the-hunger-games-catching-fire

an AL GIBRAN NAYAKA note

###################################################

Owrait owrait… aku tahu kalau ini sudah sangat jauh terlambat untuk euphoria. Tapi aku sungguh gak tahan untuk gak nyerocos tentang ini.

Baru saja, setelah terpendam nyaris dua bulan di drive D laptopku bersama entah apa file-file yang bejibun di sana, aku menurutkan moodku untuk menonton THE HUNGER GAMES CATCHING FIRE. Kurang ajar nih film. Bagaimana mereka bisa bikin visual effect sekeren itu? aku nyaris bisa menghitung berapa kali aku mengedip selama film ini berlangsung saking jarangnya mataku melakukan itu. Luar biasa, aku takjub dari menit pertama hingga menit terakhirnya. Lebih keren dari seri pertama dulu, lebih touching juga. Hhh… (see, aku sampai harus sesak napas begini)

Dan sepertinya aku sudah terlanjur falling in love with Jennifer Lawrence. Tak ada yang bisa memerankan Katniss Everdeen sebaik Miss Lawrence memerankannya. Betewe, ada yang sudah melihat dia dalam SILVER LINNINGS PLAYBOOK? Mantanku  Bradley Cooper (disambit) sungguh beruntung dapat lawan main Jennifer Lawrence di film itu. Tapi Josh Hutcherson jauh lebih beruntung lagi karena bukan aktor lain yang memerankan Peeta Mellark dalam film ini, Mr. Hutcherson beruntung karena hampir sepanjang film berlangsung Peeta berdekatan terus dengan Katniss. Bikin iri sama ke-sweet-an mereka. Dan poor Liam Hemsworth, karena perannya sebagai Gale Hawthorne sudah sejauh dua seri ini menurutku masih sebagai pelengkap saja, Gale ibarat MSG dalam kemasan mie instant, tanpa MSG, mie masih bisa dimasak dan dimakan, malah lebih sehat (kok lari ke mie instant? Maklum, efek laper begadang, kalau lari ke gerobak sate kejauhan).

Dan Finnick… ya ampun… terbuat dari apa hatinya? hanya Tuhan yang tahu betapa aku ingin menangis melihat dia menggendong Mags di awal-awal turnamen, menggendong, tolong garisbawahi kata ‘menggendong’. Siapa di antara kita yang mau menyeberangkan nenek-nenek keriput bau tanah sedangkan kita tahu bahwa nenek-nenek keriput itu akan membunuh kita bila punya kesempatan begitu kita menyebrangkannya? Finnick sadar Mags memberatkan jalannya, tapi dengan penuh kasih dia menggendong wanita tua itu. Ya Tuhan, kapan aku bisa sebaik Finnick? (padahal pertanyaan jujurnya, ‘kapan aku bisa seperti Mags yang digendong sedemikian rupa oleh Finnick?’ dan nyolotan jujurnya, ‘enak banget tuh Mags si nenek bisa digendong Finnick si brondong’ #NangisKejer)

Lalu Mags, si volunteer. Sejak awal ketika dia menggantikan Annie saat pemungutan, dia sudah menunjukkan arti pengorbanan sejati. Rasanya aku bagai jatuh dari tempat yang tinggi ketika ia mengorbankan dirinya sekali lagi untuk meringankan jalan Finnick cs, bahkan ketika Mags sudah hilang dalam kabut beracun, aku masih berharap entah bagaimana skenarionya Mags tetap hidup sampai akhir film, tapi mustahil, bukan aku sutradara atau penulis naskahnya. Hiks… rest in peace Mags, you’re one of my favorite.

Aku sempat kecele sama karakter Johanna, aku kira dia bad girlnya, eh ternyata dia sekutu yang kuat. Pengen ngacungin jempol saat dia meledak-ledak mengatai warga Capitol saat malam show dan pengen tepokin saat dia maki-maki Presiden Snow di hutan. Johanna, you’re good. Momen saat dia nolong Katniss di pantai pas hampir jatuh (walau akhirnya tetap jatuh juga), itu patriotik banget di mata rabunku. Terus kali kedua saat dia ngeluarin pelacak di lengan Katniss, ya ampun, wanita itu sukar ditebak.

Balik ke Finnick lagi. Ada yang ingat William di SNOW WHITE AND THE HUNTSMAN? Atau pendeta yang jadi tahanan yang kemudian jatuh cinta pada putri duyung dalam seri keempat PIRATES Of THE CARRIBEAN? Yap, ketiga karakter itu diperankan oleh aktor yang sama, Sam Claflin, pacarku yang sekarang #Dibakar.  Aku bilang, selain Katniss Everdeen dan Peeta Mellark, seperti halnya di seri pertama Hunger Games ada Rue yang menjadi daya tarik, maka Finnick Odair adalah daya tarik juga di seri kedua ini. Kalau mau jujur, mungkin aku gak akan segila ini sama Catching Fire kalau gak ada karakter Finnick di dalamnya. Subjektif mungkin sih, mengingat betapa aku suka Sam Claflin, he he he.

Ah, gak sabar nunggu seri ketiganya.

Akhirnya, post gak penting ini nemu titik akhir juga. Salut sama kalian yang sanggup baca hingga ke sini. Kekeke. Bagaimana kalian gak mual-mual atau puyeng akut saat membaca note ini adalah misteri bagiku, karena sepertinya aku mules sekarang.

Hhh… ngayalin terjebak di hutan bareng Finnick Odair asyik kali ya… #Dibakar

 

Wassalam deh.

N.A.G