an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Yap, maka di sinilah kita akhirnya, di depan tulisan fiksi paling bagus di seantero jagad internet, kekekeke, ditimpuk batako penyok bodiku. Slap *pindah kamera* Dengan ini kunyatakan ANOTHER LOVE ACTUALLY STORY seri Potret selesai, khatam, the end, fin, TAMAT sampai di sini. Request potret 8 dan potret apapun tidak akan dilayani (sok lu, Nay! Siapa sudi minta nambah, cerita jelek begini! Nayaka : TT___TT)

Eh, ada kilas balik ya di Potret yang akhir ini, moga-moga bisa menjawab rasa penasaran beberapa sahabat yang selama ini bertanya-tanya, yang gak bertanya-tanya artinya untung, dapat jawaban tanpa repot-repot bertanya-tanya dulu :p

Akhirnya, terima kasih kepada semua sahabat yang sudah meluangkan masa untuk mengikuti perjalanan Love Actually, dari sejak seri Love Actually (26 kocek), seri Orlando’s Diaries (3 diaries) hingga seri potretnya Another Love Actually Story (7 Potret). Terima kasih, terima kasih dan terima kasih. Tanpa kalian, Love Actually hanya coretan biasa yang tak berarti. Doakan suatu saat aku mampu mencetaknya dalam bentuk hard copy (meski indie, he he he… │Erlangga : kayak ada yang mau beli saja! huh! Orlando : dikasih diskon pun sepertinya ga ada yang mau deh. Saif : jangan gitu, didoain dunk… gitu-gitu kita juga dikenal gara-gara si Nayaka ini │ Nayaka : hikz… Kak Sa Sa, aku terharu *meluk* │ Aidil : yah… dia nyari kesempatan mesra-mesra sama kakak orang, dasar jomblo!)

Ehem…

Last, semoga kalian menikmati membaca ANOTHER LOVE ACTUALLY STORY Potret 7 seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam

n.a.g

##################################################

Sesungguhnya cinta itu surga…
Adalah nafsu,
Yang menjadikan cinta itu neraka
Nafsu untuk menyakiti
Nafsu untuk melukai
Nafsu untuk mengkhianati
Sesungguhnya cinta juga adalah neraka…
Adalah ikhlas,
Yang mengubahnya jadi surga
Ikhlas dalam menyayangi
Ikhlas dalam mengasihi
Ikhlas dalam memberi
Jika kau ingin surga dalam hidupmu,
Maka ikhlaslah selama mengarungi cinta
Ikhlaslah untuk setia
Sisanya kau hanya perlu keyakinan,
Keyakinan bahwa tak ada lagi yang mencintaimu sebesar dia mencintaimu
Yakin seperti kau meyakini matahari terbit di timur dan tenggelam di barat
Setiap harinya…

***

POTRET TUJUH

Adam berdiri menyandar pada tembok  kamar dengan kedua tangan berada dalam saku celana, dia memperhatikan kebringasan dua adiknya mengatur properti yang baru saja tiba sambil sesekali tersenyum sendiri. Sangat kebetulan barang-barang itu diantarkan pada hari Minggu sehingga ada tenaga ekstra yang membantunya mengangkat ke kamar.

Kononnya mengatur, tapi barang-barang di kamar itu masih centang-prenang. Dua lemari tanpa pintu dari kayu jati mengkilap satu kecil satu besar, lemari berpintu yang berukuran lebih besar yang juga dari kayu jati, single bed tanpa bantal dan guling, rangka ayunan lengkap dengan pegas dan boksnya, kasur mini untuk boks ayunan tergeletak berdekatan, tempat tidur bayi yang berpagar lengkap dengan tirainya, bantal-bantal mungil tanpa sarung, guling-guling mungil yang juga belum bersarung, kerincingan besar bertingkat-tingkat tergeletak di satu sudut, bak mandi mini dari bahan akrilik berada dekat pintu kamar mandi, berlembar-lembar stiker tokoh kartun berbagai warna dan ukuran menumpuk di sudut yang lain, anak bebek kuning dari ukuran paling kecil hingga yang seukuran anak bebek beneran—yang bila dipencet bisa berteriak kesakitan—juga berceceran di lantai. Beberapa hiasan kamar seperti lampu tidur bentuk kucing, boneka-boneka, pohon plastik dan beberapa pernak-pernik lainnya juga turut membuat kamar itu semakin kelihatan bak kapal pecah.

Mereka sedang mempersiapkan kamar bayi.

“Huft… sumpeknya…” Aidil melempar diri ke tempat tidur yang letaknya masih menyerong tepat di tengah kamar.

“Jangan tidur dulu, ini masih berantakan!” Saif mendorong tempat tidur bayi, memisahkannya dari apitan dua lemari tak berpintu yang lebih pantas disebut rak.

“Cape, Kak!” Aidil mengulet di atas kasur. “Tuh calon ayah si bayi yang lebih berkepentingan cuma nyantai di tembok.”

Adam tertawa ketika sadar kalau ucapan Aidil ditujukan untuknya. “Kan ada kalian…,” sahutnya santai lalu menuju ke tumpukan stiker. “Bereskan dindingnya dulu, baru kemudian ngatur letak barang-barang.”

“Kenapa sih Kak Adam harus masang stiker segala di dinding, kan warna catnya udah pas, udah bagus…” Saif memperhatikan dinding kamar yang dicat empat warna berbeda tiap bagian. Ijo pucuk daun, kuning cerah, biru langit dan pink gelap.

“Mbakmu yang ngusulin pakai stiker,” jawab Adam.

“Kenapa gak nyewa jasa designer aja biar lebih perfect.” Aidil duduk di kasur.

“Kita designernya, kalau kamu gak segera bangun dan bekerja, bayarannya gak akan kubagi dua!”

Aidil membelalak, “Kita diupah?” dia menatap bergantian kedua kakaknya, mencari kebenaran.

Adam mengangguk, “Seribu rupiah per sepuluh menit.”

Aidil mengernyit. Jarinya mulai menghitung.

Saif menyeringai begitu melihat adiknya berhasil dipermainkan.

“Kok murah banget ya? kalau seribu per sepuluh menit, satu jam cuma enam ribu, kalau ngatur barangnya selama setengah hari berarti upahnya cuma…”

“Udah berenti ngitung, sini bantuin cepet!” Saif menukas.

Aidil menatap kakak tertuanya dengan pandangan kesal, “Kak Adam nipu ya?”

“Dia bohong duluan.” Adam menunjuk Saif

Saif meleletkan lidah begitu Aidil menatapnya. “Lekas dong, Dil… masih banyak ini.”

“Tunggu pembalasanku!” Aidil mulai bergerak menuju stiker. “Ini perabotannya udah diancang-ancang mau ditempatkan di mana, kan? Jangan nanti kita udah nempel stiker eh malah ketutup lemari.” Aidil membantu Adam memasang stiker di dinding.

“Udah, itu posisinya udah benar kok… Mbak udah menggambar sketsa kamar sebelumnya. Kakakmu sudah tau mau diatur seperti apa.”

Mereka bertiga menoleh ke pintu, Balqis berdiri dengan perut besarnya sambil menatang nampan di mana terdapat tiga gelas besar berisi perasan jeruk, bongkah-bongkah es batu membuat gelas itu berembun.

“Asik, belum pun mulai kerja udah dapat minum…”

Secara mengejutkan Orlando muncul di balik Balqis, masuk ke kamar dengan menyampingkan badannya ketika melewati ibu hamil itu di pintu. Segera saja, lelaki ini mengambil satu gelas dalam nampan dan meneguk setengah isinya.

“Ahh… segarnya…”

Balqis tersenyum saja melihat tingkah Orlando.

“Pas banget lu udah minum, Do. Sini buruan bantuin.”

“Minumnya belum habis,” dengan santainya Orlando menjawab sambil membawa minumnya dan duduk di atas single bed yang baru saja ditinggalkan Aidil. Saif yang sedang berusaha mengatur kasur bayi ke dalam boks melotot pada tetangganya itu.

“Minumnya kurang satu, Mbak.” Aidil mengikuti jejak pacarnya, mengambil gelas lalu duduk di samping Orlando. Dengan gilanya, mereka saling membenturkan gelas hingga berbunyi ‘ting’ sebelum sama-sama meneguk isinya. Saif makin melotot

“Kenapa repot-repot bawa minum kemari, Dik. Ini kamarnya sedang berantakan, nanti malah kesenggol nampannya.” Adam mendekati istrinya dan mengambil gelas terakhir.

“Gak bakal kesengggol, Mas,” jawab Balqis sambil menurunkan nampannya.

“Wah, kasian yang gak dapat minum tuh,” celutuk Orlando.

“Minumku lu serobot, Kampret!”

“Ah, Tuhan memang Maha Adil, pembalasan dari-Nya datang tidak lama.” Aidil berlagak seperti orang berdoa dengan mengangkat satu tangan ke atas serta mendongakkan kepala. Ungkapan syukur sepertinya.

“Sialan kalian berdua.”

Balqis tertawa, “Sudah-sudah, buat Dik Gede Mbak bawa bentar lagi.”

“Gak usah Mbak, biar Kak Saif ambil sendiri. Jangan dimanjain, nanti besar kepala.” Aidil menerima gelas kosong dari tangan pacarnya lalu menuju kakak iparnya untuk mengembalikan gelas.

Saif kian geram, apalagi melihat Orlando yang ber-ahh ria seperti bintang iklan minuman isotonik saat minum produk yang diiklankan setelah push up di padang pasir. Benar-benar usaha yang berhasil membuat Saif jengkel.

Adam meletakkan gelas di nampan, “Gak usah antar, kamu bawa-bawa nampan apa gak takut kesandung pas jalan…”

“Nah kan, gak usah antar lagi minumnya,” tukas Aidil girang.

“Memangnya kamu pikir aku gak bisa ambil sendiri apa!” sembur Saif pada adiknya lalu menuju pintu dengan wajah memberengut.

“Yap benar, sana ambil sendiri!” Aidil tertawa menang.

Balqis geleng-geleng kepala. “Lando, bantuin ngatur-ngatur ya…”

Orlando mengangkat tangannya memberi hormat, “Sip, Mbak.”

“Nanti makan siangnya di sini saja, Bunda sama Bik Iyah masak enak kayaknya.”

“Wah, mantap tuh.”

Balqis tersenyum lalu meninggalkan kamar.

Dua menit kemudian Saif kembali dengan sekerat besar bolu di tangan. Dengan maksud pamer, dia menggigit bolu itu dengan gaya dilebih-lebihkan di depan adiknya dan Orlando, sesekali ber-emm sendiri, mencoba memberitahu pada dua orang itu akan lezatnya bolu yang sedang dimakannya.

“Dasar orang aneh,” sembur Aidil sambil berbalik dan kembali menempelkan stiker bersama Adam.

“Kayak gak pernah makan bolu!” semprot Orlando lalu mendorong single bed ke posisi seharusnya.

Setidaknya, Saif tahu usahanya berhasil. Aidil dan Orlando jelas jengkel. Selanjutnya, tanpa saling mengatai mereka berempat mulai bekerja mempersiapkan kamar bagi calon anggota keluarga baru yang ada dalam perut Balqis.

***

Double date.

Ini bukan kali pertama mereka melakoni yang namanya kencan ganda, pacaran bareng, mesra-mesraan berjamaah. Meski tiga kali terakhir sebelum ini sempat terjadi kekacauan yang bisa dibilang aneh bin ajaib dan malu-maluin seperti insiden tumit sepatu di bioskop, musibah bola kelapa saat kencan di pantai dan yang paling baru adalah saus nyasar disaster di alun-alun kota. Sempurna. Itu tidak membuat mereka kapok.

Insiden tumit sepatu. Entah karena daya AC yang terlalu dingin di dalam studio atau memang Rani yang belum sempat ke toilet sebelum film dimulai. Yang pasti tepat di saat film drama keluarga yang dipilih Syuhada itu baru memunculkan konflik, Rani mengeluhkan sesak pipis pada cowoknya. Sebentar lagi, kata Erlangga waktu itu dan Rani patuh menunggu sebentar lagi. Ketika Rani mengeluh lagi dan lagi namun jawaban Erlangga belum juga berubah, Rani naik berang dan menginjak sepatu Erlangga dengan tumit tingginya yang membuat cowok cepak itu berseru kaget kesakitan, dan malangnya Erlangga menghamburkan sisa popcorn yang dipegangnya pada pasangan di sebelahnya karena terlonjak. Tingkah Erlangga kontan menuai protes dari pasangan malang itu. Rani tak mau repot-repot membantu pacarnya meminta maaf pada korban hujan popcorn mereka, dia langsung menarik Syuhada yang sedang asyik masyuk berpegangan tangan dengan Gunawan di sampingnya. Malang kedua kalinya bagi Erlangga, tepat di saat Syuhada melintas dalam keadaan setengah diseret oleh Rani, tanpa diharapkan Syuhada kembali menggilas kaki Erlangga dengan tumit sepatunya. Hemm… setidaknya, saat itu Erlangga mendapatkan satu kesimpulan penting. Apa itu? jangan remehkan cewekmu yang mengeluh sesak pipis dan minta diantar ke toilet, jika pun kamu berniat mengabaikan maka pastikan cewekmu tidak sedang pakai hak tinggi.

