• Riang Merapi Rainbow Version

    Chapter 2 : Yogyakarta

    Part : 2.1 Nurani

    Ori-written by : Divan Semesta

    Covered by : Desem

    Kardi marah atas kejadian di gerbang kuburan. Lima anak buahnya habis, tinggal sembilan yang tersisa. Saat mengetahui kabar penyisiran yang dilakukan penduduk desa dan aparat kepolisian, ia mangkel. Di dalam batok kepalanya yang keras terukir jelas wajah 3 orang lelaki bangsat yang meluluh-lantakkan gerombolannya. Satu orang bocah Desa Thekelan dan dua orang pendaki asing. Tak ada hasrat lain baginya selain menghabisi tiga orang itu. Baginya tiga orang itu sudah melakukan kekurangajaran yang maha kurang ajar. Mereka telah menghancurkan harga dirinya berpuing-puing.

    “Apa kita ini kutu sampai harus di sisir koaaaak cuh…!” Kardi meludah lalu menendang baskom dihadapannya. Baskom yang malang itu retak ditendang, retak pada hantaman ke dua dan ambrol sepenuhnya pada hantaman ke lima. Busa cucian terbang, airnya tumpah. Kardi tak mempedulikan. Ia pilin planel dan celana jeansnya yang kotor oleh tanah. Air mengucur. Dalam bayangannya planel dan celana jeans itu tangan si bocah Thekelan dan air itu darahnya. Beberapa kali dia menggebukkan planel dan jeansnya ke batu cucian. Tentunya dengan membayangkan meremukkan tiga lelaki yang dibencinya sampai ke sel-sel darahnya.

    Puas dengan imaji liarnya, ia menjemur planel dan jeansnya di bentangan tali rapia. Setelah cuciannya di keringkan oleh angin, Kardi bersama sembilan orang anak buahnya yang tersisa mengungsi dari pegunungan. Di batas akhir hutan, mereka memutuskan berpencar.

    Kini tinggal mereka berdua, Kardi dan asisten, tangan kanan sekaligus gendak pelampiasan nafsu tatkala tak uang untuk ngelonte. Mereka menunggu malam untuk sampai di perkampungan, mengendap-endap menuju jalan raya lalu menghentikan truk masuk ke dalam bak kayu dan meluncur menuju habitatnya semula di Yogyakarta.

    Di Yogyakarta, untuk beberapa saat Kardi dan asistennya si lelaki brewok menghindari pasar tempat mereka dulu mencari nafkah. Kedua orang ini cukup cerdas. Mereka mengira aparat kepolisian masih akan melakukan pencarian di tempat-tempat yang mereka pernah singgahi.

    Kedua orang itu pun bersembunyi dari satu kontrakan ke kontrakan teman teman lainnya yang satu aliran. Mereka baru melakukan aktivitas seperti biasa setelah pemberitaan media massa reda. Keduanya menuju pasar, menumpang bersama preman yang Kardi kenal semasa SMA. Mereka melakukan aktivitas menjemukan yang dulu pernah dilakukan: menarik uang parkir sepeda motor, pajak keamanan yang sudah dilakukan belasan tahun oleh preman sebelumnya.

    Lantas siapakah lelaki brewok yang selalu setia mendampingi Kardi? Siapakah dia yang seolah-olah berprofesi sebagai asistennya seandainya Kardi adalah direktur PT. Gunung Harta yang bergerak dalam usaha minyak curah?

    Dialah Sekarmadji, seorang yang bertampang seram, kejam, tetapi sesungguhnya hatinya tak sekeras intan. Jauh di dalam lubuk hatinya, ada kelembutan dan kehangatan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Baginya kelembutan dan kehangatan hanyalah kelemahan yang membawanya pada kehancuran. Baginya pula hanya kekerasan dan kekejaman yang mampu menyelesaikan semua masalah di dunia yang kian hari kian jauh beranjak gila.

