On The Rainy Day 2 cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Setahun lebih sebulan setelah aku menulis ON THE RAINY DAY pada awal April tahun lalu. Gak terasa ya, demikian cepatnya waktu berlalu, kadang kita bahkan belum sempat melakukan sesuatu yang cukup berharga untuk diingat orang, atau yang cukup pantas untuk kita kenang sendiri di masa mendatang. Banyak di antara kita yang membiarkan waktu setahun berlalu tanpa melakukan hal baik yang bermanfaat, mungkin Nayaka salah satunya.

Well, ada yang ingat ON THE RAINY DAY? Jika tidak keberatan, silakan telusuri link di bawah ini untuk membaca kembali bagi yang sudah pernah baca dan agar gak puyeng mencerna alur sekuelnya ini bagi yang belum pernah baca.

https://algibrannayaka.wordpress.com/2013/04/05/on-the-rainy-day/

Judulnya kutambahkan angka 2. Sebenarnya sempat mau kuganti jadi In The Halilintar Days biar terdengar cetar membahana, atau In The Petir Menyambar Days biar cetar membahananya jadi pangkat kuadrat, tapi lalu aku menyadari kalau judul itu terdengar agak sedikit lebay. Jadi kuputuskan memakai angka 2 saja di ujung judul yang sudah ada.

Last, semoga kalian menikmati membaca ON THE RAINY DAY 2 seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam

n.a.g

##################################################

Halaman lecek bertanggal 27 Nopember dari jurnal Faran T. Faid

Empat tahun sudah sejak hujan 27 Nopember itu. Siapa sangka takdirku akan seperti ini? Menjadi penyandang cacat permanen. Sepanjang hidupku, aku akan menggunakan kruk sialan itu untuk berjalan. Faran si buntung, bukan sekali dua julukan demikian sempat masuk telingaku meski didengungkan dengan volume cukup lirih. Faktanya, hari-hari merutuk takdir jelekku sudah jauh tertinggal di belakang. Keadaanku tak akan menjadi lebih baik dengan berputus asa dan menyalahkan Tuhan, malah sebaliknya, berputus asa hanya akan menambah suram hariku. Jadi silakan mulut-mulut tak tahu diri itu mencela hingga berbusa, bokongku akan mendengarnya.

Lucu rasanya bila ingat ini, aku hanya akan memakai sebelah saja sepatu atau sebelah saja sandal sepanjang sisa hidupku. Sepatu atau sandal yang sebelah kanan saja. Aku jadi ingat Mama, dia nyaris gagal menyembunyikan air mata saat aku mengarduskan semua sandal dan sepatuku yang sebelah kiri dari rak, itu dua tahun lalu. ‘Biar gak menuhin rak… coba sepatu atau sandal bisa dibeli sebelah-sebelah ya, Ma…’, meski Mama tertawa canggung saat aku berkata demikian, tapi matanya yang berkaca justru menunjukkan sebaliknya. Jika boleh jujur, aku lebih mengasihani Mama ketimbang diriku sendiri, tentu sulit bagi Mama menerima kenyataan kalau putra semata wayangnya kini cacat. Harapan Mama padaku terlalu besar untuk dibuat kandas serta-merta dengan tiba-tiba. Mungkin demi Mama juga aku menahan diri dan mampu menyelesaikan kuliahku, diiringi cibiran dan tatap mengejek dari orang yang tak suka aku dan tatap mengasihani dari segelintir orang yang benar-benar punya jiwa sahabat. Kedua hal itu sama-sama membuatku tak nyaman, sungguh. Percayalah, hal terakhir yang ingin kau dapatkan dengan kondisi fisikmu yang tak lagi lengkap adalah cibiran dan tatap kasihan dari orang-orang sekitar, keduanya sama-sama tidak mengenakkan. Tapi setidaknya pada masa-masa itulah aku bisa melihat mana seorang teman yang tulus berteman dan mana ramai orang yang menggunakan kata teman sebagai kedok belaka. Sedikit, aku gembira karena telah melewati masa-masa sulit itu. Meski pada akhirnya aku harus kehilangan orang-orang yang pernah bernama sahabat, mereka meneruskan hidup, sedang aku tertahan di satu titik.

Usiaku 25 sekarang. Kata Mama, almarhum Papa berusia segitu saat melamarnya. Dengan naluri seorang ibu yang penuh pengertian, Mama sudah mengisyaratkan kalau ia tak akan menuntut apapun lagi dariku. ‘Mendapati Tuhan masih menyayangi Mama dengan tidak merenggutmu pergi dalam kecelakaan itu, Id… sudah cukup bagi Mama untuk tidak meminta lebih darimu.’ Aku hampir tak bisa menahan diri untuk tidak berair mata ketika suatu hari Mama berujar demikian saat aku menatap foto pernikahannya dalam bingkai besar di dinding rumah.

Jadi, aku mungkin boleh tersenyum getir ketika Citra mengembalikan liontin hati seminggu setelah mama berkata seperti itu. Mungkin memang lebih baik demikian, karena jujur, setelah aku jadi lelaki cacat, keberadaan Citra di dekatku justru membebaniku dengan amat sangat. Citra pantas mendapatkan yang lebih baik. Aneh rasanya karena setelah Citra keluar dari hidupku, aku merasa ringan dan bebas. Seperti elang.

Sekarang aku ingin merenung satu hal. Karena tanggalnya sedang sama. Memikirkan kalau keadaanku sekarang, ah… biar jelas kukatakan saja cacat, memikirkan kecacatanku saat ini membuatku terikat secara memorial dengan anak itu, membuatku masih ingat dia sampai sekarang, bisa jadi tak akan pernah lupa. Pasti dia sudah kuliah sekarang, sekitar semester lima atau enam jika aku tak salah hitung. Aku tak sekalipun mengaitkan nahasku dalam konteks keterlibatan anak itu sebagai faktor penyebab. Bukan dia yang menyebabkanku mengalami kecelakaan itu. Dulu aku sering mendapati diriku sedang berpikir : mungkin akan lain cerita jika aku terus pulang setelah dari emperan itu, tidak mengajukan diri untuk mengantarnya yang membuatku mengulur waktu pulang hingga gerimis berikutnya, gerimis yang membuatku mengebut diluar kontrol hingga celaka. Selalunya, dulu aku akan mengutuk diriku setelah berpikir begitu. Faruq—aku masih ingat jelas nama lengkapnya sampai hari ini—tak salah, kecacatanku tak ada kaitannya dengan anak itu. Apa yang terjadi adalah apa yang memang harusnya terjadi. Tak lebih tidak kurang. Tuhan memegang garis hidup setiap makhlukNya. Seperti apa yang pernah dikatakan Mama padaku di hari pertama aku keluar dari rumah sakit, di hari pertama aku menyadari kalau hidupku tak lagi sama, bahwa sepanjang usia aku akan butuh penyangga itu. ‘Sudah begini jalannya, Id. Belajarlah ikhlas menerima rencana Tuhan.’ Maka ingatan tentang anak itu hanya sebatas kenang saja, sebagai tonggak dimana hidupku memasuki babak baru. Kini aku seorang tunadaksa.

Tapi… yang membingungkanku, akhir-akhir ini intensitasku dalam mengingat anak itu kian sering. Entah apa yang membuatku kerap melamunkannya. Mama sampai harus menyampaikan keluhan pelanggan toko kuenya terkait aku yang sering lelet kalau disapa pelanggan beberapa hari ke belakang. Maka wajar kalau sudah dua hari ini Mama yang lebih sering berada di depan rak sedang mesin kasir menyita waktuku lebih sering dari biasanya. Meski begitu, aku sempat cemas salah menghitung harga… itu bisa saja terjadi.

Katanya, jika kita sedang mengingat seseorang, bisa jadi orang tersebut juga sedang mengingat kita. Bisa jadi…

‘Rasanya aku gak akan ngelupain Kakak…’

Ucapannya itu akhir-akhir ini kerap berdengung di ruang pendengaranku. Benarkah dia tak akan melupakanku? Dan… mengapa kini aku yakin kalau ucapannya itu benar?

***

HARI Sabtu di G&F Bakery, bukan hari yang baik. Selain sepi pelanggan, mendung juga sudah menutupi langit sejak pagi tadi. Namun hujan belum turun juga, gerimis pun tidak, langit seakan sedang bersabar menunggu waktu yang tepat untuk merajam bumi dengan material cairnya. Jika bukan karena sudah diwanti-wanti Mama, ingin saja aku memasang tanda CLOSED di pintu depan dan pergi tidur siang. Dapat kuhitung, sepanjang hari ini baru dua bolu pandan, lima mini cake, tiga blackforest, dua stoples cookies dan dua kue tart besar yang terjual. Sekarang aku sedang melayani pembeli kue tart yang ketiga dan sepertinya akan jadi pelanggan terakhir hari ini.

“Yang ini saja?” aku bertanya pada ibu-ibu yang sepertinya baru pertama kali belanja kue di toko Mama. Si ibu mengangguk. “Seratus lima ribu, Ibu. Mau dihias sekalian? Biaya ekstranya cuma sepuluh ribu saja.”

