Alaska Cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…
Lebih kurang dua bulan lalu, Bagus Titto mengajak beberapa penulis LGBT yang jam terbangnya sudah tinggi (kecuali Nayaka) untuk ikut meramaikan sebuah project. Entah apa pertimbangan Titto ketika mengajakku untuk berpartisipasi bersama penulis2 yang jam terbangnya sudah tak diragukan lagi itu, padahal dia tahu, semua orang tahu, aku belum begitu sering terbang, masih belajar terbang tepatnya. Mungkin yang jadi pertimbangan Titto adalah, karena aku sering memanggilnya dengan sebutan sayang, Titit Bagus *digampar Titto*

Kemarin, aku baru dapat pesan dari Titto, bahwa karena tingginya jam terbang para penulis yang dia ajak (kecuali Nayaka karena Nayaka belum bisa terbang tinggi), mereka tidak sempat terbang rendah untuk menggoalkan project itu, padahal di awal-awal spiritnya bikin aku terintimidasi. Akhirnya, kata Titto, dengan sangat menyesal dia membatalkan project itu dan hak cipta cerpen dari se-iprit penulis yang sudah setor naskah (termasuk Nayaka) dikembalikan kepada yang nulis.

So, ini dia cerpenku yang dikembalikan itu. Kuharap cerpenku dikembalikan benar2 karena minimnya perhatian penulis rekrutan Titto untuk setor naskah, bukan karena naskahku tidak layak, he he he. Pendek saja kali ini, sekitar 6.000an kata saja, itupun sudah kepanjangan menurut peraturan yang Titto oret untuk projectnya itu.

Well, semoga kalian menikmati membaca ALASKA, WHEN WILL I SEE YOU AGAIN? Seperti aku yang menikmati ketika menulisnya. Dan… trims buat Azul untuk design kover pertamanya untukku.

Wassalam

n.a.g

#####################################################

 

AKU akan mati hari ini, di tanah asing, ribuan mil jauhnya dari rumah. Mom dan Dad akan kehilangan satu lagi putra mereka. Kubayangkan Mom akan jatuh pingsan ketika tubuh matiku diantarkan ke pintu rumah. Dad mungkin tidak akan terlalu sedih, bukan aku putra kesayangannya —bahkan setelah ia hanya punya aku sebagai putranya. Aku khawatir pada Romeo, apa orang-orang itu akan ingat untuk memberinya makan dan memandikannya setiap Sabtu? Apa Mom akan mencari-cari aku dan Romeo saat mendapati kami berdua tak pulang?

Harusnya aku tidak berkeliaran di jalan dalam keadaan setengah mabuk dini hari begini, harusnya aku tetap di kamar hotelku yang nyaman, memesan layanan kamar, menonton TV kabel dengan sepiring kudapan beraroma manis, mandi air hangat lalu bergelung di bawah selimut lembutku lebih awal. Namun kini sudah jauh terlambat untuk semua itu. Sekujur tubuhku pasti sudah remuk, menggeletak bagai bangkai rusa di bahu jalan yang keras. Kusumpahi pengemudi mabuk sialan itu memperoleh cara mati yang lebih menyakitkan dari ini.

Ternyata ajal itu seperti malam tanpa bintang tanpa bulan yang turun di rimba tak dikenali, gelap pekat dan mencekam. Seperti jatuh bebas ke liang dalam berdasar bongkah es, nyeri dan dingin. Lalu cahaya yang lebih terang menyorotiku, dan tak lama setelah itu sepasang tangan malaikat menarikku, entah dibawa ke surga atau untuk dibakar di neraka.

***

Mereka bilang surga itu indah, sejuk, wangi dan penuh cahaya cantik warna-warni. Sedang neraka itu penuh api, merah dan gahar membara. Ini membingungkanku, sepertinya aku tidak berada di salah satunya, tidak di surga bukan pula di neraka. Apa ada tempat selain surga dan neraka bagi orang mati? jika ada, aku yakin di tempat itulah aku berada sekarang.

Ruangan ini dingin. Mataku mengenali warna putih kusam yang melapisi dindingnya, nyaris berwarna abu-abu, atau ini memang warna abu-abu? Hidungku mencium bau yang cukup menyengat, seperti bau ruang lab sekolahku dulu. Telingaku mendengar bunyi halus seperti deru udara di cerobong asap, atau seperti suara air mendidih, sekilas malah kedengaran seperti suara gelembung-gelembung udara yang muncul ke permukaan air kolam. Suara yang tidak kupahami itu sesekali ditingkahi bunyi tunggal yang lebih nyaring dan berulang setiap jeda yang pendek.

Aku mencoba menggerakkan mataku dan detik itu juga ruangan serasa berputar hebat hingga memaksaku menutup mata. Hal serupa juga terjadi ketika aku mencoba menggeser badanku, tempatku terbaring bagai terjungkal disertai rasa sakit di beberapa bagian tubuhku. Jika ingat rasa sakit ini, aku sedikit yakin kalau sebenarnya kini aku sedang di neraka. Bisa saja mereka salah tentang neraka, bahwa sebenarnya ada pula neraka yang tidak terbakar, neraka yang menyiksa dengan rasa sakit tanpa api.

“Apa rasanya bagai neraka, hah?”

Aku berhenti menggigit gerahamku dan membuka mata. Kepalan kedua tanganku mengendur. Seorang pria berwajah teduh kudapati sedang menatapku. Apa ia bisa membaca pikiran? Pria ini tak lagi semuda diriku, hampir seumuran Dad, mungkin tiga atau empat tahun di bawah Dad. Mendadak kudapati diriku sedang membandingkan pria ini dengan Dad. Sosoknya lebih ramping ketimbang Dad meski posturnya sama tinggi. Gurat-gurat di wajah pria ini lebih samar dan lembut ketimbang Dad. Garis rahangnya memang tegas dan terkesan keras seperti Dad, tapi tak ada aura diktator seperti yang kerap kudapati saat aku bertatapan dengan Dad. Wajah pria ini lebih bersahabat dari Dad dipandang dari sudut manapun. Meski belum sebanyak Dad, beberapa uban sudah mulai menjenguk di antara warna hitam di atas kepala pria asing ini. Ketika ia tersenyum, aku yakin bahwa diriku masih berada di bumi dan masih hidup, karena jantungku—yang tiba-tiba saja kembali kurasakan detaknya—memberitahu demikian.

Welcome back, Kid. Mengembara ke mana saja dua hari ini? Kupikir kau sudah lupa untuk pulang.”

