Dari Kang Zaen

Sampurasun … Ini adalah cerita ke tiga ku. Berkisah tentang wanita. Tapi bukan berarti yang baca juga harus wanita. Aku berharap dengan tulisan ini, kita semua lebih menghargai wanita. So, selamat membaca, merenung dan jangan lupa komennya. Ingat, walau ga bisa balas komen, aku tetap bisa baca komen kalian. Hehehe.

AKU PELACUR

By : Zaenuddin Bangun Setiawan

Lagi-lagi berakhir di ranjang. Dengan masih telanjang bulat dan berpeluh dia tidur di sampingku. Dia menatapku penuh kepuasan sambil tersenyum nakal. Sesaat tadi kami telah mengarungi lautan birahi. Dia bukan orang pertama yang menikmati tubuhku. Dia adalah orang yang kesekian. Aku tak tahu yang keberapa karena pelangganku terlalu banyak. Malas aku mengingatnya. Toh yang kubutuh hanya duit mereka. Bukan nama. Oh ya, perkenalkan. Namaku Suci Artami. Yang suci itu hanya namaku tidak dengan diriku. Miris memang, kurasa kedua orang tuaku salah memberi nama.

Bertahun-tahun aku hidup bertahan di jalan seperti ini. Menjajakan tubuh dari cafe ke cafe. Dari simpangan ke simpangan. Hasilnya lumayan. Aku bisa hidup seperti apa yang aku mau. Tak perlu takut akan kelaparan. Tak perlu takut akan kedinginan. Masalah cibiran aku sudah kebal. Menurutku mereka yang mencibir hanyalah orang-orang lemah. Mereka tak mengerti kerasnya hidup. Kadang aku berfikir, sampai kapan aku akan terus hidup seperti ini? Menjadi mesin pemuas nafsu para pria hidung belang! Umur ini terus berjalan. Tubuh ini semakin menua. Belum lagi resiko penyakit menular Sex. Sempat sekali waktu aku memberanikan diri untuk tidak memakai kondom. Sekalinya sifilis menyapa. Untung hanya sifilis, kalau AIDS? Aku gak ngebayangin. Tapi apa boleh buat, setiap pekerjaan itu memiliki resiko. Hanya saja selagi resiko itu bisa diminimalkan, kenapa tidak. Dan sekarang aku wajibkan semua pelangganku memakai kondom. Banyak di antara mereka yang membujuk supaya tidak memakai kondom dengan iming-iming uang tambahan. Tapi aku tolak. Cukup sekali aku terkena sifilis. Mereka enak saja menggauliku dengan cara dan gaya mereka. Menyuruhku bergaya ini itu. Dan setelah sepermanya keluar, mereka pergi dengan santainya. Bebas. Tanpa beban. Mereka tak pernah mau tahu apakah aku menikmatinya juga atau tidak. Yang hanya mereka ingin tahu adalah mereka terpuaskan. Heh enak sekali menjadi laki-laki. Bisa memuaskan nafsu kapan, dimana dan dengan siapa saja. Burung lebih berkuasa dibanding gua. Mereka lupa bahwasanya burungpun mengawali hidupnya di dalam gua. Tanpa adanya gua, mau lewat mana mereka keluar.

Dalam setiap erangan, dalam setiap desahan, dalam setiap rintihan aku menjerit. Merjerit pilu. Menjerit perih. Peluhku bercampur air mata. Aku merasa terlalu kotor. Tapi inilah aku saat ini. berkubang lumpur tanpa mau pergi membersihkan diri. Sudah kadung menurutku. Sudah jatuh ke sawah ya lebih baik main lumpur sekalian. Menjadi biasa pun takkan ada satu orangpun yang peduli. Mereka yang bilang cinta hanya mencintai vaginaku. Bukan mencintai aku. Mereka yang bilang akan menerimaku apa adanya yang nyatanya ada apanya. Semua lelaki sama. Yang mereka lihat dari wanita hanya seberapa besar buah dada, seberapa semok pantat dan seberapa sempitnya liang vagina. Mereka semua seperti hewan. Yang hanya tahu bagaimana cara memuaskan nafsu. Pernah satu ketika aku mendapat pekerjaan sebagai waitress di sebuah cafe. Tapi apa kalian tahu, sang pemilik cafe lebih menginginkan aku menjadi simpanannya dibanding menjadi waitress. Waitress hanyalah sebuah kedok. Dan aku keluar dari pekerjaan itu. Mulai sejak saat itu, aku tak pernah lagi mencari pekerjaan lain. Mungkin takdirku adalah seperti ini. aku tak tahu sampai kapan, selama tubuh ini masih diminati. Aku akan terus menjajakannya.

