Alvero Diggory Cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Alhamdulillah, yah… setelah berkutat selama tiga hari tiga malam ini tulisan selesai juga. Kali ini aku pake nama tokoh sebagai judul, abisnya capek mikirin judul yang menjual dan sesuai dengan isi cerita gak nemu-nemu. Untuk mencegah agar rambutku gak sampe berguguran karena kecapekan mikir, kuputuskan ngambil nama tokoh sebagai titlenya.

Bagi yang ngikutin cerpen2ku selama ini, mungkin akan merasakan sesuatu yang beda di ceritaku yang ini. Jika biasanya kebanyakan ceritaku nonjolin sisi cinta2an dan romantis2an, namun kali ini tidak begitu. Eh, tapi ini tetap gay themed loh, jangan khawatir dan batal baca yaa, kekekeke. Cinta tetap ada kok di sini, itu memang unsur pemanis dan pemikat yang tidak boleh ditiadakan begitu saja dalam kebanyakan cerita, tapi dalam cerpenku yang ini tidak begitu dalam (menurutku sih).

Aku pake dua POV, sudut pandang authors dan sudut pandang tokoh (orang pertama tunggal) yang berganti setiap ketemu tiga tanda bintang (***), semoga gak membingungkan yaa, jika pun ada yang bingung, yaa tahan2 deh sampe tamat cerita.😀

Niat pertama, aku hanya akan menulis cerita singkat, 5.000 sampe 6.000 kata saja mengingat sudah sangat lama aku gak update blog, sedikit jumlah kata artinya bakal cepat kelar dan bisa cepat update. Tapi tahukah apa yang terjadi? Menulis memang begitu membuat candu, aku baru terpuaskan setelah lebih 10.000 kata, kalau tak salah, 10.900-an kata. I love Alvero Diggory so much.

Di sini aku juga ingin minta maaf kepada para sahabat yang nunggu2 Potret 7 A.L.A.S, maaf belum bisa kurealisasikan. Juga yang kemaren sempat jenguk TLku di FB, Streets of Nothingville juga belum bisa kutunaikan, semoga segera. Amin.

Well, selamat berimajinasi di cerpenku yang ini, mudah-mudahan imajinasi kalian semua nyampe seperti yang tertulis di sini yaa. Jika tidak, berarti aku gatal—gagal total. Selain itu, yang terpenting adalah kalian bisa menikmati membaca ALVERO DIGGORY seperti aku yang menikmati ketika menulisnya.

Wassalam.

n.a.g

##################################################

Namanya Alvero Diggory. Ia masih kanak-kanak ketika orang tuanya tewas. Ia sudah mengalami hidup yang berat sejak saat itu. Diperlakukan dengan begitu buruk oleh kerabat jauhnya hingga usianya belasan. Dan bagian paling berat dalam hidupnya ternyata bukan di tangan si kerabat jauh itu, tapi di tangan Vasgo Quentin, si Bangsat Tua… hingga kemudian cinta datang untuknya memberi secercah harapan…

***

“Segera bersihkan dirimu, ganti alas tempat tidur itu dan bersiap menyambut Don Jose!”

Bangsat Tua itu—yang kebencianku padanya sebanyak rambut yang melekat dari ujung kaki hingga kepalaku, namun sayangnya takutku akan dirinya  berada dalam takaran yang lebih banyak, sehingga takut itu membuat benciku hilang kuasa untuk kunyatakan dalam sekecil apapun pemberontakan lagi—melayangkan ancaman lewat sorot matanya sebelum menutup pintu. Aku mendengar dengan jelas bunyi kenopnya yang terkunci ganda dari luar.

Dengan langkah tersaruk-saruk, aku menuju kamar mandi di sudut ruang yang kian terasa bagai bangsal penyiksaan ini. Sebutan kamar sungguh tak pantas. Neraka. Ruang ini adalah nerakaku.

Lima menit. Hanya selama itu aku bisa menikmati aliran air dari pancuran mandiku, tak pernah bisa lebih lama di waktu dinasku, tak pernah bisa lebih lama jika di luar sana masih duduk menunggu Don Jose dengan cerutu Kuba di sudut bibir.

Aku tak berpakaian. Menatap pantulan diriku di cermin lebar yang memroyeksikan seutuhnya keadaan tempat tidur di belakangku. Aku benci cermin ini. Layaknya layar televisi, mereka bisa langsung menyaksikan pertunjukan yang mereka lakukan padaku di atas tempat tidur sana lewat cermin ini. Tapi seperti biasa jika aku berdiri di depannya, rasa benciku pada cermin terkalahkan oleh rasa lain yang lebih nyata kurasakan di hampir setiap jengkal tubuhku. Bekas-bekas merah itu, beberapa seperti cengkeraman kuku dan beberapa seperti patrun gigi. Bekas-bekas itu tak pernah menjadi luka, tak pernah berdarah, namun nyerinya sungguh membungkusku, dan kenyataan bahwa selama tak ada jengkal tubuhku yang meneteskan darah, maka oleh si Bangsat Tua dianggap aku cukup sehat dan kuat untuk melayani selusin binatang lagi.

Kutarik seprei yang masih menguarkan bau keringat dan sperma pria sebelumnya yang menggagahiku. Pria itu seorang pria Asia, namun posturnya tak kalah tinggi dengan pria-pria di sini, masih muda, taksiranku dua puluh lima. Pria Asia yang sedikit kusenangi kerena melewatkan banyak kesempatan untuk menambah ruam di badanku, yang lupa melayangkan tamparannya di pinggulku, yang tidak menerkamku seperti harimau lapar bertemu kijang tak berdaya, yang dengan tampang seperti itu kuyakin banyak wanita bersedia menjadi istrinya di negara asalnya atau di negaraku tempat kejahatan tumbuh subur, namun dengan kebodohan seekor keledai dia malah mendatangi nerakaku ini.

Seprei itu kujejalkan ke dalam kotak stainless di satu sudut ruang, bergabung dengan enam helai seprei yang lebih dulu sudah berada di dalamnya. Aku berjalan ke lemari besar di sudut ruang yang lain, mengambil seprei yang berwarna sama seperti tujuh seprei yang telah kotor. Kuhamparkan kain itu menutupi seluruh permukaan busa tempat tidur, tak ada bantal dan guling, tak ada selimut tebal.

Aku tak mau repot-repot memasukkan pinggiran seprei ke bawah busa, untuk apa? Tak sampai lima menit setelah seprei itu menadah keringat keadaannya akan berantakan seperti seprei bekas terpakai. Bahkan aku yakin mereka tak akan peduli jika seprei itu tak kuganti, yang mereka pedulikan hanya hasrat liar mereka terpenuhi atas diriku, tidak ada yang lain.

Anak buah Bangsat Tua yang menjaga pintu belum memberi tanda kalau Don Jose akan masuk. Aku bergerak ke lemari, mencari sehelai celana dalam. Hanya itu saja.

Semenit kemudian pintu terkuak. Sosok tinggi besar Don Jose hampir menutupi seluruh bingkai pintu. Sama seperti terhadap semua mereka, aku juga benci pria keparat ini. Tak ada yang menarik sedikitpun dari sosok Don Jose, muka yang penuh bekas cacar diperburuk dengan brewok abu-abu di rahangnya yang bulat seperti bola, hidungnya besar dan bengkok—salah satu istrinya pernah menghajarnya dengan tabung gas pemadam api hingga hidung itu patah dan si istri harus membayar dengan nyawanya, aku tahu cerita ini dari Don Jose sendiri di pergumulan pertamanya denganku dulu dengan maksud menakut-nakutiku tentu saja. Mata Don Jose hitam dan berkantung, lemak berlebih bahkan melapisi lehernya, tak ada bagian yang bagus dari bahu hingga ke ujung kaki Don Jose. Bayangkan makhluk paling buruk rupa yang bisa dilukis imajinasimu, maka demikianlah sosok Don Jose. Aku turut berduka untuk wanita-wanita yang pernah menjadi istrinya, juga untuk lelaki-lelaki bodoh yang menjadi kelincinya. Aku berduka untuk diriku.

“Halo, my boy…” Ia melepaskan cerutu dari mulutnya, bergerak selangkah lalu menutup pintu yang bunyi kenop terkunci segera terdengar dari luar. Detik ketika Don Jose mengambil langkah pertama untuk menujuku dengan seringai di wajah sambil berujar come to Papa seperti kebiasaannya, aku sadar bahwa ruam di tubuhku tak ada arti apa-apa bila dibandingkan dengan neraka yang akan kujelang di penghujung malam ini darinya, sesaat lagi.

***

Segalanya tampak akan baik-baik saja bagi Alvero Diggory, setidaknya begitu yang terjadi pada generasi yang lahir bersamaan dengannya. Meskipun tumbuh dalam lingkungan buruh di bagian paling kumuh negaranya, berasal dari keluarga dengan orang tua yang tentu saja juga seorang buruh, Diggory kecil adalah bocah yang manis, disukai para tetangganya dan difavoritkan semua guru di sekolah. Ia pintar dalam pelajaran Bahasa Inggris, sangat cepat mengerti aritmatika dan sangat berbakat dalam menggambar bahkan menyanyi. Hal yang membuat anak-anak lain iri dan tidak menyukainya. Namun hal kecil itu (tidak disukai anak-anak lain) sungguh adalah bukan hal yang tampak akan mengakibatkan hidupnya tak akan baik-baik saja. Segalanya wajar saja ketika itu, anak yang menyita seluruh perhatian baik dimanapun memang akan mengundang rasa tak suka dari anak-anak lain yang mendapat perhatian sebaliknya.

Mengapa kau tidak bisa seperti Diggory? Dasar otak keledai! Kata seorang tetangga yang anaknya kesulitan mengeja kata insignificant. Kau baru boleh memilikinya jika nilai aritmatikamu seperti nilai Diggory! Hardik tetangga yang lain ketika putranya merengekkan game player seri terbaru. Apa susahnya menyanyikan lagu itu, Diggory bisa melakukannya dengan sekali latihan! Kata tetangga yang lain lagi ketika anak lelakinya kesulitan belajar salah satu lagu gereja.

Begitulah, Diggory kecil adalah anak emas di wilayah pinggiran tempatnya melalui sebagian masa kanak-kanaknya. Kedua orang tua Diggory yang buruh amat sangat bangga. Mereka percaya anak lelaki mereka punya masa depan secerah matahari di musim panas.

Hingga kemudian badai datang mendadak menutup langit cerah dengan gelap yang menggumpal, menenggelamkan matahari dalam jelaga pekat yang berputar-putar.

Diggory kecil meraung-raung di depan sosok kedua orang tuanya. Ayahnya meregang nyawa lebih dulu dengan sayatan besar di leher. Sang ibu, dengan tangan penuh darah hanya sempat menyentuh kepala putranya sekilas lalu sebelum pandangannya kosong. Pisau besar masih menancap di perutnya, pisau yang sama yang telah melukai leher suaminya karena mencoba mempertahankan yang dimiliki mereka.

Diggory kecil tak bisa melakukan apa-apa ketika orang yang telah menciptakan petaka atas hidupnya dan orang tuanya melesat pergi begitu saja setelah mendobrak jendela kamar, kotak perhiasan ibunya dan simpanan uang ayahnya dibawa serta.

Hidup memang kejam.

Bocah tujuh tahun itu belum bisa memegang kendali atas dirinya sendiri. Seorang Kerabat Jauh mengambil alih hidupnya. Dan sejak saat itulah, segalanya tak lagi tampak akan baik-baik saja baginya…

***

Aku memeriksa gurat-gurat merah di perutku, makin perih saja. Hal yang sama juga terjadi di kedua pahaku, di pinggangku bagian belakang dan di pangkal leherku. Aku kesulitan memakai pakaianku tanpa menyentuh calar-balar itu. Ada darah beku di bawah kulitku, tepat di bawah gurat-gurat merah itu.

