Riang Merapi Rainbow Version

Chapter 1 : Merbabu
Part 2.3 : Janji
Ori-written by : Divan Semesta
Covered by : Desem

MACAM-MACAM KEANEHAN dan kejadian gila yang dialaminya membuat Riang mengkait-kaitkan kejadian yang ia alami. Informasi bisa mengangkat orang biasa setinggi-tingginya! Jika pemberitaan membuatnya tenar, pastilah kemahaberanian, kemahaganasan gerombolan Kardi disebabkan obrolan penduduk yang terlalu berlebihan. Obrolan itu membuat mereka makin ditakuti, padahal ketakutan yang berawal dari diri sendiri membuat semua lemah terpecah. Jika obrolan dihentikan dan penduduk bersatu mungkin sejak dulu desa Thekelan akan menjadi aman. Pikiran Riang selalu jauh.

Bisikan Simbah yang membuat kantong kemihnya bocor, entah mengapa tak pernah mendatangi Riang kembali. Tetapi Riang tak meninggalkan ajakan “simbah” Ia terus menerus memikirkan maksud dan penyebab hadirnya bisikan tersebut. Ia tak menemukan jawabannya, hingga ibu menceritakan hal yang memaksanya untuk mengingat kembali.

Di atas kayu yang terbuat dari robohan pohon di dekat Pereng Putih, ibu membicarakan masa muda Simbah yang ia habiskan dalam pengembaraan. Beliau gemar mencari tempat menyepi, tempat bersemedi, kata ibu. Tapi simbah berbeda dengan temannya kebanyakan. Dia orangnya suka penasaran. Selalu ingin membuktikan apa yang diceritakan teman-temannya mengenai penampakan.

Teman-teman simbah sempat kesal, sebab setiap mereka menceritakan sebuah keanehan, simbah yang langsung mencari tempat itu selalu bilang bohong, bohong, bohong. Teman simbah tidak punya alat untuk menyangkal, tetapi ada waktunya ketika mereka pun bersorak dan berhuray manakala simbah bertemu Kanjeng Ratu Kidul setelah melakukan semadhi selama tujuh hari di Parang Tritis.

Sebelum bertemu Kanjeng Ratu Kidul, kata teman teman Simbah bangga, dari laut terdengar suara-suara gemerincing. Orang-orang berteiak Lampor! Suara kentungan dipukul keras-keras. Segala macam benda yang berbunyi ditabuh, agar mahkluk halus pengiring kereta kuda Kanjeng Ratu Kidul tidak merasuki badan.
Suasana sepi. Simbah tak peduli, ia melanjutkan semedi, tapi baru sebentar menutup mata, simbah merasa pahanya ditepuk. Ia membuka mata dan melihat wanita cantik datang menyerahkan kembennya. Waktu kembennya Simbah ambil, wanita cantik itu hilang! Begitu pula dengan kembennya.

Pertemuan seseorang dengan Kanjeng Ratu Kidul di mata teman-teman Simbah merupakan kejadian langka. Sangat-sangat langka. Mereka yang bertahun-tahun mendahului Simbah dalam melakukan semadhi pun, belum pernah bertemu Kanjeng Ratu Kidul. Meski pun ingin berjumpa dengan sosok yang diidam-idamkan, mereka tak pernah mendapatkan barang sekali, atau setengah kali, bahkan seperempat kali pun.

Pertemuan dengan Kanjeng Ratu Kidul akhirnya menjadi perantara antara simbah dengan seorang pemimpin paguyuban mistis ternama. Adik jadi simpatisan paguyuban kami saja, katanya. Simbah tidak tahu, dari mana, orang-orang paguyuban tahu ia pernah bertemu Kanjeng Kidul. Simbah tak begitu peduli. Ia melanjutkan semedhinya sendiri.

Tak tahu lah apa yang didapat dari semedhi Simbah selanjutnya namun teman-temannya berusaha menerka, menyangka-nyangka.

“Waktu kemarin dia baru dapat kembennya, bagaimana kalau dapat yang lainnya?” kata Mbah Jamus yang menyangka Simbah terkena sirep. Biar teman-teman Simbah lainnya hampir berpikiran sama, mereka berusaha mengusir jauh-jauh pikiran semacam itu.