Musibah bola kelapa. Sebenarnya, musibah bola kelapa ini tidak akan terjadi kalau saja Syuhada tidak sok kerajinan membantu mbak-mbak pramusaji menata pesanan mereka di meja kafe pantai yang sedang mereka kunjungi. Mereka berempat kompak memesan sejenis puding dan kelapa muda langsung dari buahnya hari itu. Jadi ketika seorang pramusaji datang dengan nampan besar, Syuhada yang sepertinya gak tahan untuk gak nunjukin jiwa sosialnya yang tinggi pada mereka semua langsung memundurkan kursi dan bangun untuk membantu. Masalahnya, bantuan yang direncanakan malah berubah jadi mudharat. Entah karena kulit buah kelapa itu yang licin atau memang Syuhada yang tidak erat memegangnya—yang jelas tak mungkin gadis itu sengaja. Sebelum berhasil diletakkan di meja, kelapa itu terlepas dari tangan, jatuh membentur meja, mencipratkan air segarnya ke semua orang lalu menggelinding jatuh ke lantai setelah terlebih dulu mendarat di pangkuan Rani yang membuat roknya basah seperti habis mengompol. Yah, setidaknya kejadian itu bisa menjadi pengingat bagi Syuhada agar tidak sok kerajinan mencampuri pekerjaan yang bukan profesinya lain kali.

Saus nyasar disaster. Kita sering mendengar istilah peluru nyasar. Meski efeknya tidak semengerikan peluru nyasar yang pada beberapa kejadian malah membuat korbannya hijrah ke alam baka, pada kasus double date empat pasangan ini kita bisa menyebutnya sebagai ‘saus nyasar’. Jadi, saat itu adalah sore Sabtu. Memakai jeep sangar punya Gunawan, mereka terdampar di alun-alun kota. Gunawan kangen jajanannya, setelah berembuk singkat akhirnya mereka memutuskan makan bakso. Acara makan bakso itu seharusnya berlangsung baik dan bersahaja sampai mangkuk licin jika saja Rani tidak dengan semangat empat lima memencet botol plastik berisi saus cab eke mangkuknya. Tak ada yang salah dengan botol saus, yang salah adalah jarak antara ujung botol dengan mangkuk berisi bakso serta cara Rani ketika menuangkannya. Rani memegang botol itu terlalu tinggi di atas mangkuk penuh bulatan daging dan memencetnya terlalu kencang. Tanpa ampun, saus merah itu meluncur banyak dan cepat ke mangkuk. Malang bagi Gunawan, saus yang dipencet Rani jatuh tepat di atas satu-satunya bakso paling gede dalam mangkuk dan dengan ganasnya terciprat ke arah Gunawan yang duduk berseberangan. Syuhada beristighfar, Rani melongo kaget dan langsung sibuk minta maaf, sedang Erlangga, dengan kurang ajarnya malah tertawa terpingkal-pingkal. Pipi kanan Gunawan kena saus, dan sebelah kacamatanya tertutup sempurna dengan pasta cabe itu. Mungkin keadaan kacamata Gunawanlah yang membuat Erlangga terpingkal. Well, setidaknya kejadian itu cukup membuat Rani belajar dan bertekad akan lebih hati-hati memperlakukan botol saus di lain kesempatan.

Dan tiga ketidakenakan yang telah terjadi itu tidak membuat mereka berempat jera untuk kembali melakukan kencan kuadrat.

Kali ini acara minum kopi sore sepulang kuliah.

“Syu, ingat! jangan bantuin pelayannya!” Rani mewanti-wanti ketika ekor matanya menangkap kelibat pramusaji coffee shop dengan nampan di tangan mendekati meja mereka.

Diingatkan dengan nada menyindir demikian rupa oleh Rani mau tak mau membuat Syuhada memelototi sahabat kentalnya itu. “Mesti ya diingat-ingatin sama aibku…”

“Bukan aib ah, Dinda… itu ketidakhati-hatian aja,” Gunawan menghibur pacarnya.

“Iya, ketidakhati-hatian yang menyebabkan ketengsin-tengsinan…” dengan kurang ajarnya Rani kembali meledek.

“Dan kemalu-maluan,” sambung Erlangga kompakan dengan pacarnya.

“Huh, kayak kamu gak pernah sial aja, Ran.” Syuhada mencibir pada Rani.

Sebenarnya Rani mau lanjut meledek, tapi kopi dan kue mereka sudah datang. “Pesanannya, Mas, Mbak…”

Romantis. Pada banyak kencan ganda yang sudah mereka jalani, mungkin bisa dikatakan jauh dari suasana romantis, barangkali lebih tepatnya adalah kocak ancur-ancuran jika tak mau disebut aneh. Tapi sore ini kesan romantis benar-benar tercipta di antara mereka berempat. Diiringi suara Afgan yang melantunkan Jodoh Pasti Bertemu dengan volume tepat lewat speaker di satu sudut, mereka langsung saling suap-suapan setelah si pelayan meninggalkan meja.

Rani yang meniup kopi dari sendok kecil yang disuapkan Erlangga padanya, atau Erlangga yang jahil mengenai ujung jari Rani dengan lidahnya ketika cewek itu menyuapkan kue langsung dengan tangannya ke mulut Erlangga, hal remeh-temeh itu adalah keromantisan antara mereka berdua. Juga demikian halnya dengan Syuhada dan Gunawan. Syuhada tak mau melewatkan momen untuk saling menyuapi dengan tangan bersilang bersama Gunawan. Gunawan juga tidak mau merugi untuk tidak menyapu sudut bibir Syuhada dengan ibu jarinya sekedar berlagak membersihkan remah-remah kue di mulut Syuhada, jadi lelaki itu rajin menyapu sudut bibir Syuhada sambil tersenyum manis yang di mata Syuhada tampak semanis madu yang dibrojolin ratu lebah setelah semedi tujuh purnama (?).

Jika aku memang tercipta untukmu

Ku kan memilikimu…

Jodoh pasti bertemu…

Afgan sampai di penghujung notnya ketika Rani dengan nada pesimis menyelutuk. “Angga… kamu beneran jodohku gak ya kira-kira?”

Erlangga urung menyesap kopi, “Tayang, kok gak yakin gitu sih kedengarannya?”

“Ya tiba-tiba aku mikirin jodoh,” ujar Rani lalu mengaduk gelas kopinya.

Gunawan berdehem, “Langkah, rezki, jodoh dan maut itu rahasia Tuhan. Gak ada yang bisa tahu, gak ada yang bisa meramalkan.”

“Tapi aku yakin jodohku itu Kanda.” Syuhada ikut nimbrung.

“Amin,” Gunawan tersenyum pada Syuhada.

Erlangga menoleh pada pasangan di depannya lalu kembali menatap Rani. “Apa kita tunangan aja dulu ya?”

Rani tertawa kecil.

“Ran, aku serius.”

Sekarang Rani memasang wajah serius seserius ucapan Erlangga. “Kapan?”

“Setelah ngobrol sama Papa sama Mama.”

“Ya Tuhan… kalian seriusan?” Syuhada berbinar, menatap Rani dengan tatapan yang jika diterjemahkan dalam kata-kata mungkin akan berbunyi ‘OMG, Raaaannn… dia jentel bangeeeettt…!’

“Ya, setidaknya pertunangan adalah suatu ikatan jodoh yang baik. Meski dalam islam gak ada yang namanya pertunangan tetapi yang disebutkan adalah nikahnya… tapi ya, itu adalah ikatan yang baik, menjaga komitmen dan kesetiaan juga…”

“He eh, benar tuh.” Syuhada menyambung kalimat Gunawan. “Aku dukung jika kalian mantap mau tunangan dulu.”

Erlangga tersenyum cerah. “Siap- siap aja aku hantar lamaran,” katanya sambil mencium tangan Rani.

So sweet…” Syuhada makin berbinar.

Kencan yang mencerahkan, memunculkan tahap baru pada hubungan salah satu dari dua pasangan itu. Trims untuk Afgan yang sudah memicu pikiran Rani untuk bertanya.

Sebenarnya kencan mereka kali ini akan berlangsung lancar sampai mereka meninggalkan meja coffee shop itu. Tapi sepertinya apes masih mengikuti mereka sampai kemari. Tepat ketika mereka siap beranjak, kekacauan itu terjadi. Kali ini Gunawan yang menjadi pemicu sekaligus korbannya. Jadi, di antara mereka berempat yang paling buru-buru bangun adalah Gunawan, lelaki ini ingin bersikap manis dengan bangkit lebih dulu dan bermaksud berdiri di belakang kursi Syuhada sekedar memundurkan kursi itu untuk memudahkan ceweknya keluar seperti di film-film barat yang sering mereka tonton. Namun seperti kata pepatah, untung tak dapat diembat justru malang yang didapat. Saking semangatnya dan tergesa-gesa bangun agar tidak melewatkan kesempatannya, kursi Gunawan malah terjungkal ke belakang. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi, tau-tau Gunawan sudah terjengkang berikut kursinya di lantai coffee shop. Seruan Syuhada terputus sampai dia membekap mulutnya dengan dua tangan sekaligus. Erlangga menggeleng-geleng acak dan cepat, jelas sekali cowok itu berusaha untuk tidak terpingkal meski sedikit gagal. Rani kehilangan kata-kata, dia bengong di samping Erlangga sambil menyumpal mulut dengan ujung kerudung yang diremas di tangan.

Tentu saja, mereka sudah jadi pusat perhatian pengunjung coffee shop, seorang pramusaji malah tergopoh-gopoh menghampiri. Jangan lupakan beberapa gelak tawa dari mereka yang tidak mau membiarkan kejadian lucu lewat begitu saja tanpa ditertawakan. So, ya… orang-orang tertawa melihat Gunawan yang sekarang sedang berusaha bangun dari lantai dengan wajah merah tertekuk dibantu Syuhada dan mas-mas pramusaji. Erlangga dan Rani saling pandang.

“Berdoa saja tidak ada siapapun yang sempat mengarahkan kamera ponselnya pada Kak Gun dan menayangkan petaka ini di youtube…,” bisik Erlangga pada Rani.

“Bukankah banyak orang yang ngetop setelah video mereka mampir di sana?” Rani bertanya dengan lugunya.

Erlangga menoleh ceweknya dan terkekeh, “Tapi tajuk ‘Terjungkal tanpa sebab di kursi coffee shop’ yang akan muncul di sana bukanlah judul video yang keren.”

Rani setuju dan manggut-manggut.

Pasti kejadian barusan juga bisa jadi pelajaran bagi Gunawan, agar tidak tergesa-gesa lain waktu meski hanya untuk membuat sang pacar terkesan.

***

Sore hari yang begitu mendadak. Tau-tau dia sedang berada di suatu tempat yang rasa-rasa dikenalnya. Tangkai-tangkai anggrek sedang berbunga lebat, setiap pot yang berjejer di rangka besi dan yang digantung kawat atau tali tidak ada yang cuma daun hijau melompong tapi penuh bunga sampai ke ujung tangkai, seperti anggrek-anggrek itu sedang berlomba sesama sendiri pot siapa yang paling lebat bunganya. Pemandangan seperti itu membuat takjub siapapun yang melihat. Dia juga takjub dalam ketakjuban yang aneh dan ganjil.

Seorang lelaki—bercelana pendek berkantong banyak sebatas lutut dan membiarkan punggungnya yang berkeringat terekspos sempurna karena tidak memakai baju—berada di antara pot-pot itu. Rambut ikal lelaki yang sedang berjongkok membelakangi arah masuk kebun anggrek itu amat sangat dikenalnya. Dia melangkah mendekat, melewati gerbang kebun yang dipagar jaring-jaring kawat setinggi tiga meter dengan langkah ragu-ragu. Dia berhenti tiga langkah di belakang lelaki yang masih duduk berjongkok dan terlihat asyik dengan pekerjaannya. Kehadirannya bagai angin saja, tidak disadari si lelaki berambut ikal. Dia berdiri cukup lama, menatap punggung lelaki itu dan pergerakan bahunya. Tangan si lelaki tentu sedang sibuk.

“Jay…” Setelah cukup lama berdiam diri, dia mengeluarkan suara.

Lelaki itu menoleh, ekspresinya datar. “Halo Aidil… sudah lama sekali ya?” lalu dia berdiri. Di atas rumput hias yang menutupi tanah kebun anggrek di mana si lelaki berdiri, beberapa pot tanah liat tergeletak bersama bongkahan batu bata dan pecahan arang. Satu benda yang semestinya tidak pantas berada bersama arang dan pecahan batu bata juga terlihat di sana. Sebuah bola bening berisi boneka salju, mulus tanpa cacat retak, seperti baru saja dikeluarkan dari pabriknya.

