In His Pants 2 Cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Aku ingin mengutip pengantarku pada In His Pants sebelumnya, berikut ini kutipannya :

‘Cerita ini mungkin sedikit nyeleneh dengan kalimat-kalimat tak bersensor di dalamnya, tapi aku memang dari awal berniat menjadikan tulisan ini demikian. Selain itu juga terkesan bertele-tele, dan dari awal juga aku sudah berniat menjadikan tulisan ini terkesan seperti itu…😀’

Aku rasa kutipan di atas masih relevan untuk lanjutannya yang kutulis dengan selang amat jauh dari yang pertama, kalian boleh membuktikannya sendiri. Untuk menyegarkan ingatan, gak ada salahnya kalian mengulang baca In His Pants sebelum yang ini, klik saja link di bawah.

https://algibrannayaka.wordpress.com/2012/07/26/in-his-pants/

Sepertinya cukup itu saja. semoga kalian menikmati membaca IN HIS PANTS 2 seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam.

n.a.g

##################################################

Banyak yang bilang ‘tak ada cinta dalam kamus hidup kaum G’. Percayalah, ITU BOHONG. Jangan berani mengatakan kalimat itu di depanku kecuali kalian cukup punya nyali untuk kubuat rontok seluruh gigi. Aku segera sadar kalau ungkapan itu bualan belaka ketika untuk pertama kalinya kutemukan cinta dalam kamus hidupku, hidupku sebagai G. Dan sejak saat itu pula aku tahu kalau aku adalah G yang beruntung.

Jawab aku, berapa banyak G di luar sana yang punya kekasih yang sungguh-sungguh mencintainya? Jawabannya, tidak banyak. Berapa banyak G di negara kita yang tidak pernah punya pacar lelaki hingga rambutnya ubanan dan punya cucu? Jawabannya, emm… sepertinya banyak.

Dan, apa sebutannya untuk seorang G yang memiliki seorang pria yang selalu berada di sisi lain tempat tidur ketika ia membuka mata di awal hari, seorang pria yang mencintainya tidak kira semenyebalkan apapun sifatnya bila suasana hatinya sedang rusak berat, seorang pria yang tidak peduli pada sederet kekurangan dan dapat takjub dengan satu saja kelebihan yang dipunyainya, seorang pria yang tentu saja selain punya wajah bak pemain film romance dan badan seorang model brand celana dalam terkenal juga punya penis kuat di dalam celananya dan bersedia bercinta kapanpun dan dimanapun tak kira seperti apa cuaca saat itu? apa sebutannya untuk seorang G yang memiliki seorang pria seperti itu? Lucky G. Tak terbantahkan, G lain yang baik hati pasti bakal berkata, “Oh Tuhan, kamu G yang beruntung” dengan mata berbinar-binar. Dan G lainnya yang sedikit baik hati tapi sangat banyak jahatnya akan berkata, “Ladalah, kamu warga neraka yang disayang iblis” dengan mata melotot penuh iri. Intinya sama, Lucky G. AndI am a Lucky G.

Masalahnya, oh hell… kita sudah sama-sama maklum bahwa sangat sedikit—bahkan nyaris tak ada—keberuntungan yang langgeng tanpa masalah. Yang menyebalkan, kita tak sadar bahwa keberuntungan itu sudah lepas landas sekian waktu lalu sampai kita menemukan landasan yang kosong melompong. Biar kuberitahu bagian yang paling bodohnya, kebanyakan kita tak sadar betapa beruntungnya kita hingga kemudian dikejutkan oleh fakta yang disadari saat sudah jauh terlambat… bahwa kita sendiri yang memicu keberuntungan itu lepas landas, bahwa kita sendiri yang brengsek, bahwa kita sendiri yang tidak sadar betapa kita adalah orang yang beruntung.

Hemm… ketamakan memang elemen dasar pembentuk manusia.

Dan benarlah kata bijak, ‘Kebanyakan kita baru sadar berartinya seseorang sampai kita kehilangannya.’

Saat itulah, Lucky G berubah menjadi G yang dikutuk…

***

“Chan, ke kiri sedikit…” Aku mengeliat berusaha menyamankan posisiku yang semi tengkurap di sofa sementara Chandra melakukan apa yang kusuruh, memposisikan lutut kirinya lebih ke kiri sehingga kini ia mengangkang lebih lebar, membuat gerakannya makin luwes. Aku menggigit bibir bawahku sedang Chandra mengerang sekilas sebelum merunduk menjamah tengkukku dengan bibirnya lalu kembali tegak.

I love you, Sweetheart.”

I hate you!” balasku sambil mendorong pinggulku mundur dengan sentakan kuat, membenamkan Chandra seluruhnya kedalamku.

Erangan Chandra terdengar lebih nyaring dilanjutkan kekehan pendek setelahnya, mungkin senang dengan tindakanku barusan. Aku berpaling menolehnya yang kini bergerak kian cepat dan dekat, sekilas tangan kanannya berusaha membuat jinsnya lebih terbuka dengan menyibak bagian pinggang jins lebih ke bawah, begitu inginnya kami hingga aku tak mau memberinya waktu untuk membuka celana saat mulai tadi. Keringat membuat perut keras Chandra tampak berkilat. Pandanganku naik ke dadanya yang polos, terus naik hingga pandangan kami bertabrakan. Chandra tersenyum, jelas sekali napasnya memburu, dan wajahnya memerah. Aku sudah sangat hapal gelagat ini.

“Chan…,” panggilku sambil mencengkeram bantalan sofa, berusaha mengalihkan perhatian untuk mengulur ledakannya.

I’m still right here, Baby!”

Ya ampun, mengapa ia justru menjawab begitu? aku tak bisa menahan tawa. “Ya, dengan alat pipismu di dalam sini, aku sangat tahu kamu masih di situ!”

Bahu Chandra bergoyang, ia berusaha menahan tawa, mungkin juga berusaha fokus pada orgasmenya yang akan datang sesaat lagi dan tidak mau merusaknya dengan ikut tertawa sekerasku.

“Chan, aku pegal. Ganti…!” ini usaha terakhirku untuk menunda bom Chandra.

“Ya ampun, Val… ganti apanya, ini udah hampir, tauk! Tahan aja…!”

Aku menggaruk kepalaku. Bukan mengada-ngada, pinggangku memang rasanya mau tanggal saja. Saat aku siap hendak merepeti keegoisannya, Chandra malah berteriak dan menubrukku kuat-kuat hingga kami berdua bertindihan rata di sofa. Aku gagal mengulur waktu.

Selesai sudah. Debaran jantung Chandra menghantam berdentuman di punggungku yang serasa basah. Keringat Chandra bercampur peluhku. Chandra mencium sisi kanan wajahku, sebelah tangannya mengelus rambutku. Rasanya pinggangku kembali sehat detik itu juga. Aku memalingkan wajah lebih menghadapnya untuk kemudian kupagut bibirnya yang memang sudah menunggu. “Rasanya bagai ini yang pertama kalinya, Chan…,” bisikku setelah melepaskan kulumanku pada mulutnya.

Chandra tidak menjawab, sebaliknya ia menyurukkan lengan kirinya ke bawah ketiak kiriku dan memelukku sedemikian rupa dengan lengan kami yang terkunci, bibirnya kembali menyerang bibirku. Kami bertahan dalam posisi begitu beberapa lama hingga aku merasa terganggu dengan tekanan kancing-kancing jins Chandra di bokongku. Kancing-kancing logam itu mulai mengintimidasi kulit bokongku.

“Chan, kancingmu bikin sakit.”

“Wajar, kan katamu bagai tetap yang pertama kali.”

Ini larinya kemana sih? “Aku bilang kancingmu, bukan organ kencingmu!” aku mendengus.

Chandra terkekeh lalu menarik diri dari belakangku. “Ingin aku siapkan bathtub untuk kita berdua?”

“Kamu mandi duluan aja,” jawabku sambil berusaha duduk di sofa.

Chandra mengangkat bahu, tanpa mau repot-repot untuk merapikan jinsnya yang masih tersibak tak karuan, ia memungut bajunya dari lantai lalu berjingkat-jingkat ke arah kamar mandi diikuti pandanganku.

Ah Chandra, betapa cintaku padanya masih terasa kentara sejak dua tahun dulu, tidak memudar sedikitpun. Lewat bahasa tubuhnya yang kurasakan lebih nyata ketimbang kata-kata cinta yang ia lisankan setiap harinya untukku, aku yakin cintanya untukku sama kentaranya.

***

Kami membagi jatah menginap, dua minggu di apartemenku dan dua minggu di rumah minimalis Chandra. Jarakku ke klinik akan lebih jauh jika sedang menginap di rumah Chandra, dan jarak kantor Chandra juga akan begitu saat kami memakai apartemenku. Aku akan selalu bangun lebih dulu di hari kerja jika sedang di tempat Chandra, sebaliknya Chandra akan jadi yang pertama memakai kamar mandi jika sedang di tempatku. Kami pekerja yang disiplin waktu, tak pernah datang terlambat meski sangat sering mengambil waktu istirahat lebih lama saat ada janji makan siang bersama (seseorang di latar belakang : disiplin apanya, Val? Sama aja kalleee!)

Chandra sedang memakai kemejanya ketika aku membuka mata, sinar matahari yang menerobos lewat celah gorden mengenai sosoknya di depan cerminku. Aku bergerak menyamping di atas ranjang untuk memandangnya, kubayangkan sepasang sayap tiba-tiba muncul di punggung Chandra, di bawah simbahan matahari pagi, dan itu membuatku senang. Ia menjadi malaikatku yang manis di pagi hari dan berubah sebagai devilku yang diamuk birahi ketika malam tiba.

“Aku sudah bikinkan kopi, rotimu habis ternyata. Di meja makan ada telur mata sapi untuk sarapan.” Chandra berujar tanpa menolehku, ia sedang memasukkan ujung kemeja ke dalam celana kainnya.

See? Ia memang malaikat di pagi hari khususnya jika bangun lebih dulu. “Selamat pagi,” sisa kantuk masih terdengar dalam suaraku, aku berdehem.

Chandra memandangku dan tersenyum, “I love you too,” ucapnya gak nyambung lalu melanjutkan berpakaian.

Aku menyibak selimut dan meninggalkan ranjang dengan hanya berbalut celana dalam, kebetulan pagi ini mereknya berlogo elang diapit huruf E dan A, warnanya hitam dengan pinggang metalik. Chandra juga punya merek dan warna yang sama dengan yang sedang kupakai, ukurannya satu level di atasku, dan sekarang pasti punyanya sedang teronggok dalam keranjang cucian kotorku di kamar mandi, mungkin juga sedikit bernoda kusam bekas sperma yang mengering. Ia baru mengenakannya semalam.

Setelah mengganti dasi pilihan Chandra dengan dasi lain pilihanku yang kuambil dari lemari, aku menuju kamar mandi yang juga ada di dalam kamar tidur.

“Aku tak habis pikir mengapa kamu selalu memilihkan dasi jelek ini untukku.”

Aku berhenti di pintu kamar mandi dan memalingkan kepala menoleh Chandra. Dasi jelek yang dimaksud Chandra adalah dasi pemberianku, warnanya biru toska bermotif garis abstrak meliuk-liuk warna kuning, ijo dan putih, sedikit rame memang, tapi manis. “Halo, dasi jelek itu aku yang belikan.”

“Trus, kalau kamu yang beli aku harus bohong bilang kalau itu bagus padahal kenyataannya memang jelek?”

Aku melotot.

Chandra memberiku kecupan jarak jauh lalu tertawa, “Pelototanmu masih seram aja ya, bagaimana pasienmu yang anak-anak bisa akrab denganmu masih berupa misteri bagiku.”

“Aku gak melotot pada mereka.” Sekarang aku berbalik sepenuhnya, bersandar di ambang pintu kamar mandi sambil melipat tangan di dada.

“Gak yakin.”

“Mereka gak pernah membuat jengkel sih.”

“Mereka tidak membuat jengkel karena belum melototpun kamu sudah mengintimidasi.” Chandra mengalungkan dasi pilihanku ke lehernya.

“Apa aku mengintimidasimu?” kutunjuk leher Chandra dengan tatapanku.

Chandra menggeleng, “Kamu menaikkan birahiku.”

“Kalau begitu, bersiaplah lembur denganku lagi nanti malam.”

With my pleasure,” jawab Chandra sambil mengangkat dua jari di kening.

“Jangan nakal di kantor!”

“Jangan posisikan bibirmu terlalu dekat ke mulut pasienmu yang laki-laki, apalagi yang lebih tampan dariku.”

“Aku tidak mungkin melewatkan kesempatan itu.” Kututup pintu kamar mandi dan kunyalakan shower.

“Val, jangan lupa telur mata sapinya! Pejantanmu ngantor dulu!”

