LA Potret cover 6

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Ya Tuhaaaaaaaaan… aku kangeeeeeeeeen. Rasanya seabad sejak kali terakhir aku mengunjungi blogku ini. DKN, maafkan aku yang membuatmu terbengkalai, huhuhuhu… aku memang Tuan yang kurang ajar. Namun jangan cemas, sekarang aku kembali padamu… kekekeke.

Kepada sahabat yang masih menaruh harapan padaku, aku ingin berterima kasih atas kepercayaan kalian padaku. Maafkan aku yang menyia-nyiakan kepercayaan kalian. Namun begitulah manusia, ada kalanya ia butuh untuk menarik diri. Jadi, anggap saja beberapa waktu ke belakang aku sedang menarik becak, menarik bajaj, menarik ojek ataupun menarik-narik pinggang celana pak kades kampungku.😛

Baiklah, demi menjaga harmonisisasi blogku dan agar statusisasiku sebagai penulis amatiran tidak kalian kudeta, maka aku kembali membayar hutangku di sini meski saat ini sebenarnya aku sedang labil ekonomi, jangankan untuk bayar hutang, untuk bayar kutang saja aku kelabakan.😛

Maka inilah potret enam, aku yakin tak banyak lagi yang setia menunggu. Tapi tak mengapa, aku sudah cukup senang bila masih ada satu orang saja yang setia. Selamat berjumpa Aidil dan Orlando. Semoga tak ada bagian yang kena sensor. :p

Dan… bagi yang mengikuti tulisan-tulisanku (khususnya cerpen2ku), mungkin akan sedikit mendapat surprise di potret ini. Ada satu tokoh dalam tulisanku terdahulu yang muncul di sini karena memang ia punya koneksi. Yang ingin kuberitahukan, part koneksi ini tidak muncul serta-merta dalam kepalaku ketika menulis potret enam ini, tapi aku sudah menyiapkannya sejak menulis kocek 26 serial Love Actually dulu. hanya saja kemudian setelah LA tamat, aku ragu untuk melanjutkannya dalam bentuk apapun lagi hingga koneksi yang sudah kupersiapkan tak tereksekusi. Tapi hari ini ternyata aku menulis lagi tentang karakter-karakter LA dalam seri Potret, maka inilah kesempatan yang tertunda itu, terbayar sekarang.

Meski demikian, bukan berarti potret ini cukup bagus. Aku pribadi merasa bagusan potret yang sudah-sudah. Tapi kalau untuk jumlah kata, potret ini unggul, lebih dari 8.000 kata, ini menjadi potret paling panjang dari 5 potret sebelumnya. Jadi aku harap, jika tak puas dari segi kekuatan, semoga kalian puas dari segi ukurannya yang panjang… kekekeke… :p

Seperti biasa, semoga kalian menikmati membaca ANOTHER LOVE ACTUALLY STORY Potret Enam seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam

n.a.g

##################################################

Serangan sang mantan

Adalah serangan teroris dengan bom-bom rakitan

Serangan sang mantan

Adalah penyakit darah tinggi yang beresiko stroke dan berujung kain kafan

Serangan sang mantan

Adalah juga meningkatkan kolestrol dan kandungan urid acid

Sehingga tiada hari yang dilalui tanpa nyeri dan denyut di sekujur sendi

Begitulah serangan sang mantan itu…

Kau akan diteror,

Akan naik darah,

Dan menderita gout arthritis…

Bila yang mengalami the mantans attack itu adalah pacarmu yang sekarang

Maka sediakan analgesic dan captopril yang cukup di kocekmu

***

POTRET ENAM

FITRA AIDIL AD-DAUSI mendekap sosok kekasihnya demikian erat ketika rasanya ia sudah tak mampu bertahan lebih lama lagi. Sekujur tubuhnya bergetar hebat. Rasa panas dan mendesak kian liar menguasai bagian bawahnya. Sedang sang kekasih sendiri menggeram kasar di dekat telinga Aidil, mengaum bak singa jantan di musim kawin sambil sesekali mengecup gemas daun telinga orang yang dikasihi itu.

“Aku mencintaimu, Dil… Damn, God… aku mencintai bercinta denganmu…”

“Humph…”

Aidil tak punya jeda untuk mengeluarkan kata, apalagi kalimat utuh. Lelakinya tak memberi cukup waktu bagi lidah Aidil untuk bicara karena kalimat cinta itu langsung bersambung dengan lumatan panas tak terhitung kali keberapa ke bibirnya yang serasa makin melar dan merah saja karena diadu terus-menerus, bahkan sejak sebelum baju mereka benar-benar tanggal.

Mereka berdua bagai bayi kembar siam yang melekat tidak hanya di bagian kepala saja. Bibir mereka melekat—bahkan lidah mereka nyaris membelit seperti simpul dalam tali-temali Pramuka. Dada mereka menempel ketat tak ada celah—bahkan untuk disusupi makhluk halus sekalipun. Perut mereka merekat sedemikian rupa hingga menutupi celah yang ditimbulkan enam lekuk di sana satu sama lain, seperti gigi-gigi geraham rahang atas dan bawah yang saling menggigit dan mengisi antara lesung dan cusp. Jangan tanyakan bagaimana dengan sesuatu di bawah perut mereka, intensitas rekatan atau tempelannya bertingkat-tingkat lebih rapat dan ketat dibandingkan bagian tubuh mereka yang lain. Aidil dan lelakinya melekat dari ujung kepala hingga ke ujung jempol kaki. Polos tanpa seutas benang pun menutupi, intim tanpa secarik kain perca pun menghalangi.

Sungguh, mereka adalah bayi kembar siam yang aneh untuk saat ini.

Bagaimana tak aneh jika kedua bayi ini saling bergerak meliuk-liuk dan memagut sedemikian rupa. Aidil menggigiti bahu kekasihnya berulang kali, mengetatkan tungkainya di pinggang si lelaki sekuat tenaga—hingga khawatir kalau ia akan meremukkan pinggang itu—ketika gerakan kekasihnya makin kencang dan sering.

“Jangan berhenti…”

“Oh, kamu sangat tahu kalau remku blong!” Lumatan lagi. “Lagipula, aku kaptennya, aku yang memutuskan kapan kita akan berhenti untuk buang sauh.” Lagi-lagi lumatan.

Aidil menyurukkan wajahnya ke leher sang kekasih.

“Pintar, buatlah beberapa tanda di situ… Arrggh… kamu menggigit terlalu beringas, My Prince.”

“Aku ingin tandanya tahan lama.”

“Kalau begitu kunyah saja.”

Mereka tertawa.

“Kunyah? Seperti yang kulakukan beberapa menit lalu di bawah sini?” Aidil menyodok.

Mereka tertawa lagi.

“Aku masih tak percaya tadi kamu menggigitnya seperti mengunyah pisang, dasar amatir.”

“Oh diamlah dan lakukan tugasmu dengan baik sementara aku selesai di sini…” Aidil kembali menyurukkan wajahnya ke leher sang kekasih, melanjutkan pekerjaan menandainya.

Dan ia bergerak makin sebat, menghentak dan menghujam tanpa belas kasihan di antara lenguhan dan racau I’m comingnya. Seakan berpacu dengan waktu…

Tik

“Arrrgggh…”

Tik

“I’m coming…”

Tik

“Arrrgggh…”

Tik

“I’m coming…”

Tik

“Arrrgggh…”

Tik

“I’m coming…”

 

Tik

“Arrrgggh…”

Tik… Tik… Tik… Tik… Tik… Tik…

Detak itu samar masuk ke telinga, sebelum akhirnya amuk jarum benar-benar menuntaskan segala fantasi.

KRRRRIIIIIIIINNGG

BRUUUKKK

“AOOOWW…!!!”

Aidil mengelus keningnya yang baru saja menghantam lantai kamar. Ia jatuh dari ranjang dengan posisi telungkup dan segera sadar kalau selangkangannya juga nyeri. Ternyata lantai kamar juga menyakiti bagian bawah pusarnya yang sedang siaga. “Sial.”

Aidil membebaskan diri dari selimut yang membelitnya, melemparkan kain tebal itu kembali ke ranjang lalu bergerak duduk. Hal pertama yang dilakukannya kemudian adalah memeriksa celana dalamnya. Kering.

“Fiuuhh… tak perlu mandi.” Aidil melirik weker yang masih berdering ribut di atas nakasnya, “Trims, kamu menyelamatkanku,” ujarnya pada si weker lalu bangun untuk menghentikan jeritan benda itu, “Kamu tahu, mandi besar di waktu subuh itu gak enak banget, bikin menggigil. So, teriakanmu tepat pada waktunya. Ai lov yuh…” Aidil mencium muka wekernya lalu meletakkan di tempat semula. Lalu ia mengernyit sendiri, “Tapi aku nyaris sampai puncak kalau saja kamu gak sok baik jerit-jerit kayak orang gila sehingga membatalkan kesempurnaan em-el-ku…” ia menatap kesal pada weker yang baru saja diciumnya. “Jarang-jarang tau aku bisa mimpi panas kayak gitu! Dasar weker rese! Rasain nih jitakanku.”

TUKKK

Weker itu bergeser 90 derajat ke kanan dari posisinya semula.

TUKK

Aidil puas membuat muka weker itu sekarang menghadap dinding setelah bergeser 90 derajat lagi dari posisi sebelumnya..

Suara adzan mengalun sayup dari pengeras suara mesjid kompleks. Aidil melirik jendelanya, samar-samar dari balik kain gorden ia bisa melihat kalau kamar di seberang sana terang benderang, pemilik kamar ternyata juga sudah terjaga. Aidil bergerak ke saklar dan menyalakan lampu kamarnya, selanjutnya ia ke kamar mandi, menyikat gigi dan berwudhu.

