Oleh : Zaenuddin Bangun Setiawan

Sesosok tubuh manusia kulihat sedang terduduk lesu sambil memeluk erat lututnya yang runcing di salah satu sudut ruangan. Seolah-olah takut kehilangan lututnya itu. Bangunan yang kumasuki ini bak istana para hantu. Tak terurus karena mungkin sudah ditinggalkan sang pemilik sejak lama. Di halaman depan tampak berdiri kokoh pohon beringin bak seorang raja yang dikelilingi prajurit ilalang setinggi kurang lebih satu meter. Di pekarangan samping kiri, terdapat sebuah sumur tua yang aku rasa sudah mengering. Karena ketika tadi aku iseng-iseng melemparkan batu ke dalamnya, tidak ada suara percikan air sama sekali. Atau mungkin sumur itu tak berujung. Sumur yang menghubungkan dunia kita dengan sebuah dimensi antah berantah. Di pekarangan kanan rumah terdapat sebuah kolam dan sepetak tanah dengan pepohonan yang mongering, mati. Kolam itu Nampak gelap dalam siraman cahaya bulan purnama. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Seolah-olah waktu mati di tempat itu. Pekarangan sebelah kanan berbanding terbalik dengan pemandangan pekarangan sebelah kiri yang belukar.Di pekarangan belakang, rimbunan bambu saling bergesekan diterpa angin. Menciptakan satu harmoni yang tak biasa. Seolah-olah harmoni itu mencoba menggiring kita ke dimensi lain.

Ruangan tempat laki-laki itu terduduk lesu sungguh sangat kotor, pengap dan lembap. Sarang laba-laba dimana-mana, kotoran sisa makan kelelawar berserakan, tikus-tikus berjalan kesana-kemari seolah mengabaikan keberadaan kami. Bahkan ada beberapa tikus yang menggigit kaki lelaki itu. Bau anyir darah pun tak bisa dielakkan. Ruangan ini gelap, hanya disinari sedikit cahaya bulah purnama yang masuk menerobos jendela kayu yang dibiarkan terbuka.

Aku berjalan mendekati lelaki itu, mencoba menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan mengapa dia bisa ada di tempat menyeramkan ini. Harmoni gesekan bambu semakin keras, angin yang berhembus bertambah kencang, jendela kayu yang reot itu bergerak keluar masuk. Kreket… kreket…. Bulu kuduku semakin berdiri. Keringat mulai deras bercucuran. Ternyata angin malam yang sangat dingin tidak mampu mendinginkan rasa takutku. Malah menambahnya.

Kini aku ada di hadapan si lelaki. Dia sama sekali tidak melihat ke arahku. Dia masih tertunduk sama seperti tadi. Tikus-tikus yang menggigiti ujung kakinya telah pergi. Tapi dia tetap diam seolah-olah tak merasakan sakit di ujung kakinya yang berdarah.

Aku berjongkok berusaha melihatnya lebih dekat lagi. Tapi dia tetap menundukkan kepalanya. Aku sungguh bingung, apa yang sebenarnya terjadi pada orang di depanku ini? Aku memberanikan diri membuka suara.

“Maaf, Mas, kalau boleh tahu Mas lagi ngapain di tempat seperti ini?”

Tak ada jawaban, hanya hening. Nyaliku seketika menciut, menerka-nerka siapa gerangan makhluk di depanku ini. Manusiakah? Hantukah? Zombikah? Lolongan srigala membuat suasana yang memang sudah mencekam semakin mencekam saja. Suara burung hantu tiba-tiba terdengar tepat di atas rumah. Seolah-olah tak mau ketinggalan berpartisipasi dalam menciptakan suasana mengerikan ini. “Perfect”, batinku.

“Namaku Zaenudin Bangun Setiawan. Aku terpisah dari rombonganku dan tersesat hingga menemukan rumah ini. Apakah Mas juga tersesat sama seperti aku?”

“Namaku Satrio Abimanyu. Aku pun sama sepertimu. Terpisah dari rombongan dan tersesat hingga menemukan rumah ini. Mereka sengaja meninggalkan aku sendiri ketika hendak buang air!”

Alangkah terkejutnya aku ketika dia memperlihatkan wajahnya. Samar-samar memang, tapi aku cukup mengenal baik tampang itu. Wajahnya, rambutnya, bibirnya, tahi lalat di dagu sebelah kanannya, semua itu mengingatkanku pada seseorang. Pada diriku sendiri. Ya, dia mirip denganku. Sangat mirip malah. Walaupun namanya berbeda. Tatapan matanya tajam, aku bisa merasakan energi dari pancaran matanya. Energi yang menyiratkan dendam karena rasa sakit hati. Dia tersenyum sinis. Tiba-tiba hatiku pilu. Aku bingung dengan apa yang aku rasakan. Ini aneh. Sangat aneh. Aku tidak pernah memilki saudara kembar. Ada satu rasa semacam ikatan batin dengannya.