    Di hari ke dua ketika penyisiran berlangsung, Sekarmadji menemukan tas coklat yang dipungutnya saat peristiwa perkelahian di gerbang kuburan Desa Thekelan. Tas yang sejatinya hak milik salah seorang dari dua pendaki itu kini menggantung di antara dahan pintu kamar kontrakan teman yang mereka inapi. Selama pelarian tak sempat ia membuka tas cokelat itu. Pikirannya hanya terpusat pada aparat dan penduduk desa yang berbondong-bondong menyisir gerombolan mereka. Setelah suasana sudah meredah kini pikirannya terbuka kembali pada satu-satunya barang yang berhasil ia ambil dari calon mangsanya yang justru berubah memangsa dan mengobrak abrik gerombolan mereka.

    Diambilnya tas cokelat itu lalu dibukanya. Tak ada sesuatu pun yang berharga secara materi di tas cokelat kulit itu. Hanya selembar uang lima puluh ribuan dan beberepa lembar uang ribuan. Selebihnya hanya sebuah ballpen Standart warna hitam dan sebuah buku catatan. Dompet kulit itu sendiri sudah bulukan, kalau toh laku dijual, tak akan ada yang mau menawar lebih dari lima belas ribu. Tapi entah apa yang membuat hati Sekarmadji tertarik dan tergerak untuk membuka buku catatan salah seorang lelaki pendaki itu. Ia segera keluar kamar kontrakan lalu duduk di bawah Pohon Nangka di samping kontrakan. Ia bersandar di batang pohonnya, perlahan ia membaca buku catatan itu lembar demi lembar. Dan lembar demi lembar Buku itu menyedot kesadarannya dan menenggelamkannya pada masa lalunya. Sekarmadji linglung. Hati dan kepalanya menjadi berat.

    Sejatinya bagi kebanyakan manusia catatan itu tak ada istimewahnya. Hanya berisi jurnal perjalanan, peta tempat-tempat menarik, disertai beberapa puisi yang agak ganjil.

    Manusia. …oh…. Manusia // Bagaimana seandainya jika kau tidak ada? // Kalau manusia tidak ada, mengapa kita ada? // O, mengapa kita harus ada!” “O, seandainya tuhan ada // mengapa Tuhan tak memberi tahu tujuan penciptaan manusia dan semesta? O, siapa yang mengetahui tujuan keberadaan kita? // Manusia manakah yang mengetahuinya? // Pendetakah? // Filosofkan? // Ilmuwankah? // Petapakah? // O, haruskan hidupku terombang-ambing seperti ini? // O’ haruskan Tuhan ada?” Jika Ia ada, lantas di manakah Ia berada? Duhai Tuhann… mengapa kau ciptakan manusia jika pada akhirnya hanya menderita dan menunggu mati? // Manusia // binatang dan tumbuhan …// hanya tinggal menunggu waktu, // menanti tanggal yang pasti O’, lantas apa yang akan kita hadapi setelah kematian?”

    Aneh sebersit perasaan berkecambah, tumbuh dengan sendirinya lalu menjalari nuraninya. Tanpa sadar Sekarmadji menitikkan sebutir air asin di sudut indera penglihatannya. Dan tanpa sadar pula lembar demi lembar catatan perjalanan salah seorang lelaki pendaki menyeeretnya ke masa lalunya.

    Di masa lalu sesungguhnya Sekarmadji bukanlah orang yang tak beradab. Di kota kecilnya dulu ia pernah mengalami hidup berkecukupan. Awal kejatuhan kenyamanan hidupya berawal dari komplikasi penyakit yang diderita bapaknya. Dan komplikasi itu berpangkal dari sebentuk nama yang tersemat pada seorang lelaki: Othang.

    Sekarmadji masih mengingat bentuk lelaki itu baik-baik. Masih tergambar jelas di benaknya, sisiran rambut Othang yang klimis. Ia masih mengingat bagaimana lelaki itu memilin-milin janggut khas orang-orang shalih dan menggunakan atraksi berbahasa yang santun untuk mengajak bapaknya bisnis lobster serta madu dari hutan di pinggiran pantai selatan. Teringat pula bagaimana dia terjerat perasaan sejenis kagum pada pemuda alim nan santun itu. Ya dialah Othang sang ketua Karang Taruna yang dikagumi dan diidolakan banyak pemuda di desanya, terlebih lebih para pemudi. Tak ada satu pun yang tak mengharap menjadi pendamping hidupnya.

