Dari Penulis

Cerita ini singkat dan sederhana. Sebagian benar terjadi, entah yang mana tapi yang perlu kalian tahu adalah Key itu benar-benar ada. Hanya saja namanya bukan Key. Bagaimana dengan kisah cintanya? Biar kalian saja yang menilai.

Terimakasihku untuk Nayaka. Aku boleh melampirkan kontakku di sini Nay? Siapa tahu ada yang mau menghubungiku.

Aku bisa ditemui di setiap barisan kata-kata di blogku: foundmeplease.wordpress.com, dan juga bisa dihubungi lewat akun twitterku di @gsmng. Selamat menikmati🙂

Key dan Abel

Oleh : Gusmang

Mereka berlima sedang menghabiskan Minggu siang di pantai. Mobil terparkir di sebelah tikar hijau yang digelar oleh anak-anak kuliahan itu. Salah seorang dari mereka, cowok dengan model rambut sasak dan raut wajah yang kurang memperlihatkan garis senyum, duduk sambil melihat-lihat foto di kamera DSLR-nya, sedangkan yang lain duduk di atas tikar menikmati camilan yang ada.

“Minggu yang indah,” kata  cewek yang berambut panjang. Merenggangkan tubuhnya beberapa saat lalu berdiri melihat sekelilingnya.

“Ayo berenang!” cowok berbaju putih menarik si cewek berambut panjang berlari menuju air. Diikuti oleh cewek yang lainnya, mereka bertiga dengan semangat berlari menuju bibir pantai.

“Ini menyenangkan. Iya kan?” cowok berkulit putih pucat yang hanya duduk di tikar tersenyum melihat ke arah temannya yang duduk di dalam mobil dengan pintu terbuka.

Si teman hanya mengangguk dan tetap sibuk dengan kameranya. “Huh, Key, nggak asik banget sih!” cowok itu mendengus kesal lalu bangkit berdiri, “aku pinjem kameranya.”

Tanpa berpikir lama Key memberikan kameranya, “Bisa makenya kan?”

“Bisalah. Tekan yang ini buat ngambil gambar kan?” ia menunjuk shutter dan kemudian tersenyum.

“Oke, sip.” Raut wajahnya yang tak memberikan sedikit senyum membuat Abelcowok yang meminjam kameranyamendengus kesal sekali lagi dan pergi dari hadapannya menyusul teman-teman yang sedang asyik menikmati air segar di pantai. (paragraf ini sebenarnya bertujuan untuk menekankan kepada pembaca kalo Key itu cowok yang masa bodoh.)

“Kenapa, Bel?” tanya Ferdy, cowok berbaju putih yang badannya sudah basah sepenuhnya, “kok muka lo kusut gitu?”

“Biasalah, si Key!” kata Abel sambil membidik kameranya ke arah teman-teman ceweknya.

“Kan emang sifatnya kayak gitu. Ngapain lo cemberutin sih, kayak baru kenal si Key aja.” Ferdy bergaya untuk di foto.

Sekali jepretan. Dua kali. Dan seterusnya.

Mereka menikmati hari Minggu mereka, hingga matahari membakar langit di tempat peraduannya, meninggalkan senyuman di wajah anak-anak kuliahan itu. Kecuali Key, yang terus memperhatikan teman-temannya dari kejauhan, dari dalam mobil. Ia tersenyum ketika memandang Abel yang sedang bermain dengan kameranya.

***

Semua sudah ada di dalam cottage membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam bersama. Abel masih berbaring di kamarnya, menunggu giliran mandi. Key memiliki kebiasaan mandi yang memakan waktu lebih dari tiga puluh menit, dan sudah dimaklumi oleh teman-temannya. Selalu saja Abel yang harus berkorban untuk mendapat giliran setelah Key. Selalu.

“Key! Lama banget sih? Udah laper nih,” teriak Lina tak sabaran, “Abel lagi, belum mandi!” ia menghentakan kakinya lalu pergi ke ruang tamu mencari tempat duduk.

Pintu kamar mandi terbuka, Key keluar dan langsung masuk ke kamar Abel. “Bel, minta parfum dong!”

Abel beranjak dari tidurnya mengambil parfum di dalam tas dan menyerahkannya kepada Key yang sudah lengkap dengan T-Shirt hitam kesayangan dan denim biru gelapnya.

“Pakein.”

“Pake aja sendiri. Aku mau mandi.”

Key mengangkat kepala, menunjukan lehernya, memberi ruang agar Abel bisa menyemprotkan parfumnya di leher Key. “Di sini.” Key pura-pura tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan Abel.

Abel menyemprotkan parfumnya dua kali di leher Key. Key bergeming ketika parfum bersentuhan dengan kulitnya, ia menatap Abel lalu tersenyum. Abel melihat senyum itu dan mukanya memerah, dengan cepat ia keluar dari kamar dan menuju ke kamar mandi. Luapan kekesalan Lina tidak lagi terdengar dengan jelas olehnya.

Ia memikirkan Key.

***

“Oh Key!” baju Abel basah terciprat es teh dari gelas Key. Baru saja pesanan mereka sampai di meja, Key sudah membuat es tehnya meloncat keluar menghampiri kaos Abel.

“Sorry, Bel.” Key mengambil tisu di atas meja dan membersihkan kaos Abel.

Abel beranjak dari kursi dan mencari toilet, sedangkan Key masih duduk di tempatnya melihat Abel pergi. Ferdy menyenggol sikut Key, mengisyaratkan agar Key menemani Abel dan meminta maaf.

“Bel.”