Tepat ketika Aidil selesai menoleh ke kanan lalu ke kiri, pintu kamarnya didorong orang. “Siap?” Saif tegak di pintu dengan handuk putih di bahu kanan. Celana olah raganya pendek pagi ini, pasti celana basketnya.

“Tunggu di bawah aja, Kak. Aidil ganti dulu.”

“Aku pengen sesekali kamu yang menunggu di bawah…”

“Siapa suruh shalatnya buru-buru, gak khusyuk!” Aidil menggulung sajadah, membuka sarung dan pecinya lalu meletakkan perlengkapan ibadah itu di rangka besi tempatnya.

“Kamu yang masang wekernya telat.”

“Aidil pasang tepat saat adzan Subuh kok.”

“Kalau begitu, besok set lima belas menit lebih awal!”

“Tiba-tiba Aidil malas jogging pagi ini!”

“Jangan merajuk, pakai trainingmu dan segera turun!” Saif menutup pintu, sedikit keras.

Aidil mendesah malas lalu memandang ke kamar seberang melalui jendelanya. Gelap, lampunya sudah dipadamkan, Orlando pasti sudah menunggu di gerbang. Ia bergerak ke lemari, mencari-cari kaus dan celana pendeknya.

*

“Hosh… hosh… hosh…”

Orlando ngos-ngosan, ia membungkuk dengan kedua lengan bertumpu di lutut. Di depannya, Aidil duduk menjelepok di bahu jalan sambil menyeka keringat di wajah. Dadanya naik turun, hanya saja ia tidak mengeluarkan bunyi napas seperti habis dikejar badak liar layaknya yang dilakukan Orlando.

“Gila, how did you do that, My Princehosh hosh hosh… kamu bahkan … hosh hosh… tidak megap-megap… hosh… sepertiku…”

Aidil mengangkat bahu. “Motivasi…” ia selesai mengelap wajahnya. “Jangan lupa, seminggu ini aku jadi bos yang harus dikabulkan semua permintaan dan kamu harus nurut, kayak perjanjian tadi.”

“Aku gak pernah ingkar janji.”

Great. So, apa isi perjanjian kita bisa langsung diberlakukan sekarang?”

“Apa? Kamu minta ditindih sekarang juga?” Orlando merangsek maju.

Aidil menepuk bahunya, “Pegel, pijatin!”

Orlando manyun. “Kamu tega ah, Dil… aku sedang ngos-ngosan begini.”

“Yang ngajak adu lari duluan siapa? Aku nolak malah dipaksa-paksa, jera kan sekarang? Buruan pijat sambilan nunggu Kak Saif!”

Orlando nurut, ia bergerak duduk di belakang Aidil dan mulai memijat bahu pacarnya itu. “Harusnya kakakmu ikut juga ya, Dil, jadi kamu bisa punya dua babu sekaligus.”

“Kak Saif sadar diri, sedang kamu gak sadar diri. Sudah tahu gak mungkin menang adu lari denganku malah nekat ngadu…”

“Tadinya aku percaya bakal menang. Bayanganku… kan kalau aku yang menang aku bisa minta apapun, seperti… minta kamu ikut mandi denganku, misalnya… atau minta kamu nari striptis di kamarku selama seminggu penuh…” Orlando mengira reaksi Aidil akan extreme terhadapnya seperti biasa bila ia bertingkah mesum, namun kali ini Aidil hanya diam. Aneh.

Sebenarnya sedetik tadi Aidil siap menjambak cambang Orlando yang seksi, tapi kalimat Orlando keburu mengingatkannya pada mimpi panas tadi pagi yang tidak berujung enak. Bagian bawah pusarnya berontak satu kali. “Orly…”

“Hemm…”

“Tadi pagi aku mimpi kita bercinta…”

“Hah?!?” Orlando berhenti memijat, kepalanya maju melewati bahu kanan Aidil, “Yang benar?”

Aidil mengangguk, sekilas mukanya merona.

Orlando mesem-mesem, “Sampe ngompol gak?”

Aidil mendelik sebentar, lalu tersenyum sendiri dan menggeleng lemah.

“Yaahhh… gak terhitung dunk kalau gak sampe ngompol,” Orlando menggumam dengan nada kecewa.

“Wekernya bunyi duluan.”

“Hemm… tapi… sosokku jelas gak? Maksudku… emm… apa aku berpakaian?”

Aidil menoleh kiri kanan sebelum menjawab. “Kita berdua gak pake apapun.”

“Telanjang bulat?”

Aidil memutar bola mata, “Sudah jelas, kan?”

Orlando menyeringai, “Trus, emm… apa punyaku tergambar sempurna di sana? Emm… maksudku, apa pemukul baseballku besar dan panjang?”

Kali ini Aidil benar-benar mendelik, lama. “Orly, itu hanya dalam mimpi. Apa pentingnya?”

“Justru penting. Aku bisa klarifikasi jika ternyata gambaranku dalam mimpimu tidak seperti sebenarnya. Bagaimana jika dalam mimpimu punyaku tergambar sebagai pentungan bengkok, kecil, pendek, loyo dan tidak bisa membidik dengan tepat sedangkan aslinya punyaku lurus, besar, panjang, keras dan tidak akan meleset ketika membidik? Itu perlu diklarifikasikan, kan?”

Aidil geleng-geleng kepala dengan kalimat ajaib Orlando.

“Hemm…” Orlando mendesah ketika Aidil tak kunjung menjawabnya. “Baiklah, lupakan soal itu. Berikutnya, apa aku meracau-racau? Apa dalam mimpimu itu aku atau kamu meracau kata-kata yang dirty?”

Aidil mengernyit.

Orlando menghembuskan napas putus asa, ia bergerak maju lebih rapat ke Aidil, sekarang dadanya menempeli punggung pacarnya. “Apa ketika melakukannya di antara kita ada yang meracau semisal begini…” Orlando berdehem lebih dulu sebelum mempratekkan. “Ouchh yess… yess… yess…!!! Please, don’t stop… don’t stop… yess Baby yess Baby, c’mon… do it harder and faster, oh yess… AOOWWW!!! di ujung kalimatnya, Orlando meringis sambil mengelus perut. Aidil baru saja memelintir kulit perutnya.

“Dasar gila!”

Orlando terkekeh menemukan Aidil yang cemberut, meski marah namun nyatanya Aidil tak dapat menyembunyikan semburat merah di pipinya yang kian nyata. Itu yang membuat Orlando betah mengusili. “Dil, aku tegang…” Dengan berani Orlando memajukan pinggulnya hingga menabrak Aidil.

“KAK LANDO!!!”

“Oh yess, Baby!!! I’m here, right behind you…”

Gigi Aidil bergemeletukan, ia bangun dari duduknya dan melotot pada Orlando. “Kamu gak sadar kita berada dimana.”

Orlando tersenyum memandang Aidil yang sedang kesal. “Aku hanya menanggapi mimpimu, gak ada maksud bikin marah.” Orlando menepuk-nepuk aspal di sebelah kirinya, “Ayo duduk lagi, Saif masih lama sepertinya…”

Aidil kembali duduk, menekuk kedua lutut dan menyatukan tangan di depan tulang keringnya sedemikian rupa. Beberapa saat mereka hanya diam.

“Semalam aku juga mimpi…” Orlando berujar tiba-tiba.

Aidil menoleh pacarnya yang menatap lurus ke depan, seperti menerawang. “Mimpi apa?”

Orlando mengubah posisi duduknya dari mengelesoh dengan kedua kaki lurus di depan sekarang bertumpu kedua lengan ke belakang dan menekuk satu kaki. “Yah, bisa dibilang itu mimpi buruk…”

“Mimpiin hantu?”

Satu sudut bibir Orlando tertarik, “Jika sesuatu yang datang dari masa lalu bisa disebut sebagai hantu, maka yah… itu memang hantu.”

Aidil mengernyit.

Orlando menoleh pada Aidil dan merasa gemas dengan ekspresi heran pacarnya itu. Ia tersenyum lalu mengacak kepala Aidil, “Udah, lupain aja. Mimpiku gak jelas dan gak panas sepanas mimpimu…” Orlando menatap ujung jalan, “Itu, si Mr. Looser datang,” ujarnya sambil menggerakkan dagu.

Aidil menatap jalan. Di ujung sana Saif berjalan santai sambil meggesek-gesek hapenya, earphone terpasang di kuping.. Ternyata ia membawa serta hape dan earphone-nya. Sungguh curang.

“Enak benar lu, Sef… kita nunggu hingga jamuran, lu malah santai-santai.”

“Kan aku gak ikut dalam taruhan kalian,” jawab Saif enteng lalu duduk di samping adiknya.

“Tapi gak gini juga dong, Sef.” Orlando masih protes, “Lu kan bisa lari seperti biasa biar aku sama Aidil gak nunggu lama.”

“Alah, padahal lu senang kan bisa berduaan lama sama adikku… modus lu ngajak Aidil ngadu lari padahal udah sadar gak mungkin menang, bilang aja biar bisa nikmati momen berdua sepanjang jalan.”

“Kak Saif kenapa sih?” Aidil memandang kakaknya, “Perasaan dari subuh tadi Kak Saif gak ada ceria-cerianya…”

“Kakakmu sedang PMS.”

“Iya, dan sebentar lagi rasanya aku tak bisa nahan diri buat gak nonjok lu kalau lu gak jaga mulut!” sepertinya Saif serius.

“Yap, benar sekali kalau ada yang sedang PMS di sini,” Orlando tak mau diam.

Saif mendengus kasar. “Sekali lagi lu nyebut PMS, lihat saja!!!”

Orlando siap untuk membuka mulut lagi tapi Aidil segera menyenggol pacarnya itu.

“Iya iya iya. Aku memang gak pernah benar deh Dil kalau udah menyangkut kakakmu. Tak apa, besok kalau kakakmu ingin ngesot sepanjang jalan aku akan dengan senang hati menunggu, karena aku memang gak punya hak apapun untuk protes, statusku buatmu lebih rendah dibanding status dia bagimu…” Orlando bangun dari duduknya lalu mengambil langkah.