Di bawah guyuran shower, aku terkekeh sendiri dengan kalimat kedua yang diteriakkan Chandra. Ingatanku melayang ke salah satu babak seks kami di mana saat itu mulutku meracau mengatakan ia buas seperti kuda jantan yang kesasar ke istal kuda betina. Dan sejak saat itu, ia kerap menyebut dirinya pejantan. Jika boleh diumpamakan apartemenku atau rumah Chandra sebagai istal, di mana aku adalah satu-satunya kuda betina penghuni istal, maka kondisi di mana Chandra sebagai kuda jantan bisa kesasar ke istalku tak dapat ditampik lagi adalah sebuah keberuntungan.

***

Asistenku yang baru namanya Rais, bacanya Ra-is. Bukan dengan tidak disengaja, aku kerap kelebihan huruf saat memanggil namanya menjadi Raisa bila sedang tak ada pasien. Jika sudah begitu, ia akan langsung menjawabku dengan kalimat ‘Sekarang aku tersadar cinta yang kutunggu tak kunjung datang’ dan sesekali dengan ‘Mau dikatakan apalagi kita tak akan pernah satu’ sambil mengepalkan tangan di dada dan satu kaki mengentak-entak di lantai seperti vokalis band, sama sekali bukan seperti Raisa. Aku menyenangi anak muda asisten baruku ini sejak awal.

Rais baru menyelesaikan diploma tiganya lebih setahun lalu saat memasukkan lamaran. Ia diterima setelah beberapa bulan aku resmi bekerja sendiri kerena asistenku yang menyebalkan dulu memilih mengundurkan diri dan memintaku yang tetap tinggal. Padahal, tanpa dimintanyapun, pastinya pihak klinik akan lebih mempertahankanku dan mendepaknya jika saat itu aku beralasan tak cocok dengan rekan kerjaku, kontrakku lebih berharga dari miliknya. Jadi, sebelum aku yang minta permisi, asistenku itu yang lebih dulu minta berhenti. Dan aku tak tahu kabar terbarunya, tak ingin tahu.

Rais tahu aku sering berganti-ganti rumah dengan Chandra seperti halnya aku juga tahu kalau ia kerap membeli kondom jika hendak bermalam minggu dengan ceweknya yang dari pengakuannya adalah satu-satunya gadis yang mengerti dirinya sudah tiga tahun ini. Aku mengamini ketika satu kali Rais pernah berkata bahwa jika kelak ia harus menikah, maka satu-satunya gadis yang akan dinikahinya adalah Naila, gadis kepada siapa Rais melepas keperjakaannya pada kesempatan pertama untuk Naila yang juga merelakan kevirginannya di saat yang sama. Meski salah dari awal, aku salut dengan hubungan mereka, dan jangan lupa, mereka sudah menjalaninya dengan baik selama tiga tahun ini, saling setia pada pasangan, atau… bisa jadi sudah terikat secara seksual satu sama lainnya. Untuk hipotesa kedua ini, aku sangat paham, karena demikianlah yang terjadi padaku dan Chandra, selain cinta, aku dan Chandra sudah terikat demikian eratnya secara seksual.

Tak ada yang ditutupi membuat hubunganku dan Rais rasanya bagai kakak-adik saja. Dan aku sama sekali tidak keberatan ketika Rais mengenalkanku sebagai kakak angkatnya pada Naila ketika ceweknya itu datang ke klinik untuk menempeli sebutir berlian di gigi taringnya, aku menggratiskan tindakan ‘berlianisasi gigi’ itu buat Naila dan siangnya Rais mentraktirku makan di restoran mahal.

Seperti aku yang mengenal Naila, Rais juga mengenal Chandra. Yang lucunya, mungkin sudah jadi naluri alami Chandra untuk tidak menyukai setiap pria tampan yang berada di sekitarku, meski pria semuda Rais. Chandra sempat tidak suka Rais. Bukan karena asisten baruku itu lebih menarik dari asistenku yang sebelumnya, tapi karena aku yang jadi dentistnya. Di pikiran Chandra yang tak bisa diterka, ia mengira aku akan terpikat pesona anak muda pada diri Rais dan akan mencari-cari celah untuk menyeleweng darinya. Ya ampun, aku tak habis pikir dengan pejantanku itu.

“Dia tidak suka main belakang, Chan… ngawur kamu.” Aku sampai terpingkal saat Chandra menyuarakan ketakutannya. “Lagipula, dia masih anak-anak, kuliahnya baru tamat kemarin sore.”

“Dia tidak suka, tapi kamu iya.”

“Bukannya kamu yang selalu di belakang?”

“Pokoknya jangan ciptain kesempatan sama itu bocah!”

“Tak akan pernah tercipta kesempatan, kecuali dadaku cukup tinggi, selangkanganku cukup rata dan bulu kakiku hilang mendadak untuk membuatnya tertarik.”

Tapi berganti hari, Chandra mengakui kalau dirinya terlalu parno, kalau kekhawatirannya sama sekali tak perlu, apalagi ketika tanpa sengaja kami berjumpa Rais yang sedang suap-suapan dengan Naila di kafé yang sama tempat aku dan Chandra bermalam Minggu saat itu. Jadi kini, semua aman terkendali.

Pasien terakhir—mbak-mbak yang menjerit keras karena rangsangan ngilu plus nyeri sampai harus terlonjak kaget dari dental unit dan hampir membuat borku meleset mengebor pipinya saat melakukan tindakan perawatan akar giginya tadi—baru saja meninggalkan ruang praktikku. Rais sedang membereskan peralatan, dalam pengamatanku seharian ini ia seperti sedang punya masalah, lebih banyak diam.

Aku membuka jas putihku, memeriksa ponsel dan membalas BBM Chandra yang memberitahu kalau ia sedang di jalan menjemputku. Rais sudah selesai mengatur peralatan yang akan disterilkan ke dalam oven, sekarang ia juga sedang melepas kemeja kerjanya yang lebih berupa jas lab mahasiswa kimia.

“Naila apa kabar, Rai?”

Rais menolehku, “Baik.” Sangat jarang anak ini memberi jawaban cuma satu kata saja.

“Sebentar lagi Chandra datang, mau menunggu dan ikut makan malam dengan kami?”

“Aku pulang saja.” Ia menggantung jas labnya di sangkutan lalu mengambil tas gadgetnya di gantungan yang sama, bersiap pulang.

“Hati-hati di jalan, jangan ngebut.”

Rais cuma mengangguk dan berjalan ke pintu, namun kemudian ia berhenti, tampak seperti menimbang-nimbang sesuatu. Aku memperhatikan, sesaat kemudian ia berbalik menghadapku. “Val, kalau cewek gak mens sudah dua minggu lebih sejak seharusnya dia mens, itu pertanda hamil gak?”

Senyap.

Ada ngengat yang berputar-putar di lampu ruangan, bayangannya tampak di kaca yang melapisi meja kerjaku. Aku mendongak menatap lampu di langit-langit ruang, Rais ikut mendongak. Ngengat itu kini nemplok di lampu.

“Val…”

Sekarang aku tahu apa yang membebaninya seharian ini. “Kamu lupa pakai sarung?”

Rais berdecak dan menggaruk kepala. “Nah itu, seingatku selalu sempat pake. Ada kemungkinan bocor gak sih?”

“Seingatmu? Berarti ada yang tidak kamu ingat?”

Rais merona. “Jawab aja ah, ada kemungkinan bocor gak?”

“Ada.”

“ADA?!” matanya membelalak.

“Masa kamu gak tahu informasi itu, kondom juga bisa robek atau bocor. Mungkin kamu tuh ejakulasinya gak tanggung-tanggung, atau kondomnya mulai kekecilan, kan bisa jadi size kita nambah dan jadi sempit dengan ukuran kondom yang sebelum-sebelumnya. Tapi jika pun Naila beneran hamil, aku yakin sepertinya bukan karena kondommu bolong, tapi karena anumu yang bablas.”

Rais menunduk memandang selangkangnya lalu menggumam, “Aku malah berburuk sangka seharian ini ngira dia selingkuh sama cowok lain.”

“Naila? Selingkuh? Gila kamu.”

“Iya, dan aku bisa gila beneran kalau dia beneran hamil.”

“Kabar baik kan, kenapa harus gila.”

“Apaan sih kamu, jangan nakut-nakutin. Modalku belum cukup untuk nikah.”

“Pinjam aku aja,” tukasku asal.

“Naila masih kuliah, mana dijinin bokapnya.”

“Pilih mana, ngelihat anak gadis bunting tanpa suami atau ngebiarin anak gadisnya nikah muda? Kalau aku jadi si bokap, mending milih opsi kedua, nyelamatin banyak muka.”

Rais terdiam.

“Lagian, belum tentu juga terlambat mens mengindikasikan hamil. Sudah periksa pakai test peck? Sudah ke dokter? belum kan?”

Rais menggeleng.

“Pulang ini beli test peck deh, trus kasih Naila. Atau besok ke dokter aja biar lebih pasti.” Mendadak aku berubah menjadi pakar konseling kehamilan.

“Kalau menurutmu, ada kemungkinan hamil gak, Val?”

Aku mengangkat bahu. “Udah, tenang aja, kalau beneran hamil ya berarti rencana nikahmu dipercepat, mikir gitu aja, gak usah beban. Modal nikah aku pinjemin. Kalau gak ada rumah, itu pakai saja apartemenku.”

Rais tertawa pendek, “Kayak serius aja kamu.”

“Ya serius, sewa perbulannya murah kok, harga sodara!”

“Huh, sama aja bohong.”

Aku terbahak, “Tenang dulu, Rai. Banyak kan cewek-cewek yang siklus mensnya gak teratur. Apalagi baru dua minggu, masih dini buat mutusin hamil atau enggak, kecuali empat minggu. Aku sih saranin lebih baik konsul ke dokter langsung.”

Rais merenung sesaat lalu menghembuskan napas panjang. “Enakan jadi Chandra ya, Val… mompa sesering apapun gak perlu kondom dan gak usah khawatir bikin masuk angin pasangan.”

Aku sukses terpingkal di tempat dudukku, “Ngawur.”

“Beneran loh itu, Val. Kamu mesti setuju.”

“Terus kalau enakan jadi Chandra, kenapa kamu gak jadi seperti Chandra aja?” aku bertanya usil.

“Aku mau saja jadi Chandra kalau Naila juga berubah jadi kamu.”

Untuk kedua kalinya aku terpingkal. Rais juga tertawa kecil. “Makin ngawur.”

“Beneran loh, kalian itu pasangan belok paling ideal yang pernah kukenal.”

“Ya iya kamu bisa ngomong gitu, kan pasangan belok yang kamu kenal cuma aku dan Chandra doang.”

“Eh, iya juga ya…”

Pintu terbuka, Chandra muncul di ambangnya sambil memamerkan senyum padaku, lengan kemejanya tergulung hingga pertengahan siku, dasinya sudah longgar. “Halo, Rai…,” sapanya pada Rais yang berdiri selangkah di depan pintu dan dibalas Rais dengan mengangkat sebelah tangan. “berangkat sekarang, Beib?” tanya Chandra padaku.

“Iya.” Aku keluar dari balik meja. “Yakin gak mau ikut, Rai?”

“Ya gak lah, nanti Chandra gak bebas grepe-grepe kamu kalau ada aku.”

“Kamu bisa ijin ke toilet jika gelagatku untuk grepe-grepein Anval sudah terlihat, dan baru balik setelah bon pesanan diantar,” cetus Chandra yang membuat Rais terbahak.

“Atau kami berdua bisa masuk ke bawah kolong meja biar gak terlihat kamu.” Ini dari mulutku.

“Atau kamu tetap di meja dan kami yang ke toilet, dulu sering begitu kok.” Chandra mengedip padaku.

“Ya Tuhan, kalian gokil ya. kompak banget.” Rais menyelempangkan tas kecilnya yang sedari tadi mencantol di sebelah lengan. “Aku pulang aja, kecuali kalau pas bagian grepe-grepenya aku juga diajak ke toilet.”

“Sarap!” ujarku.

In your mind,” cetus Chandra.

See? Artinya aku memang gak boleh ikut. Sampai jumpa, kalian berdua.”

Setelah Rais meninggalkan ruangan, Chandra mendekat dan mencium bibirku sekilas sebelum berbalik. Aku menutup pintu dan mengikuti Chandra berjalan di koridor yang mulai sepi. Dalam perjalanan menuju parkiran, aku tak bisa untuk tidak teringat ucapan Rais sesaat tadi tentang betapa enaknya menjadi Chandra, menjadi aku dan Chandra. Andai Rais lebih sadar, sungguh begitu tak mudahnya menjadi berbeda, kadang aku masih merasakan itu. Menjadi normal justru lebih diterima. Well, pelangi memang selalu tampak di atas kepala orang lain. Selalu, orang lain lebih beruntung dan enak hidupnya ketimbang kita, karena kebanyakan kita hanya melihat dan membanding-bandingkan lapis luarnya saja.

