streets-of-nothingville Cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Mungkin aku harus tertawa dulu kali ya.😀

Makin lama kok tulisanku makin panjang aja ya untuk oneshoot begini. Yap, aku yakin kalian akan butuh perjuangan keras, berusaha agar tidak berhenti di tengah jalan saking jauhnya ending. Namun meskipun ada yang berhenti baca, semoga itu benar-benar karena matanya lelah, bukan karena ceritanya membosankan.

Ada yang ingat statku di akun Facebook Nayaka Al Gibran beberapa waktu lalu? Tentang tulisan ini. Well, kalau masih ada yang ingat, Alhamdulillah, bukan apa-apa, aku cuma mau bilang buat yang ingat stat itu bahwa hutangku tertunaikan, bahwa aku tak hanya membual kosong di sana, Streets of Nothingville benar-benar kutulis, sekarang ada.

Sekedar cerita, saat sedang menggarap tulisan ini, aku sempat chat dengan mbakku dan mengatakan padanya kalau ceritaku kali ini mungkin cocoknya dibaca sahabat-sahabat yang usianya 25-an ke atas. Mbakku sempat mikir, pasti isinya esek-esek (?). kekekeke, piss Mbak. Yap, mungkin benar meski tulisan ini kadar esek-eseknya sama seperti yang ada dalam beberapa tulisanku terdahulu. Tapi bukan itu alasan utama aku bilang kalau Streets Of Nothingville akan diabaikan pembaca muda usia belasan (ababil kata mbakku) yang mungkin selama ini menyukai beberapa judulku. Aku sadar kalau pembaca Nayaka Al Gibran (yaelah, sok punya pembaca lu, Nay) kebanyakan adalah remaja-remaja usia belasan, dan itu membuatku pesimis jika Street Of Nothingville bakal ramai dibaca. Selain tokohnya yang bukan remaja tetapi dewasa, settingnya yang tidak di dalam negeri (entah di mana), gaya bahasa yang kupakai di sini juga agak-agak beda gimana gituh😀 Pernah baca salah satu cerpenku yang judulnya The Rich Man And His New Neighbour? Nah, gaya tuturan dalam Streets Of Nothingville sama seperti yang kupakai dalam cerpen itu.

Akhirnya, semoga kalian menikmati membaca STREETS Of NOTHINGVILLE seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam.

n.a.g

##################################################

Aku sudah setengah mati berharap,

bahkan sejak sebelum kau memberi senyum pertamamu untukku hari itu.

Aku berharap bahwa suatu hari nanti entah kapan,

akan ada masa bagiku untuk menjadi tujuanmu,

memelukmu,

melindungimu,

menceriakanmu,

mencintaimu.

Aku berharap bahwa suatu hari nanti entah kapan,

akan ada masa bagimu untuk menjadi rumah tempatku pulang,

menghangatkan hari-hari dinginku,

menerima lebih dan kurangku,

menyandarkan bebanmu di pundakku,

mencintaiku lebih besar dari yang bisa kulakukan untukmu.

Aku sudah mengharapkan sejak mendorong pintu itu…

*

Catat ini, cinta pada pandangan pertama ternyata bukan cuma bualan kosong. Cinta pada pandangan pertama benar-benar ada. Dan itu yang akan terjadi sebentar lagi…

Truk besar itu berhenti tepat di depan Arthur Coffee and Breakfast, pengemudinya tidak mau bersusah-susah untuk mencari tempat parkir yang lebih baik atau untuk sekedar memajukan kendaraannya lebih ke depan, mesin besar itu berhenti pas di muka pintu kaca bertanda OPEN, bagian tengah truk berada tepat di depan undakan tangga rendah Arthur Coffee and Breakfast, menghalangi pintu masuk. Siapapun pengemudinya, jelas ia kurang ajar sekali dalam memilih tempat parkir.

Truk besar itu tentu saja menarik perhatian mereka yang  sedang menikmati sarapan di dalam rumah kopi Arthur, suara denting sendok yang beradu dengan cangkir atau piring berhenti terdengar dan orang-orang menoleh ke pintu.

Sepasang kaki bersepatu boot coklat tua menjulur dari pintu pengemudi yang sudah setengah terbuka, lalu seorang pria melompat turun dari sana. Pria itu menggunakan setelan sebagaimana pengemudi truk biasa terlihat, jins biru kusam dan kemeja lusuh yang tidak terkancing sempurna menampakkan kaus dalamnya yang berwarna putih. Lengan kemejanya tergulung begitu saja, bagai ada kebanggaan tersendiri dengan membiarkan lengan besarnya terlihat siapa saja yang memandang. Sebuah topi berbahan jins yang juga tampak kusam menutup kepalanya. Pria itu memang tak beda dengan kebanyakan pria-pria berbadan besar yang pekerjaannya mengemudi truk, namun ada nilai lebih yang membuat sosoknya tidak bisa diabaikan begitu saja, orang-orang di dalam Arthur Coffee and Breakfast belum memindahkan pandangannya bahkan sampai si pria mendorong pintu kaca setelah menyeberang jarak dari truknya dengan langkah lebar.

Pria itu berhenti di pintu, cukup sadar kalau orang-orang duduk diam memerhatikannya, seakan ia baru saja turun dari punggung kuda besar bersurai panjang dengan baju zirah dan perisai di tangan seperti prajurit Troy. Kemunculannya menyita perhatian dengan begitu absolutnya. Arthur Coffee and Breakfast memang tidak pernah terlalu ramai dikunjungi, tapi tetap saja pagi ini adalah kesenyapan paling senyap yang pernah terjadi di rumah kopi itu. Untuk beberapa saat lamanya si pria masih berdiri di pintu sehingga orang-orang yakin kalau ia salah mendatangi tempat dan akan menutup pintu kaca lalu berbalik kembali menuju truknya. Selama itu pula, pandangannya hanya tertuju pada satu arah, pada si pemakai mesin kopi di balik meja saji—yang juga sedang menatapnya seperti orang-orang lain di Arthur Coffee and Breakfast.

Pretty car…”

Pria itu menoleh pada wanita di meja sebelah kanannya yang baru saja memecah keheningan. Mendapat perhatian si pria, wanita itu menyunggingkan senyum manis meski orang yang disenyuminya masih menampakkan wajah datar tak berubah sejak tadi. “Sorry, Ma’amit’s not a car, it’s a truck, dan ia tidak cantik tapi tampan.”

Keadaan di Arthur Coffee and Breakfast kembali ke ritme semula ketika si pria menyelesaikan kalimatnya, denting sendok kembali terdengar, juga dengung percakapan pengunjungnya. Setelah membuat senyum di wajah si wanita lenyap dengan serta merta karena ucapannya, pria itu kembali menatap meja saji di mana si pemakai mesin kopi juga masih memandang padanya. Si pria tak bisa menahan diri untuk tidak balas melengkungkan bibirnya ketika dilihatnya si pemakai mesin kopi melakukan hal serupa terlebih dahulu. Mereka saling melempar senyum. Senyum ramah dari si pemakai mesin kopi dan senyum canggung di wajah si pria. Selanjutnya, ia berjalan ke meja kosong yang tepat berada di tengah lantai Arthur Coffee and Breakfast, terpaut tiga meter dari tempat si pemakai mesin kopi berada. Pria itu menarik salah satu kursi lalu duduk menyandar menghadap meja saji dengan pandangan tetap tertuju pada orang di balik meja saji itu. Ia membuka topinya ketika seorang wanita berseragam pramusaji datang bersama teko di tangan. Kini wajahnya terlihat jelas tanpa dipayungi topi, rambut coklat bergelombang mendominasi bagian kepalanya. Bulu-bulu kasar berbaris acak membingkai wajahnya yang seperti dipahat dengan kehati-hatian ekstra oleh Tuhan.

“Sepertinya Nothingville kedatangan tamu jauh…” wanita pelayan itu berujar sambil tangannya yang bebas mengambil cangkir yang sudah sedia pada tatakannya di atas meja, mengaturnya di depan si pria dan menuangkan kopi pekat dari teko yang dibawanya. “Ingin mencoba muffin kami?”

Si pria berdehem, “Yes, please…” bahkan saat menjawab itu, matanya tak lepas dari sosok di balik meja saji. Suara si pria terdengar berat. Ia berhenti memandang meja saji saat meneguk tegukan pertama dari cangkirnya. Hanya itu saja jeda pandangannya. Kini ia kembali pada fokusnya. Si wanita pelayan yang sudah ikut berada di balik meja saji kini tampak berbisik-bisik dengan orang di depan mesin kopi, mereka berbisik sambil sesekali tersenyum. Pria itu menyadari kalau sosok di depan mesin kopi meliriknya dua kali ketika prosesi bisik-bisik itu berlangsung. Lirikan yang sudah cukup membuat hatinya berdetak tak karuan.

Muffinnya,” si wanita pelayan meletakkan piring berisi muffin di atas meja, “Apa Anda berencana tinggal lama di Nothingville?”

Pria itu mengalihkan fokusnya dan mendongak pada si wanita pelayan, “Di mana motel yang murah di sini…” ia menatap bagian dada seragam si wanita, “Annie?”

Si wanita pelayan bernama Annie tersenyum. “Well, Nothingville hanya sebuah kota kecil, kami cuma punya satu motel, satu bank, satu mini market, satu pom bensin, satu gereja, satu rumah sakit. Anda tidak akan menemukan tempat layanan publik lebih dari satu setiap jenisnya di Nothingville…”

Bukankah kebanyakan kota memang seperti itu? si pria membatin sendiri. “Jadi di mana motel itu?” ia langsung bertanya ketika dirasanya Annie masih ingin terus menjelaskan.

“Tepat di ujung jalan, Anda hanya perlu mengemudi truk tampan di luar sana lima ratus meter lagi,” Annie menoleh ke pintu. “Ahhh… aku sangat ingin mencium truk itu,” lirihnya seperti bicara sendiri lalu memandang pengunjung barunya, “Welcome to Nothingville, semoga kesan anda baik.” Annie meninggalkan meja setelah menambahkan kopi ke cangkir.

*

Berada di bawah pancuran mandi kamar motel yang terpaksa dibayarnya dengan harga yang lumayan—amat sangat tidak pantas untuk harga kamar motel di kota sekecil Nothingville, Rob diam bertumpu kedua tangan di dinding sambil memejamkan mata sedang pikirannya berada di suatu tempat lain, di Arthur Coffee and Breakfast, tepatnya di balik meja saji di depan mesin kopi. Ia tak bisa mencegah dirinya untuk larut bersama khayalannya. Setelah sekian lama mati rasa, hari ini seakan ia baru saja dikejutkan dari lamunan panjang, seperti baru saja siuman dari koma.

Hanya sosoknya saja yang terekam dalam kepala sudah sanggup membuat Rob menggelepar sedemikian rupa. Ia belum mendengar seperti apa suaranya, seperti apa rasa telapak tangannya, seperti apa ketika ia bergerak. Namun kini pikirannya penuh dengan sosok di depan mesin kopi itu.

“Arrghh…” Rob mengerang di bawah kucuran air. Satu tangannya bergerak menuju perut. Sosok di depan mesin kopi hadir utuh di depannya untuk beberapa ketika sampai ia menyelesaikan mandinya.

Rob keluar dari kamar mandi sambil melilitkan handuk ke pinggang. Dengan badan penuh bulir air serta rambut yang juga masih menetes basah, ia berdiri di jendela, memandang ke jurusan di mana Arthur Coffee and Breakfast berada. Meski tak terlihat, itu sudah cukup membuatnya damai dan detak jantungnya tenang.

*

Tentu saja Rob menyempatkan diri untuk mampir lagi di Arthur Coffee and Breakfast esoknya sebelum meninggalkan Nothingville. Kali ini ia cukup sopan dengan memarkir truk jauh dari pintu masuk. Penampilannya lebih rapi. Kemeja yang baru dibelinya semalam di toko diskon dekat motel terkancing baik, jinsnya masih yang kemarin, tanpa topi, dan mereka yang sempat melihatnya sehari sebelumnya langsung tahu kalau ia juga baru saja bercukur.

Meja yang dipakainya kemarin sudah ditempati dua pria paruh baya, Rob terpaksa menempati meja yang cukup jauh dari bar tapi tentu saja ia memilih meja yang masih tetap bisa mengawasi keberadaan sosok di depan mesin kopi. Annie menyapa ramah dan menanyakan kabarnya pagi ini sambil menuangkan kopi. Gaya bicara wanita pelayan itu juga tidak lagi seformal kemarin.

“Kau ingin muffin lagi?”

Rob mengangguk, “Annie, apa dia yang punya tempat ini?”

Annie menoleh meja saji, “Kalau cicilannya selesai, iya,” jawabnya. “Muffinmu segera datang.”

“Trims, Annie.”

Rob kembali menemukan pemandangan serupa kemarin saat Annie masuk ke balik bar untuk mengambil muffin baru. Mereka saling berbisik dan tertawa kecil. Lagi-lagi, sosok di depan mesin kopi meliriknya sekilas seperti kemarin.

Annie tidak langsung pergi setelah meletakkan piring muffin di meja Rob, wanita ini menarik kursi dan duduk di depan pria itu. Pelayan rumah kopi kebanyakan memang ramah, dan Annie adalah pelayan rumah kopi kebanyakan. Ia mengobrol ringan dengan Rob sementara pria itu mengunyah muffinnya sambil tetap sesekali melirik ke arah bar.

“Apa yang kalian bisik-bisikkan tadi?”

Annie tertawa, “Kami membisikkan betapa menawannya pelanggan baru Arthur Coffee and Breakfast…”

Alis Rob naik sebelah.

Annie kembali tertawa lalu mengibaskan sebelah tangan, “Tidak, bukan… kami membicarakan trukmu dan betapa kalian cocok satu sama lain…”

“Maaf, apa?” alis Rob mengerut.

“Kau dan trukmu, kalian cocok satu sama lain.”

“Oh.” Rob hampir saja kecele menafsirkan kata ‘kalian’ dalam ucapan Annie, bukankah terlalu dini juga untuk mengartikan ‘kalian’ sebagai dirinya dan orang yang berbisik-bisik dengan Annie di depan mesin kopi? Pikiran Rob sedang tidak sehat. “Ya, truk itu kepunyaanku yang berharga.”

Salah satu dari dua pria paruh baya yang merebut kursi Rob minta kopinya ditambah, Annie bangun dari duduknya dan pamit pada Rob. “Kau juga ingin kopimu ditambah?”

“Ya, tentu saja.”

Annie memenuhi cangkir Rob, “Semoga ini bukan kunjungan kedua sekaligus kunjungan terakhirmu, Truckman…” ujarnya lalu meninggalkan meja Rob.

Rob menoleh bar dan langsung meyakinkan diri kalau dia pasti akan mengunjungi Nothingville lagi, tepatnya ia akan mengunjungi Arthur Coffee and Breakfast kembali.

***

Di sini saat itu,

untuk pertama kalinya lagi sejak cinta mengenalkan rasa sakit padaku,

aku menemukan kembali keberanianku untuk jatuh bertekuk lutut pada cinta,

tepat saat Nothingville diguyur hujan dan kau masuk ke bawah jaketku.

Aku tidak akan kemana-mana lagi.

Di sini di Nothingville,

aku siap membuka ladang baru,

untuk benih baru.