Kulirik pemuda yang kini mendengkur halus di sampingku. Dia terlalu muda untuk mencoba dunia seperti ini. tapi nyatanya, dia ada bersamaku. Beberapa saat yang lalu dia telah mencicipi tubuhku. Tak ada komen, dia hanya mencium keningku dan memegang tanganku setelah selesai tadi. Umurnya masih belasan, dan dia masih SMA. Aku bertemu dia di sebuah cafe di suatu malam minggu. Dan kemudian dia menjadi satu-satunya pelangganku malam itu. Karena setelah bercinta, dia memintaku untuk menemaninya tidur sampai pagi. Aneh memang, dan ini belum pernah terjadi sepanjang perjalanan melacurku. Baru dia. Kalau bagiku tak jadi masalah. Ada jasa ada harga. Fair kan! Dan semuanya rutin sampai saat ini. Seminggu sekali pas malam minggu dia menjadi pelanggan unik tetapku. Dan aku menjadi pelayannya. Ini kali ke 8 dan itu artinya telah delapan minggu dia jadi pelangganku. Kalian tahu, walau semalaman aku bersamanya, hanya satu kali dia meniduriku. Selebihnya, kami tidur biasa. Kadang aku berfikir, mungkinkah seperti ini jika orang telah berumah tangga. Pernah satu malam dia hanya tiduran di sampingku. Dan itu membuatku heran. Aku bertanya padanya, mengapa dia tak meniduriku sementara dia membayarku bukankah dengan tujuan untuk meniduri. Dia hanya tersenyum sambil mengacak rambutku kemudian berbisik, “Aku adalah pembeli dan seorang pembeli berhak melakukan apa saja terhadap apa yang dia beli. Entah dia mau memaki, mendiamkannya saja, atau membuangnya. Dan malam ini, aku hanya ingin melihatmu tidur di sampingku.” Lagi-lagi aku geleng-geleng kepala. Di luar perkiraanku. Mungkin dialah satu-satunya pelanggan terbaik. Dan ketika aku melayaninya, itu adalah pelayanan terburuku. Kami menghabiskan sebagian besar malam dengan saling bercerita. Dia bercerita tentang keluarganya, tentang sekolahnya, tentang temannya, tentang aktifitasnya. Menurutku semuanya normal. Semua cerita hidupnya terangkai indah dengan sempurna. Dia dari keluarga yang baik-baik dan lingkungan tempat dia tinggalpun baik-baik. Hanya satu hal yang tak aku dengar, dia tak sekalipun membicarakan pacarnya. Mungkinkah dia tak punya pacar? aku tak mau ambil pusing. Ceritanya membuatku semakin tak mengerti. Tujuan dia memakai jasaku apa? Mungkin dia hanya ingin tahu dan belajar cara bercinta. Dugaanku diperkuat dari semakin berkembangnya gaya dia ketika bercinta tiap minggunya. Hal unik lain adalah kebiasaannya setelah bercinta. Setelah mengecup keningku, dia berbisik “Maafkan aku bila tak bisa seperti yang lain, aku bukanlah pangeran ketika diranjang!“ Dan itu membuatku tertawa antara miris dan lucu. Miris karena kata-katanya menyentil hatiku. Seolah-olah aku tak puas dengannya. Padahal justru dengan dia aku bisa sedikit menikmati. Jangan tanya kenapa karena akupun tak tahu kenapa. Lucunya, kata-kata dia terlalau polos. Seharusnya kalaupun ada yang harus meminta maaf, itu aku bukan dia. Malam itu pula adalah malam paling memalukan dalam hidupku. Untuk pertama kalinya aku menangis di pelukan seorang pelanggan. Aku terlalu terbawa suasana. Luka-luka masa lalu tergambar jelas di kepala ini. tayang bersusun berurutan. Aku teringat pada seseorang yang membuatku menjadi seperti ini. Ayah tiriku. Ya, dia yang pertama kali menggagahiku. Aku menjadi boneka pemuas nafsu bila ibuku tak ada di rumah. Aku tak berani bercerita pada Ibu, karena di depan Ibu dia selalu bersikap baik. Sok alim. Nyatanya dia Anjing. Dia juga yang menjualku pada teman-temanya selepas kepergian Ibu. Ibu meninggal tertabrak mobil. Dan sampai sekarang, pengendara mobil biadab itu tak pernah diketahui siapa. Bukan hanya fisik ini yang sakit karena harus memuaskan banyak lelaki setiap harinya, tapi juga hati ini. Dan kalian tahu, pemuda di sampingku ini mampu meredakan tangisku malam itu. Aku benar-benar merasa nyaman di dekatnya. Dan aku pun menghabiskan sisa malam dengan tidur dalam pelukanya.

Aku melirik lagi padanya, menatapnya. Tanpa sadar bibir ini tersenyum, tangan ini membelai rambut dan wajahnya. Begitu damai. Ahhhh sial, rasa apa ini. Aku tak boleh berlama-lama terjaga. Lebih baik aku segera tidur, ini tak baik buat hatiku. Dia pelangganku. Dan aku harus melayaninya seprofesional mungkin. Tak ada lagi rasa yang macam-macam. Seharusnya aku berkaca. Siapa dia dan siapa aku. Dia pemuda yang aku rasa memiliki masa depan secerah mentari pagi. Sedangkan aku, pelacur yang hanya tinggal menunggu gelap menuakanku. Seperti senja yang semakin lama semakin terkikis malam.

End

KUKU-KUPU MALAM

Cipt. Titiek Puspa

Dipopulerka oleh : Peterpan

Ada yang benci dirinya

Ada yang butuh dirinya

Ada yang berlutut mencintainya

Ada pula yang kejam menyiksa dirinya

Ini hidup wanita si kupu-kupu malam

Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga

Bibir senyum kata halus merayu memanja

Kepada setiap mereka yang datang

Dosakah yang dia kerjakan

Sucikah mereka yang datang

Kadang dia tersenyum dalam tangis

Kadang dia menangis di dalam senyuman

Oh apa yang terjadi terjadilah

Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya

Oh apa yang terjadi terjadilah

Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa

Oh apa yang terjadi terjadilah

Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya

Oh apa yang terjadi terjadilah

Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa

Sei Senting, Senin 10 Juni 2013, 22.09 WITA

Diruangan Kerja TUK

Add my FB : zaenudin_setiawan@yahoo.com

FB dunia pelangiku : abimanyus34@yahoo.com

Email : bangun36@gmail.com