“Bangsat!”

Kucampakkan celanaku ke lantai. Sebagai gantinya, kulilitkan handuk ke pinggangku dan bergerak ke meja kecil di mana menu makan siang sudah diletakkan Ordy—anjing penjaga paling buruk rupa si Bangsat Tua—sejak lima menit lalu. Aku selalu dapat daging terbaik, nyaris tak pernah ikan. Kau perlu gizi yang cukup untuk dapat bekerja sempurna, seperti mesin, kita harus menjaga kondisinya tetap prima agar dapat beroperasi maksimal. Begitu kata si Bangsat Tua. Entah kapan Lucifer membacakan dosa-dosanya, aku berdoa dapat melihat saat Bangsat Tua itu meregang nyawa. Aku bermimpi hidupnya berakhir di tanganku.

Kau aset terbaik yang pernah kupunyai, Diggory. Kelinci-kelinciku yang lain tak ada yang seistimewa dirimu. Kau tak tahu betapa berharganya dirimu bagiku hingga rasanya aku ingin membuatkan sangkar emas untukmu. Dan kekehan berlesatan dari mulutnya yang berbau seperti kotoran kucing ketika satu kali Bangsat Tua itu berkata demikian. Aku tak bisa menahan diri saat itu untuk meludahi mukanya yang harus kubayar dengan tinju besar Benjamin—anjing penjaga lain si Bangsat Tua—di mulutku. Rahangku bagai remuk saat itu, dan aku harus merasakan sakit luar biasa setiap ada pria yang menyerang bibirku dengan mulut menjijikkan mereka keesokan harinya.

Aku menyelesaikan makan siangku bertepatan dengan Ordy yang muncul di pintu. Dengan tampangnya yang seperti Orc, ia mendekat dan menjangkau nampan makan siangku yang cukup besar. Si Bangsat Tua pernah berkata kalau nampanku yang menunya paling lengkap dan paling mahal dibanding kelinci-kelincinya yang lain—meski tak pernah benar-benar kuhabiskan. Apa aku harus berterima kasih padanya untuk itu? Aku akan berterima kasih pada iblis jika dia mengambil jiwa si Bangsat Tua itu secepatnya.

“Lima menit lagi kau punya pekerjaan!” Suara Ordy yang lebih berupa salakan anjing paling jelek di muka bumi memperingatkanku sambil menuju pintu.

Pintu. Bukan sekali dua aku mencoba berlari ke sana setiap pintu itu membuka. Di masa awal-awalku menjadi kelinci si Bangsat Tua, aku sangat sering menghambur ke sana meski hanya untuk membiarkan perutku dilahap tinju Jones dan atau tendangan Stoner, mereka adalah algojo yang menjaga pintuku, hingga lama-kelamaan aku lelah sendiri dan berhenti berusaha menjangkau pintu setiap kali membuka, lebih tepatnya berhenti menyakiti diriku sendiri. Apa usaha lain yang paling hebat bisa kulakukan untuk melarikan diri jika melewati ambang pintu saja aku tak pernah berhasil? Akhirnya, tekadku untuk keluar dari neraka ini terkikis habis, yang tersisa adalah benci dan rasa takut yang lebih besar dari kebencian itu sendiri, selain dari dua hal itu… adalah kepasrahanku.

Mengapa aku tak mati saja? Mengakhiri hidupku sendiri? Aku bisa memecahkan cermin dan menusukkan belingnya ke pangkal leherku sendiri, atau menenggelamkan diriku dalam bak mandi hingga air memenuhi paru-paruku, atau membenturkan kepalaku sekeras-kerasnya ke dinding hingga cairan otakku memancur keluar. Aku bisa saja melakukan salah satu dari tiga hal itu, namun ketakutan akan mati bagaimanapun lebih besar dari rasa takutku kepada si Bangsat Tua. Bayangan Pa dengan luka besar di leher dan Ma yang perutnya tertancap pisau membuatku yakin bahwa mati dengan cara dipaksakan amat sangat menyakitkan. Entahlah, aku belum mau mati, aku masih ingin melihat atau mendengar kabar bahwa si Bangsat Tua yang mati lebih dulu. Dan… ini yang aneh, aku masih berharap suatu hari nanti bisa keluar dari tempat jahanam ini, dibebaskan ketika aku tidak lagi menjadi aset istimewa—seperti kata si bangsat Tua— atau ada superhero yang mendobrak pintu itu lalu mengeluarkanku. Mimpi mulukku.

Pintu terbuka. Mr. Diablo Vascimento tersenyum di sana. Selain Don Jose, pria gaek itu juga pengunjung tetapku, dua kali dalam satu bulan. Dia adalah bandar obat terlarang di Negara ini, kebal hukum dan bisa membuat oknum penegak hukum layaknya bonekanya. Namun dibanding Don Jose dalam meperlakukanku, Mr. Vascimento sedikit lebih beradab. Meski begitu, bukan berarti aku menyukai perlakuan pria yang sudah bau tanah ini, tidak selama dia masih datang ke sini dengan satu tujuan, untuk dipuaskan.

“Selamat siang, Alvero. Ini kunjunganku yang ke tiga puluh satu kali ke kamarmu, pertengahan bulan nanti menjadi tiga puluh dua. Aku berdoa untuk itu…”

“Kau memang harus, memandang rambutmu yang sudah seperti kapas, iblis sedang dalam perjalanan untuk menarik nyawamu.”

Dia berjalan ke arah tempat tidur sambil terkekeh hingga terbatuk-batuk. “Ah, Diggory… kau jelas merindukan kakekmu ini. Ayo kemarilah.”

Aku merasa perutku bergolak ketika langkahku kian hampir, aku ingin memuntahi pria di depanku yang sudah jelas akan jadi penghuni neraka ketika dia mati nanti. Kami pasti akan sama-sama di sana.

***

Kerabat Jauh itu menjual rumah orang tua Diggory langsung tiga hari setelah pengebumian orang tuanya. Diggory tidak pernah memegang selembar pun dari uang yang setidaknya bisa membiayai hidupnya sampai ia melewati masa kanak-kanaknya. Si Kerabat Jauh, seorang pemabuk dan suka berjudi bahkan tidak pernah lebih peduli kepada istri dan anaknya daripada botol minuman dan kartu judinya, apalagi Diggory yang hanya anak seorang kerabat jauh.

Diggory putus sekolah di lingkungan barunya. Lebih parah dari itu, ia mendapat perlakuan buruk dari tuan rumah tempatnya menempati ruang kecil di bawah tangganya, berteman tikus dan ngengat. Diggory harus membersihkan lantai di pagi hari sementara anak sebayanya di rumah itu menghabiskan serealnya. Ia mencuci peralatan makan, menyikat lantai kamar mandi, mencuci semua kain di rumah itu dan kadang harus memasak. Semua pekerjaan yang tidak pernah selesai tanpa diiringi caci-maki itu dilakukan Diggory hingga usianya melewati sepuluh.

Poor Diggory…

***

Pria itu baru saja melepas jasnya. Kemejanya berwarna putih bersih, kontras dengan setelan jasnya yang berwarna hitam. Pria Asia bodoh yang pernah mengabaikan kesempatan menambah ruam di badanku dua minggu lalu. Aku tak tahu apapun tentang dirinya, sementara pikiranku menyimpulkan dia seorang turis yang berkunjung sementara waktu ke pinggiran kota ini. Belum terdengar desas-desus apapun tentang dirinya, belum sampai dia menjadi pengunjung rutinku seperti Don Jose atau Mr. Vascimento. Ini kunjungan keduanya, tak berlebihan jika aku punya pikiran bahwa dia akan menjadi pengunjung rutin, Don Jose juga mengunjungiku dua minggu setelah kunjungan pertamanya dulu.

Kunjungan pertamanya dua minggu lalu, dia tidak mengeluarkan satu kata pun sampai aku mengira dia bisu. Dia hanya masuk, membuka semua pakaiannya lalu naik ke tempat tidur. Aku menyarungkan organ pipisnya dengan sarung karet lalu semua terjadi seperti biasanya. Tak ada percakapan atau ciuman sebelumnya. Hanya bercinta, sepertinya dia tak ingin membayar mahal untuk bicara. Jadi langsung bercinta karena untuk itulah dia merogoh koceknya.

Namun kali ini beda.

Dia tidak segera menanggalkan pakaiannya, baru jas saja. Kemejanya masih terkancing sempurna hingga ke pangkal leher, lengkap dengan dasi abu-abunya yang mengkilat. Siapapun dia, aku yakin kekayaannya tidak di bawah Don Jose dan bisnis ilegalnya tak kalah ngeri dari Mr. Vascimento. Aku yakin di Negara asalnya dia adalah penjahat kelas atas, tidak menutup kemungkinan dia sedang melebarkan sayap kejahatannya ke pinggiran kota ini. Aku bersyukur atas nama iblis dia punya cacat seksual, semoga cacat itu adalah kekurangan terbesarnya. Dan sepertinya semua tokoh jahat memang punya cacat, bila tidak fisik maka jiwanya yang cacat.

Dia tidak memanggilku mendekat, tidak dengan suara atau gerak tubuh. Dia hanya duduk di tepi tempat tidur yang sepreinya baru saja kuganti, diam memerhatikan ke segala penjuru ruangan dengan matanya yang seperti menahan silau dan berakhir dengan memerhatikanku. Aku berdiri di sisi cermin sambil melipat lenganku ke dada, hanya bercelana pendek. Seharusnya aku mendekat, membuka semua kain yang membungkus badannya dan melakukan apa yang sudah dibayarnya pada si Bangsat Tua keparat di luar sana, tapi aku tidak melakukannya. Aku akan menunggu sampai dia membuka pakaiannya sendiri.

Kemudian kudengar dia berdehem, dan lalu bersuara untuk pertama kalinya, dalam Bahasa Inggris. Aksennya aneh. “Kulihat kau tidak berada dalam keadaan baik malam ini.” Dia membuat gerakan memutar dengan ibu jari tangan kanan pada wajahnya. Suaranya serak, seperti ada segumpal dahak abadi yang mengganjal pita suaranya, demikian seraknya untuk disebut kasar. Namun dia tidak batuk satu kalipun. Aku tak melihat dia datang dengan rokok atau cerutu di mulut dua minggu lalu, tadi juga tidak. Aku tak mencium aroma nikotin waktu itu tidak pula sekarang. Namun itu bukan jaminan dia tak merokok. Kebanyakan orang jahat suka merokok dan sangat banyak yang suka minuman sejenis beer. “Kau punya banyak lebam di wajahmu.” Dia menyambung kalimatnya dalam bahasa tempatku, kini aku mulai meragukan anggapanku kalau dia hanya turis atau penjahat yang berkunjung sementara. Pikiranku bahwa dia akan menjadi seperti Don Jose dan Mr. Vascimento sepertinya akan menjadi benar. Dia tepat memandang mataku. “Kau tak menyadari memar-memar itu?”

Tanpa dikatakan olehnya pun aku tahu apa yang tercetak di wajahku. Seharusnya dia juga menunjuk guratan-guratan di perut dan pinggangku, juga lebam-lebam yang sama di permukaan leherku. Jika keadaan begini dikatakannya sebagai ‘tidak berada dalam keadaan baik’ maka dia tak akan pernah mendapatiku dalam keadaan baik, karena hampir selama berada di sini keadaan fisikku statis seperti sekarang. Apa dua minggu lalu dia tak memerhatikan? Aku rasa nafsunya yang mengebu-gebu saat itu membuat matanya buta.