“Orly…” Aidil memanggil, Orlando tak mau repot-repot menoleh apalagi berhenti. Ia mulai berlari.

“Huh, sekarang terbukti siapa yang sedang PMS, Do!!!” Saif berteriak.

“Kak Saif diam ah! Dia serius marah itu…”

“Peduli pocong dia marah, suasana hatiku juga sedang tidak baik.” Saif merenggut earphonenya dengan kasar lalu memasukkannya dalam saku.

“Kalau begitu silakan perbaiki hati Kak Saif sendiri, aku tidak siap jadi jomblo sekarang!” Aidil bangkit dan segera berlari menyusul Orlando.

“Dil…!!!” Saif berseru tapi adiknya keburu menghilang di tikungan.

*

“Orly, please…”

Aidil mendorong Orlando hingga merapat ke tembok pagar sebuah rumah yang dilalui begitu ia berhasil menyusul pacarnya itu. Orlando diam membiarkan badannya mentok di tembok sementara Aidil mencengkeram kedua lengannya.

“Aku minta maaf.”

Orlando diam, memasang tampang keruh dan tidak menatap Aidil yang sedang tepat memandangnya.

“Orly, aku tidak bermaksud membuatmu merasa kalau aku tak pernah menganggapmu lebih penting dibanding  Kak Saif, sungguh aku tak bermaksud. Maafkan aku…”

“Bukan kamu yang harusnya minta maaf, tapi kakakmu. Dia mulai menyebalkan akhir-akhir ini sejak ceweknya ilang! Padahal itu gak ada sangkut pautnya sama siapapun di antara kita.”

Aidil tersenyum. Orlando tidak mendiamkannya, pertanda baik. “Aku akan marahin Kak Saif kapan-kapan. Senang?”

Orlando tersenyum. “Ehem… kita terlalu rapat, Dil. Nanti ada yang mergokin, kayak katamu… ini tempat umum.”

Aidil baru menyadari kalau posisinya tepat menempel di depan Orlando. Ia bermaksud menjauhkan diri tapi pinggangnya malah ditahan Orlando. “Orly, not now… not here…” Suara Aidil lebih berupa bisikan ketimbang penolakan.

“Apa begini yang terjadi dalam mimpimu?” Orlando menaik-naikkan alisnya sambil tersenyum mesum.

“Oh Tuhan…” Aidil berdecak putus asa, “Jangan mulai lagi…”

“Mungkin kita harus melepas baju untuk membuatnya agak mirip dengan mimpimu.” Orlando makin berani menekan Aidil padanya. Bahkan ia juga kian mendekatkan wajahnya ke wajah Aidil, “Apa dalam mimpimu kita berciuman dulu sebelum melepas baju?”

“Sepertinya aku lebih dulu mengunyah cucak rawamu sebelum melakukan apapun.”

“Hah?!”

Orlando sontak melepaskan rangkulannya di pinggang Aidil dan refleks memegang selangkangannya sendiri. Aidil terpingkal menyaksikan wajah Orlando yang pucat.

“Kamu mengunyahnya?” Orlando membelalak.

“Entahlah, aku tak melihat detil itu dalam mimpiku… tapi dari dialog-dialog yang terjadi sepertinya aku memang mengunyahnya…”

Orlando makin pucat dengan tangan masih menangkup pangkal pahanya. “Pupus sudah bayanganku tentang enam sembilan denganmu, Dil…”

Sekarang gantian Aidil yang membelalak. “Gila!”

Orlando terkekeh lalu menarik tangan Aidil untuk kembali mendekat padanya.

“Yap, terusin mesra-mesranya sampe ada yang mergokin, biar kapok kalian berdua!”

Meski awalnya sempat kaget mengira ada orang yang lewat dan melihat mereka, tapi begitu sadar siapa yang bersuara sekarang Orlando malah menatap kesal pada Saif yang berlari kecil melewatinya dan Aidil.

“Jangan lupa marahin kakakmu!”

Aidil mendesah, “Yuk pulang, nanti telat ngampus.” Aidil berlari kecil menyusul kakaknya, Orlando mengikuti di belakang.

***

Sore yang mengejutkan…

ORLANDO ARIANSYAH tidak bisa mencegah rahang bawahnya untuk jatuh hingga membuatnya tampak bagai penderita autis dengan mulut menganga lebar, andai saja liurnya ikut merembes maka ia sukses menjadi penderita autis saat ini. Masih dengan mata terbelalak tak berkedip, ia memandang tak percaya pada sosok jangkung yang berdiri tepat di teras rumahnya. Lekaki jangkung ini, dengan tampilan bak seorang model tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih bersih sambil menatap Orlando dengan binar secerah bintang timur.

“Halo, Lando…”

Orlando belum bisa mengontrol dirinya. Ia masih melongo bego.

“Emm… tidak ingin memberiku pelukan selamat datang?” si lelaki jangkung—yang selain punya gigi putih rapi dan kulit putih bersih juga punya rambut spike yang jantan—mengernyit heran ketika Orlando tak kunjung bereaksi. “Hei…” ia menjentikkan jarinya di depan wajah Orlando sambil tertawa pendek.

“Heh…” Orlando semakin terlihat bodoh. Ia berhasil menutup mulutnya dan mengerjap-ngerjap beberapa kali. Si lelaki jangkung tertawa, suaranya enak didengar. Mendadak Orlando ditikam perasaan aneh yang menyeruak keluar dari palung terdalam dirinya. Tak dapat dipungkiri, ia masih belum lupa tawa itu.

“Kamu terlihat hebat, Lan…”

Orlando diam. Hanya matanya yang terus memperhatikan.

“Kamu sungguh-sungguh tak ingin memberiku pelukan selamat datang?”

“A… aku… aku…”

“Hei… kamu tak perlu canggung begitu. Ini aku. Bukan orang yang tidak kamu kenal sebelumnya…”

“I… iya. Ah, silakan masuk.” Orlando mundur, mempentangkan daun pintu lebih lebar.

Si cowok jangkung menggeleng-gelengkan kepala, mimiknya berubah serius. “Apa aku masih menyisakan kekecewaan dalam dirimu, Lan? Setelah sekian lama?”

“Aiyub, please… jangan bicara yang tidak patut, kuharap kamu tak lupa kalau aku sedang di rumah sekarang,” desis Orlando dengan tatapan tajam.

“Maaf.”

“Hemm… silakan masuk. Aku akan minta Bibik untuk membuatkanmu minum…”

“Bik Farida masih bekerja di sini?”

“Waow, kamu masih ingat segalanya ya…” Orlando berkata dengan sikap hiperbola.

“Aku hanya baru menyebutkan tentang Bik Farida saja, belum menyebutkan tentang koleksi komik-komikmu, koleksi miniaturmu, tentang gitar tuamu yang dulu sering kupakai jika berkunjung, aku juga belum menyebutkan tentang basket…”

Stop, Aiyub!!!”

“Orly, siapa yang datang?” suara langkah mendekati mereka.

“Selamat siang, Tante…” Si cowok jangkung yang dipanggil Aiyub bergerak masuk sambil tersenyum, ia menyalami tangan mama Orlando dengan begitu sopannya.

“Ah… Nak Aiyub, ya? Ya Tuhan, Tante pangling…” Tante Sofiah menepuk-nepuk bahu Aiyub. “Kapan nyampenya?”

Aiyub tertawa, “Nyampenya udah dari kemaren, Tante. Tapi baru sempat berkunjung hari ini. Senang rasanya saya masih dikenal.”

Tante Sofiah tertawa, “Tante belum pikun, Nak Aiyub.”

Orlando tegak diam memperhatikan Aiyub dan mamanya saling bercengkerama. Ia masih tak percaya kalau ini terjadi. Firasatnya tak baik, ia mengkhawatirkan hari-hari selanjutnya akan kacau jika lelaki bernama Aiyub ini berada dekat di lingkaran hidupnya. Namun ia juga tak dapat memungkiri jika sebagian kecil—sangat kecil—dirinya bahagia, entah bahagia untuk apa. ‘Tidak, aku tak boleh membiarkan bahagia ini menguasai, Aidil masih satu-satu sumber bahagiaku.’

“Nak Aiyub duduk dulu…” Tante Sofiah menoleh putranya yang mematung bagai orang bego. “Orly, apa yang terjadi denganmu, ayo kemari kawani teman lamamu.” Yang dipanggil bergerak malas meninggalkan pintu. “Nak Aiyub silakan mengobrol dengan Orly, Tante akan minta Bik Farida untuk membuatkan kalian minum…”

“Jangan repot-repot, Tante.”

Tante Sofiah tertawa ramah, “Sama sekali tidak. Silakan mengobrol dulu,” ujarnya lalu meninggalkan ruang depan.

Mereka berdiri berhadap-hadapan. Orlando mendiamkan diri sedang Aiyub masih memperlihatkan wajah bahagia. Ia duduk lebih dulu, “Aku masih kaget, Lan… kukira keluargamu sudah pindah, syukur ternyata tidak.”

Orlando duduk di kursi bersebrangan, melipat lengan di dada. Masih belum melibatkan diri dalam percakapan.

Aiyub tertawa pendek, “Ya Tuhan, kamu tak tahu sebahagia apa aku sekarang. Tidakkah kamu juga merasakannya, Lan?”

“Kita sedang di rumah!” Orlando mendesis tajam.

“Maaf.”

Orlando mendengus.

“Kamu tak suka aku datang?”

“Apa yang membawamu kemari?”

“Aku mengingatmu, tentu saja itu yang membawaku kemari. Kamu tak ingat aku?”