    “Kenapa tidak mencoba pinjam uang di bank?” tanya Bapaknya, ketika Othang ajukan proposal peminjaman uang. Othang tersenyum bijak atas pertanyaan itu. Ia lantas menjelaskan perbedaan antara riba dengan sistem sirkah mudarabah, yakni sistem bagi hasil yang tidak libatkan rente di dalam pengerjaannya.

    Bapak Sekarmadji yang sebetulnya memahami keharaman riba, tertawa. Ia percaya dengan Othang, sebab bukan satu kali dua kali ia melihat pemuda itu shalat berjamaah di masjid desanya. Perilaku Othang ia anggap sebagai jaminan mutu. Seandainya Sekarmadji terlahir sebagai anak perempuan, tentu tak segan bapaknya akan meminta Othang menjadi menantu. Sayangnya harapan itu tak pernah kesampaian karena faktanya Sekarmadji terlahir sebagai lelaki. Adik-adik Sekarmadji pun tak ada yang terlahir sebagai perempuan. Apalah boleh buat, bapak Sekarmadji hanya bisa menelan takdir bahwa ia tak memiliki anak perempuan sama sekali meski tanpa sadar terkadang ia mengharap Sekarmadji menjadi perempuan.

    Karena kepercayaan pada pemuda alim nan santun itu, bapak Sekarmadji tak segan-segan mencairkan dana pensiun yang ia punya. Namun sayang disayang tak ada angin tak ada hujan, beberapa hari setelah uang pinjaman di berikan, Othang diketahui raib pada hari Jumat Legi! Ia yang ibadahnya diketahui jagoan terkabar sedang memperdalam ilmu dengan masuk ke dalam gua menuju dan shalat Masjidil Haram di Makkah.

    Bapak Sekarmadji tidak mempercayai kemampuan seperti macam wali seperti itu. Ia mulai berpikir pemuda yang sudah ia beri kepercayaan dengan derajat kepercayaan seratus persen itu meruntuhkan kepercayaannya. Bapak Sekarmadji depresi. Baginya Othang tak lebih dari orang-orang kebanyakan yang lidahnya ringan dipergunakan untuk urusan kibul mengkibul atas nama Allah, demi Allah’. Bapak Sekarmadji termakan prasangka dari daalm.

    Sesungguhnya Othang tak seperti yang dibayangkan orang-orang. Raibnya Othang dikarenakan ketentuan yang berasal dari luar kekuasaan dia. Othang tidak disembunyikan jin untuk di sunat. Othang tidak terkait dengan mistisme timur macam itu. Jika dirunut, cerita hilangnya Othang berawal saat dia melakukan survei sarang lebah kayu di dalam hutan pinggiran pantai selatan. Saat menemukan sebuah sarang lebah yang gemuk, ponakan dia yang setengah waras setengah dungu, melempar sarang lebah kayu itu. Otomatis lebah marah. Mereka mengejar ke dua orang itu. Kejadian yang seharusnya dipandang horror menjadi sesuatu yang menggembirakan bagi ponakan Othang. Sambil lari ia tertawa, sementara di sampingnya adrenalin Othang melonjak membuat larinya menjadi semakin cepat. Ia lari, terus lari menyelamatkan diri, tak sadar jika di hadapannya terdapat jurang limapuluh meter.

    Othang terjun bebas. Di udara ia berusaha membuat gerakan agar ketika jatuh posisi tubuhnya vertikal menembus permukaan laut. Namun lelaki malang itu tak sempat melakukannya. Othang mendarat keras di permukaan laut. Ia merasa tubuhnya dihantam dinding raksasa. Othang pingsan dan tenggelam.