***

Hidup memang tak bisa diramalkan dengan pasti. Bahkan jika agenda harianmu sudah dipersiapkan sedemikian rupa hingga tak ada celah bagi sesuatu di luar agenda tersebut untuk terjadi, tetap saja ada kejadian tak terduga yang sesekali muncul merubah susunan agendamu, tanpa bisa kau cegah, karena tangan takdir tak kenal kompromi. Itulah yang sepertinya kualami hari ini. Padahal agendaku sudah demikian teraturnya Sabtu ini.

Aku mengira, jalanku dengan masa lalu yang sudah tertinggal sejauh dua tahun dulu tak akan pernah bersilangan lagi. Aku mengira, hari depanku akan bebas dari kebetulan-kebetulan yang melibatkan orang satu ini. Aku sudah sempat yakin bahwa perkiraanku benar, sampai kebetulan itu terjadi hari ini dan meruntuhkan keyakinanku. Jika boleh aku menambahkan, meruntuhkan keyakinan sekaligus menggoyahkan iman, imanku pada Chandra.

Aku hendak menuju kamar mandi ketika kebetulan sialan itu terjadi.

BRUUUGH

TUUUNNGG

“Aww… ck!”

Suara mengaduh langsung keluar dari mulutku. Kepalaku bagai baru saja berhantaman dengan tembok. Ponselku jatuh ke lantai dan ransel silindris yang berisi pakaian gantiku merosot dari bahu. Sakit di kening membuatku spontan menarik handuk di leher lalu kubuntal dan kutekankan ke dahiku. Kepalaku baru saja membentur kepala seseorang dengan begitu kerasnya. Hal yang baru terjadi pertama kali di tempat fitness di mana aku sudah menjadi member sejak enam bulan lalu. Samar kudengar orang yang kutabrak juga mengerang. Aku belum bisa memperhatikan wajahnya. Sepertiku, laki-laki itu juga sedang mengelus-ngelus keningnya sambil terbungkuk-bungkuk, ponselnya masih aman di tangan kiri, ranselnya juga masih tersampir di bahu kanan. Sepertinya aku dan si lelaki ini sama-sama asyik dengan ponsel sampai tak melihat kalau ada orang lain di koridor dari arah berlawanan. Sial.

Aku memungut ponsel dengan tangan kiri sedang tangan kanan masih menekan handuk di kepala. “Sepertinya kita sama-sama mengalami hari yang buruk. Sorry… aku tak melihat.” Kuputuskan untuk minta maaf lebih dulu, meski pada dasarnya bukan aku seorang yang lalai.

Mataku harus berkata jujur, lelaki ini luar biasa seksi, kaus buntung dan celana ketat sebatas paha tak cukup berhasil menyamarkan keseksian otot-ototnya. Apalagi dalam keadaan berkeringat seperti itu.

“Tak apa, aku juga salah…” Sampai saat berkata ini, ia masih terbungkuk sambil sesekali meringis, tangannya juga masih mengelus dahi.

Darahku bagai baru saja disedot habis oleh seluruh anggota keluarga Cullen (sebelum mereka jadi ‘pampir vegetarian’ tentunya) ketika lelaki itu menyingkirkan tangan dari dahinya dan mendongak. Hal yang sama juga terjadi pada sosok yang berjarak tiga langkah di depanku itu, sama sepertiku mukanya juga pias. Sakit di dahiku terlupakan. Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku atas perjumpaan ini, dan sialnya aku juga tak bisa bergerak untuk langsung pergi meski otakku menyuruhnya. Kakiku sedang tidak bisa diajak bekerja sama, sepertinya ada yang salah pada saraf motorikku saat ini. Kesalahan itu kian parah ketika dengan tanpa tahu malunya rahang bawahku malah merosot perlahan menampilkan pemandangan mulutku yang kini melongo, terpana dengan perubahan drastis pada sosok di depanku. Mendadak aku merasa jadi penderita autis.

Ia lebih tampan dari dua tahun lalu. Model rambutnya berubah total, kini dibiarkan lebat dan tebal tumbuh gondrong melewati telinga, model rambut yang tampak begitu cocok dengan bentuk mukanya yang persegi tegas dan dagu terbelah. Otot bisep dan otot lengannya lebih padat dan lebih terbentuk dari dua tahun lalu, demikian juga dengan badannya. Terlebih lagi, dulu aku belum pernah melihat ia dalam pakaian seringkas yang sedang dipakainya sekarang. Jika dulu saja aku pernah menilainya menarik, maka dengan level yang lebih tinggi sekarang ditambah keadaannya yang hanya bercelana super pendek dan baju yang lebih pantas disebut baju dalam, apa yang menghalangiku untuk makin menilainya perfect? Tak ada. Dan ini membuatku mengutuk diri sendiri, aku kehausan ketika mataku turun ke bawah pinggangnya.

Damn hot!

Aku mulai khawatir karena sesuatu di bawah pusarku sepertinya baru saja mengeliat. Sensasi ini sama seperti adanya diriku yang dulu, apa yang terjadi? Apa pada dasarnya aku memang tak pernah berubah selama ini?

“Ehem…” Ia berdehem, suaranya masih seperti dulu. “Hai…”

Aku terdiam. Tidak, bukan terdiam, tepatnya aku sibuk meneguk liur. Yang membuatku susah bicara karena tak ada liur yang bisa kuteguk, rongga mulutku mendadak kering. Aku yakin leherku sudah memanjang beberapa senti sejak beberapa saat lalu.

Mendapati aku yang terdiam, dengan wajah datar dan masih pias, ia memperbaiki letak tali ranselnya di bahu, menarik handuk dari leher lalu melewatiku sambil menunduk. Dari arahnya, aku menduga ia akan langsung keluar ke parkiran, tidak ke kamar mandi. Entah apa yang mendorongku—oh tidak, sebenarnya aku sangat tahu apa yang mendorongku—untuk berbalik (kalian tentu bisa menduga apa itu). Maka aku berbalik.

“Fahri!”

Ketika Fahri yang sudah berjarak lima meter dari tempatku berdiri itu berhenti berjalan, jantungku mendadak berdebar kencang. Lebih kencang lagi ketika ia membalikkan badan perlahan. Ia terdiam, memandangku dengan tatapan yang sama sekali tidak menyiratkan permusuhan. Padahal betapa dulu perpisahan kami tidak terjadi dengan cara baik-baik.

Terasa bertahun lamanya sebelum aku bisa mengeluarkan suara lagi. “Emm… kamar bilasnya bukan ke arah situ…” Demikian lirihnya suaraku hingga aku yakin Fahri tak bisa mendengarnya.

Sekilas kulihat keningnya berkerut, sedetik kemudian ia tersenyum. “Ya, sepertinya aku salah arah.” Oh, ternyata kupingnya tidak pekak. Dan dengan begitu ia kembali lagi menujuku.

Kami sama-sama berdiam diri hingga sampai di kamar bilas yang lumayan lebar dan punya sedikitnya delapan shower dalam deretan bilik yang bersekat setinggi dua meter. Tangkai shower berada lebih tinggi dari sekat bilik sehingga dari pintu masuk kita bisa melihat bilik mana yang showernya sedang menyala.

“Sepertinya ramai yang ngejim hari ini.”

“Masih ada satu yang kosong di ujung sana,” tukas Fahri. “Kamu duluan saja.”

Tapi aku masih berdiri di sampingnya. “Aku belum pernah melihatmu sebelumnya di sini.”

“Biasanya aku ambil jam malam, seminggu dua kali, Selasa dan Jumat. Tapi semalam aku tak bisa datang, jadi kuganti hari ini, dan sepertinya ini hari keberuntunganku.”

Kurasakan ada panas yang menjalari pipiku mendengar kalimat terakhir Fahri. “Berapa lama?”

“Apanya?”

“Jadi member.”

“Oh, lebih setahun lalu.”

“Aku hampir tak mengenalmu sesaat tadi. Kamu jauh berubah.”

Fahri tersenyum kecil, “Kalau aku, sangat susah untuk tidak langsung mengenalimu, bahkan setelah tidak bertemu selama dua tahun.”

Ya ampun, mengapa ia harus berkata seperti itu? dadaku mekar tanpa bisa kutahan. “Apa kabarmu?”

“Jika yang kamu maksudkan adalah kabar pekerjaanku, aku banting setir. Kebetulan saudara jauh punya resto yang buka cabang baru beberapa bulan setelah aku keluar dari klinik, aku ngemis-ngemis untuk jadi manejer padanya. Dan sudah lebih setahun ini penghasilanku dari resto itu.”

Menyinggung klinik, aku merasa tidak enak. Sepertinya Fahri menyadari itu karena kemudian ia menepuk pundakku dan tertawa pendek.

“Hey, bukan salahmu, okey! Aku yang cari gara-gara.”

“Bisa kita tidak membicarakannya?”

“Tentu.”

Lalu kulihat ia melirik jam tangannya kemudian memandang deretan kamar bilas. “Kamu buru-buru? Gunakan saja yang kosong itu duluan, aku nunggu yang lain selesai.”

Sejenak Fahri diam tak menjawab. Aku kaget ketika ia menangkap pergelangan tangan kiriku, “Siapa peduli, kita bisa pakai yang itu berdua.” Dan ia mengambil langkah pertama menuju bilik paling pojok, dengan tanganku dalam pegangannya.

Ternyata memang ada masalah dengan saraf motorikku. Jika sebelumnya otakku yang menyuruh pergi tapi kakiku tak mau patuh, sekarang justru otakku yang memerintahkan untuk tetap di tempat tapi kakiku malah bergerak. Mengapa aku tak bisa menolak pesona Fahri yang sekarang? Aku mulai berpikir yang tidak-tidak, pikiran semisal kalau Fahri sekarang pakai susuk di seluruh tubuhnya yang bikin siapapun takluk, atau ia sudah punya ilmu gendam hingga siapapun bisa luluh dalam genggamnya. Tapi melihat perubahan pada sosoknya kini, aku rasa Fahri tak perlu susuk dan ajian gendam apapun untuk menaklukkan siapapun. Entahlah, yang pasti saat ini aku sedang berada bersama Fahri di bawah satu shower, dengan dada berdebar dan selangkangan yang mulai panas tentunya. Fahri langsung menanggalkan kaus buntungnya begitu shower menyala, dada padat dan perut kotak-kotaknya langsung terpapar pandanganku yang sesekali mencuri lihat. Ia hanya bercelana pendek yang dalam keadaan basah begitu terlihat demikian tipisnya tak ubah seperti ia tak memakai apa-apa lagi.

Dua menit pertama hanya suara aliran air dari shower yang terdengar. Sesekali kulit lengan atau bahu kami bersentuhan ketika sama-sama meratakan air ke badan atau kepala. Aku masih belum membuka bajuku, baru hari ini aku membilas diri tanpa membuka pakaian, ranselku pasti akan basah nanti. Ah, ada hal yang lebih perlu kukhawatirkan ketimbang ransel basah, yaitu bagaimana saat aku dan Fahri harus membuka pakaian basah untuk berganti dengan pakaian kering setelah kami selesai mandi nantinya. Membayangkannya saja sudah membuat aku panas dingin.

“Kamu selalu mandi dengan berpakaian lengkap begini setelah ngejim?” Aku terbata sementara Fahri tampak seperti hendak tersenyum. “Apa yang membuatmu malu? Bagai kita tak pernah kenal saja…”

Ucapan pertama Fahri sejak kami masuk bilik membuat mukaku merah. Dalam diam, aku meloloskan kausku lewat kepala.

“Berapa lama jadi member?”

“Tidak selama kamu, jalan tujuh bulan.” Aku memberanikan diri untuk menolehnya, kulihat ia menyeringai kemudian mengacak-ngacak kepalanya yang berambut tebal, meratakan air ke rambutnya.

Mungkin pada dasarnya, semua G itu memang bajingan. Atau, cuma aku saja G yang punya basic dan background bajingan. Karena tiga menit setelah aku membuka kausku, aku makin merapat ke Fahri yang sama sekali tidak berusaha menjauh. Jika tadi saat masih berpakaian kulitku yang bersentuhan dengan kulit Fahri hanya sebagian kecil saja, maka setelah badanku polos, area kulit yang bersentuhan makin luas saja.

Di bawah shower yang level guyurannya baru saja dinaikkan Fahri, tiba-tiba saja kami sudah berhadap-hadapan. Satu tangan Fahri di pinggangku dan satu tanganku di dadanya. Aku menunduk ketika mata Fahri menghujam mataku. Lalu tangan Fahri yang bebas menindih tanganku yang berada di dadanya. Diam di sana beberapa detik seperti ia ingin agar aku tahu detak jantungnya, lalu kedua tangan kami yang bertindihan bergerak turun perlahan, begitu perlahannya hingga aku yakin bisa menghabiskan satu episode drama Korea sebelum tangan itu sampai ke tujuan yang aku dan Fahri sama-sama tahu kemana. Tangan Fahri yang berada di atas menuntun tanganku menyeberangi perutnya yang berlekuk-lekuk, terus menyeberang hingga masuk ke balik pinggang celananya. Aku yang masih menunduk melihat dengan jelas proses ‘nyebrang jalan menuju terminal itu’ berlangsung. Begitu tanganku sudah berada di tempat yang tepat, Fahri menarik tangannya untuk meninggalkan lokasi proyek yang sudah mulai dikerjakan tanganku secara bertahap sedikit demi sedikit.