“Satu-satunya yang kuingat darimu adalah, kamu meninggalkanku…” Orlando sadar kalau ia baru saja melanggar ucapannya tentang mereka yang sedang berada di rumah.

“Ralat, aku terpaksa meninggalkanmu.”

“Apanya yang terpaksa? Kamu menolak usulku untuk tetap berhubungan meski berjauhan…” Orlando memelankan nada bicaranya sebisa mungkin. “Kamu bahkan meminta agar kita tak saling mengabari. Damn, Aiyub… kamu sebut itu terpaksa?”

Aiyub terdiam sejenak, “Kamu tahu aku tak punya pilihan. Orang tuaku dipindahtugaskan…”

Orlando menggeleng keras. “Kamu punya pilihan untuk tidak memutuskan hubungan kita, kamu jelas punya pilihan ketika meminta agar kita saling diam, agar kita saling melupakan. Kamu punya pilihan untuk tidak begitu dulu.” jelas Orlando sudah melanggar semua ‘aturan rumah’ yang dimintanya pada Aiyub untuk dipatuhi beberapa saat lalu. “Kamu punya pilihan untuk tidak jadi pengecut yang takut kalau jarak adalah musuh besar sebuah hubungan dalam bentuk apapun!”

Aiyub meremas rambut spike-nya yang keren, “Salahkan aku untuk semua itu, Lan… aku memang salah.”

“Itu tidak menjawab pertanyaanku…”

“Pertanyaan yang mana?”

“Apa yang membawamu kemari?”

“Aku sudah menjawabnya.”

“Tidak, jawabanmu salah.”

Aiyub mendesah.

Seorang perempuan paruh baya datang membawa nampan berisi dua gelas besar jus apel dan toples kue kering. Perempuan itu tersenyum kecil ketika menatap Aiyub. “Minumnya Mas Aiyub…”

“Trims Bik Ida, sudah lama sekali ya sejak kali terakhir Bibik bikinkan minum buat Aiyub, bagaimana kabar Bibik?” Aiyub menyalami tangan pembantu rumah Orlando sama sopannya dengan ketika ia menyalami tuan rumah beberapa saat tadi.

Alhamdulillah sehat, Mas,” jawab si bibik santun sambil mengulum senyum. “Lanjutin ngobrolnya, Mas… kalau minumnya kurang Bibik ada di belakang.”

Aiyub tersenyum, melirik Orlando sekilas lalu mengangguk pada Bik Farida, “Siap, Bik. Kalau kurang saya minta Lando ngambil ke dapur…” Bik Farida memandang anak majikannya sambil tertawa.

“Gak apa, Bik. Minumnya cukup kok, kalau tamu kita merasa kurang biar dia beli di luar.”

Bik Farida tertegun sejenak mendengar kalimat Orlando. Aiyub tertawa pendek, “Si Lando berubah jahat ya, Bik… mulutnya suka usil sekarang, padahal dulu ikhlas-ikhlas aja disuruh ngambil minum….”

Orlando mendengus lagi. “Orang-orang berubah seiring waktu berlalu, aku berubah, Bik Ida berubah… semua orang berubah.”

“Gak juga, Bik Ida belum berubah, masih cantik seperti dulu,” timpal Aiyub sambil mengedip genit ke pembantu rumah Orlando.

Bik Farida tertawa canggung, “Ya sudah, dilanjut ngobrolnya. Bibik permisi ke dapur.”

“Iya, Bik. Makasih…”

Orlando melempar badannya ke belakang, bersandar pada bantalan kursi, ia kembali melipat lengannya ke dada. Aiyub mengosongkan setengah isi gelasnya, menyeka mulut dan kembali memandang Orlando.

“Apa?”

Aiyub menarik napas, “Aku tidak menyalahkan mengapa kamu tak bisa ramah padaku…”

“Kamu mau lihat seperti apa bila aku tak ramah?” Orlando menaikkan sebelah alisnya. “Jika aku tak ramah, aku akan membanting pintu tepat di depan hidungmu tadi…”

“Apa yang membuatmu tak melakukannya?”

Orlando terdiam, ia diserang balik.

“Apa yang mengahalangimu untuk membanting pintu setelah tadi kamu membukanya untukku?” Aiyub mengejar, “Apa yang menghalangimu, Lando…?”

Orlando hampir bisa mendengar suara hatinya membisik, karena sebagian kecil diriku gembira kamu berdiri di depan pintuku… “Brengsek…”

“Ya, aku memang brengsek…”

“Kamu datang di waktu yang salah, Aiyub.”

“Maka beritahu aku kapan waktu yang tidak salah itu…”

“Jawab saja pertanyaanku!”

Aiyub kembali membuang napas. “Papa kembali dimutasi ke kantor asal…”

“Oh great. Semoga di sana tak ada orang yang kamu jejali omong kosongmu tentang jarak yang bisa memupus perasaan seperti yang kamu lakukan padaku dulu.”

Aiyub menunduk dalam.

“Aku ada pertandingan sesaat lagi,” Lando bohong, pertandingan basketnya bukan hari ini tapi besok sore. “Silakan tinggal jika kamu ingin tinggal. Mamaku pasti ada di beranda samping dengan kaktusnya jika kamu perlu teman ngobrol. Bik Ida juga tidak keberatan membuatkanmu segelas jus lagi, tentu saja jika kamu masih haus.” Orlando siap meninggalkan tempat duduknya.

“Aku pulang saja, Lan…”

“Oh itu adalah tindakan yang tepat, aku baru saja ingin menyarankan demikian…”

Aiyub sangat sadar kalau kalimat Orlando cukup sarkas, namun lelaki tampan ini hanya tersenyum. “Aku senang menjumpaimu lagi, Lan.” Aiyub bangun dari duduknya, “Sampaikan salamku buat Tante dan Bik Ida…”

“Aku tidak akan menyampaikannya!”

Meski hatinya tak enak dengan jawaban ketus Orlando, Aiyub tetap tersenyum, “Tidak mengapa. Sukses dengan pertandinganmu.”

Orlando diam memperhatikan lelaki yang dulu pernah begitu sangat berarti baginya berjalan melewati pintu, untuk selanjutnya menuruni undakan teras menuju motor besarnya yang terparkir di halaman.

Setelah deru motor Aiyub tak terdengar lagi, Orlando mengacak-acak kepalanya. “Sial.”

***

Nyatanya mereka memang masih marahan. Selama pertandingan mereka tidak saling mengoper. Jika bola berada di tangan Saif, maka meski posisi Orlando sangat tepat untuk menjebol keranjang tim lawan bahkan kemungkinan bisa melakukan slam dunk, Saif tidak mengoper, ia memilih mengoper pada rekan lain yang jauh atau mendribble bolanya sendiri atau melakukan shooting jarak jauh yang tentu saja jarang berhasil. Begitu juga yang terjadi sebaliknya jika giliran Orlando yang memegang bola, meski Saif berteriak-teriak meminta bola sambil melompat tinggi-tinggi, Orlando berlagak tak melihat. Ketidakakuran mereka berakibat fatal, tim mereka tertinggal jauh. Alhasil mereka berdua terpaksa diganti pemain cadangan, tentu saja setelah dimarahi habis-habisan oleh senior yang menjabat sebagai manajer tim.

“Puas lu!” Saif menyemprot setelah mereka resmi didepak dari area permainan. Ini untuk yang pertama kalinya selama sejarah basket mereka.

“Lu yang punya gara-gara!” Orlando membalas tak kalah sengit. Ia segera menuju tempat ranselnya berada. Saif melakukan hal serupa.

Tak ada yang bersuara di ruang ganti. Orlando mengganti kostumnya tergesa-gesa dan segera keluar. Dengan kurang ajarnya ia bahkan menyepak sepatu Saif yang menggeletak di lantai ketika menuju pintu.

“Setan lu!” Saif menggembor marah.

Orlando tak berhenti, namun sebelum membanting pintu ia sempat mengacungkan jari tengahnya pada Saif. Tak mampu menahan amarah, Saif bergerak menyusul.

PAAMM

Saif hanya berhasil menendang daun pintu tepat sedetik setelah Orlando menutupnya dengan suara berdebam. Bersungut-sungut, ia memungut sepatunya di pojok ruang dan melanjutkan memakai celananya yang tadi sempat tertunda.

“Aku salah kasih restu sama tuh bangsat buat macarin adikku, sialan!”

***

Aidil mengintip dari pintu pagar tembok yang menghubungkan pekarangan rumahnya dengan rumah Orlando di sisi kanan rumah. Dari tempatnya berdiri sambil celingak-celinguk, ia dapat melihat jelas seorang lelaki jangkung dan punya tampang seperti bintang film sedang mengobrol akrab dengan Tante Sofiah di beranda samping. Sambil mengobrol, si lelaki bertampang bintang film itu dengan cekatan membantu Tante Sofiah membenahi pot-pot kaktusnya yang berjejer di rangka besi. Aidil tak bisa mendengar jelas apa yang mereka obrolkan, hanya suara tawa samar saja yang mampu ditangkap telinganya.

Aidil menduga-duga siapa gerangan si lelaki tampan yang sedang mengunjungi rumah pacarnya itu. Apakah seorang sepupu? Kerabat jauh? Teman kuliah Orlando? Aidil berhenti menduga-duga pada ‘teman’. Tak mungkin teman Orlando. Teman Orlando adalah teman Saif juga, dan Aidil mengenal hampir semua teman kakaknya. Sedang dengan si lelaki sempurna di beranda sana, Aidil belum pernah melihatnya sekalipun. Apa mungkin itu… selingkuhan Orlando?

Tiba-tiba Aidil merasa dirinya berada dalam sebuah kuali besar berisi air mendidih. Aidil direbus rasa cemburu. Mendadak ia kepanasan. Diperhatikannya kulit kaki dan tangannya, tak ada bagian yang melepuh. Awas saja kalau sampai dia punya selingkuhan! Aidil menggeram dalam hati. Lalu ia berusaha mengingat-ingat, apakah Orlando pernah menceritakan kalau dulu ia punya pacar? Punya mantan?

