The Stiries Of Life kover

a RAMANAYA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Weew… akhirnya ini proyek terealisasikan juga.

Tak mau banyak-banyak cuap, intinya ini join project antara aku dan Ramadan (ada yang tahu orang ini?). Katanya dia orang paling tajir di Sumatra Utara (kekekeke, piss, Adan!). Tapi bener loh, aku sempat pengen jadi selingkuhannya tuh saking silau sama deretan angka di buku tabungannya (kekekeke, Piss lagi, Adan :p).

Yap, bernaung di bawah satu lini, THE STORIES Of LIFE memuat sedikitnya empat fragmen cerita yang punya subjudul masing-masing. Ini adalah tulisan pertama di DKN yang bertipe kayak gini (Pembaca : tipe apa, Nay? │ Nayaka : tipe guweh buanget #DiPanci-in), terserah deh tipe apa, aku juga bingung ngasih taunya. Pokoke ini tulisan model begini baru pertama kalinya dalam sejarah gaythemed di blogku (taelahhh, pake sejarah segalak). Silakan buktikan sendiri kalau tidak percaya. :p

Harapanku tidak muluk-muluk, cukup kalian bisa menikmati membaca THE STORIES Of LIFE seperti aku menikmati ketika menulisnya (gak tahu tuh si Ramadan nikmati apa enggak pas nulisnya, gak peduli guweh, sing penting aku nikmatin, wes!). Oh iya, si Ramadan juga numpang cuap-cuap nih di bawah, kalau gak sanggup baca skip aja, isinya pun gak penting-penting amat (kekekeke. Piss, Adan :p :p :p).

Wassalam

n.a.g

##################################################

Nayaka Al Gibran on Facebook : Pengen nulis cerpen romance banyak fragmen banyak tokoh, saling konek antar 1 fragmen dgn fragmen lain. Tapi ga bisaaa #KunyahKertasTop of FormBottom of FormTop of Form

Komentar :

Adan          : Lanjutin Cinta Fitri aja.

Nayaka Al Gibran : Adan, join nulis yuukk

Adan : Maksudnya?

Nayaka Al Gibran : Ya, kita nulis cerpen berdua.

Adan : Ora ngerti. Iki maksudnya nulis satu cerpen dgn dua penulis, atau nulis dua cerpen dgn satu cerita, atau gimana.

Nayaka Al Gibran : Satu judul. Fragmennya banyak. Pernah nonton LOVE yg banyak pemain itu? yg ada Alm. Sopan Sofyan dan Widyawati itu… tau? atau Film hollywood semisal NEW YEARS EVE?

Adan : Aku tau, aku tau. Film favorit saya banget..!! Aku suka fragmennya Luna maya dan Darius Sinanthrya.

Nayaka Al Gibran : Ayuuuk… aku serius. Mari bicara aturan. Kita bikin 4 ide cerita. Aku 2 dan Adan 2. Satu ide minimal 1500 kata dan maximal 2500.  Jadi Adan nulis trus 2 ide cerita dan usahakan ada hubungan tokoh antara 2 ide itu. Bisa? aku jg bakal nulis 2 ide cerita dan ada keterkaitan tokoh. Gimana? udah dipahami? Judulnyaaa… ah ga usah dulu… judulnya belakangan. Deadlinenya tgl 10 Oktober ya, Dan… ingat, ini aku SERIUS… dan terakhir, gunakan sudut pandang orang ketiga!

Bottom of Form

 

Baiklah. Hal yang langsung terbesit dalam otakku adalah membuat dua cerita based on true story. Aku selalu suka menulis dengan tema ‘true story’, seperti ketika aku menemukan satu catatan di diary temanku, Pras yang ketar-ketir menghadapi pernikahannya dan melepas cintanya dengan pacar prianya, Bram. Yang kemudian kutuang dalam bentuk syair di salah satu buku antologi yang berjudul Akuarél (coming soon).

Mungkin aku telah mahir dalam bersyair atau berpuisi karena itu memang makanan sehari-hari dalam pekerjaan freelance-ku di salah satu surat kabar lokal wilayah Sumatera Utara. Tapi cerpen? Who knows… Biarkan Nayaka dan orang lain yang membaca blog-nya yang akan menilai.

Oh ya, Naya…. Maaf aku sedikit melanggar peraturan. Salah satu cerita mengandung sekitar 3000an kata. Silahkan dibaca.

######################################

Fragmen 1

I AM SORRY, MOM…

 Oleh : Ramadan

 

——————

“Ibu… Tunggu aku sebentar lagi. Empat belas jam lagi aku akan sampai di sana… tunggu aku Ibu…”

——————

Pekan Baru, Juni 2013

“Aku dipecat, Ris…”

RUDI membuka percakapannya dengan Haris di sela-sela makan malam mereka berdua di kedai nasi di depan gang kosan mereka. Matanya agak sedikit berkaca-kaca. Mendengar kalimat itu, Haris yang duduk di depannya sedang lahap makan jadi berhenti menyendokkan nasi ke mulutnya.

“Dipecat?” Haris mengulangi. Kini alisnya bertaut, “Bukannya kamu adalah staff administrasi terbaik yang mereka miliki? Gak mungkin kamu dipecat begitu saja, Rud. Rasanya aneh sekali.”

“Ya, tidak ada yang aneh. Hanya saja.., waktu itu aku sedikit terlambat membuat proposal tender yang diperintahkan kepala administrasi.” Rudi menerawang mengingatnya.

“Lantas? Hanya karena itu kamu dipecat?”

Rudi diam sebentar, kemudian berucap, “Hhhh… Si kepala administrasi brengsek itu mau memaafkan kesalahanku asalkan aku mau mengulum penis sialannya supaya dia tidak mengadukan atau memberi surat peringatan kepadaku.”

“Kenapa kamu gak bilang waktu tadi aku jemput kamu di tempat kerjamu? Biar kuhajar sekalian si bangsat itu!” Haris geram. Tangan kanannya menggenggam kuat sendok yang dipegangnya.

“Sudahlah, Ris. Tak perlu dipermasalahkan. Sekarang yang aku fikirkan adalah bagaimana caranya aku dapat kerjaan baru. Aku gak mau cuma berdiam diri di kosan, sementara kamu di luar bekerja.”

“Kita fikirkan itu nanti. Untuk sekarang tak apa. Gajiku masih cukup untuk bayar kos dan makan kita sembari menunggumu dapat kerjaan baru…”

***

Rudi. 22 Tahun. Bukan asli dari Pekan Baru.  Dia adalah seorang anak perantauan dari Medan. Selepas tamat dari SMU tiga tahun yang lalu, dia mendapat tawaran kerja dari sepupunya sebagai staff administrasi sebuah CV. di kota Pekan Baru. Langsung saja dia mengiyakannya.

Di kota itu, dia berkenalan dengan Haris. 23 tahun. Bekerja sebagai kepala kasir di sebuah minimarket. Singkat cerita, setelah lama saling mengenal, mereka pacaran dan memutuskan untuk tinggal bersama di sebuah kos-kosan.

Dan sekarang, Rudi dipecat dari pekerjaannya hanya karena keterlambatannya membuat proposal tender yang diperintahkan atasannya. Sebenarnya dia tidak dipecat, sudah disebutkan sebabnya dia berhenti dari pekerjaannya.

Sekarang Rudi seorang pengangguran. Biaya hidup ditanggung oleh pacarnya, Haris. Pacarnya itu adalah seorang yang baik dan juga setia. Hanya saja, salah satu sifat Haris yang terkadang membuat Rudi kesal adalah : HARIS ADALAH SEORANG YANG OVERPROTECTIVE. Satu kejadian selanjutnya akan menguji cinta mereka berdua. Tentang pilihan akan sesuatu.

Ini tentang Rudi dan Haris… Tentang cinta kepada kekasih dan cinta kepada keluarga…

Waktu seperti memburuku
Resahku mengingat waktu
Sungguh berat kumeninggalkanmu
Air mataku berseru mengingatmu
Sedetik waktu menjadi berharga bagiku
Kan kulewatkan untukmu
Waktu berhentilah untukku
Tak ingin kumelepas semua waktuku
Mama, antarkanlah anakmu dengan senyuman
Agar hilang laraku
Papa, bisakah sejenak luangkan waktu
Agar kuatku melebihimu
Sungguh sulit melewati waktu!
Ohh adikku, lucu sekali tingkahmu
Sungguh kutak rela melepasmu
Nyawaku melayang mengingat masa manis bersamamu
Tuhan jagalah mereka
Seperti kau merestuiku
Adikku jagalah mereka
Saat kutak ada di sampingmu
Satu pegangan hidupku
Restu dari cinta keluargaku
Niatku cuma satu membahagiakan keluargaku
Keluargaku anugrah terindah untukku….. {*}

***

Tiga hari kemudian…

Kota Medan, Pagi hari yang cerah.

“BANG ADAAAAAAN…!!!!!” Suara Adrian menggema dari ruang tamu kontrakan, “Berapa kali harus kuingatkan kalau sepatumu jangan sembarangan diletakkan di bawah kursi. Di teras ada rak sepatu, kan!”

Adrian sedang beres-beres rumah kontrakan mereka. Dia menemukan sepatu kerja Adan tergeletak di bawah kursi ruang tamu. Selalu begitu. Adan memang agak sedikit sembrono.

“Sekarang taruh sepatumu di luar!” Lagi, Adrian berteriak kencang. Adan yang baru selesai mandi dan berpakaian, langsung menuju ruang tamu, “Iya, iya… bawel… marah marah terus, nanti gantengmu bisa hilang.”

“Dari dulu juga aku ganteng, mau marah atau enggak aku juga tetap ganteng. Sekarang taruh sepatumu ke rak sepatu di teras,” repet Adrian lagi.

“Hhh… Iya iya, Nyonya Adrian.” Adan mengambil sepatu kerjanya, lalu melangkah ke luar meletakkan sepatu itu di rak. Belum sempat dia masuk ke dalam lagi, suara gadis kecil memanggilnya dari samping rumah. Suaranya Rani. Adik Rudi.

“Bang Adan,” panggil Rani.

Adan berbalik menoleh, “Eh, ada Rani. Kenapa, Dik? Pagi-pagi gini udah datang ke mari…”

“Emm… gini, Bang. Ibu minta tolong telfonkan Bang Rudi, bilang ke Bang Rudi kalau Ibu sedang sakit. Ibu mau ketemu Bang Rudi. Tolong suruh Bang Rudi pulang, Bang.”

Rani, adik Rudi satu-satunya. Dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Dia dan ibunya tinggal di sebelah kontrakannya Adrian dan Adan. Kehidupan ekonomi mereka masih terbilang menengah ke bawah. Ibunya tak mengerti teknologi alias tak mengerti cara memakai handphone atau malah tak punya handphone, Ah… Adan tak memikirkan itu. Setiap ingin berbicara dengan Rudi, ibunya selalu minta tolong ke Adan untuk menghubungkannya via handphone.

Adan senang-senang saja bisa membantu. Malah Adan pernah mengajarkan cara memakai handphone dan membelikan ibu Rudi sebuah handphone untuk dipakai sendiri di rumahnya. Tapi, memang ibunya Rudi itu asli dari desa nun jauh di perbatasan Aceh yang sekarang terjebak di kota Medan sebagai buruh cuci di tiga pintu rumah orang kaya, tetap saja beliau tak mengerti caranya memakai handphone. Apalagi adiknya Rudi yang baru kelas 1 sekolah dasar.

“Oh, iya. Nanti Abang bilang ke Bang Rudi-mu. Sekarang kita ke rumah dulu. Abang mau lihat keadaan ibumu, Ran…”

***

Malam hari, di Kota Pekan Baru…

“Ris…” Rudi berbicara dalam pelukan pacarnya Haris. Kepala Rudi berada di atas dada Haris. Mereka berdua sudah hendak tidur sekarang.

“Ya, Sayang?” Haris membelai rambut Rudi. Mengecupnya satu kali.

“Emmm… aku boleh izin?” Kalimat pelan dari Rudi, seperti dia agak takut untuk mengatakan sesuatu.

“Kamu kayak mau absen sekolah aja pake izin-izin segala. Mau izin apa?”

“Aku… Aku mau pulang ke Medan. Tadi siang Bang Ramadan telfon, katanya ibuku minta aku pulang. Ibu sedang sakit sekarang.”

Haris menggeser kepala Rudi, mensejajarkan wajah mereka berdua, “Pulang? Di sana kan ada adikmu yang bisa ngejagain ibumu. Lagian juga ada Ramadan dan pacarnya…”

Rudi diam. Ini yang dari tadi dipikirkannya. Haris pasti tak mau Rudi pergi dari kota ini, dia sudah tau itu. Alasan apapun tak akan membuat pacarnya itu mengizinkannya untuk pergi. Bahkan alasan sekelas ‘ibuku sakit’ pun tak membuat runtuh pemikiran pacarnya yang sangat overprotective itu.

“Ayolah, Ris. Ini cuma sebentar. Ibuku membutuhkanku di sana,” balas Rudi, “Kamu pasti ngerti… Kamu juga punya ibu, kan? Pastinya kamu juga bakal khawatir kalau ibumu sedang sakit…,” lanjutnya.

Kalimat barusan berhasil membuat Haris mengalihkan pandangan, malahan sekarang dia memunggungi Rudi dalam posisi tidurnya, “Aku gak pernah kenal ibuku. Kata ayah, dia sudah meninggalkan kami semenjak aku kecil. Dan sekarang, ibu yang aku kenal adalah ibu tiri sialan yang gak pernah memperdulikanku dari dulu.”