Dia berdiri, memungut jasnya dari lantai lalu memandangku lagi. “Aku akan keluar dan meminta uangku kembali pada pria bernama Miguel, kau tidak tampak sanggup bekerja malam ini…”

Dasar jahanam. Jika dia sampai meminta uangnya kembali pada Miguel—kasir si Bangsat Tua, maka habislah aku. Pengalaman diperlakukan seperti anjing kurap di tempat yang disebut si Bangsat Tua sebagai ‘ruang belajar’ dengan leher diberi kalung dan rantai panjang serta pecut yang terus menyambar kulit punggungku sungguh pengalaman yang paling tak ingin kuulangi. Cukup sekali satu waktu dulu. Jadi, sebelum pria muda itu mengetuk pintu sebagai tanda bahwa dia sudah selesai seperti aturan yang sudah ditetapkan, aku melesat menghalanginya. Tanpa memberinya waktu untuk mencerna tindakanku, aku sudah lebih dulu merusak kemejanya, membuat kancing-kancingnya berlesatan ke segala penjuru. Dia berusaha mendorongku menjauh tapi aku malah balas mendorongnya ke tempat tidur.

“Kumohon, kau tak akan sanggup melihatku berada dalam keadaan yang lebih tidak baik lagi dari keadaanku sekarang. Kumohon jangan minta uangmu kembali…” Aku bersimpuh di antara dua kakinya, memegangi lututnya. “Dia akan menyiksaku jika kau meneruskan niatmu, kumohon…” Nadaku tidak memelas, kalimat permohonanku lebih layak disebut memaksa.

Dia terdiam sesaat. Menunduk memperhatikan keadaan kemejanya yang sudah terbuka, melonggarkan dasinya yang sesaat tadi hampir saja menjerat lehernya akibat tindakanku, kemudian dia menatapku. Hanya menatap.

Mendapati dia yang tidak berkata apapun, aku mulai yakin kalau dia mematuhiku untuk tidak meminta uangnya kembali. Jadi kemudian aku bangun dari lantai, menarik lepas celana pendekku dan naik untuk duduk mengangkang di depan perutnya. Dia menghentikan tanganku yang siap membuka ikat pinggangnya. “Sudahlah…” Kami bertatapan. “Sudahlah Alvero, aku tak akan meminta uangku kembali.” Aku kaku ketika satu tangannya meraba rahang kiriku yang biru, jarinya terus bergerak hingga menyentuh mulutku dan berakhir di sudut bibirku sebelah kanan yang sakit, aku sadar kalau ada luka di sana. Si Pria Asia cukup lama menempatkan jarinya di sudut bibirku. “Apa mereka tak pernah mendatangkan seseorang untuk memeriksa kesehatanmu? Membawamu ke siapapun yang benar-benar seorang dokter? Memberi obat untuk luka-luka ini?”

Aku diam. Dia tentu sudah tahu jawaban atas pertanyaannya. Tak ada seseorang yang benar-benar dokter pernah memeriksaku. Lalu kurasakan jemari dari tangannya yang lain di perutku, aku menunduk. Tangannya sedang berkenalan dengan bekas-bekas merah seperti cakaran di seluruh kulit perutku.

“Dua minggu lalu tidak terlihat separah sekarang,” ujarnya. Aku mendongak dan kudapati dia kembali sedang menatapku. “Wajahmu juga tidak selebam ini waktu itu.”

“Apa pedulimu?” aku tak ingin mengeluarkan nada yang tinggi seperti yang kulakukan barusan setelah si Pria Asia melakukan kebaikan dengan tidak keluar sebelum waktu dan meminta uangnya kembali, namun hidup telah merenggut semua nada lembut dariku sejak aku berada di tempat terkutuk ini.

Kedua tangannya meninggalkan wajah dan perutku, bertumpu ke belakang. Dia menghela napas panjang. “Berpindahlah…”

“Tidak! Kau tidak boleh keluar secepat ini.” Aku mencengkeram pinggangnya dengan kedua tanganku.

“Aku sudah bilang tak akan meminta kembali uangku…”

“Tapi mereka akan mengira aku tak mau melayani jika kau keluar sekarang!”

Untuk pertama kalinya dia tersenyum. Benar-benar senyum, bukan seringai seperti yang selalu kuperoleh dari mereka yang memasuki ruanganku. Untuk beberapa detik, aku merasa kalau ada yang masih memandangku sebagai manusia setelah sekian lama dipandang layaknya binatang. Tiba-tiba saja wajah Pa dan Ma melintas sekilas lalu, aku mengerjap lalu menunduk.

“Turunlah…” Dia menepuk bagian tempat tidur di sisi kanannya, “dan duduk di sini. Akan kupastikan kalau aku tidak akan pergi sampai kau suruh atau seseorang di luar sana menyuruhku keluar.”

Aku menatap matanya yang pekat dan jernih, dia balik menatapku. Dari menatap matanya, pandanganku meluas, sekarang memerhatikan keseluruhan wajahnya. Aku baru sadar kalau dia punya bekas luka seperti goresan benda tajam sepanjang kurang lebih tiga sentimeter, sedikit di atas garis rahangnya sebelah kiri, bekas luka yang indah, tersamarkan bulu-bulu tipis di situ. Hidungnya kecil mancung seperti kebanyakan hidung pria Asia, alisnya lurus panjang dan legam selegam rambut tebal lurus di atas kepalanya. Sejumput rambut di dahinya turun miring hampir mencucuk ke dalam mata kirinya.  Sungguh, dia adalah keledai bodoh karena memilih datang ke sini di saat sebenarnya dia bisa mendapatkan pelacur wanita paling cantik di negaraku. Pandanganku turun ke dadanya yang terbuka, bekas luka yang sama juga terdapat di beberapa bagian dadanya. Kalung rantai pipih dengan liontin sebentuk naga bersayap dalam lingkaran menempel di kulit dadanya. Aku sudah melihat bekas luka dan kalungnya ini dua minggu yang lalu. Di pinggangnya, sebentuk tato naga bersayap berwarna hitam yang persis sama seperti liontin kalungnya—yang beda adalah naga itu tidak berada dalam lingkaran—tampak seperti noda kecil bagi kulitnya yang begitu sehat putih bersih tanpa bercak. Ekor naga itu tersembunyi oleh pinggang celananya. Black Dragon… Aku yakin kalau lambang naga bersayap itu berarti sesuatu bagi pemiliknya.

“Kau mau terus menduduki penisku sampai seseorang memberitahuku agar keluar kamar?”

Aku beringsut turun ke sisi kanannya. Memungut celanaku dari lantai dan mengenakannya. Sementara aku duduk diam di sebelah kanannya, dia melepaskan dasi dari lehernya, memasukkan ujung-ujung kemeja yang tak lagi berkancing ke dalam celananya serapi mungkin dan mengenakan kembali jasnya serta memasang dua kancingnya. Sebagian dadanya tetap masih tampak terbuka.

“Boleh aku menggunakan cerminmu?”

Aku tak menjawab. Meski begitu dia tetap meninggalkan tempat tidur dan berdiri di depan cermin, mematut-matut kemeja dan jasnya sedemikian rupa hingga sedikit lebih rapi dari sebelumnya, namun dadanya tetap terekspos. Apa dia punya agenda semisal pertemuan dengan orang-orang penting setelah dari sini sehingga harus terlihat rapi? Kalaupun iya, itu bukan urusanku.

Dia kembali ke tempat tidur setelah merasa cukup dengan cermin besar itu. Duduk di sampingku. Waktu berlalu dalam keheningan sampai terdengar ketukan kasar di pintu. Si Pria Asia harus segera keluar.

Okey, Im coming!” dia berteriak ke arah pintu lalu bangkit berdiri. Sebelum bergerak, dia menolehku dan berkata dengan suara amat sangat pelan, “Aku ingin kau siap ketika saat untuk menjemput kebebasanmu tiba, Alvero Diggory…” lalu dia menuju pintu, memukul satu kali untuk memberi isyarat kalau dia siap keluar. Aku masih terpaku sampai pria itu menghilang di balik pintu dan seringai Stoner mengakhiri jam kerjaku hari ini.

***

Dia berusia jalan empat belas tahun ketika dijual si Kerabat Jauh kepada Vasgo Quentin. Harganya membuat si Kerabat Jauh itu mampu memiliki mobil mewah seandai minatnya terhadap meja judi dan botol beer tidak lebih besar dari apapun selain itu, atau jika otaknya lebih waras sedikit dari biasanya. Namun tidak, si Kerabat Jauh adalah binatang yang bodoh. Andai dia cukup pintar, uang sebanyak itu bisa dipakainya untuk memancing uang yang lebih banyak lagi dengan cara yang cerdas—bukan melalui untung-untungan di meja judi. Si Kerabat Jauh lebih bodoh dari keledai, ia melewatkan dua kali kesempatan terbaiknya untuk mengubah hidup. Kesempatan pertamanya adalah ketika menjual rumah berikut tanah milik kerabat jauhnya dan kesempatan keduanya tentu saja ketika menjual putra dari kerabat jauhnya tersebut. Tak ada keledai yang lebih dungu lagi dari itu.

Diggory remaja adalah lelaki muda yang menawan. Meski penuh parut luka, fisiknya terpahat bagus hasil kerja paksa yang dilakukannya selama berada di rumah si Kerabat Jauh. Tipe yang sangat dibutuhkan di ‘lahan’ Quentin. Bukan Quentin yang menemukan Diggory, tapi si Kerabat Jauh yang menemukan Quentin. Transaksi berlangsung tak sampai semenit. Diggory meraung-raung dan memanggil-manggil si kerabat jauh dengan seruan ‘Paman’ ketika diseret kaki tangan Quentin ke dalam limo malam itu. Meski menjeritkan akan melakukan apa saja yang diperintah pamannya, menjeritkan akan bekerja lebih keras lagi, mengerjakan pekerjaan rumah lebih giat lagi, namun Diggory tak bisa mencegah si Kerabat Jauh berlalu dengan seikat uang di tangan sambil tertawa layaknya pemenang lotre. Malam itu si Kerabat Jauh nyatanya memang baru saja memenangkan lotre atas takdir Diggory.

Ketika pintu limo Vasgo Quentin tertutup, maka saat itulah babak paling kelam dalam hidup seorang Alvero Diggory baru saja dimulai. Segala penderitaan yang pernah dialaminya selama berada di bawah kuasa kerabat jauh yang dipanggilnya Paman tidak ada seujung kuku pun dibandingkan dengan kebiadaban yang akan diterimanya di bawah kendali Vasgo Quentin.

***

Aku mencoba mengingat-ingat bagaimana persisnya bisikan si Pria Asia malam tadi ketika akan meninggalkan ruangan. Aku tak yakin benar-benar mendengarnya cukup jelas.

‘Aku ingin kau siap ketika saat untuk menjemput kebebasanmu tiba’

Begitukah persisnya? Aku cukup ragu. Jika pun pendengaranku benar, apa maksud dari bisikannya itu? Bahwa aku akan bebas dari tempat keparat ini? Siapa yang akan membebaskanku? Dia? Yang benar saja. Apa yang akan dilakukannya untuk membebaskanku? Aku yakin lehernya akan terpenggal bahkan sebelum mampu melewati Jones dan Stoner atau salah satu dari mereka. Pria Asia itu terlalu percaya diri ketika membuatku terkesan malam tadi sehingga mengutarakan hal yang muluk di ujung kunjungannya. Membebaskanku. Amunisi apa yang dimilikinya hingga punya niat mulia sedemikian rupa? Apa dia akan melaksanakan niat dengan modal tangan kosong?

Oh ayolah, Bung… bahkan kau tak diperkenankan membawa masuk apapun jenis senjata selain senjata biologis yang ada di antara dua pahamu ke dalam ruanganku. Bahkan alat komunikasi pun tidak.