Deru motor Orlando yang terdengar mendekat menghentikan usaha Aidil. Alih-alih melanjutkan usahanya mengingat-ingat, ia malah refleks menjenguk ke pekarangan depan. Malang, tepat ketika lehernya melewati tembok, Tante Sofiah melihatnya.

“Eh, Aidil… sedang apa?” Tante Sofiah berseru sambil tersenyum, lelaki muda yang mengobrol dengannya ikut memperhatikan pintu pagar dimana Aidil berdiri cengo.

Aidil gelagapan, ia tersenyum bego sambil menoleh kiri kanan. “Eng… ini Tante, nyapu pekarangan samping…” Beruntung. Aidil dengan sigap menyambar gagang sapu yang tersandar pada tembok pagar satu meter di kanannya. Ia menyengir sambil mulai menggerakkan sapunya.

“Wah rajinnya…” Tante Sofiah memuji.

Aidil kembali menyengir, sebisa mungkin menahan diri untuk tidak memperhatikan lelaki yang berdiri di sisi mama pacarnya. “Kaktusnya makin cantik ya, Tante…”

Tante Sofiah tertawa, “Masih kalah cantik dibanding punya bundamu,” Tante Sofiah merendah.

Ya, bundanya dan mama Orlando sudah bagaikan saudara kembar saja, hobi mereka sama, bahkan Aidil yakin kalau buku resep bundanya dan mama Orlando juga serupa. Ia tahu cerita tentang bundanya dan mama sang pacar lewat penuturan sang pacar sendiri satu waktu dulu. Aidil menoleh ke pekarangan depan rumahnya sekilas dimana rak kaktus bundanya berada lalu kembali memandang Tante Sofiah. “Koleksi Bunda belum ada yang bertambah tuh, Tante…”

Tante Sofiah tertawa, “Bundamu kalau punya koleksi baru pasti langsung bilang, kaktus Tante juga masih begini-begini saja…”

“Dil…”

Aidil dikejutkan suara Orlando yang mendadak muncul di pintu beranda samping rumahnya. Aidil menyunggingkan satu senyum buat pacarnya itu.

“Tumben kamu pulang cepat, Orly…” Tante Sofiah menegur putranya. “Tapi baguslah, Aiyub sudah menunggu sejak setengah jam lalu.”

“Itu tidak terbilang menunggu, Tante. Lagipula Tante adalah teman menghabiskan waktu yang asik…” Aiyub menggerakkan tangannya pada rak kaktus Tante Sofiah. Yang dipuji tersenyum senang.

Orlando melirik sekilas pada Aiyub lalu menatap Aidil. Ia sempat kaget ketika menemukan pandangan Aidil menusuk dingin padanya. Orlando mencoba tersenyum. “Asik dengan sapumu, Dil?” Orlando mengajak bicara, ia bergerak menyeberang beranda dan menuruni undakan.

“Aidil rajin, tidak sepertimu yang malas kalau disuruh beres-beres rumah,” tukas Tante Sofiah.

Dipuji rajin oleh mama sang pacar, Aidil memaksa untuk tersenyum. Di saat yang sama ekor matanya melirik sosok Aiyub yang belum berpindah tempat. Aidil jelas sadar kalau sejak Orlando muncul di beranda, lelaki bernama Aiyub itu tak lepas memperhatikan pacarnya. Aidil merasa kalau api dibawah kualinya makin dikobarkan, ia semakin terebus.

“Dil…”

Aidil memandang Orlando lagi yang sekarang sudah berjarak semeter di depannya. Dengan amat terpaksa ia kembali melengkungkan bibirnya, memanipulasi suasana hatinya dengan senyum itu. “Bagaimana pertandingannya, Kak?”

“Iya, Lan… bagaimana pertandingannya? Apa timmu menang?” Aiyub beranjak dari rak kaktus Tante Sofiah, hanya dua langkah saja karena Orlando langsung menatap tajam padanya.

Tante Sofiah selesai menambahkan pasir ke dalam pot kaktus terakhir, “Nak Aiyub terima kasih loh, Tante sangat terbantu. Silakan lanjut bincang-bincangnya.”

“Ah, bukan pekerjaan besar kok, Tante…”

“Iya, memang bukan pekerjaan besar, tapi Orly yang anak Tante sendiri tak pernah membantu…”

Aiyub tersenyum ramah lalu melirik Orlando, “Lando pasti akan membantu lain kali, Tante…”

Aidil tak sadar kalau ia sudah mengatupkan giginya rapat-rapat sejak Aiyub bicara. Cara Aiyub menatap pacarnya, sungguh membuatnya cemburu. Kini air rebusan dalam kualinya bukan hanya mendidih panas, tapi juga baru saja ditambahkan blenderan cabe rawit satu panci.

“Tante permisi ke dalam. Orly segera mandi, baumu seperti rendaman cucian kotor.” Tante Sofiah memandang Aidil, “Kamu tak terganggu dengan bau Kak Landomu, Aidil?”

Aidil tersenyum pada Tante Sofiah, “Sedikit…,” jawabnya. ‘Yang sangat menggangguku sekarang justru lelaki yang… yah… memang ganteng itu’, hati Aidil menyambung jawaban sembari kembali ekor matanya melirik Aiyub.

“Biasa itu, Tante… laki-laki…,” Aiyub menimpali.

Tante Sofiah mengangguk ke Aiyub kemudian bergerak masuk ke rumah.

Lalu hening beberapa saat. Aidil diam memeluk gagang sapu di dada. Orlando berdiri ragu-ragu, masih gundah dengan tatapan Aidil yang dingin tadi. Sedang Aiyub, lelaki itu tak berani mengambil langkah ketiga.

“Emm… Dil, apa bauku beneran seperti rendaman?” Orlando mengendus dirinya.

Aidil diam.

“Tidak, Lan… aku tak membauinya…”

Orlando menoleh Aiyub, “Keberatan jika kamu pergi saja?”

Aiyub tercengang, masih tidak bergerak. “Emm… kamu tak ingin mengenalkan temanmu padaku?” Aiyub bertanya ragu.

“Aku Aidil. Tetangganya Lando,” Aidil memperkenalkan dirinya sendiri. Menekankan kata tetangga dan menyebut Orlando seperti Aiyub memanggilnya.

Orlando merasa dibantai dengan nada bicara Aidil.

“Oh…” Aiyub bergumam pendek. “Aku…”

“Sudah kan?” Orlando memotong kalimat Aiyub, “Aidil sudah memperkenalkan diri, bisa kamu segera pergi?”

Aiyub menggigit bibir bawahnya sendiri. Ia masih tak bergerak. Mendadak Aidil merasa kasihan, entah bagaimana prosesnya, sekarang ia malah menyayangkan sikap Orlando yang memperlakukan Aiyub secara tak baik.

“DIL, MASUK!!!”

Aidil kaget, Orlando terlonjak. Sedang Aiyub mengernyit heran. Di beranda rumah, Saif tegak dengan muka masam, ia bertelanjang dada, kausnya tersampir di bahu kiri, sepertinya Saif siap masuk ke kamar mandi sebelum memilih menjenguk ke beranda lebih dulu. Aidil tak mendengar deru motor kakaknya memasuki pekarangan saking fokusnya meladeni perasaannya. Namun rasa herannya lebih berkuasa, ‘Mengapa sikap Kak Saif berubah kasar begitu?’

Saif sempat menatap Aiyub sekilas, keningnya berkerut. Sesaat kemudian ia kembali fokus pada adiknya, “Masuk, Dil!”

“Iya, Kak…” tapi Aidil masih diam di tempatnya.

“Sekarang!”

“Dil…” Orlando bergerak maju, memanggil Aidil lirih.

“Dil, Kak Saif bilang sekarang!”

Aidil melempar sapu ke tembok lalu berbalik menaiki undakan beranda samping rumahnya. Saif menutup pintu setelah Aidil melewati ambangnya.

Orlando menelan ludah. Ia mulai sadar kalau kemarahan Saif berdampak tak baik pada hubungannya dan Aidil. Dan sekarang… kehadiran Aiyub malah kian memperkeruh keadaan. Orlando sadar kalau tatapan dingin Aidil padanya tadi sangat berarti banyak, Aidil tentu sudah bisa membaca keadaan.

“Lando, apa yang terjadi?” Aiyub ragu-ragu mendekati Orlando yang masih termangu di pintu pagar.

Orlando berbalik, mendengus kasar, “Bukan urusanmu!” lalu ia bergegas masuk.

Aiyub menatap punggung Orlando yang bergerak menjauh. “Maafkan aku, Lan…” ia berbisik sendiri, “Aku amat sangat pantas menerima marahmu…”

***

“Masuk…” Saif mengalihkan perhatiannya dari layar laptop ke pintu kamarnya yang baru saja diketuk orang.

Daun pintu bergerak membuka, Aidil melongok sambil memberi cengiran aneh buat sang kakak. “Apa Aidil mengganggu?” Aidil berusaha bertanya seramah mungkin, padahal jika ingat sikap kasar Saif yang membentak-bentaknya sore tadi ingin saja ia melayangkan protes. Tapi saat ini ia perlu menginterogasi kakaknya itu demi kejelasan praduganya sendiri.

Di atas tempat tidurnya, Saif menggeleng.

Aidil bergerak masuk lalu menutup pintu di belakangnya. Ia ragu-ragu mendekati Saif yang sudah kembali fokus ke layar laptopnya. Aidil duduk di tepi tempat tidur. “Sibuk, ya?”

“Seperti yang kamu lihat.” Saif terus mengetik, tidak mengalihkan perhatiannya.

“Emm… bagaimana pertandingan sore tadi? Sukses seperti biasa?”

