now-is-good-poster

an AL GIBRAN NAYAKA note

###################################################

Hidup kita adalah serangkaian perjalanan waktu, setiap perjalanan mencapai akhir tujuan. Biarkan mereka pergi, biarkan mereka semua pergi… – monolog Tessa

Aku tidak pernah memikirkan dan membayangkan kematian sebegitu dalamnya seperti ketika aku menonton film ini. Dengan cara yang sama, aku juga belum pernah memandang hidup sebagai sebuah jam pasir yang meluncur cepat dan mustahil dihentikan, dalam proses itu akan banyak hal yang mungkin tidak sempat kita lakukan. Entah bagaimana, film ini memberiku gambaran baru tentang hidup, dan tentang kematian.

Jika kalian memintaku menyebutkan sepuluh judul film yang menyentuh jiwaku dengan begitu telaknya, aku akan bilang… salah satunya adalah Now Is Good. Siapapun yang membaca post ini, kuharap kalian sudi meluangkan sedikit masa untuk menemukan film ini dan menghabiskan sedikit masa lagi untuk menontonnya. Dan jika film ini juga menyentuh hati kalian seperti yang dilakukannya padaku, saranku… jangan ragu-ragu untuk menangis. Karena begitulah yang kualami.

Kurasa, tak ada yang tak tahu Dakota Fanning. Ia aktris yang baik, pemeran yang selalu total di setiap filmnya, bahkan sejak ia masih kanak-kanak. Aku ingat diriku sempat membeliak takjub ketika melihatnya pertama kali dalam War of the world, membuatku bertanya pada diri sendiri, bagaimana gadis sekecil itu bisa melakukannya? Dan Fanning kembali membuatku bertanya demikian ketika menonton film ini. Ia memerankan tokoh Tessa dengan sangat baik, sangat baik.

Ada yang sudah tahu Jeremy Irvine sebelumnya? Pertama kali melihatnya dalam War Horse yang disutradarai Steven Spielberg dua tahun lalu—jika aku tak salah ingat, aku langsung suka aktingnya. Irvine bintang remaja yang tampan, sangat-sangat tampan. Jika kalian menonton film ini, kalian juga akan terpukau dengan aktingnya di sini, dan jangan sungkan-sungkan untuk memuji belah dagunya jika kalian memiliki rasa kagum padanya seperti rasa kagumku. Irvine memerankan Adam by the way, cowok remaja tetangga Tessa yang langsung jatuh cinta dengan si gadis sekarat ini pada pandangan pertama.

Berbicara tentang film dengan tokoh utama seorang gadis sekarat, tentunya Now Is Good bukan film pertama yang menawarkan skenario demikian, juga bukan novel pertama yang mengangkat tema leukemia sebagai main issuenya. Ditulis oleh Jenny Downham dengan judul Before I Die (aku lebih suka judul novelnya ketimbang judul filmnya), Now Is Good sungguh beda dengan film serupa sebelumnya yang juga diangkat dari novel, A Walk To Remember. Jika diminta membandingkan antara dua film ini, aku akan bilang kalau Now Is Good lebih unggul dari segala sudut pandang.

Tessa hidup dalam keluarga disfungsional, ibu Tess tak pernah peduli dengan penyakit yang diderita Tess sampai menjelang hari-hari terakhir Tess saat sang putri kian sakit. Kesamaannya dengan A Walk To Remember adalah, kita akan menemukan sosok ayah yang sama di kedua film ini, dalam konteks yang lebih psikis tentunya, ayah Tess begitu peduli dan begitu possesif dengan kondisi Tess, sama seperti ayah Jamie dalam A Walk To Remember.

Aku tak mungkin menceritakan plot lengkapnya di sini, menurutku, jika itu kulakukan maka tak ada bedanya diriku dengan pembajak karya. Jadi, biar kuceritakan beberapa bagian menariknya Now Is Good. Seperti berikut ini.