Ucapan yang berupa bisikan malam tadi dari si Pria Asia yang baru kujumpai dua kali sudah membuatku gila dan berpikir di luar kemungkinan. Aku yang bisa bebas dari tempat ini adalah keajaiban yang membutuhkan sedikitnya gabungan seribu kali keberuntungan dari seribu tangan Tuhan. Dan itu tak akan pernah terwujud karena faktanya yang mendengar doa-doaku bukanlah Tuhan, melainkan iblis. Aku sendiri yang kerap berdoa pada iblis di neraka.

Aku memandang ke arah pintu saat mendengar suara kenopnya yang diputar. Sosok tinggi besar Stoner dan Jones masuk berurutan. Aku muak melihat seringai di wajah keduanya. Firasatku langsung buruk ketika Stoner mengeluarkan suara. “Sepertinya pelangganmu sepi hari ini, Pretty Boy…”

Sudah ditakdirkan, sejak aku tidak lagi memegang kendali atas diriku sendiri, hidupku terdiri dari sejarah yang berulang lagi dan lagi dan lagi. Hari ini, satu sejarah akan kembali terulang, bukan untuk kedua kali, tapi untuk ketujuh kalinya.

Aku berhasil membuat hidung Jones mengeluarkan darah ketika mereka berdua menyerbuku, bangsat itu yang maju lebih dulu. Usaha perlindungan diri yang sia-sia dan harus kubayar mahal. Tendangan Jones yang dilakukan dengan amarah mendidih membuatku bergulingan di lantai. Perutku melintir, nyerinya luar biasa.

Stoner menghampiriku yang megap-megap di lantai, menarik paksa celana pendekku hingga lepas sebelum melemparku ke tempat tidur.

“Kau perlu diberi pelajaran sopan santun melebihi kadar yang biasa kau terima hari ini! Seharusnya kau tak meninju wajahku, ingatkan dirimu untuk tidak melakukannya lain kali!”

Aku tak sadarkan diri bertepatan Jones yang menerkamku bagai singa lapar berlatarbelakangkan suara tawa keras Stoner.

***

Vasgo Quentin memperlakukan kelinci barunya dengan amat sangat lembut dan beradab di hari pertama si kelinci memasuki sangkarnya. Diggory dimasukkan ke kamar mandi mewah, berendam satu jam lamanya di dalam bak porselen, mencuci wajahnya bersih-bersih, menyikat giginya hingga kesat lalu seorang tukang rias mengambil alih fisiknya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Diggory suka gaya rambutnya yang baru, tersenyum cerah ketika mendapati kuku tangan dan kakinya bersih bagai kuku bayi. Saat itu dia mulai percaya, bahwa keputusan si Kerabat Jauh untuk menjualnya kepada pria asing yang tak pernah dikenalnya adalah salah satu peristiwa baik dalam hidupnya.

Diggory dipersilakan memilih baju dan celananya sendiri di gantungan yang berderet-deret. Semua itu milikmu mulai saat ini, begitu kata Vasgo Quentin sambil tersenyum lebar. Diggory kebingungan memilih sampai si Tukang Rias mengatakan kalau ia akan terlihat cocok mengenakan setelan mana saja.

Diggory menikmati makan siang yang tak pernah dibayangkannya selama berada di rumah si Kerabat Jauh, setelah itu Vasgo Quentin mengajaknya jalan-jalan dengan limo, menghadiri beberapa pertemuan yang tidak dipahaminya sama sekali di gedung dan beberapa bar yang tak dikenalnya hingga jauh sore. Diggory tak tahu jika selama Vasgo Quentin membawanya ‘jalan-jalan’ itu adalah juga merupakan usaha untuk mencari harga tertinggi dari pria yang akan membayar kesempatan pertama bersamanya. Diggory tak tahu bahwa ketika Vasgo Quentin meninggalkannya untuk bicara empat mata dengan pria berjas di beberapa lokasi pertemuan adalah dalam rangka memutuskan harganya.

Malamnya, Diggory tertawa senang di meja makan besar penuh piring berisi hidangan yang demikian mewahnya bersama Vasgo Quentin. Kau hanya perlu bersikap yang membuatku senang, Diggory. Dan selama itu kau akan kubuat bahagia, demikian ujar Vasgo Quentin di sela-sela leluconnya di meja makan. Diggory tersenyum cerah saat itu.

Dan senyum di wajah remaja Alvero Diggory malam itu akan terlihat sangat kontras dengan apa yang akan terjadi setelah agenda makan malamnya bersama Vasgo Quentin.

***

Tiga hari.

Memar-memar baru lebih parah yang kuperoleh dari perlakuan Jones dan Stoner tiga hari lalu belum juga membaik. Aku kesulitan bergerak leluasa. Di antara sekian banyak perlakuan yang kuterima dari dua binatang itu selama ini, yang terjadi tiga hari lalu adalah yang paling buruk. Aku baru sadarkan diri saat tengah malam dengan perasaan remuk-redam di sekujur tubuhku. Terkutuklah mereka. Alas tidurku penuh noda, lengket dan lembab. Saat itu aku harus merangkak menuju kamar mandi untuk membasuh diri.

Keesokannya Bangsat Tua menjengukku. Tanpa belas kasihan dia merepet panjang lebar tentang kerugian yang akan kusebabkan terhadapnya karena dipastikan sepanjang hari itu aku tak bisa dioperasikan. “Seharusnya kau tak meninju hidung Jones.” Dia menatapku dengan tatapan penuh marah. “Aku tak akan melewatkan setiap kesempatan untuk mematahkan hidungnya,” jawabku. Bangsat Tua itu hanya mendengus lalu keluar setelah mengultimatum bahwa aku harus siap bekerja esok hari.

Esok hari yang dikatakan si Bangsat Tua adalah hari ini. Sepanjang siang, pintuku belum terbuka kecuali ketika Ordy mengantarkan sarapan dan makan siangku. Aku berbaring di tempat tidur sepanjang sore, menikmati waktu langka dimana pintuku sepi dari kunjungan makhluk-makhluk setengah manusia.

***

Seorang pria berbadan besar yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar membuat Diggory terlonjak di ranjangnya. Tanpa berkata apa-apa, pria itu mulai melucuti pakaiannya sendiri hingga tak menyisakan apapun. Langkah lebar si pria hanya perlu tiga kali ayunan untuk memojokkan remaja itu ke sudut kamar. Diggory berteriak-teriak, memanggil Vasgo Quentin dengan sebutan Tuan Quentin, meminta tolong pada siapa saja sementara pria yang memburunya mendengus kasar.

Diggory berhasil berkelit dan berlari menuju pintu. Ia langsung putus asa ketika mendapati pintu itu terkunci, bukan dari dalam, Diggory jelas melihat bahwa pria yang sedang merangsek maju menujunya hanya menutup pintu begitu saja tadi, tidak membawa sebarang kunci.

Detik itu semuanya jelas. Ia tidak dijual pamannya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tapi sebaliknya. Dengan sisa keberanian untuk mempertahankan diri, Diggory memberikan perlawanan kepada pria tinggi besar yang semakin beringas. Perlawanan kecil yang tak ada artinya dari remaja yang belum genap empat belas tahun. Ketika pria tinggi besar itu berhasil menindihnya di lantai, segala perlawanan sia-sia Diggory sudah tak berarti lagi.

Malam itu, adalah malam pertama dari malam-malam selanjutnya yang akan dilalui Diggory dengan keyakinan penuh, bahwa ia tidak dilahirkan sendiri dari rahim ibunya, kutuk derita ikut lahir menyertainya.

***

Aku sudah melupakan pernah mendengar seorang pria Asia muda berbisik menjanjikan kebebasanku, aku bahkan sudah lupa jika aku pernah dikunjunginya. Lebih sebulan setelah kunjungan keduanya. Banyak hari yang terlewati dengan beragam manusia dan perlakuan yang kuterima, Don Jose dan Mr. Vascimento sudah mengunjungiku dua kali lagi dalam tempo sebulan ini. Aku tak lagi mengingat pria Asia itu sejak dua minggu setelah kunjungan terakhirnya, dia tak datang setelah dua minggu dari kunjungan keduanya seperti yang terjadi setelah kunjungan pertamanya dulu. Kuanggap dia sama seperti kebanyakan mereka yang datang kepadaku satu atau dua kali, tak ada beda. Ucapan dan tingkah lakunya ketika itu tak lebih dari membual.

Namun malam ini ketika pintuku terbuka dan dia melangkah masuk dengan langkah lebarnya yang mantap, aku tahu kalau penilaianku padanya salah besar. Aku melupakannya dua minggu lalu, tapi saat dia memelukku erat seakan meluapkan kerinduannya padaku, kuyakinkan diriku sendiri bahwa satu-satunya orang yang kunjungannya paling kuharapkan mulai sekarang adalah pria Asia ini.

“Kau tampak lebih sehat dari yang kutemukan dua kali dulu. Apa mereka berhenti membuatmu sakit?” dia membuka jasnya.

Aku tak menjawab, sebaliknya kulonggarkan dasinya dengan gerak perlahan hingga tali leher itu berhasil kulepaskan. Dia tak mencegah ketika aku menarik keluar ujung kemeja dari dalam celananya dan mulai membuka kancingnya.

“Apa kau benar-benar menginginkan ini?” Aku menatapnya. “Apa kau benar-benar mengingankan kita bercinta? Dari dalam dirimu sendiri, bukan karena aku telah membayar dan kau takut jika tak melayaniku maka kau akan dipukuli mereka…” ada jeda, aku urung membuka ikat pinggangnya. “Apa pada dasarnya kau memang lebih tertarik pada lelaki ketimbang perempuan?”

Sekian lama, aku tak pernah memikirkan hal yang baru saja disinggung si Pria Asia. Namun sekarang, aku seperti sedang menuju titik pertama dari perjalanan hidupku. Bayangan ketika aku pertama kali digagahi seorang pria bangsat melintas begitu saja. Aku tak pernah menyukai melakukannya, tidak dengan seorang pun dari mereka. Aku melakukannya karena itulah yang harus kulakukan, karena untuk itulah aku masih dibiarkan hidup. “Tidak…”

Pria Asia di depanku tersenyum, senyum keduanya padaku. “Maka kau tak perlu melakukannya denganku…” Dia melepaskan tanganku dari memegang sabuknya.

“Apa kau akan menemui Miguel dan meminta uangmu kembali kali ini?”

Sekarang dia tersenyum amat lebar. “Apa aku begitu sebulan yang lalu?”

“Sebulan yang lalu kau menjanjikan akan membebaskanku…”

“Sssttt…!” dia menutup mulutku dengan dua jarinya, “Jangan berteriak.”

“Kau membohongiku?” suaraku lebih perlahan.

Dia menjauhkan tangannya dari mulutku lalu menggeleng. “Saat itu akan tiba, kau hanya perlu bersabar sebentar lagi…”

“Bagaimana caramu melakukannya?”

“Kita berdua, melawan dunia. Begitu saja…” lalu aku mendengar dia tertawa kecil. “Kau terlalu muda untuk semua kesakitan ini, Alvero… ini bukan duniamu. Di luar sanalah duniamu, dunia lebih baik yang menunggumu.” Dia memegang kepalaku, “Kau ingat berapa usiamu sekarang?”

Aku belum terlalu bodoh untuk mengira tahun-tahun yang berganti meski sebagian besar waktuku berada di ruang tertutup ini. “Belum genap delapan belas, kurasa…”

“Kau rasa?” alisnya terangkat.

“Delapan belas, tak mungkin lebih. Aku dibawa kemari saat umurku belum genap empat belas, aku yakin sudah empat kali pergantian tahun sejak aku di sini.”

“Hemm… tetap masih terlalu muda untuk mengambil peran di dunia gelap.” Dia berjalan ke tempat tidur, duduk menjuntai di sana. “Seberapa besar tekadmu untuk bebas dari tempat ini?” suaranya memelan.

“Sebesar keinginanku untuk mengeluarkan jantung Vasgo Quentin dari rongga dadanya!” aku mendesis.

