Oleh : Zaenuddin Bangun Setiawan

Dia adalah orang yang aku suka. Namanya Putra Bengkalis asal Bengkalis. Secara fisik dia itu bagaikan langit dan bumi denganku. Tentu dia langitnya. Perawakannya tinggi, berbadan atletis walau aku yakin perutnya tak sixpack, rambutnya mohak, kulitnya putih bersih, bibirnya merah, ada bulu halus menghiasi bagian bawah bibirnya yang memanjang sampai ke dagu dan yang paling membuatku tergila-gila adalah suaranya. Suara ngebasnya itu yang kental aksen daerah asalnya membuatku jatuh cinta pada pendengaran pertama. Luxnya laki banget. Dia juga sangat fashionable. Dia itu anak gaul. Sementara aku, kalian bisa membayangkan sendiri bagaimana rupaku. Jelas sangat jauh dibanding dia. Langit dan dumi.

Aku mengenal dia dari inbox group yang nyasar ke fbku. Awalnya kesal karena aku dimasukan entah oleh siapa ke dalam group yang hobinya nyampah di inbox orang. Walaupun begitu, aku tak keluar dari group tersebut. Bukannya gak mau, tetapi ga ngerti caranya (selain penampilanku yang gak banget, ternyata aku gaptek juga! Hehehe). Karena setiap hari group tersebut nyampah terus, akhirnya aku penasaran juga sampah apa saja yang mereka buang ke situ. Aku membukanya, lalu menemukan nomor whatsapp seseorang yang bernama Putra Melayu yang pemilik aslinya Putra Bengkalis, orang yang aku sukai tadi. Aku coba chat sama dia di whatsapp. Orangnya asik, tidak butuh waktu lama aku akrab dengannya. Dia ingin aku memanggilnya Aa. Dan aku dia panggil Ade. Aku yang pada dasarnya gampang suka langsung merasa dag dig dug. Beberapa hari kemudian dia mengirimi aku fotonya, ya ampun andai aku es mungkin aku sudah meleleh waktu itu juga. Dia ibarat pangeran yang nyasar ngobrol sama rakyat jelata (lebay).

Kamipun semakin intens chat. Kami saling bertukar foto walau pada awalnya aku sangat ga percaya diri. Tetapi melihat responnya yang masih tetap menyenangkan, aku malah semakin berani meminta dia mengirimkan fotonya lebih banyak lagi. Lumayan buat koleksi, fikirku. Seiring berjalannya waktu, hubungan kami semakin dekat. Aku merasa nyaman di dekatnya. Romantis, humoris, sopan, ditambah luxnya, ya ampun tak tahan jika melihat fotonya itu. Dia selalu membalas chatku. Dia juga selalu menanyakan kabarku setiap hari. Pada suatu hari dia mengirim pesan suara untukku. Isinya masih seperti yang dulu-dulu, menanyakan kabar, sudah makan apa belum, sudah solat apa belum, lagi apa, bla bla bla. Perhatian banget kan?

Suaranya, membuatku melambung tinggi. Aku merasa diriku terbang. Mungkin aku jatuh cinta padanya. Mulai saat itu aku sering bernyanyi dan mengirimkan rekamannya lewat pesan suara. Aku ingat, lagu yang pertama aku kirim adalah lagu nasyid dari Edcoustic yang berjudul Sendiri Menyepi. Lagu ini adalah lagu favoritku. Lagu yang mengingatkan kita kepada Tuhan—aku rekomendasikan bagi kalian yang sedang mencari lagu nasyid yang beda dari lagu nasyid pada umumnya, coba download lagu-lagu Edcoustik, bukan hanya Sendiri Menyepi saja, coba download yang lainnya juga seperti Muhasabah Cinta, Kamisama (bahasa Jepang), Berubah, Di Persimpangan Jalan dan Menjadi Diri Sendiri. Dia bilang suaraku bagus, dengan percaya diri tepatnya tak tahu dirinya aku, aku terus mengiriminya rekaman suaraku. Setiap pagi ketika bangun tidur sampai malam mau tidur lagi, bayangan wajahnya dan suaranya selalu menghantui fikiranku.

Bangun tidur teringat dirinya

Lagi mandi teringat dirinya

Lagi makan teringat dirinya

Lagi kerja teringat dirinya

Lagi nyuci teringat dirinya

Lagi ngocok jelas berhayal tentangnya

Sampai buang air pun teringat dirinya???

Mau tidur juga teringat dirinya

Serius… yang ada dalam otakku hanya nama Aa saja, Putra Bengkalis. Pekerjaanku jadi gak karuan. Aku kehilangan konsentrasi kerjaku gara-gara dia. Dia telah menjadi virus yang merusak saraf otakku sehingga menjadi kacau. Sampai suatu saat aku mengirimi dia lagu Cinta Dalam Hati dari Ungu.

“Ade suka ya sama Aa”

Aku bingung harus membalas apa. Ya ampun, galau. “Aa mau ade jawab jujur apa nggak?”