“Pacar brengsekmu mengacaukan segalanya.”

Aidil kaget. Langsung bisa menyimpulkan kalau pertandingan kakaknya gatal, gagal total. Ia juga menyimpulkan kalau ketegangan antara kakak dan pacarnya sudah berlangsung selama dua hari ini dan mereka belum akur. “Kak Saif masih marah sama Orly?”

“Manusia kurang ajar itu menendang sepatuku di ruang ganti…”

Aidil mengedip dan melongo di saat bersamaan.

“Dia tak mengoper satu kali pun padaku selama pertandingan.”

Aidil kesusahan meneguk liur sendiri karena mendadak lehernya memanjang karena kaget mendengar kalimat kakaknya.

“Aku dikeluarkan dari pertandingan gara-gara dia!” jari Saif menghajar tombol ENTER hingga nyaris jebol. “Jelas aku marah sama makhluk itu, harusnya kamu tak perlu tanya lagi!”

Aidil diam setelah menormalkan lagi rentang lehernya yang sempat meninggi tadi. Ia memperhatikan wajah Saif yang memberengut masam, raut yang sama seperti saat membentaknya sore tadi.

“Kamu sudah boleh mempertimbangkan untuk putus sama dia…” Saif lanjut mengetik.

Untuk beberapa detik, Aidil merasa jiwanya melesat keluar dari ubun-ubun menuju plavon kamar Saif. Ia kaku.

“Kamu tahu lelaki yang tadi sore di pekarangannya? Dulu semasa SMA aku sering lihat dia berkunjung ke rumah Orlando…”

Aidil kembali sadar, hal yang ingin dipastikannya sudah mulai dibicarakan Saif, tanpa dipancing lebih dulu seperti yang sudah direncanakannya sebelum masuk kamar kakaknya itu. Aidil memilih untuk mendengarkan.

“Saat itu Orlando bilangnya, dia temenan sama tuh orang. Anak SMK, entah bagaimana dia bisa kenal sama anak SMK yang dulu terkenal suka tawuran…”

‘Tapi lelaki bernama Aiyub itu tidak tampak sebagai orang yang suka tawuran saat sekolah’ Aidil bersuara dalam hati. ‘Ia charming dan jelas terkesan punya sikap yang baik.’

“Kak Saif tahu namanya Aiyub dari Orlando, aku tak pernah berkenalan resmi sama si Aiyub itu. Bisa dibilang, selain aku, teman paling dekat Orlando yang lain ya dia itu.” Saif menggumam pendek sebelum menyambung ucapan, “Sekarang aku punya kesimpulan sendiri setelah mendapati kenyataan kalau Lando memacarimu,” ada jeda, “dulu Aiyub itu pasti tak hanya sekedar temanan sama Orlando…”

Aidil menunduk. Semua sudah jelas baginya kini. Ia kini ingat kalau dulu ketika menagih penjelasan di kamar Orlando saat mengembalikan komik, Orlando mengakui kalau dirinya pernah punya pacar, mereka putus karena pacarnya pindah ke kota lain, karena pacarnya tak sanggup LDR. Aiyub itulah orangnya, dan sekarang ia kembali ke kehidupan Orlando. Tentu saja dengan cinta di hatinya. membawa kisah lamanya, dan bukan mustahil Orlando tak akan bertekuk lutut, Aiyub begitu sempurna. Aidil menerawang sendiri.

“Dil, Kak Saif serius saat memintamu mempertimbangkan untuk putus sama Orlando…”

“Kak…” Aidil tercekat.

Saif berhenti mengetik dan menatap adiknya. Ia menemukan raut sendu pada Aidil . Saif dihantam rasa bersalah. “Hemm…” ditutupnya laptop tanpa shut down lalu beringsut mendekati Aidil. “Sorry…” Saif menjangkau bahu adiknya.

Aidil tak menolak ketika Saif merengkuhnya, kepalanya kini bersandar di bahu sang kakak. “Kak Saif bilang gitu karena sedang marah sama Orly, iya kan?” Aidil bertanya lirih.

Saif diam. ‘Apa aku meminta Aidil untuk putus karena memang sedang marah dengan Orlando?’ Saif bertanya sendiri.

“Apa menurut Kak Saif, Orly masih suka sama mantannya?”

“Siapa?”

“Aiyub, dia mantannya Orly. Pasti…” Aidil kesulitan mengeluarkan suara, kalimatnya seperti keluar dari liang yang dalam, ia mati-matian menahan diri untuk tidak bertingkah cengeng. “Apa Orly masih suka Aiyub?”

“Kak Saif gak tahu, Dil…”

“Lalu kenapa Kak Saif ingin Aidil melepasnya?”

Saif kebingungan menjawab, “Emm… karena dia mulai brengsek.”

“Dia brengsek karena menendang sepatu Kak Saif di ruang ganti? Karena tidak mengoper bola ke Kak Saif satu kali pun tadi sore? Karena telah membuat Kak Saif dikeluarkan dari pertandingan? Iya?” Aidil mengeluarkan tanda tanya bertubi-tubi.

“Dia sudah mulai brengsek sejak mengatai aku PMS…”

“Tadi sore, Aidil lihat dia bersikap kasar sama Aiyub. Apa itu artinya dia tak suka Aiyub lagi?”

“Mungkin…”

“Kalau begitu kenapa kami harus putus?”

Saif sadar kalau percakapan mereka mulai berputar-putar. Ia mendesah pelan, menempelkan pipinya ke kepala Aidil yang masih berada di bahunya. “Kak Saif gak tahu…,” gumamnya. “Cinta seperti yang kalian perankan tidak sesederhana cinta kebanyakan, Dil…”

Sepertinya kabut mulai menutupi mata Aidil.

“Itu rumit… Kak Saif yakin kamu lebih tau…”

“Apa Aidil sungguh-sungguh harus berhenti? Aidil sayang dia sungguhan, Kak…”

Saif merasa ada air yang menitik di lengannya. Ia kaget, segera sadar kalau adiknya sedang menangis. “Hei…” Saif merenggangkan diri dan membingkai kepala Aidil dengan kedua tangannya. Adiknya menunduk. “Ya Tuhan, Dil… apa yang sudah kulakukan?” Saif berusaha mengeringkan mata Aidil dengan jempolnya, namun karena terlalu bersemangat ia malah nyaris menyucuk mata adiknya itu.

“Adooww…” Aidil sontak menjauhkan kepalanya.

“Eh?”

“Mataku kecucuk jempolmu, Kak!” Aidil mengucek-ngucek mata kanannya.

“Aduh maaf, gak sengaja. Sini Kak Saif tiup…” Saif berjingkat, menahan kelopak mata Aidil dengan jarinya dan meniup satu kali. “Masih perih?”

“He eh…”

“Ffiuuuhhh…”

Rambut Aidil berkibar beberapa detik sampai Saif selesai mengembus. Untung bulu mata dan alisnya tidak tanggal berserabutan, Saif meniup cukup keras.

“Baikan?”

“Udah…” Aidil mundur dan menyeka mata dengan ujung kausnya.

Beberapa saat berlalu dalam kediaman. Saif duduk bersila di tempat tidur dengan pandangan menerawang ke langit-langit kamar, sedang Aidil duduk menjuntai menatap lantai.

“Lupain aja omongan Kak Saif tadi, itu gak serius.”

“Kak Saif ngomong banyak, yang mana yang tidak serius?”

“Kamu tau yang mana.” Saif membuka laptopnya kembali, “Sana tidur, Kak Saif mau lanjut bikin tugas…”

“Mbak Tiya apa kabar?” alih-alih turun dari tempat tidur dan meninggalkan kamar kakaknya, Aidil malah mengajukan pertanyaan.

Saif batal mengetik. Ia menghela napas panjang. “LDR ternyata berat, Dil… baru sebentar tapi sudah sangat menyiksa. Aku selalu sakit kepala tiap kali memikirkan kemungkinan kalau Ruthiya tidak sedang online atau teleponku tak tersambung berarti ia sedang kepincut lelaki lain…” Saif berdecak, “Kepalaku nyut-nyutan kalau sudah begitu.”

Kini mengertilah Aidil, bahwa sikap sentimen kakaknya beberapa hari ini disebabkan suasana hatinya yang sedang tak bagus berkaitan dengan hubungannya sama Ruthiya. “Jadi, itu sebabnya Kak Saif jadi mudah marah?”

Saif diam.

“Aidil yakin Mbak Tiya gak mungkin berkhianat. Berpikirlah yang baik-baik jika telepon Kak Saif gagal atau Mbak Tiya diam di line maya…” Aidil turun dari tempat tidur. “Good nite, kak…”

*

“Dil, sampai sekarang kamu belum minta apapun. Ingat? Aku babumu selama seminggu ini.’

Aidil tak mau repot mengetik balasan SMS Orlando. Ia berbaring setelah melempar hapenya terlebih dulu ke tempat tidur. Belum dua menit, hapenya bunyi lagi.

‘Aku di jendela, aku tau kamu di situ, lampumu masih menyala, belum tidur kan? Aku ingin melihatmu, Dil…’

Aidil turun dari tempat tidur, menuju saklar. Seketika kamarnya gelap. Ia bahkan tak mau repot menyalakan lampu tidur di nakas, juga tidak memandang jendelanya barang sekilas pun. Belum menarik selimut, hapenya kembali bunyi.

Good nite, Sweetheart… kamu tahu aku selalu mencintaimu. Mimpi indah…’

Aidil menyongsong lelapnya dengan ngiang ucapan Orlando dua pagi lalu.

Semalam aku juga mimpi… mimpi buruk… Jika sesuatu yang datang dari masa lalu bisa disebut sebagai hantu, maka… itu memang hantu…

Dan manifestasinya adalah, Aidil bangun megap-megap saat dini hari karena mimpi dikejar pocong bencong dan sundel bolong.