Aku tak mengerti kalimat pria ini. Mataku mengernyit menahan nyeri ketika berusaha memahami ucapannya.

“Kau tak sadarkan diri selama dua hari,” ada jeda yang begitu lama, matanya tampak seperti sedang berpikir. “Emm… aku menemukanmu tergeletak di bahu jalan jauh dari Thirty First Avenue, dini hari dua hari lalu. Kau ingat sesuatu?”

Aku ingat pernah meninggalkan kamar hotelku di jalan yang baru saja disebutkan pria ini, menuju bar, membuat diriku mabuk lalu pulang. Aku ingat sebuah mobil yang kuyakin dikemudikan orang yang sama mabuknya denganku menabrakku yang berjalan sempoyongan tak tentu arah. Aku ingat mobil sialan itu memperlambat lajunya sesaat sebelum kembali melaju kencang bak panah lepas. Aku ingat diriku yang meringkuk menggigil di jalan Alaska saat dini hari yang maha dingin itu. “Aku ingat mengalami dini hari yang buruk.” Suaraku yang lirih dan nyaris tak terdengar membuat diriku sendiri kaget. Aku tak bisa mengingat kapan terakhir kali suaraku selirih ini. Sejak Troy meninggal yang seakan membawa pergi seluruh kelembutan Dad, suaraku tak pernah lirih bila Dad sedang di rumah.

Namun pria ini malah tersenyum. “Sudah dua hari aku mencoba menghubungi rumahmu, tapi sepertinya semua orang di sana sedang berpergian. Aku meninggalkan beberapa pesan untuk meminta mereka menghubungi balik. Kupikir kurang bijaksana mengabarkan kondisimu pada mereka lewat kotak pesan. Aku tak mau membuat orang tuamu di Oregon sana terkena serangan jantung.”

Mom dan Dad tidak akan ada di rumah sampai akhir musim panas, mereka sedang menghamburkan uang, menjelajah Asia Tenggara, mengunjungi salah satu negara asal buyut Mom, Indonesia. Dad sedang melampiaskan dendamnya pada keadaan, padaku. Kau bisa memikirkan mengapa kau tak bisa seperti saudaramu selama kami tak ada, sekarang aku bahkan ingat dengan jelas ucapan Dad pagi itu menjelang mereka berangkat ke bandara. Aku bisa menjamin mereka bahkan tak berpikiran kalau aku akan mengejar pesawat di hari yang sama saat keberangkatan mereka, dengan tujuan berbeda tentu saja. Aku bahkan ragu mereka pernah menelepon, Mom mungkin ingin menelepon, tapi Dad pasti punya cara untuk membuat Mom tidak perlu repot untuk menelepon rumah. Bagaimana reaksi Dad jika tahu bahwa aku tidak berada di sana untuk berpikir seperti katanya?

“Mereka sedang liburan.” Aku merespon kalimat panjang si pria asing setelah jeda cukup lama.

“Oh.”

“Apa aku akan baik-baik saja, Mister…” Ucapan samarku menggantung.

“Aku Derek Pletscher.” Ia melirik tangan kananku sekilas. “Ya, meski aku sempat ragu, tapi kata dokternya kemarin kau akan baik-baik saja, Tyler.” Lalu ia berdehem, “Maaf, aku memiliki barang-barang pribadimu. Maaf juga jika aku sudah lancang mengabari ke Youth Hostels, kurasa mereka perlu tahu apa yang terjadi pada salah satu tamu mereka.”

Pria ini sepertinya terlalu peduli. “Apa voucher dinner mewahku dari hotel itu baik-baik saja?”

“Masih ada di dompetmu meski aku sangat tergoda untuk menggunakannya.” Ia tersenyum di ujung ucapannya. “Buatlah dirimu nyaman, aku akan mengabari petugas kalau kau sudah bangun.” Ia bersiap keluar.

“Mr. Pletscher,” panggilanku membuatnya kembali menoleh. “terima kasih. Aku percaya orang baik di dunia kita jumlahnya sudah jauh berkurang, tapi aku masih beruntung bertemu satu yang tersisa.”

Aku sempat menangkap air mukanya berubah sejenak sebelum meresponku. “Just take a rest, Kid.”

***

Aku tak tahu mantra hebat apa yang dipakai dokter-dokter di Providence Alaska Medical Centre  di Anchorage ini, lima hari setelah percakapanku dengan Derek Pletscher—yang keteduhan tatapannya masih membuatku tenang setiap kami mengobrol saat ia berkunjung yang sejauh ini sudah terjadi empat kali—aku sudah mampu menggunakan kamar mandi tanpa bantuan, sudah mampu makan dan menyuap sendiri menu makan yang sesungguhnya—empat hari kemarin mereka hanya memberiku bubur dan makanan bayi, aku juga sudah mampu duduk tegak di ranjang rawatku sambil membaca Anchorage Daily News yang dibawa seorang nurse saat memeriksaku di awal pagi tadi.

Adalah keberuntungan karena aku tak mengalami sebarang kondisi patah tulang atau batok kepala rengkah. Sepertinya tabrakan itu tidak separah yang kurasakan saat aku menggeletak di dingin pagi itu. Mungkin efek mabuk membuat pikiranku merespon tiga tingkat lebih parah dari keadaan sebenarnya. Gegar otak tentu saja kualami, juga memar-memar di lengan dan bahu. Yang sedikit mencemaskan adalah luka terbuka di pelipis di bawah lilitan perbanku, besar dugaan akibat tergores aspal, mungkin akan meninggalkan parut. Saat sadar hari itu, sekujur tubuhku memang sakit luar biasa, terutama bagian pinggang kiri yang kuingat menjadi sasaran mobil sialan itu ketika menyerempetku, tapi makin ke sini kondisiku berkembang sangat baik. Aku berniat keluar besok, agendaku di Alaska bisa hancur lebur bila aku tertahan di sini lebih lama lagi. Masih banyak sudut Alaska yang belum dipijaki kakiku. Selain itu, aku juga harus berlomba dengan orang tuaku untuk sampai di rumah lebih dulu.

“Merasa lebih baik?”

Aku mendongak dari koran yang tengah kubaca dan melihat ke pintu. Derek Pletscher tidak datang sendirian hari ini, seorang anak lelaki dengan jaket sedikit lebih besar dari ukuran badannya berdiri heran di samping tuan penolongku itu. Boneka rusa terkepit di ketiak kanannya. Anak lelaki itu pastilah putranya, umurnya mesti empat atau lima tahun.

“Aku siap keluar dari tempat membosankan ini esok.” Kulipat koranku dan tersenyum pada mereka berdua.

