hutang-piutang, Kaori-chan. Yang penting kalian selamat.” Big-Guy melompat turun, “Hey, Ryu… kenapa kau diam saja, heh?”

Aku tersenyum lalu keluar dari mobil. “Selalu on time, my friend…”

“Ryu-kaicho, kau berdarah!” Kiddo berseru nyaring begitu ia keluar dari mobil setelahku sambil membekap lengan kanannya yang tertembak ke dada. Apa dari tadi ia buta? Punggungku sudah basah sejak di dalam mobil, harusnya ia bisa melihat ketika aku pindah ke jok depan.

“Ya ampun, Ryu… kau juga tertembak.” Barbie berlari dan segera menarik jasku, membuntalnya menjadi bola dan menekan lubang yang terus mengeluarkan darah di bahu kananku.

“Big-Guy, Kiddo dan Ryu-san butuh segera ditolong.” Kaori kembali panik dan ikut-ikutan menekan lukaku.

“Ryu-kaicho yang perlu segera ditolong, aku tidak apa-apa.” Kiddo berujar cemas.

Rasanya aku mulai pusing. Darahku banyak keluar. Kutatap Big-Guy dengan mata nanar, pria besar itu tampak bimbang sejenak. “Kita tak aman berkeliaran di kota sekarang, mereka pasti menemukan kita. Terlalu bahaya jika harus ke rumah sakit, bahaya juga jika kita berada terlalu dekat dengan markas.” Big-Guy mendekat dan memapahku. “Kita butuh seseorang yang bisa mengeluarkan peluru, seseorang yang tidak mencolok di tempat yang tak diketahui banyak orang…”

“Yuriko-chan!” Kiddo berseru mendadak. “Dia pernah menjahit lukaku satu kali…”

“Apanya yang tidak mencolok dari pelacur pacarmu itu, semua orang tahu kau sering tidur di kamarnya.” Barbie tidak setuju. “Begitu mereka tau kalau kita selamat, tempat pacarmu itu yang akan didatangi terlebih dahulu.”

Kiddo terdiam sejenak, “Kuharap malam ini ia ada di sana. Aku tau tempat rahasia Yuriko-chan…”

“Tunggu apa lagi, kita harus bergegas.” Big-Guy segera menyeretku menuju lori kontainernya.

“Bukankah kendaraan ini justru akan kelihatan mencolok?” Kaori berujar ketika kami merangkak naik melalui pintu supir. Ternyata bagian kepala lori dan boks kontainer di belakangnya langsung terhubung karena sisi boks yang berdempetan dengan kepala lori sudah dihilangkan. Big-Guy pasti sudah memperhitungkan segalanya. Itulah mengapa tadinya ia begitu cepat bisa muncul di atap kontainer untuk beraksi layaknya Hannibal cs.

“Aku memarkir versi imutnya satu kilometer dari sini,” jawab Big-Guy setelah kami semua berada di dalam kontainer. “Tekan terus luka kalian, malam ini akan terasa lebih panjang.”

Dan lori itu melaju kencang membelah pekat.

Yang dimaksud Big-Guy dengan versi imut lorinya adalah sebuah minivan yang seluruh bodinya tertutupi stiker tokoh kartun dalam ukuran-ukuran besar.

“Saatnya untuk piknik, anak-anak…” Big-Guy menoleh Kiddo, “tempatnya jauh?”

“Satu jam jika aku yang menyetir?”

“Dengan keadaan tangan seperti penderita polio begitu?” Big-Guy menggeleng-gelengkan kepala. “Akan kubuat setengah jam!”

Kiddo segera masuk ke jok di sebelah pengemudi.

Setelah kami semua sudah di dalam minivan, Big-Guy menoleh ke jok belakang tempat aku beserta Barbie dan Kaori duduk. Keduanya masih menekan luka tembakku. “Bertahanlah, Ryu…”

Aku tersenyum, “Aku pernah mengalami yang lebih parah dari ini, percayalah.”

Big-Guy mengangguk-angguk lalu menatap Kaori, “Di bawah jokmu ada air minum, mungkin bisa mengobati haus kalian dan mengurangi rasa sakit Ryu…” lalu Big-Guy mulai menyetir seperti orang gila.

Air yang dikatakan Big-Guy bisa mengobati haus dan mengurangi sakit itu adalah minuman alkohol, tentu saja. Kaori membuka satu botol untukku dan mengoper satu botol pada Barbie yang langsung membuka tutupnya dengan beringas dan menenggak setengah isinya.

“Berikan aku satu.” Kiddo meminta dengan tak sabar.

Lalu kami berlima membisu, sebagian kelelahan dan sebagian lain kelelahan sekaligus kesakitan. Minivan yang dikemudikan Big-Guy menghindari jalan-jalan besar, menuju daerah yang disebutkan Kiddo sebagai tempat rahasia Yuriko.

***

Jika kalian sanggup mengalahkan mereka, artinya kalian sudah siap berada bersamaku di Black Dragon. Demikian Imamura berkata pada dua pemuda di hadapannya, yang berdiri tegap dengan katana di tangan masing-masing. Kedua pemuda itu, Ryuta dan Kazuto, membungkuk hormat lalu berbalik. Keduanya berjalan gagah ke arena landai yang dikelilingi orang-orang dengan posisi duduk melipat kaki. Di sana sudah menunggu lawan mereka, dua orang samurai terlatih berbadan nyaris dua kali postur keduanya.

Setelah saling membungkuk hormat, samurai-samurai segera terlepas dari sarungnya dan kilatan-kilatan menyilaukan mata meramaikan arena. Satu lawan satu. Ryuta melawan samurai yang menjadi musuhnya dan Kazuto menghadapi bagiannya.

Pertarungan itu ditonton dengan ekspresi datar oleh sang ayah, nyaris tanpa berkedip. Keempat petarung seakan menjelma jadi singa lapar, kimono dan hakama mereka tak ada lagi yang utuh. Samurai lawan sudah berkali-kali menjamah badan Ryuta, dadanya berdarah-darah. Parut-parut melintang tentu akan membekas di sana ketika luka-luka sayatan itu sembuh nantinya. Namun sejauh itu, pertarungan Ryuta dengan samurai lawannya masih tampak imbang. Sebelum ada yang yang jatuh dan kalah, pertarungan tidak akan dihentikan, meski badan keempat orang itu penuh luka bekas jamahan pedang.

Kazuto tidak lebih unggul dari lawannya, malah ia yang menderita luka lebih banyak. Semua orang bisa melihat begitu jelas kalau ia tidak bertarung sebaik saudara angkatnya yang lebih muda.

Suatu ketika, setelah kiblatan-kiblatan samurai mematikan yang terjadi sepanjang waktu pertarungan, Ryuta berhasil membabatkan pedangnya ke lengan lawan hingga samurai sang lawan terlepas di tangan. Ryuta tak menunggu sampai lawan berhasil meraih pedangnya kembali. Sambil menekuk satu kaki hingga posisinya lebih rendah dari lawan, ia melayangkan pedangnya membabat pinggang lawan. Lawannya tumbang di lantai arena, megap-megap sambil memegangi luka besar di pinggang. Masih hidup.

Tapi Kazuto tidak seberuntung dirinya. Dengan napas memburu, Ryuta memperhatikan kakak angkatnya itu mempertahankan diri dari derasnya kiblatan pedang lawan yang datang seperti kitiran. Keadaan Kazuto sungguh mengenaskan, punggungnya penuh luka memanjang, begitu juga bagian depan badannya. Hanya menunggu waktu saja sampai Kazuto terkapar di lantai. Dan sepertinya itu akan segera terjadi.

Ketika Kazuto terhuyung-huyung setelah dadanya ditohok gagang samurai lawan, Ryuta melihat bagaimana pria yang menjadi lawan kakak angkatnya itu melompat tinggi dengan pedang terangkat siap melancarkan serangan pamungkas untuk merubuhkan lawannya. Dan Ryuta tak bisa untuk tidak bertindak. Ia bisa memastikan kalau kakak angkatnya tak mungkin selamat dari serangan hebat itu. Sebelum pedang itu membabat sisi kiri tubuh kakak angkatnya yang terlihat sudah mati langkah dalam pertarungannya, Ryuta bergerak cepat menyongsong serangan. Sekali lagi anak muda itu membuktikan keganasannya. Pria yang menjadi lawan Kazuto terguling di lantai arena sambil meringis kesakitan. Sama seperti rekannya, pinggangnya juga menganga lebar mengeluarkan darah. Juga masih hidup.

Keheningan melanda tempat itu beberapa detik. Ketika kemudian Ryuta berbalik untuk menghadap Kazuto yang tadi dilindunginya, kakak angkatnya itu justru menggerakkan samurai demikian cepatnya pada saat bersamaan dengan gerakan berbalik Ryuta.

Aku bisa melakukannya sendiri. Kazuto berteriak dengan tubuh bergetar menahan marah, sekaligus malu.

Ryuta tidak berusaha menutup luka akibat goresan ujung pedang Kazuto di wajahnya, tepat di sisi kiri garis rahangnya. Ia hanya berdiri dengan kepala tertunduk. Kazuto menjatuhkan pedangnya dengan kesal lalu berjalan cepat meninggalkan arena. Orang-orang tak ada yang bersuara, dan Ryuta masih tegak di tengah gelanggang pertarungan yang baru saja ia menangkan.