“Sejak kapan kamu berada di sini?” Aku memberanikan diri bertanya padanya.

“Sudah lama sekali. Sudah sangat lama…”

“Kenapa kamu tidak keluar dari tempat mengerikan ini?”

“Tak ada alasan untuk aku meninggalkan tempat ini. Tempat ini sangat nyaman bagiku. Aku menikmati setiap detak kehidupanku di tempat ini.”

“Menikmati?”

“Ya, menikmatinya. Menikmati kesendirian,  menikmati kekosongan dan menikmati kehampaan.”

Aku ngeri mendengar pernyataannya. Orang yang mirip aku ini sepertinya sudah tidak waras lagi. Sepanjang aku hidup, belum pernah ada orang yang mengatakan “Aku menikmati kesendirian, kekosongan dan kehampaan” seperti yang dikatakannya dengan penuh kemantapan.

“Apakah kamu pernah berfikir tentang keluargamu, kerabatmu, pacarmu, sahabatmu dan teman-temanmu? mereka akan sangat menghawatirkan keberadaanmu, pernahkan kamu berfikir begitu?” Dalam rasa takutku, timbul rasa penasaran yang akhirnya membuatku bertanya kembali.

“Persetan dengan mereka semua.Aku tidak pernah mempercayai siapapun di dunia ini. Bahkan Tuhan sekalipun, aku tidak mempercayainya”

“Kamu atheis?”

“Ya. Aku Atheis semenjak Tuhan merenggut mimpi, harapan dan cinta yang pernah aku miliki.”

“Kamu sungguh sangat berlebihan. Tuhan melakukan itu karena Dia mencintaimu. Tuhan memnguji mereka-mereka yang Dia cintai. Dia ingin kamu menjadi manusia yang lebih baik di antara manusia lainnya.”

“Kamu munafiq.”

Aku tersentak mendengar pernyataannya tentangku. Ada apa dengan orang ini sebenarnya. Aku pasrah jika dia jin yang sedang menyamar menyaru sebagai aku untuk bisa memakanku. Aku yakin Tuhan akan menolongku.

“Kamu tahu sejarah rumah ini?” tiba-tiba dia memecah lamunan sesaatku.

“Bagaimana aku bisa tahu, aku ke tempat ini saja baru pertama kali. Dan itupun karena tersesat.”

“Harusnya kamu tahu dan lebih mengetahuinya daripada aku.”

Aku terbengong-bengong. Mana mungkin aku tahu sejarah rumah yang baru pertama kali aku injak. Setiap kata yang keluar dari mulutnya makin susah dicerna. Banyak pertanyaan yang berputar-putar di otakku. Tapi mulut ini enggan mengungkapkannya.

“Rumah ini bukanlah rumah tua. Hanya saja rumah ini dibangun dengan pondasi kebencian dan berdindingkan dendam. Tak ada satu unsurpun dalam bangunan ini yang bermaterialkan cinta dan kasih sayang. Itulah yang menyebabkan rumah ini terlihat begitu gelap, kotor dan kumuh. Keberadaanku di sini adalah untuk memeliharanya. Memelihara kebencian dan dendam itu. Sebelumnya aku juga telah mengetahui kalau kamu akan berkunjung ke sini. Aku telah menunggu saat-saat seperti ini sudah sejak lama.”

Penjelasannya semakin membuatku tak mengerti.

“Zaenudin Bangun Setiawan, apakah kamu belum juga bisa mengerti? Kamu adalah aku dan aku adalah kamu.”

“Apa maksud perkataanmu barusan?”

“Rasa sakit yang kamu terima akibat perasaan merasa diabaikan oleh ayahmu, rasa sakit akibat kekecewaanmu terhadap ayahmu, dan rasa sakit akibat perceraian kedua orang tuamu membuatku ada di sini. Di dadamu. Aku adalah bayangan kelam dirimu. Yang tanpa sadar kamu telah ciptakan. Rumah ini adalah salah satu sudut hatimu yang kelam. Dan aku adalah penghuninya.”

“Tidak, bohong.Kamu dusta. Katakan padaku siapa sebenarnya kamu ini? Apa yang kamu mau dari diriku? Jangan coba bermain-main denganku. Kalau tidak…”

“Kalau tidak, apa? Kamu takkan bisa melakukan apa-apa. Kamu itu lemah. Ayahmu sendiri menganggap kamu banci. Hahahaha…”

“Hentikan ucapanmu.Dasar setan!”