Derek membalas senyumku lalu menuntun putranya mendekati ranjang. “Ini Josh, pengasuhnya sedang tidak sehat, jadi aku tak bisa menitipkannya di sana, maka ia akan ikut aku seharian ini,” terangnya padaku. “Ayo Joshie, ucapkan selamat pagi pada Tyler…”

Bocah itu berkedip-kedip padaku. Ia tampak begitu muram untuk anak-anak seusianya. Melihatnya, aku jadi ingat album masa kanak-kanakku dan Troy yang akhir-akhir ini kutemukan kerap dipandang Mom dengan mata berkaca-kaca saat Dad tak di rumah. Mataku dan Troy dulu juga sebundar itu. “Good morning, Tyler.”

Morning, Joshie…” Aku belum pernah punya pengalaman dengan anak-anak, kikuk kusentuh tanduk rusa Josh. “Rusa yang cantik, siapa yang membelikanmu? Mommy, atau Daddy?” kudengar Derek berdehem.

“Ibu Josh baru meninggal dua minggu lalu…”

Tiba-tiba aku ingin menyulut lidahku dengan korek api ketika mendengar kalimat Derek. Kupandang Josh yang masih belum memperlihatkan ekspresi lain. Dan sepertinya aku baru saja menambah kemuramannya. “Sorry…”

Josh mendongak ayahnya. “Aku ingin pulang.”

Okey, Buddy… jika itu maumu, kita akan segera pulang.” Derek meletakkan sebuah bungkusan di atas ranjang rawatku. “Barang-barangmu, pakaianmu sudah kulondri, dompet dan telepon genggammu baik-baik saja. Aku menemukan nomor telepon rumahmu dari daftar kontak yang begitu sedikit di sana, kau kurang bergaul ya?” Kubuka bungkusan yang dibawa Derek untuk mengambil telepon genggamku. “Sepertinya benda itu kehabisan daya. Aku tak memadamkannya karena kupikir mungkin teman atau ayah dan ibumu menelepon, tapi benda itu begitu senyap.”

Tak ada yang dengan begitu senangnya menghubungi anak muda bermasalah sepertiku, bisa dikatakan aku nyaris tak punya teman akrab. Tentang ayah dan ibuku, well, aku bahkan tak ingat pernah menyimpan nomor telepon rumah di telepon genggamku. “Terima kasih, untuk semua kebaikanmu, Mr. Pletscher.”

Sepertinya ini akan menjadi akhir hubunganku dengan pria asing penolongku ini. Derek mengangguk lalu menuntun Josh menuju pintu. Kupandang mereka berdua, hatiku miris. Aku tahu seperti apa rasanya kehilangan orang terdekat. Aku sudah pernah mengalaminya ketika Troy pergi selamanya. Derek memang terlihat tangguh di luar, tapi di dalamnya ia tetaplah seorang pria yang baru saja kehilangan orang terkasih. Dan Josh, ya ampun, tidak bisakah Tuhan menunggunya lebih dewasa lagi untuk merenggut pergi matahari hidupnya?

“Tyler…” Tiba-tiba Derek membalikan badan.

“Ya?”

Kudapati Derek malah terdiam, bibirnya bergerak-gerak seakan hendak berkata-kata lagi, sikap tubuhnya juga seperti orang linglung. Josh mendongak pada Derek ketika ayahnya itu terdiam cukup lama, lalu Josh menggoyang-goyangkan lengan sang ayah. Derek menunduk memandang Josh lalu kembali memandangku., “Semoga sisa liburanmu di sini menyenangkan…”

Aku tak yakin hanya itu yang ingin disampaikan Derek. Kusentuh lilitan perban di keningku, “Sepertinya akan begitu.”

Goodbye, Tyler.”

Goodbye, Mr. Pletscher.”

***

Musim panas di Alaska adalah surga yang dituju oleh ramai orang di belahan manapun bumi. Ted Stevens international Airport pasti kedatangan banyak penggemar Alaska setiap harinya. Di Fourth Avenue jalan teramai di Anchorage, aku seakan sedang mengikuti kelas sosial budaya dengan media audio visual kualitas terbaik. Begitu banyak wajah-wajah asing, begitu banyak etnik, begitu banyak logat dan bahasa yang kutangkap, begitu banyak identitas budaya yang melekat pada diri turis-turis itu yang ikut mereka bawa ke sini.

Aku takjub. Alaska akan penuh bunga selama musim panas. Di Anchorage aku tak menemukan satu jalan pun yang polos tanpa keranjang bunga, semua penuh warna, semua begitu hidup. Tanah ini seakan tak pernah tidur saat musim panas, itu karena mataharinya terjaga hampir dua puluh tiga jam sehari. Jika tak ada jam, aku akan mengira kalau sepanjang hari adalah siang terus. 

‘Kita harus bisa ke sana suatu hari nanti, Ty. Kau dan aku, menjelajah pinggiran Arctic bersama.’

Duduk sendirian di bangku kayu di pinggir Fourth Avenue dengan brosur wisata di tangan yang hari ini kembali kukais dari rak kayu di Anchorage Convention & Visitor Bureau, aku kembali teringat kalimat Troy saat kami baru menginjak high school. Troy begitu terobsesi dengan Alaska, dan ia berusaha menularkan obsesinya padaku meski tak pernah berhasil, setidaknya hingga enam bulan lalu. Aku baru benar-benar tertarik dan ingin melihat impian Troy setelah ia tiada. Seharusnya Troy yang lebih berhak berada di sini sekarang, menjejakkan kakinya di tanah Alaska.

Kunjunganku ini untukmu, Troy. Mataku akan melihat apa yang ingin kau lihat, kakiku akan memijak tanah yang ingin kau pijak.

Kurasakan bahu kananku disentuh orang. Aku menoleh dan menemukan seorang bocah laki-laki berdiri di ujung kursi, boneka rusa di tangan kirinya. Tak butuh waktu lama untuk membuatku ingat kalau bocah ini adalah putra Derek Pletscher yang baru saja kehilangan ibunya.

“Halo, Tyler.”

Aku menoleh ke sekitar, berusaha menemukan ayah Josh tapi tak kutemukan. “Kau kabur?” tanyaku pada bocah itu.

“Aku masih mengenalimu, jadi kuhampiri.” Josh memanjat ke kursi lalu duduk di kananku.

“Di situ kau rupanya.”

