an AL GIBRAN NAYAKA story

##############################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Tanpa berpanjang2, semoga kalian menikmati membaca IN THE DIM Of TWILIGHT seperti aku menikmati ketika menulisnya.

wassalam

Nayaka Al Gibran

##################################################

Mendadak aku merasa sepi. Firasatku berkata, aku dan Aki tak akan menulis lanjutan cerita apapun lagi. Kisah kami selesai di sini

——–

 Hidup ini aneh, Kawan. Demikian anehnya hingga kadang kau menemukan hal-hal dalam hidupmu yang tak terjangkau logika. Hidup ini aneh ketika sesuatu yang membuatmu ‘tak habis pikir’ mengusik kebiasaan hari-harimu. Semakin kau memaksa mencerna dengan logikamu, semakin kau merasa bahwa ‘sesuatu’ itu berada jauh di luar logika. Semakin kau memikirkan dengan pikiranmu, semakin pula membuatmu tak habis pikir. Sungguh, hidup ini aneh.

Di antara banyak keanehan, tersebutlah ‘cinta’.

Hei, apa yang aneh dari cinta? Tak ada. Cinta tak aneh jika kau menafsirkannya lewat roman Siti Nurbaya dan Samsul Bahri meski tak berujung baik. Cinta tampak sebagai sebuah kepatutan jika kau melihatnya pada foto pernikahan kedua orang tuamu yang terbingkai cantik di dinding rumah. Cinta tampak baik-baik saja jika kau mendefinisikannya pada seorang pemuda yang menyarungkan cincin belah rotan di jari seorang pemudi. Cinta sememangnya tidak mengandung keanehan apapun jika kau menyimpulkannya pada banyak kewajaran menyangkut dua anak manusia berbeda jenis kelamin yang sedang kasmaran, yang menganggap dunia beserta isinya baru saja mereka beli lunas, yang sepakat akan melewati pahit manis sampai maut bersama-sama, yang setuju bahwa cinta bisa mengenyangkan dan dapat dipakai sebagai mata uang di negara manapun. Sungguh, cinta bukanlah keanehan hidup jika ia diperankan seperti Adam dan Eve memerankannya berzaman dulu.

Lalu kapan cinta menjadi sebuah keanehan?

Oh Kawan… sesungguhnya cinta sudah menjadi demikian dengan serta-merta ketika untuk pertama kali ia keluar mendobrak kisi-kisi hatiku. Namun aneh, ketika aku sudah dan sedang menjalaninya, dengan serta merta pula aku merasa wajar dengannya. Tidakkah itu mengandung keanehan? Aku memainkan kisah cinta yang diyakini aneh oleh isi kepalaku sedang perasaanku meyakini bahwa cintaku sama sekali tak aneh.

Namun, Kawan… seperti janji alam, tak ada yang tak bisa dikalahkannya. Sejak penciptaan, alam sudah menyaksikan banyak hal wajar dan hal aneh yang terjadi di dalamnya punah, berganti dengan hal wajar dan hal aneh yang baru, pelaku yang baru. Begitu diam-diamnya ulah tangan tak terlihat Dewa Jagad Bathara dalam mencipta dan merenggut. Kau tersentak sadar dan hal itu tiba-tiba ada, kemudian kau lena dan zap zap zap! kau bangun dengan tangan kosong. Percayalah, ada hal-hal dalam hidup yang tak terjangkau nalar dan dipandang aneh oleh hampir seluruh populasi manusia, hanya segelintir kecil yang tidak merasa aneh ketika menjalaninya.

Aku, adalah seonggok daging dan tulang yang ternyata dipilih takdir… untuk mengakui, bahwa hidup itu memang aneh, bahwa hidup juga bisa diporak-porandakan oleh satu saja keanehan…