Di sini di Nothingville,

aku sedia membuka lembaran baru,

untuk cerita baru,

kuharap yang terakhir…

bersamamu,

Nothingville-ku…

*

Rob baru bisa datang lagi ke Nothingville dua bulan setelah kunjungan pertamanya. Ia tiba jauh malam dan langsung melajukan truknya ke motel. Resepsionis motel yang masih mengingatnya menyambut ramah meski dengan tampang mengantuk yang amat sangat.

Welcome back, Mr. Lowe. Anda ingin kamar yang sama dulu? Kebetulan kamar itu juga sedang kosong.”

Ya, tentu saja Rob ingin kamar yang itu, jendelanya tepat menghadap ke jurusan yang ingin ditatapnya. Ia mengangguk pada si resepsionis dan berlalu setelah menerima kuncinya. Namun setelah dua langkah ia kembali berbalik. “Kau tahu Arthur Coffee and Breakfast di ujung sana?”

“Yap, muffinnya terenak di tiga kabupaten.”

“Oh ya?”

Si resepsionis mengangguk, “Arthur beruntung membeli tempat itu dari pemilik sebelumnya.”

“Arthur?”

“Ya, sudah jelas kan dari namanya.”

Rob mengangguk-anggukkan kepala.

“Dia masih muda, tapi gerbang kesuksesan sudah di depan mata.”

Rob mengangguk-anggukkan kepala lagi. Kalimat si resepsionis mengiang dalam liang telinga. Ia sudah tidak semuda Arthur—usia Arthur bisa jadi lima atau enam tahun di bawahnya, apa itu artinya gerbang sukses Rob sudah jauh tertinggal di belakang sana tanpa ia sempat memasukinya? Atau gerbang itu masih berada di suatu tempat, menunggunya datang dan mendobrak. Bisa jadi.

“Mr. Lowe, mengapa Anda menanyakannya?”

‘Karena aku jatuh hati pada pemiliknya.’

Hampir saja kalimat itu yang menyerbu keluar dari mulut Rob kalau saja ia terlambat mengontrol lidahnya. “Well, seperti katamu, aku suka muffinnya.”

Si resepsionis tertawa, “Yap, Nothingville beruntung punya rumah kopi itu.” Si resepsionis berdehem, “Beberapa tamu yang pernah menginap di sini juga membicarakan tempat itu, tamu-tamu cewek yang pernah ke sana malah menggosipkan betapa menawannya lelaki di depan mesin kopi…”

Rob tersenyum, “Good nite, Sweetheart

Good nite Mr. Lowe.”

Sepeninggal Rob, gadis muda yang menjaga meja resepsion melompat-lompat girang, kantuknya sirna entah ke mana. Seorang pria tampan dengan kategori ketampanan yang langka baru saja memanggilnya sweetheart.

*

Annie masih seramah dua bulan lalu. Wanita itu menyambut senang kemunculan Rob pagi ini, ia bahkan memuji kemeja Rob yang katanya menggairahkan. Rob sampai harus memutar bola matanya, dan ia sempat melihat Arthur tertawa kecil di balik meja saji karena pasti pujian konyol Annie terdengar cukup jelas dari tempat lelaki itu bekerja.

“Aku pikir kau lupa kelezatan muffin di Arthur Coffee and Breakfast sehingga tidak pernah kembali lagi sampai hari ini.”

Rob tertawa, “Aku sangat ingin kembali, Annie, tapi banyak orang membutuhkan aku dan trukku.”

“Oh halo, Busy Man…”

Rob tertawa lagi sambil menghempaskan bokongnya di kursi. Kali ini ia beruntung mendapat meja yang sama seperti kunjungan pertamanya dua bulan lalu. Setelah menuangkan kopi ke cangkir, tanpa bertanya apakah Rob ingin muffin atau tidak, Annie pergi ke meja saji untuk mengambilnya.

“Kali ini gratis, Arthur sedang berulang tahun.” Begitu kata Annie ketika meletakkan piring berisi muffin di depan Rob lalu tergesa-gesa pergi menuju meja lain.

Rob langsung memandang Arthur, lelaki itu sedang sibuk bersama mesinnya. Rob berusaha bertelepati dengan Arthur agar meliriknya untuk sekedar mengisyaratkan terima kasih. Tentu saja gagal, ia bukan Charles Xavier. Hingga piringnya kosong, Arthur sama sekali tidak berpaling dari mesin kopi.

“Semua pelanggan dapat diskon sepuluh persen hari ini, Arthur sedang berulang tahun…” Annie berteriak setelah satu jam mondar-mandir dari meja ke meja. Orang-orang di Arthur Coffee and Breakfast segera bersorak.

Happy birthday, Arthur…” beberapa orang membuat koor.

“Ya ampun, Arthur… kalau tahu dari awal aku akan mengajak semua orang di Nothingville!” seru seorang pria paruh baya berperut buncit sambil melambaikan tangan.

“Mana kue tartnya!?” ini dari seorang wanita yang masih mengenakan pakaian olah raganya.

Happy sweet seventeen, Arthur!” seruan konyol—karena Arthur bukan seorang cewek dan ia sudah lama melewati angka tujuh belas—dari seorang pemuda yang kemudian melakukan toss dengan teman semejanya.

“Annie, tambah lagi kopiku!”

“Arthur, semoga kau panjang umur!”

“Annie, aku ingin muffin lagi, juga salad.”

Rob menyeringai melihat orang-orang itu bersorak untuk Arthur, pemilik tempat sarapan ini nyatanya cukup akrab dengan pelanggannya. Lalu ia menoleh ke bar, dan di sanalah Arthur tepat sedang tersenyum sambil melambaikan tangan pada orang-orang. Rob bagai tersihir, seperti ada cahaya langsung dari langit yang jatuh ke atas Arthur. Seperti lampu sorot di lantai dansa di mana Arthur adalah bintang utamanya. Jantung Rob mencelos ketika dengan tiba-tiba Arthur membuat kontak mata dengannya. Rob hanya bisa tersenyum kikuk sambil mengangkat cangkir kopinya, “Happy birthday…” ucapnya dan berharap suaranya dapat didengar Arthur di tengah bising mendadak yang timbul di tempat itu. Dan sepertinya Arthur mengerti meski tak bisa mendengar gumam Rob, gerak bibir lelaki itu diartikan Rob sebagai ‘thank you’.

*

Andai tahu malam ini akan berjumpa dengan Arthur, Rob tentu akan mempersiapkan penampilan sebaik-baiknya, bukan dengan jins kusam itu lagi, tentu ia juga akan membeli jaket baru dan mengganti kemejanya dengan yang bersih—bukan yang dipakainya saat ke Arthur Coffee and Breakfast pagi tadi, ia akan menyemprotkan parfum lebih banyak dari biasanya agar bau keringat di jaketnya yang sudah hampir sebulan tak dilondri tersamarkan, Rob juga pasti akan mencukur wajahnya. Tapi ia tak tahu.

Mereka tidak menyadari kehadiran satu sama lain lebih awal. Keduanya sama-sama tak bisa menyembunyikan raut kaget ketika bersinggungan bahu di lorong tribun gedung teater. Malam ini adalah malam besar di Nothingville, hampir setengah warganya bisa dipastikan berada di sini. Nothingville High School Festival adalah acara tahunan yang diadakan oleh satu-satunya sekolah menengah di Nothingville. Pentas drama, tari dan musik. Rob memilih datang atas saran si resepsionis.

Tak ada salahnya Anda ke sana, Mr. Lowe, itu bukan acara yang membosankan. Begitu kata si resepsionis ketika Rob menunjuk selebaran promo festival itu di meja resepsion motel. Maka Rob memutuskan untuk pergi, lagipula gedung teater sangat dekat dengan motel tempatnya menginap. Dan ketika sekarang ia berpapasan dengan Arthur, Rob segera tahu bahwa ucapan si resepsionis murni benar.

“Wow, sepertinya ada yang meninggalkan birthday party-nya…” Itu kalimat Rob ketika ia sadar bahwa orang yang menabrak bahunya adalah Arthur.

Setelah menguasai kekagetan karena tak menyangka bakal bertemu dengan supir truk pengunjung baru rumah kopinya di gedung teater, Arthur tertawa kecil menanggapi kalimat orang. “Jangan khawatir, aku tidak akan pernah kabur dari pesta bila pesta itu tidak pernah ada.”

“Tak pernah ada pesta?” Alis Rob terangkat.

Arthur menggeleng, “Aku tak suka pesta.”

“Oh.”

Arthur mengangkat bahunya lalu mendahului Rob masuk ke barisan kursi yang sudah mulai sesak. Rob langsung berjalan di belakang Arthur sambil mengagumi penampilan lelaki itu malam ini. Arthur memakai jins warna hitam, kemeja lengan panjang motif kotak-kotak yang seluruh kancingnya dibiarkan terbuka, kaus warna putih dengan print The Beatles di depan serta sepatu olah raga warna coklat tua. Arthur tampak begitu remaja saat ini.

Rob duduk diam di samping Arthur, tampak tenang di luar tapi bergemuruh hebat di dalam dada. Ia beberapa kali mengerling ke arah samping di mana Arthur duduk lurus menatap tirai yang masih tertutup. Untuk pertama kalinya Rob kesulitan mencari topik pembicaraan. Padahal selama ini itu adalah pekerjaan yang mudah, tapi dengan Arthur? Rob kehilangan kemampuan itu.

“Kau akan lama di Nothingville?” Nyatanya justru Arthur yang membuka topik setelah sepuluh menit mereka diam dan tirai merah di pentas sana belum juga diangkat.

“Sepertinya aku akan betah di sini.”

“Tidakkah menurutmu Nothingville terlalu sepi?”

“Menurutmu begitu?” Rob menoleh ke samping.

Arthur tersenyum masih menatap pentas, “Aku suka Nothingville justru karena tidak terlalu bising.”

Well, mungkin itu bisa jadi pertimbangan mengapa aku akan betah di sini.” Rob kembali menatap pentas.

“Apa itu artinya kau akan menetap di Nothingville?” Arthur menoleh pria di sampingnya sekilas sebelum kembali meluruskan pandangan.

“Aku akan sering kemari.” Tentu saja ia tak mungkin menetap, Rob sadar dirinya tidak cukup kaya untuk membeli sebuah tempat tinggal di Nothingville. Truk itu adalah satu-satunya aset Rob.

“Annie bilang, pria yang mengemudi truk biasanya suka keramaian, tempat-tempat yang ingar-bingar.”

Tak bisa dipungkiri, Rob gembira mengetahui kalau Arthur benar-benar membicarakannya bersama Annie. “Sepertinya kalian mendiskusikan banyak hal tentang pengunjung-pungunjung Arthur Coffee and Breakfast, ya?”

Suara tawa Arthur seperti membuai telinga Rob. “Hanya jika pengunjung itu cukup menarik untuk didiskusikan,” jawab Arthur.

“Aku tersanjung…” Rob terkekeh.

Layar baru saja digulung, sepertinya siswa-siswi Nothingville High School siap menampilkan paduan suara. Di atas pentas, dalam balutan seragam dipimpin seorang dirigen mereka berbaris rapi, di sudut pentas sekelompok siswa sedia dengan alat musik di tangan.

By the way, sepertinya kita belum sempat berkenalan. “ Rob berdehem, “aku Rob Lowe.” Ia mengulurkan tangannya pada Arthur.

“Arthur Craig.”

Mereka berjabat. Tangan besar dan kasar milik Rob berpadu tangan kurus dan lembut milik Arthur.

“Punya hubungan dengan pemeran James Bond, Daniel Craig?” Rob sebenarnya enggan melepas jabatannya, tapi ia tak mau menampilkan kesan tak sopan di awal hubungannya dengan Arthur.

Arthur tertawa lagi, “Kalau ada, mungkin rambutku akan blonde seperti dia, atau bisa jadi aku akan mendapat peran kecil di salah satu filmnya.”

Rob tersenyum sambil melirik rambut hitam Arthur yang dibiarkan tumbuh melewati telinga.

Obrolan mereka terhenti. Pentas sudah mulai menyita perhatian. Arthur selalu bertepuk tangan kencang setiap satu pementasan berakhir diganti atraksi berikutnya, dan Rob selalu mendapati dirinya tengah menikmati keceriaan Arthur setiap kali lelaki di sampingnya itu bertepuk tangan dengan senyum lepas di wajah.

*

Rob sangat tahu kalau Arthur adalah tipe lelaki yang amat jarang menghabiskan waktu di bar, atau bahkan tidak pernah. Tapi entah apa yang mendorongnya untuk mengajak Arthur ke tempat itu saat mereka siap berpisah di depan pintu keluar gedung teater. Bisa jadi karena mata Rob yang langsung menatap tulisan bar di kejauhan yang menyala terang dan melihat peluang untuk memperlama kebersamaan mereka. Mulanya Arthur tampak bimbang dan Rob nyaris putus asa mengira Arthur pasti akan menolak. What the hell, Rob? Bar? Yang benar saja, baru dua jam lalu dia memberitahumu kalau dia benci ingar-bingar dan sekarang tempat terbaik yang bisa kamu tawarkan padanya adalah bar? Dasar dungu. Tapi ternyata kalimat Rob setelah ‘bar’ berhasil membuat sirna raut bimbang di wajah Arthur.

“Tidak ada hal buruk yang akan menimpamu di sana, aku janji. Kau boleh mengikat kakiku di bokong kuda dan menyeretku sepanjang jalan jika sesuatu yang tak kau sukai terjadi di sana,” dan Arthur langsung tersenyum.

Mereka menyeberang dan berjalan kaki sejauh setengah blok untuk sampai di satu-satunya bar di Nothingville. Sepanjang jalan keduanya saling menceritakan latar belakang keluarga masing-masing. Rob memberi tahu Arthur kalau ia lahir dan besar di Hampshire, kalau ia sulung dan punya dua adik perempuan yang sudah menikah dan masing-masing menetap di Birmingham dan Somerset bersama suami dan putra mereka, kalau kepergian ayahnya tiga tahun lalu adalah terakhir kali keluarga mereka berkumpul, kalau ia hidup berpindah-pindah bersama truknya sejak dua tahun lalu, dan kalau ia masih lajang. Arthur menceritakan masa remajanya di London kepada Rob, bahwa ia kebalikan dari Rob yang anak sulung, ia punya seorang saudara wanita di atasnya yang sedang mengejar karir dan berencana menikah tahun depan kalau jadi, bahwa ia sangat ingin bisa mandiri, bahwa pemilik rumah kopi sebelumnya begitu baik dengan setuju ia membayar enam kali cicilan selama delapan belas bulan, bahwa cicilan itu hampir lunas, bahwa Annie sudah bagai saudara baginya, dan bahwa ia juga lajang meski Rob pasti tahu itu tanpa Arthur mengatakannya.

Mereka disambut asap rokok yang bergulung-gulung dan musik country yang terdengar cukup nyaring dari perangkat sound system bar ketika pintu masuk didorong Rob. Kebanyakan pengunjungnya adalah pria, hanya ada beberapa wanita saja yang terlihat sudah minum alkohol terlalu banyak di beberapa meja.

Great place,” ujar Arthur sambil melirik Rob.

“Apa itu pujian?”

“Sepertinya iya.”

Rob memberanikan diri menggamit lengan Arthur dan menuju meja di sisi dinding kaca yang masih luang. “Aku akan mengambil minum untuk kita. Kau ingin apa?” Rob bertanya setelah Arthur mengisi kursi.