Rudi bergeser merapat ke punggung Haris. Sebelah tangannya merangkul tubuh  pacarnya, “Maaf kalau aku mengingatkanmu tentang masa lalumu. Tapi, pliss… aku mohon izinkan aku pulang sebentar saja.”

Haris menepis tangan Rudi yang merangkulnya, “Kalau kamu tetap mau pulang, pulang saja! Terserah… aku gak perduli lagi kalau itu memang keputusanmu. Aku gak akan membayari ongkosmu pulang ke Medan!” Haris menutup matanya, “Dan jangan pernah ke sini lagi kalau kamu sudah kembali ke sana.”

Rudi tidak bisa menjawab. Dia ingat kalau selama ini yang membiayai kehidupan selama dia belum mendapat pekerjaan baru adalah Haris. Dari mana dia punya uang untuk ongkos pulang ke Medan? Untuk makan sehari-hari saja dari gaji pacarnya. Status penganggurannya baru saja diperjelas oleh pacarnya.

Sekarang dia yang malah berbalik memunggungi Haris.

Malam ini, tak ada pelukan dalam tidur, tak ada kecupan sebelum tidur, apalagi seks. Mereka saling memunggungi dengan fikiran penuh di dalam otak masing-masing.

***

“Gak bisa? Kenapa, Rud? Kamu gak punya duit ongkos untuk pulang? Atau ada masalah apa? Katakan… mungkin Abang bisa bantu.”

Suara Adan terdengar cemas dari corong handphone, begitu sampai di kontrakannya sepulang kerja, dia menelfon Rudi. Menanyakan kapan anak itu akan pulang. Dan surprise! Rudi mengatakan kalau dia tak bisa pulang ke Medan tanpa mengatakan alasan yang jelas.

“Gak ada apa-apa, Bang, pokoknya aku gak bisa pulang hari ini. Maaf…” Suara Rudi terdengar lirih.

‘Aku gak mau merepotkan Bang Adan. Selama ini Bang Adan sudah banyak membantu di sana. Gak mungkin aku minta lagi uang untuk ongkos pulang…’ Rudi membatin dalam hati.

Adan mulai kesal sekarang, “HEI BOCAH…!!! Kamu ini kenapa? Gak bisa pulang tapi gak ngasih tau alasannya. Kamu tau, kan? Ibumu di sini sakit sedang adikmu masih kecil, mana mungkin dia bisa mengurus ibumu sendirian, sementara Abang cuma bisa melihat kondisi ibumu selepas pulang kerja, itu juga kalau gak lembur. Adrian juga kerja. Pulangnya juga kadang sore atau malam. Siapa lagi yang bisa diharapkan selain kamu? Lagian kamu udah gak kerja lagi, kan? Apa susahnya buat pulang kemari…”

Tut…tut.. tut…

Repetan panjang yang sia-sia. Sambungan telfon diputus dari sana.

“Eerrggh… dasar anak edan!” gerutu Adan. Dia meremas handphonenya. Ada apa dengan Rudi? Seperti bukan Rudi yang dikenalnya. Biasanya Rudi selalu menanyakan kabar keluarganya atau apapun itu tentang keluarganya di sini. Tapi sekarang? Dia cuek. Bukankah dia sudah berhenti kerja? Dan bukankah dia cukup sadar kalau ibunya sedang sakit di sini? Kenapa dia tidak pulang saja? Pikiran Adan penuh sedari tadi di ruang tamu.

Assalamualaikum…” Suara Adrian terdengar dari teras rumah. Dia sudah pulang kerja. Adan beranjak dari ruang tamu menuju teras.

Wa’alaikumsalamTeller bank sudah pulang? Berapa nasabah hari ini yang nyetor duit?”

Adrian hanya memutar bola matanya. Tangan kanannya meraih tangan kanan Adan, menempelkannya ke dahinya.

“Kamu seperti anak-anak aja, Dri. Salaman pake ditempelin ke dahi segala.”

“Biar hormat…. Kan abang lebih tua.”

“Hormat itu ke bendera merah putih waktu upacara, kan…?”

Lagi, Adrian memutar bola matanya, “Gak lucu…”

Mereka berdua duduk di kursi teras. Bercerita tentang hari ini. Tentang pekerjaan, tentang nasabah, dan lain-lain. Selalu seperti itu. Membagi cerita sepulang kerja menjadi kebiasaan yang menarik untuk mereka berdua. Tentu saja hari ini ada tambahan cerita, tentang Rudi…

”Serius Rudi gak mau pulang, Bang?” dahi Adrian mengkerut begitu mendengar dari Adan kalau Rudi tak mau pulang, padahal dia sudah tau kalau ibunya sedang sakit.

“Ya… memang seperti itu. Abang heran dengan anak itu, sebenarnya apa yang difikirkannya… malahan tadi waktu abang menjelaskan panjang lebar, dia malah matiin sambungan handphonenya.”

“Mungkin dia sedang ada masalah besar, makanya dia gak pulang.”

“Mungkin aja… semoga dia gak kenapa-kenapa di sana…”

Dari depan pagar, tampak Rani berjalan tergesa-gesa menuju ke rumah mereka. Nafasnya tersengal-sengal.

“Bang Adan, Bang Adrian… ibu… ibu, Bang…” Nafas Rani masih tak beraturan.

Adrian dan Adan bangkit dari kursi mendekati Rani yang tergopoh-gopoh di ambang pagar rumah, “Ada apa dengan ibumu, Ran?” Adrian berjongkok, mensejajarkan wajahnya dengan Rani.

“Ibu muntah darah, Bang…”

***

B’ Ramadan calling…

Tertera di layar handphone Rudi. Ramadan sekarang sedang menelfon adik angkatnya itu. Yang merespon malah si wanita seluler otomatis, ‘Telfon yang anda tuju sedang sibuk,…’

“Direject?” gumam Adan, “Dasar anak edan,” lanjutnya.

Adan mendial lagi… Respon yang sama dari si wanita seluler… ‘Telfon yang anda tuju sedang sibuk,…’

Dial lagi… Kalimat yang sama dari si wanita seluler… ‘Telfon yang anda tuju sedang sibuk,…’

Dial lagi… Jawabannya itu juga.

Dial lagi… Nihil… Sudah lima kali telfonnya Adan direject dari sana, kalau si wanita seluler bisa menjawab dengan kata-kata lain, mungkin jawabannya bakal ‘BEGO LU YA? YANG LU TELFON GAK MAU TERIMA TELFON LU…!!!’

Gigi adan rapat, Dia geram, “Brengsek! Sudah tau ibunya sedang butuh dia, telfonku malah direject.”

***

1 New Message…

From : Bang Ramadan

‘Ibumu masuk rumah sakit. Kalau kamu masih menganggapnya ibumu, Rani, Abang dan Adrian adalah keluargamu. Cepat pulang! Atau kalau tidak, jangan pernah pulang dan jangan tanya-tanya lagi keadaan di sini!’

Satu pesan dari Adan. Berulang kali telfonnya ditolak dari sana, opsi terakhir yang terlintas di otaknya adalah mengirim sms ke Rudi. Tak mungkin Rudi tak membacanya.

Benar, SMS Adan terbaca. Masalahnya bukan oleh Rudi. Jempol kanan si pemegang handphone Rudi langsung memilih option delete message.

Clear… Message deleted…

Jemari Haris dengan cepat menghapus isi sms dan panggilan masuk dari handphone Rudi. Rudi sedang membeli sarapan pagi mereka di kedai nasi di depan kosan. Dia tak membawa handphone-nya tepat di saat Adan menelepon. Great! Sudah seperti adegan sinetron saja.

Satu berita penting untuk Rudi tak tersampaikan……

***

Siang ini Rudi pergi ke toko handphone. Dia memutuskan menjual satu-satunya barang miliknya yang dapat dijual untuk membeli tiket bus pulang ke Medan. Tentu saja dia tidak bilang kemana dia pergi kepada Haris. Sedikit kebohongan dengan mengatakan ‘izin keluar untuk mengunjungi teman lama’ sudah pasti akan membuat Haris mengizinkan pacarnya itu keluar.

“Lima ratus ribu, Dek.”

“Bisa ditambah sedikit lagi, mas?”

“Ini sudah harga jugal paling tinggi.. lu boleh cari di toko handphone di sebelah…, mana ada yang terima hp tipe ini dengan harga lebih dari segitu…”

“Ya, sudahlah, Koh… Saya jual handphone-nya…”

***

Adan tersungkur. Kedua lututnya menyentuh ubin Rumah Sakit Pringadi, Medan. Rumah sakit terdekat yang bisa dicapai dari tempat tinggal mereka.

“Maaf, kami sudah melakukan sebisa kami untuk menolong nyawa pasien…” Dokter hanya bisa mengatakan itu.

Adan terisak-isak. Tangisnya tumpah di depan ruang UGD. Ibunya Rudi yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri sekarang sudah berpulang ke rumah Tuhan. Adrian yang berada di sampingnya juga ikut mengangis. Apalagi Rani, tak bisa lagi dibayangkan betapa nelangsa-nya anak itu mengetahui bahwa ibunya telah tiada.

Innalillahi wa inna ilaihi roji`un… Telfon Rudi, Bang! Beri dia kabar sekarang.” Seru Adrian. Dia merangkul bahu Adan. Membantunya untuk berdiri. Pacarnya itu seperti tak punya daya untuk berdiri. Adan jatuh terduduk lagi. Isak tangisnya semakin hebat.

“Biar aku saja yang telfon…” Adrian merogoh kantong celana Adan, mengambil handphone kekasihnya itu, lalu mencari nomor telfon Rudi dan mendialnya.

‘Telfon yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan…’

“Gak aktif, Bang…,” ucap Adrian lirih.

“ANAK BRENGSEK…!!!!!!” Teriak Adan. Memukulkan tangannya ke dinding.

Lagi, satu berita penting untuk Rudi tak tersampaikan…

***

“Panggilan terakhir untuk penumpang jurusan Medan, agar segera naik ke dalam bus…,” seru supir bus dari depan pintu masuk bus.

Ternyata, sebesar apapun cinta seseorang kepada pasangannya tetap saja dapat dikalahkan oleh cinta yang satu ini, yakni cinta kepada keluarga. Dalam perang batinnya semalam, Rudi telah memutuskan untuk pergi tanpa pamit. Pergi secara diam-diam dari kosan untuk kembali ke kampung halamannya, kota Medan. Rasa rindunya untuk melihat Ibu dan adiknya jauh lebih besar daripada rasa cintanya kepada Haris.

Sebelum Haris pulang kerja, Rudi pergi dari kosan mereka.

Maka sekarang, di sinilah Rudi. Duduk di antara puluhan penumpang bus di ruang tunggu. Menunggu jadwal keberangkatan bus Jurusan Pekan Baru – Medan yang sebentar lagi akan berangkat.

“Sekali lagi, panggilan terakhir untuk penumpang bus jurusan Medan, segera naik ke dalam bus…” si supir bus mengulangi.

Rudi beranjak dari kursi ruang tunggu. Kakinya segera melangkah naik ke dalam bus. Dia sudah ingin sekali pulang. Pulang untuk menemui ibu tercintanya di kampung halaman.

‘Ibu… Tunggu aku sebentar lagi. Empat belas jam lagi aku akan sampai di sana… tunggu aku ibu…’

[Note : Maaf, saya tidak bisa melanjutkan lagi. Terlalu sedih bagi saya, Rudi, Rani dan Adrian. Apalagi melihat Rudi yang begitu sampai di Medan mendapati kenyataan bahwa ibunya telah berpulang ke sisi Tuhan]

[True story dengan sedikit pengubahan]

{*} Puisi oleh: Desi Nusa Putri

 

Fragmen 2

DISAPPOINTEDLY

Oleh : Nayaka Al Gibran

—————-

Begitukah yang akan kulakukan? membenci putraku? Begitukah yang sudah dia rasakan, bahwa aku membencinya? Bahwa aku akan membuangnya sebagai anakku?

—————–

LETITIA menyadari bahwa kalimat pertama pada halaman pertama dari buku yang sedang dibacanya sudah cukup menegaskan bahwa ada ketidakwajaran yang sedang terjadi dalam diri putranya, namun ia berusaha menghibur diri dengan meyakini kalimat pertama itu mungkin salah dan bermakna lain dengan yang dicerna isi kepalanya. Lalu Letitia mencari tahu jika ia memang telah salah berpikir lewat kalimat-kalimat selanjutnya dari halaman-halaman berikutnya pada buku yang kian lama kian bergetar dalam genggamannya itu. Letitia gemetar.

Aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri, aku jatuh cinta pada Dean…

Rasanya Letitia kehilangan seluruh kekuatan sendinya. Lututnya tak dapat lagi menopang bobot tubuhnya seiring kalimat-kalimat dalam buku itu kian banyak dibacanya. Kalimat-kaimat itu, semuanya mendeskripsikan seperti apa Denies Tendean, seperti apa senyumnya, seperti apa gaya berjalannya, seperti apa badan jangkungnya, seperti apa menawan wajahnya dan seperti apa rasanya jika berada dalam pelukannya. Letitia terduduk di ranjang, air mata menyeberangi kedua pipinya lalu jatuh ke riba, sebagian hilang diserap kain dasternya dan beberapa tetes jatuh memburamkan huruf-huruf pada lembar buku. Bagai ada cambuk api yang merajam hingga ke organ-organ dalam tubuhnya. Benih yang ia lahirkan dari rahimnya telah salah menempuh jalan…

Suara deru motor menarik semua fokus Letitia yang tadi sempat menerawang jauh. Tergesa-gesa ia menutup buku yang baru saja dibacanya, bergerak cepat ke meja belajar putranya untuk meletakkan kembali buku itu di tempatnya semula lalu mengeringkan wajah. Niat semula untuk mengumpulkan baju kotor putranya tak terlaksana, derit pintu depan rumah baru saja terdengar. Letitia bergegas keluar melalui pintu kamar putranya.

“Ma, Okan pulang!”

Letitia bergerak menuruni tangga, tersenyum kecil pada putranya yang sudah berada di depan anak tangga pertama. “Bagaimana ekskulnya, Sayang?”

“Tangan Dean terkilir saat sparring…,” jawab Okan sambil bergerak cepat di tangga.

Untuk pertama kalinya, Letitia mulai bereaksi tak biasa bila mendengar Okan menyebut nama karibnya itu. Ia kenal Dean, sudah bagai putra kedua baginya. Sebelumnya, saraf Letitia tak akan mengejang mendengar Okan menyebut nama Dean, tapi kini setelah mengetahui adanya ketidakwajaran dalam hubungan pertemanan putranya dengan Dean, Letitia mulai bereaksi antipati. “Sejujurnya Mama kurang suka kamu berteman dengan Dean…”

Okan berhenti tiga anak tangga di depan mamanya, keningnya mengernyit. “Bukankah seharusnya Mama menanyakan bagaimana keadaan Dean?”

Letitia diam.

“Apa Mama baik-baik saja?” Okan menunjuk wajah mamanya. “Mata Mama agak sembab…”

“Mama baik-baik saja.”

Okan mengangkat bahu lalu kembali menaiki anak tangga, melewati mamanya yang masih belum bergerak. “Okan mau mandi dulu, sebentar lagi mau lihat keadaan Dean…”

“Mama berencana memindahkanmu ke sekolah lain mulai senin depan…”

Okan berhenti di depan pintu kamar, lalu berbalik menghadap mamanya, “Ini tentang apa sih, Ma?”

“Tak ada. Mama hanya ingin memindahkanmu ke SMA yang lebih bergengsi…”

Okan tertawa pendek, “Ma, kurang bergengsi apa sekolah Okan yang sekarang?”

“Masih ada sekolah lain yang lebih elit dari sekolahmu yang sekarang. Tak ada kompromi lagi.”

Okan sangat tahu mamanya. Sekali A tetaplah A walau langit runtuh sekalipun tak akan berubah, berdebat hanya akan menghabiskan energi, waktu dan membuatnya akan membenci mamanya. “Apa Mama memindahkanku karena tak suka aku berteman dengan Dean? Ya Tuhan, Ma… selama ini Mama menyukai Dean sampai kadang membuat aku merasa seperti anak tiri…”

“Kepindahanmu tak ada hubungannya sama dia!” Letitia merasa kepalanya nyeri, nama Dean disebutkan putranya dalam dua kalimat. “Senin depan kamu sudah resmi jadi murid baru.”

“Apa Papa akan setuju?” Okan berusaha mencari suaka papanya.

“Bukan akan, tapi Papa memang sudah setuju.” Letitia berbohong. “Mama sudah membicarakannya dengan Papa.”

Okan berbalik, “Mama adalah Tuhan dalam hidup Okan !” ujarnya lalu membanting pintu kamar.

Letitia baru saja memenangkan babak pertama untuk pertarungan yang ia sendiri tak tahu akan berakhir seperti apa.

***

“Kita perlu membawa Okan konsultasi ke psikiater…”

Fahmi mendongak dari buku yang sedang di bacanya, memandang istrinya yang tengah menggunakan krim malamnya di depan meja rias. “Apa yang terjadi?”

Letitia menghela napas panjang, berhenti mengoles krim pada wajah dan menoleh suaminya yang sudah melepas kacamata bacanya di ranjang. “Entahlah, Mas… aku merasa ada yang tak beres dengan Okan.” Letitia belum siap memberitahu suaminya tentang keadaan putra mereka.

Fahmi mengernyit, “Apanya yang tak beres? Okan tampak sehat, dia cerdas, dia tangkas, dia seperti remaja kebanyakan, fisiknya kuat…”

Psikiater tidak menangani masalah fisik, Mas… tapi psikis,” Letitia menukas.

“Kamu mengetahui sesuatu yang aku tak tahu tentang putra kita?”

Hening sejenak. “Perasaan ibu lebih kuat, Mas. Dibanding kamu, aku lebih banyak  menghabiskan waktu sehari-hari dengannya di rumah. Aku tahu ada yang tak benar dengan diri Okan…”

“Iya, tapi apa itu?”

Letitia meninggalkan meja rias dan menuju ranjang. “Besok aku akan membawa Okan konsul ke psikiater, aku sudah punya referensi orang yang hebat di bidang itu dari teman arisan.” Wanita itu langsung masuk ke bawah selimut, memunggungi suaminya dan mematikan lampu temaram di sebelahnya.

Akhir debat. Fahmi tahu benar watak perempuan yang sudah dinikahinya selama delapan belas tahu itu. Dia mengganti lampu baca dengan lampu tidur dan membujurkan badannya rata dengan kasur. “Aku hanya tidak ingin Okan berpkiran bahwa orang tuanya sudah gila dengan membawanya ke ahli jiwa… mungkin kebingungan itu yang malah akan membuat jiwanya tak tentram, berfikir bahwa ada ketidaknormalan dalam dirinya sehingga mamanya membawanya ke psikiater. Itu akan memberi tekanan untuknya menurutku… tapi jika kamu merasa itu perlu, semoga semuanya berjalan baik.” Kalimat yang panjang sebelum Fahmi memeluk istrinya.

Letitia memejamkan mata. Memang ada ketidaknormalan dalam diri putra kita, Mas… “Minggu depan Okan pindah sekolah.”

Fahmi mengangkat kepalanya. “Ya Tuhan, Tia… ini tentang apalagi?”

“Tak ada, aku hanya ingin Okan bersekolah di tempat yang lebih bergengsi lagi.”

“Ada apa dengan status bergengsi sekolahnya yang sekarang?” Fahmi menelentang kini.

“Aku merasa teman-temannya di sekolah yang sekarang memberi pengaruh buruk terhadap putra kita.”

Suara napas panjang Fahmi lirih terdengar. “Aku tak melihat itu. Selama ini pihak sekolah tidak mengadukan satupun kelakuan buruk Okan, bukankah kita juga tidak pernah melihatnya berkelakuan buruk? Dia anak yang patuh, Tia. Kamu sangat tahu itu…”

“Sudahlah, Mas. Setuju atau tidak, aku tetap akan membawa Okan ke Psikiater dan memindahkannya! Banyak sekolah lain yang lebih berkualitas di Jakarta ini.” Aku akan menyelamatkan putra kita sebelum terlambat… hatinya menyambung ucap.

Sekarang benar-benar akhir debat.

***

“MA, INI SEBENARNYA TENTANG APA SIH?!”

Okan tidak tahan untuk tidak membentak mamanya saat sang Mama menghentikan langkah di depan sebuah pintu bergantungkan badge dengan tulisan ‘Danuar Andalussia, S.Psi’ dan tulisan ‘PSIKOLOG’ di bawahnya.

Letitia tak menjawab putranya. Dia membaca badge di depan pintu, ternyata Psikolog, bukan Psikiater. Teman arisannya salah mengira Psikolog sebagai Psikiater. Tapi sama saja, sama-sama menangani problem kejiwaan. Toh kata si teman, orang bernama Danuar Andalussia ini paling banyak direkom. Letitia mengakui itu, ia tadi harus menunggu nyaris dua jam tadi sebelum dipanggil.

“Mama pikir aku gila?” Okan merendahkan suaranya.

Letitia menoleh, “Jangan membantah. Ikut saja!” pandangannya mengintimidasi.

Letitia mendorong pintu setelah mengetuk dan melangkah masuk bersama putranya. Suhu AC yang sepertinya disetel pada angka terendah menyambut mereka. “Selamat sore…”

Danuar Andalussia, S.Psi, seorang pria muda, Letitia menaksir usianya belum sampai tiga puluh, mungkin dua delapan atau awal dua sembilan. Kata teman arisannya ahli jiwa ini masih lajang. Hari ini ia menggunakan kemeja lengan panjang warna abu-abu bergaris-garis hitam, jasnya tersampir di sandaran kursi. Necis dan rupawan, berkacamata, perawakannya lebih tepat menjadi seorang peragawan ketimbang ahli jiwa. Pandangan pertama siapapun pasti dibuat pangling, Letitia juga demikian. Selain itu, ada aura wibawa pada sosok pria itu yang membuat siapapun segan dan menaruh hormat sedemikian rupa. Ah, bukankah setiap orang yang punya profesi bergengsi memang punya wibawa besar? Letitia membatin.

“Selamat sore, silakan duduk…” si ahli jiwa tersenyum, sedikit bangun dari kursi kerjanya dan menunjuk kursi berbantalan empuk di depannya. “Ini mestilah Okan…” ia menunduk memandang catatan di mejanya yang tadi di antar asistennya.

Okan mendengus ketika lengannya digandeng sang Mama menuju ke meja Danuar. Letitia duduk di kursi sedang putranya berdiri di sampingnya dengan sikap enggan dan wajah tertekuk. “Saya Letitia Soemantri, mamanya. Bisa kita bicara berdua lebih dulu, Dokter?”

Pria itu tersenyum mendengar Letitia menyebutnya dokter, ia sudah terbiasa dipanggil begitu, banyak kliennya yang memanggilnya dokter, beberapa memanggilnya bapak. “Ya, tentu saja.” Danuar melirik remaja lelaki yang masih berdiri di samping Letitia dengan tampang kusut.

“Okan, Sayang, kamu tunggu di luar dulu ya, Mama mau bicara sebentar dengan dokternya. Tak lama, lima menit saja…”

Belum habis mamanya berucap, Okan sudah berjalan ke pintu.

“Jangan kemana-mana, berdiri saja di luar. Ini tak akan lama!” Letitia berseru sebelum pintu terbanting dan membuatnya kaget sekaligus tak enak dengan pemilik ruangan. “Maaf…,” ujarnya sambil memposisikan kursinya tepat menghadap Danuar.

“Tak apa, hal demikian sudah biasa,” balasnya sambil tersenyum. “Jadi, apa yang terjadi dengan Okan?”

Letitia menarik napas panjang sebelum bicara dengan suara pelan. “Dia belum tahu kalau saya sudah mengetahui jika dia menderita kelainan orientasi seksual…” Letitia langsung ke inti masalahnya.

Pria di depan Letitia mengernyit dan sedikit memajukan duduknya. “Bisa diperjelas?”

“Putra saya homoseksual…

Pupil Danuar melebar, badannya kaku. Ia bagai kesulitan menelan ludahnya. Selama praktiknya, belum ada klien yang datang dan mengeluh bermasalah dengan orientasi seks hingga merasa perlu berkonsultasi masalah jiwa mereka padanya. Belum pernah ada orang tua yang mengeluhkan putra mereka gay. Lebih daripada itu, Danuar tak ingin meyakini bahwa gay adalah kelainan jiwa. Tidak, jiwaku baik-baik saja… ia meyakinkan diri lagi. Jiwaku baik-baik saja…

“Dia mencintai sahabatnya sendiri yang juga anak lelaki…” Letitia menghembuskan napas berat lagi. “Saya baru mengetahuinya kemarin ketika membaca catatannya…” emosi Letitia tak terbendung, ia mulai menangis.

Danuar menyodorkan kotak tisu di atas mejanya. Ia masih bingung untuk menanggapi.

“Saya ingin dia pulih, Dokter. Saya menaruh harapan besar padanya, sangat besar. Saya tidak siap dengan hal ini, saya tidak bisa…” Letitia menarik tisu. “Saya tidak bisa membayangkan masa depannya akan seperti apa, itu terlalu mengerikan buat Saya…” air mata tak mau berhenti, Letitia menarik tisu lagi. “Dia keturunan saya satu-satunya… Dokter pasti mengerti itu…”

Dalam bingung, Danuar mengangguk pelan.

“Dia mungkin tak akan berterus terang dengan Dokter nanti. Tapi Dokter pasti tahu bagaimana menanganinya… Dokter pasti bisa membuatnya berterus terang dengan kondisinya, jika tidak sekarang pasti dia mau begitu saat kunjungan berikutnya dan berikutnya hingga dokter bisa menyembuhkan jiwanya… dokter pasti tahu bagaimana harus bertindak…”

Tidak, saya tidak tahu, Bu…tidak untuk issue ini. Ingin saja Danuar mengutarakan itu, tapi melihat bagaimana wanita di depannya sesengukan membuat kata-katanya tetap berada di balik lidahnya.

“Jangan beritahu dia kalau saya tahu. Anggap bahwa ini murni antara pribadinya dengan Dokter, hubungan pasien dan dokter, tak ada sangkut pautnya dengan saya. Saya tak tahu apapun, saya tak mau dia mengetahui kalau mamanya tahu. Apakah dokter mengerti maksud saya?” Letitia sudah berhenti menangis, dia membereskan sisa-sisa air mata di wajahnya.