Aku melihatnya. Tampak lebih segar dari terakhir kali kulihat. Ketampanan masa muda pada sosok Derek Pletscher masih begitu kentara, Tampak lebih kentara dari yang terlihat ketika ia mengunjungiku di Alaska Medical Centre. Dengan penampilan seperti itu, aku yakin mendapatkan istri pengganti adalah perkara mudah bagi pria ini. Derek berjalan ke arah kami, dua cup yang kuperkirakan berisi milkshake berada di kedua tangannya. “Ternyata Alaska tidak seluas yang digembar-gemborkan, ya?”

Derek tersenyum mendengar ucapanku. “Nice to see you again too, Kid.” Ia duduk di kiriku lalu mengulurkan tangan kanannya menyeberangiku untuk menyerahkan satu cup milkshake buat Josh. “Kau mau juga?” tawar Derek padaku.

“Masa-masaku dengan milkshake sudah jauh tertinggal, dan mungkin baru akan datang lagi saat aku seusiamu dan punya seseorang seusia Josh bersamaku.” Meski begitu aku tetap mengambil cup yang disodorkan Derek, menyedot lewat sedotannya hingga menyisakan setengah bagian cup lalu kukembalikan pada Derek, ia terkekeh menerimanya.

“Bagaimana lukamu?” Derek menunjuk perban yang masih menempel di pelipisku.

“Aku sedikit yakin parutnya nanti akan kelihatan bagus.” Kulirik Derek, riak wajahnya berubah serius, lalu aku menghadap Josh yang sedang menikmati susunya. “Hei, Buddy… apa kau menguntitku?” Josh mengangkat kedua bahunya, tak mau repot-repot menjauhkan sedotannya untuk menjawabku.

“Aku ingin mengajak Josh ke museum. Well, mungkin aku memang sedikit berharap bisa menemukanmu lagi, tapi aku sama sekali tak menyangka itu bakal terjadi di sini.” Derek cukup sadar kalau pertanyaanku pada Josh lebih kutujukan untuknya.

“Aku pernah mendengar kata orang-orang yang sudah pernah kemari, katanya, Fourth Avenue adalah jalan yang harus kau datangi jika ingin menemukan orang yang mungkin kau kenal di Alaska…”

Derek tertawa hingga bahunya berguncang, “Kau mengarang kalimat itu, kan? Tentu saja kau mengarangnya.”

No, itu tertulis di artikel perjalanan seseorang, kubaca ketika berselancar di internet.” Nyatanya, artikel itu kubaca dalam buku kliping Troy yang sekarang berada dalam ranselku di kamar hotel.

“Baiklah,” Derek mengangkat kedua tangan, “aku memang berharap akan menemukanmu di sini.”

“Ternyata harus berputar-putar dulu ya untuk membuatmu jujur, Mr. Pletscher…”

Please, just Derek.”

“Kapan kita akan ke museum?” di kananku, Josh berseru nyaring.

“Sekarang.” Derek bangun diikuti Josh yang meloncat turun dari tempat duduknya. “Kau sudah ke museum?” tanya Derek padaku.

“Jika tidak membuang-buang waktu dengan terjebak di hospital beberapa hari kemarin, mungkin aku sudah mengunjunginya.”

“Kau bisa mengunjunginya hari ini.”

***

Anchorage Museum of History and Art adalah sebuah museum seni yang dibuka pada sembilan belas enam delapan. Museum yang tentu tak akan dilewatkan Troy bila ia diberi kesempatan ke Alaska. Sekarang aku melakukannya untuk Troy, mengabadikan banyak sudut dengan kameraku dan hasilnya akan kumasukkan ke dalam buku kliping Troy nantinya, untuk melengkapi.

“Kau sudah ke mana saja sejauh ini, Tyler?” Derek bertanya ketika aku sudah cukup memotret. Kami bersandar bersisian di dinding ruang sementara Josh masih takjub dengan replika rumah suku Eskimo yang terlihat begitu artistik dalam boks kaca.

“Tempat pertama yang aku kunjungi adalah University  of Alaska Anchorage…” Ada jeda, aku ingat betapa dulu Troy memimpikan untuk kuliah di AAA begitu selesai high school. Kuhela napas panjang sebelum melanjutkan obrolan. “Aku sudah mengunjungi beberapa danau sebelum istirahat lamaku beberapa hari lalu, aku sudah ke Denali Park, aku sudah menggelandang di Fairbanks dan Juneau, baru saja kemarin meski kepalaku sedikit pusing aku sudah ke Pulau Baranof bersama sekelompok turis Jepang dan Israel, kami mengunjungi Danau Medvejie di Sitka. Dan tadi aku baru saja mengumpulkan brosur tentang Seward, aku akan ke sana besok.” Kutoleh pria paruh baya di sampingku, “Kau pernah ke Seward?”

“Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku ke sana.”

“Mungkin itu tempat terakhir yang akan kukunjungi, tiket pulangku tiga hari lagi. Aku banyak melewatkan kesempatanku saat di rumah sakit.”

“Kau akan ke sana besok?”

“Ya.”

“Kau bisa pergi denganku…”

Aku melongo.

“Derek, can we go home now?

Derek meninggalkan dinding dan menuju Josh yang sepertinya sudah bosan melihat-melihat. “Yes, Buddy… let’s go home.”

Aku masih terpaku di tempatku berdiri, apa tadi Josh baru saja memanggil ayahnya dengan nama depannya saja?

***

Derek memberitahu kalau Josh ditinggal di rumah pengasuhnya. Jadi, katanya kami bisa pulang selarut apapun dari Seward nantinya. Aku takut Josh jadi penghalang petualanganmu di Seward, jadi aku tak mengajaknya. Demikian ujar Derek saat aku menanyakan ketiadaan Josh ketika ia menjemputku di hotel.

Trip yang menyenangkan. Panorama bulan Juli di Alaska kunikmati sepanjang tiga jam perjalanan dari Anchorage menuju Seward. Makin ke selatan, aku makin takjub dengan apa yang kulihat. Ini adalah panorama pedalaman Alaska di musim panas, ini adalah satu dari sekian banyak hal yang ingin dinikmati oleh penduduk dunia saat ke sini. Derek hampir tak bersuara selama tiga jam perjalanan, seakan tak ingin menggangguku yang sedang merekam jejak petualanganku, dengan mataku dan dengan kameraku. Sekali lagi, aku bersedih untuk Troy, kusesali sifatnya yang terlalu penurut dulu. Ah, poor Troy.

“Kau tahu kalau nama Seward diambil dari nama orang yang mengusulkan Amerika untuk membeli Alaska dari Rusia dulu?” Derek bertanya ketika kami siap menyantap makan siang di restoran pinggir laut yang menyajikan makanan Eskimo setelah berkeliling Seward lebih setengah hari.

