Red-Box

Oleh : Afni Sutrisna

Aku menatapnya yang berwajah basah. Kedua mata indahnya tak henti berair. Menunjukkan kesedihan yang teramat sangat. Karena aku. Karena dia. Karena kami. Karena semua.

Aku tidak merasa perlu untuk merasa menyesal, pun bersedih. Aku tak ada waktu untuk itu. ini hanya secuil cerita dari sebongkah kisah yang akan dan harus kulalui.

Sudah waktunya pergi.” Mengesat air mata, dia bangkit dari duduknya, tangannya mendorong sebuah kotak mendekat ke arahku. “Maaf dan terima kasih,” berkata lagi dia sebelum akhirnya berlalu.

Aku meletakkan kotak itu bersama kesepuluh kotak yang lain, setelah menempelinya dengan label nama. Aku berdiri menatap kesebelas kotak itu satu persatu, dari bawah ke atas. Mengingat secuil cerita yang pernah kulewati di dalam setiap kotak, sambil membaca label namanya.

Novita

Dessy

Januaristy

Febriana

Marsha

Aprilia

Meidiana

Junaira

Julia

Agustia

Dan yang baru saja kuletakkan, Septina…

Tersenyum, aku siap menjalani secuil ceritaku yang lain, yang akan mengggenapkan sebongkah kisahku, yang akan mengisi sekotak kenangku yang lain. Semoga yang terakhir. Aku bahkan telah menyiapkan sebuah kotak yang lebih besar, agar dapat menampung lebih banyak peristiwa, lebih banyak kenangan. Semoga hanya sukacita.

Untuk kotak yang lebih besar itu, aku juga telah menulis label namanya: Oktovina…

-Fin-