Danuar menelan ludah. Dalam bingung, ia mengangguk.

“Saya akan keluar.” Letitia bangun dari kursinya dan menuju pintu. Ia tidak menemukan putranya di luar ruangan. Wanita ini berjalan menyusuri lorong kembali ke ruang tunggu. Putranya tampak sedang duduk di sofa, mengutak-atik ponselnya. “Okan…”

Sang putra menoleh, mamanya berjalan menghampiri. “Okan tak mau masuk ke sana!”

“Bukan saatnya membantah, Sayang.” Letitia berujar lembut namun ada ketegasan di dalamnya. “Dokter Danu sudah menunggu…”

“Okan tak akan masuk ke sana!”

“Tidak apa-apa, Sayang. Kamu bisa bicara apapun dengannya, Dokter Danu hanya akan mendengarkan.”

“Okan tidak gila, Ma… mengapa sih Mama melakukan ini semua?”

Letitia memandang putranya lekat-lekat. “Mama tidak bilang kamu gila…”

“Lalu buat apa kita kemari?”

“Dokter Danu hanya Psikolog, Sayang. Dia bukan dokter rumah sakit jiwa…”

“Apa bedanya? Okan tidak bodoh!”

Letitia berang. “Jangan banyak tingkah, Okan! Sekarang masuk ke sana dan ceritakan perasaanmu pada Dokter Danu!”

Beberapa pasang mata di ruang tunggu memperhatikan mereka. Letitia tak perlu peduli dengan tatapan itu, ia menarik lengan putranya untuk bangun dari sofa dan berjalan setengah menyeret kembali ke lorong.

“Ceritakan apa saja yang kamu rasakan, Dokter Danu akan mendengarkan. Tak perlu malu, dia hanya akan menolong…” Letitia berkata ketika mereka sampai di depan pintu kembali. “Mama tak akan ikut campur, Sayang. Ini murni antara kamu sama Dokter Danu. Mama akan berada di ruang tunggu sampai kamu selesai. Mama tak akan tahu apapun yang kamu dan Dokter Danu bincangkan, itu semua privasimu…”

Okan semakin bingung, tidak mengerti dengan sikap mamanya sejak kemarin. Sebelum membantah, mamanya sudah menguak daun pintu.

“Mama ada di ruang tunggu.”

Letitia mendorong badan putranya lalu menutup pintu. Ia masih berdiri di tempatnya hingga bermenit-menit setelah itu. Wanita ini baru melangkah pergi ketika sadar bahwa tak mungkin mendengar percakapan yang berlangsung di balik pintu tebal yang dipunggunginya. Ruangan si ahli jiwa bagaikan kedap suara untuk menjamin semua privasi klien tetap berada di dalam ruangan selama mereka berkunjung. Tanpa perlu menguping, toh dia akan berbicara lagi dengan sang dokter tentang keadaan putranya, jika tidak nanti maka pada kunjungan-kunjungan berikutnya.

Danuar memandang remaja yang duduk di depannya sambil menunduk. Sudah lima menit berlalu dalam kediaman setelah ia mempersilakan si remaja duduk dan menanyakan kabarnya yang dijawab dengan satu kata saja. Baik. Hanya itu, ketika ia bertanya apakah si remaja mau bercerita tentang dirinya atau tidak, saat itulah kediaman berlangsung, sampai bermenit-menit kemudian.

“Ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua, Okan…” Danuar kembali membuka suara setelah menarik napas panjang. “Kamu bisa menceritakan apa saja tentang apa yang kamu rasakan, mamamu tak ada sangkut pautnya…”

Okan mengangkat wajah, “Apa yang Mama saya katakan pada Dokter?”

Danuar terdiam sesaat, “Mamamu merasa bahwa kamu punya masalah…”

“Saya baik-baik saja!”

“Ya, kita berdua tahu kalau kamu baik-baik saja. Tapi perasaan seorang ibu amat sangat peka, Okan… dia bisa tahu ada yang salah dengan anak-anak mereka meskipun si anak tinggal bermil-mil jauhnya dari mereka.” Ada kontak mata, Danuar sudah mendapatkan perhatian kliennya. “Sebagai contoh, seorang anak di perantauan jauh dari ibunya mendadak sakit keras atau terjadi sesuatu yang buruk, ibu yang berada jauh pasti punya firasat kalau anaknya sedang berada dalam kondisi sulit. Itu naluri, hanya ibu yang punya naluri kuat terhadap anak-anak mereka. Kamu pernah dengar hal begini kan?”

Okan diam saja.

“Sama halnya dengan mamamu, nalurinya mengatakan ada masalah yang kamu simpan darinya, ada sesuatu yang sedang berlangsung di dalam dirimu…” Danuar merasa kepalanya nyeri, “Tapi mamamu tak tahu apa itu, namun ia yakin kalau itu adalah sesuatu yang buruk, maka ia membawamu kemari, untuk membantumu. Semua ibu di dunia ini pasti akan melakukan apapun untuk menolong anaknya, mamamu melakukan yang semestinya dia lakukan dengan membawamu kemari…”

“Saya baik-baik saja.” Okan mengulang jawaban yang sama.

Danuar menarik napas, ia tahu ini tak akan berhasil. Karena ia yakin bahwa masalah yang dikeluhkan mama si remaja di depannya beberapa saat lalu tidak mungkin dapat dibantunya, ini bukan masalah yang bisa ditangani ahli jiwa dengan mudah, ini bukan perkara biasa yang sering ditemuinya. Ini bukan masalah halusinasi, depresi, skizofrenia, stress berlebih, masalah kelabilan emosi atau apapun masalah jiwa lainnya. Kelainan seks tidak termasuk dalam kasus yang pernah ditanganinya di ruang praktiknya.

“Menceritakan masalah kepada orang lain memang tidak serta-merta membuat masalah itu terselesaikan, pada banyak kasus malah tidak memberi efek sama sekali terhadap penyelesaian masalah kita… tapi bukan itu intinya menceritakan masalah atau sesuatu yang kita pendam itu kepada orang lain, Okan. Itu lebih berarti kepada, bahwa kita punya teman, bahwa kita tidak sendiri…”

Okan menatap Psikolog di depannya dalam diam.

“Kamu bisa menceritakannya di sini, hanya kita berdua yang tahu. Apapun yang kamu rahasiakan, akan tetap menjadi rahasia…”

Damn, Danuar. Apa yang sedang kau lakukan? kau sudah tahu bahwa upayamu tak akan berhasil, mengapa tidak menyerah saja? profesimu tidak diperlukan dalam kasus ini. Suruh anak ini keluar dan berhenti bersikap seolah-olah kau bisa menanganinya. Bahkan kau tidak bisa menangani masalahmu sendiri.

Danuar merasa nyeri di kepalanya makin parah saja.

Okan mulai menduga-duga ke mana arah pembicaraan si ahli jiwa, ia mulai ragu kalau yang dimaksud oleh orang ini adalah tentang rahasia yang selama ini ditutupnya rapat-rapat. Jika itu yang dimaksudkan, maka itu tak akan pernah terjadi. Ia tak akan bercerita, tak akan pernah. Mamanya boleh membawanya kemanapun ke siapapun ahli jiwa, ia tak akan mengungkapkan jati dirinya, ia tidak gila.

Dua puluh menit lebih. Percakapan mereka gagal. “Kamu boleh keluar, Okan…”

Tanpa menunggu diminta dua kali, remaja itu bergegas ke pintu.

Letitia melihat putranya melintasi ruang tunggu, menuju pintu keluar dengan langkah lebar tanpa menolehnya yang duduk termenung di sofa. “Okan…,” Letitia memanggil, namun putranya berlagak tuli. Ia begegas bangun, menuju meja asisten Psikolog di satu pojok dan membereskan biaya konsultasi putranya. Kemudian dengan langkah cepat ia menyusul keluar.

Putranya berdiri bersandar ke mobil, tudung jaket menyamarkan wajahnya yang tertunduk.

“Apa yang terjadi?”

“Mama punya jawaban pertanyaan itu untuk Okan?”

Mendapati putranya balik bertanya dengan mata menantang, Letitia terdiam.

“Apa sesuatu buruk yang Mama rasakan terjadi padaku yang aku tak faham hingga membuat Mama bersikap demikian aneh dalam dua hari ini?” Okan menarik tudung jaket kausnya hingga membuat rambutnya kusut, “Apa yang Mama tahu?”

Tak menjawab, Letitia merogoh kunci mobil dari dalam tasnya lalu membuka pintu mobil di sisi putranya. “Tunggu di mobil, Mama segera kembali.”

Okan bergeming.

“Mama bilang masuk ke mobil, Okan!” Letitia berkata tegas, nadanya meninggi. Setelah putranya masuk dan duduk di jok di sebelah jok pengemudi, Letitia membanting pintu lalu segera masuk kembali ke gedung klinik yang baru saja ditinggalkannya.

Beruntung tak ada klien lain saat ia mendobrak masuk. Letitia melupakan kesopanannya. “Dia bicara apa?”

Danuar menghela napas, ia sedang berdiri termenung di depan jendela lebar ruang praktiknya ketika Letitia masuk tanpa mengetuk. Setelah mempersilakan wanita itu duduk, Danuar menuju kursinya.

“Ini tak akan berhasil, Ibu Letitia… saya tidak bisa melakukan apapun untuk membantu putra ibu.”

Letitia merasa harapannya kandas pada detik Psikolog di depannya berkata demikian. Itu terdengar bagai vonis mati untuknya. “Tentu Anda bisa, itu yang anda kerjakan selama ini, bukan? Menyembuhkan jiwa klien-klien Anda.” Letitia tidak lagi menyebut dokter seperti sebelumnya.

Danuar terdiam.

“Saya diberitahu bahwa Anda yang terbaik, bagaimana bisa Anda berkata tidak bisa menolong?” Letitia berkata dengan nada tidak bersahabat.

“Saya biasa membantu mereka yang bermasalah dengan kejiwaan, bukan mereka yang punya orientasi seksual berbeda dari kebanyakan… homoseksual bukan masalah kejiwaan, jiwa putra Ibu baik-baik saja. Gay bukan sakit jiwa, Ibu harus menerima fakta itu.” Danuar merasa seolah baru saja menampar seseorang.

Letitia merasa darah mendidih di dalam tubuhnya. Kata gay yang diucapkan Danuar dirasanya baru saja tersemat untuk putranya. Putraku gay, orang-orang akan mencapnya demikian, putraku sudah dicap demikian. Matanya kembali berkabut, alih-alih meluapkan emosi dengan membalas berkata-kata setegas tadi, Letitia malah mulai menangis lagi.

“Saya minta maaf, Bu… saya tidak bisa merubah orientasi seksual putra Ibu, tidak juga orientasi seksual siapapun. Saya tidak bisa melakukan apa-apa menyangkut itu. maaf saya mengecewakan.”

Letitia mengesat matanya. “Takdir terlalu kejam buat kami, Tuhan tidak adil pada putraku…” sekarang ia menyerang diri sendiri.

Danuar menghela napas, “Kenapa Ibu tidak coba memposisikan diri pada pihak Okan? Tentu sulit menjadi seseorang yang berbeda, tentu sulit menjadi Okan… dia pasti butuh perenungan lama suatu saat dulu ketika sadar kondisinya berbeda dari orang lain. Dia pasti butuh kekuatan untuk menerima kondisinya dengan lapang dada, kenapa Ibu tidak ikhlas…”

“Jangan katakan omong kosong itu!” Letitia kehilangan kontrol diri, ia menggebrak meja. “Jika Anda tidak sanggup menolongnya itu karena Anda tidak becus, tak perlu mendikte saya untuk ikhlas dan menerima. Putra saya masih bisa disembuhkan.”

Danuar terdiam. Bagaimanapun, sosok Letitia mengingatkannya pada almarhumah mamanya sendiri, bagaimana mamanya dulu tak bisa menerima kondisinya persis seperti Letitia yang tidak bisa menerima keadaan putranya. “Saya minta maaf jika ucapan saya menyinggung, tapi kebenarannya, saya memang tidak becus dengan kasus seperti ini… mungkin Ibu perlu orang lain untuk menunjukkan jalan keluar yang saya tidak bisa tunjukkan. Maaf…”

Bahu Letitia turun, seakan ia melebur bersama kursi yang didudukinya. Kekecewaan dan keputusasaan melemahkannya. Perlahan dia menaikkan tali tas ke bahunya, mengesat mata lalu bangun. “Maaf…,” ujarnya sebelum menuju pintu.

Danuar Andalussia termenung lama di kursinya setelah Letitia menutup pintu.

***

“Mama akan mindahin gue ke sekolah lain, Dean…”

“Lu udah bilang sebanyak tiga kali sejak tadi pagi. Gue udah cukup ngedengar, sekarang bisakah kita makan dulu?” Dean menyendok dengan tangan kirinya, pergelangan kanannya masih belum sembuh benar dari terkilir kemarin lusa saat ekskul karate. Setelah bolos satu hari kemarin, hari ini ia kembali hadir di sekolah.

“Kita tak bisa ketemu lagi…”

“Gue masih bisa main ke rumah lu, nyokap lu gak berencana mindahin rumah kalian juga, kan?”

“Kita tak bisa sekelas lagi…”

“Ya Tuhan, Okan… bukankah ketemu teman-teman baru di sekolah yang baru adalah hal yang keren?” Dean mengunyah baksonya.