“Berapa lama?”

“Paling cepat lima belas menit, paling lama dua puluh menitan mungkin.” Aku menyengir. “Kalau buru-buru ada agenda lain, Ibu bisa mengambilnya nanti.”

Si ibu terlihat berpikir sejenak, “Baiklah, saya ambil satu jam lagi.”

Aku tersenyum simpul lalu menggerakkan kursiku—yang berupa kursi kerja lumayan tinggi dengan empat roda di kakinya—dengan membuat gerakan mendorong di lantai sedemikian rupa menggunakan kaki kanan, kursi yang kududuki meluncur dua meter ke kiri, menjauhi rak setinggi dada tempat si ibu berdiri di sisi bersebrangan. Setelah mengambil notes dan pulpen dari keranjang alat tulis di dekat meja kasir yang sepuluh menit lalu ditinggalkan Mama pergi arisan, aku kembali meluncur ke depan si ibu. “Ibu ingin dituliskan apa di atasnya?” tanyaku sambil berusaha mengalihkan pikiran bahwa si ibu baru saja kudapati mengernyit memandang ujung kiri celana jinsku yang menggantung lemas.

Si ibu berdehem satu kali. “Ucapan selamat ulang tahun seperti kebanyakan saja, yang pantas untuk anak usia tiga belas tahun.”

“Oke.” Sekarang aku yang ganti berdehem, “Nama putranya?”

“Putri.”

“Oh, maaf. Siapa nama putrinya?”

“Nuzura Vivian Qudsy.”

Aku kaku sejenak. Qudsy, Qudsy, Qudsy. Kuulang nama belakang itu sampai tiga kali dalam hati. Sedetik kemudian aku tersenyum sendiri dan menuliskan nama anak perempuan si ibu di notes. Ingin saja aku bertanya apa dia punya putra bernama Faruq Muzammil Qudsy? Tapi niat itu tertahan di pangkal lidah. “Bagaimana kalau hiasannya didominasi warna merah muda dan putih?” Aku memberi saran.

“Boleh.”

Aku mengangguk-angguk, “Jadi semuanya seratus lima belas ribu. Mau dilunasi sekarang apa nanti saja?”

Si ibu membuka dompetnya—tetap sambil mencuri lihat padaku yang sedang kembali meluncur ke meja kasir. Sementara menulis bon, aku cukup sadar kalau si ibu kembali memerhatikan anggota gerakku bagian bawah. Kusobek buku bon lalu kuberi dia senyum simpul sebelum kemudian kembali meluncur bersama kursiku. “Mestinya Ibu baru pertama kali belanja kue di sini,” ujarku yang dibalasnya dengan anggukan ramah. “kaki saya diamputasi empat tahun lalu, kecelakaan.” Kuputuskan untuk menjawab rasa penasaran si ibu. Pelanggan tetap G&F Bakery kebanyakan sudah tahu kisahku dari mulut Mama.

“Maaf. Ibu tak bermaksud…”

“Oh, tak apa, itu sudah lama sekali,” jawabku sambil menyodorkan bon. “Tapi sukur juga, Bu, cuma selutut…” kembali aku menyengir.

Aku sudah bisa membedakan mana senyum kasihan dan mana senyum tanpa dibarengi rasa kasihan, senyum di wajah si ibu ini adalah senyum yang murni senyum. “Ibu salut dengan semangatmu,” dia mengedarkan pandangan sambil mengibaskan tangan pada rak besar di kiri dan kananku. “mampu mengurus toko seluas ini, itu hebat.”

Aku tertawa pendek, “Kalau tidak dipaksa-paksa Mama, saya lebih milih duduk menonton tivi, yah mungkin sesekali sambil merutuki kaki saya yang timpang atau membayangkan betapa anehnya cara saya berjalan.” Si ibu pasti cukup mengerti untuk menganggap ucapanku sebagai kelakar belaka, jadi dia tertawa pendek menanggapi ucapanku.

“Bonnya ibu pegang ya, paling kurang satu jam lagi balik ngambil. Terima kasih.”

“Yap. Terima kasih juga sudah berbelanja di G&F Bakery.” Kalimat ini adalah bagian favoritku. Aku sangat senang mengucapkan kalimat ini di penghujung kunjungan pelanggan, rasanya pekerjaanku jadi istimewa, padahal hanya pramuniaga toko roti, meski pada kasusku tokonya milik sendiri.

Selepas si ibu pergi bersama mobilnya, aku berseru memanggil Mbak Hesti, satu dari tiga orang gajian Mama. Salah satu tugas Mbak Hesti adalah menghias kue. Mama beruntung punya Mbak Hesti, tak ada yang bisa mempercantik kue lebih baik lagi dari Mbak Hesti di kotaku. G&F Bakery dikenal dengan hiasan kue tercantik sejauh ini.

“Ini notesnya, ini kue tartnya.” Kuserahkan lembaran notes berikut kue tart lumayan gede pada Mbak Hesti. “Pastanya banyakin warna pink dan putih ya, Mbak. Gak usah buru-buru, pembelinya baru akan balik satu jam lagi.”

“Oke, Bos Junior.” Mbak Hesti memberiku jempolnya.

Meski sudah berkali kularang, karyawan Mama yang jumlahnya seiprit itu tetap saja memanggilku Bos Junior, sedang untuk Mama mereka kadang-kadang menyebutnya Bos Besar.

Aku duduk menumpukan semua bobotku pada kursi—hingga terlihat bagai tak bertulang—dan menatap ke luar melalui pintu. Jalanan terlihat mulai riuh. Pengendara motor sepertinya mulai berlomba-lomba untuk saling mendahului, mobil-mobil membunyikan horn lebih panjang dan lampu-lampu kendaraan menyorot tajam. Padahal belum pun pukul dua siang, tapi keadaan sudah bagai menjelang Maghrib. Dari tempat dudukku, aku bisa melihat langit yang gelap pekat, kilatan petir juga sesekali tampak membelah awan hitam di kejauhan. Gerimis yang mulai turun membuat pengguna jalan khususnya pengendara motor kalang-kabut.

Satu sudut bibirku tertarik membentuk senyum timpang, ini bukan kali pertama gerimis dan hujan membuatku terkenang hari bersejarah dalam hidupku, tapi rasanya hari ini beda. Ingatanku lebih hidup, entah karena dipicu cuaca atau karena nama belakang putri si ibu yang baru saja pergi sama dengan nama belakang anak SMA yang pernah kujumpai di hari hujan begini. Bisa jadi karena keduanya.

“Qudsy…” tanpa sadar sekarang aku malah mendesiskan nama belakang anak gadis si ibu, atau sebenarnya aku sedang mendesiskan nama belakang si siswa SMA yang sempat menjambak rambutku dan menonjok bahuku itu? Samar-samar aku masih ingat jalan menuju rumahnya, tapi aku tak yakin tidak bakal tersesat bila mencoba berkunjung ke sana.

Hei, berkunjung? Dari mana pikiran itu datang?

“Faruq Muzammil Qudsy…”

BLAAARRRRR

Nyaris saja aku terjatuh dari kursi ketika petir menggelegar demikian kerasnya tepat setelah aku mendesiskan nama itu.

Aku mendesah dan memperbaiki dudukku. Masih menatap gerimis di luar sana, rasanya begitu pas, keadaan hari ini sangat sama dengan keadaan hari sejauh empat tahun lalu, waktu yang sempurna untuk mengenang kepahitan takdir yang sudah tertulis sebelum aku dilahirkan. Meski berkali kusugesti otakku untuk lupa, bayangan motorku yang tergelincir dan sedan yang melintas cepat menggilasku yang terguling di aspal sudah bagai senyawa dalam kepalaku, tak akan pernah hilang. Bahkan di dalam kepala rasanya aku masih bisa mendengar suara derak tulangku yang hancur beserta rasa sakitnya yang luar biasa.

Semenit kemudian aku meluncur mendekati rak kaca, melipat lenganku di sana dan menumpukan daguku di atas lengan, lalu termenung. Gerimis perlahan namun pasti mulai berubah menjadi hujan lebat. Guruhnya terdengar nyaring dan ribut. Tempias hujan ikut dibawa angin hingga ke muka pintu tokoku, bisa menggenang jika tidak kututup. Bahayanya, mungkin akan membuat lantai licin. Kubayangkan seseorang tergelincir di sana dan jatuh dengan kaki menunjuk langit. Dan aku tertawa sendiri karenanya, namun wajahku serta-merta menegang ketika ingat kalau beberapa minggu lalu Mama pernah hampir terpeleset di sana karena lantai basah setelah hujan.