“Husy!” kata mereka. “Ojo ngomong koyok ngunu.Ora ilo. Ngkuk ditekani! (Jangan ngomong kayak gitu. Pamali. Nanti didatangi)”
Teman yang lain yang suka ikut nimbrung tetapi tidak percaya kejadian macam begitu malah terangsang. “Kalau didatangi. ya tak ajak! hahahaaha”

“Ngajak nyapo?”

“Ngajak iku!”

“Iku opo!?”

Tentulah, bincang macam itu berlanjut ke hal-hal yang tak baik buat perkembangan psikologi anak yang kak Seto kembangkan. Sudahlah. Kekotoran pikiran semacam itu harus dihentikan. Simbah bersih. Jika pikirannya macam pikiran teman-temannya tentu Simbah akan mencari tempat semedhi yang penunggunya putri-putri cantik macam Nyi Rambut Kasih atau Banowati.
Tapi bukannya mengunjungi tempat puteri puteri cantik itu bersemayam, Simbah justru mengembara mencari Kanjeng Sunan Gunung Lawu yang konon kata orang-orang berwajah tampan rupawan gagah perwira. Sebersit pertanyaan janggal melayang di otak Riang yang sederhana. Tetapi tentunya Riang tidak berani bertanya pada ibu: apa simbah menyukai sesama lelaki???

Riang segera menepis pertanyaan janggal itu jauh-jauh. Jika Simbah memang menyukai lelaki tentu dia tidak akan menikah eyang puteri, dan tentunya tidak akan lahir Ibu dari rahim eyang puteri. Itu artinya tidak akan ada Riang merapi yang diharapkan ibu jam pitu wis ono.

Tetapi entah kenapa pikiran bahwa simbah menyukai kanjeng sunan gunung lawu tidak mau pergi begitu saja dari otak Riang. Dalam ingatan Riang, Simbah sering menceritakan tentang ksatria ksatria gagah nan rupawan. Dan salah satu yang paling sering dibicarakan Simbah adalah Sunan Gunung Lawu. Dan ketika Riang mencoba mengingata penggambaran Sunan Gunung Lawu yang diceritakan Simbah, yang tergambar dalam pikiran Riang justru sesosok lelaki berwajah tegas bersenyum menjerat.
“hheeeehhhhh……” Riang mendesah, berusaha mengusir bayang-bayang lelaki pendaki berhati puisi itu.

“Nyapo le??” tanya Ibu keheranan dengan tingkah anaknya yang akhir-akhir ini sering terlihat kosong. Ibu tak menampik kekhawatiran bahwa Riang dikuntit oleh salah satu penunggu Gunung Merbabu. Memang benarlah dugaan Ibu bahwa riang dikuntit oleh lelembut sejak mendaki Merbabu, tapi bukan lelembut penunggu Gunung Merbabu, tetapi lelembut pendaki Merbabu.

“Ndak papa Bu” Riang mencoba menenangkan Ibu sedang hatinya sendiri semakin risau dihantui bayang bayang lelaki berhati puisi itu. Ibu terdiam, masih memandang penuh rasa khawatir.

“Terus terus gimana Simbah Bu?” tanya Riang sok antusias untuk mengalihkan pembicaraan kembali ke topik Simbah. Bukannya meredakan kekhawatiran dihati ibunya, pertanyaan justru menyulut kekhawatiran baru di hati ibunya: Riang ingin mengikuti jejak Simbah di dunia persemedhian.

“Ibu ndak papa tho?” kini giliran Riang yang merasa khawatir setelah ibu sempat terbengong beberapa saat.

“Kamu ndak berniat mengembara mencari Sunan Gunung Lawu juga kan Yang?” tanya ibu cemas.

“Ya ndak tho Bu…” Jawab Riang terkekeh. Tapi memang tidak ada sebersit pun dalam hatinya untuk mencari Sunan Gunung Lawu.

“Riang cuma pengen lebih kenal Simbah saja Bu…” elaknya.

“Ya bagus lah kalau begitu. Ibu lebih senang kamu merantau ke Jogja menemui Mas Pepei daripada harus mengembara ndak jelas mencari Sunan Gunung Lawu.” Berrr….. hati Riang serasa disiram magma sekaligus air es mendengar ucapan ibu. Tubuhnya mendadak panas dingin. Tapi ibu tidak menyadarinya. Ibu meneruskan cerita.