“Aku tak tahu harus memesan apa…” Arthur tampak kikuk, atau malu.

Seperti yang dipikirkannya, pasti ini kali pertama Arthur masuk bar. Rob tersenyum, “Kau bukan satu-satunya orang yang bingung harus minum apa ketika pertama kali masuk bar, percaya atau tidak… aku dulu bahkan memesan susu coklat yang membuat bartender terbahak hingga sakit perut pada kesempatan pertamaku di bar.” Tawa Arthur memberitahu Rob kalau ia sudah mengucapkan kalimat yang tepat. “Tenang saja, aku akan menanganinya untukmu.” Rob menuju bartender.

Sementara Rob bicara dengan bartender, Arthur mendapati dirinya menatap punggung lebar lelaki itu. Mengakui dalam hati kalau sosok menjulang Rob amatlah sempurna, mengagumi bokong Rob yang tentu saja tergolong seksi. Ketika pikirannya semakin gila, Arthur mengalihkan perhatiannya dari sosok Rob dan memandang jalan di balik dinding kaca.

Semenit kemudian Rob kembali dengan dua gelas wine di tangan, “Kuharap kau pernah minum anggur sebelumnya.”

“Sepertinya pernah.”

“Bagus, artinya aku tak perlu khawatir harus menggendongmu pulang jika kau tiba-tiba tak sadarkan diri setelah mengosongkan gelas.”

Bersama Rob, Arthur mendapati dirinya sangat sering tertawa.

“Untuk yang sedang berulang tahun.” Rob mengangkat gelasnya diikuti Arthur.

“Jadi, darimana kau mewarisi wajah itu? Ayahmu?” Arthur bertanya setelah rona merah di pipinya karena anggur hilang perlahan. “Seperti apa ayahmu?”

Rob meletakkan gelas, “Ayahku, hemm… kau tahu Richard Gere?”

“Tentu saja, bintang Hollywood itu, kan?”

“Nah, ayahku sama sekali tidak seperti dia.”

Arthur tertawa, sungguh-sungguh tertawa, “Kupikir kau akan mengatakan bahwa ayahmu mirip Richard Gere.”

Rob tersenyum, “Aku dan adik-adikku beruntung karena tak ada yang mirip ayahku.” Rob menerawang, “Ibuku wanita yang sangat cantik dan lembut, sepertinya gen ibuku lebih dominan diwariskan untuk aku dan dua adikku ketimbang ayahku. Dulu aku sering memikirkan bagaimana wanita secantik dan sebaik ibuku bisa jatuh cinta pada lelaki jelek temperamental seperti ayahku…”

Well, cinta memang seperti itu,” potong Arthur.

Rob mengangguk, “Tapi seiring dewasa, aku mulai memahami kalau ayahku adalah ayah yang penuh tanggung jawab, dengan caranya sendiri.” Satu sudut bibir Rob tertarik menimbulkan seringai, “Aku baru benar-benar bisa akur dengan ayahku di tahun-tahun terakhir hidupnya.”

“Kebanyakan anak laki-laki memang lebih dekat pada ibunya.”

“Kau benar.” Rob mengosongkan gelas dengan sekali teguk. “Jadi, kau adalah putra kesayangan ibumu?” Rob melambai pada pelayan bar minta minumnya ditambah.

“Sepertimu, aku juga tidak begitu dekat dengan ayahku. Tapi sumpah aku ingin mencium jempol kakinya karena menjadi orang pertama yang setuju aku pindah ke sini untuk memulai kemandirianku, sementara Mom bahkan masih sering menelepon untuk menyuruhku pulang.” Arthur tersenyum sendiri, “Padahal dia sadar aku tak akan memenuhi perintahnya, aku punya rumah dan tempat kopi itu, tak ada alasan yang cukup bagus untuk meninggalkan keduanya dan kembali menjadi anak manja di rumah orang tuaku.”

Rob mengangkat jempolnya untuk Arthur, “Kau hebat,” ujarnya sambil menerima gelas yang diantar pelayan bar.

“Aku cinta Nothingville,” ujar Arthur lalu bangkit dari kursi ketika musik berganti dengan irama yang lebih cepat dan orang-orang mulai bergerak-gerak di lantai bar. “Kau mau ikut?” Arthur mengulurkan tangan.

“Aku tak bisa menari.”

“Oh ayolah, jangan kecewakan orang yang sedang berulang tahun.”

Rob terkekeh, mengosongkan gelas keduanya, menyambut uluran tangan Arthur lalu bangun dari kursi menuju kerumunan orang-orang di tengah lantai bar yang sedang bergerak acak mengikuti irama.

Ketika Rob bergerak-gerak canggung bersama Arthur yang tampak bersemangat, ia menyimpulkan kalau Arthur sangat mudah membaur. Kini Rob tahu alasan mengapa warga Nothingville yang berkunjung ke rumah kopi Arthur begitu dekat dengan sang pemiliknya. Arthur punya aura yang membuat siapapun yang berada di sekitarnya jatuh hati.

*

Mereka baru keluar dari bar lewat tengah malam. Wajah Arthur memerah, entah karena ia menghabiskan tiga gelas wine setelah selesai di lantai bar atau kerena terlalu bersemangat sebab Rob bersamanya atau karena ketika sedang menari di dalam sana ia berkali-kali membuat sentuhan dengan Rob. Arthur beberapa kali merapat ke dada Rob ketika menari, dan Rob juga beberapa kali dengan sengaja menarik pinggang Arthur untuk mendekat padanya. Jangan tanyakan berapa kali wajah mereka nyaris membentur satu sama lain.

“Aku tak pernah sesenang ini,” ujar Arthur ketika mereka sudah di jalan, entah ke arah mana.

“Oh ya?” Rob mengeluarkan rokoknya.

“Maksudku, tidak pernah sesenang begini sudah begitu lama. Kau tahu, melakukan hal gila semacam tadi, itu baru pertama kali.”

“Maksudmu, menari dengan supir truk?” Asap keluar dari hidung Rob.

Arthur tertawa, “Mengapa kau begitu terobsesi pada profesimu?”

Guruh menggelegar di atas kepala mereka, Nothingville akan segera diguyur hujan.

Rob mendongak langit, lalu menatap Arthur. “Kau pulang dengan apa?”

Arthur memandang berkeliling, bahunya turun. “Kemana taksi-taksi di Nothingville? Shit…” Arthur menatap arlojinya. Jalan-jalan di Nothingville sudah sepi.

Guruh menyambar lagi dan angin dingin mengikuti berhembus setelahnya.

“Sepertinya akan hujan,” kata Rob sambil memandang ke jurusan di mana motel tempatnya menginap berada dan segera sadar kalau ia tidak sedang berjalan ke arah sana.

“Sial…” Arthur mengumpat ketika air mulai jatuh dari langit.

Mereka segera merapat ke emperan. Hujan masih berupa rintik-rintik namun cukup rapat. Rob menoleh Arthur yang berdiri sambil memeluk diri lalu mengalihkan pandangan ke jalan, memeriksa keberadaan taksi. Dua menit kemudian ia membuang rokok lalu melepas jaketnya. “Ayo, kita ke trukku sebelum hujan benar-benar menjebak kita di sini.”

Arthur menatap Rob dengan mata membulat. “Apa yang akan kita lakukan di trukmu?” sedetik kemudian lelaki ini sadar kalau pertanyaannya cukup aneh untuk diucapkan.

Rob mengangkat sebelah alisnya.

Arthur langsung salah tingkah, “Emm… maksudku, setelah ke trukmu lalu apa?”

“Tentu saja aku akan mengantarmu pulang dengan trukku. Kecuali kau punya rencana lain.” Rob menyeringai yang membuat Arthur jengah.

“Apa itu tidak akan merepotkan?”

“Akan merepotkan kalau kau memintaku mengantarmu ke rumah orang tuamu di London.” Rob memayungi kepala mereka dengan jaketnya lalu menunduk menatap Arthur. “Siap?”

Arthur mendongak dan bibirnya nyaris mencium dagu Rob. Dadanya berdebar. Sebelah tangannya memegang ujung jaket Rob. “Ayo!”

Mereka menerobos gerimis, berlari kecil menuju motel. Makin dekat lari mereka makin cepat. Hujan berubah lebat seiring jarak mereka yang makin hampir. Jaket Rob tak ada lagi bagian yang kering, semua lembab.

“Whoaaa…”

Mereka menabrak dinding motel, masuk ke bawah kanopi emperannya. Rob merapat di dinding dengan kedua tangan terangkat masih memegang jaket sementara Arthur tepat di depannya, rapat dan menyandar padanya. Satu tangan Arthur juga masih memegang ujung jaket Rob sedang tangan yang lain bertumpu spontan di pinggang pria itu ketika mereka terdampar di dinding motel.

Rob berdebar dan hampir kehilangan kontrol diri. Dengan wajah Arthur yang mendongak berjarak setengah jengkal saja dari wajahnya yang menunduk, sangat sulit bagi Rob untuk tidak terangsang. Rob mengumpat dalam hati ketika sadar kalau ia sedang ereksi di bawah sana, sesuatu di bawah sabuknya bereaksi terhadap himpitan Arthur di depannya.

Arthur bisa merasakan debaran jantung Rob bercampur dengan detak di dadanya sendiri yang juga kian cepat. Ia mencengkeram pinggang Rob lebih erat dan tanpa disadari wajahnya kian menghampiri wajah pria itu.

“Kita sampai…” lirih Rob ketika dirasanya ia tak akan mampu menahan diri lebih lama lagi untuk tidak menyambar bibir Arthur dan melumatnya. Meski sepertinya Arthur tidak akan keberatan, tapi Rob tidak ingin melakukannya secepat ini.

“Ya…” Arthur menarik diri. Melepaskan pinggang Rob dan keluar dari jaket pria itu.

Rob mengibaskan jaketnya di udara, mengeluarkan kunci truk dari saku jinsnya lalu menuju tempat ia memarkirkan kendaraannya itu. Arthur mengikuti di belakang dengan pikiran yang berputar-putar. Ia masih berdebar-debar mengingat apa yang baru saja terjadi. Berada dalam posisi serapat itu dengan pria seperti Rob bukanlah hal yang mudah. Arthur bisa saja meleleh jika Rob tidak mengeluarkan suara tadi.

Rob memanjat ke truk lewat pintu di sebelah jok kemudi lalu membantu Arthur untuk naik dengan mengulurkan sebelah tangannya. “Jadi, jalan mana yang menuju rumahmu?”

“Lurus ke kiri ke jalan utama, lalu lurus lagi sampai keluar dari pusat kota. Rumahku di jalan Nothingville, tepat di pinggiran kota.”

“Jalan Nothingville?” Rob menyalakan mesin truk.

Arthur mengangkat bahu, “Mungkin jalan itu lebih dulu ada sebelum kota ini.”

Rob manggut-manggut dan mulai melajukan truknya mengikuti petunjuk Arthur.

Mereka terdiam cukup lama sampai Arthur menemukan topik untuk dibicarakan. “Dia salah satu adikmu?” Arthur menunjuk pada selembar foto yang direkatkan menggunakan lakban bening di dasar kaca truk. Foto itu sudah usang, tapi sosok seorang wanita jelita dengan rambut tersanggul seadanya masih cukup jelas terlihat.

Rob memandang arah telunjuk Arthur sekilas, “Itu ibuku, aku mencomotnya dari album lama saat benar-benar meninggalkan rumah.”

Arthur mendekatkan wajahnya ke foto, “Seperti katamu, dia cantik… dan terlihat begitu keibuan.”

Rob tersenyum, “Jangan marah, tapi memang tak ada ibu sebaik ibuku.”

Arthur mendengus, “Maksudmu, ibuku kalah baik?”

Rob melirik Arthur dengan wajah menahan senyum, “Aku bilang jangan marah.”

Arthur menonjok bahu Rob yang membuat pria itu terkekeh. “Tak ada ibu yang sebaik ibuku!” katanya sambil melepas kemeja luarnya yang lembab, membuntalnya sedemikian rupa dan menaruhnya di dasbor. Arthur bersandar ke jok hingga nyaris tenggelam. Lalu senyap. Dalam hati, Arthur kian mengagumi sosok pria yang di sampingnya menyetir sambil senyum-senyum sendiri. Pria yang dekat dengan ibunya adalah tipe pria berhati lembut yang tentu saja punya kebaikan dalam dirinya. Dan pada kasus Rob, lihat saja… ia bahkan menyimpan foto semasa gadis ibunya di truknya.

Rob membelokkan truknya masuk ke Jalan Nothingville. Jalan itu tidak begitu lebar. Rumah-rumahnya setipe dengan pekarangan yang sempit dan tidak berpagar, hijau tertutup rumput hingga ke bahu jalan. Tak ada pekarangan yang tidak berpohon, semuanya diteduhi pohon-pohon yang menurut Rob berusia lebih tua dari usianya. Jika salah satu rumah cantik itu adalah benar dibeli Arthur dengan uang sendiri, sungguh anak muda ini sudah sukses.

“Yang paling ujung,” Arthur memberitahu.

Rob melajukan truknya beberapa meter lagi hingga berhenti di sisi pekarangan rumah yang ditunjuk Arthur. “Luar biasa…” Rob berdecak.

“Kecil, tapi harganya membuat terperangah.”

“Milikmu? Emm… maksudku, kau membayarnya sendiri?”

“Setengahnya milik Dad sampai aku berhasil melunasinya.”

Rob menyeringai.

“Jangan mengejekku…!”

“Tidak tidak tidak, aku tidak.”

“Lalu seringai apa itu? meremehkan?”

Sekarang Rob tertawa, “Aku kagum, jujur. Kau yang lebih muda dariku bisa punya rumah secantik itu, aku belum tentu bisa sepertimu.” Rob berdecak lagi, “Jadi ini milik kalian berdua? Kau dan ayahmu?”

Arthur menghela napas. “Ayahku bersikeras memberi cuma-cuma, tapi aku lebih bersikeras lagi menganggapnya hutang.”

“Nah, itu yang membuatku kagum.”

Arthur menggeleng pelan. “Ingin mampir?”

Sejujurnya, Rob sangat ingin mampir. Tapi dia ragu jika itu terjadi, dirinya bisa saja berakhir di ranjang Arthur. Siapa yang bisa tahu apa yang akan terjadi di dalam sana jika sudah sejak dari bar dirinya begitu mendambakan bercumbu dengan lelaki ini? Namun Rob tak ingin membuat kesan kalau dirinya tipe pria jalanan murahan yang dengan mudah mengumbar nafsu. Jadi, Rob menggeleng. “Maybe next time…” ujarnya dan Arthur menjawab dengan senyum.

Arthur membuka pintu truk, lalu meloncat turun. Sebelum menutup pintu, Arthur mendongak pada Rob. “Trims untuk malam yang menyenangkan ini, Rob.”

Rob mengibaskan tangan, “Ah, itu hal biasa.”

“Tidak… sungguh, malam ini luar biasa. Aku sangat berterima kasih. Kau teman menghabiskan waktu yang menyenangkan.”

Rob melengkungkan bibirnya, “Apa itu artinya kau tak akan menolak bila diajak ke bar lain kali?”

“Kalau kau yang mengajak, sepertinya tidak akan.”

Rob terkekeh di tempat duduknya.

Good nite, Rob.” Arthur mendorong pintu truk.

Good nite, Arthur.”