Aku meluncur lagi dengan kursiku, kali ini menuju sudut kiri ruang di belakang tempat krukku kusimpan. Tak sampai semenit kemudian aku sudah berada di depan pintu kaca tokoku. Dengan tangan kiri mencengkeram pegangan kruk dan tangan kanan mendorong pintu, aku siap menutup pintu kaca itu ketika sudut pandanganku menangkap sebuah skuter melaju kencang menerobos hujan langsung menuju emperanku. Aku batal menutup pintu, sekarang jadi memerhatikan si pengendara yang baru saja memasang standar skuternya di luar kanopi emperan tokoku. Kaca helm yang gelap menyamarkan wajahnya. Apa dia pelanggan atau orang yang hendak berteduh sementara menunggu hujan reda? Si pengendara yang kuperkirakan mahasiswa—terlihat dari tas yang tersampir di bahu dan kemeja lengan panjang yang dipakainya—bergerak turun dengan tergesa-gesa dari sadel skuternya dan langsung berlari ke emperan tokoku. Dia membiarkan hujan mengguyur kendaraannya.

Sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku yang masih memegang handle pintu dua meter dari tempatnya berdiri. Terbukti begitu terlindung dari guyuran hujan di bawah kanopi emperan, dia langsung berbalik berdiri membelakangiku, menghadap jalan sambil mengibas-ngibaskan lengan. Sejurus kemudian kulihat dia menggulung lengan kemejanya yang sudah kuyup. Aku masih diam memerhatikan tingkahnya. Sekarang dia membuka helmnya, lalu dengan tangan kanan dia mulai merapikan rambut sementara helm dipegangnya di tangan kiri.

Sekarang aku bisa memastikan kalau dia hanya orang yang ingin berteduh. Tanpa membuat suara, aku melanjutkan mendorong kedua pintu kaca lalu tersaruk-saruk kembali ke balik rak, tempat kursiku menunggu untuk diduduki.

Hujan kian menggila, sudah lima belas menit sejak aku menutup pintu toko belum ada tanda hendak mereda, malah guruhnya makin nyaring saja. Aku menguap, mendadak keinginan untuk tidur membungkusku. Kulirik jam di dinding, apa ibu-ibu tadi beneran akan kembali satu jam seperti katanya? Melihat cuaca yang mengerikan begini, sepertinya mustahil dia akan menerobos hujan untuk menjemput kuenya. Lima menit kemudian Mbak Hesti muncul dengan kotak kue di tangan, tepat saat aku menguap untuk kedua kalinya.

“Tidur aja deh, Bos Junior. Biar Mbak yang jaga sampai Ibu pulang,” ujar Mbak Hesti sambil memasukkan kotak kue pesanan si ibu yang baru saja selesai dipercantik ke dalam rak.

Aku mengangkat jempol buat Mbak Hesti lalu meraih krukku.

“Hati-hati naik tangganya.”

“Owrait owrait…” Mama berhasil menularkan kecemasannya terhadapku pada Mbak Hesti. Aku sudah jemu selalu diingatkan untuk berhati-hati dengan tangga.

Aku tersaruk-saruk dengan krukku menuju lantai atas. Mama sudah berkali-kali menyuruhku memakai kamar di lantai bawah, dekat dengan ruang produksi kue, tapi aku selalu menolak. Mama tak bisa membantah apapun saat aku berkata ‘Tolong jangan perlakukan aku seperti orang cacat.’ Jadi, meski sudah berkali-kali tersandung dan nyaris terguling di tangga, kamarku tetap di tempat kamarku sudah berada sejak dulu.

Suhu yang dingin membuatku enggan melepas kemeja luar, aku langsung menghempaskan badan di atas tempat tidur begitu tiba di kamar. Membingungkan, begitu sampai di sini kantukku malah hilang. Alih-alih memejamkan mata, aku malah berguling-guling tak jelas di atas tempat tidur. Lalu mendadak saja pikiranku diusik anak yang kuyakin masih berteduh di emperan tokoku. Semakin aku berusaha mengalihkan pikiranku ke hal lain, semakin sarafku tertuju pada anak di emperan. Bahkan kini sarafku seperti mensugestiku untuk mengeceknya, sugesti yang sangat kuat. Aku bergerak bangun dan menjangkau kruk.

“Mbak, anak yang berteduh di depan masih ada?”

Mbak Hesti terkaget sendiri saat aku berseru di belokan tangga, setengah jalan untuk sampai ke lantai bawah. Kulihat Mbak Hesti berusaha menjenguk ke pintu dari tempatnya duduk, katalog alat make up ternama masih terpegang di tangannya. “Masih, yang pakai kemeja kotak-kotak, kan?”

Aku menunduk untuk melihat kemejaku sendiri yang semua kancingnya kubiarkan terbuka. Juga motif kotak-kotak. Tanpa menjawab Mbak Hesti aku kembali menapak menuruni tangga. Benar saja, anak itu masih di sana, masih berdiri menghadap jalan sambil bersidekap lengan di dada. Hujan masih sama derasnya sejak aku menuju ke kamar tadi. Nyaris satu jam, dan si mahasiswa masih kuat berdiri di sana, kedinginan. Tidakkah kakinya pegal berdiri selama itu? Kuputuskan untuk menuju pintu.

Kutarik satu daun pintu hingga membuka sempurna. Anak itu masih tidak menyadari ada orang di belakangnya. Helmnya sudah menggeletak di lantai emperan, lengannya pasti pegal memegang benda itu terlalu lama. Kupandang skuternya yang sedang diguyur hujan, jika kendaraan itu bisa bicara, pasti sudah protes pada tuannya karena dibiarkan terpapar begitu rupa. Saat kembali memerhatikan si anak, samar kulihat bahunya bergetar. Apa dia mulai menggigil? tentu saja, aku yang baru beberapa saat berada di luar bahkan sudah bisa merasakan betapa dinginnya udara, apalagi dia yang sudah di sini hampir satu jam.

“Ehem, sepertinya masih lama menuju reda, kenapa tidak berteduh di dalam sa…”

Kalimatku terpenggal begitu saja pada detik dia membalikkan badannya menghadapku. Wajahnya tampak terkejut. Aku langsung sadar pernah bertemu anak ini. Seperti matanya, mataku kini juga membundar. Entah pandanganku benar atau menipu, tapi sepertinya aku melihat matanya berkaca-kaca. Ternyata Tuhan punya rencana bagus hari ini.

“Dik Muzammil?” suaraku demikian lirihnya.

“Kak…”

“Heyyy…!”

Aku nyaris ambruk saat dengan serta-merta anak ini menubruk dan memelukku. Sepertinya dia belum sadar kalau aku cuma berpijak dengan satu kakiku saja. Kurasakan kedua tangannya mencengkeram kausku di bagian punggung, di bawah kemeja luarku. Kudapati hidungnya menekan dada kiriku, baju kausku sepertinya akan basah jika yang kulihat pada matanya sesaat tadi benar. Benda dalam tas selempangnya menekan pahaku, sekilas seperti penggaris besi. Aku kaku. Kubiarkan diriku dipeluk anak ini tanpa berusaha menjauhkannya atau menjauhkan diriku sendiri.

Aku melirik ke dalam, Mbak Hesti memandang kami heran, katalog make up yang tadi dipantenginya entah di mana. Mbak Hesti bertanya dengan isyarat mulut yang kuartikan sebagai : Teman Bos Junior? Dan aku mengangguk. Kulihat Mbak Hesti tersenyum lebar. Apa menurutnya ini adalah keajaiban? Sudah begitu lama sejak seseorang datang kemari sebagai temanku, sudah sangat lama.

“Dik Muzammil…,” aku menggumam di atas kepalanya. Rambutnya wangi shampoo.

“Aku menemukanmu, Kak… aku menemukanmu.” Tangannya turun dari punggung menuju pinggangku, langsung mencengkeram ujung kemejaku di sana.

“Ya, aku menemukanmu juga.” Tangan kananku yang sejak tadi lurus di sisi badan perlahan kubawa menuju kepalanya. “Kamu bisa membuatku ikut basah jika terus meluk kayak gini.”

Lalu dia melepaskanku dan memberiku cengiran lebar. “Aku gak nyangka.” Dia menyapu kedua mata. Tuh, benar kan, anak ini hendak menangis. Lucu melihatnya begitu. “Kakak gak tahu betapa gembiranya aku menemukan Kakak hari ini…” lalu matanya membelalak. Aku tahu apa yang baru saja disadarinya.

Kupandang kakiku lalu kembali kutatap dia yang sedang memandang bergantian antara kruk di bawah ketiakku dengan kaki kiriku. “Keren, kan? Rencananya aku mau daftar jadi peserta sirkus, penonton pasti bakal terbahak melihatku loncat-loncat dengan satu kaki di atas panggung.” Aku tersenyum ketika dia menantang mataku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Sorot matanya bercampur antara marah dan sedih, antara bingung dan tak percaya. Kurasakan diamnya terlalu lama. “Ehem, kamu makin besar ya.” Aku tertawa pendek. “nyaris setinggiku, padahal seingatku dulu tinggimu cuma sepinggang…”

“Apa yang terjadi?”

“Apanya?”

“Apa yang terjadi hingga Kakak harus pakai kruk?”

Kupikir dia sengaja memperhalus pertanyaannya. Mungkin kalimat yang ingin ditanyakannya adalah, apa yang terjadi sampai kakiku buntung? “Aku kasihan pada pembuat benda ini,” kugoyang krukku sedikit, “dengan memakainya berarti produknya laku satu.”

