AI LUV JU

Oleh : Riy Aswinsyah Muhibban
26/10/2013 20:45
Kutulis spesial buat pacarku

*********

“Lomba menulis surat cinta?” tanyaku

“Iya, selain buat ngasah kemampuan kita menulis, bisa juga loh buat nyurahin perasaan” pemuda itu menjawab lagi dengan tulisan-tulisannya.

“Tapi kan waktunya udah habis?” aku tiba-tiba ingat bahwa waktu yang diberikan hanya sampai tanggal 13 februari. Dan ini sudah tanggal 23.

“Panitianya memberikan perpanjangan waktu sampai tanggal 25.”

“Kamu bikin?”

“Konsepnya udah ada, kamu juga bikin ya?”
*****

Cerita Kaum Pelangi. Siapa yang tak tau FP ini. Kurasa semua tau walau kebanyakan tangan enggan menekankan jarinya di tombol like. FP ini juga gak seterkenal FP serupa tapi kualitasnya tak kalah menurutku. Ya, FP ini adalah FP paforitku selama mengenal cerita bertema pelangi. Dari sini juga kebahagiaanku berawal. Kisah yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Oya, namaku Adam. Nama yang mewakilkan jenis kelaminku. Gak mungkin kan nama Adam diberikan untuk seorang manusia berdada besar dan tak memiliki ‘pistol’. (?)

Aku mengenalnya lewat fb. Ray. Itu namanya. Bermula dari kekagumanku pada tulisan-tulisannya yang puitis, sifatnya yang kritis. Dia memesonaku dengan sikapnya yang terbuka. Terlebih setelah aku tau bahwa dia adalah seorang pelajar SMA, aku menyukai pemuda belasan memang, beberapa orang bahkan menyebutku seorang fedophil. Karena itu bukanlah sebuah masalah jika elo-gue adalah awal dimana kami saling mengenal, dan mulai dekat.

Dia seorang penulis, dan entah apa penyebabnya dia mencantumkan namaku di bagian akhir tulisannya. Kubaca karyanya yang penuh dengan diksi itu. Lebih dari cukup untuk seorang anak sekolah membuat karya tulis seperti itu. Dia berbakat. Itulah pendapatku setelah membaca karyanya. Penasaran.

Waktu yang merangkak pelan membuat kami semakin dekat walau tak ada rasa yang istimewa. Jujur, aku mengaguminya tapi hatiku telah memilih seseorang kala itu. Seseorang dengan kemahiran menulis yang juga tak kalah darinya. Tapi hatiku tak mau berjuang ketika orang itu bilang tak siap menjalani hubungan jarak jauh.

Aku tak mengapa, hidupku ku habiskan dengan teman-temanku. Bercanda dan mengobrol dengan mereka lewat tulisan. Tahu kan? Susah mendapat teman yang mau menerima keadaan kita yang unik di dunia nyata.

Petunjuk atau bukan, aku tiba-tiba memimpikannya suatu malam. Berbicara beberapa hal di sebuah bangku taman, menghadap air mancur dengan teratai yang berbunga indah di tengah-tengahnya. Aku tak mau lancang, mengira-ngira wajahnya meski hanya dalam mimpi. Aku hanya melihat keindahannya tanpa mengetahui pasti bagaimana wajah dan senyumnya.
*****

“Gue lagi kacau, Bang. Keluarga gue ada masalah” Katanya suatu malam.

“Masalah apa?” Aku mulai bertanya tak sopan. Bukankah semua orang punya privasi masing-masing dalam kehidupan nyatanya. Tapi entahlah. Saat itu aku peduli padanya, ingin menjadi seorang kakak yang baik yang bisa memberikan sedikit ketenangan buatnya.

“Gue gak bisa cerita. Masih terlalu shock”

“Loe bisa cerita ke gue, siapa tau beban loe sedikit berkurang. Itu juga kalo loe percaya sama gue”

Aku tak memaksa. Hanya memberikan sedikit saran agar dia bisa mengurangi bebannya. Hingga akhirnya, entah karena alasan apa, dia bercerita tentang masalahnya walau tak semuanya. Aku mencoba menjadi pendengar yang baik, dan dari situlah kami semakin dekat.
*****

“Punyaku udah dikirim. Tinggal tunggu hasilnya. Semoga besok udah di posting”

“Punyaku belum. Malam ini masih bisa kan?”