“Iya, sudah lama sekali, tapi anggrekmu masih sama saja.” Aidil mengitari kebun anggrek dengan pandangannya.

Lelaki itu mengikuti pandangan Aidil, “Tidak ada yang berbeda juga padamu, masih seperti Aidilku yang dulu.”

Masih seperti Aidilku yang dulu…

Kalimat itu bagaikan bergema lama di telinga.

Aidil maju lebih dekat, kini dia dan lelaki itu hanya terpisah satu langkah saja. Ekspresi si lelaki masih datar ketika Aidil mengulurkan tangan, menjangkau wajahnya. Dalam diam, Aidil menyusuri pahatan wajah si lelaki dengan jemarinya, seperti memeriksa, atau merekam lekuk-lekuknya, menyegarkan ingatannya. Dimulai dari kening, turun ke ujung mata kanan, pipi kanan lalu garis rahang yang persegi penuh. Si lelaki hampir saja tersenyum ketika jemari Aidil kembali naik menuju hidung tingginya, tapi senyum itu tak kunjung terjadi hingga jemari Aidil berhenti di satu sudut bibirnya.

Rasanya begitu kaku, dan janggal. Anehnya, ada gejolak yang tak bisa diungkapkan dalam diri Aidil, dia kebingungan mengekspresikannya. Aidil tidak mengerti perasaannya sendiri, mengambang antara rindu dan puas, antara enggan dan ingin, antara canggung dan akrab. Jemarinya meninggalkan wajah si lelaki. “Apa kamu baik-baik saja?”

“Apa aku terlihat tidak baik-baik saja?” si lelaki balik bertanya.

“Kamu terlihat hebat, Jay.”

Lalu jeda menggantung beberapa saat lamanya. Mereka hanya saling menatap dengan mulut terkatup rapat. Aidil merasa luapan perasaan yang bergolak dalam dirinya kian liar, tapi seperti tadi, dia tak tahu harus bertindak bagaimana untuk mengurai luapan rasa itu.

“Masih ingat cattaleya?” si lelaki menunjuk anggrek berbunga besar dengan tangan kanannya, bahkan saat melakukan itu matanya tetap menatap Aidil.

Aidil mengikuti arah yang ditunjuk si lelaki lalu mengangguk, “Katamu, itu anggrek benalu.”

Tidak merespon jawaban Aidil, lelaki itu berbalik dan berjalan di antara pot-pot angrek yang berjejer rapi di rangka besi. Aidil menggerakkan kakinya mengikuti langkah si lelaki.

“Jay…”

“Ini black orchid… ini vanda… ini dendrobium… ini arachnis…” Tidak merespon Aidil yang memanggilnya, lelaki itu terus berjalan sambil menunjuk-nunjuk pot anggrek dan menyebutkan nama latinnya, tidak menoleh dan tidak pula diselingi kata-kata lain, hanya nama-nama anggrek. Baru ketika sampai di depan pot mini yang berisi anggrek paling kecil berbunga putih dia berhenti berjalan. “ini yang ada di kamarmu, yang dulu sering kamu ciumi tiap pagi dan kamu ajak bicara… phalaenopsis…”

“Anggrek bulan…”

“Iya, anggrek bulan.” Lalu lelaki itu membalikkan badannya, menghadap Aidil. Untuk pertama kalinya sejak tadi, dia tersenyum kini, lebar dan lama. “Keberatan untuk memelukku sebelum kamu pulang?”

Aidil tak ingin pulang. Tidak akan pernah ingin pulang. Namun dia tetap bergerak menutup jaraknya dengan si lelaki. Dengan gerakan canggung, tangannya menjangkau pinggang si lelaki dan merapatkan tubuhnya. Sampai kedua lengan Aidil bertaut di punggungnya, si lelaki masih kaku berdiri tegak lurus dan kedua lengan masih diam di sisi badan. Baru ketika Aidil menempelkan dagu di bahu kanannya, dia balas merangkulkan satu lengan ke badan Aidil dan satu lagi merengkuh kepalanya, dia menunduk.

Mereka berpelukan.

Aidil merasa kalau semua luapan rasa yang sejak tadi bergolak dalam dirinya terjabarkan sudah. Begitu nyata setiap inci dari sosok yang sedang dipeluk dan memeluknya. Aidil bahkan nyaris bisa mengenali lagi aromanya, nyaris bisa mengakrabi setiap lekuknya, seperti tak pernah terlerai. Dia mempererat pelukannya dan memajukan wajah, kini bahu si lelaki menempel tepat di ceruk leher Aidil.

Dari posisi ini, ekor mata Aidil bisa meihat pot-pot dan bongkahan batu bata serta pecahan arang di atas rumput, juga bola salju itu. Aidil mengerjap satu kali ketika menemukan bagaimana pola sejenis retakan muncul di permukaan bola bening itu, pola itu tak berhenti, retakan itu terus bergerak ke seluruh permukaan bola, seperti kaca yang terjemur lama di bawah terik matahari dan diberi beban di atasnya. Bunyi ‘kirk kirk’ yang halus dan samar menyertai kemunculan pola retakan itu. bersamaan dengan itu, pot-pot tanah liat juga seakan melebur ke tanah, pecahan arang bagai meleleh dan menghitamkan rumput, bongkahan batu bata hancur perlahan menjadi serbuk merah dan membentuk gunungan-gunungan kecil di posisi yang sama saat masih menjadi bongkahan. Transformasi itu berhenti saat pola retak di bola salju lengkap ke seluruh permukaannya.

Aidil memejamkan mata bertepatan dengan bunyi ‘priiing’ dari bola salju itu, lalu angin berhembus satu kali setelah dari tadi kebun anggrek tempat mereka berada bagaikan ruangan kedap suara dan hampa udara.

“Aku senang kamu datang kemari, Dil…”

Aidil nyaris bisa merasakan sentuhan bibir lelaki itu di tengkuknya saat dengan tiba-tiba matanya terbuka nyalang. Napas panjang keluar dari hidungnya dengan serta merta. Aidil merasa bagai baru saja jatuh dari tempat yang tinggi, terhempas sedemikian rupa, terasa bagai dunia mengelinding jauh darinya. Dia sendirian, di tempat yang sangat jauh berbeda dengan yang baru saja ditemukan semua inderanya. Sekali lagi, napas panjang keluar dari hidungnya, kali ini tercekat di ujung.

Hal pertama yang disadari Aidil adalah, dia sedang berbaring telentang lurus di ranjang dan plavon kamarnya yang putih bersih balas menatap padanya. Hal berikutnya yang dia sadari adalah, bahwa dia terbangun dari tidur dan detak tenang beker di nakas masuk lubang telinganya. Selanjutnya dia sadar bahwa sekarang mungkin dini hari karena keadaan kamarnya temaram dan lampu tidur menyala redup di atas nakas. Paling akhir, dia menyadari bahwa baru saja memimpikan Zayed, dan kemudian langsung menggigil di pembaringannya.

Aidil menyingkap selimut dan bangkit duduk. Seluruh rambut di lengan dan tengkuknya meremang, bukan karena ngeri, tapi karena dingin yang amat sangat. Dia menggigil sekarang, tapi tidak berusaha menyelimuti diri kembali dengan selimut. Dingin itu, yang rasanya begitu aneh dan tiba-tiba juga diperparah dengan sakit dari rindu yang menusuk ulu hati, rindulah yang membuatnya menggigil dahsyat.

Setelah sekian lama dia tak pernah lagi memimpikan Zayed, kini sosok kekasihnya itu mampir lagi di tidurnya. Aidil menoleh pada pot anggrek di dekat jendela, tak ada tangkai bunga. Anggrek Bulan itu sedang tidak masa berbunga. Aidil menurunkan kakinya bertapak di lantai yang dingin. Dia mengelus dadanya yang polos untuk mengusir dingin lalu meninggalkan ranjang.

Sesaat kemudian, cowok itu sudah duduk bersandar di dekat jendela, kedua kaki diluruskan dan pot Anggrek Bulan berada di pangkuan.

“Apa aku melupakanmu akhir-akhir ini, Jay? Apa aku tidak lagi melihatmu hingga kamu yang datang melihatku?” Aidil ingat sudah jarang menziarahi makam Zayed seperti yang dulu sering dilakukannya bersama Orlando. “Apa karena itu, Jay?” jemari Aidil bergerak pada daun-daun anggrek. “Maaf…” suaranya melirih dan parau.

Untuk pertama kalinya lagi setelah kepergian Zayed, Aidil kembali dihantam kesedihan dan kehilangan yang sama seperti hari di mana laki-laki itu pergi. Matanya mulai basah.

Sendiri bersama pot anggrek di pangkuan di dekat jendela, cowok itu terisak dengan kepala tertunduk dalam nyaris menyentuh dada. Kedua tangan masih menangkup pot, bahunya bergetar. Mengeluarkan emosinya sendiri, tak ada siapapun. Rasanya begitu sendiri, begitu terasing dan sepi di saat dini hari begini. Sekilas bagai dia berada jauh dari peradaban dan menyadari fakta bahwa satu-satunya teman bicara sudah tiada. Sakit itu datang lagi di saat bahagia sudah dimulai lagi di dunianya jauh di belakang sana.

Ah, bukankah bertemu Zayed kembali juga adalah kebahagiaan? Bukankah dulu aku kerap berharap dapat melihatnya lagi meski hanya dalam tidur? Dia baru saja menjengukku… ah, Jay… terimakasih…

*

Aidil tak tahu berapa lama dia larut dalam isak diamnya di dekat jendela, rasanya cukup lama. Bekernya menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh lima ketika dia menuju lemari setelah meletakkan kembali pot anggrek di rangka sangganya semula. Aidil mengubek-ubek sangkutan-sangkutan dalam lemarinya hingga menemukan apa yang dicari.

“Jangan marah jika ilerku nempel di bahumu ya…” Aidil bergumam sendiri lalu membawa apa yang diambilnya dari lemari ke ranjang.

Jaket kulit itu diaturnya di tengah-tengah ranjang setelah menyingkirkan guling. Aidil menempatkan kepalanya di bahu jaket dan berbaring miring.

Goodnite, Jay…” lengan Aidil menjangkau sisi jaket setelah sebelumnya menarik selimut. Masih ada waktu satu jam lagi untuk tidur bersama Zayed sebelum matahari menggeser malam.

***

“Aku mau ziarah…”

Orlando menyeruput es jeruknya. Sore ini mereka sedang makan soto di tenda Kang Umay sepulang kuliah, mangkuk Orlando nyaris tandas sedang mangkuk Aidil cuma berkurang sedikit. Orlando menelan sisa kunyahan daging ayamnya lalu memandang Aidil. “Ziarah ke mana?” meski sudah bisa memastikan maksud kalimat Aidil, lelaki itu masih bertanya juga. Siapa tau kali ini maksudnya ziarah ke tempat lain, bukan apa-apa, Orlando masih cukup merinding jika mendengar kata ziarah dari mulut Aidil. Yang tumbennya, setelah lama tidak pernah ziarah lagi hari ini pacarnya itu kembali berminat. Ada apa gerangan?

“Ke tempat Zayed.”

“Ke rumahnya?” Orlando masih berlagak bego. “Aku juga kangen sama Lala Lili.”

“Bukan ke sana…”

Tuh kan benar. Orlando menggigit bibir bawah. “Ke kuburan ya?”

“Ke makam.”

Orlando manggut-manggut pasrah. “Abisin sotonya dulu,” dan lelaki ini sekarang mulai melambat-lambatkan makannya, menyendok dengan perlahan itupun setelah mengaduk-aduk beberapa kali hingga ke dasar mangkuk, meniup-niup isi sendok sebelum menyuap ke mulut meski kuah soto itu sudah cukup dingin, atau mengunyah pelan-pelan hingga dua puluh kali kunyahan baru menelan. Usahanya begitu gigih untuk mengulur waktu.

Berbanding terbalik dengan tadi, kini Aidil makan dengan beringas. Cowok ini sesekali melirik lelaki di depannya dan segera tahu gelagat, pacarnya sedang berusaha berlama-lama. Aidil bisa membaca apa yang ada di pikiran Orlando, pasti tak jauh-jauh dari ini : kalau udah keburu sore saat selesai di tenda Kang Umay pasti ziarahnya batal, he he he. Pasti begitu isi kepala Orlando.

“Ehem… walau udah adzan Maghrib sekalipun ziarahnya tetap jadi loh Orly. Kamu mau Maghrib-maghrib ke pemakaman?”

Glek.

Sebagai respon, Orlando segera makan dengan cepat, menyeruput es jeruknya hingga ludes lalu mengeluarkan dompet. “Ayo pergi sekarang!”

