Oleh : Zaenuddin Bangun Setiawan

Ini adalah sebatang rokok. Tapi dalam sebatang rokok ini ramai dengan berbagai macam zat beracun. Yang paling populer di antara racun-racun itu adalah saudara Nikotin dan saudara Tar. Dari artikel yang pernah saya baca. Nikotin merupakan racun yang bertindak langsung ke otak, merusak pemikiran dan tubuh. Nikotin pada rokok adalah merupakan candu yang sangat kuat dan mengandung lebih banyak zat adiktif dibanding yang terdapat pada heroin ataupun kokain. Sedangkan Tar adalah sebuah zat yang dihasilkan dalam pembakaran tembakau. Tar akan menempel pada paru-paru setiap perokok baik aktif maupun pasif. Semakin banyak kita menghirupnya, maka kerusakan pada paru-paru akan semakin besar. Nama mereka di abadikan pada bungkus rokok. Seperti rokok yang kuhisap saat ini, Pro Mild 14 Mg Tar dan 1,0 Mg Nikotin.

Selain saudara Nikotin dan saudara Tar, ada penghuni lain yang tak kalah populer karena manfaatnya. Seperti Benzena, bermanfaat meningkatkan resiko terkena leukimia. Formaldehyde biasanya dipakai untuk mengawetkan mayat (bersyukur bagi para perokok, karena kita bisa mencicipi pengawet mayat tanpa harus mati terlebih dahulu). 3,4-Benz[a]pyrene, Taluene, Bahan Radioaktif, Polonium-210 (Po-210) dan Lead-2010 (Pb-2010), Aceton, Amoniak, Metanol, Hidrogen Sianida, Vinyl Klorida, Propylene Glycol, Carbon Monoksida, Logam Berat, Kadmium, Arsenikum, Beryllium dan masih sangat banyak lagi. Kalian bisa dengan mudah mencari manfaat zat tersebut di rumahnya Mbah Google. Betewe, nama mereka keren-keren ya! Salut buat yang ngasih nama dan yang menyatukan mereka dalam satu rumah. Yakni rokok.

Seorang perokok –termasuk saya- tidak tergolong perokok pasif adalah mereka yang mengalami keputusasaan di dalam hidup. Ada pepatah bilang ‘kalau mau awet muda, maka merokoklah. Karena seorang perokok tidak akan mengalami yang namanya masa tua’. Seorang perokok adalah mereka yang berputus asa, itu jelas. Tapi seorang perokok yang katanya ‘awet muda dan tak akan mengalami masa tua’ saya meragukan. Kakek saya sudah berumur 80 tahun lebih, beliau seorang perokok dan tentu saja tidak awet muda. Saya sangat kecewa dengan pepatah itu. Yang membuat pepatah salah kaprah itu sungguhlah seorang pendusta. Padahal seandainya itu benar, maka saya akan sangat bersyukur bila bisa awet muda dan tak akan merasakan masa tua.

Saya merokok aktif sejak tahun 2011. Dimana ketika saat itu saya baru memulai hidup tanpa keluarga. Keluarga saya sudah hancur. Akibat Bapak yang kurang puas dengan cara ‘merokok’ istrinya. Dan akhirnya bapak mencari ‘perokok’ baru yang bisa lebih memuaskannya. Oh ya, racun ‘rokok’ Bapak lebih dahsyat dibandingkan dengan racun rokok buatan pabrik. Racun ‘rokok’ Bapak bisa membuat perut kembung selama sembilan bulan. Dan saya memulai ‘merokok’ itu ketika kelas dua Mts. Bukan hanya dari segi racun yang berbeda, tapi ‘rokok’ yang ini memiliki keunikan. Apabila dibakar api nafsu dan rangsangan, ukuran ‘rokok’ akan bertambah panjang dan besar. Baik rokok buatan pabrik maupun rokok semula jadi, saya menyukai kedua-duanya. Hanya saja semula jadi lebih susah didapat. Bukan berarti tidak ada, karena saya sendiripun mempunyai semula jadi yang selalu saya bawa kemana-mana. Dan saya sendiri sangat menikmati kalau ada yang menghisapnya.

