Riang Merapi Rainbow Version

Chapter 2 : Yogyakarta
Part 2.2 : Mitos
Ori-written by : Divan Semesta
Covered by : Desem

Sejak Fidel dan Pepei meninggalkan Thekelan etos kerja penduduk desa meningkat. Keberanian membuat aura desa benderang, akibatnya banyak yang berubah. Thekelan yang semula sepi menjadi ramai. Wartawan radio dan surat kabar Yogyakarta, berbondong datang meminta penjelasan rinci perihal perubahan itu. Mereka mencoba menggali peristiwa perkelahian yang terjadi di gerbang kuburan juga di danau Merbabu.

Tentu dengan berprinsip bad news is good news, dari sekian banyak informasi yang diberitakan, tentu ada salah satu yang menyimpang dari kebiasaan. Wartawan yang seharusnya menerakan fakta di dalam surat kabarnya malah memuat head line “Seorang Penduduk Thekelan Menemukan Ikan Purba.” Head line surat kabar lokal itu menampilkan kerangka ikan.

Seingat Riang, tulang ikan danau Merbabu yang ibu masak untuk syukuran dibuangnya di bak sampah. Riang tidak tahu keesokan harinya wartawan yang mewawancarainya meminta Oerip mengubek tempat sampah. Tulang ikan yang Oerip dapatkan itu lah yang dicetak surat kabar sebagai penguat judul headline. Riang Merapi, bukan saja menemukan ikan purba. Riang Merapi berhasil menemukan danau gaib, danau misteri dengan kekuatan supranaturalnya. Ia memiliki ilmu suci, ilmu alam akhirat guna menerawang objek kasat mata.

Pemberitaan bombastis tersebut menggembol imbas psikologis yang tak disangka. Thekelan mendadak diluberi ratusan peziarah dan paranormal dari ujung barat hingga ujung timur pulau Jawa. Penjual mie pangsit, es campur, air keramat, pakaian, mainan anak dan batu akik, tumplek di sana, di sekitar rumah Riang. Akibatnya banyak peristiwa membuat Riang kerepotan. Pemilik warung yang dulu Pepei mintai seplastik air panas untuk redakan gatal datang memintanya meridloi penjualan plastik berisi air berkah di halaman depan rumahnya. Riang mempersilahkan tetapi tentu saja tidak di halaman depan rumahnya yang sesak.

Seperti halnya entrepreneur kawakan, pemilik warung tak patah arang mendapat penolakan. Ia berusaha, datang saban minggu terus menerus membawa sebungkus rokok, kopi sebagai sesaji agar Riang bukan saja meridloi tetapi merestui. Pucuk dicinta ulam pun tiba, setelah lima kali bolak balik Riang tetap bersikukuh. Lelaki itu harus merelakan diri menjual air plastik bermerek Air Keramat Danau Merbabu di depan Wihara.

Usaha pencarian danau keramat terus menerus di lakukan. Bersamaan dengannya mitos baru muncul. Di dasar danau Merbabu bersemayam azimat Majapahit yang akan membangkitkan kharisma menyerupai kharisma presiden dan wakil presiden NKRI yang utama: Soekarno – Hatta.

Azimat akan mengucurkan karomah gamelan yang bernama Kyai Pinurbo Joko hanya untuk penemunya seorang! Azimat adalah khadam pengganti doberman: tak akan ada lagi wadam yang mengganggu kenyamanan hidup dengan bas betotnya. Tak ada lagi penjaja serbuk abate! Tak ada lagi godaan duda dan baby sitter nakal yang tidurkan anak majikan dengan ctm! Sirna sudah semua bala dan marabahaya! Hidup keharmonisan keluarga!

Penjual batu akik pun mendompleng berkata-kata, berkhutbah di atas bukit, ajarkan moralitas terkutuk. Ini bukan khurafat! Batu akik dilirik! Ini sejalan dengan ajaran sunan Kali Jaga! Batu akik dibeli! Ini serpihan sisa batu hitam hajar aswad! Batu akik laris mensugesti peziarah hingga ke alam akhirat. Batu akik adalah radar, lampaui endusan terwelu dan musang! Adalah penuntun yang mempermalukan GPRS! Inilah batu yang akan menuntun kalian wahai saudara! Wahai umat! Duhai pengikut arwah Nyai Blorong dan bung-bung penganut ajaran setia Murba Tan Malaka!