***

Denpasar, Juni 2013

Sore yang sama seperti hari-hari lalu. Lelaki ini akan mengajak dua atau—pada beberapa kesempatan beruntung dapat mengajak semua—tiga orang keponakannya yang belum satupun berusia sebelas, dua anak lelaki berumur sama dan seorang gadis yang lebih tua. Masih berdasi dan lengan kemeja tergulung, bersama para keponakan yang sesekali berceloteh riang lelaki ini akan meninggalkan pekarangan rumah di belakangnya, menyeberang jalan kecil yang sepi untuk selanjutnya melintasi lahan kosong menuju satu-satunya kursi kayu di bawah teduhan pinus di tengah lahan. Sore ini ia kurang beruntung, keponakannya yang perempuan tidak lebih tertarik dengan apapun lagi sekarang selain anak patung yang baru dibeli bapa mereka minggu lalu. Apalagi jika dibandingkan dengan ocehan sang poyan tentang Perang Kusamba dan pahlawan-pahlawan perkasanya yang selalu sama setiap sore. Tentu saja anak patungnya lebih menarik. Jadi, lelaki ini hanya ditemani dua keponakan yang masih belum menemukan sesuatu menarik lain untuk dipakai menghabiskan sore selain merelakan telinga mereka dijejali cerita yang sama lagi dari sang paman. Akan ada hari di mana mereka menemukan kesenangan baru dan berhenti menuju kursi di bawah pinus bersama si lelaki. Ketika hari itu tiba, ada dua kemungkinan yang akan terjadi: kebiasaan itu tetap berlanjut dan si lelaki akan duduk sendirian hingga jauh senja, atau memilih kegiatan baru yang disukai keponakannya sambil berusaha membuat hal itu sebagai kebiasaan baru mereka.

Lelaki ini akan menempatkan dirinya perlahan di kursi kayu. Keponakannya akan mengambil tempat di kanan dan kiri. Seperti biasa, ia akan menghirup napas dalam-dalam hingga cuping hidungnya yang tinggi mengembang, membaui aroma pinus yang disengat matahari sepanjang siang tadi. Keponakannya juga akan melakukan hal yang sama. Entah kapan dimulai, membaui pinus telah menjadi semacam ritual bagi mereka sebelum memulai percakapan, tapi si lelaki tahu betul kapan pertama kali ia telah jatuh cinta pada aroma pinus. Setelahnya, mereka akan menatap cakrawala lembayung di arah barat untuk beberapa saat. Ketika keponakannya mulai memanggil, barulah ia akan membuka kisah yang pernah terjadi di tanah kelahirannya dengan kalimat tak jauh-jauh dari ini: ‘Dahulu di Klungkung terdampar dua buah perahu yang dinaiki orang Sasak…’ dan sore pun kemudian bergulir menuju senja hingga temaramnya pupus membawa langkah mereka kembali ke rumah, atau hingga mbok—yang dihormati, disayangi dan akan dilindungi si lelaki meski harus berkorban jiwa, meme keponakannya memanggil mereka untuk pulang.

Begitulah seringnya yang dilakukan lelaki ini bersama anak-anak sang mbok.

Lelaki yang berteman keponakan di kursi kayu menjelang senja, yang telah jatuh cinta pada aroma pinus sejak bertahun dulu, yang percaya bahwa suatu saat nanti kebiasaannya ini mungkin akan berganti, yang selalu memulai kisah heroik Perang Kusamba dengan kalimat hampir sama setiap hari, yang begitu cintanya kepada senja hingga memilih melewatinya terlebih dahulu sebelum melepas dasinya, lelaki yang sedang bercerita ini adalah aku… aku yang tengah menikmati secuil waktu berkualitasku dalam satu harian sambil bertanya-tanya apakah besok keponakanku masih menganggap senja terlalu sayang untuk dibiarkan lewat begitu saja tanpa ditatap lembayungnya? Ah, mereka terlalu belia untuk memahami bahwa senja kerap membiarkanku diusik kenangan. Yang mereka paham adalah, bahwa aku sering terdiam lama di tengah-tengah cerita semata-mata untuk menambah kesan dramatis pada tuturanku. Mereka terlalu muda untuk paham, bahwa Perang Kusamba bukan hanya dongeng di kala senja saja bagiku seperti yang diyakini mereka. Itu juga adalah cerita yang pernah menyertai sepenggal kisah hidupku.

Poyan Nyoman, kalau hari ini ceritanya diganti boleh?” I Made Argasena, keponakanku yang duduk di kanan memanggil membuka percakapan. “Jangan cerita Jendral Micel mati lagi.”

Jenderal Michiels, keponakanku selalu lebih gampang menyebut Micel. Bagian yang paling mereka tunggu adalah saat kaki sang jenderal tertembak meriam Canon, nama meriam yang dulu juga sempat membuat salah seorang turisku antusias.