“Bisa dong”

“Punyaku paling cuma 1000 karakter”

“Gak papa, suratku juga gak begitu panjang kok” aku geli juga. Membahas ke’punya’an masing-masing seperti membahas hal yang lain “Semangat ya”

“Tapi nanti kamu baca”

“Iya, baca punyaku juga”

Kusudahi chatingku dengannya sementara waktu. Aku ingin menulis sebuah surat. Sebagai penyampai perasaanku. Semoga dia tahu bahwa aku mulai mencintainya walau belum sepenuhnya melupakan orang yang pernah menduduki hatiku.

Sial. Tanganku tak terlalu pandai mengetik. Terlebih otakku tak begitu jalan dengan mulus. Aku menghabiskan waktu lebih dari sejam buat nulis kurang dari 3000 karakter. Pegal. Aku sedikit meregangkan jariku. Sedikit lega ku cek lagi tulisanku. Dan….

“Apa? Suratku..?” aku shock setengah mati. Tulisanku hanya tampil 160 karakter. Kok bisa? Ya Tuhan. Rasanya aku ingin membanting hape-ku saat itu juga. Benda yang kubangga-banggakan diantara teman-temanku ini benar-benar membuat stress malam ini.

“Semangat dong. Jangan menyerah” katanya saat kuadukan itu paca calon kekasihku (?)

Aku tersenyum. “Untukmu manis” kataku dalam hati saat ku putuskan untuk kembali mengulang menulis surat. Ku lirik jam di dinding kamarku. Aku punya waktu satu jam lebih.

Benar-benar berat, antara kebiasaan salah ketik dengan keterburu-buruan menyelesaikannya sebelum waktu habis, aku berusaha menyelesaikan suratku. Jam 23:44. Segera ku klik ‘kirim’ di bawah tulisanku. Tak ku cek lagi karena takut akan hilang lagi dan tak ada waktu buat menulis ulang.

SURAT CKP/ADAM/BERI AKU JAWABAN

Buat R

Aku bingung kalimat apa yang harus kutulis untuk mengawali suratku ini, tapi biarlah, karena bagiku keindahan itu adalah kamu.

Apa kamu sedikit bingung untuk apa aku menulis dan mengirimkan surat ini padamu? kuharap iya, sehingga setidaknya ada sedikit saja rasa penasaran dalam hatimu untuk membacanya hingga akhir dan kau memahami maksudku.

Mulutku rasanya terkunci, segala kata yang telah kususun berantakan begitu saja di mulutku saat kucoba bicara, tapi hatiku tak mau kompromi, ia tetap memaksa agar aku mengungkapkan kejujuran ini. Karenanya, dengan segenap keberanian yang bodoh dan tak tau malu, kukirimkan surat ini padamu, untuk mewakili lidahku mengatakan segala rasa yang terlanjur menyesaki hatiku dan tak bisa diucapkannya.

Aku tak tau, kapan dan kenapa perasaan ini menjejal di jiwaku, aku juga tak mengerti betapa sulit menepis kehadiranmu di hidupku, aku bahkan hampir tak percaya saat kusadari bahwa waktuku telah tersita oleh bayangmu. Sungguh aku tak bermaksud lancang memasukkan namamu ke hatiku, aku hanya tak sanggup untuk tak membuka pintunya saat kau mengetuknya.

Mungkin kau akan tertawa, mentertawakan ketololanku yang dengan tak tau diri lewat surat ini mengatakan bahwa AKU MENCINTAIMU, dan dengan tak tau malu memintamu JADILAH KEKASIHKU. Izinkan aku mengisi ruang terindah dihatimu, menjadi pelangi penutup hujanku, pembuka cerah hariku, meniti tangga kehidupan penuh warna bersamaku, mengurai segala tangis dan luka, merubahnya menjadi senyum dan bahagia, dalam sebuah ikatan bernama cinta. Ku tau cinta ini salah, menentang kodrat, begitu mereka bilang. Cinta ini juga tak tau sadar diri, bagai punguk merindukan bulan. Tapi bolehkah aku merubahnya dengan keyakinanku bahwa tak ada yang tak mungkin?

Jika kau tanya mengapa dengan beraninya ku katakan rahasia besar tentang kebenaran perasaanku padamu? tak takutkan aku jika kau mengungkapkannya pada dunia yang membenci cinta kaum pelangi? jawabanku cuma satu, itu karena aku percaya padamu. Jadi tolong jagalah kepercayaan ini.