“Kak!”

Dibentak demikian aku malah tertawa. Teringat olehku saat dia menjambak rambutku dulu ketika kami duduk bersisian di atas sadel motor menunggu hujan reda, ekspresinya persis sama. “Ayo masuk, kakimu pasti pegal berdiri terus.” Kusentuh badan kemejanya dengan tangan kananku. “Bajumu juga harus diganti kalau gak mau masuk angin. Aku ingat punya kemeja kekecilan di kamar sebagai ganti kemeja basah ini.” Tanpa menunggu tanggapannya aku memutar krukku dan berbalik.

“Mbak buatin minum hangat ya, Bos Junior.” Mbak Hesti menawarkan kebaikannya ketika aku sudah setengah perjalanan meninggalkan pintu.

“Boleh, Mbak. Siapkan di meja makan aja, sekalian kalau ada kudapannya ya. Nanti aku ke sana.” Mbak Hesti memberiku dua jempol sekaligus kali ini. Aku berbalik menoleh ke pintu, dan langsung geram sendiri. “Heh, buruan masuk.” Dia seperti tersadar dari lamunan lalu buru-buru melepas sepatunya yang basah. “Tutup balik pintunya, helm taruh di sudut sana aja.” Dia masuk, menutup pintu lalu meletakkan helm di sudut yang kutunjuk, kemudian dengan canggung menghampiriku. “Pasti belum makan siang ya?”

“He?”

“Dik Muzammil pasti belum makan siang, kan?” sepertinya anak ini sedang tidak fokus.

“Udah, Kak!” dia menjawab cepat.

Aku menatapnya lekat.

“Emmm… sebenarnya belum.”

Wajahnya yang memerah membuatku ingin terbahak saja. Aku menjenguk ke balik rak kue. “Mbak, minta tolong panasin lauk ya!” seruku pada Mbak Hesti.

“Oke, Bos!” Mbak Hesti balas berseru dari dapur.

Ketika kupalingkan wajahku untuk menatap tamuku di hari hujan ini, kembali kudapati dia sedang memperhatikan kaki kiriku. “Ini gak nular kok, kamu gak perlu takut.” Dia mengangkat pandangannya ke wajahku. Kali ini tatapannya lebih berarti kepada marah, atau kesal.

“Seingatku, Kakak gak semenyebalkan begini dulu.”

“Seingatku, dulu kamu juga gak selinglung sekarang.” Aku bergerak menuju tangga, “Buruan!”

Aku menapaki tangga lebih dulu sedang dia mengekor dua anak tangga di belakangku. “Kalau aku tau toko kue ini punya Kakak, pasti udah aku samperin dari dulu.” Aku tak merespon, sedang berkonsentrasi penuh pada kakiku. “Kenapa gak minta kamar di bawah aja? Jadinya Kakak gak terlalu repot…”

“Bawel benar, diam saja!” kudengar dia berdecak kesal. Lalu aku kaget ketika dia menyingkirkan krukku dan menyurukkan kepalanya ke bawah lengan kiriku. Aku menggelinjang kegelian ketika tangan kanannya melingkari pinggang kananku, ujung jemarinya mendekati perutku. “Apa yang kamu lakukan? Mau menggelitikiku?”

“Bawel benar, diam saja!” dia mengembalikan kalimatku tadi lalu mulai menggantikan peran krukku.

Aku menoleh wajahnya yang tepat berada di kiri kepalaku, sangat dekat dengan wajahku. “Tuh kan benar, kamu makin tinggi.” Dia menoleh mendadak, nyaris saja daguku menabrak dahinya jika terlambat kumundurkan sekejap saja. Matanya membesar, meski samar dapat kulihat semburat merah di kedua pipinya.

“Ayo.” Dia menundukkan wajahnya dan mulai membantuku menaiki tangga.

Kutemukan diriku menikmati tindakan spontannya terhadapku. Sepanjang menaiki tangga menuju kamar, aku hampir tidak melepaskan pandanganku pada wajahnya. Dan sepanjang anak tangga, aku tak bisa untuk tidak tersenyum dalam hati karena merah di pipi Faruq Muzammil Qudsy yang tak kunjung hilang. Kenapa dia harus merona begitu?

*

Faruq terlalu singkat menggunakan kamar mandiku. Aku bahkan belum menemukan baju yang pas untuk dipakainya. Di mana kemeja kekecilan yang kujanjikan padanya? Isi lemariku sudah acak-acakan.

“Kalau gak ada jangan dipaksain, Kak.”

Aku menoleh ke belakang. Anak itu hanya berlilitkan handukku. Pakaian lembabnya terbundel di tangan. Kutunjuk keranjang cucian kotor di sudut kamar memintanya untuk memasukkan bajunya ke sana.

“Seingatku ada, Dik Muzammil.” Aku terus mencari, berusaha tidak memikirkan kalau dengan hanya berlilitkan handuk demikian, Faruq tampak sama dewasanya denganku. “Apa diberesin Mama, ya?”

“Ini kan banyak.” Mendadak Faruq sudah di sampingku dan langsung mengulurkan tangan menarik sehelai kaus dari dalam lemari.

“Tidak, jangan kaus CK-ku, itu masih baru!” Tapi terlambat. Faruq sudah memasukkan kepalanya ke kausku. Aku menghembuskan napas putus asa ketika dia memberiku cengiran lebar setelah berhasil memakai kausku, sedikit longgar di badannya. “Ya sudah deh.” Aku kembali sibuk meneliti isi lemari, mencoba menemukan celana buatnya. “Dalamanmu basah juga?” kudengar dia tertawa.

“Emm… lembab aja, gak masalah.”

Sekarang aku yang tertawa. “Gak mungkin pakai punyaku juga sih, pasti kedodoran.” Kutarik sehelai jins lama dari rak lemari paling bawah dan kusodorkan padanya. “Ini kalau gak dikembalikan gak apa-apa, celana zaman SMA dulu.” Kutunjuk dadanya, dimana tercetak besar huruf C dan K tepat di pertengahannya, “tapi yang itu wajib dibalikin, aku baru pakai dua kali.”

Faruq menerima jins dariku, “Iya nanti siap dicuci aku balikin ke Kakak.”

Kutinggalkan Faruq yang sedang memakai pakaian bawahnya di depan lemari, menuju jendela. Hujan masih belum berhenti meski sudah tidak sederas beberapa saat lalu.

“Kak…” Faruq sudah berdiri bersamaku di depan jendela, menatap hujan. dia tidak menyisir rambutnya.

“Apa?”

“Namanya siapa sih?”

Kukira sesaat tadi dia hendak bertanya tentang kebuntunganku lagi, ternyata malah menanyakan namaku. Kelihatannya memang aneh, aku dan Faruq baru bertemu dua kali, tetapi demikian akrabnya bagai teman yang sudah mengenal satu sama lain sejak lama, padahal dia bahkan belum tahu namaku. “Dulu aku belum sempat bilang ya?”

Dia menggeleng.

“Dik Muzammil panggil aku Kak Faran aja.”

“Wah… keren, kayak udah direncanakan sama Tuhan. Kita bisa jadi duo F. Faran dan Faruq.” Dia terlihat senang. “Faran Aja?”

“Nih KTPku di dompet.” Siapa sangka Faruq benaran mengikuti kataku. Tangannya langsung terulur ke saku belakang jinsku. “Hei, stop. Itu tak perlu.” Tapi dompetku sudah di tangannya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapi tingkahnya yang sungguh tak terduga. Seingatku, dulu dia tidak seagresif ini. Mungkin saja pertemuan kedua setelah berselang lama ini membuat Faruq merasa sudah cukup mengenalku untuk tidak jaim lagi.

“Faran Thariqul Faid…”

“Yap. Simpan balik.”

“Wah, uangnya banyak.”

Aku tertawa, “Sini.” Kurebut dompetku dari tangannya dan kumasukkan kembali ke saku.

“Kok gak ada foto ceweknya?”

Aku diam. Sekilas aku teringat Citra, dulu di dalam dompetku ada fotonya.

“Kok gak ada foto ceweknya sih?” sepertinya anak ini ngotot ingin tahu.

“Gak punya.” Aku menunduk menatap kakiku.

“Kak Faran kan cakep, mirip perwira gini. Kok gak punya?”

“Ayo turun makan! udah jam tiga lebih.” Aku bertumpu pada kruk dan mulai berjalan.

“Kalau aku cewek, pasti Kak Faran udah kuuber-uber.”

Aku berbalik dan dia langsung berhenti berjalan. “Meski aku gak punya kaki?”

“Iya, mesti Kak Faran gak punya kaki.” Dia menjawab cepat dan enteng, lalu kulihat dia seperti menyesali ucapannya.

“Sayangnya Dik Muzammil bukan Citra.”

“Namanya Citra? Kok kayak lotion ya?”

Sebenarnya aku ingin tertawa, alih-alih aku hanya mengangkat bahu dan mulai bergerak kembali menuju pintu.