Sesaat kemudian ayah angkatnya turun dari kursi dan berjalan menghampiri. Di tangan kanannya tergenggam sebuah kalung dengan liontin naga hitam bergelung dalam lingkaran. Selesaikan. Ryuta hanya diam tak menanggapi. Selesaikan ujianmu. Ryuta mengangkat wajah, memandang pada ayah angkatnya dengan tatapan datar. Hunus pedangmu dan jadilah Imamura sejati. Ketegasan terdengar jelas dalam ucapan sang ayah, sesuatu yang tak bisa dibantah. Peraturan pertarungan diubah sang ayah detik itu juga, dari hanya sekedar merobohkan menjadi harus membunuh. Harus ada kematian untuk membuktikan kemenangan. Titah terakhir Imamura adalah absolut.

Maka demikianlah yang dilakukan Ryuta. Ia mendekati samurai yang menjadi lawannya, yang tumbang di tangannya pertama kali. Ia menatap sesaat ke dalam mata pria itu yang tampak seperti menghiba. Kemudian Ryuta mengangkat pedang dengan kedua tangan sekaligus. Ia berteriak kencang ketika menancapkan pedangnya ke dada samurai yang sudah pasrah menerima ajal. Sekujur tubuh Ryuta gemetar sesudahnya. Itu adalah pembunuhan pertamanya.

Ketika sang ayah mendekat dan mengalungkan rantai berliontin naga dalam lingkaran ke lehernya, anak muda itu jatuh berlutut. Sejak saat itu, ia sudah menjadi gangster seutuhnya. Ia sudah membuktikan jika dirinya mampu membunuh. Ia sudah memenuhi takdir yang disiapkan pembunuh orang tuanya buatnya.

Dan sejak hari itu, Kazuto tidak seramah yang dulu-dulu lagi. Ketidaksukaan Kazuto kepadanya berlangsung berangsur-angsur seiring usia mereka yang terus dewasa, makin kentara dari waktu ke waktu. Dan Ryuta menyadari itu. Meski sikap Kazuto membaik padanya ketika mereka sudah benar-benar dipercayakan sang ayah untuk mengurus banyak hal di Black Dragon, tapi hati kecil Ryuta tahu bahwa saudara angkatnya itu tidak akan pernah kembali menyukainya seperti ketika mereka masih kanak-kanak. Meski demikian, Ryuta tetap menghormati Kazuto, sebagai putra kandung orang yang telah memberinya kehidupan.

***

Di balik figurnya sebagai seorang pelacur, Yuriko adalah wanita pemberani. Kiddo sempat bercerita dalam perjalanan, dulu Yuriko pernah belajar di sekolah perawat, setahun saja. Ia berhenti menjadi gadis baik-baik ketika konflik dalam keluarganya membuatnya muak. Ia meninggalkan keluarganya dan dengan mudah mengambil keputusan untuk mengubah dunianya seratus delapan puluh derajat, dan seiring waktu Yuriko menjadi seperti apa dirinya sekarang.

Tak ada peralatan medis di rumah kecil yang dihuni Yuriko. Tapi kami sudah sangat beruntung karena ia ada di sana. Aku menelungkup di atas meja makan di dapur Yuriko dengan kemejaku menyumpal mulut. Peluru Kiddo akan ditanganinya setelahku.

Yuriko bahkan belum sempat mengenakan pakaian yang layak. Hanya kemeja tipis longgar yang sekarang menutupi kulit mulusnya. “Ini bakal sangat sakit,” ujar Yuriko sambil mengikat rambutnya lalu buru-buru menyiapkan peralatan yang ia perlukan. Sekilas, aku bisa melihat pisau makan dan pinset di dalam mangkuk yang di bawa Yuriko ke meja.

Tadinya saat kami tiba dan Kiddo menggedor pintu, gadis itu menyambut kami dengan pistol siap ditembakkan di tangan, hanya mengenakan bra dan celana dalamnya. Kami membangunkannya dari tidur.

“Pegangi dia.” Yuriko memberi perintah, lalu Big-Guy serta Kaori juga Barbie segera menekan badanku. Selanjutnya, aku merasakan perih yang amat sangat ketika pacar Kiddo itu menuangkan minuman keras ke luka tembakku. Badanku menggelinjang menahan perih luar biasa. Andai aku tak menggigiti kemeja di mulut, pasti teriakanku akan membahana. “Ini masih belum seberapa.” Yuriko memberi tahu.

Sialan. Aku meludahkan kemejaku lalu kupandang Yuriko yang sudah memegang pisau makan, “Tunggu sebentar, Nona,” ujarku padanya. Sekarang kupandang Big-Guy yang masih menekan badanku. “Big-Guy, pukul aku!”

Big-Guy mengernyit.

“Sialan, pukul saja aku!” kuangkat kepalaku untuk dihajar. “Buat aku pingsan.”

“Ryu, aku tak tega.” Big-Guy menggeleng keras.

Fuck!” aku menoleh pada Kiddo yang duduk di kursi, masih sambil membekap lengan kanannya. “Ayo pukul aku, Kid!”

“Percayalah, Ryu-kaicho… aku sangat ingin melakukannya. Tapi aku tak bisa memukul keras dengan tangan kiri, maafkan aku.”

Aku menggembor marah dan kembali menatap Big-Guy. “Aku akan membunuhmu kalau kau tidak segera memukulku!” aku membeliak pada Big-Guy, “SIALAN, PUKUL AKU…!!!”

PAAAMMM

Kurasakan rahangku seperti mau patah, tapi aku masih belum pingsan. “Jangan memukul seperti seorang banci!” aku berteriak kesal pada Big-Guy yang baru saja melayangkan tinjunya ke wajahku. Sekilas kudengar Kiddo terkekeh.

Lalu kelebatan tinju besar Big-Guy melayang sekali lagi. Dan mendadak aku buta. Semuanya gelap.

***

Ryuta mendapatkan karib dekat setelah tiga tahun menjadi anggota Black Dragon, dua orang perempuan cantik yang sebaya dengannya dan seorang laki-laki tampan lebih muda dua tahun darinya. Ketiganya punya cerita berbeda mengapa bisa sampai menjadi anggota Black Dragon, meski demikian latar belakang mereka sama, anak jalanan yang gemar mencopet dan jago berkelahi.

Ketiganya menghormati Ryuta sebagai putra pimpinan Black Dragon, meski begitu keakraban mereka tidaklah serta merta menjadi kaku lantaran kedudukan yang berbeda. Mereka berteman dan punya hubungan erat selayaknya keluarga. Tak ada yang ditutupi di antara mereka berempat. Bahkan Ryuta merasa aman-aman saja mengakui ketertarikannya pada anak muda tampan yang terpaut dua tahun di bawahnya. Dan Kiddo, nama si anak muda itu, menanggapi dengan canda tanpa merasa tak nyaman apalagi kaget sedikitpun oleh pengakuan Ryuta.

Wah, Barb, Kao… ternyata aku lebih beruntung dari kalian berdua, aku punya kesempatan menjadi menantu Imamura-sama suatu saat nanti jika Ryu-kaicho tidak kepincut pemuda lain. Demikian Kiddo berkata pada dua gadis sahabatnya. Mereka terbahak mendengar tanggapan Kiddo. Ryuta tersenyum saja tika itu. Karib-karibnya tidak merasa terganggu dengan pengakuan mengejutkan tentang orientasi seksualnya. Aku hanya sebatas suka, tidak lebih. Dan Kiddo menepuk bahu putra angkat bosnya itu sebagai bentuk pengertian.

Ketika suatu saat nanti kau bertemu seseorang yang tepat, kau tidak akan hanya sebatas menyukai saja, Ryu-san… kau akan jatuh cinta juga. Ryuta hanya mengangguk pada salah satu gadis di depannya yang berkata seperti seorang bijak.

***

Aku berhutang budi besar pada Yuriko, kami semua. Kiddo tak salah menjadikan Yuriko pacarnya, wanita itu sangat baik, dan sangat berani. Yuriko sadar resiko yang harus dihadapinya jika siapapun pihak yang memburu kami mengetahui tempatnya. Tapi alasan Yuriko ketika aku menyinggung masalah ini padanya―ketika aku sadar di pagi hari setelah ia mengeluarkan peluru di bahuku―juga cukup menakjubkan. Aku tak senang melihat Kiddo kesulitan, dan teman Kiddo adalah temanku juga. Demikian Yuriko berujar yakin. Dan Kiddo langsung mencium pacarnya detik itu.

Kuharap, dua orang unik itu benar-benar punya alasan bagus untuk bertahan pacaran. Alasan sebagus cinta. Mungkin terlihat aneh, seorang gangster dan seorang pelacur. Saling menyukai, tanpa peduli kekurangan satu sama lain yang menganga dimana-mana, jelas tampak. Ternyata aku salah menganggap hubungan pacaran Kiddo tidak lebih serius dari kegemarannya bermain game. Dengan Yuriko, ia cukup meyakinkan. Dua hari sudah bersembunyi di tempat Yuriko, aku bisa melihat bagaimana Kiddo dan Yuriko ketika saling memandang, bagaimana penuh kasihnya Yuriko memperlakukan Kiddo. Kutemukan diriku kerap tersenyum ketika mataku tak sengaja menangkap kebersamaan mereka. Kalau harus jujur, aku bahagia sekaligus iri.