Okan menghela napas berat, “Mendadak Mama bersikap aneh. Kemarin sore gue malah dibawa ke Psikolog…”

Dean berhenti mengunyah, “Aneh. Apa lu sering bicara sendiri saat di rumah?”

Okan terdiam. Ia kembali teringat semua keanehan sikap mamanya, percakapannya dengan psikolog tampan kemarin sore dan ucapan mamanya tentang ketidaksukaannya terhadap pertemannannya dengan Dean. Okan mulai menyadari bahwa itu semua berarti sesuatu. Apa Mama tahu? Okan mendadak ciut, hatinya mencelos. Bagaimana Mama bisa tahu?

“Hei, halo… lu baik-baik aja?”

Okan menatap sahabat sekaligus orang yang selama ini menghuni khayalnya. Ada saat ia ingin meneriakkan pada Dean segala isi hatinya, tapi ketakutan bahwa Dean akan membencinya atau yang lebih buruk memutuskan hubungan persahabatan mereka jika ia nekat mengutarakan perasaannya selalu membuatnya menahan diri, hanya diary yang menampung tanpa protes semua isi hatinya. Diary… mendadak Okan menyadari sesuatu. Ia mulai menghubung-hubungkan keanehan sikap mamanya dengan diarynya. Apakah mungkin… Okan pucat seketika.

“Okan, lu mulai buat gue khawatir tau gak, wajah lu seputih mayat.”

“Sepertinya gue harus pulang, Dean…”

“Tidak , menurut gue lu harus ke UKS.”

Okan mengeluarkan dompet dan meletakkan lembar dua puluh ribuan ke meja untuk membayar baksonya dan Dean. “Mungkin ini kali terakhir gue nraktir lu di sekolahan, senin nanti gue sudah resmi pindah.”

Dean terdiam. Jika tadi ia sempat bilang kalau bertemu teman baru di sekolah yang baru adalah hal yang keren, maka tidak lagi ketika mendengar sahabat karibnya berucap demikian. Rasanya mulai menyesakkan.

“Besok lu masih masuk kan? Hei, kita sudah mendaftar ikut kegiatan OSIS sabtu besok, banyak bunga yang harus dibagikan…” Dean teringat agenda yang sudah mereka rencanakan jauh-jauh hari bersama pengurus OSIS, ia dan sahabatnya sudah memutuskan ikut, tapi mendengar perkataan sahabatnya sesaat tadi, rasanya besok ia akan pergi sendiri. “Lu bisa ikut, kan?!” Dean berseru ketika Okan berjalan keluar dari kantin. Jika Okan pindah Senin, maka hanya Sabtu besok satu hari lagi ia melihat sahabatnya itu memakai seragam yang sama dengannya, dengan catatan… sahabatnya itu hadir besok.

Dean menatap punggung Okan yang kian jauh.

***

Okan menemukan mamanya di dapur, sedang menyiapkan makan siang. Bau menyengat tercium ketika ia memasuki dapur. Mamanya termenung di depan penggorengan, benar-benar termenung.

“Mama, ikannya hangus…,” Okan bergegas mendekat.

Letitia kaget dan kesadarannya kembali lagi. “Ya Tuhan…” ia buru-buru memadamkan kompor dan mengangkat ikan dengan sudip.

“Mama kenapa sih?”

Letitia menoleh putranya, “Kamu sudah pulang? tumben awal…”

Okan tak menjawab mamanya, ia duduk di kursi.

Menyadari kalau putranya sedang memperhatikannya, Letitia berbalik. “Ada apa?”

Okan tak segera menjawab, ia masih menatap mamanya. “Mama sudah mengurus surat pindahku?”

Letitia mengangguk, “Sudah kemarin. Besok Mama hanya tinggal mengambilnya, kalau kamu mau bolos besok tak mengapa, tapi kalau mau masuk untuk berpamitan dengan guru dan temanmu juga tak masalah…” Letitia menatap putranya, “Atau kamu sudah pamitan tadi ya?”

“Aku pamitan sama Dean…” Okan jelas melihat ekspresi mamanya berubah ketika ia menyebutkan nama Dean.

Letitia mengangguk pelan lalu berbalik kembali menghadap penggorengan, menyalakan kompor, membuang minyak dalam penggorengan yang sudah hangus ke sinky dan menuang minyak baru lalu melanjutkan menggoreng ikan.

“Ma…”

Letitia kaget ketika putranya memeluknya dari belakang. Ia kaku.

“Apapun kondisiku, aku masih tetap anak mama, kan? Mama tak akan membenciku, kan? Mama tak akan membuangku, kan? Mama tak akan menganggapku bukan anak lagi, kan?”

Letitia diam, masih kaku. Bunyi minyak membakar daging ikan nyaring terdengar.

“Apa Mama akan membuangku jika aku tidak sembuh?” Okan berkata-kata di pundak mamanya, suaranya mulai serak. “Apa itu yang akan Mama lakukan jika aku tidak bisa berubah? Jangan benci Okan, Ma… jangan benci Okan… jangan benci Okan…”

Letitia bergetar, air mata putranya menitik ke lengannya. Begitukah yang akan kulakukan? membenci putraku? Begitukah yang sudah dia rasakan, bahwa aku membencinya? Bahwa aku akan membuangnya sebagai anakku? Letitia ikut menangis.

“Maaf Okan mengecewakan Mama… maaf, Ma…”

Putranya sesengukan kini. Dasternya basah di pundak. Namun ia masih bergeming dengan tatapan buram.

“Okan tidak mau begini, Ma… Okan tidak mengharapkan jadi begini… tapi Okan tidak gila, Okan tidak gila, Ma… Okan tidak gila hingga perlu dimasukkan ke rumah sakit jiwa, Okan tidak gila, Ma…”

Letitia memejamkan mata.

Putranya terus berkata-kata di sela isakan. “Maaf membuat Mama malu punya anak seperti Okan… Okan tahu kecewa Mama terlalu dalam, tapi jangan suruh Okan pergi dari Mama, Okan tak akan sanggup melakukan itu…” ia mengetatkan pelukannya pada sang Mama, “Okan masih tetap anak Mama, kan…”

Pertahanan Letitia runtuh, ia berbalik dan memeluk putranya erat. “Tidak, Sayang… kamu masih putra Mama… kamu masih anak di rumah ini. Bagaimanapun keadaanmu, kamu masih tetap darah daging Mama, Mama yang mengandungmu, Mama yang melahirkanmu, selamanya fakta itu tak akan berganti, Sayang…” ia menciumi kepala putranya berulang-ulang. “Kamu masih putraku… kamu masih putraku… kamu masih putraku…”

Letitia menangis sejadi-jadinya. Tak dipedulikannya ikan yang sudah hangus untuk kedua kalinya di dalam penggorengan. Dia lebur bersama keperihan yang ditanggung putranya selama ini. Danuar benar, tidak mudah menjadi orang yang berbeda. Sungguh tidak mudah. Namun seberat apapun itu, Letitia akan memastikan bahwa putranya tak lagi sendiri kini, walau rasanya nyaris mustahil, ia akan berusaha mengikhlaskan itu.

Fragmen 3

JARAK, CANDU…

Oleh : Ramadan

——————

“Hati adalah rumah.” Katamu. Tetapi kamu lupa, cinta kadang lebih suka jalan-jalan dan menyewa penginapan, meski hanya sementara…..

——————

Medan, Awal Mei 2013.

“Gak ada yang tinggal, kan? Semua udah di dalam tas?”

ADRIAN mengecek barang-barang di dalam tas  ransel Adan. Hari ini Adan akan berangkat ke luar kota. Meeting mendadak.

“Yes, Sweetheart. Baju kemeja lima pasang, celana panjang lima pasang, sepatu, boxer dan celana dalam. Komplit! Seperti katamu.”

“Obatmu? Mana? Gak ada.”

Buru-buru Adrian ke kamar, memeriksa laci-laci. Dan benar saja, obatnya ada di situ. “Tuh, kan. Dasar pelupa,” gumamnya.

Pria yang memeriksa laci-laci barusan namanya Adrian. 23 tahun. Bekerja sebagai teller di salah satu bank di Medan. Baiklah, biar lebih real sebaiknya kita katakan, dia bekerja sebagai teller di bank Syariah Mandiri cabang Medan. Sifatnya pendiam, bijaksana dan terlalu detail akan sesuatu.

Dan pria yang akan pergi meeting ke luar kota namanya Ramadan. 24 tahun. Seorang karyawan di salah satu perusahaan komunikasi di Medan. Ya, ya, ya… Let`s make it real again, dia bekerja di PT. Telkom Cabang Medan. Orang-orang yang mengenalnya terbiasa memanggilnya dengan nama kecilnya, Adan. Sifatnya suka menggombal, senang bercanda dan pelupa. Dia adalah kekasihnya Adrian.

Mereka berdua adalah pria? Of course! This is a gay story. Jadi, sebaiknya yang tidak suka cerita yang agak belok ini, jangan melanjutkan membacanya.

Adrian dan Adan adalah teman semasa kuliah di Universitas Sumatera Utara. Adrian berada di Jurusan Perbankan dan Adan di Jurusan Teknik Elektro. Mereka dipertemukan melalui kegiatan yang sangat menyebalkan di awal-awal masuk perkuliahan, Ospek. And you know what? Mereka berada di satu grup yang sama kala itu.

Adan adalah teman yang baik. Dia selalu menjaga dan melindungi Adrian dari siapapun dan apapun yang mengganggunya (Berlebihan, ya? Tapi kenyataannya memang seperti itu). Nah, Sebagai seorang teman, mulanya adrian menganggap itu wajar. Namun, lama-kelamaan Adan bertingkah seperti seorang kekasih. Dia selalu mengantar Adrian kuliah, mengingatkannya makan, sering menelfon untuk hal-hal yang tak begitu penting dan sebagainya.

Akhirnya setahun sebelum kelulusan mereka, Adrian mengambil inisiatif langsung untuk bertanya apakah Adan adalah ‘kaum pelangi’ a.k.a gay sepertinya dan apakah dia menyukai Adrian. Dia nekat bertanya  secara blak-blakan tanpa mengingat resikonya.  Dan seperti di cerita-cerita kolosal gay kebanyakan, memang benar! Adan jatuh cinta kepadanya. Sejak saat itu Adrian dan Adan resmi menjadi couple ‘A’ alias kekasih sampai sekarang. Mereka pacaran. Bahkan, setelah lulus kuliah dan mendapat pekerjaan, mereka tinggal di kontrakan yang sama.

Oke, Enough to tell the love story about Adrian and Adan…

Hari ini Adan akan berangkat ke Jekardah (???) selama dua minggu. Dia ditugaskan untuk meeting di sana oleh kantor tempatnya bekerja. Maka praktis sekarang si Adrian pun sibuk menyiapkan segala keperluan Adan. Ah, kalau kalian lihat Adrian sekarang, dia sudah seperti ibu-ibu kompleks yang pagi-pagi buta harus bangun untuk memenuhi segala kebutuhan kekasihnya itu. But it`s ok, toh mereka juga pacaran, jadi gak ada yang boleh protes.

***

“Nanti kalau sudah sampai di Jakarta, langsung telfon aku.” Ucapan pertama dari mulut Adrian begitu mereka tiba di Bandara Polonia. Sekarang mereka sedang berada di terminal keberangkatan. Masih ada jeda setengah jam sebelum pesawat lepas landas. Adan hanya mengangguk mengiyakan. Dia sudah terbiasa dengan perhatian detail yang super extra dari kekasihnya itu. “Dan ingat, matanya jangan ke mana-mana. Jelalatan gak jelas ngeliatin cowok-cowok Jakarta.” Yang ini dari mulut Adrian lagi. Sangat over protektif. Si Adan malah tersenyum saja menanggapinya.

“Mataku sudah buta, Beibs. Buta oleh cintamu. Jadi kamu gak perlu khawatir deh.” Adan lebay pangkat dua, membuat Adrian jadi memutar kedua bola matanya.

“Ini serius, gak pake bercanda. Aku gak mau dengar kabar sampai ke telingaku kalau Bang Adan selingkuh di sana. Awas saja, pintu kontrakan akan tertutup selamanya buatmu,” sedikit nada mengancam dari Adrian.

Oh, ya. Semenjak mereka pacaran, Adrian mulai memanggil Adan dengan tambahan ‘Bang’ di depannya menjadi Bang Adan. Katanya karena dia lebih muda setahun daripada kekasihnya itu. Meskipun menurut Adan itu kayak panggilan tukang becak. Tapi tak apalah, asal Adrian senang, dia rela panggilannya disejajarkan dengan tukang becak.

Sweetheart, tenang saja. Mataku gak bakalan sorot sana sorot sini. Aku akan fokus ke pekerjaanku saja di sana nanti. Aku janji.” Adan membentuk huruf  V dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. “Tapi berikan dulu aku ciuman perpisahan sebelum berangkat.” Jari tengahnya kini menutup dan tersisa jari telunjuknya yang telah menunjuk ke bibir Adrian.

“Kamu sudah gila, Bang? Ini bandara. Tempat umum. Kalau Bandara ini milik nenekmu, dari tadi sudah aku berikan ciuman itu. Gak perlu diminta juga.”

Tawa Adan hampir meledak mendengar kalimat barusan meluncur dari bibir Adrian, Sekarang dia malah makin duduk merapat ke sisi kekasihnya, “Yah, kalau gitu anggap saja nenekku pernah berinvestasi di Bandara ini. Oh, come on Sweetheart. Just one kiss, sebelum berpisah.”