Truk itu memutar dan kembali melaju keluar dari Jalan Nothingville.

Rob baru sadar kalau kemeja Arthur masih teronggok di dasbor truknya ketika hampir sampai di motel. Turun dari truk, ia membawa masuk kemeja itu dan bermaksud mengeringkannya untuk dikembalikan esok pagi sebelum meninggalkan Nothingville.

*

Rob memukul kemudi truk demikian kerasnya ketika sampai di depan Arthur Coffee and Breakfast dan tulisan ‘CLOSED’ yang menggantung di pintu kaca mengejeknya. Apa Arthur terbangun sangat siang sehingga memutuskan tidak membuka rumah kopinya, atau ini memang hari libur bagi Annie, Rob tak tahu. Tapi ia sungguh kecewa karena tak dapat berpamitan. Rob menimbang-nimbang untuk menuju Jalan Nothingville dan segera memutuskan kalau itu bukan ide bagus meski dia punya alasan cukup bagus, alasan seperti ‘mengembalikan kemeja Arthur’. Rasanya terlalu tampak jika ia mengunjungi Arthur pagi ini setelah semalam mereka baru saja menghabiskan waktu bersama dan bahkan nyaris berciuman di bawah naungan jaketnya. Jadi Rob memutuskan untuk langsung meninggalkan Nothingville dan mengembalikan kemeja Arthur saat berkunjung lagi, dalam waktu dekat ini tentu saja.

***

Selamanya aku akan mencintai kertas dan spidol…

Entah aku yang pengecut,

atau cara terbaik menyatakan cinta memang lewat tulisan,

karena kadang lidah bertindak di luar kendali pada urusan seperti ini,

atau sama sekali kehilangan daya ucapnya,

bagiku,

meluahkan rasa tidak semulus membicarakan cuaca.

Andai ada gambar yang tepat,

akan kupilih satu untuk mewakilkan keadaan hatiku,

saat kau mengangguk dan berkata ‘ya, aku mau!’ dengan mata berkaca.

Ya Tuhan,

mengapa aku begitu diharapkan hingga gembiramu harus berair mata?

mengapa aku bisa demikian diinginkan hingga bahagiamu harus diwarnai haru?

Aku tak sempat mencari jawab,

karena kau sudah lebih dulu memberinya untukku,

lewat pelukanmu di tubuhku,

lewat pagutanmu di bibirku,

lewat matamu.

Harusnya,

sore itu juga kita ke gereja,

Annie bisa jadi satu-satunya pendamping mempelai pria,

Untuk kita berdua.

Tapi katamu, ‘cinta tidak butuh legalitas untuk membuatnya diakui.’

Dan kau mutlak benar…

*

Rob tiba di Nothingville pukul sepuluh, sudah begitu terlambat untuk sarapan muffin di tempat Arthur, maka ia mengganti rencana sarapannya dengan rencana minum kopi siang di tempat itu. Rob punya satu jam untuk bersiap-siap.

Si gadis resepsionis terheran-heran ketika Rob meminta selembar kertas dan boardmarker ketika check in. Mendapatkan yang diinginkannya, Rob menuju kamar setelah mengedipkan sebelah matanya buat si gadis.

Rob mandi lebih lama dari biasanya, mencukur wajahnya dan memastikan kalau cukurannya benar-benar pas. Selesai dari kamar mandi, setelah mengeringkan kepala dan badannya, ia berkutat dengan kertas dan spidol, masih berlilitkan handuk. Rob duduk menghadap meja di dekat jendela, memikirkan kalimat apa yang tepat untuk ditulisnya. Rob sudah memikirkan matang-matang tentang hal ini, tiga minggu berpikir sejak ia pergi dari Nothingville hari itu sudah cukup membulatkan tekadnya. Ia yakin Arthur punya perasaan yang sama dengannya. Masalahnya hanya satu, apakah Arthur akan mengiyakan atau menolak kehadirannya. Dan Rob tak akan pernah tahu jika belum mencoba. Dan hari ini ia sudah memutuskan untuk melakukannya.

Setelah menggaruk-garuk kepala beberapa kali, merenung ke jendela beberapa saat, dan mengumpat dua kali, Rob membuka tutup spidol dan mulai menulis kalimat yang sudah dipilihnya di atas kertas. Hanya empat kata saja dan diakhiri satu tanda tanya di ujungnya.

Selesai menulis, ia tersenyum dan lalu melipat kertas itu.

*

Rob tiba terlambat untuk minum kopi siang, tapi tidak terlambat untuk menemani Arthur makan siang. Rob berjalan kaki dari motel ke rumah kopi Arthur, itu yang membuatnya terlambat. Arthur sedang membalikkan papan tanda di pintu dan bersiap keluar dari rumah kopinya ketika Rob tiba dengan bungkusan di tangan berisi kemeja Arthur yang sudah dilondrinya sejak seminggu lalu.

Arthur jelas tidak berhasil menyembunyikan raut gembira di wajahnya ketika menemukan sosok Rob berdiri di undakan tangga rumah kopinya. Ia tersenyum lebar. “Annie merindukanmu…” ujarnya sambil menyeringai.

Rob jelas menyangsikan kebenaran ucapan Arthur, dan ia memutuskan untuk mengusik lelaki itu. “Hanya Annie?” tanyanya sambil menaikkan alis.

Arthur membuka pintu lebih lebar, mengabaikan pertanyaan Rob ia berseru ke dalam rumah kopinya, “Annie, kau ingin ikut makan siang bersama kami?”

Annie yang sedang mengelap meja menoleh ke pintu dan langsung tersenyum ketika melihat Rob. “Welcome back, Hottie…”

Rob terbahak, “Demi apapun, Annie, aku tidak ingin mendengar semua pujian kosong itu lagi darimu.”

Annie mengangkat kedua tangan, “Aku tak akan menyerah. Hei, Arty, mengapa kau tidak memberitahu pria seksi di depanmu kalau ucapanku tidak berlebihan.”

Rob melirik Arthur dan melihat bagaimana wajah lelaki itu memerah. “Annie, kau tak ingin ikut?” Arthur mengabaikan kalimat Annie dan kembali bertanya.

Of course not, Arty… aku tak ingin jadi patung di sana nantinya.” Annie mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali dan tertawa kecil, “Bawakan saja makan siangku seperti biasa.”

“Oke. Jangan terima pelanggan selagi aku tak ada, kau bisa merusak cita rasa kopiku nanti,” seloroh Arthur yang dibalas isyarat jari bertaut oleh Annie sambil menggerakkan dagu kearahnya dan Rob. Sebelum Annie makin membuatnya jengah, Arthur menutup pintu dan mendekati Rob yang kelihatan masih heran dengan tingkah Annie.

Rob mungkin bisa menerka maksud Annie, tapi ia tetap ingin menanyakan pada Arthur. “Patung, hah? Apa maksud Annie?”

Nothing,” jawab Arthur. “Apa itu?” ia menunjuk bungkusan yang dibawa Rob.

“Kemejamu.” Rob mengangkat kantong di tangannya.

“Yah, sepertinya aku merepotkanmu lagi.”

“Sedikit. Tapi aku senang direpotkan olehmu.”

Tanpa menyimpan kemeja itu lebih dulu, mereka berjalan menuju tempat makan yang terpisah tujuh pintu dari rumah kopi Arthur.

*

Arthur Coffee and Breakfast selalu tutup pukul enam. Tapi sepertinya hari ini pengunjung tempat itu sepi sehingga Arthur memutuskan menutupnya lebih awal. Rob tidak kembali ke motel. Ia masih di sana sejak Arthur membuka rumah kopinya sekembali dari makan siang. Kini bersama Annie, Rob membereskan cangkir dan piring dari atas meja sementara Arthur membereskan mesin kopi.

Ketika Annie sibuk mengelap meja dan mengatur kembali kursi, Rob justru sibuk di sinky mencuci cangkir dan piring. Arthur datang membantu ketika cucian Rob bersisa setengah.

“Rupanya kau punya bakat lain selain mengemudi truk besar, ya.”

“Maksudmu, menjadi tukang cuci piring?”

“Maksudku, menjadi tukang cuci piring part time di Arthur Coffee and Breakfast.”

“Woaw, apa itu tawaran kerja?”

“Apa mengemudi truk sudah mulai membosankan?”

Rob meniup kuat-kuat rambut Arthur hingga beberapa anak rambut lelaki itu yang memang gondrong bergerak menutup sebelah matanya, Arthur tertawa kecil sambil menggerakkan kepala.

Rob mengelap tangannya dan membiarkan Arthur mengeringkan gelas dan piring yang sudah selesai dibasuhnya. Ia memandang Annie sekilas yang masih sibuk di salah satu meja. Rob memutuskan untuk bertindak sekarang. Ia mundur dari sinky untuk merapat ke meja saji. Rob merogoh saku jinsnya dan mengeluarkan kertasnya. Ia membuka kertas berlipat itu dan berdiri menunggu sampai Arthur berbalik untuk melihatnya. Dan selama waktu menunggu itu, hanya Tuhan yang tahu betapa dada Rob diserang aritmia dan bulir keringat meluncur pelan di lekung punggungnya.

Rob hampir saja kehilangan tekad serta kepercayaan dirinya dan berniat meremas kertas yang dipentangkan di dadanya ketika Arthur berbalik dari sinky. Lelaki itu kaku di tempat dengan bibir sedikit membuka. Sedetik bagai setahun rasanya bagi Rob menunggu Arthur bereaksi. Rob hampir yakin kalau Arthur akan menyuruhnya keluar sampai kemudian dilihatnya mata lelaki itu berkaca seiring senyum yang muncul di wajah.

Arthur menatap bergantian antara Rob dan kertas di tangan pria itu, lalu mengangguk. “Ya, aku mau!”

“Ya Tuhan…!” Rob merasa dadanya meledak. Ingin saja ia melompat menembus plavon atau berlari ke seluruh jalan di Nothingville mengabarkan pada setiap warganya kalau Arthur kini miliknya. Tapi Rob tak bisa apa-apa selain tersenyum lebar dan menggumam ‘Tuhan’ beberapa kali. Ia mencampakkan kertas di tangannya ke meja saji dan merentangkan tangan untuk Arthur, “Kemarilah…”

Dan mereka berpelukan. Arthur mengunci tangannya erat-erat di punggung Rob, dan tanpa menunggu segera menyambar bibir pria itu untuk memberinya ciuman pertama. Ciuman singkat tapi begitu membekas buat keduanya.

I love you, Rob… I love you.”

Yeah, I know.” Rob kembali mencium bibir Arthur lalu memeluk kepala lelaki itu ke dadanya.

“Apa aku melewatkan sesuatu?” Annie datang menghampiri dengan wajah cerah.

“Annie, he’s asking me…!” Seru Arthur sambil melepaskan diri dari Rob.

Asking you what?”

Arthur bergerak meraih kertas di meja saji dan mempentangkannya untuk Annie.

Will you marry me?” Annie membaca kalimat di kertas yang ditulis dengan huruf kapital lalu membekap mulutnya sekilas. “Oh my God…!” serunya. “Kau jawab apa?” Annie bersemangat.

“Tentu saja YA, bukankah sudah pernah kukatakan padamu aku akan menjawab demikian jika Rob bertanya?”

Kini tahulah Rob kalau ucapan Arthur tentang Annie yang katanya sudah bagai saudara terbukti benar. Arthur tidak menutupi apapun dari wanita itu. Rob ragu, apa Arthur juga terbuka pada mereka yang benar-benar saudara di dalam keluarganya seperti ia terbuka pada Annie?

Keduanya berpelukan, Annie bahkan harus membersihkan matanya. Wanita itu menepuk-nepuk pundak Arthur sekilas lalu memandang Rob. “Kau,” tudingnya pada Rob, “jaga adikku. Jika sampai kau mempermainkannya, aku akan menjadikanmu barberkyu.”

Yes, Ma’am…!” Rob bertindak seperti seorang perwira dengan mengangkat telapak tangan ke keningnya.

“Jadi, kalian akan menikah?”

Rob memandang Arthur, “Hanya jika Arthur menginginkannya.”

Sekarang Annie mengalihkan perhatian pada bosnya yang tadi juga disebutnya adik. “Kau mau ke gereja sekarang, Arty? Aku yakin masih sempat menyiapkan gaun untuk kupakai, aku akan jadi pendamping kalian yang paling cantik.”

Lelaki itu tertawa mendengar ucapan Annie lalu memandang Rob. Arthur mendekat, “Kau mencintaiku, aku mencintaimu. Itu sudah cukup bagiku, Rob.” Arthur meletakkan kedua tangan di bahu Rob yang sekarang berdiri sambil menyandar di meja saji. “Cinta tidak butuh legalitas untuk membuatnya diakui… kita tidak butuh juru nikah.” Dan dengan begitu Arthur mencium bibir Rob lagi yang dibalas pria itu sepenuh hati sambil merangkul pinggang Arthur.

“Kalian membuatku iri.” Annie mengibaskan tangan ke udara lalu berbalik meninggalkan mereka berdua.

***

Kita mabuk,

cinta ternyata bisa demikian membuat kepayangnya,

R + A = B rupanya adalah formula hebat bagi cinta kita.

R untukku sedang A untukmu,

jika berada cukup dekat,

akan selalu berakhir dengan Bed.

*

Rob check out tanpa menginap yang membuat si gadis resepsionis bertanya mengapa. Aku baru saja tahu jalan pulang ke rumah, begitu Rob memberi jawaban lalu keluar menuju truknya di mana Arthur sudah menunggu.

Rob memarkir truknya di pekarangan Arthur, mereka turun dari truk lewat pintu yang sama dan bergandengan tangan menyeberang halaman menuju rumah. Tepat setelah Arthur memasang pengait rantai di pintunya, Rob menarik lelaki itu ke dalam pelukannya. “Jadi, yang mana kamarmu?” bisik Rob ketika menggesekkan hidungnya di telinga Arthur.

Arthur mengejang, memberi kecupan ringan di tengkuk Rob lalu menarik diri. “Aku akan menunjukkan kamar mandinya terlebih dahulu.”

Rob membuat bunyi ‘tlak’ dengan lidahnya lalu menyeringai, “Maksudmu, kita akan berendam berdua di bath tub?”

“Maksudku, kita perlu mandi.” Arthur berjalan lebih dulu, mengambil handuk bersih di lemari dan menyodorkan untuk Rob.

“Mana punyamu?”

Arthur tak menjawab, sebaliknya mendorong Rob menuju kamar mandi dan bertindak untuk menutup pintu ketika Rob sudah berada di dalam.

“Hei, kau tak ikut?” Rob berbalik dan menahan daun pintu.

“Kau duluan.”

“Oh, Sweetheart… kau mengecewakanku.” Rob memasang raut memelas dengan begitu berlebihannya.

Arthur mendorong lembut muka Rob dan menutup pintu ketika pria itu mundur sambil terkekeh.

“Hei, Arthur… aku kesulitan membuka celanaku, kau mau membantu?”

Arthur menggeleng-gelengkan kepala saat sudah setengah jalan menuju kamar dan mendengar Rob berseru dari kamar mandi. “Aku akan membantumu mengeringkan badan saja nanti!” balas Arthur dan meneruskan menuju kamar sementara Rob terbahak di belakang sana.

*

Hujan mengguyur Nothingville tepat saat Arthur selesai mandi, dan sempurna. Listrik tiba-tiba padam.