    Di atas jurang, ponakan Othang di hadapkan pada dua pilihan: menolong pamannya atau berlari memutar. Si idiot masih memiliki tanggung jawab. Ia loncat dari ketinggian, masuk ke dalam laut dengan posisi sempurna. Saat tubuh pamannya ia dapatkan, ponakan Othang tak mampu mengangkat. Nafasnya sesak. Pada akhirnya dua orang itu menjadi teman-teman cumi dan ikan kakap. Jasad mereka terseret arus liar bawah laut, masuk ke dalam gua dan mendekam hilang untuk selamanya.

    Peristiwa macam ini memang sangat sulit dipercaya, tetapi adakalanya dalam satu tahun kita membaca atau mendengar sebuah peristiwa yang sama sekali tidak pernah terpikir akan menimpa manusia: di Jakarta seorang seorang ibu melahirkan di bawah pohon yang tumbuh di kompleks rumah sakit bersalin; di negeri gajah putih, seorang pilot diskors karena sempat-sempatnya menurunkan helikopter dalam latihan tempur hanya untuk mencari jamur yang di pesan ibunya; ada lagi kumpulan warga Kamboja yang memakan mayat temantemannya karena cadangan makanan di perahu pengungsian habis. Atau peristiwa pembakaran diri Yan Pallach seorang mahasiswa Praha yang menjadikan dirinya sebagai obor peringatan bagi tentara beruang dari Rusia. Di hadapan peristiwa yang benar-benar terjadi itu apa yang terjadi pada Othang dan ponakannya tampak kecil. Bapak Sekarmadji tidak tahu musibah tersebut, karenanya cukup manusiawi jika buruk sangka membuatnya depresi, membuatnya digerogoti penyakit lamanya. Bapak yang semula bugar dan sehat menjadi kurus. Sisa uang pensiunan dan tabungannya amblas terkuras membiayai perawatan di rumah sakit. Ia berbaring tanpa daya di tempat tidurnya dan tanggung jawab pun beralih pada anaknya yang tertua: Sekarmadji.

    Seperti sinetron rumah produksi Raam Punjabi yang gampang di tebak alurnya, bantuan entah dari keluarga atau tetangganya yang berkecukupan tidak juga datang. Tidak ada yang bisa atau lebih tepatnya tidak ada yang mau membantunya membuat Sekarmadji patah arang. Dengan teramat sederhana, kebencian mulai tubuh di hatinya. Ia memutuskan pergi dari desa kelahirannya, merantau dari satu kota ke kota lain untuk mendapatkan sepeser uang demi bapak dan keluarganya. Tingkat pendidikan Sekarmadji yang di zaman ini sulit digunakan membuatnya putus asa. Hingga Kardi memungutnya dari jalanan dan menawarinya bergabung dengan gengnya. Sekarmadji yang dilanda keputusasaan tak bertepi memutuskan bergabung dengan Kardi. Baginya bergabung dengan Kardi adalah satu-satunya kesempatan, satu-satunya peluang agar ia bisa meraup sejumput uang pengobatan bapak dan kebutuhan keluarganya. Ia lupa Tuhan yang pernah ia sembah tak pernah tidur, tak pernah menelantarkannya. Sayangnya dia sudah buntu, sudah mentok dan akhirnya melupakan dan meniadakan Sesembahannya. Baginya Tuhan hanyalah mitos orang bertampang alim untuk membodohi dan menipu orang lain. Othang salah satunya.

    Seiring dengan berjalannya waktu, Sekarmadji semakin dekat dengan Kardi. Bermodal kemampuan berkelahinya yang cukup lincah, karir Sekarmadji di dunia hitam semakin melejit. Bermula dari jongos dan tukang pukul rendahan, ia merangkak naik menjadi tangan kanan dan kepercayaan Kardi sang ketua gerombolan. Dan semakin dekat ia dengan Kardi, semakin dangkal pula nuraninya tertutupi sedimen kebejatan dan kemaksiatan yang makin menggunung. Dan di malam pertama Kardi memboyong gerombolannya hijrah ke Merbabu menjadi begal gunung, Sekarmadji resmi menjadi gendak pemuas nafsu purba Kardi. Kardi mencumbu tubuhnya.

