Oleh : Zaenuddin Bangun Setiawan

Namaku Arjuno Banyu. Orang-orang  biasa memanggil Juno. Aku lahir di sebuah kota kecil di pesisir pantai selatan. Hari  Sabtu tanggal 08 Juli 1989. Kata orang-orang aku ini tampan. Memiliki perawakan tinggi tegap, warna kulit kuning langsat yang bersih, rambut hitam yang bergelombang, hidung yang mancung, gigi yang putih nan rapi, dan lesung pipi di sebelah kiri yang mampu membuat histeris abg-abg labil. Selain tampang yang rupawan, aku juga memiliki otak yang encer. terbukti aku selalu menjadi juara kelas bahkan beberapa kali menjadi juara umum di sekolah dan mewakili sekolah dalam ajang olimpiade. Di balik kesempurnaan yang Tuhan anugerahkan, aku juga manusia biasa yang tentu memiliki kekurangan. Kekurangan yang paling menonjol adalah sifat sombong, egois dan mudah emosi.  Akan tetapi semua itu telah berlalu. Jum’at malam tanggal 05 September 2003, tepat di 14 tahun 59 hari umurku, waktu dipaksa berhenti. Aku tidak bertumbuh lagi. Bukan hanya fisik yang tidak bertumbuh, akan tetapi umurpun tidak bertumbuh. Aku dibunuh. Nyawaku direnggut paksa dari jasadku.

Arif Setyono, dialah pelakunya. Dia adalah Bapak tiriku. Menikah dengan Ibu tahun 1998, satu setengah tahun setelah Ayah meninggal. Ayah terseret gelombang ketika menjaring ikan di laut. Sebenarnya, baik aku maupun Ibu tidak pernah benar-benar tahu apakah Ayah sudah meninggal atau masih hidup karena jasadnya sampai saat inipun belum ditemukan. Bapak lebih muda 5 tahun dari umur Ibu. Dia adalah duda tanpa anak. Isterinya pergi menjadi TKW ke Saudi tanpa pernah kembali. Ada kabar yang mengatakan bahwa isteri Bapak menjadi korban perdagangan manusia. Bapak orangnya baik, dulu dia adalah guru mengaji di kampung. Akan tetapi setelah kepergian isterinya tersebut, Bapak merantau ke Jakarta. Bapak menjadi guru mengaji lagi setelah menikah dengan ibu. Dari 1998 sampai Jum’at sore 05 September 2003, keluarga kami hidup rukun bahagia layaknya sebuah keluarga cemara. Bapak bisa mengisi posisi kosong Ayah yang hilang di keluarga kami. Dia seorang yang bertanggung jawab dan penyayang. Dia adalah imam keluarga yang sempurna. Sayangnya anggapan itu pupus.

Jum’at malam, 05 September 2003, ketika Ibu menjenguk Nenek yang sakit, Bapak menampakan sikap aslinya. Dia menunjukan siapa dia sebenarnya kepadaku. Malam itu aku diajaknya memasang jaring ikan di laut. Aku sempat berfirasat buruk karena malam itu langit mendung. Dan kecemasan itupun terjadi, hujan deras datang ketika kami sampai di tengah laut. Tanpa diduga, Bapak mendorongku hingga aku tercebur. Aku mencoba menyelamatkan diri akan tetapi Bapak memukul-mukul kepalaku hingga berdarah. Akupun tak sadarkan diri. Ketika aku terbangun, aku dan Bapak sudah dalam keadaan tanpa busana sama sekali, kaki dan tanganku sudah terikat kencang, mulutku  disumpal dengan selempaknya. Kemaluanku dikocok-kocok olehnya. Aku menjerit, meronta sekuat tenaga, berteriak walau suaraku tertahan selempak. Bapak semakin liar, aku ketakutan. Setelah aku mencapai klimaks, bapak menyodomiku. Aku menjerit lagi, meronta lagi sekuat tenaga, berteriak lagi walau suaraku tetap tertahan selempak. Bapak semakin liar, aku semakin ketakutan. Duburku panas, rasanya seperti terbakar. Bapak mencapai klimaks, aku terkulai lemas. Tidak lagi menjerit, meronta maupun berteriak. Aku diam membisu dalam tangisan. Aku sangat menyesali kenapa aku terutama Ibu harus tertipu oleh tampilan luarnya yang alim. Tanpa aku sadari, tiba-tiba Bapak menggorok leherku. Darah segar menyembur dari tenggorkan, kemudian bercampur bersama air hujan menggenang di dalam perahu. Tidak cukup sampai di situ, Bapak mencongkel kedua mataku, membelah dadaku, kemudian mengambil jantung, hati serta ginjalku. Memotong dan menguliti paha kiri kananku. Sisa tubuhku yang tidak dia inginkan dicincangnya. Dibuangnya ke tengah laut. Potongan-potongan dagingku menjadi santapan lezat bagi ikan-ikan malam itu. Kepalaku yang retak dia ikat dengan besi kemudian ditenggelamkanya.  Bapak membersihkan perahunya dari noda darah, dia mengganti pakaianya, barang-barang yang dia gunakan untuk mengeksekusi nyawaku juga dibuang ke tengah laut. Sementara kedua mata, jantung, hati, ginjal dan pahaku dia bawa.