Aidil menyengir lalu memberi isyarat kecupan dengan memajukan mulutnya buat Orlando yang sudah berdiri sambil membuka dompet. Lelaki itu memberengut lucu.

“Ada maunya aja pasti gitu!” ucap Orlando, “Jangan lama-lama di sana ya, Dil. Aku harus pulang cepat, pesan Mama tuh.”

Aidil sangat tahu kalau pacarnya menipu, namun dia mengangguk saja lalu mengikuti Orlando keluar tenda.

*

Mereka duduk bersisian. Adil tepat sejajar dengan nisan sedang Orlando tepat menempel di sisi Aidil. Kalau saja tadi Aidil tidak memindahkan lengan Orlando dari bahunya beberapa saat lalu, pasti kini Orlando tidak hanya menempel tapi sudah memeluk Aidil.

Belum cukup sore dan sepi untuk membuat Orlando bergidik memang, beberapa penziarah malah masih terlihat di tanah pemakaman dengan keranjang bunga mereka, tapi itu tidak serta merta membuat Orlando berani jauh dari Aidil. Dia masih ingat pengalaman ziarahnya satu kali dulu saat dia merinding abis-abisan sementara Aidil asyik di dekat nisan Zayed. Jadinya sekarang dia melekat pada Aidil.

Aidil tidak membawa keranjang berisi kelopak mawar, tidak juga setangkai bunga apapun. Aidil hanya membawa dirinya, dan pacar penakutnya yang seiring bergesernya jarum menit jam di tangan kian memiringkan badan ke arahnya, membuatnya makin tergencet saja.

Aidil tidak bersuara, setelah tadi tangannya menadah untuk memanjatkan satu dua doa, kini kedua tangan itu diam memegang sisi beton makam Zayed. Matanya menatap permukaan tanah berumput rapi dan hijau di depannya dengan tatapan datar dan kosong, sedatar permukaan makam Zayed. Hal ini berlangsung hingga belasan menit.

Selalu begitu. Orlando nyatanya tidak asing dengan ekspresi Aidil bila sedang di sini meski sudah lama mereka tidak pernah lagi ziarah. Dan seperti biasa juga, lelaki ini akan sabar menunggu sampai Aidil menyatakan cukup dan mengajaknya pulang.

Aidil mencondongkan badan dan mencium puncak nisan, pertanda bahwa prosesi ziarahnya selesai. Di sampingnya, Orlando menghembuskan napas lega. Lelaki ini bangun lebih dulu dan menepuk bokong sekedar membersihkan celana jinsnya dari rumput kering dan debu. Aidil mengikuti setelah membisikkan entah apa pada nisan Zayed.

“Udah?” tentu saja Orlando cukup tahu kalau Aidil sudah selesai, tapi pertanyaan basa-basi itu memang selalu dilontarkannya buat Aidil ketika mereka akan pulang, seakan untuk mencairkan aura mistis yang terjadi antara pacarnya itu dengan nisan Zayed. Dan selalu juga, Aidil akan mengangguk untuk menjawabnya.

Orlando meraih tangan kanan Aidil dengan tangan kirinya dan menggenggamnya. Bergandengan tangan, mereka berjalan meninggalkan tanah pemakaman. Orlando menoleh ke kiri dan tersenyum sendiri ketika kepala Aidil sedikit rebah ke bahunya.

“Jangan jemu sama kebiasaanku kemari ya, Orly…”

“Hemm.”

“Kayaknya mulai sekarang aku akan kembali sering kemari seperti dulu.”

“Maka itu akan jadi kebiasaan kita berdua.” Tak peduli pada beberapa penziarah yang masih berada di beberapa nisan, Orlando kembali menoleh ke kiri dan menundukkan kepala untuk mencium puncak kepala Aidil di bahunya.

Aidil tak menolak. Sepanjang sisa perjalanan menuju tempat motor mereka diparkir, dia memeluk lengan kiri Orlando.

***

“Allo…”

“Iya. Allo…” Aidil mengikuti logat cadal menggemaskan di seberang sana. “Mana Emak?” Aidil tetap bertanya meski sudah bisa menangkap suara kakak perempuannya di latar belakang.

“Aloo…”

“Iya, Daman, halo…”

“Alooo…”

“Iya, Bocah. ini Om Didil, mana Emak?”

“Alooooo…”

“Iya, haloooo… Om Didil gak budek, mana Emak?”

“Aloooooooooo…”

Ya Allah.

“Alooo… aloooo… alloooo…”

Aidil terkekeh sendiri. “Kalau dekat Om Didil remas monyongmu tau rasa kamu!”

“ALLOOOOO…!!!”

Ngiiiiiiiiiiing.

Aidil merasa kupingnya seperti baru dicucuk besi pemancar radio jaman dulu. Daman Huri mengeluarkan volume mengerikan yang seakan merobek gendang telinganya. “Ya ampun, pecah telingaku.” Dia menjauhkan hape karena Daman Huri masih terus berteriak-teriak ‘allo’ sambil meracau-racau entah apa yang mungkin hanya bisa dimengerti balita seusianya saja. “Stop, Daman! Kasih hape sama emakmu…”

“Allooohaaaa…”

Oh hamba… apa bocah itu mengira dia ada di Hawai?

Lalu suara cekikikan Asnia menggantikan pekik jerit Daman Huri. “Bagaimana, keren kan anakku?” Asnia masih cekakakan.

“Pekak kupingku, Kak! Belajar jawab telpon dari siapa si Daman?”

“Kakak yang mencet trus kasih dia hapenya…” Asnia masih tertawa juga.

“Huh, sengaja ya?”

“Iya bener, gak sengaja.”

Aidil mendumel, “Aidil bilang sengaja, bukan gak sengaja!”

Asnia tertawa lagi. “Ah, sutralah…”

Sekarang Aidil yang tertawa, bahasa kakaknya jadi aneh. “Si Daman teriak-teriak begitu apa gak gangguin Najwa?”

“Dia sedang di rumah neneknya, Bang Anjas ngantarin pagi tadi.”

“Nginap di sana?”

“Enggak, sore nanti pulang…” lalu suara minyak menggoreng terdengar di corong hape.

“Kak Asnia lagi masak ya?”

“Enggak kok, ini sedang goreng ikan.”

Di tempat duduknya, Aidil mengerucutkan bibir. “Iya, itu namanya lagi masak. Udah emak-emak masih bloon aja!”

“Kualat ngatain kakakmu bloon.”

“Maapin.”

“Bagaimana kabar kamu?” sekarang suara sudip beradu dengan penggorengan, Asnia sedang membalik gorengannya.

“Aidil kangen rumah.”

“Ah, kapan coba kamu gak kangen rumah. Selalu kalau nelpon bilangnya kangen rumah.”

“Memang Kak Asnia mau dengar Aidil bilang gak kangen rumah?”

Asnia tertawa, “Kuliah yang benar, cepat lulus jadi cepat pulang selama-lamanya kemari.”

“Amiiin.”

“Keluarga di situ apa kabar?”

“Semuanya baik, Kak Adam dan Mbak Balqis bakal segera jadi orang tua juga. Beberapa hari lalu kami ngedekor kamar bayi loh.”

“Wah…”

“Bunda bilang, nanti kalau cucunya udah lahir, Kak Asnia dan yang lain diminta datang pas aqiqahan, wajib katanya.”

Insya Allah…” suara minyak berhenti.

“Udah selesai ya?”

“Sudah.”

“Kok cepet?”

“Yang makan cuma Kakak sama Daman, Bang Anjas pasti pulang makan siang ke rumah mertuanya, kalau Bang Taufik kan memang gak makan siang di rumah kalau hari kerja.”

Aidil menarik napas panjang, dia bisa membayangkan apa yang sedang dilakukan kakak perempuannya di dapur mereka di sana.

“Ah iya, Dek… Alhamdulillah bulan depan kami mulai ngerehab rumah.”

“Wah!” giliran Aidil yang surprise. “Ngerehab yang besar-besaran?”

Asnia tertawa, “Ya enggak. Rencananya bagian depan saja, sedikit dilebarin dari pondasi semula. Bagian dapur tetap seperti semula.”

“Mau dibeton ya, Kak?”

“Kata Bang Anjas betonnya secukup duit saja, kalau duitnya cuma sanggup beton dinding depan yang depan saja, sisanya beton setengah kayak yang sudah ada.”

Aidil manggut-manggut. “Siapa yang ngerjain?”

“Ya ngerjain sendiri, Bang Anjas, Bang Taufik sama dibantu Bang Fadlan mungkin. Biar gak keluar ongkos ngegaji tukang.” Asnia tertawa pelan, “Ngerjainnya pun gak sekalian, bertahap.”

“Trus, kerjaan gimana? Masa ditinggal?”

“Maka itu dikerjakan bertahap, di sela-sela pekerjaan. Kan Bang Anjas kerjanya gak sampe sore, kalau ayahnya Daman nanti bisa libur satu dua hari seminggu.”

“Kalau nanti sedang dikerjain, tidurnya gimana tuh?” tiga kamar di rumahnya semua berada di bagian depan.

“Haduh, nyatanya kamu yang bloon. Kan Kakak bilang ngerjainnya gak sekalian, kamu gak nyimak toh? Pasti adalah caranya, Kak Aini kan bisa pulang sementara ke rumah orang tuanya. Bisa diatur.”

“Iya iya, ngerti. Semoga proses rehabnya lancar. Cepat jadi.”

“Amin.”

“Apa perlu Aidil kabarin Bunda?”

“Jangan!” Asnia menjawab cepat, “Baiknya jangan kabarin, nanti Om Zaldi malah minta terlibat. Gak enak, Dek.”

Aidil paham apa yang dimaksudkan kakaknya. “Eh, berarti tabungan Bang Anjas banyak ya? sampe bisa rehab rumah…”

“Heh, tabunganku sama Bang Taufik juga tau!”

Aidil ngakak, kakaknya naik darah gara-gara gak dianggap.

“Tabungan Bang Anjas, tabungan kami, ditambah untung kios Ibu…”

Aidil terdiam.

Asnia menghela napas, Aidil bisa mendengarnya. “Kios itu berkah loh, Dek. Isinya makin beragam.”

Di kursinya Aidil tersenyum. Sosok almarhumah ibunya terbayang sekilas, duduk di kursi dengan kerudung hitamnya menjaga kios.

Paham kalau adiknya sudah diam cukup lama, Asnia mengakhiri obrolan. “Kakak ngasih makan Daman dulu. Salam buat semua ya…”

“Iya.”

Assalamu’alaikum…”

Wa’alaikumsalam.”

Aidil termenung lama di tempat duduknya. Setelah dua hari lalu galau teringatkan Zayed, sekarang dia jadi sedih lagi karena ingat ibunya. Hemm… seyogyanya kesedihan memang bagian dari kehidupan, bukan kehidupan namanya jika hanya berisi tawa saja, tetapi sirkus.

***

Saif sedang demam asmara ketika adiknya masuk kamar tanpa permisi sekedar mengetuk pintu. Laki-laki itu kaget. Salahnya juga, kenapa tidak mengunci pintu di saat sedang ingin mesra-mesra dengan Yayang Ruthiya-nya.

“He? Kak Saif ngapain nyium-nyium laptop?” Aidil kontan berseru ketika menemukan Saif lumayan polos di atas ranjangnya. “Abis itu cuma koloran doang lagi, mau mesum ya?” sekarang anak ini menampilkan ekspresi ‘ketahuan loe’-nya dengan sangat pas sambil menyeringai.

Saif melotot pada adiknya sambil merapatkan rahang. “Siapa yang koloran, gak bisa bedain yang mana boxer yang mana kolor ya?!” Saif mengubah posisinya di atas ranjang, dari tengkurap sekarang jadi duduk bersila, layar laptop ditekuknya sedikit.

“Aidil ya?” speaker laptop memperdengarkan suara cewek.

Aidil segera paham apa yang sedang dilakukan kakaknya begitu mengenali suara Ruthiya.

“Hhh… siapa lagi yang doyan ikut campur kalau gak dia, Beib.” Saif bicara ke layar.

“Adik Ipaaaarrr… Mbak kangeeeen…!”

Saif memutar bola mata, “Jangan respect sama dia dong, Ruth…”

Aidil tertawa begitu mendengar Ruthiya berteriak untuknya, dia beranjak menuju ranjang Saif dan tanpa permisi segera memonopoli laptop kakaknya dengan duduk tepat di depan benda digital itu, menghalangi sepenuhnya sosok Saif di belakangnya. “Wah wah wah, Mbak Tiyaaa…” Aidil sengaja menjerit dengan lebaynya di depan muka Ruthiya, membuat cewek itu terkikik.

“Ya ampun… kamu makin unyuuuuu…” Ruthiya membuat gerakan meremas dengan kedua tangannya.