“Big-Guy belum juga kembali.” Barbie duduk di kursi di depanku, plester luka masih menempel di keningnya. Baju Yuriko yang dipakainya terlihat pas. “terus terang, aku mulai khawatir.” Barbie memandang ke jendela. “jika yang dikatakannya sebelum pergi pagi itu benar, bahwa yang ingin kita mati adalah orang-orang Black Dragon sendiri, maka begitu mereka tahu kita selamat, orang pertama yang akan dicurigai telah menolong kita tentu saja Big-Guy, dia teman kita paling dekat, orang yang paling mungkin membantu kita dibanding yang lain…” Barbie diam sejenak seakan memberi waktu bagiku untuk memahami maksudnya. “Ini yang aku khawatirkan. jika dia berkeliaran di dalam Black Dragon di saat dirinya sedang dicurigai, pasti posisinya sangat sulit.”

Aku merasa kalau ucapan Barbie amat sangat masuk akal. “Big-Guy mengatakan sesuatu penting sebelum pergi? Sesuatu yang kalian lewatkan mungkin?” aku masih belum siuman ketika Big-Guy pergi saat fajar dua hari lalu.

“Kurasa tidak. Dia hanya bilang ingin mengawasi perkembangan di markas dan akan segera kembali. Tapi lihat, ini sudah dua hari dan dia bahkan tidak memberi kita satupun kabar.” Barbie gusar.

“Kita tunggu saja sampai tengah malam, kalau dia belum juga muncul, seseorang harus menyusulnya.”

“Aku akan menyamar ke sana jika diperlukan.” Kaori muncul sambil meletakkan nampan berisi tiga mangkuk nasi lengkap dengan sumpit di masing-masing mangkuk di depan kami, lauknya kelihatan lezat, masih mengepulkan asap. Itu adalah hidangan makan malam kami. “sekarang, tenangkan pikiran dan makan dulu. Aku diijinkan Yuriko mengacak-acak perbekalannya,” sambung Kaori.

Ini adalah menu makan pertama hasil olahan dapur langsung semenjak kami di tempat Yuriko, yang sudah-sudah kami hanya makan makanan kemas siap saji.

“Oh, kau akan jadi seorang istri yang baik, Kaori-chan,” seloroh Barbie sambil menjangkau mangkuk bagiannya.

Arigatou, Barb…” Kaori menolehku yang masih belum menyentuh mangkuk, “Ryu-san, kau juga makan, setelah ini aku akan mengganti perbanmu.”

Aku mendesah dan mengambil makan malamku, pikiranku masih tertuju pada Big-Guy. Kalau saja ia pergi ketika aku siuman, banyak hal yang harus kutanyakan padanya. “Mana Kiddo dan Yuriko?”

“Kubiarkan mereka berdua di dapur,” jawab Kaori lalu mulai menikmati makan malamnya.

Aku tersenyum, “Kalian memperhatikan?” kulirik Barbie dan Kaori bergantian. “Kurasa, Kiddo benar-benar jatuh cinta pada Yuriko, dan menurutku Yuriko juga sungguh-sungguh punya perasaan pada Kiddo.”

“Yah, mereka cocok. Yang satu sudah sering tidur dengan banyak perempuan sedang yang satu sudah membuka zipper banyak pria.” Barbie menjawab cuek dan meneruskan makan.

Kaori lebih tulus dengan menanggapi sambil tersenyum, “Setelah semua ini selesai, aku berangan-angan dapat melihat mereka menikah.” Kaori menatapku lama, “Aku juga berharap hal serupa untukmu, Ryu-san… aku ingin melihat kau dan Alvero bersama…”

Aku tidak menanggapi Kaori, kulanjutkan makanku sambil menunduk. Kudengar Barbie berdehem, “Sepertinya ada yang sedang iri pada pasangan lain juga saat ini…”

“Oh, diamlah, Barb. Aku tidak seperti itu…” Tapi Barbie malah terkikik mendengar ucapanku.

“Aku yakin, si seksi itu juga pasti sedang mendambakanmu saat ini, sepanjang waktu mungkin, hari demi hari.” Barbie berdehem, ia mulai menyebalkan. “Oh, dewa penolongku… kapan kau akan kembali dan menghangatkan malam-malam dinginku. Oh, ksatria penyelamatku… tahukah kau jika setiap detak jantung dan setiap hela napasku penuh pengharapan akan hadirnya dirimu… ohh…”

Shut up, Barb…!” penuh jengkel aku membeliak pada Barbie yang tentu saja menanggapinya dengan terkikik.

“Ryu-san, apa kau demam? Wajahmu memerah…” Aku tahu kalau Kaori juga bersekutu untuk menggodaku.

“Oh, iya Kaori-chan… aku sedang demam asmara.” Dan Barbie sukses menirukan suaraku dengan kadar serak yang lebih parah, nyaris seperti nenek-nenek. Tapi… apa suaraku memang semengerikan itu?

Kemudian dua wanita itu terkikik bersama.

***

Begitu banyak laki-laki di sekitarnya, tidak sedikit yang menarik. Dengan posisinya sebagai putra bos gangster besar―meski hanya putra angkat, harusnya bukan perkara sulit bagi Ryuta untuk mendapatkan seorang pria, bahkan lebih dari satu pria jika ia mau. Ryuta bisa mengumbar kejantanannya di merata tempat jika ia mengesampingkan etika dan cukup bajingan untuk melakukannya. Tapi ia tidak begitu. Selain karena ingin menjaga diri dan kehormatan ayah angkatnya―apapun itu kehormatan yang dimiliki seorang bos gangster, Ryuta juga tidak mengumbar hasrat di lingkungannya di Jepang karena belum menemukan saat dan alasan yang tepat untuk melakukan itu. Belum ada yang benar-benar sanggup membangkitkan sisi lain dirinya yang mendekam sunyi jauh di dasar jiwa.

Namun desas-desus yang sampai ke telinganya ketika ia mengembara jauh ke barat karena suatu tugas yang ia ketahui disetujui ayahnya, Ryuta berpikir bahwa mungkin dirinya secara kebetulan telah menemukan saat yang tepat. Rumor menyebutkan bahwa lelaki ini masih muda, begitu tampan, begitu menarik segala indera, begitu istimewa, dan hanya orang tertentu yang bisa menjamahnya. Singkatnya, rumor menyebutkan, laki-laki muda ini istimewa. Dan Ryuta penasaran untuk membuktikan kebenaran rumor itu, penasaran untuk membuktikan keistimewaan seorang Alvero Diggory yang melegenda di kalangan orang-orang yang tidak banyak dikenali oleh orang-orang.

Dan siapa sangka, ketika pertama kali melihatnya, ternyata Ryuta tidak hanya telah kebetulan menemukan saat yang tepat, tetapi juga alasan yang tepat. Sisi lain yang mendekam itu akhirnya bebas. Ia bercinta seperti musafir kehausan bertemu telaga, seperti harimau lapar melihat rusa tak berdaya dan pasrah menunggu diterkam. Sosok yang digembar-gemborkan itu menggoda dirinya hingga ke sum-sum tulangnya. Begitu hanyutnya Ryuta melampiaskan egonya yang terpendam sekian kurun, ia bahkan lupa berkata-kata ketika itu.

Saat diusik bayangan laki-laki muda bernama Alvero Diggory itu beberapa hari kemudian, Ryuta tak tenang makan dan tak nyenyak tidur. Hasratnya akan laki-laki muda yang baru digagahinya satu kali itu bukan hanya sekedar gejolak di selangkangan, tapi juga disertai rasa aneh di dalam dadanya. Jangan-jangan… aku telah jatuh cinta. Dan tahulah Ryuta, bahwa alasan yang membuatnya begitu bersemangat untuk melampiaskan segala ego untuk pertama kali langsung pada seorang berjenis kelamin sama dengan dirinya, adalah cinta. Ryuta semakin meyakini alasan itu ketika ia memantapkan hati untuk kembali mendatangi ranjang Alvero Diggory sesudahnya.

***

Semua orang kaget ketika Big-Guy datang bersama Tanaka-dono menjelang tengah malam, masih dengan minivan penuh stiker kartun. Terlambat lima menit saja, Kaori pasti sudah meninggalkan rumah Yuriko dan menyusul ke markas. Saat Big-Guy datang dan membuat kaget seisi rumah, Kaori sudah selesai bertransformasi menjadi seorang pria, lengkap dengan kumis tipis dan brewok kasar di sekitar dagu. Meski demikian, semua orang setuju kalau penyamaran Kaori gagal, ia tetap saja kelihatan cantik dan akan segera dikenali sebagai seorang wanita walau dadanya sudah rata.

Ketika Big-Guy mengajak kami semua ke ruang tengah rumah Yuriko karena katanya Tanaka-dono ingin membicarakan hal penting, Kaori langsung membongkar penyamarannya dan bernapas lega karena sedari tadi ia mengaku sesak napas sebab dadanya dibebat habis-habisan oleh Barbie dan Yuriko.

Adalah keajaiban, di saat kami diburu sedemikian rupa oleh teman sendiri untuk dilenyapkan, justru Tanaka-dono yang bisa dikatakan sebagai sesepuh dalam Black Dragon menunjukkan keberpihakannya padaku dan karibku. Tentu untuk sikapnya ini Tanaka-dono harus mengambil resiko besar. Jika sampai ketahuan, ia juga bisa ikut dilenyapkan, walau ia sudah bagai keluarga buat ayahku.

