an AL GIBRAN NAYAKA ministory
#######################################
CUAP2 NAYAKA
Salam.
Singkat saja, ini bukan gaythemed (penonton kecewa), tapi hanya realisasi dari ide yang kebetulan melintas. Aku bikinnya limabelas menit saja, jadi harap maklum kalau hambar banget.
Maaf bila ada pihak2 yg tersenggol, kesamaan nama memang kesengajaan penulis (digampar). Maaf juga bila ada yang gak nyaman, tulisan ini berawal dari keisengan semata.
Selamat menikmati membaca SURAT UNTUK SUZANNA seperti aku menikmati ketika menulisnya.
Wassalam
N.A.G
######################################
Dear Suzanna,
dimanapun kau berada kini.

Aku selalu suka nasi goreng buatanmu, yang kata beberapa pemuda berandalan suka ngutang itu kelebihan terasi. Harusnya aku sempat memberitakan kesukaanku itu padamu dulu, sebelum semua berhenti untukmu.

Suzanna, percaya atau tidak, aku masih ingat seutuhnya gambaran sore di mana untuk pertama kali diriku digendam rasa nasi gorengmu. Sore itu Jumat, dengan uang tiga ribu rupiah yang kucolong dari saku kemeja Bapak, aku mendatangi periuk nasimu. Kata teman sekelasku yang sudah lebih dulu mengakui pesonamu, kau biasanya galak pada anak-anak yang mendatangi nasimu dengan uang kurang dari tiga ribu rupiah meski kau tetap memberi mereka nasi goreng yang lauknya kau kurangi. Maka aku langsung mengacungi tiga lembar uang seribuan bau apek hasil curianku dari Bapak, dengan tangan gemetaran. Aku masih ingat manis senyum dan lembut suaramu saat mengambil uang dari tanganku dan menyuruhku duduk. Hari itu kebayamu warna oranye, dan kain batik tua warna coklat melilit di pinggulmu. Teman sekelasku benar, pinggulmu lebih bagus dari pinggul Bu Kamsiyah wali kelas kami. Aku berlama-lama menyuap nasi, agar keberadaanku di tempatmu juga lebih lama. Masih kata temanku, biasanya kau menyuruh anak-anak yang membayar tidak pas tiga ribu rupiah untuk makan cepat-cepat dan pergi cepat-cepat pula seperti angin, tapi kau tidak mengusikku, bahkan ketika kau terang-terangan memergoki aku yang sedang melongo memandang kerah kebayamu yang rendah. Itu membuatku bertekad akan merogoh tiga ribu lagi dari saku Bapak di kali akan datang.

Ah, Suzanna. Andai kau tahu betapa kau telah membahagiakan mata banyak pemuda dan anak lelaki yang makan nasi goreng kelebihan terasi buatanmu itu.

Tujuh kali. Sebanyak itu aku mendatangi periukmu, yang berarti sebanyak kali itu pula aku memalingi uang bapak. Jika kamu ingin tau, pengorbananku untuk tujuh kali tersebut sungguh berat. Kali pertama, aku dijewer Bapak ketika suami emakku itu menyadari tiga lembar uang seribuannya hilang setelah aku meninggalkan rumah untuk berlari ke periuk nasimu. Kali kedua, aku dinasihatin Emak sampai jarum jam lengkap berputar 360 derajat setelah lebih dulu ditempeleng Bapak satu kali. Kali ketiga, Bapak menendangku dan Emak hanya bisa mengelus dada. Seminggu kemudian, aku ditempeleng Bapak dua kali sekaligus saat untuk keempat kalinya ia kehilangan tiga ribu rupiahnya. Ah, Suzanna… aku tak ingin membuatmu merasa lebih bersalah lagi dengan menceritakan tiga sisa pengorbananku untuk mendatangimu.

Tapi kemarin adalah hari Pertama keselamatan saku Bapak. Aku tidak punya alasan utama lagi untuk menyantroni sakunya. Kemarin juga adalah hari pertama kekecewaan para pemuda dan anak lelaki penggemar nasi gorengmu. Dari desas-desus orang sekampung yang berdengung bagai laler ijo di kubangan tinja, aku mendengar mantan suamimu kemarin datang dan dengan tidak berbelaskasihannya menganiayamu bagai hewan. Warungmu porak-poranda, nasi gorengmu gosong di periuk, dan nasibmu… menjadi nasibmu. Masih dari desas-desus orang sekampung yang berdengung bagai laler ijo di bak sampah pasar ikan, kau mengatakan goodbye pada dunia setelah tiga jam diutak-atik dokter-dokter sehat itu.

Ah, Suzanna… pada akhirnya aku merubah pernyataanku pada diri sendiri agar kau tidak menilaiku munafik meski kau sudah tinggal nama saja. Bahwa sebenarnya bukan nasi gorengmu yang selalu kusuka, bahwa kata pemuda-pemuda berandalan itu tentang nasi gorengmu yang kelebihan terasi adalah benar, aku harus jujur bahwa kerah kebaya dan rekor pinggulmu yang mengalahkan rekor pinggul Bu Kamsiyahlah yang membuatku rela memalingi bapak sendiri.

Selamat berjalan di negeri antah berantah, Suzanna. Jangan khawatirkan aku, satu hari yang akan datang, aku pasti menemukan nasi goreng kelebihan terasi lainnya, milik Suzanna-Suzanna berikutnya.

Penggemar beratmu,
Teguh Zakaria Purboyo