Jelas aku tahu, aku nyaris bisa menghapal kliping-kliping yang dikumpulkan Troy dalam bukunya. “William Seward, menlu AS tahun delapan belas enam tujuh, Alaska dijual terlalu murah.” Kalau saja Troy hidup di masa itu dan punya tujuh juta dolar di sakunya, aku yakin ia pasti akan membeli Alaska untuknya pribadi.

Derek tertawa pendek, “Kau tahu banyak tentang Alaska ya?”

Aku menggeleng, “Troy tahu lebih banyak lagi.”

Derek mengernyit. “Who is Troy?”

“My brother…” Aku menerawang ke laut lepas. “Dia meninggal setahun yang lalu, kecelakaan jalan raya.”

“Oh, I am sorry.”

“Tidak, itu sudah lama berlalu. Aku baik-baik saja.”

Derek menyentuh tanganku di meja dan meremasnya. “Tentu dia saudara yang hebat.”

Aku melirik tangan Derek di atas tanganku dan segera ingat kalau ia baru saja kehilangan istrinya. Derek menarik tangannya dan berdehem. Kuhela napas dalam dan kuhembuskan perlahan. “Kehilangan seseorang yang kita sayang memang tak mudah ya…”

“Kau tak harus membicarakannya jika itu membuatmu tak nyaman.”

Aku menggeleng. “Alaska adalah impian Troy. Aku tak pernah begitu ingin ke sini sampai enam bulan setelah kepergiannya. Entah apa yang mendorongku untuk membongkar barang-barang pribadinya enam bulan lalu, gara-gara itu aku harus bertengkar hebat dengan Dad. Dad tak ingin aku menyentuhnya, seakan takut aku akan menularkan sifat pembangkangku pada benda-benda pribadi Troy. Dad sungguh gila. Itu hanya benda mati, benda-benda yang ditinggalkan orang mati. kematian Troy membuatnya memandangku kian sebelah mata. Tapi aku tak mengapa, aku memang tak bisa sehebat Troy untuknya. Bagi Dad, aku adalah kembaran yang jahat sedang Troy kembaran baiknya. Entah bagaimana, Dad hanya melihat keburukan dariku, bahkan ketika aku membawa pulang piagam lomba ke rumah.

“Apa hebatnya menang dalam lomba mengandalkan otot? Bahkan orang dungu buta huruf pun bisa menang jika punya badan kuat. Lihat Troy, calon mahasiswa Harvard. Bisakah kau mendapatkan nilai-nilai sebagusnya?” Aku diam sebentar, “Dad sangat sering berkata seperti itu. Kupikir, ucapannya mungkin benar. Aku tak bisa sepintar Troy, tak akan pernah bisa. Kebodohan seakan implant yang ditanamkan ke kepalaku begitu aku lahir. Aku juga tak bisa sepenurut Troy. Di saat dia tenggelam bersama buku-buku tebal di kamarnya, aku malah asyik merokok di jembatan. Di saat Troy mewakili sekolah untuk berpidato dalam banyak agenda sekolah yang mengundang para wali, aku malah berkelahi di kafetaria dan membuat malu Dad.

“Tapi aku tak pernah membenci Troy, tak pernah. Aku menyayanginya teramat sangat. Dia selalu baik, mungkin aku tak akan pernah bisa menyelesaikan high school jika tanpa bantuannya. Mungkin, jika aku bukan saudara Troy si Einstein, pihak sekolah tentu tak segan-segan mengeluarkan troublemaker sepertiku dari sana.” Aku tersenyum timpang, masih menerawang ke laut lepas. Derek masih setia dalam kebisuannya, mendengarkan tuturan panjangku. “Tapi aku kasihan pada Troy. Karena kebaikannya, dia harus mengubur impiannya untuk kuliah di Anchorage seperti yang kerap didengung-dengungkannya padaku menjelang kami tidur, Dad memaksanya ke Harvard, seperti yang sudah diprogramkannya untuk Troy. Aku ingin menangis saat Troy mencomot semua brosur tentang Alaska dari dinding kamar dan mengepaknya dalam kardus, mengubur impiannya.

“Mungkin ini adalah dosa dan sebuah ketidakpantasan, sedikit, aku merasa gembira saat Troy akhirnya pergi selamanya, setelah sekian lama dia bisa bebas dari menjadi boneka penurut Dad. Itu adalah liburan thanksgiving pertama sejak ia dikirim ke Cambridge. Kami berkendara berdua malam itu, aku yang duduk di belakang kemudi. Harusnya Troy tidak lupa memasang seat beltnya, harusnya dia yang mengemudi. Mobil itu melaju melewati batas kecepatan saat di persimpangan, aku tak menyangka akan ada mobil yang melintas secepat itu, menghantam mobil kami tepat di pertengahan demikian kuatnya hingga berputar hebat dan melempar Troy.”

Betapapun aku berkata pada Derek tadinya bahwa peristiwa itu sudah jauh berlalu, namun kini tetap saja mataku berkaca-kaca. Derek kembali menggenggam tanganku dan meremasnya.

“Dad kian membenciku karena itu. Baginya, aku tak lebih dari orang yang telah membunuh putranya, aku adalah pembunuh.” Kini kedua tangan Derek sudah berada bersama tanganku. Dalam kegalauan, aku menyeringai padanya. “Perlu waktu enam bulan bagiku sejak Dad menyerangku karena membongkar barang-barang Troy malam itu untuk memantapkan diri ke sini. Yah, setidaknya aku sempat menyembunyikan buku kliping Troy saat itu, cukup sebagai pembakar semangat dan suntikan spiritual untuk membuatku yakin datang ke Alaska. Nyaris enam bulan lamanya aku membuka buku Troy berulang kali yang seakan-akan terasa bagai panggilan Troy untukku. Dan akhirnya, di sinilah aku, mewakili kaki dan panca inderanya untuk Alaska.”

Kembali kupandang tanganku yang digenggam Derek. Ia menghela napas panjang sebelum membebaskan tanganku. “Kau anak muda yang kuat, Tyler Roque. Aku tak bisa menyalahkan ayahmu, tapi aku menyesal untuknya yang tak bisa melihat lebih jauh ke dalam jiwa-jiwa putranya.”

Aku mengibaskan tangan di udara. “Lupakan saja.” Kutegakkan badan dan kuraih tali kamera. “So, where are we going now?

“Wherever your feet want to, Kid.”