“Hhhh…  Nasib punya pacar saraf kayak kamu.” Ekor mata Adrian mengarah ke wajah Adan,  “Bandara ini tak  menyediakan ruangan untuk Just one kiss–mu itu, Bang. Jadi jangan mulai gak wa…”

Belum selesai Adrian mengucapkan  kata ‘waras’, satu ciuman singkat dan cepat dari bibir Adan mendarat di pipinya, “Mmmh.. pipimu terlalu menarik untuk diabaikan, Dear… Ya, udah. Aku masuk ke pesawat sekarang. Jaga dirimu baik-baik. Ingat untuk selalu komunikasi via ‘skype’ setiap malam, dan terakhir…. I love you, I miss you. Really-really I do.”

“Dasar saraf!! Gak tau malu, diliatin orang gimana ntar.” Adrian sibuk menoleh ke arah kanan, kiri, dan depan. Setelah memastikan tak ada yang melihat adegan super cepat tadi, dia langsung mencapit pipi Adan dengan tangannya. “Nih, aku kembalikan ciumanmu.” Sedang dalam hatinya melanjutkan, “I love you too, Pria mesum..”

Dan pesawat pun memanggil para penumpang……

***

See? Mereka couple yang romantis, bukan? Juga pasangan yang aneh. Mereka saling mencintai satu sama lain. Mencintai setiap kekurangan dan kelebihan masing-masing, meskipun untuk cinta yang dijalani adalah cinta tak biasa yang tak akan pernah dapat restu dari Sang Maha Kuasa.

Mereka tidak tau apa yang akan terjadi dua minggu ke depan selama berpisah. Jarak adalah candu keparat yang akan mengobrak-abrik para pecinta. Cara menyiksanya adalah dengan tusukan jeda satu demi satu demi satu sepanjang waktu. Saat itulah, cinta menjadi tidak ada apa-apanya.

Di depan sana, sebuah ujian cinta sudah menunggu…

Lama-lama doa tumpah

Dari jeda detik dalam detak kita

Sudah aku bisikkan tiap senja

Agar sekali saja jarak mau mengalah tak lagi meraja

Sudah berkali pagi, berulang senja, beratus malam,

Aku mencintai sepanjang jengkal antara dada

Namun aku masih perlu tatap mata

Kita bertemu setiap hari, hanya saja wajahmu kini lebih terlihat serupa aksara

Aku tidak peduli pantas tidaknya aku dan kamu disebut kita

Meski jarak mematikan nyata

Senyumku pada jarak di sela jemari kita

Adalah jeritan rindu paling lara selama aku rebah di dipan dadamu

Sejak merindu jadi nafas, jeda jadi lebih jalang dari cinta

Aku jadi terbiasa mendetak sendiri hingga kamu tiba nanti

Sesungguhnya aku lebih memilih mencintaimu lewat belaian daripada untaian

namun barangkali Tuhan ajarkan kita cara menghargai pertemuan

Jarak memang candu, dan naifnya, kita menjahit jarak dengan rindu

Tidak berhenti, meski pilu mengoyak hati beku

Jarak,

jeda,

Dan sela

Akan selalu ada

Itu cara Tuhan mengisi kita dengan doa dan asa

Entah itu akan sejauh apa

Dan seberat apa

Serta sekuat apa…{*}

***

Satu minggu kemudian…..

Senin pukul 5 sore. Adrian sekarang telah selesai dengan pekerjaannya melayani para nasabah di Bank tempat dia bekerja. Biasanya dengan sangat semangat dia langsung pulang ke kontrakan. Tapi hari ini agak beda. Adan sedang tidak di sini, tidak di kota Medan ini bahkan tidak di pulau Sumatera ini. Kontrakan tidak menyenangkan lagi untuknya sekarang. Jadi dia sengaja memilih berlama-lama di kantor untuk mengusir sepinya sore, tak tau mau ke mana lagi.

‘Haaaaah…! Melamun terus seperti ini bikin ngantuk,’ fikirnya.

Dia di pantry kantor sekarang. Menyeduh kopi. “Rasa kantukku akan semakin menjadi kalau tidak diatasi dengan kopi,” gumamnya pelan.

“Tumben bikin kopi, Dri? Ngantuk?” seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Refleks Adrian berbalik. Jarak orang itu terlalu dekat dengannya. Kopi yang sedang dipegang sedikit tumpah ke baju si pria tersebut.

Namanya Septian. 23 tahun. Teman sekantornya Adrian. Adrian biasa memanggil pria itu dengan Ian. Bukan tanpa alasan. Kalau dia memanggil nama depannya, Sep, auranya bakal seperti di pedesaan. Orang-orang pasti  bakal menarik kesimpulan kalau namanya Asep. Dan lagi, memanggilnya dengan Ian lebih keren dari pada Sep. Di Kantor, mereka berdua bersahabat dekat. Tidak ada yang tertutupi. Benar-benar tidak ada yang tertutupi, termasuk masalah orientasi seksual.

“Uppss… sorry, Ian. Gak sengaja,” ujar Adrian.

“Wah, parah kamu, Dri. Basah nih bajuku.” Septian mengibas-ngibaskan tangannya, mengusap bajunya yang ketumpahan sedikit kopi itu.

“Kan tadi udah bilang sorry, Ian. Gak sengaja. Lagian kamu ngagetin tadi,” tandas Adrian sambil membantu membersihkan tumpahan kopi di baju Septian dengan sapu tangannya.

“Gimana, nih. Aku gak bawa baju ganti. Rumahku jauh, Dri.”

“Ya, maaf. Ya udah, gak usah ribet, deh. Kalau gitu pake bajuku aja. Kita ke kontrakan sekarang. Mumpung belum maghrib. Kontrakanku kan dekat dari sini.”

Klise. Tumpahan kopi, pinjaman baju dan pulang ke kontrakan bersama. Sebuah adegan standard yang membawa jurang kesempatan kini semakin terbuka.

***

Di salah satu sudut kota Jakarta…..

“Gimana, Dan? Asik, kan? Aku sudah bilang kalau kau suntuk, calling aku saja. Nah, sekarang benar, kan? Saran aku efektif juga.” John tersenyum. Tadi dia mengajak Adan untuk refreshing setelah meeting. Cukup aneh, refreshing yang dia tawarkan adalah berenang.

Okey, itu tidak aneh. Yang membuat aneh adalah berenang di kolam renang pribadi milik John di rumahnya.

John adalah Karyawan PT. Telkom Cabang Jakarta. Dia perwakilan Cabang Jakarta untuk meeting bersama. Dia termasuk pria yang ramah, sopan dan tentu saja tampan. Setelah meeting tadi dia sedikit berbasa-basi dengan mengajak Adan untuk berenang di rumahnya.

“Aku memang membutuhkan ini. Berkutat dengan pekerjaan terus membuatku benar-benar penat.” Jawab Adan yang telah meloloskan baju dan celana dari tubuhnya. Kini dia tinggal berbalut celana dalam saja, bersiap-siap melompat ke dalam kolam berenang dan…

Byurrr…!!!

Adan sedang berenang. Mempraktekkan berbagai gaya renang yang dia kuasai. Dia cukup mahir dalam hal mengapung di air. John yang sedang duduk di salah satu sisi kolam renang kini memperhatikan teman barunya itu.

“Gila! Cekatan amat berenangnya, udah kayak perenang kelas dunia saja. Belajar renang di mana?”

“Ah, Kamu berlebihan. Ini biasa aja. Dulu waktu SMU aku pernah ikutan Ekskul renang di sekolahku di Medan.” Jawab Adan ketika telah mencapai sisi kolam tempat John duduk. Dia pun ikut menaikkan bokongnya ke atas, duduk di samping John. Hanya tinggal kaki mereka yang terendam air kolam renang.

“Aku juga hebat. Aku punya ide, gimana kalau kita taruhan?” John menoleh ke sisi kirinya, “Yang sampai duluan berenang ke ujung sana, dia yang menang dan yang kalah harus nurutin satu permintaan yang menang, berani gak?”

“Oh, great! Aku sudah membayangkan kamu akan kalah dan jadi guide gratisan buatku menunjukkan tempat-tempat indah di Jakarta ini,  I can`t wait for It.”

Lagi, adegan standard yang membawa jurang kesempatan juga terbuka di sini…

***

“Sepi amat kontrakanmu, Dri? Mas Ramadan mana?” tanya Septian begitu mereka sampai dan masuk ke dalam rumah kontrakan. Mereka di ruang tamu sekarang.

Meeting di Jakarta.” Jawab Adrian, “Hhh.. kontrakan ini jadi sepi. Makanya tadi aku sengaja berlama-lama di kantor. Pulang ke rumah sama saja. Tak ada orang,” lanjutnya.  Septian hanya ber “O” panjang.

“Eh, mana bajunya. Keburu maghrib ntar.”

“Aku ambil ke kamar dulu, kamu tunggu di sini.” Adrian bergegas menuju kamar. Membuka lemari dan mengambil satu baju kaosnya, lalu kembali lagi ke ruang tamu. “Nih, pake ini aja dulu”

Di luar sana, awan mulai mengumpulkan uap-uap air, dan hujan pun mulai menunjukkan dirinya.

“Hujan, Dri. Nampaknya alam tak mengizinkanku pulang sekarang,” ujar septian sambil mengganti baju kerjanya dengan baju pinjaman Adrian.

“Ya udah, tunggu aja sampai reda. Sebentar aku buatkan teh hangat di dapur, hujannya lebat sekali, kufikir secangkir teh cukup menghangatkan.” Adrian hendak bangkit menuju dapur, namun…

“Tak perlu.” Septian menarik tangan Adrian, “Menyelesaikan dingin ini tak perlu dengan teh, ada cara lain.” Septian menarik tubuh Adrian merapat ke tubuhnya. “Cara klasik, seperti yang biasa kamu lakukan dengan Mas Ramadan-mu,”

Mmmpphh….

Septian mencium Adrian.

Kalian pasti berfikir adegan selanjutnya adalah bercumbu, saling mengulum, menjilat dan ber ‘oh yes oh no’ atau ‘give me more…’ atau ‘faster… yeah.. faster…’ atau ‘Oh my god, I`m coming…’ di ruang tamu dengan kesempatan yang ada sekarang, kan?

Tidak! Adrian adalah tipe kekasih yang sangat setia. Diperlakukan seperti itu oleh seseorang yang bukan kekasihnya, dia mendorong Septian cukup kuat. Kalau bukan dinding di belakang yang menahannya, pasti temannya Adrian yang mesum itu sudah jatuh tersungkur sekarang.

“Cukup… kamu fikir dengan tidak adanya Bang Ramadan di sini aku bakal mengambil kesempatan untuk bermesraan dengan orang lain? Kamu salah… Jadi jangan coba-coba melakukan itu… Dan sekarang, aku harap kamu pulang saat ini juga! Aku tak perduli di luar sana hujan bahkan badai sekalipun. Sekarang kamu pulang!” Adrian melangkah ke ambang pintu. Dibukanya pintu lebar-lebar.

“Maaf, Dri.. aku salah, aku …”

“Pulang sekarang!”

***

Jakarta, Sore hari…..

Pria muda itu akhirnya bangun juga dari tidurnya. Dia menggeliat, merenggangkan otot-otot tubuhnya. Perlahan, detail erotis yang terjadi antara dirinya dan teman meetingnya dari Medan bermunculan di otaknya. John tersenyum mengingatnya.

‘Sudahlah, aku tau kau gay, Ramadan. Jadi nikmati saja…’

‘Tapi, John.. gimana kamu tahu kalau…’

‘Sssst…. aku tau mana cowok yang gay cuma dengan ngeliat tatapan matanya. So, just relaks and enjoy it, aku tau kau bakal suka ini.’

Kecupan-kecupan seluruh tubuh, ciuman, saling menggesek, mengulum, dan tentu saja, penetrasi… hingga teman meeting-nya dari Medan itu menegang di dalam dirinya. Dan akhirnya mereka berdua tertidur.

Sekedar mengingatkan, dua jam yang lalu mereka mengadakan taruhan berenang, siapa yang kalah harus nurutin permintaan yang menang. John menang atas taruhan itu. Klasik, sesuai dengan rencananya. Permintaannya atas kemenangannya tadi adalah Making Love alias em-el. Mulanya Adan menolak, tapi setelah sedikit pemaksaan dan terbawa suasana, mereka melakukannya, tanpa dipaksa lagi.

Senyumnya makin mengembang mengingat kejadian tadi. John meraba sisi sebelah tidurnya, tak ada Adan! Dia menoleh ke samping, tapi temannya itu tidak lagi di tempat tidurnya, yang ada hanya secarik kertas di atas buffet.

‘John, maaf untuk yang telah terjadi tadi. Aku fikir kamu terlalu bernafsu atau aku yang memang sedang kesepian. Otak kita sedang tidak beres. Aku tak akan menyalahkanmu atas rencana sialanmu itu untuk bercinta denganku, aku tau itu, karena aku juga menikmatinya. Tapi, ketika bangun, aku teringat kotaku.

Di kotaku, ada seseorang yang setia menungguku di sana, Adrian. Dia adalah pacarku. Dan kamu benar, aku adalah seorang gay. Sekali lagi aku minta maaf, dan aku harap hubungan kita hanya sebatas hubungan professional kerja.’