*

“Aku mau bicara!” Saif segera berbalik dan berjalan cepat setelah mengutarakan maksudnya. Ia menyusuri koridor dengan langkah-lagkah lebar.

Orlando mengetatkan tali ranselnya dan mengekor di belakang Saif. Mereka masuk ke ruangan kelas paling ujung yang berada dalam keadaan kosong. Ruangan itu pengap, AC-nya mati, beberapa jendela terbuka lebar. Orlando menutup pintu begitu sudah berada di dalam kelas. Saif berdiri tiga meter di depannya.

“Kalau nurutin hati, lu udah kutonjok saat ini…” Saif berucap dengan nada mengintimidasi.

“Kalau nurutin hati, lu udah kutendang sejak tadi…” Orlando membalas tak kalah mengintimidasi.

Saif mengatupkan rahang. “Aku mau mengingatkan, barangkali lu lupa. Camkan ini baik-baik, kalau sampai lu bikin adikku terluka, itu artinya lu udah siap kehilangan gigi dan siap berjalan pake tongkat…” nada Saif sangat mengancam.

Orlando melongo untuk beberapa saat, lalu tertawa pendek. “Ya Tuhan, Sef… bahkan dalam mimpi pun aku tak mau menyakiti Aidil…”

“Yang kumaksudkan tak hanya elu. Tapi mantan lu juga…”

Orlando membelalak. “Mantanku yang mana?”

“Alaahhh… jangan pura-pura bego, Do! Kedekatan lu kembali sama Aiyub bikin adikku sakit tau gak?!”

Meski kaget sahabatnya bisa menyimpulkan dengan tepat tentang Aiyub, Orlando cepat menguasai diri. “Aku tidak dekat dengan dia.”

“Bagus. Berarti gigi lu selamat.” Saif bergerak melintasi Orlando, menuju pintu. “Dan lu masih berhutang maaf Do, sama aku!”

“Aku tak punya hutang maaf dengan siapapun.”

“Okey, maka aku akan minta Aidil untuk mutusin lu!” Saif menyeringai, “Tahu? Semalam aku nyaris berhasil melakukannya…”

Orlando pucat. Ia ingat bagaimana Aidil mematikan lampu kamarnya semalam, semua pesannya tak satupun berbalas. Aidil bahkan tak menjawab teleponnya yang berkali-kali subuh tadi, tidak keluar untuk jogging dan Orlando sama sekali tak punya kesempatan melihat sosok Aidil sejak dari tadi pagi. Pasti Saif yang membuat pikiran pacarnya makin keruh. “Lu gak bisa seenaknya, Sef! Apa motif lu mempengaruhi Aidil buat putus denganku?” Orlando berang.

“Tentu saja, karena aku kakaknya dan karena aku gak mau lu nyakitin dia dengan memberi harapan pada Aiyub untuk mendekat lagi!”

“Aku tak memberinya harapan, jangan sok menyimpulkan!”

Whatever, intinya lu berhutang maaf denganku, dan aku serius dengan ucapanku tadi.”

“Okey, fine!” Orlando berteriak gusar. “Aku minta maaf…”

“Aku tak dengar…” Saif sengaja mencondongkan badan sambil menangkup kupingnya.

“Aku minta maaf…”

“Lu laki bukan sih? Kayak suara cewek aja, lemes… gak kedengaran.”

Orlando menindih amarahnya. “Dasar bolot. AKU MINTA MAAF, SAIF PEKAK!”

Saif manggut-manggut. “Mau aku maafin?”

Orlando menggembor.

“Mau aku maafin gak?”

“Tentu saja, sialan.”

Saif manggut-manggut lagi. “Buka sepatu lu!”

Orlando mendengus, tidak melakukan apa yang diminta sahabatnya.

“Buruan buka atau aku berubah pikiran dan lu siap-siap gak bisa grepe-grepe adikku lagi!”

“Aku gak pernah grepe-grepein Aidil,” cetus Orlando sambil membuka sebelah sepatunya dengan tampang kesal. Meski bisa menerka-nerka apa yang bakal dilakukan Saif terhadap sepatunya, Orlando dengan berat hati menyodorkan alas kakinya itu ke tengah-tengah antara dirinya dan Saif.

Begitu sebelah sepatu Orlando menggeletak satu langkah di depannya, secepat kilat Saif menyepak.

WUUUTTT

Orlando berteriak marah sementara Saif tertawa kencang. Bagaimana tidak, sepatu itu melesat terbang melewati salah satu jendela yang menganga lebar. Ketika Orlando sibuk menjenguk ke jendela, Saif justru melenggang kangkung meninggalkan ruangan.

***

Aidil terkejut saat menyadari ada orang yang berdiri tepat di belakangnya. Punggungnya sempat menabrak dada orang yang tegak di belakangnya itu. Buku yang baru saja diraihnya dari puncak rak di ruang perpustakaan jatuh ke lantai, menimbulkan suara berisik. Beberapa pasang mata sempat menoleh. Aidil berbalik dan ia lebih kaget ketika sudah menghadap orang yang baru saja ditabraknya. “Kamu…” Aidil melongo.

Tersenyum, orang di depan Aidil berjongkok. “Maaf membuatmu kaget…,” ujarnya sambil menyodorkan buku yang baru dipungutnya dari lantai.

Aidil tidak mengambil buku yang disodorkan orang itu, ia masih diam tanpa bergerak sedikit pun.

“Iya, aku membuntutimu sejak dari rumah…” ia mengangkat bahu, “Jangan cemas, aku tak punya niat jahat…” buku masih terulur tak diterima. “Aku yakin kamu sudah tahu namaku…” ada jeda, “Dil?” sebelah alisnya terangkat saat menyebut penggalan nama Aidil dengan nada bertanya, lalu ia tersenyum. Tak kunjung diterima, ia menurunkan lengannya, tidak lagi menyodorkan buku ke depan Aidil. “Emm… sepertinya aku salah milih waktu…”

“Aiyub…”

“Ya?” Aiyub mencondongkan badannya lebih ke depan.

“Kamu tak seharusnya di sini…” Aidil menyambar buku di tangan kanan Aiyub lalu bergerak meninggalkan lorong.

“Lalu dimana aku seharusnya?” Aiyub berusaha mensejajari langkah Aidil.

“Kamu tak seharusnya mengikutiku sampai kemari.” Aidil berjalan semakin cepat, menuju meja administrasi. Tadinya ia mengira akan membaca buku yang dipilihnya itu di ruang perpustakaaan, namun sekarang ia berubah pikiran karena kemunculan Aiyub. Ia akan meminjam saja.

“Dil, luangkan waktumu sepuluh menit saja denganku…” Aiyub memberanikan diri mencekal lengan kiri Aidil. Sukses, langkah Aidil terhenti meski matanya melotot. Aiyub tersenyum, “Terang saja Lando begitu mencintaimu, bahkan sedang melotot pun kamu tampak manis…” Aiyub berkata nyaris berbisik.

Mau tak mau, mendengar pujian itu pipi Aidil merona. Aiyub orang yang baik, Aidil tidak meragukan penilaiannya terhadap lelaki tampan yang masih memegang lengan kirinya itu.

“Apa sepuluh menitku ada?” Aiyub melepaskan pegangannya.

Aidil mendesah lalu berjalan menuju meja kosong di pojok ruang. Aiyub mengikuti. Mereka duduk berhadap-hadapan. Satu menit pertama tak ada yang bersuara. Memasuki menit kedua Aidil membuka percakapan.

“Dari mana kamu tahu kami pacaran?”

“Kemaren sore itu sudah cukup menjelaskan kok.” Aiyub menarik napas, “Jujur aku merasa amat bersalah telah mengunjungi Lando… harusnya aku tak menurutkan hatiku lagi…”

Aidil melipat lengan di meja. “Jadi, mengapa kamu merasa perlu membuntutiku hingga kemari?”

“Ingin mengenalmu lebih dekat.”

Aidil mengernyit. “Untuk…?”

“Berteman?” Aiyub manjawab dengan nada bertanya, “Atau bagaimanapun kamu menyebutnya… intinya aku ingin kita tidak jadi orang yang saling tidak menyukai.”

“Aku tak membencimu,” tukas Aidil.

“Tapi kamu tak suka aku mendekati Lando lagi, kan?”

“Aku tak keberatan jika nyatanya Orly masih mencintaimu…” Aidil tak percaya kalimat itu keluar dari mulutnya. Hatinya malah berbicara lain, aku tak akan benar-benar ikhlas jika Orly kembali padamu.

Aiyub menggeleng. “Lando tak akan kembali padaku.” Aiyub merespon seperti tahu apa yang dipikirkan Aidil. “Dia membenciku sebanyak rasa cintaku padanya…”

Aidil terdiam beberapa ketika sebelum bertanya. “Kamu masih mencintainya?”

Aiyub mendesah, “Ketika kakiku tiba lagi di sini, hal pertama yang kuinginkan adalah memiliki Lando seperti dulu lagi.” Aiyub tertawa sendiri, “Bodohnya aku, kan? Dulu memutuskannya sekarang malah ingin kembali.”

“Cinta kadang memang membodohi pelakunya…”

“Tapi Lando pintar dengan tidak meladeniku… dia pintar kerena mencintaimu dengan amat sangat.”

“Aku anggap itu pujian.”

“Apa kemunculanku mengganggu hubungan kalian? Emm… maksudku, apa kamu punya pikiran kalau Lando akan meninggalkanmu dan kembali padaku?”

“Apa aku cemburu? Begitu kan?” Aidil menyederhanakan pertanyaan Aiyub. Lelaki di depannya mengangguk. “Ya, aku cemburu,” jawab Aidil.

“Sekarang kamu tak perlu cemburu lagi, Dil. Arti dirimu bagi Lando tak dapat digantikan siapapun, apalagi aku yang pernah mengecewakannya.”