“Setelah pencarian Sunan Gunung Lawu tak membuahkan hasil, Simbah memutuskan untuk berhenti dari pengembaraan dunia ghaib. Teman-teman Simbah banyak yang tak setuju. Mereka menganggap simbah memiliki bakat, mereka berusaha memalangi ketika simbah mulai mencoba menjalani hidupnya yang sehat. Tapi simbah sudah bertekad untuk berhenti. Selanjutnya Simbah mencari kerja di Kraton, mengabdi pada Sultan dan keluarga. Jadi tak ada salahnya jika kamu mengikuti jejak Simbah untuk merantau kembali ke Jogja. Sukur-sukur bila ada kesempatan mengabdi pada Sultan dan keluarga.” Ada sebersit kebanggan terpancar di mata Ibu ketika menceritakan tentang pengabdian pada Sultan dan keluarga.

“Sebabnya apa?” tanya Riang sewaktu ibu katakan beliau berhenti mengabdi pada Sultan.
Cerita ibu terus bergulir, setelah tiga tahun berkerja mengabdi pada Sultan, Simbah memutuskan untuk kembali ke Lereng Merapi. Ibu tidak tahu penyebabnya, tetapi beliau menyangka karena simbah jatuh cinta pada nenek Riang. Semua orang termasuk ibu hanya bisa berspekulasi. Yang tahu penyebabnya hanya Simbah dan Sultan.

Dan di kemudian hari, di kaki Merapi lahirlah ibu Riang meramaikan dunia Simbah. Setelah cukup dewasa ibu kemudian menikah, bercocok tanam dengan lelaki desa sebelah hingga menghasilkan tanaman yang dalam kelahirannya diharapkan jam tujuh sudah ada (jam pitu wes ono).

Semua manusia pastilah mengingat waktu yang merupakan pertanda bagi proses perubahan yang terjadi di dalam dirinya. Demkianlah dengan kelahiran yang menjadi penanda. Simbah menganggap kelahiran Riang sebagai sebuah perubahan drastis dalam hidupnya. Bukan saja ia makin sayang pada keluarga, bukan pula ia jadi sering bolak-balik ke Yogyakarta sekedar untuk membeli makanan dan pakaian buat cucunya. Sejak Riang lahir, Simbah menjadi semakin bijak.

Menurut penuturan teman-teman yang masih berharap simbah kembali ke dunia perghaiban, seorang lelaki berambut kriwil, seorang lelaki yang sering Simbah temui di Yogyakarta lah yang mempengaruhi cara pikirnya. Ibu lupa nama lelaki itu. Beliau memutar gelas, berharap putaran itu dapat mengembalikan ingatannya.

“Siapa Bu?” Riang terus memaksa.

“Sebentar…sebentar” Ibu berpikir keras. “Sebentar lagi dapat.”

“Siapa Bu?” Riang terus memaksa.

“Ibu ndak tau pasti.. Tapi eeeem haaa….” Ia seperti mengingatnya. “Emha emha siapa gitu. Ibu lupa Le…”

“Emha Bu?! Emha?! Emha siapa Bu? Emha Ainun Najib??!”

“Ya ndak pasti …belum tentu! Tapi sepertinya iya … sepertinya bukan, ah Ibu beneran lupa Le … Ibu tanya bapakmu dulu, barangkali bapakmu ingat.” Ibu berdiri, masuk ke dalam kamar menemui Bapak.

“Pak’e ….Pak’e! Yang dahulu meng-Islam-kan Simbah siapa?”

“Emha Ainun Nadjib!” Teriak Bapak agar Riang mendengarnya.

“Haaaaaaaaaaaaa!!” Riang melongo. “Emha Ainun Nadjib mengislamkan Simbah?” Kepala Riang jadi berat seberat-beratnya. Emha pernah mengislamkan Simbah? Lagi-lagi, suara itu mencor kepalanya.
R
i
a
n
g
K e m a r i
R
i
a
n
g
A y o
k e s i n i
R
i
a
n
g
A k u i n i
M
b
a
h
m
u
J a n g a n
T
a
k
u
T
A y o k e m a r i d a l a m p e l u k a n M b a h.
M a s u k
d a l a m
k e d a m a i a n.
R i a n g …
D a m a i
Riang!

“Kenapa melamun Nak?” Ibu menepuk paha Riang. Riang tergagap.

“Bagaimana kelanjutannya Bu?” Ia menjawab sekenanya.

“Bagaimana bagaimana? Setelah masuk Islam simbah mu ya jadi seperti orang Islam! Sering shalat. Puasa di bulan ramadhan!” Ibu melihat Riang. “Jangan melamun hei!”