Aidil mengedipkan sebelah mata. “Lame tak bersua, Mbak Tiya juga makin elok saje parasnye. Macam mane, terjumpa jejaka melayu kacak tak dekat situ?”

Apa lacur, Ruthiya sakit perut mendengar logat melayu yang keluar ancur-ancuran dari mulut Aidil. Sedang Saif menjitak kepala adiknya dengan kesal. “Apaan nanya-nanya begitu, dia masih pacar kakakmu!”

Tidak menoleh pada kakaknya yang bersungut-sungut kesal di belakangnya, Aidil mengelus kepalanya yang kena jitak sekilas lalu kembali mengajak ngobrol Ruthiya. “Mbak, kalau berlibur kemari aku dibawain KL tower dong…”

Ruthiya tertawa lagi, “Dalam bentuk miniaturnya, iya, insya Allah deh.”

“Aslinya boleh?”

“Dil, jangan gila!” cetus Saif di belakang.

Ruthiya masih tertawa, “Daripada minta menara KL, baik kamu minta dibawain gadis melayu. Mau? Ada loh ini temen di kampus Mbak, cantiiiiiik banget. Asal Terengganu. Namanya Siti Junaira… sumpah, Dik… cantiknya subhanallah. Mbak kasih liat fotonya si Siti Junaira ini deh nanti… eh, atau Mbak kasi liat gambarmu juga sama dia, gimana?”

Saif terbatuk-batuk.

Aidil cengengesan, “Aku maunya Siti Nurhaliza, Mbak… jangan Siti Juara.”

“Siti Junaira, Dil. Cotton bud-mu abis?”

Ruthiya kembali terpingkal. “Ya sudah, nanti Mbak bawain Siti Nurhaliza dalam bentuk compact disc yaa…”

Saif melongok dari bahu Aidil, “Beib, usir anak ini gih… dia ganggu aja ini!”

Aidil menyikut Saif hingga laki-laki itu meringis. “Kuliahnya gimana, Mbak?”

Alhamdulillah sekarang semua lancar, dulu awal-awal mbak sempat terkendala sama bahasa. Yah, meski masih serumpun, tetap saja beberapa kata melayu ada yang masih asing dan belum pernah Mbak dengar.”

Aidil manggut-manggut. “Ganbatte, neechan!”

Arigatou gozaimasu, haik!” Ruthiya ikut-ikutan menggila bersama adik pacarnya.

Saif geleng-geleng kepala, “Heuh, tadi melayu, sekarang nippon. Gila bener.” Dia turun dari ranjang untuk kemudian pergi ke gantungan baju di pintu kamar dan mengenakan kausnya.

“Pokoknya gitu ya, Mbak… liburan wajib pulang ke sini. Kasian ini kakakku nyium gadget mulu kayak orang gila. Kapan itu aku malah sempat mergokin dia jilat-jilat digital frame…

Ruthiya terkikik lagi.

“Udah sana, ganggu orang dewasa pacaran aja kamu!” Saif mendorong badan adiknya supaya menyingkir dari depan laptopnya.

Bye Mbak Tiya!”

“Bye Adik Ipar…”

Saif kembali mengambil alih laptop sedang Aidil membuka laci nakasnya.

“Kak, aku mau pinjam motornya. minta kunci.” Ternyata dia masuk kamar Saif memang ada perlunya, bukan cuma mau mengacau.

“Mau ke mana?” bukannya memberitahu di mana menyimpan kunci motornya, Saif malah balik bertanya, “Memangnya kamu udah lancar pake motor kopling? Kenapa gak pergi sama Orlando aja?”

“Cerewet ah Kak Saif.” Aidil menutup laci nakas karena tidak menemukan kunci di sana. “Aidil mau ketemu temen, gak bisa ngajak Orly.”

“Wah, pasti mau ketemu ceweknya tuh!” Ruthiya menukas.

“Mana punya cewek dia,” jawab Saif lalu kembali fokus pada Aidil. “Cari di saku celana.” Saif menunjuk pada gantungan baju di belakang pintu di mana beberapa jins tergantung.

Aidil mulai merogoh tiap saku dan menemukan kunci motor berikut selembar uang lima puluh ribuan, terlipat-lipat gak karuan di dalam saku yang sama. “Ketemu,” ujarnya.

“Bawa helm, nyetirnya hati-hati, jangan ngebut, jangan pulang kesorean, jangan milih jalan yang padat, gak punya SIM jadi jangan lewatin pos lantas, jangan…”

“Kak, ini buat bensin yaa…”

Saif berhenti mewanti-wanti begitu adiknya berbalik sambil mengacungkan uang lima puluh ribuan di tangannya. “Simpan balik, bensinnya baru aku isi penuh!”

“Ada apa?” Ruthiya ingin tahu.

“Anak kecil itu ngambil uang jajanku,” Saif bicara ke layar.

“Anak kecil itu adikmu, biar saja diambil.”

Saif berdecak.

“Eh, baru diisi ya? pas banget, buat nraktir temenku ya!” dan dengan begitu Aidil keluar kamar.

Asap keluar dari telinga dan lubang hidung Saif.

*

Semenjak sempat berbicara empat mata di perpustakaan tempo itu, mereka jadi akrab. Meski Orlando sudah berkali-kali melarang Aidil untuk jangan berteman dan jangan memedulikan, tapi toh Aidil tetap membangkang dan yakin dengan penilaiannya sendiri bahwa larangan Orlando tidak masuk akal dan egois. Hanya karena dia tak suka dengan kehadiran sosok mantan pacarnya, bukan berarti Aidil juga harus tidak suka, yah… dulu Aidil memang tidak suka, tapi sekarang keadaannya sudah berbeda, jadi dia tidak lagi begitu. Tidak jika pada kenyataannya si mantan pacar ini cukup menyenangkan untuk dijadikan teman bahkan sahabat.

Jadi, beginilah mereka sekarang. Berteman dan sudah beberapa kali bertemu untuk sekedar mengobrol. Aidil bahkan sudah tahu di mana rumah teman barunya ini. Dan inilah tujuan dia meminjam motor kakaknya, untuk pergi ke rumah teman barunya ini.

Aiyub sudah rapi dan menunggu Aidil di gerbang rumahnya. Tadinya dia yang berinisiatif untuk menjemput, tapi Aidil beranggapan kemungkinan nanti bisa dipergoki Orlando dan pasti akan dilarang-larang, jadi dia yang menjemput Aiyub.

Aidil membiarkan Aiyub yang menyetir, alasan Aiyub ketika mengambil alih kemudi adalah, ‘Aku tidak terbiasa lagi dibonceng.’ Jadi dia mundur dan membiarkan teman barunya yang menyetir.

Mereka mutar-mutar jalan kota. Dan siapa sangka, di satu perempatan, mereka malah bertemu dengan teman Aidil yang lain ketika sama-sama dicegat lampu merah yang sudah membuat kendaraan roda empat bercampur roda dua membentuk antrian panjang.

“Woi, Darling!”

Aidil menoleh ketika pengendara motor di sisi kanannya berseru sekaligus menepuk bahunya, Aiyub ikut menoleh dan langsung tak memalingkan wajahnya sama sekali dari menatap pengendara motor yang baru saja memanggil Aidil dengan sebutan mesra begitu. Keningnya mengerut.

“Ya Tuhan, Angga!” Aidil tertawa, “Long time no see…”

“Yep, long time no see yang bikin kangen kan? Jangankan long time no see, short time no see pun pasti nih ya, siapapun orangnya pasti kangen mampus sama aku.”

Aidil memutar bola mata. Sangat hapal dengan sikap temannya yang satu ini. “Penyakitmu belum sembuh juga ternyata. Dari mana?”

Erlangga menggerakkan dagu ke belakangnya, menunjuk ransel. “Ngerjain tugas di rumah teman.” Lalu dia sadar kalau belum pernah melihat orang yang membonceng Aidil—yang dirasanya terus menatapnya dari tadi. Erlangga menatap motor yang dipakai Aidil, dia kenal motor Saif. Tapi pengendaranya bukan orang yang punya motor. “Em, gak sama Kak Saif, Dil?”

“Owh…” Aidil sadar dengan pertanyaan Erlangga lalu menyengir, “Kenalkan, Ngga… ini temanku, Kak Aiyub. Kak, kenalkan, ini Erlangga, calon arsitek.” Ya, semenjak hari setelah mereka ngobrol banyak di perpust, Aidil memutuskan memanggil Aiyub yang notabene memang lebih tua dua tahun darinya dengan menambah sapaan yang sopan. Aiyub tidak keberatan, seperti punya adik satu lagi, begitu katanya ketika Aidil pertama kali memanggilnya dengan sapan ‘kak’ sebelum namanya.

Erlangga terkekeh, “Mesti?”

Mereka sama-sama memajukan motor begitu kendaraan di depan bergerak maju memberi jarak tiga meter lalu diam lagi. Baru setelah itu keduanya saling berjabat tangan dan menyebut nama.

“Jadi, kalian mau ke mana?” tanya Erlangga.

“Ah iya. Ikut yuk. Rencananya mau ke alun-alun.”

“Makan bakso?”

Sekilas Aidil melihat Erlangga bagai hendak tertawa. “Memangnya di sana cuma ada bakso aja apa!”

Sekarang Erlangga benar-benar tertawa karena tak bisa menahan diri untuk tidak membayangkan bagaimana kacamata Gunawan kejiprat saus saat makan bakso di alun-alun, “Enggak, tapi di sana gerobak baksonya enak-enak.”

Aiyub diam saja mendengarkan, tapi tatapannya tak lepas dari memandang wajah Erlangga.

“Gerobaknya?” aidil bertanya bego.

Erlangga memutar bola mata sebelum menjawab, “Iya, gerobaknya. Nanti sampe sana langsung saja kunyah tendanya.”

Lalu motor-motor di belakang mereka menjeritkan horn. Lampu sudah berganti hijau, waktu lintas cuma setengah menit, sangat jauh berbanding dengan waktu berhenti yang nyaris dua menit. Pantas saja kendaraan berderet panjang.

“Iya iya. Gak sabar banget!” Erlangga mendumel. “Aku pulang deh, Dil. Gerah belum mandi. Selamat makan gerobak bakso alun-alun. See ya…” cowok itu lebih dulu melesat setelah mengedipkan sebelah mata pada Aidil.

Aidil geleng-geleng kepala. Lama tak berjumpa sedikit banyak membuatnya cukup bahagia melihat Erlangga lagi meski kekonyolannya belum berkurang. Aiyub mengemudikan motor cukup pelan setelah bebas dari lampu merah. Sekilas, dia berpaling pada Aidil di belakangnya. “Ganteng ya, Dil…”

“Eh?” Aidil memajukan kepala.

“Itu, anak bernama Erlangga tadi…”

“Iya, kenapa?”

“Aku bilang…” Aiyub berdehem. “dia ganteng…”

Aidil tersenyum sendiri di boncengan Aiyub. “Kak Aiyub suka ya?” Sekilas Aidil melirik spion dan menemukan wajah Aiyub merona.

“Tadi dia manggil kamu Darling. Kalian mantan ya?”

Gedubrak.

Di boncengan, Aidil tertawa besar. “Maaf mengecewakan. Tapi Erlangga sudah punya pacar. Dan pacarnya itu enggak ganteng, tapi cantik.”

“Owh…” Aiyub diam sebentar lalu kembali bertanya, “Tapi tadi dia beneran manggil kamu Darling, kan?”

“Ah, gak usah heran, Kak. Erlangga memang gitu sifatnya, dulu-dulu malah lebih parah, dia pernah manggil aku sweetheart segala. Gila gak tuh?”

“Hemm… tapi sumpah, Dil… Erlangga ini cakep mampus.”

Aidil menepuk-nepuk bahu Aiyub, “Kak Aiyub tuh tampan, pasti nanti ada yang kecantol dan lebih mampus cakepnya daripada Erlangga.”

Aiyub tertawa.

Nyatanya mereka tidak ke alun-alun. Aiyub membelokkan motor Saif menuju taman, lebih tepatnya lapangan yang berupa area hijau, titik penyerapan air hujan, kabarnya. Meski begitu, lapangan ini juga pantas disebut taman. Banyak tetumbuhan dan bunga-bungaan. Di area hijau inilah Aidil diospek dulu.

“Yap, kamu gak jadi makan gerobak bakso alun-alun.” Begitu Aiyub berujar ketika mematikan mesin motor.

Mereka duduk bersisian di pinggiran taman, di sebuah kursi yang berada tepat di bawah pohon beringin tua, pohon raksasa itu sekilas tampak seram dengan akar-akar gantungnya. Aidil sudah membeli dua gelas besar bandrek hangat berisi kacang hampir setengah gelas, sekotak penuh irisan kentang goreng juga ikut dibawanya ke kursi. Aiyub menolak ketika Aidil menawarkan makan sate yang kebetulan gerobaknya berada tak jauh dari tempat mereka duduk, maka Aidil membeli kentang goreng. Tentu saja pakai uang yang dijarah dari saku kakaknya.

