Nicholas-Sparks-Akan-Terus-Buat-Novel-Novel-Untuk-Difilmkan_haibaru650x431

an AL GIBRAN NAYAKA note
###################################################
Aku sedang suka nulis review kilat. Meski kuyakin tak bakal dibaca, well, tak mengapa, setidaknya ini bisa memberi kepuasan buat diriku sendiri. Menulis apa yang ingin kutulis, itu nikmat banget, dan ya, itu memberi kepuasan padaku.

Menurutku, menulis review sebuah film adalah bukan menuliskan kembali jalan cerita film itu dengan tuturan kita, bukan membeberkan lebih dan kurangnya film dimaksud. Bagiku, menulis review sebuah film lebih kepada apa yang aku rasakan ketika menontonnya. Dan setelah menonton film dengan judul di atas, I’m feeling blue.

Tuh, sudah kuberitahu apa yang aku rasakan, dan review halilintar ini bisa dibilang sudah khatam. (Tapi, tidakkah ini terlalu kilat, Nay?)

Let’s start.

Film ini—sebagaimana drama-drama hebat lainnya yang pernah kutonton—dikirim oleh Mbak Afni Sutrisna buatku. Aku sempat gak tertarik ketika diberitahu kalau bintang prianya Ryan Gosling, aku tak begitu mengidolakan dia. Dan tau gak, saat lihat judulnya, kupikir ada keterlibatan gadget dalam jalan cerita film ini, ternyata aku kecele. Notebook yang dimaksud di sini adalah buku catatan, bukan laptop mini atau alat digital lainnya.

Banyak film yang memunculkan materi Alzheimer sebagai main issuenya, dan dari yang kudengar film-film yang make ide Alzheimer selalu meninggalkan kesan mendalam bagi penontonnya. Tapi kurasa, The Notebook adalah yang terbaik. Percaya atau tidak, aku berair mata di akhir cerita. Yap, aku merasa tak perlu malu-malu untuk menangis, toh pada kenyataannya hatiku memang tersentuh, film itu menyentuh hatiku dengan kedalaman yang pas, sangat sulit bagiku untuk tidak menangis saat itu. jadi, aku menangis.

Oke, ada yang tidak tahu Nicholas Sparks? Aku tak habis pikir bagaimana dia bisa sehebat itu dalam menuliskan banyak novel drama romantis yang selalu sukses besar baik buku atau filmnya, dicari banyak penyuka novel atau film drama romantis, dan mencatat rekor ketika difilmkan. Sebut saja Message In A Bottle yang difilmkan tahun 1999 dibintangi Kevin Costner dan Robin Wright Penn, mama papa di rumah pasti ingat banget film itu (kalau mama papa ada nonton tentunya). Terus A Walk to Remember tahun 2002 yang dibintangi Shane West dan Mandy Moore. Lalu The Notebook (yang sedang kita bahas) difilmkan dua tahun kemudian, dibintangi Ryan Gosling dan Rachel McAdams. Kemudian ada Dear John (Channing Tatum dan Amanda Seyfried) serta The Last Song (Liam Hemsworth dan Miley Cyrus) yang sama-sama keluar di tahun 2010. Serta The Lucky One yang rilis tahun 2012 dibintangi Zac Efron dan Taylor Schilling. Judul-judul yang kusebutkan di atas adalah judul-judul yang sudah kutonton, dan kesemuanya mengagumkanku (kuharap aku berkesempatan menulis review film-film itu di sini). Selain itu, kabarnya masih ada beberapa novel Sparks yang diangkat ke layar lebar. Luar biasa.

The Notebook dikisahkan oleh Noah tua kepada istrinya Allie (yang juga sudah tua) yang menderita Alzheimer sebagai usaha Noah untuk mengembalikan Allie-nya meski cuma untuk lima menit. Untuk kenyataan ini saja aku sudah sesak napas. The Notebook adalah apa yang terjadi padanya dan Allie, dari sejak mereka bertemu, sampai mereka bisa bersatu setelah begitu banyak halangan dan begitu lama penantian. The Notebook adalah kisah cinta mereka yang hilang dari ingatan Allie. Memakai setting tahun 40-an (tokoh Noah bahkan sempat berperang di medan tempur), penggambaran setting tempat dan waktunya begitu pas, dan ini memang keahlian Hollywood.