“Hemm… cukup kuat berarti.” Dia menyentuh liontinnya, mengelusnya dengan ibu jari tangan kanan.

“Apa kalung itu memiliki arti bagimu?” aku tak dapat menahan keingintahuanku.

Dia mengangguk, menunduk menatap kalungnya. “Sebaiknya kau tak usah tahu.”

Aku melangkah ke tempat tidur dan duduk di sampingnya. “Kapan kau akan mengeluarkanku…” Aku masih sangat tertarik dengan topik ini. Bayangkan, setelah harapanku untuk dapat bebas suatu hari nanti disiram padam oleh si bangsat Tua sekian lama, kini tiba-tiba seseorang baru saja menyalakannya lagi. Apa yang lebih menggembirakan dari itu?

Si Pria Asia menatapku sedikit lama lalu berujar, “Secepatnya, Alvero… secepatnya…”

“Apakah secepatnya itu berarti bahwa aku harus melewati bulan dan tahun lagi?” tatapan dan ekspresinya yang datar ketika berkata ‘secepatnya’ mendadak membuatku pesimis lagi, dia seperti tak yakin. Apa aku benar-benar bisa bergantung pada orang asing ini?

Dia menggeleng untukku, “Aku sedang berusaha, aku mau kau menunggu, jangan putus asa. Percayalah padaku…” Kemudian dia merebahkan badannya di tempat tidur, merentangkan kedua tangannya dan menatap langit-langit ruang beberapa saat sebelum memejamkan mata.

‘Percayalah padaku…’

Ucapannya menggema di kepalaku, menjawab pertanyaan dalam hatiku sesaat tadi. Aku benar-benar bisa bergantung pada orang asing ini, pada manusia ini.

Kurebahkan diriku di sampingnya, kepalaku berbantal lengannya. Kuikuti dia yang menerawang langit-langit tadinya, kujalin tanganku di dada lalu kupejamkan mata. Di sisiku, dia bergerak dan sesaat kemudian lengannya yang bebas membelit pinggangku. Aku membuka mata dan menolehnya. Wajahku berhadapan tepat dengan wajahnya, dia masih terpejam.

“Jangan takut, aku sudah bilang kau tak perlu melakukannya denganku. Aku hanya ingin begini sampai mereka menggedor pintu.”

***

Sejak malam dimana ia dibuat tak berdaya oleh si pria besar, Diggory tidak lagi benar-benar terhubung dengan dunia luar. Vasgo Quentin memberinya kamar baru yang lebih kokoh, tanpa jendela, hanya tiga deret lubang angin kecil seukuran sarang burung Wallet di ketinggian dinding. Semua fasilitas yang dibutuhkan seorang manusia untuk bertahan hidup dibawa Vasgo Quentin ke kamar itu.

Kabar demikian cepatnya menyebar bagai api yang menyala di atas minyak. Lalu pelanggan mulai berdatangan untuk bocah terbaik yang dimiliki Vasgo Quentin. Alvero Diggory disebut-sebut sebagai pencetak rekor bagi Vasgo Quentin, makelar ini berada di puncak kejayaannya dan menyadari sepenuhnya bahwa takdirnya terikat dengan remaja lelaki itu. Ia harus menjaga anak itu demi kelangsungan bisnisnya. Tidak mudah mencari anak lelaki seperti Alvero Diggory, ia beruntung dapat membelinya.

Namun mendidik agar Diggory mematuhinya sungguh butuh proses. Bulan-bulan awal semua yang datang ke kamar kelinci barunya itu selalu mengeluh begitu keluar dari sana. Dia hampir menggigit putus daun telingaku; Kau lihat cakaran ini Quentin? Ajarkan anakmu untuk menghormatiku sebelum aku membuatnya menyesal besar; Dia selincah Antelop, aku hampir tak bisa menaklukkannya; Aku akan minta kembali uangku jika kali depan aku harus bergelut dulu dengannya; Kau benar-benar harus mengajarinya Quentin, aku tak yakin kolegamu yang lain sesabar aku ketika meniduri anakmu itu.

Dan ketika seorang koleganya yang sudah membayar mahal keluar dari kamar dengan mulut penuh darah sambil berteriak: Bangsat, Quentin… aku tidak datang ke tempatmu untuk mengoyak mulutku. Semoga hajaranku membuatnya mati!, maka Vasgo Quentin memerintahkan anak buahnya untuk menyeret Diggory ke ‘ruang belajar’. Anak itu harus diajarkan cara melayani tuannya dengan benar sebelum dia merugikanku lebih jauh, demikian ia berkata pada pengikutnya.

Begitu Diggory sadar dari pingsannya, lecutan pecut pertama menghajar kulit punggungnya di kamar yang disebut ‘ruang belajar’.

***

“Bagaimana kau mendapatkan parut-parut ini?” dia menjenguk ke punggungku yang telanjang.

Sudah tiga minggu sejak kunjungannya yang lalu. Malam ini dia masuk ke ruanganku  dan langsung duduk di sebelahku di tempat tidur. Aku sama sekali tak mengusik setelan jasnya kali ini. “Kau tak ingin mengetahuinya.”

Tidak mendapat jawaban yang diinginkan, tangannya menyusuri punggungku dengan gerakan perlahan. Telapaknya menyentuh semua parut cambukan yang tampak bagai tato garis-garis tak beraturan di punggungku, aku menghitung jumlahnya ketika memerhatikan parut itu pertama kalinya di depan cermin dulu.

“Walau bagaimanapun, parut ini malah memperindah punggungmu. Kau seperti ditato tanpa menggunakan tinta.” Aku tak akan kesal mendengar ucapannya. Pria-pria lain sudah mengatakannya lebih dulu sebelum dia. “Kau lelaki yang kuat, Alvero. Tidak banyak orang yang sanggup bertahan jika berada dalam kondisi seperti yang kau alami.”

“Tapi tidak cukup kuat untuk keluar dari tempat terkutuk ini.”

Dia diam cukup lama. Sepertinya menangkap maksud ucapanku sebagai usaha mengingatkannya pada janji yang dikatakannya padaku sebelum ini. Dia menghela napas panjang lalu turun dan berdiri di sisi tempat tidur. “Jika aku keluar sekarang, apa itu terbilang cepat?” dia bertanya sambil melirik jam tangannya.

Aku mengikutinya berdiri, menatap matanya sebentar lalu kutarik kemejanya hingga tidak lagi serapi tadi, sebagian ujung kemeja itu tidak lagi berada dalam celananya. Pupilnya sempat terlihat melebar sesaat tadi, mungkin dia mengira aku akan mengajaknya bercinta. Lalu aku menggeleng, “Tidak, tidak terlalu cepat.”

Dia menggumam pelan lalu mengambil jasnya dari tempat tidur. Tanpa bersuara lagi dia bergerak ke pintu.

Seringai di wajah Stoner ketika membukakan pintu mengejekku. Jika pun pria Asia—yang belum pernah menyebutkan namanya—itu sungguh-sungguh ingin membantuku keluar dari sini, itu tidak akan terjadi secepat yang kubayangkan. Sepertinya pertanyaanku saat kunjungannya yang telah lalu tentang arti dari ‘secepatnya’ yang dia katakan bisa jadi benar. Dari sikap si Pria Asia yang kubaca selama ini, secepatnya itu adalah berarti bahwa aku harus melewati bulan-bulan dan tahun lagi, sepertinya…

***

Ketika didikan di ‘ruang belajar’ mulai menunjukkan hasil, Vasgo Quentin sudah mulai melunak pada Diggory. Ia mengajak anak itu ikut dengannya untuk melihat dunia luar sedikitnya satu kali sebulan. Membawa Diggory ke beberapa pertemuan rahasianya atau ketika menghadiri pesta koleganya untuk dipamerkan, tentu saja kaki tangannya juga ikut serta. Tanpa disadari Vasgo Quentin, pada kesempatan yang jarang-jarang itu Diggory mempelajari situasi, memerhatikan kebiasaan-kebiasaan di sekitarnya dan mengintai kesempatan untuk menerobos melarikan diri.

Dan Diggory benar-benar mengambil kesempatan ketika Vasgo Quentin membawanya untuk menghadiri sebuah pesta. Diggory hampir berhasil meloloskan diri setelah memanjat ventilasi kamar mandi di rumah tempat berlangsungnya pesta itu jika saja anak buah Vasgo Quentin yang menunggu di depan kamar mandi tidak terlalu cepat menyadari kalau Diggory terlalu senyap di di balik pintu yang ia jaga. Si Penjaga itu mendobrak pintu tepat ketika ujung sepatu Diggory baru saja bebas dari lubang ventilasi.

Diggory bahkan belum meninggalkan pekarangan rumah itu ketika mereka berhasil menangkapnya. Vasgo Quentin marah besar, Diggory dihajar habis-habisan sampai harus memulihkan keadaannya nyaris dua minggu, dua minggu yang kata Vasgo Quentin adalah kerugian terbesar bagi usahanya. Sejak kejadian itu, Vasgo Quentin tak mau mengambil resiko, ia memberi perintah kepada anak buahnya bahwa Diggory harus tetap berada di kamarnya selamanya. Jangan biarkan dia melewati ambang pintu, kalian berdua bebas melakukan apapun untuk memastikan dia tetap berada di balik pintu ini! begitu Quentin bertitah.

Dan itu benar-benar terjadi. Diggory tak pernah berhasil mencapai ambang pintu. Setiap kali ia menghambur ke pintu bila kayu persegi itu terbuka maka setiap kali itu juga tendangan anak buah Vasgo Quentin yang menjaga pintu melemparnya kembali ke kamar. Begitu berkali-kali hingga Diggory lelah berlari ke pintu.

Kebebasannya menjadi hal yang paling mustahil sejak saat itu. Diggory menjadi pasrah dalam kebencian yang semakin besar kepada Vasgo Quentin. Namun jauh di bagian paling dalam dan gelap hatinya, Diggory masih memimpikan dapat keluar menyongsong dunia luar atau dapat melihat Vasgo Quentin meregang nyawa. Diggory sudah cukup puas bisa memperoleh salah satu dari dua hal itu, bebas atau melihat kematian Vasgo Quentin.

***

Si Pria Asia menyunggingkan senyum lebar setelah Stoner menutup pintu di belakangnya. Aku mengernyit melihat dia yang tersenyum seperti itu. Apa dia baru saja mendulang kesuksesan apapun yang aku tak perlu tahu? Atau ada misi yang baru saja dibereskannya tanpa sebarang kendala? Itu juga aku tak perlu tahu.

“Kau punya pakaian?”

Mengapa dia menanyakan pakaianku? Dalam bingung, aku menunjuk lemariku di sudut ruang. Dia bergegas menuju ke sana, mempentangkan kedua pintu lemari dan mengubek-ngubek isinya. Beberapa detik kemudian dia melempar sehelai jeans dan kaos lengan panjang warna gelap ke atas tempat tidur.

“Pakai itu, kau tak mungkin berkeliaran dengan hanya mengenakan handuk,” dia mendesis.

Mataku membundar. “Apakah sekarang?” Tak sadar aku berteriak dan berlari menubruknya.

“Hey, shuusshh…! Jangan membuat keributan!” Aku tak peduli, kucium wajahnya bertubi-tubi hingga dia terkekeh sendiri lalu mendorong pinggangku menjauh perlahan. Mimik wajahnya berubah serius, “Tapi aku tidak bisa menjanjikan kita berhasil, Alvero. Kita akan mencoba dan tak ada yang tahu bagaimana nantinya, kita tak bisa melenggang dengan mudah, aku mau kau tidak mengesampingkan resikonya. Kau mengerti yang kumaksudkan, kan?”

Aku menatap matanya lekat-lekat lalu mengangguk.