“Jepang sudah tidak aman lagi buat kalian, terutama buatmu Ryuta.” Tanaka-dono menatapku, tongkatnya yang berupa sebilah samurai dalam sarung terkunci diletakkannya di pangkuan. Tanaka-dono tidak pernah bepergian tanpa membawa tongkat sekaligus senjatanya itu meski aku tak pernah melihat ia menggunakannya. Itu tak perlu selama Big-Guy ada bersamanya. “Selagi kalian punya waktu, tinggalkanlah Jepang…”

Aku berpandangan dengan Tanaka-dono. “Berarti apa yang kami pikirkan adalah benar? Bahwa semua ini adalah ulah Black Dragon sendiri, untuk menyingkirkan kami…”

“Karena kami dituduh tidak setia lagi pada Black Dragon?” Barbie yang duduk tepat di depanku menyambung kalimat.

Tanaka-dono menatap Big-Guy yang berdiri menyandar di dinding.

Big-Guy berdehem. “Isu pengkhianatan hanya alasan saja, Barb. Kazuto menggunakan tuduhan itu sebagai pembenaran untuk meluluskan niatnya melenyapkan Ryu.”

Sudah kuduga, dalangnya pasti kakak angkatku itu. “Dan ayahku setuju saja dengan arogansi Kazuto-ani? Di mana pertimbangan-pertimbangannya selama ini?” Aku bertanya gusar, lebih pada Tanaka-dono, ia adalah sahabat dekat ayahku, orang yang paling lama mengikuti ayahku, tentu Tanaka-dono punya penjelasan yang aku mau. “Aku putranya…”

Kulihat Tanaka-dono menggeleng. “Aku yakin Imamura tahu betul bahwa isu pengkhianatan yang diyakinkan Kazuto pada dewan saat pertemuan hari itu adalah isapan jempol belaka. Tapi…” ada jeda, semua orang menanti kelanjutan ucapan Tanaka-dono. “menurutku, Imamura merasa eksistensimu di Black Dragon cukup sampai di sini. Walau bagaimanapun, Kazuto adalah putra kandungnya, dialah yang akan menggantikan Imamura nanti. Walau kau lebih cakap dari Kazuto, walau sudah dapat dipastikan banyak orang di Black Dragon yang lebih menyukaimu untuk memimpin Black Dragon setelah Imamura mangkat ketimbang Kazuto. Meski demikian, persetujuan Imamura terhadap apa yang dikatakan Kazuto sebagai tindakan pembersihan Black Dragon dari virus pengkhianatan mau tak mau harus diterima dewan. Keputusan Imamura selalu mutlak. Kau tentu faham itu, Ryuta.”

“Kazuto juga menggunakan kebohongan yang sama untuk melenyapkan kami?”

“Ya ampun, Kao… tentu saja Kazuto tahi babi itu melakukannya. Kita adalah sahabat dekat Ryu-kaicho.” Kiddo berujar geram.

“Tapi kenapa Big-Guy tidak?” Kaori penasaran.

“Karena aku, Kaori-chan…” Tanaka-dono terbatuk, pria ini lebih tua dari ayahku beberapa tahun. Kupikir, saat ini ia sebenarnya sedang tidak sehat. “Aku adalah jaminan untuk Big-Guy, Kazuto juga menyadari hubunganku dengan ayahnya sehingga dia tidak mau menimbulkan perdebatan antara aku dan Imamura sehingga tidak menyebutkan nama Big-Guy waktu itu.”

“Dasar keparat…!” Kiddo lagi-lagi menggeram, Big-Guy meliriknya. “Maaf, bukan kau yang kumaksudkan, Teman Besar… bukan anda juga, Tanaka-dono, tapi Kazuto banci itu.” Setelah berkata demikian, ia menyandarkan kepalanya ke pinggang Yuriko yang duduk di bantalan kursi di sampingnya, melindungi diri dari pelototan Big-Guy.

“Aku masih belum bisa menerima, Tanaka-dono… bagaimana ayahku bisa setuju untuk membunuhku. Bukankah selama ini aku sudah melaksanakan peranku di Black Dragon sesempurna yang ia mau?” Kupandang Tanaka-dono lekat-lekat, firasatku berkata kalau ada yang masih ingin dibeberkan pria tua ini padaku. “buat aku bisa memahaminya, Tanaka-dono…”

Tanaka-dono menarik napas panjang. “Bisa jadi apa yang aku katakan ini hanya penafsiranku yang keliru, Ryuta… tapi sebagai orang yang sudah sangat lama mengikuti Imamura, dan sangat dekat dengannya, aku bisa sedikit menerka-nerka.” Tanaka-dono menarik napas panjang lagi. “Imamura mungkin merasa sudah saatnya menuntaskan pekerjaan yang terjadi dua puluh tahun silam, melakukan hal yang seharusnya dilakukan dua puluh tahun lalu…”

Aku mengernyit, semua orang juga menatap Tanaka-dono dengan wajah heran dan bingung. “Apa yang terjadi pada dua puluh tahun lalu?” Kaori bertanya tak sabar.

“Dua puluh tahun yang lalu aku masih tiga tahun.” Kiddo ikut menyelutuk.

“Dan masih suka lari bugil-bugilan mempertontonkan titit mungilmu pada orang-orang sepanjang jalan dengan ingus menetes-netes.” Barbie langsung menyambung ucapan Kiddo dan membuat Kaori gagal menahan kikikannya.

“Setelah ini, ingatkan aku untuk memberimu sedikit pelajaran sopan-santun, Barb!” Kiddo mengancam.

Barbie mencibir, “Lenganmu saja masih lembek begitu…”

“Apa maksudnya dengan menuntaskan pekerjaan dua puluh tahun silam, Tanaka-dono?” aku mengembalikan percakapan yang mulai tidak jelas begitu kulihat Kiddo siap menyanggah Barbie.

“Kau bukan anak jalanan yang diselamatkan Imamura dan diberi penghidupan, Ryuta. Aku bisa memaklumi mengapa kau sampai tidak bisa mengingat dari mana asal-usulmu sebenarnya, bahkan sedikitpun tentang itu. Selain saat itu kau masih lima tahun, usaha Imamura untuk menggantikan memorimu juga demikian gigihnya…”

“Tanaka-dono, sederhanakan saja. Apa maksud dari semua keteranganmu sebenarnya?” sekarang aku yang tak sabar.

“Ayahmu adalah bekas tangan kanan Imamura.”

Keterangan pertama yang mengejutkanku. Mulutku menganga lebar. Semua orang terdiam. Aku tahu Tanaka-dono tidak sedang mengarang.

“Ia memilih berhenti ketika memutuskan untuk menjalani hidup bersama ibumu, gadis baik-baik dan terhormat yang amat dicintai dan mencintainya. Tapi Imamura tidak mengizinkan ayahmu keluar dari Black Dragon, sampai kapanpun tidak. Namun ayahmu sadar, tidak ada kehidupan yang baik bagi ibumu di dalam lingkungan gangster. Lalu ia menghilangkan diri diam-diam, membulatkan tekad untuk meninggalkan dunianya yang lama dan membuka kehidupan baru dengan ibumu. Imamura kecewa, dan marah. Bertahun lamanya ia mencari. Tapi Kichida seperti hidup di bumi lain…” Tanaka-dono berdehem. “Kichida Hiroshi, kalau kau ingin tau, Ryuta.”

Rasanya aku bagai dibangunkan dari kematian. Lidahku kelu. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa. Mengetahui kebenaran asal-usulku setelah sekian lama disembunyikan. Jika saja Tanaka-dono tidak bercerita, mungkin selamanya aku tak akan pernah tahu tentang asal-usulku sebenarnya. Kurasakan tangan Kaori meremas bahu kiriku, bermaksud menguatkan.

“Aku tidak begitu mengetahui asal-usul ibumu, Ryuta. Tapi desas-desusnya saat itu adalah, ibumu anak seorang menteri. Ia diusir karena dianggap telah mencoreng aib, menjalin hubungan dengan seorang kriminal. Ibumu menghilang bersamaan dengan kepergian Kichida dari Black Dragon.”

“Apa yang terjadi padaku, apa yang dilakukan Imamura pada ayah dan ibuku?”

Lagi-lagi Tanaka-dono menghela napas panjang. “Mungkin, kau harusnya membunuhku malam ini, Ryuta… aku tak akan membela diri…”

“Apa yang terjadi pada orang tuaku?” kembali aku bertanya. Kaori lagi-lagi meremas bahuku.

“Lebih lima tahun Imamura mencari. Kecewa dan marah akan kepergian Kichida yang semula hanya berupa kekesalannya, seiring waktu berubah menjadi dendam buta. Aku tak habis pikir bagaimana Imamura tidak melupakan saja dan berhenti menyuruh orang-orang terus mencari, tahun demi tahun.” Ada jeda panjang. Tanaka-dono seperti menerawang, mungkin berusaha mengumpulkan ingatannya. “Aku ada di sana malam itu dengan senapanku, bersama belasan orang, melaksanakan perintah Imamura tanpa ragu. Di hari tuaku sekarang ini, aku menyesali banyak hal, Ryuta… salah satunya adalah apa yang terjadi pada kedua orang tuamu.”

“Imamura membunuh mereka…” aku menggumam lirih. Aku tak pernah mengenal seperti apa gambaran orang tuaku, tidak sedikitpun. tapi mengetahui kebenaran bahwa mereka dibunuh sungguh membuat dadaku laksana dipukul berkali-kali. Mataku berkabut.