Ramadan.

Sedikit, perasaan sesal menusuk ulu hati lelaki muda itu, sesal untuk teman meetingnya, dan sesal untuk kisahnya sendiri. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kertas itu diremasnya, masih di dalam genggaman hingga dia menuju dapur untuk membuka kulkasnya.

***

1 minggu kemudian…..

Sweetheart. Aku pulang!” Adan berteriak dari depan pintu. Suaranya memecahkan dua minggu kesunyian di kontrakannya. Bantal gulingnya Adrian sudah pulang. Sepertinya malam mereka takkan dingin lagi.

Honey, where are you?” ujarnya sok kebaratan. Matanya mengitari isi rumah. Sudah pasti mencari Sweetheart-nya. Adan menjelajah rumah. Dia tidak menemukan Adrian di ruang tamu dan di kamar.

Dan saat membuka pintu dapur….

JEZZZZZZZ……..

Dari atas pintu dapur jatuh ember berisikan bubuk kopi. Si Adan menjadi berkulit coklat sekarang. Sedangkan Adrian yang berada di depannya tertawa terbahak-bahak.

SWEETHEART…!!!!!! Apa-apaan ini?”

“Rasain! itu akibatnya kalau lupa dengan hari ini.” Adrian masih cekikikan. Lihat saja tampilan Bang Adan nya itu. Eksekutif muda berbalut bubuk kopi.

“Memangnya ini hari apa? Jum’at, kan? So?”

“Kamu gak ingat, Bang?” Tawa Adrian terhenti. Tidak ingatkah Dia kalau hari ini adalah tepat setahun mereka bersama di kontrakan ini?. Oh, Adan. Tolong jangan katakan kalau itu benar.

“Pejam matamu,” perintah Adan. Tubuhnya mendekat kepada kekasihnya itu.

Satu kecupan bibir berbubuk kopi mendarat di bibir Adrian, “Mmmhh… Ciuman pertama untuk setahun kebersamaan kita di kontrakan ini, Dri.” Dia melepas pagutan bibirnya dari bibir Adrian.

Adrian mengecap-ngecap lidahnya sendiri, “Ciumannya rasa bubuk kopi.”

“Aku mau membuat pengakuan. Sebelumnya aku mau minta maaf, Dri, ketika meeting di Jakarta aku telah ….”

“Ssssttt…” Adrian menutup mulut Adan dengan jari telunjuknya, “Jangan bahas apa-apa dulu, Bisakah aku dapat ciuman sekali lagi? Yang tadi terlalu singkat untuk kunikmati”

“Tapi, Dri… ini serius. Aku mau mengatakan kalau aku…”

“Ssst… Diamlah dan cium aku. Acara pengakuannya nanti saja, rinduku sudah berada di puncak ubun-ubun sekarang. Beri aku satu ciuman panas.”

“Hhh.. Baiklah, tapi setelah ini kita akan bicara serius.”

“Ya, Bisakah kamu beraksi sekarang? Dan jangan bicara apa-apa lagi.”

Mereka berdua melepas rindu dengan ciuman panas. Oh, tidak. Bahkan lebih. Dengan cara yang berderak-derak. Ranjang tua itu kini telah terisi oleh dua pecinta dengan cinta tak biasa. Setelah itu, rasanya pengakuan super khilaf tingkat dewa pun tak bisa membuat mereka berpisah.

***

Sajak tak sanggup menghalau jarak

Puisi tak mampu mengisi jarak

Lalu, adakah Tuhan mempermainkan dua hati,

atau kita yang tak tahu diri?

Aku, kamu, dan cinta,

kan terus bergulat dengan rindu,

jarak, dan jeda

adalah pencobaan untuk cinta… {*}

[True story dengan pengubahan di dua bagian seperlunya]

{*} Puisi oleh: Daniel Prasetyo

 

Fragmen 4

FORGIVEN

Oleh : Nayaka Al Gibran

—————–

Tak dapat dipungkiri, ada lubang yang mendadak muncul membuat perih hatinya seiring dengan kepergian cintanya. Namun ia tahu, ada hati yang lebih perih lagi ketimbang hatinya.

—————–

DANUAR ANDALUSSIA menghenyakkan bokongnya di kursi teras rumah kekasihnya setelah berhasil memanjat pagar. Kepenatan membuatnya urung melajukan mobil langsung menuju rumah tetapi membelokkan setir ke jalan yang menuju kediaman orang terkasih yang lebih dekat jaraknya dari tempatnya bekerja. Malangnya, si empunya rumah tidak sedang berada di tempat sehingga tak ada yang bisa membukakan pintu pagar untuk mobilnya. Kepalang tanggung, ia memanjat pintu pagar sambil berharap tak ada tetangga sekitar yang meneriakkan maling.

Maka di sinilah ia sekarang, duduk menyandar hingga nyaris bersatu dengan kursi, menunggu kepulangan orang tercinta. Diliriknya arloji di lengan kiri, pukul dua puluh lewat lima belas menit. Apa sebaiknya aku menelepon saja?

Tepat ketika Danuar merogoh saku untuk mengambil ponselnya, sinar lampu mobil menyorot dari arah pintu pagar. Danuar bangun dan berjalan menuju gerbang. Dari celah-celah pintu pagar ia dapat melihat John berjalan mendekati gerbang.

“Kenapa tidak menelepon dulu?” John bertanya sambil membuka gerendel pintu pagar.

“Apa ruginya sih menggaji seorang pembantu?” bukannya menjawab, Danuar malah kembali menyuarakan pertanyaan yang sama kepada kekasihnya.

Seperti biasa, John hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Danuar yang dianggapnya angin lalu. “Kenapa? Ada yang neriakin maling kali ini?” kalimat ini juga sering diucapkan.

“Aku bosan manjat pagar…”

“Kau kan bisa duduk di mobil, menunggu…”

Danuar diam, percuma melanjutkan percakapan. Anak itu punya seribu jawaban untuk mementahkannya. Dia masuk ke mobil dan melaju ke halaman memberi jalan bagi mobil kekasihnya menuju garasi.

“Bagaimana meetingnya?”

“Hari terakhir yang melelahkan. Tapi… akhirnya selesai dengan lancar.” John mendorong daun pintu setelah berkutat dengan lubang kunci, “How was your day? Klienmu ramai hari ini?” ia menekan saklar, ruang depan rumahnya terang benderang, begitu juga teras. Danuar diam tak menjawab, membuat kekasihnya berhenti berjalan menuju kamar dan menoleh, “Ada masalah di klinik?”

Danuar duduk sofa, “Seorang ibu membawa putranya yang gay berkonsultasi padaku…”

“Wow…” John urung menuju kamar, ia memilih duduk di sofa, di samping Danuar.

“Itu sudah dua hari lalu, tapi aku masih memikirkannya hingga sekarang.” Danuar menghela napas, “Aku tak bisa melupakan tangis mamanya, itu adalah kekecewaan terbesarnya. Dia memintaku menyembuhkan putranya, tapi apa yang bisa kulakukan?” Danuar menutup wajah dengan kedua tangan, naik ke kepalanya dengan gerakan khas orang frustrasi. “Aku sendiri begini, John… aku sendiri pernah melihat kekecewaan yang sama pada Mama… rasanya… rasanya… bagai merenggut harapan hidup seseorang, wanita itu menaruh demikian besar harapan pada putranya…”

John memegang pundak kekasihnya. “Itu bukan salahmu, Nu… tak ada yang bisa kau lakukan.”

“Aku memintanya menerima keadaan putranya… seharusnya aku tidak mengatakan itu, John… seharusnya aku diam saja.”

“Tidak, Nu. Kau mengatakan apa yang harus kau katakan. Anggap saja begitu…”

“Kau tidak melihat emosi wanita itu…”

“Ya, aku memang tak melihat. Tapi, ya ampun, Nu… itu bukan salahmu!” John menepuk pundak kekasihnya. “Forget it, okey… itu bukan masalahmu lagi.” John bangun dari sofa, “Kau sudah mandi?”

Danuar tahu kemana permbicaraan ini akan berakhir, dan ia sedang tidak ingin. “Aku akan mandi setelahmu.”

John mengangguk mengerti, “Apa kau berencana menginap?” tanyanya sambil membuka kancing kemeja.

“Belum tahu.”

John mengangkat bahu lalu berjalan meninggalkan ruang depan, tapi setengah jalan ia berbalik. “Kupikir, aku akan berenang saja…”

“Masih tidak tertarik, maaf…”

John tertawa, “Sial… sia-sia saja.”

Di tempat duduknya, Danuar hanya mengibaskan tangan.

*

Hubungan mereka sudah memasuki tahun kedua. Terpaut usia nyaris empat tahun tidak menimbulkan ketimpangan di antara keduanya. Danuar lebih tua dari John. Pertemuan tak sengaja di sebuah pementasan teater dua tahun lalu berlanjut pada obrolan singkat di coffee shop setelah pementasan selesai. Acara minum kopi sebagai permintaan maaf karena John menumpahkan latte yang dipegang Danuar saat tergesa-gesa di lobi gedung teater hingga menabrak. Sebenarnya, kontak mereka hanya sampai di lobi saja jika takdir tidak memainkan perannya malam itu. Kursi mereka bersebelahan.

Oh, ayolah… anggap ini permintaan maafku karena menumpahkan kopimu tadi, hanya acara minum kopi biasa, tak jauh dari sini, aku janji tak akan menyita waktumu lebih lama lagi, begitu John mengajak ketika layar pentas diturunkan.

Dan siapa sangka, acara minum kopi malam itu yang berakhir dengan saling bertukar nomor kontak berlanjut pada banyak pertemuan minum kopi di malam-malam berikutnya hingga mereka membuka jati diri satu sama lain. Cinta pun menemukan jalannya. Danuar jatuh hati pada pria muda blasteran itu, kakek buyut John adalah warga Australia. Meski tak banyak, darah kakek buyutnya ikut mengalir dalam dirinya. Setidaknya, John punya rambut yang tidak berwarna hitam kelam. Begitu pula yang terjadi pada John, ia takluk pada kharisma yang dimiliki Danuar, lelaki dewasa yang sudah matang dari segala sisi, mapan dan bertanggung jawab. Terlebih lagi, John menganggap luar biasa punya pacar seorang pria lulusan sekolah jiwa.

*

Danuar membetulkan letak kacamatanya yang melorot. Sudah sepuluh menit sejak John pergi ke kolam renang di sisi kiri rumah. Lelah dengan pikirannya sendiri, mendadak ia merasa lapar. Danuar meninggalkan sofa, menuju tempat John berada.

“Apa kau masih lama?”

“Oh, kau berubah pikiran?” John keluar dari air, duduk menjuntai di pinggir kolam, dengan genit ia mengedipkan mata pada Danuar. “Kapan ya terakhir kali kita berciuman di sini?”

Danuar jengah, mau tidak mau wajahnya memanas. “Aku lapar, kalau sudah selesai mungkin kita bisa keluar makan,” ujarnya sambil berusaha keras tidak memikirkan ketelanjangan John terlalu lama.

“Hemm, lima menit lagi ya. pergilah ke dapur, aku ingat masih menyimpan cake beku di kulkas. Ganjal pakai itu dulu sementara aku bersiap.” John kembali menceburkan diri ke kolam.

Danuar patuh. Ditinggalkannya John untuk kemudian menuju dapur. Ruangan itu berada dalam keadaan gelap sampai Danuar menekan saklar. Meski tak pernah dipakai, tapi peralatan di dapur John lengkap selengkap-lengkapnya. Satu kali dulu Danuar pernah ingin memfungsikan dapur ini, untuk menggunakannya bila kapan-kapan ia menginap.

Tak ada yang mengawasi, Nu… aku khawatir gasnya meledak. Demikian jawaban John tika itu, dan Danuar mengalah.

Danuar menuju kulkas tinggi di satu sisi dan membukanya. Seperti yang dikatakan John, ia menemukan kotak kemas cake di satu rak kulkas. Matanya tertarik dengan kaleng cola. Ia lebih dulu mengambil kaleng minumnya dan masih dengan posisi sedikit membungkuk diletakkannya kaleng cola itu di atas kulkas, baru kemudian ia mengeluarkan kotak cake. Danuar mendorong pintu kulkas dengan lututnya, memegang kotak cake dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri menjangkau kaleng colanya di atas kulkas.

Segumpalan kertas menggelinding jatuh dari atas kulkas ketika Danuar menjangkau kaleng cola dengan tangan kirinya. Ia berusaha tak peduli dan melanjutkan membawa camilannya ke meja di dapur, tapi kertas yang menggeletak berdekatan dengan satu kaki kursi seakan menyita perhatian.

Menunda membuka kotak cake, Danuar berjongkok untuk memungut kertas berupa gumpalan kecil itu. Ia membukanya hingga berganti bentuk menjadi persegi.

*

“Siapa Ramadan?!”

John tersentak kaget di pinggir kolam, ia baru saja selesai. Handuk masih di tangan, ia baru ingin mengeringkan wajahnya ketika Danuar menyerbu dengan secarik kertas lusuh di tangan. Dalam remang lampu, John jelas melihat wajah Danuar yang mengelam. Lelaki itu sedang dalam keadaan menahan amarah luar biasa dahsyat.

John memucat.

“Siapa Ramadan?!” Danuar mengulang tanya dengan kalimat dan nada yang sama.