“Sebagian besar waktuku seperti diikuti oleh seorang psikopat, seperti aku akan ditembak setiap saat.” Ini kata Tess kepada Adam ketika mereka untuk pertama kalinya menghabiskan sore berdua di atas bukit. Pemikiran yang begitu realistis. Sejak awal, Tess memang sudah sadar kalau ia akan mati, dan ia sudah siap dengan kemungkinan terburuk sebagai akibat dari kankernya itu. Jadi, Tess tak mau bersikap manis menunggu nyawanya ditarik malaikat maut, ia menolak melanjutkan kemo yang dirasanya tak ada perlunya dan mebuang-buang waktu. Tess belajar untuk bertahan mengatasi ketakutannya meski sebenarnya ia memang ketakutan. Tess memberontak, ia punya list tentang hal-hal yang ingin dilakukannya sebelum ia mati, dan beberapa list itu adalah susuatu buruk dan merupakan hal terakhir yang akan diizinkan semua ayah di dunia ini untuk dilakukan putri mereka. Drugs, drinks, have sex, tattoo, menguntit di department store dan lain-lain. Meski begitu, tentu ada hal-hal bagus dari list itu.

Tessa punya seorang sahabat, partner in crime-nya yang setia. Another complicated girls, Zoey. Tess melaksanakan beberapa listnya dengan ditemani Zoey, kalian bisa tahu list mana saja itu. Zoey tipe sahabat sejati meski dengan semua sifat jelek yang ia punya. Ia hamil muda dan sempat ingin menggugurkan kandungannya, Tessa tak pernah setuju dengan niat Zoey meski ia tetap menemani temannya itu konsul ke pakar aborsi. Tapi akhirnya Zoey memutuskan untuk mempertahankan bayinya. Aku seakan jatuh bebas ketika Tessa mengutarakan niatnya pada dokter yang menangani ketika sang dokter memberitahukan kalau kondisinya makin drop. “Sahabatku akan melahirkan di bulan April, apa aku dapat melihat bayinya?”  begitu tanya Tessa ketika sang dokter menolak menyebut waktu, yang bikin sesak adalah gelengan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan Tessa itu.

Menyesakkan saat ayahnya masuk kamar dan mendapati keadaan di sana hancur-hancuran, Tess marah pada keadaan ketika Adam tak memberitahukannya bahwa ia memutuskan mengambil kuliah, hari itu Adam pergi menghadiri upacara pembukaan tahun ajarannya di kampus tanpa memberitahu Tess, dan Tess pulang dengan amarah, kamarnya menjadi sasaran kemarahan. Tapi aku tak bisa untuk tidak berkaca-kaca saat ayahnya masuk kamar dan membaca semua list Tessa yang selama ini tersembunyi di balik karpet hiasan dinding. “Ayah Cuma ingin menolongmu… ayah tak bisa membantumu, ayah tak bisa membantumu, ayah tak ingin kau pergi, ayah tak ingin kau pergi. Ayah tak bisa menghadapinya, bawalah ayah ikut denganmu…” begitu kata ayah Tess sambil menangis di kamar putrinya yang berantakan, di depan dinding bertuliskan list Tessa. Kalimat terakhir ayahnya, ya ampun… aku sesak detik itu juga.

Apa aku sudah menyebut tentang Cal? He is so cute, so funny and totally charming. Cal adalah adik laki-laki Tess yang sangat terobsesi pada sulap, umurnya sembilan tahun. Aku tertawa saat suatu pagi ketika sarapan ia berkata seperti ini pada ayahnya, “Kalau Tessa mati, bisakah kita liburan?” ya ampun, bocah ini. Apa yang ia pikirkan ketika berkata demikian? Cal langsung dimarahi ayahnya, sedang Tessa tersenyum miris, Cal mungkin benar, selama ini perhatian ayah mereka hanya untuknya saja dan Cal terlupakan. Manis adalah saat Tess mengajak Cal ke kota dan mengizinkan Cal melakukan apapun yang ia mau, dengan memanfaatkan kartu kredit tentunya, Tess menyebut itu sebagai Cal’s holiday. Aku senyum-senyum sendiri melihat kakak-adik itu mencoba terbang di sebuah wahana. Biar kuberitahu celoteh lucu Cal lainnya, perhatikan percakapn mereka pada suatu pagi berikut ini :

Cal : Tessa.
Tessa : What?
Cal : Masihkah aku jadi adik kalau kau sudah mati? (aku kontan terbahak sendiri saat membaca subnya)
Tessa : (tersenyum) Aku akan terus hidup.
Cal : Apa kau akan menghantuiku?”
Tessa : Tidak jika kau tidak menginginkannya.
Cal : Mungkin aku hanya akan sedikit takut.