Sampai berbusa-busa, sepercaya apa pun orang terhadap tuah, tak seorang pun berhasil menemukan azimat. Penjual batu akik yang ahli memanipulasi psikologi masa akhirnya ditimpa sial. Dari arah Merbabu, seorang bapak bercelana sontog turun bersemangat. Ia yang membeli batu akik berkali kali, tanpa cang tanpa cing dan cong langsung melayangkan jotosan yang membuat ketupat di dalam perut remek. Penjual batu akik kelenger, pingsan setelah mental setengah meter. Ia segera di larikan menuju klinik pengobatan terdekat. Penjual batu akik yang naas hilang, namun busa busa dan kecapnya masih bisa Riang rasakan.

Satu minggu kemudian sebuah mercedes benz hijau metalik berhenti tepat di depan halaman rumah. Seorang lelaki tegap keluar dari pintu depan, tergopoh-gopoh keluar, menuntun seorang ibu turun dari pintu belakang. Wangi parfum si ibu tercium hingga kediaman Sultan Hamengkubuwono.

“Rumah Mas Riang Merapi dimana?” Tanya lelaki tegap.

“Di atas Pak.” Kata seorang penjual nangka sambil menunjuk menggunakan ibu jarinya. Mengetahui ada yang mencarinya, Riang bergegas masuk ke dalam. Beberapa detik kemudian suara dehem merayap di ruangan tengah.

“Ehem! Pemisi … kulonuwon!”

“Monggo.” Riang melihat wanita setengah baya melihat-lihat keadaan.

“Benar, ini rumahnya Mas Riang Merapi?” Tanya lelaki itu tersenyum melihat cecak di atap rumah.

“Bukan! Di sini bukan rumahnya Riang Merapi!”

“O, saya sangka…” lelaki itu membetulkan kerah jas. “Maaf kalau begitu.” Ia berbalik namun sang ibu gerakan kepala memberi kode.

“Adik kenal Mas Riang Merapi?” Sang ajudan menghadap Riang kembali.

“Kenal.”

“Rumah beliau dimana ya?”

“Ya disini.” Riang geli dipanggil beliau.

“Kalau di desa ini, tentu tahu, tapi kediaman pasnya beliau saya ndak tahu. Adik bisa tunjukkan rumah beliau?” tanya sang ajudan sopan.

“Ya di sini!”

“Di sini di mana?” Si ibu hilang kesabaran.

“Ya di sini! Saya Riang Merapi.”

“Oladalah ini Mas Riang?” Sang ajudan terkejut. “Lagi berkunjung ke rumah teman?” Tanyanya.

“Ini rumah orang tua, saya belum punya rumah.” Jawab Riang.

Sang ibu melepas kacamata hitam, mengeluarkan tangan kanan menggenggam tangan Riang erat. Riang mengajak mereka masuk ke dalam rumah. Si ibu menolaknya. Ia datang hanya ingin memastikan karena tak memiliki waktu panjang. Tapi hukum evolusi mana pun selalu mengatakan, orang yang membutuhkan akan tunduk pada yang dibutuhkan. Sang ibu bersama ajudan masuk ke dalam ruang tamu. Setelah berbasa-basi sedikit Riang langsung menuju pokok permasalahan.

“Ada apa perlu apa, sampai Ibu jauh-jauh datang ke sini?”

“Begini …” Si ibu membuat jeda. “Sebelum langsung ke tujuannya saya harus bertanya dahulu.” Riang membuka telapak tangannya.

“Benar, Mas Riang pernah sampai di danau keramat Merbabu?”

“Bukan saja aku! Dua orang teman ku ikut serta!” Jawab Riang nakal.

“Langsung dengan mata kepala sendiri?!” Ibu itu memastikan.

“Bukan hanya dengan mata, mancing ikan! Saya mancing ikan Bu!” Riang terkekeh seperti kakek-kakek.

“Bagaimana gambaran danaunya?” Maka diceritakanlah detail keadaan danaunya. Usai selesai menceritakan, mendadak sang Ibu menjentikkan jari. “Ctak!” Bunyinya nyaring sekali.

“Tepat seperti yang dikatakan paranormal Jaka Edan” Katanya bergairah.

“Memang apa katanya?” Riang penasaran.

“Beliau bilang di dasar lumpur danau Merbabu tersimpan azimat Majapahit…” bla, bla bla” secara tidak langsung sang ibu menyampaikan keinginannya untuk membantu suaminya mendapat azimat tersebut guna membantu promosi kenaikan jabatan suaminya. Mendengar itu Riang tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

“Uedaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!” teriak dia.