“Citra hand and body lotion itu mutusin Kak Faran gara-gara Kakak pakai kruk?”

Sekarang aku benar-benar harus menahan tawaku. “Dia pergi gara-gara aku cacat. Bilang langsung aja, Dik. Aku udah biasa kok, gak perlu mikir takut nyinggung, masa-masa itu udah lewat jauh.”

“Maaf,” diam sebentar, “tapi suatu saat pasti bakal ada deh yang ikhlas cinta sama Kak Faran… bukan lagi si Citra, mungkin Vaseline atau Marina.”

Sekarang aku benar-benar tertawa, besar dan lama. “Amin deh. Sekarang, mari kita berikan kesempatan buat cacing-cacing di perutmu mendapatkan jatah makan siang mereka.”

Aku tak mencegah dan hanya diam saja ketika Faruq kembali menggantikan peran krukku. Begini, rasanya dia bagai adikku saja. kami menuruni tangga tanpa bersuara. Rasanya Faruq memeluk pinggangku lebih erat kali ini.

*

Hujan berhenti dan menyisakan gerimis setelah Faruq selesai makan. Dia hanya menyendok sedikit nasi dan sedikit lauk ke dalam piringnya, tapi waktu yang dihabiskannya untuk mengosongkan piring itu lebih dari dua puluh menit. Dengan waktu segitu, aku bisa mengosongkan dua piring penuh sekaligus. Anggapanku, Faruq tak berani makan dengan beringas karena diperhatikan olehku yang tak ikut makan, sepanjang dia di meja makan aku hanya duduk di kursi di depannya dan menyaksikan acara makannya berlangsung.

“Udah kenyang?”

Faruq mengangkat wajahnya dari menekuri piring. “Mirip adegan gelandangan sama orang kaya di film-film ya, Kak. Si gelandangan dikasih makan, dilihatin si orang kaya sementara dia makan, trus pas selesai orang kaya dermawan yang ngasih makan nanya ‘udah kenyang’, asli kan, mirip.”

Aku terbahak. Dari kalimatnya, jelas siapa yang gelandangan dan siapa yang dimaksudkannya sebagai orang kaya dermawan di sini. Pikiran semacam itu sama sekali tak akan terlintas dalam kepalaku. Dan tentang orang kaya? Apa menurutnya aku sekaya itu? kalau saja dia mau meluangkan waktu sedikit untuk berpikir tentang toko-toko berkelas di sekitar rukoku, dia akan tahu kalau toko kueku tidak seberapa dibanding toko-toko lain di jalan ini. “Mikirmu kejauhan. Aku gak maksud gitu.” Faruq bangun dan membawa piringnya ke bak cuci. “Gak usah dicuci, Dik.” Tapi dia sudah menyalakan keran.

“Keluarga Kak Faran yang lain mana?” Faruq meletakkan piring yang sudah dicucinya ke keranjang lalu mengeringkan tangannya dengan lap.

“Mama belum pulang arisan.”

“Mbak Hesti tadi siapa? Saudara perempuan Kak Faran?”

“Itu karyawan Mama. Ada Mbak Suci dan Mbak Rahma juga.”

Faruq ber-oh saja, matanya menyapu seluruh ruang. “Kak Faran cuma berdua sama mamanya?”

“Yap. Aku anak tunggal, Dik. Papa meninggal pas aku kelas tiga SMP, mungkin karena sudah kadung cinta mati sama Papa, Mama gak nikah lagi sampai sekarang.”

“Maaf…”

“Haduh, minta maaf mulu kamu.” Aku bangkit dari kursi. “Mau ngobrol di sini apa di kamar saja?”

Faruq diam sebentar, “Hujannya reda, Kak.”

“Trus?”

“Ya, mungkin sebaiknya aku pulang, kan?”

Tepat setelah Faruq menyelesaikan kalimatnya, guruh menggelegar sayup di kejauhan dan tak lama kemudian ritme gerimis berubah menjadi lebih cepat dan nyaring lagi. Hujan kembali tumpah. Alam bagai tak mengizinkan dia untuk segera meninggalkan tempatku.

“Mari kita ke kamar, aku gak jadi pulang.”

Faruq meninggalkan dapur dan mendahuluiku menuju tangga. Sepertinya dia lupa memapahku kali ini. Aneh, aku malah merasa kecewa karenanya.

.

.

.

MENEMUKAN dia dalam kondisi yang mengejutkan demikian rupa, membuat ulu hatiku nyeri, seperti pengidap dyspepsia kronis yang terlambat mengisi lambungnya. Selama ini aku mengkhayalkan kesempurnaan fisiknya hampir setiap malam menjelang tidurku. Kubayangkan diriku menyusurkan jemariku pada wajahnya yang terpahat sempurna—seperti Tuhan mengerahkan seluruh kuasanya ketika mencipta wajah itu. Kubayangkan badannya yang terbentuk bagus bak model, hasil dari fitness yang disiplin. Kubayangkan dia melangkah tegap dengan kedua kakinya dalam langkah lebar sambil membentangkan kedua tangan, membuka pelukan untuk kusongsong. Sekarang, menemukan dia dalam kondisi fisik tak sempurna lagi membuatku merasa semena-mena telah mengkhayalkan hal indah-indah tentangnya selama ini. Aku merasa tak adil dan tidak sepatutnya.

Kak Faran—akhirnya aku tahu namanya—masih tetap setampan yang dulu, masih tetap seatletis saat kulihat pertama kali meski hanya dengan kakinya yang sempat dikatakannya sebagai satu setengah. Namun jujur, melihat dia yang sudah tak memiliki kaki kiri lagi tetap saja membuatku merasa ngeri yang canggung. Tidak, mungkin bukan ngeri, tapi lebih kepada merasa dikecewakan. Tuhan terlalu sampai hati pada lelaki malang ini. Tuhan telah melakukan kebodohan dengan merusak ciptaannya yang maha elok ini. Begitu yang kurasakan ketika pertama kali menyadari kalau kini dia menggunakan kruk sebagai pengganti kaki kirinya.

Dan sekarang, setelah pembicaraan yang panjang di kamarnya, ditingkahi bunyi hujan yang mengguyur atap, meski dia sudah menekankan berkali-kali kalau itu sama sekali bukan salahku, tetap saja perasaan bersalah itu menderaku. Pemikiran bahwa akulah yang menyebabkan kecacatannya membuatku kembali merasakan nyeri yang sama seperti saat menemukan kruk itu menyangga sisi kiri badannya, malah lebih nyeri lagi kali ini.

“Hei, Dik Muzammil…” dia menyentuh daguku dengan ujung jarinya, mengangkat wajahku untuk kembali tegak. “Ya ampun, kamu mau menangis?” lalu dia tertawa pendek. “Kamu sungguh menggelikan dengan tampang mau mewek begitu.”

“Maafkan aku, Kak. Harusnya hari itu ak… Adoww!!!

Stop minta maaf, dasar bocah!”

Aku meringis sambil menggosok-gosok kepalaku, rambutku baru saja ditariknya kuat-kuat, rasanya sungguh sakit. Kulit kepalaku bagai hendak terkelupas saja.

“Sekali lagi kamu minta maaf, aku tonjok hingga terjengkang dari ranjang! Awas aja, aku serius!”

Ya, sepertinya dia memang akan benar-benar membuktikan ucapannya. Terbukti kepalaku masih nyut-nyutan di bagian bekas jambakannya. Teringat olehku, dulu aku pernah melakukan hal yang sama pada rambutnya. Apa saat itu dia juga merasakan sakit seperti ini?

“Kak Faran.”

“Iya?”

“Aku minta ma… Aaaaa… iya iya, gak jadi!” aku memundurkan dudukku lebih ke tepi ranjang ketika dia siap mengangkat bogemnya dengan mata menatap marah padaku

“Aku serius, Dik. Tolong fahamlah. Aku tak mau kamu menganggap dirimu sebagai penyebab keadaanku sekarang. Apa yang terjadi padaku adalah apa yang memang harusnya terjadi. Tak ada kaitannya denganmu. Kamu bisa faham, kan? Aku tak suka kamu berpikir begitu, jadi tolong enyahkan pikiran itu. Oke?”

Aku mengangguk mengerti, meski dalam hati perasaan bersalah itu masih tetap ada. Bayangkan saja, selama empat tahun ini kupikir dia baik-baik saja dengan kesempurnaan fisik yang tidak berkurang sedikit pun. Namun tak dinyana sudah sejak hari perjumpaan itu fisiknya tak lagi lengkap. Sekarang aku tahu sebabnya mengapa sejak hari perjumpaan itu aku tidak melihatnya dimanapun meski aku sangat berusaha untuk menemukannya di antara pengendara-pengendara motor besar seperti miliknya di jalanan, itu karena dia tidak lagi mengendarai motor apapun sejak hari itu. Tuhan, maafkan aku karena tak bisa mencegah diriku untuk menganggapMu jahat…

“Apa yang terjadi pada motor gede Kak Faran itu?”