“Rob, bisakah kau menyalakan lilin?” Arthur berseru dari dalam kamar mandi sambil mencoba melilitkan handuk ke pinggangnya dalam keadaan buta. Arthur menunggu beberapa saat tapi Rob tak merespon. Ia memanggil lebih keras karena mengira suaranya tadi tersamarkan guruh hujan. Arthur meraba-raba kenop pintu kamar mandi dan berhasil membuka pintu.

“Aku tidak menemukan lilin.”

Shit, Rob… kau membuatku kaget!” Arthur mengumpat saat Rob memeluk pinggangnya dari belakang begitu ia melewati ambang pintu kamar mandi. Pria itu menebar bau harum parfum yang lembut bercampur bau sabun. Arthur tahu kalau Rob cuma memakai jins karena punggungnya yang masih basah beradu dengan dada Rob yang polos. “Lilinnya ada di laci kabinet di dapur, keberatan melepaskanku dan mengambilnya? Kita bisa menabrak benda-benda dalam keadaan gelap begini.”

Rob menggesekkan dagunya di tengkuk Arthur sebelum melepaskan libatannya di pinggang lelaki itu untuk kemudian meraba-raba menuju dapur. Arthur mendengar Rob mengaduh dan langsung tahu kalau prianya itu pasti baru saja menabrak meja makan.

“Kau baik-baik saja?”

Sweetheart, ingatkan aku untuk memindahkan meja ini lebih ke pinggir besok. Aku tak habis pikir mengapa kau harus mengaturnya tepat di tengah ruangan.”

“Itu seni, Rob…”

“Seni darimana? Ini malapetaka.”

Arthur tertawa, lalu cahaya lilin menerangi dapurnya. Rob terpincang-pincang mendekati Arthur yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Arthur menatap kaki Rob dan mulutnya berkata ‘sorry’ tanpa suara. Rob membalasnya dengan mimik meringis. Mereka bertatapan beberapa saat. Cahaya lilin membuat sosok keduanya tampak memikat mata satu sama lain. Kediaman itu diakhiri Rob yang kembali mengaduh karena lelehan lilin yang terbakar jatuh ke telapak tangannya.

“Dasar bengal.” Arthur melangkah bermaksud mengambil tempat lilin di atas meja makannya tapi lengannya ditahan Rob.

“Bisakah kita ke kamar sekarang?” gumam parau Rob di telinga Arthur yang membuat lelaki itu memalingkan wajah dan langsung membuat bibirnya dan bibir Rob menempel. Hanya menempel sejauh ini.

Rob tidak lagi mengaduh, padahal lelehan lilin menetes beberapa kali ke telapak tangannya. Ia lalu mengulum bibir Arthur dan melepasnya, mengulumnya lagi dan melepas lagi. Sesaat kemudian ia membimbing tangan Arthur ke perutnya lalu melanjutkan menyerang bibir sang kekasih.

Arthur terbakar seketika. Ia mengangkat satu kaki dan menumpukan pahanya di sisi pinggang Rob, kini ia mutlak menopang pada sosok Rob. Arthur membiarkan Rob menyingkap handuknya hingga nyaris terlepas, membiarkan bibirnya dilumat Rob. Arthur sudah meleleh dari tadi, ia bahkan kesulitan berdiri.

Sweetheart, rasanya jalan ke kamarmu tampak terang sekarang.”

Arthur tertawa tertahan dan tidak melarang ketika Rob meniup mati lilin di tangan kirinya dan mencampakkannya ke lantai. Pria itu lalu mengangkat pinggang Arthur ke perutnya dan Arthur dengan reflek membelit pinggang Rob dengan kedua kaki. Perlahan sambil sesekali berciuman, Rob berjalan menuju kamar. Melihat Rob yang bisa berjalan sangat baik sekarang, jelaslah kalau kepincangannya beberapa saat tadi hanya untuk menggoda Arthur.

Mereka berhenti dan berdiri berhadap-hadapan di tepi ranjang Arthur. Cahaya kilat yang sesekali menerobos lewat jendela lebar kamar tidur Arthur menjadi penerangan mereka. “Kau indah sekali…” bisik Arthur, kedua tangannya berada di dada Rob, menikmati tekstur kulit pria itu di telapak tangannya.

Rob menahan napasnya ketika satu tangan Arthur bergerak turun. Dibiarkannya Arthur menjelajah. Ia kini milik Arthur, dan ia tak akan merasa keberatan sedikitpun dengan itu. Rob mengerang ketika Arthur menempelkan tangannya sedemikian rupa di perut Rob sebelum kemudian meluncur ke bawah melewati pingggang jins dan celana dalamnya sekaligus. Rob memejamkan matanya ketika Arthur merapat untuk mengecup lehernya. Kedua tangan Rob diam di sisi badan, ia benar-benar sedang membiarkan Arthur berbuat sesuka hati atas dirinya. Arthur menyapu wajah Rob dalam kecupan-kecupan singkat dan intens sedang di bawah sana ia tepat menyentuh pusat panas Rob.

“Arthur, kau menyiksaku di bawah sini.”

Arthur tertawa pendek, berhenti mencium dan menarik tangannya dari dalam celana Rob. Kilat kembali berkiblat menyorot mereka berdua lewat jendela. Handuk Arthur tampak melorot dan Rob merasa badannya kian membara.

Arthur mendorong Rob untuk rebah ke ranjang. Sementara Rob setengah rebah bertumpu kedua siku di atas ranjang, Arthur merangkak naik dan memusatkan perhatiannya pada pengait celana Rob. Tak perlu usaha berarti bagi Arthur untuk membuka dan menyibak seperlunya celana Rob sebelum kemudian bergerak naik ke atas pria itu.

Rob menelentang sepenuhnya kini, ia menyambut Arthur dengan sukarela, satu tangan bermain di leher Arthur sembari mencumbu lelaki itu demikian rakusnya sementara tangan yang lain menarik lepas handuk Arthur. Rob bergerak dan Arthur segera ada di bawahnya. “Apa aku bisa…” kalimat Rob menggantung begitu saja. Tapi Arthur mengangguk lalu melebarkan kedua kakinya agar Rob leluasa. Rob menarik diri untuk melepaskan celananya lalu kembali memposisikan diri di antara tungkai Arthur ketika ia sudah polos sempurna. “You’re beautiful, Arthur Craig…”

Arthur menarik selimut hingga menutupi setengah pinggang Rob. Lelaki itu menggigit bibirnya ketika Rob makin hampir untuk memasukinya.

Di luar, guruh dan hujan masih menggila ketika untuk pertama kalinya Rob menyatukan dirinya dengan Arthur. Guruh dan hujan juga belum berhenti ketika Arthur menarik seluruh selimut lalu menyurukkan wajahnya ke dada Rob yang basah keringat setelah penyatuan mereka selesai menyisakan geletar hasrat yang membungkus seluruh kulit.

Satu lengan Arthur terkulai lemas di pingggang Rob, mereka tidur menyamping. Setelah mengecup kening Arthur lama, Rob memejamkan mata, menyusul Arthur yang sudah bernapas teratur di dadanya.

*

Mereka begitu serasinya, begitu saling terobsesi satu sama lain. Cinta mereka tampak begitu kuatnya, simbiosis yang ideal. Begitulah yang Rob dan Arthur rasakan. Kehidupan seks mereka juga tidak mengenal kata surut, Rob selalu merasa bagai itu adalah pertama kalinya setiap ia berada di atas Arthur. Demikian juga halnya Arthur, ia juga merasa bagai itu adalah pertama kalinya setiap memeluk sosok telanjang Rob.

Seakan cinta mereka tak pernah akan berkurang kadarnya. Dan sepertinya itu benar.

*

Rob berhenti berpetualang dengan truknya, ia menetap, di Nothingville. Ia kini punya tempat untuk pulang, Arthur. Dua bulan setelah resmi menjadi teman hidup Arthur, Rob menjual truk besarnya. Arthur keberatan dan mereka sempat berdebat.

Itu satu-satunya milikmu, Rob, kau tak harus menjualnya. Arthur menyuarakan keberatan demikian berkali-kali. Tapi ia tak bisa berkata apa-apa selain memeluk Rob dengan mata berkaca-kaca ketika Rob menjawab bahwa satu-satunya miliknya yang ingin dijaga dan menerima semua perhatiannya adalah hanya Arthur, Rob tak ingin membagi itu dengan yang lain.

Maka truk itu berpindah tangan dengan harga yang fantastis, Annie sampai harus melongo ketika Arthur memberitahu berapa uang yang dimiliki Rob setelah kunci truk itu berpindah ke pemilik baru. Saat itu mereka bertiga sedang membereskan Arthur Coffee and Breakfast.

Well, Annie, jika kau percaya kata Arthur maka sepertinya aku punya bundel uang di bawah tempat tidurku, padahal tidak sama sekali. Rob malah merendah yang membuat Arthur makin ngotot membicarakan harga truk itu dengan Annie.

Sekali lagi, Arthur marah-marah dan tidak setuju ketika Rob memintanya memakai uang penjualan truk itu untuk melunasi cicilan rumah kopinya. Jangan buat aku terlihat materialistis, Rob, itu milikmu, uangmu. Tapi lagi-lagi Arthur tak bisa berbuat apa-apa saat Rob memberitahu beberapa hari kemudian kalau ia sudah berjumpa dengan pemilik lama rumah kopi itu dan bahwa kini Arthur tak punya hutang terkait tempat bisnisnya.

Ya ampun, Sweetheart… cicilan itu hanya tinggal sedikit saja, dan kau mendiamkanku hanya karena aku ingin menolong kekasihku sendiri? Rob bertanya frustrasi ketika tak tahan lagi sebab didiamkan Arthur selama dua hari. Ketika Arthur tak merespon apapun, Rob malah membuka pakaiannya dan Arthur segera mengikuti pria itu ke kamar, begitu saja dan ketegangan di antara mereka selesai.

Puncaknya rumah. Ketika Arthur hendak mentransfer setahun keuntungan usaha kopinya ke rekening ayahnya untuk menyicil pinjaman pembelian rumah dulu, Rob berhasil meyakinkan Arthur kalau ia bisa memakai sisa uang hasil penjualan truk ditambah tabungannya untuk menutupi pinjaman Arthur pada sang ayah dengan perjanjian bahwa Arthur kini berhutang pada Rob. Tapi ketika bulan-bulan selanjutnya Arthur ingin menyicil, Rob malah menutup rekening banknya.

Saat Arthur naik darah dan merepet panjang lebar, Rob malah mengambil cotton bud, duduk di sofa dan mengorek kupingnya. Arthur tidak menunggu untuk menerjang Rob dan mereka bergulingan di karpet yang berakhir dengan saling melepas pakaian, lagi.

Arthur menggunakan uang tak terpakai itu untuk membeli sebuah mobil tua yang punya bak rendah di belakang, kepemilikannya atas nama Rob. Rob setuju. Mereka berfoto dengan pose berangkulan bahu dan tersenyum lebar di depan mobil tua warna oranye itu di hari pertama kendaraan itu diparkir di pekarangan, di tempat yang sama truk Rob dulu diparkir. Foto pertama bersama mobil tua. Foto itu diperbesar dan dibingkai Rob lalu digantung di ruang depan rumah Arthur yang akan langsung terlihat begitu pintu dibuka. Setiap kali masuk rumah, baik Rob atau Arthur pasti akan menatap bingkai itu terlebih dahulu dengan wajah cerah sebelum lanjut masuk melewati ruang depan.

Rob dan Arthur jadi punya kebiasan baru setiap hari libur Arthur Coffee and Breakfast, berkeliling Nothingvile dengan mobil tua mereka di pagi hari dan berjalan kaki menyusuri jalan-jalan di pusat kota Nothingvile yang tidak pernah terlihat cukup ramai saat sore setelah memarkir mobil tua itu di depan rumah kopi Arthur. Mereka menikmati melakukan kedua hal itu. Saat berkeliling dengan mobil tua di pagi hari, Rob akan membawa serta sebuah kamera. Satu foto untuk setiap satu kali berkeliling, di manapun sudut Kota Nothingville yang dipilih Arthur, Rob akan memarkir mobil tua mereka dan berfoto bertiga—ia, Arthur dan mobil tua. Ketika sore saat berjalan kaki, itu adalah agenda yang sangat disenangi Arthur, karena mereka akan bergandengan tangan sepanjang jalan, duduk di kursi jalan bila penat atau bercengkerama dengan milkshake di tangan masing-masing di undakan tangga rumah-rumah dempet pada salah satu jalan di pusat Kota Nothingville. Itu adalah dua saat berkualitas yang sangat ditunggu Arthur yang hanya terjadi sehari dalam seminggu.

Arthur kerap mengatakan kalau Rob adalah puncak kebahagiaan hidupnya, tak ada lagi yang lebih membahagiakan dari itu. Dan Rob akan menanggapi dengan ekspresi bosan yang dibuat-buat sambil memutar bola mata. Selalu begitu.

Hidup mereka baik-baik saja, mereka bahagia.

Namun, kapal mana yang berlayar di samudra luas dan tak pernah bertemu badai?

***

Minggu pagi. Mereka sepakat untuk tidak melakukan rutinitas biasa mereka di hari libur dan sekali ini menggantinya dengan mengurus bunga. Lady’s time, kata Rob. Romantic time, kata Arthur, karena menurutnya saat dua orang lelaki merawat tanaman bersama-sama itu terlihat sangat romantis. Rob hanya bisa menggeleng-geleng saja mendengar alasan Arthur. Jadilah, Rob tidak memanaskan mesin mobil tua mereka dan menyibukkan diri di pekarangan bersama Arthur.

Rob mendongak dari pot-pot bunga yang tengah diurusnya di depan beranda rumah ketika sebuah mobil mewah memasuki pekarangan. Arthur yang sedang memegang selang air untuk menyiram juga ikut berhenti dari pekerjaannya dan mengikuti Rob memerhatikan mobil mewah itu.

Arthur langsung mencampakkan selang siramnya ke rumput ketika mengenali wanita paruh baya yang turun dari mobil lewat pintu penumpang. “Mom…!” serunya dan bergerak menyongsong.

Rob terpaku di tempatnya, mengabaikan acara melepas kangen Arthur bersama ibunya yang saling memeluk dan memandang mengernyit pada sosok laki-laki paruh baya yang turun kemudian dari pintu pengemudi. Dari tempatnya berdiri, Rob bisa menerka dengan pasti siapa adanya laki-laki paruh baya itu, pasti ayahnya Arthur. Sekarang, Rob tahu mengapa Arthur lebih dekat dengan ibunya, ayah Arthur punya aura diktator dan kesan berkuasa yang sangat dominan pada sosoknya. Tipe laki-laki yang tidak suka pada kata gagal, no excuse. Rob bisa menilai itu hanya dengan sekilas pandang.

“Rob, ini Mom and Dad…” Arthur mengenalkan orang tuanya ketika mereka sudah berada di beranda. “Mom, Dad… ini Rob…” kalimat Arthur menggantung di udara, dan mereka semua menunggu apa kelanjutannya. “He isa friend…”

Marah, dan kecewa, tapi Rob tetap mengerti ada alasan mengapa Arthur mengenalkannya sebagai teman. Ia menatap Arthur sekilas lalu senyum dipaksakan muncul di wajahnya. Ia membuka sarung tangannya yang tertutupi tanah, menyapu keringat di dahi lalu mengelap tangan kanan ke celana jinsnya yang juga dikotori tanah, bahkan keadaan kaus tanpa lengan yang dipakainya tampak lebih dekil lagi. Rob amat sangat sadar kalau kedua sosok di depannya kini sedang memerhatikan dirinya dengan pandangan menelanjangi—mungkin ibunya Arthur tidak, Tapi Rob sama sekali tidak merasa terintimidasi.