“Aku juga bersalah, Ryuta. Aku tak akan melawan jika sekarang kau ingin membalaskan dendammu.” Tanaka-dono bangkit dari kursinya, berjalan menghampiriku lalu meletakkan samurainya di kakiku.

“Bagaimana aku bisa selamat?” aku mengerjap, menghalau kabut yang sesaat tadi siap berubah menjadi air mata.

“Harusnya, kau juga ikut dibunuh malam itu Ryuta. Tapi Imamura memerintahkan untuk tidak membunuhmu. Dia memberimu kesempatan untuk hidup, untuk menggantikan ayahmu suatu hari kelak. Dan niatnya itu terlaksana.”

“Dan sekarang ia ingin menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda dulu? Aku akan membunuh iblis itu lebih dulu sebelum ia membunuhku!” darahku mendidih.

Tanaka-dono menggeleng. “Aku mengerti jika kau ingin melakukan itu, seperti kataku tadi, kau pantas membalaskan dendammu, juga padaku. Tapi aku ingin kau mempertimbangkan niatmu untuk membunuh Imamura, Ryuta. walau bagaimanapun, ia yang telah membesarkanmu…”

“Aku tidak minta dibesarkan oleh keparat yang telah membunuh ayah dan ibuku,” potongku cepat.

“Dengarkan aku, Ryuta. aku hanya akan memberi saran untuk kau pertimbangkan, terserah nanti apa yang akan kau putuskan. Bagaimanapun, kekuatan Black Dragon terlalu besar untuk bisa kau lawan sendiri, jangan remehkan Imamura dan pengikutnya. Bukan aku mengecilkan semangatmu atau membela Imamura, tapi jika kau menyerbu ke sana meski teman-temanmu mungkin bersedia ikut, dengan kekuatan yang dikendalikan Imamura di Black Dragon, bisa jadi kalian akan mati konyol sebelum mencapai Imamura. Kau tentu paham seperti apa kondisinya.”

“Kami akan menyusup diam-diam.” Kiddo menukas.

Kembali Tanaka-dono menggeleng. “Tidak semudah itu, Nak.” Lalu Tanaka-dono memberi isyarat pada Big-Guy yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. Big-Guy menjangkau koper yang ikut dibawanya ke dalam ruangan ketika tiba tadi dan meletakkannya di depanku. “Koper ini berisi dokumen-dokumen yang kalian perlukan untuk keluar dari Jepang, juga uang dalam jumlah besar. Kalian berenam…” Tanaka-dono memandang kami.

“Berenam?” Kiddo mulai menghitung. “Maksudmu, kita berenam termasuk dirimu, Tanaka-dono?”

Tanaka- dono menggeleng. “Aku sudah tua, Kiddo… tanpa pergi kemana-mana pun aku akan segera mati. Bahkan jika Ryuta ingin membunuhku, berarti aku akan mati sesaat lagi.”

“Aku tidak akan membunuhmu, Tanaka-dono… meski secuil hatiku sangat ingin melakukannya.”

“Terima kasih.” Tanaka-dono membungkuk padaku. Lalu ia memandang Kiddo yang masih duduk berbagi kursi dengan Yuriko. “Jika Kazuto tahu Yuriko menolong kalian, keselamatannya juga terancam. Jadi Yuriko juga harus meninggalkan Jepang.”

Yuriko tampak terkejut, tapi Kiddo langsung merangkul gadisnya itu. “Tak ada yang akan menyakitimu, Baby… aku akan menjagamu.”

“Dengan tangan kanan yang terbebat tentunya.” Lagi-lagi Barbie menyambung. Tapi kali ini Kiddo enggan peduli, ia sibuk berciuman dengan Yuriko.

Tanaka-dono kembali menatapku. “Aku mengerti seperti apa rasanya, Ryuta. Aku tahu kau sangat ingin balas dendam. Tapi pikirkanlah tentang hidupmu, tentang hidup sahabat-sahabatmu, orang-orang yang kau sayang. Aku memang tidak bisa menjamin Imamura atau Kazuto tidak akan menemukanmu suatu saat kelak, tapi tak ada salahnya mencoba. Jika aku masih berumur panjang dan masih dianggap oleh Imamura, aku akan berusaha mengalihkan perhatiannya padamu setelah kalian menghilang.” Tanaka-dono menyentuh kepalaku, “Ayahmu mengambil keputusan yang hampir serupa dulu, Ryuta. walau peruntungannya buruk… tapi semoga peruntunganmu baik.”

Pikirkanlah tentang orang-orang yang kau sayang. Ketika Tanaka-dono berucap itu, pikiranku langsung tertuju pada seseorang yang bermil-mil jauhnya di sana. Aku masih ingin melihatnya, masih bercita-cita untuk bisa berdiri tepat di depannya. Kupandangi karibku satu-persatu, hidup mereka juga begitu berharga untuk menyongsong mati dalam usia belia. Tanaka-dono benar, tak ada salahnya aku mencoba. Melupakan hutang-piutang dan dendamku pada Imamura dan menghilangkan diri. Aku bertanya-tanya, apakah ayahku juga berpikiran sama ketika memilih pergi dan menghilang dulu?

“Hemm… aku akan meninggalkan Jepang.” Kupandang Tanaka-dono. “dan menjadi seorang pengecut…”

“Tidak, Ryuta. Kau akan meninggalkan Jepang sebagai seorang pemberani, seperti ayahmu dulu. Berani memulai hidup baru yang lebih bersih dan penuh kasih sayang. Aku cukup bodoh waktu itu dengan menolak memahami tindakan Kichida dan mengikuti murka Imamura.”

Kupandang Big-Guy, lalu Kiddo dan Yuriko, juga Barbie dan Kaori yang masih berdiri di belakangku. “Kita akan meninggalkan Jepang, pagi ini juga.”

“Tunggu, jika Big-Guy pergi, bagaimana denganmu, Tanaka-dono?” Kaori bertanya.

“Aku akan baik-baik saja, Kaori-chan. Justru akan berbahaya jika Big-Guy tetap di Jepang. Di markas, mereka mulai mengawasi Big-Guy dua hari ini. Sulit baginya untuk membawaku keluar dari sana tanpa kelihatan. Sebab itulah aku baru bisa menemui kalian sekarang.”

Kaori mengangguk-anggukkan kepala. Ia melangkah ke depanku dan membungkuk untuk meneliti koper. Aku ingin tahu dokumen apa yang dimaksudkan Tanaka-dono yang ada di dalam koper. Ketika kulihat Kaori hendak membuka koper, kubungkukkan badanku untuk menjenguk. Dan saat itulah malapetaka itu datang. Langsung menerjang Barbie yang duduk tepat di kursi di depanku.

Shuuuttt

Kirk

Tak ada yang menyadari lebih cepat bunyi halus lesatan peluru yang menembus kaca jendela. semuanya sudah jauh terlambat ketika Barbie mengerang lemah dengan lubang di kening.

“BARBIE…!!!” Yuriko berteriak histeris dan Kiddo segera mendorong kekasihnya itu untuk sama-sama menelungkup rata di lantai.

SNIPER…!!!” Big-Guy berteriak dan langsung menerjang Tanaka-dono untuk menyelamatkannya dari peluru penembak jitu yang kuperkirakan lebih dari satu orang. Kedua orang itu bergulingan di lantai.

Aku menjatuhkan diri di dekat Kaori yang mulai menangis dengan kepala mendongak. Memandang Barbie yang terkulai di kursi.

Dan kemudian tembakan-tembakan selanjutnya menyusul. Memecahkan kaca jendela hingga hancur berkeping-keping. Menghajar segala perabotan. Meluluh-lantakkan kursi dan sebagian besar melubangi dinding.

Di bawah hujan peluru, aku memandang jasad Barbie di kursi. Seharusnya peluru itu membunuhku, bukan Barbie. Seharusnya aku tidak menunduk. Ya Tuhan… satu karibku harus menerima kematian secepat ini. Aku mendidih. Kaori masih menangis sambil memanggil-manggil nama Barbie. Kugenggam lengannya erat.

“Ryu… menyingkir dari sana!” Big-Guy berseru.

“Kao, Kao, dengarkan aku… kita harus pindah. Oke!” masih sambil tiarap, aku berusaha menarik Kaori untuk menjauh dari posisi jendela yang sekarang sudah sepenuhnya terbuka, mengikuti yang lain yang sudah menyingkir ke lorong.

“Barbie…” Kaori masih terus menangis. Tangannya menggapai-gapai ke arah kursi Barbie.

Mataku berkaca-kaca. “Tidak, Kao… Barbie sudah tak ada. Kita harus menyingkir dari sini.”

Kulihat Big-Guy mengeluarkan pistolnya. Aku tahu maksudnya. Begitu Big-Guy berdiri tersembunyi di mulut lorong dan balas menembak dengan dua pistol sekaligus ke arah jendela yang terbuka tanpa peduli apa yang disasarnya, kujangkau pedang berikut koper dari lantai dan segera kuseret Kaori meninggalkan area berbahaya. Kami selamat menyingkir ke lorong. Kaori langsung berpelukan dengan Yuriko. Sama-sama menangis. Bahkan kulihat Kiddo sempat mengesat matanya.

Lalu mendadak hening. Mereka berhenti menembak.

“Keparat-keparat itu pasti membuntuti kita.” Big-Guy berkata pada Tanaka-dono.