“Pujian lagi? Aku bisa gangnam style jika kamu terus memujiku…”

Aiyub tertawa, “Kamu menggemaskan, Lando beruntung.”

“Ya Tuhan, pujian lagi…”

Aiyub kembali terkekeh. “Jangan marah dengan Lando, ya. Dia tidak mungkin berpaling darimu. Dan… maafkan aku…” Aiyub memegang pergelangan Aidil.

“Kamu gak salah.”

“Jelas aku salah, Dil.”

Aidil menggeleng. “Jika pun kamu salah, maka kesalahanmu adalah kembali setelah Orly jadi milikku. Kamu salah karena pulang terlambat…”

Aiyub tersenyum. “Kamu orang baik, Dil…”

Giliran Aidil yang sekarang mengulum senyum, “Justru aku ingin mengatakan hal yang sama tentangmu… kamu orang baik. Dan amat sangat tampan…”

Aiyub merona. “Tapi aku jomblo.”

Aidil memutar bola mata, “Itu deritamu.”

Aiyub mendelik.

“Bercanda,” cetus Aidil. “Aku yakin status jomblomu akan segera hilang.”

“Mengapa kamu begitu yakin?”

Mereka sama-sama tak sadar kalau sudah mengobrol melebihi sepuluh menit.

“Tentu saja karena kamu sangat mudah menarik perhatian.”

“Kenapa aku mudah menarik perhatian?”

Heuh, ini orang bego juga. “Kamu suka ya aku berulang-ulang menyebutmu ganteng, tampan dan bla bla bla?”

Aiyub tertawa. “Tapi di mata Lando, aku masih kurang tampan darimu.”

“Itu karena Orly sudah kugendam dengan aji pemikat roh milikku…”

Aiyub tak dapat menahan semburan tawanya. Ia terbahak kencang. Lalu seseorang memukul punggungnya dengan buku.

“INI PERPUSTAKAAN!”

Mereka sama-sama mingkem. Aidil menunduk dalam sementara Aiyub menunduk sambil mengelus-ngelus punggungnya yang kena pukul. Librarian yang baru saja menghajar punggung Aiyub dengan bukunya berlalu pergi. Menahan kikikan, Aidil bergerak meninggalkan meja di pojokan disusul Aiyub. Buku yang hendak dipinjam menggeletak di meja tanpa dibuka.

***

Orlando bersandar di batang pohon, bertelanjang dada. Kepala Aidil menempel di pangkal lehernya, punggung Aidil melekat di dadanya. Deru ombak menghantam karang samar terdengar di kejauhan. Cicit burung sesekali meningkahi. Angin beraroma garam berhembus lembut di kulit. Mereka sedang menikmati sore di pantai. Hanya mereka berdua, di bibir pantai yang mungkin tak pernah ditapaki manusia sebelumnya. Daun-daun kering berserakan menutup pasir, kulit-kulit kerang menyembul di antara dedaunan kering itu.

Menghanyutkan, begitulah rasanya. Tak ada panorama matahari terbenam yang indah memang, karena bibir pantai yang mereka pilih bukan sudut yang tepat untuk melihat sunset. Namun awan kelabu di atas sana adalah penyempurna yang tepat.

Sudah tiga puluh menit. Orlando sudah memenuhi tiga permintaan Aidil sesuai perjanjian ketika jogging tempo hari. Membuka kemejanya, merelakan pangkuannya jadi kursi Aidil dan yang paling gila mengizinkan Aidil menggunakan kelingkingnya untuk mengupil meski tidak benar-benar mengupil.

“Tidak mau minta lagi? Kamu sedang jadi bos loh.”

Aidil menggeleng.

“Oh ayolah Dil, minta aku untuk buka celana. Please… mumpung sepi nih…” Orlando memelas.

“Jangan ngomong yang jorok-jorok, ini tempat asing. Kalau ada setan alim yang dengar trus ia tak suka, kita bisa ketiban bala.”

Orlando menoleh kiri kanan. “Makin ditakutin aku malah makin tegang, Dil… kerasa gak?”

Jelas Aidil merasa. Ia duduk tepat di atas Orlando. Aidil memilih diam, percuma merespon.

“Dil…”

“Hemm…”

“Kamu tak mau melepas kemejamu?” Aidil menggeleng. Orlando putus asa. “Bagaimana kalau kita tiduran?” ia masih berusaha. Aidil kembali menggeleng. Orlando patah arang, ia mengetuk-ngetukkan bagian belakang kepalanya ke batang pohon yang tepat berada di belakang.

“Nanti kepalamu rengkah, Orly…”

“Biarin…” Orlando tak berhenti. “Biar aku gegar otak sekalian…:

“Kepala rengkah kan lebih parah dari gegar otak, merajukmu kebalik.”

“Ya udah, biar kepalaku pecah sekalian, otakku memburai, mataku berlesatan kayak kelereng…”

Aidil tertawa, ia melerai lengan Orlando di pinggangnya kemudian membalikkan posisi duduknya, kini mereka berhadap-hadapan. Aidil mengangkangi pinggang Orlando.

“Begini lebih baik,” bisik Orlando sambil menempatkan kedua lengan Aidil di lehernya. Setelah itu ia merangkul pinggang Aidil dengan satu tangan dan tangan lainnya bermain di wajah sang pacar. Ia sudah berhenti membenturkan kepalanya ke batang pohon sejak Aidil berbalik. “You’re beautiful, Sweetheart…” Orlando berbisik lagi. “Dan akan semakin indah lagi jika kemejamu dibuka…” Tangan Orlando turun dari pipi ke kancing atas kemeja Aidil. Ia berhasil membuka dua kancing sebelum Aidil menghentikan usahanya. “Tuhan, cegah aku untuk tidak merenggut kemeja ini dengan paksa…”

“Ngawur!” Aidil membawa lengan Orlando ke pinggangnya, bergabung bersama lengan satunya yang sudah lebih dulu di sana.

Orlando memajukan badan, wajahnya mendekati wajah Aidil. “Aku akan menciummu, tentu jika kamu tak mencegahnya…”

Ujung bibir Aidil tertarik, ia merangkul leher Orlando untuk lebih mendekat. Mulut mereka bertemu, seperti ikan, membuka dan menutup, mengulum dan menggigit. Aidil meremas rambut di tengkuk Orlando, tangannya yang lain mencengkeram bahu sang pacar, menimbulkan bekas kuku di sana. Orlando kian haus, ia tak membiarkan bibir Aidil luput dan berjarak semili pun dari bibirnya. Satu lengannya kian menekan Aidil untuk merapat padanya sedang tangan yang lain menyusup di balik kemeja Aidil, menyusuri kulit punggung Aidil dengan penuh gejolak.

Mereka megap-megap kekurangan udara. Dada naik-turun, sama-sama tersenyum.

“Aku mabuk, Dil…”

“Aku kepayang…,” balas Aidil konyol sambil menyentuh tekstur kotak-kotak di perut Orlando.

“Yeah, Baby… lanjutkan sampai ke bawah.”

“Hush… dasar mesum.”

Orlando terkekeh, diraihnya tangan Aidil yang tidak berada di perutnya dan dikecup hingga basah. “Mungkin kalimat ini sudah mulai terdengar biasa dan nyaris membosankan buatmu… namun demi Tuhan, aku mencintaimu hingga ke dalam sumsum tulangku, Dil…”

Aidil berbinar, “Kalimat itu tak akan pernah membosankan…” ujarnya sambil menyapu bibir bersih Orlando yang tipis dan sedikit lebar dengan jarinya. Orlando tak mau melewatkan kesempatan untuk menyentuh ujung-ujung jemari aidil dengan ujung lidahnya. Hal kecil itu membuat Aidil meremang. “Saat melihat Aiyub, kukira aku tak akan pernah bisa menyentuh bagian apapun lagi dari dirimu, Orly… aku takut cinta kita kandas dan kamu kembali padanya.” Dari bibir, kini jemari Aidil pindah ke garis rahang Orlando yang tegas dan dihiasi bulu halus hingga ke dagunya.

“Aku tak akan mencintai siapapun lagi, Dil… cukup kamu,” bisik Orlando parau. “Sekarang, bisakah kita membuka kemejamu?”

“Heuh, jadi kamu menggombaliku biar aku mau membuka kemejaku?” Aidil berucap ketus.

“He?”

“Cintamu cuma sebatas bodi kalau gitu…” Aidil siap-siap beranjak dari pangkuan Orlando.

Sadar kalau dirinya baru saja mengacau, Orlando segera bertindak memperbaiki keadaan, ia belum siap mengakhiri kemesraan yang jarang-jarang ini bersama sang pacar. Dirangkulnya pinggang Aidil agar tidak bangkit darinya. “Iya iya iya maaf… maksudnya gak gitu, tolong jangan pindah duduk. Aku gak bakal minta lepas pakaian lagi… lihat,” Orlando menyambar kemejanya yang menggeletak di pasir dengan gerakan cepat, “Aku akan pakai kemejaku lagi, okey? Tapi please, jangan pindah duduk…”

“Aku yang minta kamu lepas kemeja… coba saja kalau berani memakainya kembali sebelum kuperintahkan.”

Orlando melongo bingung sendiri. Ketika Aidil kembali merapatkan diri padanya, bahkan dengan sengaja menggerak-gerakkan pinggulnya, Orlando segera sadar kalau ia baru saja dikerjai pacarnya. Kenyataannya, Aidil masih betah berada di pangkuan Orlando.

I love you so much, Orly…”

I love you much moreMy Prince…”

Langit di atas sana semakin kelabu saat Orlando merebahkan diri di atas pasir, sedang Aidil bergelung manja di atasnya… Dedaunan kering, buih ombak, kulit-kulit kerang, burung-burung laut dan tak terhitung pasir memandang mereka iri.

September 2013

Aku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com