Good morning, Mr. and Mrs. Craig… welcome to Nothingville, kuharap perjalanan kalian menyenangkan.” Rob mengulurkan tangannya, “Rob Lowe…”

Arthur amat sangat berterima kasih pada ibunya karena mau menyambut tangan Rob meski setelah pria itu menggantung ulurannya begitu lama.

“Apa yang Anda lakukan di rumah putraku, Mr. Lowe?”

“Dad…” Arthur menekan suaranya.

Rob melirik Arthur lalu menantang pandangan dengan ayah kekasihnya. “Aku tinggal di sini.”

Ekor mata Rob bisa melihat kalau ibunya Arthur menunduk dan mendekap dompet besarnya ke dada.

Ayah Arthur melirik pot-pot yang masih berserakan di kaki Rob. “Tinggal di sini untuk mengurus tanaman?”

“Benjamin…” ibu Arthur menukas suaminya. “Tidakkah sebaiknya kita masuk dulu dan membiarkan Arthur membuatkan teh?”

“Kau ingin masuk dan minum teh, Eve, silakan saja. aku masih punya urusan di sini!” Ayah Arthur, Benjamin, berucap cukup dingin dan sorot matanya tetap tertuju pada Rob.

Arthur benci cara ayahnya menatap Rob, lebih benci lagi pada setiap ucapan ayahnya. “Dia tinggal di sini bersamaku, Dad…”

Rob menatap Arthur lalu ibunya yang sekarang tampak begitu tak berdaya, Eve mundur perlahan dan berjalan kembali ke mobil.

“Mom…” Arthur memanggil ibunya, memandang Rob beberapa lama lalu mendesah dan mengikuti Eve.

“Mr. Lowe, aku tahu kelemahan putraku. Kau salah jika berfikir dapat memanfaatkannya…”

“Apa maksud Anda, Mr. Craig?”

Benjamin memasukkan tangannya ke saku jas, ekspresi dan tatapannya belum berubah terhadap Rob. “Maksudku, jangan berfikir kalau selangkanganmu sudah cukup hebat sebagai modal untuk memperdaya putraku demi kelangsungan hidupmu. Aku ingin kau pergi dan berhenti jadi parasit dalam hidupnya!”

Rob nyaris kehilangan kendali diri dan meninju rahang Benjamin jika saja ia tidak ingat kalau laki-laki di depannya adalah ayah Arthur. Rob mengatupkan rahang rapat-rapat, menindih amarahnya.

Benjamin menyeringai, “Putraku memang kadang sangat bodoh, Mr. Lowe. Tapi aku, ayahnya, cukup pintar…”

Arthur keluar dari mobil dan mendekati kedua orang itu, “Dad, Mom ingin pulang!”

Benjamin memandang putranya, menepuk bahu sang putra lalu berjalan ke Mobil, tapi tiga langkah kemudian ia berhenti dan membalikkan badan. “Oh, aku hampir lupa. Nice to meet you Mr. Lowe.”

Bahkan saat Benjamin mengatakan itu, Rob dapat melihat betapa laki-laki itu ingin meludahinya. Nice to meet you? Benjamin tak pernah senang sedikitpun bertemu dengannya, Rob amat tahu itu.

Setelah mobil mewah itu hilang dari pandangan, Arthur menyentuh lengan Rob. “Kau baik-baik saja?”

Rob tersenyum, “Well, dulu aku pernah tak habis pikir mengapa wanita seperti ibuku bisa jatuh cinta dengan laki-laki seperti ayahku… but now… aku lebih-lebih tak habis pikir lagi bagaimana wanita seperti ibumu setuju diajak menikah oleh laki-laki seperti ayahmu…”

“Apa itu sindiran?” Arthur menatap tajam.

Rob tertawa lalu mengacak rambut Arthur, “Tidak, Sweetheart. Aku baru saja memuji ibumu dan betapa baiknya ayahmu.”

Arthur menghela napas, “Jangan pedulikan apapun yang dikatakan Dad padamu.”

“Apa aku terlihat peduli?” Rob mengibaskan lengan.

Arthur tertawa, “That’s my man…”

Arthur mengambil selangnya kembali dan melanjutkan perkerjaan. Rob kembali mengisi tanah ke pot. Ia melupakan sarung tangannya, pikirannya dipenuhi kalimat-kalimat Benjamin kini. Boleh saja tadi ia meyakinkan Arthur kalau dirinya tidak peduli, namun tetap saja ucapan-ucapan Benjamin tidak semudah itu untuk dilupakan begitu saja.

***

Sebenarnya,

Rumus kebahagiaan itu sangat sederhana :

NIKMATI HIDUPMU

Tapi masalahnya,

Ada saja mereka-mereka,

yang menikmati hidup dengan cara mengusik bahagia orang lain.

Saranku,

Jangan diamkan mereka!

*

Sejak hidup bersama, Rob juga menjadi rekan kerja bagi Arthur dan Annie. Ia senang berkutat di sinky meski sangat kelihatan kalau ia lebih suka menggoda Arthur dari apapun hal yang dilakukannya di sana, Rob juga sering merapikan meja dan kursi saat rumah kopi itu tutup atau sesekali membantu Annie mengantar piring berisi pesanan pelanggan ke meja-meja jika Arthur Coffee and Breakfast sedang ramai pengunjung dan Annie tampak memerlukan bantuan.

Seperti hari ini, Rob meninggalkan sinky ketika dilihatnya Annie lebih sering mondar-mandir dari biasanya. Dan sepertinya hari ini keputusan Rob meninggalkan sinky bukanlah keputusan yang tepat.

Sudah seminggu ini, Arthur Coffee and Breakfast punya pelanggan baru. Dua orang pria berbadan besar dan berkepala nyaris plontos sepertinya ketagihan muffin di rumah kopi Arthur. Dan itu memang wajar. Yang tidak wajar dan membuat Rob berprasangka buruk adalah, dua pria itu terlalu lama menghabiskan waktu di Arthur Coffee and Breakfast dibandingkan pelanggan-pelanggan yang lain, juga… mereka dipergoki Rob terlalu sering memperhatikan dirinya. Rob mulai ragu kalau dua pria itu benar-benar datang ke rumah kopi Arthur karena suka muffinnya, bukan mustahil dua pria itu datang untuk memata-matainya. Sampai pada kesimpulan ini, pikiran Rob langsung teringat Benjamin.

“Rob, Honey, bisa antar ini ke meja di sana?” Annie bertanya cepat sambil menunjuk meja dimaksud, wanita ini sedang mengisi teko dengan kopi yang baru saja disiapkan Arthur.

Rob melihat meja yang ditunjuk Annie dan menghela napas, itu adalah meja dua pria pelanggan baru Arthur Coffee and Breakfast. Rob melipat kain lap yang baru saja digunakannya untuk mengeringkan tangan setelah selesai di sinky lalu meletakkannya di keranjang kain lap. “Itu saja, Annie?” Rob menunjuk dua piring yang sudah dipersiapkan Annie.

“Ini untuk meja di sudut sana.” Annie mengisi satu piring lagi dan menunjuk meja di sudut kiri di mana seorang perempuan dalam setelan kerja duduk tenang sambil menekuri surat kabar.

Copy that.” Rob mendekati Arthur dan meniup tengkuk lelaki itu sekilas sambil tertawa kecil baru kemudian mengambil tiga piring yang sudah diisi Annie.

Dua pria itu sedang tertawa keras ketika Rob tiba di meja mereka. Entah hal lucu apa yang sedang mereka obrolkan sehingga harus tertawa sekeras demikian.

Muffinnya, Sir…” ucap Rob sopan sambil meletakkan dua piring di atas meja.

Mereka tampak berusaha menghentikan tawa yang di mata Rob tampak sangat menyebalkan. Rob siap berbalik meninggalkan meja ketika salah seorang dari mereka berbicara padanya, masih dengan sisa-sisa tawa.

“Hei, Bung… bisa bantu aku?” si pria batuk-batuk dulu sebelum melanjutkan kalimat. “Temanku masih tidak percaya kalau b*reback s*x menyenangkan, dia menganggap hal itu lucu. Tapi aku mengatakan pada temanku ini kalau pasangan gay akan mengacungkan jari tengah untuknya jika ia berdebat masalah itu dengan mereka. Dan dia masih tak yakin, bisa kau bantu aku meyakinkannya?”

Hening sejenak. Rob kini tahu kalau kecurigaannya benar, dua pria ini tidak ke Arthur Coffee and Breakfast untuk menikmati kopinya, tapi untuk mengusik ketenangannya.

Rob memaksa sebuah senyum meski hatinya sedang dipanaskan, “Sorry, Sir… aku tidak bisa membantu.” Rob siap beranjak.

You see? Dia tidak tahu apa-apa…” pria kedua menukas dan melanjutkan tawanya.

Rob mengerutkan alis lalu berbalik dan mulai berjalan menuju meja di sudut kiri.

“Hey, Man… bagaimana jika kau meyakinkan temanku kalau kau sangat menyukai melakukan itu dengan pacarmu yang di sana?” pria pertama berseru keras.

Keheningan terjadi secara spontan di dalam Arthur Coffee and Breakfast. Annie berdiri terpaku di satu meja dengan teko di tangan, sedang Arthur bersiap-siap keluar dari balik meja saji.

Rob memutar badan dan menatap kedua pria yang terpisah tiga langkah di depannya. “Excuse me, apa yang kau tanyakan barusan?”

Pria yang tadi berseru tersenyum timpang, “Aku bertanya, bagaimana kalau kau meyakinkan temanku kalau kau sangat menyukai memb*reback pacarmu yang di sana…” ia menunjuk Arthur.

“Rob…!”

Arthur memanggil. Namun darah Rob sudah lebih dulu mendidih. Ia melangkah lebar menuju meja dua pria itu dan menghantamkan piring berisi muffin ke atas meja hingga pecah. Beberapa pengunjung wanita mengeluarkan jeritan kaget. Arthur bergerak cepat mendekati tiga orang itu diikuti Annie.

Rob hilang kendali. Tepat ketika dua pria itu berdiri dari kursi mereka, Rob meninju wajah pria pertama hingga membuat si pria tersungkur ke lantai dengan hidung patah penuh darah. Melihat temannya dijatuhkan, pria kedua balas menghajar Rob.

Arthur panik. Seumur-umur, ia belum pernah berhadapan secara nyata dengan perkelahian, tidak pernah berkelahi dan tidak pernah melihat langsung. Annie menjerit-jerit menyuruh mereka berhenti. Beberapa pengunjung yang laki-laki mendekati arena perkelahian.

Rob berubah jadi singa lapar. Setelah pria kedua berhasil menyarangkan tinju ke pelipisnya sesaat setelah pria pertama jatuh dengan wajah berdarah, Rob membabi-buta. Seorang pengunjung yang coba menahannya terpelanting ke belakang. Rob meninju perut pria kedua hingga si pria hampir terlipat dan terhuyung-huyung membentur meja di belakangnya. Saat pria pertama sedang mencoba bangkit dari lantai sambil memegang hidungnya yang berdarah, Rob mencengkeram kerah kemeja si pria dan menyarangkan tinju kedua, ketiga, keempat, kelima dan akan terus bertambah kalau saja Arthur tidak menariknya.

“ROB, HENTIKAN!!!”

Rob terengah-engah, tinjunya tertahan di udara karena dipegang erat oleh Arthur. Beberapa pengunjung pria sudah melingkari mereka, ekor mata Rob dapat melihat kalau pria kedua sudah dipegangi tiga orang pengunjung. Annie berdiri gemetar dengan kedua tangan mengepal di mulut.

Rob melepaskan cengkeramannya pada kemeja pria pertama dan mundur dengan dada masih naik turun. Begitu dilepaskan, si pria yang wajahnya sudah babak belur langsung mengelesoh di kursi, menjepit hidungnya untuk menghentikan perdarahan dan mendongak.

“Rob…” panggil Arthur begitu pelannya.

Rob tidak merespon, ia menyibak lingkaran penonton dan berlalu ke toilet.

Arthur tidak mengejar, ia memandang dua pria di depannya, pria kedua yang sudah tidak lagi dipegangi kini sedang mencoba membantu temannya yang tampak kepayahan. “Maafkan apa yang terjadi baru saja…” Arthur merutuk dirinya yang tidak bisa menyembunyikan getaran dalam kalimatnya.

“Kau harus mengajarkan sopan santun pada pacarmu, Kid…!” pria kedua mendengus lalu membantu temannya berdiri.

“Pasti,” gumam Arthur lalu melirik Annie yang masih pucat. “Emm… ini tidak akan melibatkan pihak kepolisian, kan?” Entah apa yang mendorong Arthur untuk bertanya demikian. Tapi jelas, ia mengkhawatirkan Rob karena kekasihnya yang menyerang lebih dulu.

Kedua pria itu saling bertatapan lalu memandang Arthur, “Kau lihat temanku, Kid? Ini penyerangan…”

Please…” Arthur memelas, ia menunjuk kursi lalu melirik Annie. Kedua pria itu patuh dan duduk.

Annie berdehem dan lalu dengan sopan memberitahu kepada pengunjung bahwa Arthur Coffee and Breakfast tutup lebih awal. Lima menit kemudian, Annie sudah memasang tulisan CLOSED di pintu.

Arthur memandang ke arah toilet, Rob belum keluar dari sana. Lelaki itu lalu memandang dua pria di depannya. “Berapa?”

“Sialan, Arthur!”

Arthur kaget, ia memandang lagi ke arah toilet dan menemukan Rob di sana, ujung-ujung rambut coklatnya masih basah.

Rob berjalan ke pintu masuk dan membukanya, “Get out, both of you, NOW!!!”

Merasa tak bisa melakukan apa-apa, kedua pria itu melangkah ke pintu diikuti pandangan Arthur dan Annie.

“Sampaikan salamku untuk Benjamin,” Rob berbisik sangat pelan agar tidak terdengar Arthur atau Annie ketika kedua pria itu melintasinya. “Katakan padanya untuk jangan bersikeras kecuali dia ingin melihat apa yang bisa dilakukan Rob Lowe!” Keduanya menatap Rob sekilas lalu keluar dari Arthur Coffee and Breakfast.

*

“Kau gila, Rob! Di mana akal sehatmu? Mereka bisa saja mengadukanmu ke polisi.”

Bahkan ketika membentak demikian, Arthur tetap mengompres pelipis Rob yang memar dengan penuh kasih. Meniup-niup pelipis pria itu perlahan sambil memeriksa dengan jarinya. Rob hanya diam, duduk membungkuk menumpukan kedua lengan di paha. Annie masih di sana, duduk di depan keduanya.

“Harusnya aku tak meminta tolong, Rob… Sorry…” dasar Annie, ia malah mengira kalau itu salahnya sejak semula.

“Ini bukan salahmu, Annie. Sekarang atau nanti, toh aku akan tetap menghajar dua bangsat itu.”

“Jangan Bengal!”