Terakhir, jawablah dengan kejujuranmu yang tulus, bisakah kau membantuku mewujudkan keyakinanku tentang ketiadaan hal yang mustahil dalam cinta. Jika tak keberatan, buatlah garis senyum di bibirku walau dengan sebuah anggukan kecil pertanda kau memberikan celah kosong di hatimu untuk ku singgahi.

Beri aku jawaban

Adam.

Yess. Terkirim. Aku mencoba membaca ulang suratku. Dan lagi-lagi aku harus kembali tercengang. Ada beberapa bagian penting yang tertulis di surat pertamaku -yang hancur tak jelas- itu yang tak tertulis ulang di surat keduaku. Tapi biarlah, apa daya, waktu telah habis dan aku tak punya lagi kesempatan, tapi moga ini bukan pertanda buruk.

Besok sorenya, aku baru melihat suratku dan suratnya, serta satu surat lain karya salah satu teman dunia mayaku tampil di berandaku. Ah, aku jadi merasa mempermalukan diriku sendiri. Tapi respon tak kuduga, beberapa orang me-like suratku.

“Aku cemburu dengan isi suratmu” ku kirimkan inbox kepada Ray. Bagaimana tidak? Isi suratnya adalah pernyataan cintanya pada teman sekelasnya. Aku lemas dan merasa kalau apa yang dia tulis adalah apa yang sebenarnya ia rasakan.

“Itu hanya salah satu bagian dari cerita fiksiku, Bang”

Aku mencoba menerima walau hati masih merasakan agak sesak. Dan kami kembali seperti semula, dimana aku belum menyatakan rasa sukaku padanya.

“Lihat komenku di surat abang”

“Ada apa emang?”

“Di situ aku jawab. Kalo komenku adalah sebuah emoticon berarti aku ingin menjadi teman abang, tapi jika takeline, berarti aku nerima abang jadi pacarku”

“Beneran? Aku jadi agak-agak takut nih”

“Cepat cari, kalo enggak rugi loh”

Segera ku ubek suratku di wall CKP dan kulihat komentarnya. Okesip :d . Dia menulis begitu dan artinya….

“Beneran? Kamu terima aku?”

“Iya”

Tuhan, betapa aku bahagia. Aku punya pacar mulai hari ini. 27 februari 2013. Seandainya saja aku ada di dekatnya sudah pasti akan kupeluk dia seerat yang kubisa. Tapi cukuplah aku berjingkrak-jingkrak sendiri, tersenyum tak jelas -dimata orang lain.

Pacarku memintaku merubah statusku menjadi ‘berpacaran’.

“Aku gak mau pacarku ini digoda orang lain” alasannya. Aku tertawa lalu mengkonfirmasi perubahan statusku. Ya. Sejak itu teman-temanku mengenal kami sebagai sepasang kekasih. Ucapan selamat mengalir dari sebagian mereka.

Cinta kami bukan tanpa hambatan. Di awal-awal kami menjadi sepasang kekasih, beberapa orang membenciku dan menyebarkan aibku. Aku sadar, masa laluku bukanlah hal yang pantas buat ditiru. Tentu saja juga tak pantas di umbar. Tapi cobaan itu kami hadapi dengan diam. Biarlah, semua orang pasti memiliki masa lalu yang tentu saja bukan itu yang harus di lihat. Masa lalu tak kan lagi bisa di ulang dan di perbaiki. Kita hanya bisa berbuat baik untuk menutupi kesalahan masa lalu dan menyambut masa depan yang lebih indah.

Belum lagi rasa yang masih belum sepenuhnya ku berikan pada Ray. Aku masih menyimpan nama lain dalam hatiku. Nama yang perlahan-lahan kubiarkan pergi meski pada mulanya aku merasa berat.

Kebodohan dan ketidak-pekaanku memporak porandakan bangunan cinta yang kubangun. Sungguh. Tanpa sengaja aku telah menyakitinya hanya dua minggu setelah kami mendeklarasikan hubungan kami. Saat itulah aku merasakan takut kehilangannya. Aku memohon-mohon untuk memintanya memaafkanku dan memberi kesempatan untuk berubah. Aku mendapatkannya. Tapi lagi-lagi aku melakukan kebodohan yang sama. Aku sempat berkali-kali mengumpat diriku sendiri.