***

Aku sudah pernah menikmati fenomena aurora borealis di langit Alaska di malam pertama ketibaanku di sini. Salah satu kejadian spektakuler yang ditunggu banyak orang saat musim panas di Alaska ketika gelap datang untuk satu jam saja sepanjang hari. Dan saat ini, aku kembali menikmati pendaran cahaya warna-warni akibat benturan proton dan electron dengan partikel gas yang dibiaskan matahari di atmosfer Alaska itu bersama Derek di sampingku, di balkon kamar hotelku. Pria ini sungguh tak terduga, setelah kemarin membuatku melongo ketika ia bilang akan ke Seward bersamaku, malam ini ia kembali membuatku kaget karena kukira ia akan terus melaju pulang setelah menurunkanku di depan Youth Hostels sekira jam sepuluh tadi, ternyata ia malah ikut turun dan menyerahkan kunci mobilnya pada penjaga di lobi.

“Seperti di surga,” bisikku di samping Derek. “Troy sangat ingin melihat ini, dia membicarakannya berulang-ulang denganku dulu.” Kutatap takjub spectrum warna yang menari-nari di angkasa Alaska. Kutoleh Derek yang terlihat sama takjubnya denganku.

“Sekarang kau sudah di sini, melihat untuknya.”

Yeah, I’m here already.” Aku menjauh dari pagar balkon ketika pendaran aurora borealis kian memudar seiring matahari yang kian muncul mengusir gelap. “Kau tahu apa yang paling kusuka dari Alaska di musim panas?”

“Malamnya yang terasa begitu singkat?” Derek mengikutiku ke kamar.

Aku menuangkan dua gelas anggur murahan ke dalam gelas, “Ternyata kau sudah cukup mengenalku untuk bisa membaca pikiranku, ya?” kusodorkan satu gelas buat Derek.

“Mungkin kerena aku pernah melewati masa muda yang sedikit sama sepertimu. Aku juga kerap bersebrangan dengan ayahku, tapi pada akhirnya dia bisa menerima visi masa mudaku.”

Aku mengangguk beberapa kali lalu meneguk anggurku. Di luar, Alaska sudah kembali terang, padahal masih dini hari. “Jadi, kau tidak punya niat untuk mencari ibu pengganti buat putramu?” Detik itu juga Derek terbahak kencang. Aku mengernyit menatapnya. Apakah pertanyaanku terdengar demikian konyolnya hingga ia perlu tertawa sedemikian rupa?

Oh God, jadi begitu yang kau pikirkan? Bahwa aku ayahnya Josh?” Derek terbahak lagi.

Aku makin tak mengerti. “Kau kakeknya?” Derek tertawa makin keras, mau tak mau aku ikut terbahak bersamanya.

“Apa aku tampak sudah begitu tua untuk disebut kakek?” Derek menuangkan sendiri anggurnya. “Well, aku mungkin hampir setua ayahmu, barangkali aneh kelihatannya pria middle age sepertiku bisa akrab dengan anak muda dua puluhan sepertimu, Tyler. Tapi tetap akan terdengar menggelikan bagiku bila kau menyebut aku sebagai kakek Josh, karena faktanya aku tak pernah menikah untuk punya anak dan lalu anakku menikah lagi untuk memberiku cucu.”

Mulutku melongo. Siapa mengira kalau pria segagah Derek Pletscher ternyata masih melajang hingga kini?

Derek menghabiskan anggurnya sekali teguk. “Ibunya Josh adalah adik perempuanku satu-satunya, wanita yang baik, ibu yang hebat. Kesalahan terbesarnya adalah jatuh cinta pada seorang pria brengsek langganan penjara. Kami tak lagi mendengar kabar dari pria sialan itu sejak Emely mengandung buah cinta mereka. Tapi Emely wanita yang hebat, sendiri ia mampu membesarkan Josh hingga umurnya sudah empat tahun kini. Emely menetap di Utah setelah melahirkan Josh, dia bekerja di sebuah toko bunga dan membesarkan Josh di sana. Kami sangat jarang bertemu, dan aku menyesali itu.” Derek berhenti sejenak. “Kabar kematian Emely yang kuterima lebih dua minggu lalu memukulku demikian hebat. Aku adalah keluarga satu-satunya, bisa kau bayangkan? Aku yang selama ini tak pernah melewati waktu untuk sesuatu yang disebut berkeluarga, tiba-tiba saja mendapat tanggung jawab penuh terhadap hidup seorang bocah seperti Josh.”

Aku diam menanggapi penuturan Derek.

“Aku tidak siap untuk semua itu, Tyler.” Derek terduduk di tepi tempat tidurku, wajahnya berubah sendu. “Selama ini aku sudah terbiasa hidup bebas sendiri, lalu tiba-tiba tanggung jawab berat diletakkan Emely begitu saja di atas pundakku. Bagaimana aku bisa yakin tak akan membuat Josh binasa dengan hidup bersamaku? Satu minggu pertama, aku berharap kalau semua ini adalah mimpi buruk, bahwa suatu pagi aku akan terbangun dan Josh lenyap. Tapi aku selalu bangun dan mendapati Josh pulas di sampingku, tanda bahwa ini bukan mimpi buruk.” Derek menopang dahinya, ia kelihatan begitu tertekan.

Aku meletakkan gelasku dan duduk di kirinya, kuremas bahu Derek dan ia lalu menempatkan sebelah tangannya di atas tanganku di bahunya.

“Ini terlalu berat bagiku, Tyler. Aku tidak menikah karena aku tak bisa. Membayangkan diriku memiliki istri dan anak adalah sesuatu yang membuatku takut. Tapi sekarang aku malah memikul tanggung jawab untuk hal serupa itu, aku tak siap…”

Untuk pertama kalinya, seorang pria yang usianya jauh di atasku mencurahkan kegundahan hatinya padaku, menceritakan beban hidupnya pada orang lebih muda. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa. Kuputuskan untuk memeluknya. Kutuntun kepala Derek hingga bersandar di bahuku, kurengkuh bahu kanannya dengan lengan kananku. Dan entah mengapa, itu membuat Derek menangis. Aku bisa melihat matanya berkaca-kaca. Di dalam sosok seorang pria dewasa, selalu ada kerapuhan seorang bocah yang akan muncul ketika dipicu keadaan. Mungkin inilah yang sedang terjadi pada pria ini. Badan Derek mulai bergetar, ia benar-benar menangis dalam diam, menangisi ketakutannya.