“Aku memang setan, setan yang kamu ciptakan dan kamu pelihara.”

Aku berjalan mundur menjauhinya. Aku terkulai lemas. Terduduk tanpa tenaga. Kata-katanya membuatku sakit. Aku menyesal telah menyapanya tadi. Dasar sialan. Lantas aku berteriak berharap semuanya berhenti. Dia tertawa semakin kencang dalam duduknya. Sekarang dia mencolek darah yang mengalir dari kakinya. Kemudian mengemut jarinya. Aku mual melihatnya. Aku muak dengan tingkah lakunya. Dia melecehkanku. Tiba-tiba air mataku menetes. Aku tak kuasa menahannya lagi.

“Dasar cengeng, hahahaha…” Dia mengejekku.

Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya. Berjalan tersaruk-saruk ke arahku. Sorot matanya, seringainya membuat aku takut. Kini dia telah berada di sisiku. Dia duduk tepat merapat dengan tubuhku. Dia meniupkan nafasnya ke mukaku. Tangan kanannya merangkul pundakku. Tangan kirinya membelai rambutku. Sambil menjilati kupingku. Aku benar-benar takut dibuatnya. Tetapi badanku terasa sangat lemah. Hingga aku tak mampu bergerak sedikitpun. Kini tangan kiri yang tadi dia gunakan untuk membelaiku, sekarang digunakannya untuk mencolek darah yang masih keluar dari ujung kakinya akibat gigitan tikus tadi. Kemudian mengoleskannya ke bibirku. Tubuhku gemetar. Dia berbisik “Apakah kamu takut? Kenapa kamu harus takut padaku? Aku adalah kamu. Sudah, hentikan tangismu, aku tak suka jika harus melihat air mata. Itu hanya akan membuatmu semakin terlihat menyedihkan. Zaenudinku sayang, kita hidup berdampingan dalam satu tubuh. Aku hanya ingin mengajukan satu permohonan padamu. Izinkan aku mengambil alih tubuhmu. Aku akan menunjukan padamu bagaimana caranya hidup itu. Kamu bisa beristirahat dengan tenang dan damai selama aku menggendalikan tubuhmu.”

Tiba-tiba dia menghilang entah kemana. Seketika itu kepalaku mendadak pusing. Tubuhku semakin lemas. Dan… aku tak kuat lagi.

***

Aku terbangun dalam keadaan tubuh penuh keringat. Akhirnya, tiba saat dimana aku mengambil alih tubuh ini dari Zaenudin. Menurutku dia sudah tak layak lagi mengendalikan tubuh ini. dia terlalu lemah. Dia terlalu rapuh. Dia seharusnya mati saja. Karena aku… Aku lebih pantas mengendalikan tubuh ini. Akan kutunjukkan pada mereka, manusia. Bahwa dendam dan kebencian mampu merubah seseorang menjadi kuat. Bahkan berkali-kali lebih kuat.

Sambut kelahiranku wahai dunia. Dengan raungan tangismu. Berhati-hatilah, karena aku akan menebarkan virus benci. Hahaha

Epilog :

Zaenudin mengalami koma setelah kecelakaan mobil yang menimpanya. Dalam komanya Zaenudin bertemu dan berdialog dengan seorang yang bernama Satrio Abimanya yang ternyata adalah sisi gelap dirinya. Zaenudin masih tetap koma walau tubuhnya sudah tidak koma lagi. Tubuhnya kini dikendalikan oleh sisi gelap dirinya. Satrio Abimanyu bukanlah sosok yang biasa-biasa saja. Dia mampu memanipulasi diri dengan hampir sempurna. Menipu orang-orang dengan bertingkah laku seperti Zaenudin. Tetapi di waktu-waktu tertentu, diapun tampil sebagai dirinya sendiri. Sosok yang apabila kita lihat matanya, maka kehampaan yang akan kita dapat. Dia adalah manusia pengutuk kehidupan. Jangan sekali-kali mendekati apalagi berkawan denganya. Jika tidak cukup memiliki benteng iman yang kuat, maka kalian akan tersesat. Berhati-hatilah denganya. Dia setan yang bersembunyi di dalam kepolosan.

By: Kang  Zaen

Di Kontrakan mungil, 2011

Diedit 13 Agustus 2013, 12.01 WITA, di ruangan Administrasi Umum

Diedit lagi oleh Nayaka Al Gibran pada 25 Oktober 2013, 08.21 WIB, di ruang depan rumahnya