AI LUV JU. Kata itu menjadi perekat antara kami meski dibentang jarak yang teramat jauh. Ya, aku mencintainya sepenuh hati, entah sejak kapan karena aku tak sadar saat orang yang pertama hadir mendahuluinya telah benar-benar hilang dari hatiku. Kami merajut cinta di whatsapp. Itulah rumah kami. Rumah yang riuh dengan cinta, yang bebas dari kehadiran teman-temanku. Aku merasa kau sedang berbulan madu disana.

“Aku mau merubah status kita. Mau menghapus status berpacaranku denganmu. Aku sudah bosan menjadi pacarmu” katanya dalam whatsapp. Aku benar-benar kaget. Pikiranku mulai macam-macam.

“Kenapa sayank? Apa aku melakukan sebuah kesalahan lagi?”

“Enggak, abang gak salah apapun. Aku hanya udah bosan aja jadi pacar abang”

“Tapi kenapa?”

“Karena aku mau kita tunangan sekarang. Mau kan?”

Oh… Aku ada dimana kala itu, aku tak tau. Aku merasa berada di sebuah taman yang indah, melayang mengitari senja yang jingga dengan pelangi melengkung didepanku.

Itulah dia. Aku mencintainya semakin besar setiap hari berganti. Semakin tak mau kehilangannya. AI LUV JU.

Menjelang akhir bulan Ramadhan, aku cinta kami ku kukuhkan dengan menjadi ‘menikah’. Dan itu terjadi setelah lagi-lagi aku melakukan kesalahan yang tak kusengaja dan dia memberiku kesempatan walau kali itu aku tak berjanji apapun. Dia hanya memegang kata-kata penyesalanku dan keinginanku untuk menjadi lebih baik. Aku tak peduli saat status menikahku mengundang kebencian orang lain. Orang yang sama ketika aku berganti status dari lajang menjadi berpacaran, dari berpacaran menjadi bertunangan. Dan sekarang menjadi menikah. Karena meski itu hanyalah sebuah status di fb, bagiku, itu cukup menggambarkan bahwa kami semakin dekat dan kami saling memiliki. Aku tau dia mencintaiku, sama seperti aku mencintainya.

Dan cinta ini melingkupi kami, mengukung dan membuat kami enggan lepas dari segala rasanya. Memang, pun kami mengakui, cinta yang kami jalani tak hanya memberi kebahagiaan, ada juga kesal, tangis, rindu, cemburu, marah. Tapi semua itu kami rangkum dalam satu kata, INDAH. Ya, cinta kami indah. Meski raga terpisah jauh, tapi tali kasih, terbentang kuat dan menyatukan hati kami. Kami yang saling menitip hati.

-Sekerat kata untuk kekasih- Aku tak mengerti bisikan pelangi Pun gunjingan para pendengki Elusan rasa membuatku mengapung Pada sebuah kisah yang agung Elok seperti jingganya senja Memesona layaknya sebuah purnama

Aku tak mengerti bagaimana caranya hati terjatuh Tak mengerti dibagian mana engkau berteduh Karena namamu telah sebegitu kuat Membuat pahatan dalam ilusi kodrat Engkau takdirku, aku takdirmu Hingga masanya nanti Kita telah dititipi seorang bidadari Cintaku tak kan kubiarkan mati

AI LUV JU Happy anniversary for our love, our relationship.

Kita telah melewati tujuh bulan dalam segala rasa, dan aku masing ingin mengecap rasa-rasa lain yang hanya bisa ku dapatkan ketika bersamamu.

Maaf aku tak bisa memberikan kado istimewa padamu. Hanya segudang cinta untuk persediaan kita bulan depan. Perlu kamu tahu, masih banyak gudang lain yang akan kita buka di waktu yang akan kita lewati

Sekali lagi…. AI LUV JU
********

Terimakasih buat DKN yang udah berbaik hati membantuku menyampaikan segala rasaku padanya sebagai hadiah kecil di anniversary kami. Buat kawan-kawan DKN, maaf, jika kalian disuguhi bacaan terjelek selama DKN berdiri. Aku tak tahu bagaimana caranya berterimakasih jika kalian mendo’akan kami. Juga bagaimana aku meminta maaf jika kalian menganggap ini adalah postingan terLEBAY DKN.

Jangan marah ya? Kawan-kawan DKN kan baik-baik semua😀