    Lantas siapa sejatinya Kardi? Tak banyak yang diketahui Sekarmadji tentang lelaki yang kini menjadi “suami”nya itu. Andai pun dia mendapatkan informasi tentang “suami”nya, tak lebih dan tak kurang hanya berita-berita tentang kemashuran kejahatannya. Dan ia hanya menutup mata dan telinga. Baginya Kardi adalah sahabat terbaik, bos terhebat, “suami” terperkasa dan teromantis, tak ada cacat di matanya tentang Kardi. Baginya, Kardi adalah Zeus yang mengangkat dan menjadikannya Aquarius.

    Sebersit masa lalu pernah Kardi kisahkan sesaat setelah ia melepas gejolak purbanya ke tubuh Sekarmadji yang berkulit kuning langsat layaknya pemuda Sunda lainnya. Usai mencumbu bibir Sekarmadji yang semerah bibir perawan, Kardi memulai kisah masa lalunya, tentang siapa dia.

    Sejatinya musuh nomor satu masyarakat Thekelan itu anak Samsu, seorang ustad tua yang di masa mudanya gemar membantu apa saja: membetulkan genting mbok Sumi oke, menggebah ayam mbah Karjo yang rabun tidak mengapa, mengajar ngaji, masya Allah … tak perlu meminta imbalan karena memang itu sudah hobinya.

    Lantas, apa yang salah dengan Sang Ustadz hingga memiliki anak begajul macam Kardi? Tidak ada yang salah dengan kehidupan masa muda sang ustad, kecuali keinginannya menikahi Marmi seorang perempuan dipanggil Marmut –sejenis tikus tetapi bukan tikus–, sebagai panggilan kesayangan mantan pacarnya yang tewas dipukuli masa di atas motor RX King yang ia coba begal.

    Seperti pernikahan pernikahan lainnya, pernikahan antara Samsu dan Marmut diawali dengan masa masa yang bahagia. Sang Ustadz mencari nafkah, sang istri mengurus rumah tangga. Namun sayang disayang, semakin lama, masamasa yang asoy – itu semakin menjauh, dan semakin tampaklah tabiat Marmut yang sejati.

    Wanita cantik macam si cantik Marmut memang seperti mobil mewah yang membutuhkan pelumas super produksi dari perusahaan trans nasional, membutuhkan bensin sekelas pertamax; belum lagi asuransi bodi dan cat dempul. Marmi alias Marmut meminta banyak barang yang tak jarang masih sangat jauh di luar jangkauan Sang Ustadz. Dipikir-pikir oleh Ustadz Samsu keadaan seperti ini harus dibendung. Kondisi semacam ini berbahaya: bisa membuat celaka dunia akhirat. Dan ayat-ayat serta hadist pun Samsu keluarkan menjelang malam usai bikin peluh.

    Anehnya, semenjak ayat-ayat dikeluarkan permintaan barang bukannya mereda. Dan ketika tuntutan tuntutan Marmot bertambah banyak dan kebanyakannya tidak masuk akal, Samsu mulai menimbang untuk menjatuhkan adzab: Marmut harus ditalak. Tetapi, hingga sampai saat ini Marmut tak pernah ia ceraikan. Hati Samsu tak sampai. Perceraian merupakan salah satu perbuatan yang paling dibenci Tuhan. Samsu mengetahui itu, dan ia pun mulai berpikir dan merenung: mengapa kerja keras dan kebaikan yang telah ia tebar di Thekelan tidak menjadikan hidupnya berkecukupan.

    Samsu mendapat pencerahan. Ia menyadarai, kadang, kebaikan di dunia hanya menggembungkan tabungan di akhirat sana. Lantas, Samsu pun turun gunung dengan niat mulia menyelamatkan perahu cadik rumah tangganya. Samsu berkerja menjadi kuli penggulung jala di pelabuhan. Tak kuat menahan anyir laut ia banting setir menjadi kuli batu.

    Keberuntungan datang saat Samsu mendapat kenalan yang melempangkan jalan: Tauke yang di kabari kecanggihan kerja dan keuletan Samsu, mengajaknya jualan di dekat Tanah Genting Malaysia. Samsu menerima lalu ia mulai berpindah-pindahlah dia dari satu daerah ke daerah di wilayah persemakmuran Britania Raya itu.