Aku meletakkan telunjuk di bibir, mengisyaratkan semua orang untuk diam. “Mereka sudah di dalam.” Kupandang bergantian antara dapur dan ruang tengah yang terhubung dengan lorong tempat kami berlindung. “Mereka sudah di ruang depan.” Aku menjenguk ke pintu yang memisahkan ruang tamu rumah Yuriko dengan ruang tengah. Kusodorkan koper ke tangan Kaori, ia manatapku dengan mata berlinangan. “Kiddo, bawa Yuriko dan Kaori keluar lewat dapur. Big-Guy, berikan Kiddo senjata.” Big-Guy merogoh sabuknya dan menyerahkan sepucuk pistol berikut magasinnya pada Kiddo. Syukurlah ia membekali diri dengan lebih dari satu pistol. “Kid, pastikan kalian selamat.” Kutatap Kiddo, ia mengangguk. “Pergilah sekarang. Kiddo memandang ke ruang tengah yang hancur-hancuran sekali lagi, mengamati jasad Barbie, mungkin untuk kali penghabisan. “Tanaka-dono, ikutlah bersama mereka.”

Namun pria tua itu menggeleng. Ia menjangkau ke tangan kiri Big-Guy dan mengambil satu pistol, sekarang Big-Guy hanya memegang sepucuk pistol saja. “Sepertinya takdir sudah menuliskan aku harus mati malam ini, Ryuta…” Tanaka-dono memandang Kiddo. “Pergilah, Ryuta dan Big-Guy akan segera menyusul kalian.”

Kiddo memandangku lalu mengangguk. Kemudian bersama Yuriko dan Kaori mereka bergerak menuju dapur sambil mengendap-endap.

Tanaka-dono berdiri. Menuju pintu yang memisahkan ruang tamu dan ruang tengah. Aku meraih pedang yang diberikan Tanaka-dono dan mendahuluinya menuju pintu. Big-Guy menahan bahu atasannya dan mengisyaratkan sang bos untuk menunggu. Aku mendengar langkah-langkah mendekat di balik pintu. Kuputar anak kunci untuk mengunci pintu itu. Kemudian beberapa letusan senjata terdengar dari arah belakang rumah. Aku mengkhawatirkan Kiddo dan yang lainnya. Ragu mereka bisa pergi dengan selamat.

Saat suara-suara berisik makin dekat dengan pintu, aku mengeluarkan samurai dari sarungnya dan bersiap di samping pintu, berdiri merapat ke dinding. Tanaka-dono berdiri agak menyisi dengan pistol siaga di tangan kanan. Handle pintu bergerak-gerak pertanda hendak dibuka. Dan perhitungan Big-Guy selalu tepat. Dapat kubayangkan seseorang di balik pintu akan menembak handle untuk membuka kunci. Sebelum itu terjadi, Big-Guy mengangkat kaki kanannya dan menendang daun pintu dengan kekuatan penuh. Tembakan-tembakan datang bertepatan dengan daun pintu yang terlepas dan membuat tiga orang di baliknya yang berdiri paling depan terpelanting jatuh. Tanaka-dono balas menembak dan dua orang langsung terkapar setelah diterjang pelurunya.

Aku melompat keluar sambil mengayunkan samurai yang kugenggam dengan kedua tangan. Bahu kananku nyeri ketika melakukan itu. luka tembakku tiga hari lalu belum sembuh. Dua orang lagi bersimbah darah setelah dijamah mata pedang. Big-Guy mengikutiku keluar dari ruang tengah sambil menembak. Aku bergulingan ke belakang rak pajang Yuriko untuk menghindari tembakan balasan, Big-Guy memilih berlindung di balik daun pintu yang tadi ditendangnya hingga terlepas dan bergerak menyusulku sambil sesekali balas menembak.

“Kau akan mati hari ini, Ryu. Percuma melawan.” Itu suara Koichi, teman dekat Kazuto-ani. Apa ia yang memimpin penyerangan ini? Kenapa tidak Kazuto-ani sendiri? Atau ia ada di luar sana, menunggu anak buahnya melapor kalau tugas telah selesai. Dasar sialan.

Balas-balasan tembakan masih terus terjadi. Big-Guy sudah berlindung bersamaku di balik rak. “Mana Tanaka-dono?”

Belum sempat Big-Guy menjawab, aku melihat sendiri bagaimana Tanaka-dono berjalan keluar dari ruang tengah tanpa takut sedikitpun dan menembakkan sisa pelurunya. Ia berhasil merobohkan dua orang lagi sebelum badannya yang tidak terlindung diterjang tembakan-tembakan balasan. Tanaka-dono segera roboh. Matanya masih sempat menatapku. Kulihat ia tersenyum, lalu ekspresinya datar.

Melihat Tanaka-dono jatuh, Big-Guy marah besar. Ia berteriak keras dan keluar dari balik lemari, menembak empat kali kepada empat orang sekaligus sebelum membuang pistolnya karena kehabisan peluru. Kemudian dengan nekat Big-Guy mengangkat daun pintu dan melemparnya kepada beberapa orang tersisa yang mencoba merangsek maju begitu menyadari kami kehabisan amunisi.

Aku tidak tinggal diam. Begitu menyadari Big-Guy tidak lagi memegang senjata, segera aku keluar dan menyongsong pertarungan tak adil di tengah ruangan. Kuayunkan samuraiku berkali-kali dan bergerak acak secepat yang kubisa untuk menghindari peluru. Aku tak lagi memperhatikan jalannya perkelahian antara Big-Guy dengan pengeroyoknya. Temanku itu benar-benar mengamuk.

Ketika aku sibuk mengayunkan pedangku ke sana ke mari, ekor mataku menangkap Koichi yang berdiri di sudut ruangan dengan pistol menyasarku. Tembakan pertamanya meleset. Aku lebih dulu menunduk setelah menikam satu orang lawan. Koichi menembak lagi dan malah menewaskan anak buahnya sendiri. Dua tembakan selanjutnya juga tidak berhasil mengenaiku.

Meski sulit berkelahi dalam ruangan yang sempit, ditambah lagi lawanku memegang pistol, aku masih berhasil merobohkan dua orang berikutnya sebelum peluru Koichi menembus telapak tangan kiriku. Sakitnya hanya Tuhan yang tahu. Aku mengerang dengan tangan basah darah, samurai segera terlepas dari genggaman. Ketika Kochi siap menembak sekali lagi dengan sasaran dada kiriku, aku melompat ke arahnya. Tembakannya hanya menggores bahuku. Kami bergulingan di lantai. Aku tak ingin menyerah. Masih bertindihan di lantai, sambil menahan perih, dengan tangan kiri kucengkeram pergelangan tangan kanan Koichi yang memegang pistol dan kubenturkan berkali-kali ke lantai hingga senjatanya terlepas dan terbanting ke bawah kursi tamu. Begitu pistolnya tidak lagi di tangan, Koichi menyundulkan kepalanya. Mataku berkunang-kunang setelah dahiku dihantam kepala Koichi dengan begitu kerasnya. Lalu tohokan lutut Koichi di perutku membuatku terpelanting. Koichi bangun dari lantai dan berusaha menjangkau pistolnya.

Aku tidak mau memberi kesempatan. Masih dengan pandangan berkunang, aku merangkak dan melayangkan tinjuku ke tengkuk Kochi. Laki-laki ini bergulingan di lantai. Aku bergerak memburu tapi anak buah Koichi sudah menjeratkan ikat pinggang ke leherku. Aku berusaha melepaskan leherku dari jeratan.

Koichi bangun dari lantai dan terkekeh. Ia mendekatiku dan mulai meninju wajahku bertubi-tubi. Bibirku berdarah, hidungku rasanya nyaris patah. Tapi yang lebih sakit adalah jeratan yang semakin kencang di leherku dan Mulai membuatku kesulitan bernapas.

“Kau akan mati hari ini, Ryu.” Koichi menonjok lagi. Kemudian ia menjangkau pistolnya dari bawah kursi dan menodongkannya padaku. “Any last words?”

Di tengah kesulitan sedemikian rupa dan nyaris kehabisan napas, lirikan mataku menangkap gagang pedang yang menggeletak sehasta di belakang kaki anak buah Koichi yang masih menjeratku. Aku menjangkau ke sana dan secepat kilat kuhujamkan ujungnya ke perut Koichi. Laki-laki ini membeliak ketika samurai menembus hingga ke punggungnya. Melihat tuannya ditembus samurai, entah sadar atau tidak, orang yang menjerat leherku lengah. Jeratannya melonggar. Segera aku menarik pedangku dari tubuh Koichi dan kuhujamkan ke atas, menembus tenggorokan orang.

Megap-megap berusaha mengumpulkan udara, aku mendekati sosok Koichi yang terkapar sampil memegangi perut. Ia menatapku ngeri. “Kau mau mendengar nasihat terakhir dariku, keparat?” Koichi membeliak. “Jangan salah memilih bos saat di neraka nanti!” dan kepala Koichi menggelinding di lantai setelah aku menebasnya dengan sekali ayunan keras.

Aku memandang berkeling, mayat-mayat bergelimpangan. Tak ada satu orang pun yang masih berdiri di ruang depan ini. Semua jatuh. Aku berusaha menemukan sosok Big-Guy di antara tubuh-tubuh mati di ruang tamu, namun nihil. Lalu sayup-sayup telingaku mendengar erangan, dari ruang tengah. Kontan aku teringat Barbie. Aku segera bergerak masuk ke ruang tengah. Kutemukan Big-Guy sedang berjibaku dengan seseorang yang punya postur tak kalah besar darinya. Mereka sedang saling mencekik, Big-Guy ditindih lawannya.