Fahri mengerang kecil, guruh shower mengantisipasi erang itu dengan baik. Aku lupa diri. Amnesia menggerogotiku seiring dengan mengacungnya penis Fahri yang melewati pinggang celananya. Makin amnesia ketika tangan Fahri yang tadi menuntun tanganku menuju organ paling rahasia miliknya sekarang mengangkat daguku untuk memudahkannya mengawinkan indra pengecapnya dengan indra pengecapku. Tanpa aku sempat menyadari kapan, kudapati celana pendekku sudah melorot, jatuh mulus karena diberati air dan menumpuk di sekeliling kakiku di ubin. Lalu tangan Fahri merdeka atas area yang baru saja ditinggalkan celana fitnessku. Aku tak ragu-ragu ketika meliuk-liukkan badanku tepat di perut Fahri. Dan amat sangat yakin ketika telentang di lantai yang basah dengan sosok telanjang Fahri di atasku. Tak kupedulikan posisi kakiku yang tertekuk tak nyaman karena sempitnya ruang. Bagian di antara kepitan dua paha Fahri yang keras bak bajalah yang kini menyita semua kepedulianku.

Dan sekali lagi, surga dunia dalam konteks yang lebih terlarang kudapati, lewat sosok Fahri, pada pertemuan pertama setelah kurun waktu yang cukup lama. Surga dunia terlarang pertamaku dengan lelaki yang pernah kuacuhkan dulu. Ironi. Dan gila.

Adakah karma semanis ini?

Ketika ini selesai, kuharap aku punya alasan cukup bagus buat Chandra kenapa aku bisa terlambat pulang dari tempat gym hingga menunda agenda malam Minggu kami saat tiba di rumah nanti.

***

Nasi memang sudah menjadi bubur. Yang membuat khawatir, mungkin bubur itu akan busuk jika terus-terusan terbiar begitu. Jika bubur yang masih bagus kuumpamakan sebagai kekeliruan pertamaku, maka bubur busuk adalah kekeliruanku selanjutnya dan selanjutnya yang tidak kuasa kuhentikan atau kutolak. Bubur busuk adalah kekeliruanku yang berterusan.

Rasa bersalah menggodam hatiku saat tiba di rumah Chandra setelah gelap turun lebih dua jam lalu. Rasa bersalah itu makin dalam ketika kutemukan Chandra tertidur di sofa ruang depan dalam pakaian lengkap siap hendak keluar bermalam Minggu, denganku, yang seharusnya terjadi sejam atau dua jam yang lalu—jika aku tidak terlalu sibuk dengan urethra Fahri tentunya. Malam memang belum larut, tapi menunggu lebih sejam pasti menjemukan, dan bagi pekerja kantoran seperti Chandra yang waktu kerjanya lebih lama dari waktu istirahatnya—yang harus dikurangi lagi untukku—tertidur di awal malam saat jemu menunggu adalah hal yang wajar.

Aku berdiri. Termenung di kaki Chandra, menatap wajahnya yang polos dalam lenanya. Chandra tidak pernah sekalipun mendengkur, aku juga tak pernah terbangun tengah malam gara-gara ia mengigau akibat mimpi buruk, tidak pernah. Seakan Chandra terlalu baik untuk mengalami mimpi buruk. Tapi aku pernah berkali-kali mengganggu tidurnya, bahkan satu kali dadanya sempat jadi sasaran tinjuku ketika ia menenangkanku yang mengigau dalam tidur. Mimpi buruk sering menganggapku kawannya.

Chandra tidak menelepon menanyakan keterlambatanku tadi, ia terlalu percaya, terlalu memaklumiku. ‘Yang penting kamu ada sekarang, apa buruknya menunggu?’ itu kata Chandra ketika aku pernah terlambat sampai tiga jam ketika kami punya janji makan malam sedang pasienku saat itu membludak dan tak mungkin kusuruh pulang. Begitulah, ia terlalu memaklumiku.

Sekarang pandanganku jatuh pada mulutnya, pada bibir Chandra yang sedikit terbuka seperti bibir ikan, bibir yang demikian sering kusentuh dengan bibirku. Kata-kata cinta yang teralamat begitu validnya untukku sudah tak terhitung kali melewati bibir itu. Demi setan penghuni neraka, apa yang telah kulakukan hari ini?

Aku menghela napas. Perlahan kudekati sisi kiri Chandra yang menelentang di sofa. Aku tahu tindakanku ini akan mengganggu tidurnya, tapi sungguh, aku ingin memeluknya sekarang. Memeluk untuk melebur rasa bersalahku, aneh bukan? Harusnya lebih tepat kubenturkan kepalaku ke tembok untuk menebusnya.

Aku naik ke sofa dan langsung menelungkup di atas Chandra. Kepalaku bersembunyi ke celah lehernya, sebelah lenganku tertekuk dan terjepit antara dadanya dan dadaku, sedang sebelah lagi berada lebih leluasa di kepalanya. Kudengar Chandra berdecak dan sedikit mengeliat. Aku tahu ia pasti sedang mengerjap-ngerjapkan matanya sekarang.

“Kamu sudah pulang…” jelas sekali Chandra masih mengantuk.

“Hemm…” aku menggumam di lehernya.

“Apa aku tertidur?”

“Baru sebentar,” jawabku masih belum merubah posisi.

Kurasakan Chandra merangkulkan lengannya ke pinggangku, “Kamu mau ke bioskop apa mau terus menindih selangkanganku seperti ini?”

Aku tak menjawab, sebaliknya kugigiti kulit leher Chandra yang berada tepat di depan mulutku.

“Area menyedotmu sekarang berganti ya? tidak lagi di bawah tapi di atas? Apa kamu mulai suka menghisap yang warna merah juga?”

“Enggak, aku masih suka menghisap yang warna putih kok.”

“Baguslah, gak sia-sia aku rajin makan kecambah dan telur.”

Aku tertawa.

Chandra mencium rambutku, “Gak jadi nih nontonnya?”

Aku menggeleng, membuat hidungku bolak-balik menggesek leher Chandra. “Kita tidur cepat aja malam ini. Aku tau kamu butuh istirahat lebih lama.”

“Hemm… baiklah, kalau begitu ayo kita buka baju.”

Seks lagi. Aku tak pernah bosan dengan apa yang ada di dalam celana Chandra, sesering apapun ia mengeluarkannya dari sana.

***

“Positif?”

Rais menggeleng, “Kami belum ke dokter.”

“Oh. Sudah nambah tiga hari lagi kan? Apa yang kamu lakukan hingga menunggu untuk mendapat kepastian selama itu?”

“Yang kulakukan cuma satu.” Rais menunjuk gundukannya dengan dua telunjuk sekaligus.

“Bahaya loh berhubungan seks dengan pasangan ketika dia sedang hamil, bahaya buat jabang bayi.”

“Ijazahmu es satu dokter gigi apa es dua spesialis kandungan?”

“Aku dokter gigi yang terbuka dengan semua issue kesehatan.”

Rais mengangkat bahu, “Lagian, seperti katamu beberapa hari lalu, belum tentu juga Naila sedang hamil, mungkin terlambat datang bulan biasa.”

“Demi kebaikan kalian berdua, Bocah, cari tahulah kepastiannya segera!”

“Kayaknya aku mau beli test peck aja. Gak berani ke dokter, nanti ditanya macam-macam. Aneh gak sih, Val, kalau laki-laki beli-beli test peck?”

“Entah. Aku gak pernah beli test peck, bukan aku yang punya uterus.”

Rais memandangku sambil mengangkat alis.

“Gak usah mikirin aneh enggaknya, kalau mau beli ya beli aja.”

“Kalau yang jualnya nanya macam-macam?”

“Bilang aja disuruh istri.”

“Tidakkah aku kelihatan terlalu muda untuk punya istri?”

“Kalau begitu bilang aja untuk mama atau mbakmu.”

“Kalau masih nanya juga?”

“Perkosa aja yang jual.” Kadang aku suka jengkel juga dengan Rais.

“Iya kalau perempuan, kalau pria…”

“Ya kebeneran kan, kamu bisa tau gimana enaknya jadi Chandra.”

Dan pejantannya Naila itu tertawa bekakakan.

***

Kebanyakan kita butuh banyak waktu untuk melakukan secuil kebaikan, tapi lebih banyak lagi di antara kita yang cuma perlu sedikit waktu untuk membuat banyak kesalahan. Kita butuh sebulan untuk bisa lupa bahwa tiga puluh hari lalu kita pernah menyumbang sepotong kemeja bekas ke barak pengungsian, tapi dalam waktu tujuh hari saja kita sudah membohongi orang satu kampung dan memfitnah tiga orang di tiga dusun berbeda. Sepertinya sudah menjadi hukum alam, bahwa melakukan kesalahan itu selalu lebih mudah dari mendulang pahala.

Begitulah yang sedang terjadi kepadaku. Dalam kurun seminggu ini saja aku sudah mendatangi tempat tidur Fahri sebanyak empat kali, setiap sehari berselang. Mencuri-curi waktu untuk membuat kesempatan. Kesempatan apa? Oh come on, kalian tahu kesempatan apa yang kumaksudkan. Aku masih belum mengerti formula apa yang sedang berlangsung dalam tubuhku. Responku terhadap Fahri dua tahun lalu masih kuingat dengan jelas, aku yang menolak Fahri saat itu dan menjadi terbuka untuknya sekarang adalah hal yang aku sendiri tak mengerti. Yang aku tahu adalah, aku menikmati apa yang terjadi antara aku dan Fahri saat ini.

Setelah diterpa panas dan hujan dalam putaran musim, lama-kelamaan cat semahal apapun tetap akan pudar lalu mengelupas menampilkan warna dasar tembok yang ia lapisi. Mungkin begitulah yang sedang terjadi padaku, berangsur-angsur, aku mulai kembali ke warna dasarku. Mungkin aku mulai mendewakan seks dan meng-omong-kosong-kan cinta seperti dahulu. Karena dengan jujur kukatakan, aku tidak peduli apakah Fahri bercinta denganku karena cinta atau semata-mata karena nafsu di setiap jengkal tubuhnya menginginkan itu. Fahri yang tidak pernah satu kali pun berkata cinta padaku sama sekali tak menjadi masalah bagiku. Aku juga tidak mau berpusing-pusing memikirkan apakah aku bersedia bercinta dengan Fahri karena mencintainya atau karena ingin kepuasan semata yang sejauh ini tak pernah gagal ia berikan untukku. Cinta dan Nafsu mendadak serupa saat aku dan Fahri sudah bergelut dengan tubuh primitif di atas seprei.

Seperti yang terjadi sekarang…

Ini yang kelima kalinya dalam waktu sembilan hari—yang keenam dalam waktu empat belas hari jika kejadian pertama dalam kamar bilas tempat fitness yang berselang jauh dengan kejadian kedua di kamar Fahri dihitung—aku mengecap manisnya temasya birahi yang berujung serakan sperma di perut bersama Fahri. Kali ini lebih lama dari yang sebelum-sebelumnya.

Di lantai, dua kemeja, dua celana bahan kain, dua celana dalam, serta satu dasi milik Fahri tercecer di segala penjuru, menyaksikan aktivitas di atas ranjang tanpa mata, mendengar erang dan desah yang belum putus tanpa telinga. Aku aman, karena pakaianku tidak mungkin bicara mengadu pada Chandra tentang dosa yang kubuat hari ini. Chandra tak akan pernah tahu kecuali aku cukup bodoh untuk mengakui pengkhianatanku padanya, dan kupastikan aku tidak akan sebodoh itu.

“Arrgghh… Val, bagaimana rasanya?” Fahri meracau, cengkeraman kedua tangannya di pinggulku mengencang sedang pergerakan pinggulnya makin menambah kecepatan.

Aku megap-megap, “Fantastis, Ri…”

Fahri menyeringai, keringat berkilat di seluruh permukaan kulitnya, juga di wajahnya yang membuat ujung-ujung rambut di sekitar telinganya lengket. Dalam keadaan seperti itu, Fahri tampak begitu menikmati perannya sebagai pihak yang di atas. Jika ini adalah pergelutan dua pengantin di malam pertama setelah menikah, maka Fahri sukses memerankan karakter buas dan hausnya seorang suami.