Kubiarkan sisi melankolis Derek menguasainya untuk waktu yang lama. Ketika kurasakan napasnya mulai teratur lagi, aku bersiap untuk membuat jarak. Namun lengan Derek membelit pinggangku tepat pada waktunya. Napas Derek berhembus hangat di leherku, mengabarkan padaku jika wajahnya kian dekat. Dan itu menjadi awal untuk sesuatu selanjutnya yang mungkin cukup pantas disebut sebagai sebuah kegilaan. Ya, mendadak aku dan Derek mendapati diri kami sudah kehilangan kewarasan masing-masing. Namun anehnya, aku tak merasa itu sebagai hal yang akan kusesali di kemudian hari, mungkin juga bagi Derek.

Dalam diam yang sedikit canggung, kusaksikan diriku dan Derek saling melucuti pakaian. Dalam diam yang masih sama canggungnya, kusaksikan diriku dan Derek mengarungi semesta berahi dalam dingin udara dini hari Alaska, Ironisnya, malah berujung serakan peluh di kulitku dan Derek.

Telah kukecapi jengkal demi jengkal itu,

telah kujejaki ceruk-ceruk itu,

juga telah kujelajahi bentangan belantara itu.

Dalam gelegak nafsu seumpama gunung api,

dan kebuasan asing dua srigala.

 

Telah kutumpahkan setiap partikel hasrat dari setiap inci diriku,

telah kau tunjukkan bukti penaklukkanmu yang absolut.

Erangmu adalah irama,

engahku adalah nyanyian,

berdua kita adalah lagu.

 

Kau dan aku,

melebur dalam petualangan primitif nan purba,

mencipta jejak di sekujur tubuh satu sama lain,

entah untuk dikenang,

atau untuk dilupakan ketika terjaga.

 

***

Ted Stevens International Airport penuh disesaki orang-orang yang hendak melepas Alaska. Aku adalah salah satu dari orang-orang itu. Penerbanganku masih satu jam lagi, enam puluh menit terakhirku untuk menghirup udara Alaska. Aku yakin, sepertiku, orang-orang ini juga tentu berat meninggalkan keindahan Alaska di belakang mereka. Ketika kau sudah melihat dan merasakan Alaska, kau seakan ingin merantai kakimu ke tanahnya saat waktumu untuk pergi darinya tiba. Sekarang aku ingat sepenggal tulisan tangan Troy dalam buku klipingnya. Yang membingungkan, bagaimana Troy bisa tahu itu sementara belum satu kali pun ia pernah ke Alaska?

Namun Troy tetap benar, karena aku merasakan kebenaran kalimatnya kini. Andai bisa, ingin saja aku merantai kakiku ke tanah Alaska. Entah karena kakiku memang berat meninggalkan Alaska, atau karena hatiku enggan meninggalkan seseorang yang kutemukan di sini. Seseorang yang dengan cara tak kumengerti telah memberi bekas di dalam sini yang sukar kuhilangkan. Seseorang yang meski sudah mengutarakan kejujuran mengejutkan padaku masih kuharapkan kehadirannya kini, untuk melepas kepergianku, untuk memberi salam perpisahan. Di saat-saat terakhirku di sini, aku menyesali diri karena telah mengusirnya pagi kemarin. Derek yang bersedia datang sebelum pesawatku lepas landas kini rasanya seperti sebuah kemustahilan paling mustahil. Mustahil karena aku sudah terlanjur berkata tak ingin melihatnya muncul di depanku lagi.

Kusentuh perban yang hingga hari ini masih menutup luka di kepalaku, baru kuganti pagi tadi. Derek Pletscher, dialah orangnya yang telah menabrakku malam itu. Dialah pengemudi mabuk itu. Dialah orang yang kusumpahi mendapatkan cara mati yang menyakitkan. Dan sialannya, ia pula yang kini kehadirannya kuharapkan. Pagi di mana aku terbangun di atas ranjang berantakan kembali diputar di kepalaku, gambaran Derek yang duduk membelakangiku di sisi lain ranjang juga masih jelas tergambar, bahkan suaranya.

“Tyler, aku ingin memberitahukanmu sebuah kejujuran…”

Bahkan aku sudah mengetahui bahwa kejujuran yang ingin disampaikannya akan berefek pada hubungan kami sejak ia membuka kalimat pertama pagi itu.

“Waktu itu di rumah sakit, kau pernah bilang kalau aku adalah orang baik. Kejujurannya adalah, aku tidak sebaik itu. Jika saja waktu itu aku langsung jujur memberitahumu bahwa akulah yang berada di mobil itu, bahwa akulah orang yang terus melajukan mobilku dan membiarkanmu sekarat di tepi jalan, kau pasti tak akan mencapku orang baik. Kenyataannya, aku memang bukan orang baik, Tyler…”

Percayakah kalian jika kuberitahu bahwa aku langsung meninju mukanya saat itu juga? Ya, kalian harus percaya, karena aku benar-benar meninju mukanya. Tapi itu tak lantas membuat Derek berhenti meracau yang di telingaku terdengar sebagai pembelaan dirinya sendiri.

“Aku baru menidurkan Josh malam itu yang rasanya masih bagai siksaan maha dahsyat bagiku meski sudah lebih seminggu kulalui. Frustrasi mendapati hidupku yang sudah mulai berubah, aku melarikan diri pada cara lama, pada botol-botol alkohol di bar. Aku pulang saat sudah setengah mabuk…”

“You’re an asshole!”

Berawal dari makian itu, sumpah serapahku mengalir bak sungai es yang mencair, melabrak Derek yang hanya diam. Kalimat terakhirku sebelum ia keluar dari pintu kamar adalah, aku tak ingin ia menampakkan diri lagi di depanku.

Dan kini aku menyesali kalimat terakhir itu. Oh hell, Tyler. Derek memang menabrakku, ia juga meninggalkanku meringkuk terluka di tepi jalan dalam dingin udara dini hari Alaska, tapi bukankah kemudian ia kembali? Tangan malaikat yang kulihat terulur saat itu adalah tangan Derek, ia kembali untuk bertanggung jawab, bahkan kemungkinan besar menungguiku hingga sadar. Ia juga rutin menjengukku hari-hari selanjutnya, dan menemaniku ke Seward. Mungkin itu memang cara Derek menebus kesalahannya. Lalu bagaimana dengan kejadian malam kemarin di kamar hotelku? Apakah itu juga termasuk usaha penebusan dosanya?