Iseng, Aidil ingin tahu sejarah percintaan Aiyub selain dengan Orlando. “Kak, aku kepoin ya!”

Aiyub menoleh pada Aidil, rahangnya bergerak-gerak, dia sedang mengunyah kacang yang disendoknya dari gelas bandrek. “Kamu mau tau tentang apa?”

“Emm… dulu, yang bikin Kak Aiyub suka Orly apa?”

Aiyub tersenyum, “Kamu yakin mau membicarakan topik ini?”

Aidil berhenti mengunyah, mengerutkan alis sekilas lalu mengangkat bahu, “Kenapa enggak?”

Aiyub manggut-manggut sambil menekuk mulutnya. “Yang bikin aku suka Lando sama dengan apa yang membuatmu suka dia…”

Aidil melongo. “Jawabannya ngambang ah, yang pasti dong, Kak!”

Aiyub tertawa dan meneguk bandreknya. “Lagian kamu aneh sih…” Aiyub menyeka mulut dengan punggung tangan. “Dil, begini… ceritaku sama Lando udah selesai ketika aku pergi meninggalkannya dulu,” Aiyub mendesah, “Yah, meski sebenarnya kepergianku gak akan mengakhiri hubungan kami jika saja aku cukup berani untuk LDR dan gak menjadikan kepindahanku sebagai alasan putus dengannya. Intinya, Dil, sekarang udah gak ada lagi cerita, jadi… apa manfaatnya coba jika aku memberitahukan kisah lama itu?”

Aidil terdiam.

“Nah, daripada kamu ingin tahu cerita basi dariku, bukankah lebih baik kamu menceritakan padaku bagaimana kronologinya hingga Lando memerangkapmu dengan jerat cintanya…” Aiyub menaik-naikkan alis, “Ayo, Dil… cerita!”

“Tunggu-tunggu, aku ingin tahu dulu. Di tempat tingggal yang baru, ada seseorang lain gak yang Kak Aiyub pacarin?”

“Kenapa? Kalau aku jawab ada, kamu bakal nilai aku jahat ya? mutusin Orlando biar bebas ngobral cinta di tempat baru?”

Aidil menyengir.

“Huh, dasar!”

“Berarti ada?” tembak Aidil.

Aiyub menghela napas lalu mengangguk.

“Wah…” Aidil antusias.

“Tapi sayang dia ternyata udah punya pacar duluan.”

“Yah…” Aidil lemes.

“Aku malah merasa bersalah karena menurutku, aku yang telah menggodanya hingga dia berpaling dari pacarnya saat itu.” Aiyub memandang ke kejauhan, “Mereka sempat marahan berhari-hari malah.” Aiyub tersengih dengan mata menerawang. “Tapi akhirnya, kami jadi sahabat dekat. Sampai sekarang pun kami masih sering memberi kabar. Tidak sinkron dengan background sekolahnya, Abrar mendaftar sekolah polisi begitu lulus SMK dan sekarang jadi Briptu dan bertugas di kotanya, sedang Sid masih mengambil kuliah teknik di sana juga, dulu kami bereng-bareng sampai aku kembali kemari. Abrar dan Sid masih pacaran sampai sekarang.”

“Abrar dan Sid?”

“Ya.”

“Yang mana satu yang Kak Aiyub taksir?”

Aiyub tersenyum dan kembali menerawang. “Pertama kali aku masuk kelas mereka di hari pertama aku jadi murid baru, mataku langsung melihatnya. Dia manis, dan ketika sudah mengenalnya, aku tahu kalau dia juga punya jiwa pemberontak di dalam dirinya, buktinya dia mengaku gak punya pacar padaku, padahal udah punya…” Aiyub terkekeh sendiri dan geleng-geleng kepala, “

“Abrar?”

“Itu Sid…”

“Owh.” Aidil lanjut mengupas kacang, “Trus?”

End of story,” jawab Aiyub. “Sekarang, ceritakan bagaimana Lando mengikatmu padanya.”

Aidil tersenyum, mengangkat tangan kanannya di depan Aiyub, memperlihatkan cincin putih pipih yang melingkar pas di jari manisnya. “Kami resmi pacaran setelah hari dimana aku memakai cincin ini…”

“Wow!”

Aidil melepaskan cincinnya, “Ada pahatan nama kami di sini. Lihat saja.” Aidil mau pamer.

Aiyub menerima cincin itu dan langsung berbinar ketika menemukan nama lengkap Aidil terpahat bagus di bagian dalam cincin dan nama lengkap Orlando di bagian luarnya. Samar saja memang, tapi terbaca. “Bagaimana ceritanya?”

“Cerita apa?”

“Oh, come on, Dil…!”

Aidil meneguk lagi isi bandreknya lalu menyandarkan punggung pada sandaran kursi. “Once upon a time…”

Aiyub tertawa ngakak mendengar kalimat pembuka Aidil, tapi seiring kalimat-kalimat berikutnya bergulir, Aiyub terkagum-kagum sambil tersenyum-senyum sendiri…

*kamera mengabur*

.

.

Sore hari di satu masa tak jauh ke belakang…

Orlando menemukan Aidil berdiri di gerbang rumah ketika dia dan Saif pulang dari latihan basket dengan mengendarai motor masing-masing. Saif cengengesan pada adiknya saat mengerem motor tepat seinci di ujung sandal jepit sang adik, pelototan langsung diperolehnya. Orlando berhenti di depan gerbang rumahnya sendiri, lalu turun dari motor untuk membuka pintu gerbang.

“Do, adikku ada perlu nih!” Saif berseru pada Orlando yang sudah hendak menggas motor memasuki pekarangan rumahnya. Sepertinya dia bisa telepati dengan Aidil maka dapat tahu kalau adiknya itu memang ada perlu.

Orlando urung melajukan motornya, dia mengernyit menatap Saif lalu memandang Aidil yang sekarang terang-terang menatap padanya. Orlando jadi panas dingin. Ada apakah? Apa Aidil sudah ngaku pada Saif? Apa Saif sudah tahu? Apa Aidil sudah mendapatkan kenyataan bahwa Saif memang mencintainya? Benak Orlando bermain pantas, dia diam saling menatap dengan Aidil, sementara dadanya bergemuruh hebat. Dia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri saat ini.

“Emm… a-a-a-a-ada apa…” pergerakan jakun Orlando sangat jelas terlihat saat menelan ludah sebelum berhasil melengkapi kalimat tanyanya, “ Dil?” nama Aidil bahkan harus jauh terpisah begitu. Orlando langsung kikuk setelahnya, dia menarik-narik kupingnya sendiri.

Saif tak mau membuang waktu, dia langsung bekakakan di atas motornya. “Cemen lu, Do. Gentle dunk! Baru dipandang sama anak kecil saja udah grogi gitu!”

“Apaan sih lu!” Orlando melotot pada karibnya.

“Nih, ingat ya, Do! mulai sekarang, jangan ngadu yang enggak-enggak tentangku pada adikku, apalagi soal cewek-cewek centil di kampus itu. Tukang gosip lu!”

“Kak Saif ribut ah, sana masuk, mandi!” Aidil kembali memelototi kakaknya.

Saif memandang Aidil, “Yakin kamu gak butuh peran Kak Saif di sini?” Saif menemukan Aidil menggeleng. “Tukang ngadu itu bisa cepat patuh kalau ada Kak Saif… kamu yakin gak…”

“Enggaaaak, sana masuk!” Aidil memotong sebelum Saif sempat menyelesaikan kalimatnya.

Melihat dan mendengar adik-kakak itu bicara, kini mengertilah Orlando apa yang sedang terjadi di sini. Hatinya ketar-ketir. Makin ketar-ketir ketika Aidil melangkah menuju motornya. Dadanya kian berdentum bagai letupan meriam perang. Gedebam gedebum gedebam gedebum. Orlando kaku di sadel motornya.

“Eh, Dil… ke mana?” Saif berseru ketika adiknya sekarang malah naik ke boncengan Orlando.

“Sana masuk, mandi. Kak Saif bau tau gak!”

“Orlando juga bau, suruh dia masuk dan mandi juga dong harusnya, bukannya malah nempel di punggungnya begitu!”

Orlando makin kaku ketika Aidil menyingkirkan tas selempang yang berisi kostum basketnya lebih ke depan lalu memegang pinggangnya.

“Bilangin Bunda, Aidil ijin pergi sebentar. Tapi pasti balik sebelum Maghrib kok!” Aidil memberi tahu kakaknya.

Mendengar kalimat Aidil, Orlando jadi bingung sendiri. Aidil ingin pergi? Dengannya? Ke mana?”

“Dil, ini udah sore. Sebentar lagi Maghrib… gak boleh pergi.” Saif hendak turun dari motor.

“I-iya, Dil… kakakmu benar, gak usah pergi aja…”

“Kamu gak berhak ngasih pandangan sekarang, diam saja!”

Orlando mengkeret disinisin anak yang sudah duduk manis di boncengannya

Saif sudah mematikan mesin motor, masih bersikeras melarang Adiknya pergi. “Kak…” Aidil bersitatap dengan Saif beberapa saat.

Lalu Saif menghela napas dan memandang langit. “Do, jangan bawa pulang adikku kemalaman kalau gak mau kubogem. Dan… awas aja kalau lu berani nyakitin perasaannya!” Saif mengancam.

Dalam kebingungan, Orlando mengangguk patuh.

“Dil, gak mau ganti sandal dulu?” Saif sekarang menunjuk sandal jepit Aidil. Sebagai jawaban, adiknya menggoyangkan sebelah kaki. Saif mengangkat bahu lalu menyalakan mesin motornya.

Setelah Saif memasuki pekarangan dengan motornya yang berderum-derum, barulah Orlando melajukan motornya sendiri, berbalik kembali ke jalan menuju jalan besar. Aidil tidak mengatakan padanya harus ke mana, jadi dia mengemudikan motor dengan ragu-ragu, makin ragu ketika di depannya menunggu pertigaan. Aidil yang diam saja di belakangnya sejak tadi membuatnya juga takut mengeluarkan suara, walau untuk sekedar bertanya harus mengambil jalan yang mana.

“Belok kanan.”

Bagai mengerti keraguan Orlando, Adil memberi tahu. Itu perintah pertama Aidil setelah mereka diam sepanjang jalan sejak dari rumah. Orlando membelokkan setang masuk ke jalan di sebelah kanan.

“Ini udah paling kencang ya? kalau gini jalannya, Kak Saif benar-benar bakal ngasih bogem karena pasti kita bakal tiba di rumah tepat adzan Subuh!” jelas kalimat Aidil sangat hiperbola.

Orlando mulai menambah angka yang ditunjukkan jarum speedometer motornya.

“Lebih kencang lagi!”

BRUUUUUMMMMM

Orlando kesetanan, lalu dia mulai tersenyum-senyum sendiri ketika Aidil makin merapatkan diri padanya. Bisa dikatakan, sekarang Aidil memeluknya di atas motor, memeluk yang benar-benar memeluk.

“Dil, aku berkeringat dan bau… habis latihan.” Kini Orlando malah sudah berani mengusik. “Kamu gak apa-apa meluk gini, gak nyium?”

“Di depan jumpa perempatan, belok kanan lagi lalu lurus saja!” tidak merespon ucapan Orlando, Aidil memberi perintah selanjutnya.

Orlando terheran-heran ketika Aidil memintanya berhenti setelah beberapa kali perintah ‘belok kiri belok kanan’. Mereka sampai di tempat yang sama sekali belum pernah diketahui Orlando. Padang ilalang, ya… Orlando yakin ini adalah sebuah padang rumput meski di tengah-tengah sana sebuah bangunan bobrok dan tampak mengerikan berdiri suram. Ketika Aidil sudah turun dan mulai berjalan mendekati satu-satunya properti di areal berilalang itu dengan santainya, Orlando masih beku di atas motor.

“Dil, ke mana?” Orlando memanggil.

Aidil berhenti dan menoleh, “Ngapain masih di sana, motornya gak mungkin lewat, taruh di situ dan ikut kemari!”

Orlando menatap lagi bangunan terbengkalai setengah jadi di tengah-tengah area luas yang semua jengkal tanahnya hampir tertutup ilalang itu, pilar-pilarnya yang besar dengan rangka-rangka besi yang mencuat dan karatan hampir di semua bagian benar-benar pemandangan yang menciutkan hati. Masih diliputi perasaan tak nyaman, dia memasang standard motor dan berlari menyusul Aidil yang terlihat sudah siap memanjat tangga.