“Sekarang pakai bajumu.” Dia melirik jamnya lalu bergerak cepat menuju kamar mandi. Apa dia akan mendobrak dinding kamar mandi sebagai jalan keluar? Mustahil,selain tak ada rongga sekecil lubang semut pun, dinding kamar mandi itu sekokoh karang, semua dinding di rumah ini begitu.

Aku memerhatikan gerak-geriknya sambil mengenakan pakaianku. Ternyata dia hanya menjenguk saja ke kamar mandi, mungkin memeriksa bahwa tak ada bahaya yang perlu dikhawatirkan yang berasal dari sana. Aku selesai berpakaian tepat ketika dia selesai memeriksa tiap sudut kamarku.

“Kau sedang apa?”

“Hanya memastikan bahwa selama ini tak ada yang mendengar percakapan kita, jika itu bisa terjadi, sama artinya aku masuk perangkap…”

“Bukankah seharusnya kau melakukan itu sejak punya niat untuk mengeluarkanku?” aku tak habis pikir dengan ketololannya.

Dia tersenyum canggung, “Aku lupa.”

Kuputar bola mataku, sikapnya menggemaskan ketika berkata ‘aku lupa’ itu. Seharusnya saat ini aku berdebar-debar, dia juga seharusnya tegang. Tapi itu tak terjadi, setidaknya belum. Entahlah, jika pun usaha ini tak berhasil dan kami harus mati, aku sudah mantap menyongsong ajalku hari ini. “Setidaknya kita akan membunuh Bangsat Tua itu sebelum kita mati, kan?”

Dia berhenti bergerak, “Kau punya keberanian. Tapi apa rencanamu dengan dua algojo di depan pintu? Kau tidak lupa, kan… bahwa untuk mencapai Quentin kau harus melewati mereka lebih dulu dan kaki tangannya yang lain setelah itu?”

Dan barulah jantungku berdebar. “Kau menghasutku untuk berontak tanpa menyusun rencana? Seharusnya aku sadar kalau kau memang hanya membual…”

“Sssttt… kau terlalu berisik.” Dia melirik jamnya lagi, “Aku sudah janji padamu kan? Jadi percaya saja.”

“Apa yang akan kau andalkan? Kungfumu?”

“Apa aku terlihat seperti seorang yang jago kungfu?”

“Kau terlihat seperti anak seorang penjahat sombong yang berpikir bahwa dunia berada dalam genggamanmu dengan mengandalkan kekuasaan ayahmu, padahal aslinya kau payah.” Entah mengapa mendadak aku kesal. Segalanya bagaikan main-main saja sekarang.

“Wow, kau menebak benar bagian penjahat meski aku bukan darah daging ayahku.” Aku tercengang walau pernah mengira kalau dia bukan orang baik atau pebisnis sukses yang punya kelakuan aneh sehingga tersesat ke sarang si Bangsat Tua. “tapi kau salah jika menganggapku payah!” dia meraba pinggangnya, menyusupkan sebelah tangannya ke bawah sabuk lalu sesuatu seperti gagang pisau tergenggam di tangannya. Aku sempat mengira dia akan mengeluarkan sepucuk pistol dengan peredam suara, ternyata harapanku terlalu tinggi. Dia mengutak-atik gagang pisau itu lalu…

Seeeettt

Besi pipih mengkilat seperti mata pedang membeset keluar di salah satu ujung benda yang kukira gagang pisau itu, kuperkirakan panjangnya tiga puluh senti saja. “Aku berhasil mengelabui mereka dengan senjataku yang lain.” Dia mengedip sambil meraba selangkangannya. Setidaknya kami punya senjata. Dia lagi-lagi melirik jam. “Alvero Diggory, kau siap?”

“Entahlah…”

“Kita tak punya waktu untuk mengubah entahlahmu itu menjadi aku siap, pintu itu akan didobrak sekarang, ayo optimislah!”

Keningku berlipat memandangnya, sebelum aku sempat bertanya, suara gaduh di pintu membuat perhatianku teralih ke sana. Mulutku membuka siap untuk bertanya padanya ketika…

BRAAAKKK

Daun pintu tebal itu terpelanting lepas dari bingkainya, engsel-engselnya bengkok. Seorang pria berbadan amat sangat kekar dengan kepala licin berdiri pongah di sana, sepucuk senapan besar tergenggam mantap di tangan. “Well, Ryu… kau benar, dia masih anak-anak… dan…” pria kekar itu mengerutkan bibirnya sebelum menyambung ucapannya, “He is cute… pantas saja kau betah ke sarang Quentin ini.”

Kurasakan wajahku memanas. Kudengar si Pria Asia—yang baru saja dipanggil dengan nama Ryu—di sampingku tertawa pendek. “Selalu on time, Big-Guy…”

“Ryu…” Seorang wanita cantik berambut lurus hitam menjuntai hingga ke pinggang muncul dari balik badan besar si pria yang dipanggil oleh Ryu dengan sebutan Big-Guy. Mata wanita ini begitu bundar, terlihat sebagai kombinasi sempurna dengan poninya yang terpotong rapi horizontal. Wanita ini juga memegang senjata, pistol siaga di kedua tangannya. Lalu dia mengedip genit, padaku “Wow…” dan bla bla bla. Aku tak faham bahasa Asianya yang berlesatan cepat dari mulut kecilnya.

Di sampingku, Ryu tertawa. Aku menoleh, “Apa katanya?”

“Barbie bilang kau seksi…” dan mereka bertiga tertawa serempak. Sial. “Senang melihatmu, Barb…” Ryu berjalan ke pintu. Aku mengekor di belakangnya.

Saat itulah aku melihat sosok Jones dan Stoner menggeletak bersandar dinding, dada masing-masing mereka berlubang tepat di jantung. Darah membanjir di lantai. Mendadak amarahku menggelegak. Ryu terlonjak ketika aku berhasil merebut pedangnya dan membabatkan senjata itu bertubi-tubi ke kepala Jones dan Stoner bergantian. Pria berjuluk Big-Guy dan wanita bernama Barbie tercengang.

“Dendam lama…” kudengar Ryu berujar pada mereka, “Aku akan mengurusnya, kalian silakan bantu Kiddo dan Kaori…”

Aku masih terus membabat hingga wajah dua binatang yang sudah lebih dulu mati—entah oleh siapa di antara Big-Guy dan Barbie—di depanku ini hancur lebur.

“Vero… hey… sudah, sudah!” Ryu menangkap tanganku. “Mari, berikan aku pedangnya sebelum kau bisa melukai dirimu sendiri.” Dia merengkuhku dengan tangannya yang lain. Dadaku naik-turun dengan cepatnya, badanku bergetar hebat. Iblis lebih tahu bagaimana keadaan emosiku saat ini. “Aku faham apa yang kau rasakan, tapi tenanglah, akan ada bagian dimana kau memerlukan semua emosimu. Kau masih ingin mengeluarkan jantung Bangsat Tua itu kan?” aku diam, tapi mataku mengkilat penuh dendam. “Ayo!”

Ryu memungut pistol yang berada di dekat kaki Stoner, darah menutupi sebagian besar laras senjata api itu. Dia berjalan di depan, menyusuri lorong yang menuju entah ke bagian mana istana si bangsat Tua. Aku berjalan di belakang, jauh sehasta dari punggung Ryu. Suara ribut letusan senjata api mulai  ditangkap telingaku, aku tidak menyadarinya beberapa saat tadi. Teman-teman Ryu sedang melawan anak buah si Bangsat Tua.

“Kau bisa menggunakan pistol?” Ryu berbalik menghadapku sambil mengulurkan pistol yang kuperkirakan milik Stoner. “Apa masih ada pelurunya ya?” dasar konyol, seharusnya dia memeriksa pistol itu tadi ketika memungutnya di kaki Stoner, bukan ketika kami sudah berjalan sejauh lima meter. Dia memeriksa pistol itu. “Setidaknya ada empat peluru, aku lupa minta perbekalan pada Big-Guy.”

“Meski ada peluru, aku tak bisa menggunakannya. Berikan saja pedangmu, aku lebih tahu cara menggunakannya ketimbang pistol itu! Sudah kubuktikan kan kalau aku bisa menggunakan pedangmu?” Sialan. Dia malah tersenyum menanggapi ucapanku. Apa dia pikir aku main-main?

“Seingatku, kau belum pernah benar-benar menggunakan pedangku. Yah, kecuali pertemuan pertama kita dulu dihitung, tapi bukankah kau bahkan tidak memegangnya saat itu?”

Aku tahu kemana arah kalimatnya. Kesal kurampas pistol di tangan kirinya dan bersiap maju lebih dulu darinya.

“Hey, hey, hey…!” Dia menangkap lenganku hingga urung berjalan lebih jauh lagi. “Ini misi penyelamatanmu, bukan misi membuatmu dihajar lebih dulu.” Dia memelototiku. “Tetap di belakangku!” ditariknya aku kembali ke belakang punggungnya lalu kembali bergerak. Dua langkah dia malah membalikkan badan lagi, “Hati-hati, jangan sampai menembakkan pistolmu ke punggungku.” Saat berucap demikian dengan kurang ajarnya dia melirik ke selangkanganku.

Pupilku melebar. “AWASSS…!!!”

DORRR DORRR

Di ujung lorong, seseorang baru saja menembakkan dua peluru pistolnya ke arah kami. Sadar dengan apa yang terjadi, Ryu mendorongku kuat-kuat hingga kami berdua jatuh bertindihan di lantai lorong. Rasanya aku bisa melihat timah panas melesat satu jengkal di atas bahu Ryu dan satu lagi beberapa senti dari telinga kananku. Lalu secepat kilat Ryu berbalik dan…

DOR

Pria di ujung lorong roboh dengan lubang di kepala. Aku memandang tanganku yang dipegang Ryu. “Begitu caranya menembak.” Dia bangun lebih dulu lalu menarikku. “Kau hebat.”

Apanya yang hebat, kepalaku nyaris disambar peluru.

Ryu memungut lagi pistol milik anak buah si Bangsat Tua yang baru saja tewas. “Ini biar kupegang,” ujarnya lalu bergerak maju. “Jangan jauh-jauh dariku, Vero.”

“Tak akan.”

Meski sudah sekian lama di sini, itu tidak serta-merta membuatku tahu seluk-beluk setiap bagiannya, tidak jika selama di sini aku hanya akrab dengan sudut-sudut ruanganku saja. Begitu banyak pintu, begitu panjang lorong-lorongnya. Aku bahkan tak yakin jika sekarang kami berada di lantai dasar. Ketika belum dipenjarakan, aku tidak berkesempatan menjelajahi seluruh bagian rumah si Bangsat Tua. Namun hal ini tidak dialami Ryu, sementara aku bergerak bingung di belakangnya dia dengan mantap mendobrak pintu demi pintu yang dilewatinya sepanjang lorong yang kurasakan seperti melingkar. Beberapa ruangan yang pintunya di dobrak Ryu menampilkan pemandangan miris di dalamnya, aku seperti melihat diriku sendiri yang meringkuk di sisi tempat tidur, memeluk lutut di satu sudut atau menatap kosong cermin besar di satu bagian dinding. Hari ini sepertinya beberapa kelinci si Bangsat Tua akan lepas dari kandangnya.

Kami melewati beberapa sosok yang menggeletak tak bernyawa di beberapa pintu, hasil kerja Big-Guy, atau Barbie, atau Kiddo atau Kaori. Suara letusan senjata dan seruan caci maki terdengar sesekali dan seakan menggaung di lorong, ditingkahi erang kesakitan. Aku membayangkan Big-Guy meledakkan kepala tiap anak buah si Bangsat Tua yang dilaluinya, Barbie menembaki setiap pria yang menodongkan senjata ke poninya, atau Kiddo dan Kaori yang kalap meng-karate semua pria bersenjata yang menyerang mereka. Jalan kebebasanku kian lempang.