Sejenak kemudian, Fahri merunduk untuk menyerang bibirku, perut dan dadanya menindihku. Gerakan maju mundur pinggul Fahri melambat ketika kami berciuman. Di lain pihak, aku merasakan ngilu yang enak ketika perut Fahri yang keras menekan bagian bawah pusarku disertai memberontaknya otot-otot penisku dalam sentakan kuat berkali-kali. Badan Fahri yang tidak segera tegak kembali membuatku kebablasan. Beberapa saat kemudian aku sukses membuat perutku dan perutnya lengket.

Fahri tertawa pendek mendapati orgasmeku, “Awesome, Val.” Lalu ia menegakkan badan dan melakukan serangan pamungkas dengan kecepatan tinggi yang mebuatku harus bernapas lewat mulut. Dua menit kemudian, Fahri sudah menelungkup di atasku dengan sisa-sisa getaran syahwat di sekujur tubuhnya.

***

“Makan siang dengan siapa tadi, Sweetheart?”

Suara Chandra lewat corong telepon terdengar enak di telingaku, “Seperti biasa jika kamu gak bisa nemani, sama Rais.” Kenyataannya, saat istirahat siang tadi, aku mengambil kesempatan ketujuhku di hari keenam belas bersama Fahri, di kamarnya, selalu di kamarnya.

“Ramai pasien? Jam berapa aku harus jemput?”

“Chan, hari ini aku bawa mobil, kan ini minggu pertama kita di rumahmu, jarakku jauh, bisa telat kalau nunggu taksi tadi pagi.”

Chandra tertawa, “Aku lupa.”

Lalu sayup-sayup di latar belakang aku mendengar ada yang mengetuk pintu Chandra. Selanjutnya aku mendengar percakapan Chandra dengan sekretarisnya, Nadine, yang memberitahu kalau ada kiriman paket untuknya.

“Dapat hadiah ya?” tanyaku setelah Chandra kembali fokus padaku.

“Entah, ini gak tahu paket dari siapa, gak ada nama pengirimnya.”

“Jangan-jangan bom.”

Chandra tertawa lagi, “Tipis kok ini, dalam amplop. Mungkin CD data dari rekan kerja di kantor lain, beberapa dari mereka masih pakai cara begini, nyimpan data di CD, sudah sering dikirim ke aku.”

“Hemm, bagaimana dengan makan malam? Apa kita keluar setelah sama-sama nyampe rumah?”

“Sebentar lagi aku pulang, aku tunggu kamu di rumah.”

“Oke, sepertinya di ruang tunggu juga sudah tak ada pasien.” Aku melirik Rais, asistenku itu menggeleng dan mengangkat dua jari. “yah, Chan, baru saja datang dua pasien kayaknya.”

“Gak apa, acara makan kita tetap jadi.”

“Oke, sampai jumpa di rumah.”

“Eh, Val…”

“Ya?” aku tak jadi menutup telepon ketika Chandra memanggil lumayan nyaring. “Ada apa?”

I love you,” suara Chandra terdengar senang, kubayangkan ia saat ini sedang tersenyum-senyum sendiri di kursinya.

Me too,” jawabku. Lalu kudengar bunyi kecupan di corong telepon. Aku tertawa dan meniru Chandra dengan mengeluarkan suara serupa dari mulutku. “Sudah, pasienku menunggu. Bye.”  Kututup telepon setelah Chandra meletakkan gagang teleponnya lebih dulu.

Kuhela napas panjang setelah percakapanku dengan Chandra selesai. Sejenak aku bertanya pada hatiku, tidakkah Chandra terlalu baik dan polos untuk kukhianati?

Rais baru saja mempersilakan satu pasienku duduk di dental unit.

*

Aku yakin diriku adalah bedebah terkutuk paling terkutuk ketika sambil berteriak marah Chandra mendobrak pintu ruang kerjaku tepat setelah dua menit pasien terakhirku meninggalkan ruangan. Aku ternganga di depan wastafel sedang Rais melonjak kaget di dekat dental chair. Aku tak pernah menemukan wajah Chandra semurka sekarang.

“Bajingan, Anval! Seharusnya aku tahu sejak awal bahwa kau memang manusia tak punya hati!” teriakan Chandra membahana di dalam ruang kerjaku. Ia baru saja melempar sebuah amplop coklat ke atas meja. Kata gantinya untukku berubah dari ‘kamu’ yang selama ini selalu lembut menjadi ‘kau’ yang sekarang terdengar begitu menyeramkan.

Aku tak bisa meneruskan membilas tanganku di wastafel. Tubuhku kaku dan tengkukku mendadak dingin. “Chan… ak… aku tak menger…”

“Tutup mulutmu, Bangsat!” Chandra memburu ke depanku, tiba-tiba saja bahuku sudah dicengkeramnya dengan kedua tangan. Punggungku terasa sakit ketika ia mendorongku cukup keras hingga membentur tembok, cengkeramannya masih belum mengendur di bahuku. “Apa yang kuberikan selama ini masih belum cukup memuaskan nafsu sialanmu itu, hah!? Apa satu saja selangkanganku tidak cukup melayanimu selama ini, Keparat!” Chandra menyentakkan bahuku dengan amarah yang meluap, aku mendapati diriku tak sebanding dengan kekuatannya, ringisan keluar dari mulutku ketika bagian belakang kepalaku membentur tembok akibat sentakan Chandra.

Selama ini, jika aku meringis sedikit saja, Chandra pasti dengan lembut akan menenangkanku, tapi rasanya sekarang mustahil ia akan bertanya bagian manaku yang sakit. Terbukti ia masih terus mengoyang-goyangkan bahuku, membenturkan punggungku berkali-kali ke tembok. Aku tahu, semua dosaku sudah diketahui Chandra, bukan pakaianku yang mengadu, tapi sesuatu di dalam amplop coklat yang tadi dilempar Chandra ke meja yang memberitahu segalanya.

“APA KURANGKU PADAMU, VAL! APA!” Sekali lagi, kepalaku membentur tembok.

“Chan, kamu menyakitinya!” Rais yang sedari tadi tegak termangu dengan mata membelalak tak mengerti kini maju untuk melepaskan cengkeraman Chandra di bahuku. “Lepaskan dia!”

“Ini bukan urusanmu, Ingusan!” Chandra menyalak di depan wajah Rais.

Entah karena tak mau aku dibenturkan ke tembok lagi, atau marah karena dipanggil ingusan, Rais dengan kuatnya meninju wajah Chandra. “Aku bilang, lepaskan dia, Chan!”

Bagaimanapun, hatiku sakit melihat Chandra terhuyung dengan hidung berdarah setelah ditinju Rais. Aku gemetaran hingga tak mampu lagi berdiri, kini aku setengah mengelesoh di lantai.

“Kau berani meninjuku!” Chandra menatap bengis pada Rais.

“Kau menyakitinya, Chan…” Rais menunjukku. “Apa sih salah Anval hingga kamu semurka ini?”

Mengapa Rais terlalu bodoh untuk menangkap situasi? Seharusnya dari kalimat-kalimat Chandra sesaat tadi yang menyinggung-nyinggung selangkangan, ia cukup tahu bahwa aku sudah mengkhianati Chandra.

“Aku ingatkan lagi, Bocah. Ini bukan urusanmu!” dan dengan begitu Chandra kembali maju menujuku.

Rais menghalangi dengan berdiri tegak selangkah di depanku, dan tinju Chandra langsung melabrak wajahnya detik itu juga. Sesaat kemudian, mereka sudah saling memukul dan meninju. Aku panik. Dental kabinet hampir saja pecah pintu kacanya ketika kepalan Rais meleset dari menyasar dada Chandra, hiasan guci keramik lumayan besar yang berada di sisi dental kabinet terguling kesenggol kaki Chandra ketika ia menyisi dari terjangan Rais, nasib baik guci antik milik klinik itu tidak pecah, bahan-bahan dan peralatan kecil yang tersusun rapi di atas tray dental chair jatuh berhamburan ketika mereka merangsek hingga ke sana. Tak ada tanda-tanda mereka akan menyudahi perkelahian. Hidung Chandra makin berdarah, sudut bibir Rais robek dan merah.

“Chandra, berhenti!” aku bangun dan dengan kaki gemetaran bermaksud memisahkan mereka. Tapi Chandra tak menggubris. Tampak sekali Chandra lebih kuat dari Rais, tinjunya sudah beberapa kali membabat wajah asisten yang sudah bagai adik bagiku itu. Harusnya bukan Rais yang menerima kekesalan dan amarah Chandra, tapi aku.

“RAISA, CUKUP!!!” akan sama sekali tidak pada waktunya jika Rais menjawabku dengan lirik-lirik lagu Raisa beneran saat ini. Ia bahkan tak mempedulikan teriakanku. Tak berhasil menarik Chandra untuk menjauh dari Rais, aku memutuskan menghalau Rais dari jangkauan Chandra. Namun aku sedikit salah timing. Aku maju di antara mereka untuk mendorong tubuh Rais justru ketika tinju Chandra sudah setengah jalan menuju sasaran.

PAMMM

“ADOOWWW… SAKIT GILAAAK…!!!” terhuyung-huyung aku memegangi mulutku yang baru saja dihantam tinju Chandra. Rasanya seluruh gigiku bergoyang. Teramat sakit. Bagaimana mereka berdua bisa tahan padahal sudah beberapa kali mulut mereka dihantam tinju satu sama lain? Aku yang satu kali saja sudah merasa bumi seperti terjungkal. Edan.

Chandra bengong.

Rais melongo melihatku yang sudah sukses bersandar di dinding, masih sambil memegangi mulutku. Aku khawatir jika kupindahkan sesaat saja tanganku dari mulut, maka gigiku akan jatuh berceceran ke lantai. Ini menyebalkan, seakan sudah bagai syarat mereka akan berhenti bertarung jika aku kesakitan. Huh, tahu begini harusnya aku langsung membenturkan mulutku ke tembok saja sejak awal mereka berkelahi.

Keheningan menggantung di atmosfer ruang. Chandra masih tegak di tempatnya, semeter di depanku. Sedang Rais mulai memeriksa hasil permak Chandra terhadap mukanya. Kuperkirakan Rais butuh dua minggu untuk memperbaiki riasan dari Chandra itu.

“Kupikir, selama ini kalian satu-satunya pasangan belok paling ideal di negara bobrok ini…” Rais bergumam lalu menghilang ke kamar mandi di sudut ruangan. Bunyi kran air langsung terdengar setelah pintu kamar mandi dibantingnya.

Aku bertatapan dengan Chandra. Rasanya kata maaf pun akan percuma kini, jadi aku hanya diam, menunggunya yang bersuara. Namun hingga Rais selesai dari kamar mandi dan segera keluar setelah mencantel tas gadgetnya, Chandra masih tetap diam. Rasanya seabad sampai Chandra mengucap dua kalimat yang membuatku bagai baru saja membunuh seseorang.

“Kukira kamu benar-benar mencintaiku, Val… kukira, kamu dulu benar-benar mencintaiku…”

I do, Chan… I do…” suaraku seperti berasal dari liang yang dalam. Itu adalah tanggapan paling bodoh yang bisa kuberikan, mengapa aku bisa berpikir Chandra akan percaya dengan ucapanku setelah apa yang baru saja diketahuinya?

Chandra menggeleng lemah. “Kamu tak tahu apapun tentang Cinta. Bye, Val.” Chandra mengelap lelehan darah dari hidungnya dengan punggung tangan lalu berbalik. Rasanya aku sempat melihat setes air meluncur dari matanya.

Hatiku perih.

Inilah karma yang sebenarnya bagiku.

*

Rasanya perutku mual. Menyaksikan bagaimana aku membuka diriku untuk Fahri yang langsung menyerang membabi buta bagian belakangku yang terekam jelas dalam CD keparat ini membuat perutku bergolak. Rekaman itu adalah babak perselingkuhanku dengan Fahri yang keenam, yang terlama dan terjalang dari keseluruhan tujuh babak yang pernah terjadi. Dari arahnya, aku bisa memastikan kalau kamera tersembunyi yang maha sialan itu diletakkan Fahri di atas buffet di samping kanan tempat tidurnya, tidak diragukan lagi pasti sedikit di belakang badan lampu tidurnya. Aku sangat hapal keadaan kamar Fahri bahkan sejak pertama kali memasukinya. Seharusnya aku menyadari sejak awal bahwa Fahri tidak mungkin punya sifat pemaaf, ini adalah pembalasan dendamnya, pelampiasan sakit hatinya padaku, pada Chandra juga mungkin. Kubayangkan saat ini Fahri jahanam itu sedang tertawa-tawa senang.

Kukeluarkan CD pembawa malapetaka itu dari CD room laptopku. Dengan penuh kesal kupatahkan dalam banyak bagian lalu kubaling ke lantai untuk selanjutnya kuinjak-injak. Fahri kurang ajar, kusumpahi anunya panuan.