“Dil, kita gak salah tempat?” Orlando memandang ke segala penjuru. Semua penuh graffiti. Jika saja graffiti itu tidak dicoret di bangunan mengerikan ini, Orlando pasti akan takjub, tapi sekarang bulu kuduknya malah merinding tiba-tiba. Gedung bobrok ini bisa saja tiba-tiba runtuh dan menimbunnya serta Aidil tanpa ampun. “Dil… jangan!” Orlando bergerak untuk menarik tangan Aidil ketika dilihatnya cowok itu sudah menapak di tangga. “Itu lapuk tangganya… turun!” jelas sekali raut khawatir di wajah Orlando. Lengan Aidil memang berhasil dijangkaunya, tapi ketika hendak ditarik untuk turun tangga, Aidil balas membetot tangannya untuk naik.

“Naik sini, tangganya masih kuat kok…” ada jeda, “gak akan rubuh meski dinaiki sekawanan gajah Sumatra…”

Orlando ingin memprotes, tapi urung ketika melihat mata Aidil seperti menerawang. Kemudian jantungnya nyaris berhenti berdetak saat Aidil melepaskan tangannya dan mulai loncat-loncat di tangga. “Dil, stop! Itu bahaya…” Orlando menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan sekaligus, gigi depannya merapat.

Aidil berhenti lompat-lompat. Memandang kakinya sendiri lalu tersenyum aneh. “Cepetan, nanti keburu malam.” Lalu dia mulai menapak dengan penuh percaya diri.

Orlando tahu, mustahil menyuruh Aidil berbalik turun. Jadi dengan menguat-nguatkan hati dan meyakinkan diri kalau tak ada yang perlu ditakutkan terkait tangga berlumut itu, Orlando mulai menyusul. Lagipula, bukankah menjaga Aidil adalah tanggung jawabnya saat ini? Ancaman Saif kembali terngiang di kupingnya. Ah, tanpa ancaman itu pun aku akan tetap menjaganya. Keberanian muncul seketika dalam diri Orlando, dia bergerak mantap di tangga, tepat di belakang Aidil.

Orlando merasa kakinya capek luar biasa. Dia membungkuk memegang kedua lutut begitu di depannya tak ada lagi anak tangga. Aidil juga melakukan hal yang sama tapi hanya sebentar karena begitu tahu sudah sampai di lantai paling atas, dia langsung berjalan lebih ke pinggir, ke tempat yang memang ingin ditujunya.

“Dil, jangan terlalu dekat ke pinggir…”

Orlando masih berusaha mengatur napas sambil memandang sekeliling. Angin sore yang sejuk sedikit banyak dapat membuatnya lega. Tempat ini tidak buruk, setidaknya lantai paling atasnya saja. Orlando fokus lagi pada Aidil yang sekarang berdiri sambil merentangkan tangan dengan kepala mendongak. Meski tidak sedang menghadapnya, Orlando yakin kalau Aidil juga sedang memejamkan matanya. Orlando berjalan lebih ke samping, mencari sudut yang pas untuk melihat Aidil dalam posisi demikian. Lalu lelaki ini bagaikan tersihir, dari posisinya berdiri memandang sekarang, dia bisa melihat satu sisi wajah orang yang disukainya itu. Semua yang ada pada Aidil terlihat sebagai sebuah kesempurnaan Maha Pencipta, begitulah yang dirasa Orlando. Menemukan Aidil yang terpejam dengan tangan terentang lepas, cuping hidungnya yang mengembang dan mengempis seiring udara yang masuk dan keluar, kelengkungan badan yang ditimbulkan posisinya berdiri sedemikian rupa seperti menantang angin, juga helai rambutnya yang dipermainkan angin, sungguh itu adalah saat paling membuat Orlando bahagia. Tanpa disadari oleh Orlando sendiri, bibirnya sudah melengkung membentuk sebuah senyum.

Ya Tuhan… marahlah padaku karena aku benar-benar mencintai makhluk-Mu di sana. Hanya makhluk-Mu yang di sana itu, Tuhan…

Kesejukan membungkus Orlando. Dia lalu melepaskan tas selempangnya dan menjatuhkannya ke lantai. Orlando bergerak perlahan mendekati Aidil dan baru diam saat sudah berada beberapa inci saja di depan Aidil. Orlando sama sekali tidak merasa ciut dengan pinggiran bangunan yang tak sampai semeter saja jaraknya dari posisi mereka berdiri. Orlando juga mengabaikan betapa menakjubkannya pemandangan yang terlihat dari posisinya berdiri sekarang. Baginya kini, siluet kelabu gunung-gunung nun jauh di sana kalah indah dengan indahnya sosok Aidil, laut keemasan jauh di bawah sana juga tidak lebih memesona daripada memesonanya Aidil, gedung-gedung pencakar langit yang tampak artistik seperti miniatur-miniatur berlatarkan langit kelabu tidak lebih cantik lagi baginya, juga pemandangan matahari merah dengan semburat-semburat jingga di ufuk barat sana kalah menakjubkannya dibanding Aidil. Sungguh, satu-satunya sesuatu yang mencuri seluruh fokus Orlando saat ini adalah hanya Aidil, cuma Aidil.

Sadar kalau ada yang berdiri di depannya, Aidil membuka mata. Menatap Orlando yang wajahnya sudah menunduk meneduhinya, jarak puncak hidungnya dan puncak hidung Orlando tak lebih dari seinci lagi. Dalam jarak sedekat itu, mereka saling menatap beberapa saat dan napas menghembus di wajah satu sama lain. Perlahan-lahan Aidil menurunkan tangannya, dia ragu-ragu untuk memperbaiki lengkung badannya agar tegak karena khawatir menabrak wajah Orlando yang masih menunduk di atas wajahnya. Orlando juga tidak menunjukkan gelagat akan memundurkan kepalanya.

“Kamu salah tentang Kak Saif…” Aidil bersura lirih.

Hening.

Aidil memberanikan diri untuk meluruskan posisi berdirinya. Seperti yang dia duga, Orlando tidak bertindak untuk menegakkan kepalanya menjauhi wajah Aidil. Kening Aidil menempel pada kening Orlando dan hidung mereka saling menyisi setelah sempat bertabrakan. Napas Aidil mulai tak teratur dan debaran dadanya mulai meningkat. Aidil menunggu apa yang akan terjadi, dan dia tidak menunggu lama.

“Apa… itu artinya aku yang menang?”

Aidil berkedip, Orlando mengikutinya. “Iya, kalau kamu masih mencintaiku dan masih menunggu kesempatan itu seperti katamu…”

Lalu Orlando tersenyum dan tidak berjeda lama saat dia mendongak lalu berteriak keras, “YIHAAA…!!!” lelaki ini melompat tinggi dengan tangan terkepal, meninju udara beberapa kali sambil terus berteriak mengekpresikan euforianya. Dengan perasaan campur aduk dan tak bisa diperkatakan, Orlando membelit pinggang Aidil erat-erat dan mereka berputar-putar.

Aidil tertawa sambil mencengkeram kaus Orlando di bagian dada dengan kedua tangannya. “Berhenti, terpeleset jatuh bebas kita berdua!”

Orlando patuh, dia berhenti berputar tapi tidak melepaskan pinggang Aidil. “Ya Tuhan, Dil… rasanya seperti mimpi jadi nyata.”

“Berlebihan…”

“Kamu sudah jadi pacarku, kan?”

Aidil terlihat berpikir, mimik yang membuat Orlando berdebar-debar. “Hanya setelah kamu menciumku…”

Cup

Orlando langsung mendaratkan bibirnya di bibir Aidil, memberi cowok itu ciuman kilat. “Sekarang kamu pacarku! Tak ada celah untuk mengelak!” ucap Orlando mantap. Ciuman pertamanya dengan Aidil benar-benar ciuman pertama terkilat dan terjelek dalam sejarah per-pacaran-an anak manusia di muka bumi. Tempel dikit langsung tarik, super cepat.

“Yah, apa boleh buat kalau sudah begitu…” Aidil sok pasrah.

Orlando terkekeh, “Makasih, Dil… untuk sudah memberiku kepercayaan memilikimu. Makasih sudah memilihku sebagai penggantinya…” Orlando menghela napas, mimiknya jadi serius. “Mungkin aku tak akan bisa memberikan cinta sehebat cinta yang pernah dia berikan untukmu, namun aku bertekad akan membuatmu tak pernah menyesal telah memilihku… aku janji, semesta ini mendengar janjiku…”

Aidil tak menjawab, tapi langsung bergayut pada leher Orlando, mengunci lengannya di tengkuk lelaki itu. Kaki Aidil sekarang sudah tak lagi berpijak di lantai, tapi membelit pinggang pacar barunya. Orlando mengeratkan rangkulan lengannya di pinggul Aidil, kepalanya menengadah karena sekarang wajah Aidil berada lebih tinggi darinya.

“Sekarang, giliranku yang menciummu,” kata Aidil sambil menyeringai.

Orlando merasakan wajahnya panas. Baru sekali ini dia memeluk orang dengan cara sedemikian rupa, Adil benar-benar menempel padanya. “Silakan…” jawabnya tanpa bisa menyembunyikan nada girang pada suaranya.

Aidil mendekatkan wajah dan…

Muuaachh

Orlando melotot. “Apa itu barusan?”

Aidil terbahak-bahak lalu mengeliat turun dari pinggang Orlando. “Cium pipi, apa lagi namanya?”

Orlando berdecak, “Mana bisa begitu! Kamu harus mencium bibirku, bukan pipiku…”

Aidil menjulurkan lidah sekilas lalu berbalik menuju tangga.

“Dil, kembali ke sini… kamu belum mencium bibirku!” Orlando masih tak terima tapi Aidil tak menggubris, pacarnya itu terus berjalan menuju tangga. “Dil!”

“Pulang, udah malam!”

“Tapi bibirku…” Orlando berlari menyusul.

“Salah sendiri, siapa suruh gak manfaatin kesempatan pas aku ngasih ijin buat dicium. Rugi sendiri kan?” Aidil mulai menuruni tangga.

Orlando menyadari kesempatan yang dengan bodohnya dilewatkan begitu saja. harusnya dia melumat bibir Aidil habis-habisan—sampai jontor bagai habis diantuk tawon satu pleton kalau perlu—ketika dirinya dipersilakan mencium tadi. Alih-alih, dia malah memberi ciuman asal-asal begitu. Bodohnya.

Orlando menuruni tangga dengan bibir mengerucut.

Aidil berusaha menghibur Orlando ketika mereka melintasi ilalang menuju motor. Dia menggandeng tangan lelaki yang baru saja resmi menjadi kekasihnya itu. “Masih kesal?”

Orlando mengangguk saja, tapi tidak menolak ketika Aidil menjalin jari-jari tangan kanan bersama jari-jari tangan kirinya. Lalu senyum tersungging di wajah Orlando ketika Aidil mendekatkan tangan mereka yang bertaut ke bibir dan mengecupnya lama, dan hangat. Mereka terus berjalan.

“Cincinnya masih ada?”

Orlando berhenti melangkah dan menghadap Aidil, tangan mereka masih terjalin. “Cincin?”

Aidil tidak menjawab tapi langsung menjangkau dompet Orlando di saku belakang celana jinsnya. Orlando kegelian dan tersenyum sendiri karena menyadari kalau Aidil kembali merapat padanya, meski hanya untuk mengambil dompet saja. Mulai saat ini, dada mereka yang bertabrakan saja walau cuma sesaat pun adalah momen manis juga bagi Orlando, seperti yang terjadi sekarang.

Orlando menepuk jidat ketika Aidil sudah mengobok-ngobok dompetnya. “Iyaaa… cincin itu.” dia tertawa. “Pasti kamu ngulik-ngulik ya pas menyandera dompetku tempo hari itu, makanya bisa tahu. Iya kan?”

Aidil menyengir, “Sudah jelas, kan?”

“Dasar bocah! Sini!” Orlando merebut dompetnya dari tangan Aidil, selang lima detik kemudian dia mengeluarkan cincin yang dimaksud. “Aku nempahnya cuma satu, buat disimpan aja sih rencananya… tapi sekarang kayaknya lebih berarti sesuatu kalau dipake kamu.”

Orlando menyimpan dompet lalu meraih tangan kanan Aidil. “Ini bukti kalau kita sudah resmi jadian…”

Bagai sudah terukur, cincin putih pipih tak bermata itu masuk pas di jari manis Aidil. Mereka berdua tersenyum.

“Aku gak punya apa-apa untuk dikasih…”

Orlando menggeleng, “Gak usah. Kamu sudah memberiku segala-gala dengan memilihku…”

Aidil manggut-manggut lalu berjingkat.

Satu detik, Orlando sumringah karena mengira inilah saat Aidil akan melumat bibirnya, tapi dia kecele ketika Aidil kembali mendaratkan bibir di pipinya.

“Heuh… pipi lagi, dikira aku bayi apa!”

Aidil tak merespon, dia mendahului bergerak menuju motor, sesekali tangannya menjahili bunga ilalang kering di sekitarnya, membuat serbuknya bertiup ke sana kemari.

“YA TUHAN, DIL…!!!”