Ryu terus berjalan cepat. Begitu mencapai ujung lorong yang bercabang dua mendadak sosoknya terpental mundur. Aku melonjak kaget dan tanpa sengaja menarik pelatuk pistolku. Naas, aku menyerempet bahu kiri Ryu. Dia memaki, “Shit, Kid!” Ryu refleks memeriksa bahunya. Dan begitu cepat tendangan itu datang—yang kuyakin tadi telah membuat Ryu terpental—kembali menghajar dadanya hingga jatuh telentang ke lantai, pedang dan pistolnya terlepas dan terpelanting jauh dari jangkauan. Kutemukan Ordy menggembor marah tepat satu langkah di depanku.

Aku cepat mengarahkan moncong pistolku ke sosoknya. Namun masih kalah cepat dengan tinjunya di wajahku, aku terhuyung. Sekali lagi pistolku meletus, kali ini melubangi plavon. Kulihat ujung sepatu Ordy melayang. Aku terlambat berkelit, lenganku serasa patah setelah dihajar tendangannya. Senjataku hilang entah kemana, aku bergulingan di lantai, kepalaku membentur dinding.

Ordy bergerak untuk menjangkau pistol Ryu yang terlepas, namun dia kecele. Sebelum bergerak bangkit dengan memembalkan badannya di lantai sedemikian rupa, Ryu berhasil menendang jauh pistol itu dengan ujung sepatunya. Aku tak tahu mengapa Ordy sampai tidak memegang pistolnya hari ini, kurasa dia kehabisan peluru ketika jalannya bersilangan denganku dan Ryu.

Aku melihat bagaimana Ryu menyerang Ordy yang berbadan dua kali lebih besar darinya. Dengan tangan kosong. Kini aku tahu dia sebenarnya memang ahli karate. Ordy terpojok terus-terusan. Tinju Ryu bertubi-tubi bersarang di kepalanya, lutut Ryu menghujam perut dan dada Ordy tanpa henti hingga pria besar itu jatuh bertekuk lutut. Darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Ryu baru berhenti memukuli ketika Ordy kepayahan bersandar di dinding. Nafasnya sesak. Bangsat satu ini sudah tidak punya daya sama sekali.

Nafas Ryu memburu, bahu kirinya masih berdarah, ulahku. “Kau bisa menggunakan pedangku sekarang.”

Aku mengerti apa yang dia maksudkan. Aku bergerak cepat mengambil pedang Ryu dan berdiri di depan Ordy. Kutatap matanya yang membelalak balas memandangku. “Kau tak perlu mengantarkan makanku lagi, Ordy. Urus jam makanmu sendiri di neraka!” aku menikmati ketika menyucukkan ujung pedang Ryu ke leher Ordy.

“Ayo, kau masih harus melakukan hal serupa pada Quentin.” Ryu mengambil pedangnya dari leher Ordy dan segera berbelok ke satu cabang lorong.

“Bagaimana dengan pistolnya?” Aku memandang pistol yang tadi ditendang Ryu hingga jauh.

Ryu berbalik, “Aku tak yakin kau tak akan membuat kepalaku bocor lain kali bila memegang pistol. Tinggalkan!”

“Kau bisa memegangnya sendiri…” Aku siap berlari untuk mengambil pistol yang tergeletak cukup jauh dari posisiku dan Ryu berdiri.

“Apa aku terlihat butuh pistol?” dia mendengus lalu berbalik pergi.

Pistol itu kutinggalkan. Aku menyusul dan berusaha mensejajari langkahnya yang lebar dan cepat. “Maaf karena menembak bahumu.”

“Hemm… anggap aja kita impas karena aku juga pernah menembakmu satu kali dulu,” jawabnya tanpa memandangku.

Aku memaki sendiri.

Kami menemukan tangga yang menuju ke lantai bawah. Ryu dengan mantap langsung menuruninya. Sekarang aku sadar mengapa Ryu dapat bergerak demikian percaya dirinya sejak dari ruanganku, tentu dia sudah tahu seluk beluk rumah jahanam ini, dia mempelajarinya ketika kunjungan-kunjungannya untukku berlangsung. Aku juga mulai familiar dengan keadaan di lantai bawah. Meja tempatku makan bersama si Bangsat Tua di hari pertama kedatanganku masih bisa kukenali. Aku juga mengenali sosok Miguel yang sudah jadi mayat dengan geroak besar di perut, tergeletak begitu saja di kursinya. Sepertinya Miguel tak sempat melakukan perlawanan ketika nyawanya dihabisi, bahkan untuk sekedar meninggalkan kursinya.

Ryu menendang pintu yang membatasi ruangan tempat meja makan besar itu berada dengan ruangan lainnya, lalu meneruskan langkah. Saat itulah aku mendengar rentetan tembakan dari arah yang hendak dituju Ryu.

“Get down!!!”

Ryu menerjangku, mata pedangnya nyaris membelah pinggangku sebelah kiri. Kami bergulingan di lantai, kembali ke ruang meja makan sementara tembakan terus memburu tepat diujung kakiku dan Ryu. Tersaruk-saruk Ryu menarikku, kami mengesot mundur sambil merunduk menuju sofa besar besar yang ada di sana untuk berlindung.

Shit, kita dalam masalah. Mereka memuntahkan peluru sangat banyak…”

“Seharusnya kita mengambil pistol tadi.”

“Oh ya? Dan kau bisa langsung menembak kepalaku ketika rentetan tembakan tadi mengagetkanmu? Bagus sekali.” Dia memandangku dengan pandangan mengejek. Sekarang aku tahu kalau dia punya bakat alami untuk membuat orang jengkel.

Suara berondongan senapan berhenti. Ryu mencoba mengintip dari sisi sofa, dan detik itu juga rentetan tembakan kembali menghajar seluruh bagian sofa.

“Sial, mereka berdua. Kau harus takut dengan senapan mereka, Vero.” Kalimat Ryu samar-sama kudengar, suara tembakan membuat kupingku berdenging. “Senapan mereka mengerikan… lihat saja sendiri.”

“Dan membuat kepalaku bocor? Tidak, terima kasih.”

Lalu aku mendengar seseorang bersuit nyaring. “Hey, Dude!” itu bukan suara kasar pria. Seorang wanita baru saja datang untuk menjadi juru selamat kami.

Di sampingku Ryu terkekeh. “Tuhan memberkatimu, Kaori.”

Lalu aku mendengar suara seperti cambuk yang diputar berulang-ulang di udara. Suara tembakan memang masih berlanjutan, tapi bunyinya tidak seramai tadi, bahkan kini tembakan itu tidak lagi menyasar arahku dan Ryu. Aku memberanikan diri mengintip dari sisi atas sofa. Kulihat Benjamin mengarahkan berondongan senjata ke arah tangga di mana seorang wanita sedang berlari cepat di atas anak-anak tangga itu kembali ke atas untuk menyelamatkan diri. Ryu bangkit berdiri dan tanpa membuang waktu segera melempar pedang setengahnya ke arah Benjamin. Suara seperti cambuk diputar seperti yang sempat kudengar tadi kembali muncul ketika pedang Ryu membeset udara. Benjamin terlambat menyadari, pedang Ryu menancap tepat di jantungnya. Pria hitam itu roboh seketika. Aku menyusul Ryu keluar dari balik sofa yang hancur-hancuran.

“Nyaris saja kau berubah jadi tirai daging penuh lubang, Ryu-san.”

Aku memandang wanita yang tadi disebut Ryu sebagai Kaori, dia bergerak santai menuruni anak tangga. Sebilah senjata berbentuk sabit berada di tangan kirinya. Wanita bernama Kaori ini tidak lebih tua dari Ryu, wajahnya tirus sempurna. Sama seperti Barbie, dia juga punya poni. Yang beda adalah model rambutnya, jika Barbie punya rambut lurus panjang dan hitam, maka rambut Kaori berwarna emas dan bergulung-gulung di sekeliling kepalanya, namun aneh… poninya lurus rapi seperti baru saja dilalui setrika. Tapi, Kaori sungguh cantik meski model rambutnya aneh.

“Lemparanmu tak pernah meleset, Kaori.” Ryu tersenyum. “Kenalkan, ini Alvero…” Ryu memegang lenganku.

“Ya, aku tahu… Barb sudah bilang padaku. Tapi dia lupa menyebutkan kalau Alvero itu seorang anak-anak.” Kaori tersenyum padaku, “Dia hanya bilang, Alvero sangat seksi.” Kaori menuju mayat rekan Benjamin, menarik sabitnya dari leher orang seperti koki menarik sudip dari penggorengan, demikian santainya.

“Apa Quentin bersama kalian?”

“Ya, sudah sejak tadi. Big-Guy menyuruhku menyusul ke atas untuk melihat kalian, tapi sepertinya aku berbelok ke lorong yang salah. Ketika kudengar suara berondongan senjata di bawah sini, aku kembali turun.” Kaori melirikku, lalu berbicara dalam bahasa yang tidak kupahami kepada Ryu.

Pria itu tertawa menanggapi kalimat Kaori yang juga disampaikan sambil tersenyum, aku tahu mereka sedang membicarakanku. Ryu melirikku. “Apa katanya?”

“Emm… Kaori ingin tahu, apa kau menyukai wanita juga?”

Mukaku memanas lagi sementara Kaori melangkah sambil tertawa-tawa.

“Ayo, kau pasti sudah sangat merindukan ayahmu.” Ryu menyeringai padaku, menarik pedangnya dari badan Benjamin lalu berjalan di belakang Kaori.

***

Vasgo Quentin duduk di sebuah kursi dengan posisi sama sekali jauh dari kata nyaman. Seorang pria berbadan amat sangat kekar dan berkepala plontos menodongkan Senapan besarnya tepat di depan mulut si makelar. Senapan besar itu siap ditembakkan bila Vasgo Quentin melakukan sebarang gerakan tanpa diminta. Selain Vasgo Quentin dan pria kekar berkepala licin, di ruangan itu juga duduk santai di kursi kayu yang lain seorang wanita cantik berambut panjang dan lurus hingga ke pinggang sambil menimang-nimang pistol di kedua tangannya, seorang pria muda juga terlihat asyik dengan ponselnya yang terus mengeluarkan suara bip bip bip tanpa putus, pria muda itu sedang bermain game—entah apa—di ponselnya sambil sesekali menggumam sendiri.

“Aku akan membayar kalian lebih banyak dari yang sudah diberikan oleh siapapun yang menyuruh kalian…”

“Tak ada yang memintamu untuk bicara, Old Man!”

Kening Vasgo Quentin langsung koyak begitu gagang senapan besar yang dipegang si Pria Kekar Plontos mengahantam keras wajahnya. pria tua itu menyumpah-nyumpah. Ia pasti sudah terjungkal dari tempat duduknya jika saja tangannya tidak terikat ke belakang pada kursi.

Wanita berambut panjang yang memegang dua pucuk pistol di kedua tangan terkikik, sementara pria muda yang berdiri menyandar di dinding hanya mengangkat pandangan sekilas dari layar ponsel lalu kembali meneruskan keasyikannya.

“Aku akan membayar lebih mahal jika kalian membebaskanku.” Vasgo Quentin masih berusaha.

Big-Guy, sebaiknya kau memberi tahu keledai tua ini siapa kita dan bahwa kita melakukan ini karena hobi, tidak dibayar,” ujar si wanita yang sudah meletakkan satu pistol di pangkuan dan sekarang sedang memutar-mutar liontin dari rantai kalungnya dengan tangan yang bebas. Kalung dengan liontin serupa juga tampak menggantung di leher pria muda yang asyik bersama ponselnya.

Big-Guy hendak bersuara ketika pintu ruangan itu terbuka. Tiga orang memasuki ruangan, seorang wanita berambut pendek keriting bersama dua orang pria. “O… Ryu, aku kira kau kembali ke kamar untuk melanjutkan agendamu dengan si imut itu…” Big-Guy berkata sambil mengedip pada pria yang berjalan paling depan.