Aku mendekat, mengangkat pedangku tinggi-tinggi. “Time up, Asshole…!!!” pedangku menusuk punggung si pria berbadan besar hingga tembus ke dada. Big-Guy segera berguling menyisi. Keadaannya mengenaskan. Wajahnya memar, hidung dan mulutnya berdarah. Sedikitnya, dua peluru juga berhasil bersarang di tubuhnya. Paha kirinya berdarah, juga lengan kiri.

Big-Guy terduduk sambil megap-megap dengan dada naik-turun. “Hanya ini saja? Huh… dasar Imamura pengecut!”

Aku tersenyum dan ikut duduk di sampingnya. “Kita harus segera pergi, Big-Guy… sebelum mereka menyusul kemari dalam jumlah lebih banyak.”

Big-Guy menganguk-angguk, ia menatapku. “Kau berantakan sekali, Ryu. Mengapa menyiram mukamu dengan saus begitu rupa?” kemudian ia melirik tangan kiriku, “buat apa juga kau melubangi telapak tanganmu?”

Aku menyeringai. “Dan kau, apa yang kau lakukan pada kaki dan lenganmu?”

Big-Guy mengangkat alis sambil memperhatikan luka tembak di pahanya. “Kupikir, aku beruntung tembakannya tidak lebih ke atas. Bisa kau bayangkan jika tembakannya mengenai selangkanganku, pasti Barb…”

Ucapan Big-Guy terputus. Aku segera ingat kalau saat itu Barbie pernah bercanda akan mencium selangkangan Big-Guy karena telah menyelamatkan kami dari kematian. Tapi kini Barbie yang gemar bergurau itu sudah tiada. Sesaat keheningan melanda diriku dan Big-Guy.

Lama kemudian aku bangun. Kusentuh bahu Big-Guy, “Kita harus segera meninggalkan tempat ini, Teman Besar.”

Big-Guy mengangguk. “Apa kira-kira Kiddo dan yang lainnya selamat?”

“Entahlah.” Kupandang jasad Barbie yang masih menggeletak di tempat duduknya. Dadaku terasa bagai digodam. Ia sudah bagai keluarga, tidak hanya sekedar sahabat. Harusnya bukan Barbie yang berada di sana, namun diriku. Aku berjalan mendekati kursi. “Kuharap kita sempat menguburkannya.” Kugendong jasad Barbie di tanganku. Big-Guy memandangku dengan sendu.

“Ayo.”

Aku mengikuti Big-Guy yang berjalan pincang di depanku. Melangkahi belasan mayat yang berkaparan di lantai.

***

Kaori terisak. Bahkan matanya sudah membengkak karena terlalu banyak menangis. Yuriko bersandar lemah pada Kiddo. Big-Guy selesai mempancangkan kayu di kepala makam. Sementara Ryuta berdiri bagai hantu, sinar matahari yang baru terbit di ufuk timur membias di wajahnya.

“Kami akan merindukanmu, Barb… selalu…” Kiddo berbisik lirih.

Big-Guy mengesat matanya. “Damailah, Barb… kau akan selalu ada di sini, selamanya…” ia menyentuh dadanya.

Kaori duduk di sisi kanan gundukan. Gadis itu terlalu sesengukan untuk mengeluarkan suara. Ia hanya bisa menunduk dan menciumi papan yang dipancangkan sesaat tadi oleh Big-Guy. Yuriko mendekat dan memeluk Kaori. Mereka kembali bertangisan.

Ryuta mendekat, duduk di samping Kaori, satu tangannya menyentuh gundukan. “Selamat jalan, Barb. Kuharap kita semua bertemu kembali setelah semua kefanaan ini…”

Kiddo mengesat mata. “Kita harus segera pergi. Semakin lama kita di sini, semakin besar kemungkinan mereka berhasil melacak kita.”

Ryuta membantu Kaori untuk berdiri lalu mereka semua menyusul Kiddo yang sudah lebih dulu berjalan menuju mobil.

***

Dua hari kemudian.

Sebagian besar hatiku sangat tidak menyetujui apa yang dipilih Kiddo dan yang lainnya sebagai tempat pertama yang kami tuju dalam pelarian kami. Aku tak ingin melibatkannya dalam bahaya. Namun semua argumenku tidak digubris oleh mereka. Tetapi aku juga tak bisa memungkiri, jikalau sebagian lain dari hatiku ternyata sangat ingin ke sini.

Kiddo mematikan mesin mobil sewaan yang kami peroleh dari agen penyewaan kendaraan di dekat bandara. Dari sini kami bisa melihat pagar setinggi dua meter melingkar mengelilingi lahan hijau berbukit-bukit lumayan luas, beberapa ekor kuda tampak berkeliaran di dalamnya. Sebagian lain pasti sedang memamah jerami di kandang. Di dalam lahan juga, beberapa istal dan kandang kuda tampak berjejer di sisi selatan. Sebuah rumah bergaya kuno berdiri agak jauh di sebelah utara, terpisah dari bangunan-bangunan lain di dalam lahan. Cerobong perapiannya menjulang tinggi. Sebentuk asap tipis meliuk-liuk keluar dari sana. Kubayangkan ia sedang duduk di kursi di dekat perapian, menghadap jendela sebelah barat, sambil membaca buku. Seperti yang beberapa sore dulu sempat kulihat melalui teropongku.

Di belakang kami, matahari sudah siap tenggelam ke peraduannya. Bias jingganya memperindah segala yang bisa kami tatap dari sini.

“Kita sampai, Ryu-kaicho.” Kiddo berujar lirih. “Kau tidak ingin turun?”

Aku menatap Big-Guy dan Kaori di kiriku, mereka balas menatap. “Kau ingin aku terpincang-pincang berjalan lebih dulu ke sana dan mengabarkan kedatanganmu?” Big-Guy menunduk memandang kaki kirinya. Aku menyeringai. Mendadak aku membayangkan jika sekarang Barbie ada di sini, ia pasti sudah berlari menuju rumah yang berada sedikit lebih tinggi di sana, mungkin sambil berteriak-teriak : Seksi, kami datang…!

Oh shit, Ryu-kaicho… kau pengecut sekali.” Yuriko langsung memukul bahu Kiddo begitu kekasihnya itu berseru kesal sembari menjenguk ke jok belakang.

“Ryu-san, sebentar lagi malam turun. Kau akan mengagetkannya jika mengetuk pintu saat gelap.” Kaori ikut bersuara.

Aku menghela napas. Sudah jauh terlambat untuk menyuruh Kiddo memutar mobil. Aku membuka pintu dan melangkah keluar. Setelah aku berjalan ragu-ragu sejauh lima meter, kutolehkan kepalaku ke belakang. Kiddo dan yang lain sudah keluar dari mobil, bersiap menyusulku. Aku berdehem, “Apa tindakan kita ini tidak akan menempatkannya dalam ba…”

“Ya ampuuuun…!” Kiddo berseru gusar memotong kalimatku. “Cepat, aku sudah lapar dan gerah. Ingin makan dan mandi.”

Aku kembali membalikkan badan. Kutarik napas dalam dan kuhembuskan perlahan sambil memandang rumah di kejauhan. Sesaat kemudian aku lagi-lagi berbalik menghadap teman-temanku. “Bagaimana tampangku?” mereka tercengang sejenak.

“Seperti orang yang habis bermasalah dengan Mike Tyson,” jawab Big-Guy santai.

Kuraba wajahku dengan tangan kanan. Aku tahu memar-memar bekas hajaran Koichi dan anak buahnya masih membekas di wajahku. Kupandang tangan kiriku yang berbalut perban. Aku merasa-rasa bahu kananku, masih sedikit nyeri. Mungkin, aku harus menahan rasa nyeriku saat ia memelukku nanti. Membayangkan ia akan memelukku, aku tersenyum sendiri. Kurapikan rambutku yang mulai sedikit gondrong, kulihat Kaori tersenyum memandangku. “Ehem… yah, setidaknya rambutku tidak kelihatan seperti baru saja ditiup puting beliung.” Kaori terkikik.

Aku berbalik dan mulai melangkah. Semakin dekat dengan pintu pagar, langkahku semakin lebar dan mantap. Hatiku mendadak menghangat. Aku tidak akan berpatah balik. Setelah sekian lama kupendam cita-cita untuk dapat berdiri di depannya, hari inilah cita-citaku akan kesampaian.

Kudorong pintu pagar hingga membuka. Dadaku serasa berubah menjadi balon yang terus diisi udara, nyaris meledak. Aku terus melangkah, sedikit mendaki.

Lalu kuda-kuda yang tertambat di tengah lahan meringkik ribut, mereka terusik dengan kehadiranku dan yang lain. Aku berhenti ketika seseorang terlihat berjalan keluar dari kandang kuda beberapa puluh meter di kiriku. Bayanganku salah, ia tidak sedang membaca buku di dekat perapiannya. Kumiringkan badanku ke arah sana. Dan sedikit demi sedikit rinduku mencair.