Ketika sampai di pesisir pantai, Bapak nampak menelepon seseorang. Dia tawar menawar harga. Harga kedua mata, jantung, hati, dan ginjalku. Dia akan menjual organ tubuhku kepada seseorang dengan iming-iming bonus paha sebelah kiriku. Tak lama orang itupun datang. Bapak menyerahkan organ tubuhku padanya. Sementara orang itu memberi Bapak uang dengan jumlah yang sangat besar. Orang itupun pergi, sementara Bapak duduk memandang laut di antara guyuran hujan dan deru ombak sambil memakan daging paha kananku yang masih mentah dan merah. Dia terlihat lahap sekali seperti orang yang tidak pernah memakan makanan enak kemudian memakannya. Daging paha kananku habis. Tinggal tulang saja yang tersisa. Kemudian Bapak berjalan ke laut. Kini air laut telah menenggelamkan dirinya sebatas dada. Dia membuang tulang pahaku dan kembali ke pesisir.  Dia memungut kulit kerang yang agak tajam. Menggoreskanya ke tangan dan kakinya sampai berdarah. Bapak juga merobek bajunya, membenturkan batu karang ke keningnya sampai berdarah dan lebam, dia meninju bagian-bagian tubuhnya serta bibirnya. Kini tubuh bapak seperti orang yang baru kecelakaan. Lantas dia tidur, membiarkan sebagian tubuhnya tenggelam oleh ombak yang menyapu pesisir pantai.

Pagi buta para nelayan mengerumuni Bapak. Bapak terbangun. Dia berpura-pura linglung. Lantas mereka membawanya ke rumah. Ibupun ditelepon.

Akhirnya Ibu datang. Ibu terlihat panik. Sekarang kondisi Bapak seolah-olah sudah terlihat membaik. Bapak mengarang cerita bahwa malam tadi kami digulung ombak. Bapak berhasil selamat namun aku hilang, ceritanya. Ibu menangis histeris, dia sempat tak sadarkan diri beberapa waktu. Sanak family terus berdatangan. Bahkan Nenek yang sedang sakitpun memaksakan diri untuk datang.

Setahun berlalu Ibu mulai hidup normal kembali. Ia telah mengikhlaskan kepergianku. Kepergian yang sungguh ia tidak pernah mengetahui kebenarannya. Di tahun ini pula Bapak dan Ibu pergi ke tanah suci. Ada rona bangga yang terpancar dari wajah Ibu akan suaminya tersebut. Rasa haru yang membuncah., Ibu terlihat bahagia sekali. Walau aku tahu, sebenarnya masih ada tersirat satu duka atas kepergianku.  Andai Ibu tahu kalau uang yang digunakan untuk pergi ke tanah suci tersebut adalah hasil dari penjualan organ tubuhku, apakah dia akan tetap bahagia? Aku tidak pernah menyalahkan Ibu karena aku tahu ini bukan salahnya. Semoga kelak ini menjadi tabunganku di alam kubur. Asal kalian tahu, aku memang telah mati. Ragaku telah tiada, akan tetapi ruhku masih ada di sini. Aku tersesat di dunia karena pintu alam kubur belum terbuka untuku. Aku mati sebelum waktu yang Tuhan tentukan.