    Dan hal inilah yang tidak ia sangka menjadi salah pangkal masalah utamanya. Selama banting tulang demi keluarga, Samsu tidak pernah bertemu Kardi kecuali dua kali setahun di saat Lebaran Haji dan Idul Fitri tiba, maka, Wajar jika Samsu merasa dilistriki usai sebuah surat memberitahukan dia bahwa anaknya yang dulu fitrah kini berubah menjadi anak jin tomang, keponakannya setan. Kabar itu benar, bukan kabar burung melainkan kabar dari pemilik sangkar burung. Kabar dari orang Thekelan ia buktikan langsung melalui mata kepalanya sendiri. Samsu memergoki anaknya makan sambel terong siang siang di bulan Ramadhan. Hati yang sudah hancur menjadi lebur. Anak yang dulu dulu ia timang malah memendelikkan mata saat dinasehati dan diingatkan. Ketika liburannya berakhir, Samsu pun membawa kesedihan tak terkira saat balik ke Pulau Borneo bagian utara. Dan, belum hilang kesedihannya, sebuah kabar dikirim oleh Oerip, anak muda yang dulu pernah ia ajari ngaji. Oerip mengabarkan Kardi berteman berbagai jenis orang jahat, katanya.Melalui sebuah hadis kullu mauluudin yuuladu alal fitrah, setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah, Samsu diingatkan bahwa lingkunganlah yang membentuk perilaku sesat anaknya.

    Tak ada yang meleset, sesuai dengan perkiraannya: di perguruan tinggi jalanan Kardi terlibat praktik kerja nyata pengutilan pemukulan dan aneka macam kenakalan dan kejahatan lainnya. Di sekolahnya, bukan saja Kardi melakukan kenakalan pada temannya bahkan ia pernah mempermak wajah Kepsek yang putih berubah menjadi hijau kebiruan seolah keracunan. Waktu itu Kepsek shock! Knalpot Datsunnya meleduk. Esok harinya Kepsek memanggil Kardi yang sore sebelumnya dipergoki penjaga sekolah tengah memasukan ketela pohon pada knalpot mobilnya.

    Selaku seorang pemimpin yang wajib beri momongan, Kepsek berusaha sabar. Ia menasehati anak itu, tapi karena Kardi bebal, nasihatnya tak mempan. Di titik inilah temperatur Kepsek mendadak naik. Ia marah dan tak sadar jika gigi palsunya lepas. Dan secara kurang ajar, Kardi tertawa terbahak-bahak.

    “Stop! Stop!” Kepsek menjaga wibawa. Ia membentak.

    Bukannya berhenti, Kardi malah makin ngakak gak gak tertawa melihat gigi Kepsek melompat seperti kodok. Tingkah laku tuna etika dan peradaban macam begini membuat Kepsek murka! Telapak tangannya terbang dan landing di jidat Kardi. Ia mengusir anak itu dari kantornya.

    Dan untuk yang terakhirkalinya, keesokan hari Kardi merancang ulah. Sewaktu Kepsek tengah men-starter vespa karyawan kontrak tata usaha, sebuah jitakan maut tiba-tiba mampir pada batok kepala yang tidak pernah Kepsek programi reboisasi. Kepsek mendapati si anak sialan itu tengah cengar-cengir penuh kesombongan. Maka tanpa ba-bi-bu lagi Sang Kepsek pun mengamalkan bacagi, jurus Taekwondo andalan yang ia latih tiap pagi, ke pundak Kardi. Dan tanpa ba-bi-bu tubuh Kardi melayang. Kepsek menendangnya dari sekolah untuk selamanya, dalam artian literal dan kontekstual.