“Key.” Abel berdiri di depan wastafel sambil membersihkan kaosnya dengan tisu toilet.

“Marah?” Key mendekat dan berdiri di samping Abel, “Nggak sengaja kok Bel.”

“Iya Key, nggak apa-apa.”

Ada keheningan di antara mereka. Key bersandar di wastafel, sedangkan Abel mencuci tangannya. Key berdehem ingin memulai pembicaraan. Cowok itu menyisir rambutnya dengan jemari dan berbalik menghadap Abel. Abel menatapnya, tahu akan diajak berbicara.

“Bel…,” Key bersedekap, “Aku nggak nyangka lho.”

“Nggak nyangka apa?”

Key tersenyum, ini kedua kalinya Abel melihat senyum Key, perasaan yang sama yang ia dapat saat menyemprotkan parfum tadi. Seperti ada yang merayap di bawah kulit Abel karena senyuman itu. Key tidak menjawab, hanya menggeleng pelan.

“Nggak usah tahu kenapa, aku cuma nggak nyangka aja.” Key keluar dari toilet dan kembali ke meja makan.

Makan malam itu berakhir seperti biasa. Lina dan Tere berjalan di depan, Ferdy berjalan di tengah-tengah Abel dan Key. Merangkul pundak kedua temannya sambil tersenyum puas, karena perutnya telah penuh dan terpuaskan.

“Ini baru namanya liburan.” Ferdy melepaskan rangkulannya dan menepuk-nepuk perut sambil berjalan meninggalkan Abel dan Key.

“Key.” Abel memanggil nama temannya itu pelan. Key tidak menjawab, tetap berjalan di sebelahnya. Abel menelan semua pertanyaan yang sudah ada di ujung lidahnya, terus berjalan dalam diam sampai di cottage.

***

Malam kian larut. Tak terdengar lagi suara ribut dari dalam cottage. Ferdy terlelap di depan tivi bersidekap tangan di dada, sepertinya ia kedinginan dalam tidurnya. Sayup suara lagu yang mengalun dari iPod entah milik siapa terdengar dari arah kamar Tere dan Lina, keduanya pasti sudah dibuai mimpi sekarang.

Cowok berkulit pucat itu sedang duduk di teras cottage, membelakangi jendela kamarnya dan Key. Ia menatap jauh ke arah pantai yang sudah gelap. Hanya terlihat buih-buih ombak yang pecah di depan sana.

Abel memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya. Ia butuh hawa segar untuk mencerna kebingungannya akan sikap Key seharian ini. Maka dari itu, ia pergi menyendiri di teras cottage.

“Aku sendirian di dalam.” Key tiba-tiba muncul di sebelah Abel sambil menenteng kameranya, membuat Abel terlonjak kaget dari kursinya.

Stop it! Berhenti ngagetin.” Abel mengelus dadanya, “Lagian ada Fredy dan yang lainnya di dalam.” Ia menggeser duduknya, memberikan Key tempat.

“Di kamar maksudku.”

“Key, maksud kamu apa sih?”

“Yang mana?”

“Nggak tahu, semuanya…, mungkin.”

Jepret! Key memotret Abel yang sedang menunduk lesu di sebelahnya.

“Apaan sih Key, aku serius nih.”

Abel berdiri dan menarik Key untuk meninggalkan cottage. Mereka berjalan mendekati mobil, Abel masih menggenggam tangan Key dan menariknya untuk mengikuti langkahnya. Key menurut, tidak ada perlawanan. Kini tangan kanannya menggamit tangan Abel, sedangkan tangan kirinya memegang kamera.

Abel menyandarkan Key di belakang mobil, berdiri satu langkah berhadapan dengan Key. Tangannya dilipat di depan dadanya. Key menggantungkan kameranya di leher, menunggu Abel berbicara. Seperti biasa wajah Key tidak memperlihatkan gurat senyum sama sekali.

“Bel, aku nggak nyangka…”

Stop, Key! Aku nggak mau denger kata-kata itu, sekarang kamu yang dengerin aku.”

Key bersandar di pintu belakang mobil dan melipat tangannya mengikuti gaya Abel berdiri, “Well, okay.” ia mempersilahkan Abel berbicara.

“Aku suka sama kamu.” Bibir Abel mengeluarkan kata-katanya dengan pelan dan jelas. Key tertawa kecil membuat pipi Abel merona merah, malu, tapi sudah terlanjur.

“Aku juga. Makanya aku bilang, aku nggak nyangka.” Key mendekati Abel, “Ferdy yang nyeritain ke aku. Aku yang nanya sebenarnya.”

Abel menunduk malu ketika mendengar perkataan Key. Jadi Key sudah tahu dan dia merasa bodoh, tapi juga senang. “Ini agak canggung Key.”

“Canggung? Okay, this is for break the tension.”

Bibir Key menempel lembut di bibir Abel. Key emagut pelan bibir merah muda Abel. Pipi Abel makin merona merah, tangannya diletakkan di dada Key, otaknya berpikir untuk mendorong Key agar menjauh, tapi tidak dengan tangannya, dia malah mengelus dada bidang itu. Key merengkuh pinggang Abel, menariknya ke dalam pelukan. Abel tak melawan lagi. Key melepaskan ciumannya dan tersenyum.

I love you.” Key berbisik di telinga Abel.

Dan kini Abel yang mengecup bibir bawah Key. Menelusuri setiap helai rambut Key yang terasa kasar di telapak tangannya. Membuat pipi mereka berdua menghangat karena desiran darah di sana. Malam ini milik mereka berdua. Key dan Abel.