Riang mengusap wajah, mengucek matanya.“Terus bagaimana lagi Bu?”

“Bagaimana, bagaimana?! Yang bagaimana itu kamu Nak!” Ibu suruh Riang ke kamar mandi.

“Kalau melamun bisa kesurupan!” Ia mengingatkan. Kekahwatiran kembali melanda hati ibu. Kesurupan penunggu Merbabu bukanlah hal yang asing di tengah penduduk Thekelan. Hal itu sudah beberapa kali terjadi. Sebagian korban kesurupan itu hilang entah ke mana. Penduduk Desa Thekelan memakluminya sebagai permintaan dari Penunggu Gunung Merbabu.

Setelah Riang cuci muka kesegaran memancar dari wajahnya. Ibu sedikit lebih tenang dan ibu melanjutkan cerita. Tapi tak lama,beberapa menit cerita bergulir ibu sesenggukan menahan tangis. Cerita ibu sampai di bab kepunahan keluarga besar mereka di Kali Boyong Lereng Merapi. Cerita berhenti. Ibu tak kuasa menahan tangis. Riang memeluk tubuhnya. Ia merasa tulang pundak ibu menusuk dadanya. Ibu semakin kurus.

Setelah tangisan reda, ibu melanjutkan cerita, menguak teka teki mengenai suara misterius yang dulu pernah memanggil manggilnya.

“Sukanya Simbah, sukanya simbah …” Ibu tertawa geli, “jilati kupingmu Nak setiap jam delapan pagi.” Tapi, Riang haramkan ikut-ikutan tertawa apalagi ketika mendapat informasi jika beliau suka membisik-bisikan sesuatu dikupingnya. Sesuatu seperti yang ia dengar di gerbang kuburan dan danau Merbabu.

Riang bergumul dengan pikirannya. Saat itu, tentunya ia tak mungkin berpikir tentang teori Freud mengenai alam bawah sadar. Ia tak mungkin menganalisa bisikan itu mengambang di permukaan kesadaran saat kondisi mentalnya sedang jatuh. Riang cuma berkata. “O, rupanya itu! Rupanya penyebabnya begitu!”

Apa yang ibu utarakan menjadi bahan perenungan baginya. Inilah yang membedakan Riang dengan teman-teman sebayanya. Inilah yang menyebabkan Riang acapkali terlihat bimbang dari segi keyakinan: bingung saat pikirkan alasan mengapa ia harus beragama.

Riang bimbang mendapati fakta. Untuk apa agama? Sementara, orang-orang yang melakukan kekacauan di dunia, adalah orang-orang yang menganut agama! Untuk apa agama, sementara, yang menumpahkan darah di dunia, yang berperilaku amoral adalah orang-orang yang mengaku memiliki agama!

Pemerkosa, pezinah, koruptor, maling sandal, pemalak, pembegal, nyaris semua kejahatan dilakukan oleh orang yang mengaku percaya kepada tuhan. Lantas untuk apa mereka menyembah tuhan jika mereka berbuat kejahatan pada sesama manusia? Apakah tuhan mereka yang menyruruh mereka berbuat seperti itu? Apakah tuhan yang menakdirkan mereka menjadi penjahat? Apakah juga tuhan yang menakdirkan dirinya untuk memiliki perasaan aneh setiap kali mengingat … lelaki pendaki berwajah tegas berhati puisi itu?

Riang gamang. Untuk apa agama? Untuk apa menyembah tuhan? Toh agama tidak bisa mengkontrol manusia! Dan ia terus menerus menghabiskan energi, mempertanyakan kenapa dirinya harus beragama? Harus melakukan ritual padahal tidak shalat, puasa, pergi ke gereja, melakukan misa, bersemedi atau ritual macam apa pun juga manusia bisa hidup. Ia masih bisa bernafas, masih bisa makan minum, dan masih bisa berhubungan baik dengan sesamanya, teman-temannya.

Perenungan-perenungan itu tidak bersumber dari buku-buku yang ajarkan epistemologi, tidak pula berdasar penelaahan hermeuneutika yang rumit dan kadang tak bisa digunakan. Perenungan itu disamaknya dari kehidupan sehari-hari di Yogyakarta dan mengendur ketika Riang menyelesaikan sekolahnya.