Noah muda adalah lelaki miskin yang hidup di Seabrook, South California, bersama ayahnya. Kesehariannya ia bekerja di sebuah tempat pemotongan kayu. Noah bertemu Allie saat karnaval malam di sana. Allie, cewek kaya raya yang sedang berlibur di Seabrook bahkan sama sekali tak tertarik pada Noah yang justru langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada Allie. Aku tak bisa lupa kekonyolan yang dipertontonkan Noah malam itu demi mendapatkan perhatian Allie, maksudku, demi sebuah kencan dengan Allie. Dasar remaja.

Tentu saja cinta mereka ditentang keluarga Allie. Dan mereka putus, dengan terpaksa, setelah bertengkar hebat. Liburan Allie yang usai adalah tanda hubungan mereka tak bisa berlanjut.  Tapi Allie tetap dunia Noah, begitu juga sebaliknya. Andai 365 surat Noah yang ditulisnya buat Allie selama setahun tidak disembunyikan mamanya Allie, mungkin Allie tak akan terpikat oleh ke-charming-an Lon Hammonds. Tapi surat-surat Itu tak pernah dibaca Allie, setidaknya tak pernah hingga  surat-surat itu diberikan padanya oleh si mama ketika ia menemukan kembali Noah yang sudah jauh berubah meski hatinya masih tetap seperti yang dulu.

Tidak tewas dalam perang, Noah pulang ke Seabrook dan membeli tanah berikut rumah besar bobrok tempat ia mengucap janji pada Allie saat remaja dulu. Di rumah itulah mereka—uhuk uhuk—bercinta—uhuk uhuk uhuk—untuk pertama kalinya dulu. Sebenarnya tak bisa dikatakan Noah yang beli, karena untuk mewujudkan keinginan putranya, ayah Noah ikhlas menjual tanah berikut rumah mereka terdahulu. Ah, begitulah kenyataannya orang tua, demi tujuan anaknya, mereka rela berkorban banyak, aku sendu saat ayah Noah meninggal.

Dan Noah Berjaya, ia mampu menunaikan janjinya pada Allie terkait rumah bobrok tersebut. Noah merenovasi rumah besar itu sesuai angan-angan Allie pada malam mereka bercinta di sana. Catnya warna putih, jendela biru, ruangan yang menghadap sungai tempat Allie bisa bebas melukis, dan beranda luas yang mengelilingi sepanjang rumah. Noah ingin mewujudkannya.

Tapi suatu hari Noah menemukan keputusasaannya. Di Charleston ketika hendak mengurus izin pembangunan rumah, ia melihat Allie, sedang bermesraan dengan Lon Hammonds. Poor Noah. Lalu sebuah pikiran absurd muncul di kepalanya, bahwa dengan ia membangun rumah itu seperti yang diminta Allie, maka Allie akan menemukan jalan untuk kembali menemukannya.

Dan itu berhasil. Allie melihat foto iklan Noah bersama rumah besarnya di Koran, tepat di hari ia sedang viting baju pengantinnya.

Dan ini bagian romantisnya. Bagian faveku. Allie datang ke Seabrook, ke rumah Noah. Keesokannya, mereka berdayung ke danau yang penuh angsa, sungguh, benar-benar penuh angsa. Indahnya. Ini salah satu part paling romantis menurutku. Dan ciuman mereka saat pulang dalam hujan, oemji… luar biasa. Kabarnya adegan ciuman itu bahkan masuk dalam 10 adegan cipokan terbaik sepanjang masa. Hahaha, ada ya yang kayak gitu.

Lihat, padahal di awal tadi aku mengatakan tak ingin menuturkan jalan cerita, nyatanya aku hampir menulis ulang skenarionya. He he he.