Aidil kaget dan sontak berbalik. Ditemukannya Orlando berdiri dengan ekspresi kaget satu langkah di belakangnya. Kedua tangan Orlando bahkan memegangi kepala, menyempurnakan mimik terkejutnya, atau mungkin ekspresi bila seseorang teringat akan sesuatu yang penting dan sudah jauh terlambat.

“Apa?” Aidil bertanya cemas, mau tak mau dia ikut khawatir melihat tampang Orlando.

“Tas kostum basketku tertinggal di atas sana…” Orlando berucap lemas sambil memiringkan badan, mendongak bangunan tinggi yang baru saja mereka tinggalkan dengan tatapan putus asa.

Apa lagi, Aidil tertawa kencang sambil pegang-pegang perut. Dia sampai harus terbungkuk-bungkuk saking kerasnya terbahak.

Orlando frustrasi.

*

Aiyub ikut terbahak di tempat duduknya. “Lando memang konyol, trus gimana? Apa dia balik lagi ke atas?”

Aidil mengangguk, “Tapi tidak hari itu, kami balik lagi ke sana dua hari kemudian, selain untuk menimati viewnya juga untuk ngambil tasnya Orly. Eh tapi tas itu malah udah gak ada. Apes dia, tentu bukan hanya kami yang pernah naik ke sana.”

Aiyub menghabiskan bandreknya. “Lando memang berjodoh denganmu, Dil… kalian seperti ditakdirkan untuk saling memiliki…”

“Kak Aiyub udah pernah bilang kalimat senada itu kok.” Aidil mengambil gelas kosong dari tangan Aiyub dan menuju gerobak penjual bandrek.

Aiyub bangkit berdiri, meninggalkan kursi menyusul Aidil. “Langsung pulang?”

Aidil mengangguk, “Kecuali Kak Aiyub ada perlu ke tempat lain.”

Aiyub menggeleng, “Pulang aja, nanti keburu malam. Omong-omong, makasih ya, Dil… sepertinya aku masih dianggap asing sama kota ini, meski dulu aku pernah hidup bersama-sama kota ini.” Aiyub menepuk bahu Aidil, “Kayaknya baru kamu deh teman akrabku di sini, yang lain masih belum menunjukkan kangennya dengan kehadiranku lagi, yah… walau sebagai teman saja…”

Aidil mengerti maksud Aiyub, “Orly pasti lunak kok lama-lama. Biasa kan? Kekakuan hubungan dengan mantan bukannya lazim terjadi ya?”

Aiyub tersenyum, lalu menunggangi motor Saif. “Yuk, naik!”

***

“Kenapa sih, kamu gak bisa berdamai dengannya?”

Orlando mendongak dari komiknya, memandang Aidil yang sedang mengambil ancang-ancang untuk melempar anak panah ke papan bundar yang tergantung di satu sisi dinding, Aidil sedang mencoba bermain dart, koleksi baru Orlando di kamarnya.

Swiiiing

Tap

Lemparan Aidil sungguh jelek. Orlando memerhatikan papan dart sekilas, beberapa panah yang dilemparkan Aidil menyucuk bagian papan paling pinggir. Dua biji malah tergeletak di lantai, di bawah posisi papan dart tergantung. Aidil masih memegang dua anak panah di tangannya.

“Gak baik loh lama-lama mendendam…” Aidil kembali mengambil ancang-ancang dan menyipitkan sebelah mata, membidik lingkaran papan paling tengah.

“Kamu bicara tentang apa?” Orlando berlagak bego meski sudah tahu siapa yang sedang dibicarakan Aidil.

“Gak usah pura-pura gak ngerti gitu!” Aidil batal melempar. “Kak Aiyub itu baik loh…”

“Kan kamu sudah kularang untuk dekat-dekat dia, Dil…”

“Kan aku juga sudah bilang kalau laranganmu gak mempan.”

Orlando menutup komiknya, “Pokoknya aku gak mau dia dekat-dekat kehidupan kita. Kenapa sih kamu malah ngasih kesempatan dia untuk mengakrabkan diri?”

Aidil mengangkat bahu, “Justru aku mau nanya, kenapa kamu gak bisa ngasih kesempatan itu ke Kak Aiyub?”

“Gak usah memanggilnya sehormat itu, dia gak pantas.”

“Sikap kamu ke Kak Aiyub yang gak pantas…”

Swiiiiiing

Tek

Sekarang tiga anak panah tergeletak di lantai.

Sesaat mata Orlando mengikuti anak panah Aidil. “Terserah deh, Dil… pokoknya aku sudah cukup kenalan sama Kak Aiyub-mu itu, udah puas aku dan gak mau nambah porsi lagi. Titik!” Orlando menelungkup di tempat tidur, membenamkan mukanya sekaligus ke bantal.

“Hemm… kasian loh, Orly. Dia itu merasa diasingkan sama kamu.”

Orlando mengangkat kepalanya, tapi tidak menoleh Aidil, hanya untuk memperdengarkan kalimatnya. “Bagus deh!” lalu tenggelam lagi.

“Di luar sana banyak loh mereka-mereka yang membina hubungan baik dengan mantan pacar…”

Orlando memperdengarkan suara dengkuran yang dibuat-buat.

“Kak Aiyub tuh udah bisa nerima hubungan kita, dia gak bakal ngebet lagi sama kamu. Dia sadar itu gak mungkin terjadi lagi karena kamu sudah bahagia denganku… Kak Aiyub hanya ingin berteman. Karena dengan begitu artinya dia sudah bisa diterima, dimaafkan. Tapi boro-boro, sikapmu kasar mulu kalau jumpa dia…”

Orlando kembali mengangkat kepala, “Hadeh, ributnya… siapa sih yang nyalain radio rusak saat orang tidur siang begini?” tenggelam lagi.

Aidil naik pitam dikatai radio rusak, dibidiknya sosok Orlando di atas ranjang dengan panahnya. Meleset kejauhan dan nemplok di guling. Geram karena usahanya gagal, Aidil menerkam pacarnya.

“Aaaaaa….” Orlando kontan berteriak saat rambutnya dikerjai Aidil.

“Rasain! Jangan sembarangan ngatai orang…” Aidil menduduki pacarnya

“Dil, ampun, sakit ini. Lepasin!”

“Gak akan sebelum wig-mu lepas!”

Orlando bergerak bangkit dengan susah payah dan keadaan langsung berbanding terbalik begitu dia berhasil mencekal kedua lengan Aidil dan membantingnya ke sisi lain ranjang.

“ADOOWWW!”

Kepala Aidil kebentur rangka ranjang. Orlando kaget dan langsung panik.

“ORLY, KENAPA ITU?!” seruan mamanya terdengar dari arah beranda.

“ENGGA MAA… INI KAMI NGADU PANCO!!!” Orlando balas berteriak lalu mulai mengelus-ngelus bagian belakang kepala Aidil. “Duh, Beib… maaf… gak sengaja…”

Aidil masih menunjukkan tampang meringis, matanya mengerjap-ngerjap.

“Dil, kamu gak apa-apa, kan?” Orlando pucat ketika menemukan kening Aidil makin mengerut. “Dil…”

“A-a-aku di mana?”

Darah Orlando tersirap.

“K-ka-kamu siapa?”

Darah Orlando terhisap.

Ya Tuhan, dia lupa ingatan. Batin Orlando menjerit.

Kemudian hening.

Lalu tawa Aidil membeset atmosfer kamar.

“Sialaaaan…”

“Oh tidak, aku amnesia… tolong, aku amnesia…” Aidil mulai melebay sambil jambak-jambak rambut dan menggerak-gerakkan kepala, sangat menikmati mempermainkan Orlando yang masih pucat.

Menumpahkan kekesalan, Orlando menindih Aidil. Lalu dengan serta merta suasana berubah romantis (halah). Orlando langsung mencium hidung Aidil. “Jangan sering nakut-nakutin gini lagi ya, Sweetheart. Aku lebih baik mati daripada menemukan kamu amnesia. Karena pasti amat menyakitkan mendapati kamu tak ingat apapun tentangku dan saat-saat manis yang pernah terlewati bersama, sungguh… itu menakutkan.”

Butuh waktu beberapa kedipan bagi Aidil untuk menyadari kalau Orlando sedang menggombal. “Gombalan basi…” cetusnya.

Orlando bergerak di atas Aidil, menyorongkan satu lengannya ke bawah kepala Aidil dan tangan yang bebas membelai pipinya. “Tidak, ini bukan gombal…” kembali Orlando mendaratkan bibirnya di puncak hidung Aidil, tapi kali ini tidak hanya berhenti di hidung, melainkan turun menyapu bibir lanjut hingga ke leher. “Tidur siang di sini saja ya…” Orlando tengkurap sepenuhnya di atas Aidil kini, kepala mereka bersisian, Aidil menghadap ke atas sedang muka Orlando menghujam bantal.

In one condition…”

Anything…” jawab Orlando sambil menempelkan bibir di telinga Aidil.

“Baikan sama Kak Aiyub.”

“Gak jadi aja tidur siang barengnya…” Orlando hendak bangkit tapi Aidil keburu menahan pinggangnya. Mereka bertatapan.

Please…” dengan nakal satu tangan Aidil menelusup ke bawah kaus Orlando dan mengusap punggungnya.

Orlando menghela napas, memandang Aidil dengan ekspresi datar lalu mendesah. “In one condition…”

“Apa?”

Orlando ingin tertawa menang, sangat cepat keadaan berbalik. “Jangan berhenti mengusap sampai tanganmu masuk celana pendekku…”

Aidil melotot besar, tampak siap untuk menyemprot.

Deal? Kalau gak deal jangan harap aku mau bertutur sapa dengan Kak Aiyub-mu,” nada menjengkelkan sangat baik diperlihatkan Orlando ketika menyebut Aiyub seperti Aidil menyebutnya, “apalagi sampai berteman!” Orlando sudah berada di atas angin, posisinya sangat menguntungkan. Inilah kesempatannya dengan Aidil. Hatinya bersorak girang.

Aidil tak menjawab, tapi langsung memejamkan mata. Tangannya masih di punggung Orlando.

Yakin kalau Aidil setuju, Orlando bergerak duduk di perut Aidil, membuat lengan Aidil di punggungnya terlerai. Orlando lalu melepas kausnya sendiri. Ketika hendak membuka kait celana pendeknya, Aidil malah bersuara.

“Ternyata kamu mencintaiku memang gak pernah tulus, selalu saja ada maunya.”

Orlando menatap Aidil yang masih terpejam lalu menghembuskan napas panjang. Kalimat Aidil membuat berpikir lagi, apa dia mencintai Aidil agar bisa menyalurkan hasratnya saja atau karena dia benar-benar tulus? Ketika sudah mendapatkan jawaban di hatinya, Orlando bergerak turun dari perut Aidil dan berbaring di sisi pacarnya itu. “Lupakan saja…” jeda. “Kapan-kapan kalau ingin jumpa Kak Aiyub-mu, ajak aku…” tak ada lagi nada menjengkelkan.

Aidil bergerak memiringkan posisi tidurnya, sekarang menghadap Orlando. Matanya sudah terbuka. Orlando menoleh dan mereka kembali saling memandang.

I love you unconditionally, Dil…”

Aidil tersenyum. “Kayak lagu…”

“Aku sungguh-sungguh.”

“Iya, aku percaya.” Aidil beringsut untuk meletakkan kepalanya di dada polos Orlando “You are my love actually… Orlando Ariansyah…”

Orlando membelai kepala Aidil di dadanya dan menunduk untuk menciuminya. Saat satu lengan Aidil memeluk pinggangnya, dia sudah merasa tercukupi atas segala ingin, terpenuhi atas segala pinta. Cukup itu saja. Selama Aidil masih berada di dekatnya, itu sudah cukup. Cintanya bukanlah seperti anak kecil yang terlalu banyak menuntut dan akan merajuk marah bila tidak kesampaian. Cintanya buat Aidil seperti kotak amal, berapapun yang diulurkan pasti diterima dengan ikhlas. Ah, perumpamaan yang aneh… tapi peduli setan. Selama Aidil masih menganggapnya sebagai love actually seperti katanya, itu sudah cukup menjadi fakta tak terbantahkan kalau cinta mereka bukan tanpa ketulusan, karena jika tidak… Aidil tak akan membuang waktu dan membiarkan musim-musim berganti dengan mencintai Orlando. Dan jika tanpa ketulusan, Orlando juga tidak akan menyia-nyiakan masa serta melewatkan banyak purnama dengan mengaku-ngaku mencintai Aidil.

Jadi jelas, cinta Fitra Aidil Ad-dausi kepada Orlando Ariansyah dan sebaliknya adalah… yah, seperti sudah dikatakan berulang-ulang di atas, love actually dengan cara mereka sendiri…

(Yang protes disantet Nayaka!)

Hari-hari hujan di bulan Desember 2013

Aku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com