“Nu, aku…”

DAMN, JOHN… SIAPA BANGSAT ITU!!!” Danuar tak bisa menahan murka. Kertas ditangannya diremas kembali dan dibanting ke ubin. Giginya bergemetukan.

“Nu, aku bisa jelasin semuanya…” kalimat klise yang akan keluar dari mulut siapapun ketika kepergok menyeleweng, seharusnya John lebih pintar untuk tidak menggunakan kalimat itu sebagai kata-kata awal untuk menjelaskan kesalahannya.

“Keparat, John… seharusnya aku sadar sejak lama kalau kau memang bajingan yang tak tahu arti setia.”

John tergesa-gesa melilitkan handuk ke pinggangnya dan mengejar Danuar yang sudah berbalik menuju ruang depan.

“Nu, dengerin aku dulu… sungguh aku menyesal melakukannya. Itu terjadi di luar kendaliku… aku mengaku salah. Tapi tolong jangan pergi…”

John berhasil mencegat Danuar sebelum pria itu menuruni undakan teras. Tapi itu adalah tindakan yang salah. Tepat ketika lengan Danuar berhasil dicekalnya, tinju keras bersarang telak di rahangnya.

John terhuyung hingga nyaris jatuh andai tidak berhasil menjangkau daun pintu. Cekalannya di lengan Danuar sudah terlepas dari tadi saat pria itu berbalik untuk kemudian melampiaskan kepedihan hatinya. “Aku selesai dengan lelaki brengsek macammu!” Danuar bebalik.

John sadar ia diambang kehilangan Danuar. Menahan sakit di wajahnya, ia berusaha satu kali lagi. Lengan Danuar kembali disambarnya, “Nu, please…”

PLAK

Setelah tadi tinju, maka kini tamparan. Danuar merasakan telapak tangannya perih, entah bagaimana sakit di wajah John, ia tak peduli. “Jangan buat aku lebih murka lagi, Sialan!”

John sadar ia sudah tak punya kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Danuar. Ia hanya bisa termangu dengan rasa perih di wajah ketika mobil Danuar meninggalkan halamannya. Tak dapat dipungkiri, ada lubang yang mendadak muncul membuat perih hatinya seiring dengan kepergian cintanya. Namun ia tahu, ada hati yang lebih perih lagi ketimbang hatinya. Itu adalah hati Danuar…

***

Akhir pekan yang dingin.

Cuaca mendung sejak pagi, semburat merah matahari bahkan tak tampak saat pergantian malam dan siang. Meski demikian hari tetap saja berganti. Awan kelabu menutupi langit Jakarta, beberapa wilayah pasti sudah diguyur hujan.

Danuar menyesap kopi paginya di beranda sambil membaca surat kabar. Akhir pekan adalah hari santainya. Sabtu dan Minggu. Biasanya ia akan pergi ke suatu tempat, menghabiskan waktu bersama John. Ke pantai dan menikmati makanan laut, karaokean sampai lupa waktu, mengunjungi bioskop bila ada new release dan baru akan pulang setelah tak ada film menarik lagi di studio-studio di sana, mereka sama-sama gila nonton, persamaan yang dulu mempertemukan mereka. Ketika menonton teater. Sesekali mereka juga menghamburkan uang di mallmall bergengsi di Jakarta, singkatnya, banyak yang bisa mereka lakukan bersama di akhir pekan.

Namun akhir pekan ini rasanya begitu canggung.

*

John sangat berantakan. Kamarnya santer bau alkohol. Cukup semalam saja Danuar mengacuhkannya maka hasilnya sungguh mengerikan bagi pria muda itu. Matanya cekung, rambut coklatnya acak-acakan. Kondisi kamar itu sama berantakan dengan si empunya-nya.

Kertas-kertas kerja berserakan di segala penjuru. Bantal dan guling tidak berada di atas ranjang, melainkan terdampar dalam kondisi menyedihkan di lantai, lecek dan kucel. Sedikitnya tiga botol yang tadinya berisi minuman alkohol juga ikut mengotori lantai kamar, lampu tidur berada dalam keadaan berbaring bukan lagi berdiri, lampu tidur yang tidur. Laci buffetnya tidak lagi berada di ceruk seharusnya, laci dan isinya berserakan juga di lantai. Jelas sekali kalau John mengamuk dahsyat dan melampiaskan kekesalannya pada barang-barang di kamarnya, kekesalannya pada diri sendiri. Di satu sudut lantai, ponselnya berada dalam keadaan tak lagi utuh, ia membanting benda itu semalam saat Danuar tidak menjawab panggilannya satu kali pun.

Malangnya.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Andai ia mampu menahan diri hari itu, andai ia tidak menawarkan teman meetingnya untuk mampir, andai ia cukup sadar bahwa tindakan itu salah, andai ia memikirkan Danuar sekejap saja sebelum membukakan pintu rumahnya dan mempersilakan teman meetingnya itu masuk, andai ia bukan bajingan seperti yang dituduhkan Danuar… semuanya pasti akan baik-baik saja.

Dengan kepala pusing, pria muda itu berjalan tersaruk-saruk ke kamar mandi.

*

Danuar merutuk sendiri, mobilnya bagai merangkak. Jakarta memang tidak benar-benar disebut Jakarta jika bebas macet. Apalagi akhir pekan seperti ini. Tapi seharusnya cuaca mendung bisa membendung orang-orang untuk tetap berada di rumah, tidak berkeliaran dengan mobil-mobil mereka. Ayolah, Danuar… hentikan pemikiran konyol itu.

Dengan hati dongkol ia duduk di joknya sambil mengetuk-ngetukkan jari di kemudi. Diliriknya ponsel di dasbor, tak ada lagi panggilan dari John. Akhirnya bedebah itu menyerah juga, pikirnya. Rasa marah dan kecewa masih mendominasi suasana hati Danuar, ia tak mau repot-repot mengenang masa-masa indahnya bersama John. Baginya semua sudah berakhir.

Life must go on. Demikian perenungannya saat menyesap kopi tadi pagi. Maka di sinilah ia sekarang, melanjutkan hidupnya. Agendanya hari ini: belanja sepuas-puasnya. Terakhir kali ia mengunjungi mall sendirian itu sudah sangat lama. Biasanya ia selalu dengan John.

Tuk tuk tuk

Perhatian Danuar tersita pada kaca pintu mobilnya, seorang remaja laki-laki dengan seragam SMA berdiri di sisi mobilnya yang sudah merayap dari tadi, setangkai mawar merah tergenggam di tangan kanan sedang beberapa sisanya tampak membundel di tangan kiri. Danuar baru sadar dengan keadaan, di depan sana beberapa siswa-siswi berseragam SMA juga tampak berdiri di sisi mobil-mobil, mawar merah dimana-mana. Danuar menurunkan kaca mobil.

“Pagi, Om…”

Ternyata aku sudah cukup tua untuk dipanggil Om.

Tapi kemudian remaja SMA itu meralat, “Eh, pagi, Mas…”

Danuar tersenyum, “Selamat pagi, hari apa ini?”

“Bukan hari besar kok, Mas… ini hanya agenda kerja OSIS kami. Menyampaikan pesan bagi sesama untuk membuat bumi jadi tempat tinggal yang lebih baik, lewat beberapa pesan tentunya. Silakan Mas…”

Danuar menerima mawar merah yang diulurkan si remaja SMA.

“Pesannya ada di kartu tuh, Mas…” remaja itu menunjuk tangkai mawar, tampang meringis terlihat dari wajahnya ketika tangan kanannya tak sengaja menabrak tepi kaca mobil, tapi lalu ia tersenyum, “selamat beraktivitas, Mas. Semoga akhir pekannya menyenangkan…”

“Kamu juga… trims mawarnya…”

“Dean… buruan, masih banyak nih!”

Danuar menoleh lebih ke belakang. Sepuluh meter dari mobilnya, seorang siswa SMA lain tampak berdiri di trotoar, mawa-mawar juga berada di tangannya. Danuar merasa pernah melihat siswa SMA itu, tapi entah di mana.

“Sip!” siswa SMA yang baru saja memberi mawar kepada Danuar menoleh sekilas ke temannya sambil mengangkat sebelah lengannya. “Selamat hari Sabtu, Mas… pesannya jangan lupa dibaca.” Setelah memberi senyum simpul buat Danuar, remaja bernama Dean itu berlari kecil menuju temannya di trotoar.

Sayup-sayup Danuar bisa mendengar percakapan mereka yang diselingi tawa. Ia masih memperhatikan dua siswa itu sampai mereka menghilang tertutup mobil-mobil di belakang mobilnya. Ketika dua remaja itu sudah tak tampak lagi, barulah ia ingat di mana pernah melihat remaja yang tadi berdiri di trotoar. Ia adalah putra si wanita yang beberapa hari lalu datang berkonsultasi ke kliniknya. Okan, namanya Okan… tawanya sangat kontras dengan ekspresinya ketika di klinik, apa masalahnya dengan mamanya berakhir akur? Danuar membatin sendiri.

Mobilnya maju satu meter dari posisi sebelumnya. Ia mulai benci kemacetan ini. Dipandangnya mawar di tangan. Sebuah kartu bentuk hati berada dalam keadaan terlipat dan ter-stapless pada pita putih yang tersimpul di pertengahan tangkai. Danuar membuka kartu itu.

‘Bumi tidak akan jadi tempat lebih baik meski ditanami seribu pohon setiap harinya jika kita sebagai salah satu makhluk hidup yang menghuni Bumi masih saling menyimpan dendam… Tak ada manusia yang sempurna, Guys. Semua pasti pernah melakukan kesalahan. Ingin ikut ambil bagian untuk membuat Bumi jadi better place? So, yuk saling memaafkan🙂’

Danuar membaca pesan bergaya anak muda yang diakhiri emo smile itu berkali-kali. Lalu ia tersenyum sendiri. Takdir memang ada-ada saja. apakah ini kebetulan semata? Ia baru saja mendendam dengan John, mereka baru saja mengakhiri hubungan dengan cara tidak baik, dan lihatlah sekarang… pesan begini rupa malah datang padanya. Takdir memang kadang berlaku konyol.

Danuar mulai tertawa di tempat duduknya. Ia terbahak kencang. Jika ada kliennya yang melihat keadaannya sekarang, dijamin mulai esok Senin kliniknya bakal sepi pengunjung.

Baru bermenit kemudian Danuar berhenti tertawa. Ditolehnya ponsel yang masih diam di dasbor. Ia mulai membuka hatinya, mengurai benci dan dendamnya. Jika sepanjang malam tadi ia menahan diri untuk tidak memikirkan masa-masa indahnya bersama John, maka kini ia membiarkan kenangan-kenangan itu membuainya.

Maka setelah hampir setengah jam kemudian mobilnya belum juga terlepas dari kemacetan, Danuar mulai beringas menekan horn. Ketika beberapa mobil di depannya membuka jendela dan pengemudinya mengeluarkan tangan dengan jari tengah mengacung ke udara, ia kembali terbahak kencang.

*

“Hai…”

John berdiri kaku di pintu, ia sama sekali tak menduga bakal menemukan sosok ini ketika membuka pintunya. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana, haruskah menghambur memeluk dan mengiba di dada pria ini untuk memaafkannya? Atau menjelaskan kesalahannya dan menyerahkan keputusan pada si pria, ia amat sangat pantas untuk ditinggalkan. Namun, John gembira menemukan pria ini di pintunya lagi.

“Aku memanjat pagar, lagi…”

John sampai kehilangan kata-katanya.

“Kau tampak berantakan.”

Senyum lemah tersungging di wajah John, lalu ia meringis, lebam di satu sisi wajahnya membuat senyum menjadi kesakitannya.

“Kau melewati malammu dengan alkohol?”

John terdiam.

“Dan pasti kau tidak tidur semalaman. Apa sudah mandi?”

“Aku ke toilet untuk pipis…” John mengerjap, sekarang dia malah jadi cengeng. Alih-alih menyerahkan keputusan pada pria di depannya, ia malah benar-benar mengiba. “Jangan pergi dariku, Nu… jangan pergi dariku…” di tempatnya John mulai menangis.

“Dasar cengeng.” Danuar tersengih, “Aku yang jadi pihak tersakiti di sini, harusnya aku yang menangis…”

John tak peduli, di ambang pintu ia masih menatap Danuar dengan tatap mengiba dan mata basah. Tampangnya makin berantakan dengan menangis demikian.

Danuar mendecak, lalu merentangkan kedua lengannya. “Come here…”

Mereka berpelukan di teras.

“Aku tak akan mengecewakanmu lagi, Nu… tidak akan…” John memeluk Danuar seerat-eratnya. “Aku tak bisa mengendalikan diri saat itu, aku…”

“Bisakah kita tidak membicarakannya lagi? Anggap itu masa lalu, bisa?”

John mengangguk di dada Danuar.

“Maaf karena meninjumu…”

“Aku juga ditampar…”

“Ya, maaf karena meninju dan menamparmu…”

Dan drama kehidupan itu pun berakhir. Memberi maaf memang sulit, tidak banyak mereka yang bisa melakukannnya. Hanya orang-orang berjiwa besar yang bisa. Danuar berjiwa besar, meski pada kasusnya bukan cuma itu yang memperbaiki hubungan mereka. Adalah cinta, yang lebih berperan besar di sana. Ah cinta… kapan dunia tidak bertekuk lutut padanya?

*KAMERA MENGGELAP*

 

Dari kami yang sederhana

RamaNaya