    NAH, karena ingin memperbaiki arah keluarga yang melenceng dari ajaran agama itu, atau setidaknya meminimalisir pancaran tulang sulbinya dari pengaruh lingkungan, Samsu menguatkan tekad untuk pulang meninggalkan Negeri Jiran selamanya dan menetap di Desa Thekelan. Sayangnya kehadiran Samsu, tidak berarti apa-apa. Mendengar bapaknya datang, si anak bukannya pulang. Ia malah melanjutkan aksinya. Kardi yang berubah menjadi kriminal mengundang polisi untuk terus menerus mendatangi Thekelan, serta menjadikan Samsu yang sudah stress menjadi semakin putus asa menghadapi das sein yang tidak sesuai dengan das sollen. Dan sejak saat itu Ustadz tua itu semakin rapuh hingga akhirnya tutup usia tanpa sempat melihat putra semata wayangnya taubat ke jalan yang benar.

    Dan memang sejak itu pula Kardi sang begal memutuskan untuk turun gunung untuk menaklukan Yogyakarta. Di Yogyakarta Kardi mengawali karirnya sebagai tukang parkir sekaligus pemungut pajak keamananan. Karena kesangaran dan kenekatannya, karirnya terus meningkat menjadi bos dari tukang parkir dan pemungut pajak keamaanan. Tak hanya itu Kardi pun menjadi pemegang kekuasaan di Pasar Bering Harjo setelah mengalahkan penguasa lama. Tak puas dengan kehidupan pasar yang begitu begitu saja, Kardi meningkatkan harkat dan martabanya di dunia kelam dengan merancang perampokan toko emas. Sukses merampok toko emas membuat Kardi semakin beringas. Dan tentu membuat pihak berwajib semakin gerah dengan kelakuannya.

    Penyisiran pun dilakukan setelah Kardi menyebabkan nyawa seorang penjaga toko emas melayang. Dan sejak itulah Kardi memboyong gerombolannya kembali ke Lereng Merbabu. Dan di sana mereka hidup sebagai begal gunung. Entah karena yakin, berani atau dungu, Kardi dan gerombolan residivis lainnya bernyanyi saat –di malam hari– mereka pergi menuju Merbabu. Suara sumbang itu sampai membuat ayam berkotek bangun, sampai sapi-sapi melenguh dan anjing yang dipelihara untuk memperingati kedatangan celeng, menggonggong riuh.

    Tak ada yang sanggup menegur rombongan itu. Warga yang kebetulan berpas-pasanan dengan mereka segera menyingkir. Jalan batu menuju Merbabu itu ibaratnya jalan aspal bagi pemilik Harley Davidson. Tuan besar Kardi datang! Sirine dimainkan! Yang ada di dalam rumah segera mematikan lampu, lalu mengintip dari balik horden.

    Beberapa hari kemudian polisi mendatangi Thekelan. Tak ada satu pun penduduk yang berani melaporkan Karena sebelumnya beredar desas-desus, warga desa tetangga yang dicodet Kardi karena memberi tahu ke arah mana gerombolan mereka lari. Kardi tak terjamah, hingga saat ini ia dan gerombolannya masih berada di belantara Merbabu untuk mendirikan hidup sembari berteduh di sebuah gubug.

    “hhheeehhh…..” Sekarmadji menghela nafas berat megenang masa lalunya.

    Sudah lebih dari lima tahun dia tidak pernah pulang ke desanya. Terakhir dia pulang saat membuatkan rekening Bank Rakyat Indonesia untuk adiknya yang paling besar. Selebihnya dia hanya mengirimkan uang yang ia raup dari jalan kejahatan ke adiknya tersebut. Tanpa ia sadari sebutir air asin kembali mengembun di sudut indera penglihatannya, lalu jatuh bergulir membasahi buku catatan lelaki pendaki yang dipegangnya. Catatan yang berhasil menggerus sedimen lumpur kejahatan di dasar nuraninya. Sekarang apa yang harus ia lakukan ketika nurani memanggil-manggil, menagih-nagih hak yang harus ditunaikan pemiliknya. Sekarmadji tak tahu harus berbuat apa, dia hanya bisa meneteskan air asin mengingat akan kesalahan jalan yang sudah cukup lama ditempuhnya. Sekarmadji menangis. Nuraninya menyeruak kembali.

     

    BERSAMBUNG