 

Tapi aku benar-benar berair mata ketika di penghujung film saat Tessa terbaring sekarat di tempat tidur, dikelilingi ayah, ibu dan adiknya, Cal berbisik ke telinga kakaknya, “Goodbye, Tess. Hantui aku jika kau suka, aku tidak keberatan.” Ya Tuhan, it’s hurt. Ibu mereka yang di awal-awal tak pernah begitu peduli langsung menangis setelah Cal berbisik demikian ke telinga Tess. Ditambah lagi ucapan ayah mereka sebelum itu, “Hei, kita semua di sini, Tessa. Kita semua sangat menyayangimu. Kau sudah melakukan yang terbaik. Kau bisa pergi sekarang, kau bisa pergi…” Pada detik inilah aku merasa dunia mengelinding jauh dariku. jantungku mencelos.

Sekarang, mari kita lihat line ini : Cinta tak selalu bisa menyembuhkan, hanya menguatkan sampai batas waktu tertentu saja. aku rasa kalimat inilah yang tepat untuk menggambarkan peran Adam dalam masa-masa kritis Tessa. “Jadi, apakah obat cinta bekerja dengan keajaibannya?” ini adalah pertanyaan suster Phillipa kepada Tessa ketika sang suster memeriksanya suatu hari di rumah. Dan cinta pada kasus Tessa memang tak bisa menyembuhkan, keajaiban cinta tak berfungsi pada gadis malang ini dalam hal menyembuhkan penyakitnya, tapi jelas berfungsi terhadap caranya melalui sisa hari yang ia punya. Adam boleh mencurahkan bergalon-galon cinta buat Tessa, ia boleh memberikan Tessa cinta sebesar yang gadis itu inginkan, Adam boleh punya selaksa cinta demikian manis untuk Tessa, tapi itu tak akan pernah bisa mengulur waktu. Cinta Adam hanya sebagai suplemen di tahap akhir hidup Tessa, miris mengetahui kalau ternyata dalam film ini kekuatan cinta harus dikalahkan leukemia. Tapi memang demikianlah realitanya.

Penggambaran Adam yang mencintai Tessa begitu realistis dengan jiwa remaja, sangat natural. Dibutuhkan komitmen besar saat seorang remaja harus mencintai seorang gadis sekarat yang hidupnya tak lama lagi. Aku sungguh kesal terhadap Adam ketika ia hanya bengong tak tahu harus berbuat apa ketika ingin menolong Tessa yang mimisan hebat di kamar mandi, padahal sebelumnya Adam panik dan tergesa-gesa ingin menolong ketika dipanggil ibunya Tess, tapi begitu melihat Tessa, ia langsung kebingungan tak tahu harus bagaimana. Namun itulah realistisnya. Meski Adam adalah pecinta yang hebat, ia tetaplah seorang remaja. Tapi kemudian, wajah menyesalnya karena tak bisa berbuat apapun untuk menolong Tessa membuatku kasihan dan ingin merangkul sambil menepuk-nepuk bahunya. Namun Adam sangat manis ketika membayar kekecewaan Tessa akibat kebingungannya hari itu, pada malam Tessa dirawat di rumah sakit, Adam beraksi dan menulis nama Tessa dengan cat di merata tempat di tiap sudut kota. Tessa terkagum-kagum ketika menemukan serakan namanya itu dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Adam membuat salah satu listnya terwujud, Tessa ingin terkenal dan diingat. Nama Tessa di seluruh penjuru kota bisa mewakili itu.

Aku akan memberitahu kalian beberapa momen manis Tessa dan Adam dalam kutipan berikut ini.

*Awal perkenalan, di taman samping rumah Adam.
Adam : Jadi, kapan saja kalau ada sesuatu untuk dibakar…
Tessa : Atau kalau aku hanya ingin pingsan di depan seseorang…
Adam : Kau tahu harus datang kemana.
Tessa : Aku tahu

 

Awal perkenalan yang indah menurutku.