Ah, apakah dia masih suka berwisata hingga saat ini? Apa dia menemukan guide lain sepertiku? Apa yang akan dikatakannya jika tahu bahwa aku sudah tidak lagi memandu wisatawan? Apa dia akan berkata bahwa aku telah menyia-nyiakan bakatku? Yang paling dasar, apa dia masih mengingatku seperti aku yang masih mengingatnya? Selalu, akan banyak kalimat yang berakhir dengan tanda tanya setiap kali fikirku tertuju padanya.

“Iya, jangan cerita pemanting Klungkung lagi…” I Made Argiseno, saudara kembar Argasena ikut bersuara sambil menepuk paha kiriku, cukup kuat untuk membuatku sedikit terlonjak.

“Apa yang terjadi dengan cerita itu hingga kalian tak ingin mendengarnya sore ini?” aku mencari tahu alasan mereka. Kutatap keponakan kembarku bergantian.

Argasena membisukan diri.

“Kata Ni Kadek, cerita itu sudah mulai membosankan,” Argiseno lebih berani dengan langsung menyalahkan kakak perempuannya, Ni Kadek Kirana.

Aku tersenyum, “Iyakah?”

Sekarang Argiseno malah terdiam.

“Jangan tiap hari cerita perang, Poyan. Kami juga ingin mendengar cerita lainnya,” Argasena membantu saudara kembarnya.

“Tapi kisah Perang Kusamba itu terjadi di tempat aku dan meme kalian lahir,” aku masih berusaha membuat mereka tertarik. “Kalian belum pernah ke sana sekali pun…” Ada keperihan ketika aku mengucapkan kalimatku barusan. “Suatu saat, kalian pasti akan ke sana…” aku menerawang ke kejauhan, suatu saat aku juga akan pulang ke sana…

Keponakan kembarku terdiam beberapa saat.

Aku menarik napas, mengingat-ingat sudah berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk menceritakan kisah ini pada keponakanku hingga cukup membuat mereka mulai bosan sekarang. Setahun? Dua tahun? Mungkin lebih, hanya saja, dulu mereka terlalu kecil untuk paham bahwa yang kuceritakan adalah cerita yang sama setiap hari. Sekarang otak mereka sudah jauh berkembang hingga dapat memahami bahwa ceritaku tidak lebih menarik lagi dengan diceritakan berulang-ulang, mereka bahkan sudah hapal di luar kepala. Setidaknya begitulah yang pasti sudah terjadi pada keponakan perempuanku, Ni Kadek. Adik kembarnya akan segera mengikuti.

“Ceritakan pada kami tentang Poyan saja!” Argasena berseru tiba-tiba.

“Iya, ceritakan tentang pacar Poyan Nyoman pada kami!” adiknya melanjutkan.

Aku kaget sendiri. Dari mana bocah yang belum genap delapan tahun di kiri kananku ini tahu istilah pacar? Mengertikah mereka? Atau mereka menyimpulkan lewat pemuda-pemuda sepertiku yang kerap terlihat berpasangan, lantas mereka ingin tahu apakah aku juga punya pasangan. Atau, mereka merasa asing dengan pamannya yang tak pernah terlihat berpasangan di usia yang sudah melewati dua puluh lima.

“Ni Kadek bilang, kalau besar nanti dia ingin punya pacar seperti Zayn Malik.”

Tentu saja, Ni Kadek adalah gudang ilmu dan ensiklopedi paling update bagi kedua adiknya. Ah, ternyata keponakan perempuanku itu sudah lebih dewasa dari usianya, padahal baru akan akhir tahun nanti ia berusia sebelas.

“Apa sekarang Poyan Nyoman punya pacar?”

“Seperti apa wajahnya?”

“Apakah dia cantik?”

“Siapa namanya?”

“Kapan Poyan Nyoman akan mengajaknya kemari?”

“Iya, bawa saja ke rumah, kami akan mengajaknya bermain meongmeongan.”

“Dia juga bisa mengajari Ni Kadek bersolek.”

“Dan membantu Meme di dapur, iya kan?”

Aku diserbu banyak sekali kalimat yang berlesatan      selang-seling     dari     mulut    keponakan

kembarku. Mereka terlalu aktif sore ini. Aku kelabakan.

“Ayo, ceritakan tentang pacar Poyan itu,” Argiseno masih keukeuh dengan usulnya.