“Aowww!” Rob meringis karena Arthur menekan es batu terlalu keras seiring ucapannya barusan. “Apa salah pelipisku padamu, Sweetheart?” Rob melotot pada Arthur.

Arthur diam dan kembali meniup.

“Sebaiknya kalian pulang saja, biar aku yang membereskan kali ini.” Annie bangun dan mulai mengumpulkan gelas serta piring dari atas meja.

“Jangan begitu lain kali, Rob…” Arthur berucap lirih. “Bukan aku ragu kalau kau tidak sanggup membela diri, aku tahu kau sangat sanggup… aku hanya takut melihatmu seperti tadi, bukan seperti Rob Lowe yang kukenal.”

Rob menoleh Arthur lalu senyum menyeruak di wajahnya. Tangannya menyingkirkan tangan Arthur dari pelipisnya dengan lembut lalu mencium lelaki itu satu kali. “Lain kali aku akan memastikan dulu kalau kau tidak ada ketika akan menghajar orang.”

Arthur berdecak sedang Rob tertawa kecil.

***

Ayahmu benar-benar sialan.

Mengapa Tuhan harus menciptakanmu dari darahnya?

Kau berhak mendapat ayah yang lebih baik dari itu,

Aku menunggu-nunggu detik,

di mana aku akan mendadak lupa kalau dia ayahmu,

jika saat itu tiba,

kupastikan kalau giginya akan berserakan di sekitar sepatunya,

bangsatnya,

aku selalu ingat kalau dia adalah suami ibumu,

meski dia sangat berusaha keras untuk membuat aku lupa.

Shit!

*

Rob tahu cepat atau lambat ia pasti akan berhadapan dengan situasi seperti ini. Dan Rob sudah siap, bahkan Rob sudah sangat siap sejak pertama kali berhadapan dengan orang tua Arthur.

Benjamin memanggil pelayan bar dan tanpa bertanya apa yang ingin diminum Rob langsung memesan satu gelas anggur mahal seperti yang sudah tersedia di depannya. Rob ingin tertawa saja ketika mau tak mau ia harus membenarkan pikirannya kalau Benjamin ingin pamer padanya, atau mempertahankan gengsinya sebagai orang kaya dengan tidak membiarkan Rob memesan sendiri yang mungkin menurutnya pasti Rob akan memesan minuman murahan. Apa dia kira aku tak pernah minum anggur mahal? Batin Rob muak.

Pertemuan mereka bukan terjadi dengan tidak sengaja. Benjamin sedikitnya menelepon rumah putranya empat kali—tiga kali langsung ditutup Benjamin setelah halo dari Arthur—malam ini dengan jarak selang yang cukup lama antar panggilan yang satu dengan panggilan selanjutnya sampai Rob yang mengangkat di panggilan keempat.

Rob tahu dengan begitu jelasnya apa yang akan dibicarakan Benjamin malam ini. Benjamin salah besar jika ia menduga Rob akan diam kali ini seperti kemarin ketika ia direndahkan di beranda rumah Arthur. Benjamin tidak membuka percakapan sampai pelayan bar mengantarkan gelas Rob. Tanpa dipersilakan, Rob meneguk setengah isi gelasnya dalam satu tegukan besar.

“Jadi, apa kali ini, Mr. Craig?” Rob menyapu mulutnya dengan punggung tangan lalu fokus menatap Benjamin yang juga sedang menatap tajam padanya.

“Kulihat kau masih tinggal di rumah putraku…”

“Yap, dan masih sekamar dengannya,” potong Rob yang membuat mata Benjamin makin berkilat.

“Sepertinya kau belum mengerti apa yang kumaksudkan hari itu, Mr. Lowe…”

“Oh aku sangat mengerti, Benjamin.” Rob mulai menyebut nama depan, “hanya saja aku tak menemukan satu alasan pun mengapa aku harus patuh padamu.” Rob meneguk anggurnya lagi.

Benjamin tersenyum dengan mimik meremehkan. “Kau pikir siapa dirimu, Mr. Lowe?”

Well, aku memang bukan siapa-siapa, seperti katamu, aku cuma parasit. Ingat?”

Benjamin mengelam. “Dengar, Mr. Lowe…”

“Tidak, kau yang harus dengar!” Rob mengangkat telunjuk kirinya sambil mencondongkan badan ke arah kursi Benjamin. “Mengirim orang untuk merusuhiku itu tindakan yang sangat kolot sekali, Benjamin.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Kau sangat tahu apa yang sedang kubicarakan.” Rob menyeringai, “Bagaimana kabar salah satu orang suruhanmu, apa hidungnya berhasil diluruskan?”

Benjamin diam sesaat sebelum merespon kalimat Rob. “Kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa, Mr. Lowe.”

Rob tertawa, “Oh, sekarang kau mengancamku? Mengapa aku tidak merasa takut?”

“Keluar dari hidup putraku, maka kau akan baik-baik saja!”

“Yap, itu ancaman.” Rob meneguk gelas lagi,

“Memang.”

Rob meletakkan gelas sambil menggumam betapa enaknya anggur pesanan Benjamin dengan ekspresi berlebihan. “Aku masih tak habis pikir denganmu, Benjamin.” Rob menggeleng-gelengkan kepalanya, “Apa kau tak punya urusan lebih penting selain merecoki kehidupan putramu yang jelas-jelas sudah dewasa dan mampu mempertanggungjawabkan apapun keputusan yang diambil dalam hidupnya? Kau tampak seperti ayah yang payah ketika melakukan itu, Benjamin. Dan aku ragu sepertinya kau memang payah.”

“Tutup mulutmu!”

“Jika tidak? Apa kau akan mengirim orang lagi ke rumah kopi Arthur?” Rob tertawa mengejek. “Itu bukti kau payah, Benjamin.”

“Tinggalkan saja Arthur, itu yang harus kau lakukan.”

“Dengar, Benjamin…” Rob kembali mencondongkan badan. “Aku mengenal pria sepertimu sepanjang hidupku. Dan aku bisa tahu orang macam apa dirimu. Masa kecil yang terlalu monoton dengan aturan-aturan dari ayahmu yang ketat, masa remaja yang lurus dengan sedikit teman dari kolega ayahmu atau anak-anak yang sama persis sepertimu, masa muda yang mulus lagi-lagi berkat mengandalkan sumber daya ayahmu, dan ketika dewasa… kau merasa dapat mengendalikan hidup siapa saja dengan uang dan kekuasaanmu. Tapi kau salah jika ingin mengaturku, dan sebagai seorang ayah yang memiliki putri dan putra yang sudah dewasa kau lebih salah lagi jika ingin mendikte apa yang harus dan tak harus dilakukan mereka.”

Benjamin terdiam sebentar lalu kembali berujar, “Aku sudah mengira kau bakal berkata demikian, Mr. Lowe.” Benjamin melipat tangan ke dada, “Aku memintamu pergi dari hidup putraku demi kebaikanmu…”

“Aku tak akan pernah meninggalkan Arthur. Tak peduli kau suka atau tidak suka, itulah yang akan terjadi.” Rob bangun dari kursi sambil merogoh dompetnya dari saku belakang dan menjatuhkan selembar uang kertas yang lebih dari cukup untuk membayar satu gelas anggur yang baru saja diminumnya. “Untuk membayar minumanku, simpan saja kembaliannya.” Dan Rob berlalu meninggalkan Benjamin yang tampak marah besar di kursinya.

Sepeninggal Rob, Benjamin meremas uang kertas yang ditinggalkan pria kekasih putranya itu sampai buku-buku tangannya memutih. “Kau akan menyesal Rob Lowe…” desisnya.

***

Aku tak tahu kiamat seperti apa,

Aku tidak dekat dengan ahli gereja untuk memberitahukanku seperti apa hari akhir itu.

Tapi aku tahu apa yang terasa bagai kiamat dalam hidupku,

yaitu kehilanganmu…

*

Mereka baru saja selesai dari rutinitas sore hari di hari libur. Biasanya Rob akan langsung menyetir menuju Jalan Nothingville untuk pulang ke rumah. Tapi sepertinya hari ini Arthur terlalu bersemangat sehingga saat kembali ke Arthur Coffee and Breakfast—tempat mereka selalu memarkir mobil tua oranye itu sebelum berjalan kaki mengitari kota—ia mengusulkan pada Rob agar tidak segera pulang.

Jadi, mereka kembali berputar-putar dengan mobil tua itu. Pukul tujuh mereka makan di restoran yang sama tempat mereka biasa makan siang di hari kerja Arthur Coffee and Breakfast. Keluar dari restoran, Arthur mengatakan sudah lama tidak menonton film. Maka, Rob membelokkan mobil tua itu ke tempat parkir satu-satunya bioskop di Nothingville. Rob membayar empat tiket untuk dua film berturut-turut yang ingin ditonton Arthur. Mereka keluar dari bioskop lewat jauh dari angka sebelas.

Sebenarnya Rob merasa sangat lelah dan mengantuk, Arthur setuju untuk langsung pulang. Tapi ketika mobil tua itu kembali melewati bar, Arthur menatap pintu bar dari kaca mobil sampai kepalanya nyaris terpelintir seiring tempat itu makin jauh ditinggalkan mobil mereka yang melaju. ‘Ingat ketika kita menari di sana?’ Arthur bertanya demikian saat bar sudah tertinggal seratus meter di belakang. Hanya dengan pertanyaan itu saja. Dan Arthur tertawa kencang ketika Rob memutar setir untuk berbalik kembali ke belakang.

Mereka seperti mengulang sejarah. Arthur meminta Rob untuk memesan jenis anggur yang sama seperti yang mereka minum dulu. Mereka masing-masing menghabiskan dua gelas wine sebelum bergerak bersama orang-orang mengikuti hentak musik di lantai bar dekat meja bilyard dan dua gelas lagi setelah selesai dari sana dengan badan berkeringat. Empat gelas, dulu mereka juga minum sebanyak itu.

*

Rob membuka jaket dan menyodorkannya pada Arthur ketika mereka sudah masuk ke jok mobil dan bersiap pulang. Arthur cukup hangat sehabis menenggak empat gelas anggur di dalam bar, tapi ia tak mau menghalangi Rob untuk bersikap jantan saat ini. Arthur menerima jaket itu dan dipergunakan untuk menutup badannya hingga ke leher, tidak dipakai. Arthur merasa nyaman membaui aroma Rob di jaket itu. Ketika Rob mulai menyetir, Arthur beringsut mendekat untuk menaruh kepalanya di bahu Rob lalu memejamkan mata. Rob mencium puncak kepala Arthur sekilas lalu fokus ke jalan yang sudah lengang.

Rob tak jauh lagi untuk sampai ke Jalan Nothingville ketika lampu mobil tua mereka menyorot jelas sebuah mini van yang menghalangi jalan. Rob dapat melihat empat orang pria yang kesemuanya berbadan besar berdiri di sisi mini van itu. Kesemuanya memakai jaket kulit, dua diantaranya bertopi dan satu orang berkaca mata hitam ala Will Smith di film makhluk asing, sekilas terlihat konyol. Alarm di otak Rob langsung berbunyi, ia menghentikan mobil tuanya dua puluh meter dari tempat para pria itu berada di samping mini van mereka.

Arthur mengeliat dan mengerjap-ngerjapkan mata. “Kenapa berhenti?”

Rob tak menjawab, ia memutar kepala memandang ke belakang. Sial, mini van lain baru saja mematikan mesin sepuluh meter di belakang mobil tua mereka.

“Rob…” panggil Arthur tercekat ketika menyadari situasi.

Rob melihat dua orang pria lain baru saja turun dari mini van di sebelah belakang. Ia menoleh ke depan dan menemukan empat pria di sana juga sudah mulai melangkah mendekat. Rob menjangkau pengunci pintu di sebelah Arthur dan menekannya. “Tetap di mobil, Arthur. Kunci pintu ini setelah aku keluar.”

“Tidak, jangan keluar, Rob!” Arthur mulai panik. “kau sudah janji…”

Rob menatap Arthur beberapa saat lalu tersenyum simpul, “Ini hanya sebentar. Ingat, kunci pintunya!” Rob membiarkan mesin mobil tetap menyala ketika ia keluar diikuti tatap cemas Arthur.

Rob berjalan tegap menyongsong kedatangan empat pria pertama di sebelah depan, dua pria lainnya di belakang juga makin hampir.

“Kuharap Benjamin membayar kalian di muka,” desis Rob ketika mereka sudah berhadap-hadapan.

Salah satu dari empat pria itu menyeringai pada Rob, “Kau punya nyali besar, Bung. Tapi sayang, justru banyak orang yang tidak dapat menolong diri sendiri hanya dengan mengandalkan nyali besarnya.”

“Kau benar, tapi biar kuberitahu padamu, Kawan. Aku tidak perlu nyali besar untuk menghadapi siapapun mereka yang membiarkan harga dirinya diremehkan orang berduit. Kalian tahu? Benjamin mengangap kalian orang rendahan yang bisa dikuasainya seperti dia menganggapku. Bedanya denganku, kalian membuktikan kalau diri kalian memang rendah dengan menuruti perintah Benjamin, sedang aku tidak.” Saat berkata demikian, Rob bisa merasakan kalau dua pria di belakangnya sedang siaga penuh. Ia berdoa dalam hati agar Arthur tidak melanggar perintahnya dengan keluar dari mobil. Rob tidak mungkin bisa bertarung bebas bila sedang mengkhawatirkan orang yang dicintainya, dan itu akan terjadi jika Arthur keluar dari mobil.

Pria yang berbicara pada Rob tertawa singkat. “Tuan Craig menyuruhku bertanya untuk sekedar memastikan, apa kau akan pergi dari hidup putranya atau tidak?” mimik si pria berubah serius.

“Aku tahu sejak semula kalau orang yang membayarmu itu memang tuli dan buta. Padahal sudah sangat jelas kukatakan padanya kalau aku tidak akan kemana-mana.”

Si pria yang sepertinya kepala rombongan itu manggut-manggut. “Hemm… kalau begitu sayang sekali, Bung… sepertinya kami harus memberimu sedikit pelajaran.” lalu ia memberi isyarat pada dua pria di belakang Rob.

Rob sudah bersiaga dari sejak ia keluar melewati pintu mobil. Begitu tinju salah satu pria di belakangnya menyasar kepalanya, ia berkelit dengan mudah bahkan berhasil mencekal pergelangan tangan si pria.

PAMMM

Pria pertama yang melakukan serangan menyumpah kesakitan setelah rahangnya dijotos Rob tanpa ampun. Begitu berhasil meninju salah satu pria di sebelah belakang, Rob langsung diserbu lima pria sekaligus. Dua tinju berhasil mengenai bahu dan dadanya, satu tendangan menyasar perutnya meski ia sempat berkelit sedikit. Dua pria yang berhasil dihajar Rob tampak meludah ke tanah, mulut mereka berdarah.

Dikeroyok enam orang sekaligus, Rob mulai terpojok. Ketika salah satu tangannya berhasil dipegang salah satu lawan, menyusul satu tangan berikutnya yang berhasil ditekuk ke belakang oleh satu lawan lainnya,  Rob kepayahan. Saat pria yang diduga Rob sebagai kepala rombongan pengeroyok itu siap untuk meninju perutnya, Rob melompat tinggi dan berhasil menyarangkan ujung sepatunya yang keras ke wajah orang. Namun malang juga bagi Rob, tangan kirinya yang tadi berhasil ditekuk lawan ke belakang serasa patah ketika ia melakukan lompatan. Lebih malangnya lagi, saat Rob terhuyung-huyung kembali menginjak tanah setelah melakukan tendangan, dua hajaran sekaligus dari dua orang pria melabrak mukanya.