Aku tak mungkin bisa puas memaki-maki Fahri lewat telepon. Jadi aku mengumpulkan kepingan CD dari lantai dan menjejalinya ke tempat sampah di sudut ruang praktikku. Selanjutnya aku segera keluar menuju parkiran, tidak lama kemudian mobilku sudah kukebut di jalanan Jakarta yang sialannya hanya mampu lima puluh kilometer perjam. Kebut apanya? Nenek-nenek langganan gigi palsu bisa menyetir lebih kencang dari itu di luar Jakarta.

*

“Kau pikir aku bisa lupa begitu saja penolakanmu kala itu, Val?” Fahri tertawa besar sampai harus memegangi perutnya sementara aku menahan didihan amarahku di dekat dudukan tivinya. Bajingan tengik ini sedang enak-enakan nonton HBO ketika aku mendobrak masuk rumahnya dan langsung memaki-maki dengan kalimat yang didominasi nama-nama satwa KBS. “Oke, memang aku sempat lupa sesaat, tapi ketika kita tak sengaja bertemu di tempat fitness hari itu, aku kembali ingat. Dan menemukan kau yang takluk pada diriku yang sekarang, akhirnya aku punya peluang untuk membalasmu.”

“Kau memang badak gak punya belas kasih, Fahri sialan!”

Yang menyebalkannya, sebengis apapun aku berucap dan mengata-ngatainya, tetap saja tampak lucu bagi Fahri hingga bukannya terintimidasi atau setidaknya meladeniku dengan serius, bedebah ini malah kian tertawa keras.

“Ya ampun, kau tak tahu betapa aku bahagia saat ini, Val.” Tertawa lagi, “Bagaimana ya kira-kira wajah Chandra saat menonton video itu? bagaimana ekspresinya ketika melihat kekasih yang biasa dimasuki olehnya sedang dimasuki penisku…”

“Tutup mulutmu, Sialan!”

Tapi ia malah membuka mulutnya kian lebar, memperdengarkan tawa besar lagi tentunya. “Aku pernah bilang padanya kalau punyaku lebih besar darinya, kurasa dia tak hanya marah karena kekasihnya berhasil kugagahi tapi juga marah karena mendapati bahwa punyaku memang lebih besar darinya…”

“Punya Chandra jauh lebih besar di atasmu!” ya ampun, apa ini? Kenapa aku malah ikut-ikutan bangsat ini ngomongin ukuran?

“Oh ya?” Fahri tertawa, “Kenapa aku tidak percaya ya?”

“Karena kamu bajingannya.”

“Ah, Anval… betapa pembalasan sakit hati itu sangat menyenangkan.” Fahri merentangkan kedua tangan, sampai saat ini ia masih duduk di sofanya. “Jujur sajalah, kau sendiri pasti menikmati ketika kita bercinta.”

“Aku menyesal pernah menikmatinya.”

“Oh, akuilah siapa dirimu sebenarnya Anval. Tak perlu munafik di depanku. Apa kau yakin pernah benar-benar mencintai Chandra? Kau ini sama seperti kebanyakan kita, hamba seks!”

“DIAM!” kalimat Chandra tentang aku yang sama sekali tidak mengerti apa itu cinta kembali terngiang. Mungkin Chandra memang benar, dan Fahri juga benar. Aku hanya ingin seks saja.

“Pulanglah, Val. Aku sudah selesai denganmu. Mungkin dulu aku pernah punya perasaan padamu, tapi sekarang tidak. Tidak satu kali pun saat kita bercinta perasaan itu terlibat.” Fahri menyeringai. “Aku puas. Sekali gerak, aku bisa menikmatimu dan sekaligus bisa menghancurkan Chandra.” Kini ia kembali tertawa.

Apa lagi yang bisa kulakukan? “You’re asshole! YOU ARE AN ASSHOLE!!!” aku bersiap balik badan menuju pintu.

Tentu saja Fahri menanggapinya dengan tawa lebih dulu. “Omong-omong, Val, kalau kau masih ingin menikmati isi celanaku, datang saja kapanpun.”

Masih setengah berbalik aku menyumpahinya. “Semoga isi celanamu kurapan!”

“Ah ya, kalau kau mau mengoleksi video panas kita, aku akan membaginya dengan sukarela. Kau bisa menontonnya saat senggang!” tawa Fahri yang ini paling keras dibandingkan yang sudah-sudah.

Darahku menggelegak. Meninju Fahri mungkin tak ada artinya. Maka aku memilih aksi lain. Sambil mengatupkan rahang rapat-rapat, aku berbalik lagi dan langsung menuju tivi layar pipihnya yang super besar. Kakiku bergerak dan tivi mahal itu jatuh dari dudukannya, menghantam perangkat sound system megah di sebelah kanan sebelum selanjutnya menghantam lantai dengan begitu telaknya.

KRAAAKKK

Upss, sepertinya ada yang patah.

Fahri histeris, terlonjak dari kursi dan kini berdiri dengan kedua tangan mencengkeram kepala, frustrasi. “APA YANG KAU LAKUKAN!?”

“Improvisasi,” jawabku singkat lalu bergerak ke pintu meninggalkan Fahri yang mulai mengeluarkan sumpah serapah sambil memeriksa tivi dan sound systemnya yang sudah barang tentu tak bisa menyala lagi.

“KREDITANNYA MASIH ENAM BULAN LAGI, ANVAL SIALAN!”

Aku tertawa mendengar teriakan Fahri dari dalam rumah. Memalukan, manajer resto beli home theater secara kredit. Kubuka pintu mobil dan segera melaju pergi.

***

Hubunganku dengan Chandra sudah resmi berakhir. Sudah dua minggu ini kami tinggal di tempat masing-masing. Aku di apartemenku yang mendadak terasa lebih luas, dan Chandra di rumahnya sendiri. Chandra mengganti nomor hapenya, mereinstall aplikasi BBMnya serta pasti sudah mengganti kunci pintu rumahnya. Yang terakhir ini tentu saja aku yakin pasti dilakukannya dalam tiga atau empat hari ke belakang meski aku belum punya bukti. Jika Chandra mengganti nomor hape, menginstall BBM baru maka sudah pasti ia juga mengganti kuncinya mengingat aku memegang kunci duplikat pintu depannya selama ini. Tapi aku tak akan pernah mengganti nomor hapeku, tidak akan menginstall ulang BBMku apalagi mengganti kenop pintu baru. Tentu saja tidak, karena aku yang berada di pihak yang bersalah. Karena bukan aku yang hendak pergi dari seseorang tetapi seseorang itu yang ingin memastikan kalau aku tidak akan masuk kehidupannya lagi.

Aku sama sekali tak punya akses lagi pada Chandra. Untuk menemuinya langsung, entahlah… aku merasa tak punya muka.

Hari ini Sabtu. Aku termangu di apartemenku. Chandra tentu langsung mengambil barang-barangnya setelah perkelahian di ruang praktikku. Tak ada jejak Chandra yang tersisa. Malam itu ketika aku pulang ke apartemen setelah dari tempat Fahri lalu melongok ke dalam keranjang cucian kotor di kamar mandi, bahkan tak ada sehelai kemeja kotor Chandra pun di dalam sana, apalagi celana dalam bernoda kusam beraroma sperma. Tak ada, Chandra mengambil semuanya.

Yang tersisa adalah dasi biru toska motif abstrak pemberianku untuknya, tergantung di kenop pintu lemariku, tidak kupindahkan hingga kini. Dasi itu tetap di sana dan kerap kupandangi lama kala bangun tidur atau saat hendak masuk ke bawah selimut saat jam tidur tiba. Chandra tak pernah suka dasi pemberianku itu, meski demikian ia sangat sering menggunakannya selama ini meski harus kupaksa dulu di beberapa kesempatan, ia bersedia menggunakannya untuk menyenangkanku. Chandra yang membawa semua barang-barang lain miliknya sendiri dan meninggalkan dasi pemberianku itu tergantung di pintu lemari, seperti simbolisasi bahwa ia tak mau membawa secuil pun diriku bersamanya lagi.

Sekarang aku memandang kardus besar yang diantar petugas pengiriman barang tujuh hari lalu. Di bilah alamat tujuan, nama penerima tertulis ‘Yth, Drg. IMRAN ANVAL SIDDIQI’ dan emo senyum terbalik sesudahnya, ditulis demikian jelas dengan boardmaker warna biru. Entah apa maksud emo itu, aku lebih suka Chandra memberiku emo gambar jari tengah, paling tidak bisa mengurangi rasa bersalahku padanya. Menunggu aku yang tak kunjung datang mengambil barang-barangku di rumahnya seperti yang ia lakukan di apartemenku, mungkin karena itulah ia berinisiatif mengirim langsung kardus itu tujuh hari lalu dengan servis biaya pengiriman dibebankan kepada penerima. Perfect, aku sudah benar-benar terdepak dari hidup Chandra. Maka itu aku yakin kalau sekarang—setelah memulangkan barang-barangku—Chandra sudah mengganti kunci pintunya, agar aku tak bisa memasuki rumahnya lagi, agar aku tak punya alasan apapun untuk ke sana, alasan semisal hendak mengambil barangku seperti ia yang mengambil barangnya dari apartemenku.

“Kamu bodoh, Val!”

Itu kata Rais ketika ia datang ke apartemenku menjelang petang dengan kabar kehamilan Naila—yang kuterima dengan memberinya pelukan dan tepukan bahu dibarengi ucapan ‘Congratulation, penismu berfungsi, Lilbro. Rais tidak segera pulang, dan malam ini kami melajang bersama di balkon apartemenku, memandang cakrawala malam kota Jakarta. Sepertinya Rais memang sudah merencanakan agenda ini, terbukti di tangan kami masing-masing sekarang tergenggam sebotol bir semntara dua botol berikutnya menanti di meja balkon. Rais yang membawa botol-botol itu masuk bersamanya ketika aku membukakan pintu untuknya petang tadi. Tapi saat ini kami belum mabuk, botol di tangan baru kosong setengahnya saja. Dan Rais baru saja mengatakan aku bodoh.

“Bilang saja, aku tak akan marah. Nyatanya memang aku bodoh.”

“Mengapa sih kamu harus mengkhianati Chandra? Kamu tak pernah mengeluh kelemahan ejakulasinya padaku. Apa sih sebenarnya yang dicari seorang maho pada seorang pria? Chandra ganteng iya, bodinya macho iya, mapan iya. Kalau wanita nih ya, tiga kriteria itu aja udah ada pada pasangannya pasti berujung buku nikah. Tapi aku gak ngerti sama kalian… tepatnya, aku gak ngerti sama kamu.”

Pengaruh alkohol sepertinya mulai terasa padaku. Aku tertawa mendengar ucapan panjang Rais. “Kamu tahu kalimat yang sedang ngetrend di kaum alay saat ini?”

“Masbulo?”

“Karena kamu gak tahu gimana rasanya jadi aku.”

Rais bekakakan.

Aku mendekatkan mulut botol ke mulutku dan meneguk isinya. “Jadi, apa rencanamu dengan Naila?”

Kutanya begitu, Rais meneguk isi botolnya sampai habis. Matanya terpejam beberapa saat, menikmati aliran alkohol di saluran cernanya. “Ahh…” Ia kembali membuka mata dan menggeleng-gelengkan kepala dalam gerakan cepat. “Ada saran?”

“Kamu menanyakan saran pada bajingan macamku? Apa yang membuatmu yakin aku tak akan memberikan saran menyesatkan?”

Rais tertawa, “Kamu memang bajingan, tapi kamu masih kakakku.”

“Seingatku, ayahku tidak menikah dengan ibumu.”

“Oh come on, Val… katakan saja apa yang harus kuperbuat.”

Aku berpindah dari tempatku menyandar di rangka balkon menuju kursi, kuhempaskan bokongku di sana. Rais mengikutiku dengan pandangan, sepertinya ia masih betah berpagutan dengan tepi balkonku. “Saranku cuma satu, Raisa…”

“Sekarang aku tersadar cinta yaaang kutung…”

“Jangan sekarang, Rai!” aku membuatnya batal menyelesaikan konser.

“Oke ,oke, oke…”

“Untuk membuat hidupmu baik-baik saja, kamu cuma perlu menjaga apa yang telah kamu punyai sekarang dan berhenti melakukan kesalahan yang sama lagi dan lagi.”

“Itu dua saran.”

Aku merenung sebentar lalu dalam hati membenarkan ucapan Rais, “Ya baiklah, dua saran.”

“Dan dua-duanya lebih cocok kamu sarankan untuk dirimu sendiri, Val.”

Aku merenung lagi lalu mengakui kalau Rais memang benar. “Baiklah, anggap saja aku baru mensugesti diri sendiri. Namun, kamu yang menghamili Naila tetap juga berupa kesalahan.”

“Kesalahan yang baru satu kali.”

“Dan akan menjadi berkali-kali jika kamu memilih meninggalkannya atau menyuruhnya aborsi.”