“Iya. Kami tidak mau mendengar tentang Jenderal Micel lagi!”

Aku menghela napas. Mungkin kebiasaanku memang sudah berganti perlahan-lahan mulai hari ini. Keponakanku sudah mulai mengubahnya. Tapi, bagian yang mana dari cerita tentang pacarku yang harus aku ceritakan pada mereka? Apakah mereka tidak akan bingung ketika aku menyebutkan bahwa orang yang aku cintai dulu bukan cantik, tapi tampan? Pertanyaan paling dasar, mengapa aku merasa perlu menjejali otak putih mereka dengan kisah cintaku yang dicap menerobos pakem?

Aku memandang mereka bergantian, “Poyan punya cerita menarik tentang seorang teman, seorang sahabat. Poyan juga punya cerita cinta yang amat sangat jelek dengan seorang pacar. Ayo pilih, kalian ingin mendengar cerita menarik tentang seorang sahabat atau mendengar cerita jelek tentang seorang pacar?” aku tersenyum ketika mendapati raut wajah mereka seakan berfikir keras.

“Cerita menarik tentang seorang pacar adakah?”

Rasanya aku ingin memarahi Ni Kadek detik ini juga ketika Argasena dan Argiseno menyuarakan pertanyaan barusan bersamaan. Aku menggeleng keras-keras.

Mereka menampakkan wajah lesu. “Siapa nama teman Poyan itu?” Argiseno baru saja memilih.

Aku tersenyum, “Thariq Amril Ash-syauqi.”

Seperti yang kuduga, mulut kedua keponakanku melongo. “Aneh sekali namanya, dia bukan orang Denpasar sini?”

Aku menggeleng, “Bahkan dia tidak lahir di jengkal manapun dari tanah Bali. Dia datang dari tanah jauh…,” tanganku menunjuk arah matahari terbenam.

Aku menggigil ketika untuk sekali lagi bibirku mengulang menyebut nama yang dikatakan aneh oleh keponakanku. Jingga mulai menyemburat jelas di langit barat ketika memoriku tentangnya menghantam setiap saraf tubuhku bagaikan air bah. Hanya butuh satu kali kejapan mata saja, dan kisahku bersama Thariq Amril Ash-syauqi terpampang jelas, sejelas warna-warni cat di atas kanvas pelukis Kamasan.

Aku memanggilnya Aki…

***

Cinta itu keheningan

Ia datang senyap-senyap

Mengendap-ngendap laksana gerilya

Cinta itu angin topan

Ia datang dengan kalap

Mengobrak-abrik laksana ksatria

 

Ketika cinta adalah keheningan

Hati tenang tanpa sebarang geliat

Hati ber-rotasi dengan ritme tenang lembut

Namun ketika cinta adalah angin topan

Hati bergolak meletupkan gelagat

Hati berotasi dengan goncangan menyerabut

 

Cinta…

Sebagaimana tak terdefinisikan ia dengan satu kesepahaman saja

Selalu punya cara tak terduga untuk datang menuju hati dalam senyap

 

Cinta…

Sebagaimana tak tersimbolisasikan ia dengan satu tanda saja

Selalu punya cara tak terprediksi untuk menggoncang hati dengan prahara

 

Namun cinta,

Selalu punya bahasa indah untuk dimengerti hati

Selalu punya mantra terhebat untuk membuat takluk

 

Dan cinta,

Acap kali menjadi penyebab banyak kesusahan hati

Acap kali menjadi pencetus banyak problema hidup

Semarapura, Klungkung, Juni 2006

Aku duduk menunggu sambil mengetuk-ngetukkan jariku di sandaran sofa empuk yang sudah menjadi pelabuhan bokongku lebih setengah jam lalu. Gelas besar yang kini menyisakan bulir-bulir embun di sekelilingnya menggeletak di atas meja kaca di depanku, tadinya gelas besar itu berisi mangga yang diblender dan diberi es. Begitu warna mangganya hilang masuk ke perutku setelah melewati sedotan, yang bersisa adalah bongkahan es mulai mencair di dasar gelas. Bukan aku yang minta minum jus, tapi pembantu rumah yang menyebutkan opsi. Sepertinya si pembantu sadar kalau aku bakal menunggu lama seperti sekarang dan berbaik hati menawarkanku jus yang biasanya baru bisa kucicip di kafé-kafé. Atau, bisa jadi karena rumah ini terlalu megah untuk menawari tamunya minum teh manis, meski tamu tersebut hanya seorang tour guide.