“Aku memaksa mama menjualnya.” Kutangkap raut sendu di wajahnya. “Percuma juga, toh aku tak mungkin bisa mengendarainya lagi, kan?” sekarang dia tertawa pendek lalu merenung ke jendela yang dihajar tempias hujan dari luar. “Mama bersikeras untuk menyimpan motor itu setelah diperbaiki, tapi aku lebih bersikeras lagi untuk mengenyahkan motor itu dari rumah. Untuk apa menyimpan benda yang sudah tak bermanfaat lagi, sia-sia saja. dengan kondisiku sekarang ini, mengendarai motor matic atau skuter seperti punyamu di luar sana saja aku belum tentu bisa.”

“Skuterku gak perlu ganti-ganti gear, pasti Kak Faran bisa,” dengan begonya aku menanggapi. Ketika kulihat ekspresinya kian sendu dengan pandangan menghala pada jendela yang berembun, aku menyesal telah menanggapi demikian. “Maksudku, hidup bukan hanya tentang mengendarai motor, kan?” apa yang ini tidak terdengar lebih bego? Sekarang dia memandangku dengan lipatan di kening, mengekspresikan kebingungannya. “Eng… maksudnya, hanya karena gak bisa lagi bawa motor besar bukan berarti dunia kiamat dan kita harus berhadapan sama shiratol mustaqim, kan? Selama masih hidup, kita masih punya kesempatan melakukan banyak hal bermakna. Benar, kan?” aku mengangkat-angkat alisku ketika dia jelas-jelas menatap mataku.

Lalu senyum muncul di bibirnya, kerutan di dahi hilang dan wajahnya kembali hidup, seperti lilin yang baru saja dinyalakan. “Nah, itu baru kalimat seorang mahasiswa.” Badannya rubuh ke ranjang, tidur berbantal kedua lengan yang ditekuk ke belakang kepala. “Gimana rasanya jadi mahasiswa?”

“Cape…”

Ini jawaban paling jujur. Jadi mahasiswa itu memang benar-benar melelahkan, menguras tenaga dan pikiran. Tentu saja jawaban ini ditinjau dari perspektif mahasiswa yang benar-benar mahasiswa sepertiku—tidak maksud menyombong, mahasiswa yang niatnya ke kampus benar-benar untuk kuliah, bukan untuk pamer-pameran dan ajang gaul atau digauli. Jangan tutup mata, di negeri ini banyak mahasiswa yang megang status doang sebagai mahasiswa. Tapi syukur aku bukan salah satunya. Aku benaran ke kampus untuk kuliah, maka aku berani bilang jadi mahasiswa itu cape.

“Dulunya, kupikir… jadi mahasiswa itu keren, gak harus lepas seragam dulu kalau mau petantang-petenteng di luar jam belajar, kupikir… jadi mahasiswa itu berarti gak ada yang namanya buku pe-er untuk tiap mata ajar, gak ada buku tugas yang seminggu sekali wajib dikumpulkan, gak ada ulangan juga.” Aku ikut merebahkan badanku di sisi lain ranjang, melipat kedua lenganku di dada. “Nyatanya, penggambaran sosok mahasiswa seperti yang kerap kulihat di FTV salah besar. Kampus bukan ajang gaya-gayaan atau tempat mengejar cinta, hampir tak ada waktu untuk itu malahan, bagi mahasiswa betulan tentunya. Buku pe-er memang tak ada, tapi gantinya adalah tugas-tugas makalah yang lebih tebal dari buku pe-er, yang pengerjaannya juga lebih rumit. Ulangan diganti kuis dan mid test… herrrggghh…”

Kudengar sosok yang berbaring tiga hasta di sampingku tertawa. “Semoga kamu gak sakit jiwa saat yang namanya skripsi menjungkirbalikkan isi kepalamu, Dik Muzammil…”

“Kabarnya banyak yang ngupahin, ya?” kutolehkan kepalaku ke arahnya. Dia mengangguk. “Kak Faran dulu ngupahin, ya?”

“Enggak, tapi selama proses pengerjaannya aku dibantu ramai orang, seakan semua pihak yang terkait dengan skripsiku tak ingin dianggap menganiaya orang cacat dengan mempersulitku… yah, banyak orang yang langsung tergugah hatinya untuk menolong mahasiswa kaki tunggal sepertiku. Tapi kalau boleh jujur, aku benci itu.”

Aku terdiam lama. Kak Faran boleh saja berkata kalau masa-masa mengasihani dirinya dan menyalahkan keadaan sudah jauh tertinggal, tapi sikap apatis dan marah memang kerap diperlihatkan para penyandang cacat—ya Tuhan, betapa sebenarnya aku benci menyebutnya cacat—dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dan kalimatnya barusan kuartikan sebagai manifestasi sikap apatisnya.

“Senyap?” dia mengangkat kepala dan menjenguk wajahku yang menghadap loteng. “Kenapa, lidahmu mendadak tertelan bersama ludah?”

Aku memberinya juluran lidah. “Aku sedang berfikir, bagaimana kalau hujannya tak kunjung reda sampai malam?”

Dia kembali meluruskan posisinya. “Ya kamu tinggal milih, pinjam mantel atau menginap. Silakan dipertimbangkan, dan sementara kamu menimbang, aku akan mencoba tidur.”

“Tidur sesore ini?”

“Ya, tidur sesore ini. Kamu punya masalah dengan itu?” Dia kembali menolehku, kuberi gelengan kepala sebagai jawaban. “Bagus, lagipula kalau kamu punya masalah dengan itu, sama sekali bukan urusanku.” Lalu dia meraih bantal dan membekapkannya ke wajah.

Sebelum aku ikut memejamkan mata, aku mengkhawatirkan dia akan sesak napas dengan bantal yang memblokade lubang hidungnya sedemikian rupa. Tapi kalau dipikir-pikir, seperti katanya tadi, itu juga sama sekali bukan urusanku.

*

Rasanya aku bermimpi.

Aku berada di kamarku, tapi ranjangnya bukan ranjangku. Faran Thariqul Faid berbaring bersamaku, dalam keadaan sempurna, bahkan memiliki kedua kakinya. Kami mengobrol, dalam bahasa yang tidak kupahami, seperti gumaman orang mabuk, atau orang mengigau. Entahlah, aku tidak memerhatikannya. Yang paling kuperhatikan adalah, aku tidur dengan kepalaku di atas dadanya dan lengan kananku yang melilit pinggangnya. Kami berpakaian lengkap, aku dengan kaus CK yang kusadari bukan punyaku dan Faran Thariqul Faid dengan kemeja kotak-kotaknya.

Tapi, rasanya ini juga bukan mimpi.

*

Mula-mulanya aku merasa ada yang meniup-niup kepalaku, dengan jeda yang teratur. Lalu aku bagai bisa mendengar bunyi detak jantungku sendiri, dengan dentum yang tenang dan lembut. Sepertinya ada yang menyemprotkan sejenis cologne di dekat lubang hidungku, aku dapat membauinya meski tak melihat siapa yang melakukannya, wanginya enak dan menyegarkan. Kuhirup napas dalam demi mendapatkan aroma cologne itu lebih banyak lagi, rasanya begitu nyaman.

Aku berusaha menyamankan posisi tidurku, dengan aroma seenak ini, aku tak ingin buru-buru bangun. Masih setengah sadar, aku menggapai tak tentu arah, mencari-cari entah apa, membenamkan kepalaku lebih ke tengah bantal. Dan, rasanya tanganku menemukan sesuatu, bukan selimut dan sepertinya bukan bantal juga. Ini terasa seperti… bulu.

Bulu?

Di tempat tidurku?

Apa aku nyasar ke kandang primata?

Aku menggerak-gerakkan jemariku, mencoba memastikan apa yang kutemukan. Saat itulah kurasakan orang yang meniup-niup kepalaku memperkeras kekuatan meniupnya dan aku bagai mendengar gemuruh udara dalam dadaku bersamaan dengan tiupan itu. Aku sontak membuka mata, gerakan jemariku berhenti.

Butuh waktu setidaknya lima detik untukku menyadari bahwa aku tidak sedang berada di kamarku, butuh kira-kira tiga detik lagi untuk menyadari bahwa aku sedang tidur dengan kepala berada di atas seseorang, tepat di atas dadanya. Dan sedetik kemudian aku sukses mengeragap bangun dan terduduk tegak di atas ranjang yang tentu saja bukan ranjangku.

Aku mengerjap-ngerjap memandang sosok yang sepertinya masih tertidur di sampingku, sosok Kak Faran. Kesadaranku terkumpul. Kapan aku bergeser mendekati posisi tidurnya? Dan kapan aku dengan kurang ajarnya menindih dadanya dengan kepalaku. Edan. Aku segera ingat mimpiku, lalu kugaruk-garuk kepalaku. Ternyata, yang kusangka seseorang sedang meniup kepalaku adalah hembusan napas teratur laki-laki ini, dan ketika tiupannya keras tadi itu adalah responnya yang hampir terjaga karena aku sedang menarik-narik rambut di kepalanya yang entah bagaimana berhasil digapai tanganku. Lalu, detak yang kusangka milik jantungku sendiri itu adalah detak jantung Kak Faran yang tepat di bawah kupingku.