“Kalau aku tak boleh menyuruhnya aborsi juga tidak boleh meninggalkannya, lantas apa yang harus kulakukan?”

Sepertinya alkohol sudah menumpulkan otak Rais. “Nikahi dia, Bodoh!” seruku keras.

“Oke, kalau kamu memaksa.”

“Setan, siapa yang memaksa?”

Rais tertawa lalu sedikit sempoyongan menuju kursi kosong di sebelah kiriku, ia mengambil sisa satu lagi botol miliknya, membuka tutupnya dengan gigi dan langsung meneguk seperempat isinya. “Sepertinya aku harus menginap…”

“Aku punya dua kamar…”

“Tapi aku takut saat aku tidur kamu akan menelanjangiku.”

“Mungkin aku hanya akan membuka kancing celanamu saja.”

Rais tertawa, “Serius, Val, aku terlalu pusing untuk mengemudi.”

“Ya sudah, menginap saja.”

“Apa jaminannya kamu gak akan membuatku khilaf?”

Kesal, kujambak rambut depan Rais sampai kepalanya merunduk, ia tertawa saja lalu minum lagi. “Pulang sana!” Rais tidak menanggapiku, ia sedang mengosongkan botol keduanya. “Ya ampun, Rai. Kamu benar-benar parah.”

“Aku sedang reunian sama alkohol.” Lalu kepalanya tergolek ke sandaran kursi.

Kulirik jam di pergelangan Rais, empat puluh menit melewati angka sepuluh. “Kamu serius mau menginap?”

“Kamu ingin aku mampus di jalan kalau nekat motor dalam keadaan teler begini?”

“Ya sudah, kamu tidur di kamar satunya.” Aku bermaksud langsung melewati pintu balkon untuk ke kamarku ketika kudengar suara gaduh di belakangku. Aku berbalik dan kulihat kursi Rais sudah terjungkal sementara yang punya kursi sedang berusaha bangun dari lantai. Aku terpingkal keras. “Sini, biar kubantu.”

Terhuyung-huyung aku masuk ke kamar dengan memapah Rais. Badannya lumayan berat, bisa kuwalahan bila aku membawanya ke kamar satunya. Kuputuskan biar Rais yang memakai kamarku dan aku yang pindah. Begitu sampai di tepi ranjang, kudorong badan Rais hingga ia terhempas di atas ranjang.

“Kamu ingin membunuhku, Val?” Rais meracau.

“Kalau mau, mengapa aku harus repot-repot memapahmu kemari jika aku bisa melemparmu dari balkon tadi, Goblok.” Kuangkat kaki Rais ke atas tempat tidur sampai posisinya nyaman. “Kamu di sini saja, lihat betapa baiknya aku ngasih kamar tidurku untukmu.”

Rais menggumam tak jelas. “Kamu tak mau tidur denganku?”

“Aku takut kamu khilaf.”

Rais terbahak, “Padahal itu yang kamu tunggu, nunggu aku khilaf.”

“Oh Bocah, kamu sudah sering khilaf. Itu Naila adalah korban nyata kekhilafanmu.”

Rais mendadak diam. Matanya menerawang. Ketika semenit kemudian ia masih belum bersuara sedang matanya tetap terbuka, aku cemas dan menepuk pipinya. “Hei.”

“Aku tak siap menikah, Val… rasanya aku tak siap.” Rais memandangku.

Aku menghela napas, “Saat ini kamu sedang mabuk, ketika esok kepalamu sudah jernih, kamu bisa berpikir dengan baik.”

“Membayangkan aku harus bertanggung jawab atas hidup orang lain bersamaku membuatku takut, selama ini aku bahkan tak bisa bertanggung jawab atas diriku sendiri…”

“Hei, kamu ini seorang lelaki, oke!”

Mata Rais berkedip-kedip memandangku. Sepertinya ia kaget dengan bentakanku barusan.

“Entahlah, Rai… aku hanya tidak ingin kamu melakukan kebodohan lain yang akan merusak hidupmu lebih parah lagi. Aku sudah begitu sekarang. Aku tak mau melihatmu begitu pula, kamu masih punya kesempatan memperbaikinya, dengan bertanggung jawab atas kebodohan yang sudah kadung kamu lakukan. Jangan lari dan jangan meneruskan kebodohan itu dengan kebodohan lainnya yang lebih buruk…” aku tak bisa memastikan apa Rais bisa mencerna kalimat panjangku dengan kepala teler begitu, tapi melihat ia yang termenung masih menatapku, aku sedikit yakin ia masih punya sisa-sisa kesadarannya.

“Yah, kamu bener, Val,” ujar Rais akhirnya. Lalu ia bergeser ke sisi lain ranjang. “Kalau kamu tidak memancing, aku yakin diriku gak akan khilaf.” Sekarang ia sudah menelungkup di sisi ranjang yang biasa ditempati Chandra.

Aku menghela napas berat, bagaimana caranya aku bisa menghapus bayangan Chandra dalam kepalaku? Haruskah aku bernyanyi lagu Geisha agar ingatanku lumpuh beneran? Bahkan Momo yang rajin menyanyikannya saja tak kunjung ingatannya lumpuh juga. “Aku tidur di kamar lain saja, Rai. Selamat malam.”

“Hemm…”

Kutinggalkan rais yang mulai mendengkur halus.

***

Sebulan kemudian di resepsi Rais dan Naila…

“Sepertinya dia gak datang.”

“Hemm, aku sudah menduga, dia memang tak mungkin datang.”

“Hei, kamu baik-baik saja?”

“Aku kangen dia, Rai…” tawa pendek keluar dari mulutku. “Konyol ya, aku menyakitinya teramat sangat lalu sekarang berharap dia mau datang lagi padaku.” Kuteguk minumku, “Aku mengangankan hal mustahil.”

“Aku yakin Chandra masih memikirkanmu, Val.”

Aku mengangkat bahu, “Kamu yakin undanganmu diterima Chandra?”

“Aku dan Naila menitipkannya pada sekretarisnya.”

Aku diam, menatap gerbang masuk gedung resepsi, berharap melihat sosok Chandra, namun nihil. Sekarang sudah terlalu telat untuk memenuhi undangan acara resepsi, sudah pukul tiga. Walau undangan itu beneran sampai ke tangannya, Chandra tak mungkin datang. Ia tak mau datang pasti karena ada aku di sini.

“Mengapa tidak kamu saja yang mendatanginya?”

“Aku terlalu bajingan untuk menemuinya lebih dulu.”

“Rai…!” Aku dan Rais sama-sama menoleh, di depan pelaminan, Naila melambai pada kami. “Ajak Mas Anval berfoto.”

Rais mengangkat jempolnya pada Naila lalu memandangku. “Ayo, sudah saatnya kamu berhenti mengawasi gerbang.” Rais memperbaiki dasi kupu-kupunya, merapikan jas pengantinnya yang berwarna putih bersih lalu mendahuluiku berjalan kembali ke arah pelaminan.

Aku menoleh gerbang sekali lagi, menghembuskan napas putus asa lalu meninggalkan pilar gedung resepsi yang sudah menjadi tempat bersandarku sejak beberapa jam lalu. Mungkin sudah saatnya aku mengucap talak tiga dengan masa laluku bersama Chandra. Orang sebaik Chandra pasti sudah menemukan orang lain yang lebih baik dariku. Ia lebih dari pantas untuk bahagia dengan Anval lainnya di luar sana selain Anval yang bajingan ini.

***

EPILOGUE

“MAS ANVAAALLL…!”

Aku nyaris menjatuhkan botol selai yang baru saja kuambil dari rak ketika kudengar suara Naila berteriak memanggil di belakangku. Kutemukan Naila sudah tidak lagi meneliti daftar belanjaan, tetapi sedang terbungkuk memegangi perut besarnya. “Ya ampun, Dik. Apa sekarang saatnya?” aku panik dan langsung menghampiri Naila, botol selai entah kulempar ke mana. Troli juga terlupakan.

Megap-megap, Naila mengangguk. “Sepertinya iya. Kontraksinya kuat banget ini.”

Damn…”

“Jangan menyumpah!” sembur Naila padaku lalu lanjut megap-megap.

Sepertinya keputusanku untuk menggantikan Rais berbelanja kebutuhan rumah hari ini bersama Naila adalah salah total. Harusnya aku yang tinggal di apartemen untuk beres-beres, cuci piring, menyedot debu di karpet, mengepel lantai, menyikat kamar mandi, dan lain sebagainya, sedang Rais yang menemani istrinya belanja. Namun aku malah tukar agenda dengan Rais karena merasa tinggal di apartemen untuk beres-beres lebih melelahkan ketimbang belanja. Dan sekarang aku kelabakan sendiri.

“Apa kita harus ke rumah sakit?” tanyaku dengan tampang bego.

Di sela megap-megapnya, Naila melotot padaku. “Mas mau aku melahirkan di swalayan?”

“Iya iya, ayo ke rumah sakit.”

Aku mulai menuntun Naila sambil berteriak-teriak menyuruh siapapun minggir, sedang Naila terus meniup-niup udara tak karuan dengan satu tangan memegang perut.

“Minggir, wanita hamil ingin lewat… beri jalan, beri jalan, jangan halangi perutnya!” begitu seruku terus-terusan ketika menuju lift untuk ke basement.

Kepanikan mendadak melanda pengunjung swalayan yang kupapasi saat menuju lift untuk turun ke parkiran. Mereka ikut-ikutan mengekor di belakangku dan Naila, kebayakan ibu-ibu.

“Cepetan, Mas… itu istrinya sudah kebelet!”

“Yang keberapa ini, Mas?”

“Wah, selamat Mas…”

Aku frustrasi, Naila speechless. Bahkan para ibu-ibu itu ikut masuk ke lift sampai pintu lift tak mau menutup lagi. Semua orang di dalam lift saling pandang ketika bunyi tit tit tit pertanda lift kelebihan beban berbunyi nyaring.

“KELUAR SEMUANYAAAA…!!!” salut besar buat Naila. Ia nekat berteriak ketika tak seorang pun bersedia keluar untuk mengurangi beban. “Huft… huft… huft…!”

Begitu Naila selesai berteriak, ibu-ibu kurang kerjaan itu berhamburan keluar lift. Aku melambaikan tangan pada mereka sebelum pintu lift menutup. Naila yang terus mengaduh membuatku makin panik, aku tak tahu harus bagaimana, akhirnya kubantu ia mengelus-elus perutnya. Tapi bukannya merasa lebih baik, Naila malah mulai menangis. Aku buntu, seumur hidup belum pernah berhadapan dengan kejadian seperti ini.

Pintu lift terbuka, lorong menuju parkiran terlihat sepi. Buru-buru kupapah Naila menuju lantai parkir. Sial, kalau tahu bakal seperti ini kejadiannya pasti aku memilih tempat parkir yang lebih dekat. Tertatih-tatih sambil memegangi Naila, aku melewati deretan panjang mobil-mobil menuju posisi parkirku. Seseorang tiba-tiba saja keluar dari celah dua mobil yang diparkir bersisian, nyaris saja menabrakku dan Naila. Mataku membeliak besar.

“CHANDRA!” sejenak, aku hampir melepas peganganku pada Naila dan melompat memeluk sosok yang hampir kutabrak, ia sungguh Chandra. Aku akan langsung mengenalinya dimanapun, meski kini wajahnya sedikit berbeda dengan brewok tipis di pinggir rahangnya.

Chandra tertegun, jelas sekali kulihat matanya membundar. Chandra diam, aku juga diam. Semenit berlalu dengan mata kami yang saling bertatap. Semua kata, semua maaf yang ingin kuteriakkan timbul tenggelam di kepalaku bersama kenangan lalu yang pernah terjadi antara aku dan Chandra. Ya Tuhan, betapa aku ingin mengiba maaf di kakinya, meski kulakukan, aku tak yakin dosaku padanya terampuni. Sakit hati dan kekecewaan yang kuberikan buat pria ini terlalu parah. Ia yang tak lari menghindar ketika bertemu aku adalah hal yang patut kusyukuri. Chandra sangat pantas untuk langsung pergi, tapi ia tidak melakukannya, ia berdiri menatapku.

“Mas Anval, cepetan!”

Aku baru sadar kembali pada situasi darurat yang sedang terjadi ketika Naila dengan keras menarik lenganku. Kulihat Chandra memperhatikan Naila, apa ia masih ingat dengan Naila ya? “Ini Naila, istrinya Rais,” ujarku memberitahu meski Chandra sama sekali tidak menyuarakan tanya. Entah atas dasar apa, rasanya terlalu bodoh jika aku memberitahu Chandra dengan maksud agar ia tidak salah mengira Naila sebagai istriku. Apa pentingnya Chandra tahu? ia tak akan tertarik lagi.

“Ehem, biar aku yang menyetir.”

Mulutku menganga mendengar kalimat pertama Chandra.