Aku melirik jam di pergelangan tangan kiri. Melirik jam sepertinya sudah menjadi hobi baruku setelah lima belas menit pertama terlewati sejak aku dipersilakan duduk oleh si pembantu. Dua menit lagi aku akan sudah menunggu genap empat puluh lima menit, tiga perempat jam. Sialan. Turisku kali ini sungguh-sungguh manusia jam karet. Awas saja kalau dia tidak memberiku tip setimpal.

Untuk kesekian kalinya, kuedarkan pandanganku menelusuri tata ruang tempat aku menunggu dengan sisa-sisa kesabaran yang kuyakini akan segera lenyap tidak lama lagi. Aku mengagumi tata ruangnya. Salut dengan jiwa seni siapapun orang yang mengaturnya. Di dinding, beberapa lukisan penari Bali dalam ukuran besar tersemat apik, bingkai berukirnya yang berwarna keemasan menambah kesan elegan pada lukisan itu. Di setiap sudut ruang, sejenis bunga merambat tumbuh hijau dalam potnya yang disangga rangka besi. Aku mendongak loteng, lampu hias dalam kelopak berukir menggantung di pertengahan, dalam keadaan menyala. Di satu sisi ruang, buffet besar dan lebar ditempatkan merapat ke dinding. Benda-benda di atas buffet itulah yang paling menyita perhatianku. Bermacam ukiran khas Bali berjajar rapi memenuhi permukaan buffet, hampir tak ada jengkal yang lapang.

Tak tahan untuk tidak melihat lebih dekat, aku bergerak meninggalkan sofa menuju sisi ukiran-ukiran itu berada. Aku tidak bisa lebih sabar lagi menunggu turis kurang ajar itu selesai bersolek tanpa mengalihkan perhatianku pada sesuatu yang menarik. Dan ukiran di atas buffet adalah satu-satunya yang menarik bagiku kini.

Aku diberitahu kalau pemilik rumah ini bukanlah orang Bali, namun sepertinya ia benar-benar mencintai tempat hidupnya sekarang. Hampir semua motif ukiran khas daerahku terpajang di sini, meski bukan dalam ukuran-ukuran besar. Aku menyentuhkan jemariku pada salah satu ukiran, menikmati gestur pahatannya di telapak tanganku, namun kemudian aku nyaris menyenggolnya jatuh ketika seseorang menegur dengan suara berat setelah terlebih dahulu berdehem.

“Kamu tidak bermaksud menyuruhku menunggumu hingga selesai dengan koleksi pamanku itu, kan?”

Aku sontak menolehkan wajahku ke belakang, kedua tanganku masih berusaha menyeimbangkan kayu berukir di atas buffet yang hampir saja kujatuhkan. Aku tersenyum kikuk, merasa malu karena telah menyentuh barang-barang tanpa permisi. Setelah memastikan kalau ukiran yang telah membuatku mendapat teguran—karena ucapan si cowok bertampang dingin di depanku sangat pantas disebut demikian—itu menggeletak tegak, aku membalikkan badan, menghadap si cowok dengan sempurna. Agaknya dia telah berdiri di sana sejak beberapa menit lalu. Aku yang tadi membelakanginya sama sekali tak sadar.

“Maaf, saya menyentuh barang-barang tanpa izin dulu,” ujarku sambil melangkah mendekat, tanganku terulur selama aku berjalan. Aku menggunakan bahasa formal, pekerjaanku membiasakan begitu.

“Tak apa, jika kamu masih ingin melihat-lihat silakan. Tapi setelah selesai, kamu boleh pulang dan kembali lagi besok.”

 

“…Temukan lanjutan kisah Poyan Nyoman dengan Thariq Amril Ash-syauqi dalam IN THE DIM Of TWILIGHT yang terangkum bersama empat belas kisah apik lainnya dalam buku antologi AKUAREL Tentang Cinta, Persahabatan dan Realita, klik link di bawah ini untuk melihat bagaimana cara mendapatkan buku antologi itu :-)…”

https://www.facebook.com/notes/nayaka-al-gibran/akuar%C3%A9l-voilaaa/251083098382902

Cover Akuarel