Sebatang, dua batang, sebungkus sampai akhirnya sebungkus setengah perhari. Berawal dari minta, mencuri dan sekarang beli sendiri. Itu pun ngutang di koperasi atau di warungnya Pak Umar. Pengeluaran rokok perbulan susah diprediksi. Bergantung pada tingkat stress selama bulan tersebut. Semakin stress, semakin banyak rokok yang saya hisap, semakin banyak pula pengeluaran yang keluar. Merek rokok yang pernah saya coba pun termasuk banyak, Sampoerna Mild, Sampoerna Ijo, Class Mild, Star Mild, Djarum Black, Djarum Super, Gudang Garam, Pro Mild, Pencil, U Mild, LA, Sampoerna Flava, Seven Mild, Dunhil, Marlboro, Esse, dan Dji Sam Soe (paling enak sebelum dirokok, dimasukkan dulu ke dalam kulkas. Dijamin lebih renyah. Hahaha). Itu belum termasuk anak dari merek rokok tersebut dan rokok yang saya lupa namanya karena tergolong rokok murahan.

Itu baru rokok pabrik.

Rokok semula jadi yang pertama kali saya hisap adalah milik teman sekolah yang bernama Septian ketika kami menginap bersama. Rokok semula jadi punya Septian takkan pernah saya lupakan. Rokok semula jadi lainnya yang pernah saya coba adalah punya Bapak saya sendiri, tentunya tanpa sepengetahuannya. Tujuan saya hanya ingin mengetahui rasa ‘rokok’ yang telah membuat saya ada di sini. Setalah itu semakin banyak rokok semula jadi yang pernah saya coba. Rokoknya Cepi, Devan, Ardy, Selo, Ekber, Radit, Ibnu, dan dua orang yang tak saya ketahui namanya. Sensasi rokok setiap orang berbeda. Dan saya tetap paling suka rokoknya Septian.

Suasana yang paling nikmat untuk merokok, merokok dan dirokok, adalah ketika pagi buta sekitar pukul satu malam waktu musim hujan. Gairah saya untuk menghisap rokok bertambah besar pada jam segetu. Sekarang saya paling suka rokok Pro Mild. Rasanya lain. Kalau semula jadi, semuanya saya suka tetapi tak suka racunnya yang putih kental. Rasanya membuat saya mual. Anyir asin aneh.

Hmm… Membicarakan tentang rokok, saya dulu seorang aktivis anti rokok. Saya memaki mereka yang merokok. Setiap kali ada orang yang merokok, saya pasti menutup hidung. Bagi saya waktu itu, rokok adalah haram. Tetapi setelah merasakan rokok itu bisa mengurangi rasa stress, saya akhirnya menjadi seorang perokok. Munafik memang, tapi inilah hidup. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini?

Malam semakin larut, udarapun semakin dingin. Saya mengasihani diri saya sendiri yang sudah lama tidak merokok, tidak dirokok dan tidak dibakar rokok. Saya ingin malam ini. Oh, betapa merananya hidup di pedalaman. Tak ada yang bisa saya minta rokoknya. Salah meminta yang ada saya dapat pukulan. Sejenak saya mengkhayalkan wajah seseorang. Jefri namanya, keturunan Dayak Punan yang bekerja sebagai pembantu Operator Traktor. Kalian bisa membayangkan sendiri perawakan orang dayak. Putih, tinggi, dada bidang, berotot dan bertato. Saya ingin bermain rokokrokoan sambil merokok denganya. Saya remas rokok saya, saya gerakan maju mudur dengan perlahan. Ah, saya sedang dibakar api nafsu. Saya membayangkan Jefri sedang memegang rokok saya dan saya sedang memegang rokok Jefri. Kami saling menghisap. Saya bisa memvisualisasikan ekspresi kenikmatan yang terpancar dari wajah Jefri. Sungguh menggairahkan. Setiap lekuk tubuhnya, keringat yang mengucur dan berbaur dengan keringat saya. Terasa begitu panas. Bagaimana lenguhan dari bibirnya. Pasti sexy. Bagaimana gerakan dia ketika rokoknya masuk membakar tubuh saya. Pasti terlihat macho. Dia menaikturunkan rokoknya, saya memeluk tubuhnya. Tiba-tiba saya teringat sesuatu. Tato Yesus sedang di salib di punggung Jefri. Kalau seandainya itu terjadi, apakah tato Yesus akan marah? Saya merasa berdosa. Walaupun saya bukan penganut Agama yang dibawa Kristus. Tapi saya menghormati.

Khayalan saya pun memudar. Dan menghentikan aksi bermain rokok. Jefri pergi dari benak saya. Saya kecewa karena tersadar sebelum sempat rokok saya mengeluarkan racunnya. Ah, dari pada kecewa, lebih baik saya menghisap rokok Pro Mild. Walau berbeda rokok yang penting dapat merokok.

 

Sei Senting, 17 Juni 2013, 21.50 WITA

Di Ruang Kerja TUK sambil merokok dan memainkan rokok

Karyasaya : Kang Zaen