Apa yang terjadi malam itu antara aku dan Derek bukanlah usaha penebusan dosa Derek. Aku yakin itu. Justru kejujuran Derek pagi harinyalah yang lebih pantas disebut sebagai usaha penebusan dosanya padaku. Mengakui kesalahan adalah hal terberat untuk dilakukan, berkata jujur pada beberapa kondisi adalah hal tersulit untuk dilaksanakan, khususnya jika kita akan terlihat buruk dengan berkata jujur. Tapi Derek melakukannya. Ia berani terlihat buruk di mataku dengan menceritakan kebenaran. Pria paruh baya itu, adalah orang asing pertama yang kujumpai selama hidupku yang dengan jiwa besarnya berani jujur untuk semua salahnya.

Kesadaran yang kuperoleh mendadak membuatku berdiri spontan dari kursi tunggu Ted Stevens. Mungkin aku memang harus mencari rantai untuk membelenggu kakiku ke tanah Alaska, menunggu sampai Derek mendatangiku. Aku tak ingin pergi sebelum meluruskan sesuatu dengannya. Aku ingat artikel dalam buku Troy tentang Fourth Avenue yang pernah kubincangkan dengan Derek saat kami bertemu lagi di jalan itu. Mungkin Fourth Avenue adalah harapanku satu-satunya untuk dapat menemukan Derek. Kupanggul carrier besarku di punggung, siap meninggalkan Ted Stevens, meninggalkan tiket pulangku.

“Pesawatmu delay, Kid?”

Aku berbalik dan menemukan Derek berdiri dua meter di depanku, tangan Josh berada dalam genggamannya. Bocah itu mengerjapkan matanya beberapa kali, di balik jaketnya yang kebesaran aku bisa melihat setelan piyamanya. Masih tetap dengan boneka rusanya di ketiak. Josh pasti baru bangun tidur ketika Derek memboyongnya ke sini. Dan Derek, aku yakin ia bahkan belum sempat membasuh mukanya. Tapi peduli setan, aku senang melihat ia ada di sini, meski dengan tampang berantakan seperti itu.

“Aku hampir saja lupa kalau hari ini kau pulang.” Derek melepaskan pegangannya pada tangan Josh lalu merogoh saku belakang jinsnya. “Hey, Buddy, bisa tolong belikan sarapan buat kita?” Derek membungkuk pada Josh sambil menyerahkan selembar uang kertas yang baru diambil dari dompetnya. Josh mengangguk dan menerima uang yang disodorkan Derek. “Di sana.” Aku ikut memandang gerai chicken burrito yang ditunjuk Derek untuk dituju Josh. Bocah itu mengangguk lagi. “I love you Joshie, kau hebat.” Derek mengacak kepala Josh sebelum bocah itu menuju gerai burrito sepuluh meter dari tempatku dan Derek berdiri berhadapan.

Tatapanku beradu dengan Derek. Berlebihankah jika kukatakan kalau aku bisa melihat samudera rindu di mata Derek ketika kami bertatapan?

Derek menarik napas panjang, “Aku belum lupa kalau kau sudah melarangku untuk menampakkan diri di depanmu, tapi aku tak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri jika membiarkanmu pergi tanpa memaafkanku…” Ucapan Derek menggantung beberapa saat. “kau mau memaafkanku, Tyler?”

Aku tak menjawab, sebaliknya kuhampiri Derek hingga jarak kami terpaut satu langkah. Kurasakan tubuh Derek kaku ketika aku memeluknya. Cukup lama rasanya hingga kudapati tepukan hangat Derek di punggungku beberapa kali. Setelah kurasa cukup, aku menarik diri darinya. Kusempatkan diri untuk mencium pipi Derek ketika wajahku melewati sisi mukanya. Ia mendesah sambil memegang rahangnya yang baru saja ditempeli bibirku.

Josh sudah kembali dan kini berdiri memperhatikan kami dengan mata bundarnya. Ketika kupusatkan perhatian padanya, bocah itu malah menyodorkan satu bungkus burrito padaku. “Thank you, Joshie.” Aku merunduk untuk mencium kepala Josh lalu menerima buritto yang disodorkannya padaku. Kemudian interkom Ted Stevens meneriakkan panggilan terakhir untuk penerbanganku. Kupandang Derek yang langsung memberiku senyum timpang. Matanya mulai berkabut, “Oh Men, please don’t be sad…”

Derek tertawa pendek mendengar kalimatku, ia meraih tangan Josh dan menggenggamnya lagi. “Come, Buddy, say goodbye to Tyler.” Saat berkata itu, mata Derek terus tertuju padaku.

Goodbye, Tyler.”

Goodbye, Joshie,” balasku. Lalu aku membalikkan badan dan mulai melangkah.

“Hey, Kid!” Teriakan Derek membuatku menoleh lagi ke belakang. Kulihat ia melambai. “Sepertinya aku akan merindukanmu…”

Aku tersenyum, “Yes, you will, Oldman!” balasku yang direspon Derek dengan senyum lepas. Kulambaikan tangan satu kali pada mereka lalu kulanjutkan langkah. Kuharap Derek tahu meski tak kuucapkan, kalau sepertinya aku juga akan merindukannya.

Ah, beginilah akhirnya ternyata.

Saat Alaska Airlines melintasi bukit-bukit berselimut salju di bawah sana, di seatku, aku bertanya-tanya tentang Troy. Jika Troy punya kesempatan untuk datang ke Alaska, saat harus meninggalkannya, apa ia akan bertanya pertanyaan seperti yang sekarang digemakan berulang-ulang dalam diriku? Pertanyaan senada, ‘Alaska, when will I see you again?’ naluri kembaran dalam diriku mengatakan ya, Troy tentu akan bertanya-tanya seperti halnya diriku. Lalu pertanyaan lain yang lebih spesifik menggantikan pertanyaan sebelumnya dalam hatiku, itu terdengar seperti : Derek, when will I kiss you again? Dan aku tersenyum sendiri dikursiku.

Kuhela napas dalam ketika kapten penerbangan memberitahu kalau Alaska Airlines baru saja meninggalkan wilayah udara Alaska. Untuk pertama kalinya sejak keberangkatanku dari Portland International Airport di Oregon hari itu, aku rindu ngeongan Romeo. Berapa hari aku sudah meninggalkannya di penitipan? tiga hari, empat hari? Hemm, aku sudah meninggalkannya di sana selama empat belas hari. Well, saatnya kembali ke dunia sebenarnya, dan aku sudah siap untuk sedahsyat apapun murka Dad saat ia mendapati kalau uangnya banyak terkuras untuk trip yang baru saja kuselesaikan di Alaska. Dan entah mengapa aku sangat yakin, bahwa dimanapun Troy berada kini, jika ia bisa melihatku, ia pasti sedang menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu tertawa terbahak-bahak.

 

Akhir Maret 2014

di kamar jelek di negeri antah berantah

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com