Wajah ibu pejabat berubah. Ia mengira Riang menghina diri dan suaminya. Riang faham, salah sangka dapat berakibat buruk padanya. Ia memutar cara menghilangkan kesalahpahaman.

“Apa kulit Jaka Edan berwarna coklat Bu?” Wanita itu tidak tahu arah pertanyaan Riang, tetapi ia menjawab, “Benar!”

“Sudah berapa kali Jaka Edan datangi rumah Ibu?”

“Sekitar tiga kali ya?” Wanita itu menelengkan mata pada sang ajudan meminta konfirmasi sang ajudan.

“Lebih dari itu…” Sang ajudan mengkoreksi. “Kalo ndak salah lebih dari lima kali.”

“Apa selama datang ke sana Mbah Jaka Edan mengenakan blangkon hitam?”

“Ya!” jawab si Ibu.

“Selalu hitam?”

“Cermat!”

“Apa janggutnya dilinting? Pakai baju orang yang sering ke masjid?”

“Baju koko maksudnya?”

“Tidak tahu! Pokoknya warna hitam. Baju yang sering dipake ke masjid?”

“Tepat!”

“Apa cengkoknya seperti logat orang Tegal?”

“Pas!” Sang Ibu sumringah.

“Walah gawat!” Wajah sang Ibu mulai di warnai kekhawatiran.

“Bagaimana bisa gawat?!”

“Kalau memang Jaka Edan ciri-cirinya begitu! Berarti… berarti …”

“Berarti apa!?” Si ibu mendesak.

“Berarti Ibu kena tepu! Ibu ditepuuu!” Riang menahan tawa. “Jaka Edan itu pedagang batu akik!” Si ibu stress mendengarnya, apalagi ketika Jaka Edan dipukuli. Wajah si Ibu merah. Kata-kata kasar tumpah dari mulutnya.

”Ealah. Wueddan! Wewe gombel! Nasi goreng basi! Jus tai kuda! Meses tai cicak! Uaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah kiamat! Kiamat aku!” Mendengar makian-makian aneh yang seumur hidup baru ditemuinya Riang tak bisa menahan tawa. Mati-matian ia berusaha menghentikan. Ia butuh pengalihan.

“Memang kenapa Bu?” Riang bertanya.

“Uangku ludes buat beli batu akik!” keringat dingin si Ibu bercucuran. Dan kata-kata makian yang lebih aneh dari semburan yang pertama keluar. “Mas Riang punya kedigjayaan?” Tanya si Ibu sebelum pingsan. Riang kebingungan. Apa maksudnya?

“Mas punya keahlian? Atau mungkin punya benda yang mumpuni menambah kharisma? Tolong suami saya … tolong” Ibu itu mengemis.

Riang tidak mau berbohong. “Tidak Bu! Aku bukan paranormal seperti … seperti … seperti … JAKA EDAN!” Jaka Edan adalah supersonik! Nama itu membuat telinga si Ibu menggelegar. Ia tak kuat menahannya. Sang Ibu pingsan selama satu jam. Bangunnya ia menangis, bertaubat, menyesali amblasnya uang duapuluh juta untuk membeli batu akik, bukan! Bukan hanya batu akik! Tapi batu akik super tuah milik murid terbaik Sunan Bonang.

Mendengarnya, Riang malah dungu bertanya. “Bu … kalau boleh tahu … murid Sunan Bonang itu siapa?”

Si ibu gelengkan kepala. Dan ia pun pingsan untuk yang kedua kalinya selama tiga puluh menit. Lelaki sopan yang menjadi ajudannya merasa tidak enak, ia tidak mau merepotkan. Diangkatnya tubuh sang majikan.

Di halaman depan rumah Riang, tiba-tiba sang ajudan mengingat masa-masa ketika ia masih menjadi buruh angkut pelabuhan. Ia mengingat bagaimana sulitnya mengangkut karung beras merah di punggungnya. Riang salut. Jaka Edan istiqomah dengah profesi yang dijalankannya. Heibat!

Di tengah kepopuleran yang serba mendadak, ada sesuatu yang terasa hilang dalam Riang. Riang merasa hampa, tatapan matanya kosong melompong. Sebentuk wajah tegas dengan pandangan menjerat menghiasi lapisan luar otak besarnya. Dan sebait puisi gila pun bergemuruh di membran timpaninya. Riang merindukan sesosok lelaki yang mampu menjungkirbalikkan jagat semesta dalam dirinya. Riang merindukan Pepei sang lelaki penghidup mitos cintanya.