*Di atas pohon di sebuah hutan, ketika Adam ingin membantu Tessa untuk turun
Tessa : Aku tidak sakit di sini, aku tidak sakit lagi. Aku hanya ingin tetap di hutan ini. Aku ingin mejauh dari dunia modern dan semua gadget itu. kemudian aku takkan sakit. Kau bisa tinggal denganku jika kau mau. Aku senang jika kau mau. Kita akan membangun sesuatu, gubug dan jalan setapak. Kita akan bercocok tanam. Kita akan aman.

 

Salah satu part faveku, mereka membuat iri di atas pohon itu.

*Di jalan depan rumah ketika Tessa baru pulang mengantar Zoey konsul, sekaligus melakukan salah satu listnya, mengemudi mobil.
Adam : Maukah kau kencan denganku? Aku anggap kita belum pernah kencan yang sesungguhnya, seperti yang selayaknya, dan mungkin kita harus melakukannya. Dan itu tak perlu terjadi malam nanti, atau hari ini. Tapi tawaran ini untuk setiap saat, kau tinggal beritahu aku kalau sudah siap. (Huwaaaa… Adam manis sekali, ya kan sodara-sodara?)
Tessa : Now is good.

 

Kapan aku bisa seperti Adam?

*Di bangku di taman rumah Adam saat salju luruh di malam musim dingin.
Adam : Apa yang kau inginkan dariku, Tess?
Tessa : Saat malam. Tidur bersama. Bangun bersama. Sarapan.
Adam : Apa yang benar-benar kau inginkan?
Tessa : Aku ingin kau bersamaku di kegelapan. Untuk memelukku. Untuk terus mencintaiku. Untuk menolongku saat aku ketakutan. Datang ke tepi jurang dan melihat ada apa di sana.
Adam : Bagaimana jika aku salah?
Tessa : Mustahil bisa salah.

 

Dialog itu mengartikan betapa sebenarnya Tessa ketakutan menghadapi kematiannya.

*Di bangku di atas bukit yang sama tempat mereka melewati sore bersama pertama kali, saat kembali berbaikan setelah Adam pulang dari pertemuan tahun ajaran baru universitas tujuannya.
Tessa : Bagaimana rasanya di sana?
Adam : Besar, banyak bangunan. Aku agak tersesat.
Tessa : Kita akan mencari jalan keluarnya.
Adam : Kita?
Tessa : Ya. Aku akan datang lagi sebagai orang lain. Menjadi gadis berambut indah yang akan mendekatimu di hari pertama, dan bertanya apa yang sedang kau pelajari.
Adam : Dan aku akan jatuh cinta denganmu pada pandangan pertama, lagi.

 

Dialog ini, juga membuat dadaku serasa ditimpa batu besar, susah bernapas. Tessa memberi makna eksplisit dalam kalimatnya, bahwa setelah ia tiada, ia ingin Adam melanjutkan hidupnya, bertemu seseorang lain dan menjalin sebuah hubungan baru, untuk kebahagiaannya.

Apakah aku baru saja membajak karya seseorang? Kuharap tidak.

Dan, sekarang aku ingin memberitahukan maksud dari paragraf awalku dalam review ini, berdasarkan pelajaran yang kuperoleh ketika menonton Now Is Good. Hidup tidak melulu tentang berdiri menantang dunia, hidup bukan tentang berapa tahun yang kita miliki, bukan tentang berapa durasi yang menjadi jatah kita. Hidup adalah tentang melakukan sesuatu yang berarti, membuat setiap kesempatan menjadi momen yang meninggalkan bekas bagi sekitar. Now Is Good, memberi pelajaran berharga juga tentang kematian. Bahwa betapa mati itu tak bisa dihindari, bahwa hakikat mati adalah sama bagi setiap orang. Tessa, mengajarkan kita untuk berani menghadapi kematian, berani merasakan ketakutan akan mati, serta bagi mereka yang kita tinggalkan agar berani untuk kehilangan dan berani untuk merelakan.

Last words, kalian tak akan membuang-buang waktu bila memilih Now Is Good sebagai tontonan di waktu senggang. Trust me!

 

Wassalam

N.A.G

DI-Now-Is-Good-5-DI-to-L8

now-is-good

 

now-is-good_2012-3-440x369

 

 

now_is_good_still_3