Aku membungkuk, mendekatkan cuping hidungku ke kaus Kak Faran, samar-samar aku bisa membaui aroma cologne yang sesaat lalu masuk penciumanku. Kutegakkan badanku kembali. Kuhela napas dan kuputuskan bahwa momen yang terjadi barusan adalah keberuntungan selanjutnya yang dikasih Tuhan untukku hari ini. Kupandang wajah laki-laki yang dulu pernah kukagumi—bahkan juga sekarang setelah fisiknya tak lagi sempurna—sambil tersenyum-senyum sendiri. Sepertinya aku akan menuliskan momen tidur sore ini dalam jurnalku sesampai di rumah nanti. Ah, nyatanya memang sangat banyak yang ingin kutulis.

Kubawa pandanganku ke jendela, lewat kacanya yang bersih, aku bisa melihat langit sudah kelabu. Kukenali gumpalan awan hitam yang menandakan mendung masih bergayut di langit meski tak ada lagi hujan yang mencurah. Tidak lama lagi malam akan segera mengganti siang.

Perlahan aku beringsut turun dari ranjang, langsung menuju kamar mandi. Kupakai facial foam milik Kak Faran untuk kedua kalinya hari ini saat membasuh mukaku. Sebenarnya aku ingin mandi agar bisa menggunakan handuknya sekali lagi, sabun mandinya sekali lagi dan juga shampoonya, tapi aku harus segera pulang sebelum malam. Saat ini kuyakin, layar ponselku pasti tertera beberapa panggilan tak terjawab, dari ibuku.

Saat keluar dari kamar mandi, kudapati tuan rumahku sedang duduk di atas ranjang sambil merenggangkan otot-ototnya sebelum kemudian menolehku. “Aneh sekali, tadi aku bermimpi kepalaku dirayapi tokek, banyak sekali tokek. Apa artinya ya, Dik Muzammil?”

Sembarangan, itu yang kamu katai tokek adalah jari-jariku tau! Aku mendumel dalam hati. Kugelengkan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya. “Ehhemm… mungkin Kak Faran kutuan, kutu kan merayap-rayap juga di kepala.” Aku berjalan menuju tasku, mengisi buku-buku dan alat tulis termasuk penggaris besi yang tadi sempat kukeluarkan saat tiba di kamar, agar tasku bisa kuangin-anginkan.

Dari ekor mataku, kulihat dia memeriksa kepalanya. Apa dia benar-benar menganggap serius perkataanku tentang kutu? Aku menahan tawa ketika dia mulai mengacak-acak rambutnya kuat-kuat sambil sedikit menunduk ke seprei, seperti waspada takut-takut kutunya berguguran ke alas tidurnya.

“Gak mungkin kutu ah…” dia menyerah, “Tapi ada yang aneh lagi, Dik… tadi aku juga mimpi seakan-akan ada yang meletakkan dispenser ke atas dadaku, kayak perasaan dihimpit gitu…”

Baiklah, dianggap dispenser terdengar lebih baik ketimbang kepalaku disebut-sebut sebagai benda lain yang tidak keren, semisal boks kontainer. “Tidur jauh sore gak baik loh, Kak, kata orang tua-tua. Itu pasti dihimpit demit, kan demit doyan keluyuran sore-sore… kata mbahku gitu loh.” Ya ya ya, saat kecil aku memang selalu dinasehati untuk tidak berkata bohong oleh ibuku. Dan lihat, saat sekarang berkata bohong, aku malah secara tak langsung memposisikan diriku sebagai dedemit. Tentu saja, kepalakulah yang tadi menghimpit dadanya.

“Biasanya aku tidur jauh sore gak kayak gini kok.” Dia bergerak menurunkan satu-satunya kaki yang dimilikinya, tangan kirinya berusaha menjangkau kruk yang tersampir di buffet.

“Kak, aku pamit pulang ya, sebelum adzan Maghrib.” Kusampirkan tas ke bahu kiriku.

“Gak jadi nginap?”

Sebenarnya, ide menginap terdengar cukup bagus bagiku. Tapi lalu aku berpikir, rasanya terlalu terlihat memaksakan diri jika aku langsung menginap di kesempatan pertama saat bertemu kembali setelah tak berjumpa dalam kurun waktu yang lama. Jadi, kuabaikan pertanyaannya dan berjalan menuju keranjang baju kotornya di satu sudut kamar. Aku bermaksud memungut kemeja dan celana lembabku dari sana untuk kubawa pulang.

“Hei, kamu gak bakal datang kemari lagi?” dia berseru nyaring.

Aku memandangnya bingung, “Ya gak mungkinlah aku gak datang, kan Kak Faran bilang kaus ini baru dipakai dua kali.” Aku menarik dada kaus yang sedang kukenakan, kaus CK miliknya yang masih baru. “Apa Kak Faran berubah pikiran, mau ngasih kausnya sekalian untukku?” kuperhatikan dia menghela napas dulu sebelum meresponku.

“Kamu cuma mau datang buat balikin kausku aja? Sesudahnya gak datang lagi?”

Sepertinya sekarang aku mengerti maksudnya. Aku tersenyum. Andai bisa, aku ingin melewatkan tujuh hari dalam seminggu bersamamu, Kak. Menghabiskan tiga puluh hari selama sebulan dimanapun kamu berada, hingga tahun-tahun terlampaui. Jika perlu aku akan bolos kuliah demi bisa mendatangimu setiap hari. “Aku akan sering berkunjung mulai sekarang.” Kutemukan senyum di wajahnya.

“Jadi, kenapa kamu gak biarin aja bajumu tetap di keranjang itu dan mengambilnya di kunjunganmu berikutnya?”

Akhirnya, aku batal menarik keluar baju lembabku dari dalam keranjang. “Baiklah, kapan-kapan aku akan bawa cucian kotorku kemari untuk dicuci.”

“Sekilonya tujuh ribu.”

Aku meleletkan lidahku sebagai bentuk protes, dan dia tertawa.

Sedetik kemudian dia menyisikan kruk dari bawah ketiaknya, “Ayo, aku akan mengantarmu sampai pintu. Gak keberatan, kan?”

Aku tau maksudnya dengan menyingkirkan penyangga itu. “Enggak, kecuali Kak Faran minta digendong, itu jelas aku keberatan.” Lagi-lagi jawaban bohong, sejujurnya aku sama sekali tak akan keberatan untuk menggendongnya, meski tulang-tulangku harus patah untuk itu. Bobotnya jauh melebihi dari angka timbanganku.

“Kalau satu-satunya kakiku yang bersisa hilang juga, aku akan minta kamu menggendongku, dan kamu harus mau.”

“Berhenti nyebut ‘kaki satu-satunya yang besisa’, berhenti jadi menyebalkan. Bisa?” aku memelototinya, berharap dia dapat menangkap raut kesalku.

“Ucapanku yang mana yang menyebalkanmu?”

“Ucapan apapun yang memberitahu kalau Kak Faran cacat!”

“Nyatanya aku memang beg…”

Stop!” tau-tau aku sudah menyambar mulutnya dengan tanganku, membuatnya tak bisa membuka mulut lagi untuk meneruskan kalimat. “Harusnya Kak Faran memahami, bahwa setiap Tuhan mengambil satu hal dari kita, Tuhan pasti akan menggantinya dengan lain hal. Di saat Tuhan menghilangkan satu indera kita, satu anggota tubuh kita, maka indera yang lain, anggota tubuh yang lain akan lebih peka, untuk menutupi apa yang hilang itu…” mendadak aku berubah jadi penceramah.

Senyap yang lama. Dia menggerak-gerakkan alis, sesaat kemudian berhasil menjulurkan lidah untuk menjilat tanganku yang membekap mulutnya.

“Hoek, dasar jorok!” aku sontak menarik tanganku dari mulutnya dan langsung menyapu telapak tanganku ke kausnya untuk membersihkan sisa liurnya di sana. Untuk mengingatkan saja, dia bahkan belum kumur-kumur setelah bangun tadi. Tapi tentu saja bukan itu yang membuatku berlagak jijik sedemikian rupa, aku tak akan pernah jijik, tidak pada laki-laki seperti Faran Thariqul Faid. Aku hanya ingin bermanja-manja dengan mengelap tanganku ke dadanya, itu saja. Andai saja tidak mempertimbangkan kemungkinan kalau pasti akan terlihat aneh, ingin saja aku membiarkan tanganku tetap di mulutnya sampai dia menjilat seluruh jariku yang tadi sempat disangkanya sebagai tokek jika dia mau. Ah, khayalan… khayalan… gemar nian dirimu memberiku kesenangan semu.

“Harusnya kugigiti jarimu, Dik Muzammil…” sisa tawa mengikuti ucapannya. Lalu tanpa protokoler lengan kirinya sudah melintang di tengkukku. “Mari kuantar.”

Aku memutar bola mata. “Lebih tepatnya, mari bantu aku menuruni tangga.”