“Mobilku di dekat sini.”

Tanpa menunggu jawaban, Chandra langsung berbalik menuju mobilnya. Kutuntun Naila mengekor di belakang Chandra. Sekarang konsentrasiku tidak sepenuhnya pada kondisi Naila lagi, lebih banyak malah terpusat pada sosok Chandra. Berapa lama aku tak melihatnya? Sepuluh bulan? Sebelas bulan?

Mobil Chandra masih se-clasic yang dulu, belum berganti. Tanpa bersuara ia membuka pintu jok belakang dan lalu ikut membantu Naila masuk. Kepalaku dan kepala Chandra nyaris bebrbenturan ketika kami sama-sama menunduk untuk menolong istri Rais itu.

“Biar aku saja,” ujarku dan Chandra mengalah. Setelah Naila duduk di jok yang terlihat tidak cukup luas untuk perut besarnya, aku berbalik memandang Chandra dalam bingung. “Emm, Chan… aku gak kuat sama situasi begini, aku bisa pingsan jika dia sampai berdarah dalam perjalanan.”

“Aaaa… ketubanku pecah!”

Dan perutku langsung mual ketika dari dalam mobil Naila berteriak kencang. Chandra mengernyit melihat aku yang membekap mulut. Lalu ia menyodorkan kunci padaku. “Padahal yang dokter bukan aku,” ujarnya datar lalu masuk bersama Naila di jok belakang.

Aku diam tak menanggapi. Fakta bahwa Chandra masih terlalu memaklumiku membuatku makin berani berharap. Ia bisa saja menolak dan mengatakan kalau Naila bukan tanggung jawabnya lalu langsung menempati jok kemudi, toh ia sudah cukup baik mau membantu, tapi ia tak begitu, ia memilih menempati posisi sulit dan memberiku posisi yang lebih nyaman menurutku dalam situasi seperti ini sebagai pengemudi. Betapa baiknya makhluk Tuhan ini.

Ketika aku sudah masuk di balik kemudi dan mulai menstarter mesin, kudengar Chandra menggumam, terlalu keras untuk bisa kudengar.

“Dokter kok takut sama darah…”

Aku berbalik padanya, “Aku dokter gigi, okey! Tak ada kasus perdarahan pervaginam atau ketuban pecah dini dalam praktikku…”

“JALAN BURUAAANNN! SAKIT INI, TAUK!”

“Rasain,” cetus Chandra menyambung hardikan Naila padaku.

Aku mendengus dan mulai menekan pedal gas. Selanjutnya, yang terjadi adalah kenangan yang tak akan kulupa seumur hidupku : aku mengebut kencang bagai di film action kejar-kejaran mobil dilatarbelakangi jeritan Naila dan Chandra yang sibuk berujar ‘tarik napas’ sambil mencengkeram bagian bawah baju hamil Naila. Ketika tiba di rumah sakit, kutemukan sebelah lengan Chandra nyaris memar akibat digenggam terlalu kuat oleh Naila saat kontraksinya datang bertubi-tubi. Aku tak bisa untuk tidak mengagumi Chandra atas apa yang ia lakukan hari ini.

*

AKU duduk bersisian dengan Chandra di kursi tunggu ruang bersalin yang sepi, tak ada orang lain yang menunggu selain aku dan Chandra. Kukira Chandra akan langsung pergi setelah Naila diambil alih pihak unit gawat darurat saat kami tiba tadi, ternyata ia ikut hingga ke sini, dan masih di sini. Rais tiba setengah jam lalu dan kini sudah menemani istrinya di dalam sana. Jika aku jadi Rais, sudah dipastikan aku tak akan mampu bertahan semenit saja di ruang bongkar mesin itu.

Ditinggal berdua di kursi tunggu, aku tak berani mengajak Chandra ngobrol. Padahal amat sangat banyak kalimat yang ingin kuucapkan padanya saat ini. Di sampingku, Chandra duduk tenang, sedikit menunduk dengan kedua lengan terlipat di dada. Sesekali ia menggaruk rahangnya. Aku menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan Chandra saat ini. Dan aku segera tahu apa yang ia pikirkan ketika ia membuka percakapan.

“Apa kabarnya Fahri?”

Sekalinya bertanya setelah diam hampir satu jam lamanya, mengapa Chandra harus mengajukanku pertanyaan demikian? Kursi yang kududuki mendadak panas, aku bergerak-gerak gelisah.

“Sejak kapan kamu ambeien? Hebat benar ya Fahri, aku yang dua tahun gak bisa mengakibatkan begitu, sedang dia yang masih hitungan bulan langsung berhasil…”

“Aku gak sama Fahri sejak malam itu.” Chandra tentu tahu malam yang kumaksud adalah malam perkelahian di ruang praktikku.

“Wah, aku kaget.”

Jelas sekali kalau Chandra bergaya dibuat-buat. “Bagaimana kabarmu?” aku mengalihkan topik.

“Kabarku? Sejauh ini belum dikhianati untuk kedua kalinya.”

Aku shock mendengar jawaban Chandra. Belum dikhianati untuk kedua kalinya, apa sekarang ia sedang menjalin hubungan dengan seseorang? Rasanya aku ingin menangis. Tapi apa hakku atas Chandra lagi kini, ia bebas punya hubungan dengan siapapun. “Emm… kamu sudah menemukan seseorang lain?”

“Menurutmu?”

Aku menelan liur. Menurutku iya.

“Apa aku tak pantas bahagia, Val?” Chandra memutar badan hingga sekarang kami berhadapan. “Jawab Aku, Val. Apa aku tak pantas bahagia?” Chandra mengulang pertanyaan ketika aku hanya diam.

“Chan, ak..aku…”

“Kamu jahat, Val. Amat jahat.” Chandra menyentuh daguku dengan satu tangannya. Aku kaku di kursiku, sama sekali tak menduga aksi Chandra. “Bahkan ketika kamu sudah begitu jelasnya mengkhianatiku, kenanganmu di sini…” dengan tangan yang lain ia menyentuh dadanya, “…masih menyiksaku setiap aku terjaga hingga aku tak bisa lepas.” Jemari Chandra naik ke bibirku. “Kamu jahat, Val, amat jahat.”

Mataku berkaca. Kuberanikan diri menyentuh pergelangan tangan Chandra di wajahku, kugenggam tangannya dengan kedua tanganku. “Maaf…” air mataku jatuh ke punggung tangan Chandra, “Maaf…”

“Mungkin aku memang pecinta dungu ya, Val…” Chandra tertawa pendek, tangannya yang bebas kini membingkai satu sisi wajahku. “Bahkan setelah semua yang kamu lakukan atasku, aku masih saja tak bisa membencimu…” ada jeda, aku terisak dengan punggung tangan Chandra di mulutku. “Aku menunggu-nunggu saat di mana diriku terbangun tanpa dirimu di kepalaku, tapi segala hal tentang kita masih menyertai sadarku hingga kini… aku masih mencintaimu, Val. Chan memang bodoh kan, Val?” lagi-lagi Chandra tertawa pendek sedang mataku makin banjir. Harusnya aku yang banyak berkata-kata, mengucap maaf sejuta kali, tapi malah Chandra yang bicara seakan dialah yang bersalah karena tak bisa melupakanku. Ya Tuhan, mengapa ada makhluk-Mu yang sepolos ini? “Aku yang bertahan tak mendatangimu selama ini adalah sakit yang setiap berganti hari menderaku hingga menggigil. Aku mengangankanmu setiap hari, Val, setiap hari… dan itu rasanya sakit sekali…”

“Chan… berhentilah… kumohon…” Chandra patuh, ia diam menatap mataku. Dalam buram pandanganku, kutemukan mata Chandra juga berkaca-kaca. “Maafkan aku…” sekarang aku menggigit punggung tangan Chandra untuk menahan sesengukanku.

“Jika memang resiko mencintaimu adalah rasa sakit, aku rela, Val…”

“Chan, pleaseplease…” aku menubruk Chandra, tanganku jatuh ke pangkuannya sedang kedua lengan Chandra langsung merengkuhku ke dalam peluknya.

“Beri aku kesempatan untuk merasakan sakit itu lagi, Val. Aku janji tak akan pergi seperti kemarin saat itu terjadi.”

Aku menggeleng kuat-kuat di dada Chandra. “Gak, Chan… aku yang harusnya mengemis kesempatan itu darimu…”

“Kamu gak perlu mengemis padaku, Val. Bukankah dulu segala milikku adalah kepunyaanmu juga? Kamu gak perlu mengemis, bahkan tak perlu meminta jika aku masih sanggup memberi.”

Lalu Chandra menciumku lama, mataku terpejam. Rasanya bagai mimpi. Setelah bulan-bulan yang lama, setelah usaha mati-matian untuk saling melupakan, setelah hidup bagai manusia yang tersesat di negri asing, berada di pelukan Chandra lagi rasanya bagai menemukan jalan pulang kembali.

Tangisan bayi meyeruak keluar dari pintu ruang bersalin yang mendadak terbuka, Rais muncul di pintu, masih memakai pakaian biru-biru seperti seragam pengunjung ruang ICU. “LAKI-LAKI…!!!” serunya girang pada kami lalu menutup pintu dan hilang kembali ke dalam. Sepertinya kami yang ditemukannya sedang berciuman ketika ia membuka pintu, sama sekali tidak menjadi fokus perhatian Rais. Ia terlalu euforia menjadi seorang ayah hingga luput memperhatikan detil lain di sekelilingnya.

Aku dan Chandra perpandangan. “Aku punya ponakan sekarang, apartemenku akan makin rame.”

Chandra menyeringai, dengan ibu jari ia membereskan sisa tangis di mataku. “Artinya, kita tak bisa bercinta di apartemenmu lagi, gak baik pengaruhnya buat bayi.” Chandra melirik pinggangnya.

Aku tertawa dan baru menyadari kalau kedua tanganku masih berada di pangkuan Chandra, tepat di atas bagian zippernya yang meninggi. Aku menunduk memandang tanganku lalu mendongak menatap Chandra. “Chan, can i…”

Yeah, why not?” jawab Chandra cepat.

Aku tertawa lalu dengan berani melakukan gerakan menggenggam tepat di posisi tanganku berada sejak tadi.

Chandra mengeluh samar. “Ah, Val… andai di negeri ini kita bisa mendapatkan buku nikah, aku akan mengikatmu dengan janji pernikahan, menahanmu dari kemungkinan tergoda pria lain.”

“Aku bersumpah gak akan tergoda lagi…”

“Kenapa aku gak yakin ya?” Chandra menggerak-gerakkan bola matanya kiri kanan, menggodaku. “Eh, itu ada Fahri sedang bugil…”

Kutonjok pelan dada Chandra, ia terkekeh, menangkap tanganku lalu diciumnya. Kubawa tangan kanan Chandra dan meletakkannya di atas kepalaku. Aku berdehem sebelum buka suara. “Tuhan, hari ini aku bersumpah, bahwa sampai impoten aku akan setia pada pria di depanku ini, dan bila aku ingkar, belahlah bumi di bawah kakiku agar aku ditelannya hidup-hidup.”

Chandra tersenyum dan menarik tangannya dari kepalaku, “Kamu gak cukup kenal sama Tuhan untuk mengucap sumpah, harusnya sumpahmu atas nama iblis, baru cocok!”

Kucubit perut Chandra yang masih keras seperti kuingat. “Jangan merusak suasana, aku sedang serius.”

I love you, Val… until the end of the time…”

“Terima kasih, Chan, untuk cintamu yang gak berbatas.”

Adakalanya kita harus tersesat berkali-kali terlebih dahulu untuk mengetahui mana jalan yang tepat. Adakalanya kita harus menjadi brengsek dulu untuk mendapatkan kesadaran sepenuhnya terhadap apa hal terbaik yang pernah kita miliki. Tapi jika kau tidak punya seseorang seperti Chandra yang mencintaimu dengan seluruh jiwa raganya, dan bersifat demikian pemaaf, jangan coba-coba untuk menjadi brengsek, kecuali kau sanggup hidup dengan orang yang salah selama sisa waktumu, atau bila kau yakin bisa mendapatkan yang lebih baik. Sayangnya, yang mampu lebih baik jaman sekarang amat sangat langka.

Rais tidak akan menemukan aku dan Chandra lagi di ruang tunggu jika ia keluar lagi untuk melongok, karena sudah sejak setengah jam lalu kami meninggalkan rumah sakit menuju rumah Chandra, dengan maksud dan tujuan yang sudah sangat jelas : untuk membuat ranjang di kamar Chandra bergoyang hebat. Setelah sepuluh bulan lebih, sepertinya malam ini kamar Chandra akan banjir parah. Kalian mengerti maksudku? Oh ya, tentu kalian mengerti.

So, am I a lucky G? yes, I am the lucky G.

Yihaaa…!!!

Mid Maret 2014

di kamar jelek di negeri antah berantah

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com