Di sana, berjalan dalam langkah tegap dan yakin, laki-laki yang selama ini kudambakan untuk kusentuh langsung, bergerak mempersingkat jarak. Ia tampak kuat dan dewasa dengan pakaian cowboy begitu. Sepatu bootnya mencapai lutut, jinsnya membungkus ketat, dan kemeja lengan panjang lusuh yang sebagian ujungnya sudah keluar dari dalam celana semakin mempertegas sosoknya. Ia melepas topi cowboy dari kepalanya, mencampakkannya begitu saja di atas rumput. Rambutnya dipangkas pendek di bagian samping. Kulitnya sedikit menggelap, tapi karena itulah ia kelihatan lebih tampan. Matanya menatapku tanpa berkedip sambil terus melangkah. Ketika jarak kami hanya terpaut beberapa meter saja lagi, ia melepas sarung tangannya kiri kanan.

Aku tersenyum dan tanganku mulai terentang bersiap menyambutnya dalam pelukanku. Namun…

PAAAMMM

Shit. Aku terhuyung-huyung dan nyaris terjerembab ketika kepalan tangan kanannya menghantam wajahku begitu kerasnya. Rasanya gigi depanku bergoyang. Sejak kapan ia mahir meninju? Siapa yang mengajarinya? Kudengar tawa riuh di belakangku. Sialan, Kiddo dan yang lainnya malah menertawakan kejadian barusan.

“BERANI-BERANINYA KAU DATANG KEMARI…!!!” ia berteriak, masih memandangku dengan tajam. “BERANI SEKALI KAU DATANG SETELAH SEKIAN LAMA MENGHILANG…!!!

“Alvero… aku…” selanjutnya lidahku kelu. Aku merasakan asin, sepertinya mulutku berdarah gara-gara ditinjunya.

“Vero, senang melihatmu baik-baik saja.” Kaori langsung mendekati Alvero dan mendadak laki-laki itu lupa akan kemarahannya. Mereka berpelukan.

Sialan, mengapa ia marah padaku dan berpelukan dengan Kaori, seharusnya aku mendapat giliran pertama untuk dipeluknya. Selanjutnya ia dipeluk Big-Guy sambil bercanda mengatakan ia makin tinggi, lalu Kiddo dengan berani malah mencium pipi kanannya sambil berujar kalau ia kangen berat. Benar-benar tidak adil.

Ketika Yuriko maju untuk sekedar bersalaman, kulihat Alvero mengernyit. “Mana Barbie?” tanyanya setelah bersalaman dengan Yuriko, matanya mencari-cari. Ia menatap Kaori yang sudah kembali berkaca-kaca. “Kaori, mana Barbie?” Alvero kembali bertanya ketika tak ada yang menjawab.

“Barbie sudah tak ada, Vero…,” ujarku.

Ia menatapku. “Apa maksudnya sudah tak ada?”

Kaori mendekat dan menepuk bahunya, “Kami kehilangan Barbie. Ia tertembak…” Kaori siap untuk menangis, tapi Big-Guy mendekati dan merengkuh bahunya untuk kemudian berjalan bersama menuju rumah. Kiddo dan Yuriko mengekor di belakang.

Alvero masih tercengang di tempatnya. Aku masih belum beranjak dari tempatku. “Mengapa kau tidak bisa melindunginya?” aku diam. “Dulu kau mampu menyelamatkanku, tapi mengapa kau tidak mampu menyelamatkannya?” suara Alvero mulai serak. Lalu aku tahu, kalau ia juga menyayangi Barbie seperti kami, kalau ia juga merasakan kehilangan yang sama.

aku mendekat ragu-ragu dan berdiri satu langkah tepat di depannya. “Maafkan aku…” aku kepayahan menelan ludah, “Seharusnya saat itu aku yang tertembak…”

Alvero mengerjap satu kali.

Kuberanikan diriku untuk menyentuh wajahnya. “Maafkan aku juga, Vero… maafkan karena aku baru muncul sekarang…”

“Kau membohongiku, Ryu.” Matanya berkabut.

“Aku tahu.”

“Kau bohong saat mengatakan akan menemukanku ketika aku merindukanmu…”

Ujung bibirku tertarik, “Seingatku, bukan begitu persisnya dulu kalimatmu. Katamu waktu itu, bagaimana jika suatu saat aku yang rindu dan tidak tahu harus menemukanmu di mana, maka aku akan sakit sendiri, ingat? Kau mengatakan bagaimana jika aku yang rindu, bukan bagaimana jika dirimu yang merindukanku…” kutemukan semburat merah di kedua pipinya. Aku merasa geli sendiri.

Alvero berdecak, “Jadi kau tidak pernah merindukanku sampai sekarang?”

“Sumpah demi apapun, aku merindukanmu setiap hari, Vero. Setiap hari.” Jemariku turun ke bibirnya. Apa aku harus memberi tahu jika selama ini aku kerap mengawasinya? Tidak, ia pasti akan marah besar jika kuberi tahu.

Alvero menangkap tanganku yang berada di wajahnya. Ia menciumi jemariku. Sesaat kemudian ia meraih satu lagi tanganku yang berbalut perban, diletakkannya tanganku di telapak tangan kanannya sedang tangan kirinya mengelus lembut di atas perban. “Apa rasanya sakit?”

Aku tersenyum dan kembali menyentuh wajahnya dengan tangan kananku. “Tadinya iya, sekarang tidak lagi…”

Lalu tangannya menuju mulutku, menyapu sudut bibirku bekas tonjokannya. “Maaf aku meninjumu…”

“Tak apa… aku gembira kau mau melakukannya. Itu sambutan yang menyenangkan.” Kupegang tangannya dan kuciumi seperti yang sesaat tadi dilakukannya pada jemariku.

“Memar-memarmu banyak sekali.”

“Tak apa, nanti akan sembuh sendiri.” Aku menutup jarak dengan mengambil satu langkah ke depan. Satu tangannya masih kugenggam dan kubawa ke dadaku. Ia berdiri kaku.

“Emm… rambutmu agak panjangan.”

“Tak apa, kau bisa memangkasnya nanti jika mau.” Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Matanya membundar.

“Ryu, ak…”

Kuhentikan gerak wajahku dan kutatap ia lekat-lekat. “Bolehkah aku menuntaskan kangenku dulu, pelase…” Alvero diam sejenak, wajahnya makin merona, samar bahkan aku bisa mendengar bunyi jantungnya. Sesaat kemudian ia mengangguk pelan. Aku bernapas lega, “Oh… thank God…” Lengannya di dadaku menonjok pelan, cukup pelan sehingga tidak bisa menghentikan gerak mendekat wajahku yang tadi sempat terhenti.

Kutempelkan bibirku di atas bibirnya dan mataku memejam, kubiarkan begitu beberapa saat untuk menunggu responnya. Tapi kepalanya masih tegak. Aku menunggu dengan sabar hingga beberapa detik ke depan. Kubuka mataku ketika Alvero tak juga memiringkan kepalanya, ia terpejam. Aku mengalah dan siap menggerakkan bibirku ketika tiba-tiba kepalanya miring ke kanan bertepatan dengan satu lengannya yang bebas merangkul pingggangku. Kubiarkan Alvero yang mencumbuku, aku hanya menerima tanpa melakukan sebarang gerakan. Ketika Alvero merasa cukup, ia melepaskan bibirnya dariku, lengannya masih merangkul pinggangku.

Ia membuka matanya dan kami bertatapan. “Apa saat itu kau sungguh-sungguh saat berkata bahwa kau mencintaiku.”

Aku ingin menggodanya. Kumiringkan kepalaku dengan satu alis terangkat, seperti sedang berpikir. “Sebentar, biar kuingat-ingat dulu…” lalu aku terkekeh ketika tangannya yang kupegang di dadaku kembali menonjok. “Tentu saja aku sungguh-sungguh, Vero.” Kemudian ia kembali memelukku, menaruh kembali bibirnya di atas bibirku, dan kali ini aku membalas ciumannya sepenuh hati.

Ringkik kuda menyadarkan kami dari larut yang indah. Senja sudah turun sempurna. Alvero menarik dirinya dariku. Tersenyum, ia menunduk menatap bagian bawah pinggangku. “Sesaat tadi aku seperti ditikam.”

Aku tertawa dan ikut menunduk menatap zipperku sendiri. “Kau mengusiknya…”

Alvero tidak berkata-kata lagi. Ia menggandengku dan kami sama-sama berjalan menuju rumah. Setelah bergerak beberapa langkah, aku melintangkan lenganku ke bahunya, merengkuh kepalanya agar bersandar di bahuku. Alvero mengikuti, kucium puncak kepalanya yang sudah berada di bahuku, ia balas mengecup jemariku yang digenggamnya dengan satu tangan sedang tangan yang lain merangkul pinggangku.

Kuda-kuda kembali meringkik, angin senja terasa sejuk di kulit. Bunga-bunga rumput kering ikut diterbangkan angin hingga ke sini. Segerombolan burung melintas menyeberang cakrawala. Rumah mungil di depan kami menanti seakan tersenyum, seperti menjanjikan banyak kebahagiaan di dalamnya. Aku menghela napas lega. Rasanya begitu nyaman, berada bersama orang yang selama ini teramat sangat kudambakan, di belahan bumi yang begitu jauh dari duniaku sebelumnya. Tanah ini adalah tempat yang baik untuk tinggal. Kubayangkan diriku akan menghabiskan hidupku di sini bersamanya, dalam damai yang entah akan sampai kapan menjadi milik kami.

 

 

 

Akhir Juni 2014

Dariku yang (masih) sederhana

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com