Sewaktu kedua orang itu datang, sewaktu Fidel dan Pepei datang, pertanyaan yang ada di kepalanya menghantui Riang kembali. Ia merasa harus mempertanyakan, harus merenungi semuanya. Ia merasa aneh, mengapa Fidel beragama? Mengapa dia meyakini agama –yang di negeri ini—pengikutnya paling banyak menempati penjara? Mengapa agama kakeknya serupa dengan agama yang dianut Fidel? Bagaimana dengan Pepei? Apakah dia beragama yang sama dengan Fidel dan Simbah? Kalau dia bergama mengapa lantas dia seolah tidak mempercayai Tuhan? Pikirannya kembali ditubruk bayang lelaki berwajah tegas bersenyum menjerat itu, lelaki pendaki berhati puisi.

“heeehhh…..” Riang kembali mendesah, menghela nafas berat mengusir bayang-bayang lelaki pendaki berhati puisi dari otaknya yang sederhana.

“Nyapo maneh to Le?” tanya Ibu.

“Ndak papa bu…”

“Yowis, ndang siram, wis surup…”

“Nggeeh bu…” Riang mengiyakan dan segera bergegas mandi. Dia berharap segarnya air akan membantu menyegarkan pikirannya yang kusut. Pengembaraan Simbah, pendakian Merbabu, bisikan Simbah, perbicangannya dengan Fidel, bayang bayang sosok Pepei, ajakan simbah, puisi-puisi Pepei, keislaman Simbah. Semua bercampur menjadi satu, bergemuruh laksana guntur yang digantung diatas mendung.

Dan nyatanya air Desa Thekelan yang segar itu tak mampu menyegarkan pikirannya. Terlalu banyak yang ia pikirkan,terlalu banyak pula yang ia tanyakan. Sementara tidak ada teman untuk sekedara bercerita dan bertanya jawan.. Mengapa Riang tidak membicarakan hal ini dengan orang tuanya? Apakah Riang merendahkan mereka. Tentu tidak, Riang hormat, meninggikan ke dua orang tua di atas segalanya. Ia sangat mencintai mereka. Cintanya bahkan bisa dikatakan seperti orang-orang norak kekurangan sumber bacaan yang kemudian mengatakan pada kekasihnya, “Cintaku sedalam samudera.” Atau cinta kita melebihi tingginya langit.” Lebih kreatif jika mengatakan cintaku setinggi pohon mahoni, cintaku hingga Astana Giri Bangun, maksudnya hingga dikubur masih cinta, atau cinta kita sedalam dompet seperti tulisan yang tertera di bak truk menuju Blora.

Akan tetapi, sesuatu yang norak adakalanya benar. Cinta Riang pada orang tua, begitulah kenyataannya. Meski dia mencintai mereka, dalam masalah tertentu seseorang tidak mungkin berbagi. Di keluarganya Riang tidak terbiasa membicarakan hal-hal yang bisa mengeluarkan keringat darah dan munculkan bintang-bintang di kening. Riang memilih menyimpan pertanyaan dan perenungan di kepalanya sendiri. Riang memilih menyimpan rapat-rapat perasaan ganjilnya sendiri.

Usai mandi, Riang keluar mencari udara segar. Ia merokok, memandangi dinding Merbabu yang berkilat seakan dipernis. Di halaman itu Riang serasa dibisiki.Mengapa tidak kudatangi Emha, sekalian datangi Pepei saja? Ah Pepei, sedang apa kiranya lelaki berwajah tegas bersenyum menjerat itu? Apakah dia sama gelisahnya dengan Riang? Apakah dia juga sama sedang memikirkan Riang? Wajah riang kembali tersiram bara, dan dadanya kembali bergemuruh seperti guntur yang meggantung di gelapnya mendung.

Masuk ke dalam kamar ia menghitung uang yang di simpannya di kaleng biskuit Marie. Jumlahnya yang beberapa puluh ribu cukup untuk membiayai hidupnya selama seminggu. Malam hari, setelah orang tuanya memberi izin, Riang mengemas baju. Bapak memberi Riang uang panen yang tersisa. Total uang yang ada di dompetnya ternyata cukup banyak. Cukup untuk berpetualang menuju Ibukota Kesultanan Mataram, Ngayogyakarta Hadiningrat. Cukup untuk mencari Emha guna mencairkan kepenasarannya atas bisikan dan ajakan Simbah, dan tentunya cukup untuk menebus janjinya untuk mengunjungi lelaki pendaki berwajah tegas berhati puisi yang membisikkan kata: aku menunggumu.
Riang terjerat sebuah janji.