Tahun 2005 setelah  dua tahun kepergianku, usaha Bapak semakin maju. Selain membangun toko dan membeli 6 hektar  tanah yang ditanami kopra di kampung, Bapak juga membeli 45 hektar perkebunan sawit yang baru berumur 2 sampai 3 tahunan di daerah Muara Wahau kabupaten Kutai Timur,  Kalimantan Timur. Harga tanah di sana lebih murah dan ini bagus untuk infestasi masa depan, kata Bapak suatu hari kepada Ibu. Kali ini bukan uang dari hasil penjualan organ dalam tubuhku yang Bapak gunakan untuk membangun toko dan membeli hektaran tanah, akan tetapi ini hasil penjualan organ anak-anak jalanan. Bapak sering pergi ke luar kota untuk berbisnis. Kadang dia membeli anak jalan tersebut dari bos mereka, kemudian Bapak akan membunuh anak tersebut bersama kawannya sesama penjagal manusia. Kadang juga Bapak menculik. Aku kira selama ini Bapak bekerja sendiri sebagai tukang jagal, ternyata tidak. Kawannya itu bukan satu dua saja, bukan hanya di Jakarta saja, akan tetapi cukup banyak dan tersebar sebagian besar di kota-kota. Sasarannya tentu anak jalanan. Bapak bukan tukang jagal biasa seperti teman-temannya itu, akan tetapi Bapak juga seorang kanibal. Itu lebih mengerikan lagi. Pasar perdagangan organ tubuh manusia sangatlah besar terutama di luar negeri. Kegiatan ini memang ilegal dan merupakan pelanggar hak asasi manusia, akan tetapi siapa yang mau tahu larangan. Hidup ini yang terenting adalah bagaimana caranya memenuhi kebutuhan jasmani. Mengenai caranya adalah nomer sekian.

Perkebunan sawit yang Bapak beli hanyalah sebagai kamuflase saja. Sebenarnya perkebunan itu adalah ladang penjagalan. Bapak sengaja mendatangkan para pekerja dari luar Kalimantan untuk mengelola kebunnya itu. Mereka yang bekerja diiming-imingi gaji besar. Mereka tak sadar dibalik tawaran gaji yang menggiurkan itu bahaya mengintai mereka. Yang bekerja di kebun bapak berumur dibawah 25 tahun. Kebanyakan mereka adalah para pemuda yang berpendidikan rendah. Selain buruh kasar, bapak juga menunjuk mandor untuk mengawasi mereka sekaligus mengeksekusi nyawa mereka. Mengantarkan mereka pada ajal yang tak pernah diduga sama sekali. Ada tiga mandor yang mengawasi 30 pekerja. Dua orang perempuan sebagi tukang masak dan mereka juga adalah para penjagal. Tiga mandor dan dua tukang masak tersebut adalah teman Bapak. Mereka satu komplotan. Tahun ini saja tercatat lima pekerja yang hilang. Mandor menjelaskan kepada pekerja lain kalau lima orang itu pulang ke kampung. Mereka pun percaya. Kemudian lima orang pekerja baru didatangkan. Semua pekerja di sini kecuali tiga mandor dan dua tukang masak bagaikan hewan kurban yang menunggu giliran untuk disembelih.

Selasa, 19 Februari 2014. Tak terasa seminggu sudah Ibu di perkebunan sawit Bapak. 9 Februari kemarin, Ibu memaksa Bapak supaya diberi izin untuk bisa ikut melihat perkebunan sawit. Awalnya Bapak menolak karena selain jauh, Ibu tengah mengandung 7 bulan di usianya yang ke 44 tahun. Bapak takut terjadi apa-apa pada Ibu dan jabang bayinya itu, akan tetapi Ibu terus memaksa. Ibu bilang ini kemauan sang jabang bayi. Bapakpun tak bisa menolak lagi. 10 Ferbruari 2014, Bapak dan Ibu pergi ke Kalimantan dengan menaiki pesawat jadwal penerbangan pagi. Hanya butuh waktu 2 jam-an dari Surabaya ke bandara Spinggan Balikpapan, Kalimantan Timur. Bapak dan Ibu sempat menginap di Balikpapan satu malam karena Bapak harus menemui temannya di kota ini. Besok harinya, 11 Februari 2014, 06.30 WITA Bapak dan Ibu melanjutkan perjalanannya menuju Muara Wahau kurang lebih memakan waktu 15 jam-an menggunakan mobil. Sepanjang perjalanan Ibu terus terjaga. Ternyata Kalimantan itu tidak sehijau yang TV tayangkan. Banyak tambang batu bara di sana sini. Akan tetapi Ibu agak sedikit terhibur setelah sampai di Muara Wahau. Hamparan kebun sawit membentang. Ibu disambut oleh para pekerja di kebun itu.