“Jujur dong. Itu kan modal hidup.”

“Ya, ade suka sama Aa,” aku to the point membalasnya. Kesannya tak tahu diri banget. Siapa dia siapa aku.

“Maaf de, andai ade dekat, mungkin Aa bisa membalasnya.”

Jawaban penolakan secara halus. Sudah kuperkirakan memang, tetapi tetap saja menyakitkan. Rasanya seperti hampir menang buntut togel. Bingung gambarinnya. “Ga apa-apa, A. Ade ngerti.”

“Makasih ya de.”

Mulai saat itu aku jarang lagi chat dengannya. Aku malu, terlebih hati ini masih merasa sakit walau sebenarnya aku tak pantas untuk sakit hati. Dari awal aku memang tak tahu diri. Siapa dia siapa aku.

Selang beberapa waktu dia mengirimiku foto lagi. Tapi kali ini bukan karena permintaanku. Di foto itu dia bersama seseorang. Sangat serasi, mereka seimbang. Penghuni langit dengan penghuni langit. Aku tak tahu siapa yang berada disampingnya itu. Dengan kurang ajar aku menanyakan perihal sosok di sampingnya itu.

“A, foto orang yang ada di samping Aa ganteng juga. Pacarnya ya?”

“Gantengan mana sama, Aa?”

“Bagi ade sih masih gantengan Aa.”

“Makasih, itu memang foto pacar Aa.”

Gubrak… andai aku ini cermin, pecahlah sudah tubuh ini. Aku langsung lemas. Bener kan dugaanku. Jika dalam agama cinta itu memiliki rumusan “Orang baik akan dipasangkan dengan orang baik begitupun dengan orang tak baik, maka akan dipasangkan dengan orang tak baik pula”, sedangkan di dunia gay rumusan yang berlaku adalah “Orang langit (orang rupawan) akan dipasangkan dengan orang langit lagi, begitupun orang bumi (orang biasa-biasa saja lebih parahnya orang jelek, seperti aku T_T) akan dipasangkan dengan orang bumi pula”. Rasanya aku tak terima rumusan seperti itu. Tapi apa daya, itu kenyataanya. Rasanya jiwa yang merasa sempat terbang ini, ingin menjatukan diri saja kembali ke bumi. Bila perlu jatuh ke dasar laut sekalian. Lalu bersembunyi di dalam gua bawah laut. Aku malu akan ke-tidak-tahu-diri-an-ku. Atas kenekatanku tanpa berkaca. Aku sangat malu sekaligus sakit hati. Hatiku hancur bukan berkeping-keping lagi, tetapi hancur langsung menjadi butiran debu (Rumor banget).

“Aa serasi sama dia. Sudah berapa lama Aa jalin hubungan?”

Aku pura-pura sok tegar, so terima. Akan tetapi aku ogah menanyakan siapa namanya.

“Tiga tahun, de.”

Tiga tahun? Bagiku itu waktu yang lama sekali. Aku saja menjalin cinta paling lama satu semester (enam bulan) saja. Itupun banyak surutnya dibanding pasang. Ini, 3 tahun? Pasti mereka saling mencintai. Tak mungkin jika hanya untuk bersenang-senang mereka pacaran selama itu. Aku jadi merasa tak enak hati sama pacarnya. Tapi apa boleh buat, rasa kan tak pernah bisa dibohongi.

“Lamanya, ade ga pernah pacaran selama itu. Pasti Aa dan dia saling mencintai. Kapan ya, ade bisa kaya gitu juga!!! Hmmm…” Ya ampun, balasan chatku itu bikin tambah malu. Sangat nampak jelas aku iri. Sangat nampak jelas aku tak rela dia menolakku waktu itu. Kemana lagi aku harus menyembunyikan muka ini?

“Ya lumayan lama. Aa dan dia memang saling mencintai. Sebenarnya kunci dalam sebuah hubungan itu adalah saling percaya. Makanya kami awet. Hehehe.”

Saling percaya? Awet? Terus, chatnya yang waktu itu “Maaf de, andai ade dekat, mungkin Aa bisa membalasnya.” apa maksudnya? Sial, aku terlalu bodoh. Terlalu gampang dipermainkan perasaanku sendiri. Terlalu ke-geer-an. Jelas kata-kata itu dia maksudkan untuk tidak menyakiti hatiku saja. Untuk membesarkan hatiku. Untuk membuatku tidak terlalu sakit. Bodohnya aku ini, dasar stupid. Aku tahu dari awal kemungkinannya akan seperti ini. Siapa dia siapa aku. Hanya saja aku tak tahu diri. Tak tahu malu. Cinta itu memang sukar dimengerti. Bahkan oleh yang merasakannya sendiri. Cinta itu tak bisa memfilter pada siapa dia harus memberikan cintanya.

Sejak saat itu, aku mulai malas whatsapp-an denganya. Aku tak mau menjadi pengganggu hubungan Aa dan pacarnya itu. Terlebih aku ingin melupakan dia. Berharap dengan begitu rasa sakitku segera hilang. Akan tetapi, pada suatu hari Aa mengirimkan pesan untuku,

“De, Aa mau ke Malaysia.”