Dia terbahak.

Lalu aku melingkarkan lengan kananku ke pinggangnya.

*

Halaman baru dari jurnal Faruq M. Qudsy

Ternyata, Tuhan sungguh bermurah hati padaku. Takdirku dan takdirnya bersilangan sekali lagi, dan sekarang bergerak beriringan, tidak lagi berlawanan arah.

Setelah hanya bisa berangan dan setelah begitu banyaknya aku menggantung harapan dalam kurun waktu empat tahun ini, akhirnya hujan mempertemukanku dengan insan penyamun hati itu. Kini ia bukan lagi insan tak bernama, karena namanya sudah kupahat secara gaib di dalam hatiku. Kini aku bisa menemuinya karena keberadaannya juga sudah bukan lagi misteri, ia berada di tempat yang kuketahui untuk kutuju.

Ingin kurayakan hari itu dengan menari-nari di bawah hujan, meneriaki langit yang berbaik hati mengamukkan halilintarnya hari itu. Ingin kutadah gerimis lalu kutampung hujan setangkup penuh, membawanya ke lidahku yang berbisik terima kasih… karena hujan, sekali lagi, mempertemukanku dengan perompak jantung itu. Bahkan kali ini menuntun langkahku langsung ke pintunya.

Aku tak perlu lagi mencari-cari di warung tenda ketika sore, tak perlu lagi meneliti setiap pengendara motor besar berkaus putih di jalanan, pun tak perlu berlama-lama memandangi emperan kedai fotocopy lagi setiap kali melewatinya. Aku hanya perlu ke G&F Bakery, dan akan kutemukan ia di sana, dengan senyum semanis blackforest, sikap sehangat bolu pandan yang baru dikeluarkan dari loyang, dan aroma seenak setoples cookies.

Bagiku, kesempurnaan tak hanya diukur lewat fisik, tak hanya lewat segala hal yang kasat mata. Fisiknya boleh saja tak lagi selengkap dulu. Selama di balik ketidaksempurnaan fisik itu terdapat pribadi yang baik, maka aku telah menemukan kesempurnaan menurut defenisiku sendiri.

Lalu, bicara soal cinta. Apakah aku masih menganggap ia sebagai satu-satunya arti jatuh cintaku? Ya, tentu saja masih, first, best  and only. Meski mungkin tak akan pernah terkatakan lewat kata, tak pernah ternyatakan lewat tanda, aku sudah cukup menanamkan keyakinan dalam hatiku sendiri bahwa ia akan tetap menjadi satu-satunya kekasih. Tak perlu ia harus tahu, tak perlu orang lain harus tahu, tak perlu dunia harus tahu. Cukup aku dan hatiku saja yang tahu…

Kak Faran… Dik Muzammil ini mencintaimu…

Peluk cium. Muahhh. Sekali lagi ahh, dekap erat. Muahhh muahhh…!!!

.

.

.

GERIMIS kembali luruh sore ini. Belum hujan, masih rintiknya saja, seakan langit enggan mengguyur basah bumi dengan serta-merta, seperti langit menahan murka atas segala yang dinaunginya. Cukup gerimisku saja kali ini, mungkin begitu seru langit di atas sana.

Dua anak Adam, bernaung di bawah kanopi emperan ruko, seorang lebih muda dan seorang lainnya lebih tua. Yang lebih muda berkaos oblong longgar yang sepertinya bukan kaos miliknya sendiri dan bercelana pendek sebetis yang kelihatannya juga bukan miliknya sendiri. Sedang yang lebih tua juga mengenakan kaos oblong yang terlihat pas di badan, juga bercelana pendek. Yang lebih muda terlihat sedang memegangi setang skuter yang terparkir tepat di emperan—terlindung dari gerimis—dengan kedua tangannya, sementara yang lebih tua tampak melompat-lompat kecil sambil menggapai sadel skuter yang sedang dijaga keseimbangannya oleh laki-laki yang lebih muda. Ternyata, si laki-laki yang lebih tua tidak memiliki kaki kiri, untuk itu ia harus melompat-lompat kecil mendekati skuter.

Di belakang mereka, di pintu yang menganga lebar, berdiri empat perempuan dengan wajah cemas. Salah satu dari perempuan-perempuan itu—yang lebih tua dari tiga lainnya—berdiri paling depan, memandang dua anak laki-laki di dekat skuter dengan sorot cemas yang terlihat lebih kentara dari tiga perempuan di belakangnya.

“Id, kamu yakin bisa? Mama kok cemas ya ini…” perempuan yang berdiri paling depan berseru mengalahkan bunyi rintik gerimis yang menerpa kanopi di atas kepala mereka. “Nak Faruq, larang dong Kak Faranmu…”

“Udah, Tante… Faruq dibentak-bentak karenanya…” laki-laki yang lebih muda—yang sekarang sudah mengangkangi sadel skuter—menolehkan kepala dan berseru pada perempuan di pintu.

“Ya ampun, Mama…” ternyata, perempuan yang baru saja berseru cemas adalah ibu dari laki-laki yang tak memiliki kaki kiri. “Ini hanya skuter, hanya sampe bundaran depan sana trus mutar balik. Faid bisa kok, tenang saja.”

Anak yang lebih muda menatap bergantian antara laki-laki di sampingnya dengan mamanya di pintu. “Kak, yakin kita harus melakukan ini? Itu mamanya Kak Faran gak restu deh kayaknya…” ia berucap lirih.

“Jangan banyak mantra, minggir sana ke boncengan! Sini setangnya!” jawab laki-laki yang lebih tua sambil merebut setang.

Anak yang lebih muda menekuk mulutnya dan menggidikkan bahu ketika beringsut ke boncengan. Ia lalu menoleh lagi ke pintu dan berseru, “Jangan kuatir, Tante… Faruq jagain biar gak ngebut.”

“Iya, kalau Kak Faranmu ngebut diingatin ya…”

“Mama, udah. Please, Mama masuk dan bersantai saja di balik rak.”

Mesin menyala. Derumannya lembut, skuter itu masih terlihat cukup baru.

“Bos Junior, hati-hati…” salah satu perempuan lebih muda yang berdiri di pintu berseru.

“Iya, Bos… dengerin kata Ibu, jangan ngebut!” Yang lainnya melanjutkan.

“Dik Faruq, jagain Bos Junior ya!” pungkas salah seorang yang tersisa.

“Owrait owrait, ladies… sana lanjut ngaduk adonan kalau gak mau dibangkupanjangin.” Laki-laki yang lebih tua merespon semua seruan untuknya dan anak yang duduk di boncengannya—yang sekarang sudah memeluk pinggangnya erat—dengan nada kesal.

Lalu tak ada yang bersuara, juga tak ada dari perempuan-perempuan di pintu yang beranjak dari posisi mereka.

“Siap?” laki-laki yang lebih tua sedikit menoleh ke belakang, mengecek boncengannya.

“Huh, harusnya aku yang nanya!”

Mendapat respon begitu, laki-laki lebih tua tertawa pendek. “Okey, here we go…!”

Dan skuter itu bergerak maju. Lajunya yang mula-mula oleng sesaat membuat perempuan- perempuan di pintu menahan napas. Tak lama setelah bergerak bagai ular yang merayap, skuter itu kemudian bergerak seimbang dan si laki-laki lebih tua menaikkan kaki kanannya ke sandaran. Bunyi klakson membuat perempuan yang berdiri paling depan di pintu tersenyum, kelegaan terpancar di raut wajahnya.

Gerimis masih tetap berupa gerimis. Skuter itu melaju dalam kecepatan konstan di sisi kiri jalan. Pengemudinya sesekali tertawa sambil berucap samar-sama pada anak yang diboncengnya, sedang si anak di boncengan kian merapatkan diri ke punggung orang yang memboncengnya. Tawa mereka ditingkahi deru kendaraan yang mereka papasi. Celoteh mereka melebur bersama rinai gerimis sore ini.

Di bawah gerimis yang mulai mencipta jejak pada kedua sosok mereka, ada satu hati yang sedang bermekaran penuh bunga, hati si anak lebih muda. Bahagia membungkusnya dari ujung kaki hingga ujung tertinggi rambutnya, membuat pelukannya pada sosok laki-laki di depannya kian erat. Di balik punggung, di bahu kiri orang yang sedang dipeluknya, kepala si anak bersandar nyaman dengan wajah berhias seruak senyum lepas. Bahagia itu ternyata sederhana, sesederhana berdampingan di atas skuter di bawah rintik gerimis. So simple so easy.

Dan, di bawah gerimis yang memang sudah pun mencipta jejak pada kedua sosok di atas skuter, senyum lepas juga menyeruak di wajah si pengemudi ketika menunduk dan mendapati jemari anak yang diboncengnya terjalin rapat di perutnya. Lalu terjadi begitu saja. Ada hati yang tiba-tiba menghangat, hati laki-laki penyandang cacat yang menemukan kegairahan baru dalam hidupnya yang tidak sempurna.

 

 

Akhir Mei 2014

di kamar jelek di negeri nayaka

n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com