Ibu merasa bosan karena harus tinggal sendiri di lamin (rumah dayak). Dia bosan karena tidak ada yang bisa dikerjakannya. Sementara Bapak semingguan ini sibuk karena sedang panen besar. Akhirnya Ibupun memutuskan untuk berkeliling di sekitar lamin walau sebelumnya Bapak telah mewanti-wanti kalau Ibu tidak boleh ke mana-mana kecuali bersama Bapak. Sebenarnya ada satu bangunan yang membuat Ibu sangat penasaran. Bangunan itu memang tidak terlalu besar, akan tetapi bangunan itu adalah bangunan beton, tidak seperti bangunan lainnya yang terbuat dari kayu. Bangunan itu juga merupakan bangunan yang terlarang untuk dimasuki kecuali oleh Bapak dan para mandor. Ibupun mendekati bangunan itu, lalu mencoba membuka pintu besinya dengan kunci yang tadi tanpa sengaja Ibu temukan di saku celana Bapak yang ia cuci. Pintupun terbuka, udara dingin keluar dari bangunan tersebut. Ini memang bukan bangunan biasa, ini ruang pendingin. Tapi apa yang mau didinginkan di ruangan sebesar ini?  fikir Ibu. Karena Ibu penasaran, Ibupun masuk lebih dalam lagi. Alangkah terkejutnya Ibu ketika menyalakan lampu ruangan tersebut tampak dua tubuh manusia telanjang bulat yang tergantung. Kedua mayat tersebut tidak memiliki mata lagi, organ dalamnyapun telah hilang. Tiba-tiba pintu ruangan pendingin tertutup. Ibu mencoba membukanya tetapi tak bisa. Pintu itu telah dikunci dari luar. Ibu ketakutan. Pintupun terbuka, nampak sosok Bapak ada di sana. Ibupun tersenyum lega, dia memeluk Bapak. Akan tetapi bapak malah mendorong Ibu. Bapak mengacungkan sebilan belati. Dia berjongkok mendekati Ibu yang rebah di lantai kemudian dia menarik kaki Ibu. Menyayatinya. Ibu meringis kesakitan. Ibu mencoba melawan, dia menendang wajah bapak dengan kaki sebelahnya. Bapak terjatuh. Ibu bangkit kemudian lari terseret-seret. Aku ingin menolong Ibu, tetapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa menangis menyaksikannya. Sebuah panah melesat, merobek perut Ibu yang tengan hamil. Ibu menjerit kesakitan.

“Sudah kubilang kamu tidak usah ikut ke Kalimantan, bahaya. Tapi kamu yang memaksa. Jadi jangan salahkan aku jika kamu seperti sekarang ini,” teriak Bapak pada Ibu.

Ibu terus berlari terseok-seok menahan sakit sambil memegang panah yang masih menancap di perutnya. Darah segar tak berhenti keluar. Ibu terjatuh dan terjerembab ke dalam sebuah bak. Dilihatnya puluhan tengkorak manusia memenuhi bak ini. Ibu menangis semakin ketakukan. Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menolong ibu.

“Kamu tak akan bisa lari dari ini,” Bapak menemukan Ibu.

“Ampun Pak,” mohon Ibu.

“Maaf  Bu. Ibu sekarang sudah tahu tentang Bapak yang sebenarnya. Dan ini bahaya buat Bapak. Ibu ngerti kan?”

Ibu menangis. Bapak mencium kening Ibu, seraya mencabut panah yang menusuk perut Ibu. Lalu dia memegang perut Ibu lantas menempelkan telinganya di sana.

“Anak kita sudah mati, Bu.” Bapak mengangkat sebuah belati dan menusuk perut Ibu. Dalam sekali. Ibupun sekarat. Nafasnya kini berhenti, tubuhnya mulai mendingin dan kaku. Warna kulitnya perlahan memucat tetapi darahnya masih terus keluar dari perut. Ibu telah mati bersama adiku. Mati di tangan suaminya, Bapak tiriku, orang yang sama yang telah membunuhku 11 tahun yang lalu. Aku menjerit menyaksikan semua ini. Hatiku pilu. Ini sangat menyakitkan. Ingin rasanya aku mencekik Bapak, tetapi apa daya aku tak bisa. Aku memang tak berguna.

Bapak menggorok leher Ibu, lalu membuang kepala Ibu ke bak yang berisi tengkorak tadi. Kini kepala Ibu telah resmi menjadi penghuni baru bak terebut. Mata, jantung, hati dan ginjal Ibu diambil Bapak dari jasadnya. Sementara jasad Adik kecilku dan bagian tubuh Ibu yang tidak berguna di mata Bapak, Bapak jadikan makanan anjing.

 

End…

 

Kang Zaen

Tpk Hutan Sei Ngihis, 20 Februari 2014, 10.03 WITA