Terus, ini percakapan yang paling aku suka. Sebenarnya dialog-dialog The Notebook banyak bagus, cerdas dan ngena. Tapi jika disuruh pilih, aku pilih dialognya Noah kepada Allie saat mereka bertengkar untuk kedua kalinya, yang ini setelah Allie menemukan Noah kembali, setelah mereka mengecap manis cinta bersama-sama. Setelah terpisah sekian lama. Ceritanya, mamanya Allie datang ke sana, membeberkan sesuatu tentang masa mudanya kepada Allie sekaligus mengabari kalau Lon Hammonds menyusul ke Seabrook. Dan setelah itu, Allie bertengkar dengan Noah, Allie merasa tak mungkin memutuskan pertunangannya dengan Lon Hammonds. Lon Hammonds adalah apa yang semua orang inginkan untuknya, apa yang diinginkan mama papanya, apa yang sempat menjadi keinginannya juga. Dan tahu Noah bilang apa di ujung debat mulut mereka kala itu? Ini kata Noah :

“Would you stop thingking about what everyone wants? Stop thingking about what I want, what he wants, what your parents want. What do you want? What do you want?”

Pertanyaan ‘what do you want?’ diulang Noah berkali-kali. Dan itu rasanya begitu dasar sekali. Dalam hidup, kebanyakan kita sering lupa pada satu hal penting. Yaitu menjadi diri sendiri, menjadi apa yang kita mau. Kita sibuk memerankan diri menjadi seperti yang mereka inginkan, menjadi seperti yang mereka anggap baik untuk kita, menjadi apa yang bukan kita inginkan, yang akhirnya membuat kita dengan tanpa sadar memilih apa yang mereka ingin kita pilih. Oh well, jika seperti itu yang terjadi, maka hidup kita adalah kebohongan. Kira-kira, begitu aku menelaah dialog Noah. Love you Noah, really really love you.

Yang menakjubkan lagi adalah kata-kata Noah dalam salah satu suratnya yang sudah basi saat dibaca Allie di mobil dalam perjalanannya kembali pada Lon Hammonds setelah bertengkar dengan Noah. Lihat saja ini,

‘My dearest Allie, aku tidak bisa tidur semalam karena aku tahu hubungan kita sudah berakhir. Aku tidak sedih lagi, karena aku tahu bahwa apa yang kita alami dulu nyata. Dan kalau di tempat lain di kemudian hari nanti kita bertemu lagi, aku akan tersenyum padamu dengan kebahagiaan dan mengingat bagaimana kita menghabiskan musim panas di bawah pepohonan, belajar dari satu sama lain dan tumbuh berkat cinta. Cinta terbaik adalah yang bisa membangunkan jiwa dan membuat kita ingin mencapai lebih tinggi, yang menumbuhkan sepercik api di dalam hati kitadan membawakan kedamaian ke pikiran kita. Dan tulah yang kau berikan padaku. Itulah yang kuharapkan bisa kuberikan padamu selamanya. Aku cinta kau. Kita akan bertemu lagi. Noah’

Lihat, betapa berbesar hatinya Noah, kan?

Dan momen yang membuatku menangis adalah endingnya. Meski sempat memunculkan twist ending, tetap saja rasanya nyesek. Gak bisa untuk gak nangis melihat mereka menutup mata dengan tangan saling terjalin. Aku coba membayangkan bagaimana rasanya mendapati orang yang kita cintai tak ingat apapun tentang kita, kita adalah orang asing. Dan Allie tua yang punya sedikit waktu ketika Alzheimer alpa terhadapnya memberi dirinya dan Noah kesempatan, saat itulah Noah tua menemukan kembali Allienya. Mereka berbaring bersama, berpegangan tangan, hingga ke pagi, hingga mata mereka tak lagi membuka.

Hhh… mungkin The Notebook akan membayangi hari-hariku hingga seminggu ke depan. Kisahnya luar biasa.

Wassalam ah.
N.A.G