Ryu tersenyum, memandang semua rekannya satu-persatu sebelum berbicara. “Terima kasih kalian sudah membantu meskipun ini bukan misi langsung dari ayahku…”

“Yah, anggap saja kemurahan hati kita ini adalah tiket kita untuk ke surga.”  Pria muda yang dari tadi asyik bermain game menyela.

“Kau tak akan masuk surga meski membangun sebuah kuil sebesar kota Tokyo atau gereja seluas Shibuya, Kiddo.” Wanita berambut keriting menyahut.

“Ah, Kaori-chan… kau memang selalu menyukaiku,” balas Kiddo lalu membuat gerakan mencium dengan bibirnya hingga menimbulkan bunyi. Kaori melengos.

“Ryu, kau menghalangi mataku dari si seksi di belakangmu, bisa bergeser sedikit?” wanita berambut panjang di kursi kembali bersuara.

“Oh, Barb, yang benar saja! Kau menyebut orang lain seksi sementara aku masih di sini…” Kiddo memukul layar ponselnya, berlagak kesal.

“Bagai kau tak tahu tabiat Barbie saja, Kiddo.” Kaori melenggang menuju kursi yang lain bersama pedang bengkoknya diiringi cibiran di mulut Barbie.

Ryu tertawa pendek pada teman-temannya lalu menoleh pada sosok yang sampai saat ini masih tersembunyi di balik punggungnya. “Tak ada yang akan mencegahmu melakukan apa saja yang ingin kau lakukan pada ayahmu…”

“Dia bukan ayahku!”

Di kursinya, Vasgo Quentin mulai gemetar. Dia ngeri melihat bagaimana pria muda itu mendekat mantap dengan pisau panjang di tangan kanan, mata pria muda itu laksana dikobari api. Hari ini Vasgo Quentin bagai melihat malaikat maut yang diciptakannya sendiri untuk mencabut nyawanya.

“Diggory, kau tidak bisa melakukan ini padaku. Ingat kebaikan yang telah kulakukan padamu. Aku menyelamatkanmu dari tangan pamanmu yang jahat itu. aku…”

CRASSS CRASSS

Lolongan setinggi langit keluar dari mulut Vasqo Quentin begitu pedang di tangan Diggory menyayat bahunya kiri kanan sekaligus. Darah memancur dari daging bahunya yang terbelah. Kaki pria tua itu menghentak-hentak di lantai, mengekspresikan kesakitan luar biasa yang diterimanya.

“Aku mohon… kau bisa memiliki semua yang kupunya Diggory… semuanya…”

“Aku hanya ingin memiliki jantungmu…” lalu…

CRASSS

Kembali Vasgo Quentin menjerit tinggi, Diggory baru saja menyayat wajahnya. Sekarang luka melintang dari dahi dan berakhir di batas rahang sebelah kanan setelah melintasi hidung dan mulut menganga di wajah Vasgo Quentin. Lolong kesakitan keluar tiada henti dari mulutnya.

“Kau tahu, Bangsat Tua. Seumur hidup aku memimpikan hal ini, setiap detak jantungku aku menunggu untuk dapat mendengar jerit kesakitan dari mulutmu. Sekaranglah saat itu…”

“Diggory, jangan lakukan ini padaku, jangan lakukan ini padaku…”

“Apa kau dulu mendengarkan aku meminta hal yang sama ketika cambukmu menghajar punggungku, di tempat ini, hah?” Diggory membabatkan pedangnya ke lengan kanan Vasgo Quentin yang membuat pria tua itu meraung dahsyat. Lengan kanannya terkutung sudah. “Tenang saja, tak lama lagi iblis akan menuntun jalanmu ke neraka.”

Diggory berteriak keras ketika menghujamkan pedang ke dada kiri Vasgo Quentin, tepat ke jantungnya. Mata pria tua itu melotot besar, darah menggelegak dalam rongga mulutnya. Dia sedang meregang nyawa.

“Wow, dia bisa jadi personel tangguh bagi kita.” Barbie menoleh pada Kiddo yang memandang tanpa berkedip proses eksekusi Diggory terhadap Vasgo Quentin, omongan Barbie tidak ditanggapinya. “Pamormu akan kalah jika si seksi itu benar-benar direkrut Ryu. Dari fisik saja kau sudah kalah, Kiddo.” Barbie terkikik di kursinya.

Kiddo menoleh Barbie, “Jika dia bergabung, Ryu akan menggunduli kepalamu dengan pedangnya jika kau mendekati pacarnya itu, bahkan baru berniat saja pun kau sudah kena hajar.”

Kikikan Barbie makin kencang.

Diggory berdiri kaku di depan sosok Vasgo Quentin yang sudah tak bernyawa. Seluruh badannya bergetar, emosinya meluap-luap tanpa dapat dikendalikan. Ryu bergerak mendekati, memeluk pria muda itu dari belakang dan berbisik di telinganya. “Sudah berakhir, Vero… sudah berakhir. Kau akan baik-baik saja mulai saat ini…” Badan Diggory melemah dalam rengkuhan Ryu, perlahan mereka terduduk di lantai.

***

Cahaya matahari menyiramiku, rasanya begitu hangat. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya, memenuhi paru-paruku dengan udara kebebasan yang sudah begitu lama tidak pernah kunikmati. Di sampingku, dengan tampang lusuh dan kotor berdiri Ryu, malaikat penyelamatku. Kemeja putihnya penuh bercak darah, keadaanku juga tak jauh beda.

“Kau bebas kini, Vero…” Ryu berujar lirih.

Kutatap dia yang kini juga sedang menatapku. “Terima kasih.”

Dia tersenyum, “Bukan hal besar.”

Nyawanya bisa saja melayang malam tadi, tapi sekarang dia malah mengatakan bukan hal besar. “Aku berhutang budi besar padamu… entah dengan apa aku membayarnya.”

“Dunia yang aneh. Jika di dalam sana aku yang harus membayarmu, tapi di luar sini malah kau yang ingin membayarku. Apa kau mau meniduriku setelah membayar?”

“Ini bukan waktunya melucu.”

Ujung bibir Ryu tertarik. “Kau masih terlalu muda, Alvero… jangan pusingkan dirimu dengan segala urusan balas budi… yang harus kau lakukan adalah hanya tetap kuat, untuk menjalani hidupmu.”

“Aku pernah mendengar nasihat semacam itu ketika di dalam sana…” aku berdehem dan berusaha meniru logatnya, “Alvero, kau masih terlalu muda untuk menderita…”

Ryu terbahak. “Apa logat Inggrisku semenggelikan itu?”

Aku mengangguk untuk pertanyaannya. Semua logat Inggris teman-temanmu juga sama menggelikannya.”

Ryu menoleh sekilas ke belakang di mana Big-Guy dan yang lain menunggu di mobil. Samar-samar aku dapat mendengar mereka bercakap-cakap sesama sendiri, dalam bahasa Inggris dan lebih banyak dalam Bahasa Jepang.

“Apa mereka ingin aku ikut?”

“Apa kau sendiri ingin ikut?” dia membalikkan pertanyaanku.

“Jika itu maumu, aku akan ikut.”

Ryu terdiam sebentar lalu menggeleng. “Takdirmu bukan menjadi penjahat…”

“Kau tidak jahat!”

“Hanya karena aku baru saja menanam satu kebaikan padamu bukan berarti aku lantas serta-merta menjadi orang baik. Organisasiku tidak lebih baik dari apa yang dilakukan Quentin, percayalah.”

“Naga hitam itu lambang organisasi kalian?”

“Aku pernah bilang kalau sebaiknya kau tidak tahu apa-apa tentang itu?”

“Ya.”

Kami lalu sama-sama terdiam beberapa saat hingga dia kembali bersuara. “Kemana kau akan pergi?”

“Kemanapun tujuanmu jika kau memintaku ikut bersama.”

“Kau tidak boleh ikut.”

“Boleh asal kau mengajakku.”

“Aku tak akan mengajakmu, tak akan pernah.”

Aku diam.

“Duniamu di sini, Vero… di depan kakimu sendiri. Jangan korbankan semangat hidupmu dengan pergi bersamaku. Duniaku sama pekatnya dengan dunia yang baru saja kau tinggalkan di belakang sana, jika kau ikut denganku maka sama saja kau belum memiliki kebebasanmu…” Ryu mendesah, “kau mengerti, kan?”

“Jadi… kita tak akan bertemu lagi?”

Dia terdiam.

“Bagaimana jika kau merindukanku suatu saat nanti dan tak tahu harus menemukanku di mana, kau akan sakit sendiri…” mataku mulai berkabut.

Sekarang Ryu tersenyum, dia pasti paham bahwa sebenarnya aku baru saja menyuarakan perasaanku sendiri. “Jika aku rindu, aku akan menemukanmu.”

“Bagaimana jika aku yang rindu…” sama sekali tak ada nada bertanya dalam kalimatku. “Di mana aku bisa menemukanmu!” aku mengerjap-ngerjapkan mataku.

Ryu menutup jarak kami dengan merangkul kepalaku, rambutku dibelainya. “Ketika kau sudah memulai hidup barumu di luar sana, kau bahkan tak akan ingat pernah merusak kancing-kancing kemejaku satu kali dulu.”

Sial, aku mulai menangis.

“Ah, Alvero… kau masih terlalu muda.” Dia mencium kepalaku cukup lama. “Mulailah hidup yang baru… kau lihat tas di sana?” Ryu menunjuk ransel kecil yang menggeletak di dekat mobil di mana teman-temannya berada. “itu milikmu, modal hidupmu… kau akan baik-baik saja selama semangatmu tetap kuat.” Ryu memegang daguku, “Berjanjilah padaku kau akan menikmati hidupmu…”

Aku diam memandangnya.

“Ryu-san… ayahmu baru saja menelepon. Kita harus mengejar pesawat ke Tokyo,” Kaori berteriak memanggil.

“Dan kita butuh salon!” Barbie menyambung, “Sudahlah, seret saja si seksi itu ke mobil, habis perkara.”

“Ryu-kaichou, mungkin Barb benar, bawa saja dia! Lagipula aku ingin membuktikan pada Barbie kalau aku masih lebih unggul dari segala apapun yang dimiliki anak itu di Tokyo nanti.” Kiddo tak tinggal diam.

“Ryu, waktu kita sempit!” Big-Guy ikut berteriak.

I’m coming!” maka Ryu menyambar mulutku, menciumku penuh perasaan sementara suara suitan-suitan nyaring terdengar dari mobil. “Jauhi masalah, okey!” Ryu membingkai wajahku setelah menjauhkan bibirnya dari mulutku.

Aku mengangguk.

“Kau akan baik-baik saja.”

“He eh…”

“Aku mencintaimu…” Lalu dia berlari menuju teman-temannya, membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Kiddo yang memegang kemudi memberiku klakson dua kali sambil melambaikan tangan.

Aku melihat Big-Guy, merekam kepalanya yang licin tanpa rambut dalam memoriku, Barbie dengan senyum cerianya, rambut keriting Kaori dan sosok Kiddo yang menggemaskan sekaligus menyebalkan. Lebih dari semua itu, aku menyimpan ruang paling besar untuk pria yang masih menatapku dengan mata berkaca-kaca meski di bibirnya tersungging senyuman, pria yang baru saja mengaku mencintaiku.

Mobil itu bergerak menjauh, pandanganku terputus dari Ryu. Namun aku masih berdiri di tempatku, menatap mobil itu hingga menjadi titik kecil di kejauhan lalu lenyap sama sekali. Ah… aku pasti tak akan melewati hari-hariku tanpa mengingatnya.

Akhir Oktober 2013

Dariku yang sederhana

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com