Rob terjengkang di tanah, bibirnya berdarah. Namun pria ini segera berdiri dengan memembalkan dirinya sedemikian rupa, lengan kirinya terasa nyeri, bagai ada urat yang melintir di lengan kiri itu. Rob kembali memasang kuda-kuda. Sekilas ia sempat melirik Arthur yang masih berada di mobil. Dan Rob merasa aman.

Ya, Sweetheart… tetaplah di dalam sana.

Rob kembali diserbu, lebih ganas sekarang. Rahangnya kembali berhasil ditinju salah satu pria, ia balas meninju meski sedikit meleset hanya menyentuh telinga lawan. Dua orang pria melakukan serangan bersamaan. Satu tendangan berhasil dielakkan Rob dengan menyisi lebih ke samping, saat menyisi ini Rob sekaligus berhasil mematahkan tendangan kedua dengan meninju kaki orang tepat pada tulang keringnya. Pria yang kena tinju langsung terpincang-pincang.

Rob lengah tidak memperhatikan bagian belakangnya, pinggangnya terasa remuk ketika satu tendangan menghantam tepat di sana. Rob terhuyung ke depan, dan satu pukulan langsung menyambut perutnya.

BUGHHH

Rob melilit.

PAMMM

Pandangan Rob berkunang ketika satu tinju lagi-lagi menjamah kepalanya. Namun Rob belum kalah. Ia meraung keras ketika salah satu pria bersiap melompat ke arahnya dengan tangan terkepal. Rob mengatupkan rahang dan menyambut serangan orang itu.

KRAKKK

Jeritan setinggi langit keluar dari pria yang menyerang Rob ketika tulang iganya berhasil disodok lutut Rob. Tepat di saat lawan melompat ke arahnya, Rob menekuk lutut dan juga ikut melompat menyongsong serangan. Dan itu tindakan yang tepat. Bukan saja Rob berhasil mengelakkan tinju, tapi juga berhasil melakukan serangan balik, dan hasilnya luar biasa membuat binasa. Dilihat dari bunyi keras seperti ranting yang patah, minimal dua tulang iga si pria yang menyerang pasti ada yang tak utuh lagi.

Melihat temannya berguling-guling di tanah sambil meraung sakit, lima pria yang masih berdiri menjadi kalap. Mereka merangsek maju bersamaan. Setangguh-tangguhnya Rob berkelahi, bila dikeroyok begitu rupa pasti bakal kalah juga. Tinju dan tendangan sudah berkali-kali mendera tubuhnya lagi. Wajahnya memar, bibirnya bengkak berdarah, kemejanya robek parah. Keadaan para pengeroyoknya juga tak ada yang sehat wal afiat seperti sebelum perkelahian. Meski tak separah Rob, kondisi mereka juga tak bisa dikatakan lebih baik.

Hanya saja, tak seorang pun mengira apa yang bisa dilakukan oleh orang yang sedang murka. Rob melupakan pria yang iganya dibuat patah, pria pengeroyoknya juga terlalu fokus menghajar Rob dan tidak satu pun sempat memerhatikan kalau temannya hendak berbuat nekat. Tak ada yang tahu kalau pria di tanah itu bangkit berdiri dan memandang Rob dengan tatapan berkilat, sedetik kemudian ia menghunus pisau bergerigi yang diambil dari balik sabuknya, menunggu Rob berada dalam posisi lengah. Dan ia tak menunggu lama sampai kesempatan itu tiba. Dengan tangan kiri memegang rusuk dan tangan kanan mengacungkan pisau mematikan itu, ia memburu Rob…

“JANGAAANNN… ROOOBBB…!!!

Tapi pisau itu sudah menancap dalam, sangat dalam, di perut Arthur…

Mendadak semuanya bagai tayangan lambat. Rob melihat mata Arthur yang mengerjap pelan, darah membasahi kausnya yang putih. Pisau itu masih di perutnya, masih dipegang pria yang menusuknya.

“ARTHUR!!!” Rob berteriak dan berontak dari pria-pria yang mencekal bahunya, pengeroyoknya melepaskan dengan sukarela, mereka mematung terperangah menyaksikan Rob yang memburu sosok Arthur. Orang-orang suruhan itu tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini. “ARTHUR…!!!” Rob memanggil keras.

Tubuh Arthur melemah dan siap ambruk. Pria yang menusuknya berdiri melongo dengan pisau basah di tangan setelah lepas dari perut korbannya.

Rob berhasil menangkap tubuh Arthur dan langsung bersimpuh di jalan, memangku kepala orang terkasih di pangkuan. “Arthur…” Rob menggigit bibirnya yang berdarah hingga makin luka. Tangan kiri memegang kepala Arthur sedang tangan kanan menutup luka di perutnya. “Tidak… Tuhan, tidak…”

Arthur terbatuk dan darah pekat memenuhi mulutnya. Matanya nanar menatap Rob. “Rob…” lalu ia terbatuk lagi, memuntahkan darah ke tangan Rob. Arthur megap-megap, ia sedang menangis. “Rob…”

Rob menguatkan tekanan tangannya pada luka Arthur. “Iya… aku di sini, Sweetheart… aku di sini!”

“Sialan, Frank… apa yang kau lakukan!!!” Rob tidak peduli lagi pada pria-pria pengeroyoknya. Pria penusuk Arthur baru saja ditampar pimpinannya, bertubi-tubi. “Dasar bodoh!”

“Bagaimana sekarang, Bane?” salah satu pria bertanya dengan nada cemas.

Pria itu, Bane, memandang Rob yang sedang meraung di jalan, memandang perut Arthur yang kian basah, memandang bengis pada Frank dan pisaunya, lalu memberi isyarat untuk pergi pada semua anak buahnya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi tuannya dan apa yang akan terjadi ke depannya. Arthur jelas tidak baik-baik saja. melibatkan diri untuk membantu dirasanya adalah tindakan yang mustahil. Maka, Bane membawa pergi seluruh orangnya dengan satu pertimbangan akurat, jika ia harus berurusan dengan polisi, maka ada orang yang akan terseret bersamanya, dan Bane cukup yakin kalau orang itu tidak akan mau masuk penjara dengan tuduhan mencelakakan anak sendiri.

“Arthur, tetaplah denganku… kumohon… ya Tuhan…” Rob menyesali diri. Harusnya Rob menyadari sejak semula kalau Arthur tak akan mematuhi perintahnya, harusnya  ia melihat kapan Arthur meninggalkan mobil, harusnya ia melihat lebih awal kapan Arthur berlari untuk menerima pisau itu, harusnya ia tidak melawan, harusnya ia membiarkan saja pria-pria itu menghajarnya, harusnya… ia pergi dari hidup Arthur seperti yang diminta Benjamin. Tapi semua sudah jauh terlambat.

Rob masih menekan kuat luka Arthur, ia sudah menangis sejak tadi. Bagai orang gila, lalu Rob membopong tubuh Arthur dan berlari ke mobil, Rumah Sakit Umum Nothingville berada di pusat kota, dan mereka cukup jauh di pinggirannya. Rob tak ingin memadamkan asa, tapi bahkan ketika ia meyakinkan diri bahwa harapan itu ada, Rob tahu kalau ia sedang berusaha menghibur diri.

Dengan tangan kiri menekan luka di perut Arthur dan tangan kanan memegang setir, Rob mengemudikan mobil seperti kerasukan setan. Kepala Arthur di pangkuannya makin berat. Rob melanggar lampu merah, nyaris menyerempet tumpukan drum di satu sudut jalan ketika berbelok dan hampir menabrak boks public phone ketika meleng untuk memandang Arthur. “Bertahanlah, Sweetheart, kumohon bertahanlah… kita hampir sampai… jangan tutup matamu, tetap lihat aku…” Rob meneriakkan kalimat itu berulang-ulang.

Rob menekan horn kuat-kuat ketika sampai di gerbang Rumah Sakit Umum Nothingville. Jika ia terlambat sedikit saja menekan brek, maka mobil tuanya pasti sudah menghantam pintu kaca unit emergency. Rob menendang pintu di ujung kaki Arthur yang tertekuk lalu kembali fokus pada Arthur yang kepalanya masih dipangku.

Arthur makin pucat, ia menatap Rob, matanya masih berbicara pada Rob. Napasnya makin jarang. Rob kehilangan akal. Ia hanya bisa menyebut nama Arthur terus-menerus, menggumamkan ‘Tuhan’ dan ‘jangan’ berulang-ulang. Rob seakan gila. Air matanya menetes-netes di wajah Arthur yang dingin. Ketika mulai sesengukan, Rob membungkukkan diri, merapatkan wajahnya pada wajah Arthur, memeluk kepala lelaki terkasih itu erat dengan rasa hampa tak terdefinisi dalam dada.

Beberapa petugas medis berseragam biru memburu ke arah mobil Rob dengan brankar yang dibawa lari seakan terbang. Begitu sampai di pintu mobil yang terbuka, mereka hanya bisa terpaku, menyaksikan seorang pria yang penuh luka, dengan badan menggigil, memeluk tubuh kaku seorang lelaki yang basah darah.

Perlahan-lahan…

cahaya itu meredup,

seiring detak yang kian melambat.

Perlahan-lahan…

gelap itu turun,

seiring hela yang makin berjarak.

Sungguh,

Kehilangan abadi adalah kehampaan sempurna…

***

Rob berdiri terasing puluhan meter jauhnya di bawah sebatang pohon, gerimis baru saja turun. Memar-memarnya belum sembuh, tapi ia tetap terbang ke London. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat bagaimana Eve berusaha menahan isaknya saat peti mati itu diturunkan ke lubang makam. Meski tak pernah bertemu, Rob dapat mengenali saudara perempuan Arthur berdiri di samping Eve dengan wajah sembab ditopang seorang pria, wanita itu sangat mirip Arthur. Rob juga melihat Benjamin yang tampak bagai hantu, Benjamin tidak menangis, tapi jelas sekali ia amat berduka, mungkin pula menyesal.

‘Kau yang membunuhnya, Benjamin… kau.’ Rob sangat ingat bagaimana tubuh Benjamin bergetar ketika ia tiba di kamar mayat Rumah Sakit Umum Nothingville bersama Eve dan disambut kalimat demikian dari Rob yang tidak meninggalkan jasad Arthur sejengkal pun, Rob tetap bersama Arthur sejak dokter yang memeriksa menggeleng padanya. Rob bahkan menolak untuk dirawat luka-lukanya demi untuk bisa berada di sana di samping Arthur. ‘Kau bahagia, Benjamin?’ Benjamin diam, melihat istrinya yang mulai meraung sambil memeluk jasad putranya. ‘Salahkan suamimu, Eve… aku bersumpah dia akan membusuk di penjara, aku bersumpah!’ Terpincang-pincang, Rob meninggalkan kamar mayat setelah mengucapkan kalimat itu. Rob melewatkan saat di mana setelah ia keluar dari kamar mayat itu, Benjamin menangis keras dan mengikuti Eve menelungkup di atas jasad Arthur.

Sekarang di bawah pohon sedikit terlindung dari gerimis, Rob kembali teringat bagaimana kerapuhan dan duka Eve berhasil menggugurkan sumpahnya ketika wanita itu dengan sengaja menemuinya di rumah Arthur, sendirian. Itu baru saja terjadi dua hari lalu, awal pagi menjelang mereka memberangkatkan jasad Arthur ke London.

‘Aku baru saja kehilangan putraku, Mr. Lowe… kumohon, maafkan Benjamin, jika kau tak mau melakukannya untukku, lakukanlah demi Arthur. Benjamin ayahnya… aku tak siap kehilangan satu lagi lelaki yang kucintai… aku tak siap melihat Benjamin dipenjara… kumohon… kumohon…’ dan Rob memeluk Eve ketika ibu dari lelaki yang amat sangat dicintainya itu menangis hingga nyaris ambruk. Rob dapat merasakan betapa berdukanya Eve atas kematian putranya. Sedikit, saat itu Rob merasa berdosa pada Eve. Ia ingat ibunya saat memeluk Eve, wanita-wanita seperti Eve dan ibunya sangat tidak pantas diberi duka sedalam itu. Rob ikut berair mata bersama Eve di depan bingkai besar di ruang depan rumah Arthur. Senyum lebar Arthur di dalam bingkai berlatar mobil tua oranye tampak seakan ia akan bahagia selamanya hingga ke akhir hayat. Dan mungkin Arthur memang bahagia, sayangnya begitu singkat. Sepeninggal Eve, setelah melewatkan jam-jam yang terasa begitu lama dengan duduk di kursi menghadap bingkai besar di dinding dan mata yang terus berkaca, Rob pergi ke bandara.

Dan di sinilah Rob sekarang. Menghadiri pemakaman Arthur, tidak terlihat siapapun. Setelah orang-orang satu persatu meninggalkan makam—Eve jadi yang terakhir pergi setelah Benjamin menunggunya belasan menit beberapa meter di belakang wanita itu, Rob meninggalkan pohon dan berjalan menuju makam baru itu.

Rob hanya berdiri di depan gundukan makam Arthur, kedua tangan tersembunyi di dalam saku celana. Kemeja hitamnya sudah basah gerimis yang mulai berubah menjadi hujan. Rob tetap berdiri di sana sampai ia kuyup. Bunga-bunga yang baru saja ditaburkan Eve dibawa hujan hingga ke dasar gundukan, karangan-karangan bunga yang menumpuk di bagian kepala makam juga mulai lebur. Perlahan Rob berjongkok, mengeluarkan tangannya dari saku celana dan memegang salib besar di bagian kepala makam dengan tangan kanannya.

“Tidur yang nyenyak, Arthur… mimpikan tentang kita sampai aku datang menyusulmu… jangan khawatir jika aku akan kesepian di sini tanpamu, aku tak akan sendiri Arthur, kau masih ada di sana, di seluruh Nothingville… tunggu aku…”

***

EPILOG

Auramu belum juga pergi, dan sepertinya memang tak akan pernah pergi… lebih tepatnya, aku yang tak pernah membiarkannya untuk pergi.

Dua kali dalam satu hari, empat belas kali dalam seminggu, dan kadang juga lima belas kali karena aku biasa melakukannya tiga kali di hari Minggu. Nothingville memang selalu sepi bahkan saat kau masih di sini, denganku. Setelah aku menyusuri jalan-jalannya sendirian sejak tujuh bulan lalu, seharusnya aku merasa lebih sepi. Namun ternyata tidak, keadaannya masih tetap sama. Karena meski sendirian, aku masih bisa mendengar gelak tawamu di beberapa sudut, masih sering melihat tingkahmu di beberapa bangku dan undakan tangga di depan rumah-rumah di Nothingville. Yang selalu terjadi, aku masih merasakan jemarimu di sela-sela jemariku sepanjang jalan, kita masih bergandengan. Aku selalu menemukanmu tersenyum padaku setiap kali kupalingkan wajah untuk menolehmu, seperti kau tak pernah hilang…

Di Nothingville… segala tentangmu masih kumiliki utuh. Di Nothingville… semua tentang kita masih kutemukan lengkap, Arthur…

Mid January 2014

di kamar jelek di negeri antah berantah

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com