“Ke Malaysia? Ngapain?”

“Aa mau cari kerja di sana.”

“Sama siapa?”

“Ada sodara Aa yang tinggal di Malaysia. Aa akan tinggal bersama mereka di sana.”

“Terus pacar Aa gimana? Apa dia setuju?”

“Ya mau gimana lagi, de. Tapi dia setuju kok.”

“Aa yakin?”

“Berusaha untuk yakin. Aa dan dia sepakat saling percaya dan terbuka. Insyaallah semuanya baik-baik saja.”

Ternyata pacarnya itu selain rupawan, seorang yang baik juga. Sangat sempurna. Aa beruntung memiliki dia. Dia beruntung memiliki Aa. Aku tak beruntung karena hanya menjadi penonton di antara mereka. Tiba-tiba aku merasa takut kehilangan, sekarang saja jarak kami terasa jauh, padahal masih sama-sama di Indonesia. Apalagi nanti.

“A, kalau di Malaysia nanti, Aa ganti nomor ga?”

“Ga lah de. Aa tetep pake nomor ini.”

“Emang bisa?”

“Nomor ini akan tetap Aa simpan. Buat hubungin yang lainnya, mungkin nanti Aa beli nomor sana.”

“Emang ga mati masa aktifnya?”

“Kan bisa minta dikirim pulsa sama keluarga di Bengkalis.”

“Ouh, kalau nanti Aa ganti kartu, kasih tahu ade ya. Jangan sampai putus kontak. Jujur A, ade ngerasa nyaman kalau ngobrol sama Aa. Kita bisa seperti saudara kan?” ya ampun, masih saja aku ini berharap. Tapi mau bagai mana lagi, ini soal perasaan coy. Ga jadi pacar ga apa-apalah, yang pentingkan masih bisa jadi saudara.

“Isyaallah kalau nanti Aa ganti kartu, Aa kasih tahu ade.”

Beberapa minggu setelah di Malaysia, dia mengirim foto barunya. Aku sangat senang karena bukan hanya satu foto saja yang dia kirim, melainkan belasan foto. Sebelumnya aku memang pernah meminta dia mengirimkan fotonya ketika dia telah berada di Malaysia. Ada satu rasa yang membuatku pilu, sekarang aku dan dia semakin jauh.

Kini aku tak chattingan sama dia lagi. Aku kehilangan kontaknya. Hp kesayanganku terendam bersama jeans buntungku. Sial betul rasanya. Apakah ini pertanda aku harus melupakannya? memang sejak hpku rusak, aku mencoba melupakannya. Aku membuka memori hpku di laptop. Mencari fotonya yang otomatis telah tersimpan di database whatsapp. Ya Tuhan, kenapa dia selalu terlihat manis. Bibir merahnya, bulu halus yang memanjang dari bawah bibir sampai ke dagunya, senyumannya, rambut mohaknya, ah, membuatku tak bisa lupa. Kenapa dulu aku harus membuka group sampah itu. Mungkin jika aku tak membukanya, aku takkan kenal dia. Aku juga takkan merasakan sakit seperti sekarang ini.

Tujuh bulan berlalu tanpa tahu kabarnya sama sekali, aku mulai bisa melupakannya. Rasa sakit itu kini pulih. Aku telah berhasil move on. Iseng-iseng aku coba memperbaiki hpku. Siapa tahu masih bisa hidup lagi. Bukan karena ingin mencari nomor dia, akan tetapi aku merasa sayang dengan catatan-catatan yang aku tulis di note hp itu. Aku bersyukur hp itu bisa hidup lagi dan semua datanya tak hilang satupun. Untuk kesekian kalinya, perasaan itu tidak bisa dibohongi. Tiba-tiba aku kangen sama dia. aku mencari nomornya. Dan akhirnya ketemu. Aku simpan nomornya di hpku yang baru, lalu aku buka whatsappku. Putra Bengkalis. Foto profilnya membuatku rindu padanya. Tanpa bisa aku bendung rasa rindu itu, aku mengetik pesan padanya.

“A apa kabar?”

“Baik.”

“Udah lama ga chat, Aa sekarang di mana? Masih di Malaysiakah?”

“Ga de, Aa sekarang dah pulang ke Bengkalis.”

“Sejak kapan?”

“Lima bulan yang lalu.”

“Kok pulang, kenapa?”

“Aa ga bisa jauh dari pacar Aa.”

Deg… rindu itu berujung sakit.

Ingin kuhilangkan rasa ini

Semua hayalan, tentang dirimu

Ingin kuhapus impian di hati

Namun dirimu, TERLALU INDAH*

Aku keluar dari whatsapp, membanting hpku. Kenapa aku masih juga berharap…

End

*) Sebait syair dari lagu Terlalu Indah Regina Ivanova (Regina Idol)

Cerita lebay dariku, Kang Zaen

Km. 60, 21-02-2014, 16.13 WITA